BAB I PENDAHULUAN. itu juga mempunyai kandungan-amanat-spiritual yang berbalutkan etika. Ia

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra di samping menunjukkan sifatnya yang rekreasi, karya sastra juga merupakan sarana yang sanggup mengantarkan penikmat untuk bermartabat.

Hal tersebut sejalan dengan Sugiarti (2016: 91) karya sastra merupakan dian penerang yang dapat membawa manusia mencari nilai-nilai yang dapat menolongnya untuk menemui hakikat kemanusiaan yang berkepribadian. Selain itu juga mempunyai kandungan-amanat-spiritual yang berbalutkan etika. Ia merupakan pusat bertemunya dimensi sosial dan transendental di dalam penciptaan karya sastra. Dimensi sosial menunjukpada kehidupan kemanusiaan yang bersifat profan dan dimensi transendetal menunjuk pada tujuan kehidupan yang lebih mulia, yang berpuncak pada yang gaib di atas sana.

Karya sastra memaparkan berbagai-bagai kehidupan yang mengupas segi sosial ataupun individu. Baik itu berupa hal-hal yang besifat umum atau khsus, namun kenyataannya, karya sastra cendrung melihat hal yang lebih transedental dalam kehidupannya. Hal tersebut sesuai dengan tanggapan Sartre (dalam Wibowo, 2011: 92) bahwa sastra merefleksikan kenyataan dunia yang partikular atau khusus. Penjelasan tersebut mendeskripsikan bahwa sastra memiliiki perhatian penting dalam hal-hal yang subjektif dalam kehidupan. Hal ini mengungkap sastra berperan baik dalam usahanya untuk menjadi pelopor pembaharuan, maupun memberikan pengakuan terhadap suatu gejala kemasyarakatan. Oleh karena itu, karya sastra bertujuan untuk memahami aspek- aspek humanitas yang terkandung dalam struktur sosial.

(2)

Adapun aspek yang menjangkau hal sosial tersebut dapat berupa budaya dan konflik yang terdapat dalam fenomenologi kehidupan. Bentuk lingkungan dan stratifikasi sosial menjadikan berbagai macam karakter manusia yang hidup dalam kemasyarakatan, sehingga sebagai sikap manusia tidak terlepas dari konflik dan sejenisnya. Hal tersebut sejalan dengan Nurgiyantoro (2010: 3) bahwa fiksi atau karya sastra menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dalam lingkungan, dan interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Pendapat Nurgiyantoro tersebut menjadikan karya sastra menjadi cerminan dari tingkah laku realitas kehidupan yang dapat menghasilkan temuan dalam berbagai bidang ilmu. Macam bidang ilmu itu, mulai dari psikologi, sosiologi, spritual, science, dan eksistensi. Hal itu terjadi karena karya sastra membangun perihal sosial dan manusia.

Hal-hal yang muncul dalam karya sastra tidak terlepas dari yang mencipta.

Maksud dan tujuan mencipta baik dari istilah lahir dan batin sangat erat dengan penggagas karya sastra atau disebut dengan pengarang. Beberapa kaitannya yang dianggap tabuh ataupun absurd dan bersifat terbuka kadang menjadi prinsip dalam menciptakan karya sastra oleh pengarang. Paparan tersebut dijelaskan juga oleh Ratna (2010: 299) bahwa sejarah kebudayaan, aspek kepengarangan dalam bentuk apapun adalah yang melibatkan aktivitas mencipta, jelas memegang peranan penting. Melalui aktivitas kepengaranganlah terjadi penemuan yang dengan sendirinya diikuti dengan kemajuan dalam berbagai bidang. Khususnya, yang berhubungan dengan realitas sosial.

Beberapa realitas yang dimunculkan pengarang dalam karya sastra dapat termasuk sebagai eksistensi kehidupan manusia. Hal itu dicerminkan melalui

(3)

ideologi cerita yang menunjukkan sikap hidup, emosioal, jalan pikiran, kesadaran, kebebasan yang bertuan menginformasikan suatu sisi kehidupan atau nilai-nilai sosial seperti tentang agama, ras, seks, deskriminasi, dan lain sebagainya. Nilai dan amanat yang tersampaikan karya sastra juga bermacam-macam jenisnya, ada yang disampaikan secara lugas atau terang-terangan ada pula penggunaan maksud dengan tidak langsung.

Seperti halnya pengarang novel Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, 20 Maret 1920. Saat ini berprofesi sebagai guru besar pensiunan Universitas Indonesia (sejak 2005) dan guru besar tetap pada Pascasarjana Institut kesenian Jakarta (2009). Ia mengajar dan membimbing mahasiswa di Pascasarjana Universitas Indonesia, Intitut Kesenian Jakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, dan Institut Seni Indonesia Solo.

Selain itu, Sapardi Djoko Damono banyak melahirkan karya sastra. Karya sastra tersebut berupa puisi dan novel, beberapa karya Sapardi Djoko Damono yaitu Hujan Bulan Juni (1994), Pengarang Telah Mati (2001), Pengarang Belum Mati (2011), Pengarang Tak Pernah Mati (2011). Puisi dan novel beliau telah

diterjemahkan ke dalam antara lain bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Arab, Jepang, Cina, Jawa, Bali, Italia, Portugis, Korea, Tagalog, Thai, Malayalam, Rusia, serta Urdu.

Dengan menciptakan beberapa karya sastra, Sapardi mendapatkan hadiah dan penghargaan antara lain Cultural Award (1978) dari Australian Culturan Council, Anugerah Puisi Putra (1988) dari Dewan Bahasa dan Sastra Malaysia, Hadiah Sastra (1984) dari Dewan Kesenian Jakarta, SEA-Write Award (1986) dari Thailand, Anugerah Seni (1990) dari Pemerintah RI, Kalyana Kretya (1998)

(4)

dari Pemerintah RI, hadiah sebagai penerjemah terbaik untuk novel John Steinbeck, The Grapes of Wrath (1999) dari Yayasan Buku Utama, Setyalencana Kebudayaan (2002) dari Presiden RI, Khatulistiwa Literary Award (2004) untuk buku Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan, dan penghargaan untuk Pencapaian Seumur Hidup dalam Sastra dan Pemikiran Budaya (2012) dari Akademi Jakarta.

Dengan pemaparan di atas, Sapardi Djoko Damono merupakan salah satu Sastrawan Indonesia yang karyanya tidak perlu diragukan lagi. Salah satu karyanya tersebut yaitu novel yang berjudul Trilogi Soekram yang diterbitkan pada Maret 2015. Novel tersebut terdiri dari tiga cerita yang digabung. Ketiga cerita tersebut adalah Pengarang Telah Mati (2001), Pengarang Belum Mati (2011), dan Pengarang Tak Pernah Mati (2011). Secara keseluruhan seting buku ini adalah; Soekram bertemu teman pengarang dan memintanya menerbitkan ceritanya.

Soekram adalah tokoh rekaan yang meronta-ronta hendak melepaskan diri, ia tidak mau terlantar begitu saja lantaran pengarangnya. Barangkali ia adalah seorang optimis, yang dengan usaha sekuat tenaga mencari teman si pengarang untuk berusaha membuka file-file lama tentang kisah-kisah dirinya yang belum terselesaikan, yang tersimpan dalam hardisk komputer pengarang. Soekram adalah tokoh inti dalam buku tersebut. Seperti mahasiswa yang dengan daya dan upayan berusaha keluar atas kesewenang wenangan pemerintah, ia adalah tokoh yang mempunyai pendirian. Menolak tunduk layaknya anak anak punk dengan ideologi Do It Yourself nya.

Buku yang dibagi ke dalam tiga cerita ini seperti mengajak pembacanya untuk keluar dari novel ataupun cerita-cerita biasa. Pasalnya disini tokoh Soekram

(5)

bebas dengan mudahnya menyeting jalan ceritanya sendiri. Ia hidup bukan karena pengarang yang telah menjadikannya hidup. Ia hidup karena dia berusaha untuk hidup, meskipun pengarang telah mati. Tindakan tokoh utama tersebut merupakan uapaya mengeksistensikan dirinya. Setiap indivdu berhak memilih atau berhak untuk bebas dalam mencapai eksistensinya. Tentunya kebebasan tersebut tidak luput dari tanggung jawabnya.

Dengan begitu, peneliti mengkaji eksistensi tokoh utama dalam novel Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono. Penelitian tentang eksistensi

pernah dilakukan oleh Yuliyanti (2014) dengan judul “Eksistensialisme Tokoh Utama dalam Novel Gerhana Karya AA Navis”. Penelitian tersebut menggunakan teori Hamersma yang memfokuskan pada lima aspek berikut. Adapun aspek- aspek yang dimaksud adalah 1) situasi nasib, 2) situasi kematian, 3) situasi penderitaan, 4) situasi perjuangan, dan 5) situasi kesalahan. Hasil penelitian dilakukan oleh Yuliyanti adalah cerita dari novel Gerhana Karya AA Navis pada tokoh utama memiliki permasalahan hidup yang mengakibatkan penderitaan hidup. Tokoh utama tersebut berusaha memperjuangkan kehidupannya yang penuh masalah, namun ia berada dalam perjuangan yang menyimpang dan mengakibatkan kesalahan pada dirinya sendiri.

Penelitian tentang eksistensi juga pernah dilakukan oleh Nurul Lukmawati (2018) dengan judul “Analisis Eksistensi Tokoh Utama dalam Novel Petir Karya Dewi Lestari”. Penelitian tersebut mengupas eksistensi tokoh utama. Penelitian yang dilakukan oleh Lukmawati menggunakan teori Jean Paul Sartre yang memfokuskan pada lima aspek berikut. Adapun aspek-aspek yang dimaksud adalah 1) eksistensi ada dalam dunia, 2) eksistensi kebebasan dan tanggung

(6)

jawab, 3) eksistensi keyakinan yang buruk, 4) eksistensi keterasingan, dan 5) eksistensi faktisitas dalam kehidupan tokoh sehingga tokoh utama menunjukkan keberadaan di dunia dengan beberapa cara yang berkaitan dengan konsep eksistensialisme. Penelitian ini menggunakan novel Petir Karya Dewi Lestari.

Hasil penelitian dilakukan oleh Lukmawati adalah bentuk eksistensi dan cara bereksistensi tokoh utama dalam novel Petir Karya Dewi Lestari menunjukkan suatu hubungan yang saling berkaitan. Bentuk eksistensi menunjukkan eksistensi yang dimiliki oleh tokoh utama, sedangkan cara tokoh utama menunjukkan eksistensinya merupakan perwujudan dari bagaimana tokoh mengendalikan dan menjalankan eksistensi yang dimilikinya.

Perbedaannya dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliyanti adalah teori yang digunakan. Yuliyanti menggunakan teori eksistensialime Hamersma.

Di samping itu, perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lukmawati, dalam penelitian ini mengkaji eksistensi tokoh utama menggunakan teori filsafat Jean Paul Sartre tentang konsep manusia dalam eksistensi. Konsep eksistensi tersebut berhubugan dengan kesadaran dan kebebasan manusia. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini mengangkat sisi keeksistensian tokoh pada novel yang berkaitan dengan bentuk kesadaran dan kebebasan manusia. Bentuk kesadaran dan kebebasan tersebut yang menunjukan eksistensi tokoh Soekram dalam novel Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono.

Eksistensi atau keberadaan manusia itu didasari oleh kesadaran diri yang tidak terlepas dari sudut pandang orang lain, hal ini diungkapkan oleh pemikiran Jean Paul Sartre (dalam Wibowo, 2011: 29). Kesadaran-kesadaran tersebut pula yang melandasi sebuah keyakinan manusia, sehingga muncullah sebuah pilihan

(7)

terhadap kehidupan yang tidak lain sebagai cerminan kebebasan manusia.

Kebebasan di sini dalam artian mampu membentuk dirinya dalam kemauan dan tindakannya, karena manusia mendahului esensi. Manusia dapat hidup dengan aturan-aturan, keluhuran budi, dan keberanian serta dia dapat membentuk masyarakat. Karena memiliki ciri ini, manusia dapat mengatasi masalahnya sendiri serta mengendalikan pilihan dan tindakannya supaya dapat hidup di dunia.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dengan kesempatan ini peneliti meneliti bagaimana hal tersebut bisa terjadi melalui eksistensi. Dengan eksistensi, keunikan tersebut akan terungkap melalui tahapan-tahapan tokoh utama tersebut.

Tentunya keunikan tersebut tidak terlepas pula dari pencipta novel yaitu Sapardi Djoko Damono. Masih dengan gaya khas dan sontoloyonya Sapardi Djoko Darmono ini, pembaca diajak untuk berada pada hubungan yang khas antara penulis dan tokoh rekaannya. Dalam novel tersebut, Sapardi Djoko Damono tidak mencantumkan amanat dikarenakan Sapardi Djoko Damono ingin pembaca sendiri yang menginterpretasikan makna apa yang terdapat dalam novel tersebut.

Tentunya hal ini sangat unik serta sangat tepat dikaji melalui teori eksistensi Jean Paul Sartre.

(8)

1.2 Rumusan Masalah

Penelitian yang menggunakan filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre adalah sebuah penelitian yang memberikan kebebasan dalam mengamati fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia berdasarkan asumsi-asumsi kebudayaan yang ada. Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.

1) Bagaimana bentuk kesadaran Soekram dalam novel Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono?

2) Bagaimana bentuk kebebasan Soekram dalam novel Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut.

1) Mendeskripsikan bentuk kesadaran Soekram dalam novel Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono.

2) Mendeskripsikan bentuk kebebasan Soekram dalam novel Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono.

(9)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu manfaat secara teoretis dan secara praktis. Adapun manfaat-manfaat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1.4.1 Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis berkaitan dengan manfaat berupa pengembangan daripada pengetahuan yang sudah ada. Adapun manfaat teoretis dalam penelitian ini sebagai berikut.

a) Mengembangkan pemahaman mengenai konsep eksistensi Jean Paul Sartre dalam karya sastra

b) Sebagai bahan acuan penelitian ilmu sastra dan bahasa serta pengembangannya

c) Menjadi konsep teori yang berkelanjutan dalam perkembangan disiplin ilmu sastra pada ranah pemahaman filsafat.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis berkaitan dengan manfaat yang disesuaikan dengan kebutuhan sosial. Adapun manfaat praktis dalam penelitian ini sebagai berikut.

a) Mempermudah pembaca dalam memahami karya sastra melalui aspek sosial budaya.

b) Membantu penikmat karya sastra dalam menginterpretasi isi dan unsur karya satra.

c) Menjadi bahan pembelajaran dalam keilmuan bidang sastra maupun bahasa.

(10)

1.5 Penegasan Istilah

Penegasn istilah digunakan untuk menghindari adanya kesalahan dalam menafsirkan penelitian ini. Adapun penegasn istilah dalam penelitian ini sebagai berikut.

a) Eksistensi

Eksistensilisme adalah cara berada manusia, untuk menjadi dirinya sendiri sesuai dengan kepercayaan dan keinginan yang dimilikinya. Eksistensilisme juga merupakan perilaku sadar dan konkret tokoh atau manusia dalam dunia dengan dunia yang dialaminya (Sartre, 2002: 40)

b) Kebebasan

Kebebasan adalah kemauan, dorongan, dan tindakan manusia untuk membentuk dirinya serta aktualisasi diri individu yang tidak ingin dihalangi, manusia dikutuk untuk mengalami kebebasan (Sartre, 2002: 58)

c) Kesadaran

Kesadaran adalah kehadiran dalam diri manusia atau pemahaman diri suatu individu terhadap keberadaanya di dunia (Sartre, 2002: 49)

d) Reflektif

Reflektif adalah individu sadar terhadap suatu peristiwa/ kejadian, lalu memberikan sikap/ tindakan terhadap peristiwa/ kejadian tersebut dikarenakan peristiwa/ kejadian tersebut merupakan pusat perhatian (Sartre dalam Dagun, 1990: 103)

(11)

e) Prareflektif

Prareflektif adalah individu sadar terhadap suatu peristiwa/ kejadian yang peristiwa/ kejadian tersebut tidak dijadikan pusat perhatian (Sartre dalam Dagun, 1990: 103)

f) Kebebasan dalam Bertanggung Jawab

Kebebasan dalam bertanggung jawab adalah menjadi bebas dan bertanggung jawab, bukan karena meniru-niru, ia merealisirnya dalam setiap konkret yang ada di depan matanya saat itu juga, serta manusia menjadi bertanggung jawab atas hidupnya (Sartre, 2002: 46)

g) Kebebasan dalam Hubungan Antarmanusia

Kebebasan dalam hubungan antarmanusia adalah suatu peranan penting tubuh seseorang akan eksistensinya. Penampilan secara keseluruhan merupakan hal yang diamati, “aku” yang bertubuh ini diarah oleh orang lain. Tidak ada satu pilihan pun yang lebih baik kecuali pilihan-pilihan yang lebih baik bagi sesama manusia (Sartre, 2002: 47)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :