Pengoperasian motor induksi 3 fasa menggunakan sistem tenaga 1 fasa.

115  Download (0)

Teks penuh

(1)

viii   

INTISARI

Pada saat ini motor induksi 3 fasa sangat dibutuhkan pada daerah yang banyak terdapat industri kecil dan pada daerah yang hanya mempunyai sistem kelistrikan 1 fasa. Daerah tersebut memerlukan motor dengan daya penggerak yang besar tetapi yang bisa dioperasikan dengan baik dan normal pada sistem kelistrikan 1 fasa. Salah satu cara agar motor induksi dapat bekerja dengan baik dan normal adalah menambahkan rangkaian motor kapasitor pada motor induksi 3 fasa. Rangkaian kapasitor yang digunakan diletakkan pada sisi kumparan bantu atau sisi kumparan yang mempunyai impedansi yang lebih besar.

Pada penelitian ini, untuk menunjang kinerja motor induksi 3 fasa dengan sistem kelistrikan 1 fasa ditambah dengan sensor arus ACS758 untuk mengukur nilai arus dari beban yang digunakan. Ketika sensor arus ACS758 mendeteksi adanya arus yang lewat, maka akan ditampilkan nilai arus tersebut pada LCD yang tersedia untuk memudahkan user dalam pembacaan nilai arus yang terukur. Motor induksi dapat bekerja dengan baik dan normal dengan sistem kelistrikan 1 fasa menggunakan rangkaian motor kapasitor. Pengukuran dengan sensor arus tersebut memiliki error dibawah 3%.

(2)

ix

ABSTRACT

At this time the 3-phase induction motors are needed in many areas there are small industries and in areas that have only 1-phase electrical system. The area requires a motor with a large driving force but that can be operated with both normal and 1-phase electrical system. One way for an induction motor can work with both normal and is adding a series capacitor motors in 3-phase induction motor. The series capacitors are used auxiliary coil is placed on the side or sides of the coil which has a larger impedance.

In this study, to support the performance of 3-phase induction motors with 1-phase electrical system coupled with the ACS758 current sensor to measure the current value of the load is used. When the ACS758 current sensor detects current passes, it will display the current value on the LCD are available to facilitate the user in the current value of the measured reading. Induction motor can work well and normal with 1-phase electrical system using a series capacitor motors. Measurement with current sensor has an error less than 3%.

(3)

TUGAS AKHIR

SENGOSERASIAN MOTOR INDUKSI 3 FASA

MENGGUNAKAN SISTEM TENAGA 1 FASA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Srogram Studi Teknik Elektro

Oleh:

SECOND ADRIAN CHRISTIANTO NIM : 085114002

SROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)

FINAL PROJECT

OPERATION OF 3 PHASE INDUCTION MOTOR

USING 1 PHASE POWER SYSTEM

Presented as Partial Fullfillment of Requirements To Obtain the SarjanaTeknik Degree In Electrical Engineering Study Program

Second Adrian Christianto NIM : 085114002

ELECTRICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM SCIENCE AND TECHNOLOGY FACULTY

SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA

(5)
(6)
(7)
(8)

vi

HALAMAN MOTTO HIDUP DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Segala sesuatu dapat terwujud jika kamu benar-benar

menginginkannya

Skripsi ini kupersembahkan untuk,

Tuhan Yesus Kristus yang selalu mendampingi dan menyertaiku,

Alm. Ayahanda yang tercinta, FA. Tedjo Yuwana

Ibunda yang tercinta, F. Tridayanti Wahyu Wardani

Kakakku yang tersayang, Sesilia Firsty Novi Andria Sari

(9)
(10)

viii

INTISARI

Pada saat ini motor induksi 3 fasa sangat dibutuhkan pada daerah yang banyak terdapat industri kecil dan pada daerah yang hanya mempunyai sistem kelistrikan 1 fasa. Daerah tersebut memerlukan motor dengan daya penggerak yang besar tetapi yang bisa dioperasikan dengan baik dan normal pada sistem kelistrikan 1 fasa. Salah satu cara agar motor induksi dapat bekerja dengan baik dan normal adalah menambahkan rangkaian motor kapasitor pada motor induksi 3 fasa. Rangkaian kapasitor yang digunakan diletakkan pada sisi kumparan bantu atau sisi kumparan yang mempunyai impedansi yang lebih besar. Pada penelitian ini, untuk menunjang kinerja motor induksi 3 fasa dengan sistem kelistrikan 1 fasa ditambah dengan sensor arus ACS758 untuk mengukur nilai arus dari beban yang digunakan. Ketika sensor arus ACS758 mendeteksi adanya arus yang lewat, maka akan ditampilkan nilai arus tersebut pada LCD yang tersedia untuk memudahkan user dalam pembacaan nilai arus yang terukur. Motor induksi dapat bekerja dengan baik dan normal dengan sistem kelistrikan 1 fasa menggunakan rangkaian motor kapasitor. Pengukuran dengan sensor arus tersebut memiliki errsr dibawah 3%.

(11)

ix

ABSTRACT

At this time the 3-phase induction motors are needed in many areas there are small industries and in areas that have only 1-phase electrical system. The area requires a motor with a large driving force but that can be operated with both normal and 1-phase electrical system. One way for an induction motor can work with both normal and is adding a series capacitor motors in 3-phase induction motor. The series capacitors are used auxiliary coil is placed on the side or sides of the coil which has a larger impedance.

In this study, to support the performance of 3-phase induction motors with 1-phase electrical system coupled with the ACS758 current sensor to measure the current value of the load is used. When the ACS758 current sensor detects current passes, it will display the current value on the LCD are available to facilitate the user in the current value of the measured reading. Induction motor can work well and normal with 1-phase electrical system using a series capacitor motors. Measurement with current sensor has an error less than 3%.

(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena telah memberikan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir ini dengan baik. Laporan akhir ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Ketua Program Studi Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Petrus Setyo Prabowo , S.T., M.T., dosen pembimbing yang dengan penuh

pengertian dan ketulusan hati memberi bimbingan, kritik, saran, serta motivasi dalam penulisan skripsi ini.

4. Para dosen penguji yang telah memberikan masukan, bimbingan, saran dalam merevisi skripsi ini.

5. Orang tua dan kakak saya atas dukungan, doa, cinta, perhatian, kasih sayang yang tiada henti.

6. Pradipta Melanie R. atas dukungan, doa, cinta, perhatian, kasih sayang yang tiada henti.

7. Staff sekretariat Teknik Elektro, atas bantuan dalam melayani mahasiswa.

8. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2008 Teknik Elektro, kawan-kawan kost, dan semua kawan yang mendukung saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas semua dukungan yang telah diberikan dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan akhir ini masih mengalami kesulitan dan tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan, kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini menjadi lebih baik. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya.

Penulis

(13)

xi

DAFTAR ISI

TALAMAN JUDUL ... i

TALAMAN JUDUL (Bahasa Inggris) ... ii

TALAMAN PERSETUJUAN ... iii

TALAMAN PENGESATAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

TALAMAN PERSEMBATAN DAN MOTTO TIDUP ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJAN KARYA ILMIAT UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

INTISARI ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvi

(14)

xii

3.2.1. Perancangan Rangkaian Sensor Arus ... 26

3.2.2. Perancangan Rangkaian Mikrokontroler ... 27

3.2.3. Reset Eksternal ... 28

3.2.4. Osilator ... 28

3.2.5. Kapasitor ... 28

3.2.6. Perancangan Rangkaian Penampil... 29

3.2.6.1. Rangkaian Indikator LED ... 29

3.2.6.2. Rangkaian LCD ... 30

3.2.7. Rangkaian Lengkap Mikrokontroler ... 31

3.2.8. Perancangan Rangkaian Penyearah ... 31

3.3. Perangcangan Perangkat Lunak ... 35

3.3.1. Flowchart ... 35

BAB IV TASIL DAN PEMBATASAN 4.1. Bentuk Fisik Rangkaian Perangkat Keras Elektronik ... 36

4.1.1. Bentuk Fisik Rangkaian Kapasitor ... 36

4.1.2. Cara Penggunaan Alat ... 37

4.1.3. Perangkat Keras Elektronik ... 38

4.2. Hasil Pengujian ... 41

4.2.1. Pengujian Pada Sistem 1 Fasa ... 42

4.2.2. Pengujian Pada Sistem 3 Fasa ... 45

4.2.3. Pengujian Pada Sistem 1 Fasa dengan Variasi Kapasitor... 48

(15)

xiii

4.2.3.2. Variasi Kapasitor Jalan Bernilai 16 µF ... 48

4.2.3.3. Variasi Kapasitor Start Bernilai 44 µF ... 49

4.2.3.4. Analisa Data Arus Alternator dengan Variasi Kapasitor ... 50

4.3. Analisis Hasil Pengujian ... 50

4.3.1. Analisis Data Arus ... 50

4.3.2. Analisis Data Kecepatan Putaran (RPM) ... 52

4.4. Analisis Error Perangkat Keras ... 54

4.5. Pengujian Rangkaian Penyearah ... 56

4.6. Pembahasan Software ... 58

4.6.1. Program Utama ... 58

4.6.2. Program Mengukur Nilai Arus ... 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 61

5.2. Saran ... 61

(16)

xiv

Gambar 2.3. Skema rangkaian motor kapasitor start ... 5

Gambar 2.4. Skema rangkaian motor kapasitor start dan run ... 6

Gambar 2.5. Skema rangkaian motor kapasitor permanen ... 6

Gambar 2.6. Rangkaian kapasitor pada kumparan motor induksi 3 fasa ... 7

Gambar 2.7. Alternator ... 9

Gambar 2.8. Komponen utama alternator ... 9

Gambar 2.9. Konfigurasi pin ATmega8535 ... 11

Gambar 2.10. Rangkaian reset ... 13

Gambar 2.11. Sensor arus ACS758 ... 18

Gambar 2.12. Port masukan dan Port keluaran ACS758 ... 18

Gambar 2.13. Rangkaian dasar regulator 78xx ... 19

Gambar 2.14. Rangkaian arus ... 20

Gambar 2.15. Bentuk fisik LCD 16x2 ... 21

Gambar 2.16. Konfugurasi pin LCD ... 22

Gambar 3.1. Diagram blok rancangan ... 25

Gambar 3.2. Rangkaian sensor arus ACS758 ... 26

Gambar 3.3. Rangkaian mikrokontroler ... 27

Gambar 3.4. Rangkaian reset eksternal ... 28

Gambar 3.5. Rangkaian osilator ... 28

Gambar 3.6. Penempatan dan nilai kapasitor yang digunakan ... 29

Gambar 3.7. Rangkaian LED ... 30

Gambar 3.8. Rangkaian LCD ... 30

Gambar 3.9. Rangkaian lengkap mikrokontroler ... 31

Gambar 3.10 (a). Rangkaian penyearah tegangan 12 volt ... 32

Gambar 3.10 (b). Rangkaian penyearah tegangan 5 volt ... 32

(17)

xv

Gambar 4.1. Bentuk fisik rangkaian kapasitor ... 36

Gambar 4.2. Boks peragkat keras elektronik ... 37

Gambar 4.3. Penempatan rangkaian kapasitor pada motor induksi 3 fasa ... 37

Gambar 4.4. Perangkat keras elektronik ... 39

Gambar 4.5. Rangkaian lampu pijar ... 39

Gambar 4.6. Rangkaian LCD ... 40

Gambar 4.7. Sensor arus ... 40

Gambar 4.8. Rangkaian minimum system ... 40

Gambar 4.9. Rangkaian penyearah tegangan ... 41

Gambar 4.10. Rangkaian catu daya ... 41

Gambar 4.11. Grafik hubungan antara arus terhadap beban lampu pada sistem 1 fasa... 43

Gambar 4.12. Grafik hubungan antara RPM terhadap beban lampu pada sistem 1 fasa ... 43

Gambar 4.13. Grafik hubungan antara arus terhadap beban lampu pada sistem 3 fasa... 46

Gambar 4.14. Grafik hubungan antara RPM dengan beban lampu pada sistem 3 fasa ... 46

Gambar 4.15. Grafik perbandingan arus keluaran alternator menggunakan variasi kapasitor ... 50

Gambar 4.16. Grafik perbandingan arus antara sistem 1 fasa dengan sistem 3 fasa ... 51

Gambar 4.17. Grafik perbandingan RPM pada sistem 1 fasa dengan sistem 3 fasa ... 53

Gambar 4.18. Rangkaian penyearah tegangan ... 56

Gambar 4.19. Tampilan awal LCD pada perangkat keras ... 58

Gambar 4.20. Listing program utama dan program tampilan awal ... 58

Gambar 4.21. Listing program mengukur nilai arus ... 59

Gambar 4.22. Tampilan nilai tegangan keluaran sensor dan nilai arus ... 60

(18)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1.

Fungsi khusus

popt

B ... 11

Tabel 2.2.

Fungsi khusus

popt

C ... 12

Tabel 2.3.

Fungsi khusus

popt

D ... 12

Tabel 2.4.

Register ADMUX ... 14

Tabel 2.5.

Pemilihan

tegangan referensi... 15

Tabel 2.6.

Pemilih

pin

masukan ADC ... 15

Tabel 2.7.

Register ADCSRA ... 15

Tabel 2.8.

ADC

ppescalep

... 16

Tabel 2.9.

Register Data ADC, ADLAR=0 ... 17

Tabel 2.10.

Register Data ADC, ADLAR=1 ... 17

Tabel 2.11.

Nilai tegangan IC 78xx ... 19

Tabel 2.12.

Operasi dasar LCD ... 22

Tabel 2.13.

Konfigurasi

pin

LCD ... 22

Tabel 2.14.

Konfigurasi

pin

LCD ... 23

Tabel 3.1.

Tegangan keluaran sensor terhadap arus yang diukur ... 27

Tabel 4.1.

Hasil pengujian pada sistem 1 fasa ... 42

Tabel 4.2.

Penambahan parameter uji pada sistem 1 fasa ... 44

Tabel 4.3.

Hasi pengujian pada sistem 3 fasa ... 45

Tabel 4.4.

Penambahan parameter uji pada sistem 3 fasa ... 47

Tabel 4.5.

Pengujian kapasitor jalan 10 µF ... 48

Tabel 4.6.

Pengujian kapasitor jalan 16 µF ... 49

Tabel 4.7.

Pengujian kapasitor start 44 µF ... 49

Tabel 4.8.

Nilai arus sistem 1 fasa dan sistem 3 fasa ... 51

Tabel 4.9.

Nilai RPM motor induksi sistem 1 fasa dan sistem 3 fasa ... 52

Tabel 4.10.

Presentase

eppop

perangkat keras dalam pengukuran nilai arus ... 55

(19)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

(20)

1

BABBIB

PENDAHULUANB

B

1.1BB LatarBBelakangB

Pada saat ini pengoperasian motor induksi 3 fasa pada sistem tenaga listrik AC 1 fasa sangat dibutuhkan terlebih pada daerah yang banyak terdapat industri kecil dan pada daerah tertentu yang hanya mempunyai sistem tenaga listrik 1 fasa, sedangkan mereka membutuhkan motor penggerak dengan daya yang besar (motor induksi 3 fasa) yang secara normal harus dioperasikan pada sistem tenaga listrik 1 fasa[1,2]. Salah satu cara agar motor induksi 3 fasa dapat digunakan dengan baik pada kondisi ini adalah dengan mengoperasikan motor induksi 3 fasa pada sistem tenaga listrik 1 fasa dengan menggunakan kapasitor[1,3].

Dalam sistem pengoperasian motor induksi 3 fasa, kapasitor diletakkan pada sisi kumparan bantu (impedansi lebih besar) atau pada sisi kumparan utama (impedansi lebih) asal kapasitor yang digunakan dapat menggerakkan motor[4]. Berdasarkan kondisi ini, maka penelitian ini dimaksudkan untuk merancang metode dalam mengoperasikan motor induksi 3 fasa pada sistem tenaga listrik 1 fasa dengan cara menempatkan kapasitor pada sisi kumparan dengan impedansi yang lebih besar (kumparan bantu). Secara umum, untuk mengoperasian motor induksi 3 fasa pada sistem tenaga listrik 1 fasa dengan menggunakan kapasitor dapat dilakukan dengan cara mengubah bentuk rangkaian kumparan motor induksi 3 fasa menjadi seperti rangkaian motor induksi 1 fasa jenis motor kapasitor.

1.2B TujuanBdanBManfaatBPenelitianB

Tujuan yang hendak dicapai adalah membuktikan salah satu kegunaan dari pengoperasian motor kapasitor. Manfaat yang akan dicapai adalah mampu mengoperasikan motor induksi 3 fasa secara normal pada sistem tenaga listrik 1 fasa.

1.3B BatasanBMasalahB

(21)

a. Menggunakan motor induksi 3 fasa 1,5kW, 220/380V; 50Hz; 6,2/3,6A; 1400 rpm dengan faktor daya 0,84 tertinggal.

b. Penggunaan kapasitor yang sesuai dengan kebutuhan melalui proses perancangan.

c. Menggunakan generator sinkron 1 fasa dengan spesifikasi ALTERNATOR, 12V, RECONDITIONED by SWIP.

d. Menggunakan beban (lampu pijar) tidak lebih daripada 540 Watt. e. Menggunakan ACS758 sebagai sensor arus.

f. Menggunakan Mikrokontroler AVR ATMega 8535 sebagai pengolah data dari keluaran motor induksi 3 fasa yang telah diberi tambahan kapasitor.

1.4B MetodologiBPenelitianB

Penulisan ini menggunakan metode :

a. Pengumpulan referensi berupa website, buku-buku, dan jurnal-jurnal.

b. Perancangan dan pembuatan subsistem berupa perangkat keras dan perangkat lunak. Pada tahap ini bertujuan mencari nilai-nilai yang optimal dari sistem yang akan dibuat dengan mempertimbangkan dari berbagai faktor-faktor permasalahan dan kebutuhan yang telah ditentukan. Pada gambar 1.1 sistem bekerja ketika motor induksi 3 fasa yang telah dipasang kapasitor pada kumparan bantu, diberi masukkan sistem tenaga listrik 1 fasa. Kemudian sensor akan mendeteksi besarnya arus pada beban yang digunakan. Selanjutnya data-data arus yang telah didapatkan tersebut oleh mikrokontroler akan ditampilkan pada LCD untuk interface-nya.

(22)

c. Pengujian dan pengambilan data. Pengujian dalam penelitian ini yaitu mengoperasikan motor induksi 3 fasa pada sistem tenaga listrik 1 fasa dengan meletakkan kapasitor jalan pada sisi kumparan dengan impedansi yang lebih besar (kumparan bantu). Setelah itu dibandingkan dengan kinerja motor saat beroperasi normal pada sistem tenaga listrik 3 fasa (gambar 1.2). Untuk teknik pengambilan data dilakukan dengan cara mengubah-ubah beban yang digunakan (lampu pijar). Setelah itu, dilakukan pengukuran nilai arus, tegangan, kecepatan putaran motor induksi (RPM) dan daya pada beban.

Gambar 1.2 Blok model perancangan sistem 3 fasa

d. Analisa dan penyimpulan hasil percobaan. Analisa data dilakukan dengan membandingkan data hasil percobaan antara pengoperasian motor induksi 3 fasa menggunakan sistem 1 fasa dengan pengoperasian motor induksi 3 fasa menggunakan sistem 3 fasa (normal). Penyimpulan hasil percobaan dapat dilakukan dengan menghitung presentase error yang terjadi.

Tenaga Listrik 3

fasaB

Motor Induksi

3 fasa

Generator

Sinkron 1 fasa Sensor Arus

Mikrokontroler Penampil

Beban (lampu

(23)

4

BABBIIB

DASARBTEORIB

B

2.1

MotorBInduksiB3BFasaB

Motor induksi merupakan motor arus bolak-balik (AC) yang paling luas digunakan karena kesederhanaannya, konstruksinya yang kuat dan karakteristik kerja yang baik. Motor induksi terdiri dari dua bagian : stator atau bagian yang diam dan rotor atau bagian

yang berputar, dimana kedua bagian ini dipisahkan oleh suatu celah udara. Bagian stator

dihubungkan ke catu tegangan bolak-balik (AC), sedangkan bagian rotor tidak dihubungkan secara listrik ke pencatu tetapi memiliki arus yang dihasilkan oleh adanya

arus induksi yang ditimbulkan dari arus stator, mirip dengan kerja suatu transformator.

Bekerjanya motor induksi bergantung pada medan magnetik putar yang ditimbulkan dalam

celah udara motor oleh adanya arus stator. Lilitan stator 3 fasa dililitkan dengan lilitan

fasanya berjarak 120 derajat listrik. Jika lilitan diberi energy dari catu 3 fasa maka akan

timbul fluks pada masing-masing fasa. Ketiga fluks tersebut bergabung membentuk fluks

yang bergerak mengelilingi permukaan stator pada kecepatan konstan. Fluks ini disebut

medan magnetik berputar. Dengan adanya medan putar ini akan menyebabkan rotor

berputar dengan arah yang sama dengan fluks putar. Kecepatan medan putar dapat

dirumuskan sebagai :

(2.1)

2.1.1

KonstuksiBMotorBInduksiB3BFasaB

Konstruksi motor induksi 3 fasa terbagi menjadi dua bagian, yaitu [14]:

a. Stator

(24)

Gambar 2.1. Stator

b. Rotor.

Rotor adalah bagian dari mesin yang berputar dan terletak pada bagian dalam.

Gambar 2.2. Rotor

2.1.2

MotorBKapasitorB

Pada motor kapasitor, sebuah kapasitor dipasang seri dengan lilitan bantu dengan tujuan agar diperoleh beda fasa yang besar antara arus pada lilitan utama dan arus pada lilitan bantu. Terdapat 3 macam motor kapasitor, yaitu [12] :

a. Motor Kapasitor Start

Skema rangkaian motor kapasitor start adalah seperti pada gambar 2.3 berikut

ini :

(25)

b. Motor Kapasitor Start dan Run

Pada motor kapasitor start dan run terdapat dua buah kapasitor yang dirangkai

seperti pada gambar 2.4. Pada saat start, C1 dan C2 terhubung semua sehingga

diperoleh beda fasa besar antara arus pada lilitan utama dan arus pada lilitan bantu dan diperoleh torsi awal yang sangat besar. Setelah putaran motor mencapai 70% - 80%

putaran normal, kapasitor C1(kapasitor start) terlepas namun kapasitor C2(kapasitor

run) tetap terhubung.

Gambar 2.4. Skema rangkaian motor kapasitor start dan run.

c. Motor Kapasitor Permanen

Pada motor ini terdapat kapasitor yang terpasang tetap (permanen) secara seri dengan lilitan bantu. Skema rangkaian motor kapasitor permanen seperti gambar 2.5. Karena kapasitor terpasang secara terus menerus, maka torsi yang dihasilkan baik pada saat start maupun setelah berputar nominal relatif tetap. Hal ini berarti bahwa motor ini banyak digunakan pada peralatan yang membutuhkan torsi baik awal maupun torsi saat beroperasi yang relatif tetap [12].

(26)

2.2

TeoriBTenagaBListrikB1BFasaBkeBMotorBInduksiB3BFasaB

Untuk mengoperasikan motor induksi 3 fasa secara normal dan langsung hanya dengan sistem tenaga listrik 1 fasa dengan menambahkan kapasitor. Dalam mengoperasikan motor induksi 3 fasa, kapasitor diletakkan pada sisi kumparan bantu (impedansi lebih besar). Kapasitor yang digunakan, diserikan dengan dua kumparan motor (kumparan R dan S). Dengan penambahan kapasitor tersebut, sama saja dengan mengubah rangkaian kumparan motor induksi 3 fasa menjadi rangkaian motor induksi 1 fasa jenis motor kapasitor. Pada gambar 2.6 berikut ini adalah gambar skema rangkaian motor induksi 3 fasa yang telah diberi tambahan kapasitor.

Gambar 2.6. Rangkaian kapasitor pada kumparan motor induksi 3 fasa

2.3

KapasitorB

Kapasitor atau kondensator ( C ) adalah komponen dasar elektronika yang termasuk dalam komponen pasif yang digunakan untuk menyimpan muatan listrik dalam jangka waktu tertentu. Kapasitor ini ditemukan oleh Michael Faraday, itu sebabnya mengapa satuan dari kapasitor adalah Farad. Pada umumnya kapasitor terdiri atas dua plat logam yang di pisahkan oleh suatu bahan penyekat biasa disebut bahan dielektrik yaitu berupa vacum udara, keramik, gelas, mika, dan lain – lain, kedua plat ini di beri muatan listrik yang sama besar tapi yang satu positif dan lainnya negatif.

(27)

negatif). Jika selama proses penyimpanan terjadi hal ini maka muatan akan tetap dilepaskan walaupun proses penyimpanan belum selesai (kapasitor belum terisi penuh).

Karena pada penelitian ini menggunakan kapasitor sebagai komponen untuk membantu kinerja motor induksi 3 fasa, maka tahap selanjutnya mencari nilai kapasitor jalan (Cr) dan kapasitor start (Cs). Kapasitor yang digunakan pada penelitian ini diserikan dengan dua kumparan motor (kumparan R dan S). Apabila diberikan tegangan sumber ’Vs’ pada kapasitor, maka untuk mendapatkan nilai Cr dapat menggunakan persamaan sebagai berikut[3]:

(2.2)

Keterangan : C = Cr = Kapasitor jalan

Iph = Arus fasa

ω = 2.(π).(f)

Vs = Tegangan sumber

Selanjutnya untuk tenaga penggerak awal yang besar diperlukan kapasitor start (Cs). Untuk menentuan nilai dari Cs tersebut yaitu mengambil data kapasitor dari jurnal pihak lain yang telah melakukan penelitian serupa terlebih dahulu [3].

2.4

GeneratorBSinkronB

Generator adalah suatu mesin yang mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga listrik melalui proses induksi elektromagnetik, generator memperoleh energi mekanik dari prime

mover. Generator AC dikenal dengan sebutan alternator. Generator diharapkan dapat

mengatasi kebutuhan tenaga listrik/energi listrik pada saat terjadi gangguan sistem catu daya utama, dimana suplai tenaga listrik/sumber energi listrik cadangan tersebut digunakan untuk beban prioritas dalam industri/pabrik.

(28)

Pada gambar 2.7 merupakan bentuk fisik umum dari sebuah alternator.

Gambar 2.7. Alternator

Pada dasarnya alternator memiliki beberapa komponen utama. Berikut ini gambar 2.8 adalah komponen-kompenen utama dari alternator.

Gambar 2.8. Komponen utama alternator Keterangan :

1. Rumah bagian belakang 6. Stator

2. Plat dudukan dioda 7. Rotor

3. Dioda daya 8. Kipas

4. Dioda arus medan 9. Pully

(29)

2.5

MikrokontrolerBAVRB

Mikrokontroler adalah sebuah sistem mikroprosesor yang di dalamnya sudah

terdapat CPU, ROM, RAM, I/O, clock dan peralatan internal lainya yang sudah saling

terhubung dan terorganisasi (teralamati) dengan baik oleh pabrik pembuatnya dan dikemas

dalam satu chip yang siap pakai [5]. Sehingga pengguna tinggal memprogram isi ROM

sesuai aturan penggunaan oleh pabrik yang membuatnya.

2.5.1

KonstruksiBATmega8535B

Mikrokontroler ATmega8535 memiliki 3 jenis memori, yaitu memori flash, memori data dan memori EEPROM [5]. Ketiganya memiliki ruang sendiri dan terpisah.

a. Memori flash

ATmega8535 memiliki kapasitas memori flash sebesar 8 Kbyte yang terpetakan dari

alamat 0000h – 0FFFh, masing-masing alamat memiliki lebar data 16 bit. Memori

program ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian program boot dan bagian program

aplikasi. b. Memori data

ATmega8535 memiliki kapasitas memori data sebesar 608 byte yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu register serba guna, register I/O dan SRAM. ATmega8535 memiliki 32 byte register serba guna, 64 byte register I/O yang dapat diakses sebagai bagian dari memori RAM (menggunakan instuksi LD atau ST) atau dapat juga diakses sebagai I/O (menggunakan instruksi IN atau OUT), dan 512 byte digunakan untuk memori data SRAM.

c. Memori EEPROM

ATmega8535 memiliki memori EEPROM sebesar 512 byte yang terpisah dari memori program maupun memori data. Memori EEPROM ini hanya dapat diakses dengan menggunakan register-register I/O yaitu register EEPROM Address, register EEPROM

Data, dan register EEPROM Control. Untuk mengakses memori EEPROM ini

(30)

Gambar 2.9. Konfigurasi pin ATmega8535 [5]

Konfigurasi pin ATmega8535 dapat dilihat pada Gambar 2.9. Dari gambar dapat

dijelaskan fungsi dari masing-masing pin Atmega8535 sebagai berikut [5]:

a. VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai masukan catu daya.

b. GND merukan pin Ground.

c. Port A (PortA0…PortA7) merupakan pin input/output dua arah dan pin masukan

ADC.

d. Port B (PortB0…PortB7) merupakan pin input/output dua arah dan dan pin fungsi

khusus, seperti dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Fungsi khusus port B [5]

PinB FungsiBKhususB

PB7 SCK (SPI Bus Serial Clock)

PB6 MISO (SPI Bus Master Input/ Slave Output)

PB5 MOSI (SPI Bus Master Output/ Slave Input)

PB4 SS (SPI Slave Select Input)

PB3 AIN1 (Analog Comparator Negative Input)

OC0 (Timer/Counter0 Output Compare Match Output)

PB2 AIN0 (Analog Comparator Positive Input)

INT2 (External Interrupt 2 Input)

PB1 T1 (Timer/ Counter1 External Counter Input)

PB0 T0 T1 (Timer/Counter External Counter Input)

(31)

e. Port C (PortC0…PortC7) merupakan pin input/output dua arah dan pin fungsi khusus, seperti dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Fungsi hhusus port C [5]

PinB FungsiBkhususB

PC7 TOSC2 ( Timer Oscillator Pin2)

PC6 TOSC1 ( Timer Oscillator Pin1)

PC5 Input/Output

PC4 Input/Output

PC3 Input/Output

PC2 Input/Output

PC1 SDA ( Two-wire Serial Buas Data Input/Output Line)

PC0 SCL ( Two-wire Serial Buas Clock Line)

f. Port D (PortD0…PortD7) merupakan pin input/output dua arah dan pin fungsi

khusus, seperti yang terlihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Fungsi khusus port D [5]

PinB FungsiBkhususB

PD7 OC2 (Timer/Counter Output Compare Match Output)

PD6 ICP (Timer/Counter1 Input Capture Pin)

PD5 OC1A (Timer/Counter1 Output Compare A Match Output)

PD4 OC1B (Timer/Counter1 Output Compare B Match Output)

PD3 INT1 (External Interrupt 1 Input)

PD2 INT0 (External Interrupt 0 Input)

PD1 TXD (USART Output Pin)

PD0 RXD (USART Input Pin)

g. RESET merupakan pin yang digunakan untuk me-reset mikrokontroler.

h. XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock eksternal.

i. AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC.

(32)

2.5.2

Reset

BdanBOsilatorBEksternalB

Chip akan reset jika tegangan catu nol atau pin RST dipaksa 0 [6]. Jika

membutuhkan tombol reset, dapat ditambah dengan rangkaian reset seperti pada Gambar 2.10.

Gambar 2.10. Rangkaian reset [6]

2.5.3

ADCB(

Analog to Digital Converter

)B

Sinyal masukan dari pin ADC akan dipilih oleh multiplexer (register ADMUX)

untuk diproses oleh ADC[6]. Karena converter ADC dalam chip hanya satu buah

sedangkan saluran masukanny ada delapan maka dibutuhkan multiplexer untuk memilih

input pin ADC secara bergantian. ADC mempunyai rangkaian untuk mengambil sampel

dan hold (menahan) tegangan input ADC mempunyai catu daya yang terpisah yaitu pin

AVCC-AGND. AVCC tidak boleh berbeda ±0,3V dari Vcc.

Operasi ADC membutuhkan tegangan referensi VREF dan clock Fade (register

ADCSRA). Tegangan referensi eksternal pada pin AREF tidak boleh melebihi AVCC.

Tegangan referensi eksternal dapat di-decouple pada pin AREF dengan kapasitor untuk

mengurangi derau. Atau dapat menggunakan tegangan referensi internal sebesar 2,56V (pin Aref diberi kapasitor secara eksternal untuk menstabilkan tegangan referensi internal). ADC mengonversi tegangan input analog menjadi bilangan digital sebesar 10-bit. GND (0 volt) adalah nilai minimum yang mewakili ADC dan nilai maksimum ADC diwakili oleh

tegangan pada pin AREF minus 1 LSB. Hasil konversi ADC disimpan dalam register

pasangan ADCH:ADCL.

Sinyal input ADC tidak boleh melebihi tegangan referensi. Nilai digital input ADC untuk resolusi 10-bit (1024) adalah:

Kode digital = (Vinput/Vref) x1024 (2.3) Untuk resolusi 8-bit (256) :

(33)

Misalnya masukan suatu pin ADC dengan resolusi 8-bit adalah 2,5V dan tegangan referensi yang digunakan Vref internal sebesar 2,56V sehingga kode digital-nya adalah:

Kode digital = (2500 mV/2560 mV) x256 = 250 = 0xFA. Akurasi ADC dalam chip tidak sempurna, akurasinya ±2LSB sehingga kemungkinan kode yang dihasilkan tidak tepat 0xFA bisa jadi 0xF8, 0xF9, 0xFB, atau 0xFC.

2.5.3.1

ModeBOperasiB

1.

ModeBkonversiBtunggalB

Dalam mode ini konversi dilakukan untuk sekali pembacaan sampel tegangan

masukan, jika ingin membaca lagi maka harus disampel lagi sehingga kita dapat mengkonversi tegangan masukan untuk saat-saat yang kita butuhkan saja [6]. Mode

tunggal dipilih dengan meng-clear bit-ADFR dalam register ADCSRA. Konversi

tunggal memulai konversi ketika bit-ADSC di-set, dan bit tersebut tetap sampai

satu kali konversi selesai (complete), setelah (complete) itu maka otomatis oleh CPU bit-ADSC akan clear. Ketika konversi sedang berlangsung dan kita mengubah saluran (channel) masukan ADC maka hal tersebut tidak akan diubah oleh CPU hingga konversi ADC saluran tersebut selesai.

2.

ModeBkonversiB

free running

B

Dalam mode ini konversi dilakukan terus menerus secara kontinyu (ADC membaca sampel tegangan masukan lalu dikonversi hasilnya masukan ke register ADCH:ADCL) terus menerus [6]. Ketika kita membaca ADC selagi ADC mengkonversi tegangan sedang berlangsung, maka yang terbaca adalah hasil ADC yang terakhir yang dibaca oleh ADC.

Mode free running dipilih dengan men-set bit-ADFR dalam register ADCSRA. Konversi pertama dalam mode ini dimulai dengan men-set bit-ADSC. Dalam mode

ADC bekerja secara independen (tidak bergantung) dari flag interupsi ADC

(apakah ADIF set atau clear sama saja).

2.5.3.2

RegisterBPengendaliBADCB

1.

ADCB

Multiplexer Selection Register

B–BADMUXB

Tabel 2.4. Register ADMUX [6]

(34)

Tabel 2.4 menunjukan register pada ADMUX dan Tabel 2.4 menunjukkan pemilihan tegangan referensi [6].

Bit 7:6 – REFS1:0: Reference Selection Bits

Kedua bit ini bertugas memilih tegangan referensi yang digunakan. Tabel 2.5. Pemilihan tegangan referensi [6]

Tabel 2.5 menujukkan pemilihan tegangan referensi pada ADC. Bit 5 – ADLAR: ADC Left Adjust Result

Bit ini berakibat pada format data hasil konversi dalam register ADCH: ADCL (lihat register tersebut)

Bit 3:0 – MUX3:0: Analog Channel Selection Bits

Bit – bit ini memilih saluran masukan untuk ADC, seperti terlihat pada Tabel 2.6. Tabel 2.6. Pemilih pin masukan ADC [6]

2.

ADCB

Control and Status Register

BAB–BADCSRABB

(35)

Tabel 2.7 menunjukkan register pada ADCSRA [6]. Bit 7 – ADEN : ADC Enable

Bit pengaktif ADC (ADEN=0 disable / ADEN =1 enable). Bit 6 – ADSC: ADC Start Conversion

Dalam mode konversi tungal penge-set-an bit ini maka akan memulai(start) konversi ADC untuk sekali konversi.

Bit 5 – ADFR: ADC Free Running Select

Bit ini memilih mode operasi yang digunakan, ketika bit ini di-set maka ADC akan

menggunakan Free running di mana dalam mode ini ADC disampel dan diperbarui

secara simultan/kontinyu. Ketika bit ini di-clear maka akan mengakhiri mode free

running dan masuk ke mode konversi tunggal (single conversion). Bit 4 – ADIF: ADC Interrupt Flag

Bit ini akan set secara otomatis ketika konversi ADC telah selesai(complete), dan

akan clear ketika eksekusi interupsi ADC conversion complete. Bit 3 – ADIE: ADC Interrupt Enable

Bit ini bertugas untuk mengaktifkan interupsi ADC conversion complete (ADIE=0

disable / ADIE=1 enable).

Bit 2:0 – ADPS2:0: ADC Prescaler Select Bits

Bit – bit ini menentukan faktor pembagi frekuensi CPU yang digunakan untuk clock ADC, seperti yang terlihat pada Tabel 2.8

(36)

3.

The

ADCBDataBRegisterB–BADCLB

and

BADCHB

Tabel 2.9. Register Data ADC, ADLAR=0 [6]

Tabel 2.10. Register Data ADC, ADLAR=1 [6]

Tabel 2.9 menunjukkan register data ADC saat ADLAR=0 dan Tabel 2.10 menunjukkan register data ADC saat ADLAR=1 [6]. Ketika konversi selesai, maka hasilnya dapat ditemukan pada register ADCH : ADCL. Ketika ADCL dibaca maka ADC tidak akan diperbarui sampai ADCH dibaca.

2.6

SensorBArusBACS758B

Teknologi Hall effect yang diterapkan oleh Allegro menggantikan fungsi resistor shunt dan current transformer menjadi sebuah sensor dengan ukuran yang relatif jauh lebih kecil. Aliran arus listrik yang mengakibatkan medan magnet yang menginduksi bagian dynamic offset cancellation dari ACS758 [7].

ACS758 adalah Hall Effect current sensor, seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.11 Hall effect allegro ACS758 merupakan sensor yang presisi sebagai sensor arus AC atau DC dalam pembacaan arus didalam dunia industri, otomotif, komersil dan sistem-sistem komunikasi. Pada umumnya aplikasi sensor ini biasanya digunakan untuk mengontrol motor, deteksi beban listrik, switched-mode power supplies dan proteksi beban berlebih.

Sensor ini memiliki pembacaan dengan ketepatan yang tinggi, karena didalamnya

terdapat rangkaian low-offset linear Hall dengan satu lintasan yang terbuat dari tembaga.

(37)

terdapat didalamnya yang menghasilkan medan magnet yang di tangkap oleh integrated Hall IC dan diubah menjadi tegangan proporsional. Ketelitian dalam pembacaan sensor dioptimalkan dengan cara pemasangan komponen yang ada didalamnya antara penghantar yang menghasilkan medan magnet dengan hall transducer secara berdekatan. Persisnya, tegangan proporsional yang rendah akan menstabilkan Bi CMOS Hall IC yang didalamnya yang telah dibuat untuk ketelitian yang tinggi oleh pabrik.

B

Gambar 2.11. Sensor arus ACS758 [7]

Keluaran dari sensor ini yaitu berupa tegangan analog dengan sensitivitas 40 mV/A,

(>VCC/2) saat peningkatan arus pada penghantar arus (dari pin 4 ke pin 5. Artinya, setiap

ada arus yang melewati sensor sebesar 1A, maka sensor akan merespon dengan

memberikan keluaran sebesar 40 mV/A. Gambar 2.12. menunjukkan port masukan dan

port keluaran ACS758. Hambatan dalam penghantar sensor sebesar 100 µΩ dengan daya

yang rendah. Jalur terminal konduktif secara kelistrikan diisolasi dari sensor leads(pin 1 sampai pin 3). Hal ini menjadikan sensor arus ACS758 dapat digunakan pada aplikasi-aplikasi yang membutuhkan isolasi listrik tanpa menggunakan opto-isolator atau teknik

isolasi lainnya yang mahal. Ketebalan konduktor tembaga di dalam sensor memungkinkan

sampai pada kondisi kondisi high overcurrent. Sensor ini telah dikalibrasi oleh pabrik.B

(38)

2.7

ICBRegulatorB

IC 78xx adalah regulator tegangan positif dengan tiga terminal, masing-masing

masukan, ground dan keluaran [8]. IC 78xx tersedia untuk beberapa nilai tegangan

keluaran seperti pada tabel 2.11 berikut :

Tabel 2.11. Nilai tegangan IC 78xx [8]

Tipe B

VoutB (Volt)B

Iout (A)B Vin (Volt)B 78xxCB 78MLxxB 78MxxB MinB MaksB

7805 5 1 0,1 0,5 7,5 20

7806 6 1 0,1 0,5 8,6 21

7808 8 1 0,1 0,5 10,5 23

7809 9 1 0,1 0,5 11,5 24

7810 10 1 0,1 0,5 12,5 25

7812 12 1 0,1 0,5 14,5 27

7815 15 1 0,1 0,5 17,5 30

7818 18 1 0,1 0,5 21 33

7824 24 1 0,1 0,5 27 38

Meskipun semula dirancang untuk regulator tegangan tetap, namun regulator ini dapat dikembangkan untuk tegangan dan arus yang dapat diatur. Rangkaian dasar 78xx ditunjukkan pada gambar 2.13, untuk tegangan dan arus keluaran sesuai nilai nominalnya.

Gambar 2.13. Rangkaian dasar regulator 78xx [8]

Kapasitor C1 diperlukan jika regulator jauh dari kapasitor filter pencatu daya

sedangkan C2 diperlukan untuk memperbaiki tanggapan kilasan dan penindasan kerut

(39)

tegangan keluaran (lihat tabel 2.11) jika kurang maka regulator tidak berfungsi tetapi bila

melebihi VIN maksimumnya dapat merusak regulator.

2.8.

FilterBKapasitorB

Filter dalam rangkaian penyearah digunakan untuk memperkecil tegangan ripple,

sehingga dapat diperoleh tegangan keluaran yang lebih rata, dengan memanfaatkan proses pengisian dan pengosongan muatan kapasitor [9]. Harga kapasitansi kapasitor ditentukan dengan persamaan berikut :

Vr(rms) = (2.5)

Vr(PP) = (2.6)

Dengan IDC adalah arus maksimal penyearah (ampere), C adalah kapasitor yang

digunakan sebagai filter (Farad). VM adalah tegangan masukan arus bolak balik, Vr(PP)

tegangan ripple puncak ke puncak dan Vr(rms) adalah tegangan ripple. VDC MIN adalah

tegangan minimal yang dibutuhkan oleh IC regulator.

2.8

HukumBOhmB

Digunakan pada rangkaian tertutup [10]:

Gambar 2.14. Rangkaian arus [10]

Gambar 2.14 menunjukkan rangkaian arus. Besarnya arus I berubah sebanding dengan tegangan V dan berbanding terbalik dengan beban tahanan R atau dinyatakan dengan rumus pada persamaan 2.7. Besar daya P adalah hasil kali antara arus I dan tegangan V atau dinyatakan dengan rumus pada persamaan 2.8.

R V

I (2.7)

V I

(40)

2.9.

LCDB

LCD merupakan salah satu perangkat penampil yang sekarang ini mulai banyak digunakan [11]. Penampil LCD mulai dirasakan menggantikan fungsi dari CRT (Cathode Ray Tube), yang sudah berpuluh-puluh tahun digunakan manusia sebagai penampil gambar/text baik monochrome (hitam dan putih), maupun yang berwarna. Teknologi LCD memberikan lebih keuntungan dibandingkan dengan teknologi CRT, karena pada dasarnya, CRT adalah tabung triode yang digunakan sebelum transistor ditemukan. Beberapa keuntungan LCD dibandingkan dengan CRT adalah konsumsi daya yang relatif kecil, lebih ringan, dan tampilan yang lebih bagus.

B

Gambar 2.15. Bentuk fisik LCD16x2.[11]

LCD memanfaatkan silikon atau galium dalam bentuk kristal cair sebagai pemendar cahaya. Pada layar LCD, setiap matrik adalah tersusun dua dimensi piksel yang dibagi dalam baris dan kolom. Dengan demikian, setiap pertemuan baris dan kolom adalah sebuah

LED terdapat sebuah bidang latar (backplane), yang merupakan lempengan kaca bagian

belakang dengan sisi dalam yang ditutupi oleh lapisan elektroda transparan. Dalam keadaan normal, cairan yang digunakan memiliki warna cerah. Daerah-daerah tertentu pada cairan akan berubah warnanya menjadi hitam ketika tegangan diterapkan antara bidang latar dan pola elektroda yang terdapat pada sisi dalam lempeng kaca bagian depan.

Keunggulan LCD adalah hanya menarik arus yang kecil (beberapa mikro amper),

sehingga alat atau sistem menjadi portable karena dapat menggunakan catu daya yang

(41)

Gambar 2.16. Konfigurasi pin LCD[11]

Operasi dasar pada LCD terdiri dari empat, yaitu instruksi mengakses proses internal, instruksi menulis data, instruksi membaca kondisi sibuk, dan instruksi membaca data. ROM pembangkit sebanyak 192 tipe karakter, setiap karakter dengan huruf 5x7 dot matrik. Kapasitas pembangkit RAM 8 tipe karakter (membaca program), maksimum

pembacaan 80x8 bit tampilan data. Perintah utama LCD adalah Display Clear, Cursor

Shift, dan Display Shift. Tabel 2.12 menunjukkan operasi dasar LCD. Tabel 2.12. Operasi dasar LCD[9]

RSB R/WB OperasiB

0 0 Input Instruksi ke LCD

0 1 Membaca Status Flag (DB7) dan alamat Counter (DB0) sampai (DB6)

1 0 Menulis Data

1 1 Membaca Data

Tabel 2.13. Konfigurasi pin LCD[9]

PinBNoB KeteranganB KonfigurasiBHubungB

1 GND Ground

2 VCC Tegangan +5VDC

3 VEE Ground

4 RS Kendali Rs

5 RW Ground

(42)

Lanjutan Tabel 2.13. Konfigurasi pin LCD

7 D0 Bit 0

8 D1 Bit 1

9 D2 Bit 2

10 D3 Bit 3

11 D4 Bit 4

12 D5 Bit 5

13 D6 Bit 6

14 D7 Bit 7

15 A Anoda (+5VDC)

16 K Katoda (Ground)

Tabel 2.14. Konfigurasi pin LCD[11]

PinB BilanganBBinerB KeteranganB

RS 0 1 Inisialisasi Data

RW 0 Tulis LCD/W (Write)

1 Baca LCD/R (Read)

E 0 Pintu data terbuka

1 Pintu data tertutup

Lapisan film yang berisi kristal cair diletakkan di antara dua lempeng kaca yang telah ditanami elektroda logam transparan. Saat tegangan dicatukan pada beberapa pasang elektroda, molekul-molekul kristal cair akan menyusun diri agar cahaya yang mengenainya akan dipantulkan atau diserap. Dari hasil pemantulan atau penyerapan cahaya tersebut akan terbentuk pola huruf, angka, atau gambar sesuai bagian yang diaktifkan.

LCD membutuhkan tegangan dan daya yang kecil sehingga sangat populer untuk

(43)

Positioning System (GPS), bargraph display, dan multimeter digital. LCD umumnya

dikemas dalam bentuk Dual In-line Package (DIP) dan mempunyai kemampuan untuk

menampilkan beberapa kolom dan baris dalam satu panel. Untuk membentuk pola, baik karakter ataupun gambar, pada kolom dan baris secara bersamaan digunakan digunakan

metode screening. Metode screening adalah mengaktifkan daerah perpotongan suatu

(44)

25

BAB III

PERANCANGAN PENELITIAN

3.1

Blok Diagram Rangkaian

Di dalam perancangan ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu : rangkaian sensor arus,

pengondisi sinyal, mikrokontroler dan penampil. Sensor yang digunakan untuk mengukur

arus adalah ACS758. Perubahan keluaran dari sensor akan masuk ke mikrokontroler.

Mikrokontroler ATMega 8535 berfungsi mengatur dan memproses data masukan dari

sensor, kemudian pengukuran arus akan ditampilkan pada penampil LCD. Gambar 3.1

menunjukkan diagram blok sistem perancangan alat pengoperasian motor induksi 3 fasa

pada sistem kelistrikan 1 fasa.

Gambar 3.1. Diagram blok rancangan

MI 3 fasa

Listrik 1 fasa

Sinkron 1 fasa

Generator

Sensor Arus

ACS758

Mikrokontroler

ATMega 8535

LCD

Beban

(Lampu

(45)

3.2

Perancangan Perangkat Keras

3.2.1

Perancangan Rangkaian Sensor Arus

Sensor yang digunakan pada penelitian ini adalah ACS758. Sensor ini akan

mendeteksi arus yang mengalir disebabkan oleh adanya beban yang terpasang. Dari situ

juga keluaran dari sensor akan masuk ke mikrokontroler yang nantinya akan ditampilkan

pada LCD.

Pada rangkaian gambar 3.2, untuk mengaktifkan sensor ini dibutuhkan tegangan

masukan sebesar +5V. Pada kaki 4 dan 5 dihubungkan pada rangkaian beban, untuk

mengukur besar arus yang mengalir pada rangkaian beban. Penghubung komponen

kapasitor pada sensor ACS758 merupakan rekomendasi dari

data sheet

. Selanjutnya

keluaran sensor dihubungkan pada

port

A0 mikrokontroler.

Gambar 3.2. Rangkaian sensor arus ACS758

Dikarenakan beban yang digunakan tidak lebih daripada 540 watt maka dapat

ditentukan arus maksimal yang akan diukur. Berdasarkan persamaan 2.8, maka

I

max

dapat

dihitung sebagai berikut :

� = �. �

(2.8)

���� =�

I

max

= 540 / 12 = 45 A

(46)

Tabel 3.1. Tegangan keluaran sensor terhadap arus yang diukur

3.2.2

Perancangan Rangkaian Mikrokontroler

Pada rangkaian mikrokontroler seperti pada gambar 3.3,

port

yang akan digunakan

adalah

port

A dan

port

C.

Port

A digunakan sebagai

port

ADC (

Analog to Digital

Conventer

). Data analog dari sensor ACS758 yang berupa tegangan diberikan kepada

port

A0. Data tersebut kemudian di konversi ke bentuk data digital dan siap diproses oleh

mikrokontroler. Untuk PC0, PC1, PC2, dan PC3 digunakan sebagai

port

data, sedangkan

PC4 dan PC5 digunakan sebagai

port

pengaturan

interface

LCD. Pada port C7 digunakan

sebagai keluaran untuk indikator lampu LED ketika sistem telah ON atau siap digunakan.

Gambar 3.3. Rangkaian mikrokontroler

(47)

Terdapat saklar masukan pada rangkaian yang berfungsi untuk mereset keadaan

mikrokontroler.

3.2.3

Reset Eksternal

Sistem pada mikrokontoler akan mereset bila pin

reset

mendapat logika 0. Pin

reset

dihubungkan dengan resistor (R1) yang terhubung ke vcc dan kapasitor yang terhubung ke

ground

. Gambar 3.4 adalah rangkaian

reset

eksternal.

Gambar 3.4. Rangkaian

reset

eksternal

3.2.4

Osilator

Salah satu kelebihan AVR adalah kecepatan dalam eksekusi program. AVR

membutuhkan waktu satu siklus untuk melakukan eksekusi terhadap suatu intruksi.

Pada perancangan digunakan 12 Mhz sebagai masukan clock dengan 2 kapasitor

sebesar 27 pF (

data sheet AVR hardware design considertions

). Gambar 3.5 menunjukan

rangkaian osilator.

Gambar 3.5. Rangkaian osilator

3.2.5

Kapasitor

Dalam perancangan ini kapasitor yang digunakan diserikan dengan dua kumparan

motor (kumparan R dan S) ditunjukkan pada gambar 3.6.

(48)

Gambar 3.6. Penempatan dan nilai kapasitor yang digunakan.

Untuk tenaga penggerak awal yang besar diperlukan kapasitor start (Cs). Sehingga

dibutuhkan kapasitor start (

Cs

) senilai 4,98x10

-5

F [3]. Untuk penentuan dari nilai

Cs

tersebut mengambil data kapasitor dari jurnal pihak lain yang telah melakukan penelitian

serupa terlebih dahulu.

3.2.6.

Perancangan Rangkaian Penampil

3.2.6.1. Rangkaian Indikator LED

Pada perancangan ini digunakan LED warna sebagai indikator. LED sebagai

indikator sistem ON (siap digunakan).

Port

yang digunakan untuk menampilkan LED yaitu

(49)

pada

port

C7. Jika tegangan keluaran pin I/O ini sebesar 4,8V dan arusnya sebesar 20 mA

(

data sheet AVR ATmega 8538

), maka dengan mengetahui besarnya nilai

dan arus

mikrokontroler, besarnya nilai R pada rangkaian LED berdasarkan persamaan 2.7 dapat

dihitung.

gambar 3.7 adalah rangkaian indikator LED.

Gambar 3.7. Rangkaian LED

3.2.6.2. Rangkaian LCD

LCD yang digunakan yaitu LCD M1632 dengan lebar

display

2 baris 16 kolom

yang konfigurasinya dapat dilihat pada gambar 3.8. Pada perancangan LCD digunakan dua

buah potensiometer sebesar 10KΩ dengan fungsi untuk mengatur

contrast

dari LCD.

Gambar 3.8. Rangkaian LCD

(50)

3.2.7.

Rangkaian Lengkap Mikrokontroler

Pada bagian ini akan menjelaskan secara keseluruhan rangkaian lengkap

mikrokontroler yang akan digunakan. Untuk tegangan keluaran dari sensor arus (ACS758)

sendiri akan masuk pada

port

A0. Bagian

interface-

nya yaitu LCD

port

yang digunakan

antara

port

C0 sampai

port

C5. Indikator jika sistem telah ON atau siap digunakan

menggunakan indikator LED.

Port

yang digunakan untuk indikator LED yaitu pada

port

C7. Berikut ini adalah gambar rangkaian lengkap mikrokontroler.

Gambar 3.9. Rangkaian lengkap mikrokontroler

3.2.8.

Perancangan Rangkaian Penyearah

Rangkaian penyearah yang digunakan dapat menghasilkan tegangan 5 dan 12 volt.

Rangkaian ini memperoleh sumber tegangan jala-jala listrik PLN 220 volt. Menggunakan

travo 2A untuk menurunkan tegangan AC 220 Volt menjadi tegangan 15 VAC dan 9 VAC.

Untuk menghasilkan gelombang penuh, maka tegangan 15 VAC dan 9 VAC perlu

disearahkan menggunakan dioda

bridge

, sehingga menghasilkan gelombang penuh.

(51)

menggunakan komponen L7805CV, dengan arus maksimal sebesar 1A. Tegangan keluaran

5 VDC digunakan untuk catu daya sensor arus dan LCD. Rangkaian yang digunakan dapat

dilihat pada gambar 3.10b.

(a)

(b)

Gambar 3.10. Rangkaian penyearah tegangan (a). 12 Volt dan (b). 5 Volt

Perhitungan nilai kapasitor untuk penyearah 12VDC, dilakukan seperti persamaan

2.5 dengan nilai tegangan keluaran trafo diketahui sebesar 15VAC

(VM), arus maksimal

yang diinginkan sebesar 1A dan tegangan masukan minimal IC regulator sebesar 14,5VDC

(VMIN), sehingga diperoleh nilai minimal kapasitor C1 sebagai berikut :

(52)

Vr (rms) =

Pada perhitungan nilai minimal C1 diperoleh sebesar 1883µF, nilai tersebut tidak

terdapat di pasaran sehingga digunakan nilai kapasitor C1 sebesar 2200µF yang mendekati

nilai perhitungan dan terdapat di pasaran. Pemilihan nilai C1 sebesar 2200µF akan

berdampak memperkecil

ripple

. Penentuan nilai kapasitor C2 yang digunakan adalah

100nF disesuaikan berdasarkan

datasheet

IC regulator L7812CV.

Perhitungan nilai kapasitor untuk penyearah 5VDC, dilakukan seperti persamaan 2.5

dengan nilai tegangan keluaran trafo diketahui sebesar 9VAC

(VM), arus maksimal yang

diinginkan sebesar 1A dan tegangan masukan minimal IC regulator sebesar 7,5VDC (VMIN),

sehingga diperoleh nilai minimal kapasitor C5 sebagai berikut :

(53)

1,106 =

∗ ∗�5∗√

1,106 =

, ∗�5

( , ∗

) ∗ , =

, ∗ � =

= 8 ,

= , � −

= µ

(54)

3.3.

Perancangan Perangkat Lunak

3.3.1.

Flowchart

Gambar 3.11. Alur program

Pada gambar 3.11 menunjukkan alur program. Pada saat sistem telah dimulai

mikrokontroler akan menginisialisasi

port-port

yang akan digunakan. LED akan menyala

sebagai indikator sistem siap digunakan. Ketika ada arus yang masuk maka sensor akan

membaca arus tersebut sebagai Iterukur. Iterukur adalah arus beban terpakai yang terukur oleh

sensor. Setelah itu proses selanjutnya data atau nilai yang terbaca tadi akan ditampilkan

pada

interface

LCD.

Mulai

Baca Iterukur

Selesai

Inisialisasi

LED

ON

(55)

36

Bab IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi mengenai penjelasan tentang bentuk fisik dari perangkat keras dan hasil percobaan pengoperasian motor induksi 3 fasa pada sistem tenaga listrik 1 fasa dan pada sistem listrik 3 fasa. Hasil percobaan berupa pengujian rangkaian alat, pengujian keluaran sensor arus ACS758 dalam mendeteksi arus yang terjadi, dan kecepatan putaran motor induksi 3 fasa.

4.1

Bentuk Fisik Perangkat Keras

4.1.1.

Bentuk Fisik Rangkaian Kapasitor

Dalam percobaan ini perangkaian kapasitor ditempatkan dalam dua buah terminalm blockmyang digabungkan.mPada gambar 4.1 menunjukkan bentuk fisik rangkaian kapasitor yang digunakan. Selain rangkaian kapasitor yang digunakan, percobaan ini menggunakan saklar yang berupa magneticmcontactor.m

Gambar 4.1. Bentuk fisik rangkaian kapasitor

Pada penelitian ini menggunakan magneticm contactor agar kuat dalam menahan arus yang lewat pada sambungan antara kapasitor dengan titik kutub pada motor induksi 3 fasa. Magneticmcontactor yang digunakan pada tugas akhir ini memiliki tipe S-K10 buatan EWIG.

Magnetic Contactor

Kapasitor Start (Cs)

(56)

Selain rangkaian kapasitor ada juga perangkat keras elektronik yang berfungsi untuk mendukung kinerja rangkaian kapasitor. Pada gambar 4.2 merupakan tampilan luar (boks) dari perangkat keras elektronik. Bagian luar boks perangkat keras elektronik terdapat LCD yang memiliki fungsi untuk menampilkan nilai dari arus yang terukur dan nilai tegangan keluaran dari sensor arus (ACS758) yang menuju minimummsystem.m

Gambar 4.2. Boks perangkat keras elektronik

4.1.2.

Cara Penggunaan Alat

Untuk menggunakan alat ini, user terlebih dulu merangkai rangkaian kapasitor yang telah disiapkan ke motor induksi 3 fasa dengan urutan yang ditunjukkan pada gambar 4.3.

Gambar 4.3. Penempatan rangkaian kapasitor pada motor induksi 3 fasa

W

V

W

Cr 26uF Cs

50uF

(57)

Pada awal perancangan penelitian, nilai dari kapasitor yang digunakan yaitu sebesar 49,8 µF untuk kapasitor start (CS) dan 25,9 µF untuk kapasitor jalan (CR), tetapi pada

implementasinya sulit menemukan nilai-nilai kapasitor yang sesuai dengan perancangan. Maka pada implementasinya nilai yang digunakan adalah 50 µF untuk kapasitor start (CS)

dan 26 µF untuk kapasitor jalan (CR).

Pada motor induksi terdapat beberapa titik kumparan yaitu kumparan W, V, dan U. Masing-masing kumparan mempunyai dua buah kaki yaitu dengan kode 1 dan 2, misal untuk kumparan W, jadi pada kumparan W terdapat kaki W1 dan kaki W2 begitupun juga dengan kumparan V dan U.

Setelah user merangkai semua rangkaian yang telah dipersiapkan langkah selanjutnya adalah menyalakan rangkaian tersebut dengan memberi tegangan sumber 220 Volt. Posisi saklar/magneticmcontactor pada awalnya berada di posisi ON atau terhubung. Sesaat setelah diberi tegangan 220 Volt kemudian langkah selanjutnya mematikan saklar / magneticmcontactor, tetapi tidak langsung dimatikan saklarnya, tunggu 5 - 10 detik setelah proses pemberian tegangan sumber 220 Volt atau sesaaat motor induksi 3 fasa mulai berputar kemudian baru dimatikan saklar tersebut. Hal ini mempunyai tujuan agar motor induksi 3 fasa mempunyai torsi awal yang besar dan bisa mencapai 70% - 80% dari putaran normal. Motor induksi 3 fasa putaran normalnya sebesar 1400 rpm, ketika putaran motor telah mencapai putaran ideal atau normal maka user dapat menyalakan sistem pengisian accu dan lampu pijar sebagai bebannya. Lampu pijar dan sistem pengisian accu yang telah dinyalakan dapat user ketahui seberapa besar arus yang terukur dengan melihat LCD yang tersedia pada boks perangkat keras elektroniknya, sedangkan untuk mengetahui kecepatan putaran motor induksi 3 fasa yang terjadi dengan menggunakan alat tachometer.

4.1.3.

Perangkat Keras

Elektronik

(58)

Gambar 4.4. Perangkat keras elektronik Keterangan dari gambar 4.4 :

A. Rangkaian catu daya (powermsupply)

B. Rangkaian penyearah tegangan 5 Volt dan 12 Volt C. MinimummSystemm

D. Sensor Arus ACS758 E. Rangkaian LCD

(59)

Untuk mendapatkan nilai variasi beban dalam percobaan ini menggunakan lampu pijar dengan nilai beban yang berbeda-beda pula antara 55 Watt, 35 Watt, dan 25 Watt. Lampu pijar sendiri menggunakan lampu dari kendaran bermotor yaitu tepatnya lampu sepeda motor, sehingga dalam satu lampu terdapat dua elemen lampu. Elemen yang pertama digunakan untuk lampu jarak dekat dan yang satunya lagi digunakan untuk jarak jauh. Jadi masing-masing lampu terdapat dua buah saklar yang berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan masing-masing elemen lampu.

Berikut ini merupakan gambar - gambar dari komponen penyusun boks perangkat keras elektronik.

Gambar 4.6. Rangkaian LCD

(60)

Gambar 4.9. Rangkaian penyearah tegangan

Gambar 4.10. Rangkaian catu daya

Pada perancangan awal tugas akhir ini penulis tidak menyertakan rangkaian catu daya dan penyearah tegangan sendiri karena pada awalnya penulis mempunyai pikiran bahwa akan menggunakan adaptor sebagai catu dayanya, namun pada hasil pembuatannya menggunakan rangkaian catu daya dan rangkaian penyearah sendiri yang telah melalui proses perhitungan.

4.2.

Hasil Pengujian

(61)

pengujian normal. Setiap tahap pengujian, dilakukan sebanyak empat kali untuk masing-masing pengambilan data.

4.2.1.

Pengujian Pada Sistee 1 Fasa

Pada tahap pengujian ini, masukan yang digunakan untuk mengoperasikan motor induksi 3 fasa menggunakan sistem 1 fasa yang disusun dari rangkaian kapasitor. Rangkaian kapasitor yang telah disusun diletakkan pada sisi kumparan yang mempunyai impedansinya yang lebih besar atau pada sisi kumparan bantu. Pengujian pada sistem 1 fasa dilakukan sebanyak empat kali, yang kemudian dicari nilai rata–ratanya. Pada tabel 4.1 memperlihatkan hasil dari percobaan, pengambilan data Vout sensor arus dan arus yang terukur selama percobaan dilakukan dengan cara melihat nilai yang tertampil pada LCD.

Tabel 4.1. Hasil pengujian pada sistem 1 fasa

Beban Laepu (Watt) Vout Sensor (Volt) Arus (Aepere) RPM

0 2,500 0,000 1489

55 2,726 6,284 1487

80 2,798 8,097 1486

90 2,827 8,826 1486

105 2,853 9,548 1485

115 2,892 10,152 1485

130 2,921 10,996 1484

140 2,941 11,604 1483

150 2,968 12,328 1482

155 2,971 12,449 1482

165 2,997 13,054 1480

175 3,017 13,539 1480

190 3,057 14,502 1478

200 3,075 14,986 1477

(62)

Gambar 4.11. Grafik hubungan antara arus terhadap beban lampu pada sistem 1 fasa

Gambar 4.12. Grafik hubungan antara RPM terhadap beban lampu pada sistem 1 fasa

Berdasarkan gambar 4.11 grafik hubungan beban lampu dengan arus yang terukur pada sensor menunjukkan hasil yang berbanding lurus. Berbanding lurus memiliki artian bahwa semakin besar beban yang digunakan, semakin besar pula arus yang terukur oleh sensor. Arus terkecil yang terukur yaitu pada saat tidak ada beban atau 0 Watt adalah sebesar 0 A, sedangkan arus terukur tertinggi yaitu pada beban 225 Watt adalah sebesar 15,953 A. Pada gambar 4.12 menunjukkan grafik hubungan antara beban lampu dengan

(63)

kecepatan putaran motor induksi 3 fasa. Dapat dilihat bahwa grafik tersebut memiliki hubungan yang berbanding terbalik, karena pada saat tidak ada beban kecepatan putaran yang dihasilkan sebesar 1489 RPM kemudian terus menurun kecepatan putarannya seiring dengan bertambah beban yang diberikan. Nilai kecepatan putaran terendah yang terjadi dengan diberi beban sebesar 225 Watt yaitu pada 1475 RPM.

Dalam mendapatkan hasil yang lebih baik dan teliti adanya penambahan parameter uji sistem yang dilakukan. Parameter uji sistem yang ditambahkan yaitu tegangan keluaran sistem pada alternator dan daya keluaran. Berikut adalah tabel penambahan parameter uji sistem.

Tabel 4.2. Penambahan parameter uji pada sistem 1 fasa Beban Laepu (Watt)

(64)

Keterangan :

P = Daya

V = Vout Alternator I = Arus Alternator

4.2.2.

Pengujian Pada Sistee 3 Fasa

Pengujian yang dilakukan pada tahap ini adalah menggunakan masukan sistem 3 fasa. Pada tahap ini sudah tidak lagi menggunakan rangkaian kapasitor. Pada pengujian tahap ini, menggunakan inverter 3 fasa sebagai sistem masukannya dimana dapat diatur besar – kecilnya nilai frekuensi yang akan digunakan untuk pengujian. Nilai frekuensi yang digunakan pada tahap ini adalah sebesar 50 Hz. Dipilih nilai frekuensi 50 Hz, untuk menyesuaikan dengan nilai frekuensi dari penyedia sumber yaitu PLN.

Pada tabel 4.3 merupakan hasil dari pengujian yang telah dilakukan. Isi dari tabel tersebut sama dengan tabel pada tahap yang sebelumnya yaitu tahap dengan masukan sistem 1 fasa. Nilai – nilai pada tabel ini juga diambil dari nilai yang tertampil pada LCD untuk Vout sensor dan Arus, sedangkan untuk melihat nilai RPM tetap dengan cara manual yaitu dengan menggunakan tachometer.

Tabel 4.3. Hasil pengujian pada sistem 3 fasa

Beban Laepu (Watt) Vout Sensor (Volt) Arus (Aepere) RPM

(65)

Gambar 4.13. Grafik hubungan antara arus dengan beban lampu pada sistem 3 fasa

Gambar 4.14. Grafik hubungan antara RPM dengan beban lampu pada sistem 3 fasa

Pada gambar 4.13 menjelaskan tentang grafik hubungan antara beban lampu dengan arus yang terukur. Arus yang terukur hampir sama dengan arus yang terjadi pada tahap sebelumnya yaitu pada masukan sistem 1 fasa. Terjadi kenaikan nilai arus setiap penambahan beban, untuk arus terkecil yang terukur pada saat beban 55 Watt adalah sebesar 5,801 A dan untuk nilai arus terbesar yang terukur sebesar 15,450 A. Untuk gambar 4.14 merupakan grafik hubungan antara beban lampu dengan kecepatan putaran (RPM) yang terjadi. Dalam percobaan tahap ini kecepatan yang terukur menunjukkan penurunan nilai kecepatan. Selama prosesnya percobaan terdapat kenaikkan nilai

(66)

kecepatan. Pada saat kondisi tanpa beban kecepatan yang terukur adalah 1491 RPM, kemudian ketika diberi beban sebesar 55 Watt naik menjadi 1492 RPM dan naik lagi kecepatan menjadi 1493 RPM pada beban 90 Watt. Setelah terjadi peningkatan kecepatan, ketika dibebani dengan 105 Watt kecepatan turun menjadi 1491 dan terus turun kecepatannya sampai pada beban terbesar yaitu 225 Watt dengan kecepatan yang terukur sebesar 1390 RPM.

Seperti halnya yang telah dilakukan pada pengujian sistem 1 fasa, maka pada pengujian sistem 3 fasapun dilakukan panambahan parameter uji sistem dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih teliti. Pada tabel 4.4 di bawah ini merupakan data dari parameter yang diuji.

Tabel 4.4. Penambahan parameter uji pada sistem 3 fasa Beban Laepu (Watt)

Figur

Gambar 2.9. Konfigurasi pin ATmega8535 [5]

Gambar 2.9.

Konfigurasi pin ATmega8535 [5] p.30
Tabel 2.1 Fungsi khusus port B [5]

Tabel 2.1

Fungsi khusus port B [5] p.30
Tabel 2.2 Fungsi hhusus port C [5]

Tabel 2.2

Fungsi hhusus port C [5] p.31
Tabel 2.5. Pemilihan tegangan referensi [6]

Tabel 2.5.

Pemilihan tegangan referensi [6] p.34
Tabel 2.12. Operasi dasar LCD[9]

Tabel 2.12.

Operasi dasar LCD[9] p.41
Gambar 3.9. Rangkaian lengkap mikrokontroler

Gambar 3.9.

Rangkaian lengkap mikrokontroler p.50
Gambar 3.10. Rangkaian penyearah tegangan (a). 12 Volt dan (b). 5 Volt

Gambar 3.10.

Rangkaian penyearah tegangan (a). 12 Volt dan (b). 5 Volt p.51
Gambar 3.11. Alur program

Gambar 3.11.

Alur program p.54
Gambar 4.1. Bentuk fisik rangkaian kapasitor

Gambar 4.1.

Bentuk fisik rangkaian kapasitor p.55
Gambar 4.2. Boks perangkat keras elektronik

Gambar 4.2.

Boks perangkat keras elektronik p.56
Gambar 4.3. Penempatan rangkaian kapasitor pada motor induksi 3 fasa

Gambar 4.3.

Penempatan rangkaian kapasitor pada motor induksi 3 fasa p.56
Gambar 4.4. Perangkat keras elektronik

Gambar 4.4.

Perangkat keras elektronik p.58
Gambar 4.6. Rangkaian LCD

Gambar 4.6.

Rangkaian LCD p.59
Gambar 4.9. Rangkaian penyearah tegangan

Gambar 4.9.

Rangkaian penyearah tegangan p.60
Tabel 4.1. Hasil pengujian pada sistem 1 fasa

Tabel 4.1.

Hasil pengujian pada sistem 1 fasa p.61
Gambar 4.11. Grafik hubungan antara arus terhadap beban lampu pada sistem 1 fasa

Gambar 4.11.

Grafik hubungan antara arus terhadap beban lampu pada sistem 1 fasa p.62
Tabel 4.2. Penambahan parameter uji pada sistem 1 fasa

Tabel 4.2.

Penambahan parameter uji pada sistem 1 fasa p.63
Tabel 4.3. Hasil pengujian pada sistem 3 fasa

Tabel 4.3.

Hasil pengujian pada sistem 3 fasa p.64
Gambar 4.13. Grafik hubungan antara arus dengan beban lampu pada sistem 3 fasa

Gambar 4.13.

Grafik hubungan antara arus dengan beban lampu pada sistem 3 fasa p.65
gambar 4.14 merupakan grafik hubungan antara beban lampu dengan kecepatan putaran

gambar 4.14

merupakan grafik hubungan antara beban lampu dengan kecepatan putaran p.65
Tabel 4.4. Penambahan parameter uji pada sistem 3 fasa

Tabel 4.4.

Penambahan parameter uji pada sistem 3 fasa p.66
Tabel 4.5. Pengujian kapasitor jalan 10 µF

Tabel 4.5.

Pengujian kapasitor jalan 10 µF p.67
Tabel 4.6. Pengujian kapasitor jalan 16 µF

Tabel 4.6.

Pengujian kapasitor jalan 16 µF p.68
Gambar 4.15. Grafik perbandingan arus keluaran alternator menggunakan variasi kapasitor

Gambar 4.15.

Grafik perbandingan arus keluaran alternator menggunakan variasi kapasitor p.69
Tabel 4.8. Nilai arus sistem 1 fasa dan sistem 3 fasa

Tabel 4.8.

Nilai arus sistem 1 fasa dan sistem 3 fasa p.70
Tabel 4.9. Nilai RPM motor induksi sistem 1 fasa dan sistem 3 fasa

Tabel 4.9.

Nilai RPM motor induksi sistem 1 fasa dan sistem 3 fasa p.71
Gambar 4.17. Grafik perbandingan RPM pada sistem 1 fasa dengan sistem 3 fasa

Gambar 4.17.

Grafik perbandingan RPM pada sistem 1 fasa dengan sistem 3 fasa p.72
Tabel 4.10. Persentase errormperangkat kerasmdalam pengukuran nilai arus

Tabel 4.10.

Persentase errormperangkat kerasmdalam pengukuran nilai arus p.74
Tabel 4.11. Hasil pengujian tegangan keluaran rangkaian penyearah

Tabel 4.11.

Hasil pengujian tegangan keluaran rangkaian penyearah p.76
Gambar 4.19. Tampilan awal LCD pada perangkat kerasm

Gambar 4.19.

Tampilan awal LCD pada perangkat kerasm p.77

Referensi

Memperbarui...