• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondom Bocor, Sobek Ujungnya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kondom Bocor, Sobek Ujungnya"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Kondom Bocor, Sobek Ujungnya

Copyright 2011, 10 Penyair Wanna Be isbn 123-456-789012-3-4

Sampul Ilustrasi

Umpu Prahara & Reski Kuantan

Editing Abjad

Reski Kuantan & Jhon Pello

Susun Letak

Umpu Prahara & Jhon Pello Penerbit Magenta Publishing

Cetakan Pertama Banget, Oktober 2011 x + 89 hlm, 14x20 cm

Hak Cipta Puisi ditangan Penulis Puisi, silahkan diperbanyak sebanyak-banyaknya

isi diluar tanggungjawab orang yang tidak bertanggungjawab

(4)

SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN

Dipungkiri atau tidak, terlepas dari teori-teori, lepas dari aturan-aturan dan terlepas dari perkembangan zaman dan perada- ban, berseni bagi kami pada dasarnya adalah suatu kesenangan dan sekaligus salah satu bentuk pembebasan atau membebaskan diri dari segala macam tekanan yang datang dari dalam maupun luar, serta adalah media penyampaian dan bahwa seni adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Begitu pula dengan bersastra atau menulis suatu karya satra, salah satunya adalah puisi.

Misalnya Wiji Thukul dengan puisi-puisinya yang bahkan mampu menjadi motivasi serta semangat tersendiri pada aksi-aksi kawan aktivis dan mahasiswa serta semua orang yang bergerak menentang dan meruntuhkan pemerintahan Orde Baru dengan

“Hanya ada satu kawan: Lawan!” (Puisi Peringatan), atau WS.

Rendra yang kemudian dikenal dengan puisi-puisi pamfletnya.

William Shakespeare dengan romantismenya dan masih banyak lagi penyair-penyair Tanah Air maupun luar dari latar belakang yang berbeda-beda yang berseni merangkai kata untuk menyam- paikan sesuatu hal, baik dari dalam diri sendiri mau pun dari luar atau lingkungan sebagai makhluk sosial dengan berbagai tema, kondisi dan situasi.

Mereka adalah segelintir contoh orang-orang yang berhasil membebaskan diri, terutama untuk berseni merangkai kata atau berpuisi dan bahkan berhasil membebaskan orang lain secara

(5)

batiniah, seperti mampu memberi semangat, motivasi dan kepua- san ketika menikmati karya-karya mereka.

Lantas apa hanya penyair yang menulis puisi? Pertanyaan- pertanyaan sederhana seperti inilah yang terkadang membelenggu dan membatasi kreatifitas seseorang dalam berkarya, seseorang seringkali terjebak dalam pemikirannya sendiri, sebab bukan pen- yair maka tidak menulis puisi, sebab bukan pematung maka tidak membuat patung, sebab bukan pelukis maka tidak melukis, dan cenderung membuat batasan-batasan bagi diri sendiri. Selain itu pola pikir yang dididik dan dipengaruhi lingkungan dengan per- sepsi-persepsi yang terkadang memandang suatu bentuk hasil suatu karya adalah subyektif yang sebenarnya adalah obyektif.

Dan kembali pada hakekatnya, berseni dan bersastra itu be- bas, bebas memaknai dan bebas berkarya. Dari itu semua orang wajib bebas dari batasan-batasan dari dalam mau pun luar diri un- tuk berseni dan berkarya.

Berangkat dari pemahaman sederhana ini, kami dengan segala kekurangan dan dengan segenap keberanian serta rasa per- caya diri yang mungkin sebenarnya terlalu berlebihan dan dengan keyakinan yang umum sebab yang terpenting adalah proses, maka kami memulai, maka kami berkarya, kami bebaskan diri kami, dan bersepakat untuk membukkukan kumpulan puisi-puisi kami yang kami beri judul “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”.

Mengapa “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”?

Begini sedikit penjelasannya : Kondom adalah alat kon- trasepsi keluarga berencana yang terbuat dari karet dan pe- makaiannya dilakukan dengan cara disarungkan pada kelamin laki-laki ketika akan bersenggama. Kondom di sini adalah bata- san-batasan yang kami sarungkan dan kami ciptakan pada diri sendiri yang sebenarnya justru menghancurkan rencana-rencana kami, seringkali karena sangat elastisnya tanpa kami sadari telah membunuh kreatifitas kami sendiri. Sehingga alat kontrasepsi ini

(6)

harus dibuka alias tidak disarungkan lagi pada kuasa nafsu ke- bodohan dan ketololan pada diri kami semua, yang seharusnya bebas bersenggama dengan kreatifitas dalam kehidupan kami se- cara berkeadilan tentu saja. Atau adalah untuk menerabas batasan -batasan dan tidak membatas-batasi diri sendiri.

Bocor adalah pertama, berlubang sehingga air dan udara da- pat keluar atau masuk; atau tiris, kedua tersiar sedikit-sedikit (tentang rahasia dan sebagainya), ketiga, adalah kerap kali buang air; keempat adalah mengeluarkan darah. Dan kami tentu saja me- mang sengaja membocorkan atau menjadi bocor agar kami tidak sakit perut, sesak nafas dan sakit kepala dalam berkreatifitas dan menyampaikan sesuatu hal. Sehingga kami bebas dan merdeka tanpa adanya pengkotak-kotakan atau apalagi sampai memenjara- kan kreasi dan agar kami terus dapat bersirkulasi dan berproses.

Sedangkan Sobek adalah cabik, robek, atau koyak. Dan Ujung yaitu bagian penghabisan, puncak, akhir atau maksud dan tujuan. Yang di sini adalah sebuah harapan atau keinginan agar dengan buku kumpulan puisi ini kami dapat turut membantu menyobek batasan-batasan pada orang lain atau dengan keinginan bisa sedikit memotivasi bahwa untuk melakukan sesuatu, teru- tama berkreatifitas, semua orang tanpa terkecuali memiliki hak dan kebebasan yang sama, dan itu harga mati. Titik!.

Akhirnya, menjadi penting atau tidak penjelasan ini, semoga bisa dinikmati. Jika berkenan dan berlapang dada silahkan dibaca, dikritik habis-habisan, disimpan dan disebarkan. Jika tidak berk- enan, silakan buku antologi puisi ini dikilokan sebagai barang loakan, didaurulang atau setidak-tidaknya diwariskan kepada orang lain yang mungkin penasaran, meskipun akhirnya juga akan bersikap sama, sakit perut, sakit kepala dan barangkali mun- tah. Maka, mari berkondom bocor sobek ujungnya, berseni dan bersastra untuk pembebasan diri dan berkeadilan sosial!

MaGenTa

(7)

PUISI RUANG DOKUMENTASI YANG MENERIMA KEBEBASAN

Maira Eka Sari

Setiap orang, melalui rangkaian peristiwa yang berbeda- beda dalam menjalani hidup. Mau tidak mau, secara tidak lang- sung mereka menuntut untuk dimengerti apapun itu. Akan tetapi, keadaan alam kadang sering, bahkan lebih dominan memaksa mereka untuk tidak bersikap sesukanya. Terbatas lebih tepatnya.

Menjalani hal yang seperti itu menghadirkan ekspresi yang ber- beda pula dalam menanggapinya. Salah satu yang merupakan ek- spresi mereka adalah keinginan untuk suatu hal yang dinamakan kebebasan.

Saat menjalani tuntutan alam yang terkadang mengukung terkadang tidak, kebebasan itu sering diteriakan orang-orang – siapapun dia– pada apapun, kapanpun, dimanapun, tanpa terkec- uali. Bebas berfikir, bebas berbicara, bebas bergerak, bebas berkeingin, dan masih banyak lagi yang ingin dibebaskan dari dalam maupun luar diri mereka. Hal itu tidak bisa dipungkiri dan itu bukan suatu hal yang tidak wajar apalagi suatu kesalahan. Ke- bebasan itu hak semua, dan wajib diberikan oleh semua

Seni kata atau lebih akrab dikenal dengan sastra menjadi wadah untuk kebebasan itu bersuara. Baik itu dalam bentuk puisi maupun prosa. Adapun peranan dari sastra adalah meneruskan tradisi suatu bangsa kepada masyarakat se-zamannya dan kepada

(8)

masyarakat yang akan datang, antara lain berupa cara berpikir, kepercayaan, kebiasaan, pengalaman sejarahnya, rasa keindahan, bahasa, serta bentuk-bentuk kebudayaannya (Semi, 1984: 14)

Melalui puisi, penulis bebas menuangkan apapun, baik itu pikiran, perasaan, harapan, caci-maki, penghinaan dan lainnya yang akan disampaikan pada orang lain ataupun hanya pada dir- inya sendiri. Dalam antologi ini, puisi merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk yang bisa digunakan untuk mengekspresi- kan sesuatu yang dinamakan kebebasan itu. Puisi adalah artefak yang bisa menumpu suara, gerak, perasaan, bau, dan apapun ke- jadian alam semesta ini dalam bentuk untaian kata, baik memiliki keindahan ataupun tidak. Puisi berhak lahir dan menemui takdir dan caranya masing-masing. Hal ini juga ada pada karya dan hal yang lainnya.

Dalam antologi puisi ini, para penyair wanna be mencoba menghadirkan warna baru yang merupakan wujud keinginan mereka dengan yang namanya kebebasan. Berbagai hal yang ber- beda disajikan oleh mereka yang berlatarbekang berbeda pula hingga secara tidak sengaja telah membatu memenuhi peran sas- tra untuk meneruskan tradisi. Hal itu telah menjadi sumbangan berharga dalam khasanah kesusastraan Indonesia.

Hadir tanpa sebuah tema, mereka berani menyuguhkankan dokumentasi berharga untuk artefak berharga pada mereka yang akan datang dan berada di masa-masa berikutnya.

Padang, Oktober 2011

(9)

Daftar Puisi

Alfikri Ilmi

Pada Tanah Kelahiran

Nostalgia Ramadhan

Aku Ingin Tua Bersamamu

Permintaan

Jadi Cleopatra Semalam

Cepat Bangun, Nak

Menjahit Nasib

Ibu

Amanike Liza Fitra

Hidupku

Kekecewaanku

Kepergianmu Sobat

Gilank Ralicha

Garuda di Dadaku

Titip Surat Untuk Ayah

Surat Kepada Kawan

Hanya Sepotong Kata Untuk Bangsa Yang Merdeka

Negeri Para Kesatria

Logika Kosong (Anjing)

Holy Adibz

Seorang Ibu Berbisik Pada Calon Bayinya

Sajak Seorang Pelacur

Laut Kota Jakarta

Anakku Akan Kuliah

Ayo Bayar Pajak

Seorang Penyair dan Cangkulnya

1 2 3 4 5 7 9 11

12 13 14

15 17 19 21 23 25

26 28 29 30 31 32

(10)

Labuhan Kerbau Kampungku

Jhon Pello

Debu Cinta Palsu

Keegoan

Joey Rose

Sajak Mabuk

Al Faiz : Dengan Subuh dan Dibawah Gerimis Aku Bersaksi

Tiga Perempuan Dalam Kehidupanku

Dari Asrama Ke Jalur Gaza

Sajak Untuk Nenek (Selamat Jalan Nek)

Pagi Ini Seorang Mahasiswiku Kirim SMS

Kami Selalu Siap Berperang!

Mungkin Kita Lupa

Ah, Revolusi Kok Ditakuti

Aku Menangis Ketika Menggali Kubur Untuk Putriku, Dia Maju dan Kemudian Menyisir Janggutku

Jika Semua Sempurna

Bagaimana Mungkin Aku Bisa Diam, dan Kau?

Lismomon Nata

Negeri Parewa

Mau ke Mana Kau Indonesiaku

Korupsi

Bupala

Wahai Penyair

Tanah

Apnea Masa Muda

Reski Kuantan

Penyair Tolol dan Perempuan Gila

Aku Melihat Langit

34

36 37

38

39 41 42 43 44 46 47 48

50 51 52

53 54 55 56 57 58 59

60 61

(11)

Cicak

Aku Denganmu

Puisi-puisian

Menuai Hampa

Taplau Tujuh Tiga Puluh

Aku dan Ibuku, Tuan.

Ke Rumahmu Aku Hendak Pulang

Rizki Firdaus

Mengulum Biru

I Sweep The Floor

Antonimisme

Author

Perjalanan ke Kota Besar Perdanaku

Tawa Fatamorgana

Umpu Prahara

Kau 1

Kau 2

Untuk Ibu

Seorang Gadis di Sebuah Ruangan

Ahh...

Malam

Satu Hari

Untukmu

Perempuan

62 63 64 65 66 67 68

69 70 71 72 73 74

76 77 78 79 81 82 83 85 86

(12)

Pada Tanah Kelahiran

pada suatu waktu yang entah

aku akan pergi menghapus segala jejak kaki di tubuhmu ijinkan aku menempuh ribuan kilo jauh dari pandangmu ijinkan aku menjadi lelaki

ijinkan aku tepati janji

ijinkan mencoba peruntungan dari beberapa kemungkinan dan ijinkan aku mengingatmu dalam kenang

karena kelak jika sudah sampai waktu aku akan kembali lagi ke pelukanmu

membawa nyala api atau ditikam sepi berkali-kali

Padang, 6 Mei 2011

(13)

2 Nostalgia Ramadhan

Tidurlah.

Besok sehabis Shubuh kita bakar petasan

di samping orang pacaran Pariaman, 1 Agustus 2011

Alfikry Ilmi

(14)

Aku Ingin Tua Bersamamu : Rahma Welly

Aku ingin tua bersamamu

menghabiskan waktu dalam rentang umur yang beruban

Berpetak umpet di keriput kulitmu

Bernostalgia ciuman pertama di bibirmu yang sudah kemarau Berkaca pada matamu yang masih menyimpan masa lalu.

Aku ingin tua bersamamu

Menikmati early reggae atau soul di beranda

sambil memandangi kepulangan burung-burung dalam formasi menuju sarang

atau menikmati sunset,

sunset yang selalu membuatmu kagum atau gemetar.

Karena kau pikir masa depan tak pernah datang.

Aku ingin tua bersamamu

berdua kita tertawai masa sekarang.

Dan saat itu barangkali kita sudah pikun

tak terlalu ingat kapan pertama kali pandang kita bertemu.

Aku ingin tua bersamamu

masihkah kau ingin main ayunan di jenggotku?

Padang, 1 Juli 2011

(15)

4 Permintaan

nyamuk tidurlah

masih ada malam lain

bagimu mencoba peruntungan menghisap darah

malam ini jangan

aku sudah terlalu lelah dihisap

seharian

Padang, 22 Juni 2011

Alfikry Ilmi

(16)

Jadi Cleopatra Semalam

Malam ini bulan ketakutan

bersembunyi di balik bangunan hotel bintang lima.

Kita di dalamnya

menikmati semangkuk kencan

setelah seribu panah rayuan kau lepaskan ke dadaku usai makan malam.

Cleopatra-lah aku seketika pasca mahkota janji-janji surga kau letakkan di atas kepala.

Bangga atau mungkin juga tak sengaja kau sempat bisikan

bahwa kita bisa berpesta berkat hasil penggelapan dana.

Tak ada yang merasa kehilangan

sebab fakta seketika dialihkan isu yang lebih menarik untuk disi- mak.

Melebihi candu sinetron rumah tangga dengan cerita mem- bosankan penuh peran antagonis.

Kita pun lalu sama-sama tertawa atas kemenangan.

Atas kepecundangan.

Serupa aku yang menertawai nasib sendiri karena nikmat materi berlimpah begini belum tentu kutemukan esok hari.

Jadi, kucumbui saja kemewahan ini sampai pagi sampai gelas tak mau lagi dituangi vodka

sampai tubuh tak sanggup lagi dipacu dan napas kita yang memburu

sama-sama membisu berhimpitan.

(17)

6

Bulan gigil yang ketakuan semalam sudah digusur garangnya matahari.

Kita berpisah di depan sebuah gang setelah perempatan.

Barangkali kau langsung menuju pelukan anak istri yang setia menanti

kepulanganmu dari rapat luar kota.

Dan aku juga kembali pada kenyataan kontrakan 4x4 meter dengan beberapa lembar uang ratusan

untuk menghapus semua bekas ciuman dan biaya perawatan badan.

Padang, 12 Januari 2011

Alfikry Ilmi

(18)

Cepat Bangun, Nak

Bangun, nak.

Lekas mandi

sebelum didahului matahari.

Hari tak sudi menanti

waktu tak mau menunggu.

Kita harus segera pergi mencari remah roti

penyambung hidup pagi ini.

Mari, nak.

Mari keluar

Dari pengap rumah yang kita dirikan di pinggir kali mereka selalu bilang tak layak huni

sementara janji membumbung tinggi belum juga ditepati.

Cepat, nak.

Percepat gerakmu

kita kejar mimpi-mimpi yang tak terbeli barangkali ada yang tercecer di jalanan atau nyangkut di tali jemuran.

Perhatikan, nak.

Tajamkan matamu

Begitu banyak masa depan yang kita temui pada sampah-sampah itu

kau pungutlah satu persatu

plastik, kaleng, besi, kardus, sepatu, kertas, baju jika beruntung kita dapat buku

kau bisa peroleh ilmu

meski tak sebanyak anak-anak gedongan yang sekolah untuk mendapatkan pengakuan.

(19)

8

Sekarang matahari bermahkota di atas kepala Badan kita dipanggang di bawahnya.

Istirahatlah, nak

di bawah beringin itu.

Tapi jangan terlalu nyaman apalagi sampai ketiduran.

nanti kita diseret paksa keamanan.

Kota ini butuh keindahan!

Padang, 28 Desember 2010

Alfikry Ilmi

(20)

Menjahit Nasib

Kerja ini tak mampu membeli mimpi tinggi menjulang menantang matahari.

Harga yang melambung seperti balon membuat diri semakin sangsi.

Gempapun membuat jarum dan benang pisah ranjang menganggur tanpa kerjaan.

Serupa di-PHK keadaan lem membeku dalam gumpalan gelisah.

Istri tak bosan menyanyikan sumpah serapah karena tak tahu apa yang mau dimasak.

Anak mengeluh meminta uang jajan tanpa pemahaman bahwa harga makanan ringan tak seringan namanya.

Mengganti pekerjaan demi kesejahteraan sempat terlintas dalam pikiran.

Syaraf otak sering tegang dipaksa berpacu memutar ide cemerlang tak kunjung datang.

Ijazah SD membuat tubuh tak punya banyak pilihan masa depan.

Alam memang memberikan banyak pelajaran tanpa biaya pungutan.

Tapi kita hidup bukan di negri dongeng sebelum tidur dengan akhir mengharukan.

Menjahit nasib tak segampang menjahit sepatu yang tinggal menarik benang.

Hidup memang terus berjalan bahkan berlarian.

Dengan atau tanpa keluh kesah meratapi kenyataan.

Semakin pahit ditelan semakin sehat pikiran.

Bugarkan badan tanpa suplemen kimia pabrikan.

Warna aspal masih sama dengan iklim berbeda.

Nasib sepertinya bukan roda yang berputar begitu saja.

(21)

10

Banting tulang berulang-ulang tinggal belulang.

Putar otak menderu laju tak maju-maju.

Padang, 29 Oktober 2010

Alfikry Ilmi

(22)

Ibu

Mengecup heningmu dalam doa air mata

peristiwa yang tak bisa kutuangkan lewat kata.

Cinta adalah keikhlasan menerima segala nyata bukan sebatas kata berujung sia-sia.

Berkaca pada setiap peristiwa ; tak semua kata sanggup ku eja.

Padang, 14 November 2010

(23)

12 Hidupku

Aku berdiri diam-diam tiada bergerak Aku takut apa yang terjadi nanti

Aku telah dapat merasakannya

Tetapi seperti biasa aku tetap mengharap

Meskipun hatiku mengharap penuh ketakutan Dan tahu, bahwa apa yang ku harap takkan datang Dan dadaku terasa sesak

Bukan karena berlari keras

Tetapi menahan perasaan hatiku

Amanike Liza Fitra

(24)

Kekecewaanku

Aku perjuangkan semua yang kuimpikan Hanya sekarang aku tidak tahu,

Bahwa penderitaan dan kekecewaan mengorek di bawah jiwa sadarku

Mengubah pandangan hidupku, pikiranku dan sikapku kepada hidup di sekelilingku

Ibarat api yang membakar Cinta pada Hati Hebat laksana hembusan Taufan

Semua derita jiwaku, harapan-harapan hatiku

Yang melambung kemudian terbanting dan melambung kembali, Terbanting lebih kejam,

Was-was hatiku, keraguan hatiku, ketakutanku Sedih hatiku, pilu mengharapkan bahagia

(25)

14 Kepergianmu Sobat

Kalau aku lukis dahan dan ranting itu Kamu paham betapa kering perasanku Hujan Cuma membasuh rumput

Tidak menyegarkan kebun sukmaku Dengar sobat, aku tak seperti yang dulu Saat kamu tahu semangatku

Dan aku fasih bahasa matamu

Kertas putih yang kotor, bergambar di sisinya Kau menarik batas, tapi milikku nyata

Ini bukan valentine dan rinciannya..

Semua akan jadi abu

Terimakasih untuk bintang emas dan kepergianmu Aku akan selalu mengenangmu

Kau tetap sahabatku

Puisi ini tercipta setelah kepergian sahabatku untuk selamanya For Erick Nova Prima HI07 UNAND

Amanike Liza Fitra

(26)

Garuda di Dadaku

Garuda di dadaku

Bukan hanya sepetak lapangan rumput

Bukan hanya nyanyian heroik kepada bachdim dan gonzales Dan tak berbataskan GBK ataupun Bukit Jalil

Garuda di dadaku

Adalah simbol tekad dan ukiran kebanggaan Semiotika semangat dan kekaguman

Garuda di dadaku

Adalah janji akan sebuah pengabdian Yang selalu meminta kepalan

Memaksaku terus mempertanyakan semuanya Hinggap apa menjadi makna dan nyata

Garuda di dadaku juga merupakan peringatan

Jangan coba membangun menara di bawah rakyat yang kelaparan Jangan mencoba membanyol tentang keadilan dengan kokangan senapan

Dan jangan pernah berkata peduli

Bila masih dalam nyanyian untung dan rugi

Mungkin garuda di dadaku juga merupakan teguran Jangan pernah berhenti menziarahi lembaran masa lalu

Jangan pernah berhenti mengkhatabkan alfabet penyamarataan Jangan berhenti teriakkan perubahan

Meski engkau tidak lagi didengarkan

Garuda di dadaku juga lambang kepedulian

Akan saudara-saudaraku yang dilewati derap langkah pemban- gunan

Yang sesak bernafas akibat kemiskinan dihirup setiap hari

Dan tak lagi dapat bergerak, lantaran tanah adalah milik para tuan

(27)

16 tanah

Garuda di dadaku adalah sebuah ajakan Jangan hanya diam melihat pembodohan

Jangan hanya menyatakan ironi melihat pemelaratan Dan lakukan apapun

Meski hanya teriakan

Meski hanya mengacungkan kepalan Selama garuda masih ada di dada kita

Gilank Ralicha

(28)

Titip Surat Untuk Ayah

Kepada yth :Ayahanda

Melalui surat ini kusampaikan permintaan maafku pada ayah.

Maaf aku tidak pernah bisa jadi anak baik seperti manifesto don- geng yang ayah ceritakan sebelum tidurku, aku masih saja men- jadi begundal yang mencoreng muka ayah, dan bukan bahan yang menarik untuk dibicarakan di komunitas orang tua kebanyakan.

Maafkan aku yang mengambil aksi berbeda dengan provokasi ayah, yang selalu berkata coba lihat anak sifulan, sekarang dia bekerja di koorporasi kapitalis ini, baru bekerja beberapa bulan saja sudah bisa membeli ini, memberikan pada ayahnya ini dan itu. Maafkan aku ayah bila megambil arah yang selama ini ayah katakan merupakan jalan mereka yang telah kehilangan akal se- hat.

Bagiku ada yang lebih berharga daripada kemapanan, yaitu kebe- basan

Ada yang lebih berharga daripada kekayaan, yaitu kesamarataan Ada yang kebih berharga daripada kemasyuran, yaitu kebenaran Ada yang lebih berharga daripada kemenangan untuk diri sendiri, yaitu keikhlasan

Ada yang lebih berharga daripada hidup aman dan berkecukupan, yaitu pembangkangan terhadap ketidak adilan

Ada yang berharga daripada hidup dalam dikte penguasa arus, yaitu gairah liar dari perjuangan kelas

Ada yang lebih berharga daripada menciptakan menara gading dan hidup aman di atasnya, yaitu kepedulian akan menjaga ling- kungan

Ada yang lebih berharga daripada mengumpulkan sebanyak-

banyaknya harta, yaitu mengumpulkan sebanyak-banyaknya cinta dan membaginya keseantero dunia

(29)

18

Agar mereka yang dimarjinalkan merasa diperhatikan,

Agar mereka yang dimelaratkan tidak lagi merasa kesepian, Agar mereka yang kelaparan merasakan sedikit kekuatan Agar mereka yang dinafikan merasakan arti harapan

Dan agar mereka yang selama ini dibohongi penipu yang mereka pilih sendiri merasakan arti kasih sayang

Maafkan aku ayah, karena aku tidak hidup dalam dikte rumus kalkulator yang menghitung semuanya berdasarkan besarnya angka yang bisa kita dapatkan, menghitung kebahagiaan berdas- rkan konsumtifitas barang yang sebanyak mungkin bisa mereka banggakan, mengukur rasa syukur berdasarkan berapa banyak makanan yang mereka hidangkan, mengukur arti teman dengan seberapa bagus topeng yang bisa mereka kenakan, mengukur arti diri dari seberapa jengkal tanah dan tinggi pagar yang mereka bangun.

Maafkan aku ayah bila aku tidak bisa menggunakan standar- satandar moral yang kebanyakan itu. Bagiku hidup adalah pen- carian akan kebenaran, dan teman adalah kejujuran dalam persa- habatan.

Gilank Ralicha

(30)

Surat Kepada Kawan

Ini adalah sebuah jalan sulit kawan

Saat hidup ini semakin dihadapkan pada pilihan-pilihan berat Akankah engkau akan menjadi militan atau anak baik bagi pen- guasa arus

Menjadi anjing liar yang hidup bebas meski tak terurus

Atau setia menggonggong tiap pagi dan menjilat untuk sekedar bertahan hidup

Dan mesti sabar diikat dan jadi permainan

Jalan ini semakin sulit untuk ditempuh teman

Saat pilihan hanyalah tunduk atau bangkit melawan Akankah engkau akan melebur dalam barisan

Mereka yang merasa tak berdaya diperdaya oleh para pemodal Ataukah berbaris bersama yang muak dengan pembodohan ini Apakah jawabmu teman?

Tetap diam berkalang dendam atas ketidakadilan ini

Dan melanjutkan hidup dengan mengutuk ketidak mampuanmu menguasai hidupmu

Karena hidup itu sendiri telah tergadai bersama surat kontrak Karena setiap deru waktu adalah target produksi yang harus dica- pai

Hingga bahkan keringatpun tak sempat lagi diseka

Dan jerih payah hanya dihargai sekedar roti penyambung nafas

Jadi,di mana barisanmu kawan?

Akankah kita akan mencoba mengakhiri ketidakadilan ini Meski harus mati dalam mencoba?

Ataukah tetap menerima kenyatan yang ada

Dengan doktrin " suratan takdir" sebagai pelipurlara

Beritahu aku kawan,waktu sudah semakin dekat

(31)

20

Dan genderang telah terlalu lama dia tabuh Dan hanya masalah waktulah

Revolusi ini akan mengetuk setiap pintu rumah kita Dan mereka butuh kita.

Gilank Ralicha

(32)

Hanya Sepotong Kata Untuk Bangsa Yang Merdeka

Apakah kita memang harus merayakan kemerdekaan ini?

Disaat kita belum merdeka sepenuhnya.

Berjuta rakyat indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan Dan mereka belum merdeka dari kemiskinan.

Berjuta rakyat indonesia

Masih belum mengecap pendidikan

Mereka belum merdeka dari kebodohan.

Apakah harus kita rayakan kemerdekaan ini?

Saat berjuta rakyat indonesia merasa was-was di rumah mereka sendiri

Saat harus hidup berdampingan dengan bom berwarna hijau se- berat 3kg

Mereka belum merdeka dari ketakutan Saat berjuta rakyat indonesia

Mesti dihadapkan pada kenaikan harga

Yang semakin tidak terjangkau dari tahun ke tahun Mereka belum merdeka dari tekanan.

Kawan

Cobalah lihat indonesia ini lebih dalam

Melintasi gemerlap kota dan cakrawala manja

Jauh menuju tempat yang tak tersentuh riuh pembangunan Perlintasan bagi deru perubahan

Menuju dataran tak beraspal

Mereka belum merdeka dari keterasingan

Kenapa kita mesti merayakan kemerdekaan ini kawan?

Saat berjuta generasi muda indonesia Menghambakan diri

Pada blackberry, apple dan nokia keluaran terbaru

(33)

22

Saat sukarno telah tergantikan oleh artis emo mtv

Dan semangat perjuangan telah dikooptasi oleh sinetron sedu na- mun sarat kekerasan

Mereka belum merdeka dari pembodohan

Masihkah perlu kita rayakan kemerdekaan ini kawan Karena bagiku itu adalah sebuah pengkhianatan

Gilank Ralicha

(34)

Negeri Para Kesatria

Aku ingi bercerita, tentang negeri para kesatria yang membentang dari khandahar hingga gaza daerah yang tidak mengenal kata takut dan kalah karena takut adalah suatu yang memalukan

aku ingin menceritakan kepada kalian

negeri para kesatria dan kisah para pemberani

mereka yang menentang meski goliath bersenjatakan matahari dan david hanya memegang segenggam batu

negeri yang tetap tegar berdiri

dari kelam malam dan teror matahari dari ancaman kelaparan

dan deruderu senapan

negeri yang semua laki-lakinya adalah syuhada yang merindukan kematian demi sebuah kebebasan yang tak menyerah meski dihadapan ketidak berdayaan setiap helaian nafas adalah perjuangan

dan setiap degupan adalah sebuah perlawanan

negeri yang tak pernah mengeluh.

meski peluh telah lama mengering meski kematian adalah bayang-bayang mereka tidak sedetikpun mengeluh karena hidup adalah pengabdian dan masa depan

adalah kemenangan yang telah dijanjikan

demi rahim ibu yang lahirkan para kesatria

demi makam syuhada yang membentang dari khandahar hingga gaza

(35)

24

demi lemparan-lemparan batu para intifada

demi lantunan suci yang menjadi kidung tidur mereka

aku inging mengisahkan sebuah kisah negeri para kesatria agar kalian semua percaya.

bahwa di dunia ini

masih ada kebaikan dan kesetiaan

dan tuhan, berdiri tepat di samping para pejuang

Gilank Ralicha

(36)

Logika Kosong (Anjing)

Aku melihat kelebatan hitam

mengitari jiwa dan hati semua orang

memangkas nurani dengan deru kehidupan yang berputar kencang,lukiskan sembraut aku merasa kini tuhan

tak lagi beri hati pada manusia

melainkan logika kosong dan jiwa serigala kelamkan cahaya, samarkan langkah

Wahai….

di manakah dia kini?

dongeng suci yang kita eja kasih sayang logika bodoh yang kita sebut cinta

impian buta yang kita sebut saudara

Apa yang terjadi kini?

apakah tuhan mulai bosan sendiri?

sehingga ia butuh teman tuk berdialog ataukah ia telah pasrah

melihat manusia bergerak lebih cepat daripada kuasanya

entahlah teman...

(37)

26

Seorang Ibu Berbisik Pada Calon Bayinya

anakku

jika nanti kau keluar dari rahimku jangan menangis

simpan air matamu untuk esok hari aku takut kau kehabisan air mata

untuk menangisi nasi yang tak ada dalam tudung sebab kita tidak lagi mendapat beras miskin

yang dibagi kepala desa untuk sanak keluarganya yang berkarung beras dalam gudangnya

jika nanti kau keluar dari rahimku tahan tangisanmu

air matamu lebih berguna untuk menangisi korban bencana alam yang bantuannya tertahan di saku-saku para dermawan

dan di kantor-kantor urusan kemanusiaan

jika nanti kau keluar ke dunia diam saja

setelah umurmu genap enam tahun menangislah sekeras-kerasnya

untuk pemimpin bangsa yang gemar studi banding ke luar negeri memakai uang bangsa atas nama tugas negara

sementara ribuan anak-anak terlempar ke jalan raya karna tidak ada biaya untuk sekolah

saat kau lahir nanti

jangan menangis anakku sayang air matamu sangat berguna sekali

untuk diminum para tenaga kerja di luar negeri

yang haus perlindungan dari negara yang mereka beri devisa bila kau menangis saat lahir nanti

Holy Adibz

(38)

maka air matamu akan menyatu dengan air mataku air mata kita akan menjadi samudera

yang memeluk air mata para buruh yang diberhentikan karna menanyakan gaji yang tidak pernah berkecukupan membiayai anak istri dan berbagai keperluan

yang tidak sepadan dengan peluh yang berceceran di pabrik- pabrik

Padang, 1 November 2010

(39)

28 Sajak Seorang Pelacur

kau membumbung ke surga dengan sorbanmu yang berkilau

sementara aku berjalan menuju neraka dengan berjuta dosa dari kitabmu

malam, waktumu mengaji bermesraan dengan tuhan malam, waktuku mencari gaji bermesraan dengan tuan-tuan

di atas sajadah panjang

kau sujud tanpa memikirkan periuk esok siang di atas empuk ranjang

aku sujud di kelamin panjang demi periuk terjerang

demi tuhan yang memberi aku kehidupan sungguh aku tak suka menanggalkan pakaian tapi pekerjaan hanya ada di saku pemerintahan yang akan menggusur lahan tempat aku cari makan Padang, 5 November 2010

Holy Adibz

(40)

Laut Kota Jakarta

di laut kota ini

air tawar dan asin menyatu

di dalamnya ikan-ikan terombang-ambing oleh ombak yang dipermainkan angin

di laut ibukota ini

angin menjadi selimut orang-orang yang tidur di kolong jembatan

dan panas matahari menjadi tudung para pedagang yang mendayung nasib di pintu kemacetan

Jakarta adalah muara dari segala suara

impian, jeritan dan kebahagiaan

yang tenggelam dalam samudera zaman

Jakarta adalah dermaga

kapal-kapal besar datang dan pergi

membawa semua harta yang tersimpan di dasarnya kapal-kapal kecil yang sekedar mengail ikan kecil makin terpinggirkan, tak dapat bagian

kota ini adalah lautan dalam dan luas sepanjang pandang siapa yang tak punya kapal harus kuat berenang

agar tak tenggelam dan disantap ikan-ikan yang tak pernah kenyang

siapa yang terjun ke kota ini tak bisa kembali pulang

karna ia adalah laut tanpa daratan Jakarta, 29 Januari 2011

(41)

30 Anakku Akan Kuliah

jangan belajar sastra anakku nanti kau diberi tugas

keluar rumah malam-malam menulis puisi

tentang bulan dan bintang

jangan belajar agama anakku

nanti kau disuruh menghafal kitab suci berdiam diri di rumah ibadah

dan menutup telinga dari bisingnya jalan raya

jangan belajar sejarah anakku nanti kau diajari

menghormati para pahlawan

yang menghabisi nenek moyangmu

jangan sekali-sekali mempelajari ekonomi nanti kau jadi mentri

yang mengakali rakyat sendiri

apalagi belajar politik jangan anakku

pulang-pulang kau bisa saja membodohi ayah ibu yang membesarkanmu

jangan juga belajar matematika nanti matamu buta dari tanda-tanda selain angka-angka

yang terjebak di buku-buku kuliah kau ingin belajar teknik

Holy Adibz

(42)

aku mohon jangan anakku nanti kau dirikan industri

yang membangun mimpi para buruh lalu menghancrukannya kembali

lewat upah kecil dan pemutusan hubungan kerja

belajar olahraga saja anakku jadi pemain sepak bola

atau atlit bulu tangkis

badanmu sehat jiwamu kuat

biar tidak ditangkap saat unjuk rasa sebab kau akan sibuk berlatih

untuk kejuaraan melambungkan nama negara Padang, 18 November 2010

(43)

32 Ayo Bayar Pajak

ayo bayar pajak

untuk menyemir aspal

biar kendaraan orang-orang besar berselancar di jalan raya

menuju restoran-restoran mewah

ayo bayar pajak

untuk pembangunan gedung-gedung biar kota kita indah

tanpa gubuk kardus para gelandangan yang mengganggu pandangan mata

ayo bayar pajak

biar pejabat kita di atas sana bisa berlibur ke luar negeri

setelah lelah memikirkan nasib rakyat

ayo bayar pajak

biar kantong negara gemuk biar koruptor tak susah lagi mencari lahan garapan baru

ayo bayar pajak

tunda dulu membeli beras itu

dahulukan kepentingan negara ketimbang perutmu

nanti kita akan kenyang dengan kenyataan-kenyataan sesudahnya Padang, 12 November 2010

Holy Adibz

(44)

Seorang Penyair Dan Cangkulnya

seorang penyair membawa parang pergi ke hutan

mencari sebatang kayu untuk tangkai cangkulnya

kayu ditebang diperhalus diukir

dicocokkan

dengan mata cangkul

cangkul siap berkubang di sawah

namun

cangkul mengkilap itu diletakkan di ruang tamu bersama boneka

dari dapur

istrinya menjerit

“padi tinggal sesudut karung”

Padang, 8 November 2010

(45)

34 Labuhan Kerbau Kampungku

labuhan kerbau kampungku

tempatku berkubang siang malam

menyendiri dengan bangau, lumpur dan daun nipah bila aku pergi merantau

kutitipkan ibuku pada genang pasang bulanmu asinkan doa beliau untukku sepanjang malam

labuhan kerbau kampungku di bawah jembatan tuamu

ikan-ikan kecil menunggu cahaya bulan purnama malam hari ayahku biasanya pulang dari kedai kopi bila aku pergi merantau

kepada suara gemericik airmu aku berharap lumuri kaki ayahku pada ingatan tentang rumah yang kerap pulang setelah malam beruban

labuhan kerbau kampungku

di depan kubanganmu, sungai melarungkan kenangan masa kecilku

dan di samping kananmu, laut senantiasa bercerita bagai suara rabab dan tukang kaba

yang tak pernah punah dalam kenanganku

suatu saat, adik perempuanku akan menulis puisi tentang riwayat para petani dan nelayan

yang terbakar di atas kemarau tanahmu bila aku pergi merantau

tolong jaga adik perempuanku

saban hari, kera-kera yang bersembunyi di balik rimbun nipah dan kelelawar yang bersarang di pucuk kelapa

mengintainya berkereta pulang sekolah

labuhan kerbau kampungku

Holy Adibz

(46)

tempatku berkubang siang malam

seperti kerbau-kerbau yang terusir dari kandangnya aku akan mengembara ke ladang orang

mencari rumahku yang hilang bila aku pergi merantau

tikamkan jejak-jejakku di tubuhmu biar rinduku terpaku di jantungmu katakan pada ibuku

aku akan pulang

bila abu di atas tungku sudah membatu

Padang, 28 Februari 2011

(47)

36 Debu Cinta Palsu

hanya luka terpahat tak kan mati di hati

buana raya buat jiwa

yang terlena, tersandar dan terkapar

lusuhku tak terbasuh

perihku tak sanggup merintih

inilah jiwa yang terluka bersama asa yang terlupa

di atas fana yang nyata

dihembus bayu semu dan debu cinta palsu Kamarku, 25 Mei 2009

Jhon Pello

(48)

Keegoan

Kadang aku berpikir Kenapa kau dan aku Tak pernah bertemu Pada satu ujung jalan

Adahkah karna aku berlari kearah yang salah

Atau memang jalan ini masih terlalu panjang untuk kutemui se- buah ujung

Bukan suatu kerelaan ketika aku mencoba berlari Dari sebuah kenyataan

Bahwa kau tak pernah tulus menyayanggiku Tapi keterpaksaan telah membawa aku

Pada kelokkan yang bercabang pada ujung yang tak kelihatan

Mungkin sebenarnya tak perlu kutanya Mungkin juga tak pelu kau jawab

Karena di dasar jiwamu dan jiwaku

Ada keegoan yang terpaksa harus kita akui Hanya aku menunggu waktu yang tepat

Di mana aku harus berhenti melepaskan lelahnya perjalanan ini Sebuah rasa keegoan tanpa pernah lagi menoleh ke belakang Kamarku, 14 Juni 2009

(49)

38 Sajak Mabuk

...semua orang sibuk...

...aku malah ngantuk...

...semua orang suntuk...

...aku malah sumuk...

...semua orang ngamuk...

...aku malah mabuk...

Aku mabuk Engkau, datanglah,

rengkuh aku sekarang juga!

Bukit Karamunting, 23082010, 12:43

Joey Rose

(50)

Al Faiz: Dengan Subuh dan Di bawah Gerimis Aku Bersaksi (Razaq Akbar Faiz, sebab aku selalu merindukanmu)

Al Faiz…

dengan subuh,

dan di bawah gerimis, aku bersaksi:

Subuh adalah kesadaran segala permulaan

rentang kehidupan rancang kemenangan bangun kekuatan raih kemerdekaan.

Dengan subuh bangunkan tubuh sekaligus rubuh lawan keluh nyalakan suluh.

Refuge in the Lord of mankind The Sovereign of mankind The God of mankind

From the evil of the retreating whisperer Whispers [evil] into the breasts of mankind Among the jinn and mankind*.

Di bawah gerimis hamburkan tangis cinta kukais

perkuat baris lawan iblis tantang bengis

(51)

40 kezaliman terkikis

Menjadi Al Faiz.

Padang, 11 September 2011, 05.00-06.00

*Surat Annas dari Al Quran.

Untuk kedua orangtuaku, untuk istriku dan anak-anakku, untuk keluarga besarku, untuk sahabat-sahabat spiritualku, untuk ka- wan-kawan seperjuanganku, untuk seluruh manusia dan kemanu- siaanku, dan untuk Tuhanku.

Joey Rose

(52)

Tiga Perempuan Dalam Kehidupanku

Satu

Dari rahimMu aku dibuai-diasuh Dalam dekap-kasihMu aku tumbuh Engkau kupanggil Ibu

Dua

Dari rahimMu aku tanamkan generasi

Dalam dekap-cintaMu akulah laki-laki sejati Engkau kupanggil Istri

Tiga

Dari rahimMu akan Kau lahirkan kelak

Dalam dekap-revolusionerMu generasi baru bergerak Engkau kupanggil Anak

Padang, Jum'at, 16 Juli 2010, 12.30,

Merayakan Lima Tahun Hidup Bersama 16 Juli 2005-16 Juli 2010 dan Sampai Mati. (Mengenang Ibu Sri, disebabkan Welly, dan untuk Rara-Ku).

(53)

42 Dari Asrama Ke Jalur Gaza

:untuk saudara-saudaraku di Palestina

Aku sangka, begitu susah untuk tinggal di asrama

Ternyata, tidak ada artinya dibanding kehidupan di Jalur Gaza 30 September 2009 asrama terguncang gempa

Namun sepanjang waktu Jalur Gaza diterpa bencana

Lihatlah dengan mata, dengarkan dengan telinga dan rasakan dengan hati

Kesaksian-kesaksian dari Jalur Gaza yang belum sepi

Tentang ribuan manusia-manusia kehilangan nyawa setiap hari Tentang rintihan anak-anak muda kehilangan masa depan pasti Tentang jeritan dan tangisan bayi-bayi tak berdosa tiada henti Tentang kehidupan yang terayun terombangambing tak bertepi

Ketika pesawat-pesawat meluncurkan rudal memburu mangsa ketika peluru-peluru dimuntahkan membabi buta

Ketika buldoser-buldoser menggilas rumah-rumah bahkan manu- sia dengan paksa

Ketika pengkhianatan nilai-nilai kemanusiaan nyaris sempurna Dilakukan dengan penuh keangkuhan oleh para Zionis durjana

Tidak ada ...

Joey Rose

(54)

Sajak Untuk Nenek (Selamat Jalan Nek)

I

Aku bosan dengan keluhan Takkan selesai persoalan

Sebab hidup mencari jawaban

II

Meski mati harus temukan Titik sempurna keabadian

Satukan manusia dengan Tuhan

Padang, 14 November 2010.

(55)

44

Pagi Ini Seorang Mahasiswiku Kirim SMS

"Selamat hari guru ya bapak"

Aku tidak sempat lagi berpikir apa beda guru dengan dosen

aku hanya tahu, sama-sama mengajar itu saja, Nak!

"semoga bapak semakin sukses, selalu sabar dan semangat dalam mengajar kami"

Nak, aku masih bingung dengan kata sukses tapi untuk sabar, mungkin aku masih kurang

dan untuk semangat, paling tidak aku lebih memilih

bertemu kalian dibanding bertemu Rektor, Menteri, atau Presiden sekalipun

Aku ingin mendidik, bukan hanya mengajar jika itu mungkin, Nak!

"makasih buat semua ilmu dan kasih sayang yang bapak kasih untuk kami selama ini"

Semua ilmuku adalah untukmu, Nak!

aku mengasihi kalian karena kemanusiaan aku menyayangi kalian seperti anakku sendiri selama ini dan selamanya

terimakasih juga untukmu

atas keseriusan kamu dalam belajar, Nak!

"sampai kapanpun jasa bapak nggak akan bisa kami balas den- gan apapun"

Nak, semangat dan keseriusanmu dalam belajar adalah balasan yang luar biasa bagiku

tidak menunggu kapan pun, tapi sekarang juga aku pikir jasaku sebatas gaji bulananku

namun, engkau mengingatkanku

Joey Rose

(56)

kapitalisasi pendidikan harus dilawan!

Terimakasih, Nak!

"doakan kami supaya sukses ya Pak!"

doakan saya juga,

bisa jadi guru atau dosenmu yang baik dan benar, Nak!

Padang, 25 November 2010, 13:20.

Terimakasih untuk Fina Resty Fauthrisna, dan semua mahasiswa- mahasiswiku,

"Ayo terus belajar untuk berani berpikir kritis!, berani bersikap tegas!!, berani bertindak nyata!!!...untuk Indonesia, untuk Kita Semua".

(57)

46 Kami Selalu Siap Berperang!

Malam yang senang.

Barisan sadar berkembang.

Berpikir bersikap matang.

Makin jalang makin garang.

Kehidupan kerontang.

Membangun pantang.

Dunia tak tergoyang.

Siap terus menerjang.

Menang tak terjelang.

Siap tuk berkalang.

Pasti, suara takkan hilang.

Yakin, gema akan terngiang.

Ada sebutan pembangkang.

Tidak butuh disebut pejuang.

Anak-cucu saja mengenang.

Kami selalu siap berperang!

Padang, 01 Desember 2010; 12.10.

Untuk "barisan sadar" (Iki, Reski, Gilank, Iko, Fiky, dan semua orang yang siap masuk barisan membentuk pasukan)...dan untuk Yogyakarta-ku tercinta..."Apa kabar Rakyat Berserak dari Pun- cak Merapi sampai Pinggiran Parangtritis?!"

Joey Rose

(58)

Mungkin Kita Lupa

Obrolan santai tanpa tikai

dalam terpaan angin basah pantai membuat kita semakin pandai berlompatan seperti tupai tanpa terjebak ocehan kedai semakin membuat lalai dan lebih tolol dari keledai

Padang, 20 Desember 2010

Pagi sampai siang yang suntuk dengan kepura-puraan, obrolan membosankan seolah tanpa beban, "demi generasi masa depan atau demi sesuapan?'"

(59)

48 Ah, Revolusi Kok Ditakuti

Revolusi itu resolusi pergantian tahun.

Revolusi itu setelah lulus kuliah menerima gaji.

Revolusi itu nama yang anda cari tidak ada, meskipun demikian, nama revolusi tersedia untuk didaftarkan.

Revolusi itu tidak hanya berupa tulisan dan semangat saja, tapi nanti pada akhirnya terbukti melalui tindakan nyata.

Revolusi itu potong generasi tua yang sudah kronis dengan korupsi.

Revolusi itu menguasai diri untuk menguasai dunia.

Revolusi itu monyet nyengir melihat model perempuan bugil di atas puncak gunung meletus.

Revolusi itu sepakbola yang menjadi penyakit pada tubuh seo- rang gadis mengelus dada.

Revolusi itu nafsu purba manusia yang diumbar ke dunia nyata melalui dunia maya.

Revolusi itu aneka resep remeh temeh kehidupan manusia yang bisa menjadi urusan gawat darurat bagi petualang kesepian.

Revolusi itu kerusuhan sosial yang bukan dipicu oleh seorang pemimpin negara tapi oleh bahan penghilang lapar perut rakyat.

Revolusi itu bukan soal agama tapi tangisan untuk kehidupan yang layak, pekerjaan, ketahanan pangan, kebebasan, dan marta- bat untuk semua.

Revolusi itu soal harga soal gambar soal asuransi dan soal-soal kehidupan lainnya yang semoga kau menikmatinya.

Revolusi itu agen bola yang menyamar dan sebenarnya agen judi yang menjanjikan kekayaan sampai mati.

Revolusi itu sebuah bisnis networking dengan produknya sebuah software website yang berulang-ulang bisa mendapatkan pengha- silan tanpa batas.

Revolusi itu ketidakpercayaan akan merembet karena tidak ada alasan soal lawannya banyak atau soal ada yang suka dan ada yang tidak suka.

Joey Rose

(60)

Revolusi itu doa seorang gadis tentang tercapainya cita-cita seba- gai status dalam jejaring sosial di dunia maya.

Revolusi itu sebuah peristiwa besar di negeri nun jauh di sana yang bisa ditonton dari sebuah kampung relijius.

Revolusi itu ekspresi muka lucu dukun gondrong dengan celen- gan koin berciuman untuk orgasme hebat di titik tersensitif dan termahal di dunia.

Revolusi itu menonton, browsing, ngobrol di satu layar harganya diperkirakan milyaran.

Revolusi itu sebuah puisi memaksa tentang sebuah karya dari co- mot sana comot sini penyair gadungan yang rindu eksis.

...ah, revolusi kok ditakuti...

Padang, 01 Februari 2011, 23:15

(61)

50

Aku Menangis Ketika Menggali Kubur Untuk Putriku. Dia Maju dan Kemudian Menyisir Janggutku

:sajak untuk Zahra Faiza Fitria

Seringkali kesadaran begitu cair namun tidak jarang sangat beku.

Ketika merasa sebagai pembuka jalan terang justru menyilaukan mata sendiri, maka air mata akan menetes perlahan dan terus menerus menganak sungai. Kuburan bagi yang hidup itu justru le- bih menyiksa daripada mengubur yang mati. Bahkan yang

matipun akan membusuk dengan sendirinya dihantam terik

matahari, dihajar hujan deras yang mengguyur bumi, ditiup angin yang menghempaskan apapun ke udara.

Dia yang selalu berharap aku pulang ketika kepergianku. Dia yang selalu berharap aku ninabobokan menjelang lelapnya. Dia yang benar-benar menyentuh, mengelus, menarik, dan akhirnya benar-benar menyisir jenggotku. Dia yang begitu berarti untukku.

Hidup dan matiku sebagiannya untukmu, Bunga-ku.

Padang, 29 Juli 2009, 14:04.

Joey Rose

(62)

Jika Semua Sempurna

Jika semua sempurna

maka selesai sudah hidup dan dunia bebas

maka bukan sudah benar atau masih salah maka bukan sudah baik atau masih buruk

hanya belajar dan bekerja menerabas batas-batas

yang dikonstruksi wajar dan pantas yang semestinya besar dan luas yang sesungguhnya bebas

sempurna

apakah sempurna mensyaratkan bebas apakah bebas mensyaratkan sempurna

mungkin

Padang,8/5/2011

(63)

52

Bagaimana mungkin Aku bisa diam, dan Kau?

:untuk mereka yang tidak pernah diam

Bagaimana mungkin aku bisa diam jika kebodohan dipelihara oleh manusia-manusia,

bagaimana mungkin aku bisa diam jika ketidakberpihakan kepada yang harus dibela merajalela,

bagaimana mungkin aku bisa diam jika kita semua hanya berkata- kata bahkan diam saja.

Padang, 16092010; 09.45

Joey Rose

(64)

Negeri Parewa

Negeri parewa Negeri Galau

Galau Hati nan tak Terkatakan

Resah membayang dalam mimpi yang tak berkesudahan

Malang sudah dilahirkan di tanah yang tak berarah Sudah dan tak sudah

Bhatin perih Jiwa sesak Ingin terteriak

Takut tak makan dan ditembak

Hanya menyaksikan dengan telanjang segala basa- basi Jilatan liar atas semua kepalsuan yang disusun nyata Pura- pura bertepuk tangan

Dalam sepi di Negeri Parewa Bertanya dalam hati

Kapan akan kembali atau hanya mimpi

(65)

54 Mau Ke Mana Kau Indonesiaku

Kisah potret negeri kusam dan tak pernah pasti

berjalan terseok

hilang dan menunggu mati

Sekolah untuk menjadi bodoh bekerja untuk menjadi bodoh

pengangguran untuk menjadi bodoh mau ke mana kau negeriku

kumencarimu

Kau tampak pilu Arahmu kian gontai Semangatmu padam

Wahai Indonesiaku

Mana suara- suara yang kau teriakan lantang dulu Kokoh menatap hari esok

Tak takut akan badai

Menantang masa sekalipun

Mau ke manakah kau Indonesiaku Tubuhmu kian kusam

Wajahmu kian legam

Bukan karena kedewasaan tapi sepertinya kau lupa ingatan

Lismomon Nata

(66)

Korupsi

Korupsi kata populer

Di mana- mana ada hingga di balik besi Siapapun pasti suka

Virus bizurai negeri

Congkak

Merasa aman dan bisa dibeli Bising dalam berita

Saling cakar

Gundik Dalalah

Mall dan Hotel Cilok

Burai sumpah serapah

(67)

56 Bupala

Oh....

Bupala, kami akan cium tanganmu Hingga jilati pantatmu

Bapala, kami akan cuci tapak kakimu Hingga kau senang kegirangan karenanya Tak mengapa

Pembantu di rumah sendiri Budian di kampung sendiri Buruh

Tak apa- apa asalkan kau senang

Oh...

Bupala

Ekor kami akan bergoyang- goyang Sabar menanti titahmu

Lismomon Nata

(68)

Wahai Penyair

Penyair, apakah syairmu mampu mengubah dunia

Penyair, syairmu bukan lah kata sakti seperti memo yang bisa menundukan kepala manusia atau mengesahkan anggaran belanja negara

Penyair, untuk apa kau habiskan waktu dan tinta

Berkelahi siang malam, memutar kepala untuk merangkai kata- kata

Sementara mereka tak juga mau mendengarnya

Penyair untuk apa, saat manusia kini tak perlu estetika, etika, matematika, fisika

mati rasa

Semuanya telah digadaikan dengan mulut yang mengeluarkan kata- kata namun bukan sastra, puisi, nasehat, dan cerita

Bermain kata, membolak- balik kata Merubah putih menjadi hitam

Hitam menjadi putih Itu sudah biasa

Penyair, apa yang kau bisa

Ketika manusia tak butuh lagi dan mempertanyakan untuk apa

(69)

58 Tanah

Tanah

Tidak ada lagi yang kami miliki hanya tanah Tanah air ini tanah

Tempat lahir dan mati ini tanah

Tempat kami bermain kelereng, galah, ucak Adalah tanah

Kami adalah anak tanah Tanah ibu Pertiwi

Tempat kami bertanam padi

Namun kini di manakah kau tanah

Kau semakin sempit bahkan tak terlihat lagi Berganti dengan beton- beton paku bumi Menjadi gedung- gedung

Tempat parkir mesin- mesin beroda

Tanah

Kau semakin mahal saja dan tak terbeli

Lismomon Nata

(70)

Apnea Masa Muda

Aku seperti santri bersarung dan berkutat dengan kitab tanpa tanda baca

Terbata- bata membaca tanda hari esok Akan datang dan tak sempat untuk kubaca Menbaca kehidupan

Mencari suatu makna

Ghaib

Lantas berjalan dalam sesak nafas cinta

Waktu terus saja berjalan, entah kapan kan bersua

Kuhancurkan menara yang telah dibangun dengan peluh dan air mata

Kuracuni kesempatan hanyut dalam derasnya cadai

Tertawa terbahak- bahak Ke sana ke sini

Mondar mandir Dan layu

Kini apa yang dikata

Senja kian mendekat, kusesal....

Tapi apa yang hendak dikata Aku Apnea

(71)

60 Penyair Tolol Dan Perempuan Gila

Aku ini penyair tolol dengan perempuan gila (tapi paling catik sedunia) memegang urat leherku, aku mau jadi harimau tapi ia menolak jadi kijang, katanya ia tidak mau ditindas tapi ditindih.

Ia lebih suka kata-kata, ia suka gombal-gombal, tapi ia tidak suka dipolygami. Sesekali aku mengajaknya makan pecel, duduk di pinggir jalan atau pulangpergi cari utang naik becak sembari kubacakan puisi paling cinta.

Ketika ia lapar, aku akan cubit pipinya sampai merah, kuciumi kelopak matanya,kukunyah telinganya, selalu ia setelah itu menggigit pundakku dan berkata “kapan puisimu bakalan laku dijual? Cinta”. Kukecup kening dan kuseduh aroma segala macam bunga dirambutnya “nanti, aku janji, akan kuajak kau makan di restoran mewah, kemudian nginap dan bercinta di hotel bintang lima, cinta”. Selalu ia akan tertawa “cinta, kau pendusta tapi aku suka” berbisik manja dan mengajakku bermain kucari kau sampai lelah, kadang aku sembunyi di dadanya kadang pula di pangkal paha dan bahasanya, bahasaku lalu adalah nafas

terburu, peluh, lenguh "aduh" serta sendi-sendi yang mendadak ngilu.

Padang; 23/12/2010

Reski Kuantan

(72)

Aku Melihat Langit

Aku melihat langit,

kudengar anak-anak menangis suara-suara perut lapar

burung-burung membisu putik-putik bunga layu mereka sakit

mereka kedinginan mereka tersiksa semua dirampas.

Aku berdoa,

orang-orang bertanya di mana keadilan semua terdiam semua hilang

kini cuma derak ranting-ranting patah derit di bibir-bibir luka

daun-daun detik diputus duka.

Oh, kuteguk air mata mereka agar badai di dadaku

agar gemuruh di jantungku agar runtuh, agar luluh agar remuk batu hatiku.

Aku melihat langit

kemudian menunduk dan menciumi tanah, orang-orang bertanya

siapa di atas sana?

Padang; 15/06/2011

(73)

62 Cicak

Aku ingin jadi cicak yang menempel di langit-langit kamarmu, dengan sepasang mata liarku, aku ingin menyimak gerak gerik tidurmu, dengan harapan barangkali nanti di suatu malam kau bakalan membaca namaku dari dalam mimpimu.

Aku selalu membayangkan dapat menyusup ke dalam piyamamu, menggetarkan bulu-bulu halus di susumu, kemudian perlahan- lahan kudengar degup jantungmu, mungkin saja kau sedang bermimpi buruk dan aku akan bersegera siaga

membangunkanmu, barangkali dengan doaku.

Hampir di tiap kapan kau mulai mematikan lampu dan

menyembunyikan diri ke dalam selimutmu, selalu kulantunkan doa-doa pengantar kebahagian terhadap Tuhan, agar kau

senantiasa diberikan kenyenyakan dan betapa di kehidupanmu agar aku senantiasa dapat berjaga di luar tidurmu, berjaga serupa udara yang ikhlas kau seduh ke dalam paru-paru.

Padang; 18/02/2011

Reski Kuantan

(74)

Aku Denganmu

Aku, denganmu, selalu takut sendiri-sendiri, semisal pohon mangga di depan rumah, “Apa sekarang musim berbuah?” kau selalu pura-pura tidak tahu dan pura-pura mencari jawaban ke segenap bahasaku.

Tak ada yang lebih ajaib ketimbang kita yang senantiasa

berjumpa, meski telah saling tumbuh di lain dahan dan terkadang retak di lain cabang.

Kau tak jarang menggantung-gantung sepi semacam angin di sela ranting dan aku cerita yang tak sudah-sudah kau bawa ke semua cuaca, seperti pula kau kusenbunyikan dari segala patah.

Di pucuk paling hingga, serupa doa dan airmata, kita sama memeram kecemasan, “Apa hari ini kita telah tanak?” selalu sembari kugenggam gemetar penempuhanmu dan kau seduh debar kehidupanku, kita sama mendekap usia yang jatuh satu- satu.

Padang; 14/02/2011

(75)

64 Puisi-puisian

I

Aku ke laut kau ke bukit

dan yang lain menatap langit

sementara kita sibuk saling berbohong di perut orang-orang lapar

para penguasa berbagi tiket ke neraka.

II

Jangan cium di sana, di sana geli,

aku tak mau kita cuma sekedar saling menertawai, aku tertawa karena kau karena aku,

Indonesia.

III

Pohon itu tumbuh tinggi sekali aku dengar,

ada seseorang di puncaknya ingin menangkap bulan.

Padang; 17/05/2011

Reski Kuantan

(76)

Menuai Hampa

Seusai padi kutanam aku hendak menuai ilalang malah kiranya

seperti berladang pada yang tak mungkin aku mesra memeluk angin

hampa nan dingin, sakit yang tak mengenal musim

Patahnya di pangkal paling bawah kuncup-kuncup mengecup tanah tak sempat menjadi bunga

duh, ada luka

katup-katupnya menganga menelaga di ceruk mata Padang; 10/04/2010

(77)

66 Taplau tujuh tiga puluh

Melempar bola mata

dan sepasang dukacita tergelak tibatiba ini bukan gelombang yang sama

tanpa koran pagi atau halaman puisi

Pukul tujuh tiga puluh,

tentang pantai, buih, pasir, dan aroma rambut yang diamdiam menata simak

di bebatuan dan segumpal penantian

Siapa saja pernah salah kira ini laut jantan atau betina

tapi, rindu tak faham angka merah juga dermaga yang memisah badan di ujung muara

Tuhan, aku ingin jadi angin aku ingin jadi awan atau hujan

aku ingin jadi hari libur sepanjang musim Padang; 03/10/2010

*Taplau:Tapi Lauik - Pantai Padang

Reski Kuantan

(78)

Aku dan Ibuku, Tuan.

Ibu menanak mimpi di dalam kepalaku, aku belanga di atas tungku, api menjadi guru, api mencairkan apa saja yang beku, mengabukan apa saja yang bisa menjadi abu, menelan apa saja yang bisa ditelan, memakan apa saja yang bisa dimakan, aku dan ibuku punya banyak tuntutan.

Tapi, dari atas sana, di atas entah itu kursi penuh beban atau

malah kasur idaman, keringat ibuku disedot, darah ibuku disedot, doa dan airmata ibuku disedot, aku dan ibuku disedot, kami

disedot seperti tambang, disembelih kebijakan, dibuat akrab dengan kecemasan.

Dari tubuh ibuku, dari rahim ibuku, dari seluruh luka dan duka ibuku, bakalan terus kalian lahirkan ketidakadilan, benarkah tuan?

Padang; 20/06/2011

(79)

68 Ke Rumahmu Aku Hendak Pulang

Aku hendak pulang ke tubuhmu menjengkal belai. Meski tak begitu kuhafal lagi musim-musim di matamu. Tapi aku ingat sempat pernah dulu sembari menyimak kumbang bak lenggok anak gadis memotret gerimis melubangi palang pitu, kita tulis puisi tentang urat leher dan jabat di saku baju.

"Pantas saja lubang-lubang di kayu rumah ini kian berjumlah, kelak mungkin saja bakalan patah atau runtuh" katamu.

"Tapi itu bukan aku!" kataku.

"Kau yakin? kenapa tapi aku ragu? tibatiba wajahmu batu.

...

Entah bagaimana kemudian aku telah di luar mencari pintu. Aku tahu kau sedang di dalam menumbuhkan ulang paru-paru.

Padang; 02/09/2010

Reski Kuantan

(80)

Mengulum Biru

binar matamu merayap terang

sambut untaian cahaya retoris benderang dalam lebam hati yang lelah mengerang

kurungan berbatas jasad menjadi derau bak birokrat menjaga rakyat tetap terpantau cita membuka hanya mengigau

pusat harap pada tangan tak terlihat meski nuansa takdir dan ayat

nyata menuai laba berlipat

ketika tali sebab terputus

membunuh logika determinasi alih alih untuk bereksistensi

namun kau tak mesti rela memupus tuk setia selalu menghampiri konklusi Batu Taba, 240811

to: my tough sister, if only I could find the concrete help...

(81)

70 I Sweep The Floor

I sweep the floor

not because my mom told me to or conform to what people think of dirtiness and tidiness

I sweep the floor on my own bliss

for the process I love between

I sweep the floor

to pick any worth thing

out of awareness to be expelled to check every corner of the room as it might be some important things are enclosed

at least

to figure out everything need to be thrown out

I guess it will be delightful to sweep the floor everyday

hoping for every new synthesis to get

Batu Taba, 010811

Rizki Firdaus

(82)

Antonimisme

ragam kemudi terlontar menyapa. isyarati hati mulai pelayaran.

satu pandu nyatanya mesti digenggam. sebentuk pilihan menurut berita. atau hanya turunan sekedar menelan. selain mau bertanya pada gerak periode alam.

kemudian ambisi meluap terus ke atas. melupakan dimensi ber- nama masa. jatuh itu mudah. tanpa topangan dari bawah.

setiap mulut kini serempak bilang benar. sedikit tenar berpeluang didengar. suara sayup bisa tersulut. berulang kali dituding salah.

menjadi pemenang tak lebih dari adu kuat. singkirkan dulu tang- gung jawab. putar otak buat pertahanan. karena kalah bukan ber- arti menyerah.

dan ketika air memberi dingin . bisa bimbing panas mereda. se- makin deras mampu padamkan api kebenaran.

maka hitam hanya akan kembali menjadi gelap. dalam terang figura putih. demikian juga sebaliknya.

adapun jika mati telah jadi pilihan menutup gusar. terse- bab hidup cuma bermacam kepentingan. hanya Tuhan yang punya kuasa. pada pahala yang mengurai hidayah menuai pamrih. atau dosa yang memecah ikhlas.

cinta anugerah semesta. bukan dunia satu dua. berkawan tanpa halangan perbedaan. melawan tembok sekat penyeragaman.

Batu Taba 090311

(83)

72 Author

a comfort zone fade away from my sight together with millions groan of defeat

whose really suffer of no link up to the might should I feel it?

they keep calling me a blockhead for sliding the gold bargaining over

by refusing to get employed in the day to day linear then spending my life in the taboo of insubordinate must I notice that?

Come on man, never think to regret that Cinderella shall find her happy ending faster when she gets courage with the step mother

the sleeping princess ought to meet more than just a handsome prince

if only she had bored to wait for the kiss despite of a certain magic upon that

everyone has their right to be an author thank God for letting me battle on my own Batu Taba 010211

Rizki Firdaus

(84)

Perjalanan ke Kota Besar Perdanaku

baru kali pertama kulihat tembok-tembok dipaksa memanjat memandangi riuh para kerabat bersusun rapi bersaing hebat pikirku sang pemilik segala bakalan bangga

mengamati buah-buah pikiran ciptaannya

pantang kehabisan upaya manfaatkan sumber daya

lebar bumi sudah habis dipalu besi

langit tempat bersemayam matahari kan masih luas

terus bersemilah pembangunan mandiri abaikan proporsi

tengoklah variasi jajanan impor

mungkin ini keutamaan perdagangan bebas seperti wibawa bicara mereka di monitor

usah jauh berkunjung agen kami setia melayani

selera luar negri akan siap segera datang menemani merata ke semua lini

coba kau bayangkan kesetaraan juga begitu terasa jumlah beruang dan yang terawang sama banyak mengalahkan jamaah kere di desa

hingga partisipasi mereka kelak ikut merebak

semoga ku tak salah langkah

palingkan mimpi usang pada koar kehidupan baru di pintu ger- bang

puaskan mata berkaca ayah ibu yang penuh amanah sampai nanti kuminta burung mengabarkan

perjalanan ke kota besar perdanaku

Batu Taba 200111

(85)

74 Tawa Fatamorgana

tegukan teh pahit penghabisan

dingin melukis waktu langit perhentian lelaki tanggung

mengingat dalam lamunan

rute barisan itik tiap petang

siang tadi ditempuh seorang teman saat istri dan hidangan dalam rantang semua pada lesehan

hingar bingar kabar bin impian tak merupa wajahnya

gemerlap dasi

pantulan kilat sepatu kulit

tak urungkan lelah jantung raga di jeruji

tumpukan kartal menjelma dewa, balik mendakwa bangga apa jika buat merana

tertumpah sia perasan keringat demi dangkalnya label harga

segera bangunkan tuan pemberani reinkarnasi awal revolusi

cicipi sederhana hakiki yang kau ajari kawan

iringan senyumku antar harapan pada pusaran fatamorgana tawa

hingga luka lama kembali mengelupas pada binar mata yang meredup

pada detik menutupnya kesempatan

Rizki Firdaus

(86)

pada hati tertahan korban keadaan pada teriakan sayup berjumlah jutaan

pencuri api,

Bukittinggi 12: 31, 101210

terinspirasi dari sinopsis Babbitt yang disampaikan ‘pak dosen’

Referensi

Dokumen terkait

Tingkat kebugaran jasmani putra biasanya lebih baik jika dibandingkan dengan tingkat kebugaran jasmani putri. Hal ini disebabkan karena kegiatan fisik yang

Jika Anda menganggap atau mendapa bentuk payudara Anda “aneh” atau dak seper umumnya bentuk payudara wanita lain, Anda bisa mengenakan bra yang tepat. Bra dengan bahan

bahwa berdasarkan Peraturan Bupati Bulukumba Nomor 74 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Inspektorat Kabupaten

Demikian pula halnya dalam kegiatan pemanenan hutan dapat menurunkan bahan organik, khususnya C dan N secara drastis akibat perubahan suhu, lengas tanah dan aerasi (Matson et al

Adapun Angka Partisipasi Kasar (APK) menunjukkan peningkatan yang cenderung baik pada setiap jenjang pendidikan dan yang tertinggi nampak pada tingkat APK SD hal ini karena

Peningkatan jumlah tenaga kerja yang tidak disertai dengan peningkatan kinerja pekerja akan mempengaruhi proses produksi dan pada akhirnya akan menghambat

Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mengucapkan puji syukur atas penyertaan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat pernyertaan-Nya, yang sempurna, peneliti akhirnya

Pak Adi: Sebenarnya jarak dari hotel ke desa Cibuntu sekitar 1 jam, namun agar stulap ini lebih berkesan bagaimana desa wisata itu maka sebaiknya kita ajak peserta menginap