29 | e-ISSN : 2746-8569 || p-ISSN : 2797-0051
Peningkatan Kemampuan Cuci Tangan Sesuai Standard WHO dalam Pencegahan Covid-19 Melalui Media Video pada Anak Pra Sekolah Lembaga Pendidikan (LP) Daarul Quran Fatchul Huda
Zahid Fikri
1, Muhammad Rosyidul ‘Ibad
1, Muhammad Ari Arfiyanto
1, Khikmatul Mu’jizah
2, Febriani Melania
1, Ismail Mahesba
11FIKES Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Indonesia
2STIKES Rajekwesi Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia
I
DENTITASA
RTIKELABSTRAK
Volume 2 Nomor 1 November 2021 : 29-34
Latar Belakang: Pencegahan Covid-19 yang dianjurkan oleh pemerintah adalah dengan memakai masker dan melakukan cuci tangan. Anak Pre School paling sering melakukan permainan dengan menggunakan kontak langsung pada mainannya. Bahkan ada yang melakukan permainan di luar dan melakukan kontak langsung dengan teman – teman yang lain. Kemampuan anak dalam melakukan cuci tangan perlu ditingkatkan karena cuci tangan yang dilakukan tanpa prosedur yang benar akan memberikan dampak negatif pada anak.
Tujuan dari pengabdian ini adalah meningkatan kemampuan anak pre school Lembaga Pendidikan Daarul Quran dalam melakukan cuci tangan yang benar sesuai standar WHO. Pengabdian ini dilakukan di Lembaga Pendidikan (LP) Daarul Quran Bandungrejosari Sukun Kota Malang. Pelaksanaa pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media ppt dan video untuk lebih mengenalkan dan memudahkan pemahaman anak terhadap cara cuci tangan yang benar.
Metode: Peserta yang mengikuti kegiatan berjumlah 30 anak. Kegiatan dilakukan di aula LP Daarul Quran dengan tetap mematuhi protocol Kesehatan. Sebelum kegiatan dimulai anak – anak dikondisikan dulu dengn berdoa dan bernyanyi, kemudian kita lakukan dulu evaluasi tentang pengetahuan dan kemampuan anak dalam melakukan cuci tangan
Hasil: Hasil awal sebelum diberikan materi semua anak belum bisa melakukan cuci tangan dengan benar. Materi diberikan selama 30 menit dan juga ada penayangan video cara cuci tangan kemudian anak – anak diminta mempraktikkan dengan dibantu oleh fasilitator. Anak – anak kemudian dilakukan tes Kembali untuk melakukan praktik cuci tangan.
Hasilnya terdapat peningkatan kemampuan anak dalam melakukan cuci tangan yang benar.
Kesimpulan : Kemampuan anak pra sekolah dalam melakukan cuci tangan menggunakan sabun/ hand sanitizer mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan sebelum dilakukan pembelajaran mengenai cuci tangan.
R
IWAYATA
RTIKEL Diajukan : 16 Agustus 2021 Diperbaiki : 23 Oktober 2021 Diterima : 12 November 2021 Dipublikasikan : 30 November 2021K
ATAK
UNCICuci Tangan, Media Video, Anak Pra Sekolah
K
ORESPONDENSI Zahid FikriPendahuluan
Virus SARS-CoV-2 diperkirakan menyebar di antara orang - orang melalui percikan pernapasan yang dihasilkan pada saat batuk dan percikan dari seseorang yang sedang bersin serta didapat dari permukaan benda yang sudah terkontaminasi yang kemudian secara
tidak sengaja menyentuh wajah seseorang.
Penyakit COVID-19 sangat menular saat penderitanya mengalami gejala, walaupun mungkin saja penyebarannya terjadi sebelum adanya gejala muncul. Paparan virus dan awalnya gejala biasanya terjadi dalam periode waktu
30 | e-ISSN : 2746-8569 || p-ISSN : 2797-0051
sekitar lima hari, tetapi juga dapat berkisar smpai empat belas hari. Gejala yang terjadi pada umumnya diantaranya, demam, batuk, dan sesak napas. Komplikasi yang terjadi berupa penyakit pernapasan akut berat dan pneumonia, dan untuk saat ini belum ditemukan vaksin atau antivirus khusus untuk menangani penyakit tersebut. Pengobatan secara primer yang dilakukan berupa terapi suportif dan simtomatik.Beberapa langkah pencegahan direkomendasikan yaitu diantaranya menjaga jarak dengan orang lain, mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut saat batuk atau menggunakan masker, serta memantau dan mengisolasi diri dari orang yang dicurigai terinfeksi virus1.
Data Covid-19 di kota Malang pada tanggal 27 September 2020 didapatkan suspek covid 19 dengan jumlah 2334 orang dengan rincian Kedungkandang 591, Sukun 528, Blimbing 489, Klojen 326, dan Lowokwaru 4002. Data tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap covid-19 harus ditingkatkan.
Peningkatan kewaspadaan adalah salah satunya dengan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.
Protokol kesehatan salah satunya adalah dengan melakukan cuci tangan sesuai standard WHO.
Perilaku cuci tangan dengan benar di masyarakat Indonesia masih cenderung kurang.
Penelitian yang dilakukan pada 70 orang di Kalikedinding Kenjeran Kota Surabaya menunjukkan hasil bahwa pengetahuan cuci tangan pada tingkat baik 74% sedangkan praktik cuci tangan menggunakan sabun sesuai standard yang benar hanya sekitar 23%.3 Perilaku cuci tangan selain harus diterapkan pada orang dewasa juga harus dilakukan pada anak – anak.
Anak – anak seringkali beraktifitas lebih banyak daripada orang dewasa. Aktifitas anak memang cenderung pada permainan. Permainan yang dilakukan anak – anak seringkali melibatkan kontak fisik.
Permainan yang dilakukan oleh anak – anak tidak hanya berada di area rumah. Tetapi juga saat berada di sekolah. Setiap kali melakukan permainan belum tentu anak tersebut
melakukan cuci tangan. Sehingga pantauan orang tua dan guru sangat dibutuhkan. Perilaku cuci tangan pada anak juga perlu diperhatikan kebenarannya. Cuci tangan yang dilakukan dengan benar mampu menghindari dan mencegah anak dari penyakit terutama covid-19.
Prosedur cuci tangan sudah diterapkan dengan baik di sekolah tersebut, tetapi dalam pelaksanaan cuci tangan yang dilakukan oleh peserta didik masih belum sesuai dengan panduan (SPO). Proses pengajaran melakukan cuci tangan jarang dilakukan dan dalam proses pemberian edukasi mengenai cuci tangan masih menggunakan metode manual. Anak – anak cenderung tertarik jika model pemberian edukasi melalui video dan dengan disertai musik serta gambar yang menarik.
Berdasarkan uraian di atas maka pengabdian yang ingin dilakukan yaitu berupa sosialisasi terkait cuci tangan dan memberikan pelatihan cara cuci tangan yang benar dengan menggunakan media video.
Metode
Pengabdian ini dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran melalui media video cuci tangan kepada anak – anak pra sekolah. Materi yang diberikan lebih difokuskan pada tata cara cuci tangan yang benar menurut WHO yang ditampilkan melalui media video.
Video yang digunakan adalah video kartun 3D yang cukup menarik untuk anak – anak. Sebelum dilakukan proses pembelajaran, anak – anak dihimbau dan diharuskan tetap mematuhi prokes dengan menggunakan masker. Peserta dikondisikan dulu dengan menyanyi dan berdoa.
Pembelajaran diawali dengan tes awal kemampuan anak melakukan cuci tangan.
Kemudian pemateri mengawali dengan memberikan pemahaman mengenai cuci tangan menggunakan power point kemudian untuk praktik cuci tangannya diberikan menggunakan media video kartun 3D. Setelah pemaparan video tentang cuci tangan kemudian setiap anak dilakukan evaluasi kembali dengan
https://journal.pelitamedika.org/index.php/pam | 31
mempraktikkan bagaimana cara cuci tangan yangbenar menggunakan sabun/ hand sanitizer. Jika masih terdapat beberapa kesalahan dalam melakukan cuci tangan maka fasilitator melakukan pengulangan kembali mengenai praktik cuci tangan yang benar.
Hasil
Pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini dimulai dari persiapan, yaitu melakukan perijinan ke Lembaga Pendidikan Daarul Quran Fatchul Huda Kota Malang, menyiapkan beberapa alat kerja seperti media ppt dan video, laptop serta lembar dokumentasi kegiatan. Tahap kedua, tim pengabdian mulai melakukan sosialisasi kegiatan berupa penyamaan persepsi dan pengenalan program kepada pemangku, ustadz dan ustadzah perihal kegiatan pengabdian masyarakat yang akan dilaksanakan serta melakukan kontrak waktu pelaksanaan. Hasil dari pengabdian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Pretest kemampuan anak pra sekolah melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun dan hand sanitizer di LP Daarul Quran Fatchul Huda Tahun 2021Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar kemampuan anak dalam melakukan cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer secara benar adalah kurang dengan jumlah 93.33% (28 anak).
Gambar 1 Proses Pemberian Materi Cuci Tangan Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar kemampuan anak dalam melakukan cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer secara benar adalah baik dengan jumlah 86.66% (26 anak). Terjadi peningkatan kemampuan anak dalam melakukan cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer secara benar di LP Daarul Quran Fatchul Huda.
Tabel 2 Posttest kemampuan anak pra sekolah melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun dan hand sanitizer di LP Daarul Quran Fatchul Huda Tahun 2021
Diskusi
Pada anak prasekolah perkembangan fisik dan kepribadian ditandai dengan perkembangan motoric yang belangsung terus menerus. Perkembangan kognitif pada anak prasekolah menurut teori Piaget berada pada tahap praoperasional. Pendidikan kesehatan yang diberikan pada anak usia prasekolah harus sesuai dengan perkembangan kognitif anak, anak prasekolah masih berpikir praoperasional yang bersifat konkret dan nyata, pemikiran mereka didominasi dengan apa yang mereka dengar, lihat dan yang mereka alami 4.
32 | e-ISSN : 2746-8569 || p-ISSN : 2797-0051
Dua tahun pertama kehidupan manusia sangat penting bagi perkembangan anak. Anak mulai mengembangkan kemampuan motorik indrawi, visual, dan auditori yang distimulasi melalui lingkungan sekitarnya5. Bertambahnya usia anak maka akan bertambah juga kemampuan dalam mengingat kembali informasi dari ingatan.Adapun konsentrasi anak dalam mendengarkan informasi tergantung pada usia nya. Kemampuan dalam berkonsentrasi mendengar setiap anak berbeda-beda, pada usia 4-5 tahun, daya konsentrasi mendengar anak 7-10 menit sedangkan usia 5-8 tahun, daya konsentrasi mendengar pada anak 10-25 menit 6.
Kesimpulan
Kesimpulan pada pengabdian ini adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan anak pra sekolah dalam melakukan cuci tangan mengalami peningkatan
2. Anak – anak mengalami peningkatan pemahaman kapan saja harus melakukan cuci tangan
Pengakuan
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan laporan pengabdian masyarakat dengan judul Peningkatan Kemampuan Cuci Tangan Sesuai Standard WHO dalam Pencegahan Covid-19 Melalui Media Video pada Anak Pra Sekolah Lembaga Pendidikan (LP) Daarul Quran Fatchul Huda Malang ini. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu terselesaikannya proposal ini. Terima kasih kepada: Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily M.Si, selaku Direktur DPPM-UMM, Faqih Ruhyanudin, M.Kep.,Sp.,Kep.,MB., selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Ustadz Suryo Handoko Selaku Pemangku Lembaga Pendidikan Daarul Quran Fatchul Huda Bandungrejosari Kota Malang, Ustadz dan Ustadzah LP Daarul Quran Fatchul Huda Bandungrejosari Kota Malang, dan
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Kami menyadari bahwa tiada sesuatu yang sempurna di dunia ini, begitu pun laporan yang telah kami buat ini, baik dalam hal isi maupun penulisannya. Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan Laporan kami selanjutnya.
Terakhir, kami berharap hasil kegiatan kami dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
Daftar Referensi
1. Munawaroh, A., Hiyana, C.,& Sukini, T.
(2014). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Perkembangan Bayi dengan Pemberian Stimulasi Perkembangan Bayi Usia 6-9 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Dharmarini Kabupaten Temanggung. Jurnal Kebidanan, 4 (8): 2089-7669. Diakses pada tanggal 5 Februari 2020, pukul 04.25 wib dari http://docplayer.info
2. Alfiyah, N., & Nafiah, U. (2016).
HubunganTingkat Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi dengan Perkembangan Anak Usia 0-24 Bulan di Desa Triguno Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati. Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan. 7 (2). 2087- 4154.
Diakses pada tanggal 05 Februari 2020,
pukul 04.00 WIB dari
http://siakad.akbidbup.ac.id.
3. Yusuf, Syamsu., & Sugandhi, Nani M. (2016).
Perkembangan Peserta Didik, Edisi 1. Jakarta : Raja Grafindo Persada
4. Sabariah, L. (2016). Mari Mendongeng.
Yogyakarta : Zora Book.
5. Cahyaningsih, D. S. (2011). Pertumbuhan Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta:
TIM. Departemen Kesehatan RI. (2006).
Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi
6. Dini Tumbuh Kembang Anak ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Departemen Kesehatan RI
7. Dewi, R.C., Oktiawati, A., & Saputri, L.D.
(2015). Teori & Konsep Tumbuh Kembang
https://journal.pelitamedika.org/index.php/pam | 33
Bayi, Toddler, Anak dan Remaja. Yogyakarta:Nuha Medika.
8. Dewi, E. U., & Sinambela, N. (2014).
Hubungan Stimulasi Psikososial terhadap Perkembangan Sosial-Emosi pada Anak Pra Sekolah di TK Yayasan Wanita Kereta Api Mojokerto. Jurnal Psikologi. 3 (2). Diakses pada tanggal 5 Februari 2020, pukul 14.25
wib dari
http://ejournal.stikeswilliambooth.ac.id 9. Najib, M. (2017). Awas Bahaya Gadget Bagi
Anak. Harian Analisa. Semarang. Diakses pada tanggal 5 Februari 2020, pukul 14.00 wib dari http://harian.analisadaily.com 10. Nurmalitasari, Femmi (2015).
Perkembangan Sosial Emosi pada Anak Usia Prasekolah. vol 23 (2), 103-111.
11. Permatasari, F. D., & Purwati, Y. (2011).
Hubungan Stimulasi Dini dengan Perkembangan Motorik Kasar pada Anak Usia Todller di Teman Sejati Sarihusada Kotabaru Yogyakarta. Diakses melalui http://opac.unisayogya.ac.id