• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN PARTAI POLITIK LOKAL DI DESA BAMBEL GABUNGAN KECAMATAN BAMBEL KABUPATEN ACEH TENGGARA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN PARTAI POLITIK LOKAL DI DESA BAMBEL GABUNGAN KECAMATAN BAMBEL KABUPATEN ACEH TENGGARA."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN

PARTAI POLITIK LOKAL DI DESA BAMBEL

GABUNGAN KECAMATAN BAMBEL

KABUPATEN ACEH TENGGARA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Pimpin Nursalihin NIM.3103111067

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)

ABSTRAK

Pimpin Nursalihin. NIM 3103111067. Persepsi Masyarakat Terhadap Perkembangan Partai Politik Lokal Di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan. 2014.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Persepsi Masyarakat Terhadap Perkembangan Partai Politik Lokal Di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang ada di desa bambel gabungan yang berjumlah 300 KK. Sedangkan sampel dalam penelitian ini yaitu berjumlah 60 KK yaitu sebanyak 20% Dari Jumlah populasi. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara dengan Jumlah Populasi sebanyak 300 KK. Sampel dalam penelitian ini diambil 20% dari jumlah populasi yaitu sebanyak 60 Kepala Keluarga, yang diambil secara acak (random sampling). Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, angket dan wawancara. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan tabel frekuensi.

(3)

DAFTAR ISI

ABSTRAK

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Batasan Masalah ... 6

D. Rumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9

A. Kerangka Teori ... 9

1. Pengertian Persepsi Masyarakat ... 9

2. Pengertian Partai Politik ... 10

3. Partai Politik Lokal Aceh ... 12

4. Tujuan Partai Politik Lokal di Aceh ... 14

5. Fungsi Partai Politik Lokal di Aceh ... 16

B. Kerangka Berpikir ... 19

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 21

(4)

B. Populasi dan Sampel ... 22

1. Populasi Penelitian ... 22

2. Sampel Penelitian ... 22

C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 23

1. Variabel Penelitian ... 23

2. Definisi Operasional ... 23

D. Teknik Pengumpulan Data ... 23

E. Kisi-kisi Penelitian ... 24

F. Teknik Analisis Data ... 25

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 27

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... 27

1. Identitas Responden ... 28

B. Pembahasan/ Analisis Data ... 30

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 66

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Fungsi partai politik dalam negara demokrasi ... 17

Tabel 4.1 Distribusi responden berdasarkan umur ... 28

Tabel 4.2 Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan ... 29

Tabel 4.3 Pengetahuan Masyarakat tentang sejarah terbentuknya partai politik lokal di ACEH ... 30

Tabel 4.4 Pendapat masyarakat mengenai pembentukan partai politik lokal .... 31

Tabel 4.5 Pemahaman masyarakat mengenai partai politik lokal ... 33

Tabel 4.6 Pengetahuan Masyarakat mengenai tujuan partai politik lokal ... 34

Tabel 4.7 Pendapat masyarakat mengenai tujuan partai politik lokal ... 35

Tabel 4.8 Pengetahuan masyarakat mengenai fungsi partai politik lokal ... 37

Tabel 4.9 Pengetahuan masyarakat mengenai jumlah partai politik lokal ... 38

Tabel 4.10 Persepsi masyarakat tentang pengurus partai politik lokal pernah mensosialisasikan partai politiknya... 39

Tabel 4.11 Persepsi masyarakat tentang pemberian penyuluhan kepada masyarakat dalam melaksanakan pendidikan politik ... 40

Tabel 4.12 Persepsi masyarakat tentang pemberian sosialisasi politik oleh partai politik ... 41

Tabel 4.13 persepsi masyarakat tentang pemberian sosialisasi oleh partai politik hanya dalam bentuk kampanye ... 42

(6)

Tabel 4.15 Persepsi masyarakat tentang partai politik lokal mensosialisasikan program-program pemerintah serta melibatkan elemen-elemen masyarakat .... 44 Tabel 4.16 Pendapat masyarakat tentang partai politik lokal melakukan kaderisasi kepada masyarakat ... 45 Tabel 4.17 Persepsi masyarakat tentang pengkaderan partai politik hanya berasal dari kalangan elit atau berstrata tinggi ... 46 Tabel 4.18 Persepsi masyarakat tentang pemberian informasi perpolitikan oleh partai politik lokal ... 47 Tabel 4.19 Persepsi masyarakat tentang pelaksanaan komunikasi oleh partai politik lokal antara masyarakat dan DPR ... 49 Tabel 4.20 Persepsi masyarakat dalam pemberian kesempatan oleh partai politik lokal untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan politiknya ... 50 Tabel 4.21 Pendapat masyarakat tentang penciptaan iklim yang kondusif ... 51 Tabel 4.22 Pelaksanaan fungsi partai politik lokal sebagai wadah dalam

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Demokrasi di Indonesia khususnya daerah Aceh terwujud dari adanya partai politik lokal. partai politik lokal telah menjadi instrumen utama rakyat untuk berkompetensi sesuai dengan kendali institusi-institusi politik, yang dapat memberikan pengaruh yang kuat atas kebijakan-kebijakan publik. Selain itu, demokrasi juga mempunyai hubungan dengan perdamaian. Karena dalam lingkungan yang demokratis, masyarakat sipil berkembang dalam hubungan dengan komunitas yang berbeda-beda, konflik kekerasan dapat dicegah kareba ketegangan dan konflik-konflik tersebutdapat diregulasikan dan diselesaikan melalui cara-cara yang menekankan pada perdamaian. Dalam sebuah pandangan bahwa konflik etnis dapat diselesaikan atau dicegah melalui kerangka kerja demokrasi, karena melalui demokrasi perbedaan-perbedaan akan terselesaikan secara damai. Keyakinan bahwa demokrasi dapat menyelesaikan konflik telah membimbing para cendikiawan dan para aktivis perdamaian untuk menyakini bahwa rekontruksi pasca konflik membutuhkan demokrasi seperti halnya demokrasi membutuhkan perdamaian.

(8)

Saat duka mendalam karena musibah tsunami tentu saja membentuk suasana batin yang jauh berbeda dari proses negosiasi sebelumnya. Untuk mencapai partisipasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai kekuatan politik daerah, sejumlah tawaran, seperti kewenangan imigrasi, pencatuman kata “dan

Aceh” dibelakang setiap kata Indonesia dalam undang-undang dasar. Lagu

kebangsaan dan bendera sendiri dan sejumlah tuntutan lainya direlakan untuk dikelola oleh pemerintah pusat. GAM mulai mengendurkan tawaran untuk memperjuangkan satu tujuan. Setidaknya ada setitik sinar perdamaian disana.

Keberadaan partai politik lokal di Aceh merupakan hasil kompromi politik antara pemerintah Republik Indonesia dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam rangka menghasilkan perdamaian di Aceh.

Dalam penandatanganan MoU ( Memorandum Of Understanding) 15 Agustus 2005 antara Pemerintah Republik Indonesia dan GAM di Helsinki, Finlandia, terdapat beberapa butir kesepahaman yaitu pemberian amnesty kepada anggota GAM berikut pemulihan hak-hak politik, ekonomi, dan sosial. Salah satu bentuk pemulihan hak politik yang begitu ramai dibicarakan adalah keinginan GAM membentuk partai politik lokal di Aceh.

(9)

Menurut Rauf (dalam Ali Safa’at,2011:259), “keberadaan partai lokal

diperkirakan akan mampu menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan daerah lebih baik. Partai politik lokal di Aceh di harapkan mampu menyerap aspirasi-aspirasi masyarakat didaerah-daerah secara lebih tepat mengingat beragamnya kepentingan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia”.

Partai politik lokal dianggap lebih mampu untuk memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyat Aceh. Bisa saja ada partai politik yang hanya ingin menjadi partai politik lokal saja karena hanya seperti itu kemampuannya. Partai politik lokal tersebut lebih tertarik pada masalah politik ditingkat lokal sehingga hanya berminat mengajukan calon dalam pemilu ditingkat lokal (bahkan mungkin hanya disatu provinsi) konsep partai politik lokal akan dapat menampung aspirasi seperti itu.

(10)

Sementara fungsi partai politik lokal di Aceh ada empat yaitu, pertama memberikan pendidikan politik bagi masyarakat, kedua penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan rakyat, ketiga penyerapan, penghimpunan dan penyaluran aspirasi politik rakyat dan keempat partisipasi politik rakyat (terdapat dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh pasal 79).

Perkembangan partai politik lokal di Aceh mengalami pasang surut, hal ini bisa dilihat dari jumlah partai politik lokal saat ini yang ada di Aceh yang hanya berjumlah tiga partai saja yaitu Partai Aceh (PA), Partai Damai Aceh (PDA) dan Partai Nasional Aceh (PNA). Sementara pada pemilu tahun 2009 yang lalu, ada enam partai politik lokal di Aceh yaitu : Partai Aceh Aman Seujahtera (PAAS), Partai Daulat Aceh (PDA), Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA), Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai Aceh (PA) dan Partai Bersatu Aceh (PBA).

(11)

mengedepankan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan daripada kepentingan masyarakat dan bangsa. Keberadaan partai politik lokal juga saat ini masih merupakan suatu institusi yang memiliki potensi menjadi alat konflik masyarakat daripada sebagai peredam konflik, hal ini terlihat dari adanya pertikaian dan perpecahan antar partai politik lokal.

Berdasarkan hal tersebut, pelaksanaan fungsi partai politik lokal tidak berjalan dengan baik, keberadaan partai politik lokal belum mampu memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa, malah menjadi sebaliknya dimana partai politik cenderung sibuk memperebutkan kekuasaan, jabatan, dan uang. Sementara persoalan yang membelit rakyat dibiarkan begitu saja, seperti ketidakadilan, kemiskinan, ketidakamanan serta ancaman rasa takut akan konflik horizontal maupun vertikal. Padahal ketika pendirian partai politik atau kampanye pemilu selalu yang dijanjikan akan membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat, akan tetapi semuanya adalah hanya janji semata.

(12)

fungsinya. Dampak posisi partai politik lokal yang seperti ini akan berpengaruh terhadap keberadaan partai politik lokal sebagai lembaga demokrasi telah tersingkirkan dari kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin meneliti dan membahasnya lebih jauh dan rinci lagi dengan mengangkatnya dalam sebuah laporan penelitian dengan judul “ Persepsi Masyarakat Terhadap Perkembangan Partai Politik Lokal di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh

Tenggara”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang diatas, penulis dapat mengidentifikasi Masalah sebagai berikut :

1. Perkembangan partai politik lokal di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara.

2. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan partai politik lokal di Aceh. 3. Persepsi masyarakat tentang pelaksanaan tujuan partai politik lokal di Aceh. 4. Persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan fungsi partai politik lokal di Aceh. C. Batasan Masalah

(13)

1. Perkembangan partai politik lokal di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara.

2. Persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan fungsi partai politik lokal di Aceh. D. Rumusan Masalah

Dari uraian batasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana perkembangan partai politik lokal di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara?

2. Bagaimana Persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan fungsi partai politik lokal di Aceh ?

E. Tujuan Penelitian

Dalam setiap penelitian perlu diketahui maksud dan tujuan dari penelitian tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui perkembangan partai politik lokal di Aceh khususnya di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara. 2. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan fungsi partai

politik lokal di Aceh khususnya di Desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :

(14)

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta cara berpikir penulis tentang perkembangan pelaksanaan fungsi partai politik lokal di Aceh. 2. Bagi pemerintah dan partai politik lokal :

Sebagai masukan kepada pemerintah dan partai politik lokal di Aceh tentang pentingnya pelaksanakan fungsi partai politik dengan baik.

3. Bagi tokoh masyarakat :

(15)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan pembahasan penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :

Partai politik lokal merupakan sarana baru bagi masyarakat Aceh khususnya bagi masyarakat di desa Bambel Gabungan kecamatan Bambel kabupaten Aceh Tenggara dalam menyampaikan aspirasi dan kepentingan masyarakat. Kehadiran partai politik lokal merupakan realisasi dari penandatanganan MoU (Memorandum Of Understanding) Helsinki dan merupakan wujud dari realisasi demokrasi dan perdamaian di Aceh. Dengan demikian partai politik lokal di Aceh memiliki fungsi melaksanakan pendidikan politik bagi anggota masyarakat, penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan rakyat, penyerapan, penghimpunan dan penyaluran aspirasi politik masyarakat, serta meningkatkan partisipasi politik masyarakat di desa Bambel Gabungan kecamatan Bambel kabupaten Aceh Tenggara.

(16)

desa tersebut karena pelaksanaan fungsi partai politik lokal belum berjalan dengan baik.

B. Saran

Diharapkan kepada partai politik lokal yang ada di desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara agar lebih aktif dalam melakukan sosialisasi politik kepada masyarakat, agar masyarakat dapat merasakan manfaat akan keberadaan partai politik lokal tersebut. Serta partai politik lokal harus lebih aktif dalam memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar masyarakat di desa Bambel Gabungan Kecamatan Bambel mempunyai kesadaran yang tinggi akan hak dan kewajibannya dalam negara demokrasi.

Partai politik lokal juga diharapkan lebih mampu meningkatkan fungsinya terutama dalam menyerap, menghimpun dan menyalurkan aspirasi politik

(17)

1

1

DAFTAR PUSTAKA

Anggara, Sahya. 2013. Sistem Politik Indonesia. Bandung: CV.Pustaka Setia

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (edisi revisi 2010). Jakarta: PT. Rhineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (edisi revisi VI). Jakarta: PT. Rhineka Cipta.

Cangara, Hafied. 2011. Komunikasi Politik : Konsep, Teori dan Strategi. (edisi revisi 2011). Jakarta: Rajawali Pers.

Fadjar, Abdul Mukthie. 2013. Partai Politik Dalam Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia. Edisi revisi.Malang: Setara Press.

Gatara, Said dan Said, Dzulkiah.2007. Sosiologi Politik : Konsep dan Dinamika Perkembangan Kajian. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Jauhari, Herman.2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Pamungkas, Sigit. 2012. Partai Politik : Teori dan Praktik di Indonesia. Yogyakarta: Institute for Democracy and Welfarism (IDW).

Philipus dan Aini, Nurul. 2011. Sosiologi dan Politik. Jakarta: Rajawali Pers.

Rahmad.2000. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Romli, Nur, dkk. 2013. Potret Partai Politik Pasca Orde Baru. Jakarta: Pusat Penelitian Politik – LIPI (P2P - LIPI).

Safa’at, Muchamad Ali. 2011. Pembubaran Partai Politik : Pengaturan dan Praktik Pembubaran Partai Politik dalam Pergulatan Republik. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Setiawan, Deni. 2013. Metodelogo Penelitian : Teknik Penulisan Skripsi. Medan: Laboratorium PPKn Fakultas Ilmu Sosial Unimed.

Surbakti, Ramlan. 2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT. Grasindo.

(18)

2

2

Peraturan Perundang-Undangan :

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Partai Politik Lokal di Aceh.

Gambar

Tabel 4.16 Pendapat masyarakat tentang partai politik lokal melakukan kaderisasi

Referensi

Dokumen terkait

The objective of this study was to examine the effects of repeated freeze-thaw cycles and short-term storage of fecal extracts at ambient temperature on

Metode penelitian kualitatif terdiri dari tiga model desain penelitian, yakni deskriptif kualitatif, kualitatif verifikatif, dan grounded Research (Bungin, 2007,

Within this frame, gender awareness is a keystone of gender equality which is crucial in eradicating gender disparities and practices that discriminate against girls and

[r]

Dengan demikian, akhlak yang mulia merupakan tujuan pendidikan selama seorang siswa berada di madrasah dan di luar madrasah yang proses menuju tujuan itu

Kartun Benny dan Mice hadir sebagai media hiburan sekaligus media kritik sosial terhadap fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat perkotaan.. Sebelum

Utvrđivanje prometnih tokova jedna je od najvažnijih informacija prilikom prometnog planiranja. Višegodišnje sustavno prikupljanje podataka o prometu, te analiziranje

Kelulushidupan tertinggi terjadi pada frekuensi pemberian pakan empat kali, tanpa adanya ikan yang mati, hal ini diduga karena dengan tercukupinya pakan yang