PENGARUH ENTREPRENEURIAL MINDSET TERHADAP PERILAKU INOVATIF KARYAWAN LEVEL MANAGERIAL DI PT INALUM
(PERSERO)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh :
DIFNA AISYAH KARIM 151301037
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
Pengaruh Entrepreneurial Mindset terhadap Perilaku Inovatif Karyawan Level Managerial di PT. Inalum (Persero)
Difna Aisyah Karim
1dan Siti Zahreni
2ABSTRAK
Perilaku inovatif merupakan serangkaian aktivitas yang melibatkan tahapan perilaku pembuatan ide dan proses guna mengembangkan dan meningkatkan perilaku kerja dengan cara yang baru sehingga bisa diterapkan dalam individu dan kelompok di perusahaan atau organisasi agar pekerjaan menjadi lebih efektif. Salah satu faktor internal dari individu yang mendukung terkait dengan inovasi adalah entrepreneurial mindset. Entrepreneurial mindset adalah kerangka berpikir seseorang yang berorientasikan seperti entrepreneur, lebih memilih untuk menjalani ketidakpastian daripada menghindar, melihat segala sesuatu lebih sederhana daripada orang lain yang melihatnya secara kompleks, dan mau belajar sesuatu yang datangnya dari pengambilan resiko. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh entrepreneurial mindset terhadap perilaku inovatif karyawan level managerial di PT. Inalum (Persero). Analisa data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif entrepreneurial mindset terhadap perilaku inovatif pada karyawan level managerial di PT. Inalum (Persero). Implikasi dari penelitian ini adalah dapat menjadi refrensi bagi perusahaan untuk dapat mempertahankan entrepreneurial mindset pada karyawan sehingga nanti dapat berdampak pada meningkatnya perilaku inovatif karyawan level managerial di PT. Inalum (Persero).
Kata Kunci : Entrepreneurial Mindset, Perilaku Inovatif, Karyawan, Perusahaan
1
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
2
Dosen Departemen Psikologi Industri & Organisasi Fakultas Psikologi
The Influence Of The Entrepreneurial Mindset On The Innovative Behavior Of Managerial Level Employees At PT. Inalum (Persero)
Difna Aisyah Karim
1dan Siti Zahreni
2ABSTRACT
Innovative behavior is a series of activities that involve the behavioral stages of making ideas and processes in order to develop and improve work behavior in new ways so that it can be applied in individuals and groups in companies or organizations to make work more effective. One of the internal factors of individuals who support innovation is the entrepreneurial mindset. Entrepreneurial mindset is a frame of mind for someone who is oriented like an entrepreneur, prefers to live with uncertainty rather than avoid, sees things more simply than other people who see them in a complex manner, and wants to learn something that comes from taking risks. This research was conducted to see the effect of the entrepreneurial mindset on the innovative behavior of managerial level employees at PT. Inalum (Persero). Data analysis in this study used simple linear regression analysis. The results of this study indicate that there is a positive influence on the entrepreneurial mindset on innovative behavior at managerial level employees at PT. Inalum (Persero). The implication of this research is that it can be a reference for companies to be able to maintain the entrepreneurial mindset of employees so that later it can have an impact on increasing the innovative behavior of managerial level employees at PT. Inalum (Persero).
Keywords : Entrepreneurial Mindset, Innovative Behavior, Employee, Company
1
Pschology Student, Under Graduate Program, Faculty of Psychology, University of North Sumatera
2
Lecture at Faculty of Pschology, University of North Sumatera
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat – Nya saya diberikan kesehatan dan kemudahan untuk dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan program sarjana psikologi di Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini berjudul
“Pengaruh Entrepreneurial Mindset terhadap Perilaku Inovatif Karyawan di PT.
Inalum (Persero)”. Peneliti berharap agar penelitian ini dapat berguna baik dalam menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang psikologi maupun dalam praktik bagi perusahaan.
Penulis menyadari banyak pihak yang telah ikut mendukung serta membantu penulis dalam proses menyelesaikan skripsi. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada:
1. Bapak Zulkarnain, Ph.D, Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
2. Kak Siti Zahreni, M. Psi, Psikolog selaku pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, usaha, ilmu pengetahuan, serta perhatiannya untuk membimbing dan terus mendorong penulis menyelesaikan penelitian.
3. Kak Juliana Irmayanti Saragih, M. Psi, Psikolog selaku pembimbing akademik yang selalu memperhatikan, memberi masukan, motivasi, waktu, serta arahannya selama saya menjalani proses kuliah
4. Ayah, Ibu, dan adik saya yang telah memberikan dukungan dalam bentuk kasih sayang dan perhatian selama proses perkuliahan saya hingga akhirnya saya menyelesaikan skripsi dengan baik.
5. Didik Aris Munandar, yang selalu mendukung, memberikan banyak bantuan, dan selalu ada di saat saya menemukan kendala dalam proses penyelesaian skripsi.
6. Sahabat saya, Naswa Muharamita Daulay, Ridwan Ikhtiar, Ihyazaina
dan Nurmasari yang telah menemani di saat susah maupun senang
terutama dalam proses perkuliahan hingga skripsi.
7. Utari Wardawiyah dan Devilia Margaretha yang menjadi teman berkeluh kesah, khususnya saat proses skripsi, yang selalu menjadi tempat saya bertanya berkali-kali, walaupun mereka sibuk, mereka selalu menyempatkan untuk menjawab pertanyaan saya, khususnya terkait dengan pembuatan skripsi.
8. Kepada PT. Inalum (Persero), yang telah memberikan saya kesempatan untuk magang dan mengambil data penelitian.
9. Seluruh dosen Fakultas Psikologi USU, yang memberikan ilmu kepada anak kami para mahasiswa agar dapat meraih masa depan yang semakin cerah.
10. Teman – teman angkatan 2015 yang telah menemani dalam proses perkuliahan, dan saling memberikan dukungan di saat ada yang mengalami kesusahan, semoga pandemi tidak mejadi penghalang bagi kesuksesan kita.
11. Para staf dan pegawai Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang telah membantu sehingga mahasiswa semakin termudahkan dalam proses urusan administrasi.
12. Pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga skripsi ini bisa terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap kepada pembaca untuk kritik dan sarannya sebagai masukan agar penulis bisa lebih menyempurnakan penelitian ini. Semoga penelitian ini bisa menjadi refrensi dan manfaat bagi pembaca.
Medan, Desember 2020
Difna Aisyah Karim
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Sistematika Penulisan ... 13
BAB II ... 14
A. Perilaku Inovatif ... 14
1. Defenisi Perilaku Inovatif... 14
2. Dimensi Perilaku Inovatif... 16
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Inovatif ... 19
B. Entrepreneurial Mindset ... 21
1. Defenisi Entrepreneurial Mindset ... 21
2. Karakteristik Entrepreneurial Mindset ... 23
3. Dampak Entrepreneurial Mindset ... 26
C. Kamus Kompetensi BUMN ... 27
D. Pengaruh Entrepreneurial Mindset terhadap Perilaku Inovatif ... 29
E. Hipotesa Penelitian ... 34
BAB III ... 35
A. Metode Penelitian ... 35
B. Identifiasi Variabel Penelitian ... 35
C. Defenisi Operasional Variabel Penelitian ... 36
D. Populasi Penelitian ... 37
E. Metode Pengambilan Data ... 38
F. Uji Coba Alat Ukur Penelitian ... 41
H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 44
1. Tahap Persiapan ... 44
2. Tahap Pelaksanaan ... 45
3. Tahap Pengolahan data ... 46
BAB IV ... 48
A. Analisa Data ... 48
B. Hasil Uji Asumsi Penelitian ... 51
a. Uji Normalitas ... 51
b. Uji Asumsi Linearitas ... 52
C. Hasil Utama Penelitian... 54
D. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik ... 57
a. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Entrepreneurial Mindset ... 57
b. Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Perilaku Inovatif ... 58
E. Kategorisasi Penelitian ... 59
F. Hasil Pembahasan ... 61
BAB V ... 68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 71
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel Subjek Penelitian
Tabel 3.2 Blue print Skala Perilaku Inovatif
Tabel 3.3 Blue print Skala Entrepreneurial Mindset Tabel 3.4 Blue print Skala Perilaku Inovatif Setelah Uji
Tabel 3.5 Blue print Skala Entrepreneurial Mindset Setelah Uji Tabel 4.1 Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.2 Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Tabel 4.3 Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 4.4 Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Bekerja Tabel 4.5 Hasil Uji Asumsi Normalitas
Tabel 4.6 Hasil Uji Asumsi Linearitas Tabel 4.7 Hasil Analisa Perhitungan Regresi Tabel 4.8 Hasil Uji Regresi
Tabel 4.9 Koefisien Regresi
Tabel 4.10 Perbandingan Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Perilaku Inovatif Tabel 4.11 Perbandingan Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Entrepreneurial
Mindset
Tabel 4.12 Norma Kategori Perilaku Inovatif Tabel 4.13 Kategorisasi Perilaku Inovatif
Tabel 4.14 Norma Kategori Entrepreneurial Mindset
Tabel 4.15 Kategorisasi Entrepreneurial Mindset
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Skala Penelitian
Lampiran 2 Reliabilitas dan Uji Daya Beda Aitem
Lampiran 3 Data Mentah Subjek Penelitian Entrepreneurial Mindset Lampiran 4 Data Mentah Subjek Penelitian Perilaku Inovatif
Lampiran 5 Uji Asumsi dan Hasil Penelitian
Lampiran 6 Surat Izin Pengambilan Data
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebuah perusahaan memiliki tujuan yang jelas. Tujuan didirikannya suatu perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik dan pemegang saham. Untuk mencapi tujuan perusahaan maka di perlukannya kinerja karyawan. Kinerja karyawan merupakan hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas, yang dihasilkan karyawan atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja juga merupakan hasil kerja yang dihasilkan atau disumbangkan seorang karyawan yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab kepada perusahaan (Mangkunegara, 2010).
Di dalam sebuah perusahaan sumber daya manusia merupakan hal yang harus diutamakan dalam pencapaian prestasi dan tujuan utama perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus dapat memberikan perhatian dan dorongan kepada karyawannya, sehingga dapat meningkatlan effektivitas kerjanya (Hariandja, 2002). Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan berorganisasi, keberadaan sumber daya merupakan suatu hal yang mutlak, salah satunya ialah sumber daya manusia.
Keberadaan sumber daya manusia dalam suatu organisasi merupakan aset yang berharga bagi organisasi itu sendiri. (Bukit, 2017).
Dengan sumber daya manusia yang kompeten, sebuah organisasi akan
tumbuh maju dan sanggup bersaing. Kompetensi menyangkut kewenangan setiap individu untuk melakukan tugas atau mengambil keputusan sesuai dengan perannya dalam organisasi yang relevan dengan keahlian, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Kompetensi yang dimiliki karyawan secara individual harus mampu mendukung pelaksanaan strategi organisasi dan mampu mendukung setiap perubahan yang dilakukan manajemen. Maka harapannya kompetensi karyawan menjadi salah satu prediktor agar perusahaan bisa bersaing dan menjadi lebih baik.
Dengan adanya inovasi, organisasi akan dapat merespon tantangan, dapat bertahan dan lebih mudah berkembang (Van den Ven, 1986). Oleh karenanya perusahaan mulai mempertimbangkan inovasi sebagai salah satu misi ataupun kompetensi yang harus dipenuhi karyawannya. Perilaku inovatif disebut menjadi salah satu bagian penentu berhasilnya organisasi dalam upayanya mencapai tujuan. Inovasi yang diciptakan oleh sumber daya manusia adalah kekuatan pendorong penting dalam menjaga kinerja perusahaan untuk unggul dalam persaingan. Inovasi dapat menjadi faktor penentu persaingan industri dan memiliki peran vital dalam menghadapi persaingan. Perusahaan yang memiliki inovasi tinggi baik dalam inovasi proses maupun produk akan mampu meningkatkan kualitas produk. Dengan meningkatnya kualitas produk akan meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan dan akan berdampak pada kinerja perusahaan (Hartini, 2012).
Sebagian besar studi tentang perilaku inovatif mengarah pada
inovasi dalam ranah organisasi atau perusahaan (Amo & Kolvereid, 2005),
hal ini dikarenakan besarnya tuntutan organisasi terhadap anggotanya untuk
memberikan sumbangsih besar pada kemajuan organisasi atau perusahaan dari berbagai lini dalam organisasi atau perusahaan tersebut. Wahono dan Abdullah (2010) berpendapat bahwa inovasi merupakan strategi dalam mencapai keunggulan bersaing sebab tujuan utama dari inovasi adalah untuk memenuhi permintaan pasar sehingga produk inovasi merupakan salah satu yang dapat digunakan sebagai keunggulan bersaing bagi perusahaan. Organisasi yang inovatif juga akan lebih mudah menanggapi tantangan lingkungannya dengan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan organisasi yang kurang inovatif (Damanpour & Gopalakrishnan, 1998).
Dengan adanya inovasi, organisasi akan dapat merespon tantangan, dapat bertahan dan lebih mudah berkembang (Van den Ven, 1986).
Pada era globalisasi ini, ide-ide dan inovasi individu atau kelompok khususnya di bidang ekonomi terus mengalami perkembangan yang dapat memberikan luaran dalam berbagai bentuk dan terus mengalami peningkatan kualitas seiring berjalannya waktu. Inovasi sangat penting bagi kinerja perusahaan dan keberlanjutan keunggulan bersaing yang dimiliki (Smith, Christoper, and Kevin, 2005). Perilaku inovasi karyawan merupakan faktor penting bagi keberhasilan organisasi atau perusahaan dalam lingkungan bisnis yang cukup dinamis (Yuan and Woodman, 2010).
Perilaku inovatif digambarkan sebagai sebuah perilaku yang
berbeda dengan kreativitas, dimana kreativitas akan berhenti pada generasi
ide, sedangkan perilaku inovatif akan berlanjut hingga bagaimana ide
tersebut di implementasikan (De Jong & Den Hartog, 2010). Menurut Getz
dan Robinson (2003), yang meneliti mengenai penyebab perbaikan ide
dalam sebuah perusahaan menemukan bahwa 80% ide-ide baru diprakarsai oleh karyawan perusahaan dan hanya 20% sisanya adalah hasil dari kegiatan inovasi yang direncanakan oleh perusahaan baik melalui strategi atau struktur. Hal ini menjadi dasar bahwa karyawan merupakan aset penting dalam menghasilkan sebuah inovasi. Salah satu cara dalam menciptakan organisasi yang inovatif adalah dengan memunculkan perilaku inovatif karyawan.
Perilaku inovatif merupakan perilaku anggota organisasi untuk menciptakan, mengolah dan mengimplementasikan ide-ide baru, termasuk di dalamnya adalah produk, teknologi, prosedur, dan proses kerja yang bertujuan untuk meningkatkan kefektifan kinerja anggota, organisasi dan memberikan keuntungan bagi organisasi. Inovasi pada hakikatnya adalah sebuah ide yang datang dari individu, dan individu tersebut merupakan pencetus dan pelaksana ide inovatif tersebut (Etikariena & Muluk, 2014).
Saat ide tersebut menemui titik temu dengan masalah yang muncul dalam organisasi, disaat tersebut juga perilaku inovatif dimulai (De Jong & De Hartog, 2010).
Menurut Hartini (2012), inovasi yang tinggi akan meningkatkan
kemampuan perusahaan menciptakan produk yang berkualitas. Inovasi
digunakan sebagai alat untuk meningkatkan performa dan efisiensi
seseorang selama pekerja tersebut menganggap bahwa perilaku kerja
inovatif yang dijalankannya akan berdampak positif pada kinerjanya
(Cingoz & Akdogan, 2011). Perilaku inovatif mengarahkan pekerja untuk
berpikir positif terhadap hasil kinerjanya, dengan demikian dapat tercipta
juga persaingan di lingkungan kerja yang positif (Damanpour &
Gopalakrishnan, 1998).
Waenink (2012) mengatakan inovasi memiliki hubungan erat dengan karyawan, dimana masing-masing fase dalam inovasi beserta kegiatan yang terkait memerlukan berbagai perilaku dari karyawan secara individu. Berkaitan dengan hal tersebut, perilaku kerja inovatif muncul sebagai suatu bentuk inovasi pada tingkat individu (Waenink, 2012).
Janssen (2000) mengikuti Scott dan Bruce (1994) memberikan pemahaman mengenai perilaku kerja inovatif berdasarkan proses atau tahapannya yang diawali dengan adanya idea generation sehingga memunculkan sebuah ide yang baru dan berguna dalam domain tertentu. Dari sudut pandang pekerja, efektivitas perilaku kerja inovatif berhubungan dengan pengamatan pekerja dalam mengantisipasi permasalahan pekerjaan dan respon rekan kerja terhadap alternatif solusi yang diajukan (De jong & Hertog 2010).
Namun, untuk mencapai perilaku yang inovatif tentu tidak mudah.
Hal ini dikarenakan perilaku inovatif tidak sekedar kreatifitas yang dimiliki oleh individu sejak lahir, tetapi perilaku inovatif perlu digali dan dikembangkan untuk mencapai keberhasilan dari ide-ide yang dihasilkan.
Oleh karena itu, organisasi atau perusahaan perlu memberi dukungan
kepada karyawan agar dapat meningkatkan perilaku inovatif dalam bekerja
bagi organisasi atau perusahaan tersebut. Hal tersebut juga nantinya akan
berdampak bagi perusahaan untuk selalu terlibat dalam inovasi yang
merupakan kebutuhan mendasar untuk menjadi unggul dan kompetitif.
Pembentukan perilaku inovatif pada karyawan bisa dilakukan
dengan banyak cara. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi agar
memunculkan perilaku inovatif, salah satunya adalah faktor internal. Berapa
faktor internal yaitu tipe kepribadian, gaya penyelesaian masalah, dan
berani mengambil resiko (Etikariena & Muluk, 2014). Pada tipe
kepribadian, individu yang memiliki perilaku inovatif biasanya akan
cenderung membawa perubahan-perubahan diri ke yang lebih baik, dengan
perubahan diri tersebut, maka individu tersebut akan mencari peluang
ataupun alternatif. Hal ini juga sesuai dengan salah satu kakteristik
entrepreneurial mindset yaitu seek the opportunities (McGraith & Mac
Millan, 2000). Entrepreneurial mindset adalah pola pikir yang dimiliki oleh
seorang wirausaha, dimana mempunyai karakter diantaranya ialah berpikir
simpel, berorientasi pada hal-hal baru, action oriented, mampu membaca
dan mengambil peluang (McGraith & Mac Millan, 2000). Dengan adanya
entrepreneurial mindset, seorang pengusaha akan terdorong untuk terus
melakukan inovasi-inovasi untuk menciptakan peluang yang
menguntungkan (Suaidy & Lewenussa, 2019). Dalam konteks organisasi,
maka bisa dikaitkan bahwa setiap karyawan diharapkan memiliki
entrepreneurial mindset untuk mendukung perilaku kerja inovatif
karyawan. . Dengan adanya pemahaman seperti itu maka diharapkan
entrepreneurial mindset tidak hanya berada pada lingkungan wirausaha
saja, namun bisa sebagai bentuk perilaku yang bermanfaat di lingkungan
perusahaan.
Entrepreneurial mindset adalah pola pikir yang dimiliki oleh seorang wirausaha, dimana mempunyai karakter diantaranya ialah berpikir simpel, berorientasi pada hal-hal baru, berorientasi pada tindakan, mampu membaca dan mengambil peluang (McGraith & Mac Millan, 2000). Dengan adanya entrepreneurial mindset, seorang pengusaha akan terdorong untuk terus melakukan inovasi-inovasi untuk menciptakan peluang yang menguntungkan (Suaidy & Lewenussa, 2019). Dalam konteks organisasi, maka bisa dikaitkan bahwa setiap karyawan diharapkan memiliki entrepreneurial mindset untuk mendukung perilaku kerja inovatif karyawan.
PT Indonesia Asahan Aluminium atau lebih dikenal sebagai Inalum merupakan BUMN pertama dan terbesar Indonesia yang bergerak dibidang peleburan Aluminium. Besarnya potensi kelistrikan yang dihasilkan dari aliran Sungai Asahan membuat Pemerintah Indonesia mengundang perusahaan konsultan pembangunan asal Jepang, Nippon Koei untuk melakukan studi kelayakan pembangunan PLTA di Sungai Asahan.
Studi kelayakan tersebut menyarankan agar produksi kelistrikan diserap
oleh industri peleburan aluminium. Maka dengan itu, Pemerintah
menindaklanjuti studi kelayakan tersebut bersama pihak Jepang untuk
secara bersama mendirikan perusahaan untuk mengelola proyek Asahan
dengan perusahaan yang bernama Indonesia Asahan Aluminium dengan
ditandatanganinya kerjasama untuk pengelolaan bersama kawasan Sungai
Asahan pada tanggal 7 Juli 1975 (Wikipedia)
Secara de facto, perubahan status INALUM dari PMA menjadi BUMN terjadi pada 1 November 2013 sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam Perjanjian Induk. Pemutusan kontrak antara Pemerintah Indonesia dengan Konsorsium Perusahaan asal Jepang berlangsung pada 9 Desember 2013, dan secara de jure INALUM resmi menjadi BUMN pada 19 Desember 2013 setelah Pemerintah Indonesia mengambil alih saham yang dimiliki pihak konsorsium. PT INALUM (Persero) resmi menjadi BUMN ke-141 pada tanggal 21 April 2014 sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2014. Inalum sebagai BUMN yang bergerak yang dibidang pertambangan diperkirakan akan menjadi induk holding BUMN pertambangan. Hal ini dilakukan agar BUMN pertambangan memiliki integrasi operasi yang lebih besar dengan produksi tambang yang beragam sekaligus mendukung industrialisasi hilir tambang (inalum.co.id)
Adanya perubahan status dari PMA menjadi BUMN, maka dalam pelaksanaan operasional, INALUM juga ikut menganut standar kompetensi pegawai perusahaan yang tergabung pada BUMN Indonesia. Terdapat standar 12 kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap pegawai yang tergabung dalam perusahaan BUMN yaitu integrity, enthusiasthic, innovation & creativity, building business partnership, business acumen, customer focus, strategic orientation, driving execution, visionary leadership, aligning performance, change leadership, dan empowerment.
Standar kompetensi yang dibuat bertujuan untuk menjadi acuan BUMN dalam kegiatan rekrutmen, pengembangan, pengangkatan, penempatan, dan promosi dalam suatu jabatan di lingkungan perusahaan BUMN.
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh karyawan BUMN yaitu perilaku inovatif. Karyawan yang memiliki perilaku inovatif diharapkan akan mampu menghasilkan dan menerapkan metode penyelesaian yang baru dan berbeda untuk mengatasi berbagai tantangan pekerjaan, seperti melakukan terobosan dalam bentuk ide, gagasan atau program nyata yang mendukung pencapaian kinerja terbaik perusahaan.
Adapun beberapa perilaku kunci yang diharapkan dari kompetensi inovatif yaitu mencoba menerapkan sesuatu di luar kebiasaan, menggunakan berbagai macam sumber sumber daya untuk membuat ide baru, memperkenalkan sesuatu yang baru, melihat masalah dari sesuatu yang berbeda, menciptakan gagasan terbaru yang bisa menguntungkan perusahaan dan perilaku inovatif lainnya. (Kamus BUMN, 2019).
Sesuai dengan perilaku kunci dari kompetensi inovatif, maka fenomena yang terjadi di perusahaan Inalum adalah masih banyaknya karyawan yang belum memunculkan perilaku inovatif. Hal ini sesuai dengan pernyataan salah satu Kepala Sub-seksi seksi SHD (Smelter Human Development). Seksi SHD merupakan seksi yang bertugas dalam hal pendidikan dan pengembangan karyawan. Beliau menyatakan bahwa terkait perilaku inovatif pada sebagian besar karyawan di PT Inalum masih belum memunculkan beberapa perilaku kunci dari perilaku inovatif dengan indicator sesuai yang tertera di Kamus Kompetensi BUMN. Kepala Sub- seksi SHD menyatakan dalam salah satu faktor perilaku inovatif yaitu proses realisasi ide pada karyawan masih belum muncul secara keseluruhan.
Masih ada proses pro dan kontra dalam melakukan realisasi ide sehingga
hal ini menjadi menyulitkan perusahaan ketika ada inovasi terbaru yang ingin dijalankan. Hal ini juga dibuktikan dengan hasil asesmen internal yang dilakukan PT Inalum pada tahun 2018-2019 terhadap level Junior Manager, Manager, dan Deputy Manager terkait perilaku inovatif yang membuktikan rata-rata karyawan berada di nilai 2 (Kurang), sedangkan pada standar PT Inalum untuk kompetensi terkait inovasi adalah 2,5 atau 3 (cukup).
Selain perilaku inovatif, kewirausahaan juga dianggap dapat memiliki pengaruh positif terhadap kinerja organisasi (Kanter, 1989; Covin and Slevin, 1991; Hamel, 1999). McGrath dan MacMillan (2000) memberikan banyak contoh bagaimana perilaku kewirausahaan yang mereka amati di perusahaan-perusahaan besar dan global seperti Citibank, GE, dan Honda menyebabkan terobosan produk dan layanan, pengembangan teknologi baru, dan peningkatan kinerja.
PT. Inalum merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam
pertambangan dengan aktifitas bisnis yang cukup besar. Aktifias
kewirausahaan seperti mengejar peluang pasti selalu dilakukan oleh
perusahaan ini. Namun pada prosesnya, karyawan khususnya pada level
managerial belum mengetahui istilah entrepreneurial mindset. Hal ini juga
dibuktikan pada hasil survey terbuka yang dilakukan oleh peneliti kepada
staff PT. Inalum, khususnya pada level managerial, pemahaman karyawan
terkait entrepreneurial mindset sangat terbatas dan hanya mengetahui
bahwa entrepreneurial mindset hanya bergerak di lingkungan dunia
kewirausahaan saja. Entrepreneurial mindset menjelaskan tentang inovasi
dan semangat dalam mengejar peluang serta memfasilitasi tindakan untuk
memanfaatkan peluang tersebut (Senges dalam Scheepers, 2008). Perilaku seperti ini bisa diterapkan dan membantu pada manajemen perusahaan guna meningkatkan keberhasilan tujuan dan target yang dimiliki perusahaan tersebut.
Dalam keseharian, karakteristik dari entrepreneurial mindset dilakukan oleh seluruh karyawan dalam proses kerja. Ada pun beberapa perilaku yang menunjukkan kompetensi terkait entrepreneurial mindset yaitu seperti mengenali adanya peluang bisnis, memahami faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis, mengenali cara-cara efisien untuk memperoleh keuntungan perusahaan, menyusun strategi atau taktik bisnis dalam rangka memposisikan pasar (Kamus BUMN).
Berdasarkan uraian-uraian pernyataan di atas, peneliti melihat adanya fenomena menarik untuk diteliti terkait dengan perilaku inovatif dan entrepreneurial mindset. Adapun judul dari penelitian ini adalah “Pengaruh Entrepreneurial Mindset terhadap perilaku inovatif karyawan level managerial di PT. Inalum (Persero).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diperoleh rumusan
masalah apakah terdapat pengaruh antara entrepreneurial mindset terhadap
perilaku inovatif karyawan level managerial di PT Inalum (Persero)?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka peneliti bertujuan untuk melihat pengaruh entrepreneurial mindset terhadap perilaku inovatif karyawan level managerial di PT Inalum.
D. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi terkait ilmu pengetahuan dan bahan masukan untuk mengembangkan ilmu psikologi khususnya dalam bidang psikologi industri dan organisasi mengenai entrepreneurial mindset dan perilaku inovatif .
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk mengambil langkah-langkah positif untuk dan sebagai referensi untuk mengetahui entrepreneurial mindset dan perilaku inovatif pada karyawan di PT Inalum (Persero).
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi kepada PT.
Inalum seberapa besar perilaku inovatif yang muncul pada
karyawan level managerial dan seberapa tinggi pengaruh
entrepreneurial mindset pada karyawan di level managerial di PT
Inalum (Persero).
b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya dengan topik yang sama.
E. Sistematika Penulisan
Penelitian ini disajikan dalam beberapa bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I: Pendahuluan
Berisikan latar belakang masalah yang hendak dibahas, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: Landasan Teori
Berisi tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan permasalahan. Memuat landasan teori mengenai entrepreneurial mindset dan perilaku inovatif
BAB III: Metode Penelitian
Berisikan metode-metode dasar dalam penelitian yaitu: identifikasi variabel, definisi operasional, subjek penelitian, instrumen dan alat ukur yang digunakan, metode pengambilan data dan metode analisis data.
BAB IV: Analisa Data dan Pembahasan
Pada bab ini akan menjabarkan terkait dengan gambaran umum subjek penelitian, hasil uji asumsi, hasil utama penelitian, deskripsi data penelitian, dan pembahasan hasil penelitian.
BAB V: Kesimpulan dan Saran
Bab ini akan berisikan uraian terkait dengan kesimpulan dan saran dari
penelitian yang telah dilaksanakan
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab II berisi uraian mengenai teori-teori yang berkaitan dengan ruang lingkup variabel penelitian. Teori bertujuan sebagai acuan peneliti dalam melakukan penelitian. Bab ini terdiri dari pembahasan mengenai perilaku inovatif dan entrepereneurial mindset, pengaruh masing-masing variabel dan hipotesis penelitian.
A. Perilaku Inovatif
1. Defenisi Perilaku Inovatif
Farr dan Ford (1990) mendefinisikan perilaku kerja inovatif sebagai perilaku individu yang bertujuan untuk mencapai inisiasi dan pengenalan yang disengaja (dalam peran kerja, kelompok atau organisasi) dari ide, proses, produk atau prosedur yang baru dan bermanfaat. Sedangkan perilaku inovatif menurut Price pada tahun 1997 (dalam Prayudhayanti, 2014) pada dasarnya merupakan perilaku individu yang melakukan perubahan cara kerja dalam bentuk mengadopsi prosedur, praktek dan teknik kerja yang baru dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaanya.
West (2002) menjelaskan inovasi sebagai serangkaian aktivitas atau usaha
dalam menghadapi pekerjaan yang melibatkan cara-cara dan ide-ide baru untuk
menyelesaikan tugasnya. Pada defenisi lain perilaku kerja inovatif didefinisikan
sebagai pembuatan, pengenalan, dan penerapan ide atau gagasan baru dalam
pekerjaan, kelompok, atau organisasi untuk meningkatkan kinerja peran
individu, kelompok, atau organisasi tersebut (Janssen, 2000).
Menurut De Jong dan Hartog (2010), perilaku kerja inovatif merupakan rangkaian kegiatan kerja yang secara bertahap dilakukan oleh pekerja dalam mengembangkan dan meningkatkan perilaku kerja yang efektif. Sementara perilaku inovatif dapat didefinisikan sebagai sebuah tindakan yang dilakukan untuk menciptakan dan mengambil ide-ide, pemikiran, atau cara-cara baru untuk di terapkan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan (Gaynor, 2002).
Perilaku inovatif adalah keseluruhan tindakan individu yang mengarah pada permunculan, pengenalan, dan penerapan dari sesuatu yang baru dan menguntungkan pada seluruh tingkat organisasi. Sesuatu yang baru dan menguntungkan meliputi pengembangan ide atau teknologi pada produk baru dan perubahan dalam prosedur administratif yang bertujuan untuk meningkatkan relasi kerja. Penerapan ide-ide atau teknologi baru untuk proses kerja yang secara signifikan meningkatkan efisiensi dan efektivitas mereka (Kleysen &
Street dalam Kresnandito & Fajrianthi, 2012).
Perilaku inovatif juga salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja (Leong, 2013). Orang yang inovatif akan berupaya memecahkan permasalahan dengan menggunakan cara beda dengan yang biasa orang lakukan tetapi akan menghasilkan keefektifan dan efisien (Purba, 2009).
Perilaku inovatif karyawan mengacu pada sebuah kemampuan individu
untuk menciptakan sebuah ide-ide dan sudut pandang baru, yang diubaha
menjadi inovasi (Dysvik, Kuvaas & Buch, 2014). Kualitas yang mendasar dari
sebuah inovasi yang dilakukan karyawan adalah bagaimana seseorang dapat
mencari tahu masalah dalam proses belajar, menghasilkan ide-ide dengan
kreatifitas, kemudian mencari dukungan dan pengakuan yang sah, lalu menerapkannya kedalam prakter kerja (Zhao & Shao, 2011).
McGruirk, Lenihan dan Hart (2015) mendefinisikan perilaku kerja inovatif sebagai penciptaan model bisnis, teknik manajemen, strategi dan struktur organisasi diluar dari yang sudah ada. Perilaku inovatif mengacu pada kemampuan untuk menciptakan sebuah ide yang original, menggunakan hasil kerja sebagai sebuah ide yang berpotensi dan menerapkan ide-ide baru kedalam praktek kerja (Birdi, Leach, & Magadley, 2016).
Berdasarkan penjelasan pernyataan di atas, maka defenisi dari perilaku inovatif adalah serangkaian aktivitas yang melibatkan tahapan perilaku pembuatan ide dan proses guna mengembangkan dan meningkatkan perilaku kerja dengan cara yang baru sehingga bisa diterapkan dalam individu dan kelompok di perusahaan atau organisasi agar pekerjaan menjadi lebih efektif.
2. Dimensi Perilaku Inovatif
Perilaku inovatif merupakan proses multi tahapan, dengan aktifitas dan perilaku individu yang berbeda-beda di setiap tahapannya (Scott & Bruce, 1994).
Janssen (2000) menambahkan bahwa perilaku inovatif merupakan perilaku kompleks yang terdiri dari tiga dimensi, yaitu idea generation, idea promotion, dan idea realization. Adapun beberapa dimensi dari perilaku inovatif tersebut, yaitu :
a. Idea Generation
Inovasi individu dimulai dengan adanya kesadaran dari individu untuk
melihat dan mengenali akan adanya peluang baru dari suatu permasalahan
yang muncul (Kanter, dalam Janssen 2000). Janssen (2000) menambahkan bahwa persepsi mengenai permasalahan dalam pekerjaan, merasakan adanya keganjilan, atau munculnya tren merupakan pencetus atau dorongan dalam menghasilkan ide-ide baru. Kemudian dari peluang tersebut, individu akan mulai untuk memproduksi atau membuat suatu ide baru yang bermanfaat dalam berbagai domain pekerjaan. Pendalaman suatu peluang dapat dilakukan dengan mencari cara untuk meningkatkan proses pelayanan atau memikirkan langkah alternatif dalam proses kerja, produk atau layanan (Kanter, dalam Janssen 2000). Inovasi dipacu oleh adanya pengakuan atas suatu peluang baru. Ketika peluang tersebut dihargai, seseorang perlu mengerahkan tenaga untuk memunculkan ide-ide tersebut.
b. Idea Promotion
Tahap selanjutnya dari proses inovasi adalah idea promotion. Dalam
tahapan ini, individu mencari dukungan untuk ide yang ia bawa serta
berusaha untuk membangun sebuah koalisi untuk mendukung ide inovasi
tersebut (Scott & Bruce, 1994). Ketika individu telah menghasilkan suatu
gagasan, makai a harus berada di dalam suatu kelompok untuk mendapatkan
rekan, penyokong dan pendukung ide di sekitarnya (Janssen, 2000). Hal ini
penting dilakukan karena sebagian besar gagasan bersifat tidak pasti,
membutuhkan kontribusi besar untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan inovasi serta dapat memunculkan reaksi penolakan
terhadap perubahan. Selain itu, keberhasilan dari suatu inovasi sangat
bergantung pada jumlah dan jenis dari kekuatan orang-orang yang
mendukung ide-ide tersebut. Sebaliknya, kegagalan dari inovasi biasanya
disebabkan oleh dukungan yang tidak pasti dan sumber daya yang tidak memadai selama tahapan awal pembangunan ide (Janssen, 2000).
c. Idea Realization
Pada tahapan terakhir dari proses inovasi ini, yaitu idea realization, individu melengkapi idenya dengan membuat suatu produk atau model dari ide inovasi tersebut yang dapat dialami langsung dan diterapkan dalam suatu pekerjaan, kelompok kerja, ataupun organisasi secara keseluruhan, sehingga nantinya ide tersebut dapat disebarkan, diproduksi secara massal, ataupun digunakan secara produktif Janssen (2000). Tahapan ketiga pada proses inovasi ini melibatkan kerja sama kelompok untuk menyelesaikan ide tersebut dengan mengubahnya menjadi objek konkret dan nyata (secara fisik atau intelektual) yang dapat ditransfer kepada orang lain. Inovasi yang sederhana umumnya dapat diimplementasikan oleh individu atau karyawan itu sendiri, sedangkan inovasi yang lebih kompleks biasanya memerlukan kerjasama kelompok yang memiliki anggota dengan berbagai variasi pengetahuan, kompetensi dan peran kerja (Janssen ,2000).
Terdapat beberapa penelitian menggunakan tahapan-tahapan yang
dikemukan oleh Janssen sebagai acuan pembuatan alat ukur skala perilaku
inovatif. Beberapa penelitian yang menggunakan tahapan Janssen sebagai
acuan pembuatan alat ukur diantara nya penelitian yang dilakukan oleh
Arum Etikariena dan Hamdi Muluk (2014) yang berjudul Hubungan antara
Memori Organisasi dan Perilaku Inovatif Karyawan, lalu penelitian yang
dilakukan oleh Dila Fitriza Rulevy dan Endang Parahyanti (2016) dengan
judul Hubungan Psychological Capital Dan Perilaku Kerja Inovatif Di
Industry Kreatif: Studi Pada Karyawan Di Perusahaan Xyz, penelitian selanjutnya dilakukan oleh Dewa Nyoman Reza Aditya dan Komang Ardana (2016) yang berjudul Pengaruh Iklim Organisasi, Kepemimpinan Transformasional, Self Efficacy Terhadap Perilaku Kerja Inovatif, dan penelitian lainnya yang dilakukan oleh Lalu Abdillah Rizky Setiawan (2018) yang berjudul Hubungan Antara Komitmen Organisasi Dan Perilaku Inovatif Pada Karyawan Bank X.
Banyaknya penelitian yang menggunakan tahapan perilaku inovatif yang dikemukakan oleh Janssen (2000) maka peneliti juga menggunakan tahapan ini sebagai acuan untuk skala pengukuran variabel perilaku inovatif pada penelitian ini.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Inovatif
Etikariena & Muluk (2014) mengemukakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku inovatif, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor tersebut adalah:
a. Faktor Internal terdiri dari:
1. Tipe Kepribadian
Tipe kepribadian karyawan merupakan salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi munculnya perilaku inovatif karyawan
(Etikariena & Muluk, 2014). Hal ini dikarenakan ketika karyawan
memiliki kepribadian yang mendorong pada perubahan-perubahan
diri ke arah yang lebih baik maka karyawan juga akan terdorong untuk
selalu memperbaiki dirinya. Ketika karyawan melakukan perubahan-
perubahan yang lebih baik maka karyawan akan berusaha mencari alternatif-alternatif solusi agar dirinya tidak kembali menjadi pribadi yang ditinggalkan. Demikian, karyawan juga akan memunculkan perilaku-perilaku inovatif yang dapat menunjang karyawan melakukan pekerjaannya dengan lebih baik serta selalu berusaha memperbaiki hasil kerja menjadi lebih efektif. Adanya dorongan- dorongan untuk mencari alternatif atau peluang juga sama dengan karakteristik entrepereneurial mindset yang dikemukakan oleh McGrath & MacMillan (2000) pada karakteristik mencari peluang (seek opportunities).
2. Gaya Penyelesaian Masalah
Gaya penyelesaian masalah yang tepat akan mendorong karyawan memunculkan perilaku inovatif sebagai solusi maupun tindakan preventif suatu permasalahan (Etikariena & Muluk, 2014).
Karyawan yang memiliki gaya penyelesaian masalah problem solves maupun problem seekers akan terdorong memunculkan penyelesaian- penyelesaian masalah serta melakukan antisipasi permasalahan sehingga terdorong berperilaku inovatif sebagai tindakan peventif agar masalah tidak terjadi.
3. Keberanian Mengambil Resiko
Karyawan yang berani mengambil risiko atas segala sesuatu
yang dikerjakannya akan berpeluang untuk melakukan inovasi
(Etikariena & Muluk, 2014). Keberanian dalam mengambil risiko
menjadikan karyawan lebih leluasa dalam mengekspresikan ide-
idenya serta melakukan implementasi atas ide-ide yang diciptakan.
Berbeda ketika karyawan memiliki ketakutan dalam mengambil risiko akan membatasi karyawan dalam mengekspresikan serta mengimplementasikan ide-idenya dengan baik.
b. Faktor Eksternal
1. Dukungan untuk berinovatif.
Dukungan dari orang-orang disekitar individu sangat membantu bagi karyawan tersebut dalam menciptakan suatu perilaku inovatif, bukan hanya itu dukungan dari orang dalam organisasi tersebut juga bisa memunculkan perilaku inovatif bagi karyawan tersebut (Scott
& Bruce, dalam Kresnandito dan Fajrianthi 2012).
B. Entrepreneurial Mindset
1. Defenisi Entrepreneurial Mindset
McGrath & MacMillan mendefenisikan entrepreneurial mindset sebagai "kemampuan untuk merasakan dengan cepat, bertindak dan memobilisasi, bahkan di bawah kondisi yang tidak pasti”. Hal ini menjelaskan bahwa entrepreneurial mindset merupakan kerangka berpikir seseorang yang berorientasikan seperti entrepreneur, lebih memilih untuk menjalani ketidakpastian daripada menghindar, melihat segala sesuatu lebih sederhana daripada orang lain yang melihatnya secara kompleks, mau belajar sesuatu yang datangnya dari pengambilan resiko (2000).
Ireland, Hitt dan Simon (2003) mendefinisikan entrepreneurial
mindset sebagai perspektif yang berorientasi pada pertumbuhan di mana
individu identic dengan fleksibilitas, Perhatikan cara pengutipan sesuai APA kreativitas, inovasi berkelanjutan dan pembaruan. McMullen dan Kier (2016) setuju dengan menyatakan bahwa entrepreneurial mindset adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang tanpa memperhatikan sumber daya yang saat ini di bawah kendali.
Haynie dan Shepherd (2007) berpendapat bahwa entrepreneurial mindset adalah hasil dari kesadaran meta-kognitif yang dijabarkan seperti
"kemampuan untuk menyesuaikan proses berpikir dengan konteks yang berubah sesuai tuntutan tugas". Pada tahun 2010, Shepherd menyempurnakan definisi entrepreneurial mindset sebelumnya sebagai
"kemampuan untuk dengan cepat merasakan, bertindak, dan memobilisasi"
yang menjadi respons terhadap keputusan yang dibuat di bawah ketidakpastian untuk mengeksploitasi peluang.
Ferrero dan Fioro menyatakan tentang entrepreneurial mindset bahwa
“menjadi wirausaha adalah kondisi pikiran. Hal ini berkaitan tentang menganalisis dunia, peluang dan kemungkinan, mencoba memahami bagaimana intervensi individu dapat memasuki sistem ekonomi dan sosial dalam hal konstruksi serta kemajuan, dan kemudian tentang menerapkan tujuan praktik dan menerjemahkan ide ke dalam tindakan (Ferrero dan Fioro, 2014).
McMullen dan Kier (2016) setuju dengan menyatakan bahwa entrepreneurial mindset adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang tanpa memperhatikan sumber daya yang dibawahi.
Namun McMullen dan Kier membuat perbedaan penting dengan
berpendapat bahwa entrepreneurial mindset hanya berfungsi untuk pengusaha yang berada di bidang promosi. Pada orang yang bergerak di bidang wirausahawan, maka entrepreneurial mindset menjadi hal yang dapat memaksimalkan untuk melakukan pencapaian.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka peneliti akan mengacu pada teori entrepreneurial mindset yang dikemukakan oleh McGrath &
MacMullen bahwa entrepreneurial mindset adalah kerangka berpikir seseorang yang berorientasikan seperti entrepreneur, lebih memilih untuk menjalani ketidakpastian daripada menghindar, melihat segala sesuatu lebih sederhana daripada orang lain yang melihatnya secara kompleks, dan mau belajar sesuatu yang datangnya dari pengambilan resiko.
2. Karakteristik Entrepreneurial Mindset
Menurut McGrath & MacMillan (2000) terdapat lima karakteristik entrepreneurial mindset, yaitu:
a. Seek Opportunities
Individu dengan entrepreneurial mindset memiliki kebiasaan tetap
waspada, selalu mencari peluang untuk mendapat keuntungan dari
perubahan maupun gangguan dalam cara berbisnis. Dampak terbesar
individu dengan entrepreneurial mindset terjadi ketika menciptakan
model bisnis yang terbaru. Model bisnis baru meningkatkan cara
pendapatan dibuat, biaya dikeluarkan, atau operasi dilakukan, bahkan bisa
berpengaruh di seluruh industri. Kebiasaan seseorang yang memiliki
pemikiran seperti wirausaha adalah selalu mencari gagasan dan
memperbaiki solusi. Mereka terus mencari peluang potensial yang kemudian dapat mereka kembangkan menjadi sebuah usaha.
b. Use Great Discipline
Individu dengan entrepreneurial mindset hanya mengejar peluang terbaik dan menghindari hal-hal yang bisa membuang tenaga diri sendiri dan tim dengan mengejar setiap opsi-opsi yang tersedia. Meskipun banyak entrepreneur yang memiliki ekonomi dengan tingkat yang cukup kaya, namun yang paling berhasil adalah individu dengan disiplin tinggi dalam membatasi jumlah proyek yang mereka kejar. Individu dengan entrepreneurial mindset akan fokus mengejar peluang namun tetap memperhatikan di setiap proses pengembangan peluang tersebut. Individu bersama timnya kan memikirkan strategi dengan mengakumulasikan startegi yang efektif daripada harus melakukan upaya yang berlebihan.
Karakteristik ini menyatakan bahwa individu yang memiliki entrepreneurial mindset tidak hanya menemukan peluang, namun bertindak atas inisiatif sendiri dan akan mengambil tindakan bila diperlukan.
c. Pursues the Best Opportunities
Kebiasaan individu dengan entrepreneurial mindset tidak berhati-
hati dalam menemukan peluang, namun juga peluan tersebut harus
memiliki tindakan. Individu tersebut biasanya akan tetap meninjau setiap
peluang yang ada namun akan memperhatikan tindakan-tindakan apa saja
yang perlu dilakukan. Oleh karena itu individu dengan entrepreneurial
mindset hanya mengejar peluang terbaik pada waktu yang tepat daripada
mengejar semua peluang di setiap kesempatan yang ada. Artinya, pengusaha sukses yang cerdas adalah mereka yang mengambil kesempatan disaat yang tepat.
d. Focus on Adaptative Execution
Individu dengan entrepreneurial mindset akan fokus pada eksekusi, lebih tepatnya eksekusi yang adaptif. Orang-orang dengan pola pikir kewirausahaan akan menganalisis ide-ide tersebut sampai menemukan hasil akhir. Namun mereka juga adaptif — mampu mengubah arah ketika terdapat peluang yang lebih baik, dan cara terbaik untuk merealisasikannya berkembang. Sehingga dengan entrepreneurial mindset akan berorientasi pada tindakan daripada hanya menganalisis hasil dari sebuah potensi namun tetap fleksibel terhadap rencana yang telah dibuat.
e. Engages everyone’s energy
Individu dengan entrepreneurial mindset selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari tim maupun dari diri mereka sendiri.
Mereka menciptakan dan mempertahankan relasi dan mengajak
pertemanan daripada melakukannya sendiri, menjadikan sebagian besar
sumber daya intelektual dan lainnya yang orang tawarkan dan membantu
orang-orang itu untuk mencapai tujuan mereka juga. Dengan kata lain,
bahwa seorang pengusaha harus dapat menggunakan keahliannya dalam
menggunakan kemampuan diri sendiri maupun orang-orang yang berada
di sekitarnya.
3. Dampak Entrepreneurial Mindset
Adapun dampak entrepreneurial mindset mampu menjelaskan tentang inovasi dan semangat dalam mengejar peluang serta memfasilitasi tindakan untuk memanfaatkan peluang tersebut (Senges dalam Scheepers, 2008). Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, organisasi sangat memerlukan individu dengan pemikirian seperti entrepreneur dengan harapan agar lebih produktif dengan inovasi yang tercipta, sehingga organisasi mampu untuk bersaing dalam dunia bisnis (Bekki, Huerta, & London, 2018). Dibuktikan juga, bahwa entrepreneurial mindset yang spesifik dengan peluang dan pemecahan masalah, maka akan mempengaruhi individu sehingga dalam proses membuat suatu hal baru atau inovasi individu akan mampu mengelaborasi konsep dan bisa memecahkan masalah (Komara &
Winarno, dalam Purwadhi, 2019).
Selain terkait dengan perilaku inovatif, entrepreneurial mindset juga
memberikan pengaruh terhadap variabel lain seperti pengambilan
resiko, dimana orang dengan entrepreneurial mindset cenderung
memliki kemauan untuk mengambil resiko dengan cukup tinggi Stewart
and Roth (2001). Selain pengambilan resiko, variabel lain yang
berkaitan dengan entrepreneurial mindset adalah kepuasan kerja. Hindle
dan Cutting (2002) menemukan bahwa apoteker yang menerima
pendidikan enterpreneurship memiliki tingkat kepuasan kerja yang
lebih tinggi daripada rekan mereka yang tidak menerima pendidikan.
Terdapat variabel lain yaitu perceived contribution to organization (kontribusi yang dirasakan oleh organisasi). Shepherd dan Krueger (2002) memberikan hubungan antara enterpreneurship dengan kontribusi yang dirasakan untuk organisasi. Dalam studi mereka tentang tim kewirausahaan, Shepherd dan Krueger (2002) menyarankan bahwa aktivitas kewirausahaan secara positif terkait dengan persepsi tim bahwa tindakan mereka diinginkan untuk organisasi.
C. Kamus Kompetensi BUMN
PT. Inalum (Persero) resmi menjadi BUMN yang ke 141 pada tanggal 21 April 2014, sehingga dalam proses berjalannya perusahaan mengikuti aturan BUMN. Salah satu peraturan yang harus diikuti oleh PT. Inalum (Persero) adalah menyesuaikan kompetensi karyawan dengan Kamus Kompetensi BUMN. Adapun beberapa kompetensi yang harus dipenuhi oleh seluruh karyawan PT. Inalum (Persero) di antaranya yaitu:
a. Innovation & Creativity
Kemampuan untuk menghasilkan dan menerapkan metode penyelesaian yang inovatif untuk mengatasi berbagai tantangan pekerjaan seperti melakukan terobosan dalam bentuk ide, gagasan atau program nyata yang mendukung pencapaian kinerja terbaik perusahaan;
menjadikan kendala sebagai tantangan untuk menghasilkan gagasan yang kreatif. Adapun perilaku kunci kompetensi ini yaitu :
1. Mencoba menerapkan sesuatu yang di luar kebiasaan
2. Menggunakan berbagai macam sumber daya untuk mencari ide-ide baru
3. Memperbaharui atau mengadakan perubahan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru
4. Melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda untuk membuat terobosan baru
5. Menemukan adanya analogi dari persoanlan yang dihadapi saat ini dengan pengalaman masa lalu
6. Menciptakan dan/atau mengelola gagasan baru atau karya kreatif yang menguntungkan perusahaan
b. Business Acumen
Kemampuan unyuk memanfaatkan peluang dalam memperoleh profit dan mengembangkan aktifitas bisnis perusahaan. Adapun perilaku kunci kompetensi ini yaitu :
1. Mengenali adanya peluang / kesempatan bisnis
2. Memahami faktor-faktor yang berpengaruh bagi kelangsungan bisnis
3. Memahami kontribusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan bisnis perusahaan
4. Mengenali cara-cara baru untuk lebih memperoleh keuntungan/efisien
5. Membuat rencana dan menentukan tindakan untuk merealisasikan
kemungkinan bisnis yang potensial
6. Menyusun strategi dan taktik bisnis dalam rangka memposisikan pasar
D. Pengaruh Entrepreneurial Mindset terhadap Perilaku Inovatif
Perilaku inovatif merupakan perilaku yang sangat diharapkan oleh perusahaan dan diharapkan dapat dimiliki oleh semua karyawan.
Sedangkan,inovasi adalah ide (Scott & Bruce, 1994) dan individu merupakan pencetus dan pelaksana ide inovatif. Ide datang dari individu sebagai pihak yang membawa, mengembangkan, bereaksi dan dapat memodifikasinya (Van den Ven, 1986). Organisasi yang inovatif akan lebih mudah menanggapi tantangan lingkungannya dengan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan organisasi yang kurang inovatif (Damanpour & Gopalakrishnan, 1998).
Dengan adanya inovasi, organisasi akan dapat merespon tantangan, dapat bertahan dan lebih mudah berkembang (Van den Ven, 1986).
Berkaitan dengan hal tersebut, perilaku kerja inovatif muncul sebagai suatu bentuk inovasi pada tingkat individu (Waenink, 2012). Janssen (2000) menanggapi pernyataan Scott dan Bruce (1994) memberikan pemahaman mengenai perilaku kerja inovatif berdasarkan proses atau tahapannya yang diawali dengan adanya idea generation sehingga memunculkan sebuah ide yang baru dan berguna dalam domain tertentu. Tahapan dari proses inovasi berikutnya yaitu idea promotion terhadap pihak-pihak yang memiliki potensi.
Ketika seorang pekerja telah menggenerasikan sebuah ide, maka individu
tersebut telah terikat dalam aktivitas sosial untuk mencari teman, backers,
sponsor yang mendukung ide, atau membangun koalisi pendukung yang dapat
memberikan kekuatan di balik hal tersebut (Galbraith, 1982; Kanter, 1988 dalam Janssen, 2000). Tugas akhir dari tahapan proses inovasi adalah idea realization dengan menghasilkan sebuah prototip atau model dari inovasi yang dapat dialami dan sangat dapat diaplikasikan dalam sebuah peran kerja, grup atau organisasi secara keseluruhan (Kanter, 1988 dalam Janssen, 2000).
Bagi organisasi yang membutuhkan perilaku kerja inovatif pada karyawannya, tentunya penting untuk mempelajari faktor-faktor yang berperan di dalamnya sehingga dapat memunculkan perilaku tersebut. Faktor internal yang berasal dari karyawan secara individu dipelajari memiliki peran paling penting sebagai faktor perilaku kerja inovatif (West & Farr, 1989). West dan Farr (1989) memiliki keyakinan bahwa terdapat banyak hal yang dapat dipelajari dari fokus terhadap perilaku inovatif pada individu. Salah satu aspek individual yang sangat membantu munculnya perilaku inovatif pada individu dapat dipelajari melalui perspektif psikologis yang merupakan faktor internal (West & Farr, 1989).
Entrepreneurial mindset merupakan kerangka berpikir seseorang yang
berorientasikan seperti entrepreneur, lebih memilih untuk menghadapi
ketidakpastian daripada menghindar, melihat segala sesuatu lebih sederhana
daripada orang lain yang melihatnya secara kompleks, mau belajar sesuatu
yang datangnya dari pengambilan resiko (2000). Menurut Dhliwayo dan
Vuuren (2007) entrepreneurial mindset adalah tentang kreatifitas, inovasi dan
peluang yang mengarah pada penciptaan dan kesuksesan kekayaan organisasi
dan pola pikir semacam ini memungkinkan pengusaha membuat keputusan
yang realistis saat menghadapi ketidakpastian. Hal ini juga menyatakan bahwa
entrepreneurship adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang (Suryana, 2006).
Entrepreneurial mindset menjelaskan tentang keinovatifan dan semangat dalam mengejar peluang serta memfasilitasi tindakan untuk memanfaatkan peluang tersebut (Senges dalam Scheepers, 2008). Hal ini berkaitan dengan karakteristik dari entrepreneurial mindset paling menonjol yaitu mencari peluang. Kebiasaan karyawan dengan entrepreneurial mindset yang tinggi maka akan selalu mencari gagasan dan memperbaiki solusi.
Dengan entrepreneurial mindset yang tinggi maka karyawan akan berinovasi untuk mencari inisiatif dan terus mencari peluang potensial yang kemudian dapat mereka kembangkan menjadi sebuah ide. Serta dengan entrepreneurial mindset, maka bisa dikaitkan bahwa setiap karyawan diharapkan memiliki entrepreneurial mindset untuk mendukung perilaku kerja inovatif karyawan.
Hal ini juga sesuai dengan pernyataan bahwa entrepreneurship
memiliki efek positif pada inovasi (Hacioglu, dalam Ma’atoofi dan Tajeddini,
2010). Karakteristik dari entrepreneurial mindset lainnya adalah fokus pada
eksekusi dan melibatkan energi orang lain. Karyawan yang fokus pada
tindakan akan terus berinovasi untuk mencari inisiatif agar tindakan yang
dilakukan lebih baik, serta tetap melibatkan orang lain, sehingga karyawan bisa
bersinergi untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Adanya fokus yang tinggi
dan kerja sama yang tinggi antar karyawan maka akan berdampak baik bagi
perusahaan. Sesuai dengan pernyataan Shepherd dan Krueger (dalam
Kadarisman, 2016) yang mengatakan terdapat hubungan antara entrepreneurship dan kontribusi yang dirasakan bagi organisasi.
Terdapat banyak hubungan yang bisa dilihat antara perilaku inovatif dengan entrepreneurial mindset. Salah satu faktor internal dari perilaku inovatif adalah tipe kepribadian individu yang dinyatakan bahwa individu akan selalu memperbaiki diri dan mencari alternatif akan bisa bekerja lebih efektif lagi. Hal ini sejalan dengan karakteristik entrepreneurial mindset yaitu seek opportunities dimana diartikan bahwa orang dengan karakteristik ini akan selalu mencari peluang atau kesempatan yang bisa membawa keuntungan dengan dirinya sendiri. Potensial yang ada akan dikembangkan agar bisa membuat pekerjaan lebih efisien. Dilihat dari pernyataan ini maka terlihat bahwa tipe kepribadian yang merupakan salah satu faktor internal munculnya perilaku inovatif berhubungan dengan karakteristik seek opportunities dari entrepreneurial mindset.
Faktor internal lain dari perilaku inovatif adalah gaya pemecahan
masalah. Orang yang dengan gaya penyelesaian masalah yang tepat akan
mendorong karyawan memunculkan perilaku inovatif sebagai solusi maupun
tindakan preventif suatu permasalahan (Etikariena & Muluk, 2014). Hal ini
sejalan dengan karakteristik entrepreneurial mindset yaitu pursue the best
opportunies. Dalam ini, individu dengan karakteristik tersebut akan hanya
mengejar peluang yang tepat dan terbaik. Individu tersebut akan memiliki gaya
pemecahan masalah yang baik karena akan hanya fokus pada peluang yang
tepat. Faktor internal dari perilaku inovatif ini juga sejalan dengan karakteristik
entrepreneurial mindset yang menyatakan focus on adaptive execution.
Individu dengan karakteristik ini akan fokus terhadap pemecahan masalah namun tetap bisa adaptif apabila terdapat peluang lain. Hal ini sejalan dengan menunjukan bahwa orang dengan perilaku inovatif akan fokus pada penyelesaian masalah namun akan tetap bisa mencari alternatif apabila terdapat peluang yang lebih baik.
Faktor internal lain dari perilaku inovatif yaitu keberanian mengambil resiko. Karyawan yang berani mengambil risiko atas segala sesuatu ya0ng dikerjakannya akan berpeluang untuk melakukan inovasi (Etikariena & Muluk, 2014. Hal ini sesuai dengan pengertian dari McGrath & MacMillan mendefenisikan entrepreneurial mindset sebagai "kemampuan untuk merasakan dengan cepat, bertindak dan memobilisasi, bahkan di bawah kondisi yang tidak pasti”. Kondisi yang tidak pasti merupakan bentuk resiko yang dihadapi oleh individu dengan karakteristik entrepreneurial mindset. Sama seperti faktor perilaku inovatif, individu dengan karakteristik ini akan berani bertindak tanpa takut akan resiko yang bisa terjadi.
Faktor eksternal dari perilaku salah satunya yaitu dukungan dari orang
lain. Dukungan dari orang dalam organisasi tersebut juga bisa memunculkan
perilaku inovatif bagi karyawan tersebut (Scott & Bruce, dalam Fajrianthi
2012). Individu yang bekerja sebagai karyawan akan membutuhkan dukungan
positif untuk menjadi lebih baik dari tim maupun perusahaan agar bisa menjadi
lebih baik, hal ini juga sejalan dengan karakteristik entrepreneurial mindset
yaitu engage everyone’s energy. Orang dengan karakteristik ini akan
melibatkan orang sekitar untuk ikut dalam penyelesaian suatu tindakan.
Artinya orang dengan karakteristik ini akan berusaha mencapai suatu tujuan dengan mengajak banyak orang agar mecapai tujuan.
E. Hipotesa Penelitian
Berdasarkan uraian teoritis di atas maka peneliti mengajukan hipotesis penelitian yaitu terdapat pengaruh entrepreneurial mindset terhadap perilaku inovatif karyawan. Semakin kuat entrepreneurial mindset maka akan semakin tinggi munculnya perilaku inovatif pada karyawan.
Begitu juga sebaliknya jika semakin lemah entrepreneurial mindset maka
akan semakin rendah munculnya perilaku inovatif.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh entrepreneurial mindset terhadap perilaku inovatif karyawan di PT. Inalum. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang menekankan pada analisis data-data numerikal/angka yang berkaitan dengan metode statistika Penelitian ini juga menggunakan teknik korelasional yang bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2012). Penelitian ini berfokus pada ada atau tidak adanya pengaruh entrepreneurial mindset terhadap perilaku inovatif.
B. Identifiasi Variabel Penelitian
Dalam penelitian perlu dilakukan identifikasi terhadap variabel yang digunakan. Terdapat 2 jenis variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variable tergantung. Variabel bebas (independent variable) yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya variabel dependen.
Sedangkan variabel tergantung (dependent variable) adalah variabel yang dipengaruhi variabel bebas atau yang menjadi akibat (Sugiyono, 2012).
Adapun variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah : Variable Tergantung : Perilaku Inovatif
Variable Bebas : Entrepreneurial Mindset
C. Defenisi Operasional Variabel Penelitian 1. Perilaku Inovatif
Perilaku inovatif adalah serangkaian aktivitas yang melibatkan tahapan perilaku pembuatan ide hingga proses guna mengembangkan dan meningkatkan perilaku kerja dengan cara yang baru sehingga bisa diterapkan dalam pekerjaan agar menjadi lebih efektif.
Variabel perilaku inovatif akan diukur menggunakan skala likert yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan dimensi yang dikemukakan oleh Janssen (2000) yaitu idea generation, idea promotion, dan idea realization. Semakin tinggi skor pada hasil skala, maka semakin tinggi perilaku inovatif akan muncul. Sebaliknya, semakin rendah hasil skor skala maka semakin rendah perilaku inovatif akan muncul.
2. Entrepreneurial Mindset