• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gangguan Perkembangan Motorik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gangguan Perkembangan Motorik"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN /SMF ILMU KESEHATAN ANAK FKUP/ RS HASAN SADIKIN DEPARTEMEN /SMF ILMU KESEHATAN ANAK FKUP/ RS HASAN SADIKIN BANDUNG

BANDUNG Sari Pustaka Sari Pustaka Pembimbing

Pembimbing : : Prof. Prof. Dr. Dr. dr.Kusnandi dr.Kusnandi Rusmil, Rusmil, SpA(K).,MMSpA(K).,MM Dr. dr. Eddy Fadlyana.,Sp.A (K).,M.Kes Dr. dr. Eddy Fadlyana.,Sp.A (K).,M.Kes Dr. dr. Meita Dhamayanti,Sp.A(K).,M.Kes Dr. dr. Meita Dhamayanti,Sp.A(K).,M.Kes Rodman Tarigan,dr.,SpA(K).,M.Kes

Rodman Tarigan,dr.,SpA(K).,M.Kes Oleh

Oleh : Natasha : Natasha Amalda Amalda EdiwanEdiwan Tanggal

Tanggal : : September September 20172017

GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR DAN HALUS GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR DAN HALUS

PADA BAYI DAN ANAK PADA BAYI DAN ANAK

DEFINISI PERKEMBANGAN DEFINISI PERKEMBANGAN

Anak selalu tumbuh dan berkembang dari masa konsepsi hingga masa Anak selalu tumbuh dan berkembang dari masa konsepsi hingga masa remaja. Hal inilah

remaja. Hal inilah yang membedakan anak-anak dengan dewasa. Pertumbuhan danyang membedakan anak-anak dengan dewasa. Pertumbuhan dan  perkembangan merupakan

 perkembangan merupakan proses proses berkelanjutan sampai berkelanjutan sampai dewasa dewasa yang dipengaruhiyang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Konsep perkembangan tidak lepas dari pertumbuhan. Laju oleh berbagai faktor. Konsep perkembangan tidak lepas dari pertumbuhan. Laju  perkembangan

 perkembangan dipengaruhi dipengaruhi oleh oleh laju laju pertumbuhan, pertumbuhan, demikian demikian juga juga sebaliknya.sebaliknya. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan selaras dan menghasilkan kematangan Pertumbuhan dan perkembangan berjalan selaras dan menghasilkan kematangan individu. Perkembangan berkenaan dengan peningkatan kualitas,

individu. Perkembangan berkenaan dengan peningkatan kualitas, yaitu peningkatanyaitu peningkatan dan penyempurnaan fungsi. Perkembangan merupakan suatu perubahan dan dan penyempurnaan fungsi. Perkembangan merupakan suatu perubahan dan  perubahan

 perubahan ini ini bersifat bersifat kualitatif. kualitatif. Perkembangan Perkembangan tidak tidak ditekankan ditekankan pada pada segisegi material, melainkan pada segi fungsional. Perkembangandapat diartikan sebagai material, melainkan pada segi fungsional. Perkembangandapat diartikan sebagai  perubahan kualitatif fungsional tubuh.

 perubahan kualitatif fungsional tubuh.1,21,2

Terdapat banyak definisi perkembangan yang dikemukakan oleh para ahli. Terdapat banyak definisi perkembangan yang dikemukakan oleh para ahli. Monks dkk mendefinisikan perkembangan sebagai ‘

Monks dkk mendefinisikan perkembangan sebagai ‘suatu proses ke arah suatu proses ke arah yang lebihyang lebih sempurna dan tidak dapat terulang kembali. Perkembangan menunjuk pada sempurna dan tidak dapat terulang kembali. Perkembangan menunjuk pada  perubahan

 perubahan yang yang bersifat bersifat tetap tetap dan dan tidak tidak dapat dapat diulang diulang kembali.Perkembangankembali.Perkembangan merupakan proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada merupakan proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan  belajar.

 belajar.’’22 Seiffer dan Hoffnung dalamSeiffer dan Hoffnung dalam ‘Child and Adolescent Development’‘Child and Adolescent Development’ mengartikan perkembangan sebagai ‘perubahan jangka panjang pada

(2)

 perasaan, pola pikir, relasi sosial, dan kemampuan motorik seseorang’.3Desmita mengartikan bahwa di dalam perkembangan terdapat serangkaian perubahan yang terjadi secara terus menerus, berasal dari fungsi jasmaniah dan rohaniah individu menuju tahap kematangan, melalui proses pertumbuhan dan pembelajaran.4

Anak akan menjalani pertumbuhan dan perkembangan yang normal yang sesuai dengan usianya pada kondisi optimal. Perkembangan merupakan tingkat fungsional yang dimiliki seorang anak secara individu yang sebagai hasil dari maturasi sistem saraf dan reaksi psikologis. Perkembangan dipengaruhi oleh  perpaduan faktor genetik (nature) dengan lingkungan sosial serta lingkungan

keluarga (nurture).1

Periode prenatal dan selama 1 tahun pertama kehidupan membentuk landasan pertumbuhan dan perkembangan, menetapkan trajektori kehidupan anak selanjutnya. Plastisitas neural, kemampuan otak untuk beradaptasi atau terbentuk dari pengalaman, baik positif maupun negatif, berada di puncaknya. Total volume otak bertambah dua kali lipat pada tahun pertama kehidupan dan bertambah 15% setelah tahun kedua. Kemampuan untuk melakukan keterampilan sederhana, seperti menelan, merupakan proses rumit dan memerlukan koordinasi tinggi yang melibatkan berbagai tingkat kontrol persarafan yang tersebar di berbagai sistem fisiologis, dimana pematangannya tejadi selama 1 tahun kehidupan. Mielinasi korteks dimulai pada usia kehamilan 7-8 bulan dan berlanjut hingga masa remaja dan dewasa muda. Mielinasi berlangsung dari posterior ke anterior, memungkinkan maturasi progresif pada jaras sensorik, motorik, dan asosiatif.

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR DAN HALUS

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, bayi memperoleh kompetensi baru di semua area perkembangan. Konsep alur perkembangan menggambarkan bahwa keahlian kompleks akan dapat dipelajari dari menguasai keahlian-keahlian sederhana, juga perlu disadari bahwa perkembangan pada masing-masing area akan mempengaruhi satu sama lain. Seluruh parameter  perkembangan harus diplot dengan menggunakan grafik WHO. Grafik WHO

(3)

menunjukkan bagaimana perkembangan dan pertumbuhan anak sejak lahir hingga usia 72 bulan seharusnya berjalan (dalam kondisi optimal).

Perkembangan seorang anak meliputi 3 aspek perkembangan yaitu; 1)  perkembangan psikomotorik, 2) perkembangan kognitif, 3) perkembangan

komunikasi dan bahasa.1

Perkembangan psikomotorik anak merupakan perkembangan yang paling sering diidentifikasi oleh orang tua. Menurut Magill Richard A., keterampilan motorik dibagi menjadi keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus.5

- Keterampilan motorik kasar ( gross motor skill ) merupakan keterampilan motorik menggunakan otot-otot besar seperti berjalan, berlari, melompat. - Keterampilan motorik halus ( fine motor skill ) merupakan keterampilan

mengontrol otot-otot kecil. Secara umum merupakan gerakan-gerakan yang cermat, halus, dan membutuhkan koordinasi mata dan tangan, seperti menjahit, mengancingkan pakaian.

Meskipun demikian, kebanyakan orang tua memahami perkembangan  psikomotorik hanya terbatas kepada kemampuan motorik kasar semata. Padahal kemampuan psikomotorik anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan motorik kasar saja, tetapi juga kemampuan motorik halus anak. Kemampuan motorik kasar  biasanya ditentukan oleh gerak otot dan fisik. Sementara kemampuan motorik halus

lebih merupakan gerak koordinasi yang dilakukan oleh s eorang anak.

Tabel 1. Kemampuan Motorik Kasar dan Halus pada Anak Usia 0-24 bulan

Usia 0

 – 

 3 bulan

 Mengangkat kepala setinggi 45O dan dada ditumpu lengan apda waktu

tengkurap

 Menggerakan kepala dari kiri/kanan ke tengah

Usia 3

 – 

 6 bulan

 Berbalik dari telungkup ke telentang  Mengangkat kepala setinggi 900

(4)

Usia 6

 – 

 9 bulan

 Duduk sendiri (dalam sikap bersila)

 Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan  Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang

Usia 9

 – 

 12 bulan

 Mengangkat badannya ke posisi berdiri

 Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi  Dapat berjalan dengan dituntun

Usia 12

 – 

 18 bulan

 Berdiri sendiri tanpa berpegangan

 Membungkuk untu memungut mainan kemudian berdiri kembali  Berjalan mundur 5 langkah

Usia 18

 – 

 24 bulan

 Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik   Berjalan tanpa terhuyung-huyung

Usia 24

 – 

 36 bulan

 Jalan menaiki tangga sendiri

 Dapat bermain dan menendang bola kecil

Usia 36

 – 

 48 bulan

 Berdiri pada satu kaki selama 2 detik  Melompat dengan kedua kaki diangkat  Mengayuh sepeda roda tia

Usia 48

 – 

 60 bulan

 Berdiri pada satu kaki selama 6 detik  Melompat-lompat dengan satu kaki  Menari

Usia 60

 – 

 72 bulan

 Berjalan lurus

 Berdiri dengan satu kaki selama 11 detik 

Sumber: Needlman. Growth and Development. 2004

USIA 0

 – 

 2 BULAN

Berat badan bayi akan berkurang 10% dari berat badan lahir pada 1 minggu  pertama karena ekskresi dan asupan nutrisi yang terbatas. Bayi kemudian belajar untuk menyusu dengan efisien sehingga bayi mendapatkan asupan ASI, mengembalikan berat badan lahirnya pada usia 2 minggu. Gerakan tungkai sebagian besar berupa geliat, dengan bayi membuka dan menutup telapak tangan tanpa maksud tertentu. Senyum terjadi secara involunter. Tatap mata, menengok, dan mengisap dilakukan dengan kontrol yang lebih baik, dan dapat mencerminkan

(5)

kemampuan persepsi dan kognisi bayi. Bayi akan lebih senang menoleh ke arah suara ibu, menggambarkan kemampuan rekognisi memori. Awalnya, tidur dan  bangun terjadi merata sepanjang 24 jam. Pematangan neurologis bertanggung  jawab atas penggabungan jam tidur selama 5-6 jam di malam hari, dengan periode  bangun singkat untuk menyusui. Bayi dengan orang tua yang lebih interaktif dan rajin memberi stimulasus (secara konsisten) pada siang hari akan belajar untuk tidur di malam hari.

USIA 2

 – 

 6 BULAN

Selama beberapa bulan selanjutnya, rentang kontrol motorik dan sosial serta aktivitas kognitif bayi meningkat pesat. Refleks – refleks primitif yang membatasi gerakan volunteer mulai hilang. Menghilangnya refleks tonik leher asimetris menandakan bahwa bayi dapat mulai mengamati objek di depannya dan memainkannya dengan kedua tangan. Menghilangnya refleks genggam memungkinkan bayi memegang objek dan melepaskannya secara volunter.

Objek-objek baru membuat bayi ingin meraih dengan sengaja meskipun gerakannya masih tidak eisien. Kualitas gerakan-gerakan spontan juga berubah, dari menggeliat, menjadi gerakan sirkular yang lebih kecil (‘ fidgety’). Saat bayi dapat mempertahankan kepalanya selama duduk, mereka dapat melihat hal-hal lain di sekitar mereka, daripada sekadar melihat ke atas, membuka rentang visual baru. Bayi dapat mulai makan dengan sendok. Pada periode ini, bayi memiliki waktu  bangun dan tidur yang stabil.

USIA 6

 – 

 12 BULAN

Bayi dapat duduk, banyak bergerak, dan memiliki berbagai keahlian-keahlian baru untuk mengeksplorasi lingkungan di sekitar mereka. Pertumbuhan akan melambat. Pada usia 1 tahun, berat badan tiga kali lipat berat badan lahir,  panjang badan bertambah 5-%, dan lingkar kepala bertambah sekitar 10 sentimeter.

Bayi akan mampu duduk tanpa bantuan pada usia 6-7 bulan dan berputar saat duduk  pada usia 9-10 bulan, memampukan bayi bermain dengan beberapa objek sekaligus

(6)

dan bereksperimen dengan beberapa objek baru. Pembelajaran ini dibantu dengan kemampuan menggenggam dengan jari-jari (thumb-finger grasp) pada usia 8-9  bulan dan  pincer grasp  (dengan telunjuk dan ibu jari) pada usia 12 bulan. Bayi  belajar melepas benda dengan keinginan sendiri pada usia 9 bulan. Kebanyakan  bayi mulai merangkak dan berdiri dari duduk sekitar usia 8 bulan. Beberapa mulai  berjalan di usia 1 tahun. Keterampilan motorik kasar meningkatkan rentang

eksplorasi bayi namun juga bahaya fisik.

USIA 12

 – 

 18 BULAN

Mayoritas anak mulai berjalan tanpa bantuan sekitar usia 12-15 bulan. Pada mulanya bayi akan belajar dengan gaya berjalan dengan tungkai terbuka leb ar, lutut tertekuk dan siku fleksi; seluruh batang tubuh ikut berputar seturut langkah; ibu jari dapat mengarah ke dalam atau ke luar, dan telapak kaki menginjak lantai dengan datar. Gambaran ini disebut genu varus. Latihan yang terus menerus akan menghasilkan gerakan yang lebih stabil dan penggunaan energi yang lebih efisien. Setelah latihan selama beberapa bulan, pusat gravitasi tubuh akan bergeser ke  belakang dan batang tubuh menjadi stabil, sementara lutut dilebarkan dan tangan diayunkan di sisi tubuh untuk mencari keseimbangan. Telapak kaki akan berada  pada garis yang lebih baik saat melangkah, anak dapat berhenti berjalan, menoleh,

dan membungkuk tanpa jatuh.

USIA 18

 – 

 24 BULAN

Perkembangan motorik dalam periode terlihat dengan keseimbangan yang lebih baik, anak lebih gesit serta dpaat berlari dan naik tanga.

USIA PRA SEKOLAH (2

 – 

 5 TAHUN)

Pertumbuhan somatik tubuh dan otak melambat pada tahun kedua kehidupan, dengan menurunnya kebutuhan nutrisi dan nafsu makan, dan munculnya kebiasaan memilih-milih makanan pada anak.

(7)

Pertumbuhan organ seksual selaras dengan pertumbuhan somatik. Anak usia pra sekolah memiliki genu valgum dan pes planus ringan. Batang tubuh menjadi lebih kurus seiring dengan pemanjangan kaki. Energi memuncak, dan kebutuhan tidur berkurang menjadi 11-13 jam dalam 24 jam sehari, biasanya dimulai dengan anak tidak tidur siang. Ketajaman penglihatan mencapai 20/30 pada usia 3 tahun dan 20/20 pada usia 4 tahun. Semua gigi susu muncul pada usia 3 tahun.

Mayoritas anak telah memiliki gaya berjalan matang dan dapat berlari dengan stabil/mantap sebelum mencapai usia 4 tahun. Setelah kemampuan-kemampuan dasar ini, terdapat variasi luas kemampuan-kemampuan motorik karena aktivitas motorik anak berkembang, termasuk melempar, menangkap, menendang bola, memanjat mainan, menari, bersepeda, dan sebagainya. Karakteristik aktivitas motorik kasar seperti tempo, intensitas, dan kehati-hatian anak juga bervariasi.

Pada usia 3 tahun, anak menetapkan yang mana tangan yang dominan. Variasi perkembangan motorik halus akan menggambarkan kecenderungan dan kesempatan belajar anak. Misalnya, anak yang dibiasakan menggambar dengan menggunakan krayon akan mengembangkan kemampuan menggenggam pensil yang matang nantinya.

Kontrol anak untuk buang air akan mulai muncul pada periode ini, saat anak-anak dapat mengutarakan keinginannya untuk buang air, dengan kesiapan untuk pergi ke toilet sendiri bervariasi pada tiap individu maupun pada budaya masing-masing. Anak perempuan cenderung berlatih lebih cepat dan lebih dulu dari anak laki-laki. Mengompol merupakan hal yang normal hingga usia 4 tahun pada  perempuan dan usia 5 tahun pada anak laki-laki.

USIA 6

 – 

 11 TAHUN

Merupakan periode dimana anak-anak mulai berpisah dengan orang tua dan mencari validasi dari guru, orang dewasa lain, dan teman-teman sebayanya.

(8)

Kekuatan otot, koordinasi, dan stamina meningkat, begitu pula kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan rumit, seperti menari atau melempar bola  basket. Keterampilan motorik tinggi tersebut merupakan hasil dari pematangan tahap perkembangan dan latihan; tingkat keberhasilan menunjukkan variasi dalam  bakat, minat, dan kesempatan anak.

Kebugaran fisik menurun pada usia sekolah. Kebiasaan sedenter pada usia ini berhubungan dengan meningkatnya risiko obesitas, pencapaian akademis, dan  penghargaan diri yang lebih rendah. Persepsi akan ‘body image’  mulai berkembang  pada periode ini, pada usia 5 dan 6 tahun anak menunjukan ketidakpuasan dengan

tubuhnya; pada usia 8 dan 9 tahun kebanyakan mulai membatasi asupan makan (diet). Hilangnya kontrol untuk berhenti makan (‘binge eating ’) terjadi pada 6% anak pada usia ini.

Sebelum pubertas, terjadi peningkatan sintesis gonadotropin, menyebabkan meningkatnya minat dan keingintahuan anak pada perbedaan jenis kelamin dan  perilaku seksual sampai masa pubertas. Meskipun dorongan seksual pada usia ini terbatas, masturbasi umum dilakukan, dan anak-anak tertarik pada perbedaan jenis kelamin.

SKRINING PERKEMBANGAN

Skrining perkembangan merupakan penggunaan alat-alat skrining yang  pendek, terstandardisasi, dan tervalidasi untuk mendeteksi gangguan  perkembangan pada anak-anak. Sensitivtas merupakan kemampuan alat untuk mendeteksi anak-anak dengan gangguan perkembangan sedangkan sensitivitas merupakan kemampuan alat untuk menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan  perkembangan pada anak-anak. Skrining perkembangan umumnya membutuhkan sensitivtas dan spesifisitas sebesar 70  –   80%. Meskipun terlihat kecil, gangguan  perkembangan akan menjadi semakin terlihat sesuai dengan jalur pertumbuhan dan  perkembangan anak, sehingga dengan sensitivtas dan spesifisitas yang kecilpun kemungkinan untuk terdeteksi menjadi semakin besar. Berikut di bawah me rupakan

(9)

kumpulan red flag  dari skrining perkembangan anak. Kebanyakan anak dalam masa  perkembangan tidak menunjukkan red flag , oleh karena itu, dibutuhkan skrining  berkualitas untuk mendeteksi masalah tersebut. Apabila ditemukan, pasien harus diedukasi untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis anak untuk dilakukan intervensi dini. 1

Tabel 2.

Red flag

 dalam Skrining Perkembangan1

Indikator Positif (adanya tanda-tanda di bawah)

 Hilangnya kemampuan pada usia berapapun

 Kekhawatiran oleh orang tua atau dokter mengenai penglihatan,

 pemusatan perhatian, atau mengikuti gerakan benda atau gangguan  penglihatan yang telah dikonfirmasi pada usia berapapun

 Kehilangan pendengaran pada usia berapapun  Tonus otot rendah atau otot lemas secara persisten

 Tidak bisa bicara sampai usia 18 bulan, terutama saat anak tidak berusaha

untuk berkomunikasi dengan cara lain selain gerak tangan

 Asimetri dari gerakan atau gejala klinis lain yang menandakan adanya

 palsi serebral, seperti meningkatnya tonus otot

 Berjalan menggunakan ujung jari secara persisten  Disabilitas kompleks

 Lingkar kepala lebih dari 99.6 persentil atau kurang dari 0.4 persentil.

Apabila lingkar kepala melewati 2 sentil (atas atau bawah) sesuai dengan grafik atau tidak proporsional dengan lingkar kepala dari orang tua

 Dokter yang menilai dari aspek penilaian manapun namun memiliki

kecurigaan adanya gangguan perkembangan

Indikator Negatif (aktivitas yang tidak dapat dilakukan oleh anak)

 Duduk tegak tanpa bantuan saat berusia 12 bulan

 Berjalan saat usia 18 bulan (laki-laki) atau 2 tahun (perempuan)  Berjalan dengan menggunakan alat gerak selain ujung jari

 Berlari saat berusia 2.5 tahun

 Memegang benda yang diletakkan di tangan pada usia 5 bulan  Mengambil benda pada usia 6 bulan

 Menunjuk pada benda yang diinginkan pada orang lain untuk

menunjukkan ketertarikan pada usia 2 tahun

Gangguan perkembangan kurang lebih terjadi pada 12  –   16% dari anak-anak. Apabila terdapat satu atau lebih aspek perkembangan yang tidak mencapai

(10)

milestone sesuai dengan waktunya, maka dapat disimpulkan bahwa anak tersebut  perkembangan yang terlambat. Gangguan perkembangan umumnya berhubungan dengan kondisi medis dan genetik serta pada umumnya dapat berdampak buruk terhadap aspek sosial, emosional, fungsional, dan akademik anak. Identifikasi dari gangguan perkembangan tersebut sedini mungkin disertai dengan intervensi dini merupakan penanganan yang penting dilakukan untuk mengoptimalkan kesejahteraan anak.6

Manfaat dari skrining perkembangan, apapun aspek perkembangannya, adalah memperbolehkan supaya intervensi dini dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. 3 Salah satu aspek, yaitu fungsi motorik kasar, merupakan fondasi dari banyak aktivitas fisik yang dapat dijalankan oleh anak kecil. Dari perspektif kesehatan, fungsi motorik kasar yang baik berkaitan secara positif dengan indeks massa tubuh yang lebih rendah, serta perkembangan kognitif yang lebih baik. Ulasan sistematik oleh Veldman dkk yang meliputi 6  penelitian menunjukkan bahwa intervensi dini untuk anak dengan gangguan  perkembangan motorik dapat memberikan efek yang positif terhadap  perkembangan kemampuan motorik ke depannya. 8

Skrining perkembangan yang dilakukan sekarang masih lebih rendah daripada prevalensi yang seharusnya. Hal ini mengusulkan bahwa jumlah anak-anak dengan gangguan perkembangan yang terjaring pada skrining lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anak-anak dengan gangguan perkembangan. Skrining  perkembangan masih belum dilakukan secara rutin meskipun alat untuk

asesmennya sudah tersedia.2  Frekuensi skrining yang direkomendasikan oleh  American Academy of Pediatrics (AAP) adalah setiap usia 9, 18, dan 30 bulan.7

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Guevara dkk ditemukan bahwa  penggunaan Parents’ Evaluation of Developmental Skills (PEDS) memiliki asosiasi

dengan meningkatnya identifikasi dari gangguan sikap dan gangguan  perkembangan. 6

(11)
(12)

Gambar 3. HINE (

H ammersmith I nfant Neurologi cal

Examination) Developmental

 Milestones

14

GANGGUAN PERKEMBANGAN

Gangguan perkembangan merupakan keadaan di mana perkembangan dari anak tidak sesuai atau terlambat dibandingkan dengan milestone pada usia tertentu. Anak-anak secara normal berkembang dalam aspek-aspek, seperti kognisi, bicara dan bahasa, motorik, kemampuan personal dan sosial, dalam kehidupan sehari-hari dengan interval waktu yang sesuai dan secara berurutan. Gangguan perkembangan didefinisikan menurut aspek tertentu yang mengalami gangguan atau keterlambatan  perkembangan. Pada gangguan perkembangan global, seluruh aspek dari anak memiliki gangguan atau keterlambatan perkembangan sedangkan pada gangguan  perkembanganmotorik, hanya aspek motorik dari anak yang memiliki gangguan

(13)

Evaluasi dari gangguan perkembangan membutuhakn beberapa aspek yang ditinjau. Identifikasi dari etiologi perkembangan anak yang terlambat dan/atau terganggu merupakan tahapan yang penting untuk memprediksi dampak terhadap  perkembangan fungsional, memberikan penanganan yang sesuai, dan memberikan edukasi sebagai upaya preventif yang sesuai untuk orang tua. Evaluasi klinis yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan wawancara disertai dengan pemeriksaan fisik pada anak. Informasi mengenai riwayat kehamilan dari ibu, riwayat kelahiran mati, paparan terhadap teratogen selama masa kehamilan, adanya komplikasi yang terjadi pada saat kelahiran sampai neonatus, riwayat keluarga dengan penyakit yang identik, gangguan tidur, mengorok, asupan makanan, pica, dan informasi kes ehatan secara umum dapat ditanyakan dalam upaya mencari penyebab dari gangguan  perkembangan. Pemeriksaan klinis yang dapat dilakukan adalah memeriksa  parameter pertumbuhan, dismorfisme, abnormalitas kongenital, gangguan neurologis, penglihatan, pendengaran, dan gejala penyakit lain yang mungkin ada  pada anak. 9

Terdapat beberapa penyebab secara etiologi yang dapat mengakibatkan gangguan  perkembangan motorik. Spina bifida merupakan kelainan kongenital yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan, mulai dari motorik, sensorik, sampai kognitif. Gangguan perkembangan yang dapat terjadi adalah skoliosis, kelainan  bentuk kaki, paralisis motorik, dan spastisitas. Selain kelainan anatomis tersebut,  perkembangan dari anak dengan spina bifida mengalami penurunan di mana mereka biasanya belajar berdiri dan berjalan lebih lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Lesi tulang belakang yang lebih tinggi pada spina bifida umumnya memiliki prognosis yang lebih buruk, dikarenakan anak-anak dengan spina bifida  pada level vertebra yang lebih tinggi belajar berdiri dan berjalan lebih terlambat

dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka. Intervensi yang dapat diberikan umumnya adalah pembedahan dengan menutup lesi pada bagian dengan spina  bifida yang dilakukan 24 –  48 jam setelah kelahiran.10

Palsi serebral merupakan salah satu penyebab disabilitas fisik pada bayi. Kelainan ini dapat mengakibatkan gangguan secara motorik dan kognitif. Gejala-gejala

(14)

tersebut umumnya ditandai dengan adanya tonus otot yang abnormal, aktivitas fiisk yang terbatas, ketidakmampuan untuk menjaga keseimbangan, dan perubahan dari  posisi duduk yang ditujukan untuk menkompensasi kelemahan otot. Diagnosis dan intervensi dini pada bayi sangat dibutuhkan dikarenakan kemungkinan  perkembangan dari palsi serebral yang membutuhkan 1 –  5 tahun dan kebanyakan diagnosis dari palsi serebral yang dapat ditegakkan dalam usia 18 –  24 bulan. Pada  periode setelah lahir sampai usia 1 tahun, otak mengalami perkembangan yang sangat pesat, oleh karena itu, periode tersebut merupakan periode yang dapat dijadikan kesempatan untuk mengaplikasikan intervensi dini untuk mengoptimalkan perkembangan anak dengan palsi serebral. Walaupun terdapat  penelitian yang menyatakan adanya manfaat positif dari intervensi dini pada anak dengan palsi serebral, data yang disajikan masih tergolong sangat terbatas untuk menentukan waktu optimal diberikannya intervensi pada anak dengan palsi serebral.11

 Developmental coordination disorder   (DCD) atau dispraksia merupakan sebuah kelainan yang didiagnosis berdasarkan adanya kelainan motorik yang secara signifikan mengganggu aktivitas sehari-hari dan pencapaian akademis yang tidak terkait dengan kelainan neurologis maupun disabilitas intelektual. Aktivasi yang kurang dari bagian korteks preforntal dorsolateral kanan diusulkan sebagai proses  patofisiologi dari penyakit. Kerusakan tersebut mungkin mempengaruhi serebelum  juga yang mengakibatkan gangguan kontrol motorik. Pada suatu penelitian, ditemukan fungsi eksekutif yang lebih rendah pada anak-anak dengan DCD dibandingkan dengna grup kontrol yang terdiri anak-anak sehat.12

SIMPULAN

Gangguan perkembangan dapat terjadi pada seluruh usia anak dan dapat menyebabkan dampak negatif terhadap kesejahteraan anak. Skrining ditujukan untuk menjaring adanya gangguan perkembangan tersebut secepat mungkin sehingga mampu diberikan intervensi dini yang memiliki manfaat dalam memperbaiki hasil keluaran serta prognosis. Anamnesis dan pemeriksaan secara

(15)

lengkap harus dilakukan terhadap orang tua dan anak agar dapat menemukan etiologi dari gangguan perkembangan yang ada.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

1. Kliegman RM, Stanton BMD, Geme JS, Schor NF. Nelson Textbook of Pediatrics E-Book: Elsevier Health Sciences; 2015.

2. Monks FJ, Knoers AMP. Ontwikkelings Psychology. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 1998.

3. Seifert KL, Hoffnung RJ. Child and Adolescent Development. Boston: Houghton Mifflin Company; 1994.

4. Desmita. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosda Kar ya; 2005. 5. Magill RA. Motor Learning Concepts and Applications. USA: C. Brown

Publishers; 1989.

6. Guevara JP, Gerdes M, Localio R, Huang YV, Pinto-Martin J, Minkovitz CS, dkk. Effectiveness of Developmental Screening in an Urban Setting. Pediatr ics. 2013;131(1):30-7.

7.  Noritz GH, Murphy NA. Motor Delays: Early Identification and Evaluation. Pediatrics. 2013.

8. Veldman SLC, Jones RA, Okely AD. Efficacy of gross motor skill interventions in young children: an updated systematic review. BMJ Open Sport & Exercise Medicine. 2016;2(1).

9. Silove N, Collins F, Ellaway C. Update on the investigation of children with delayed development. Journal of Paediatrics and Child Health. 2013;49(7):519-25.

10. DeRosier, Sarah; Martin, Jeremy; Payne, Anna; Swenson, Kelly; and Wech, Elisabeth, The Effect of Conjugate Reinforcement on the Leg Movements of Infants with Spina Bifida 2015. Doctor of Physical Therapy Research Papers. 46.

11. Hadders-Algra M. Early Diagnosis and Early Intervention in Cerebral Palsy. Front Neurol. 2014 Sep 24;5:185.

12. Leonard HC, Bernardi M, Hill EL, Henry LA. Executive Functioning, Motor Difficulties, and Developmental Coordination Disorder. Dev Neuropsychol. 2015 May 19;40(4):201 – 15.

(17)

13. Fischer VJ, Morris J, Martines J. Developmental Screening Tools: Feasibility of Use at Primary Healthcare Level in Low- and Middle-income Settings. J Health Popul Nutr. 2014 Jun;32(2):314 – 26.

14. De Sanctis R, Coratti G, Pasternak A, Montes J, Pane M, Mazzone ES, et al. Developmental milestones in type I spinal muscular atrophy. Neuromuscul Disord. 2016 Nov 14;26(11):754 – 9.

Gambar

Gambar 2. Alat Skrining Perkembangan 13
Gambar 3. HINE ( H ammersmith I nfant Neurologi cal Examination) Developmental  Milestones 14

Referensi

Dokumen terkait

Pada kegiatan Peksiminas XIII tahun 2016 akan dipusatkan diKota Kendari yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan berbagai fasilitas yang dapat membantu para

ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014.. PROVINSI :

• GKI SW Jabar menjadi gereja yang memfasilitasi terjadinya perjumpaan antara manusia dengan Tuhan pada semua aras dan bidang kehidupan sepenuh potensi dan kinerja

Prestasi merupakan indikator intelektual dan kinerja (Black & Wiliam, 2009) termasuk didalamnya adalah keterampilan sosial. Fungsi penilaian formatif ada dua

Terutama dalam metode sorongan, ketika seorang ustadz melaksanakan proses pembelajaran tanpa bisa membaca kitab maka akan menghambat pendukung pembelajaran kitab

perkembangan teori dan praktik epidemiologi -Memberi contoh aplikasi epidemiologi dalam kesehatan masyarakat Mampu mendiskusikan definisi, perkembangan epidemiologi dan memberi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif, komitmen ibu untuk tetap memberikan ASI saja sampai usia 6 bulan, dan dukungan sosial yaitu

14/2005 tentang Guru dan Dosen, pengertian profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang di lakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang