24 BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian untuk melaksanakan penelitian ini guna memperoleh data-data yang mendukung tercapainya tujuan penelitian, yaitu:
a. Pengujian agregat halus dilakukan di Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret
b. Pembuatan benda uji dilakukan di Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
c. Pengukuran berat isi dilakukan di Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
d. Pengujian kuat tekan dan daya serap air dilakukan di Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian mencakup rangkaian dari kegiatan dan alokasi waktu yang dibutuhkan peneliti dalam melakukan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2017 sampai dengan bulan September 2018. Adapun rincian waktu penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Proses persiapan dalam penelitian ini terdiri dari pengajuan judul yang dilakukan pada bulan Mei 2017 kemudian penyusunan proposal sampai seminar proposal yang dilaksanakan pada bulan Juli 2017. Selanjutnya untuk perizinan penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2017.
b. Proses pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan September 2017 sampai bulan Oktober 2017 untuk pengadaan bahan-bahan seperti pasir, semen, jerami dan molase. Pada akhir bulan Oktober sampai November 2017 dilaksanakan pengujian bahan hingga pencucian pasir. Kemudian dilanjutkan pembuatan benda uji sampai dengan pengujian benda uji sampai bulan Januari 2018.
c. Proses analisa data dan penyusunan laporan skripsi dilakukan pada bulan Februari 2018 sampai bulan Juni 2018. Untuk pelaksanaan ujian direncanakan bulan Juli 2018 dengan penyelesaian revisi sampai bulan September 2018.
B. Desain Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang datanya berbentuk angka (Sugiyono 2011 : 23). Penelitian ini memberikan gambaran pengaruh penambahan variasi jerami padi dalam bentuk balok sebagai bahan pengisi batako terhadap berat isi, kuat tekan dan daya serap air batako dengan metode pencapuran volume 1 semen (Pc) : 5 pasir (Ps), nilai fas 0,5 dan penambahan tetes tebu (molase) sebesar 0,25% dari semen. Gambaran dibuat dengan mengadakan eksperimen terhadap benda uji untuk mendapatkan jawaban dari maksud dan tujuan penelitian ini. Batako yang nantinya akan dibuat adalah batako tipe E dengan dimensi lebar: tinggi: panjang yaitu 10cm: 20cm: 40cm.
C.
Populasi dan Sampel 1. Populasi PenelitianMenurut Agung (2003:2) populasi dapat didefinisikan sebagai himpunan semua data yang mungkin diobservasi atau dicacah/dicatat oleh seorang peneliti.
Dengan kata lain, populasi adalah himpunan semua individu yang dapat (atau yang mungkin akan) memberikan data dan informasi untuk suatu penelitian.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah batako dengan diisi jerami dalam bentuk balok. Dimensi Batako yang nantinya akan dibuat adalah batako tipe E dengan dimensi tebal x lebar x panjang yaitu 10cm x 20cm x 40cm.
2. Sampel Penelitian
Menurut Agung (2003: 2) sampel merupakan suatu himpunan bagian (sub set) dari sebuah populasi tertentu. Sampel merupakan bagian dari populasi yang menjadi perhatian. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.2.
Tabel 3.2. Jumlah Sampel dalam Penelitian No Variasi Jerami
(tebal: lebar: panjang)
Sampel Kuat tekan Sampel Absorbsi
1 Tanpa Jerami dan Tanpa Molase
5 batako 5 batako
2 Tanpa Jerami dengan Molase
5 batako 5 batako
3 5cm: 5cm :25cm 5 batako 5 batako
4 5cm: 10cm: 25cm 5 batako 5 batako
5 5cm: 15cm: 25cm 5 batako 5 batako
6 5cm: 5cm: 30cm 5 batako 5 batako
7 5cm: 10cm: 30cm 5 batako 5 batako
8 5cm: 15cm: 30cm 5 batako 5 batako
Total Sampel 40 batako 40 batako
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Sumber Data
Sumber data dalam pelaksanaan penelitian ini dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:
a. Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan bahan dan pengujian kuat tekan, daya serap air (absorbtion) dan berat isi air batako terhadap sejumlah benda uji berupa batako umur 28 hari.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari referensi dan informasi penunjang yang berhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan.
2. Teknik Mendapat Data
Data primer yang didapatkan dalam penilitian ini adalah hasil dari uji kuat tekan, berat isi, dan daya serap air batako.
a. Hasil Uji Berat Isi Batako 1) Tujuan
Untuk mengetahui berat isi bata beton / batako
2) Alat dan bahan
a) Bata Beton / Beton b) Timbangan
3) Langkah pekerjaan
a) Menimbang bata beton / batako dan mencatat hasilnya b) Menghitung volume bata beton / batako
c) Menghitung berat isi bata beton / batako dengan rumus
ρ = 𝑚𝑣 (2)
Dimana : ρ = berat isi bata beton / batako (kg/m3) m = berat bata beton / batako (kg) v = volume bata beton / batako (l) Sumber: (SNI 03 1973 1990)
b. Hasil Uji Kuat Tekan Batako 1) Tujuan
Untuk mengetahui kuat tekan bata beton / batako 2) Alat dan bahan
a) Bata beton / batako b) Alat uji kuat tekan c) Timbangan
3) Langkah Pengerjaan
a) Menimbang bata beton / batako dan mencatat hasilnya
b) Meletakan bata beton / batako sesuai dengan arah tekan alat uji tekan beton
c) Menguji kuat tekan bata beton / batako sampai terlihat retakan dan mencatat hasilnya
d) Menghitung kuat tekan bata beton / batako dengan rumus:
fc' = 𝑃𝐴 (3)
Dimana :
fc' = kuat tekan bata beton / batako (MPa) P = gaya pada puncak beban (N)
A = luas penampang bata beton / batako (mm2) ( Sumber : SNI 1974 2011)
c. Hasil Uji Daya Serap Air Batako 1) Tujuan
Untuk mengetahui daya serap air batako 2) Alat dan bahan
a) Batako b) Timbangan c) Bak berisi air d) Oven
e) Kain / handuk 3) Langkah pekerjaan
a) Menimbang batako dan mencatat hasilnya
b) Masukan batako ke dalam bak berisi air selama 24 jam c) Keringkan permukaan batako dengan handuk
d) Tombang batako setelah direndam 24 jam (A)
e) Masukan ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu 105 ± 5 ° C f) Timbang batako setelah di oven (B)
g) Menghitung daya serap air batako dengan rumus:
R = 𝐴−𝐵𝐵 x 100% (4)
Dimana: R = Nilai absorbsi atau serapan air pada batako (%) A = berat batako dalam kedaan basah (g)
B = berat batako dalam kondisi kering (g) Sumber: (SNI 03 0349 1989)
E. Teknik Analisi Data
Analisis data yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan bahan tambah jerami padi terhadap berat isi, kuat tekan dan daya serap air batako yaitu dengan analisis regresi. Namun sebelumnya diuji prasyarat analisis berupa uji normalitas dan uji linieritas.
1. Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas Data
Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah data-data pada variabel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk membuktikan bahwa data-data pada variabel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal, maka uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan program SPSS16.0, yaitu dengan menggunakan uji statistik One Sample Kolmogorov-Smirnov. Untuk menerima atau menolak hipotesa, maka perlu membandingkan harga Asymp. Sig. (2-tailed) dengan melihat kriteria di bawah ini :
Hipotesis:
Ho = data berdistribusi normal Ha = data berdistribusi tidak normal Pengambilan keputusan/ kriteria:
Jika probabilitas (harga Asymp. Sig. 2-tailed) > 0,05 ;maka Ho diterima Jika probabilitas (harga Asymp. Sig. 2-tailed) < 0,05 ;maka Ho ditolak b. Uji Linearitas dan Keberartian Regresi
Uji linearitas dimaksudkan untuk mengetahui linier tidaknya data pada variabel terikatnya, sehingga didapatkan gambaran tentang ada tidaknya keterikatan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Untuk mengetahui linier tidaknya dapat dilihat pada Curve Estimation pada program SPSS 16.0, yaitu melalui menu Regression dipilih Curve Estimation dengan model linier.
Jika nilai pada data menyebar di sekitar garis linier dan menunjukkan garis yang semakin naik atau menurun maka data tersebut linier, begitu juga sebaliknya jika data tidak menyebar di sekitar garis linear dan menunjukkan garis yang naik turun maka data tersebut tidak linear. Sedangkan untuk taraf keberartian regresi dapat dilihat pada nilai Fhitung dan nilai signifikansi pada tabel Anova.
Jika nilai Fhitung > Ftabel maka arah regresi berarti dengan dengan taraf signifikansi 5%. Jika nilai Fhitung < Ftabel maka arah regresi tidak berarti.
Kriteria :
Fhitung > Ftab = Arah regresi berarti Fhitung < Ftab = Arah regresi tidak berarti c. Analisis Regresi
Analisis regresi dalam program SPSS 16.0 adalah dengan menggunakan regresi (Regression). Analisis data yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan bahan tambah jerami padi terhadap berat isi, kuat tekan dan daya serap air batako yaitu dengan analisis regresi.
Analisis ini merupakan gambaran dari variabel bebas dalam penelitian yang dilakukan dengan variabel terikat yang dipengaruhi oleh variabel bebas yang ada. Dalam penelitian variabel bebas adalah jumlah jerami padi dengan variasi dimensi yang berbeda-beda, sedangkan variabel terikatnya adalah kuat tekan batako.
Bentuk umum dari persamaan regresi terdiri dari dua golongan yaitu linier (polinom pangkat satu) dan non linier (polinom pangkat lebih dari satu).
Mengenai bentuk umum dari persamaan regresi seperti terlihat dalam persamaan-persamaan di bawah ini (Sudjana, 2002):
Persamaan linier
Yc = a + bx (5)
Persamaan polinom pangakat dua
Yc = a + bx + cx2 (6)
Persamaan polinom pangkat tiga
Yc = a + bx + cx2 + dx3 (7)
Persamaan polinom pangkat k (k ≥ 2)
Yc = a0 + a1x + a1 x2 + a1 x3 + … + ak xk (8) Untuk menghitung konstanta a (a0, a1, …) b, c, d, maka diperlukan persamaan normal dari tiap-tiap persamaan garis regresi tersebut. Persamaan normal untuk tiap-tiap persamaan garis regresi adalah sebagai berikut:
1) Persamaaan normal linier a = (∑ 𝑌) (∑ 𝑋
2)− (∑ 𝑌) ∑ 𝑋𝑌)
𝑛 ∑ 𝑋2 (∑ 𝑋)2 (9)
b = (∑ 𝑋𝑌)−(∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
𝑛 ∑ 𝑋2 (∑ 𝑋2) (10)
2) Persamaan nominal polinom pangkat dua 3) Persamaan normal polinom pangkat tiga 4) Persamaan normal polinom pangkat k Keterangan:
Y = Variabel terikat (kuat tekan batako)
X = Variabel bebas (variasi penambahan jerami padi dalam bentuk balok) A0, a1, …, ak, b, c, d = konstanta.
Setelah semua data diteliti untuk masing-masing persamaan regresi telah dilaksanakan, langkah berikutnya adalah menentukan persamaan yang digunakan sebagai persamaan dasar korelasi variabel-variabel yang ada.
Analisis yang digunakan dalam SPSS 16.0 adalah Regression (Linear dan Curve Estimation). Apabila pada hasil analisis Regression Linear penggunaan bahan pengisi variasi jerami padi dalam bentuk balok tidak berpengaruh terhadap kuat tekan batako , maka analisis regresi dapat dengan menggunakan analisis Regression (Curve Estimation). Pilihan model pada Curve Estimation terdapat berbagai jenis model, yaitu Linear, Quadratic, Qubic, Logarithmic Inverse, Power, Coumpound, S, Logistic, Growth, dan Exponential.
2. Pengujian Hipotesis a. Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama menyatakan ada pengaruh penambahan jerami padi dalam bentuk balok sebagai bahan pengisi batako terhadap berat isi batako, akan dilakukan pengujian dengan menggunakan persamaan regresi dan harus dicari terlebih dahulu persamaan garis regresinya. Analisa regresi banyak digunakan untuk mencari hubungan atau pengaruh dari dua variabel atau lebih, dimana salah satu variabelnya merupakan variabel bebas dan yang lain merupakan variabel terikat.
Untuk menghitung pengaruh penambahan jerami padi dalam bentuk balok sebagai bahan pengisi batako terhadap berat isi batako digunakan persamaan garis regresi, yaitu dengan menggunakan program SPSS 16.0 dengan uji Regression (Curve Estimation). Pengambilan keputusan pada SPSS 16.0 adalah sebagai berikut :
Hipotesis :
Ho = tidak ada pengaruh jerami Ha = ada pengaruh jerami Pengambilan keputusan :
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak b. Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua menyatakan ada pengaruh penambahan jerami padi dalam bentuk balok sebagai bahan pengisi batako terhadap kuat tekan batako, akan dilakukan pengujian dengan menggunakan persamaan regresi dan harus dicari terlebih dahulu persamaan garis regresinya. Analisa regresi banyak digunakan untuk mencari hubungan atau pengaruh dari dua variabel atau lebih, dimana salah satu variabelnya merupakan variabel bebas dan yang lain merupakan variabel terikat.
Untuk menghitung pengaruh penambahan jerami padi dalam bentuk balok sebagai bahan pengisi batako terhadap kuat tekan batako digunakan persamaan garis regresi, yaitu dengan menggunakan program SPSS 16.0 dengan uji Regression (Curve Estimation). Pengambilan keputusan pada SPSS 16.0 adalah sebagai berikut :
Hipotesis :
Ho = tidak ada pengaruh jerami Ha = ada pengaruh jerami Pengambilan keputusan :
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak
c. Hipotesis Ketiga
Hipotesis ketiga menyatakan ada pengaruh penambahan jerami padi dalam bentuk balok sebagai bahan pengisi batako terhadap daya serap air (absorsi) batako, akan dilakukan pengujian dengan menggunakan persamaan regresi dan harus dicari terlebih dahulu persamaan garis regresinya. Analisa regresi banyak digunakan untuk mencari hubungan atau pengaruh dari dua variabel atau lebih, dimana salah satu variabelnya merupakan variabel bebas dan yang lain merupakan variabel terikat.
Untuk menghitung pengaruh penambahan jerami padi dalam bentuk balok sebagai bahan pengisi batako terhadap daya serap air batako digunakan persamaan garis regresi, yaitu dengan menggunakan program SPSS 16.0 dengan uji Regression (Curve Estimation). Pengambilan keputusan pada SPSS 16.0 adalah sebagai berikut :
Hipotesis :
Ho = tidak ada pengaruh jerami Ha = ada pengaruh jerami Pengambilan keputusan :
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak d. Hipotesis Keempat
Hipotesis keempat untuk mengetahui berat isi batako yang dihasilkan dalam kategori beton ringan atau tidak, dapat dilihat dari metode diskriptif yaitu tabel, grafik, nilai berat isi batako pada pengujian berat isi tiap variasi jerami pada batako.
e. Hipotesis Kelima
Hipotesis kelima terdapat variasi jerami optimal yang digunakan sebagai bahan pengisi batako yang menghasilkan kuat tekan beton maksimal yang sesuai dengan kuat tekan bata beton untuk pasangan dinding, metode deskriptif yaitu tabel, grafik, nilai kuat tekan beton pada pengujian kuat tekan tiap variasi jerami pada batako.
f. Hipotesis Keenam
Hipotesis keempat menyatakan bahwa penambahan jerami dalam bentuk balok sebagai pengisi batako menghasilkan batako dengan daya serap air sesuai bata beton untuk pasangan dinding, dapat dilihat dari metode deskriptif yaitu tabel, grafik, nilai daya serap air beton pada pengujian daya serap air tiap variasi jerami pada batako.
F. Prosedur Penelitian 1. Tahap Pertama
Tahap pemilihan bahan dan persiapan alat.
a. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) Semen tipe I (umum)
Semen yang digunakan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi SK SNI-2834-2000.
2) Agregat Halus (Pasir)
Pasir yang digunakan adalah pasir Muntilan, yang diambil dari Magelang.
Pasir yang digunakan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi SK SNI-2834-2000
3) Air
Air yang digunakan adalah air yang memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi SK SNI-2834-2000 .Pada penelitian menggunakan air dari laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
4) Tetes Tebu (Molase)
Tetes tebu atau molase yang digunakan dalam penitian ini diperoleh dari limbah pabrik-pabrik gula di daerah Kabupaten Boyolali. Penambahan molase menggunakan prosentase 0,25% dari pengunaan semen.
5) Jerami Padi
Jerami Padi yang digunakan adalah batang padi dalam keadaan kering tungku yang mempunyai panjang batang antara 35-40 cm. Dimana jerami
tersebut diperoleh dari persawahan di daerah Boyolali lebih tepatnya di Desa Klodran Nagasari dengan jarak akses dari lokasi pengambilan jerami dengan Kampus V UNS antara 15-16 Km.
b. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) Ayakan dan Mesin penggetar Ayakan.
Ayakan baja dan penggetar yang digunakan dengan bentuk lubang ayakan bujur sangkar dengan ukuran ayakan yang tersedia adalah 50 mm, 38,1 mm, 25 mm, 19 mm, 12,5 mm, 4,75 mm, 1,18 mm, 0,6 mm, 0,3 mm, 0,15 mm dan pan.
2) Timbangan
Ada dua jenis timbangan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
a) Timbangan dengan digital kapasitas 16 kg, ketelitian sampai 0,01 gram yang digunakan untuk menguur berat material yang berada di bawah kapasistasnya.
b) Timbangan “Bascule” dengan kapasitas 150 kg dengan ketelitian 0,1 kilogram yang digunakan untuk menguur berat material yang berada di bawah kapasistasnya.
3) Oven
Oven digunakan untuk keperluan pengeringan agregat maupun benda uji digunakan oven listrik dengan temperature maksimum 220˚ C dan daya lsitrik 1500 W.
4) Conical Mould
Digunakan untuk mengukur keadaan SSD (Saturated Surface Dry) dari agregat halus (pasir). Corong konical/Conical Mould yang digunakan dengan ukuran diameter atas 3,8 cm, diameter bawah 8,9 cm, tinggi 7,6 cm, lengkap dengan alat penumbuk
5) Nampan Besar
Nampan besar digunakan untuk tempat pencampuran bahan.
6) Cetakan Benda Uji
Digunakan untuk mencetak benda uji. Bentuk dari cetakan ini adalah balok yang terbuat dari besi denga ukuran 10cm x 20cm x 40cm.
7) Alat-alat Bantu
Unutk melancarkan dan mempermudah dala penelitian digunakan beberapa alat bantu:
a) Gelas ukur 2000 ml unutk menaksir air
b) Gelas ukur 250 ml untuk meneliti kandungan lumpur dan kandungan zat organik agregat halus.
c) Cetok semen untuk mengambil material, mengaduk dan untuk memasukkan campuran agregat halus.
d) Besi penusuk berfungsi untuk pemadatan mortar.
e) Alat pemadat manual.
f) Alat pencatat waktu.
g) Ember unutk tempat air.
h) Cangkul dan skop untuk mengaduk bahn campuran beton agar merata.
8) Satu Set Uji Serapan (Absorpsi) a) Bak air dengan ukuran 40 x 60 cm2
b) Timbangan dengan kapasitas 150 kg dengan ketelitian 0,1 kilogram.
9) Universal Testing Machine yang digunakan untuk pengujian kuat tekan batako.
2. Tahap Kedua
Tahap kedua penelitian ini merupakan pemeriksaan bahan yang akan digunakan.
a. Pengujian Kadar Lumpur Agegat Halus
Pengujian ini sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia tahun 1971 (PBI NI- 2 Tahun 1971).
b. Pengujian Kadar Zat Organik Dalam Agegat Halus
Pengujian kadar zat organik didasarkan pada Peraturan Beton Indonesia tahun 1971 (PBI NI-2 Tahun 1971).
c. Pengujian Specific Gravity Agregat Halus
Pengujian berat isi ini didasarkan pada SNI 1970- 2008 tentang Cara Uji Berat isi dan Penyerapan Air Agregar Halus.
d. Pengujian Gradasi Agregat Halus
Pengujian gradasi mengacu pada SNI 03-1968-1990 tentang Metode Pengujian Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar.
e. Pengujian Kadar Air Agregat Halus
Pengujian kadar air didasarkan pada SNI 1970-2008 tentang Cara Uji Berat isi dan Penyerapan Air Agregat Halus.
Dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap agregat halus. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sifat dan karakteristik dari bahan-bahan pembentuk beton sehingga dapat dihindari pemakaian material yang tidak memenuhi syarat dalam pembuatan beton.
a. Pengujian Kadar Lumpur
Agregat halus adalah salah satu bahan dasar beton yaitu sebagai agregat halus, dengan demikian kualitas agregat halus akan mempengaruhi kualitas beton yang dihasilkan. Untuk itu agregat halus yang akan digunakan dalam pembuatan beton harus memenuhi syarat, salah satunya adalah bersih, artinya agregat halus tidak mengandung lumpur lebih dari 5% berat kering. Lumpur adalah bagian dari agregat halus yang lolos saringan 0,063 mm, apabila kadar lumpur lebih dari 5% maka agregat halus harus dicuci lebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan adukan beton. Hal ini sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia tahun 1971 (PBI NI-2 Tahun 1971).
1) Tujuan
Untuk mengetahui kadar kandungan lumpur dalam agregat halus.
2) Alat dan Bahan
a) Gelas ukur 250 mm
b) Cawan aluminium
c) Timbangan atau neraca Ghauss dengan ketelitian 0,1 gram d) Pipet
e) Oven
f) Agregat halus 100 gram g) Air bersih
3) Langkah Kerja
a) Menyiapkan agregat halus kering oven pada suhu 110 °C selama 24 jam.
b) Menimbang agregat halus kering oven 100 gram (A).
c) Mengambil tabung gelas ukur kemudian memasukan agregat halus tersebut ke dalam gelas.
d) Melakukan proses pencucian dengan cara sebagai berikut:
(1) Menuangkan air ke dalam tabung berisi agregat halus setinggi 12 cm dariatas permukaan agregat halus.
(2) Menutup tabung rapat-rapat.
(3) Mengocok tabung sebanyak 10 kali.
(4) Membuang airnya.
e) Percobaan ini dilakukan beberapa kali sampai airnya jernih.
f) Menuangkan agregat halus ke dalam cawan aluminium, jika masih terdapat air, airnya dibuang dengan pipet.
g) Agregat halus dalam cawan tersebut kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 1100C selama 24 jam.
h) Setelah 24 jam agregat halus dalam cawan yang sudah dioven didiamkan hingga mencapai suhu kamar.
i) Menimbamg agregat halus yang sudah kering oven (B).
Kadar Lumpur = x100% A
B A
... (11) Dimana :
A = Berat agregat halus kering oven sebelum dicuci (gram) B = Berat agregat halus kering oven setelah dicuci (gram)
b. Pengujian Kadar Air
Kondisi agregat halus dalam keadaan SSD (Saturated Surface Dry). Tetapi dalam pelaksanaan pembuatan adukan, kondisi dari agregat halus mungkin bukan dalam keadaan SSD, oleh karena itu perlu diketahui kadar air dari agregat halus tersebut sebagai perbandingan rancangan campuran.
1) Tujuan
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui jumlah kandungan air dalam agregat khususnya agregat halus di lapangan.
2) Alat dan Bahan
a) Cawan aluminium
b) Timbangan/neraca Ghauss ketelitian 0,1 gram c) Oven
d) Agregat halus 3) Langkah kerja
a) Menyiapkan alat dan bahan berupa cawan dan agregat halus.
b) Menimbang berat cawan kosong
c) Kemudian mengambil agregat halus di lapangan secukupnya, agregat halus lalu ditimbang seberat 100 gr.
d) Agregat halus dalam cawan kemudian dioven pada suhu 110°C selama 24 jam.
e) Setelah dioven selama 24 jam, agregat halus yang dalam keadaan kering oven didiamkan hingga mencapai suhu kamar.
f) Agregat halus tersebut kemudian ditimbang.
Kadar Air = (𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔)
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ x 100%... …...(12) c. Pengujian Kadar Zat Organik
Agregat halus umumnya diambil dari sungai, maka kemungkinan agregat halus kotor sangat besar, misalnya bercampur dengan lumpur maupun zat organik lainnya. Agregat halus sebagai agregat halus dalam adukan beton tidak boleh mengandung zat organik terlalu banyak karena akan mengurangi kekuatan beton yang dihasilkan. Kandungan zat organik ini dapat dilihat dari
percobaan warna Abrams Harner dengan menggunakan larutan NaOH 3%
sesuai PBI NI-2 Tahun 1971, untuk mengetahui kadar zat organik dalam agregat halus berdasarkan perubahan warna dapat dilihat pada tabel.
1) Tujuan
Untuk mengetahui presentase kadar zat organik di dalam agregat halus berdasarkan tabel perubahan warna dari Prof. Ir. Rooseno.
Tabel 3.3. Pengaruh Warna Terhadap Penurunan Kekuatan
No Warna Penurunan Kekuatan (%)
1 Jernih 0
2 Kuning muda 0 – 10
3 Kuning Tua 10 – 20
4 Kuning Kemerahan 20 – 30
5 Coklat Kemerahan 30 – 50
6 Coklat Tua 50 – 100
(Sumber: Rooseno dalam modul praktek beton) 2) Alat dan Bahan
a) Gelas ukur 250 mm
b) Timbangan/neraca Ghauss dengan ketelitian 0,1 gram c) Oven
d) Agregat halus yang telah dioven e) Larutan NaOH 3%
3) Langkah Kerja
a) Menyiapkan agregat halus kering oven pada suhu 1100C selama 24 jam.
b) Mengambil tabung gelas ukur dan kemudian memasukan agregat halus tersebut ke dalam tabung gelas ukur sebanyak 130 gram.
c) Mengambil dan menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur yang berisi agregat halus tersebut sehingga volume agregat halus dan NaOH mencapai 200cc.
d) Mengocok agregat halus dan larutan NaOH 3% selama ± 10 menit.
e) Meletakan campuran pada tempat terlindungi selama 24 jam.
f) Mengamati warna yang berada di atas agregat halus dalam gelas ukur tersebut lalu membandingkan warna hasil pengujian dengan warna pada tabel.
d. Pengujian Specific Gravity
Mengetahui sifat-sifat bahan bangunan yang akan dipakai dalam suatu konstruksi adalah sangat penting karena dari sifat-sifat tersebut dapat ditentukan langkah-langkah yang tepat untuk mengerjakan bangunan tersebut. Berat jenis agregat dalah rasio antara masa padat agregat dan masa air dengan volume sama pada suhu yang sama.
Berat jenis digunakan untuk menentukan volume yang diisi oleh agregat.
Berat jenis dari agregat pada akhirnya akan menentukan berat jenis dari beton sehingga secara langsung menentukan banyaknya campuran agregat dalam campura beton.
1) Tujuan
a) Untuk mengetahui Bulk Specific Gravity (dalam keadaan kering) b) Untuk mengetahui Bulk Specific Gravity SSD (dalam keadaan jenuh /
kering permukaan)
c) Untuk mengetahui Apparent Specific Gravity (dalam keadaan basah) d) Untuk mengetahui Absorbtion (dalam keadaan meresap).
2) Alat dan Bahan
a) Conical Mould dan Temper (pemadat) b) Volumetric Flash 500cc.
c) Timbangan/neraca ghauss d) Pipet
e) Oven f) Cawan
g) Agregat halus h) Air Bersih
3) Langkah Kerja
a) Menyiapkan agregat halus kering oven pada suhu 1100 C selama 24 jam.
b) Menimbang agregat halus kering oven secukupnya.
c) Membuat agregat halus dalam keadaan SSD dengan cara:
(1) Memercikan air di atas agregat halus yang telah dioven, lalu diangin-anginkan sampai kering permukaan.
(2) Memasukan agregat halus dalam conical mould sampai 1/3 tinggi lalu kemudian ditumbuk dengan cara menjatuhkan (memanfaatkan berat sendiri) temper sebanyak 15x.
(3) Memasukan agregat halus lagi ke dalam conical mould sampai 2/3 tinggi kemudian ditumbuk lagi dengan cara menjatuhkan temper sebanyak 15x.
(4) Masukan lagi agregat halus hingga penuh kemudian ditumbuk dengan cara menjatuhkan temper sebanyak 15x.
(5) Mengangkat conical mould hingga agregat halus akan merosot, bila penurunan agregat halus mencapai 1/3 tinggi atau ± 2,5 cm maka agregat halus tersebut dalam keadaan kering permukaan.
d) Mengambil agregat halus dalam keadaan SSD tersebut sebanyak 500 gram.
e) Memasukan agregat halus tersebut dalam volumetric flash dan kemudian ditambah air sampai penuh dan didiamkan selama 24 jam.
f) Setelah 24 jam volumetric flash yang berisi agregat halus dan air tersebut ditimbang (c).
g) Keluarkan agregat halus dari volumetric flash dan masukan ke cawan dengan membuang air terlebih dahulu jika masih ada air maka dikeluarkan dahulu dengan menggunakan pipet.
h) Masukan semua agregat halus yang dikeluarkan dari volumetric flash ke dalam cawan
i) Ovenagregat halus dalam cawan tadi dengan suhu 110 °C selama 24 jam.
j) Volumetric flash yang telah kosong dan bersih diisi air sampai penuh dan ditimbang (B).
k) Agregat halus yang telah dioven didiamkan sampai mencapai suhu kamar kemudian ditimbang (A).
Rumus :
Bulk Specific Gravity =
C B
A
500 ... (13) Bulk Specific Gravity SSD=
C B500
500 . ... (14)
Apparent Specific Gravity =
C A B
A
... (15)
Absobrtion =500 X10000
A
A
... (16) Dimana:
A = berat kering oven (gram) B = berat flash + air (gram)
C = berat flash + agregat halus + air (gram) e. Pengujian Gradasi
Gradasi adalah keseragaman diameter agregat halus sebagai agregat halus.
Gradasi pada agregat halus lebih diperhitungkan daripada agregat kasar, karena menentukan sifat pengerjaan dan sifat kohesi campuran beton. Selain itu gradasi agregat halus sangat menentukan pemakaian semen dalam pembuatan beton.
1) Tujuan
Untuk mengetahui variasi diameter butiran agregat halus, persentase dan modulus kehalusannya.
2) Alat dan Bahan
a) Timbangan atau neraca Ghauss dengan ketelitian 0,1 gram.
b) Oven.
c) Satu set alat pemeriksa gradasi dengan diameter. 9,5 mm; 4,75 mm;
2,36 mm; 1,18 mm; 0,60 mm; 0,35mm; 0,212 mm; pan.
d) Cawan dan sikat.
e) Mesin vibrator/ penggetar.
f) Agregat halus setelah di oven 3) Langkah Kerja
a) Menyiapkan agregat halus kering oven pada suhu 110°C selama 24 jam.
b) Menimbang agregat halus kering oven 3000 gram.
c) Mengambil dan menyusun sieve dengan urutan diameter: 9,5 mm;
4,75 mm; 2,36 mm; 1,18 mm; 0,60 mm; 0,35mm; 0,212 mm; pan.
d) Meletakkan agregat halus kering oven tadi ke sieve, dan tutup sieve e) Letakan seive ke mesin vibrator/penggetar dan dinyalakan selama 5
menit.
f) Ambil dan catat berat agregat halus yang tertahan pada tiap-tiap saringan
g) Modulus kehalusan = 𝐴𝐵x100% ... (17) Dengan:
A =Σ persentase komulatif berat agregat halus yang tertinggalselain dalam pan
B = Σ persentase komulatif berat agregat halus yang tertinggal 3. Tahap ketiga
Pada tahap ini dilakukan pembuatan benda uji berupa batako dengan isi variasi jerami dengan dimensi batako 10cm x 20cm x 40cm. Sebelum benda uji batako dibuat, terlebih dahulu membuat jerami padi dalam bentuk balok.
a. Pembuatan Jerami dalam Bentuk Balok 1) Alat dan Bahan
a) Jerami
b) Lem Kayu PVAc c) Cetakan Batako Pres d) Mesin Pemotong 2) Cara Kerja
a) Jerami (batang padi pasca panen) diambil dari pangkal batang berjarak 2-3 cm dengan panjang 35-40 cm.
b) Jerami dikeringkan dengan cara dioven sampai kering tungku atau dijemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering.
c) Jerami dipres dahulu sebentar karena bentuk jerami yang berlubang di dalamnya, supaya jerami tidak mengembang dan hasilnya padat.
d) Jerami dicetak dengan alat cetakan batako setiap lapis perlapis,
e) Siapkan lem kayu PVAc sebagai bahan untuk merekatkan jerami padi, f) Mula-mula ambil jerami secukupnya (satu genggam tangan), kemudian
jerami diolesi dengan lem kayu PVAc secara merata dengan bantuan kuas, setelah lem kayu PVAc dioleskan secara merata pada jerami, timbang jerami tersebut, dan hasilnya dicatat. Setelah itu masukan pada alat cetakan batako. (Lampiran I)
g) Lakukan proses f sampai alat cetakan batako terisi jerami sampai sepertiga bagian. Kemudian putar tuas pres pada alat cetak batako hingga permukaan jerami, setelah sampai pada permukaan jerami putar tuas tersebut sebanyak 10 kali putaran hingga jerami menjadi padat.
h) Lakukan proses e dan f sampai cetakan terisi 1/3 kemudian dipres dengan alat cetak tersebut.
i) Kemudian tambahkan lagi jerami padi pada proses e dan f sampai cetakan terisi 2/3 kemudian dipres lagi.
j) Lakukan sampai cetakan terisi penuh.
k) Pengepresan didiamkan selama satu hari supaya hasil cetakan tidak mengembang.
l) Catat jumlah berat jerami dalam satu alat cetakan batako tersebut, hal ini dilakukan untuk menjadi acuan dalam proses pembuatan sempel jerami dalam bentuk balok yang lain agar memiliki berat.
m) Jumlah putaran setiap kali mengepres jerami juga harus sebanyak 10 kali putaran, hal ini dilakukan agar kuat tekan dari setiap sempel jerami menjadi sama.
n) Kemudian jerami di potong dibentuk dengan ukuran (lebar: tinggi:
panjang)yaitu 5cm: 15cm: 25cm, 5cm: 10cm: 25cm, 5cm: 5cm: 25cm ; 5cm: 15cm: 30cm, 5cm: 10cm: 30cm dan 5cm: 5cm: 30cm.
b. Pembuatan Batako 1) Alat dan Bahan
a) Cetakan Batako
b) Mesin Pengaduk Mortar (Molen) c) Cetok
d) Semen PC
e) Agregat Halus (Pasir) f) Air
g) Jerami Padi dalam Bentuk Balok h) Tetes Tebu (Molase)
2) Cara Kerja
b) Batako dibuat dengan campuran perbandingan volume semen dan pasir 1 : 5. Nilai fas 0,5 dan penambahan molase sebanyak 0,25%
dari volume semen.
c) Semen dan pasir terlebih dahulu di masukan ke mesin pengaduk (molen), kemudian diaduk dengan menjadi rata semen dan pasir.
d) Tambahkan air dan molase sesuai ketentuan. Diaduk kembali hingga terbentuk mortar.
e) Adukan mortar dituang ke dalam cetakan dengan ketinggian sesuai dengan variasi tinggi dari jerami sebagai pengisi adukan yang sudah di bentuk seperti kubus.
f) Masukkan jerami yang sudah dibentuk, kemudian adukan mortar dituangkan dengan dipadatkan perlahan sampai permukaan.
g) Batako yang sudah jadi disimpan di tempat tertutup agar terhindar dari sinar matahari langsung dan air hujan.
c. Batako dengan Penambahan Jerami dalam Bentuk Balok
Berikut hasil pencetakan batako dengan penambahan jerami dalam bentuk balok:
Gambar 3.1. Batako dengan Variasi Jerami 5cm: 5cm: 25cm
Gambar 3.2. Batako dengan Variasi Jerami 5cm: 10cm: 25cm
Gambar 3.3. Batako dengan Variasi Jerami 5cm: 15cm: 25cm
Gambar 3.4. Batako dengan Variasi Jerami 5cm: 5cm: 30cm
Gambar 3.5. Batako dengan Variasi Jerami 5cm: 10cm: 30cm
Gambar 3.6. Batako dengan Variasi Jerami 5cm: 15cm: 30 cm 4. Tahap keempat
Perawatan dari beda uji batako membiarkannya kering secara terbuka dalam ruangan selama 28 hari.
5. Tahap kelima
Analisis pemeriksaan berat isi batako dan pengujian kuat tekan batako dan daya serap air sesuai dengan SNI 03-0349-1989 tentang pengujian kuat tekan dan daya serap air batako.
6. Tahap keenam
Setelah melakukan pengujian pada beton, hasil data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan menggunakan SPSS versi 16.0.
7. Tahap Ketujuh
Menarik kesimpulan dari hasil analisa data penelitian.
G. Alur Penelitian
Jerami Padi a. kering tungku
Air:
a. tidak berwarna b. tidak bau c. tidak mengandung zat kimia Agregat halus
Uji bahan:
a. Kadar Lumpur b. Spesific grafity c. Absorbsi d. Gradasi pasir e. SSD f. Kandungan zat organik Semen:
a. Visual b. Kehalusan
Persiapan Bahan
Pemeriksaan Bahan
Pembuatan batako tanpa jerami dan molase, pembuatan batako tanpa jerami dan dengan molase dan pembuatan jerami dengan penambahan jerami dan molase, dengan dimensi
jerami padi:
(5: 15: 25 cm3; 5: 10: 25 cm3; 5: 5: 25 cm3; 5: 15: 30 cm3; 5: 10: 30 cm3; 5: 5: 30 cm3)
Perawatan Batako (28 hari)
Pengujian Batako
(kuat tekan, daya serap air dan berat isi)
Analisis Data
Kesimpulan dan Saran
Tahap II Tahap I
Tahap V Tahap VI
Tahap VI Tahap III
Tahap VII
Gambar 3.7. Bagan Alur Penelitian