JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
KATA PENGANTAR
Jurnal Kelautan Nasional (JKN) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Pengkajian dan
Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan
dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
atas terbitnya JKN Volume 10, No. 1, dengan baik.
Pada tahun 2015, susunan Redaksi JKN mengalami perubahan, yang ditetapkan berdasarkan Rapat
Dewan Redaksi pada tanggal 13 Februari 2015. Sejak tanggal tersebut, Pemimpin Redaksi JKN
dipercayakan kepada Prof. Dr. Hari Eko Irianto. Sedangkan Pemimpin Redaksi sebelumnya, yaitu
Prof. Dr. Ngurah N. Wiadnyana, DEA., menjadi anggota Dewan Redaksi (Editor). Selain itu, JKN
juga memperoleh anggota Dewan Redaksi baru, yaitu A. Riza Farhan, Ph.D. Sehingga jumlah
anggota Dewan Redaksi JKN saat ini adalah 9 (sembilan) orang. JKN juga memperoleh anggota
Redaksi Pelaksana baru, yaitu Umi Anissah, M.I.L., sehingga jumlah anggota Redaksi Pelaksana
menjadi 6 (enam) orang.
Artikel yang diterbitkan dalam Jurnal edisi kali ini sebanyak 5 (lima) artikel yang meliputi:
Distribusi Logam Berat pada Sedimen di Perairan Muara dan Laut Propinsi Jambi; Deteksi
Perubahan Garis Pantai di Kabupaten Jembrana dengan Menggunakan Teknologi Penginderaan
Jauh; Aplikasi Model Numerik Karakteristik Gelombang untuk Kajian Kesesuaian Lahan
Pengembangan Budidaya Laut di Situbondo, Jawa Timur; Efisiensi Daya Listrik dan Kondisi
Oksigen Terlarut pada Pemeliharaan Postlarva Udang Vaname Litopenaeus vannamei
Menggunakan Sumber Energi Surya; dan Produksi, Rendemen dan Kekuatan Gel Tiga Varietas
Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Dibudidaya dengan Metode Long Line.
Artikel yang terdapat dalam JKN pada edisi ini diharapkan mampu menambah khasanah informasi
di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dan perikanan Indonesia. Kami sangat
mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan penyusunan jurnal ini ke depan. Semoga jurnal ini
bermanfaat bagi pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dan
perikanan di Indonesia.
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Abstrak
i
ii
iii
Distribusi Logam Berat pada Sedimen di Perairan Muara dan Laut Propinsi
Jambi
Distribution of Heavy Metal in Sediment at Coastal Area Jambi Province
Tri Muji Susantoro, Djoko Sunarjanto dan Ariani Andayani ………...
1-11
Deteksi Perubahan Garis Pantai di Kabupaten Jembrana dengan Menggunakan
Teknologi Penginderaan Jauh
Coastline Change Detection Using Remote Sensing Technology in Jembrana Bali
Komang Iwan Suniada ……….
13-19
Aplikasi Model Numerik Karakteristik Gelombang untuk Kajian Kesesuaian
Lahan Pengembangan Budidaya Laut di Situbondo, Jawa Timur
The Application of Wave Characteristic Numerical Model for Site Selection of Marine
Aquaculture Development in Situbondo, East Java
Johan Risandi, Sophia L. Sagala dan Widodo S. Pranowo .……….…….
21-31
Efisiensi Daya Listrik dan Kondisi Oksigen Terlarut pada Pemeliharaan
Postlarva Udang Vaname Litopenaeus vannamei Menggunakan Sumber Energi
Surya
Electrical Power Efficiency and Dissolved Oxygen Condition on Rearing Vaname
Shrimp Litopenaeus vannamei Postlarva by Using Solar Energy
Kukuh Adiyana dan Eddy Supriyono ...
33-41
Produksi, Rendemen dan Kekuatan Gel Tiga Varietas Rumput Laut
Kappaphycus alvarezii yang Dibudidaya dengan Metode Long Line
Production, Rendemen and Gel Strenght of Three Seaweed Varieties Kappaphycus
alvarezii Cultivated by Long Line Method
Arfan Afandi, Kukuh Nirmala dan Tatag Budiardi ...
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
UCAPAN TERIMA KASIH
Redaksi menyampaikan terima kasih kepada Mitra Bestari yang telah menelaah naskah yang dimuat
pada edisi ini
Dr. Agus Atmodipeoro
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Dr. Sugeng Heri Suseno
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Dr. Ir. Ita Widowati, DEA
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
No
ABSTRAK
1.
DISTRIBUSI LOGAM BERAT PADA SEDIMEN DI PERAIRAN MUARA DAN LAUT
PROPINSI JAMBI
UDC: 631.416.8Tri Muji Susantoro, Djoko Sunarjanto dan Ariani Andayani Halaman 1-11
Keberadaan logam berat pada sedimen dapat menjadi polutan apabila konsentrasinya melebihi ambang batas yang ditentukan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji konsentrasi logam berat pada sedimen di perairan sungai dan laut di Propinsi Jambi. Tiga sampel sedimen di perairan sungai dan sepuluh sampel sedimen di perairan laut diambil untuk dilakukan analisis laboratorium. Analisis logam berat yang dilakukan di laboratorium meliputi Arsenic (As), Cadmium (Cd), Total Chromium (Cr), Nickel (Ni), Mercury (Hg), Selenium (Se), Zinc (Zn), Copper (Cu), Lead (Pb) dan Cobalt (Co). Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa Arsenic, Cadmium, Mercury dan Selenium tidak terdeteksi pada sedimen di perairan laut dan sungai. Daerah penelitian terdeteksi tercemar oleh Cobalt (Co) baik di muara sungai dengan konsentrasi 23-25 mg/kg maupun di peraian laut dengan konsentrasi 21-31 mg/kg. Sementara area dekat dengan muara sungai tercemar Cuprum (Cu) dengan konsentrasi 68 mg/kg dan sedikit tercemar Nickel (Ni) dengan konsentrasi 14 mg/kg, dan Chromium (Cr) dengan konsentrasi 19 mg/kg.
Kata kunci: konsentrasi, logam berat, sedimen.
2.
DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI DI KABUPATEN JEMBRANA BALI
DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH
UDC: 616.008.816Komang Iwan Suniada Halaman 13-19
Perubahan garis pantai pada suatu wilayah disebabkan faktor alamiah (arus, gelombang, badai, kenaikan muka air laut, jenis material pantai) dan atau faktor non alamiah (aktifitas manusia seperti penambangan pasir, reklamasi, perubahan penggunaan lahan). Deteksi perubahan garis pantai di Kabupaten Jembrana dilakukan menggunakan pendekatan penginderaan jauh yaitu menggunakan data citra Satelit Landsat dengan pathrow 117/66 pada tanggal akuisisi 17 Juli 1994 dan 17 Desember 2012. Garis pantai diekstrak dengan menggunakan band near infra merah (band 5) yang mempunyai karakteristik reflektan mendekati nol pada perairan, bahkan pada perairan yang keruh sekalipun. Penetapan garis pantai dilakukan dengan menggunakan metode visual dan on screen digitized mengingat daerah studi yang tidak terlalu luas. Selanjutnya dilakukan tumpang susun (overlay) antara data Landsat tahun 1994 dan 2012 pada perangkat lunak sistem informasi geografi untuk diketahui daerah-daerah yang mengalami abrasi dan sedimentasi pada periode waktu 1994 hingga 2012. Hasil analisis menunjukkan perubahan garis pantai yang disebabkan abrasi seluas 673.600 m2 dengan luasan terbesar terjadi di Desa Perancak seluas sekitar 228.500 m2, sedangkan perubahan garis pantai yang disebabkan oleh sedimentasi seluas 851.500 m2 dengan luasan terbesar terjadi di Desa Pengambengan seluas sekitar 544.100 m2.
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
No
ABSTRAK
3.
APLIKASI MODEL NUMERIK KARAKTERISTIK GELOMBANG UNTUK KAJIAN
KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT DI SITUBONDO,
JAWA TIMUR
UDC: 639.3
Johan Risandi, Sophia L. Sagala dan Widodo S. Pranowo Halaman 21-31
Model numerik XBeach telah digunakan untuk mensimulasikan penjalaran gelombang laut di perairan Klatakan, Situbondo, Jawa Timur dan hasilnya dipakai untuk analisis kesesuaian lahan budidaya dengan Keramba Jaring Apung (KJA). Data yang digunakan untuk pemodelan ini adalah data batimetri yang diperoleh dari pengukuran langsung, serta gelombang dan angin dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dan National Centers for Environmental Prediction-National Oceanic and Atmospheric Administration (NCEP–NOAA) Amerika Serikat. Hasil analisa menunjukkan bahwa tinggi gelombang signifikan perairan Situbondo adalah 0,3 m dengan periode gelombang 4,1 detik dominan dari arah timur sedangkan angin dominan datang dari arah barat laut. Pembudidaya perlu mewaspadai kemungkinan gelombang dengan tinggi mencapai 1,5 m dan angin kuat dengan kecepatan lebih dari 16 m/s yang terjadi pada awal dan pertengahan tahun. Validasi model dengan perhitungan analitik mengindikasikan XBeach telah melakukan over-estimasi perhitungan tinggi gelombang pada daaerah studi dengan kesalahan relatif rata-rata sebesar 16,22 % yang diduga disebabkan oleh perbedaan pendekatan pada kedalaman dimana proses shoaling terjadi. Klasifikasi kesesuaian lahan menunjukkan adanya sebaran daerah sangat sesuai hingga tidak sesuai untuk budidaya dengan KJA pada perairan tersebut. Hasil tersebut diverifikasi dengan citra Ikonos melalui Google Earth, dimana terlihat bahwa KJA para pembudidaya terletak di perairan yang dikategorikan sangat sesuai untuk lahan budidaya dengan tinggi gelombang di area tersebut kurang dari 0.6 meter.
Kata kunci: karakteristik gelombang, XBeach, budidaya laut, keramba jaring apung, kesesusian lahan, Situbondo
4.
EFISIENSI DAYA LISTRIK DAN KONDISI OKSIGEN TERLARUT PADA
PEMELIHARAAN POSTLARVA UDANG VANAME Litopenaeus vannamei
MENGGUNAKAN SUMBER ENERGI SURYA
UDC: 639.51
Kukuh Adiyana dan Eddy Supriyono Halaman 33-41
Energi surya merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang mempunyai potensi untuk dimanfaatkan pada kegiatan budidaya perikanan. Budidaya postlarva udang vaname Litopenaeus vannamei membutuhkan pasokan oksigen yang dapat disuplai melalui aerasi dengan memanfaatkan sumber energi surya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efisiensi aerasi yang dihasilkan oleh high-blow menggunakan sumber energi surya dan PLN dalam pemeliharaan postlarva udang vaname, ditinjau dari segi kestabilan daya listrik (P), dissolved oxygen (DO), dan oxygen transfer rate (OTR). Pada penelitian ini digunakan 2 perlakuan, yaitu perlakuan menggunakan sumber energi surya dan PLN. Hasil penelitian menunjukkan daya listrik pada high-blow menggunakan sumber energi surya mempunyai tren yang lebih stabil dan kontinu dibandingkan dengan sumber energi dari PLN. Pasokan listrik yang lebih stabil dari sumber energi panel surya menyebabkan pompa aerator high-blow dapat bekerja lebih maksimal. Hal tersebut menyebabkan proses transfer oksigen ke dalam air lebih baik, sehingga level DO selama penelitian relatif lebih tinggi.
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
No
ABSTRAK
5.
PRODUKSI, RENDEMEN DAN KEKUATAN GEL TIGA VARIETAS RUMPUT
LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DIBUDIDAYA DENGAN METODE LONG LINE
UDC: 582.26Arfan Afandi, Kukuh Nirmala dan Tatag Budiardi Halaman 43-53
Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu jenis alga merah (Rhodophyceae) yang bernilai ekonomis penting dan penyuplai karagenan dunia. Berdasarkan warnanya K. alvarezii terbagi menjadi merah, hijau dan coklat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis produksi dan kualitas karaginan dari varietas K. alvarezii dengan metode budidaya long line. Bibit rumput laut jenis K. alvarezii diperoleh dari Desa Kamelanta, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan yaitu; varietas merah, varietas hijau dan varietas coklat, setiap pelakuan diulang dalam tiga kelompok lokasi perairan (darat, tengah, dan dalam). Parameter yang diamati yaitu produksi, fikoeritrin, rendemen, kekuatan gel, dan kualitas air. Data dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA). Hasil menunjukkan bahwa varietas warna berpengaruh terhadap kelimpahan pigmen fotosintesis. Produksi dan kualitas karaginan terbaik pada K. alvarezii varietas coklat.
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
No
ABSTRACT
1.
DISTRIBUTION OF HEAVY METAL IN SEDIMENT AT COASTAL AREA JAMBI
PROVINCE
UDC: 631.416.8
Tri Muji Susantoro, Djoko Sunarjanto and Ariani Andayani Page 1-11
The presence of heavy metals in sediments can be a pollutant when its concentration exceeds a specified threshold. The objective of this study is to analyze the concentration of heavy metals in the river and marine sediments in the Jambi Province. Three samples of river sediments and ten samples of marine sediments was taken for laboratory analysis. Analysis of heavy metals were conducted in the laboratory include arsenic (As), Cadmium (Cd), Total Chromium (Cr), Nickel (Ni), Mercury (Hg), Selenium (Se), Zinc (Zn), Copper (Cu), Lead (Pb) and Cobalt (Co). Result of laboratory analysis indicates that Arsenic, Cadmium, Mercury and Selenium were not detected in sediments in the sea water and the mouth of rivers. Research area detected tainted by Cobalt (Co) with concentration 25 mg/kg in area near the mouth of the river and 23-25 mg/kg in sea water. While the area near the mouth of the river highly polluted by Cuprum (Cu) with concentration 68 mg/kg and slightly polluted by Nickel (Ni) with concentration 14 mg/kg and Chromium (Cr) with concentration 19 mg/kg.
Keywords: concentration, heavy metal, sediment.
2.
COASTLINE CHANGE DETECTION USING REMOTE SENSING TECHNOLOGY IN
JEMBRANA BALI
UDC: 616.008.816 Komang Iwan Suniada Page 13-19
Coastline change occurs due to natural factors (currents, waves, storms, sea level rise, beach material type) and non-natural factors (human activities such as sand mining, reclamation, land-use change). In general, coastline changes caused by the resignation of the beach area landward (abrasion), the advance of the land toward the sea (accretion) and the global phenomenon of rising sea levels. Detection of coastline changes in Jembrana performed using remote sensing approach by using Landsat Satellite image data with pathrow 117/66 at the acquisition date July 17, 1994 and December 17, 2012.The coastline was extracted using near infra-red band (band 5) which have characteristics of its reflectance value near zero in the waters, even though at turbid waters. Determination of coastline was done by on-screen digitized using a visual method considering the study area that is not too wide. By using overlay method between Landsat 1994 and 2012 data at geographic information system software, areas experiencing erosion and sedimentation in the period 1994 to 2012 can be generated. Overlay analysis shows that the coastline change due to abrasion is measuring 673.600 m2 with the largest area occurred in Desa Perancak which abrasion area is around 228.500 m2, while the coastline changes caused by sedimentation is measuring 851.500 m2 with the largest area occurred in Desa Pengambengan which sedimentation area is approximately 544.100 m2.
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
No
ABSTRAK
3.
THE APPLICATION OF WAVE CHARACTERISTIC NUMERICAL MODEL FOR SITE
SELECTION OF MARINE AQUACULTURE DEVELOPMENT IN SITUBONDO, EAST
JAVA
UDC: 639.3
Johan Risandi, Sophia L. Sagala and Widodo S. Pranowo Page 21-31
Xbeach numerical model has been used to simulate wave propagation in Klatakan, Situbondo, East Java and the results were used to analyze the site suitability for mariculture using Floating Net Cage (FNC). Parameters used in the model were bathymetric which was obtained from direct measurement, as well as wave and wind data which were obtained from, Indonesian Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics, and National Centers for Environmental Prediction-National Oceanic and Atmospheric Administration (NCEP-NOAA), respectively. The results showed that a significant wave height recorded in the study area was 0.3 m with wave period of 4.1 s, propagating dominantly from East direction. On the other hand, the wind dominantly moved from north to west direction. The farmers, therefore, need to increase their awareness toward possible high waves of 1.5 m and winds of more than 16 m/s occurred in the beginning and middle of the year. Model validation using analytical approach indicated XBeach has overestimated wave height calculation on the study area with mean relative error of 16,22% due to different approach in depth at which shoaling process occurred. The site classification analysis showed the area distribution for FNC installation varied from unsuitable to very suitable. The result is verified using Ikonos satellite imagery trough Google Earth. It shows that those FNC are located inside the area which is categorized as very feasible for mariculture with the wave height is less than 0.6 m.
Keywords: wave characteristics, XBeach model, mariculture, floating net cage, site suitability, Situbondo
4.
ELECTRICAL POWER EFFICIENCY AND DISSOLVED OXYGEN CONDITION ON
REARING VANAME SHRIMP Litopenaeus vannamei POSTLARVA BY USING SOLAR
ENERGY
UDC: 639.51
Kukuh Adiyana and Eddy Supriyono Page 33-41
Solar energy is a renewable energy source that has potential used for aquaculture activities. Rearing postlarva vaname shrimp Litopenaeus vannamei need a supply of oxygen that can be supplied through aeration by utilizing solar energy source. The purpose of this study is to examine the efficiency of aeration generated by high-blow-use solar energy sources and PLN in rearing postlarva vaname shrimp, in terms of the stability of the electric power (P), dissolved oxygen (DO), and the oxygen transfer rate (OTR). This study uses two treatments, the treatment using solar energy sources and PLN. The results show power source from solar energy sources used on high-blow-use indicate more stable trend and continuously than PLN. Solar panel has capability to generate more stable energy and provide sufficient power for high-blow aerator to work properly. As the result DO level is relatively high during the study.
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
No
ABSTRAK
5.
PRODUCTION, RENDEMEN AND GEL STRENGHT OF THREE SEAWEED VARIETIES
Kappaphycus alvarezii CULTIVATED BY LONG LINE METHOD
UDC: 582.26
Arfan Afandi, Kukuh Nirmala and Tatag Budiardi Page 43-53
Kappaphycus alvarezii is one of red algae (Rhodophyceae) which had important economic value and carrageenan world supplier. Based on the color, K. alvarezii divided into red, green and brown. This study was done to analyze the production and quality of carrageenan from three variety of K. alvarezii. Cultivation method used in this study was long line method. Seaweed seed (K. alvarezii) obtained from Kamelanta village, sub district Kapontori, district Buton, Southeast Sulawesi. This study used a randomized block design (RBD) with three treatments namely; Red (M) variety, Green (H) variety and Brown (C) variety, each treatment repeated in three location groups (land, middle, deep). Observed parameters were production, phycoerethrin, rendemen, gel strength, and water quality. Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA). The results showed that the variety of color effect on the photosynthetic pigments abundance. K. alvarezii best production and carrageenan quality was the brown variety.
JURNAL KELAUTAN NASIONAL
Vol. 10, No. 1, April 2015 ISSN 1907-767X Terakreditasi (486/AU2/P2MI-LIPI/08/2012) Masa berlaku: Agustus 2012 - Agustus 2015
DISTRIBUSI LOGAM BERAT PADA SEDIMEN DI PERAIRAN MUARA DAN LAUT
PROPINSI JAMBI
DISTRIBUTION OF HEAVY METAL IN SEDIMENT AT COASTAL AREA JAMBI PROVINCE
Tri Muji Susantoro
1, Djoko Sunarjanto
1dan Ariani Andayani
2 1Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi - LEMIGAS 2
Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan, Balitbang Kelautan dan Perikanan-KKP E-mail: [email protected]
Diterima tanggal: 5 November 2014, diterima setelah perbaikan: 24 Maret 2015, disetujui tanggal: 27 Maret 2015
ABSTRAK
Keberadaan logam berat pada sedimen dapat menjadi polutan apabila konsentrasinya melebihi ambang batas yang ditentukan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji konsentrasi logam berat pada sedimen di perairan sungai dan laut di Propinsi Jambi. Tiga sampel sedimen di perairan sungai dan sepuluh sampel sedimen di perairan laut diambil untuk dilakukan analisis laboratorium. Analisis logam berat yang dilakukan di laboratorium meliputi Arsenic (As), Cadmium (Cd), Total Chromium (Cr), Nickel (Ni), Mercury (Hg), Selenium (Se), Zinc (Zn), Copper (Cu), Lead (Pb) dan Cobalt (Co). Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa Arsenic, Cadmium, Mercury dan Selenium tidak terdeteksi pada sedimen di perairan laut dan sungai. Daerah penelitian terdeteksi tercemar oleh Cobalt (Co) baik di muara sungai dengan konsentrasi 23-25 mg/kg maupun di peraian laut dengan konsentrasi 21-31 mg/kg. Sementara area dekat dengan muara sungai tercemar Cuprum (Cu) dengan konsentrasi 68 mg/kg dan sedikit tercemar Nickel (Ni) dengan konsentrasi 14 mg/kg, dan Chromium (Cr) dengan konsentrasi 19 mg/kg.
Kata kunci: konsentrasi, logam berat, sedimen.
ABSTRACT
The presence of heavy metals in sediments can be a pollutant when its concentration exceeds a specified threshold. The objective of this study is to analyze the concentration of heavy metals in the river and marine sediments in the Jambi Province. Three samples of river sediments and ten samples of marine sediments was taken for laboratory analysis. Analysis of heavy metals were conducted in the laboratory include arsenic (As), Cadmium (Cd), Total Chromium (Cr), Nickel (Ni), Mercury (Hg), Selenium (Se), Zinc (Zn), Copper (Cu), Lead (Pb) and Cobalt (Co). Result of laboratory analysis indicates that Arsenic, Cadmium, Mercury and Selenium were not detected in sediments in the sea water and the mouth of rivers. Research area detected tainted by Cobalt (Co) with concentration 23-25 mg/kg in area near the mouth of the river and 23-25 mg/kg in sea water. While the area near the mouth of the river highly polluted by Cuprum (Cu) with concentration 68 mg/kg and slightly polluted by Nickel (Ni) with concentration 14 mg/kg and Chromium (Cr) with concentration 19 mg/kg.
Keywords: concentration, heavy metal, sediment.
PENDAHULUAN
Perairan muara dan laut Propinsi Jambi terletak di Selat Berhala dan Selat Malaka merupakan bagian Pantai Timur dari Pulau Sumatera. Pada perairan ini terdapat sungai-sungai besar yang bermuara; Sungai Tungkal, Sungai Batanghari, dan Sungai Betara. Selain itu terdapat juga beberapa sungai kecil; Sungai Enok, Sungai Pengabuan, Sungai Lagan, dan Sungai Poding. Sungai-sungai tersebut
merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat di daerah tersebut dan menjadi bagian dari aktifitas sehari-hari masyarakat dan sarana transportasi. Sungai Batanghari membelah Kota Jambi yang merupakan ibukota propinsi dengan penduduk yang relatif padat sehingga limbah domestik memungkinkan masuk ke dalam perairan sungai. Demikian juga Sungai Tungkal yang menjadi pusat dari kegiatan di Kota Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sepanjang
sungai tersebut menjadi pusat aktifitas dari masyarakat, baik sebagai permukiman, perkebunan, transportasi air dan juga industri minyak dan gas bumi.
Kondisi topografi kota Propinsi Jambi dan Kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur yang datar dan rendah menyebabkan sering terjadi banjir pada musim penghujan. Hal ini menyebabkan perairan muara dan laut di Propinsi Jambi diduga mengandung banyak material yang berasal dari aktivitas masyarakat yang terbawa oleh banjir tersebut. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan untuk memetakan distribusi logam berat di sedimen pada perairan muara dan laut di Propinsi Jambi. Perairan muara dan laut merupakan lokasi yang baik untuk pembiakan, pembibitan dan tempat tinggal dari berbagai jenis biota laut. Pasokan sedimen yang berlimpah dari muara sungai ditemukan pada zona ini. Zona ini merupakan habitat penting bagi banyak spesies laut (Yang et al., 2001 dalam Zhang et al., 2008).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat terdapat di perairan pesisir (Balachandran et al., 2005; Zhang et al., 2008; Yang et al., 2007). Kontaminasi logam berat
sedimen di perairan laut terutama di muara sangat memprihatinkan karena logam berat ini akan mengalami bioakumulasi dan mempengaruhi organisme bentik. Sifat dan aliran air di laut mendukung terjadinya akumulasi polutan pada perairan tersebut. Hal penting yang dilakukan adalah menentukan sumber logam berat dan mengelolanya sehingga konsentrasi logam tersebut ketika masuk ke dalam sedimen tidak mencapai tingkat yang beracun (Balachandran et al., 2005). Kajian yang sama telah dilakukan di perairan Teluk Banten dan Teluk Jakarta oleh Suwandana et al. (2011). Hasilnya menunjukkan bahwa di perairan Teluk Banten polusi logam berat di sedimen lebih sedikit dibandingkan di Teluk Jakarta.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi logam berat pada sedimen dan sebarannya di perairan sungai dan laut Propinsi Jambi, tepatnya di perairan sepanjang pantai Selat Berhala Propinsi Jambi. Dengan asumsi mengabaikan faktor arus laut dan gangguan proses sedimentasi masing-masing wilayah perairan lepas pantai, hasil dari penelitian ini dapat menunjukan kondisi pencemaran yang terjadi di perairan sungai dan laut Propinsi Jambi.
Gambar 1. Lokasi penelitian dan distribusi titik lokasi pengambilan sampel sedimen di perairan laut Propinsi Jambi. Figure 1. The study area and sediment sampling station distribution in marine area Jambi Province
BAHAN DAN METODE
Pada perencanaan pengambilan sampel dilakukan analisis data penginderaan jauh melalui interpretasi jalan dan sungai untuk mendapatkan informasi akses jalan dan lokasi rencana pengambilan sampel. Hal ini untuk memudahkan dalam pekerjaan lapangan. Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 31 Juli – 3 Agustus 2012. Sampel sedimen yang diambil berjumlah 13 lokasi dengan perincian 10 lokasi di perairan laut Selat Berhala dan 3 lokasi di perairan darat Propinsi Jambi (Gambar 1).
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan grab sampling. Total berat sedimen yang diambil sekitar 2 kg pada setiap lokasi. Pengamatan megaskopis di lapangan, jenis sampel sedimen cenderung berupa lumpur (ukuran butiran lempung sampai pasir) dan sedikit campuran kerikil. Secara visual terlihat bahwa sedimen cenderung dominan fraksi halus yaitu berlumpur. Indikasi ini terlihat juga dari data benthos yang sedikit jumlahnya pada lokasi kajian dimana pada sedimen muara hanya ditemukan 4 individu pada AP 4, 6 individu pada AP 3 dan 34 individu pada AP 2. Sedangkan Benthos yang ditemukan pada sedimen laut berkisar antara 61-212 individu dengan kelimpahan tertinggi pada AL1 di dekat Kuala Enok, sedangkan kelimpahan terendah pada AL 11 di dekat Nipah Panjang.
Tabel 1. Posisi geografis stasiun pengambilan sampel penelitian
Table 1. Geographic position of study sampling station No Stasiun Posisi Geografis Lintang Bujur AP2 00o 48’ 30,5” S 103o 27’ 26,3” BT AP3 00o 52’ 03,8” S 103o 32’ 36,1” BT AP4 01o 01’ 19,2” S 103o 45’ 05,3” BT AL2 00o 39’ 02,0” S 103o 27’ 49,8” BT AL3 00o 52’ 03,8” S 103o 037’36,5” BT AL4 00 o 46’ 34,9” S 103o 30’28,6” BT AL5 00 o 43’ 46,4” S 103o 045’ 57,0” BT AL6 00 o 50’35,0” S 103o 36’ 20,6” BT AL7 00 o 51’ 01,8” S 103o 44’15,9” BT AL8 00 o 56’ 0,3” S 103o 49’ 30,9” BT AL9 00o 58’ 52,5” S 104o 01’ 06,2” BT AL10 00 o 52’ 51,6” S 104o 07’ 39,9” BT AL11 01 o 00’ 26,6” S 104o 10’ 30,4” BT Sumber: Hasil survei lapangan, 31 Juli – 3 Agustus 2012
Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Unilab Perdana Jakarta. Pada analisis laboratorium
hanya dilakukan pengukuran konsentrasi logam berat, sedangkan ukuran butir sedimen tidak dilakukan pengukuran. Logam berat yang dianalisis dibatasi pada Arsenic (As), Cadmium (Cd), Total Chromium (Cr), Nickel (Ni), Mercury (Hg), Selenium (Se), Zinc (Zn), Copper (Cu), Lead (Pb) dan Cobalt (Co). Adapun jenis dan metode analisis yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 2. Data citra satelit penginderaan jauh Landsat TM digunakan untuk mengetahui kondisi penggunaan lahan pada lokasi tersebut. Hal ini dilakukan terutama untuk mengkaji hubungan adanya logam berat di sedimen sungai dan laut dengan jenis penggunaan lahannya
Tabel 2. Analisis data sedimen dan metode analisisnya Table 2. Analyses of sediment data and analytical
methods
No. Parameter Unit Metode
1 Arsenic (As) mg/kg US EPA Mtd. 3050 B- 7061A *) 2 Cadmium (Cd) mg/kg SNI 06-6992.4-2004 3 Total Chromium (Cr) mg/kg US EPA Mtd. 3050 B- 7190 *) 4 Nickel (Ni) mg/kg SNI 06-6992.6-2004 5 Mercury (Hg) mg/kg SNI 06-6992.2-2004 6 Selenium (Se) mg/kg US EPA Mtd. 3050 B-7740 *) 7 Zinc (Zn) mg/kg SNI 06-6992.8-2004 8 Copper (Cu) mg/kg SNI 06-6992.5-2004 9 Plumbum
(Pb)
mg/kg SNI 06-6992.3-2004 10 Cobalt (Co) mg/kg US EPA Mtd. 3050
B-7200 *) Sumber: US EPA Method 3050 B (1996), Badan Standarisasi Nasional (BSN, 2004)
Tingkat pencemaran ditentukan berdasarkan standart yang dibuat oleh beberap institusi di dunia, seperti yang ditampilan oleh Tabel 3.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sedimen secara umum berasal dari kerak bumi yang diangkut melalui proses hidrologi dari satu tempat ke tempat yang lain, baik secara vertikal maupun horisontal (Friedman dan Sanders, 1978 dalam Mulyawan, 2005). Sedimen merupakan campuran dari berbagai substrat yang memiliki fraksi yang berbeda, seperti kerikil, pasir, lumpur
dan tanah liat. Sebagian besar daerah aliran sungai selalu membawa lumpur yang disebabkan oleh erosi alam dari sungai dan hampir semua isi sedimen akan terus meningkat dengan adanya erosi dari tanah pertanian, kehutanan, kontruksi dan pertambangan (Darmono, 2001). Sedimen merupakan bahan organik dan anorganik yang bisa
mempengaruhi kualitas air. Bahan organik berasal dari pembusukan organisme atau tanaman yang kemudian tenggelam ke dasar perairan dan bercampur di sungai. Proses yang terjadi bisa disebabkan oleh proses anorganik, seperti curah hujan dan pembilasan dengan hidroksida oleh Fe dan Mn (Balachandran et al., 2005).
Tabel 3. Ambang batas logam berat pada sedimen menurut Burton (2002) Table 3. Heavy metal threshold in sediment according to Burton (2002) No Pedoman kualitas sedimen Logam berat (mg/kg)
As Cd Cr Cu Pb Hg Ni Zn 1 TEL 5,9 0,6 37,3 35,7 35 0,17 18 123 2 ERL 33 5 80 70 35 0,15 30 120 3 LEL 6 0,6 26 16 31 0,2 16 120 4 MET 7 0,9 55 28 42 0,2 35 150 5 CB TEC 9,79 0,99 43,4 31,6 35,8 0,18 22,7 121 6 EC-TEL 7,24 0,68 52,3 18,7 30,2 0,13 15,9 124 7 NOAA ERL 8,2 1,2 81 34 46,7 0,15 20,9 150 8 ANZECC ERL 20 1,2 81 34 47 0,15 21 200 9 ANZECC ISQG low 20 1,5 80 65 50 0,15 21 200 10 SQAV TEL-HA28 11 0,58 36 28 37 – 20 98 11 SQO Netherlands Target 2,9 0,8 – 36 85 0,3 – 140 12 Hong Kong ISQG-low 8,2 1,5 80 65 75 0,15 40 200 13 Hong Kong ISQV-low 8,2 1,5 80 65 75 0,28 40 200 14 Flanders RV X 28 1 43 20 0,1 35 28 168 15 Slightly Elevated Stream
Sediments (SESS)
8 0,5 16 38 28 0,07 – 80 TEL, threshold effect level; ERL, effects range low; LEL, lowest effect level; MET, minimal effect threshold; CB, Consensus Based; TEC, threshold effect concentration; EC, Environment Canada; NOAA, National Oceanic and Atmospheric Administration; ANZECC, Australian and New Zealand Environment and Conservation Council; ISQG, Interim Sediment Quality Guidelines; SQAV, Sediment Quality Advisory Value; SQO, Sediment Quality Objective; ISQV, Interim Sediment Quality Value; RV, Reference Value.
Sumber: Burton, 2002
Tabel 4. Kelas deviasi konsentrasi logam berat pada sedimen (mg/kg, berat kering) menurut Swedish Enviromental Protection Agency
Table 4. Deviation classification of heavy metal in sediment (mg/kg dry weight) according to Swedish Environmental Protection Agency
Logam Berat Kelas 1 tidak signifikan Kelas 2 ringan Kelas 3 Signifikan Kelas 4 Besar Kelas 5 Sangat besar Arsenic (As) <10 10-17 17-28 28-45 >45 Cadmium (Cd) <0,2 0,2-0,5 0,5-1,2 1,2-3 >3 Cobalt (Co) < 12 12-20,4 20,4-34,8 34,8-60 > 60 Chromium (Cr) <40 40-48 48-60 60-72 > 72 Copper (Cu) < 15 15-30 30-49,5 49,5-79,5 >79,5 Mercury (Hg) <0,04 0,04-0,12 0,12-0,4 0,4-1 > 1 Nickel (Ni) <30 30-45 45-66 66-99 > 99 Lead (Pb) <25 25-40 40-65 65-110 >110 Zinc(Zn) < 85 85-127,5 127,5-204 204-357 >357 Sumber: Swedish Environmental Protection Agency (SEPA, 2000)
Pada kajian ini pembahasan logam berat dibedakan pada dua bagian, yaitu logam berat di perairan muara sungai dan logam berat di perairan laut. Keberadaan logam berat pada sedimen dapat menjadi polutan apabila konsentrasinya melebihi ambang batas yang ditentukan. Logam berat masuk ke badan air dan mengendap pada sedimen terjadi karena tiga tahap, yaitu adanya curah hujan, adsorpsi dan penyerapan oleh organisme air (Brian, 1976 dalam Mulawarman, 2005). Logam berat pada lingkungan perairan akan diserap oleh partikel dan kemudian terakumulasi di dalam sedimen. Logam berat memiliki sifat mengikat partikel lain dan bahan organik kemudian mengendap didasar perairan dan bersatu dengan sedimen lainnya. Hal ini menyebabkan konsentrasi logam berat di dalam sedimen biasanya lebih tinggi daripada di perairan (Harahap, 1991 dalam Fajri, 2001).
3.1 Perairan Muara Sungai
Pada perairan muara sungai konsentrasi dari Arsenic (As), Cadmium (Cd), Total Chromium (Cr), Nickel (Ni), Mercury (Hg), Selenium (Se), Zinc (Zn), Copper (Cu) , Lead (Pb) dan Cobalt (Co) dapat dilihat pada Tabel 5. Hasil analisis menunjukkan bahwa logam berat Arsenic (As), Cadmium (Cd), Mercury (Hg) dan Selenium (Se) tidak terdeteksi pada muara sungai atau dibawah ambang ketelitian alat yang digunakan. Konsentrasi Lead berkisar antara 6 mg/kg sampai 7 mg/kg dan relatif seragam untuk semua lokasi. Kondisi Lead pada lokasi tersebut masih dalam kategori aman. Hal ini sesuai dengan standar kualitas lingkungan dari Kanada (Canadian Environmental Quality Guidelines, 2002).
Tabel 5. Konsentrasi logam berat pada sedimen sungai (mg/kg) Table 5. Heavy metal concentration at river sediment (mg/kg)
NO. PARAMETER LOKASI Keterangan
AP2 AP3 AP4
1 Arsenic (As) < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 2 Cadmium (Cd) < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi
3 Total Chromium (Cr) 13 19 12 AP3 melebihi ambang batas (SESS)
4 Nickel (Ni) 10 14 14 AP3 dan AP4 mendekati ambang batas (EC-TEL) 5 Mercury (Hg) < 0,01 < 0,01 < 0,01 tidak terdeteksi
6 Selenium (Se) < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 7 Zinc (Zn) 33 36 33 aman
8 Cuprum (Cu) 4 68 14 AP3 melebihi ambang batas (Tabel 3), Kelas 4 (SEPA)
9 Lead (Pb) 6 7 6 aman
10 Cobalt (Co) 23 25 25 kelas 3 (SEPA) Sumber: Analisis hasil survei lapangan tanggal 31 Juli – 3 Agustus 2012
Lead yang termasuk dalam kategori alam adalah sekitar 30,2 mg/kg dan juga menurut SEPA (2000). Jika merujuk pada Tabel 3 (Burton, 2002), hanya kategori dari Flanders RV X yang menyatakan ambang batas Lead adalah 0,1 mg/kg. Konsentrasi Zinc (Zn) pada muara sungai ( AP2, AP3, dan AP4) berkisar antara 33 mg/kg to 36 mg/kg masih dibawah ambang batas menurut Tabel 3 (Burton, 2002) dan Tabel 4 (SEPA, 2000). Konsentrasi tertinggi ditemukan pada stasiun AP3. Diduga keberadaan Zinc pada lokasi ini dikarenakan adanya pembuangan limbah dari industri di hulu sungai. Hal ini sesuai dengan
pendapat Kaushik, Kansal, Meena, Kumari dan Kaushik (2009) bahwa pengayaan Zinc pada sedimen merupakan indikasi adanya masukan dari sumber industri. Martincic, Kwokal dan Barnical (1990) berdasarkan penelitian di Sungai Krka, perairan estuari dan Pulau Kornati (Central Adriatic Sea) menyatakan sumber utama dari logam berat Zinc berasal dari buangan industri. Hal ini ditegaskan juga oleh Suwandana et al. (2011), bahwa hasil penelitian di Teluk Banten menunjukkan sumber utama dari Zinc adalah buangan industri. Walker, Mc Nut dan Ann (1998) menjelaskan bahwa sumber utama yang paling
signifikan dari Zinc adalah adanya limpasan dari perkotaan, termasuk dampak atmosfer, korosi, ban, cat, zat buang dari kendaraan bermotor dan sumber dari daratan lainnya.
Konsentrasi Cobalt di muara sungai (AP2, AP3, dan AP4) berkisar antara 23 mg/kg sampai 25 mg/kg, menurut SEPA (2000) masuk dalam kategori kelas 3 (signifikan). Dalam fraksi sedimen yang mengandung banyak logam berat adalah daerah yang memiliki luas permukaan yang besar sehingga memudahkan untuk berinteraksi dengan interaksi dan kaya bahan organik sehingga memungkinkan adanya proses adsorpsi, pengendapan dan pertukaran ion (Huang dan Lin, 2003). Kehadiran fraksi sedimen akan mendukung terjadinya pengikatan logam berat sehingga dalam waktu yang lama konsentrasi logam berat tersebut akan terus bertambah.
Dari ketiga stasiun, AP3 merupakan lokasi yang tercemar, ditunjukan oleh konsentrasi chromium (Cr) 19 mg/kg melebihi ambang batas menurut Slightly Elevated Stream Sediments (Tabel 3) dan Cuprum (Cu) 68 mg/kg telah melebihi ambang batas menurut Tabel 3, kecuali klasisfikasi dari ERL serta menurut SEPA (2000) termasuk dalam kelas 3 dan juga menurut Canadian Environmental Quality Guidelines (2002) kategori alami Cuprum adalah 18,7 mg/kg.
Menurut Nugroho (2009) menyatakan bahwa konsentrasi Chromium dipengaruhi oleh persentase material organik di sedimen. Chromium di alam tidak pernah ditemukan sebagai logam murni. Sumber alami dari Chromium di alam sangat sedikit, yaitu batu kromit (Fe4Cr2O4) dan kromat Oksida (Cr2O3) menurut Nonovtny dan Olem (1994 dalam Effendi, 2007). Di perairan pada umumnya berasal dari limbah industri logam, tekstil, kertas, penyamaan kulit, treatment wool dan lain lain. Garam-garam Chromium yang masuk ke dalam tubuh manusia dengan jumlah cukup besar akan mengakibatkan kerusakan pada sistem pencernaan (Effendi, 2000; Kaushik et al., 2009). Sementara konsentrasi Cuprum sangat dipengaruhi oleh aktifitas manusia, seperti adanya pelabuhan, aktifitas kapal, pembuangan limbah pabrik, penebangan hutan dan pengawetan kayu. Sumber utama Cuprum di alam adalah korosi tembaga, limbah elektronik, lapisan rem dan aspal dan aglicides (Walker et al., 1998).
Konsentrasi Nickel (Ni) pada stasiun AP3 dan AP4 adalah 14 mg/kg hampir melebihi ambang batas menurut EC-TEL (Tabel 3). Konsentrasi tersebut diduga dipengaruhi oleh adanya sisa bahan makanan dari Tambak pada stasiun AP3 dan limbah domestik. Hal ini sesuai dengan pendapat Edward (1981) bahwa Nickel secara umum keberadaannya di sedimen mempunyai korelasi dengan nutrisi yang ada di permukaan air. Dijelaskan oleh Kaushik et al. (2009); Ariyanti (2012) tingginya konsentrasi Nickel dimungkinkan terjadi karena adanya buangan limbah dan proses sedimentasi dari aktifitas pertambangan yang menuju ke laut. Di perairan Nickel ditemukan dalam bentuk koloid. Garam-garam nikel (Nickel) misalnya nikel ammonium sulfat, nikel nitrat, dan nikel klorida yang bersifat larut dalam air. Kondisi hulu lokasi AP3 (Sungai Betara) berdasarkan interpretasi data landsat TM berupa tambak di dekat lokasi pengambilan sampel, kemudian ke arah hulu didominasi oleh perkebunan rakyat, perkebunan kelapa sawit dan lapangan minyak memungkinkan menjadi sumber utama dari keberadaan logam berat tersebut (Gambar 2).
Secara umum, logam berat biasanya menimbulkan efek tertentu pada makhluk hidup. Meskipun beberapa logam berat seperti mangan, besi, tembaga dan seng merupakan mikronutrien penting, ada beberapa logam berat yang tidak dibutuhkan oleh makhluk hidup secara langsung dalam jumlah kecil sekalipun, seperti Mercury, Cadmium, dan Lead. Hampir semua logam berat termasuk logam mikronutrien esensial dapat menjadi racun bagi organisme akuatik, manusia jika dalam konsentrasi cukup tinggi (Laws, 1993). 3.2 Logam Berat di Sedimen Perairan Laut Hasil analisis laboratorium konsentrasi logam berat di sedimen perairan laut Propinsi Jambi dapat dilihat pada Tabel 6a dan Tabel 6b.
Hasil analisis menunjukkan bahwa logam berat Arsenic (As), Cadmium (Cd), Mercury (Hg) dan Selenium (Se) tidak terdeteksi pada perairan laut atau di bawah ambang ketelitian alat yang digunakan. Sehingga dari semua stasiun penelitian, yaitu 3 di muara sungai dan 10 di perairan laut tidak terdeteksi adanya konsentrasi ke-4 logam berat tersebut di atas. Untuk konsentrasi Zinc (Zn), Cuprum (Cu) dan Lead (Pb) pada 10 stasiun
pengambilan contoh di perairan laut masuk dalam kategori aman menurut Tabel 3 dan Tabel 4. Konsentrasi alami Lead (Pb) dijelaskan oleh Canadian Environmental Quality Guidelines (2002) adalah 30,2 mg/kg sehingga konsentrasi
Lead (Pb) di lokasi kajian masih tergolong alami. Apabila terjadi pencemaran diduga sumber utama timbal adalah sisa pembakaran gas buang kendaraan bermotor dan cat (Walker et al., 1998).
Tambak di tepi Sungai Betara Perkebunan kelapa sawit di hulu Sungai Betara
Stasiun pengumpul migas dan sumur migas di hulu Sungai Betara
Gambar 2. Kenampakan citra Landsat TM pada hulu Sungai Betara yang mempunyai konsentrasi logam berat paling tinggi di lokasi penelitian
Figure 2. The appearance of Landsat TM in upper River Betara which has highest concentration of heavy metals in the study area
Sumber: http://glovis.usgs.gov/. (Landsat TM 5 path/row:125/60, 125/61 perekaman tahun 2005 dan 2009)
Tabel 6a. Konsentrasi logam berat pada sedimen di perairan laut Table 6a. Heavy metal concentration in marine sedimen
No. PARAMETER LOKASI Keterangan
AL2 AL3 AL4 AL5 AL6
1 Arsen (As) < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 2 Cadmium (Cd) < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 3 Chromium Total
(Cr) 13 10 12 16 12 AL5 di ambang batas (SESS)
4 Nickel (Ni) 9 7 9 10 9 aman
5 Mecury (Hg) < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 tidak terdeteksi 6 Selenium (Se) < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 7 Zinc (Zn) 26 18 26 26 26 aman
8 Cuprum (Cu) 4 2 4 11 4 aman
9 Lead (Pb) 7 6 6 6 6 aman
10 Cobalt (Co) 22 21 23 23 22 kelas 3 (SEPA) Sumber: Analisis hasil survei lapangan tanggal 31 Juli – 3 Agustus 2012
Tabel 6b. Konsentrasi logam berat pada sedimen di perairan laut Table 6b. Heavy metal concentration in marine sedimen)
No. PARAMETER LOKASI Keterangan
AL7 AL8 AL9 AL10 AL11
1 Arsen (As) < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 2 Cadmium (Cd) < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 3 Chromium Total
(Cr) 9 15 14 12 12 aman
4 Nickel (Ni) 8 10 16 14 16 AL9 dan AL11 di ambang batas (LEL) 5 Mecury (Hg) < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 tidak terdeteksi 6 Selenium (Se) < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 < 0,5 tidak terdeteksi 7 Zinc (Zn) 12 25 31 31 31 aman
8 Cuprum (Cu) < 2 4 12 5 7 aman
9 Lead (Pb) 5 7 7 6 6 aman
10 Cobalt (Co) 23 22 27 31 30 kelas 3 (SEPA) Sumber: Analisis survei lapangan tanggal 31 Juli – 3 Agustus 2012
Hasil laboratorium untuk Chromium menunjukkan bahwa konsentrasinya pada ambang batas 16 mg/kg pada stasiun AL5 menurut Slightly Elevated Stream Sediments, namun masih dalam kategori aman menurut Canadian Environmental Quality Guidelines (2002) bahwa konsentrasi alami dari Chromium adalah 52.3 mg/kg dan aman menurut SEPA (2000) serta menurut pedoman lain pada Tabel 3.
Konsentrasi Chromium yang tinggi dijelaskan oleh Nugroho (2009) dipengaruhi oleh persentase material organik yang berasal dari bagian hulu. Pada wilayah laut konsentrasi menjadi menurun karena logam berat tersebut menyebar dengan adanya arus dan gelombang.
Konsentrasi Cobalt (Co) pada 10 stasiun pengambilan contoh di perairan laut masuk dalam kategori kelas 3 menurut SEPA (2000). Demikian juga 3 stasiun penelitian di muara sungai masuk dalam katagori kelas 3. Sehingga semua stasiun dalam penelitian ini masuk dalam kategori tercemar secara signifikan. Sumber utama Cobalt pada lokasi ini diduga berasal dari limbah industri dan limbah domestik dari rumah tangga yang berada di sekitar Sungai Batanghari.
Konsentrasi Nickel (Ni) pada sedimen 16 mg/kg pada stasiun AL9 dan AL11, pada ambang batas menurut LEL (Tabel 3). Kedua lokasi ini merupakan bagian dari Sungai Batanghari. Dimana
pada hulu sungai dari lokasi ini terdapat pusat permukiman dan lokasi tambang. Sumber tingginya konsentrasi Nickel diduga berasal dari limbah industri dan limbah domestik di sepanjang sungai Batanghari (Kaushik et al., 2009).
3.3 Distribusi Logam Berat
Hasil analisis laboratorium dari 13 stasiun pengambilan contoh di muara sungai dan perairan laut menunjukan lokasi penelitian tercemar Cobalt (Co) masuk dalam kelas 3 menurut klasifikasi dari SEPA (2000). Pencemaran Cuprum (Cu) hanya terjadi pada stasiun AP3 (Sungai Betara) masuk dalam kelas 4 menurut klasifikasi dari SEPA (2002). Pada stasiun AP3 ini juga sedikit tercemar oleh Chromium (Cr) dan Nickel (Ni). Stasiun AP4 juga sedikit tercemar Chromium (Cr). Pada perairan laut hanya stasiun AL5 yang sedikit tercemar oleh Chromium (Cr) dan stasiun AL9 dan AL11 yang sedikit tercemar oleh Nickel (Ni). Gambar 3a dan 3b menunjukan sebaran konsentrasi logam berat Cobalt (Co), Nickel (Ni), Cuprum (Cu) dan Chromium (Cr). Untuk distribusi spasial Nickel (Ni), Cuprum (Cu) dan Chromium (Cr), warna merah menunjukan daerah sedikit tercemar, warna lainnya masih relatif aman, lokasi tercemar adalah area dekat dengan muara sungai. Sedangkan distribusi spasial Cobalt (Co) seluruh perairan masuk dalam kategori tercemar kelas 3, gradasi warna menunjukan perbedaan konsentrasi
logam berat. Adapun profil distribusi logam berat pada setiap stasiun dapat dilihat pada Gambar 4. Berdasarkan profil tersebut terlihat bahwa secara
umum logam berat mempunyai konsentrasi yang tinggi pada sedimen muara sungai dan berkurang ke arah laut lepas.
Distribusi spasial Cobalt Distribusi spasial Nickel
Gambar 3a. Distribusi spasial logam berat di perairan sungai dan laut di Propinsi Jambi, dimana warna merah menunjukkan konsentrasi yang tinggi dan warna biru menunjukkan konsentrasi yang rendah.
Figure 3a. Spatial distribution of heavy meatal in river and marine Jambi Province, red color shows high concentartion and blue show low concentration
Sumber: Analisis hasil survei lapangan tanggal 31 Juli – 3 Agustus 2012
Distribusi spasial Cuprum Distribusi spasial Chromium Gambar 3b. Distribusi spasial logam berat di perairan sungai dan laut di Propinsi Jambi, dimana warna merah
menunjukkan konsentrasi yang tinggi dan warna biru menunjukkan konsentrasi yang rendah.
Figure 3b. Spatial distribution of heavy meatal in river and marine Jambi Province, red color shows high concentartion and blue show low concentration
Gambar 4. Profil distribusi konsentrasi logam berat pada setiap stasiun Figure 4. The profile of heavy metal concentartion distribution in every station
Sumber: Analisis hasil survei lapangan tanggal 31 Juli – 3 Agustus 2012
KESIMPULAN DAN SARAN
KesimpulanPada penelitian ini telah diuji konsentrasi logam berat (As, Cd, Cr, Ni, Hg, Se, Zn, Cu, Pb and Co) pada sedimen di perairan sungai dan laut di Propinsi Jambi. Berdasarkan pengamatan visual terlihat bahwa sedimen didominasi oleh fraksi halus, yaitu berlumpur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa As, Cd, Hg dan Se tidak terdeteksi pada perairan tersebut. Daerah penelitian terdeteksi tercemar Cobalt (Co) baik di muara sungai dengan konsentrasi 23-25 mg/kg maupun di peraian laut dengan konsentrasi 21-31 mg/kg masuk dalam kelas 3 menurut klasifikasi dari SEPA (2000). Sementara area dekat dengan muara sungai tercemar Cuprum (Cu) dengan konsentrasi tinggi 68 mg/kg masuk dalam kelas 4 menurut klasifikasi dari SEPA (2000) dan sedikit tercemar Nickel (Ni) dengan konsentrasi 14 mg/kg dan Chromium (Cr) dengan konsentrasi 19 mg/kg. Hasil kajian menunjukkan secara umum logam berat cenderung lebih tinggi di muara sungai di bandingkan dengan ke arah laut lepas.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terutama pada stasiun AP3 yang tercemar oleh Cuprum
(Cu), dengan menguji kandungan logam berat tersebut pada biota laut. Dan pengujian biota laut terhadap pencemaran Cobalt (Co).
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Irwandi Bahtiar, Kelompok Lingkungan, Kelompok Litbang Teknologi Proses PPPTMGB LEMIGAS yang telah memberikan masukan dan saran. Terima kasih kepada anggota Tim Penginderaan Jauh dan SIG, Kelompok Litbang Teknologi Eksplorasi PPPTMGB LEMIGAS yang melakukan pemrosesan data citra penginderaan jauh dan pengambilan sampel di lapangan. Terima kasih juga kami ucapkan kepada Laboratorium Lingkungan Unilab Perdana Jakarta yang telah melakukan analisis sampel sedimen penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanti. (2012). Analisis kadar nikel pada jaringan thallus rumput laut (Kappaphycus alvarezii) strain coklat yang dibudidayakan di perairan Barasanga Kecamatan Lasolo Kabupaten Konawe Utara. Skripsi. Jurusan Perikanan
Fakultas Perikanan Universitas Haluoleo. Kendari.
Balachandran, K. K., Lalu Raj, C. M., Nair, M., Joseph, T., Sheeba, P. & Venugopal, P. (2005). Heavy metal accumulation in a flow restricted, tropical estuary. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 65, 361–370.
Burton, G. Allen Jr. (2002). Sediment quality criteria in use around the world. The Japanese Society of Limnology 2002. http://jlakes.org/web/sediment-quality-criteria-inworld-L2002.pdf
Canadian Environmental Quality Guidelines. (2002). Summary of Existing Canadian Environmental Quality Guidelines. CEQGs. Canada.
Darmono. (2001). Lingkungan Hidup dan Pencemarannya: Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI Pres. Jakarta. Effendi, H. (2000). Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Buku materi kuliah pada Jurusan MSP Fak. Perikanan dan Kelautan, IPB. Bogor. 259 hal.
Effendi, H. (2007). Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Jogjakarta.
Fajri, N. E. (2001). Analisis kandungan logam berat Hg, Cd dan Pb dalam air laut, sedimen dan tiram (Carassostrea cucullata) di perairan pesisir Kecamatan Peder, Kab. Karawang. Jawa Barat. Tesis. Fakultas Pascasarjana IPB. Bogor.
Kaushik, A., Kansal, A., Meena, S., Kumari, S. & Kaushik, C. P. (2009). Heavy metal contamination of river Yamuna, Haryana, India: Assessment by metal enrichment factor of the sediments. Journal of Hazardous Materials, 164, 265-270.
Laws, E. A. (1993). Aquatic Pollution. An Introductory Text. 2nd Edition. John Willey & Sons Inc. USA Martincic, D., Kwokal, Z., & Barnical, M. (1990).
Distribution of zinc, lead, cadmium and copper between different size fractions of sediments II. The Krka River Estuary and the Kornati Islands (Central Adriatic Sea). A Center for Marine Research Zagreb, “Rudjer Bošković” Institute, PON 1016, 41000 Zagreb, Croatia Yugoslavia. Mulyawan. (2005). Korelasi kandungan logam berat
Hg, Pb, Cd dan Cr pada air laut, sedimen dan kerang hijau (Perna viridis) di perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Tesis. Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Nugroho, A. (2009). Konsentrasi kromium dan seng dalam air, seston, biota dan fraksinasinya dalam sedimen di perairan Delta Berau Kalimantan Timur. Tesis. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Swedish Environmental Protection Agency (SEPA). (2000). Environmental Quality Criteria. Coasts
and Seas. Swedish Environmental Protection Agency. Report 5052, pp. 51-75. https://www.naturvardsverket.se/Documents/pub likationer/620-6034-1.pdf
Walker, W. J., Mc Nut, R. P. & Ann, C. (1998). The Potential Contribution of Urban Runoff to Surface Sediment of Passaic River Sources and Chemical Characteristics. Geomega. Chemical Land Holding Inc.
Yang, T., Liu, Q., Chan, L., & Liu, Z. (2007). Magnetic signature of heavy metals pollution of sediments: Case study from the East Lake in Wuhan, China. Journal Environmental Geology, 52(8), 1639-1650.
Zhang, W., Feng, H., Chang, J., Qu, J., & Yu, L. (2008). Lead (Pb) isotopes as a tracer of Pb origin in Yangtze River intertidal zone. Chemical Geology, 257(3/4), 260-2636.
DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI DI KABUPATEN JEMBRANA BALI
DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH
COASTLINE CHANGE DETECTION USING REMOTE SENSING TECHNOLOGY
IN JEMBRANA BALI
Komang Iwan Suniada
Balai Penelitian dan Observasi LautBr. Dangin Berawah, Ds. Perancak, Jembrana Bali 82251 Telp (0365) 44266, Fax (0365) 44270
E-mail: [email protected]
Diterima tanggal: 11 Maret 2014, diterima setelah perbaikan: 24 Maret 2015, disetujui tanggal: 27 Maret 2015
ABSTRAK
Perubahan garis pantai pada suatu wilayah disebabkan faktor alamiah (arus, gelombang, badai, kenaikan muka air laut, jenis material pantai) dan atau faktor non alamiah (aktifitas manusia seperti penambangan pasir, reklamasi, perubahan penggunaan lahan). Deteksi perubahan garis pantai di Kabupaten Jembrana dilakukan menggunakan pendekatan penginderaan jauh yaitu menggunakan data citra Satelit Landsat dengan pathrow 117/66 pada tanggal akuisisi 17 Juli 1994 dan 17 Desember 2012. Garis pantai diekstrak dengan menggunakan band near infra merah (band 5) yang mempunyai karakteristik reflektan mendekati nol pada perairan, bahkan pada perairan yang keruh sekalipun. Penetapan garis pantai dilakukan dengan menggunakan metode visual dan on screen digitized mengingat daerah studi yang tidak terlalu luas. Selanjutnya dilakukan tumpang susun (overlay) antara data Landsat tahun 1994 dan 2012 pada perangkat lunak sistem informasi geografi untuk diketahui daerah-daerah yang mengalami abrasi dan sedimentasi pada periode waktu 1994 hingga 2012. Hasil analisis menunjukkan perubahan garis pantai yang disebabkan abrasi seluas 673.600 m2 dengan luasan terbesar terjadi di Desa Perancak seluas sekitar 228.500 m2, sedangkan perubahan garis pantai yang disebabkan oleh sedimentasi seluas 851.500 m2 dengan luasan terbesar terjadi di Desa Pengambengan seluas sekitar 544.100 m2.
Kata kunci: perubahan garis pantai, Landsat, abrasi, sedimentasi
ABSTRACT
Coastline change occurs due to natural factors (currents, waves, storms, sea level rise, beach material type) and non-natural factors (human activities such as sand mining, reclamation, land-use change). In general, coastline changes caused by the resignation of the beach area landward (abrasion), the advance of the land toward the sea (accretion) and the global phenomenon of rising sea levels. Detection of coastline changes in Jembrana performed using remote sensing approach by using Landsat Satellite image data with pathrow 117/66 at the acquisition date July 17, 1994 and December 17, 2012.The coastline was extracted using near infra-red band (band 5) which have characteristics of its reflectance value near zero in the waters, even though at turbid waters. Determination of coastline was done by on-screen digitized using a visual method considering the study area that is not too wide. By using overlay method between Landsat 1994 and 2012 data at geographic information system software, areas experiencing erosion and sedimentation in the period 1994 to 2012 can be generated. Overlay analysis shows that the coastline change due to abrasion is measuring 673.600 m2 with the largest area occurred in Desa Perancak which abrasion area is around 228.500 m2, while the coastline changes caused by sedimentation is measuring 851.500 m2 with the largest area occurred in Desa Pengambengan which sedimentation area is approximately 544.100 m2.
PENDAHULUAN
Garis pantai menurut Triatmojo (1999), dan Kasim (2012) didefinisikan sebagai batas pertemuan antara permukaan daratan dan permukaan air laut, batas itu dapat bervariasi bentuknya dan dapat berubah dari tahun ke tahun. Perubahan garis pantai bersifat sangat dinamis dan terus menerus disebabkan adanya pergerakan sedimen, arus, terjangan gelombang maupun perubahan penggunaan lahan.
Kawasan pantai dikategorikan sebagai kawasan peralihan antara darat dan air sehingga mempunyai karakteristik ekosistem yang unik dan cenderung mendapat tekanan yang berat dari aktifitas manusia. Pengembangan yang pesat pada kawasan pesisir akibat pertambahan jumlah penduduk, dan penambahan infrastruktur dapat menyebabkan perubahan ekosistem pesisir yang mempunyai peranan sebagai pelindung alami kawasan pesisir (Burke, Kura, Kassem, Revenga, Spalding dan McAllister, 2001). Garis pantai yang berkaitan erat dengan proses perubahan di kawasan pesisir merupakan salah satu faktor penting untuk memonitor kawasan pesisir terkait dengan perlindungan lingkungan dan kegiatan pembangunan disekitarnya (Kasim, 2012).
Ekstraksi garis pantai menggunakan teknologi penginderaan jauh untuk kepentingan monitoring kawasan pesisir merupakan hal penting dan mendasar yang perlu dilakukan (Alesheikh, Ghorbanali dan Nouri, 2007; Tarigan, 2007; Muryani, 2010; Siripong, 2010; Arief, Winarso dan Prayogo, 2011; Kasim, 2012) Kajian mengenai perubahan garis pantai dapat memberikan informasi yang berguna bagi perencanaan pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir khususnya yang berorientasi pada penyelamatan lingkungan dan ekosistemnya (Marfai, Pratomoatmojo, Hidayatullah, Nirwansyah dan Gomareuzzaman, 2011). Deteksi perubahan garis pantai dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu metoda observasi yang dapat dilakukan secara multi temporal karena ketersediaan data yang cukup melimpah. Teknik single band digunakan pada data satelit Landsat band 5, untuk mendapatkan perbedaan nilai reflektan antara darat dan air dengan jelas. Energi infra merah pada band ini diabsorpsi oleh air sehingga nilai reflektannya
mendekati 0 dan sebaliknya energi tersebut akan dipantulkan dengan kuat oleh komponen daratan seperti tanah, batuan ataupun vegetasi.
Kekurangan dari penerapan teknik single band untuk mengetahui kepastian nilai batas air-darat tersebut, batas nilai reflektansi tidak berlaku sama pada semua areal, terutama pada daerah yang kompleks seperti pada perairan payau dimana fitur tutupan daratnya kompleks yakni merupakan campuran vegetasi dengan substrat pasir, lumpur dan fitur alami lainnya (Kasim, 2012). Penetapan garis pantai dengan metode lain yaitu metode komposit RGB band 543 paling baik digunakan untuk penetapan garis pantai dengan menggunakan interpretasi secara visual karena akan terlihat batas yang tegas antara air laut dan daratan (Winarso et al., 2001).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui wilayah-wilayah yang mengalami perubahan garis pantai di Pesisir Barat Kabupaten Jembrana serta luasan perubahannya selama kurun waktu antara tahun 1994 sampai 2012.
BAHAN DAN METODE
Kajian ini menggunakan data citra Satelit Landsat 5 TM (Thematic Mapper) dengan Pathrow 117/66 pada tanggal akuisisi 17 Juli 1994 dan data citra satelit Landsat 7 ETM (enhanced Thematic Mapper) dengan tanggal akuisisi pada 17 Desember 2012. Satelit Landsat merupakan satelit berorbit polar yaitu satelit yang orbitnya melintasi kutub utara dan kutub selatan beberapa kali dalam sehari untuk tujuan observasi bumi, dengan ketinggian 900 km dan mempunyai kemampuan meliput bumi setiap 16 hari (resolusi temporal 16 hari) (Arief et al., 2011). Resolusi spasial adalah tingkat kerincian atau kedetailan obyek yang terekam pada citra satelit, obyek tersebut biasanya direpresentasikan dalam bentuk piksel. Resolusi spasial untuk visible, near infrared dan mid infrared (band 1-5 dan band 7) adalah 30 meter, resolusi spasial untuk band panchromatic (band 8) adalah 15 meter dan resolusi spasial untuk thermal infrared (band 6) adalah 60 meter, sehingga Band 5 pada Landsat 5 dan Landsat 7 memiliki resolusi spasial yang sama, yaitu 30 meter. Lokasi kajian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Lokasi kajian Figure 1. Study location
Sumber: Google Earth
Daerah kajian terletak pada sisi sebelah barat daya Kabupaten Jembrana yang memperoleh pengaruh langsung dari Samudera Hindia. Informasi garis pantai diperoleh dengan menggunakan metode visual dengan menggunakan band 5 dan dilanjutkan dengan on screen digitizer mengingat data kajian yang tidak terlalu luas. Prosedur pengolahan data Landsat dilakukan dalam beberapa langkah, diantaranya adalah:
a) koreksi geometrik dilakukan untuk meyankinkan bahwa kedua data satelit memiliki informasi geografis yang sama, karena akan dilakukan proses tumpang susun (overlay) salah satu parameter yang penting adalah kesamaan resolusi spasial dalam hal ini kedua data satelit telah memiliki resolusi spasial yang sama, yaitu 30 meter.
b) digitasi pada kedua data Landsat untuk menghasilkan informasi garis pantai.
c) analisis tumpang susun (overlay) dan perhitungan luas perubahan garis pantai untuk memperoleh informasi mengenai perubahan garis pantai pada lokasi kajian selama periode tahun 1994 dan 2012.
Tahapan pengolahan data Landsat sehingga menghasilkan informasi perubahan garis pantai pada lokasi kajian dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram alir untuk memperoleh informasi perubahan garis pantai
Figure 2. Flow chart of coastline change detection Sumber: Koleksi pribadi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil digitasi pada data Landsat tahun 1994 dan tahun 2012 dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4.
Gambar 3. Hasil digitasi data Landsat tahun 1994 Figure 3. Digitized data of Landsat year 1994
Sumber: Hasil pengolahan data DATA LANDSAT KOREKSI GEOMETRIK ON SCREEN DIGITIZER OVERLAY ANALYSIS INFORMASI PERUBAHAN GARIS PANTAI
Gambar 4. Hasil digitasi data Landsat tahun 2012 Figure 4. Digitized data of Landsat year 2012 (inzet:
Pengambengan) Sumber: Hasil pengolahan data
Untuk mendeteksi apakah suatu wilayah telah mengalami abrasi ataupun sedimentasi, dilakukan analisis tumpang susun (overlay) terhadap kedua citra hasil digitasi yang telah disusun sebelumnya pada perangkat lunak GIS. Hasil analisis tumpang susun pada kedua data hasil digitasi tersebut ditunjukkan pada gambar 5 dan gambar 6.
Penempatan data tahun 1994 pada posisi di bawah data tahun 2012 memberikan informasi daerah yang luasannya berkurang atau daerah-daerah yang mengalami abrasi (Gambar 5), sedangkan penempatan data tahun 2012 pada posisi di bawah data tahun 1994 dapat memberikan informasi daerah-daerah yang luasan daratannya bertambah yang disebabkan terjadinya sedimentasi atau perubahan peruntukan pada kawasan pantai (Gambar 6).
Analisis tumpang susun (overlay) pada kedua data tahun 1994 dan 2012 menunjukkan secara umum kawasan pantai disekitar Kabupaten Jembrana sangat dinamis, penambahan luasan pantai dan sekaligus pengurangan luasan pantai terjadi di sepanjang garis pantai yang menjadi daerah kajian (Gambar 7).
Gambar 5. Overlay data 1994 dengan 2012 Figure 5. Overlay of data year 1994 and 2012
Sumber: Hasil pengolahan data
Gambar 6. Overlay data 2012 dengan 1994 Figure 6. Overlay of data year 2012 and 1994