DAFTAR ISI. Pelatihan Pelayanan Kesehatan Reproduksi pada Masa Pandemi COVID-19 i

56  Download (0)

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

Deskripsi Singkat ... 1

Tujuan Pembelajaran ... 2

A. Hasil belajar ... 2

B. Indikator Hasil Belajar ... 2

Materi Pokok dan Submateri Pokok ... 3

Metode ... 4

Media dan Alat Bantu ... 5

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran ... 5

A. Pengondisian ... 5

B. Pemaparan Materi (45 menit) ... 6

C. Pembahasan Tugas Refleksi Diri (15 menit) ... 6

D. Diskusi dan Tanya Jawab (15 menit) ... 7

E. Role-Play (15 menit) ... 7

URAIAN MATERI PEMBELAJARAN ... 7

A. Pengertian Bencana ... 7

B. Krisis Kesehatan dan Penanggulangannya... 10

C. Kesiapsiagaan Klaster Kesehatan dalam Menghadapi Bencana dan Krisis Kesehatan ... 16

D. Situasi Terkini COVID-19 di Indonesia ... 23

E. Definisi Operasional COVID-19... 27

(3)

F. Mengenali Gejala COVID-19 dan Menghadapi

Pasien dengan Potensi COVID-19 ... 33

G. Edukasi Masyarakat dalam Pencegahan COVID-19 ... 36

H. Vaksinasi COVID-19 ... 42

RANGKUMAN... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 46

(4)

Pengetahuan Dasar Krisis Kesehatan pada Masa Pandemi COVID-19

Deskripsi Singkat

Bidan merupakan tenaga kesehatan yang memegang peranan sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi. Menurut Pasal 46 Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan, tugas bidan meliputi pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan Keluarga Berencana (KB). Sebagai tenaga kesehatan yang berpraktik di garis depan, bidan diharapkan dapat membantu proses mitigasi pandemi COVID-19 dan terus memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas.

Modul ini menjelaskan pengetahuan dasar krisis kesehatan. Peserta akan mempelajari pengetahuan dasar bencana, khususnya bencana non-alam, tahapan penanggulangan bencana non-alam, dan situasi terkini pandemi COVID-19 di Indonesia. Peserta juga akan memperoleh pengetahuan dasar COVID-19 agar

(5)

setelahnya dapat melakukan skrining, memberikan rujukan, serta menyampaikan edukasi yang berkualitas, baik kepada pasien maupun masyarakat secara umum.

Tujuan Pembelajaran

A. Hasil belajar

Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta mampu:

1. Memahami konsep dasar bencana non-alam.

2. Memahami penanggulangan bencana non-alam.

3. Memahami situasi terkini pandemi COVID-19 di Indonesia.

4. Memahami pengetahuan dasar COVID-19.

B. Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta dapat : 1. Menjelaskan pengertian bencana alam dan

bencana non-alam.

2. Menyebutkan tahapan penanggulangan krisis kesehatan.

(6)

3. Menjelaskan struktur, alur koordinasi, dan upaya kesiapsiagaan yang perlu dilakukan oleh klaster kesehatan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan.

4. Menjelaskan pengetahuan dasar COVID-19 di Indonesia yang meliputi definisi COVID-19, epidemiologi terkini, klasifikasi kasus COVID-19, dan upaya yang perlu dilakukan oleh masyarakat dalam melindungi diri dari COVID-19.

Materi Pokok dan Submateri Pokok

Materi pokok dan submateri pokok pada mata pelatihan ini adalah sebagai berikut:

A. Pengertian Bencana

B. Krisis Kesehatan dan Tahap Penanggulangannya 1. Prakrisis Kesehatan

2. Darurat Krisis Kesehatan 3. Pascakrisis Kesehatan

C. Kesiapsiagaan Klaster Menghadapi Bencana dan Krisis Kesehatan

(7)

1. Struktur dan Alur Koordinasi Kesiapsiagaan Klaster Kesehatan

2. Upaya Kesiapsiagaan Klaster Kesehatan D. Situasi COVID-19 di Indonesia

1. Deskripsi Coronavirus disease

2. Definisi Kasus dan Tanda Tanpa Gejala

3. Kondisi/Epidemiologi COVID-19 di Indonesia Saat Ini

4. Upaya Masyarakat Menghadapi Krisis Kesehatan COVID-19

Metode

A. Tugas Prawebinar

a. Melakukan refleksi diri atau membuat narasi singkat mengenai pengalaman pribadi dalam praktik sehari-hari pada masa pandemi COVID-19, terutama hambatan yang dialami (250–500 kata).

b. Menonton video yang disediakan oleh panitia sebelum sesi pelatihan dimulai.

B. Pemaparan Materi oleh Narasumber (Menggunakan Aplikasi Zoom) (45 menit)

C. Pembahasan Tugas Refleksi Diri (15 menit)

(8)

D. Diskusi dan Tanya Jawab (15 menit) E. Role-Play (15 menit)

Media dan Alat Bantu

1. Jaringan Internet 2. Laptop atau Komputer

3. Bahan Tayang (Slide PowerPoint) 4. Bahan Video Interaktif

5. Modul 6. Alat tulis

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini sebanyak 3 jam pelajaran (T = 1 JPL; P: 2 PL: 0) @45 menit untuk memudahkan proses pembelajaran, berikut disampaikan langkah-langkah kegiatan dalam proses pembelajaran materi ini.

A. Pengondisian

1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila fasilitator belum pernah menyampaikan materi di kelas, mulailah dengan

(9)

perkenalan. Perkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, instansi tempat bekerja, dan materi yang akan disampaikan.

2. Sampaikan tujuan pembelajaran modul ini dan pokok bahasan yang akan disampaikan—

sebaiknya menggunakan bahan tayang.

3. Sampaikan tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama proses pembelajaran.

B. Pemaparan Materi (45 menit)

1. Fasilitator menyampaikan materi sesuai urutan pokok bahasan dan subpokok bahasan menggunakan bahan tayang.

2. Fasilitator menyampaikan rangkuman materi.

C. Pembahasan Tugas Refleksi Diri (15 menit)

1. Fasilitator memilih 1–3 naskah refleksi diri dengan topik bencana non-alam, penanggulangan

COVID-19, dan pengetahuan dasar COVID-19.

2. Fasilitator mendiskusikan setiap naskah selama lima menit dan menjelaskan kegunaan

pengetahuan yang diperoleh di sesi ini jika

(10)

peserta menemui kesulitan serupa di masa depan.

D. Diskusi dan Tanya Jawab (15 menit)

1. Fasilitator memandu proses diskusi dan tanya jawab dengan peserta.

2. Fasilitator memberikan umpan balik secara singkat.

E. Role-Play (15 menit)

1. Fasilitator menyampaikan tata cara pelaksanaan role-play.

2. Role-play dilakukan menggunakan kasus yang telah disediakan. Role-play berfokus pada kemampuan bidan dalam memberikan edukasi kepada pasien mengenai COVID-19.

URAIAN MATERI PEMBELAJARAN

A. Pengertian Bencana

Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, definisi bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan

(11)

penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam, maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana dapat disebabkan oleh faktor alam, non- alam, dan manusia sehingga Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 juga memberikan definisi bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh faktor alam. Contoh bencana alam:

tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin topan, dan kekeringan. Ulasan lebih lanjut mengenai bencana alam berada di luar cakupan modul ini.

Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam. Contoh bencana non-alam: Kegagalan

(12)

teknologi (misalnya, pada kondisi padam listrik luas yang menyebabkan kerugian dalam jumlah besar), kegagalan modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Pandemi COVID-19 termasuk ke dalam kategori bencana non-alam.

Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia. Contoh bencana sosial:

Konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas dan teror, seperti kerusuhan dan terorisme.

Kejadian bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun kerusakan.

Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian. Misalnya, bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah pada 2018. Meskipun terdapat beberapa wilayah yang terkena dampak kedua bencana tersebut, tetapi keduanya dianggap sebagai satu kejadian bencana.

(13)

Sama halnya dengan pandemi COVID-19 yang dianggap sebagai satu kejadian bencana.

Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna dari segi epidemiologi di suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Contoh KLB:

meningkatnya insiden demam dengue pada suatu kecamatan atau munculnya polio di daerah yang sebelumnya tidak memiliki kasus polio. Status KLB diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 949/MENKES/SK/VIII/2004.

B. Krisis Kesehatan dan Penanggulangannya

Setelah memahami pengertian bencana, bidan perlu memahami pengertian krisis kesehatan. Krisis kesehatan dan penanggulangannya diatur dalam Permenkes Nomor 75 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan.

Krisis kesehatan adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengakibatkan timbulnya korban

(14)

jiwa, korban luka/sakit, pengungsian, dan/atau adanya potensi bahaya yang berdampak pada kesehatan masyarakat sehingga membutuhkan respons cepat di luar kebiasaan normal dan kapasitas kesehatan tidak memadai.

Krisis kesehatan dapat disebabkan oleh bencana alam maupun bencana non-alam. Pada 2016, terjadi 661 krisis kesehatan secara nasional; sebanyak 60%

disebabkan oleh bencana alam (misalnya, banjir dan tanah longsor), 36% disebabkan oleh bencana non- alam (misalnya, KLB keracunan dan kebakaran), dan 4% disebabkan oleh bencana sosial (misalnya, teror dan sabotase).

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan krisis kesehatan yang disebabkan oleh bencana non- alam. COVID-19, dengan transmisinya yang sangat cepat dan insidennya yang sangat tinggi, berpotensi besar menghambat program kesehatan yang sedang berlangsung. Misalnya, COVID-19 menurunkan jumlah kunjungan pasien tuberkulosis

(15)

ke puskesmas sehingga berpotensi mengganggu upaya penanggulangan penyakit tersebut. COVID-19 juga menurunkan kunjungan antenatal dan partisipasi imunisasi anak dan balita.

Pada kondisi krisis kesehatan, pelaksanaan program kesehatan masyarakat tidak dapat dilaksanakan seperti pada keadaan biasa. Dibutuhkan langkah dan respons yang cepat di luar prosedur normal untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan krisis kesehatan tersebut.

Upaya penanggulangan krisis kesehatan dimulai dari sebelum munculnya krisis tersebut hingga setelah krisis tersebut berakhir. Terdapat tiga tahapan penanggulangan krisis kesehatan:

1. Prakrisis Kesehatan: Tahap ini dilakukan dalam situasi tidak terjadi bencana atau dalam situasi terdapat potensi bencana. Rangkaian kegiatan kesiagaan krisis kesehatan perlu dilakukan untuk mencegah dan memitigasi potensi bencana tersebut serta memastikan tersedianya sumber

(16)

daya kesehatan yang memadai pada kondisi krisis kesehatan di masa depan. Kegiatan yang dapat dilakukan meliputi perencanaan penanggulangan krisis kesehatan, pengurangan risiko krisis kesehatan, pendidikan dan pelatihan, penetapan persyaratan standar teknis dan analisis penanggulangan krisis kesehatan, kesiapsiagaan, dan mitigasi kesehatan. Contoh kegiatan di tahap ini antara lain simulasi dan geladi bidang kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pengembangan sistem peringatan dini, membentuk tim medis darurat, membuat standar prosedur kaji cepat masalah kesehatan (rapid health assessment), menyiapkan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi krisis kesehatan.

2. Tanggap Darurat Krisis Kesehatan: Rangkaian kegiatan yang segera dilakukan saat kejadian bencana untuk menangani dampak kesehatan yang ditimbulkan. Tanggap Darurat Krisis

(17)

Kesehatan meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, pelindungan dan pemulihan korban, dan memastikan ketersediaan prasarana serta fasilitas pelayanan kesehatan. Tahap ini bertujuan merespons seluruh kondisi kedaruratan secara cepat dan tepat guna menyelamatkan nyawa, mencegah kecacatan lebih lanjut, dan memastikan program kesehatan berjalan dengan terpenuhinya standar minimal pelayanan kesehatan.

3. Pascakrisis Kesehatan: Tahap ini bertujuan mengembalikan kondisi sistem kesehatan seperti kondisi prakrisis kesehatan dan membangun kembali lebih baik (build back better) dan aman (safe).

Dalam menghadapi krisis kesehatan yang disebabkan oleh penyakit menular, misalnya COVID-19, penting diperhatikan mengenai karantina kesehatan untuk mencegah laju penyebaran penyakit. Perihal karantina

(18)

kesehatan diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Kekarantinaan kesehatan adalah upaya mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat, yaitu kejadian kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa dengan ditandai penyebaran penyakit menular dan/atau kejadian yang disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia, bioterorisme, dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar lintas wilayah atau lintas negara.

Tindakan yang dimaksud pada kekarantinaan kesehatan dapat berupa karantina, isolasi, pemberian vaksinasi atau profilaksis, disinfeksi terhadap alat angkut dan barang, serta pembatasan sosial berskala besar. Pada kekarantinaan kesehatan juga diberlakukan

(19)

pemantauan dan tindakan terhadap orang dan alat transportasi yang datang dari wilayah yang terjangkit, misalnya dengan pemeriksaan kesehatan atau isolasi selama periode waktu tertentu.

C. Kesiapsiagaan Klaster Kesehatan dalam Menghadapi Bencana dan Krisis Kesehatan

Menurut Permenkes Nomor 75 Tahun 2019, klaster kesehatan adalah kelompok pelaku penanggulangan krisis kesehatan yang mempunyai kompetensi di bidang kesehatan yang berkoordinasi, berkolaborasi, dan berintegrasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang berasal dari Pemerintah Pusat, pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, sektor swasta atau lembaga usaha, dan kelompok masyarakat.

Krisis kesehatan merupakan kondisi luar biasa yang membutuhkan koordinasi dan kerja sama berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional, dan dari pemerintah maupun swasta atau

(20)

masyarakat. Pendekatan klaster adalah salah satu pendekatan koordinatif yang menyatukan semua pihak terkait, baik pemerintah maupun non- pemerintah, dalam upaya penanggulangan bencana guna meminimalisasi kesenjangan dan tumpang- tindih pemberian bantuan/pelayanan. Tujuan pendekatan ini adalah memastikan sumber daya, yang dalam kondisi krisis sering kali terbatas, dapat digunakan secara efektif dan efisien.

Pendekatan klaster dalam menghadapi bencana tertinggi berada di tingkat internasional. Klaster internasional terdiri dari berbagai organisasi kemanusiaan, baik di bawah Persatuan Bangsa- Bangsa (PBB) maupun non-PBB, yang masing- masing mempunyai peran pada sektor utama aksi kemanusiaan. Semua organisasi ini ditunjuk oleh Inter-Agency Standing Committee (Komite Tetap Antar lembaga/IASC) dan masing-masing memiliki peran yang jelas. Pada tingkat ini, klaster kesehatan diketuai oleh United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA).

(21)

Saat ini terdapat sebelas klaster di tingkat internasional, yaitu:

1. Kesehatan (Health) 2. Logistik (Logistics) 3. Nutrisi (Nutrition)

4. Perlindungan (Protection) 5. Tempat Pengungsian (Shelter)

6. Air, Sanitasi, dan Kebersihan (Water, Sanitation, and Hygiene)

7. Kamp, Koordinasi, dan Manajemen Kamp (Camp, Coordination, and Camp Management)

8. Pemulihan Awal (Early Recovery) 9. Pendidikan (Education)

10. Telekomunikasi dan Keadaan Darurat (Emergency Telecommunications)

11. Ketahanan Pangan (Food Security)

Klaster kesehatan dikoordinasi oleh World Health Organization (WHO). Petugas kesehatan, termasuk di dalamnya bidan, merupakan pemeran utama dalam klaster kesehatan.

(22)

Gambar 1. Klaster Bencana di Tingkat Internasional

Adanya berbagai klaster di samping klaster kesehatan membuktikan bahwa pada kondisi krisis kesehatan, tenaga kesehatan bukanlah satu-satunya pemeran penting dalam penanganan bencana.

Dengan memahami adanya pendekatan klaster ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat lebih mudah bekerja sama dengan sektor lain dalam kondisi krisis kesehatan.

(23)

Selain pendekatan klaster di tingkat internasional, terdapat pendekatan klaster di tingkat nasional yang dikoordinasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Saat ini terdapat delapan klaster di tingkat nasional, yaitu:

1. Kesehatan (dikoordinasi oleh Kementerian Kesehatan)

2. Pencarian dan Penyelamatan 3. Logistik

4. Pengungsian dan Perlindungan 5. Pendidikan

6. Sarana dan Prasarana 7. Pemulihan Dini

8. Ekonomi

(24)

Gambar 2. Klaster Bencana di Tingkat Nasional

Klaster kesehatan dibagi lagi menjadi enam subklaster, yaitu:

1. Subklaster pelayanan kesehatan yang bertugas menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan, terutama pelayanan pertolongan darurat prafasilitas pelayanan kesehatan dan rujukan.

2. Subklaster pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan yang bertugas melakukan

(25)

pengendalian penyakit dan upaya kesehatan lingkungan.

3. Subklaster pelayanan gizi yang bertugas menyelenggarakan pelayanan gizi.

4. Subklaster kesehatan reproduksi yang bertugas menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan reproduksi.

5. Subklaster kesehatan jiwa yang bertugas menyelenggarakan upaya penanggulangan masalah kesehatan jiwa dan psikososial secara optimal.

6. Subklaster penatalaksanaan korban mati atau disaster victim identification (DVI) yang bertugas menyelenggarakan identifikasi korban meninggal dan penatalaksanaannya.

Dengan adanya klaster dan subklaster yang memiliki tanggung jawab terhadap bidang yang spesifik, diharapkan setiap pihak mengetahui perannya dengan jelas pada kondisi krisis kesehatan.

(26)

D. Situasi Terkini COVID-19 di Indonesia 1. Gambaran Situasi Terkini

Pada Desember 2019, terjadi peningkatan kasus pneumonia di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina yang penyebabnya belum dapat diidentifikasi.

Belakangan dikonfirmasi penyebab pneumonia tersebut adalah virus jenis baru yang kemudian dinamai SARS-CoV-2 (sebelumnya dikenal dengan 2019-nCoV). Sementara, penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut belakangan diberi nama Coronavirus disease 2019 (COVID-19). WHO secara resmi menyatakan COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Penyebaran COVID- 19 terjadi terutama melalui droplet (tetesan air pernapasan), baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan angka replikasi yang tinggi, yaitu antara 2–2,5. Per 8 Februari 2021, terdapat lebih dari satu juta kasus terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia dengan jumlah kematian total mencapai lebih dari 30.000 jiwa.

Hal-hal penting yang perlu dipahami mengenai

(27)

COVID-19:

a. Definisi dan Penyebab Pandemi COVID-19

1) COVID-19 adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.

2) Virus SARS-CoV-2 masih serumpun dengan virus penyebab penyakit flu burung atau flu unta yang pernah menjadi epidemi SARS dan MERS.

3) COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi karena penyakit ini dalam waktu singkat menyebar ke lebih dari 200 negara di dunia sejak dilaporkan pertama kali, yaitu pada akhir 2019.

b. Gejala Umum, Risiko, dan Diagnosis COVID-19

1) Gejala COVID-19 dapat muncul dalam 2–14 hari setelah seseorang terpapar virus SARS- CoV-2.

(28)

2) Gejala COVID-19 sangat bervariasi dan dapat berupa demam, batuk, pilek, hidung tersumbat, sesak napas, kelelahan, nyeri kepala, nyeri saat menelan, mual-muntah, diare, atau hilangnya indera perasa dan indera penciuman.

3) Gejala COVID-19 dapat bervariasi dari ringan hingga berat yang membutuhkan perawatan intensif.

4) Orang lanjut usia dan orang yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru kronis, dan diabetes memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami gejala COVID-19 dan komplikasi yang berat.

5) Baku emas diagnosis COVID-19 menggunakan uji real time polymerase chain reaction (RT-PCR) melalui spesimen swab test tenggorok.

(29)

c. Penularan COVID-19

1) Penularan COVID-19 terutama melalui droplet yang dilepaskan saat orang yang sudah terinfeksi virus SARS-CoV-2 batuk atau berbicara, dan aerosol yang diproduksi terutama pada tindakan yang menghasilkan aerosol, misalnya intubasi, inhalasi, suction, dan tindakan kedokteran gigi.

2) Penularan secara langsung terjadi bila droplet dari orang yang sudah terinfeksi virus SARS-CoV-2 langsung mengenai lapisan mukosa, misalnya bagian dalam mulut, hidung atau mata. Penularan ini bisa terjadi saat orang yang sudah positif menderita COVID-19 bercakap-cakap dengan orang yang belum terinfeksi virus SARS-CoV-2.

3) Penularan tidak langsung terjadi bila tangan menyentuh benda-benda yang sudah tercemar droplet terinfeksi virus

(30)

SARS-CoV-2 dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata.

4) Penularan COVID-19 dari ibu hamil ke bayi dalam kandungannya telah terbukti di beberapa kasus secara global, meskipun risikonya kecil (3.2%).

5) Penularan COVID-19 melalui kegiatan menyusui sangat jarang dan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan.

Mengingat penularan COVID-19 yang sangat cepat, tindakan pencegahan wajib dilakukan oleh semua orang. Menjaga jarak (physical distancing), kebersihan tangan (hand hygiene), dan menggunakan masker secara universal (universal masking) menjadi tiga upaya pencegahan utama dalam membatasi transmisi COVID-19.

E. Definisi Operasional COVID-19

Dalam penanggulangan COVID-19, diperlukan kesepakatan penggunaan istilah yang jelas dalam menggolongkan pasien yang dicurigai menderita

(31)

COVID-19 untuk memudahkan komunikasi. Saat ini tidak lagi digunakan istilah ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), dan OTG (orang tanpa gejala). Terdapat empat definisi operasional yang digunakan untuk pasien yang dicurigai menderita COVID-19, yaitu:

a. Kasus suspek b. Kasus probable c. Kasus konfirmasi d. Kontak erat

Kasus suspek adalah orang yang memenuhi salah satu kriteria berikut:

1. Memenuhi kriteria klinis DAN salah satu kriteria epidemiologis.

2. Seseorang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berat, yaitu demam akut (≥ 380

C)/riwayat demam, batuk, tidak lebih dari 10 hari sejak onset, dan membutuhkan perawatan rumah sakit.

3. Seseorang tanpa gejala (asimtomatik) yang tidak memenuhi kriteria epidemiologis dengan hasil

(32)

rapid antigen SARSCoV-2 positif.

Kriteria Klinis:

1. Demam akut (≥ 380 C)/riwayat demam* dan batuk.

ATAU

2. Terdapat tiga atau lebih gejala/tanda akut berikut: demam/riwayat demam*, batuk,

kelelahan (fatigue), sakit kepala, myalgia, nyeri tenggorokan, coryza/pilek/hidung tersumbat*, sesak napas, anoreksia/mual/muntah*, diare, penurunan kesadaran.

*dihitung sebagai satu gejala

Kriteria Epidemiologis:

1. Dalam empat belas hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat tinggal atau bekerja di tempat berisiko tinggi penularan.

ATAU

2. Dalam empat belas hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat tinggal atau

(33)

bepergian di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

ATAU

3. Dalam empat belas hari terakhir sebelum timbul gejala bekerja difasilitas pelayanan kesehatan, baik melakukan pelayanan medis dan non-medis, serta petugas yang

melaksanakan kegiatan investigasi, pemantauan kasus dan kontak.

Kasus probable adalah kasus yang memenuhi kriteria berikut:

1. Seseorang yang memenuhi kriteria klinis DAN memiliki kontak erat dengan pasien kasus probable/terkonfirmasi COVID-19 ATAU berkaitan dengan klaster COVID-19.

2. Kasus suspek dengan gambaran radiologis sugestif COVID-19.

3. Memiliki gejala anosmia atau ageusia tanpa penyebab lain yang dapat diidentifikasi.

4. Orang dewasa yang meninggal dengan distres

(34)

pernapasan DAN memiliki kontak erat dengan pasien kasus probable/terkonfirmasi COVID-19 ATAU berkaitan dengan klaster COVID-19.

Kasus konfirmasi adalah kasus yang dinyatakan positif terinfeksi virus SARS-CoV-2 yang dibuktikan dengan kriteria sebagai berikut:

1. Memiliki hasil RT-PCR positif

2. Memiliki hasil rapid antigen SARS-CoV-2 positif DAN memenuhi kriteria suspek/probable

3. Asimtomatik dengan hasil rapid antigen SARS- CoV-2 positif DAN memiliki kontak erat dengan kasus probable/terkonfirmasi

Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua:

1. Kasus konfirmasi dengan gejala (simtomatik) 2. Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik)

Kontak Erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19. Riwayat kontak yang digolongkan sebagai kontak erat adalah:

(35)

1. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.

2. Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi (seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain).

3. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar.

4. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat.

Pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (simtomatik), cara menemukan kontak erat adalah periode kontak dihitung dari dua hari sebelum kasus timbul gejala hingga empat belas hari setelah kasus timbul gejala. Pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimtomatik), periode kontak dihitung dari

(36)

dua hari sebelum kasus timbul gejala dan empat belas hari setelah tanggal pengambilan spesimen.

F. Mengenali Gejala COVID-19 dan Menghadapi Pasien dengan Potensi COVID-19

COVID-19 memiliki gejala yang sangat bervariasi.

Pasien dengan COVID-19 dapat memiliki gejala ringan, gejala berat yang membutuhkan perawatan intensif, atau tidak bergejala sama sekali. Meskipun demikian, berdasarkan studi, dapat dikenali beberapa gejala yang paling sering muncul pada pasien COVID-19, yaitu:

1. Demam (88,5%) 2. Batuk (68,6%)

3. Anosmia/kehilangan indera penciuman (43%–

53%)

4. Nyeri otot, pegal-pegal, rasa letih (35,8%) 5. Produksi dahak (28,2%)

6. Sesak napas (21,9%)

7. Nyeri kepala atau pusing (12,1%) 8. Diare (4,8%)

(37)

9. Mual dan muntah (3,9%)

Jika pada praktik sehari-hari bidan menemukan pasien dengan gejala tersebut, maka harus dilaporkan kepada dokter atau petugas lain yang berwenang untuk dilakukan pengkajian terhadap COVID-19. Praktik Mandiri Bidan harus berkoordinasi dengan puskesmas setempat mengenai tindakan yang harus diambil jika menemukan pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19.

Untuk tindakan operasi yang bersifat elektif atau dapat diprediksi, sebaiknya ibu hamil menjalani pemeriksaan swab test COVID-19 terlebih dulu. Perlu diingat bahwa rapid test antibodi negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan pasien memiliki COVID-19. Hal lain yang perlu diingat juga adalah pada pelayanan klinis, perlu diasumsikan bahwa pasien memiliki COVID-19 meskipun tidak bergejala.

Dengan demikian, penggunaan APD oleh bidan bersifat wajib.

(38)

Jenis APD yang perlu digunakan bidan pada praktik sehari-hari di ruang konsultasi umum biasa terdiri dari masker bedah (digunakan oleh tenaga kesehatan DAN pasien), baju kerja, pelindung mata atau wajah (face shield), sarung tangan, dan pelindung kepala.

Ventilasi ruang konsultasi harus baik, misalnya jendela dibuka. Jika pasien memiliki gejala gangguan saluran napas, maka bidan sebaiknya menggunakan masker N95. Jika memungkinkan, sebaiknya bidan selalu menggunakan masker N95 untuk mengantisipasi pasien yang memiliki gejala gangguan saluran napas.

Tidak ada data yang menunjukkan persalinan normal memproduksi aerosol. Namun, pada proses persalinan sebaiknya setiap tenaga kesehatan yang terlibat menggunakan masker N95 karena terdapat peningkatan risiko penularan COVID-19 yang bersumber dari:

(39)

1. Pajanan terhadap pasien yang lama; persalinan kala 1 dan 2 dapat berlangsung hingga berjam-jam 2. Pasien yang sedang dalam proses persalinan yang biasanya tidak dapat menggunakan masker dengan optimal

3. Manuver valsava yang dilakukan oleh pasien 4. Napas dalam dan cepat yang dilakukan oleh

pasien

5. Pasien yang berbicara keras, berteriak, batuk, atau muntah selama proses persalinan

Jika bidan berpraktik di situasi yang melibatkan prosedur yang memproduksi aerosol (misalnya, terlibat pada prosedur sectio caesarea yang menggunakan intubasi), maka APD yang digunakan adalah masker N95, gaun, sarung tangan, pelindung mata/wajah, pelindung kepala, apron, dan sepatu pelindung.

G. Edukasi Masyarakat dalam Pencegahan COVID-19 COVID-19 merupakan penyakit dengan laju penularan yang tinggi. Partisipasi masyarakat dalam

(40)

upaya pencegahan COVID-19 sangat diperlukan.

Bidan sebagai tenaga kesehatan di garis depan perlu mengetahui cara pencegahan COVID-19 agar dapat memberikan edukasi secara tepat kepada pasien.

Terdapat tiga langkah utama yang harus dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19, yaitu:

1. Physical distancing atau menjaga jarak 2. Menggunakan masker secara universal

3. Menjaga kebersihan tangan atau hand hygiene

Physical distancing. Semburan droplet memiliki jarak jangkau 1–1,5 meter sehingga menjaga jarak dari orang lain sejauh 1–2 meter merupakan tindakan yang penting. Setiap orang harus secara sadar menghindari terjebak dalam situasi 3C, yaitu closed space (ruangan dengan sirkulasi udara tertutup), crowded (kerumunan), dan close contact (situasi yang memudahkan kontak erat). Contoh situasi 3C misalnya, kafe yang ramai; restoran dengan air conditioner yang tertutup; klub malam yang ramai pengunjung; dan tempat ibadah yang ramai, namun

(41)

dengan sirkulasi udara yang kurang baik.

Keberhasilan pelaksanaan physical distancing turut ditentukan oleh pelaku usaha dan pihak yang memiliki wewenang dalam melakukan pengaturan massa. Misalnya, pemilik restoran perlu mengubah tata ruang restoran sehingga setiap meja memiliki jarak yang cukup serta sirkulasi udara yang baik. Lalu, takmir masjid perlu mengatur jamaah agar disiplin menjaga jarak, menggunakan masker, dan menghindari penggunaan air conditioner. Selain itu, sekolah sebisa mungkin mengadakan pembelajaran jarak jauh.

Menggunakan masker secara universal.

Penggunaan masker secara universal dapat mengurangi laju transmisi COVID-19 dengan cara menangkap droplet infeksius yang dibatukkan dan mengurangi jarak jangkaunya. Penggunaan masker ini lebih efektif jika dilakukan oleh semua orang, terutama karena banyaknya jumlah pasien COVID-19 yang tidak bergejala. Oleh karena itu, penggunaan

(42)

masker secara universal perlu dijadikan budaya dan diperkuat dengan aturan. Misalnya, pemilik toko mewajibkan setiap orang yang datang ke toko menggunakan masker.

Menjaga hand hygiene. Kebersihan tangan merupakan upaya pencegahan yang tidak hanya melindungi dari COVID-19, namun juga dari penyakit lain. Mencuci tangan perlu dilakukan secara rutin.

Momen mencuci tangan yang dianjurkan untuk mencegah penularan COVID-19 adalah:

1. Sebelum dan sesudah menyentuh masker

2. Sebelum dan sesudah menyentuh mata, hidung, dan mulut

3. Sebelum dan sesudah memasuki ruang publik 4. Sebelum dan sesudah menyentuh permukaan

benda yang sering disentuh orang lain, misalnya pegangan pintu, meja, keranjang belanja, tombol lift, dan uang.

Menjaga kebersihan tangan dapat dilakukan dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

(43)

selama 60 detik atau menggunakan hand rub berbasis alkohol 60%–80% selama 20 detik. Enam

langkah menjaga kebersihan tangan dari WHO harus dilakukan untuk memastikan setiap celah di tangan terkena sabun atau hand rub.

(44)

Gambar 3. Langkah Mencuci Tangan yang Baik

(45)

H. Vaksinasi COVID-19

Program vaksinasi merupakan salah satu cara paling efektif dalam menghambat laju transmisi penyakit infeksi. Program vaksinasi bertujuan menurunkan angka kesakitan dan kematian di masyarakat dengan mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Vaksinasi untuk COVID-19 saat ini telah memasuki uji klinis tahap 3 dan 4 dan telah diedarkan dengan izin Emergency Use Authorization oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Terdapat beberapa pilihan vaksin yang telah diberikan kepada penerima vaksin di dunia, beberapa di antaranya dikembangkan oleh Moderna, Sinovac, Johnson&Johnson, Pfizer, dan AstraZeneca.

Di Indonesia, vaksin Sinovac paling banyak digunakan dan disediakan oleh pemerintah.

Pemberian vaksin Sinovac saat ini diprioritaskan untuk tenaga kesehatan. Vaksin Sinovac telah terbukti aman dan memiliki efikasi sebesar 65%, di atas standar minimal efikasi vaksin yang

(46)

direkomendasikan WHO sebesar 50%.

Saat ini, per tanggal 9 Februari 2021, ibu hamil dan menyusui merupakan kontraindikasi untuk pemberian vaksin Sinovac. Berdasarkan uji klinis yang telah dilakukan di Universitas Padjajaran, Bandung, ibu hamil dan menyusui termasuk dalam kriteria eksklusi. Kriteria kontraindikasi bagi ibu hamil dan menyusui dapat berubah di masa depan setelah lebih banyak data mengenai keamanan pemberian vaksinasi COVID-19 diperoleh.

RANGKUMAN

1. Bidan merupakan tenaga kesehatan yang sangat

(47)

penting dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi.

2. Bidan memegang peranan penting dalam penanggulangan dampak akibat pandemi COVID-19.

3. COVID-19 adalah bencana non-alam yang dapat menyebabkan krisis kesehatan.

4. Penanggulangan krisis kesehatan dilakukan sebelum, selama, dan sesudah terjadi krisis kesehatan.

5. Penanggulangan krisis kesehatan dilakukan dengan pendekatan klaster kesehatan yang melibatkan kerja sama dari berbagai sektor.

6. COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan telah menjadi pandemi.

7. Penularan COVID-19 terjadi terutama melalui percikan droplet.

8. Gejala COVID-19 sangat bervariasi dan muncul 2–14 hari setelah pajanan COVID-19.

9. Saat ini dikenal istilah kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, dan kontak erat.

10. Tiga hal utama yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19 adalah physical distancing,

(48)

penggunaan masker secara universal, dan menjaga kebersihan tangan/hand hygiene.

(49)

DAFTAR PUSTAKA

1. Burhan, E., Susanto, A., Nasution, S., Ginanjar, E., Pitoyo, C., Susilo, A., Firdaus, I., Santoso, A., Juzar, D., Arif, S., Wulung, N., Adityaningsih, D., Syam, A., Rasmin, M., Rengganis, I., Sukrisman, L., Damayanti, T., Wiyono, W., Prasenohadi, Isbania, F., Elhidsi, M., Aniwidyaningsih, W., Handayani, D., Soedarsono, Harsini, Sugiri, J., Afiatin, Wahyudi, E., Mulansari, N., Tarigan, T., Hidayat, R., Muchtar, F., Rumende, C., Soeroto, A., Triyono, E., Katu, S., Agustina, P., Puspitorini, D. dan Tim COVID-19 IDAI. (2020). Pedoman Tatalaksana COVID-19. Edisi 2.

[PDF] Jakarta: PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN, IDAI.

<https://www.papdi.or.id/pdfs/938/Pedoman%20Tatal aksana%20COVID-19%20edisi%202.pdf>.

2. Humanitarian Response. (2020). What is the Cluster Approach?. [daring] Humanitarianresponse.info.

<https://www.humanitarianresponse.info/en/coordina tion/clusters/what-cluster-approach> [Diakses 6 Desember 2020].

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017).

Pedoman Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada Krisis Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

(2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) Revisi Ke-5. [PDF]

Jakarta:

<https://covid19.go.id/storage/app/media/Protokol/20 20/Juli/REV-05_Pedoman_P2_COVID-

(50)

19_13_Juli_2020.pdf> [Diakses 25 Agustus 2020].

5. Kotlyar, A., Grechukhina, O., Chen, A., Popkhadze, S., Grimshaw, A., Tal, O., Taylor, H. dan Tal, R. (2021). Vertical Transmission of Coronavirus Disease 2019: A Systematic Review and Meta-Analysis. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 224(1), pp.35- 53.e3.

6. Li, L., Huang, T., Wang, Y., Wang, Z., Liang, Y., Huang, T., Zhang, H., Sun, W. dan Wang, Y. (2020). COVID-19 Patients' Clinical Characteristics, Discharge Rate, and Fatality Rate of Meta-Analysis. Journal of Medical Virology, 92(6), pp.577-583.

7. Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan.

8. Pusat Krisis Kesehatan. (2018). Buku Tinjauan Penanggulanan Krisis Kesehatan Tahun 2017. [PDF]

Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

<https://www.kemkes.go.id/resources/download/pen anganan-krisis/buku_tinjauan_pkk_2017.pdf>.

9. Rolain, J., Colson, P. dan Raoult, D. (2007). Recycling of Chloroquine and Its Hydroxyl Analogue to Face Bacterial, Fungal and Viral Infections in the 21st Century. International Journal of Antimicrobial Agents, 30(4), pp.297-308.

10. Tong, J., Wong, A., Zhu, D., Fastenberg, J. dan Tham, T.

(2020). The Prevalence of Olfactory and Gustatory Dysfunction in COVID-19 Patients: A Systematic Review and Meta-analysis. Otolaryngology–Head and

(51)

Neck Surgery, 163(1), pp.3-11.

11. World Health Organization. (2009). Hand Hygiene:

Why, How & When?. [PDF] World Health Organization.

<https://www.who.int/gpsc/5may/Hand_Hygiene_Wh y_How_and_When_Brochure.pdf>.

LAMPIRAN

(52)

1. Panduan Penugasan Mata Pelatihan Dasar

Pengetahuan Dasar Krisis Kesehatan pada Masa Pandemi COVID-19

Tujuan

Membantu peserta memiliki gambaran yang jelas tentang masalah yang dihadapi dalam praktik sehari- hari yang diakibatkan oleh COVID-19. Pengalaman ini diharapkan dapat membantu menghubungkan materi yang akan diterima dengan pengalaman sehari-hari.

Petunjuk

Sampaikan kepada peserta bahwa terdapat tugas yang harus dikerjakan sebelum dan saat webinar berlangsung.

1. Tugas Prawebinar

1) Membuat naskah refleksi diri atau membuat narasi singkat mengenai pengalaman pribadi dalam praktik sehari-hari pada masa pandemi

(53)

COVID-19, terutama hambatan yang dialami (250–500 kata). Tiga naskah refleksi yang dipilih oleh fasilitator akan dibahas selama 15 menit setelah sesi pemaparan materi dengan mengkaitkan antara pengalaman peserta dan krisis kesehatan yang sedang terjadi.

2) Menonton video yang disediakan oleh panitia sebelum sesi pelatihan dimulai video dapat diakses di

bit.ly/pengetahuandasarcovid19untukbidan 2. Tugas role-play (dilaksanakan saat webinar)

Waktu

1. Tugas prawebinar diberikan tujuh hari sebelum waktu pelatihan. Tugas dikumpulkan ke email fasilitator paling lambat satu hari sebelum sesi webinar dilaksanakan.

2. Tugas role-play dilaksanakan selama 15 menit setelah sesi tanya jawab.

Skenario Role-Play

Anda adalah seorang bidan praktik mandiri di

(54)

kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Seorang pasien Anda adalah ibu hamil dengan usia kehamilan 34 minggu. Pasien tersebut mengaku sehari-hari selalu bepergian ditemani sopir dan asisten pribadi. Namun, pasien tidak pernah menggunakan masker karena merasa engap atau sesak. Pasien merasa aman karena selalu bepergian dengan mobil pribadi dan meminta setiap staf di rumahnya, termasuk sopir dan asisten pribadi, melakukan rapid test setiap hari.

Berikan edukasi kepada pasien yang meliputi:

a. Cara penularan COVID-19 b. Baku emas diagnosis COVID-19 c. Cara pencegahan COVID-19

Tata Cara Role-Play

1. Fasilitator memilih satu orang dari peserta untuk berperan menjadi bidan praktik. Peserta terpilih mengaktifkan kamera dan mikrofon.

2. Fasilitator membacakan skenario role-play.

3. Fasilitator memainkan peran sebagai pasien di skenario.

(55)

4. Peserta yang berperan sebagai bidan diberikan waktu untuk memberikan edukasi melalui tatap muka virtual.

5. Jika waktu masih tersedia, sesi role-play dapat diulang hingga beberapa kali.

6. Fasilitator dapat memainkan peran sebagai pasien dengan sifat yang berbeda-beda, misalnya, kritis, kurang atensi, atau keras kepala.

7. Fasilitator menyediakan waktu 5 menit untuk memberikan umpan balik.

(56)

TIM KONTRIBUTOR

Tim Penyusun Modul Dr. dr. Erlina Burhan, dr., Sp.P(K)., M.Sc

Sri Poerwaningsih, S.ST., S.K.M., M.Kes

dr. Ibrahim Dharmawan

Tim Pelaksana Program dr. Nugroho Soeharno Fitriani, S.ST, MH.Kes

Ns. Sharra Ati Kurnia Dewi, S.Kep

Intan Wahyu Cahyani, S.Keb Tim KH-KRI

Prof. dr. Budi Utomo, MPH, PhD

Robert Magnani, PhD Nohan Arum Romadlona, SKM, MKM

Sukma Rahayu, SKM

Muhammad Mustaghfiri Asror, SKL

Dewi Nuryana, SKM Restu Adya Cahyani, SKM

Dwi Muliahani, S.E Tim UNFPA

Riznawaty Imma Aryanty, SKM, MSc. PhD

Elisabeth A Sidabutar Spi.

MMD

dr. Elvira Liyanto

Ns. Ria Ulina, S.Kep., MPH

Tim Pendukung Reviewer:

dr. Irfan Riswan Eti Rohati, SKM, MKM Warsiti, S.Keb, Bd., MM Sudjarwo Rinahati, S.ST Editor:

Setiya Hartiningtiyaswati, S.ST., M.Keb

Bayu Irianti, S.ST., M.Keb

Videographer:

Kentara

Figur

Gambar 1. Klaster Bencana di Tingkat Internasional

Gambar 1.

Klaster Bencana di Tingkat Internasional p.22
Gambar 2. Klaster Bencana di Tingkat Nasional

Gambar 2.

Klaster Bencana di Tingkat Nasional p.24

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di