BAB I PENDAHULUAN. bukan suatu kebutuhan namun pada saat sekarang dapat menjadi suatu

12  Download (0)

Full text

(1)

1 A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup seorang diri tanpa kehadiran manusia lain. Hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya di era globalisasi ini sangat penting terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya akan barang dan jasa yang semakin hari semakin bertambah serta semakin beragam macamnya. Suatu barang pada jaman dahulu bukan suatu kebutuhan namun pada saat sekarang dapat menjadi suatu kebutuhan. Barang yang dahulu bukan merupakan kebutuhan pokok, pada saat sekarang dapat menjadi kebutuhan pokok. Kebutuhan mendasar bagi manusia dimulai dari kebutuhan akan pangan kemudian sandang dan kemudian papan ataupun kesehatan dan baru kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya pelengkap dan tergolong mewah karena hanya sedikit orang yang dapat memilikinya, misalnya kebutuhan akan kemampuan melakukan suatu keahlian tertentu.

Salah satu keahlian yang lazim dimiliki saat ini adalah keahlian

mengemudi mobil. Kemampuan mengemudi yang merupakan salah satu

kebutuhan manusia yang dianggap mutlak diperlukan saat ini. Salah satu

pilihan untuk belajar mengemudi adalah dengan mengikuti pendidikan dan

latihan kursus mengemudi. Keahlian si pemilik atau pemakai mobil untuk

(2)

mengemudikan mobil di buktikan dengan memiliki Surat Izin Mengemudi mobil (SIM A), karena dalam mendapatkan SIM A para pihak harus memenuhi syarat yaitu telah berusia 17 Tahun, dan memenuhi syarat administrasi yaitu KTP asli setempat dan fotocopy-nya yang masih berlaku 1 (satu) lembar, mengisi formulir permohonan, bukti pembayaran biaya admintrasi SIM, rumus sidik jari, surat keterangan sehat jasmani dari dokter (Polri/umum), surat keterangan sehat rohani dari psikolog, surat keterangan lulus uji simulator (SKUKP) untuk SIM A, Ijazah/sertifikat I lulus pendidikan dan pelatihan mengemudi untuk SIM umum. Selain itu juga harus memenuhi syarat lulus yaitu ikut dan lulus ujian teori, ikut dan lulus ujian praktek I dan II.

Berdasarkan rumusan Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, menyatakan bahwa “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis kendaraan bermotor yang dikemudikan”.

Syarat untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi kendaraan bermotor umum yaitu calon pengemudi wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan pengemudi angkutan umum. Setelah mengikuti pendidikan dan latihan kursus mengemudi peserta harus melampirkan sertifikat kompetensi ini saat mengurus SIM Umum.

Sertifikat kompetensi akan diterima setelah peserta mengikuti kursus

mengemudi, sebagai bukti bahwa yang bersangkutan lulus ujian kursus

mengemudi , maka pengelola kursus mengemudi memberikan sertifikat

kompetensi ini. Pendidikan dan pelatihan mengemudi diselenggarakan oleh

(3)

lembaga yang mendapat izin dan terakreditasi dari pemerintah. Izin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan mengemudi yang diberikan oleh Pemerintah Daerah dan dilaksanakan berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Menteri yang membidangi sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Rumusan pasal Pasal 79 Undang-Undang No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan menyatakan, bahwa setiap calon pengemudi pada saat belajar mengemudi atau mengikuti ujian praktik mengemudi di jalan wajib didampingi instruktur atau penguji. Instruktur atau penguji sebagaimana bertanggung jawab atas pelanggaran dan/atau kecelakaan lalu lintas yang terjadi saat calon pengemudi belajar atau menjalani ujian.

Indonesia memiliki tingkat mobilitas yang tinggi dan seakan berbanding lurus dengan jumlah kecelakaan yang terjadi di jalan, salah satu penyebab kecelakaan tersebut adalah faktor manusia yang sering melakukan kelalaian sewaktu mengemudi di jalan, dengan demikian pendidikan mengemudi sangatlah penting dan diperlukan sebagai dasar dalam berkendara di jalan raya.

Secara umum penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan mengemudi bertujuan

menghasilkan lulusan yang kredibel dalam arti memenuhi kompetensinya

sebagai pengemudi, dan saat ini banyak terdapat sekolah mengemudi dengan

nama dan praktik penyelenggaraan yang bervariasi. Keselamatan dan

ketertiban dalam berlalu lintas merupakan tujuan yang ingin dicapai sesuai

dengan visi dan misi pembangunan non fisik di bidang perhubungan dari

(4)

pemerintah. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan mengemudi harus meningkatkan peran strategisnya dalam menghasilkan pengemudi yang kompeten dan bertanggung jawab. Pemerintah daerah dalam hal ini sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan mengemudi perlu melakukan pengaturan agar menjadi lebih baik dalam hal kualitasnya.

Syarat untuk mendapatkan SIM A yaitu Surat Keterangan Lulus Uji Simulator (SKUKP) untuk SIM A, Ijazah/sertifikat I lulus pendidikan dan pelatihan mengemudi untuk SIM umum ini membuat pelaku usaha jasa kursus mengemudi mobil berkembang sangat pesat di Yogyakarta, terlebih sebagai kota pendidikan dan kebudayaan yang semakin berkembang, banyak warga asli dan pelajar yang tinggal di daerah Yogyakarta ini. Pelajar maupun mahasiwa yang merantau ke Yogyakarta menjadi sasaran utama sebagai konsumen oleh para pelaku usaha kursus mengemudi mobil yang terdapat di sekitar berdirinya lembaga penyelengaraan pendidikan terutama universitas.

Para pengguna jasa juga sangat merespon usaha ini, usaha kursus

mengemudi mobil dinilai dapat mempermudah konsumen dalam proses belajar

mengemudi mobil. Efektif dan efisiensi waktu merupakan alasan yang

digunakan konsumen untuk memilih menggunakan usaha jasa kursus

mengemudi mobil tersebut, dalam hal efektif si konsumen tidak perlu

menyediakan mobil sendiri untuk belajar mengemudi, karena pelaku usaha akan

menyediakan mobilnya untuk dipakai selama proses kursus mengemudi, juga

dalam hal belajar, peserta kursus mengemudi akan diberi pelajaran tentang

(5)

mengemudi yang baik dan benar secara teori dan praktik sekaligus yang dilakukan langsung di lapangan yaitu jalan raya, dan hal yang paling penting adalah pada saat terjadi kecelakaan atau hal- hal yang tidak diinginkan terhadap mobil yang dipakai dalam proses mengemudi, maka si konsumen atau pengguna jasa kursus mengemudi mobil tidak perlu khawatir karena semua hal tersebut telah diatur dalam paket perjanjian antara penyedia jasa kursus mengemudi mobil dengan konsumen.

Hubungan yang terjadi antara pelaku usaha dengan konsumen pada dasarnya mempunyai prinsip yang sama dengan prinsip yang ada pada perjanjian timbal balik, yaitu perjanjian yang memberikan hak dan kewajibannnya kepada kedua belah pihak, artinya bahwa pelaku usaha dan konsumen dibebani hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. Hal tersebut menunjukan bahwa kedua belah pihak saling membutuhkan sehingga terjadi keterikatan diantaranya.

Kursus mengemudi mobil tersebut memberikan layanan kursus menyetir

mobil berdasarkan perjanjian yang telah disepakati antara penyedia jasa kursus

mengemudi mobil dengan konsumen. Dalam perjanjian tersebut, pihak

penyedia jasa layanan kursus mengemudi telah menentukan syarat dan

ketentuan bagi konsumen yang akan belajar mengemudi mobil. Walaupun

tempat kursus mengemudi mobil telah menetapkan syarat-syarat dan ketentuan

dalam belajar mengemudi yang telah dituangkan kedalam sebuah perjanjian,

(6)

tetap saja dalam prakteknya masih banyak terjadi permasalahan dimana pihak lembaga kursus mengemudi mobil maupun pihak konsumen sebagai pengguna jasa tidak memenuhi kewajiban atau tidak memenuhi prestasi sesuai dengan yang disepakati dalam perjanjian. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai wanprestasi. Wanprestasi adalah pelaksanaan perjanjian yang tidak tepat waktunya atau dilakukan tidak menurut selayaknya atau tidak dilaksanakan sama sekali

1

. Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi sebagai berikut :

a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan;

b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan;

c. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat;

d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

2

Wanprestasi yang terjadi tidak hanya merugikan pelaku usaha sebagai pihak yang menawarkan jasa, tetapi juga merugikan konsumen sebagai pihak pengguna jasa. Oleh karena itu perlu ditemukan upaya penyelesaian wanprestasi yang terjadi di dalam perjanjian jasa kursus mengemudi untuk meminimalisir segala kerugian yang terjadi.

Adanya wanprestasi memberikan hak bagi pihak yang dirugikan untuk meminta pertanggungjawaban atas kerugian yang diderita. Sistem pertanggungjawaban seperti itu terdapat pada sistem tanggungjawab hukum

1

Yahya Harahap, 1998, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Alimni, Bandung, hlm.60.

2

Subekti, 1990,Hukum Perjanjian,PT Intermasa, Jakarta, hlm.45.

(7)

perdata, yaitu tanggungjawab perdata berdasarkan wanprestasi. Permintaan pertanggungjawaban perdata berdasarkan wanprestasi hanya dapat dilakukan apabila terdapat perjanjian anatara para pihak dalam perjanjian yang mana mewajibkan seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu. Perjanjian tersebut dapat tertuang dalam bentuk tertulis, lisan, tindakan-tindakan nyata, atau secara diam-diam.

Berdasarkan latar belakang di atas dan pra penelitian yang sudah dilakukan penulis, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian penuliasan hukum dengan judul: “PELAKSANAAN PERJANJIAN JASA KURSUS MENGEMUDI MOBIL PADA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN LATIHAN

“AKREDITAS MENGEMUDI” DI YOGYAKARTA”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan tersebut diatas maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Mengapa terjadi wanprestasi dalam perjanjian jasa kursus mengemudi mobil di Lembaga Pendidikan dan Latihan “Akreditas Mengemudi” ? 2. Bagaimanakah upaya penyelesaian wanprestasi yang terjadi sehubungan

dengan pelaksanaan perjanjian jasa kursus mengemudi mobil di Lembaga

Pendidikan dan Latihan “Akreditas Mengemudi”?

(8)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang dan rumusan masalah di atas, Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis di dalam Penulisan Hukum ini meliputi 2 (dua) hal, yaitu :

1. Tujuan Obyektif

a. Untuk mengetahui dan mengkaji pelaksanaan perjanjian jasa kursus mengemudi mobil di Lembaga Pendidikan dan Latihan “Akreditas Mengemudi”

b. Untuk mengetahui bentuk dan upaya penyelesaiaan wanprestasi yang terjadi sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian jasa kursus mengemudi mobil di Lembaga Pendidikan dan Latihan “Akreditas Mengemudi”

2. Tujuan Subyektif

a. Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh data yang relevan dengan topik penulisan hukum guna melengkapi persyaratan akademis dalam rangka memperoleh gelar sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

b. Penelitian ini sebagai sumbangan pemikiran ilmiah kepada pihak-

pihak terkait pada khususnya, dan bagi perkembangan ilmu

pengetahuan pada umumnya.

(9)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian yang Penulis lakukan adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Akademis

Manfaat penelitian ini secara akademis adalah diperolehnya data tentang penyelesaian wanprestasi, diharapkan dapat menggambarkan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum perdata khususnya dalam perjanjian jasa kursus mengemudi mobil.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini khususnya bagi pihak-pihak yang terkait berupa peneliti, pembangunan hukum di Indonesia, dan masyarakat adalah sebagai berikut :

a. Manfaat bagi Pembangunan Hukum di Indonesia

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan kontribusi bagi perkembangan ilmu hukum pada umumnya, khususnya berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian dan mengetahui bentuk serta cara penyelesaiaan wanprestasi

b. Manfaat bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan penulis dalam bidang keperdataan, khususnya terkait bentuk dan penyelesaian wanprestasi dalam perjanjian.

c. Manfaat bagi instansi terkait

(10)

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat dalam bentuk pengetahuan mengenai bentuk-bentuk wanprestasi dan cara penyelesaian wanprestasi dalam pelaksanaan perjanjian agar tidak menimbulkan hal yang dapat merugikan salah satu pihak.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran terhadap beberapa penelitian kepustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, terdapat beberapa penelitian terkait dengan penelitian hukum yang dilakukan oleh penulis. Penelitian terkait tersebut meskipun membahas mengenai pelaksanaan perjanjian dan wanprestasi, tentunya penelitian tersebut bukan dilakukan di Akreditas Mengemudi, selain itu judul serta rumusan masalah berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis.

Namun demikian ada beberapa penelitian yang mengangkat tema yang di dalamnya terdapat variable yang serupa dengan variable yang diangkat dalam penelitian ini, tulisan tersebut antara lain :

1. Penelitian Berjudul “Analisis Yuridis Perjanjian Jasa Kursus Mengemudi Mobil Di Lembaga Pendidikan Dan Latihan “Akreditas Mengemudi”

Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen”

3

yang dilakukan oleh Fajar Napitupulu untuk

3

Fajar Napitupulu,2013, Analisis Yuridis Perjanjian Jasa Kursus Mengemudi Mobil Di Lembaga

Pendidikan Dan Pelatihan “Akreditas Mengemudi” Diakitkan Dengan Undang-Undang No.8 Tahun

(11)

penulisan Skripsi tahun 2013 di Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui syarat dan ketentuan yang termuat dalam perjanjian kursus mengemudi mobil di Lembaga Kursus dan Latihan

“Akreditas Mengemudi” telah sesuai dengan ketentuan pencantuman klausula baku dalam Pasal 18 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Penelitian yang membedakan dengan penulis adalah penulis lebih fokus kepada pelaksanaan perjanjian jasa antara lembaga kursus dengan konsumen sebagai pengguna jasa dan menitikberatkan kepada bentuk dan upaya penyelesaian wanprestasi yang terjadi dalam pelaksanaan perjanjian tersebut.

2. Penelitian berjudul “Pelaksanaan Perjanjian Jasa Perjalanan Ibadah Umroh & Haji Khusus Di PT. Fazary Wisata”

4

yang dilakukan oleh Ary Ramadhanoe Amanza untuk penulisan Skripsi tahun 2015 di Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk wanprestasi yang terjadi sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian serta cara penyelesaiaan wanprestasi yang terjadi.

Penelitian yang membedakan dengan penulis adalah selain membahas tentang wanprestasi dan upaya penyelesaiaannya yang terjadi dalam perjanjian, penulisan hukum ini juga menyoroti tentang pelaksanaan perjanjian itu sendiri.

1999 Tentang Perlindungan Konsumen,Penulisan Hukum bagian Hukum Perdata FH UGM, Yogyakarta

4

Ary Ramadhanoe Amanza, 2015, Pelaksanaan Perjanjian Jasa Perjalanan Ibdah Umroh & Haji

Khusus Di PT. Fazary Wisata

(12)

Selain hal tersebut, yang menjadi pembeda dari penulisan hukum penulis adalah lokasi penelitian. Penulisan diatas mengambil lokasi penelitian pada PT. Fazary Wisata sedangkan lokasi penulisan hukum penulis pada Lembaga Pendidikan dan Latihan “Akreditas Mengemudi”

Berdasarkan uraian tersebut diatas, terlihat bahwa penulisan hukum yang

dilakukan penulis terlihat perbedaannya, dengan demikian penulis menganggap

bahwa penelitian yang akan penulis laksanakan adalah asli dan layak untuk

diteliti dan dapat untuk dipertanggungjawabkan. Namun, jika terdapat

penelitian yang mirip dengan penulisan hukum oleh penulis, diharapkan

penelitian ini dapat saling melengkapi satu sama lain.

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in