Kondom Bocor, Sobek Ujungnya
Copyright 2011, 10 Penyair Wanna Be isbn 123-456-789012-3-4
Sampul Ilustrasi
Umpu Prahara & Reski Kuantan
Editing Abjad
Reski Kuantan & Jhon Pello
Susun Letak
Umpu Prahara & Jhon Pello Penerbit Magenta Publishing
Cetakan Pertama Banget, Oktober 2011 x + 89 hlm, 14x20 cm
Hak Cipta Puisi ditangan Penulis Puisi, silahkan diperbanyak sebanyak-banyaknya
isi diluar tanggungjawab orang yang tidak bertanggungjawab
SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN
Dipungkiri atau tidak, terlepas dari teori-teori, lepas dari aturan-aturan dan terlepas dari perkembangan zaman dan perada- ban, berseni bagi kami pada dasarnya adalah suatu kesenangan dan sekaligus salah satu bentuk pembebasan atau membebaskan diri dari segala macam tekanan yang datang dari dalam maupun luar, serta adalah media penyampaian dan bahwa seni adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Begitu pula dengan bersastra atau menulis suatu karya satra, salah satunya adalah puisi.
Misalnya Wiji Thukul dengan puisi-puisinya yang bahkan mampu menjadi motivasi serta semangat tersendiri pada aksi-aksi kawan aktivis dan mahasiswa serta semua orang yang bergerak menentang dan meruntuhkan pemerintahan Orde Baru dengan
“Hanya ada satu kawan: Lawan!” (Puisi Peringatan), atau WS.
Rendra yang kemudian dikenal dengan puisi-puisi pamfletnya.
William Shakespeare dengan romantismenya dan masih banyak lagi penyair-penyair Tanah Air maupun luar dari latar belakang yang berbeda-beda yang berseni merangkai kata untuk menyam- paikan sesuatu hal, baik dari dalam diri sendiri mau pun dari luar atau lingkungan sebagai makhluk sosial dengan berbagai tema, kondisi dan situasi.
Mereka adalah segelintir contoh orang-orang yang berhasil membebaskan diri, terutama untuk berseni merangkai kata atau berpuisi dan bahkan berhasil membebaskan orang lain secara
batiniah, seperti mampu memberi semangat, motivasi dan kepua- san ketika menikmati karya-karya mereka.
Lantas apa hanya penyair yang menulis puisi? Pertanyaan- pertanyaan sederhana seperti inilah yang terkadang membelenggu dan membatasi kreatifitas seseorang dalam berkarya, seseorang seringkali terjebak dalam pemikirannya sendiri, sebab bukan pen- yair maka tidak menulis puisi, sebab bukan pematung maka tidak membuat patung, sebab bukan pelukis maka tidak melukis, dan cenderung membuat batasan-batasan bagi diri sendiri. Selain itu pola pikir yang dididik dan dipengaruhi lingkungan dengan per- sepsi-persepsi yang terkadang memandang suatu bentuk hasil suatu karya adalah subyektif yang sebenarnya adalah obyektif.
Dan kembali pada hakekatnya, berseni dan bersastra itu be- bas, bebas memaknai dan bebas berkarya. Dari itu semua orang wajib bebas dari batasan-batasan dari dalam mau pun luar diri un- tuk berseni dan berkarya.
Berangkat dari pemahaman sederhana ini, kami dengan segala kekurangan dan dengan segenap keberanian serta rasa per- caya diri yang mungkin sebenarnya terlalu berlebihan dan dengan keyakinan yang umum sebab yang terpenting adalah proses, maka kami memulai, maka kami berkarya, kami bebaskan diri kami, dan bersepakat untuk membukkukan kumpulan puisi-puisi kami yang kami beri judul “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”.
Mengapa “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”?
Begini sedikit penjelasannya : Kondom adalah alat kon- trasepsi keluarga berencana yang terbuat dari karet dan pe- makaiannya dilakukan dengan cara disarungkan pada kelamin laki-laki ketika akan bersenggama. Kondom di sini adalah bata- san-batasan yang kami sarungkan dan kami ciptakan pada diri sendiri yang sebenarnya justru menghancurkan rencana-rencana kami, seringkali karena sangat elastisnya tanpa kami sadari telah membunuh kreatifitas kami sendiri. Sehingga alat kontrasepsi ini
harus dibuka alias tidak disarungkan lagi pada kuasa nafsu ke- bodohan dan ketololan pada diri kami semua, yang seharusnya bebas bersenggama dengan kreatifitas dalam kehidupan kami se- cara berkeadilan tentu saja. Atau adalah untuk menerabas batasan -batasan dan tidak membatas-batasi diri sendiri.
Bocor adalah pertama, berlubang sehingga air dan udara da- pat keluar atau masuk; atau tiris, kedua tersiar sedikit-sedikit (tentang rahasia dan sebagainya), ketiga, adalah kerap kali buang air; keempat adalah mengeluarkan darah. Dan kami tentu saja me- mang sengaja membocorkan atau menjadi bocor agar kami tidak sakit perut, sesak nafas dan sakit kepala dalam berkreatifitas dan menyampaikan sesuatu hal. Sehingga kami bebas dan merdeka tanpa adanya pengkotak-kotakan atau apalagi sampai memenjara- kan kreasi dan agar kami terus dapat bersirkulasi dan berproses.
Sedangkan Sobek adalah cabik, robek, atau koyak. Dan Ujung yaitu bagian penghabisan, puncak, akhir atau maksud dan tujuan. Yang di sini adalah sebuah harapan atau keinginan agar dengan buku kumpulan puisi ini kami dapat turut membantu menyobek batasan-batasan pada orang lain atau dengan keinginan bisa sedikit memotivasi bahwa untuk melakukan sesuatu, teru- tama berkreatifitas, semua orang tanpa terkecuali memiliki hak dan kebebasan yang sama, dan itu harga mati. Titik!.
Akhirnya, menjadi penting atau tidak penjelasan ini, semoga bisa dinikmati. Jika berkenan dan berlapang dada silahkan dibaca, dikritik habis-habisan, disimpan dan disebarkan. Jika tidak berk- enan, silakan buku antologi puisi ini dikilokan sebagai barang loakan, didaurulang atau setidak-tidaknya diwariskan kepada orang lain yang mungkin penasaran, meskipun akhirnya juga akan bersikap sama, sakit perut, sakit kepala dan barangkali mun- tah. Maka, mari berkondom bocor sobek ujungnya, berseni dan bersastra untuk pembebasan diri dan berkeadilan sosial!
MaGenTa
PUISI RUANG DOKUMENTASI YANG MENERIMA KEBEBASAN
Maira Eka Sari
Setiap orang, melalui rangkaian peristiwa yang berbeda- beda dalam menjalani hidup. Mau tidak mau, secara tidak lang- sung mereka menuntut untuk dimengerti apapun itu. Akan tetapi, keadaan alam kadang sering, bahkan lebih dominan memaksa mereka untuk tidak bersikap sesukanya. Terbatas lebih tepatnya.
Menjalani hal yang seperti itu menghadirkan ekspresi yang ber- beda pula dalam menanggapinya. Salah satu yang merupakan ek- spresi mereka adalah keinginan untuk suatu hal yang dinamakan kebebasan.
Saat menjalani tuntutan alam yang terkadang mengukung terkadang tidak, kebebasan itu sering diteriakan orang-orang – siapapun dia– pada apapun, kapanpun, dimanapun, tanpa terkec- uali. Bebas berfikir, bebas berbicara, bebas bergerak, bebas berkeingin, dan masih banyak lagi yang ingin dibebaskan dari dalam maupun luar diri mereka. Hal itu tidak bisa dipungkiri dan itu bukan suatu hal yang tidak wajar apalagi suatu kesalahan. Ke- bebasan itu hak semua, dan wajib diberikan oleh semua
Seni kata atau lebih akrab dikenal dengan sastra menjadi wadah untuk kebebasan itu bersuara. Baik itu dalam bentuk puisi maupun prosa. Adapun peranan dari sastra adalah meneruskan tradisi suatu bangsa kepada masyarakat se-zamannya dan kepada
masyarakat yang akan datang, antara lain berupa cara berpikir, kepercayaan, kebiasaan, pengalaman sejarahnya, rasa keindahan, bahasa, serta bentuk-bentuk kebudayaannya (Semi, 1984: 14)
Melalui puisi, penulis bebas menuangkan apapun, baik itu pikiran, perasaan, harapan, caci-maki, penghinaan dan lainnya yang akan disampaikan pada orang lain ataupun hanya pada dir- inya sendiri. Dalam antologi ini, puisi merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk yang bisa digunakan untuk mengekspresi- kan sesuatu yang dinamakan kebebasan itu. Puisi adalah artefak yang bisa menumpu suara, gerak, perasaan, bau, dan apapun ke- jadian alam semesta ini dalam bentuk untaian kata, baik memiliki keindahan ataupun tidak. Puisi berhak lahir dan menemui takdir dan caranya masing-masing. Hal ini juga ada pada karya dan hal yang lainnya.
Dalam antologi puisi ini, para penyair wanna be mencoba menghadirkan warna baru yang merupakan wujud keinginan mereka dengan yang namanya kebebasan. Berbagai hal yang ber- beda disajikan oleh mereka yang berlatarbekang berbeda pula hingga secara tidak sengaja telah membatu memenuhi peran sas- tra untuk meneruskan tradisi. Hal itu telah menjadi sumbangan berharga dalam khasanah kesusastraan Indonesia.
Hadir tanpa sebuah tema, mereka berani menyuguhkankan dokumentasi berharga untuk artefak berharga pada mereka yang akan datang dan berada di masa-masa berikutnya.
Padang, Oktober 2011
Daftar Puisi
Alfikri Ilmi
• Pada Tanah Kelahiran
• Nostalgia Ramadhan
• Aku Ingin Tua Bersamamu
• Permintaan
• Jadi Cleopatra Semalam
• Cepat Bangun, Nak
• Menjahit Nasib
• Ibu
Amanike Liza Fitra
• Hidupku
• Kekecewaanku
• Kepergianmu Sobat
Gilank Ralicha
• Garuda di Dadaku
• Titip Surat Untuk Ayah
• Surat Kepada Kawan
• Hanya Sepotong Kata Untuk Bangsa Yang Merdeka
• Negeri Para Kesatria
• Logika Kosong (Anjing)
Holy Adibz
• Seorang Ibu Berbisik Pada Calon Bayinya
• Sajak Seorang Pelacur
• Laut Kota Jakarta
• Anakku Akan Kuliah
• Ayo Bayar Pajak
• Seorang Penyair dan Cangkulnya
1 2 3 4 5 7 9 11
12 13 14
15 17 19 21 23 25
26 28 29 30 31 32
• Labuhan Kerbau Kampungku
Jhon Pello
• Debu Cinta Palsu
• Keegoan
Joey Rose
• Sajak Mabuk
• Al Faiz : Dengan Subuh dan Dibawah Gerimis Aku Bersaksi
• Tiga Perempuan Dalam Kehidupanku
• Dari Asrama Ke Jalur Gaza
• Sajak Untuk Nenek (Selamat Jalan Nek)
• Pagi Ini Seorang Mahasiswiku Kirim SMS
• Kami Selalu Siap Berperang!
• Mungkin Kita Lupa
• Ah, Revolusi Kok Ditakuti
• Aku Menangis Ketika Menggali Kubur Untuk Putriku, Dia Maju dan Kemudian Menyisir Janggutku
• Jika Semua Sempurna
• Bagaimana Mungkin Aku Bisa Diam, dan Kau?
Lismomon Nata
• Negeri Parewa
• Mau ke Mana Kau Indonesiaku
• Korupsi
• Bupala
• Wahai Penyair
• Tanah
• Apnea Masa Muda
Reski Kuantan
• Penyair Tolol dan Perempuan Gila
• Aku Melihat Langit
34
36 37
38
39 41 42 43 44 46 47 48
50 51 52
53 54 55 56 57 58 59
60 61
• Cicak
• Aku Denganmu
• Puisi-puisian
• Menuai Hampa
• Taplau Tujuh Tiga Puluh
• Aku dan Ibuku, Tuan.
• Ke Rumahmu Aku Hendak Pulang
Rizki Firdaus
• Mengulum Biru
• I Sweep The Floor
• Antonimisme
• Author
• Perjalanan ke Kota Besar Perdanaku
• Tawa Fatamorgana
Umpu Prahara
• Kau 1
• Kau 2
• Untuk Ibu
• Seorang Gadis di Sebuah Ruangan
• Ahh...
• Malam
• Satu Hari
• Untukmu
• Perempuan
62 63 64 65 66 67 68
69 70 71 72 73 74
76 77 78 79 81 82 83 85 86
Pada Tanah Kelahiran
pada suatu waktu yang entah
aku akan pergi menghapus segala jejak kaki di tubuhmu ijinkan aku menempuh ribuan kilo jauh dari pandangmu ijinkan aku menjadi lelaki
ijinkan aku tepati janji
ijinkan mencoba peruntungan dari beberapa kemungkinan dan ijinkan aku mengingatmu dalam kenang
karena kelak jika sudah sampai waktu aku akan kembali lagi ke pelukanmu
membawa nyala api atau ditikam sepi berkali-kali
Padang, 6 Mei 2011
2 Nostalgia Ramadhan
Tidurlah.
Besok sehabis Shubuh kita bakar petasan
di samping orang pacaran Pariaman, 1 Agustus 2011
Alfikry Ilmi
Aku Ingin Tua Bersamamu : Rahma Welly
Aku ingin tua bersamamu
menghabiskan waktu dalam rentang umur yang beruban
Berpetak umpet di keriput kulitmu
Bernostalgia ciuman pertama di bibirmu yang sudah kemarau Berkaca pada matamu yang masih menyimpan masa lalu.
Aku ingin tua bersamamu
Menikmati early reggae atau soul di beranda
sambil memandangi kepulangan burung-burung dalam formasi menuju sarang
atau menikmati sunset,
sunset yang selalu membuatmu kagum atau gemetar.
Karena kau pikir masa depan tak pernah datang.
Aku ingin tua bersamamu
berdua kita tertawai masa sekarang.
Dan saat itu barangkali kita sudah pikun
tak terlalu ingat kapan pertama kali pandang kita bertemu.
Aku ingin tua bersamamu
masihkah kau ingin main ayunan di jenggotku?
Padang, 1 Juli 2011
4 Permintaan
nyamuk tidurlah
masih ada malam lain
bagimu mencoba peruntungan menghisap darah
malam ini jangan
aku sudah terlalu lelah dihisap
seharian
Padang, 22 Juni 2011
Alfikry Ilmi
Jadi Cleopatra Semalam
Malam ini bulan ketakutan
bersembunyi di balik bangunan hotel bintang lima.
Kita di dalamnya
menikmati semangkuk kencan
setelah seribu panah rayuan kau lepaskan ke dadaku usai makan malam.
Cleopatra-lah aku seketika pasca mahkota janji-janji surga kau letakkan di atas kepala.
Bangga atau mungkin juga tak sengaja kau sempat bisikan
bahwa kita bisa berpesta berkat hasil penggelapan dana.
Tak ada yang merasa kehilangan
sebab fakta seketika dialihkan isu yang lebih menarik untuk disi- mak.
Melebihi candu sinetron rumah tangga dengan cerita mem- bosankan penuh peran antagonis.
Kita pun lalu sama-sama tertawa atas kemenangan.
Atas kepecundangan.
Serupa aku yang menertawai nasib sendiri karena nikmat materi berlimpah begini belum tentu kutemukan esok hari.
Jadi, kucumbui saja kemewahan ini sampai pagi sampai gelas tak mau lagi dituangi vodka
sampai tubuh tak sanggup lagi dipacu dan napas kita yang memburu
sama-sama membisu berhimpitan.
6
Bulan gigil yang ketakuan semalam sudah digusur garangnya matahari.
Kita berpisah di depan sebuah gang setelah perempatan.
Barangkali kau langsung menuju pelukan anak istri yang setia menanti
kepulanganmu dari rapat luar kota.
Dan aku juga kembali pada kenyataan kontrakan 4x4 meter dengan beberapa lembar uang ratusan
untuk menghapus semua bekas ciuman dan biaya perawatan badan.
Padang, 12 Januari 2011
Alfikry Ilmi
Cepat Bangun, Nak
Bangun, nak.
Lekas mandi
sebelum didahului matahari.
Hari tak sudi menanti
waktu tak mau menunggu.
Kita harus segera pergi mencari remah roti
penyambung hidup pagi ini.
Mari, nak.
Mari keluar
Dari pengap rumah yang kita dirikan di pinggir kali mereka selalu bilang tak layak huni
sementara janji membumbung tinggi belum juga ditepati.
Cepat, nak.
Percepat gerakmu
kita kejar mimpi-mimpi yang tak terbeli barangkali ada yang tercecer di jalanan atau nyangkut di tali jemuran.
Perhatikan, nak.
Tajamkan matamu
Begitu banyak masa depan yang kita temui pada sampah-sampah itu
kau pungutlah satu persatu
plastik, kaleng, besi, kardus, sepatu, kertas, baju jika beruntung kita dapat buku
kau bisa peroleh ilmu
meski tak sebanyak anak-anak gedongan yang sekolah untuk mendapatkan pengakuan.
8
Sekarang matahari bermahkota di atas kepala Badan kita dipanggang di bawahnya.
Istirahatlah, nak
di bawah beringin itu.
Tapi jangan terlalu nyaman apalagi sampai ketiduran.
nanti kita diseret paksa keamanan.
Kota ini butuh keindahan!
Padang, 28 Desember 2010
Alfikry Ilmi
Menjahit Nasib
Kerja ini tak mampu membeli mimpi tinggi menjulang menantang matahari.
Harga yang melambung seperti balon membuat diri semakin sangsi.
Gempapun membuat jarum dan benang pisah ranjang menganggur tanpa kerjaan.
Serupa di-PHK keadaan lem membeku dalam gumpalan gelisah.
Istri tak bosan menyanyikan sumpah serapah karena tak tahu apa yang mau dimasak.
Anak mengeluh meminta uang jajan tanpa pemahaman bahwa harga makanan ringan tak seringan namanya.
Mengganti pekerjaan demi kesejahteraan sempat terlintas dalam pikiran.
Syaraf otak sering tegang dipaksa berpacu memutar ide cemerlang tak kunjung datang.
Ijazah SD membuat tubuh tak punya banyak pilihan masa depan.
Alam memang memberikan banyak pelajaran tanpa biaya pungutan.
Tapi kita hidup bukan di negri dongeng sebelum tidur dengan akhir mengharukan.
Menjahit nasib tak segampang menjahit sepatu yang tinggal menarik benang.
Hidup memang terus berjalan bahkan berlarian.
Dengan atau tanpa keluh kesah meratapi kenyataan.
Semakin pahit ditelan semakin sehat pikiran.
Bugarkan badan tanpa suplemen kimia pabrikan.
Warna aspal masih sama dengan iklim berbeda.
Nasib sepertinya bukan roda yang berputar begitu saja.
10
Banting tulang berulang-ulang tinggal belulang.
Putar otak menderu laju tak maju-maju.
Padang, 29 Oktober 2010
Alfikry Ilmi
Ibu
Mengecup heningmu dalam doa air mata
peristiwa yang tak bisa kutuangkan lewat kata.
Cinta adalah keikhlasan menerima segala nyata bukan sebatas kata berujung sia-sia.
Berkaca pada setiap peristiwa ; tak semua kata sanggup ku eja.
Padang, 14 November 2010
12 Hidupku
Aku berdiri diam-diam tiada bergerak Aku takut apa yang terjadi nanti
Aku telah dapat merasakannya
Tetapi seperti biasa aku tetap mengharap
Meskipun hatiku mengharap penuh ketakutan Dan tahu, bahwa apa yang ku harap takkan datang Dan dadaku terasa sesak
Bukan karena berlari keras
Tetapi menahan perasaan hatiku
Amanike Liza Fitra
Kekecewaanku
Aku perjuangkan semua yang kuimpikan Hanya sekarang aku tidak tahu,
Bahwa penderitaan dan kekecewaan mengorek di bawah jiwa sadarku
Mengubah pandangan hidupku, pikiranku dan sikapku kepada hidup di sekelilingku
Ibarat api yang membakar Cinta pada Hati Hebat laksana hembusan Taufan
Semua derita jiwaku, harapan-harapan hatiku
Yang melambung kemudian terbanting dan melambung kembali, Terbanting lebih kejam,
Was-was hatiku, keraguan hatiku, ketakutanku Sedih hatiku, pilu mengharapkan bahagia
14 Kepergianmu Sobat
Kalau aku lukis dahan dan ranting itu Kamu paham betapa kering perasanku Hujan Cuma membasuh rumput
Tidak menyegarkan kebun sukmaku Dengar sobat, aku tak seperti yang dulu Saat kamu tahu semangatku
Dan aku fasih bahasa matamu
Kertas putih yang kotor, bergambar di sisinya Kau menarik batas, tapi milikku nyata
Ini bukan valentine dan rinciannya..
Semua akan jadi abu
Terimakasih untuk bintang emas dan kepergianmu Aku akan selalu mengenangmu
Kau tetap sahabatku
Puisi ini tercipta setelah kepergian sahabatku untuk selamanya For Erick Nova Prima HI07 UNAND
Amanike Liza Fitra
Garuda di Dadaku
Garuda di dadaku
Bukan hanya sepetak lapangan rumput
Bukan hanya nyanyian heroik kepada bachdim dan gonzales Dan tak berbataskan GBK ataupun Bukit Jalil
Garuda di dadaku
Adalah simbol tekad dan ukiran kebanggaan Semiotika semangat dan kekaguman
Garuda di dadaku
Adalah janji akan sebuah pengabdian Yang selalu meminta kepalan
Memaksaku terus mempertanyakan semuanya Hinggap apa menjadi makna dan nyata
Garuda di dadaku juga merupakan peringatan
Jangan coba membangun menara di bawah rakyat yang kelaparan Jangan mencoba membanyol tentang keadilan dengan kokangan senapan
Dan jangan pernah berkata peduli
Bila masih dalam nyanyian untung dan rugi
Mungkin garuda di dadaku juga merupakan teguran Jangan pernah berhenti menziarahi lembaran masa lalu
Jangan pernah berhenti mengkhatabkan alfabet penyamarataan Jangan berhenti teriakkan perubahan
Meski engkau tidak lagi didengarkan
Garuda di dadaku juga lambang kepedulian
Akan saudara-saudaraku yang dilewati derap langkah pemban- gunan
Yang sesak bernafas akibat kemiskinan dihirup setiap hari
Dan tak lagi dapat bergerak, lantaran tanah adalah milik para tuan
16 tanah
Garuda di dadaku adalah sebuah ajakan Jangan hanya diam melihat pembodohan
Jangan hanya menyatakan ironi melihat pemelaratan Dan lakukan apapun
Meski hanya teriakan
Meski hanya mengacungkan kepalan Selama garuda masih ada di dada kita
Gilank Ralicha
Titip Surat Untuk Ayah
Kepada yth :Ayahanda
Melalui surat ini kusampaikan permintaan maafku pada ayah.
Maaf aku tidak pernah bisa jadi anak baik seperti manifesto don- geng yang ayah ceritakan sebelum tidurku, aku masih saja men- jadi begundal yang mencoreng muka ayah, dan bukan bahan yang menarik untuk dibicarakan di komunitas orang tua kebanyakan.
Maafkan aku yang mengambil aksi berbeda dengan provokasi ayah, yang selalu berkata coba lihat anak sifulan, sekarang dia bekerja di koorporasi kapitalis ini, baru bekerja beberapa bulan saja sudah bisa membeli ini, memberikan pada ayahnya ini dan itu. Maafkan aku ayah bila megambil arah yang selama ini ayah katakan merupakan jalan mereka yang telah kehilangan akal se- hat.
Bagiku ada yang lebih berharga daripada kemapanan, yaitu kebe- basan
Ada yang lebih berharga daripada kekayaan, yaitu kesamarataan Ada yang kebih berharga daripada kemasyuran, yaitu kebenaran Ada yang lebih berharga daripada kemenangan untuk diri sendiri, yaitu keikhlasan
Ada yang lebih berharga daripada hidup aman dan berkecukupan, yaitu pembangkangan terhadap ketidak adilan
Ada yang berharga daripada hidup dalam dikte penguasa arus, yaitu gairah liar dari perjuangan kelas
Ada yang lebih berharga daripada menciptakan menara gading dan hidup aman di atasnya, yaitu kepedulian akan menjaga ling- kungan
Ada yang lebih berharga daripada mengumpulkan sebanyak-
banyaknya harta, yaitu mengumpulkan sebanyak-banyaknya cinta dan membaginya keseantero dunia
18
Agar mereka yang dimarjinalkan merasa diperhatikan,
Agar mereka yang dimelaratkan tidak lagi merasa kesepian, Agar mereka yang kelaparan merasakan sedikit kekuatan Agar mereka yang dinafikan merasakan arti harapan
Dan agar mereka yang selama ini dibohongi penipu yang mereka pilih sendiri merasakan arti kasih sayang
Maafkan aku ayah, karena aku tidak hidup dalam dikte rumus kalkulator yang menghitung semuanya berdasarkan besarnya angka yang bisa kita dapatkan, menghitung kebahagiaan berdas- rkan konsumtifitas barang yang sebanyak mungkin bisa mereka banggakan, mengukur rasa syukur berdasarkan berapa banyak makanan yang mereka hidangkan, mengukur arti teman dengan seberapa bagus topeng yang bisa mereka kenakan, mengukur arti diri dari seberapa jengkal tanah dan tinggi pagar yang mereka bangun.
Maafkan aku ayah bila aku tidak bisa menggunakan standar- satandar moral yang kebanyakan itu. Bagiku hidup adalah pen- carian akan kebenaran, dan teman adalah kejujuran dalam persa- habatan.
Gilank Ralicha
Surat Kepada Kawan
Ini adalah sebuah jalan sulit kawan
Saat hidup ini semakin dihadapkan pada pilihan-pilihan berat Akankah engkau akan menjadi militan atau anak baik bagi pen- guasa arus
Menjadi anjing liar yang hidup bebas meski tak terurus
Atau setia menggonggong tiap pagi dan menjilat untuk sekedar bertahan hidup
Dan mesti sabar diikat dan jadi permainan
Jalan ini semakin sulit untuk ditempuh teman
Saat pilihan hanyalah tunduk atau bangkit melawan Akankah engkau akan melebur dalam barisan
Mereka yang merasa tak berdaya diperdaya oleh para pemodal Ataukah berbaris bersama yang muak dengan pembodohan ini Apakah jawabmu teman?
Tetap diam berkalang dendam atas ketidakadilan ini
Dan melanjutkan hidup dengan mengutuk ketidak mampuanmu menguasai hidupmu
Karena hidup itu sendiri telah tergadai bersama surat kontrak Karena setiap deru waktu adalah target produksi yang harus dica- pai
Hingga bahkan keringatpun tak sempat lagi diseka
Dan jerih payah hanya dihargai sekedar roti penyambung nafas
Jadi,di mana barisanmu kawan?
Akankah kita akan mencoba mengakhiri ketidakadilan ini Meski harus mati dalam mencoba?
Ataukah tetap menerima kenyatan yang ada
Dengan doktrin " suratan takdir" sebagai pelipurlara
Beritahu aku kawan,waktu sudah semakin dekat
20
Dan genderang telah terlalu lama dia tabuh Dan hanya masalah waktulah
Revolusi ini akan mengetuk setiap pintu rumah kita Dan mereka butuh kita.
Gilank Ralicha
Hanya Sepotong Kata Untuk Bangsa Yang Merdeka
Apakah kita memang harus merayakan kemerdekaan ini?
Disaat kita belum merdeka sepenuhnya.
Berjuta rakyat indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan Dan mereka belum merdeka dari kemiskinan.
Berjuta rakyat indonesia
Masih belum mengecap pendidikan
Mereka belum merdeka dari kebodohan.
Apakah harus kita rayakan kemerdekaan ini?
Saat berjuta rakyat indonesia merasa was-was di rumah mereka sendiri
Saat harus hidup berdampingan dengan bom berwarna hijau se- berat 3kg
Mereka belum merdeka dari ketakutan Saat berjuta rakyat indonesia
Mesti dihadapkan pada kenaikan harga
Yang semakin tidak terjangkau dari tahun ke tahun Mereka belum merdeka dari tekanan.
Kawan
Cobalah lihat indonesia ini lebih dalam
Melintasi gemerlap kota dan cakrawala manja
Jauh menuju tempat yang tak tersentuh riuh pembangunan Perlintasan bagi deru perubahan
Menuju dataran tak beraspal
Mereka belum merdeka dari keterasingan
Kenapa kita mesti merayakan kemerdekaan ini kawan?
Saat berjuta generasi muda indonesia Menghambakan diri
Pada blackberry, apple dan nokia keluaran terbaru
22
Saat sukarno telah tergantikan oleh artis emo mtv
Dan semangat perjuangan telah dikooptasi oleh sinetron sedu na- mun sarat kekerasan
Mereka belum merdeka dari pembodohan
Masihkah perlu kita rayakan kemerdekaan ini kawan Karena bagiku itu adalah sebuah pengkhianatan
Gilank Ralicha
Negeri Para Kesatria
Aku ingi bercerita, tentang negeri para kesatria yang membentang dari khandahar hingga gaza daerah yang tidak mengenal kata takut dan kalah karena takut adalah suatu yang memalukan
aku ingin menceritakan kepada kalian
negeri para kesatria dan kisah para pemberani
mereka yang menentang meski goliath bersenjatakan matahari dan david hanya memegang segenggam batu
negeri yang tetap tegar berdiri
dari kelam malam dan teror matahari dari ancaman kelaparan
dan deruderu senapan
negeri yang semua laki-lakinya adalah syuhada yang merindukan kematian demi sebuah kebebasan yang tak menyerah meski dihadapan ketidak berdayaan setiap helaian nafas adalah perjuangan
dan setiap degupan adalah sebuah perlawanan
negeri yang tak pernah mengeluh.
meski peluh telah lama mengering meski kematian adalah bayang-bayang mereka tidak sedetikpun mengeluh karena hidup adalah pengabdian dan masa depan
adalah kemenangan yang telah dijanjikan
demi rahim ibu yang lahirkan para kesatria
demi makam syuhada yang membentang dari khandahar hingga gaza
24
demi lemparan-lemparan batu para intifada
demi lantunan suci yang menjadi kidung tidur mereka
aku inging mengisahkan sebuah kisah negeri para kesatria agar kalian semua percaya.
bahwa di dunia ini
masih ada kebaikan dan kesetiaan
dan tuhan, berdiri tepat di samping para pejuang
Gilank Ralicha
Logika Kosong (Anjing)
Aku melihat kelebatan hitam
mengitari jiwa dan hati semua orang
memangkas nurani dengan deru kehidupan yang berputar kencang,lukiskan sembraut aku merasa kini tuhan
tak lagi beri hati pada manusia
melainkan logika kosong dan jiwa serigala kelamkan cahaya, samarkan langkah
Wahai….
di manakah dia kini?
dongeng suci yang kita eja kasih sayang logika bodoh yang kita sebut cinta
impian buta yang kita sebut saudara
Apa yang terjadi kini?
apakah tuhan mulai bosan sendiri?
sehingga ia butuh teman tuk berdialog ataukah ia telah pasrah
melihat manusia bergerak lebih cepat daripada kuasanya
entahlah teman...
26
Seorang Ibu Berbisik Pada Calon Bayinya
anakku
jika nanti kau keluar dari rahimku jangan menangis
simpan air matamu untuk esok hari aku takut kau kehabisan air mata
untuk menangisi nasi yang tak ada dalam tudung sebab kita tidak lagi mendapat beras miskin
yang dibagi kepala desa untuk sanak keluarganya yang berkarung beras dalam gudangnya
jika nanti kau keluar dari rahimku tahan tangisanmu
air matamu lebih berguna untuk menangisi korban bencana alam yang bantuannya tertahan di saku-saku para dermawan
dan di kantor-kantor urusan kemanusiaan
jika nanti kau keluar ke dunia diam saja
setelah umurmu genap enam tahun menangislah sekeras-kerasnya
untuk pemimpin bangsa yang gemar studi banding ke luar negeri memakai uang bangsa atas nama tugas negara
sementara ribuan anak-anak terlempar ke jalan raya karna tidak ada biaya untuk sekolah
saat kau lahir nanti
jangan menangis anakku sayang air matamu sangat berguna sekali
untuk diminum para tenaga kerja di luar negeri
yang haus perlindungan dari negara yang mereka beri devisa bila kau menangis saat lahir nanti
Holy Adibz
maka air matamu akan menyatu dengan air mataku air mata kita akan menjadi samudera
yang memeluk air mata para buruh yang diberhentikan karna menanyakan gaji yang tidak pernah berkecukupan membiayai anak istri dan berbagai keperluan
yang tidak sepadan dengan peluh yang berceceran di pabrik- pabrik
Padang, 1 November 2010
28 Sajak Seorang Pelacur
kau membumbung ke surga dengan sorbanmu yang berkilau
sementara aku berjalan menuju neraka dengan berjuta dosa dari kitabmu
malam, waktumu mengaji bermesraan dengan tuhan malam, waktuku mencari gaji bermesraan dengan tuan-tuan
di atas sajadah panjang
kau sujud tanpa memikirkan periuk esok siang di atas empuk ranjang
aku sujud di kelamin panjang demi periuk terjerang
demi tuhan yang memberi aku kehidupan sungguh aku tak suka menanggalkan pakaian tapi pekerjaan hanya ada di saku pemerintahan yang akan menggusur lahan tempat aku cari makan Padang, 5 November 2010
Holy Adibz
Laut Kota Jakarta
di laut kota ini
air tawar dan asin menyatu
di dalamnya ikan-ikan terombang-ambing oleh ombak yang dipermainkan angin
di laut ibukota ini
angin menjadi selimut orang-orang yang tidur di kolong jembatan
dan panas matahari menjadi tudung para pedagang yang mendayung nasib di pintu kemacetan
Jakarta adalah muara dari segala suara
impian, jeritan dan kebahagiaan
yang tenggelam dalam samudera zaman
Jakarta adalah dermaga
kapal-kapal besar datang dan pergi
membawa semua harta yang tersimpan di dasarnya kapal-kapal kecil yang sekedar mengail ikan kecil makin terpinggirkan, tak dapat bagian
kota ini adalah lautan dalam dan luas sepanjang pandang siapa yang tak punya kapal harus kuat berenang
agar tak tenggelam dan disantap ikan-ikan yang tak pernah kenyang
siapa yang terjun ke kota ini tak bisa kembali pulang
karna ia adalah laut tanpa daratan Jakarta, 29 Januari 2011
30 Anakku Akan Kuliah
jangan belajar sastra anakku nanti kau diberi tugas
keluar rumah malam-malam menulis puisi
tentang bulan dan bintang
jangan belajar agama anakku
nanti kau disuruh menghafal kitab suci berdiam diri di rumah ibadah
dan menutup telinga dari bisingnya jalan raya
jangan belajar sejarah anakku nanti kau diajari
menghormati para pahlawan
yang menghabisi nenek moyangmu
jangan sekali-sekali mempelajari ekonomi nanti kau jadi mentri
yang mengakali rakyat sendiri
apalagi belajar politik jangan anakku
pulang-pulang kau bisa saja membodohi ayah ibu yang membesarkanmu
jangan juga belajar matematika nanti matamu buta dari tanda-tanda selain angka-angka
yang terjebak di buku-buku kuliah kau ingin belajar teknik
Holy Adibz
aku mohon jangan anakku nanti kau dirikan industri
yang membangun mimpi para buruh lalu menghancrukannya kembali
lewat upah kecil dan pemutusan hubungan kerja
belajar olahraga saja anakku jadi pemain sepak bola
atau atlit bulu tangkis
badanmu sehat jiwamu kuat
biar tidak ditangkap saat unjuk rasa sebab kau akan sibuk berlatih
untuk kejuaraan melambungkan nama negara Padang, 18 November 2010
32 Ayo Bayar Pajak
ayo bayar pajak
untuk menyemir aspal
biar kendaraan orang-orang besar berselancar di jalan raya
menuju restoran-restoran mewah
ayo bayar pajak
untuk pembangunan gedung-gedung biar kota kita indah
tanpa gubuk kardus para gelandangan yang mengganggu pandangan mata
ayo bayar pajak
biar pejabat kita di atas sana bisa berlibur ke luar negeri
setelah lelah memikirkan nasib rakyat
ayo bayar pajak
biar kantong negara gemuk biar koruptor tak susah lagi mencari lahan garapan baru
ayo bayar pajak
tunda dulu membeli beras itu
dahulukan kepentingan negara ketimbang perutmu
nanti kita akan kenyang dengan kenyataan-kenyataan sesudahnya Padang, 12 November 2010
Holy Adibz
Seorang Penyair Dan Cangkulnya
seorang penyair membawa parang pergi ke hutan
mencari sebatang kayu untuk tangkai cangkulnya
kayu ditebang diperhalus diukir
dicocokkan
dengan mata cangkul
cangkul siap berkubang di sawah
namun
cangkul mengkilap itu diletakkan di ruang tamu bersama boneka
dari dapur
istrinya menjerit
“padi tinggal sesudut karung”
Padang, 8 November 2010
34 Labuhan Kerbau Kampungku
labuhan kerbau kampungku
tempatku berkubang siang malam
menyendiri dengan bangau, lumpur dan daun nipah bila aku pergi merantau
kutitipkan ibuku pada genang pasang bulanmu asinkan doa beliau untukku sepanjang malam
labuhan kerbau kampungku di bawah jembatan tuamu
ikan-ikan kecil menunggu cahaya bulan purnama malam hari ayahku biasanya pulang dari kedai kopi bila aku pergi merantau
kepada suara gemericik airmu aku berharap lumuri kaki ayahku pada ingatan tentang rumah yang kerap pulang setelah malam beruban
labuhan kerbau kampungku
di depan kubanganmu, sungai melarungkan kenangan masa kecilku
dan di samping kananmu, laut senantiasa bercerita bagai suara rabab dan tukang kaba
yang tak pernah punah dalam kenanganku
suatu saat, adik perempuanku akan menulis puisi tentang riwayat para petani dan nelayan
yang terbakar di atas kemarau tanahmu bila aku pergi merantau
tolong jaga adik perempuanku
saban hari, kera-kera yang bersembunyi di balik rimbun nipah dan kelelawar yang bersarang di pucuk kelapa
mengintainya berkereta pulang sekolah
labuhan kerbau kampungku
Holy Adibz
tempatku berkubang siang malam
seperti kerbau-kerbau yang terusir dari kandangnya aku akan mengembara ke ladang orang
mencari rumahku yang hilang bila aku pergi merantau
tikamkan jejak-jejakku di tubuhmu biar rinduku terpaku di jantungmu katakan pada ibuku
aku akan pulang
bila abu di atas tungku sudah membatu
Padang, 28 Februari 2011
36 Debu Cinta Palsu
hanya luka terpahat tak kan mati di hati
buana raya buat jiwa
yang terlena, tersandar dan terkapar
lusuhku tak terbasuh
perihku tak sanggup merintih
inilah jiwa yang terluka bersama asa yang terlupa
di atas fana yang nyata
dihembus bayu semu dan debu cinta palsu Kamarku, 25 Mei 2009
Jhon Pello
Keegoan
Kadang aku berpikir Kenapa kau dan aku Tak pernah bertemu Pada satu ujung jalan
Adahkah karna aku berlari kearah yang salah
Atau memang jalan ini masih terlalu panjang untuk kutemui se- buah ujung
Bukan suatu kerelaan ketika aku mencoba berlari Dari sebuah kenyataan
Bahwa kau tak pernah tulus menyayanggiku Tapi keterpaksaan telah membawa aku
Pada kelokkan yang bercabang pada ujung yang tak kelihatan
Mungkin sebenarnya tak perlu kutanya Mungkin juga tak pelu kau jawab
Karena di dasar jiwamu dan jiwaku
Ada keegoan yang terpaksa harus kita akui Hanya aku menunggu waktu yang tepat
Di mana aku harus berhenti melepaskan lelahnya perjalanan ini Sebuah rasa keegoan tanpa pernah lagi menoleh ke belakang Kamarku, 14 Juni 2009
38 Sajak Mabuk
...semua orang sibuk...
...aku malah ngantuk...
...semua orang suntuk...
...aku malah sumuk...
...semua orang ngamuk...
...aku malah mabuk...
Aku mabuk Engkau, datanglah,
rengkuh aku sekarang juga!
Bukit Karamunting, 23082010, 12:43
Joey Rose
Al Faiz: Dengan Subuh dan Di bawah Gerimis Aku Bersaksi (Razaq Akbar Faiz, sebab aku selalu merindukanmu)
Al Faiz…
dengan subuh,
dan di bawah gerimis, aku bersaksi:
Subuh adalah kesadaran segala permulaan
rentang kehidupan rancang kemenangan bangun kekuatan raih kemerdekaan.
Dengan subuh bangunkan tubuh sekaligus rubuh lawan keluh nyalakan suluh.
Refuge in the Lord of mankind The Sovereign of mankind The God of mankind
From the evil of the retreating whisperer Whispers [evil] into the breasts of mankind Among the jinn and mankind*.
Di bawah gerimis hamburkan tangis cinta kukais
perkuat baris lawan iblis tantang bengis
40 kezaliman terkikis
Menjadi Al Faiz.
Padang, 11 September 2011, 05.00-06.00
*Surat Annas dari Al Quran.
Untuk kedua orangtuaku, untuk istriku dan anak-anakku, untuk keluarga besarku, untuk sahabat-sahabat spiritualku, untuk ka- wan-kawan seperjuanganku, untuk seluruh manusia dan kemanu- siaanku, dan untuk Tuhanku.
Joey Rose
Tiga Perempuan Dalam Kehidupanku
Satu
Dari rahimMu aku dibuai-diasuh Dalam dekap-kasihMu aku tumbuh Engkau kupanggil Ibu
Dua
Dari rahimMu aku tanamkan generasi
Dalam dekap-cintaMu akulah laki-laki sejati Engkau kupanggil Istri
Tiga
Dari rahimMu akan Kau lahirkan kelak
Dalam dekap-revolusionerMu generasi baru bergerak Engkau kupanggil Anak
Padang, Jum'at, 16 Juli 2010, 12.30,
Merayakan Lima Tahun Hidup Bersama 16 Juli 2005-16 Juli 2010 dan Sampai Mati. (Mengenang Ibu Sri, disebabkan Welly, dan untuk Rara-Ku).
42 Dari Asrama Ke Jalur Gaza
:untuk saudara-saudaraku di Palestina
Aku sangka, begitu susah untuk tinggal di asrama
Ternyata, tidak ada artinya dibanding kehidupan di Jalur Gaza 30 September 2009 asrama terguncang gempa
Namun sepanjang waktu Jalur Gaza diterpa bencana
Lihatlah dengan mata, dengarkan dengan telinga dan rasakan dengan hati
Kesaksian-kesaksian dari Jalur Gaza yang belum sepi
Tentang ribuan manusia-manusia kehilangan nyawa setiap hari Tentang rintihan anak-anak muda kehilangan masa depan pasti Tentang jeritan dan tangisan bayi-bayi tak berdosa tiada henti Tentang kehidupan yang terayun terombangambing tak bertepi
Ketika pesawat-pesawat meluncurkan rudal memburu mangsa ketika peluru-peluru dimuntahkan membabi buta
Ketika buldoser-buldoser menggilas rumah-rumah bahkan manu- sia dengan paksa
Ketika pengkhianatan nilai-nilai kemanusiaan nyaris sempurna Dilakukan dengan penuh keangkuhan oleh para Zionis durjana
Tidak ada ...
Joey Rose
Sajak Untuk Nenek (Selamat Jalan Nek)
I
Aku bosan dengan keluhan Takkan selesai persoalan
Sebab hidup mencari jawaban
II
Meski mati harus temukan Titik sempurna keabadian
Satukan manusia dengan Tuhan
Padang, 14 November 2010.
44
Pagi Ini Seorang Mahasiswiku Kirim SMS
"Selamat hari guru ya bapak"
Aku tidak sempat lagi berpikir apa beda guru dengan dosen
aku hanya tahu, sama-sama mengajar itu saja, Nak!
"semoga bapak semakin sukses, selalu sabar dan semangat dalam mengajar kami"
Nak, aku masih bingung dengan kata sukses tapi untuk sabar, mungkin aku masih kurang
dan untuk semangat, paling tidak aku lebih memilih
bertemu kalian dibanding bertemu Rektor, Menteri, atau Presiden sekalipun
Aku ingin mendidik, bukan hanya mengajar jika itu mungkin, Nak!
"makasih buat semua ilmu dan kasih sayang yang bapak kasih untuk kami selama ini"
Semua ilmuku adalah untukmu, Nak!
aku mengasihi kalian karena kemanusiaan aku menyayangi kalian seperti anakku sendiri selama ini dan selamanya
terimakasih juga untukmu
atas keseriusan kamu dalam belajar, Nak!
"sampai kapanpun jasa bapak nggak akan bisa kami balas den- gan apapun"
Nak, semangat dan keseriusanmu dalam belajar adalah balasan yang luar biasa bagiku
tidak menunggu kapan pun, tapi sekarang juga aku pikir jasaku sebatas gaji bulananku
namun, engkau mengingatkanku
Joey Rose
kapitalisasi pendidikan harus dilawan!
Terimakasih, Nak!
"doakan kami supaya sukses ya Pak!"
doakan saya juga,
bisa jadi guru atau dosenmu yang baik dan benar, Nak!
Padang, 25 November 2010, 13:20.
Terimakasih untuk Fina Resty Fauthrisna, dan semua mahasiswa- mahasiswiku,
"Ayo terus belajar untuk berani berpikir kritis!, berani bersikap tegas!!, berani bertindak nyata!!!...untuk Indonesia, untuk Kita Semua".
46 Kami Selalu Siap Berperang!
Malam yang senang.
Barisan sadar berkembang.
Berpikir bersikap matang.
Makin jalang makin garang.
Kehidupan kerontang.
Membangun pantang.
Dunia tak tergoyang.
Siap terus menerjang.
Menang tak terjelang.
Siap tuk berkalang.
Pasti, suara takkan hilang.
Yakin, gema akan terngiang.
Ada sebutan pembangkang.
Tidak butuh disebut pejuang.
Anak-cucu saja mengenang.
Kami selalu siap berperang!
Padang, 01 Desember 2010; 12.10.
Untuk "barisan sadar" (Iki, Reski, Gilank, Iko, Fiky, dan semua orang yang siap masuk barisan membentuk pasukan)...dan untuk Yogyakarta-ku tercinta..."Apa kabar Rakyat Berserak dari Pun- cak Merapi sampai Pinggiran Parangtritis?!"
Joey Rose
Mungkin Kita Lupa
Obrolan santai tanpa tikai
dalam terpaan angin basah pantai membuat kita semakin pandai berlompatan seperti tupai tanpa terjebak ocehan kedai semakin membuat lalai dan lebih tolol dari keledai
Padang, 20 Desember 2010
Pagi sampai siang yang suntuk dengan kepura-puraan, obrolan membosankan seolah tanpa beban, "demi generasi masa depan atau demi sesuapan?'"
48 Ah, Revolusi Kok Ditakuti
Revolusi itu resolusi pergantian tahun.
Revolusi itu setelah lulus kuliah menerima gaji.
Revolusi itu nama yang anda cari tidak ada, meskipun demikian, nama revolusi tersedia untuk didaftarkan.
Revolusi itu tidak hanya berupa tulisan dan semangat saja, tapi nanti pada akhirnya terbukti melalui tindakan nyata.
Revolusi itu potong generasi tua yang sudah kronis dengan korupsi.
Revolusi itu menguasai diri untuk menguasai dunia.
Revolusi itu monyet nyengir melihat model perempuan bugil di atas puncak gunung meletus.
Revolusi itu sepakbola yang menjadi penyakit pada tubuh seo- rang gadis mengelus dada.
Revolusi itu nafsu purba manusia yang diumbar ke dunia nyata melalui dunia maya.
Revolusi itu aneka resep remeh temeh kehidupan manusia yang bisa menjadi urusan gawat darurat bagi petualang kesepian.
Revolusi itu kerusuhan sosial yang bukan dipicu oleh seorang pemimpin negara tapi oleh bahan penghilang lapar perut rakyat.
Revolusi itu bukan soal agama tapi tangisan untuk kehidupan yang layak, pekerjaan, ketahanan pangan, kebebasan, dan marta- bat untuk semua.
Revolusi itu soal harga soal gambar soal asuransi dan soal-soal kehidupan lainnya yang semoga kau menikmatinya.
Revolusi itu agen bola yang menyamar dan sebenarnya agen judi yang menjanjikan kekayaan sampai mati.
Revolusi itu sebuah bisnis networking dengan produknya sebuah software website yang berulang-ulang bisa mendapatkan pengha- silan tanpa batas.
Revolusi itu ketidakpercayaan akan merembet karena tidak ada alasan soal lawannya banyak atau soal ada yang suka dan ada yang tidak suka.
Joey Rose
Revolusi itu doa seorang gadis tentang tercapainya cita-cita seba- gai status dalam jejaring sosial di dunia maya.
Revolusi itu sebuah peristiwa besar di negeri nun jauh di sana yang bisa ditonton dari sebuah kampung relijius.
Revolusi itu ekspresi muka lucu dukun gondrong dengan celen- gan koin berciuman untuk orgasme hebat di titik tersensitif dan termahal di dunia.
Revolusi itu menonton, browsing, ngobrol di satu layar harganya diperkirakan milyaran.
Revolusi itu sebuah puisi memaksa tentang sebuah karya dari co- mot sana comot sini penyair gadungan yang rindu eksis.
...ah, revolusi kok ditakuti...
Padang, 01 Februari 2011, 23:15
50
Aku Menangis Ketika Menggali Kubur Untuk Putriku. Dia Maju dan Kemudian Menyisir Janggutku
:sajak untuk Zahra Faiza Fitria
Seringkali kesadaran begitu cair namun tidak jarang sangat beku.
Ketika merasa sebagai pembuka jalan terang justru menyilaukan mata sendiri, maka air mata akan menetes perlahan dan terus menerus menganak sungai. Kuburan bagi yang hidup itu justru le- bih menyiksa daripada mengubur yang mati. Bahkan yang
matipun akan membusuk dengan sendirinya dihantam terik
matahari, dihajar hujan deras yang mengguyur bumi, ditiup angin yang menghempaskan apapun ke udara.
Dia yang selalu berharap aku pulang ketika kepergianku. Dia yang selalu berharap aku ninabobokan menjelang lelapnya. Dia yang benar-benar menyentuh, mengelus, menarik, dan akhirnya benar-benar menyisir jenggotku. Dia yang begitu berarti untukku.
Hidup dan matiku sebagiannya untukmu, Bunga-ku.
Padang, 29 Juli 2009, 14:04.
Joey Rose
Jika Semua Sempurna
Jika semua sempurna
maka selesai sudah hidup dan dunia bebas
maka bukan sudah benar atau masih salah maka bukan sudah baik atau masih buruk
hanya belajar dan bekerja menerabas batas-batas
yang dikonstruksi wajar dan pantas yang semestinya besar dan luas yang sesungguhnya bebas
sempurna
apakah sempurna mensyaratkan bebas apakah bebas mensyaratkan sempurna
mungkin
Padang,8/5/2011
52
Bagaimana mungkin Aku bisa diam, dan Kau?
:untuk mereka yang tidak pernah diam
Bagaimana mungkin aku bisa diam jika kebodohan dipelihara oleh manusia-manusia,
bagaimana mungkin aku bisa diam jika ketidakberpihakan kepada yang harus dibela merajalela,
bagaimana mungkin aku bisa diam jika kita semua hanya berkata- kata bahkan diam saja.
Padang, 16092010; 09.45
Joey Rose
Negeri Parewa
Negeri parewa Negeri Galau
Galau Hati nan tak Terkatakan
Resah membayang dalam mimpi yang tak berkesudahan
Malang sudah dilahirkan di tanah yang tak berarah Sudah dan tak sudah
Bhatin perih Jiwa sesak Ingin terteriak
Takut tak makan dan ditembak
Hanya menyaksikan dengan telanjang segala basa- basi Jilatan liar atas semua kepalsuan yang disusun nyata Pura- pura bertepuk tangan
Dalam sepi di Negeri Parewa Bertanya dalam hati
Kapan akan kembali atau hanya mimpi
54 Mau Ke Mana Kau Indonesiaku
Kisah potret negeri kusam dan tak pernah pasti
berjalan terseok
hilang dan menunggu mati
Sekolah untuk menjadi bodoh bekerja untuk menjadi bodoh
pengangguran untuk menjadi bodoh mau ke mana kau negeriku
kumencarimu
Kau tampak pilu Arahmu kian gontai Semangatmu padam
Wahai Indonesiaku
Mana suara- suara yang kau teriakan lantang dulu Kokoh menatap hari esok
Tak takut akan badai
Menantang masa sekalipun
Mau ke manakah kau Indonesiaku Tubuhmu kian kusam
Wajahmu kian legam
Bukan karena kedewasaan tapi sepertinya kau lupa ingatan
Lismomon Nata
Korupsi
Korupsi kata populer
Di mana- mana ada hingga di balik besi Siapapun pasti suka
Virus bizurai negeri
Congkak
Merasa aman dan bisa dibeli Bising dalam berita
Saling cakar
Gundik Dalalah
Mall dan Hotel Cilok
Burai sumpah serapah
56 Bupala
Oh....
Bupala, kami akan cium tanganmu Hingga jilati pantatmu
Bapala, kami akan cuci tapak kakimu Hingga kau senang kegirangan karenanya Tak mengapa
Pembantu di rumah sendiri Budian di kampung sendiri Buruh
Tak apa- apa asalkan kau senang
Oh...
Bupala
Ekor kami akan bergoyang- goyang Sabar menanti titahmu
Lismomon Nata
Wahai Penyair
Penyair, apakah syairmu mampu mengubah dunia
Penyair, syairmu bukan lah kata sakti seperti memo yang bisa menundukan kepala manusia atau mengesahkan anggaran belanja negara
Penyair, untuk apa kau habiskan waktu dan tinta
Berkelahi siang malam, memutar kepala untuk merangkai kata- kata
Sementara mereka tak juga mau mendengarnya
Penyair untuk apa, saat manusia kini tak perlu estetika, etika, matematika, fisika
mati rasa
Semuanya telah digadaikan dengan mulut yang mengeluarkan kata- kata namun bukan sastra, puisi, nasehat, dan cerita
Bermain kata, membolak- balik kata Merubah putih menjadi hitam
Hitam menjadi putih Itu sudah biasa
Penyair, apa yang kau bisa
Ketika manusia tak butuh lagi dan mempertanyakan untuk apa
58 Tanah
Tanah
Tidak ada lagi yang kami miliki hanya tanah Tanah air ini tanah
Tempat lahir dan mati ini tanah
Tempat kami bermain kelereng, galah, ucak Adalah tanah
Kami adalah anak tanah Tanah ibu Pertiwi
Tempat kami bertanam padi
Namun kini di manakah kau tanah
Kau semakin sempit bahkan tak terlihat lagi Berganti dengan beton- beton paku bumi Menjadi gedung- gedung
Tempat parkir mesin- mesin beroda
Tanah
Kau semakin mahal saja dan tak terbeli
Lismomon Nata
Apnea Masa Muda
Aku seperti santri bersarung dan berkutat dengan kitab tanpa tanda baca
Terbata- bata membaca tanda hari esok Akan datang dan tak sempat untuk kubaca Menbaca kehidupan
Mencari suatu makna
Ghaib
Lantas berjalan dalam sesak nafas cinta
Waktu terus saja berjalan, entah kapan kan bersua
Kuhancurkan menara yang telah dibangun dengan peluh dan air mata
Kuracuni kesempatan hanyut dalam derasnya cadai
Tertawa terbahak- bahak Ke sana ke sini
Mondar mandir Dan layu
Kini apa yang dikata
Senja kian mendekat, kusesal....
Tapi apa yang hendak dikata Aku Apnea
60 Penyair Tolol Dan Perempuan Gila
Aku ini penyair tolol dengan perempuan gila (tapi paling catik sedunia) memegang urat leherku, aku mau jadi harimau tapi ia menolak jadi kijang, katanya ia tidak mau ditindas tapi ditindih.
Ia lebih suka kata-kata, ia suka gombal-gombal, tapi ia tidak suka dipolygami. Sesekali aku mengajaknya makan pecel, duduk di pinggir jalan atau pulangpergi cari utang naik becak sembari kubacakan puisi paling cinta.
Ketika ia lapar, aku akan cubit pipinya sampai merah, kuciumi kelopak matanya,kukunyah telinganya, selalu ia setelah itu menggigit pundakku dan berkata “kapan puisimu bakalan laku dijual? Cinta”. Kukecup kening dan kuseduh aroma segala macam bunga dirambutnya “nanti, aku janji, akan kuajak kau makan di restoran mewah, kemudian nginap dan bercinta di hotel bintang lima, cinta”. Selalu ia akan tertawa “cinta, kau pendusta tapi aku suka” berbisik manja dan mengajakku bermain kucari kau sampai lelah, kadang aku sembunyi di dadanya kadang pula di pangkal paha dan bahasanya, bahasaku lalu adalah nafas
terburu, peluh, lenguh "aduh" serta sendi-sendi yang mendadak ngilu.
Padang; 23/12/2010
Reski Kuantan
Aku Melihat Langit
Aku melihat langit,
kudengar anak-anak menangis suara-suara perut lapar
burung-burung membisu putik-putik bunga layu mereka sakit
mereka kedinginan mereka tersiksa semua dirampas.
Aku berdoa,
orang-orang bertanya di mana keadilan semua terdiam semua hilang
kini cuma derak ranting-ranting patah derit di bibir-bibir luka
daun-daun detik diputus duka.
Oh, kuteguk air mata mereka agar badai di dadaku
agar gemuruh di jantungku agar runtuh, agar luluh agar remuk batu hatiku.
Aku melihat langit
kemudian menunduk dan menciumi tanah, orang-orang bertanya
siapa di atas sana?
Padang; 15/06/2011
62 Cicak
Aku ingin jadi cicak yang menempel di langit-langit kamarmu, dengan sepasang mata liarku, aku ingin menyimak gerak gerik tidurmu, dengan harapan barangkali nanti di suatu malam kau bakalan membaca namaku dari dalam mimpimu.
Aku selalu membayangkan dapat menyusup ke dalam piyamamu, menggetarkan bulu-bulu halus di susumu, kemudian perlahan- lahan kudengar degup jantungmu, mungkin saja kau sedang bermimpi buruk dan aku akan bersegera siaga
membangunkanmu, barangkali dengan doaku.
Hampir di tiap kapan kau mulai mematikan lampu dan
menyembunyikan diri ke dalam selimutmu, selalu kulantunkan doa-doa pengantar kebahagian terhadap Tuhan, agar kau
senantiasa diberikan kenyenyakan dan betapa di kehidupanmu agar aku senantiasa dapat berjaga di luar tidurmu, berjaga serupa udara yang ikhlas kau seduh ke dalam paru-paru.
Padang; 18/02/2011
Reski Kuantan
Aku Denganmu
Aku, denganmu, selalu takut sendiri-sendiri, semisal pohon mangga di depan rumah, “Apa sekarang musim berbuah?” kau selalu pura-pura tidak tahu dan pura-pura mencari jawaban ke segenap bahasaku.
Tak ada yang lebih ajaib ketimbang kita yang senantiasa
berjumpa, meski telah saling tumbuh di lain dahan dan terkadang retak di lain cabang.
Kau tak jarang menggantung-gantung sepi semacam angin di sela ranting dan aku cerita yang tak sudah-sudah kau bawa ke semua cuaca, seperti pula kau kusenbunyikan dari segala patah.
Di pucuk paling hingga, serupa doa dan airmata, kita sama memeram kecemasan, “Apa hari ini kita telah tanak?” selalu sembari kugenggam gemetar penempuhanmu dan kau seduh debar kehidupanku, kita sama mendekap usia yang jatuh satu- satu.
Padang; 14/02/2011
64 Puisi-puisian
I
Aku ke laut kau ke bukit
dan yang lain menatap langit
sementara kita sibuk saling berbohong di perut orang-orang lapar
para penguasa berbagi tiket ke neraka.
II
Jangan cium di sana, di sana geli,
aku tak mau kita cuma sekedar saling menertawai, aku tertawa karena kau karena aku,
Indonesia.
III
Pohon itu tumbuh tinggi sekali aku dengar,
ada seseorang di puncaknya ingin menangkap bulan.
Padang; 17/05/2011
Reski Kuantan
Menuai Hampa
Seusai padi kutanam aku hendak menuai ilalang malah kiranya
seperti berladang pada yang tak mungkin aku mesra memeluk angin
hampa nan dingin, sakit yang tak mengenal musim
Patahnya di pangkal paling bawah kuncup-kuncup mengecup tanah tak sempat menjadi bunga
duh, ada luka
katup-katupnya menganga menelaga di ceruk mata Padang; 10/04/2010
66 Taplau tujuh tiga puluh
Melempar bola mata
dan sepasang dukacita tergelak tibatiba ini bukan gelombang yang sama
tanpa koran pagi atau halaman puisi
Pukul tujuh tiga puluh,
tentang pantai, buih, pasir, dan aroma rambut yang diamdiam menata simak
di bebatuan dan segumpal penantian
Siapa saja pernah salah kira ini laut jantan atau betina
tapi, rindu tak faham angka merah juga dermaga yang memisah badan di ujung muara
Tuhan, aku ingin jadi angin aku ingin jadi awan atau hujan
aku ingin jadi hari libur sepanjang musim Padang; 03/10/2010
*Taplau:Tapi Lauik - Pantai Padang
Reski Kuantan
Aku dan Ibuku, Tuan.
Ibu menanak mimpi di dalam kepalaku, aku belanga di atas tungku, api menjadi guru, api mencairkan apa saja yang beku, mengabukan apa saja yang bisa menjadi abu, menelan apa saja yang bisa ditelan, memakan apa saja yang bisa dimakan, aku dan ibuku punya banyak tuntutan.
Tapi, dari atas sana, di atas entah itu kursi penuh beban atau
malah kasur idaman, keringat ibuku disedot, darah ibuku disedot, doa dan airmata ibuku disedot, aku dan ibuku disedot, kami
disedot seperti tambang, disembelih kebijakan, dibuat akrab dengan kecemasan.
Dari tubuh ibuku, dari rahim ibuku, dari seluruh luka dan duka ibuku, bakalan terus kalian lahirkan ketidakadilan, benarkah tuan?
Padang; 20/06/2011
68 Ke Rumahmu Aku Hendak Pulang
Aku hendak pulang ke tubuhmu menjengkal belai. Meski tak begitu kuhafal lagi musim-musim di matamu. Tapi aku ingat sempat pernah dulu sembari menyimak kumbang bak lenggok anak gadis memotret gerimis melubangi palang pitu, kita tulis puisi tentang urat leher dan jabat di saku baju.
"Pantas saja lubang-lubang di kayu rumah ini kian berjumlah, kelak mungkin saja bakalan patah atau runtuh" katamu.
"Tapi itu bukan aku!" kataku.
"Kau yakin? kenapa tapi aku ragu? tibatiba wajahmu batu.
...
Entah bagaimana kemudian aku telah di luar mencari pintu. Aku tahu kau sedang di dalam menumbuhkan ulang paru-paru.
Padang; 02/09/2010
Reski Kuantan
Mengulum Biru
binar matamu merayap terang
sambut untaian cahaya retoris benderang dalam lebam hati yang lelah mengerang
kurungan berbatas jasad menjadi derau bak birokrat menjaga rakyat tetap terpantau cita membuka hanya mengigau
pusat harap pada tangan tak terlihat meski nuansa takdir dan ayat
nyata menuai laba berlipat
ketika tali sebab terputus
membunuh logika determinasi alih alih untuk bereksistensi
namun kau tak mesti rela memupus tuk setia selalu menghampiri konklusi Batu Taba, 240811
to: my tough sister, if only I could find the concrete help...
70 I Sweep The Floor
I sweep the floor
not because my mom told me to or conform to what people think of dirtiness and tidiness
I sweep the floor on my own bliss
for the process I love between
I sweep the floor
to pick any worth thing
out of awareness to be expelled to check every corner of the room as it might be some important things are enclosed
at least
to figure out everything need to be thrown out
I guess it will be delightful to sweep the floor everyday
hoping for every new synthesis to get
Batu Taba, 010811
Rizki Firdaus
Antonimisme
ragam kemudi terlontar menyapa. isyarati hati mulai pelayaran.
satu pandu nyatanya mesti digenggam. sebentuk pilihan menurut berita. atau hanya turunan sekedar menelan. selain mau bertanya pada gerak periode alam.
kemudian ambisi meluap terus ke atas. melupakan dimensi ber- nama masa. jatuh itu mudah. tanpa topangan dari bawah.
setiap mulut kini serempak bilang benar. sedikit tenar berpeluang didengar. suara sayup bisa tersulut. berulang kali dituding salah.
menjadi pemenang tak lebih dari adu kuat. singkirkan dulu tang- gung jawab. putar otak buat pertahanan. karena kalah bukan ber- arti menyerah.
dan ketika air memberi dingin . bisa bimbing panas mereda. se- makin deras mampu padamkan api kebenaran.
maka hitam hanya akan kembali menjadi gelap. dalam terang figura putih. demikian juga sebaliknya.
adapun jika mati telah jadi pilihan menutup gusar. terse- bab hidup cuma bermacam kepentingan. hanya Tuhan yang punya kuasa. pada pahala yang mengurai hidayah menuai pamrih. atau dosa yang memecah ikhlas.
cinta anugerah semesta. bukan dunia satu dua. berkawan tanpa halangan perbedaan. melawan tembok sekat penyeragaman.
Batu Taba 090311
72 Author
a comfort zone fade away from my sight together with millions groan of defeat
whose really suffer of no link up to the might should I feel it?
they keep calling me a blockhead for sliding the gold bargaining over
by refusing to get employed in the day to day linear then spending my life in the taboo of insubordinate must I notice that?
Come on man, never think to regret that Cinderella shall find her happy ending faster when she gets courage with the step mother
the sleeping princess ought to meet more than just a handsome prince
if only she had bored to wait for the kiss despite of a certain magic upon that
everyone has their right to be an author thank God for letting me battle on my own Batu Taba 010211
Rizki Firdaus
Perjalanan ke Kota Besar Perdanaku
baru kali pertama kulihat tembok-tembok dipaksa memanjat memandangi riuh para kerabat bersusun rapi bersaing hebat pikirku sang pemilik segala bakalan bangga
mengamati buah-buah pikiran ciptaannya
pantang kehabisan upaya manfaatkan sumber daya
lebar bumi sudah habis dipalu besi
langit tempat bersemayam matahari kan masih luas
terus bersemilah pembangunan mandiri abaikan proporsi
tengoklah variasi jajanan impor
mungkin ini keutamaan perdagangan bebas seperti wibawa bicara mereka di monitor
usah jauh berkunjung agen kami setia melayani
selera luar negri akan siap segera datang menemani merata ke semua lini
coba kau bayangkan kesetaraan juga begitu terasa jumlah beruang dan yang terawang sama banyak mengalahkan jamaah kere di desa
hingga partisipasi mereka kelak ikut merebak
semoga ku tak salah langkah
palingkan mimpi usang pada koar kehidupan baru di pintu ger- bang
puaskan mata berkaca ayah ibu yang penuh amanah sampai nanti kuminta burung mengabarkan
perjalanan ke kota besar perdanaku
Batu Taba 200111
74 Tawa Fatamorgana
tegukan teh pahit penghabisan
dingin melukis waktu langit perhentian lelaki tanggung
mengingat dalam lamunan
rute barisan itik tiap petang
siang tadi ditempuh seorang teman saat istri dan hidangan dalam rantang semua pada lesehan
hingar bingar kabar bin impian tak merupa wajahnya
gemerlap dasi
pantulan kilat sepatu kulit
tak urungkan lelah jantung raga di jeruji
tumpukan kartal menjelma dewa, balik mendakwa bangga apa jika buat merana
tertumpah sia perasan keringat demi dangkalnya label harga
segera bangunkan tuan pemberani reinkarnasi awal revolusi
cicipi sederhana hakiki yang kau ajari kawan
iringan senyumku antar harapan pada pusaran fatamorgana tawa
hingga luka lama kembali mengelupas pada binar mata yang meredup
pada detik menutupnya kesempatan
Rizki Firdaus
pada hati tertahan korban keadaan pada teriakan sayup berjumlah jutaan
pencuri api,
Bukittinggi 12: 31, 101210
terinspirasi dari sinopsis Babbitt yang disampaikan ‘pak dosen’