• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS INTERPERSONAL SKILLS GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 2 BISSAPPU KABUPATEN BANTAENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS INTERPERSONAL SKILLS GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 2 BISSAPPU KABUPATEN BANTAENG"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS INTERPERSONAL SKILLS GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN

KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 2 BISSAPPU KABUPATEN BANTAENG

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat guna mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Pada Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

SRI WAHYUNI 105430011615

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

(2)
(3)

iii

(4)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Sri Wahyuni

Stambuk : 105430011615

Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Analisis Interpersonal Skill Dalam Proses Pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Januari 2022 Yang membuat pernyataan

Sri Wahyuni

(5)

ii

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

SURAT PERJAJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Sri Wahyuni

Stambuk :105430011615

Jurusan : Pendidikan Pancasilan dan Kewarganegaraan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dai penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibantu oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3 saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Makassar, Januari 2022 Yang membuat perjanjian

Sri Wahyuni

(6)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO:

“mudahkan urusan orang lain maka Allah akan memudahkan urusanmu”

PERSEMBAHAN

Skripsi ini adalah bagian dari ibadahku kepada Allah SWT., karena kepadaNya kami menyembah dan kepadaNya kami memohon

pertolongan sekaigus sebagai ungkapan terima kasihku kepada:

Kedua orang tuaku, saudaraku, ketua Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pembimbing saya, keluarga, sahabat dan teman-teman atas saran, keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan

(7)

iv

ABSTRAK

Sri Wahyuni. 2022. Analisis Interpersonal Skills Guru Dalam Proses Pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng. Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Andi Sugiati dan Pembimbing II Suardi.

Masalah utama dalam penelitian ini adalah interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Class Action Reasearch) yang merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan secara kualitatif. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan, tindakan observasi dan wawancara secara surpossive terhadap 2 narasumber kunci.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interpersonal skills yang dimiliki guru PPKn dalam proses pembelajaran Di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng dapat dinilai dari suasana yang tercipta di dalam kelas tingkat antusiasme siswa dalam mengukuti proses pembelajaran serta respon guru terhadap siswanya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu kabupaten Bantaeng dinilai sudah cukup baik.

Kata Kunci: proses pembelajaran, interpersonal skills

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini dengan baik, sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Sholawat serta salam tetap tercurah kepada keharibaan pemimpin sang Ilahi Rabbi Nabi Besar Muhammad SAW, sang revolusioner sejati, sosok pemimpi yang terpercaya, jujur, dan berakhlak karimah yang telah bersusah payah mengeluarkan manusia dari kungkungan kebiadaban, sehingga sampai saat ini manusia mampu memposisikan diri sebagai warga Negara yang senantiasa beriman dan bertaqwa dijalan Allah SWT.

Dalam penyelesaian skripsi ini penulis telah melibatkan berbagai pihak sehingga skripsi ini dapat tersusun dengan baik, meskipun terdapat hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam penyusunan skripsi ini, namun atas dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga semua dapat terseesaikan dengan baik.

Untuk itu dengan hati yang tulus penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan tak terhingga kepada kedua orang tua saya tercinta, Almarhum Ayahanda Husain dan Ibunda Jaerah yang telah mengasuh dan membesarkan dengan penuh kasih sayang, serta memberikan bantuan moril dan materil. Beliau telah banyak memberikan doa, nasehat, dorongan dan semangat, begitupun adik- adikku yang selalu menjadi penyemangat dan menjadi motivasi tersendiri buat penulis sehingga dapat menyelesaikan studi ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

(9)

vi

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam penyelesaian tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Andi Sugiati, M.Pd., dan Dr. Suardi, M.Pd., selaku pembimbing I dan pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi seja awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini. Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada: Prof. Dr. H. Ambo Asse, M. Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Dr.

Muhajir, M.Pd., Ketua Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta seluruh dosen dan staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassaryang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, staf SMP Negeri 2 Bissappu, dan ibu Dra. ST Madina., selaku guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di sekolah tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman seperjuanganku Walramsa Yusnaeni yang telah menemaniku dalam suka dan duka, sahabat-sahabatku serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Pancasilan dan Kewarganegaraan Angkatan 2015 atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi pelangi dalam hidupku.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari beragai pihak, selama saran dan kritikan

(10)

tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa sesuatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis, Amin.

Makassar, Januari 2022

SRI WAHYUNI 105430011615

(11)

viii

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN... i

SURAT PERJAJIAN ... ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Landasan Teori ... 8

1. Pengertian Interpersonal Skills ... 8

2. Langkah-langkah dalam proses komunikasi interpersonal... 10

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi interpersonal ... 11

4. Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal ... 14

5. Tujuan Komunikasi interpersonal dilakukan... 14

6. Pembelajaran PPKn ... 15

7. Proses Belajar Mengajar PPKn ... 17

B. Kerangka pikir ... 18

BAB III METODE PENELITIAN... 19

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian... 19

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20

C. Sumber Data ... 20

D. Informan Penelitian ... 21

E. Instrumen penelitian ... 23

(12)

F. Teknik Pengumpulan Data ... 24

G. Teknik Analisis Data ... 25

H. Teknik Keabsahan Data ... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 29

A. Deskripsi Lokasi Penelitian... 29

1. Profil Sekolah ... 29

2. Kegiatan Ekstrakulikuler ... 30

3. Sarana dan Prasarana ... 30

4. Keadaan Guru ... 30

B. Hasil Penelitian ... 31

C. Pembahasan ... 42

BAB V PENUTUP ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 49 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam suasana penduduk yang senantiasa berganti ganti, idealnya pembelajaran tidak cuma berorentasi pada era terdahulu serta era saat ini, namun telah semestinya ialah tahap yang mengestimasi serta membahas era mendatang.

Pembelajaran seharusnya memandang jauh kedepan serta mempertimbangkan apa yang hendak dialami siswa di masa mendatang. Pembelajaran yang bagus merupakan pembelajaran yang tidak cuma menyiapkan para siswanya buat pekerjaan ataupun pangkat, namun buat menuntaskan permasalahan yang dialami dalam kehidupan tiap hari. Demikian yang tertera dalam Hukum Sistem Pembelajaran Nasional Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 bab 3 mengenai Sistem Pembelajaran Nasional yang menarangkan kalau:

Pembelajaran nasional memiliki peran buat mengembangkan kecakapan sertapula menghasilkan karakteristik dan peradaban bangsa yang bergengsi dan dalam misi mencerdaskan kehidupan bangsa bermaksud buat memperluas kecakapan partisipan ajar untuk jadi individu yang berkeyakinan serta bertakwa pada Tuhan Yang Maha Satu, bermoral agung, kondusif, berpendidikan, cakap, inovatif, mandiri, serta jadi masyarakat negeri yang demokratis serta bertanggungjawab.

(14)

Al-Qur`an pun menegaskan pentingnya ilmu atau pendidikan yang terdapat pada surat az-Zumar ayat 9 yang berbunyi:

Artinya : (Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung ) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya ? Katakanlah, “ Apakah sama orang-orang yang mengrtahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. (Q.S Az- Zumar;9) Satu dari masalah utama dalam proses pembelajaran di penataran resmi merupakan minimnya energi serap anak didik. Nampaknya pemerataan hasil belajar siswa selalu sangat diperhatikan. Hasil ini jelas yakni hasil dari situasi belajar yang masih tradisional serta belum meraba ranah perspektif anak didik itu sendiri, ialah bagaimana sesungguhnya melatih diri. Dalam arti yang lebih substantif, karena tahap pembelajaran selama ini masih mendominasi pembelajaran tradisional, tenaga pendidik tidak membagikan jalan pada anak didik buat bertumbuh dengan cara mandiri lewat proses temuan serta pemikiran.

Keterampilan interpersonal harus selalu dihadirkan di mana-mana serta senantiasa tersedia di tiap peluang. Kemampuan keterampilan interpersonal untuk guru sesuai bernilainya dengan kepintaran. Satu dari penyebab tidak tercapainya

(15)

3

kegiatan pembelajaran adalah kemampuan interpersonal guru yang kurang baik.

Kurangnya keterampilan interpersonal menyebabkan tenaga pendidik tidak bisa berinterkasi dengan bagus dengan siswanya, alhasil dapat diamati dengan jelas perihal ini pengaruhi antusias berlatih anak didik yang berpeluang merendahkan mutu aktivitas penataran.

Keterampilan interpersonal dalam sistem penataran sangat bernilai dipunyai serta diterapkan oleh tenaga pendidik, karena dengan keterampilan interpersonal tenaga pendidik terjalin interaksi yang efektif dimana terjalin metode perubahan amanat, yang mana anak didik sanggup menguasai makna amanat pantas dengan maksud yang sudah didetetapkan, mempermudah anak didik menyambut modul yang dididikan serta meningkatkan keahlian bekerja bersama, berasumsi kritis serta meningkatkan tindakan sosial dan bisa tingkatkan dorongan, hasil berlatih serta mempertahankan topik lebih lama bagi siswa.

Lewat mata pelajaran PPKn ini, diinginkan anak didik selaku masyarakat negeri bisa mempelajari serta mengerti hak, peranan serta tanggungjawabnya selaku masyarakat negeri. Berhubungan dengan maksud pembelajaran nasional, perlu adanya peningkatan pembangunan di dunia pendidikan. Melalui pembelajaran PPKn, akhlak yang baik akan ditanamkan pada siswa sejak dini.

Namun, pada kenyataannya, sebagian siswa melihat PPKn selaku mata pelajaran abstrak serta teoritis. Dampaknya anak didik di mata pelajaran PPKn merasa lumayan menulis serta mengingat rancangan serta filosofi yang dipaparkan tenaga pendidik, kewajiban tertata yang diserahkan tidak ditanggapi dengan kesungguhan serta jika dilakukan hanya penuhi konvensi.

(16)

Berdasar pada hasil pemantauan awal di lokasi sekolahan yang hendak diteliti, diketahui minimnya hasil berlatih anak didik diakibatkan oleh tahap pembelajaran yang tengah didominasi oleh pendidikan konvensional. Selama proses pembelajaran, situasi kelas condong terfokus pada guru alhasil anak didik jadi diam atau tidak aktif, karena kurangnya umpan balik dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga komunikasi antara guru dan siswa kurang efektif. Hal ini berimplikasi pada kurangnya kemampuan guru dalam memahami apa lagi yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah yang dialami anak didik dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, harus ada peningkatan keterampilan interpersonal guru.

Menurut Hadi Rianto (2018) dalam penelitiannya mengungkapkan kalau keahlian komunikasi tenaga pendidik dalam cara penataran PKn mencakup keahlian interaksi tenaga pendidik yang mengantarkan amanat pada anak didik, membagikan edukasi pada anak didik supaya terjalin komunikasi interpersonal yang segar serta efisien, keahlian tenaga pendidik buat menghasilkan suasana yang positif dalam aktivitas penataran serta reaksi yang diserahkan tenaga pendidik pada anak didik dalam berinteraksi belajar-mengajar.

Menurut Amsal Amri (2018) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa strategi komunikasi interpersonal yang diterapkan guru PPKn adalah komunikasi tatap muka dengan memanggil siswa yang berminat. Siswa yang dimaksud adalah siswa yang melanggar tata tertib sekolah, berbicara kasar, dan berperilaku asusila lainnya. Guru PPKn juga menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal dengan baik dan menerapkan komunikasi interpersonal yang efektif

(17)

5

dalam bentuk perencanaan dan pengelolaan yang baik, seperti menyiapkan topik yang menarik, suasana kelas yang nyaman, proses pembelajaran yang menyenangkan, dan sebagainya.

Menurut Lukman (2018) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa dalam komunikasi interpersonal, guru (komunikator) memiliki harapan yang tinggi (mengkomunikasikan) siswa terhadap perubahan dan perkembangan siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Hal ini dapat tercapai jika strategi komunikasi yang diterapkan efektif dan keberhasilan dapat dilihat dari respon yang dihasilkan oleh siswa ketika komunikasi berlangsung. Untuk mencapai hal tersebut tentunya diperlukan perencanaan atau strategi komunikasi yang matang.

Cuma saja yang melainkan ketiga riset diatas merupakan maksud riset yang mau digapai, maksud riset yang dicoba oleh Hadi Rianto (2018) ialah adanya kemampuan komunikasi interpersonal guru dalam proses pembelajaran agar komunikasi yang sehat dan efektif terjadi. Sedangkan tujuan penelitian Ikhsan (2018) dengan menerapkan strategi komunikasi interpersonal akan menciptakan suasana kelas yang nyaman dan proses pembelajaran yang menyenangkan. Dan tujuan penelitian Lukman (2018) memprediksikan bahwa dengan komunikasi interpersonal akan terjadi perubahan dan perkembangan siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Oleh karena itu, keterampilan interpersonal harus dihadirkan dalam proses pembelajaran.

Bersumber pada penjelasan diatas, penulis mengalami ketertarikan buat mangulas serta mengangkut permasalahan itu jadi suatu karya objektif yang

(18)

bertajuk “Analisis Interpersonal Skills Guru dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng” .

B. Rumusan Masalah

Berdasar pada penjabaran permasalahan tersebut, sehingga bisa ditelaah permasalahannnya seperti di bawah ini:

1. Bagaimana kemampuan interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan?

2. Factor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pengembangan interpersonal skills guru selama proses pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan?

C. Tujuan Penelitian

Sementara itu maksud dari riset ini yakni:

1. Guna mengenali bagaimanakah kemampuan interpersonal skills tenaga pendidik dalam tahap pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

2. Guna mengenali aspek aspek apa sajakah yang pengaruhi peningkatan interpersonal skills guru selama proses pembelajaran Pendidikan Pancasila serta Kewarganegaraan.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian analisis interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP Negeri 2 Bissappu, secara teoritis riset ini diharapkan sanggup membagikan kontribusi abstrak kepada

(19)

7

aktivitas belajar mengajar, spesialnya interaksi belajar mengajar. Tidak hanya itu, riset ini pula bisa memperluas kecakapan komunikasi interpersonal orang kepada individu lainnya.

2. Manfaat Praktik

Secara praktik riset ini memiliki manfaat buat:

a. Bagi partisipan ajar, riset ini bisa membagikan pengetahuan buat melaksanakan komunikasi yang bagus dengan tenaga pendidik. Perihal ini hendak memudahkan anak didik buat berlatih sebab keterikatan yang bagus berhasil lewat komunikasi yang bagus pula.

b. Untuk tenaga pendidik, riset ini berguna buat tingkatkan keahlian berinteraksi dalam aktivitas belajar mengajar dan memakai kecakapan komunikasi interpersonal selaku alat buat membuat anak didik belajar.

(20)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Interpersonal Skills

Menurut Akor dalam Aisyah Amalia (2019) komunikasi interpersonal ialah suatu metode yang mana orang silih beralih data, perasaan serta mengantarkan lewat catatan lisan serta non lisan. Pengertian ini menekankan kenyataan utama jika komunikasi antarpribadi bukan cuma terkait “apa”

seseorang berbicara, ialah bahasa yang dipakai, tetapi “bagaimana” seseorang berbicara, misal pesan non- verbal yang dikirimkan, semacam bunyi suara serta mimik muka wajah. Komunikasi interpersonal dapat dilihat sebagai proses interaksi simultan satu dengan lainnya serta silih pengaruhi, umumnya buat maksud mengatur ikatan.

Sedangkan menurut Muhammad dalam Aisyah Amalia (2019), komunikasi interpersonal merupakan metode perpindahan data antara satu orang dengan setidaknya satu individu lainnya atau biasanya antara dua individu yang bisa mengenali sasaran balik dengan cepat.

Menurut Muhammad Arifin (2013) interpersonal skills ialah penanda soft skills yang menggambarkan keahlian yang diperoleh lewat area terdekat, bukan keterampilan yang lahir ataupun diwariskan dari orang tua. Skill ini dapat dilatih, tetapi tidak dapat langsung tingkatkan keterampilan tipe ini. Keterampilan interpersonal termasuk dalam keterampilan transversal, ialah keahlian individu

(21)

9

non- teknis, semacam keahlian jadi penonton yang positif, negosiator, ataupun berinteraksi dengan bagus dengan individu lainnya.

Poin Tutorial Kedua dalam Silvianetri (2019) mendefinisikan keterampilan interpersonal sebagai interaksi yang mengasyikkan, informatif, positif serta sanggup memberi pikiran dengan individu lainnya. Interaksi sosial dalam kehidupan tiap hari terjalin lewat komunikasi. Keahlian interpersonal ialah satu dari keahlian yang berarti buat dipahami di era globalisasi.

Menurut Wibowo dan Hamrin dalam Hadi Rianto (2018) keterampilan interpersonal ialah keahlian seorang guru untuk menjalani ikatan dengan siswa atau individunya lain pada umumnya. Dalam kaitannya dengan kompetensi guru, kompetensi sosial merupakan bagian dari keterampilan interpersonal.

Menurut Muhammad Arifin (2013) gambaran keterampilan interpersonal merupakan bagaimanakah seorang berhubungan dengan individu lainnya dalam sesuatu area sosial. Menghormati individu lainnya, menjalakan kerjasama yang bagus dengan individu lainnya, menyampaikan angan, perasaan ataupun impian pada individu lainnya dengan cara positif tanpa mudarat individu lainnya, bisa melukiskan seberapa bagus keahlian interpersonal seorang.

Menurut peraturan Kapolri nomor 5 tahun 2008 dalam Muhammad Arifin (2013) keterampilan interpersonal (keterampilan individu dasar) merupakan keahlian yang menempel pada tiap orang dalam kontak dengan warga(

secara pribadi ataupun golongan), yang dalam perwujudannya hendak menunjukkan tingkah laku, perilaku serta tindakan.

(22)

Menurut Noviana Aini (2019), komunikasi antarpribadi sebenarnya memiliki pengertian yang serupa dengan komunikasi yang telah diketahui secara umum. Dengan cara resmi, komunikasi interpersonal profesi sosial bisa didefinisikan selaku cara penyebaran informasi oleh seorang, dalam perihal ini pekerja sosial serta penerimaan informasi oleh individu lainnya, yaitu lansia selaku klien ataupun sekelompok kecil lansia, dengan hasil dan umpan balik langsung. Jenis komunikasi ini tampaknya tidak jauh berlainan dengan wujud perilaku masyarakat, kadang efektif dan kadang tidak efektif, antara lain:

Keterampilan mengamati, Keterampilan mendeskripsikan, Keterampilan mendengarkan, Keterampilan interogasi, Keterampilan mensintesis, Keterampilan umpan balik (Feed back).

2. Langkah-langkah dalam proses komunikasi interpersonal

Berdasarkan Suranto Aw dalam Aisyah Amalia (2019), mengemukakan bahwa dalam proses komnikasi interpersonal terbagi atas enam tahapan sebagai berikut:

a. Kemauan berbicara sesorang komunikator mempunyai kemauan buat memberi inspirasi dengan individu lainnya.

b. Encoding oleh komunikator. Encoding merupakan aksi merumuskan isi benak ataupun buah pikiran kedalam tutur alhasil komunikator nerasa percaya dengan amanat yang disusun serta metode penyampaiannya.

c. Pengiriman catatan. Buat mengirim perintah pada individu lainnya yang diinginkan hingga komunikator memilah saluran komunikasi yang dipakai bersumber pada karakter perintah, posisi akseptor, alat yang ada, karateristik komunikator serta keinginan hendak kecekatan penyampaian perintah.

d. Pendapatan perintah. perintah yang dikirimkan oleh komunikator sudah diperoleh oleh komunikator.

e. Decoding oleh komunikan. Decodingadalah kegiatan dalam akseptor.

Decoding merupakan cara menguasai catatan. Diharapkan komunikator memaknai catatan yang diperoleh dari komunikator dengan bagus serta betul.

f. Umpan balik. Sehabis menyambut perintah serta menguasai perintah itu hingga komunikator membagikan balasan ataupun umpan balik. Umpan

(23)

11

balik umumnya ialah awal baru dari cara komunikasi berjalan dengan cara berkesinambungan.

Menurut Devito dalam Aisyah Amalia (2019) berkata kalau daya guna komunikasi interpersonal diawali dengan tindakan positif yang butuh diperhitungkan ialah:

1. Keterbukaan (opennes), kualitas keterbukaan merujuk pada komunikasi interpesonal yang efisien yang mana merujuk pada kemauan komunikator buat berhubungan dengan cara jujur kepada eksitasi yang hendak tiba yang menyangkut perasaan serta angan.

2. Empatik( empathy), keahlian seorang buat mengenali apa yang dirasakan sesorang pada dikala khusus dari ujung penglihatan individu lainnya.

3. Tindakan mensupport( supportiveness), Ikatan interpersonal yang efisien merupakan yang dimana ikatan didalamnya ada tindakan yang mensupport.

4. Tindakan positif( positiveness), mengkomunikasikan tindakan positif dalam komunikasi interpersonal sangat tidak dengan memakai 2 metode ialah mengatakan tindakan positif serta mendesak dengan cara positif orang yang jadi sahabat buat berhubungan.

5. Kesetaraan( equality)”, Pengakuan kalau keduanya menghormati, bermanfaat serta mempunyai suatu yang oenting buat disumbangkan.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi interpersonal

Menurut Muhammad Arifin (2013) ada 4 aspek yang memengaruhi persepsi interpersonal yaitu:

1. Faktor Situasional a. Deskripsi Verbal

pemaparan lisan merupakan cerminan besar yang timbul ataupun mencuat seorang lewat bahasa lisan.

b. Petunjuk Proksemik

Proksemik merupakan riset mengenai pemanfaatan jarak dalam transmisi pesan. (Edward T. Hall dalam Muhammad Arifin, 2013) . c. Petunjuk Kinestik

Petunjuk kinestetik adalah persepsi seseorang berdasarkan gerakan yang ditunjukkam orang tersebut.

d. Petunjuk Wajah

Isyarat mimic pula berpengaruh terhadap anggapan interpersonal seorang, kita bisa memandang beratnya permasalahan yang dirasakan seorang dari metode individu tersebut menunjukkan wajah.

(24)

e. Petunjuk Paralinguistik

Paralinguistik merupakan metode orang melisankan lambang- lambang lisan, semacam aksen suara, tempo ucapan serta style lisan.

2. Faktor Personal

Selain aspek situasional, aspek pribadi juga memiliki dampak yang signifikan kepada anggapan interpersonal seorang. Faktir pribadi yang terlibat yautu pengalaman, semangat serta karakter.

3. Atraksi Interpersonal

Ketertarikan interpersonal adalah kecondongan seorang buat menggemari, berlagak positif, serta terpikat pada seorang ataupun sesuatu. Tren ini terkait dengan seberapa intens komunikasi interpersonal antara keduanya. Menurut Muhammad Arifin (2013) adapun aspek aspek yang pengaruhi besar minimnya daya tarik interpersonal ini antara lain:

1. Terdapatnya kecocokan karakter perorangan

Karakteristik pribadi serupa Memiliki karakteristik pribadi yang sama akan berkontribusi pada pertumbuhan komunikasi

2. Tekanan Emosional (Stress)

Emosional yang tinggi akan keberadaan seseorang seringkali menimbulkan kemauan buat memperoleh atensi, kedatangan, serta kasih cinta dari individu lainnya. Dalam perihal ini, banyak orang yang sudah hadapi kesusahan bersama sama membuat golongan yang sangat bersatu.

3. Harga diri yang rendah

merendahkan diri sendiri Individu yang mempunyai ataupun merasa rendah diri berkecenderungan lebih mudah menerima cinta individu lainnya.

4. Isolasi Sosial

Ketika seseorang terpinggirkan atau terisolasi, baik secara fisik maupun psikologis, mereka seringkali lebih memilih kedatangan individu lainnya yang mereka rasa dapat membagikan peluang buat berbicara ataupun mendengar pikiran mereka.

5. Adanya daya tarik fisik

Sementara memiliki ketertarikan Daya tarik fisik, meskipun tidak dapat digeneralisasikan, dapat dipahami secara umum daripada ditulis oleh publik.

(25)

13

6. Pemberian Ganjaran

Seorang kerapkali merasa suka bila memperoleh balasan berbentuk dorongan, motivasi akhlak, apresiasi ataupun keadaan yang bisa mendongkrak harga diri.

7. Familiarity

Familiarity menupakan wujud keakraban yang dialami seorang dalam berkomunikasi.

8. Kedekatan

Selain familiarity, kelancaran komunikasi pula dapat dipengaruhi oleh faktor keakraban semacam keakraban dengan temoat bermukim, wilayah asal ataupun almamater.

9. Kemampuan

Seseorang mengarah menyenangi individu lainnya yang mereka yakini mempunyai keahlian lebih besar dari dirinya ataupun lebih sukses dalam hidupnya.

4. Hubungan Interpersonal

Komunikasi yang bagus hendak diisyarati dengan ikatan interpersonal yang bagus. Hingga dalam perihal ini, kala seorang berkomunikasi mereka tidak hanya mengantarkan isi nasihat, namun pula memastikan tingkatan ikatan interpersonal.

Menurut Kelly dalam Muhammad Arifin (2013) mengemukakan bahwa terdapat 3 aspek berarti yang memastikan tingkatan mutu ikatan interpersonal seorang, ialah:

1. Percaya

Tingkatan keyakinan seorang kepada individu lainnya hendak terkait pada aspek individu serta situasional. Orang yang mempunyai harga diri positif mengarah lebih yakin pada individu lainnya. Di sisi lain, orang dengan karakter absolut mengarah tidak mudah menyakini individu lainnya. Keyakinan satu orang pada individu lainnya

2. Sikap Suportif

Sikap suportif merupakan tindakan yang kurangi tindakan melindungi dalam berbicara. Orang jadi melindungi bila yang terlibat tidak menyambut, tidak

(26)

jujur, serta tidak berempati. Dengan tindakan tersebut maka diharapkan kualitas hubungan interpersonal seseorang akan sangat rendah.

4. Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal

Menurut Nindi Pratiwi (2017) ciri-ciri dari komunikasi interpersonal sebagai berikut :

1. Komunikasi interpersonal umumnya terjalin dengan cara otomatis serta tanpa maksud sebelumnya.

2. Komunikasi interpersonal mempunyai akibat yang direncanakan serta tidak direncanakan.

3. Komunikasi interpersonal umumnya terjalin dengan cara timbal balik.

4. Komunikasi interpersonal umumnya dalam situasi keakraban ataupun mengarah menginginkan kedekatan.

5. Komunikasi interpersonal dalam penerapannya lebih muncul pada pendekatan komunikasi intelektual dari faktor sosiologisnya.

6. Komunikasi interpersonal tidak dibilang sukses bila tidak menghasilkan hasil.

7. gram. Komunikasi interpersonal memakai simbol- simbol yang berarti bersumber pada keinginan komunikasi mereka.

Dari opini di atas bisa disimpulkan kalau dalam tiap komunikasi, catatan ialah perihal penting yang mau di informasikan komunikator pada komunikator, sedemikian itu pula dengan komunikasi antarpribadi. Catatan itu sendiri terdiri dari segerombolan simbol. Simbol adalah perkata lisan serta non- verbal. Yang diartikan dengan komunikasi lisan merupakan komunikasi perkataan ataupun tertulis, sebaliknya komunikasi nonverbal merupakan komunikasi yang menggunakan simbol, petunjuk, singgungan, perasaan serta dalam cara komunikasinya.

5. Tujuan Komunikasi interpersonal dilakukan

“Menurut Pontoh dalam Dinar Kurnia Kasih (2017) Komunikasi interpersonal dicoba yang bermaksud; 1) mengatakan atensi pada individu lainnya; 2) mencari jati diri; 3) mencari suasana dunia luar; 4) membuat

(27)

15

serta menjaga ikatan yang serasi; 5) pengaruhi tindakan serta aktifitas;

6) mencari kebahagiaan ataupun hanya menghabiskan durasi;

7) menyingkirkan kemudaratan dampak salah komunikasi; serta 8) membagikan dorongan( pengarahan)”.

6. Pembelajaran PPKn

Menurut Suwatno dalam Aisyah Amalia (2019) belajar merupakan aksi mendapatkan perihal terkini, ataupun memodifikasi serta menguatkan wawasan, sikap, keahlian, nilai ataupun preferensi yang terdapat serta bisa mengaitkan paduan bermacam tipe data. Satu dari keahlian dasar individu merupakan keahlian buat menekuni situasi terkini di beberapa area sekitar.

Menurut Briggs dalam Mariana (2019), belajar merupakan selengkap insiden (peristiwa) yang pengaruhi anak didik sedemikian rupa alhasil anak didik mendapatkan kenyamanan darinya. Unsur utama belajar adalah pengalaman anak sebagai rangkaian peristiwa agar proses belajar dapat berlangsung. Jadi pendidikan, belajar mengajar memiliki hubungan konseptual yang tidak berbeda.

Menurut Tustiyana Windiyani (2018) penataran ialah sesuatu tahap transformasi, ialah mengubah sikap selaku hasil interaksi dengan area dalam penuhi kepentingan hidup. Penataran tidak akan efisien tanpa terdapatnya maksud atau tujuan, hingga penataran yang bagus merupakan penataran yang bisa menggapai maksud atau visi pembelajaran.

Menurut Winataputra dalam Mariana (2019), belajar diorientasikan pada proses belajar tanda, dimulai dari adanya tanda atau isyarat yang mempengaruhi proses perubahan perilaku. Proses yang baik memungkinkan hubungan antara stimulus dan respon terjadi dengan benar. Hubungan stimulus-respon harus

(28)

dikuasai oleh siswa untuk memungkinkan keberhasilan dalam rantai verbal dan pembelajaran asosiatif dapat dicapai. Asosiasi verbal menggunakan konsep, objek, prinsip, situasi, dan informasi yang diatur secara sistematis dalam ingatan.

Azis Wahab dalam Reza Rachmadtullah (2016) menyatakan bahwa pembelajaran kebangsaan ialah sarana pengajaran yang meindonesiakan partisipan ajar dengan cara sadar, pintar, serta bertanggungjawab. Oleh sebab itu, program Pembelajaran Kebangsaan berisi tentang konsep- konsep ketatanegaraan umum, politik serta hukum negeri, dan filosofi filosofi umum yang lain yang cocok dengan visi itu.

Reh Bungana Beru Warringin-Angin (2017) Pendidikan Kewarganegaraan, merupakan pelajaran yang perlu diketahui siswa selaku masyarakat negeri. Pada dasarnya wawasan yang wajib dimiliki sebagai warga negara, kecakapan kewarganegaraan (civic competences) ialah keahlian yang dibesarkan dari wawasan kebangsaan sehingga wawasan yang dimiliki jadi sangat berarti sehingga bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan kehidupan berbangsa serta bernegara. Keahlian kebangsaan mencakup keahlian intelektual(

intellectual skills) serta keahlian keikutsertaan( participation skills) Kepribadian kebangsaan merupakan tindakan serta Kerutinan berasumsi masyarakat negeri yang mensupport bertumbuhnya peranan sosial yang menunjang bertumbuhnya peranan sosial yang kondusif serta menjamin kebutuhan umum sesuatu sistem kerakyatan.

(29)

17

7. Proses Belajar Mengajar PPKn

Berajar merupakan menyusun area dengan sebaik bisa jadi serta mengaitkannya dengan kanak- kanak alhasil terjalin cara berlatih. Dalam arti ini, merupakan kewajiban tenaga pendidik buat menata area berlatih yang paling baik untuk kanak- kanak. Tujuan dalam cara berlatih membimbing jadi penanda kesuksesan pengajaran. Isi tujuan penataran pada dasarnya merupakan hasil berlatih yang diinginkan. Materi didik merupakan isi aktivitas berlatih membimbing, memberi warna tujuan, mensupport tergapainya sikap yang diinginkan serta dipunyai oleh anak didik. Tata cara serta perlengkapan berperan selaku alat mentransformasikan pelajaran mengarah tujuan yang mau digapai.

Tata cara serta perlengkapan pengajaran yang dipakai wajib betul- betul efisien serta berdaya guna. Penilaian ataupun penilaian berperan selaku dimensi berhasil ataupun tidaknya tujuan. Guna penilaian pada hakikatnya mengukur visi.

Metode pembelajaran pada hakikatnya merupakan cara mengkoordinasikan beberapa bagian di atas alhasil silih berkaitan serta pengaruhi satu dengan yang lain alhasil memunculkan aktivitas berlatih untuk anak didik dengan cara semaksimal mungkin mengarah pergantian aktifitas anak didik sesuai dengan maksud yang sudah mereka tentukan. Dengan tutur lain, membimbing bisa diamati selaku sesuatu sistem. Pendekatan pengajaran memakai pendekatan sistemik. Bersumber pada visi yang sudah ditentukan masukan( input), ialah anak didik saat sebelum tahap pembelajaran. Dengan adanya bahan pembelajaran, metode dan perangkat pembelajaran yang digunakan, maka input tersebut mengalami suatu pSroses. Akhirnya kita mendapatkan output, yaitu siswa yang

(30)

memiliki karakteristik sesuai dengan tujuan. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Hasil evaluasi juga sangat penting sebagai dasar umpan balik untuk perbaikan.

B. Kerangka pikir

Masalah mendasar yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia disaat ini adalah terkait dengan proses belajar mengajar yang belum efektif. Tidak tercapainya kegiatan belajar disebabkan oleh kemampuan interpersonal guru yang kurang baik. Kurangnya keterampilan interpersonal menyebabkan guru tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan siswanya, sehingga jelas hal ini mempengaruhi semangat belajar siswa yang berpotensi menurunkan kualitas kegiatan pembelajaran. Untuk itu, harus ada peningkatan keterampilan interpersonal guru. Keterampilan interpersonal harus dihadirkan di mana-mana dan selalu hadir di mana-mana dan selalu di setiap kesempatan.

SMP NEGERI 2 BISSAPPU KABUPATEN BANTAENG

Interpersonal Skills

 Keterampilan menjelaskan

 Keterampilan bertanya

Keterampilan mendengarkan

Kemampuan interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran

Faktor-faktor yang

mempengaruhi pengembangan interpersonal skliis

Interpersonal skills guru

(31)

19 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Riset ini memakai tata cara kualitatif. Menurut Creswell dalam Aryanto Budinugroho (2010) Metode kualitatif adalah Fokus pada proses dan produk atau hasil penelitian yang sedang berlangsung. Penelitian tertarik untuk memahami bagaimana sesuatu terjadi. Cara riset kualitatif ini mengaitkan pekerjaan krusial seperti menyimpulkan persoalan serta metode, mengakulasi informasi khusus dari kontestan, menganalisa informasi dengan cara induktif dari poin eksklusif ke poin biasa, serta memaknakan arti informasi.

Pendekatan Kualitatif berdasarkan Creswel dalam bukunya yang berjudul Riset Kualitatif & Desain Riset (2018) studi fenomenologi Menggambarkan makna umum beberapa orang kepada bermacam pengalaman hidup mereka dalam kaitannya dengan rancangan ataupun kejadian. Riset ini memakai pendekatan fenomenologis, yang mana riset merupakan peristiwa yang tengah berlangsung. Pendekatan fenomenologis ini, periset mengidentifikasi pertanyaan atau permasalahan yang paling baik buat informan ke depannya. Intinya dalam hal ini, periset membutuhkan sebagian orang yang mengetahui ataupun berhubungan dengan keterampilan interpersonal guru dalam tahap pembelajaran kewarganegaraan di SMP Negeri 2 Bissappu.

(32)

B. Lokasi dan Waktu Penelitian a. Lokasi penelitian

Tempat untuk melakukan riset ini ialah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng. Penulis memilih lokasi ini karena melihat dari hasil observasi sebelumnya, kurangnya keterampilan interpersonal skills gueu disekolah yang sama dengan masalah yang diteliti.

b. Waktu penelitian

Durasi yang dipakai penulis buat riset ini ialah semenjak bertepatan pada dikeluarkannya teks persetujuan riset dalam kurung periode sekitar 2 bulan.

c. Sumber Data

Sumber informasi dalam riset ini terbagi atas 2 berbagai ialah informasi pokok serta informasi inferior.

1) Data primer

Yakni Dengan mengamati informasi yang didapat dari poin riset, ialah mencermati dengan cara langsung serta menulis kejadian kejadian yang berarti dan relevan dengan ulasan. Tidak hanya itu, informasi yang didapat lewat tanya jawab dipakai selaku informasi utama.

2) Data sekunder

Informasi ini didapat lewat analisis arsip yang terdapat hubungannya dengan riset, informasi ini bisa lewat buku-buku pembelajaran, materi materi kepustakaan serta sebagainya.

(33)

21

C. Informan Penelitian

Subyek riset ini adalah tenaga pendidik serta anak didik.

Identifikasi informan dalam riset ini ialah disengaja, dan peneliti mengidentifikasi berbagai informan dengan cara bertanya dan menjawab secara langsung kepada informan sesuai dengan alasan wawancara. Tes sampel meliputi: :

3. Purposive Sampling, metode determinasi ilustrasi dengan estimasi khusus, dimana periset menjurus mempunyai responden dengan cara variatif bersumber pada( alibi).

4. Snow-Ball Sampling (pencabutan ilustrasi dengan cara bola salju), yakni tata cara penghimpunan ilustrasi pangkal informasi, yang pada awal mulanya totalnya tidak banyak, seiring berjalannya waktu jadi besar. Perihal ini dicoba sebab dari total pangkal informasi yang sedikit itu itu belum sanggup menyampaikan informasi yang lebih detail, alhsil mencari orang lainnya lagi yang bisa dipakai selaku pangkal informasi. Dengan begitu jumlah ilustrasi pangkal informasi hendak terus menjadi besar, semacam bola salju yang menggelinding, lambat- laun jadi besar.

HendarsodalamSuyanto (2009 : 172) Informan yang telah membagikan bermacam data sepanjang cara riset berjalan. Ada pula pengelompokan dari Informan riset purposive sampling antara lain:

(34)

Informan kunci (key informan), Ialah mereka yang mengenali serta mempunyai data utama. Dengan ini anak didik tingkatan VII.A di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bissappu.

Informan Pakar, Ialah mereka yang ikut serta dengan cara langsung dalam berinteraksi sosial yang diawasi. Perihal ini adalah Guru di SMP Negeri 2 Bissappu.

Informan tambahan, Ialah mereka yang bisa membagikan bermacam tipe data yang periset butuhkan terpaut apa yang diawasi meski tidak langsung ikut serta dalam berinteraksi sosial yang tengah diawasi. Perihal ini Staff Aturan Usaha di SMP Negeri 2 Bissappu.

Bersumber pada hasil analisa di atas, bisa disimpulkan kalau tujuan peneliti ialah untuk mendapatkan informan yang cermat serta betul- betul penuhi persyaratan sebab informan itu memiliki pengetahuan yang baik tentang bidang atau wilayah penelitian.

Identifikasi informan penelitian yang digunakan peneliti adalah purposive sampling dengan kategori informan kunci, informan ahli dan informan tambahan. Tujuan sampling digunakan hanya sebab periset terdahulu sudah mengenali bagaimanakah tempat yang hendak dipakai buat riset.

Riset kualitatif tidak ditujukan buat menggeneralisasi hasil riset yang dicoba agar dengan sengaja mengidentifikasi poin riset yang sudah terlihat dalam fokus riset. Poin riset hendak jadi informan yang membagikan bermacam data yang dibutuhkan sepanjang tahap riset.

(35)

23

D. Instrumen penelitian

Bagi Sugiyoni (2018:306), riset kualitatif selaku Human Instrumen yang berperan buat memastikan fokus riset memilah informan selaku pangkal informasi, pengumpulan informasi berguna untuk fokus riset, memilah informan selaku pangkal informasi, pengumpulan informasi, menilai kualitas data, menganalisis informasi, mengulas informasi serta menarik kesimpulan dari penelitian. Akan tetapi, setelah penelitian yang terfokus sudah nyata sehingga bisa dikembangkan instrumen riset simpel yang diinginkan bisa memenuhi informasi serta membandingkannya dengan informasi yang dijumpai lewat pemantauan serta tanya jawab.

Oleh sebab itu, instrumen penting dalam riset ini terdapat periset itu sendiri selaku instrumen penting dalam penelitian telah melaksanakan pemantauan dengan mencermati dengan cara langsung objek penelitian, kemudian melaksanakan tanya jawab dengan sebagian informan, sebaliknya instrumen lainnya adalah perlengkapan perekam buat merekam dikala periset melakukan wawancara dengan informan. Sebaliknya kamera yang dipakai buat pengambilan gambar selaku pengarsipan dikala melaksanakan riset serta prinsip tanya jawab berbentuk pertanyaan- pertanyaan yang di sediakan periset buat menguak data yang berhubungan dengan riset supaya informasi yang terkumpul asi.

Guna mendapatkan kenyataan dilapangan, oeneliti merupakan instrumen penting serta memenuhi dirinya dengan oedoman Tanya jawab,

(36)

pedoman observasi dan sarana dokumentasi misal oerekam serta kamera serta perlengkapan tulis (buku serta pulpen).

E. Teknik Pengumpulan Data

Bagi Sugiyono( 2018: 308) tata cara mengumpulkan informasi yakni tahapan terpenting dalam riset, sebab maksud krusial riset merupakan untuk mendapatkan informasi. Tanpa mengenali tata cara pengumpulan informasi, periset tidak hendak memperoleh informasi yang penuhi standar informasi yang ditentukan. Merujuk pada urgensi penilaian yang dibesarkan dalam riset ini, hingga dipakai sebagian metode pengumpulan informasi selaku selanjutnya:

1) Observasi

Bagi Nasution dalam Sugiyono (2018:310) menyatakan kalau pemantauan merupakan dasar dari segala ilmu. Ilmuwan cuma bisa bertindak berdasar pada informasi, yakni kebenaran terkait dunia nyata yang didapatkan lewat pengamatan. Di tempat itu periset mencermati bermacam perihal yang berkaitan dengan keterampilan interpersonal guru dalam proses pembelajaran PPKn. Hal terpenting dalam proses observasi ini adalah mengamati keterampilan interpersonal guru dalam proses pembelajaran, agar mendapatkan data yang valid tentang latar belakangnya.

2) Wawancara

(37)

25

Bagi Sugiyono (2018:317) tata cara Tanya-jawab dipergunakan selaku tata cara untuk mengumpulkan informasi jika periset akan menyelenggarakan riset kata pengantar guna mendapat masalah yang wajib dilakukan penelitian. Perihal ini ditujukan buat mendapatkan informasi langsung dari guru PPKn yang dibantu oleh sebagian informan ekstra ialah siswa.

3. Dokumentasi

Bagi Sugiyono (2018:329) Pemilihan merupakan memo kejadian yang sudah berlangsung. arsip dapat berupa tulisan, gambar, biografi, peraturan, gambar, dll. Dalam peluang ini periset menggali bermacam informasi yang terdapat di sekolah. Tidak hanya itu, cara pengarsipan ini pula sengaja dilakukan periset buat menguatkan hasil riset ini, dengan menyajikan gambar-gambar sepanjang periset melakukan riset.

F. Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2018:334) Analisa informasi yakni cara memperoleh serta mengatur informasi dengan cara analitis, informasi yang didapatkan dari hasil tanya jawab, memo lapangan, serta pemilihan dengan metode mengerahkan informasi ke dalam kategori- kategori yang menguraikan ke dalam satuan-satuan, mensintesis, menyusun menjadi pola-pola pemilihan.

mana yang utama serta dipelajari, yang membuat kesimpulan alhasil gampang dimengerti oleh diri sendiri serta individu lainnya. Tahap tahap yang dicoba merupakan:

(38)

1. Pengumpulan data

Seluruh informasi yang didapat mengenai analisis keterampilan interpersonal guru dalam proses pembelajaran PPKn digabungkan serta dicatat dengan cara adil setelah itu diselidiki, disusun kemudian diurutkan dengan cara analitis. Penulis menghimpun informasi bagus dari pemantauan yang dicoba maupun tanya jawab dengan sebagian informan dan diperkuat denganadanya dokumentasi yang disatukan maka mempermudah oeneliti dalam menyajikan data. .

2. Reduksi data

Cara pengurangan informasi memfokuskan atensi pada penyederhanaan abstraksi serta data informasi menrah yang timbul dari memo posisi riset. Sehabis periset mengakulasi informasi, periset hendak memilah informasi yang cocok dengan fokus riset yang diawasi lewat penyederhanaan, alhasil mempermudah periset dalam oenyajian informasi.

3. Penyajian data

Hal ini dicoba dengan metode mendefinisikan berkas data dengan cara tertib serta analitis yang membagikan mungkin terdapatnya pencabutan kesimpulan serta pengumpulan aksi bersumber pada uraian yang didapat. Sehabis periset meresuksi informasi hingga oeneliti hendak mendefinisikan hasil riset bagus dari hasil pemantauan, tanya jawab serta pemilihan buat mempermudah pencabutan kesimpulan dari hasil riset.

4. Verifikasi

(39)

27

Usaha untuk memperoleh kejelasan kesahan informasi yang sudah didapat dengan mencermati kejelasan dari tiap- tiap pangkal informasi yang terdapat. dengan begitu, periset bisa menarik kesimpulan bersumber pada informasi dari totalitas cara yang sudah dilakukan. Sehabis periset menyuguhkan informasi dengan mendefinisikan hasil riset, hingga periset hendak menarik kesimpulan dari hasil riset yang ditemui di lapangan.

G. Teknik Keabsahan Data

Ketika menguji kesahan informasi dalam riset kualitatif bagi Sugiyono(

2012: 121) Kesahan informasi ialah aspek yang berarti sebab tanpa kesahan informasi yang didapat di lapangan hendak susah untuk seseorang periset buat mempertanggungjawabkan hasil risetnya. Dalam perihal kesahan informasi, periset memakai tata cara triangulasi, maksudnya kir informasi dari bermacam pangkal dengan bermacam-macam teknie serta masa yang berbeda.

1) Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dilaksanakan dengan metode memeriksa informasi dari pangkal yang serupa dengan metode yang berlainan.

Contohnya seperti informasi yang didapatkan melalui Tanya jawab kemudian diverifikasi dengan pemantauan dan dokementasi.

2) Triangulasi Waktu

Triangulasi durasi dipakai buat keabsahan informasi yang berhubungan dengan transformasi sesuatu cara serta sikap orang dari masa

(40)

ke masa. Buat memperoleh informasi lewat pemantauan sehingga periset harus melakukan observasi bukan sekedar observasi.

3) Triangulasi Sumber Data

Triangulasi pangkal informasi dicoba buat mencoba legalitas informasi dengan metode memeriksa informasi yang duperoleh dari sebagian sumber.

Hasil tinjauan diatas membuktikan kalau legalitas informasi harus diterapkan untuk meyakinkan bukti hasil riset. Dengan tutur lain dengan memverifikasi lewat Tanya jawab dengan objek riset di luar informasi buat kebutuhan selaku pembeda dengan informasi. Triangulasi ini tidak hanya dipergunakan buat memverifikasi keabsahan informasi, tetapu jyga buat memperluas informasi, triangulasi pula memberi metode metode yang oerlu diperhatikan oeneliti agar dapat tersusun secara sistematis.

(41)

29 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

SMP Negeri 2 Bissappu merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang berdiri pada tahun 1987 dan terbitnya SK pada tahun itu juga yang telah terakreditasi B.

Adapun yang membatasilokasi SMP Negeri 2 Bissappu dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Sebelah timur berbatasan dengan perumahan warga, SD Inpres Tala-Tala dan SMA Negeri 2 Bantaeng

b. Sebelah Utara berbatasan dengan perumahan warga c. Sebelah Barat berbatasan dengan perumahan warga

d. Sebelah Selatan berbatasan dengan SMP Negeri 3 Bissappu dan SMA Negeri 2 Bantaeng

1. Profil Sekolah Identitas Sekolah

Nama Sekolah : SMP NEGERI 2 BISSAPPU

NPSN :40303997

Jenjang Pendidikan : SMP Status Sekolah : Negeri

Alamat Sekolah : Jln. Hasanuddin No.13

Kode Pos : 92451

(42)

2. Kegiatan Ekstrakulikuler

SMP Negeri 2 Bissappu merupakan salah satu sekolah yang aktif dalam berbagai kegiatan di antaranya adalah Praja Muda Karana (PRAMUKA), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Siswa (UKS), Olah Raga, Osis yang di laksanakan oleh siswa-siswi di SMP Negeri 2 Bissappu. Para Siswa-siswinya selalu mengikuti kegiatan- kegiatan yang di adakan oleh sekolah maupun yang di adakan langsung oleh pemerintah daerah atau jajarannya.

3. Sarana dan Prasarana

Luas Tanah SMP Negeri 2 Bissappu mencapai 20.000 m2, yang didalamnya terdapat bangunan ruang belajar 23 Ruang, Ruang Kesenian 1 ruang, Laboratorium IPA 1 ruang, Laboratorium Komputer 2 ruang, Perpustakaan 1 ruang, Ruang AULA, lapangan Basket, lapangan Volly, Lapangan Sepak Takraw, Lapangan Futsal, Lapangan Lompat jauh, Mushollah yang dapat menampung 100 jamaah, ruang Organisasi 3 ruang, ruang BK 1 ruang, UKS 1 ruang, kamar mandi/WC peserta didik 3 ruang dan Internet yang bisa diakses dengan menggunakan beberapa provider.

4. Keadaan Guru

Pendidik di SMP Negeri 2 Bissappu rata-rata usia produktif dengan kualifikasi Sarjana (S1) sudah mencapai 100 % dan 5 orang di antaranya bergelar magister. Pendidik yang sudah tersertifikasi 72 % dan memiliki latar pendidikan yang sesuai serta85% bertempat tinggal sekitar Bissappu.

(43)

31

Tenaga kependidikan berjumlah 6 orang, pustakawan 1 orang dan penjaga sekolah 1 orang.

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden dan hasil observasi

Data dalam penelitian ini bersumber dari hasil wawancara terhadap 13 orang dan hasil observasi penulis dilapangan. informan tersebut dipilih secara subjektif proporsional sesuai dengan keterlibatan terhadap analisis interpersonal guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMPN 2 Bisappu Kabupaten Bantaeng. berikut daftar tabel responden dan hasil observasi:

Tabel 1. Menunjukkan Karakteristik Responden

NO RESPONDEN UMUR JENIS KELAMIN KET

1 SC 13 P SISWA

2 RS 12 P SISWA

3 AS 13 L SISWA

4 RD 12 L SISWA

5 MF 13 L SISWA

6 SL 13 P SISWA

7 BM 13 L SISWA

8 ND 12 P SISWA

9 MT 13 P SISWA

10 AF 13 L SISWA

11 MDN 59 P GURU

12 JL 50 P GURU

13 BK L KASEK

(44)

2. Interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu

Interpersonal skills guru atau yang biasa disebut soft skills guru merupakan keterampilan yang dimiliki atau didapatkan dari lingkungan sekitar tentang cara bersikap terhadap sesuatu dengan melalui proses yang panjang atau bisa didapatkan melalui proses belajar.

Selanjutnya untuk bisa menganalisa Interpersonal Skills Guru dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng”

Semua data hasil penelitian ini diuraikan berdasarkan fokus keterampilan yang dimiliki oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

a. Keterampilan Bertanya

Dalam proses pembelajaran setelah guru menyampaikan materi, untuk memastikan siswa dapat menangkap pelajaran yang di berikan biasanya guru akan memberikan pertanyaan kepada siswa terkait materi yang telah disampaikan.

Seperti yang disampaikan oleh MDN Guru PPKn terkait wawancara tentang Interpersonal Skills Guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu sebagai berikut;

“Saya mengajar PPKn biasanya saya memberikan pertanyaan anak didik untuk mengetahui sebaik- baiknya bagaimana di apakah dia memahami apa yang

(45)

33

saya berikan atau tidak itu dengan adanya bertanya yang dapat saya nilai”

Hal senada juga disampaiakan oleh JL yang juga seorang guru PPKn sebagai berikut;

“Setiap mengajar itu pasti memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana siswa merespon apa yang diajarkan oleh seorang guru dan tentu cara bertanyanya juga secara hangat dan situasinya juga supaya anak-anak tertarik menjawab pertanyaan”

Hal ini juga dibenarkan oleh RD sebagai siswa yang mengungkapkan;

“iya, setelah guru menyampaikan pelajaran biasanya kita dikasih pertanyaan”

Hal senada juga ikut disampaikan oleh SL yang juga merupakan siswa yang turut menyampaikan;

“guru biasanya nakasiki pertanyaan kalau sementara belajar biasa juga ditunjuk menjawab bergantian”

Selanjutnya MDN kembali menambahkan;

“Menurut MDN kalau saya punya cara memberikan soal- soal supaya dia bisa dan saya suruh berpikir kadang juga secara individu kadang kelompok dan saya suruh presentasikan di atas supaya semua dapat melihat temannya bagus dan dia juga termotivasi dan dia bisa lebih bangkit dengan adanya contoh yang dikemukakan temannya saya rasa kita sebagai guru kita percaya siswa tapi kalau kadang diberi tugas tapi dia tidak laksanakan itu saya katakan saya tidak percaya lagi kalau kau tidak kerjakan dengan baik ini maka saya akan kurangi nilai mu karena anak yang jujur dapat mengerjakan apa yang kita

(46)

berikan dengan tepat waktu itu yang saya berikan supaya lebih percaya diri”

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa selain menyampaikan materi pelajaran guru juga memberikan pertanyaan kepada siswa dengan cara ditunjuk secara bergantian agar guru bisa menilai apakah materi yang disampaikan sudah dipahami oleh semua siswa.

Sedangkan hasil observasi dilapangan penulis menemukan bahwa dalam proses pembelajaran setelah guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa guru akan memberikan pertanyaan kepada siswa secara antusias terkait materi yang telah disampaikan biasanya guru akan mempersilahkan kepada siswa yang ingin menjawab terlebih dahulu sementara ketika tidak ada siswa yang mengajukan diri guru berinisiatif membuat Quis juga sekaligus memberikan penilaian kepada siswa dan sangat jarang penulis menemukan guru menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

(47)

35

Gambar 1.1 Saat MDN memberikan sesi pertanyaan kepada siswa (Sriwahyuni, juni 2020)

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan bertanya yang dimiliki guru di SMP Negeri 2 Bissappu dalam proses pembelajaran sudah cukup mumpuni hal ini penulis dapat menilai dari hasil wawancara dengan beberapa guru yang kemudian dibenarkan juga oleh beberapa siswa serta hasil pengamatan langsung penulis.

b. Keterampilan menjelaskan

Dalam menyampaikan materi pembelajaranseorang guru dituntut untuk memberikan materi pembelajaran kepada siswa serta penjelasan yang memadai agar siswa dapat menangkap apa yang disampaikan oleh guru dengan baik, karena hal tersebut juga merupakan suatu tantangan terhadap semua guru.

Seperti yang di ungkapkan oleh MDN Guru PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu sebagai berikut;

“Menurut MDN; kita sebagai guru bagaimana cara memberikan penjelasan yang lebih bisa dipahami anak didik supaya anak didik bisa memahami apa yang kita kemukakan di materi itu”

Senada dengan apa yang disampaikan diatas Jl juga menyampaikan;

(48)

“pada saat menjelaskan materi saya akan berusaha dengan segala cara atau metode untuk menarik perhatian siswa karena kan sebelum menjelaskan siswa diberi dahulu persepsi supaya siswa fokus atau tertarik pada apa yang disampaikan guru”

Berdasarkan hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa Interpersonal Skills guru yang memadai memang sangat diperlukan oleh karena itu seorang guru harus dianggap cakap dalam menyampaikan materi sehingga pemberian dan penjelasan dari materi yang dibawakan bisa dipahami oleh siswa.

Hal ini juga di benarkan oleh SC salah seorang Siswi di SMP Negeri 2 Bissappu yang mengatakan;

“iya, penjelasan dari guru mudah dimengerti biasa dikasih contoh juga”

Sedangkan AS yang juga seorang Siswa di SMP Negeri 2 Bissappu menyampaikan hal yang berbeda;

“kadang-kadangji bisa dimengerti kalau ceramah terus atau disuruh mencatat biasa dilupaji”

Dari hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran untuk menghadapi siswa yang mempunyai karakter yang beragam merupakan tantangan setiap guru oleh karena itu seorang guru harusnya memberikan penjelasan yang memadai kepada siswa dan memperbanyak interaksi sehingga semua siswa dapat memahami penjelasan yang diberikan.

Selain dituntut untuk menyampaikan materi dan penjelasan yang memadai kepada siswa materi yang disiapkan juga harus sesuai dengan

(49)

37

standar kompetensi yang ada sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Terkait dengan hal itu BK sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Bissappu menyampaikan;

“Semua Guru memang dituntut untuk menyampaikan materi yang sesuai standar kompetensi oleh karena itu semua guru diharuskan untuk menyusun modul pembelajaran terlebih dahulu agar tujuan pembelajaran juga dapat dicapai”

Senada dengan hal tersebut JL yang juga seorang Guru PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu turut menyampaikan;

“iya tentu harus sesuai dengan materi yang dijelaskan harus sesuai dengan standar dan kompetensi dasar karena itulah yang menjadi penuntun menjadi petunjuk bagi seorang guru untuk menjelaskan materi jadi harus sesuai dengan standar kompetensi”

Dari hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa materi yang disiapkan dan disampaikan oleh guru kepada siswa memang sudah sesuai dengan kompetensi dasar yang ada hal ini juga dibuktikan dengan adanya modul-modul pembelajaran yang disiapkan sebelum memulai proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan penulis dapat mengemukakan bahwa Guru PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu mempunyai keterampilan menjelaskan yang memadai hal ini dapat penulis nilai dari respon siswa terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru selain itu guru juga menyampaikan materi yang sudah sesuai

(50)

dengan standar kompetensi yang ada serta relevan dengan tujuan pembelajaran yang ada.

Saud(2009;59) Keterampilan menjelaskan adalah keterampilan menyajikan informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antar satu bagian dengan bagian lainnya.

c. Keterampilan Mendengarkan

Selanjutnya yang tidak kalah penting untuk menunjang proses pembelajaran adalah guru harus jeli untuk memahami siswanya dengan karakter yang berbeda-beda oleh karena itu guru juga dituntut untuk menjadi pendengar yang baik untuk siswanya.

Terkait hal tersebut diatas MDN menyampaikan;

“kita harus mendengarkan peserta didik dengan penuh konsentrasi dan apabila ada kesalahan atau kejanggalan yang dia kemukakan bisa kita berikan arahan supaya dia lebih memahami apa yang kita berikan kepadanya”

Dari hasil wawancara di ataspenulis dapat menarik kesimpulan bahwa seorang guru dapat memahami apa yang dibutuhkan oleh para siswa lewat interaksi secara langsung karena tanpa interaksi guru tidak akan tahu sejauh mana siswa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh karena itu itu guru dituntut untuk menjadi pendengar yang baik untuk siswanya.

(51)

39

Berasarkan hasil observasi dilapangan penulis dapat mengemukakan bahwa interaksi guru dengan siswa memang sangat penting mengingat bahwa selain memberikan materi seorang guru juga harus menjadi pendengar yang baik hal ini penulis dapat melihat respon guru terhadap murid yang mengemukakan pendapatnya selain itu guru juga akhirnya meluruskan kembali materi yang diberikan disertai dengan contoh.

Slamet (2009;2) Menyimak (listening) dikatakan sebagai kegiatan berbahasa reseptif dala suatu kegiatan bercakap-cakap (talking) dengan medium dengar maupun medium pandang, menyimak berarti memperhatikan bail-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.

3. Faktor yang mempengaruhi pengembangan Interpersonal Skills Guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng.

Ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi perkembangan Interpersonal Skills guru dalam Proses pembelajaran;

a. Faktor Situasional

Faktor situasional dalam hal ini sikap atau tindakan yang diputuskan oleh guru dalam menghadapi permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran yang dihadapi.

Dalam hal ini fokus siswa dalam proses pembelajaran bisa menjadi rujukan seperti yang di sampaikan oleh MDN;

“itu barangkali dari bagaimana cara kita sebagai guru mengambil hati dari siswa supaya dia bisa fokus dan memberikan arahan-arahan saya rasa itu arahan arahan yang paling penting dikemukakan tentang kebaikan- kebaikan bagaimana siswa dapat berhasil dengan baik”

Hal senada juga disampaikan oleh JL;

(52)

“untuk menarik perhatian dari siswasupaya fokus dalam pelajaran bisa dalam bentuk menyanyi lagu nasional bisa dalam bentuk yel-yel bisa dalam bentuk tayangan-tayangan dan masih banyak cara agar siswa bisa fokus dalam pelajaran”

Dari hasil wawancara diatas ditambah hasil observasi lapangan penulis dapat melihat bahwa tantangan terbesar bagi guru memang adalah fokus dari siswa jadi seorang guru harus punya inovasi kreatif sendiri agar siswa bisa belajar dengan fokus dan nyaman seperti halnya yang penulis lihat di SMP Negeri 2 Bissappu ini kadang guru membuat suasana kelas jadi meriah sebelum pelajaran dimulai salah satunya dengan yel-yel dan Quis diakhir jam tatap muka sehingga anak-anak selalu fokus dalam belajar.

b. Faktor Personal

Faktor personal guru itu sendiri biasanya dipengaruhi oleh lingkungan, motivasi mengajar, pengalaman yang mumpuni serta kepribadian masing-masing guru itu sendiri, dalam hal ini bagaimana pendekatan yang dilakukan guru kepada siswanya.

Terkait hal tersebut diatas untuk melakukan pendekatan personal kepada siswa MDN menyampaikan;

“Menurut MDN Saya dengan pendekatan yang lebih santai tapi bersahabat kadang saya berikan dengan betul- betul kita tidak terlalu menekan dan kita berikan kebebasan dalam menghadapi segala sesuatu di dalam kelas”

Sedangkan JL mengemukakan;

“kalau pendekatan saya biasanya saya memanggil siswa yang bersangkutan kalau ada masalahnya secara face to face jadi bukan disaat belajar kadang sebelum belajar atau setelah belajar kemudian saya menanyakan masalahnya

Referensi

Dokumen terkait

Pasualan anu baris dipedar dina ieu panalungtikan sawadina dirumuskeun dina kalimah-kalimah pondok, ieu hal luyu jeung pamanggih Sudjana (1991: 23) anu ngébréhkeun yén masalah

Menurut penelitian yang dilakukan Ramadhan dan Kustiwan (2012), studi kasus pada Kota Bandung, Kota Bogor dan Kota Cirebon, menyatakan semakin besar jumlah

Selain bahan yang digunakan mudah didapat dan relatif murah, proses dan alat yang digunakan dalam pengolahan produk ini juga sangat sederhana dan produk yang

Pada penelitian ini dipelajari pengaruh jenis media dan jenis prekursor terhadap kandungan asam lemak omega-3 (EPA dan DHA) minyak kapang Mucor.. Kapang yang

Perhatian siswa bisa lebih terfokus pada proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, maka guru perlu memberikan strategi dalam proses pembelajaran, strategi itu

Sebab keberhasilan suatu proses kegiatan pembelajaran tergantung pada guru itu sendiri, bagaimana cara guru itu mengaktifkan siswa dalam proses KBM, sehingga

Dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara publikasi laporan keuangan terhadap abnormal return saham perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta

1) Merencanakan desain, ada dua buah cara untuk merencanakan desain produk kerajinan yang akan dibuat, pertama adalah dalam pembuatan produk