KATA PENGANTAR. berkat rahmat dan perlindungan-nya, saya dapat menyelesaikan skripsi yang

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan perlindungan-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pelaksanaan Ketentuan Pasal 18 Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 Terkait Dengan Perjanjian Baku Kredit Bank di Kota Denpasar” yang merupakan persyaratan dalam memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Pada kesempatan ini, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak memberi dukungan, bimbingan dan bantuan dalam penyusunan skripsi ini:

1. Bapak Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH., MH., Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana.

2. Bapak Dr. Gede Made Swardhana, SH., MH., Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Udayana.

3. Ibu Dr. Ni Ketut Sri Utari, SH., MH., Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Udayana.

4. Bapak Dr. I Gede Yusa, SH., MH., Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Udayana.

5. Bapak A.A.Gede Oka Parwatha, SH., M.Si., Ketua Program Ekstensi Fakultas Hukum Universitas Udayana.

6. Bapak Anak Agung Ketut Sukranatha, SH., MH., Sekretaris Program Ekstensi Fakultas Hukum Universitas Udayana.

(5)

vi

7. Ibu Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, SH.,M.Hum.,LLM, Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan arahan, saran, bimbingan, dan telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Ibu Ni Putu Purwanti,SH.,MH, Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan, saran dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.

9. Bapak Dr. I Ketut Sudantra, SH., MH., Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana

10. Bapak Ibu Dosen dan Asisten Dosen Pengajar di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Udayana yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan selama menempuh ilmu di Fakultas Hukum Universitas Udayana dan menjadi bekal bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Seluruh Staf Tata Usaha dan Staf Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Udayana yang telah banyak membantu.

12. Keluarga tercinta, Bapak Nyoman Partana, S.H., M.H dan Ibu Ni Ketut Suliyanti, serta kakak-kakak saya, terima kasih atas setiap doa, dukungan, semangat dan kepercayaan yang diberikan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

13. Sahabat-sahabat penulis Wanita Tangguh dan Salami Family yang tidak hentinya memberikan semangat dan dukungan kepada penulis.

(6)

vii

14. Terimakasih teman-teman penyemangatSiska, Gung Vika, Andika, Om Kodox, teman-teman Angkatan 2012 lainnya atas kerjasama dan kebersamaan selama kuliah hingga selesai.

15. Semua saudara dan segenap pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah membantu dan mendukung hingga terselesainya skripsi ini.

Penulis menyadari, bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangannya, karena terbatasnya pengetahuan penulis. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis penulis tetap berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum di masa yang akan datang.

Denpasar,

(7)

viii ABSTRAK

Persetujuan kredit antara bank dengan pihak debitur dituangkan dalam bentuk tertulis yang dikenal dengan istilah perjanjian kredit. Perjanjian harusnya dibuat didasarkan pada persesuaian kehendak antara para pihak yang terlibat dalam perjanjian. Namun dalam prakteknya, perjanjian kredit dibuat secara sepihak oleh bank dan debitur hanya perlu memahami dan menandatangani perjanjian tersebut sebagai tanda persetujuan. Jenis perjanjian tersebut dikenal dengan istilah perjanjian baku atau perjanjian standar. Perjanjian baku dilihat dari sisi hukum perjanjian masih diperdebatkan ditinjau dari syarat-syarat sah nya perjanjian. Dan dari sisi hukum perlindungan konsumen adalah mengenai pelaksanaan ketentuan dan tata cara pencantuman klusula baku dalam dokumen perjanjian.

Skripsi ini menggunakan metode penelitian empiris yaitu dalam mengkaji permasalahan penulis berpedoman pada ketentuan peraturan perUndang-Undangan yang terkait dengan rumusan masalah yang diangkat kemudian dikaitkandengan fakta dalam masyarakat melalui penelitian dilapangan yang mengambillokasi di Kota Denpasar. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keabsahan dari perjanjian kredit bank dalam bentuk perjanjian baku ditinjau dari ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan untuk mengetahui pelaksanaan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen dikaitkan dengan klusula baku yang tercantum dalam perjanjian kredit bank dalam bentuk perjanjian baku di Kota Denpasar.

Perjanjian kredit bank dalam bentuk perjanjian baku di Kota Denpasar telah memenuhi syarat ditinjau dari ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang syarat-syarat sah suatu perjanjian. Pelaksanaan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, hanya saja untuk ketentuan huruf a, f, dan g cenderung menyimpangdari ketentuan karena melindungi bank sebagai pihak pelaku usaha. Hendaknya pihak bank dalam menawarkan perjanjian kredit dalam bentuk perjanjian baku membacakan dan menjelaskan isi perjanjian dengan teliti hingga konsumen tidak merasa dirugikan dan pelaksanaan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tanpa adanya pengecualian sehingga bank dapat merumuskan dan menawarkan perjanjian kredit bank dalam bentuk perjanjian baku yang berdasar padakeseimbangan yang tidak hanya melindungi dan menguntungkan hanya salah satupihak.

Kata Kunci : Pelaksanaan Ketentuan Hukum, Perjanjian Baku, Perjanjian Kredit Bank.

(8)

ix

ABSTRACT

Instalment agreement between bank and debitor is written down on behalf of instalment agreement. Agreement should be made as according to willing agreement of parties involved. However, practically, instalment agreement is made unilateral by bank and debitor only has to comprehend and sign the agreement as agreeing form. This agreement type is known as standard agreement. It is seen from law point of view is still being debate by its legal terms of agreement. To consumer law protection is about implementation condition and method of standard clausula within agreement document.

This paper uses empirical research method, namely, to review the problem, author has guideline to Law regulation related to the problem then connected to fact in society through research in field in Denpasar. this research aims to know the legality of bank instalment agreement in form of standard agreement seen from paragraph1320 in Civil Law and to know implementaion Paragraph 18 Consumer Protection Act related to standard clausula encloed on bank instalment agreement in form of standard agreement in Denpasar.

Bank instalment agreement in form of standard agreement in Denpasar has fulfilled terms seen from condition Paragraph 1320 Civil Law about legal terms of agreement. Implementation condition Paragraph 18 Consumer Protection Act, however, for condition letter a, f, and g has inclined out of condition because protecting bank as business performer. Bank should offer instalment agreement in form of standard agreement, reading and explaining agreement content in detail, so consumer not feel loss and implementation condition Paragaraph 18 Act No. 8 1999 about Consumer Protection without any exception , so Bank able to formulate and offer bank instalment agreement in form of standard agreement based on balance not only to protect and give profit to one party.

Keyword : Law Condition Implementation, Standard Agreement, Bank Instalment Agreement

(9)

x DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DALAM

HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI SKRIPSI ... iii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 6

1.4 Orisinalitas Penelitian ... 6

1.5 Tujuan Penelitian ... 8

1.6 Manfaat Penelitian ... 8

1.7 Landasan Teori ... 9

1.8 Metode Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN, PERJANJIAN BAKU DAN KREDIT BANK 2.1 Perjanjian ... 16

(10)

xi

2.1.2. Bentuk-bentuk dan Syarat Sahyanya Perjanjian ... 18

2.1.3. Asas-asas Perjanjian ... 22

2.2 Perjanjian Baku ... 25

2.2.1. Pengertian Perjanjian Baku dan Dasar Hukumnya ... 25

2.2.2. Karakteristik Perjanjian Baku ... 27

2.2.3. Jenis-Jenis Perjanjian Baku ... 28

2.3 Kredit Bank ... 30

2.3.1. Pengertian Kredit Bank dan Dasar Hukumnya ... 30

2.3.2. Pengertian dan Fungsi Perjanjian Kredit ... 31

2.3.3. Pihak-Pihak Dalam Perjanjian Kredit ... 33

BAB III KEABSAHAN PERJANJIAN KREDIT BANK DALAM BENTUK BAKU DITINJAU DARI KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA 3.1 Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian Dikaitkan Dengan Perjanjian Baku ... 36

3.2 Perjanjian Kredit Bank Dalam Bentuk Perjanjian Baku Ditinjau Ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata ... 41

BAB IV PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT BANK DALAM BENTUK PERJANJIAN BAKU BERKAITAN DENGAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN 4.1 Pengaturan Mengenai Pencantuman Klausula Baku Dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen ... 47 4.2. Pelaksanaan Ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan

(11)

xii

Konsumen Terkait Dengan Perjanjian Kredit Bank Dalam

Bentuk Perjanjian Perjanian Baku di Kota Denpasar ... 51 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 59 5.2 Saran ... 60 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR INFORMAN DAFTAR RESPONDEN LAMPIRAN

(12)

xiii BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam menunjang dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, bank turut memiliki peranan. Peranan tersebut dapat dilihat dengan ditawarkannya jasa perkreditan oleh pihak bank untuk membantu perseorangan maupun badan usaha yang memerlukan pendanaan untuk pemenuhan kebutuhannya. Kredit tersebut dapat berupa kredit produktif sebagai konstribusi usaha maupun berupa kredit konsumtif untuk pemenuhan kebutuhan konsumtif. Pasal 1 angka (11) Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyatakan bahwa “ Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain, yang mewajibkan pihak lain untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Kegiatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain tersebut dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis yang dikenal dengan istilah perjanjian kredit. Perjanjian kredit merupakan perjanjian utang piutang antara pihak kreditur dengan pihak debitur. Idealnya perjanjian tersebut harus disepakati oleh kedua belah pihak, dikarenakan perjanjian kredit tersebut memiliki fungsi penting dalam tata pelaksanaan proses penerimaan hingga berakhirnya kredit berikut dengan tanggung jawab dari masing - masing pihak. Dengan dibuatnya perjanjian kredit

(13)

xiv

dalam bentuk tertulis memberi kepastian hukum bagi para pihak. Sebab, begitu perjanjian kredit tersebut disepakati, maka perjanjian kredit tersebut bersifat mengikat dan berlaku seperti undang - undang bagi kedua belah pihak.

Dalam praktek, umumnya dijumpai perjanjian kredit yang hanya dibuat oleh pihak kreditur yang dalam hal ini adalah bank, sedangkan debitur hanya perlu memahami isi perjanjian dan membubuhkan tanda tangan sebagai tanda persetujuan serta telah adanya kesepakatan diantara kedua belah pihak. Jenis perjanjian seperti ini dikenal dengan istilah perjanjian baku atau perjanjian standar. Kehidupan masyarakat modern ditandai dengan pelayanan kebutuhan yang serba praktis termasuk didalamnya pemenuhan kebutuhan jasa. Sehingga perjanjian baku ini tumbuh dan berkembang dengan sangat subur dalam praktek masyarakat dengan alasan efisiensi baik dari segi waktu maupun biaya.

Konsumen dalam jasa perbankan dikenal dengan sebutan nasabah. Nasabah dalam konteks Undang - Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menjadi dua macam, yaitu nasabah penyimpan dan nasabah debitur. Nasabah penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan, sedangkan nasabah debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.

(14)

xv

Perjanjian baku adalah perjanjian yang klausul-klausulnya dibakukan oleh pemakainya dan pihak yang lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk

merundingkan atau meminta perubahan.1 Perjanjian yang dibuat dalam bentuk

baku atau yang disebut pula dengan kontrak standar (standart contract) memang dirasa cukup efisien, namun penggunaan perjanjian baku menjadi dilematis dikala calon debitur dalam kondisi sangat memerlukan kredit tetapi disisi lain juga merasa terbebani dengan isi perjanjian yang cenderung lebih menguntukan pihak kreditur. Belum lagi dengan adanya klausula eksonerasi yang semakin

meminimalkan atau bahkan menghapus tanggung jawab bank sebagai kreditur.2

Pada akhirnya debitur terjebak dalam pilihan untuk menandatangani perjanjian yang dirasa berat sebelah tersebut untuk memperoleh kredit atau tidak menandatanganinya dengan konsekuensi tidak memperoleh kredit ( take it or leave it ).

Perjanjian baku disini bersifat masal, yang mana perjanjian baku tersebut ditujukan bagi setiap debitur yang melibatkan diri dalam perjanjian baku. Dalam hal debitur hanya berkesempatan untuk bersikap menerima atau tidak menerima sama sekali, tanpa berkesempatan untuk melakukan tawar menawar terkait kondisi serta kemampuan dari debitur itu sendiri. Terlebih kemungkinan untuk mengadakan perubahan dari isi perjanjian tersebut, sama sekali tidak ada.

Undang – Undang No. 8 Tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen Bab V pada Pasal 18 diatur mengenai klausula baku yang melarang pembuatan atau pencantuman klausula baku pada setiap dokumen dan/ perjanjian dengan

1

Celina Tri S.K, 2008, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta, hal.139

2 Munir Fuadi, 2002, Pengantar Hukum Bisnis, Menata Bisnis Modern di Era

(15)

xvi

beberapa keadaan tertentu. Dengan diundangkannya Undang-Undang

Perlindungan Konsumen diharapkan dapat menyeimbangkan daya tawar konsumen terhadap pelaku usaha dan mendorong pelaku usaha untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab dalam menjalankan kegiatan usahanya. Mengacu pada filosofi pembanguna nasional yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya berlandaskan pada falsafah kenegaraan Republik Indonesia yaitu dasar negara Pancasila dan Konstitusi Negara UUD 1945 maka Undang-Undang Perlindungan Konsumen mencoba memberikan perlindungan terhadap konsumen.

Perjanjian baku yang beredar dalam masyarakat, dilihat dari sudut pandang banyak pihak masih banyak yang merugikan masyarakat dengan klausula yang terdapat di dalam perjanjian. Isi perjanjian baku pada umumnya berat sebelah sebab lebih menguntungkan si pembuat perjanjian tersebut. Pihak lain biasanya tidak memiliki pilihan lain selain menerima begitu saja syarat-syarat yang diajukan oleh penyusun kontrak dikarenakan pihak yang membuat perjanjian memiliki posisi atau kedudukan kuat.

Perlindungan hukum bagi nasabah debitur selaku konsumen perbankan diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen ialah mengenai ketentuan dan tata cara pencantuman klausula baku. Oleh karena kenyataan pada umumnya perjanjian baku menunjukkan bagaimana rendahnya posisi dalam tawar menawar bagi debitur. Berbeda dari sisi bank yang tampak adalah keinginan bank untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dari debitur dengan menggunakan kondisi debitur yang lemah secara ekonomis maupun psikologis dengan

(16)

xvii

memasukkan klausula-klausula tidak wajar dan tidak adil dalam perjanjian kredit tersebut.3

Meskipun Undang-Undang Perlindungan Konsumen sudah diberlakukan, namun di Indonesia perjanjian baku yang susbstansinya mencantumkan klausul yang membebani konsumen kenyataannya bahkan sudah merambah hingga dunia perbankan.

Perjanjian baku jika dilihat dari sisi hukum perjanjian masih diperdebatkan ditinjau dari asas-asas maupun dari syarat sahnya suatu perjanjian. Dengan dicantumkannya klausula tersebut, menunjukan semakin kuatnya kedudukan kreditur yang sebenarnya sudah cukup kuat walaupun tanpa pencantuman klausula tersebut. Dalam praktik perbankan, dijumpai dalam pemberian kredit oleh bank dicantumkannya syarat sepihak yang menyatakan bahwa “ Bank sewaktu-waktu diperkenankan untuk merubah suku bunga pinjaman yang diterima oleh debitur tanpa persetujuan dari debitur terlebih dahulu. “ dalam perjanjian yang telah dibakukan terlebih dahulu oleh pihak bank.

Dari contoh klausul diatas, perjanjian kredit dalam bentuk baku yang dibuat sepihak oleh pihak bank hingga saat ini masih menjadi persolan hukum khususnya dibidang perjanjian dalam hukum perdata. Selain itu, dilihat dari isi perjanjian berhadapan pula dengan hukum perlindungan konsumen karena disinyalir telah melanggar hak-hak konsumen sebagaimana telah diatur dalam Undang-undang perlindungan konsumen maka sangat menarik perhatian untuk diadakan penelitian.

3 Az. Nasution, 2002, Suatu Pengantar, Hukum Perlindungan Konsumen, Diadit Media,

(17)

xviii 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah perjanjian kredit bank dalam bentuk perjanjian baku sah ditinjau dari ketentuan pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata?

2. Bagaimanakah pelaksanaan perjanjian kredit bank dalam bentuk perjanjian baku berkaitan dengan ketentuan pasal 18 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Atas dasar pertimbangan waktu dan kemudahan untuk mendapatkan bahan hukum, maka penelitian ini akan dibatasi pada kredit yang diberikan oleh bank di daerah denpasar. Selanjutnya agar tidak menyimpang dari tulisan yang hendak dicapai, maka perlu ditetapkan mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas. Untuk masalah pertama pembahasan akan dibatasi mengenai sah atau tidaknya perjanjian kredit dalam bentuk baku ditinjau dari hukum perjanjian. Sedangkan untuk masalah kedua pembahasan akan dibatasi mengenai melanggar atau tidaknya klausula yang terdapat pada perjanjian kredit dalam bentuk baku ditinjau dari hukum perlindungan konsumen.

1.4 Orisinalitas Penelitian

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tulisan yang berjudul Pelaksanaan Ketentuan Pasal 18 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Terkait dengan

(18)

xix

Perjanjian Baku Kredit Bank di Kota Denpasar adalah sepenuhnya hasil dari pemikiran dan tulisan yang ditulis oleh penulis sendiri dengan menggunakan 2 (dua) skripsi sebagai referensi. Berdasarkan penelitian yang ditelusuri berkaitan dengan penelitian ini dikemukakan sebagai berikut :

No. Judul Skripsi Penulis Rumusan Masalah

1. Perlindungan Hukum

Terhadap Debitur atas Klausula Eksonerasi yang terdapat pada Perjanjian Kredit Bank

Muhhamad Syahreza

1. Bagaimana hukukum positif Indonesia yang memberikan perlindungan hukum terhadap debitur atas klausula

eksonerasi yang terdapat pada perjanjian kredit bank?

2. Dapatkah klausula eksonerasi ini dibatalkan bila sangat merugikan pihak lain?

2. Perjanjian Baku Jual

Beli Perumahan dengan Klausula Eksonerasi

Koko Hermawan

1. Apakah perjanjian baku jual beli perumahan dalam bentuk baku berklausula eksonerasi sah ditinjau dari hokum perjanjian dan undang-undang perlindungan konsumen? 2. Bagaimana akibat hukum bila

perjanjian baku jual beli perumahan berklausula

eksonerasi tidak dipenuhi oleh konsumen?

(19)

xx 1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, adapun tujuan dari dilakukannya penelitian dalam penulisan skripsi ini meliputi :

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dilakukannya penelitian ini adalah untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang ada tersebut.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui keabsahan dari perjanjian kredit bank dalam bentuk baku yang dibuat oleh pihak kreditur ditinjau dari ketentuan pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

b. Untuk mengetahui pelaksanaan ketentuan pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen jika dikaitkan dengan klausula yang tercantum dalam perjanjian kredit bank berbentuk baku.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian terhadap pencantuman klausula eksonerasi dalam perjanjian baku kredit bank di kota denpasar diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis maupun praktis sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Mengenai manfaat teoritis dalam penulisan yang berjudul

“Pelaksanaan Ketentuan Pasal 18 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1998 Terkait dengan Perjanjian Baku Kredit Bank di Kota Denpasar ” adalah :

(20)

xxi

a. Mengembangkan penjelasan di bidang ilmu hukum khususnya Hukum Perdata dan Hukum Perlindungan Konsumen.

b. Memperdalam pengetahuan mengenai ketentuan klausula baku terkait dengan perjanjian kredit bank berbentuk baku.

2. Manfaat Praktis

Mengenai manfaat praktis yang dapat dikemukakan oleh penulis dalam hal ini adalah untuk melatih diri dalam menghadapi dan menanggapi suatu peristiwa atau permasalahan hukum. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberi manfaat dalam mengetahui ada atau tidaknya pelanggaran atas dicantumkannya klausula-klausula dalam perjanjian kredit bank dalam bentuk baku.

1.7 Landasan Teoritis

Landasan teoritis merupakan suatu pengertian yang terlebih dahulu harus dimengerti dan dipahami dalam suatu tulisan ilmiah, terlebih dalam penulisan skripsi.

Bank sebagai lembaga keuangan memegang peranan penting dalam proses pembangunan nasional. Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan bahwa “ Bank adalah Badan Usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. Kredit yang disalurkan oleh pihak bank merupakan salah

(21)

xxii

satu peran penting bank dalam pembangunan nasional. Drs. Sudarsono dalam Kamus Hukum menyebutkan bahwa kredit adalah cara menjual dengan pembayaran tidak secara tunai; cara menjual barang cara pembayaran ditangguhkan atau diangsur; pinjam oleh seseorang atau badan sampai batas

jumlah tertentu yang diizinkan oleh bank atau badan lain.4

Kegiatan perkreditan telah dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis. Adanya perjanjian kredit dalam bentuk tertulis memang lebih memberikan kepastian hukum bagi para pihak. Dalam praktik perbankan, perjanjian kredit yang disodorkan berupa perjanjian yang telah dibakukan terlebih dahulu oleh pihak bank yang kemudian diserahkan pada debitur untuk disetujui atau tidak. Menurut ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata diatur mengenai syarat sahnya suatu perjanjian sebagai berikut :

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu hal tertentu;

4. Suatu sebab yang diperkenankan.

Perjanjian yang telah dibakukan sedemikian rupa dikenal dengan perjanjian baku atau kontrak standar. Kontrak baku adalah kontrak yang

klausul-klausulnya telah ditetapkan atau dirancang oleh salah satu pihak.5 Sudaryatmo

menyatakan bahwa perjanjian baku mempunyai karakteristik sebagai berikut :

4

Sudarsono, 2007, Kamus Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, hal.232

5

Ahmadi Miru, 2010, Hukum Kontrak & Perancangan Kontrak, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal.39

(22)

xxiii

1. Perjanjian dibuat secara sepihak oleh mereka yang posisinya relatif lebih kuat dari konsumen.

2. Konsumen sama sekali tidak dilibatkan dalam menentukan isi perjanjian. 3. Dibuat dalam bentuk tertulis dan masal.

4. Konsumen terpaksa menerima isi perjanjian karena didorong oleh kebutuhan.

Pasal 1angka (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Selanjutnya mengenai pengertian konsumen dapat dilihat dalam pasal 1 angka (2) yang menyebutkan bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Kedudukan debitur dalam perjanjian kredit bank ialah disamakan dengan konsumen. Sebab dilihat dari penjelasan mengenai konsumen terdapat unsur setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa, dan tidak untuk diperdagangkan. Nasabah debitur adalah pengguna jasa perkreditan yang diberikan oleh bank dan tidak untuk diperdagangkan.

Perjanjian baku diatur dalam Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut :

1. Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/ atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian apabila :

(23)

xxiv

b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen

c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan uang yang dibayarkan atas barang dan/ atau jasa yang dibeli konsumen

d. Menyerahkan pemberian kuasa dari konsumen ke pelaku kepada pihak pelaku usaha yang baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran

e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen

f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan

baru, tambahan, lanjutan dan/ atau pengubahan lanjutan yang dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya

h. Menyatakan bahwa konsumen member kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

2. Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca dengan jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti.

(24)

xxv

3. Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dinyatakan, batal demi hukum.

4. Pelaku usaha wajib menyelesaikan klausula baku yang bertentangan dengan undang-undang ini.

1.8 Metode Penelitian

Skripsi adalah suatu karya tulis yang bersifat ilmiah, oleh karena itu dalam pembahasannya harus didukung pula oleh hasil penelitian. Hal ini disebabkan, oleh karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologi dan konsisten. Melalui proses penelitian tersebut diadakan analisa dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah. Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode penelitian sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah yuridis empiris yaitu empiris yaitu dalam mengkaji permasalahan penulis berpedoman pada ketentuan peraturan perUndang-Undangan yang terkait dengan rumusan masalah yang diangkat kemudian dikaitkan dengan fakta dalam masyarakat melalui penelitian dilapangan yang mengambil lokasi di Kota Denpasar. Peneliti mencari data tentang keabsahan perjanjian kredit bank dalam bentuk baku di kota denpasar ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan kesesuaian perjanjian kredit bank tersebut ditinjau dari ketentuan mengenai pencantuman klausula baku yang diatur dalam

(25)

Undang-xxvi

Undang Perlindungan Konsumen. Data primer yang merupakan penelitian lapangan digunakan sebagai data utama untuk mendukung data skunder yang diperoleh melalui data kepustakaan. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisa, sehingga diperoleh data yang cukup untuk penulisan penelitian. 2. Jenis Pendekatan

Pembahasan dalam penelitian ini akan dikaji dengan pendekatan fakta. Pendekatan fakta dilakukan dengan cara mengadakan penelitian berupa data-data dan wawancara langsung pada lembaga yang menjadi objek penelitian. Secara singkat penulis ingin melakukan pendekatan terhadap perjanjian kredit bank di kota denpasar.

3. Sumber Data

Data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang didapat langsung dari masyarakat sebagai sumber pertama dengan melalui penelitian lapangan. Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui studi kepustakaan.

4. Teknik Pengumpulan Data

Perolehan data primer dari penelitian lapangan dapat dilakukan baik

melalui pengamatan(observasi), wawancara ataupun penyebaran kuisioner.6

Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh melalui kepustakaan, dengan mengkaji, menelaah dan mengolah literatur, peraturan perundang-undangan, artikel-artikel atau tulisan yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.

6 Bambang Sunggono, 1996, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

(26)

xxvii 5. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah pengolahan data yang diperoleh baik dari penelitian pustaka maupun penelitian lapangan. Terrhadap data primer yang didapat dari lapangan terlebih dahulu diteliti kelengkapannya dan kejelasannya untuk dilakukan penyusunan secara sistematis untuk memudahkan dilakukannya analisis. Data sekunder yang didapat dari kepustakaan untuk selanjutnya dipilih dan dihimpun secara sistematis, sehingga dapat dijadikan acuan dalam melakukan analisis. Dari hasil data penelitian pustaka maupun lapangan ini dilakukan pembahasan secara deskriptif analitis. Tahap selanjutnya adalah pengolahan data berupa analisis yang dilakukan dengan metode kualitatif komparatif yaitu penguraian dengan membandingkan hasil penelitian pustaka dengan hasil penelitian lapangan sehingga dapat dibuktikan perihal sah atau tidaknya perjanjian kredit bank dalam bentuk baku sah ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, serta mengenai pencantuman klausula baku yang terdapat dalam perjanjian kredit bank dalam bentuk baku tersebut melanggar atau tidak ketentuan klausula baku sebagaimana telah diatur dalam Undang-undang perlindungan konsumen. Adapun hasil dari membandingkan tersebut akan menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :