• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Perlindungan Saksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Lembaga Perlindungan Saksi"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Lembaga Perlindungan Saksi

Draft Position Paper

I. Peranan Lembaga/Unit Perlindungan Saksi

Efektifitas pemberian perlindungan terhadap saksi dan korban dalam kasus-kasus pidana tidak terlepas dari peranan lembaga yang berwenang untuk menangani pemberian perlindungan tersebut. Lembaga yang nantinya akan terbentuk memiliki beberapa tugas berkaitan dengan perlindungan terhadap saksi dari tindak pidana. Tugas utama Lembaga Perlindungan Saksi adalah menerima permohonan dan memberikan perlindungan kepada saksi atau pihak/orang lain yang terkait dengan saksi. Lembaga ini juga berkewajiban melaksanakan tugas administratif menyangkut perlindungan saksi. Untuk memudahkan pemberian perlindungan saksi, Lembaga ini juga harus melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang, melakukan pengumpulan data, melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas perlindungan saksi, serta mensosialisasikan perlunya perlindungan saksi.

Lembaga Perlindungan Saksi jika dilihat dalam ketentuan yang mengatur tentang tugas dan kewenangannya mempunyai beberapa fungsi yaitu pelaksanaan perlindungan, fungsi pembuatan kebijakan perlindungan dan kebijakan internal lembaga, dan fungsi pemantauan atau pengawasan. Dalam fungsi pelaksanaan perlindungan terhadap saksi maka Lembaga Perlindungan Saksi mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian, koordinasi dengan lembaga lainnya dan memutuskan bentuk perlindungan dan jangka waktu perlindungan kepada saksi. Banyaknya tugas yang dipikul oleh Lembaga Perlindungan Saksi menjadi latar belakang pemikiran bahwa lembaga yang akan dibentuk nanti merupakan lembaga yang bersifat mandiri.

II. Bentuk Lembaga Perlindungan Saksi

Sampai saat ini bentuk lembaga perlindungan saksi masih diperdebatkan. Perdebatan ditujukan kepada kemandirian lembaga perlindungan saksi tersebut. Permasalahan kemandirian lembaga dikaitkan oleh tiga aspek, yaitu efektifitas lembaga, beban biaya negara, dan kepercayaan masyarakat.

1. Masalah Efektifitas Lembaga

Pendapat pertama menyatakan bahwa lembaga perlindungan saksi bersifat mandiri dan terlepas dari intervensi pihak manapun dalam menjalankan fungsi pemberian perlindungan terhadap saksi. Sehingga saksi dapat memiliki kepercayaan yang besar sehingga mau memberikan keterangan dalam penyelesaian perkara pidana. Penelusuran dalam melihat beberapa RUU Perlindungan Saksi yang ada (pemerintah, DPR RI, Sentra HAM UI-ICW) menyatakan bahwa kesemuanya merekomendasikan untuk dibentuknya lembaga yang khusus menangani perlindungan saksi. Argumentasi perlunya lembaga yang sifatnya mandiri ini berkaitan kenyataan bahwa perlindungan terhadap saksi selama ini dilakukan secara parsial yang mengakibatkan perlindungan tidak tertangani secara maksimal. Lembaga perlindungan yang mandiri ini juga berkaitan untuk pemberian jaminan atas perlindungan saksi terutama dalam kasus-kasus yang ternyata pelakunya adalah aparat atau pejabat negara (kasus-kasus korupsi

(2)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

dan pelanggaran HAM berat) termasuk kekerasan yang dilakukan oleh negara (state violence).1

Di sisi lain, dari segi efektifitas lembaga barn ini mengundang pertanyaan, mengirigat saat ini di Indonesia telah berdiri banyak lembaga atau komisi baru yang bersifat independen. Dalam lima tahun terakhir, puluhan lembaga nonstruktural terbentuk. Beberapa lembaga nonstruktural yang tinggal hanya menyandang nama, tak efektif, atau tumpang tindih, kini terancam untuk diamputasi atau dilikuidasi. Saat ini terdapat 45 lembaga nonstruktural di Indonesia. 2Sebanyak 70 persen di antaranya dibentuk berdasarkan keputusan presiden (keppres), 23 persen berdasarkan undang-undang (UU), dan 7 persen berdasarkan peraturan pemerintah (PP). Jumlah pegawai lembaga-lembaga ini bervariasi, tetapi umumnya rata-rata jumlah anggota (termasuk ketua dan wakil) ada tujuh orang.3

Sementara, untuk kesekretariatannya, pegawainya seluruhnya diambilkan atau merupakan pinjaman dari departemen-departemen atau instansi-instansi resmi pemerintah yang sudah ada sebelumnya. Kerja beberapa komisi ini dinilai tidak efektif dan tumpang tindih sehingga muncul banyak usulan untuk melebur atau melikuidasi raja komisi-komisi yang tidak efektif atau tumpang tindih tersebut. Di sisi lain, seperti diakui Menneg PAN Taufiq Effendi, ada juga komisi-komisi yang masih terlantar sampai beberapa bulan atau bahkan tahunan setelah terbentuk karena anggarannya sendiri belum jelas. Bahkan banyak dari anggota dan stafnya yang belum digaji. Kantor pun tak ada, berpindah-pindah atau menumpang. Untuk biaya operasional, kadang-kadang harus mengutang sana-sini, atau merogoh kocek sendiri. Pembentukan lembaga yang bersifat mandiri tentunya tidak dapat terlaksana tanpa pemikiran yang matang, mengingat lembaga ini nantinya berfungsi bukan hanya untuk jangka waktu sementara. Tentunya pembentukan lembaga perlindungan saksi bukan untuk mengulang ketidakefektifan dari lembaga-lembaga mandiri yang telah terbentuk sebelumnya.

2. Masalah Beban Biaya Negara

Pertentangan tentang pembentukan lembaga baru adalah mengenai beban biaya yang harus dikeluarkan. Beban biaya untuk lembaga negara nonstruktural juga dimausukan dalam Anggaran Negara. Mayoritas lembaga ini menghabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara meskipun tidak sedikit dari organisasi itu yang sudah tidak aktif. Sebagian besar lembaga ini, menurut Deputi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Sunarno, 100 persen anggarannya dibiayai APBN, baik langsung maupun tidak langsung, dalam anti melalui departemen yang menaungi. Lembaga-lembaga ini ada yang berbentuk komisi, komite, dewan, badan, atau lembaga.4

Selama beberapa kali pembahasan mengenai Lembaga Perlindungan Saksi tidak pernah lepas dari persoalan anggaran yang akan dikeluarkan untuk pelaksanaan program perlindungan saksi. Perdebatan pertama adalah berkenaan dengan

1 Pandangan ini sejalan dengan pendapat Andrianus Meliala yang menyatakan jika pelakunya adalah aparat negara dan saksi takut maka seharusnya model lembaga perlidungan saksi adalah lermbaga yang mandiri. Focus Group Discussion tanggal 12 Agustus 2003.

2 Kompas, 30 April 2005, Inflasi Komisi, Inflasi Beban APBN

3 Ibid

4 Ibid

(3)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

sumber anggaran yang memungkinkan bantuan masyarakat yang tidak mengikat dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Ketentuan bahwa bantuan ini tidak mengikat ditujukan untuk menjaga independensi lembaga dari intervensi pihak lain dikaitkan dengan pemberian bantuan.

Masalah lain yang menjadi persoalan adalah besarnya biaya yang akan dialokasikan untuk pembiayaan program perlindungan saksi ini di tengah keadaan kesulitan ekonomi oleh negara. Pembentukan Lembaga Perlindungan Saksi sendiri akan menyedot banyak anggaran negara. Namun demikian, negara tetap harus mengalokasikan untuk adanya biaya-biaya keadilan seperti ini, dengan pertimbangan karena hal ini merupakan kewajiban negara.

3. Masalah Kepercayaan Masyarakat

Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga baru juga masih dipertanyakan.

Sejauh ini, tidak diragukan lagi kalau masyarakat sudah tidak mempercayai lembaga penegak hukum yang sudah ada.5 Namun, hal ini juga tidak berarti bahwa dengan pembentukan lembaga baru yang belum teruji keberadaannya dan minim pengalaman, akan mudah mendapat kepercayaan dari masyarakat. Usulan jalan tengah yang diambil untuk permasalahan ini adalah membentuk suatu lembaga yang mandiri, namun dalam jangka waktu 10 tahun sejak terbentuknya LPS harus sudah mempersiapkan suatu Unit Khusus Perlindungan Saksi pada Kepolisian Republik Indonesia.

III. Lembaga Perlindungan Saksi Dalam Beberapa Negara

Sebagai bahan masukan dalam rangka pembentukan Lembaga Perlindungan Saksi, berikut ini paparan mengenai lembaga perlindungan saksi di beberapa negara.

A. Jerman

Status dan Kedudukan Lembaga Perlindungan Saksi Jerman

Di Jerman tidak ada lembaga atau komisi khusus yang berwenang untuk menangani pemberian perlindungan terhadap saksi. Penanganan pemberian perlindungan saksi dilakukan oleh Zeugenschutzdienststelle atau Kantor Perlindungan Saksi dalam rangka melaksanakan tugasnya dibidang pencegahan dan penanggulangan bahaya. Kantor Perlindungan Saksi ini memiliki wewenang yang cukup besar meskipun secara kelembagaan ini berada di bawah Inspektorat Jenderal Kepolisian Jerman. Pengaturan tentang Kantor Perlindungan Saksi diatur dalam Undang-undang Harmonisasi Perlindungan Saksi di Jerman, namun UU ini hanya mengatur masalah wewenang yang diberikan kepada Kantor Perlindungan Saksi. Hal-hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dari Kantor Perlindungan Saksi ini tidak dijelaskan. Hal ini dikarenakan, kelembagaan dari Kantor Perlindungan Saksi yang berada di bawah Kepolisian Jerman. Mengenai masalah Keanggotaan, Prosedur Pemilihan Anggota dan Pemberhentian Anggota Kantor Perlindungan Saksi Jerman, juga menjadi werwenang dari Kepolisian Republik Jerman, yang tidak diatur dalam Undang-undang Harmonisasi Perlindungan Saksi Jerman ini.

5 Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Partnership for Governance Reform pada tahun 2002, Lembaga Peradilan menempati peringkat pertama lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat.

(4)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Tugas dan Wewenang Lembaga Perlindungan Saksi

a. Menerima permohonan untuk perlindungan terhadap saksi berdasarkan pertimbangan derajat bahaya yang mengancam saksi tersebut

b. Menjalankan Program Perlindungan Saksi

c. Membuat perjanjian yang berkaitan dengan tindakan-tindakan terhadap perlindungan saksi serta menjaga kerahasiaan akta tersebut, dengan tidak menutupi kemungkinan untuk Kantor Penuntut Umum untuk mengakses data-data yang terkait

d. Melakukan koordinasi dengan instansi lain seperti Kantor Penuntut Umum.

e. Memiliki hak untuk tidak memberikan informasi tentang data pribadi saksi f. Memerintahkan Instansi lain seperti Kantor Umum dan Kantor Non Umum

untuk tidak menyebarkan data pribadi saksi kepada pihak lain

g. Memerintahkan Kantor Umum dan Kantor Non Umum untuk membuat dokumen Penyamaran Identitas maupun dokumen identitas yang baru.

h. Mencabut Dokumen Penyamaran Identitas dari saksi apabila tidak diperlukan lagi

i. Memiliki wewenang untuk menentukan tempat dan waktu kediaman dari Saksi yang terlibat pula dalam persidangan selain persidangan pidana

B. Amerika Serikat

Unit Perlindungan Saksi di Amerika Serikat6

Amerika Serikat melaksanakan program perlindungan Saksi berdasarkan Witnes Protection Act 1984 (undang-undang reformasi keamanan saksi tahun 1984). Yang melaksanakan perlindungan terhadap saksi adalah Unit program perlindungan saksi, yang berada dalam naungan dari Departemen Kehakiman (Departement of Justice) dalam divisi kriminal, dengan nama lembaga yakni: kantor operasi penegakan unit khusus perlindungan saksi. Dalam pelaksanaan kegiatannya, unit kantor operasi penegakan unit perlindungan saksi ini memiliki hubungan kerja dengan lembaga-lembaga lainnya yakni: Jaksa penuntut umum atau badan investigasi lainnya, Kejaksaan Agung, US Marshal Service atau Unit Kemanan lainnya (FBI), Bureau Of Prison, Pengadilan, Kantor Imigrasi dan Naturalisasi dan yang terakhir adalah pemerintahan negara bagian.

Undang-undang reformasi keamanan saksi tahun 1984 ini mengatur hubungan kerja antara unit khusus perlindungan saksi tersebut dengan lembaga lainnya adalah dengan pola memberikan fungsi pengawasan program/fungsi kontrol oleh unit perlindungan saksi dengan mengintegrasikannya dengan tugas dan fungsi institusi lainnya yang telah ada (lihat bagan I) dan Tabel di bawah ini

6 Disarikan dari Paper yang diterbitkan oleh ELSAM, Berbagai Model Lembaga Perlindungan Saksi, Jakarta 2004

(5)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Tabel I

Tugas Unit Perlindungan Saksi dan Lembaga Lainnya di Amerika Serikat

NO LEMBAGA TUGAS FUNGSI DAN KEWENANGAN

1. Unit khusus perlindungan saksi

Mengatur, mengawasi dan melakukan persetujuan dan penetapan terhadap permohonan perlindungan saksi

2. Jaksa Penuntut Umum dan Badan Investigasi lainnya

Melakukan permohonan perlindungan saksi, dan mempersiapkan berkas administrasi

3. Bureau of prison Mengawasi dan mengatur para saksi dalam status tahanan atau narapidana dan mempersiapkan berkas administrasi 4. Pengadilan Melakukan penetapan dan perintah terhadap pembebasan

tahanan yang ikut dalam program perlindungan saksi 5. Kantor Imigrasi &

Naturalisasi

• Mempersiapkan dokumen bagi perlindungan terhadap orang asing illegal

• Memberikan persetujuan kepada badan investigasi 6. Pemerintahan negara

bagian

• Membayar pembiayaan dalam hal perlindungan saksi lokal

• Bekerjasama dengan jaksa penuntut umum dalam menerapkan UU Perlindungan Saksi

7. US Marshal Service • Melakukan penilaian terhadap saksi yang akan dimasukan ke dalam program perlindungan

• Melakukan perlindungan terhadap saksi

• Melakukan perlindungan dalam keadaan mendesak 8. Jaksa Agung • Mendapatkan dan mengevaluasi semua informasi

yang diberikan perihal pengikutsertaan saksi dalam program perlindungan

• Membuat penilaian tertulis atas resiko yang mungkin diterima oleh suatu komunitas dimana saksi akan direlokasi

Unit program-program perlindungan saksi ini berpusat di kantor pusat Department of Justice US (federal), namun dapat mendirikan kantor perwakilan di tiap negara bagian sebagai bagian dari divisi penegakan dari Departement of justice.

C. Lembaga Perlindungan Saksi di Afrika Selatan7

Di Afrika Selatan, berdasarkan Undang-undang Perlindungan Saksi Tahun 1998, Jawatan Perlindungan Saksi berada di bawah naungan Departemen Kehakiman yang dipimpin dengan nama lembaga yakni: Jawatan Perlindungan Saksi. Dalam pelaksanaan kegiatannya, jawatan perlindungan saksi ini memiliki hubungan Khusus dengan institusi lainnya yakni: Komisi Khusus, Direktorat Pengaduan Independen, Penuntut umum, Departemen Lembaga Pemasyarakatan, organisasi publik lainnya dan pejabat-pejabat keamanan (dalam hal ini adalah: Sekretaris

7 Disarikan dari Paper yang diterbitkan oleh ELSAM, Berbagai Model Lembaga Perlindungan Saksi, Jakarta 2004

(6)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

bidang pertahanan, Komisioner Nasional Kepolisian Afrika Selatan, Badan intelijen Nasional, Badan Rahasia Afrika Selatan, Komisioner Pelayanan Masyarakat)

Undang-Undang Perlindungan Saksi 1998 ini mengatur hubungan kerja antara unit khusus perlindungan saksi tersebut dengan institusi lainnya adalah dengan pola memberikan fungsi pengawasan program/fungsi kontrol oleh unit perlindungan saksi dengan mengintegrasikannya dengan tugas dan fungsi institusi lainnya yang telah ada (lihat bagan II) dan Tabel di bawah ini. Jawatan perlindungan saksi di Afrika ini selain berkantor pusat di ibukota negara, dapat juga mendirikan sebuah kantor jawatan di daerah manapun dalam rangka melaksanakan Undang-Undang Perlindungan Saksi. Selain itu Jawatan juga berhak untuk menutup kantor atau menggabungkan suatu kantor cabang dengan kantor cabang lainnya dan sekaligus penataan adminsitratif sejauh dianggapnya perlu.

TABEL II

Tugas Jawatan Perlindungan Saksi dan institusi lainnya di Afrika Selatan

No Nama Lembaga Tugas dan Kewenangan

1. Jawatan Perlindungan Saksi

• Melindungi saksi, orang terkait lainnya dan layanan- layanan yang diperlukan.

• Melaksanakan tugas administrative menyangkut perlindungan

• Membuat perjanjian tentang bantuan yang akan dilakukan.

• Membuat kesepakatan dengan departemen lainnya.

2. Jaksa Penuntut Umum dan Badan Investigasi lainnya

• Membuat permohonan perlindungan ke jawatan.

• Mempersiapkan dokumen pendukung (administrasi)

3. Pejabat Keamanan • Melakukan keamanan dan perlindungan bagi saksi.

• Menjalankan kewenangan dan harus melaksanakan fungsi atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, ditugaskan atau dibebankan kepadanya.

4. Pengadilan • Penetapan bagi anak di bawah umur untuk ikut dalam program perlindungan.

• Mengeluarkan perintah penundaan persidangan perdata lain yang dapat mengungkap identitas atau keberadaan saksi dalam program.

• Mengeluarkan perintah untuk melarang publikasi (lukisan, ilustrasi, foto, pamflet, poster, bahan cetak) lainnya yang dapat mengungkap identitas saksi dalam persidangan.

5. Menteri Department of Justice

• Meninjau keputusan Jawatan perlindungan saksi berdasarkan permohonan dari orang yang merasa dirugikan oleh program perlindungan.

6. Organisasi publik lainnya

• Membantu pelaksanaan program perlindungan.

• Memberikan pelayanan terhadap saksi sesuai dengan kesepakatan atau perjanjian dengan jawatan perlidungan.

(7)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

D. Unit Perlindungan Saksi Dan Korban Model International Criminal Court Salah satu lembaga yang dapat dijadikan model untuk lembaga perlindungan saksi adalah Unit Perlindungan Saksi dan Korban yang dimiliki oleh International Criminal Court. Belajar dari pengalaman dua tribunal ad hoc internasional sebelumnya yang menangani perkara pelanggaran HAM Berat yakni International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia dan International Criminal Tribunal for Rwanda, Mahkamah Pidana Internasional menganggap perlindungan terhadap Saksi dan Korban merupakan salah satu unsur terpenting dalam penanganan perkara yang dibawa kehadapannya.

Meski Pasal 43 Paragraf 6 Statuta Roma mengamanatkan agar Panitera dari Mahkamah Pidana Internasional membentuk suatu unit dibawahnya untuk menangani masalah pemberian perlindungan terhadap saksi dan korban, namun perlindungan terhadap saksi bukan hanya monopoli dari panitera saja. Dua organ lainnya, yakni Pengadilan dan Kantor Penuntut juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi saksi dan korban.

Dalam Mahkamah Pidana Internasional, yang bertanggungjawab untuk melindungi saksi dan korban adalah Panitera, yang membentuk Unit Korban dan Saksi. Unit ini, berdasarkan konsultasi dengan Kantor Penuntut, menyediakan tindakan protektif dan pengaturan keamanan, bimbingan dan bantuan lainnya yang sesuai untuk para saksi, korban yang hadir di persidangan, dan mereka yang memiliki resiko atas kesaksian yang diberikan oleh saksi didepan pengadilan. Diperkuat Jaksa Agung

Atau Penuntut

Polisi Lembaga

Pemasyara katan

Jasa Pengamanan Swastya apabila

dibutuhkan Organisasi

Publik/

Ormas yang dapat

membantu Petugas

Investasi lainnya Departemen

lainnya

Menteri Kehakiman

Jawatan Perlindungan

Saksi

Pejabat Keamanan:

1. Sekretaris Bidang Pertahanan

2. Komisioner Nasional Kepolisian Afsel 3. Dirjen Bagian Intelijen 4. Dirjen Badan Rahasia 5. Komisioner Layanan

Pemasyarakatan Jaksa Agung

Atau Penuntut

Polisi Lembaga

Pemasyara katan

Jasa Pengamanan Swastya apabila

dibutuhkan Organisasi

Publik/

Ormas yang dapat

membantu Petugas

Investasi lainnya Departemen

lainnya

(8)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

oleh staf yang memiliki multi keahlian, termasuk keahlian dibidang trauma dibidang kejahatan,8 unit ini memiliki tugas-tugas dan wewenang sebagai berikut.

Panitera membentuk Unit Korban dan Saksi dalam Kantor Panitera. Unit ini, berdasarkan konsultasi dengan Kantor Penuntut, menyediakan tindakan protektif dan pengaturan keamanan, bimbingan dan bantuan lainnya yang sesuai untuk para saksi, korban yang hadir di persidangan, dan mereka yang memiliki resiko atas kesaksian yang diberikan oleh saksi di depan pengadilan. Termasuk didalamnya adalah menyediakan para saksi dan korban dengan tindakan protektif dan keamanan serta merumuskan rencana jangka panjang dan pendek untuk perlindungan bagi para saksi, korban dan mereka yang beresiko akibat kesaksian yang dikemukakan oleh saksi, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan khusus.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Unit ini adalah juga membuat perjanjian mengenai relokasi dan ketetapan jasa dukungan tentang teritori dari suatu negara dari korban yang trauma atau terancam, saksi-saksi atau pihak-pihak lain yang beresiko akibat kesaksian saksi di pengadilan. Perjanjian-perjanjian tersebut bersifat rahasia.

Selain unit perlindungan korban dan saksi, statuta roma juga mengamanatkan agar Penuntut Umum juga memberikan perlindungan terhadap korban dan saksi dalam kapasitasnya. Dalam hal ini, Penuntut berkewajiban: mengambil tindakan- tindakan yang sesuai untuk menjamin penyidikan dan penuntutan yang efektif dalam yurisdiksi pengadilan, dan dalam melaksanakan hal demikian, menghormati kepentingan dan situasi personal dari korban dan saksi, termasuk mengenai usia, jender dan kesehatan, serta dengan memperhatikan jenis kejahatan, khususnya dimana hal tersebut melibatkan kejahatan seksual, kejahatan jender, serta kejahatan terhadap anak-anak.

Di samping itu kantor Penuntut menunjuk para penasehat dengan keahlian hukum atas isu-isu tertentu, termasuk, tetapi tidak terbatas, kekerasan seksual dan jender, serta kekerasan terhadap anak, untuk mendampingi para saksi dan korban.

Penuntut memiliki kewenangan untuk Jaksa menahan terlebih dahulu seluruh alat bukti atau informasi. Jika bukti atau informasi sesuai dengan Statuta ini mengarah kepada terancamnya saksi atau keluarganya, sebagai gantinya Jaksa dapat menyerahkan resumenya saja. Tindakan tersebut dilaksanakan dalam cara yang tidak merugikan hak-hak dari tersangka.

Kamar Pengadilan (Chamber of the Court) juga memiliki kewenangan untuk memberikan perlindungan terhadap saksi dan korban. Pengadilan berkewajiban mengambil tindakan-tindakan yang sesuai untuk melindungi keselamatan, kesejahteraan fisik dan psikologis, martabat dan privasi dari para korban dan saksi.

Dalam melaksanakan hal tersebut, Pengadilan berkewajiban memperhatikan seluruh faktor-faktor yang relevan, termasuk usia, jender dan kesehatan, serta jenis kejahatan, khususnya, namun tidak terbatas pada hanya kejahatan yang melibatkan kejahatan seksual atau kejahatan terhadap anak-anak. Sebuah Kamar Pengadilan dalam membuat petunjuk atau instruksi, dan organ-organ lainnya dari

8Staf-staf tersebut memiliki keahlian dibidang sebagai berikut: (a) Perlindungan Saksi dan Keamanan; (b) Masalah Hukum dan Administratif, termasuk bidang hukum humaniter dan hukum pidana; (c) Administrasi logistik; (d) Psikologi dalam persidangan kriminal; (e) Keragaman Jender dan Budaya; (f) Anak-anak, terutama yang mengalami trauma; (g) Kaum Lanjut Usia, khususnya yang berkaitan dengan konflik bersenjata dan trauma pembuangan; (h) Orang Cacat; (i) Kerja Sosial dan Konselling; (j) Perawatan Mental; (k) Penafsiran dan penerjemahan.

(9)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

pengadilan dalam melaksanakan fungsi mereka berdasarkan Statuta atau Rules, harus memperhatikan kebutuhan dari seluruh korban dan saksi sesuai dengan Pasal 68, khususnya, anak-anak, orang-orang berusia lanjut, orang-orang cacat, dan korban-korban dari kekerasan seksual dan kekerasan jender.

Dimana ada sejumlah korban, kamar pengadilan demi terjaminnya efektiftas persidangan, meminta korban atau sekumpulan korban, untuk memilih perwakilan hukum atau perwakilan.. Dalam memfasilitasi koordinasi perwakilan korban, Kepaniteraan dapat memberikan bantuan, dengan cara merujukkan korban kepada sejumlah pembimbing atau menyarankan satu atau lebih perwakilan hukum bersama. Jika Korban tidak dapat memilih wakil hukum atau wakil mereka dalam batas waktu yang ditentukan oleh Kamar Pengadilan, maka Kamar dapat meminta Panitera untuk memilihkan satu atau lebih wakil hukum bersama. Kamar Pengadilan dan Kepaniteraan mengambil langkah-langkah yang beralasan untuk menjamin bahwa dalam pemilihan wakil hukum, kepentingan-kepentingan yang berbeda dari korban terwakili, dan setiap konflik kepentingan dihindari.

Pengadilan harus menjamin bahwa seluruh dokumen yang dipublikasikan harus menghormati tugas untuk melindungi kerahasiaan persidangan dan keamanan korban dan Saksi.

Sebuah Kamar Pengadilan, dapat melaksanakan pemeriksaan yang dilakukan melalui kamera, untuk menentukan apakah ia akan menginstruksikan tindakan- tindakan yang akan mencegahnya disiarkannya ke publik atau pers dan agen informasi tentang lokasi saksi, korban atau orang-orang beresiko akibat kesaksian yang diberikan oleh saksi, dengan menginstruksikan: Bahwa nama dari korban, saksi atau orang-orang beresiko akibat kesaksian yang diberikan oleh saksi atau informasi lainnya yang dapat mengarah kepada identifikasi mereka dapat dihilangkan dari catatan publik Kamar Pengadilan; Bahwa Penuntut, Pembela atau pihak lain dalam persidangan dilarang membuka informasi tersebut kepada pihak ketiga; Bahwa Kesaksian yang disajikan melalui alat-alat elektronik maupun alat- alat khusus, termasuk didalamnya penggunaan teknologi alat audio visual, khususnya Video Conference atau closed-circuit television, dan penggunaan ekslusif dan Media Suara.

IV. Pengaturan Lembaga Perlindungan Saksi Dalam Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia

Sejauh ini terdapat empat Peraturan Pemerintah yang terkait dengan Perlindungan Saksi/Pelapor dari empat jenis tindak pidana yaitu, Tindak Pidana Korupsi, Pemberantasan Tindak Pidana Terrorisme, Pelanggaran HAM Berat, dan Tindak Pidana Pencucian Uang.

A. Peraturan Pemerintah No.71 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Berdasarkan PP No. 71 tahun 2000 ini, pihak yang berkewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap pelapor yang terkait dengan tindak pidana korupsi adalah Aparat Penegak Hukum dan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana

(10)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Korupsi.9 Bentuk Perlindungan Hukum dalam hal perlindungan saksi yang diberikan kepada pelapor ada dua macam, yaitu Penegak Hukum berkewajiban merahasiakan identitas pelapor, atau isi saran atau pendapat yang disampaikan.

Yang kedua, Apabila diperlukan, maka Penegak Hukum maupun Komisi dapat memberikan pengamanan fisik terhadap pelapor maupun keluarganya. Sedangkan mekanisme dan tata cara pemberian perlindungan hukum dan fisik terhadap pelapor oleh aparat penegak hukum dan komisi tidak dijelaskan dalam PP ini.

B. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban Dan Saksi Dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang Berat

Sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 26 tentang Pengadilan HAM, PP No. 22 tahun 2000 mengatur mengenai tata cara perlindungan terhadap Korban dan Saksi dalam pelanggaran ham berat. Menurut PP ini dalam rangka memberikan rasa aman baik secara fisik maupun mental kepada Saksi dan Korban dari ancaman, gangguan, teror dan kekerasan dari pihak manapun, merupakan suatu bentuk pelayanan yang wajib diberikan oleh aparat penegak hukum dan aparat keamanan. Pemberian rasa aman ini dilakukan mulai dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan maupun pemeriksaan di sidang pengadilan.

Menurut PP ini, bentuk perlindungan yang diberikan meliputi tiga hal:

• Perlindungan atas keamanan pribadi korban atau saksi dari ancaman fisik dan mental

• Perahasiaan identitas korban atau saksi

• Pemberian keterangan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan tanpa bertatap muka dengan tersangka

Pemberian perlindungan dapat dilakukan berdasarkan dua mekanisme yaitu yang pertama, aparat penegak hukum dan penegak keamanan dengan inisiatifnya sendiri memberikan pelindungan terhadap Saksi dan Korban, apabila dilihatnya kondisi Saksi dan Korban membutuhkan perlindungan. Yang kedua, permohonan untuk diberikan perlindungan diajukan oleh Saksi atau Korban.

Apabila mekanisme yang ditempuh adalah yang kedua, maka permohonan tersebut diajukan kepada tiga instansi yang berbeda untuk tiga tahapan peradilan yang berbeda pula. Pada tahapan penyelidikan, permohonan diajukan kepada Komnas HAM. Untuk tahapan penyidikan dan penuntutan, maka Jaksa yang berwenang. Yang terakhir, pada tahap pemeriksaan di persidangan, Hakim yang berwenang.

C. Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2003 Tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Saksi, Penyidik, Penuntut Umum dan Hakim Dalam Perkara Tindak Pidana Terrorisme

Dalam Kasus Tindak Pidana Terrorisme, perlindungan tidak hanya diberikan kepada Saksi semata, namun juga kepada Penyidik, Penuntut Umum, dan Hakim

9Pasal 15 UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Anti Korupsi menegaskan hal ini.

(11)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Perlindungan ini diberikan baik selama dan sesudah masa proses pemeriksaan perkara.

Perlindungan yang diberikan kepada yang berhak adalah:

a. Perlindungan atas keamanan pribadi dari ancaman fisik dan mental b. Kerahasiaan identitas saksi

c. Pemberian keterangan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan tanpa bertatap muka dengan tersangka

Perlindungan terhadap Saksi, Penyidik, Penuntut Umum dan Hakim diberikan oleh Kepolisian Republik Indonesia dengan wilayah kerja berdasarkan keberadaan pihak yang dilindungi.

D. Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2003 tentang Tata Cara Perlindungan Khusus Bagi Pelapor Dan Saksi Tindak Pidana Pencucian Uang

Peraturan Pemerintah ini memberikan perlindungan kepada Saksi dan Pelapor,10 baik sebelum, selama maupun sesudah proses pemeriksaan perkara.

Perlindungan pada setiap tahapan pemeriksaan peradilan, diberikan oleh setiap lembaga terkait. Pada tahap penyidikan, yang berwenang adalah Penyidik.

Penuntut Umum memberikan perlindungan pada saat proses penuntutan. Hakim berwenang pada saat proses pemeriksaan di pengadilan. Sedangkan perlindungan khusus secara menyeluruh diberikan oleh Kepolisian.

Bentuk perlindungan yang diberikan kepada saksi dan pelapor:

a. Perlindungan atas keamanan pribadi, dan/atau keluarga pelapor dan saksi dari ancaman fisik atau mental

b. Perlindungan terhadap harta Pelapor dan Saksi

c. Perahasiaan dan penyamaran identitas Pelapor dan Saksi; dan/atau

d. Pemberian keterangan tanpa bertatap muka dengan tersangka atau terdakwa pada setiap tingkat pemeriksaan perkara

V. Beberapa Alternartif Tawaran

Berdasarkan apa yang telah diuraikan diatas, dapat dikemukakan tiga bentuk pilihan lembaga perlindungan saksi:

1. Lembaga Perlindungan Saksi yang bersifat Mandiri

Pilihan pertama adalah lembaga yang bersifat mandiri. Pilihan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa lembaga yang memberikan perlindungan terhadap saksi adalah lembaga yang terlepas dari intervensi pihak lain. Lembaga ini memiliki kewenangan penuh dalam melaksanakan fungsinya. Konflik kepentingan yang

10 Pelapor adalah setiap orang yang karena kewajibannya berdasarkan perundang-undangan menyampaikan laporan kepada PPATK tentang Transaksi Keuangan Mencurigakan atau Transaksi Keuangan yang dilakukan Secara Tunai sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang, atau secara sukarela melaporkan kepada penyidik tentang adanya dugaan terjadinya tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang.

(12)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

timbul seringkali mewarnai ketidak efektifan proses penyelesaian perkara, terutama apabila pelaku tindak pidana korupsi dan pelanggaran HAM Berat adalah aparat atau pejabat negara. Pertimbangan lainnya adalah, bahwa selama ini perlindungan saksi yang dilakukan secara parsial oleh aparat penegak hukum yang telah ada tidak berjalan dengan efektif. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum yang terkenal dengan praktek mafia peradilan turut memperburuk citra aparat penegak hukum yang telah ada.

Namun, pilihan ini terhalang oleh adanya kenyataan bahwa lembaga-lembaga negara yang sudah ada tidak berjalan dengan effektif dan membebani keuangan negara. Adanya kekhawatiran bahwa lembaga baru juga belum tentu memperoleh kepercayaan masyarakat juga menjadi nilai minus untuk pembentukannya.

2. Unit Perlindungan Saksi di bawah Kepolisian Republik Indonesia

Pilihan kedua adalah membentuk suatu unit di bawah Kepolisian Republik Indonesia. Pertimbangan yang pertama adalah bahwa sesungguhnya yang bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan saksi adalah kepolisian. Akan lebih mudah untuk menyerahkan instansi yang telah ada untuk membentuk unit tersendiri dibawah kepolisian melaksanakan perlindungan saksi. Beban keuangan negara untuk pembentukan unit dibawah kepolisian tidak akan besar.

Pilihan pembentukan unit dibawah kepolisian dihalangi oleh ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga kepolisian, mengingat banyak kasus mafia peradilan yang justru dilakukan oleh kepolisian.

3. Transisi lembaga mandiri ke unit di bawah kepolisian

Pilihan yang ketiga merupakan jalan tengah dari dua pilihan di atas. Pada awal dibentuk, lembaga ini bersifat mandiri. Namun dalam jangka waktu 10 tahun sejak UU Perlindungan Saksi ini berlaku secara hukum, Kepolisian Republik Indonesia harus mempersiapkan sebuah unit khusus dibawahnya yang khusus menangani perlindungan saksi. Pertimbangan terhadap pilihan ini adalah, adanya keyakinan bahwa Kepolisian Republik Indonesia telah mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai lembaga yang menangani proses pemberian perlindungan saksi secara komprehensif.11

VI. Penutup

Transisi dari lembaga mandiri ke arah pembentukan unit di bawah kepolisian dapat dijadikan jalan tengah untuk menyatukan pertentangan antara pendapat yang pro dan kontra terhadap lembaga mandiri. Sembari mempersiapkan pembentukan unit perlindungan saksi di bawah kepolisian, terbesit harapan bahwa dimasa mendatang, Kepolisian Republik Indonesia sudah mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat sebagai lembaga yang effektif untuk perlindungan saksi, dengan demikian bukan hanya sekedar formalitas.

Penyusun

Dina Zenitha

Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan

11 Alternatif ini diusulkan oleh Koalisi Perlindungan Saksi

(13)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Indonesia Corruption Watch

11 Alternatif ini diusulkan oleh Koalisi Perlindungan Saksi

Gambar

TABEL II

Referensi

Dokumen terkait

1) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi(KPK)yang hanya berfokus pada saksi dan pelapor tindak pidana Korupsi. 2) Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Kejaksaan,

Dalam mengungkap suatu kasus tindak pidana pada tahap pemeriksaan di sidang pengadilan, untuk memperoleh bukti-bukti bahwa telah terjadinya tindak pidana yang dilakukan

Hambatan legal-formal.. aparat yang masih meremehkan pentingnya perlindungan bagi korban bahkan aparat penegak hukum dalam hal ini polisi bukannya melakukan tindakan

(1) Dalam rangka pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, bidang hukum, diseminasi dan humas terdiri dari unit kerja yang melaksanakan fungsi penyiapan

Edwin meminta kepada FIDH untuk memenuhi syarat formal atas perlindungan yang diberikan LPSK, yakni kasus yang melibatkan saksi atau korban harus mengandung unsur pidana,

berkoordinasi dengan Koordinator Pelaksana / Pejabat Penghubung LPSK untuk menyampaikan surat pemberitahuan penyerahan Saksi yang dilampiri surat permohonan perlindungan

13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menyebutkan bahwa Perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa

LPSK mengirimkan surat pemberitahuan tentang putusan Pengadilan Tinggi dan salinan putusan Pengadilan Tinggi dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja