BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi komunikasi pada masa kini menyuguhkan media komunikasi yang semakin variatif. Dahulu, kita hanya mengenal media komunikasi tradisional: seperti radio, televisi, dan media cetak. Sekarang ini, kemajuan di bidang teknologi informasi serta komunikasi menyebabkan masyarakat dapat dengan mudah memperoleh berbagai macam informasi yang terjadi di belahan dunia tanpa harus datang ke tempat tersebut.
Kebutuhan dan kepuasan yang berbeda-beda dalam penggunaan media komunikasi menyebabkan komunikasi dipaksa berkembang lebih cepat. Akhirnya, media baru bermunculan dan berkembang di antara media lainnya. Seperti yang diketahui, internet (interconnection networking) merupakan bentuk konvergensi dari beberapa teknologi penting terdahulu, seperti komputer (dengan berbagai varian manfaat), televisi, radio, dan telepon (Bungin, 2009: 136).
Teknologi seakan tidak pernah berhenti untuk menghasilkan produk teknologi yang tidak terhitung jumlahnya. Produk teknologi yang beragam jenis dimaksudkan untuk memberikan manfaat dan kemudahan bagi setiap individu, mulai dari manfaat pengetahuan, pendidikan, kesehatan, atau bahkan untuk hiburan semata. Dengan adanya teknologi, kehidupan dan kegiatan manusia menjadi sangat mudah dan cepat. Misalnya dalam pencarian informasi, kini masyarakat tidak perlu lagi menunggu informasi yang disiarkan di radio, televisi maupun surat kabar. Masyarakat dapat langsung mencari sendiri informasi yang dibutuhkan melalui situs internet.
Fleksibilitas media dan kemudahan akses internet membuat setiap orang dapat terhubung dan berkomunikasi satu dengan lainnya tanpa harus bertatap muka, di mana pun dan kapan pun. Kehadiran new media (media baru)
memungkinkan perbedaan ruang dan waktu tidak lagi menjadi alasan penghambat komunikasi antarmanusia. Sebuah aspek yang terbilang baru di dunia internet sekaligus media online yang paling populer saat ini adalah media sosial (social media) yang juga sering disebut “social networking” (jejaring sosial). Media sosial adalah sebuah aplikasi yang mengizinkan user atau penggunanya berbagi informasi pribadi seperti biodata dan foto aktivitas sehari-hari sehingga dapat terhubung dengan orang lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Fasilitas teknologi ini dijadikan sebagai “darah daging” masyarakat. Dalam praktik sehari- hari, layanan jejaring sosial semacam itu rutin diakses oleh ratusan ribu atau bahkan jutaan masyarakat pengguna internet dari seluruh Indonesia bahkan dunia.
Karena dengan media sosial, kehidupan dunia nyata dapat ditransformasi ke dalam “dunia maya”. Masyarakat bisa dengan bebas berbagi informasi dan berkomunikasi dengan orang banyak tanpa perlu memikirkan hambatan dalam hal biaya, jarak dan waktu.
Media sosial dibantu dengan sebuah media teknologi komunikasi salah satunya yaitu smartphone. Smartphone adalah sebuah media baru dalam proses komunikasi. Smartphone tidak lagi digunakan hanya untuk media komunikasi tetapi mulai dilirik oleh beberapa perusahaan pembuat smartphone untuk dijadikan media hiburan dan edukasi (Sharen dan Iis, 2015:170). Smartphone adalah telepon genggam yang memiliki sistem operasi untuk masyarakat luas, dimana pengguna dapat dengan bebas menambahkan aplikasi, menambah fungsi- fungsi atau mengubah sesuai keinginan pengguna. Pemanfaatan internet akhir- akhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Media internet tidak lagi hanya sekedar menjadi media komunikasi semata, tetapi juga sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dunia bisnis, industri, pendidikan, dan pergaulan sosial.
Salah satu jejaring sosial yang diminati dan banyak diakses dalam smartphone adalah “Instagram dan Path”. Hal ini diketahui melalui rating unduhan aplikasi terbanyak yang terdapat pada aplikasi Apple store maupun Android market. Instagram menduduki posisi ke-3 pada peringkat unduhan terbanyak google play store dan peringkat pertama pada Apple store. Sedangkan
Path berada pada posisi ke-11 di Apple store. Instagram dan Path merupakan media sosial yang sangat diminati oleh pengguna internet dan gadget. Namun sampai saat ini, Path hanya bisa digunakan oleh pengguna gadget seperti handphone ataupun tablet berbasis Android serta Iphone dan Ipad berbasis iOs.
Instagram adalah media jejaring sosial yang memberikan layanan aplikasi berbagi foto yang memungkinkan bagi penggunanya untuk mengambil foto, mengedit, menerapkan filter digital, video dan membagi foto ke situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Tumblr, Flickr, dan juga jejaring sosial milik Instagram sendiri. Instagram mengganggap dunia lebih terhubung dan mudah dipahami melalui foto. Banyak orang mengabadikan dunia secara real time dengan Instagram, lalu berbagi gambar dengan orang lain di berbagai belahan dunia. Pada Instagram, pengunjung dapat berinteraksi dengan media kolom komentar yang disediakan sehingga memudahkan para pengguna untuk saling berinteraksi dan memudahkan pencarian dengan menggunakan hashtag (tanda tagar #) pada mesin pencarian menu explore.
Selain Instagram, Path merupakan jejaring sosial yang langsung dapat menyedot perhatian masyarakat. Path adalah sebuah aplikasi layanan jejaring sosial pribadi yang dirancang untuk membawa penggunanya lebih dekat dengan keluarga. Path tidak ditujukan sebagai jejaring sosial semata, tetapi juga sebagai jurnal interaktif bagi penggunanya. Path memiliki beragam fitur yang memudahkan penggunanya untuk berkomunikasi dan mengekspresikan hidupnya seperti Listening to, Share Location, Take a Picture, Sleep, Update Status. Semua aktivitas tersebut dapat pengguna bagikan ke beberapa media sosial lainnya seperti Facebook, Twitter, dan Tumblr.
Batasan pertemanan yang diberikan Path dapat memungkinkan bagi pengguna lebih selektif menerima pertemanan. Selektif menerima pertemanan dalam hal ini memungkinkan si pemilik akun hanya menerima orang-orang yang memiliki kedekatan pertemanan (personal relationship) dengan si pemilik akun tersebut. Hal ini menyebabkan yang akan berkomentar atas postingan moment dari si pemilik akun merupakan orang yang dikenal saja, tidak seperti media sosial
atau jejaring sosial lain yang sebelumnya. Bahkan, ketika seorang teman berkunjung ke halaman profil pengguna, akan ada pemberitahuan kepada pengguna bahwa seorang teman tersebut telah berkunjung untuk melihat profil pengguna. Keuntungan dan kelebihan dari aplikasi Path, yaitu merangkul kelompok jejaring sosial yang lebih kecil dan menikmati komunikasi yang lebih baik, nyaman dan lebih peduli. Dengan desain yang sederhana, indah dan berkualitas tinggi, Path mampu menjadi aplikasi jejaring sosial yang dicintai oleh puluhan juta orang diseluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, Path dan Instagram berhasil menjadi trend atau gaya hidup. Indonesia merupakan salah satu Negara yang konsumtif akan media sosial, dari semua kalangan dan golongan termasuk mahasiswa. Manusia merupakan makhluk dinamis yang terus mengalami perkembangan dan perubahan. Manusia menggunakan teknologi ketika bekerja sepanjang hari dan bahkan menjelang tidur. Disadari atau tidak, kita menjadi tergantung kepada teknologi. Teknologi membentuk perasaan, pikiran, dan tindakan manusia. Manusia memiliki hubungan simbolik dengan teknologi. Kita menciptakan teknologi dan teknologi pada gilirannya menciptakan kembali siapa diri kita (McLuhan dalam Morissan, 2010:30).
Dua kemungkinan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi yaitu global village dimana teknologi menciptakan manfaat positif dengan mengatasi hambatan jarak dan waktu, sehingga seolah-oleh dunia hanyalah sebuah desa.
Manusia dapat berinteraksi di mana pun dan kapan pun dan global pillage yaitu dimana teknologi menciptakan manfaat negatif, dengan cara menciptakan ketergantungan (McLuhan dalam Mufid, 2009:118-119).
Gambar 1.1 Hasil Survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Mengenai Penetrasi Pengguna Internet di Indonesia Pada Tahun 2016.
Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh APJII yang diterbitkan pada bulan november 2016, pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta pengguna internet dari total populasi penduduk Indonesia yaitu 256,2 juta orang.
Dimana penetrasi pengguna internet terbesar berdasarkan pekerjaannya yaitu mahasiswa (APJII, 2016:10). Karena mahasiswa berada pada fase emerging adulthood yaitu masa transisi dari remaja akhir menuju ke dewasa muda dan sedang mengalami dinamika psikologis (Silvia, 2015:3).
Sebagaimana hasil dari penelitian Silvia Fardila Soliha, Mahasiswi Program Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP Angkatan V mengenai
“Tingkat Ketergantungan Pengguna Media Sosial dan Kecemasan Sosial Di Kalangan Mahasiswa Di Kota Semarang” memberikan hasil dimana mayoritas pengguna media sosial pada penelitian tersebut adalah berjenis kelamin perempuan yang berada direntang usia antara 18-23 tahun dimana rata-rata responden dalam penelitian tersebut memiliki kecemasan sosial yang rendah,
sehingga menyebabkan mereka tergantung pada media sosial begitu kecil (http://ejournal.undip.ac.id/index.php/interaksi/article/view/9730/7798).
Lain halnya dengan Ekky Puspika Sari, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Jurnalistik, FISIP, Universitas Komputer Indonesia Bandung mengenai “Perilaku Komunikasi Para Pengguna Media Sosial Path Di Kalangan Mahasiswa Unikom Kota Bandung (Studi Deskriptif Mengenai Perilaku Komunikasi Para Pengguna Media Sosial Path di Kalangan Mahasiswa Unikom Kota Bandung)” menunjukkan bahwa perilaku komunikasi yang ditimbulkan dalam penggunaan media sosial Path ini sangat beragam. Dari observasi yang dilihat oleh Ekky Puspika Sari pada setiap akun Path informan, kebanyakan mahasiswa lebih suka men-share sisi hedonisme (kesenangan duniawi) dan fungsi entertainment saja dari ke empat fungsi komunikasi yang ada yaitu edukatif, informatif, rekreatif, dan hiburan. Informasi yang diberikan media sosial Path pun sangat simple dan praktis, yang mungkin tidak akan ditemukan di media sosial lain. Mahasiswa pengguna media sosial Path dapat berbagi dan mendapatkan informasi yang berguna dan bermanfaat dari pengguna lainnya, seperti: buku, film, musik, tempat, foto-foto terbaru tanpa harus membuka google ataupun yang lain karena dengan mudah mereka dapat mengetahuinya dan membagikan ulang ke pengguna lain dengan bahasa repath yaitu pengulangan men-share momen kembali. Pengguna Path pun dapat dikatakan kecanduan karena di manapun dan kapanpun mereka berada selalu membuka Path dengan intensitas waktu yang tinggi karena fasilitas dari Path yang menarik (http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/662/jbptunikompp-gdl-ekkypuspik-33092-12- unikom_e-l.pdf).
Sama halnya dengan Ekky, Bayu Nugraha yang merupakan mahasiswa Jurusan Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran melakukan penelitian mengenai “Perilaku Komunikasi Pengguna Aktif Instagram (Studi Kasus Mengenai Perilaku Komunikasi Antar Sesama Pengguna Aktif Instagram)” dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor- faktor yang melatarbelakangi terjadinya perilaku komunikasi pengguna aktif Instagram adalah fasilitas pendukung, keinginan untuk menghasilkan karya yang
lebih baik, frekuensi mengakses yang tinggi serta dorongan kerabat. Perilaku komunikasi antar sesama pengguna aktif Instagram yaitu mengunggah foto, melakukan following dan unfollow, memberikan like dan komentar, membubuhi informasi pada foto yang diunggah serta menghadiri kegiatan gathering dan photowalk (http://repository.unpad.ac.id/17544/1/210110080040_a_6136.pdf).
Kebanyakan mahasiswa yang memiliki gadget seperti Android, Tablet, Iphone dan Ipad mengunduh Instagram dan Path. FISIP USU merupakan salah satu fakultas yang mahasiswanya sadar akan perkembangan teknologi. Mahasiswa yang sedang berada dalam fase emerging adulthood yaitu salah satunya mahasiswa baru angkatan 2016 yang memiliki tingkatan perkembangan yang masih potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi (afektif) maupun kebiasaan atau kemauan bertindak (konatif/behavioral). Dimana ketiga aspek tersebut merupakan efek dari komunikasi massa (dalam hal ini yaitu new media) terhadap perilaku komunikasi seseorang.
Dengan beberapa penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa, kaum muda identik dengan pribadi yang dinamis dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan memiliki minat yang sangat tinggi akan penggunaan media internet dan media aplikasinya. Hal ini yang menjadikan peneliti memilih mahasiswa FISIP USU angkatan 2016 menjadi objek penelitian.
1.2 Pembatasan Masalah
Peneliti merasa perlu untuk membuat pembatasan masalah yang lebih spesifik dan jelas, guna menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian. Adapun yang menjadi pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1) Penelitian ini bersifat studi korelasional, dimana penelitian yang tujuannya untuk mencari atau menjelaskan hubungan, serta menguji hipotesis atau membuat prediksi.
2) Objek penelitian adalah Mahasiswa Program Studi Sarjana FISIP USU angkatan 2016 yang merupakan pengguna Instagram dan Path.
3) Penelitian mulai dilakukan dari bulan Januari 2017 hingga waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Sejauhmana Pengaruh Tingkat Ketergantungan Pengguna Media Sosial Instagram dan Path Terhadap Perilaku Komunikasi Mahasiswa FISIP USU Angkatan 2016?”.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1) Untuk mengetahui bagaimana tingkat ketergantungan pengguna media sosial Instagram dan Path di kalangan mahasiswa FISIP USU Angkatan 2016.
2) Untuk mengetahui bagaimana perilaku komunikasi pengguna media sosial Instagram dan Path di kalangan mahasiswa FISIP USU Angkatan 2016.
3) Untuk mengetahui sejauhmana pengaruh tingkat ketergantungan pengguna media sosial Instagram dan Path terhadap perilaku komunikasi di kalangan mahasiswa FISIP USU Angkatan 2016.
1.5 Manfaat Penelitian
1) Secara Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang komunikasi, serta menjadi bahan acuan untuk peneliti selanjutnya khususnya mahasiswa/i Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.
2) Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti dan pembaca khususnya Departemen Ilmu Komunikasi mengenai media sosial yang pada masa kini dikonsumsi oleh semua kalangan dan penelitian dapat bermanfaat untuk menguji kembali penggunaan teori dependensi efek media massa dalam bidang penelitian Komunikasi Massa.
3) Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak- pihak yang membutuhkan pengetahuan berkenaan dengan teori dependensi mengenai efek komunikasi massa pada khalayak.