ANALISIS KINERJA SISTEM PV MIKROGRID 80 kWp (STUDI KASUS : PT. LEN INDUSTRI)
PERFORMANCE ANALYSIS OF 80 kWp PV MICROGRID SYSTEM (CASE STUDY : PT. LEN INDUSTRY)
Vetri Nurliyanti, Marlina Pandin, Harun Al Rasyid
Puslitbangtek Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Telp. (021) 720-3530, Cipulir - Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
ABSTRAK
Suatu sistem PV mikrogrid kapasitas 80 kWp telah di pasang di PT. LEN Industri sebagai sistem percontohan untuk aplikasi di industri. Sistem ini dirancang untuk menjaga kestabilan suplai daya listrik ke beban penting saat terjadi gangguan tegangan atau pemadaman listrik dari jaringan utama / PLN. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi sistem, rasio kinerja, kontribusi energi, dan faktor-faktor kegagalan yang mempengaruhi kinerja sistem selama beroperasi. Berdasarkan data yang dikumpulkan selama tahun 2011, sistem PV mikrogrid tidak beroperasi dengan baik. Hasil analisa menunjukkan bahwa kinerja sistem PV mikrogrid tersebut sangat rendah dimana efisiensi sistem dan rasio kinerja rata-rata berturut-turut adalah 3,5% dan 26,3%. Sistem PV mikrogrid yang memiliki kinerja bagus akan mampu mencapai nilai rasio kinerja di atas 80%. Selain itu kontribusi energi sistem PV mikrogrid hanya sebesar 1,4% dari total konsumsi energi PT. LEN Industri. Rendahnya kinerja sistem PV mikrogrid ini disebabkan karena beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan operasional sistem, seperti: kegagalan penyamaan muatan baterai, malfungsi salah satu PV inverter low harmonic dan konfigurasi sistem saat tidak menggunakan baterai/inverter baterai.
Kata kunci: PV mikrogrid, rasio kinerja, efisiensi, kontribusi energi, faktor kegagalan
ABSTRACT
An 80 kW microgrid photovoltaic (PV) system has been installed at PT. LEN Industri for demonstration purposes. The system is designed to continuously supply stable power to define important loads when a voltage dip or a power system fault occurs on the PLN grid. This research is carried out to study the efficiency of the system, performance ratio, energy contribution and failure factors that affect the performance of Microgrid PV System during operation. Based on the one year data collected in 2011, the microgrid PV system performance is not good in operation. From the analysis it is shown that average efficiency and performance ratio are 3.5% and 26.3% respectively, while good performance microgrid PV system shall achieve performance ratio above 80%. Moreover, energy that contributes into total energy consumption at PT. LEN is only 1.4%. This low performance is due to some failure factors, such as: battery equalizing charge failures, malfunction of one of low harmonic PV inverter, and battery inverter non-used mode.
Keywords: PV microgrid, performance ratio, efficiency, energy consumption, failure factors
Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan Vol. 11 No. 2 Desember 2012 : 93 - 104
PENDAHULUAN
Latar belakang
Mikrogrid merupakan suatu sistem pembangkit skala kecil yang terpisah dari sistem pembangkit utama dan memiliki keunggulan pengaturan terhadap dirinya sendiri. Apabila terjadi gangguan pada sistem utama, mikrogrid masih dapat menjalankan fungsi pembangkitan dan penyaluran sendiri untuk melayani bebannya[1]. Sistem mikrogrid memiliki sumber energi pembangkit sendiri, mulai dari sumber energi fosil (diesel dan batubara), maupun sumber energi terbarukan seperti angin, surya (PV), biogas, dan sebagainya. Sebagai alternatif, energi surya melalui teknologi PV dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit mikrogrid karena ramah lingkungan dan dengan sistem kendali yang baik dapat digunakan sebagai pembangkit listrik yang dapat diandalkan.
Balitbang ESDM (melalui P3TKEBTKE dan PT. LEN Industri) bekerjasama dengan NEDO Jepang telah melakukan uji coba pemanfaatan sistem mikrogrid tenaga surya (PV) untuk aplikasi di industri. Sistem PV mikrogrid ini mulai dibangun di PT. LEN Industri pada Januari 2008 dan mulai beroperasi pada Agustus 2008. Sistem PV mikrogrid ini berfungsi untuk memasok daya listrik yang kontinyu pada beban penting yang ada di PT. LEN Industri. Beban penting yang dimaksud adalah peralatan produksi yang membutuhkan daya sebesar 50 kW untuk memproduksi modul surya. Selain berperan sebagai pembangkit cadangan, sistem PV mikrogrid ini juga berfungsi untuk
menjaga kestabilan tegangan pada beban penting di PT. LEN Industri. Skema sistem PV mikrogrid dapat dilihat pada gambar 1.
Secara umum sistem PV mikrogrid 80 kWp ini terdiri dari ; panel PV kapasitas 80kW (460 modul PV @175Wp), 4 unit inverter PV tipe low harmonic , 4 unit inverter PV tipe standar, High speed circuit breaker (HSCB), inverter baterai, 144 buah baterai dengan total kapasitas 170 kWh, sistem kontrol dan akuisisi data. Pada saat kondisi normal, sistem PV mikrogrid dan PLN terkoneksi (grid connected) dan bersama – sama mensuplai listrik ke seluruh beban yang ada di PT. LEN Industri .
Gambar 2. Sistem Monitor Operasional (Kondisi Normal)
Gambar 1. Skema Sistem PV Mikrogrid 80 kWp Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan
Vol. 11 No. 2 Desember 2012 : 93 - 104
Ketika terjadi gangguan pada jaringan utama (PLN), HSCB akan terbuka dan memutus suplai listrik dari PLN ke beban penting (islanding mode). Pada kondisi ini (islanding) sistem PV mikrogrid akan mengambil alih suplai listrik ke beban penting dan tetap menjaga kualitas daya dari batere ke beban penting. Saat kondisi jaringan utama pulih dari gangguan, sistem memerintahkan HSCB untuk menutup kembali (reclose), dengan terlebih dahulu mensinkronkan antara sistem mikrogrid dengan jaringan utama[2]. Pada tulisan ini akan dibahas hasil evaluasi kinerja sistem PV mikrogrid tersebut selama beroperasi tahun 2011.
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi dan kehandalan sistem PV mikrogrid 80 kWp selama beroperasi pada tahun 2011.
METODOLOGI
Metodologi yang digunakan adalah dengan melakukan studi literatur, monitoring / observasi kondisi operasional sistem dan pengumpulan data operasional sistem PV mikrogrid. Data – data operasional sistem PV mikrogrid direkam secara otomatis setiap 10 detik menggunakan peralatan sistem akuisisi data dan PC. Pengolahan data dan analisa dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Mitsubishi plant control yang terintegrasi dengan sistem PV mikrogrid serta microsoft excel.
1. Data- data yang diukur / dihitung antara lain :Intensitas radiasi surya (I)
Intensitas radiasi surya adalah ukuran kepadatan daya yang diterima permukaan bumi
pada luasan tertentu dan dinyatakan dengan satuan W/m
2. Dalam analisa sistem-sistem tenaga surya umumnya diperlukan data intensitas radiasi harian rata- rata selama satu periode tertentu dan dinyatakan dengan satuan kWh/m2.hari.Untuk kegiatan analisa kinerja sistem PV mikrogrid ini digunakan data intensitas radiasi harian rata-rata setiap bulan yang dihitung berdasarkan data hasil pengukuran sebagai berikut :
a. Menghitung nilai intensitas radiasi rata- rata per jam (insolasi surya) berdasarkan data intensitas radiasi surya sesaat (I0) yang telah diukur secara otomatis setiap 10 detik
Insolasi surya (W/m2) = Total I0 dibagi jumlah data yang diperoleh selama satu jam
b. Kemudian dihitung total radiasi surya yang diterima dalam satu hari (Idaily) Idaily (Wh/m2) = penjumlahan (Ihourly) selama 24 jam/hari).
c. Intensitas radiasi surya harian rata-rata bulanan (Wh/m2.hari) adalah total intensitas radiasi surya harian (Idaily) yang diterima dalam satu bulan dibagi dengan jumlah hari pada bulan tersebut
2. Energi yang diproduksi sistem PV mikrogrid (Esys )
3. Kondisi kelistrikan (input / output seperti ; arus , tegangan, dan daya komponen dan sistem.
Analisis kinerja sistem PV mikrogrid ditentukan berdasarkan parameter efisiensi dan rasio kinerja sistem PV selama beroperasi. Efisiensi sistem PV mikrogrid merupakan perbandingan antara besarnya energi yang dihasilkan terhadap besarnya energi matahari yang diterima oleh permukaan panel PV[3],
dinyatakan sebagai berikut:
ƞsys = I x APV
Kehandalan sistem PV mikrogrid ditentukan boleh rasio kinerja (PR/Performance Ratio) yang mampu dihasilkan dalam satu periode[3-9]. Nilai rasio kinerja (PR) merupakan perbandingan antara besarnya energi aktual dan teoritis yang mampu dihasilkan sistem selama beroperasi[4], yang dinyatakan dengan persamaan berikut ;
PR = I x APV x ƞpv
Esys adalah energi yang disuplai dari sistem PV mikrogrid ke beban (ac), I adalah intensitas matahari yang diterima pada luasan panel Apv dan ƞpv adalah efisiensi panel PV (nominal). Sistem PV mikrogrid yang memiliki kinerja bagus akan mampu mencapai nilai rasio kinerja (PR) diatas 80
%[5].
Besarnya rasio kinerja suatu sistem PV tidak tergantung pada lokasi dan ukuran/
kapasitas sistem melainkan lebih sering dinyatakan sebagai faktor kualitas yang dapat mengindikasikan adanya gangguan-gangguan pada peralatan / komponen sistem seperti penurunan efisiensi, malfungsi atau kerusakan komponen dan sebagainya [6]. Untuk itu dilakukan juga analisis faktor kegagalan untuk mengetahui faktor-faktor yang mengganggu kinerja sistem PV mikrogrid.
Analisis konsumsi energi juga dilakukan untuk mengetahui kontribusi energi sistem PV mikrogrid 80 kWp tersebut bagi PT. LEN Industri.
HASIL DAN ANALISA
Selama beroperasi pada periode tahun 2011, sistem PV mikrogrid mengalami tiga kondisi operasional yang berbeda, yaitu ; beroperasi normal, tidak beroperasi dan beroperasi tanpa baterai (battery inverter non used mode). Kondisi operasi tersebut dijelaskan seperti pada tabel 1.
Esys
Esys
Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan Vol. 11 No. 2 Desember 2012 : 93 - 104
Gambar 3. Kondisi Operasional Sistem Tahun 2011 (Battery Inverter Non-Used Mode)
Kondisi Operasi Normal (Januari 2011)
Kondisi Tidak Beroperasi (Feb - Agustus 2011)
Kondisi Operasi Tanpa Baterai Battery Inverter Non-Used Mode
(Sept – Des 2011) Komponen peralatan
bekerja dengan baik kecuali PV inverter low harmonic pada panel LH2 (lihat gbr. 3)
Kegagalan operasi PV inverter LH2 ini menyebabkan terputusnya suplai energi dari beberapa panel PV ke sistem.
Sistem mengalami kegagalan 2 kali equalizing charge yang dideteksi sebagai kegagalan ringan (light failure)
Sistem mengalami kegagalan proses equalizing charge yang ke-3 kali.
Sistem kontrol melakukan proteksi otomatis dengan menghentikan kerja baterai inverter dan PV inverter sehingga sistem berhenti beroperasi (microgrid stop).
Sistem mengkonsumsi energi listrik dari jaringan listrik PT.
LEN Industri untuk operasional peralatan pendukung dan peralatan akuisisi data.
Energi dari matahari yang diterima sistem PV mikrogrid terbuang sia-sia (tidak termanfaatkan)
Sistem PV mikrogrid diaktifkan kembali dengan mode – operasi tanpa baterai (Battery Inverter Non-Used Mode) agar energi yang dihasilkan PV tidak terbuang sia- sia.
Sistem PV mikrogrid hanya berfungsi sebagai pensuplai energi listrik
Sistem tidak mampu mensuplai daya yang kontinyu ke beban penting terutama saat terjadi gangguan dari PLN, karena tidak ada back up energi dari sistem baterai.
Saat terjadi gangguan suplai daya dari sumber utama (PLN), sistem ikut berhenti beroperasi dan harus diaktifkan kembali secara manual.
Tabel 1. Kondisi Operasional Sistem PV Mikrogrid periode Jan-Des 2011
PV Inverter LH2 disconnected
Battery Inverter Non-Used Mode
(Wh/m2) (%) Kinerja Sistem PV Mikrogrid
Kinerja sistem PV mikrogrid selama periode Januari – Desember 2011 ditunjukkan seperti pada grafik 1.
Dari grafik 1, terlihat bahwa kinerja sistem PV mikrogrid mengalami ketidakstabilan selama beroperasi. Pada periode Maret – Agustus 2012, efisiensi dan rasio kinerja berada di posisi “0” yang artinya sistem tidak produktif karena mengalami kegagalan operasi. Saat sistem beroperasi normal (Januari), rasio kinerja maksimum yang mampu dihasilkan hanya sebesar 68 % dan belum optimal ( >=
80% ).
Kinerja rata-rata yang mampu dihasilkan sistem PV mikrogrid selama beroperasi tahun 2011 adalah 3,5 % (efisiensi) dan 26,3 % (rasio kinerja). Nilai ini sangat rendah dan jauh dari nilai optimal. Rendahnya efisiensi dan rasio kinerja sistem PV mikrogrid ini disebabkan karena terjadinya kegagalan
fungsi dari beberapa komponen sehingga mengganggu operasional sistem PV mikrogrid.
Analisa kegagalan operasional sistem PV mikrogrid 80 kWp ini akan dijelaskan selanjutnya.
Analisis Faktor Kegagalan
Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa faktor – faktor yang mengganggu kinerja sistem PV mikrogrid selama beroperasi tahun 2011 adalah sebagai berikut ;
1. Adanya mal-fungsi atau eror pada salah satu PV inverter jenis low harmonic.
Inverter jenis low harmonic ini merupakan peralatan yang masih dalam tahap pengembangan dan baru di uji coba kualitasnya pada sistem PV mikrogrid ini.
Grafik 1. Kinerja Sistem PV Mikrogrid Tahun 2011
Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan Vol. 11 No. 2 Desember 2012 : 93 - 104
PV inverter low harmonic yang mengalami mal fungsi adalah PV inverter LH2 yang bertugas mensuplai daya dari 58 modul PV ke jaringan/beban. Dengan kapasitas daya masing-masing modul PV adalah 175 Wp, maka energi yang terbuang (energy losses) dari panel PV ke jaringan dan beban adalah :
Elosses = (jumlah modul PV terkoneksi ke PV inverter LH2) x (kapasitas masing-masing modul PV) x100% / (total kapasitas sistem PV)
= 58 x 175 Wp x 100 % / 80 kWp
= 12,5 %
Kehilangan pasokan energi listrik yang harus disuplai dari PV inverter low harmonic ini menyebabkan nilai rasio kinerja dan efisiensi sistem PV mikrogrid berkurang sebesar 12,5%. .
2. Gangguan pada proses pemeliharaan baterai (equalizing charge)
Proses equalizing charge diperlukan untuk menjaga kondisi semua baterai tetap stabil setelah mengalami proses pengisian dan pemakaian yang berulang-ulang selama beroperasi [10,11]. Equalizing charge baterai pada sistem PV mikrogrid ini harus dilakukan setiap satu atau dua minggu sekali selama maksimum 48 jam sampai baterai mencapai tegangan maksimal -2,54 V/sel[12]. Terjadinya kegagalan proses equalizing charge baterai berturut-turut (Januari – Februari) menyebabkan sistem kendali melakukan proteksi otomatis untuk melindungi baterai dan komponen lainnya dari kerusakan dengan cara mematikan kerja sistem secara keseluruhan[12].
Berikut analisa penyebab kegagalan proses equalizing charge ;
Grafik 2 menunjukkan proses equalizing charge baterai pada periode Januari – Februari 2011 berlangsung abnormal dimana tegangan maksimum baterai (367 V atau 2,54 V/sel) tidak dapat dicapai pada akhir proses equalizing charge. Kejadian ini terus berlangsung pada periode equalizing charge berikutnya yang mengakibatkan tegangan baterai terus mengalami penurunan tegangan.
Akibatnya sistem melakukan proteksi untuk mencegah kerusakan baterai dan komponen lainnya dengan cara menghentikan kerja baterai inverter, PV inverter dan sistem mikrogrid secara keseluruhan.
Terjadinya kegagalan proses equalizing charge ini antara lain disebabkan karena ; - Penurunan karakteristik baterai karena faktor
kondisi pengisian / pemakaian baterai selama beroperasi.
- Adanya faktor error pada alat ukur baterai*, charger baterai dan/ atau sistem kontrol yang menyebabkan perbedaan kondisi baterai terukur dengan kondisi yang sebenarnya
Grafik 2. Proses Equalizing Charge
sehingga sistem mendeteksi adanya eror pada saat equalizing charge berlangsung.
*) Penyebab kegagalan proses equalizing charge akibat faktor eror ini masih bersifat asumsi dan membutuhkan investigasi teknis dari pihak pabrikan/manufaktur.
3. Konfigurasi sistem saat beroperasi (tanpa sistem baterai)
Efisiensi dan rasio kinerja sistem saat bekerja tanpa baterai dan baterai inverter (September-Desember) lebih rendah dibandingkan pada saat kondisi normal (Januari) meskipun intensitas radiasi matahari yang diterima lebih besar (lihat grafik 1). Hal
ini disebabkan karena pada kondisi ini sistem PV mikrogrid hanya dapat beroperasi selama grid connectedsaat terjadi gangguan pada jaringan utama (islanding), sistem kendali gagal mengambil alih suplai daya listrik karena tidak adanya sistem baterai yang mennsuplai daya cadangan ke beban penting. Sistem PV mikrogrid harus diputus dari jaringan dan beban untuk proteksi sehingga energi yang dihasilkan oleh sistem PV mikrogrid menjadi terbuang percuma. Saat jaringan utama sudah kembali normal, sistem PV mikrogrid harus dinyalakan secara manual. Akibat tidak adanya sistem baterai sebagai back up energi, kinerja sistem PV mikrogrid selama periode ini menjadi tidak stabil dan tidak sesuai dengan fungsi dan designnya.
Tabel 2. Data Gangguan Operasional dari Jaringan Utama (PLN)
Tanggal Jam Jenis Gangguan Pengaruh terhadap Operasional Sistem
Kondisi Normal (sistem baterai aktif)
22/01/2012 13:58:20 Frekuensi rendah (low frequency) : 43 Hz
Sistem PV mikrogrid tetap beroperasi (islanding mode operation) 27/01/2012 20:43:59 Kedip tegangan (Voltage dip) Sistem PV mikrogrid tetap beroperasi
(islanding mode operatio) 28/01/2012 10:04:00 Listrik padam (power outage) Sistem PV mikrogrid tetap beroperasi
(islanding mode operation) 05/02/2012 10:12:13 Kedip tegangan (Voltage dip) Sistem PV mikrogrid tetap beroperasi
(islanding mode operation) Kondisi Tanpa Baterai
30/09/2012 20:30:35 Kedip tegangan (Voltage dip) Sistem PV mikrogrid berhenti beroperasi (stop) 30/09/2012 20:32:00 Frekuensi rendah (low frequency) :
43,75 Hz
Sistem PV mikrogrid berhenti beroperasi (stop) 17/10/2012 11:47:39 Listrik padam (power outage) Sistem PV mikrogrid berhenti
beroperasi (stop) 25/10/2012 14:28:05 Kedip tegangan (Voltage dip) Sistem PV mikrogrid berhenti
beroperasi (stop) Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan
Vol. 11 No. 2 Desember 2012 : 93 - 104
02/11/2012
12:55:33 Kedip tegangan (Voltage dip) Sistem PV mikrogrid berhenti beroperasi (stop) 18/11/2012 9:16:12 Frekuensi rendah (low frequency) :
43 Hz
Sistem PV mikrogrid berhenti beroperasi (stop) 18/11/2012 9:16:20 Listrik padam (power outage) Sistem PV mikrogrid berhenti
beroperasi (stop)
Analisis Konsumsi Energi
Analisis energi dilakukan untuk mengetahui kontribusi energi sistem PV mikrogrid bagi PT. LEN Industri. Dari tabel 2 terlihat bahwa kontribusi PV terbesar terjadi pada bulan Januari sebesar 6.296 kWh saat sistem masih beroperasi normal dan terendah pada periode maret-Agustus saat sistem mengalami kegagalan operasi. Sistem PV mikrogrid memberi kontribusi energi bulanan
rata-rata hanya sebesar 1,4 % dari total energi yang diperlukan PT. LEN selama tahun 2011.
Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan saat sistem beroperasi normal pada tahun 2010 yang mencapai 10 % [13].
Tabel 3 . Konsumsi Energi PT. Len Industri Tahun 2011
Hal ini menunjukkan bahwa selama tahun 2011, sistem PV mikrogrid 80 kWp ini mengalami penurunan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan energi listrik di PT. LEN Industri.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan1. Selama periode operasional tahun 2011 sistem PV mikrogrid 80 kWp tidak beroperasi dengan optimal dan tidak mampu menyuplai daya listrik yang berkualitas dan kontinyu bagi PT. LEN Industri.
2. Efisiensi sistem rata-rata adalah 3,5 % dengan rasio kinerja rata-rata hanya sebesar 26,3 % dari total energi yang seharusnya mampu diproduksi selama tahun 2011
3. Rendahnya efisiensi dan rasio kinerja sistem PV mikrogrid disebabkan karena BULAN KONSUMSI
ENERGI (kWh)
PROSENTASE (%) PLN PV PLN PV
Januari 76450 6296 92,4 7,6 Februari 67373 833 98,8 1,2
Maret 84318 0 100,0 0,0
April 76096 0 100,0 0,0
Mei 79034 0 100,0 0,0
Juni 76517 0 100,0 0,0
Juli 83221 0 100,0 0,0
Agustus 74552 0 100,0 0,0 September 79611 796 99,0 1,0 Oktober 99952 3019 97,1 2,9 November 100176 3264 96,8 3,2
Desember - - - -
Rata-rata 81573 1292 98,6 1,4
terjadinya kegagalan fungsi dari beberapa komponen, seperti ;
a. Gangguan proses equalizing charge pada baterai akibat penurunan karakteristik baterai dan/atau eror pada alat ukur/sensor baterai
b. Mal-fungsi salah satu PV inverter low harmonic.
c. Konfigurasi sistem tanpa menggunakan baterai (battery inverter non used mode) yang mempengaruhi kehandalan sistem dalam menjaga kestabilan suplai daya listrik pada beban penting
4. Sistem PV Mikrogrid memberikan kontribusi energi rata-rata 1,4 % terhadap total konsumsi energi PT. Len.
Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang komponen peralatan yang mengalami mal-fungsi seperti inverter low harmonic dan metode perawatan sistem baterai agar sistem PV mikrogrid dapat bekerja lebih optimal sesuai dengan desain dan fungsinya.
2. Untuk pengembangan sistem PV mikrogrid di masa datang dapat diarahkan pada pengembangan sistem PV mikrogrid / smart grid tanpa baterai yang stabil dan handal.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Lasseter, R.H, Piagi, P., 2004, Microgrid: A Conceptual Solution, Proceeding of PESC'04 Aachen, Jerman.
[2]. NewJec and Kansai., 2009, Final Workshop on ―International Cooperative Demonstration Project for Stabilized and Advanced Grid- connection Photovoltaic Systems‖, Indonesia.
[3]. Saenthon, S & Hiranvarodom, S., 2007, Analytical Evaluation of a PV Grid Connected System Installed at Resources Center Building in Thailand, Rajamangala University of Technology, Thailand
[4]. IEC, 1998, International Electrotechnical Commission (IEC).
Photovoltaic System Performance Monitoring—Guidelines for Measurement, Data Exchange and Analysis, International Standard IEC 61724, Geneva, Switzerland.
[5]. Marion B.,J. Adelstein,K. Boyle,dkk., 2005, Performance Parameters for Grid-Connected PV Systems., NREL, Colorado.
[6]. Anonim, 2010, Performance Ratio – Quality Factor for PV Plant, SMA Solar Technology AG – Technical Information, Jerman.
[7]. Anonim, 2002, PV System Evaluation Plan, Endecon Engineering San Ramon, CA.
Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan Vol. 11 No. 2 Desember 2012 : 93 - 104
[8]. Pless S., M. Deru, P. Torcellini, dan S.
Hayter., 2005, Procedure for Measuring and Reporting the Performance of Photovoltaic Systems in Buildings., Technical Report - NREL, Colorado.
[9]. Cabeza, J., 2009, Measurement and Analysis of a 20 kW Grid Connected PV System, Aristotle University of Thessaloniki, Spanyol.
[10]. Pillie M, 1995, Equalizing Batteries, APPN001 Eq Batteries.
[11]. Krein T. P., 2002, Life Extension Through Charge Equalization of Lead-Acid Batteries, IEEE.
[12]. Anonim, 2009, Microgrid Power Supply Facility ―Detailed Design Report‖document number : GC-HNL6- W012-B., Mitsubishi Electric Corporation.
[13]. Anonim, 2010, Laporan Akhir Analisis Data Sistem PV Mikrogrid 2010, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, KESDM.
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN