• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS (STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS (STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNK"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS (STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNK YANG SUDAH BEKERJA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI

ANTARPRIBADI PADA KOMUNITAS PUNKS DI KOTA MEDAN)

TESIS

Oleh:

RAISHA ANNISA HUTAPEA 127045002

M A G I S T E R I L M U K O M U N I K A S I FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2014

(2)

IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS (STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNK YANG SUDAH BEKERJA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI

ANTARPRIBADI PADA KOMUNITAS PUNKS DI KOTA MEDAN)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Komunikasi dalam Program Magister Ilmu

Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Oleh:

RAISHA ANNISA HUTAPEA 127045002

MAGISTER ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2014

(3)

IDENTITY IN THE COMMUNITY PUNKS

(CASE STUDY OF SELF IDENTITY PUNK KIDS ARE ALREADY WORKING ON INTERPERSONAL COMMUNICATION IN THE

CONTEXT OF COMMUNITY PUNKS CITY IN MEDAN)

ABSTRAC

This study titled Identity In Punk (Case Study Identity It Son Punk Work in the Context of Interpersonal Communication In Community Punks in Medan) .Tesis aims to determine the identity of punk kids who have worked in an office, to determine the factors which pushes some punk kids in the community choose to work in the office punks and determine the development of relationships and punk kids who have worked in an office with a punk kid who does not work on punks community. The theory used in this study is the theory of interpersonal communication, relationship development theory, identity theory, cognitive dissonance theory, symbolic interaction and dramaturgical theory.This is a qualitative research method with observational studies and depth interviews with three informants. Processing stages of data starting from field research and other research literature.Methods of data analysis in this study includes data reduction, data display and conclusion drawing and verification of data. From the research, the researchers found that the identity of punk kids, there are two categories of identity personal punk community, namely identity when joining the community of punks and punk identity has been working in the office. Identity itself consists of external factors and internal factors. External factors AR and AD is the environment of friendship, while the AE because of the romance. Internal factors AR, AE and AE is the lack of closer to God. The reason punk kids choose to work in an office because of the crush ekonomi. Development of the relationship punk kids who have worked with who have not worked in the punk community is the stage of contact, involvement and familiarity.

Keywords: Identity, Some One of Punk working, Interpersonal communication.

(4)

IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS (STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNK YANG SUDAH BEKERJA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI

ANTARPRIBADI PADA KOMUNITAS PUNKS DI KOTA MEDAN)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Identitas Diri Dalam Komunitas Punk (Studi Kasus Identitas Diri Anak Punk yang Sudah Bekerja Dalam Konteks Komunikasi Antar Pribadi Pada Komunitas Punks di Kota Medan).Tesis ini bertujuan untuk mengetahui identitas anak punk yang telah bekerja di kantoran, untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong sebagian anak punk di komunitas Punks memilih untuk bekerja dikantoran dan mengetahui pengembangan hubungan dan anak punk yang telah bekerja di kantoran dengan anak punk yang tidak bekerja pada komunitas Punks.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi antarpribadi, teori pengembangan hubungan, teori identitas diri, teori disonansi kognitif, interaksi simbolik dan teori dramaturgi.Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan studi observasi dan wawancara mendalam terhadap tiga orang informan.Tahapan pengelolahan data dimulai dari penelitian lapangan dan peneltian kepustakaan.Metode analisis data pada penelitian ini meliputi reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi data.Dari hasil penelitian peneliti menemukan bahwa identitas anak punk terdapat dua kategori identitas diri angggota komunitas punk, yaitu identitas diri saat bergabung dengan komunitas punks dan identitas diri anak punk telah bekerja dikantoran.Identitas diri tersebut terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal AR dan AD adalah lingkungan pertemanan, sedangkan AE karena masalah percintaan.

Faktor Internal AR, AE dan AE adalah kurangnya mendekatkan diri pada Tuhan.

Alasan anak punk memilih untuk bekerja di kantoran karena himpitan ekonomi.Pengembangan hubungan anak punk yang telah bekerja dengan yang belum bekerja pada komunitas punk adalah ditahap kontak, keterlibatan dan keakraban

Kata Kunci: Identitas, Anak Punk yang bekerja, Komunikasi AntarPribadi.

(5)

PERNYATAAN

IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS

(STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNK YANG SUDAH BEKERJA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

PADA KOMUNITAS PUNKS DI KOTA MEDAN)

Dengan ini penulis menyatakan bahwa:

1. Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister pada Program Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara benar merupakan hasil karya peneliti sendiri.

2. Tesis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana, magister, dan/atau doktor), baik di Universitas Sumatera Utara maupun di perguruan tinggi lain.

3. Tesis ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Komisi Pembimbing dan masukan Tim Penguji.

4. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

5. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya , apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, Penulis,

Raisha Annisa Hutapea

(6)

KATA PENGANTAR

Terima Kasih kepada kedua orang tua, ayah dan mama tercinta:

Ir.H.Amrulsyah Hutapea dan Dra.H.Halidah Sari Daulay, yang telah dimudahkan rezeki dan kesehatan oleh Allah SWT, sehingga diberikan kekuatan untuk mendukung, mendoakan, serta tidak luput memberikan nasehat yang tiada hentinya dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya selama pengerjaan skripsi :

1. Bapak Prof.Dr.Dr.Syahril Pasaribu, DTM & H, M.Sc, (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof.Dr.Badaruddin, M.Si : Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr.Lusiana Andriani Lubis, M.A, Ph.D, selaku Ketua Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, serta selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.

4. Bapak Drs.Hendra Harahap, M.Si, selaku Wakil Ketua Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Dr.Nurbani, M.si, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penulisan tesis ini.

(7)

6. Bapak Haris Wijaya, S.sos, M.Comm, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan menagarahkan peneliti dalam penulisan tesis ini.

7. Ibu Dra.Fatma Wardy Lubis, M.A selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.

8. Seluruh Staf Pengajar dan Administrasi Departemen Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sumatera Utara.

9. Kekasih tersayang yang telah banyak berkorban, menemani selama penelitian, dan maaf kaca mobil pecah dan insiden anak Punk Nazy, semoga dimurahkan rezeki oleh Allah SWT.

10. Sahabat selama perkuliahan yang banyak membantu saya pada masa kuliah dan penelitian, semoga persahabatan dapat terjalin tidak sebatas perkuliahan, tetapi dapat terjalin selamanya.

Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam hal pengerjaan tesis ini, dan mengharapkan kritik dan saran pembaca, dalam kesempurnaan tesis ini.Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua dan bermanfaat dalam dunia pendidikan.

Medan, Agustus 2014

Penulis

(8)

Raisha Annisa Hutapea

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAC ... i

ABSTRAK ... ii

PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Fokus Masalah ... 15

1.3. Tujuan Penelitian ... 15

1.4. Manfaat Penelitian ... 16

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 17

2.1. Paradigma Konstruktivisme ... 17

2.2. Kajian Terdahulu ... 20

2.3 Komunikasi AntarPribadi ... 26

2.3.1. Defenisi Komunikasi AntaPribadi ... 26

2.3.2. Fungsi Komunikasi Antarpribadi ... 27

2.3.3. Ciri-ciri Komunikasi Antarpribadi ... 28

2.3.4. Proses Komunikasi Antarpribadi ... 30

2.3.5. Sifat Komunikasi Antarpribadi ... 29

2.3.6. Hubungan Antarpribadi ... 33

2.4. Teori Pengembangan Hubungan ... 36

2.4.1. Teori Penetrasi Sosial ... 40

2.5. Teori Identitas Diri ... 48

2.5.1. Pengelolahan Identitas ... 50

2.6. Teori Disonansi Kognitif ... 51

2.6.1. Proses Disonansi Kognitif ... 55

2.6.2. Konsekuensi-Konsekuensi Disonansi ... 56

2.6.3. Penghindaran Disonansi ... 57

2.7. Interaksi Simbolik ... 58

2.7.1. Prinsip-Prinsip Dasar Interaksionalisme Simbolik ... 62

2.8. Teori Dramaturgi ... 63

2.8.1. Manajemen Kesan ... 70

2.8.2. Jarak Peran ... 71

2.8.3. Stigma ... 72

2.9. Punk ... 72

2.10.Kerangka Berpikir ... 75

(9)
(10)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 76

3.1. Metode Penelitian ... 76

3.2. Aspek Kajian ... 78

3.3. Lokasi Penelitian ... 78

3.4. Subjek Penelitian ... 79

3.5. Metode Pengumpulan Data ... 80

3.5.1 Penelitian Lapangan (Field Research) ... 80

3.5.2 Penelitian Kepustakaan (Library Research) ... 81

3.6. Metode Analisis Data ... 82

BAB IV TEMUAN PENELITIAN ... 85

4.1 Proses Penelitian ... 85

4.2. Temuan Penelitian ... 92

4.2.1. Informan ... 92

4.2.2. Kategori Identitas Diri AR,AE Dan AD Sebagai Anak Punks ... 114

4.2.3. Kategori Anak Punks Saat Bekerja Dan Faktor Memilih Bekerja ... 115

4.2.2. Kategori Pengembangan Hubungan Dengan Komunitas Punks ... 116

BAB V PEMBAHASAN ... 117

5.1. Identitas Anak Punk Yang Sudah Bekerja ... 117

5.1.1. Gaya Hidup ... 117

5.1.2. Ideologi ... 121

5.1.3. Fashion ... 127

5.1.4. Musik Punk ... 131

5.2. Faktor Yang Mendorong Anak Punks Memilih Untuk Bekerja ... 139

5.1. Pengembangan Hubungan Dengan Komunitas Punks ... 141

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 148

6.1 Simpulan ... 148

6.2. Saran ... 149

DAFTAR PUSTAKA ... 150 LAMPIRAN

(11)

DAFTAR GAMBAR

Hal 2.10. Kerangka Berpikir ... 75

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Halaman 4.1.1. Tabel I. ... 114

4.2.2. Tabel II ... 115 4.2.2. Tabel III ... 116

(13)

IDENTITY IN THE COMMUNITY PUNKS

(CASE STUDY OF SELF IDENTITY PUNK KIDS ARE ALREADY WORKING ON INTERPERSONAL COMMUNICATION IN THE

CONTEXT OF COMMUNITY PUNKS CITY IN MEDAN)

ABSTRAC

This study titled Identity In Punk (Case Study Identity It Son Punk Work in the Context of Interpersonal Communication In Community Punks in Medan) .Tesis aims to determine the identity of punk kids who have worked in an office, to determine the factors which pushes some punk kids in the community choose to work in the office punks and determine the development of relationships and punk kids who have worked in an office with a punk kid who does not work on punks community. The theory used in this study is the theory of interpersonal communication, relationship development theory, identity theory, cognitive dissonance theory, symbolic interaction and dramaturgical theory.This is a qualitative research method with observational studies and depth interviews with three informants. Processing stages of data starting from field research and other research literature.Methods of data analysis in this study includes data reduction, data display and conclusion drawing and verification of data. From the research, the researchers found that the identity of punk kids, there are two categories of identity personal punk community, namely identity when joining the community of punks and punk identity has been working in the office. Identity itself consists of external factors and internal factors. External factors AR and AD is the environment of friendship, while the AE because of the romance. Internal factors AR, AE and AE is the lack of closer to God. The reason punk kids choose to work in an office because of the crush ekonomi. Development of the relationship punk kids who have worked with who have not worked in the punk community is the stage of contact, involvement and familiarity.

Keywords: Identity, Some One of Punk working, Interpersonal communication.

(14)

IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS (STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNK YANG SUDAH BEKERJA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI

ANTARPRIBADI PADA KOMUNITAS PUNKS DI KOTA MEDAN)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Identitas Diri Dalam Komunitas Punk (Studi Kasus Identitas Diri Anak Punk yang Sudah Bekerja Dalam Konteks Komunikasi Antar Pribadi Pada Komunitas Punks di Kota Medan).Tesis ini bertujuan untuk mengetahui identitas anak punk yang telah bekerja di kantoran, untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong sebagian anak punk di komunitas Punks memilih untuk bekerja dikantoran dan mengetahui pengembangan hubungan dan anak punk yang telah bekerja di kantoran dengan anak punk yang tidak bekerja pada komunitas Punks.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi antarpribadi, teori pengembangan hubungan, teori identitas diri, teori disonansi kognitif, interaksi simbolik dan teori dramaturgi.Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan studi observasi dan wawancara mendalam terhadap tiga orang informan.Tahapan pengelolahan data dimulai dari penelitian lapangan dan peneltian kepustakaan.Metode analisis data pada penelitian ini meliputi reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi data.Dari hasil penelitian peneliti menemukan bahwa identitas anak punk terdapat dua kategori identitas diri angggota komunitas punk, yaitu identitas diri saat bergabung dengan komunitas punks dan identitas diri anak punk telah bekerja dikantoran.Identitas diri tersebut terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal AR dan AD adalah lingkungan pertemanan, sedangkan AE karena masalah percintaan.

Faktor Internal AR, AE dan AE adalah kurangnya mendekatkan diri pada Tuhan.

Alasan anak punk memilih untuk bekerja di kantoran karena himpitan ekonomi.Pengembangan hubungan anak punk yang telah bekerja dengan yang belum bekerja pada komunitas punk adalah ditahap kontak, keterlibatan dan keakraban

Kata Kunci: Identitas, Anak Punk yang bekerja, Komunikasi AntarPribadi.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

IDENTITAS DIRI DALAM KOMUNITAS PUNKS

(STUDI KASUS IDENTITAS DIRI ANAK PUNKS YANG SUDAH BEKERJA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI ANTARPRIBADI PADA

KOMUNITAS PUNKS DI KOTA MEDAN)

1.1 . Latar Belakang Masalah

Manusia diciptakan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk lainnya. Manusia mempunyai akal, pikiran dan perasaan yang dapat digunakan untuk melakukan interaksi secara personal dengan sesamanya maupun membangun hubungan sosial dengan masyarakat dalam lingkungan interaksi masing-masing. Dalam setiap interaksi yang dilakukannya, manusia membutuhkan komunikasi untuk menyampaikan maksud dan keinginannya kepada orang lain. Tanpa komunikasi, maka manusia akan mengalami kesulitan dalam melangsungkan kehidupannya. Hal ini lah yang membuat manusia disebut sebagai makhluk yang unik, karena manusia memiliki kemampuan dalam menyampaikan gagasan, ide dan pendapat dalam proses komunikasi antar manusia (human communication).

(16)

Komunikasi manusia itu dapat dipahami sebagai interaksi antarpribadi melalui pertukaran simbol-simbol linguistik, misalnya simbol verbal dan non verbal. Seperti kata Mehrabian (1972) 55% dari komunikasi manusia dinyatakan dalam simbol non verbal, 38% melalui nada, dan 7% komunikasi yang efektif dinyatakan sebagai kata-kata. Simbol-simbol itu dinyatakan melalui sistem yang langsung seperti tatap muka atau media (tulisan, visual, aural). Melalui pertukaran simbol-simbol yang sama dalam menjelaskan informasi, gagasan dan emosi diantara mereka itulah akan lahir kesamaan pikiran, perasaan dan perbuatan (Liliweri, 2004: 6).

Komunikasi merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi untuk kontak sosial. Melalui komunikasi kita tumbuh dan belajar, menemukan pribadi kita dan orang lain, kita bergaul, bersahabat, bermusuhan, mencintai atau mengasihi orang lain, membenci orang lain dan sebagainya. Komunikasi sangat berpengaruh besar dalam melakukan suatu hubungan antarpribadi, begitu pula sebaliknya, karena apabila seseorang sudah dapat melakukan suatu komunikasi dengan baik dan efektif, maka orang tersebut akan semakin mudah dalam melakukan suatu hubungan antarpribadi. Apabila suatu hubungan antarpribadi sudah terjalin dengan baik, maka hal itu akan mempengaruhi sifat komunikasi yang dilakukan antara pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut.

(17)

Komunikasi antar pribadi juga ada pada dalam komunitas. Jika tidak ada komunikasi antarpribadi dalam suatu komunitas, tentu saja tidak ada asal usul bagaimana komunitas itu terbentuk, berkembang mulai dari satu individu berkembang dan merekrut banyak individu agar masuk dalam suatu komunitas.

Komunikasi antarpribadi bersifat transaksional, sebuah hubungan manusia yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Biasanya komunikasi itu bertujuan untuk mengelola hubungan bahkan sampai pada pembentukan identitas diri.

Hubungan antar pribadi yang berkelanjutan dan terus menerus akan memberikan semangat, saling merespon tanpa adanya manipulasi, tidak hanya tentang menang atau kalah dalam berargumentasi melainkan tentang pengertian dan penerimaan.

Komunikasi antarpribadi merupakan salah satu konteks atau tataran komunikasi. West & Turner (2009:28-31), ada 6 tataran komunikasi, yaitu komunikasi intrapribadi, antarpribadi, komunikasi kelompok, organisasi, komunikasi publik, dan komunikasi massa. Para ahli komunikasi, tampaknya, tidak mempunyai pandangan yang seragam tentang apa itu komunikasi antarpribadi. Maka, lahir pula macammacam definisi. Namun, aneka ragam pandangan itu dapat “diperas” menjadi dua kelompok, yakni antara mereka yang menganut contextual view dan mereka yang melihat komunikasi antarpribadi dari sudut developmental view.

(18)

Pandangan kontekstual (West dan Turner, 2009: 26) yang lebih unik lagi tentang KAP adalah definisi yang berikut “Interpersonal communication refers to communication with another person. This kind of communication is subdivided into dyadic communication, public communication, and small-group communication”. Dengan demikian, komunikasi dua orang (dyadic communication), komunikasi kelompok kecil dan komunikasi publik, semua, dikategorikan KAP.

Komunikasi antarpribadi adalah proses penyampaian panduan pikiran dan perasaan seseorang kepada seorang lainnya agar mengetahui, mengerti, atau melakukan kegiatan tertentu. Menurut Joseph Devito, "komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain, atau juga sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung". Dari inti ungkapan itu, Devito berpendapat bahwa "Komunikasi antarpribadi sebenarnya merupakan suatu proses sosial". Devito (dalam Liliweri, 1991: 130) memberikan ada 5 ciri-ciri komunikasi antar pribadi, untuk memudahkan atau memperjelas pengertiannya, seperti: 1. Openess (keterbukaan), 2. Emphaty (empati), 3. Supportiveness (dukungan), 4. Positiveness (rasa positif), 5. Equality (kesamaan). Proses penyampaian pikiran dan perasaan antar manusia sebagai kebutuhan antarpribadi bukan pengalihan ide yang bebas dari hambatan komunikasi, dengan latar belakang pribadi, kebiasaan, dan konsep diri yang antara satu orang dengan yang lainnya, di mana proses ini akan lebih efektif bila berlangsung secara tatap muka.

Identitas diri adalah susunan gambaran diri sebagai seseorang. Teori- teori yang berfokus pada pada pelaku komunikasi akan selalu membawa identitas diri ke sejumlah tingkatan, tetapi identitas berada dalam lingkup budaya yang luas dan manusia berbeda dalam menguraikan diri. Misalnya di Afrika, identitas sering kali dipahami sebagai sebuah hasil dari pencarian keseimbangan dalam hidup dan sebagian bergantung pada kekuatan yang didapatkan manusia dari leluhur mereka.

Di Asia, identitas sering kali didapatkan bukan melalui usaha perorangan, tetapi melalui kelompok dan timbal balik antar manusia. Dalam budaya Yunani, identitas dipahami sebagai sesuatu yang bersifat pribadi dan seseorang melihat diri bertentangan atau berbeda dengan identitas lain (LittleJhon, 2011: 130).

Elkind (dalam Papalia, E.Diane, Sally Wendkosw Olds & Ruth Duskin Feldman, 2001: 425) menjelaskan bahwa saat ini perkembangan kognitif orang dewasa sudah siap untuk membuat gagasan teori tentang diri pribadi. Individu dikatakan sampai pada tahap “menemukan identitas” bilamana ia sudah sukses mencapai rasa identitas dalam berbagai bidang di kehidupannya, seperti pada bidang ideologi, agama, politik, hubungan dengan orang lain dan pekerjaan.

Tahap perkembangan identitas diri akan bergerak dari tahap satu ke tahap berikutnya atau dengan kata lain dari status satu ke status berikutnya.

(19)

Begitu juga anak punk yang setiap interaksinya tidak luput dari komunikasi antarpribadi dan identitas diri. Public United Nothing Kingdom atau yang lebih dikenal dengan singkatan PUNK adalah sebuah nama untuk sebuah gerakan yang berasal dari London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan Punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Gerakan yang pada awalnya mewakili pemberontakan masyarakat kelas bawah dalam menentang semua peraturan kerajaan yang tidak berpihak kepada mereka dengan gaya hidup dan cara mereka sendiri. Namun itu hanya sedikit cerita lama, karena punk telah berubah dan berkembang seiring perubahan zaman.

Punk memang berasal dari Inggris namun mulai menampakkan wujudnya di Amerika pada era delapan puluhan. Saat itu menjadi momen kebangkitan kaum muda seperti Amerika untuk menentang semua hal yang menurut mereka tidak sesuai dan merugikan masyarakat, banyaknya korupsi serta masalah sosial lain di lingkungan masyarakat Amerika kala itu. Berbagai cara dilakukan untuk melakukan aksi agar didengar dan dilihat dunia, mulai musik dan kesenian lainnya, hingga gaya hidup. Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi.

(20)

Asal Usul Dan Ideologi Punk (dalam Dick Hebdige, 2002: 192) menggambarkan punk sebagai subkultur pemuda kelas pekerja sebagai tanggapan munculnya komunitas kulit hitam yang cukup besar di inggris. Hal ini tidak terlepas dari sejarah hidup sosial ekonimi inggris, identitas rasial di inggris, politik dan budaya di inggris. memandang punk masa kini tengah menghadapi dua bentuk perubahan antara lain bentuk komoditas dalam hal ini antribut dan assesoris yang dipakai oleh subkultur punk telah dimanfaatkan oleh industri sebagai barang dagangan yang di distribusikan kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan.

Generasi muda yang tergabung dalam komunitas punk merasa menemukan konsep dan pemikiran mereka terhadap gaya unik dan khas yang ditonjolkan oleh punk. Komunitas punk di Indonesia sangat diwarnai oleh budaya dari barat atau Amerika dan Eropa. Biasanya perilaku mereka terlihat dari gaya busana yang mereka kenakan seperti sepatu boots, potongan rambut mohawk ala suku Indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker (Marshall, 2005: 28).

(21)

Dari segi ideologis punk merupakan ideologi yang mencangkup aspek sosial dan politik. Ideologi mereka dahulu sering di kaitkan dengan perilaku- perilaku yang menyimpang yang di lakukan oleh anak punk. Berbagai perilaku punk yang di anggap menyimpang telah di dokumentasikan dalam media massa sehingga membuat identitas punk dibalik assesoris yang melekat pada tubuhnya dipandang sebagai seorang yang berbahaya atau berandalan. Punk sebagai subkultur telah membentuk suatu bangunan baru yang berbeda dengan budaya induk yang di anut oleh kaum muda sejak awal kemunculanya di inggris sampai sekarang. Nilai - nilai yang menjadi substansi punk sebagai subkultur tetap di yakini oleh anggotanya, walaupun punk telah berganti generasi, akan tetapi sebagai subkultur, nilai-nilai dan eksistensi punk masih di pertahankan hingga sekarang (http:www.universitassurakarta.co.id//jurnal sosialitavol2).

Punk berbicara tentang kebebasan berfikir dan bertindak, dengan kata lain mau mandiri dan menjadi diri sendiri. Do It Your Self itulah semangat yang dijunjung tinggi kaum punk sampai sekarang dimanapun mereka berada. Karena mereka menganggap sebuah kemandirian adalah harga mati untuk bisa bertahan menjalani kehidupan. Semua aksi diwujudkan dengan cara mereka sendiri, sesuai dengan potensi yang dimiliki. Banyak cara-cara kreatif dan inovatif yang dilakukan agar memperoleh perhatian, bukan hanya berteriak kosong tanpa melakukan apa- apa.

Melalui musik, punk menemukan kendaraan untuk semakin mendunia.

Ada banyak musisi beraliran punk, dengan berkarya suka-suka meneriakan semangat juang dan menyindir apa saja yang tidak sesuai. Mereka tidak takut karyanya tidak dilirik label rekaman besar, karena mereka mampu memproduksi dan memasarkan karya mereka. Semua hal dikerjakan sendiri, tidak tergantung sponsor dan donatur. Mereka berdiri di dalam komunitas-komunitas yang membuat mereka besar dan melakukan kegiatan yang menghasilkan agar mampu untuk berbuat banyak. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang- kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak. Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka.

Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang

(22)

Sebab kaum kapitalis adalah kaum pemalas dan tidak kreatif, karena menganggap semuanya bisa dibeli dengan uang yang mereka miliki, sementara punk sangat bertolak belakang dengan hal itu. Kaum punk adalah manusia pekerja keras yang mau berusaha untuk mewujudkan semua yang menjadi mimpinya dengan tangannya sendiri. Menjadi diri sendiri untuk bisa dihargai, dan mau bangkit mandiri untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan beradab yang dilakukan mereka hingga saat ini (www.wordpress.com).

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker. Kalau hanya melihat dari penampilan dan pola hidup, mohawk, piercing, anting, tato dan celana jeans ketat bukan lagi identitas punk saat ini. Karena itu sudah menjadi milik dunia mode dan fashion. Banyak dari kaum kapitalis yang memakai mode itu saat ini, sedangkan punk menolak kemapanan dan kapitalisme. Bahkan gaya anak punk sudah juga digemari oleh aktor dunia baik acara resmi maupun tidak resmi mereka menggunakan fashion ala punk.

(23)

Di Indonesia sendiri, perkembangan komunitas punk yang mulai marak pada pertengahan tahun 1998, pasca rezim Soeharto mencatat prestasi yang luar biasa. Konon komunitas punk di Indonesia merupakan komunitas dengan populasi terbesar di dunia. Profane Existence, sebuah Fanzine asal Amerika menulis negara dengan perkembangan punk yang menempati peringkat teratas di muka bumi adalah Indonesia dan Bulgaria. Sejak dulu, fenomena punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan masalah bahwa anak-anak punk tidak lebih dari sekedar sampah masyarakat. Mereka dianggap tidak lebih dari kumpulan remaja yang memiliki latar belakang keluarga yang “broken home” lalu menjadikan gaya hidup tersebut sebagai semacam ‘pelarian’.

Punk di Indonesia memang muncul dari beberapa kelas sosial di masyarakat. Dari kelas bawah, dia benar-benar berwujud anak-anak jalanan yang hidup di pinggir jalan, tidur di trotoar, nongkrong di pom bensin, tidak pernah mencicipi mandi apalagi gosok gigi. Kerjaan sehari-hari mereka biasanya mengamen, jualan koran, atau aktivitas lain yang bisa menghasilkan uang recehan di setiap persimpangan traffic light. Mereka (punk) yang di kelas sosial ini adalah orang yang sangat miskin hidupnya. Jika hari itu tidak mengamen, maka hari itu pula mereka tidak makan. Selain itu, kehidupan mereka juga sangat dekat dengan peluang-peluang melakukan kriminalitas di jalanan, alkohol, rokok dan mabuk dengan menghirup lem.

(24)

Contohnya adalah kasus komunitas anak punk yang terjadi di Bandung.

Komunitas yang satu ini memang sangat berbeda dan unik. Komunitas anak punk merupakan bagian dari kehidupan dunia underground. Mereka tidak hanya sekedar sekelompok anak muda dengan busana yang ekstrim, hidup di jalanan dan musik yang keras, tetapi yang mendasar adalah mereka mempunyai ideologi politik dan sosial. Kehadiran mereka adalah perlawanan terhadap kondisi politik, sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat. Salah satunya, seperti terlihat pada pesan politik yang dicoretkan anak punk Bandung di tembok kantor di simpang jalan Merdeka dan jalan R.E. Martadinata, “Bubarkan Negara” , “Pemerintah = Racun” , “Negara = Racun”, dan “Keraskan Kepala”. Pesan-pesan yang mengerikan, seperti pernah digulirkan Carl Marx, yang membuat bulu kuduk berdiri. Mereka akan terus berjuang dan mengobarkan slogan, ”punk not dead”.

Punk tidak mati. Punk akan selalu hidup selama politik ada di muka bumi ini.

Punk akan hidup selama penindasan belum berakhir. Selama ada kesenjangan dalam masyarakat, ketidak adilan, pengekangan kreativitas, perampasan hak-hak, punk akan tetap ada.

Contoh kasus lain terjadi d Aceh tahun 2011 lalu. Polisi Syariah Aceh merazia lebih dari 65 anak punk ketika sedang menonton konser.

Anak Punk yang terjaring razia digunduli paksa dan tindikan dicopot. Tindakan Polisi Syariah Aceh ini untuk merespon keluhan dari masyarakat yang merasa resah karena kehadiran mereka yang dianggap mempengaruhi anak muda Aceh untuk mengikuti stylenya, Tindakan Polisi Syariah Aceh waktu itu ramai menjadi sorotan media internasional. Di Indonesia tidak jelas aliran punk mulai kapan masuk, tetapi disinyalir dari pemberitaan di media serta musik. Kalau tidak ada media dan musik, punk mungkin akan terkurung dalam dunia mereka sendiri dan kita juga tidak akan mengenal apa itu punk. Menjamurnya anak punk yang lebih terkenal punkers di Indonesia ini tidak terlepas dari dua faktor yang fundamental yaitu faktor sosial dan faktor ekonomi. Adapun faktor yang pertama yaitu faktor sosial, dapat dilihat munculnya “gap” atau jurang pemisah antara si kaya dan si

miskin yang biasa disebut kesenjangan sosial

(http://www.analisadaily.com/yearrypanji ).

Di Kota Medan keberadaan anak-anak punk di persimpangan jalan Kota Medan kian meresahkan. Pasalnya, anak-anak punk beberapa kali mengganggu pengguna jalan dengan cara mengamen secara bergerombol lalu meminta imbalan secara paksa. Bahkan, sebagian besar anak punk di jalan dalam kondisi setengah

‘teler’ akibat mengkonsumsi narkoba hingga menghirup lem kambing.

Keberadaan anak punk di persimpangan jalan sudah mengganggu pengguna jalan.

Mereka kadang-kadang melakukan tindakan tidak terpuji seperti merusak kendaraan dengan cara menggores dinding mobil bila tidak diberi uang. Seperti yang terjadi di simpang jalan Titi Kuning, Simpang jalan Jamin Ginting depan R.S.Siti Hajar, jalan Yos Sudarso, jalan Listrik dan lain sebagainya. Meskipun hal ini telah ditangani Dinas Sosial, bahkan diamankan oleh polisi, tetapi mereka tidak terealisasi sepenuhnya. Terus menerus muncul mempertahankan keberadaan mereka (http://www.sumutpos.co.id).

(25)

Perjalanan komunitas punk di kota Medan cukup memiliki catatan yang panjang. Budaya ini dibawa oleh anak-anak Kota Medan yang sekolah atau berkunjung dari Pulau Jawa dan akhirnya meluas sampai ke pinggiran Kota Medan. Tanjung Morawa adalah salah satu kota yang memiliki kelompok yang sudah lama eksis dan merupakan pelopor penyebaran budaya punk di Kota Medan. Salah satu kelompok awal di Kota Medan tidak lepas dari nama INALUM brotherhood,walaupun kelompok itu sudah tidak ada lagi sekarang. Punkers yang dulunya tergabung dan terlibat aktif dalam kelompok tersebut masih ada yang bertahan mencoba untuk tetap menjalani kehidupan punk sampai sekarang (Newkicks, 2010: 15).

Punk yang ada di Kota Medan tidak ubahnya hanya sekedar musik atau fashion. Kelompok punk yang terusir dari masyarakat dianggap sampah, dinilai menyimpang, membuat punkers membentuk kelompok baru untuk berlindung.

Solidaritas kelompok ini sangat penting untuk bertahan hidup. Dalam menjalankan kehidupannya, punk sangatlah memegang teguh gaya kolektif hidup.

Semua untuk satu, satu untuk semua. Sehingga dapat dikatakan solidaritas hidup mereka di dalam kelompoknya sangat tinggi. Berkumpul dan sering disebut dengan “nongkrong” merupakan aktivitas wajib yang seolah tak perlu ada aturan yang baku dalam menjalankannya. Hidup berkelompok dan tinggal di jalanan tanpa tempat tinggal tetap merupakan salah satu bentuk pemberontakan mereka.

Generasi muda yang tergabung dalam komunitas punk merasa menemukan konsep dan pemikiran mereka terhadap gaya unik yang khas yang ditonjolkan mereka (Newkicks, 2010: 15).

(26)

Kasus yang telah terjadi ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti dan mengetahui tentang anak punk secara mendalam. Mereka ada sejak tahun 2000 dan sering nongkrong di persimpangan jalan Kota Medan seperti Titi Kuning, simpang Sekip, simpang Dr.Mansur dan lain sebagaianya. Ciri khas mereka adalah kuku dicat berwarna hitam, rambut dicat dengan cat semprot, memakai gelang berduri, menindik hidung dan kuping mereka, mengenakan sepatu boots hitam, kaos hitam, serta atribut-atribut lain berwarna hitam. Komunitas punk memiliki rasa solidaritas yang tinggi antar sesama mereka dan kedekatan secara pribadi terjalin seiring dengan waktu.

Di kota Medan terdapat tiga aliran punk, yaitu Nazy, SKA, dan Punks.

Nazy adalah aliran punk yang sangat anarki yaitu menyukai segala bentuk tindakan kekerasan, SKA adalah kumpulan anak punk dengan tingkat ekonomi diatas menengah dan sangat tertutup untuk siapa pun, dan yang terakhir adalah Punks dimana pada komunitas inilah peneliti melakukan penelitian terhadap masing-masing individunya yang bekerja dikantoran. Komunitas punks ini lebih demokrasi dan terbuka untuk siapa saja asal kita tidak mengganggu kehidupan dan kebebasan mereka. Nama komunitas punks ini berasal dari kata punkers yaitu kumpulan komunitas punk yang lebih demokratis. Jadi menyebutkan komunitas mereka adalah punks bukan punk.

(27)

Mereka paham betul tentang apa itu punk yang berasal dari Inggris, hal ini diturunkan melalui anak punks terdahulu sebelum mereka ada, selain itu juga mereka sering menonton youtube untuk mengetahui apa itu punk yang sesungguhnya. Mereka menamakan komunitas punk ini dengan nama punks yang bertujuan pencinta damai serta menyampaikan aspirasi melalui kreativitas seperti gambar dan tato di tubuhnya. Sifat komunitas ini sebenarnya baik, mereka tidak suka menganggu masyarakat sekitar tetapi mereka tidak suka diganggu, jika mereka diganggu maka mereka akan menyerang. Pada komunitas ini pula mereka beajar memahami satu sama lain, dan menganggap ini adalah sekolah alam liar di mana mereka melihat dan mengamati setiap perkembangan pemerintah, sebagai anti pemerintahan. Mereka menganggap pemerintahan itu seperti seekor babi, yang artinya babi itu kesehariannya hanya diberi makan saja, tetapi tidak mampu berfikir, terus menerus menjalani hidup seperti itu, tanpa adanya perubahan.

Komunitas punks ini semua kalangan bebas ikut di dalamnya, tanpa harus diperlakukan kasar jika ingin bergabung di komunitasnya, seperti dikencingi, diludahi dan lain sebaginya seperti kasus-kasus punk yang sering terjadi. Mereka bergabung atas keinginan individu masing-masing. Latar belakang kehidupan mereka kebanyakan berasal dari keluarga yang bercerai dan faktor ekonomi.

Mereka tidak suka dianggap sebelah mata, karena mereka menganggap mereka paham betul apa itu ideologi bangsa. Mereka sangat benci dengan pemerintahan rezim Soeharto sampai rezim pemerintahan SBY, karena menganggap mereka adalah orang-orang yang merugikan bangsa yang bertujuan untuk memperkaya diri mereka sendiri. Mereka lebih senang dengan sosok Soekarno, karena menurut mereka sosok Soekarno ada maka Indonesia ini ada. Soekarno mampu

(28)

membentuk Indonesia ini berharga di mata dunia, sedangkan yang lain merusak perjuangan Soekarno. Hal ini tidak luput juga dari anting yang mereka kenakan.

Makna anting yang mereka kenakan adalah sebagai tanda rasa sakitnya akibat tidak adanya perubahan sistem pemerintahan menjadi lebih baik. Jadi semakin banyak tindik pada tubuh mereka, maka sebanyak itu pula rasa sakit mereka akibat korban ketidakadilan pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya. Dalam komunitas ini sebagian anak punk sudah bekerja di kantoran bahkan ada yang sedang duduk di bangku kuliah. Mereka bukan hanya bekerja sebagai pengamen, tukang sablon, penarik becak dan lain sebagainya.

Alasan peneliti meneliti kasus ini dengan metode studi kasus, adalah untuk mengetahui bagaimana ciri-ciri dan identitas anak punk yang telah bekerja.

Karena anak punk jarang sekali bekerja dikantoran, selalu bekerja sebagai pengamen, tukang sablon dan lain sebagainya. Pada penelitian ini hanya tiga orang informan yang diteliti oleh peneliti, karena dari 50-an anak punks yang aktif hanya tiga informan sebagai data jenuh.

(29)

1.2. Fokus Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

“Bagaimana Identitas Diri Anak Punk yang Sudah Bekerja pada Komunitas Punks di Kota Medan?”

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah hasil akhir yang ingin dicapai melalui penelitian yang dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk:

1) Mengetahui identitas anak punk yang telah bekerja dikantoran.

2) Mengetahui faktor-faktor yang mendorong sebagian anak punk di komunitas Punks memilih untuk bekerja dikantoran.

3) Mengetahui pengembangan hubungan dan anak punk yang telah bekerja di kantoran dengan anak punk yang tidak bekerja pada komunitas Punks.

(30)

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat disumbangkan kepada FISIP USU khususnya Magister Ilmu Komunikasi, dalam rangka memperkaya bahan penelitian dan sumber bacaan.

2) Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menambah dan memperluas wawasan peneliti mengenai kajian komunikasi antarpribadi sebagai salah satu kajian dalam ilmu komunikasi.

3) Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan yang positif bagi pihak yang terkait.

(31)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Paradigma Konstruktivisme

Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivisme yang diharapkan dapat menggambarkan hubungan interaksi sosial di dalamnya. Konstruktivisme, satu di antara paham yang menyatakan bahwa positivisme dan postpositivisme merupakan paham yang keliru dalam mengungkapkan realitas dunia. Karena itu, kerangka berpikir kedua paham tersebut harus ditinggalkan dan diganti dengan paham yang bersifat konstruktif. Paradigma ini muncul melalui proses yang cukup lama setelah sekian generasi ilmuwan berpegang teguh pada paradigma positivisme. Konstruktivisme muncul setelah sejumlah ilmuwan menolak tiga prinsip dasar positivisme: (1) ilmu merupakan upaya mengungkap realitas; (2) hubungan antara subjek dan objek penelitian harus dapat dijelaskan; (3) hasil temuan memungkinkan untuk digunakan proses generalisasi pada waktu dan tempat yang berbeda.

Pada awal perkembangannya, paradigma ini mengembangkan sejumlah indikator sebagai pijakan dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu. Beberapa indikator itu antara lain: (1) penggunaan metode kualitatif dalam proses pengumpulan data dan kegiatan analisis data; (2) mencari relevansi indikator kualitas untuk mencari data lapangan; (3) teori-teori yang dikembangkan harus bersifat natural (apa adanya) dalam pengamatan dan menghindarkan diri dengan kegiatan penelitian yang telah diatur dan bersifat serta berorientasi laboratorium; (5) pola-pola yang diteliti dan berisi kategori-kategori jawaban

(32)

menjadi unit analisis dari variabel-variabel penelitian yang kaku dan steril; (6) penelitian lebih bersifat partisipatif dari pada mengontrol sumber-sumber informasi dan lain-lainnya (Muslih, 2004: 34).

Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Deli dan rekan-rekan sejawatnya.

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya.

Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2009:107)

Secara ontologis, paradigma ini menyatakan bahwa realitas bersifat sosial dan karena itu akan menumbuhkan bangunan teori atas realitas majemuk dari masyarakatnya. Dengan demikian, tidak ada suatu realitas yang dapat dijelaskan secara tuntas oleh suatu ilmu pengetahuan. Realitas ada sebagai seperangkat bangunan yang menyeluruh dan bermakna yang bersifat konfliktual dan dialektis.

Karena itu, paham ini menganut prinsip relativitas dalam memandang suatu fenomena alam atau sosial. Jika tujuan penemuan ilmu dalam positivisme adalah untuk membuat generalisasi terhadap fenomena alam lainnya, maka konstruktivisme lebih cenderung menciptakan ilmu yang diekspresikan dalam bentuk pola teori, jaringan atau hubungan timbal balik sebagai hipotesis kerja, bersifat sementara, lokal dan spesifik. Dengan pernyataan lain, bahwa realitas itu merupakan konstruksi mental, berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukannya. Karena itu suatu realitas

(33)

yang diamati seseorang tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang seperti yang biasa dilakukan kalangan positivis atau postpositivis.

Sejalan dengan itu, secara filosofis, hubungan epistemologis antara pengamatan dan objek, menurut aliran ini bersifat suatu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi di antara keduanya. Sementara secara metodologis, paham ini secara jelas menyatakan bahwa penelitian harus dilakukan di luar laboratorium, yaitu di alam bebas secara sewajarnya (natural) untuk menangkap fenomena alam apa adanya dan secara menyeluruh tanpa campur tangan dan manipulasi pengamat atau pihak penelitian. Dengan setting natural ini, maka metode yang paling banyak digunakan adalah metode kualitatif daripada metode kuantitatif.

Suatu teori muncul berdasarkan data yang ada, bukan dibuat sebelumnya, dalam bentuk hipotesis bagaimana dalam penelitian kuantitatif. Untuk itu pengumpulan data dilakukan dengan metode hermeneutik dan dialektik yang difokuskan pada konstruksi, rekonstruksi dan elaborasi suatu proses sosial.

Metode pertama dilakukan melalui identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat dari orang-perorang, sedangkan metode kedua mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan pendapat dari orang-perorang yang diperoleh melalui metode pertama untuk memperoleh suatu konsensus kebenaran yang disepakati bersama. Dengan demikian, hasil akhir dari suatu kebenaran merupakan perpaduan pendapat yang bersifat reflektif, subjektif dan spesifik mengenai hal-hal tertentu.

(34)

Ditemukannya paradigma konstruktivisme ini dapat memberikan alternatif paradigma dalam mencari kebenaran tentang realitas sosial, sekaligus menandai terjadinya pergeseran model rasionalitas untuk mencari dan menentukan aturan- aturan ke model rasionalitas praktis yang menekankan peranan contoh dan interpretasi mental. Konstruktivisme dapat melihat warna dan corak yang berbeda dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya disiplin ilmu-ilmu sosial, yang memerlukan intensitas interaksi antara penelitian dan objek yang dicermati, sehingga akan berpengaruh pada nilai-nilai yang dianut, etika, akumulasi pengetahuan, model pengetahuan dan diskusi ilmiah (Muslih, 2004: 35-36).

2.2. Kajian Terdahulu

Adapun kajian-kajian yang pernah dilakukan yang berkaitan dengan tema penelitian adalah sebagai berikut:

1) Penelitian sebelumnya yang berjudul Identitas Diri Anggota Komunitas Punk di Bandung, tesis oleh Dian Maria Sari, berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga kategori identitas diri angggota komunitas punk, yaitu identitas diri yang masih menjadi anggota komunitas punk, identitas diri yang mulai merasa jenuh dan bimbang dalam komunitas punk, dan identitas diri anggota komunitas punk yang sudah insaf. Identitas diri tersebut terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berasal dari pola asuh orangtua, dan faktor internal berasal dari latar belakang subjek.

(35)

Identitas diri anggota komunitas punk di Bandung yaitu ingin menutupi ketidakpuasan atau ketidakberdayaan hidup maupun perasaan inferior mereka dalam bentuk penampilan yang superior dan unik di mata masyarakat. Anggota komunitas punk tersebut juga ingin mengekspresikan kemarahannya melalui suatu simbolisme berupa atribut bergaya punk dan pemikiran-pemikiran ideologi anti- kemapanan. Hal tersebut merupakan suatu bentuk kompensasi diri anggota komunitas punk untuk menutupi kemarahan dan rasa frustasi dari ketidakpuasan terhadap sistem yang telah diterapkan baik oleh orangtua maupun masyarakat (http://www.eprints.undip.ac.id).

2) Penelitian berjudul Konsep Diri Remaja Punk, skripsi oleh Ulfa Amalia, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri remaja punk. Masa remaja merupakan masa transisi, keadaan emosi remaja belumlah stabil. Idealnya seorang remaja dapat menjaga sikap dan berperilaku sesuai nilai moral yang ada di masyarakat, karena bagaimanapun remaja adalah generasi penerus bangsa. Namun saat ini, problem sosial yang sering muncul adalah remaja lebih senang berkelompok atau membentuk peers group, di mana rasa solidaritas remaja dituntut di dalam kelompok tersebut. Peran yang diukur dalam kelompok sebaya sangat berpengaruh terhadap pandangan individu mengenai dirinya sendiri atau konsep dirinya.

(36)

Saat ini di Yogyakarta bermunculan anak muda yang tergabung dalam suatu kelompok yang mereka namakan dengan kelompok punk dengan gaya yang khas dengan rambutnya yang Mohawk, atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot, kaos hitam, jaket kulit penuh badge, tindik (piercing) di hidung, bibir, telinga, alis dan tato. Mereka berkumpul dengan teman-teman sesama punk hingga larut malam bahkan sampai pagi hari, sekedar bermain gitar, merokok, minum-minuman keras, ngamen, mereka tidak mengetahui apakah yang mereka lakukan sesuai dengan pribadinya, yang mereka inginkan adalah menjadi punkers seumur hidupnya.

Subjek penelitian ini adalah remaja punk yang memiliki karakteristik yaitu berusia antara 13-19 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berasal dan tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Subyek penelitian berjumlah lima informan penelitian, yang merupakan orang-orang yang dekat dan mengenal baik subjek penelitian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis dengan metode pengambilan data adalah wawancara mendalam.

Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dengan penandaan/pengkodean (coding). Dari hasil wawancara didapatkan gambaran mengenai konsep diri remaja punk, di mana konsep diri mereka dipengaruhi dari dalam maupun lingkungan luar dirinya Dalam penelitian ini juga diketahui latar belakang dan dampak yang ditimbulkan dengan menjadi remaja punk, serta nilai- nilai positif yang dimiliki remaja punk. Rincian mengenai hasil penelitian dideskripsikan dalam laporan penelitian ini (http://www.naskah- publika.psychologi.uii.ac.id).

(37)

3) Penelitian berjudul Keberadaan Komunitas Punk di Kota Bukit Tinggi, skripsi oleh Jhoni Akbar. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa perilaku komunitas punk yang berada di kota Bukit Tinggi dapat dilihat dari segi pengetahuan, sikap dan tindakan semua anggotanya. Dari segi pengetahuan, mereka sangat mengetahui dan memahami ideologi-ideologi yang dimiliki punk secara umum. Dari segi sikap, mereka menghayati dan menilai bahwa tidak semua ideologi dapat diterima, akan tetapi juga memikirkan kemampuannya di dalam menerapkan ideologi tersebut.

Segi tindakan, penerapan ideologi tersebut dapat dilihat dalam hal penampilan dan asesoris yang dipakai serta kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, seperti mengamen, berkumpul-kumpul, meminum tuak, tidur di emperan-emperan toko, bergaul bebas, jalan-jalan ke luar daerah dengan cara estafet, menato dan menindik. Sedangkan faktor-faktor yang mendorong keberadaan komunitas punk di kota Bukit Tinggi dapat dilihat dari faktor eksternal dan internal. Dari faktor eksternal, seperti adanya proses perekrutan anggota yang dilakukan oleh komunitas punk secara terus menerus, anarkisme komunitas punk yang kuat, dan keberadaan anggota komunitas punk itu sendiri. Dari faktor internal, seperti ketertarikan anggotanya terhadap penampilan dan kesesuaian dengan ideologi yang dimiliki oleh komunitas punk dan kemauan dari diri sendiri untuk berada di jalanan (http://ww.repository.unand.ac.id).

(38)

4) Penelitian selanjutnya berjudul Busana dalam lingkup kelompok punk, reggae dan black metal di Surakarta, skripsi oleh Yudhistira Ardi Nugroho.

Dalam penelitian ini objek yang diteliti adalah pengembangan busana kelompok budaya “Punk”, “Reggae” dan “Blackmetal” di Surakarta. Selain memperlihatkan aspek historis penciptaan busana penelitian ini menekankan pada aspek-aspek simbolis dan filosofis yang dikandung dalam perwujudan busananya.

Berdasarkan wujudnya busana kelompok budaya kawula muda “Punk”,

“Reggae” dan “Blackmetal” diciptakan atas dasar konsep ‘anti kemapanan’

seperti latar belakang munculnya kelompok budaya “Punk” yang muncul sebagai bentuk melawan arus kemapanan menurut faham kapitalisme. Konsep ‘anti kemapanan’ melahirkan tata busana yang jauh dari estetis di mata masyarakat awam. Meskipun secara tampilan visual tata busana tidak estetis namun telah terbukti fashion “Punk”, “Reggae” dan “Blackmetal” telah menjadi bagian dari kehidupan kawula muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, maka data yang diperoleh diolah dan dianalisis melalui cara kualitatif.

Proses dalam penelitian ini mencakup tiga alur kegiatan yang dilakukan secara bersamaan, yaitu reduksi (seleksi) data, pengujian data dan penarikan kesimpulan. Perwujudan busana “Punk”,“Reggae” dan “Blackmetal” merupakan cerminan dari kehidupan sosial budaya dan falsafah hidup anak muda kalangan bawah. Simbolisasi dapat digambarkan melalui busana dan aksesoris. Berdasarkan pemikiran yang melatarbelakangi penciptaan busana “Punk”, dapat disebutkan tata rambut “Mohawk” adalah lambang keberanian, sepatu boots dan bahan jeans yang dipakai adalah simbol dari kelas buruh, aksesoris dari logam dan rantai adalah alat pertahanan diri. Dalam busana “Reggae” tata rambut dreadlock atau

(39)

rambut gimbal adalah penyatuan dengan alam dan keyakinan dalam ajaran

“rastafara“. Sementara dalam busana “Blackmetal” seperti setan menjadi pesan bahwa manusia bisa tidak ada bedanya dengan setan. Pakaian serba hitam dan lambang-lambang setan yang dikenakan menjadi peringatan bagi manusia terhadap kematian dan kegelapan (http://www.eprints.uns.ac.id).

5) Penelitian berjudul Tanggapan Masyarakat terhadap Perilaku Budaya Anak Punk di Kota Medan, skripsi oleh Fransiskus B.Marbun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan masyarakat Lingkungan II Kelurahan Sei Kambing C II – Medan Helvetia, terhadap perilaku budaya anak punk di Kelurahan tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi antar budaya, dan perilaku budaya. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan penyebaran kuesioner kepada sejumlah responden sebanyak 72 orang. Jumlah sampel didapat dengan menggunakan rumus Arikunto, dengan cara mengambil 20% dari total populasi sebanyak 362 orang.

Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tunggal. Tahapan- tahapan dalam pengelolahan data dimulai dengan penomoran kuesioner, editing, coding, inventarisasi tabel, dan tabulasi data. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini berpendapat bahwa perilaku budaya anak punk dinilai kurang menarik dan terkesan negatif di mata masyarakat. Sebagian besar responden dalam penelitian ini menanggapi bahwa perilaku budaya anak punk merupaka perilaku budaya

(40)

yang menyimpang dan masih menganggap bahwa budaya yang diadopsi oleh anak punk tersebut adalah hal yang sangat berbeda dengan budaya yang ada pada masyarakat Indonesia pada umumnya (Fransiskus B. Marbun, 2012: 2-5).

2.3. Komunikasi Antarpribadi

2.3. Definisi Komunikasi Antarpribadi

Para ahli teori komunikasi mendefinisikan komunikasi antarpribadi secara berbeda-beda (Bochner,1978;Cappella, 1987;Miller, 1990) (dalam Devito, 2011:

252) ada tiga definisi pendekatan utama yaitu : A.Definisi Berdasarkan Komponen (Componential)

Definisi berdasarkan komponen menjelaskan komunikasi antarpribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera.

B.Definisi Berdasarkan Hubungan Diadik (Relational dyadic)

Dalam definisi berdasarkan hubungan, kita mendefinisikan komunikasi antar pribadi sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas. Jadi misalnya, komunikasi antarpribadi meliputi komunikasi yang terjadi antara pramuniaga dan pelanggan, anak dan ayah, dua orang dalam suatu wawancara, dan sebagainya. Dengan definisi ini hampir tidak mungkin ada komunikasi diadik (dua orang) yang bukan komunikasi antarpribadi. Tidaklah mengherankan, definisi ini juga disebut sebagai definisi diadik. Hampir tidak terhindarkan, selalu ada hubungan antara dua orang. Bahkan seseorang asing di sebuah kota yang menanyakan arah jalan ke seseorang penduduk mempunyai hubungan yang jelas dengan penduduk itu segera setelah disampaikan. Ada kalanya definisi hubungan ini diperluas sehingga mencakup juga sekelompok kecil orang, seperti anggota keluarga atau kelompok yang terdiri atas 3 atau empat orang.

C. Definisi Berdasarkan Pengembangan (Developmental)

Dalam pendekatan pengembangan, komunikasi antarpribadi dilihat sebagai akhir dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat tak-pribadi (impersonal) pada suatu ekstrem menjadi komunikasi antarpribadi atau intim pada ekstrem yang lain. Perkembangan mengisyaratkan atau mendefenisikan pengembangan komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi ditandai oleh dan dibedakan dari komunikasi tak-pribadi berdasarkan data psikologis, pengetahuan dan aturan secara pribadi.

(41)

2.3.2. Fungsi Komunikasi Antarpribadi

Menurut Miller dan Steinberg, fungsi adalah sebagai tujuan di mana komunikasi digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Fungsi utama komunikasi ialah mengendalikan lingkungan guna memperoleh imbalan-imbalan tertentu berupa fisik, ekonomi dan sosial. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa komunikasi insani atau human communication baik yang non-antarpribadi maupun antarpribadi yang antar pribadi semuanya mengenai pengendalian lingkungan guna mendapatkan imbalan seperti dalam bentuk fisik, ekonomi, dan sosial. Keberhasilan yang relatif dalam melakukan pengendalian lingkungan melalui komunikasi menambah kemungkinan menjadi bahagia, kehidupan pribadi yang produktif. Kegagalan relatif mengarah kepada ketidakbahagiaan akhirnya bisa terjadi krisis identitas diri (Budyatna, 2011: 27).

Imbalan ialah setiap akibat berupa perolehan fisik, ekonomi dan sosial yang dinilai positif. Uang sebagai akibat perolehan ekonomi yang dinilai positif.

Jika seorang pegawai berhasil mengendalikan perilaku atasannya, seperti rajin, prestasi kerja baik, dan jujur, maka menurut logikanya ia akan memperoleh kenaikan upah atau gaji. Inilah yang disebut imbalan dalam bentuk ekonomi berupa uang. Sedangkan atasannya juga mendapatkan imbalan dalam bentuk sosial berupa kepuasan karena ia merasa puas akan kinerja bawahannya yang baik. Demikian pula jika seorang sales mampu mengendalikan reaksi pelanggannya yaitu mau membeli produk yang ditawarkannya, maka ia akan memperoleh imbalan dalam bentuk ekonomi berupa komisi dari perusahaannya.

Imbalan berupa hal-hal yang menyenangkan seperti atasan tadi yang bukan berupa

(42)

terima kasih kepada pihak lain. Rasa puas kalau kita dapat menolong orang dalam kesusahan sebagai imbalan dalam bentuk sosial.

Kita dapat membedakan pengendalikan lingkungan dalam dua tingkatan, yaitu:

1) Hasil yang diperoleh sesuai dengan apa yang diinginkan yang dinamakan compliance.

2) Hasil yang diperoleh mencerminkan adanya kompromi dari keinginan semula bagi pihak-pihak yang terlibat, yang dinamakan penyelesaian konflik atau conflict resolution (Budyatna, 2011: 28).

2.3.3. Ciri-ciri Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi juga memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan komunikasi antarpribadi dengan model komunikasi lainnya, ada enam karakteristik komunikasi antarpribadi menurut Judy C. Pearson, yaitu:

1) Komunikasi antarpribadi dimulai dengan diri pribadi (self). Berbagai persepsi komunikasi yang menyangkut pengamatan dan pemahaman berawal dari diri kita, artinya dibatasi oleh siapa diri kita dan bagaimana pengalaman kita.

2) Komunikasi antarpribadi bersifat transaksional. Anggapan ini mengacu pada tindakan pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak menyampaikan dan menerima pesan.

3) Komunikasi antarpribadi mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi. Maksudnya komunikasi antarpribadi tidak hanya berkenaan berkomunikasi dan hubungan kita dengan partner tersebut.

4) Komunikasi antar pribadi mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang berkomunikasi.

5) Komunikasi antarpribadi melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu sama lain (interdependen) dengan isi pesan yang dipertukarkan, tetapi juga melibatkan partner dalam proses komunikasi.

6) Komunikasi antarpribadi tidak dapat diubah ataupun diulang, jika kita salah mengucapkan sesuatu pada partner kita maka mungkin kita dapat meminta maaf dan diberikan maaf, namun itu tidak berarti menghapus apa yang pernah kita ucapkan (Senjaya, 2005: 21).

(43)

Menurut Devito ada 5 ciri-ciri komunikasi antarpribadi yang umum yaitu sebagai berikut:

1) Keterbukaan (Openess)

Komunikator dan komunikan saling mengungkapkan ide atau gagasan bahkan permasalahan secara bebas dan terbuka tanpa ada rasa malu.

Keduanya saling mengerti dan memahami pribadi masing-masing.

2) Empati (Emphaty)

Komunikator dan komunikan merasakan situasi dan kondisi yang dialami mereka tanpa berpura-pura dan keduanya menanggapi apa-apa saja yang dikomunikasikan dengan penuh perhatian. Empati merupakan kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan orang lain.

Apabila komunikator atau komunikan mempunyai kemampuan untuk melakukan empati satu sama lain, kemungkinan besar akan terjadi komunikasi yang efektif.

3) Dukungan (Supportiveness)

Setiap pendapat atau ide serta gagasan yang disampaikan akan mendapatkan dukungan dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Dukungan membantu seseseorang untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan aktivitas serta meraih tujuan yang diharapkan.

4) Rasa Positif (Possitivenes)

Apabila pembicaraan antara komunikator dan komunikan mendapat tanggapan positif dari kedua belah pihak, maka percakapan selanjutnya akan lebih mudah dan lancar. Rasa positif menjadikan orang-orang yang berkomunikasi tidak berprasangka atau curiga yang dapat mengganggu jalinan komunikasi.

5) Kesamaan (Equality)

Komunikasi akan lebih akrab dan jalinan pribadi akan menjadi semakin kuat apabila memiliki kesamaan tertentu antara komunikator dan komunikan dalam hal pandangan, sikap, kesamaan ideologi dan lain sebagainya (Liliweri, 1991: 13).

(44)

2.3.4. Proses Komunikasi Antarpribadi

Berkomunikasi secara efektif memiliki arti bahwa komunikator dan komunikan memiliki pengertian yang sama tentang isi suatu pesan. Komunikasi antarpribadi dikatakan efektif apabila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan dan dalam proses komunikasi antarpribadi tersebut tercipta sebuah kebersamaan dalam makna yang secara langsung hasilnya dapat diperoleh, jika peserta komunikasi cepat tanggap dan paham terhadap setiap pesan yang dipertukarkan. Selain itu, Menurut Steward L. Tubs dan Sylvia Moss (dalam Rakhmat, 2005: 133) menambahkan bahwa tanda-tanda komunikasi yang efektif setidaknya menimbulkan hal sebagai berikut:

1) Saling pengertian

2) Memberikan kesenangan 3) Mempengaruhi sikap

Komunikasi antarpribadi dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui media dan tatap muka. Meskipun demikian, yang dianggap paling sukses adalah komunikasi antarpribadi secara tatap muka, sebab dalam komunikasi antarpribadi yang dilakukan melalui tatap muka pengiriman pesan dan umpan baliknya dapat diamati secara langsung dengan melihat, mendengar, mencium, meraba dan merasa. Proses berkomunikasi antarpribadi menggunakan lambang-lambang sebagai media penyampaian pesan yaitu:

(45)

1) Lambang Verbal

Lambang verbal ini biasanya dalam bentuk bahasa, oleh karena itu, dengan bahasa seorang komunikator dapat mengunggkapkan pikirannya mengenai hal atau peristiwa, baik yang kongkrit maupun yang abstrak yang terjadi pada masa lalu, masa kini dan masa depan kepada komunikannya.

2) Lambang Non Verbal

Lambang Non Verbal adalah lambang yang dipergunakan dalam komunikasi yang berbentuk isyarat dengan menggunakan anggota tubuh seperti kepala, mata, jari dan lainnya.

Batasan komunikasi non verbal secara garis besar sebenarnya sebagai arah dari suatu gejala seperti setiap bentuk penampilan wajah dan gerak gerik tubuh seseorang sebagai suatu cara dan simbol dari statusnya, dengan isyarat non verbal seorang individu dapat memahami orang lain ketika orang lain tersebut berbicara atau menulis bahasanya untuk menyatakan sesuatu tentang dirinya (Rakhmat, 2005: 134).

Gambar

Tabel II

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi dengan judul “ Pemahaman Kehidupan Sosial Dalam Komunitas Punk (Studi Deskriptif Pada Komunitas Punk Mbalapan Secenester Street Punk) Di Kota Blitar ” yang

pada komunitas punk mbalapan secenester street punk) di kota Blitar adalah..

Judul Skripsi : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal Anak Komunitas Punk dengan Orang Tua Kandung (Studi pada Anak Komunitas Punk Jalan Sigura-Gura

Dari latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Konsep Diri Komunitas Anak Punk di Kota Bandung ”... 1.2

Respon masyarakat terhadap keberadaan anak punk di Kecamatan Ujung Berung yaitu komunitas punk meresahkan masyarakat karena adanya perilaku menyimpang dan ketidaksesuaian norma

Salah satu kajian mengenai remaja punk jalanan di Jakarta dan Tangerang menemukan bahwa penyebab masuknya remaja atau anak dalam komunitas punk jalanan adalah akibat keluarga yang

Penulisan skripsi yang berjudul “Makna Simbolik dalam Komunitas Street Punk Gonzo”, berawal dari stigma negatif masyarakat terhadap komunitas Punk yang berada di Jalan Mandala

Sebagai manusia biasa dan makhluk sosial yang punya perasaan, komunitas anak punk memilih punk bukan untuk pelarian semata tapi pertahanan diri mereka terhadap serangan-serangan