PENGARUH PEMBIAYAAN MURABAHAH, MUDHARABAH, MUSYARAKAH DAN CAPITAL ADEQUACY RATIO TERHADAP PROFITABILITAS
BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA DENGAN RATIO NON PERFORMING FINANCING SEBAGAI
VARIABEL MODERATING
Tesis
Oleh:
Jihan Amanda Putri 177017050
MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
PENGARUH PEMBIAYAAN MURABAHAH, MUDHARABAH, MUSYARAKAH DAN CAPITAL ADEQUACY RATIO TERHADAP PROFITABILITAS
BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA DENGAN RATIO NON PERFORMING FINANCING SEBAGAI
VARIABEL MODERATING TESIS
Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S2 Program Studi Magister Akuntansi
Oleh:
Jihan Amanda Putri 177017050
MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
TIM PENGUJI TESIS
Telah0Diuji0dan0Dinyatakan0LULUS0di0Depan0Tim0Penguji Pada Hari Selasa 23 Juli 2019
Judul Tesis : Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy Ratio Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia dengan Ratio Non Performing Financial sebagai Variabel Moderating
Nama Mahasiswa : Jihan Amanda Putri
NIM : 177017050
Program Studi : Magister (S2) Akuntansi
Dr0Iskandar Muda, 0SE, 0M.Si,0Ak, 0CA, Ketua Penguji/Pembimbing Prof. Dr. Lic. rer. reg. Sirozujilam, SE. Anggota Penguji/Pembimbing Prof. Erlina, 0SE, M.Si, 0Ph.D, 0Ak, CA, 0CMA Anggota Penguji
Prof. 0Dr. 0HB. 0Tarmizi, 0SU Anggota Penguji
Dr. Rujiman, MA Anggota Penguji
Pernyataan0Keaslian Tesis
Dengan0ini saya0menyatakan0bahwa0tesis saya0yang berjudul
Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy Ratio Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia
dengan Ratio Non Performing Financial sebagai Variabel Moderating tidak pernah diajukan0untuk memperoleh gelar0kerjasama di suatu0perguruan tinggi lain dan tidak0terdapat keseluruhan atau0sebagian tulisan orang0lain yang
saya0akui seolah-olah0sebagai tulisan saya
sendiri0tanpa0memberikan0pengakuan pada0penulis aslinya. Apabila0di kemudian hari0saya0terbukti0melakukan tindakan0menyalin atau0meniru tulisan0orang lain0seolah-olah0hasil pemikiran saya sendiri, 0gelar dan0ijazah yang0telah diberikan0oleh0universitas0batal0saya terima.
Medan, 22 Juli 2019 Yang memberi pernyataan,
Jihan Amanda Putri 1770170
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DATA0PRIBADI
Nama0 : Jihan Amanda Putri
Alamat 0 : Jln. Menteng Indah VI F no.5 Tempat0/0Tanggal0Lahir : Banda Aceh, 24 Juli 1995
Agama0 : Islam
Status0Perkawinan : Belum Menikah
Nama Ayah : Daniel Yusuf
Nama Ibu : Nurbayani Sukmawati
RIWAYAT PENDIDIKAN
Tahun 2001 s.d 2007 : SD Swasta ERIA Tahun 2007 s.d 2010 : SMP Islam An nizam Tahun 2010 s.d 2013 : SMA Negeri 2 Medan
Tahun 2013 s.d 2017 : Sarjana (S1) Universitas Sumatera Utara Tahun 2017 s.d 2019 : Magister (S2) Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy Ratio Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Dengan Ratio Non
Performing Financing Sebagai Variabel Moderating Jihan Amanda Putri, Iskandar Muda, Sirojuzilam
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembiayaan murabahah, mudharabah, musyarakah, dan capital adequacy ratio secara parsial dan simultan terhadap profitabilitas pada Bank Umum Syariah di Indonesia.
Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji apakah variabel non performing financing mampu memoderasi hubungan antara masing-masing variabel pembiayaan murabahah, mudharabah, musyarakah dan capital adequacy ratio terhadap profitabilitas pada Bank Umum Syariah di Indonesia.
Populasi penelitian ini adalah Bank Umum Syariah sebanyak 13 perusahaan dengan tahun pengamatan mulai dari 2008 hingga 2017. Sampel dipilih dengan menggunakan metode sample jenuh. Metode analisis data menggunakan regresi berganda dan analisis regresi moderating.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembiayaan murabahah dan capital adequacy ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas.
Pembiayaan mudharabah berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas. Sedangkan Pembiayaan musyarakah berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas. Hasil penelitian dari variabel moderating menunjukkan bahwa non performing financing tidak memiliki pengaruh signifikan sebagai variabel moderating antara pembiayaan murabahah, mudharabah dan musyarakah terhadap profitabilitas. Sebaliknya, non performing financing memiliki pengaruh signifikan sebagai variabel moderating antara capital adequacy ratio terhadap profitabilitas.
Keyword : Murabahah, Mudharabah, Musyarakah, Capital Adequacy Ratio, Non Performing Financing, Profitabilitas.
ABSTRACT
The Effect of Murabahah, Mudharabah, Musyarakah and Capital Adequacy Ratio Financing on Profitability of Sharia Commercial Banks in Indonesia With Non
Performing Financing Ratio as Moderating Variables Jihan Amanda Putri, Iskandar Muda, Sirojuzilam
The purpose of this study was to determine the effect of murabahah, mudharabah, musyarakah, and capital adequacy ratios partially and simultaneously on profitability in Islamic Commercial Banks in Indonesia. In addition, this study also aims to test whether non-performing financing variables are able to moderate the relationship between each of the murabahah, mudharabah, musyarakah and capital adequacy ratio variables to profitability in Islamic Commercial Banks in Indonesia.
The population of this research is as many as 13 Sharia Commercial Banks with observational years starting from 2008 to 2017. The samples were selected using the saturated sample method. The method of data analysis uses multiple regression and moderating regression analysis.
The results of this study indicate that murabahah financing and capital adequacy ratios have a positive and significant effect on profitability. Mudharabah financing has a positive and not significant effect on profitability. While musyarakah financing has a negative and not significant effect on profitability.
The results of the moderating variable indicate that non-performing financing does not have a significant effect as a moderating variable between murabahah, mudharabah and musyarakah financing towards profitability. Conversely, non- performing financing has a significant effect as a moderating variable between capital adequacy ratio to profitability.
Keyword : Murabahah, Mudharabah, Musyarakah, Capital Adequacy Ratio, Non Performing Financing, Profitability.
KATA0PENGANTAR
Puji0dan syukur0penulis panjatkan0kepada Tuhan0Yang Maha0Esa,0karena atas0berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis0dapat menyelesaikan0penelitian dalam0rangka penulisan0tesis yang0berjudul “Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Padangsidimpuan”, memenuhi0salah satu persyaratan0untuk mendapatkan0gelar Magister0Sains (M.Si) pada0Program Studi0Ilmu Akuntansi Sekolah0Pascasarjana0Universitas0Sumatera0Utara.
Dalam0penyusunan dan0penyelesaikan tesis0ini peneliti0telah0banyak mendapatkan0bantuan dari0berbagai0pihak, oleh0karena itu penulis0dengan sepenuh0hati mengucapkan0terimakasih0kepada:
1. Bapak0Prof. Dr. Runtung0Sitepu, SH., 0M. Hum.
Selaku0Rektor0Universitas Sumatera0Utara.
2. Bapak0Prof. Dr. 0Ramli, SE., MS. selaku0Dekan Fakultas0Ekonomi
&0Bisnis Universitas0Sumatera0Utara.
3. Ibu0Prof. Erlina, 0SE, M.Si, Ph.D, Ak, 0CA, CMA. 0selaku 0Ketua0 Program0Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara 4. Bapak0 Dr. Iskandar Muda, SE, M.Si, Ak, CA, selaku0 Dosen Pembimbing
utama0yang telah0 memberikan bantuan0dan masukan0 dalam penyusunan0tesis0ini.
5. Bapak0Prof. Dr.Lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE. selaku0 Dosen Pembimbing 0yang telah0 memberikan bantuan0dan masukan0 dalam penyusunan0tesis0ini.
6. Ibu Prof. Erlina, 0SE, M.Si, Ph.D, Ak, 0CA, CMA. 0Bapak0Prof. Dr. HB.
Tarmizi, SU, dan0Bapak Dr. Rujiman, MA0selaku Dosen0Pembanding yang0telah memberikan0banyak masukan dan0saran kepada penulis0dalam penyempurnaan0tesis0ini.
7. Seluruh0Bapak/Ibu dosen serta Staf Administrasi0di Program0Studi Akuntansi0Sekolah0Pascasarjana Universitas0Sumatera0Utara.
8. Orang Tua papah Daniel Yusuf S.E, M.Si dan Mama Nurbayani Sukmawati dan juga seluruh keluarga yang0selalu memberikan0motivasi, 0semangat, doa0dan0dukungan baik0secara moril0maupun material0sehingga penulis0dapat0menyelesaikan tesis ini.
9. Teman-teman seperjuangan menyusun tesis dan sahabat-sahabat terbaik yang tidak0bisa disebutkan0satu per0satu dimana senantiasa memberikan0dukungan, semangat, dan motivasi0sehingga penulis0dapat menyelesaikan0tesis0ini.
Semoga0Tuhan Yang0Maha Esa0senantiasa melimpahkan0rahmat-Nya kepada0seluruh pihak0yang telah0memberikan0banyak bantuan0dan0motivasi kepada0peneliti selama0perkuliahan maupun0dalam penyusunan0tesis0ini.
Peneliti menyadari0bahwa keterbatasan0peneliti membuat0penelitian ini0menjadi0kurang sempurna,0karena itu0masih diperlukan0saran maupun0masukan dari0pembaca. Semoga0hasil penelitian0ini bermanfaat0bagi perkembangan0ilmu dan0bermanfaat bagi0penelitian0berikutnya.
Medan, 23 Juli 2019 Penulis
JIHAN AMANDA PUTRI
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. LATAR BELAKANG PENELITIAN ... 1
1.2. RUMUSAN MASALAH ... 11
1.3. PERTANYAAN PENELITIAN... 12
1.4. TUJUAN PENELITIAN ... 13
1.5. MANFAAT PENELITIAN ... 14
1.6. ORIGINALITAS ... 15
BAB II LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR ... 16
2.1. LANDASAN TEORI ... 16
2.1.1. Teori Laba Monopoli (Monopoli Theory of Profit) ... 16
2.1.2. Teori Sinyal (Signaling Theory) ... 17
2.2. TELAAH LITERATUR ... 18
2.2.1. Profitabilitas ... 18
2.2.2. Pembiayaan Murabahah ... 20
2.2.3. Pembiayaan Mudharabah ... 21
2.2.4. Pembiayaan Musyarakah ... 23
2.2.5. Capital Adequacy Ratio (CAR) ... 24
2.2.6. Non Performing Financing (NPF) ... 26
BAB III KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 31
3.1. KERANGKA PENELITIAN ... 31
3.2. HIPOTESIS PENELITIAN ... 32
BAB IV METODE PENELITIAN ... 38
4.1. JENIS DAN SUMBER DATA ... 38
4.1.1. Jenis Data ... 38
4.1.2. Sumber Data ... 38
4.2. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN ... 39
4.3. BATASAN PENELITIAN ... 40
4.4. METODE PENGUMPULAN DATA ... 41
4.5. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL ... 41
4.5.1. Variabel Independen (X) ... 42
4.5.2. Variabel Dependen (Y) ... 44
4.5.3. Variabel Moderating (Z) ... 45
4.6. METODE ANALISIS DATA ... 47
4.6.1. Uji Asumsi Klasik ... 47
4.6.2. Pemilihan Metode Estimasi... 49
4.6.4. Pengujian Hipotesis ... 52
4.6.5. Pengujian Variabel Moderating ... 53
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 55
5.1. ANALISIS STATISTIK DESKRIPTIF ... 55
5.2. UJI ASUMSI KLASIK ... 57
5.2.1. Uji Normalitas ... 57
5.2.2. Uji Multikolinearitas ... 57
5.2.3. Uji Autokorelasi ... 58
5.2.4. Uji Heteroskedastisitas ... 59
5.3. PENGUJIAN HIPOTESIS ... 61
5.4. PEMBAHASAN ... 64
5.4.1. Pengaruh Pembiayaan Murabahah terhadap profitabilitas ... 64
5.4.2. Pengaruh Pembiayaan Mudharabah terhadap profitabilitas ... 66
5.4.3. Pengaruh Pembiayaan Musyarakah terhadap profitabilitas ... 67
5.4.4. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap profitabilitas .. ... 68
5.4.5. Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas. ... 69
5.4.6. Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap Profitabilitas. ... 71
5.4.7. Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap Profitabilitas. .. 72
5.4.8. Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Capital Adequacy Ratio Terhadap Profitabilitas. ... 73
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
6.1. KESIMPULAN ... 75
6.2. Keterbatasan Penelitian... 75
6.3. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 78
LAMPIRAN 1 ... 81
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1Jumlah Pembiayaan yang disalurkan ... 10
Tabel 1 2 Originalitas Penelitian ... 15
Tabel 2.1 Kriteria Kesehatan ROA ... 20
Tabel 2.2 Kriteria Kesehatan CAR ... 26
Tabel 2.3 Kriteria Kesehatan Non Performing Financing (NPF) ... 30
Tabel 4.1 Populasi dan Sampel Penelitian ... 40
Tabel 4.2 Tabel Pengukuran Operasional Variabel-Variabel Penelitian ... 46
Tabel 5.1 Statistik Deskriptif ... 55
Tabel 5.2 Uji Multikolinearitas dengan Matriks Korelasi ... 58
Tabel 5.3 Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ... 59
Tabel 5.4 Uji Heteroskedastisitas (Uji Breusch-Pagan) ... 59
Tabel 5.5 Hasil dari Uji Chow ... 60
Tabel 5.6 Hasil dari Uji Hausman ... 60
Tabel 5.7 Uji Signifikansi NPF Dalam Memoderasi Pengaruh Murabahah Terhadap ROA ... 63
Tabel 5.8 Uji Signifikansi NPF Dalam Memoderasi Pengaruh Mudharabah terhadap ROA... 63
Tabel 5.9 Uji Signifikansi NPF Dalam Memoderasi Pengaruh Musyarakah terhadap ROA... 63
Tabel 5.10 Uji Signifikansi NPF Dalam Memoderasi Pengaruh CAR terhadap ROA ... 64
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Profitabilitas Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah
Tahun 2013-2017 Berdasarakan ROA (%) ... 2
Gambar 2 .1 Skema Bai’ Al- Murabahah... 21
Gambar 2 .2 Skema Al- Mudharabah ... 22
Gambar 2.3 Skema Al-Musyarakah ... 24
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual ... 31
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Untuk melakukan kegiatan bisnis para pelaku usaha membutuhkan modal dana yang cukup besar, sehingga sebagian besar pelaku bisnis bekerjasama dengan pihak bank. Pihak bank berperan sebagai lembaga intermediasi antara bank dan masyarakat, yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan disalurkan kembali kepada masyarakat untuk kegiatan yang dapat meningkatkan taraf hidup.
Perekonomian pasti ada hubungannya dengan dunia keuangan dan perbankan. Pertumbuhan ekonomi tergantung dari baik atau buruknya keadaan keuangan negara dan peran perbankan berjalan dengan lancar atau tidak. Seiring keadaan Perekonomian Indonesia yang sedikit memburuk dengan penurunan nilai tukar rupiah, maka masyarakat mulai banyak mencari penghasilan melalui kegiatan bisnis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berjalannya kegiatan bisnis tersebut membutuhkan modal dana yang cukup besar, sehingga kebanyakan dari masyarakat pebisnis bekerjasama dengan pihak bank.
Perkembangan kelembagaan perbankan syariah semakin meningkat sejak dikeluarkannya Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan.
Keberadaan bank syariah ditengah-tengah perbankan konvesional adalah untuk menawarkan sistem perbankan bagi umat islam yang membutuhkan. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran
2
industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan (OJK, 2017). Pertumbuhan aset tersebut menunjukkan bahwaBank Umum Syariah di Indonesia berkembang dengan pesat. Namun yang menjadi kontroversi adalah adanya fenomena bahwa Bank Umum Syariah memiliki nilai ROA yang lebih rendah dibanding Bank Umum Konvensional.
Untuk melihat profitabilitas Bank Umum Syariah dan Bank Umum Konvensional berikut disajikan nilai return on asset (ROA) selama kurun waktu 5 tahun berturut-turut.
Gambar 1.1 Profitabilitas Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah Tahun 2013-2017 Berdasarakan ROA (%) Sumber : Statistik Perbankan Syariah OJK per Desember 2017
Gambar 1.1 memperlihatkan perubahan angka dari rasio profitabilitas yang dicapai Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah menggunakan indikator ROA (Return On Asset) yang diperoleh dari tahun 2013-2017. Nilai ROA pada Bank Umum Syariah pada tahun 2013 sebesar 2% dan turun pada tahun 2014 sebesar 0,8% kemudian naik 1,15% pada tahun 2015 dan 2016 sebesar
1,2% dan kembali meningkat pada tahun 2017 sebesar 1,55%. Angka tersebut sudah termasuk dalam kriteria yang sehat dimana kriteria yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) mengenai tingkat kesehatan faktor earning yaitu ROA>1,5%.
Gambar 1.1 juga memperlihatkan nilai ROA Bank Umum Konvensional pada tahun 2013 sebesar 3,13 % kemudian terus mengalami penurunan dari tahun 2014 (3,08%), 2015 (2,85%), 2016 (2,32%) dan 2017 (2,23%). Walaupun ROA pada Bank Umum Konvensional tiap tahun mengalami penurunan pada tahun 2013-2017, namun ROA pada Bank Umum Syariah lebih rendah dibanding Bank Umum Konvensional. Hal ini berati Bank Umum Konvensional memiliki profitabilitas yang lebih baik dalam penggunaan dan pengolahan aset yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan. Nilai ROA pada Bank Umum Syariah menunjukkan bahwa bank umum syariah di Indonesia kurang baik dalam mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan laba. Penurunan ROA di perbankan syariah Indonesia tentu akan berdampak pada penurunan pendapatan laba industri perbankan di Indonesia.
Kemampuan bank syariah dalam mencetak profitabilitas lebih rendah dibandingkan bank konvensional. Profitabilitas bank syariah lebih rendah dibandingkan bank konvensional, disebabkan karena biaya operasional yang lebih tinggi dan pembiayaan bermasalah yang meningkat. Produk produk pembiayaan di dalam perbankan syariah tentunya akan memberikan keuntungan bagi pihak bank. Keuntungan tersebut dapat dilihat dari profitabilitas yang diukur menggunakan rasio keuangan. Rasio merupakan pedoman yang bermamfaat untuk mengevaluasi kegiatan kegiatan keuangan perusahaan. Rasio keuangan yang
4
digunakan dalam penelitian ini adalah rasio ROA (Return On Asset). Return on asset adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan atas keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktivitas yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Alasan penggunaan variabel profitabilitas yang diproksikan dengan ROA dalam penelitian ini adalah karena ROA memiliki banyak keunggulan, salah satunya adalah ROA dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh, yang sensitif terhadap setiap hal yang mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan.
Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank, dan semakin baik pula posisi bank dari segi penggunaan aset (Dendawijaya, 2009).
Dalam penggunaan assetnya serta operasional bank syariah sama halnya dengan bank konvensional yaitu berfungsi untuk mengerahkan dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana-dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan, dengan memanfaatkan aktiva produktif yang dimiliki bank.
Komponen aktiva produktif yang dimiliki bank syariah salah satunya adalah pembiayaan. Pembiayaan adalah salah satu produk usaha bank syariah yang mampu menghasilkan keuntungan. Pembiayaan mempunyai dua lingkup arti, diantaranya pembiayaan secara luas berarti financing, yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dijalankan oleh orang lain. Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai
untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan, seperti bank syariah kepada nasabah (Muhammad, 2005).
Didalam jasa pembiayaan perbankan syariah pembiayaan yang terkenal yaitu pembiayaan dengan prinsip bagi hasil diantaranya yaitu pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah serta ada juga pembiayaan dengan prinsip jual beli diantaranya yaitu pembiayaan murabahah. Penambahan variabel pembiayaan murabahah dalam penelitian ini karena pembiayaan murabahah juga merupakan pembiayaan yang paling mendominasi pada bank syariah. Sehingga pendapatan yang diperoleh dari pembiayaan jual beli menjadi pendapatan terbesar perbankan syariah, yang pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan.
Murabahah menggunakan prinsip jual beli dimana bank berperilaku sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Keuntungan disepakati bersama saat transaksi dilaksanakan. Misalnya, nasabah datang ke bank syariah untuk meminta pembiayaan konsumtif seperti rumah atau mobil, maka pembiayaan yang cocok adalah pembiayaan dengan akad jual beli murabahah.
Bedasarkan penelitian (Muslim & Muhammad, 2014) menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh positif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Dapat disimpulkan bila pembiayaan murabahah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan naik sebesar 2,4%. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Rivai, 2017) yang menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas.
Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil dengan akad mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara bank sebagai pemilik dana (shahibul maal) dengan
6
nasabah sebagai pengusaha atau pengelola dana (mudharib), untuk melakukan usaha dengan nisbah bagi hasil (keuntungan atau kerugian) menurut kesepakatan dimuka. (Nabhan, 2008)
Bedasarkan penelitian (Fadholi, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA. Hasil estimasi, sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah berpengaruh terhadap rasio ROA bank umum syariah di Indonesia.
Hasil ini konsisten dengan penelitian dari (Wicaksana, 2011). Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Rivalah, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas BPR syariah. Pengaruh negatif ini dikarenakan resiko dari pembiayaan mudharabah bila terjadi kerugian akan berdampak pada tingkat pengembalian modal tersebut.
Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil lainnya yaitu pembiayaan dengan akad musyarakah, merupakan suatu bentuk akad kerjasama perniagaan antara beberapa pemilik modal untuk menyertakan modalnya dalam suatu usaha, dimana masing-masing pihak mempunyai hak untuk ikut serta dalam pelaksanaan manajemen usaha tersebut. keuntungan dibagi menurut proporsi peyertaan modal atau berdasarkan kesepakatan bersama (Yudiana, 2014).
Bedasarkan penelitian (Rivai, 2017) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah. Pembiayaan musyarakah merupakan komponen pembiayaan bagi hasil yang memiliki pemasukan cukup besar bagi perbankan syariah sehingga berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian (Muslim dan Arfan, 2014) yang menyatakan pembiayaan musyarakah berpengaruh negatif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Artinya bila pembiayaan musyarakah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan turun sebesar 12,7%. Hal tersebut diduga karena pembiayaan musyarakah yang disalurkan oleh Bank Syariah selama 5 tahun (2010-2014) sangat kecil.
Pengaruh negatif juga dapat dikarenakan usaha yang dijalankan nasabah dari pembiayaan musyarakah tidak berjalan lancar atau mengalami kerugian, sehingga bagi hasil yang diperoleh Bank Syariah sebagai pendapatan juga menurun.
Rasio permodalan yang lazim digunakan untuk mengukur kesehatan bank adalah Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio kecukupan modal merupakan rasio yang bertujuan untuk memastikan bahwa bank dapat menyerap kerugian yang timbul dari aktivitas yang dilakukannya (Lukman, 2009).
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko.
Pada umumnya CAR dihitung dengan membandingkan modal dan aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR), perhitungan untuk ATMR itu sendiri terdapat dalam peraturan perbankan yang melibatkan on balance sheet dan off balance sheet (rekening administratif) dengan bobot presentase tertentu. CAR
8
juga dapat dihitung dengan membandingkan selisih antara modal dan fixed assets dengan selisih total pinjaman dan sekuritas.
Teori tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nusantara, 2009) yang menguji pengaruh CAR terhadap ROA, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh yang positif terhadap ROA bank.
Akan tetapi hal ini tidak sejalan dengan penelitian (Almunawwaroh & Marliana, 2018) yang menyatakan nilai CAR berpengaruh negatif terhadap profitabilitas.
CAR pada bank syariah di Indonesia pada tahun 2009-2016 yang tinggi tidak menyebabkan profitabilitas yang tinggi. Jika dilihat dari kondisi empiris dari obyek penelitian, maka akan tampak bahwa sebagian besar bank syariah mempunyai CAR di atas 8% dan memiliki rata-rata CAR sebesar 14,8%. Hal ini dapat disebabkan karena bank syariah yang beroperasi pada tahun 2009-2016 tidak mengoptimalkan dana yang ada. Hal ni dapat terjadi karena peraturan Bank Indonesia yang mensyaratkan CAR minimal 8% mengakibatkan bank syariah berusaha selalu menjaga agar CAR yang dimiliki sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Kecukupan modal berperan sebagai pertahanan akhir suatu bank dalam menyelesaikan kewajibannya pada pihak ketiga apabila saat kondisi tertentu bank mengalami kerugian yang cukup tinggi dari kegiatan operasionalnya (Mulyono, 1995). Berkaitan dengan penyaluran dananya kepada masyarakat, tidak semua dana yang dimiliki oleh perbankan dapat disalurkan kepada masyarakat.
Perbankan harus menyediakan dana cadangan atau yang lebih dikenal dengan rasio kecukupan modal perbankan. Rasio kecukupan modal perbankan bertujuan
untuk memelihara kesehatan bank. Hal ini sangat diperlukan ketika bank di khawatirkan akan mengalami kerugian.
Rasio kecukupan modal juga akan sangat membantu dalam mempersiapkan diri untuk mengantisipasi adanya penuruan asset. Hal tersebut merupakan hal yang sering terjadi akibat adanya aktiva yang seringkali berisiko.
Semakin meningkatnya produk pembiayaan dalam bank syariah akan mendatangkan resiko perbankan yang besar pula, salah satunya yaitu resiko pembiayaan. Produk investasi memiliki sifat yang senantiasa mendatangkan resiko, pembiayaan pun mengalami ketidakpastian atas pengembalian laba atau keuntungan dari dana yang telah di sepakati antara bank dan nasabah. Adanya ketidakpastian tersebut membawa resiko yang tinggi bagi bank syariah sebagai penyalur dana atas pembiayaan tersebut (Karim, 2004). Tingginya resiko pembiayaan tercemin dari rasio pembiayaan bermasalah yang sering dikenal sebagai Non Performing Financing (NPF). Pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing) berarti pembiayaan yang dalam pelaksanaanya belum mencapai atau memenuhi target yang diinginkan pihak bank seperti pengembalian pokok atau bagi hasil yang bermasalah. Semakin besar NPF maka akan semakin rendah profitabilitas perbankan syariah yang dihitung dengan Return On Asset (ROA).
Pada penelitian (Wahyuni, 2016) menyatakan bahwa NPF memoderasi pengaruh volume pembiayaan berbasis bagi hasil terhadap kinerja bank umum syariah yang diproksikan dengan ROA. Pada akad pembiayaan bagi hasil, bank umum syariah memiliki kewajiban untuk ikut menanggung resiko investasi yang
10
mungkin memiliki tingkat resiko yang tinggi. Hal ini dapat memunculkan perbedaan kepentingan (agency theory) antara pihak bank umum syariah dengan pihak mudharib (nasabah) sebagai pengelola usaha.
Dapat juga kita lihat di dalam penelitian (Imam, 2017) menyatakan bahwa Non performing financing memoderasi antar capital adequacy ratio dan return on asset. Hal ini berarti bahwa non performing financing merupakan variabel moderating yang memperlemah hubungan antara capital adequacy ratio dengan return on asset. Semakin kecil non performing financing yang dimiliki perusahaan maka perusahaan memiliki potensi return on asset yang tinggi pada tahun berikutnya apabila perusahaan juga memiliki capital adequacy ratio yang tinggi.
Tabel 1.1 Jumlah Pembiayaan yang disalurkan Tahun Pembiayaan
Murabahah
Pembiayaan Mudharabah
Pembiayaan Musyarakah
CAR
%
NPF
%
ROA
% 2013 3.546.361 106.851 426.528 22,08 6,50 2,79 2014 3.965.543 122.467 567.658 22,77 7,89 2,26 2015 4.491.697 168.516 652.316 21,47 8,20 2,20 2016 5.053.764 156.256 774.949 21,73 8,63 2,27 2017 5.904.751 124.497 776.696 20,81 9,68 2,55 Sumber: Otoritas Jasa Keuangan 2017
Berdasarkan tabel di atas, bahwa pembiayaan yang paling mendominasi pada perbankan syariah adalah pembiayaan murabahah, kemudian pembiayaan musyarakah, dan terakhir pembiayaan mudharabah. Realisasi yang selalu diharapkan tentu jika pembiayaan naik, maka ROA dan CAR naik maka NPF menurun. Dapat dilihat pada tahun 2013 sampai tahun 2017 ROA mengalami penurunan dan peningkatan secara fluktuatif. Pembiayaan yang terus meningkat ternyata belum mampu membuat persentase ROA ikut meningkat. ROA pada
tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 0,53% dan persentase rasio CAR yang meningkat sebesar 0,69%, sementara NPF yang meningkat sebesar 1,39%. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah pembiayaan yang meningkat ternyata memberikan potensi CAR dan ROA yang meningkat dan ternyata juga memberikan potensi pembiayaan bermasalah (NPF) yang meningkat pula.
Berdasarkan data, fenomena dan berbagai pemikiran yang telah dilakukan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy Ratio (CAR.) Terhadap Profitabilitas Pada Bank Umum Syariah di Indonesia dengan Ratio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel moderating ”.
1.2. Rumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang di atas, maka ditentukan rumusan masalah dalam penelitian ini, bank umum syariah dalam menghasilkan laba masih lebih rendah dibandingkan dengan bank konvensional. Bank umum syariah tidak selalu dapat mempertahankan profitabilitasnya. Meningkatnya pembiayaan yang diperoleh bank syariah seperti pembiayaan murabahah, mudarabah dan musyarakah belum mampu meningkatkan profitabilitas bank syariah dikarenakan banyaknya pembiayaan bermasalah (NPF) yang muncul. Selain itu, peningkatan CAR juga terbukti belum mampu memperbaiki profitasbilitas bank syariah.
Ketidakmampuan bank syariah dalam meningkatkan profitabilitas menyisakan tanda tanya besar. Lalu apakah pembiayaan murabahah, mudharabah, musyarakah dan CAR memiliki pengaruh terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Selain itu apakah NPF dapat memoderasi pengaruh tersebut.
12
Penelitian ini akan mencoba membuktikan pengaruh variabel tersebut secara empiris. Oleh karena itu peneliti menilai perlu adanya tindak lanjut akan hal ini terhadap pembiayaan yang menjadi kegiatan penyalur dana dalam menghasilkan laba (profitabilitas).
1.3. Pertanyaan Penelitian
Dari latar belakang tersebut, maka dapat muncul beberapa pertanyaan yang menjadi rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah pembiayaan murabahah berpengaruh terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
2. Apakah pembiayaan mudharabah berpengaruh terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
3. Apakah pembiayaan musyarakah berpengaruh terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
4. Apakah rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
5. Apakah Non Performing Financing (NPF) memoderasi pengaruh pembiayaan murabahah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
6. Apakah Non Performing Financing (NPF) memoderasi pengaruh pembiayaan mudharabah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
7. Apakah Non Performing Financing (NPF) memoderasi pengaruh pembiayaan musyarakah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
8. Apakah Non Performing Financing (NPF) memoderasi pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia?
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh pembiayaan murabahah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengaruh pembiayaan mudharabah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
3. Untuk mengetahui pengaruh pembiayaan musyarakah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
4. Untuk mengetahui pengaruh rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
5. Untuk mengetahui Non Performing Financing (NPF) dalam memoderasi pengaruh pembiayaan murabahah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
6. Untuk mengetahui Non Performing Financing (NPF) dalam memoderasi pengaruh pembiayaan mudharabah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
7. Untuk mengetahui Non Performing Financing (NPF) dalam memoderasi pengaruh pembiayaan musyarakah terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
14
8. Untuk mengetahui Non Performing Financing (NPF) dalam memoderasi Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak antara lain:
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menjadi bahan referensi untuk melakukan penelitian, khususnya yang berhubungan dengan pengaruh Bagi Perusahaan. Dapat menjadi suatu masukan mengenai bagaimana Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Profitabilitas Pada Bank Umum Syariah di Indonesia dengan Ratio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel moderating.
2. Bagi Akademisi
Memberikan tambahan literatur untuk membantu dalam pengembangan ilmu akuntansi yang terkait dengan Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap Profitabilitas Pada Bank Umum Syariah di Indonesia dengan Ratio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel moderating.
3. Bagi Peneliti
Untuk menambah dan mengembangkan wawasan pengetahuan peneliti khususnya mengenai Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy ratio (CAR) Terhadap Profitabilitas Pada
Bank Umum Syariah di Indonesia dengan Ratio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel moderating.
1.6. Originalitas
Penelitian ini merupakan pengembangan dari (Putri, 2016) yang berjudul Analisis Pengaruh DPK, Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah Terhadap Profitabilitas dengan NPF sebagai Moderasi pada Bank Umum Syariah di Indonesia. Beberapa perbedaan dalam penelitian ini penulis sajikan pada tabel 1.2 berikut ini:
Tabel 1 2 Originalitas Penelitian
No Keterangan Penelitian Terdahulu
Penelitian Sekarang 1 Variabel Independen DPK, Pembiayaan
Mudharabah dan Musyarakah
Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Capital Adequacy ratio (CAR) 2 Variabel Dependen Profitabilitas Profitabilitas
3 Variabel Moderating NPF NPF
4 Tempat Penelitian Bank Umum
Syariah di
Indonesia (2011- 2015)
Bank umum
syariah di
Indonesia (2008- 2017)
Sumber: diolah oleh peneliti 2018
Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian terdahulu dengan menambahkan 2 (dua) variabel baru yaitu Pembiayaan Murabahah, dan juga capital adequacy ratio (CAR) sebagai variabel independen. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada penambahan variabel baru, waktu penelitian, serta metode pengolahan data yang digunakan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Teori Laba Monopoli (Monopoli Theory of Profit)
Teori ini mengatakan bahwa beberapa perusahaan dengan kekuatan monopoli dapat membatasi output dan menetapkan harga yang lebih tinggi daripada bila perusahaan beroperasi dalam kondisi persaingan sempurna. Dengan demikian perusahaan menikmati keuntungan. Kekuatan monopoli ini dapat diperoleh melalui :
a. Penguasaan penuh atas supply bahan baku tertentu b. Skala ekonomi
c. Kepemilikan hak paten, atau d. Pembatasan daerah Pemerintah
Penjelasan lain tentang keuntungan di atas normal menghubungkan mereka dengan kekuatan monopoli yang dinikmati oleh perusahaan. Perusahaan dengan kekuatan monopoli membatasi output dan membebankan harga lebih tinggi daripada di bawah persaingan sempurna. Ini menyebabkan keuntungan di atas normal diperoleh oleh perusahaan monopolistik.
Laba sebagai suatu alat prediktif yang membantu dalam peramalan laba mendatang dan peristiwa ekonomi yang akan datang. Nilai laba di masa lalu, yang didasarkan pada biaya historis dan nilai berjalan, terbukti berguna dalam meramalkan nilai mendatang. Laba terdiri dari hasil opersional atau laba biasa dan
hasil-hasil nonoperasional atau keuntungan dan kerugian luar biasa di mana jumlah keseluruhannya sama dengan laba bersih. Laba bisa dipandang sebagai suatu ukuran efisiensi. Laba adalah suatu ukuran kepengurusan (stewardship) manajemen atas sumberdaya suatu kesatuan dan ukuran efisiensi manajemen dalam menjalankan usaha suatu perusahaan.
2.1.2. Teori Sinyal (Signaling Theory)
Signaling theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan manajemen untuk merealisasi kan pemilik. Sinyal dapat promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut baik daripada perusahaan lain (Jama’an, 2008).
Signalling theori menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (investor dan kreditor). Kurangya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan meyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan mmberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi informasi asimetri adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar.
18
Secara garis besar signalling theory erat kaitanya dengan ketersedian informasi. Laporan keuangan dapat digunakan untuk mengambil keputusan bagi para investor, laporan keuangan merupakan bagian terpenting dari analisi fundamental perusahaan. Pemeringkatan perusahaan yang telah go-public lazimnya didasarkan pada analisis rasio keuangan ini. Analisis ini dilakukan untuk mempermudah interpretasi terhadap laporan keuangan yang telah disajikan oleh manajemen.
Penggunaan teori signalling, informasi berupa ROA atau tingkat pengembalian terhadap aset atau juga seberapa besar laba yang didapat dari aset yang digunakan, dengan demikian jika ROA tinggi maka akan menjadi sinyal yang baik bagi para investor, karena dengan ROA tinggi menunjukkan kinerja perusahaan tersebut baik maka investor akan tertarik untuk menginvestasikan dananya yang berupa surat berharga atau saham. Permintaan saham yang banyak maka harga saham akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan baik, sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat.
2.2. Telaah Literatur 2.2.1. Profitabilitas
Profitabilitas (keuntungan) merupakan hasil dari kebijaksanaan yang diambil oleh manajemen. Rasio keuntungan untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapatdiperoleh oleh perusahaan. Semakin besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik manajemen dalam mengelola perusahaan (Biegel & John, 1992). Profitabilitas adalah ukuran spesifik dari performance
sebuah bank, dimana ia merupakan tujuan dari manajemen perusahaan dengan memaksimalkan nilai dari para pemegang saham, optimalisasi dari berbagai tingkat return dan minimalisasi resiko yang ada. Profitabilitas bank merupakan suatu kemampuan bank dalam menghasilkan laba.
Kemampuan ini dilakukan dalam suatu periode. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara profitabilitas atau rentabilitas yang terus meningkat diatas standar yang ditetapkan. Menurut (Riyadi, 2006), rasio profitabilitas adalah perbandingan laba (setelah pajak) dengan modal (modal inti) atau laba (sebelum pajak) dengan total aset yang dimiliki bank pada periode tertentu, untuk memperolehlaba diatas rata-rata, manajemen harus mampu meningkatkan pendapatandan mampumengurangi semua beban atas pendapatan (Darsono, 2006) manajemen harus memperluas pangsa pasar dengan tingkat harga yang menguntungkan dan menghapuskan aktivitas yang tidak bernilai tambah. Rasio Profitabilitas dapat diukur dengan Return On Asset.
Return on Asset (ROA) adalah salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Rasio profitabilitas ini sekaligus menggambarkan efisiensi kinerja bank yang bersangkutan. Semakin besar Return on Asset (ROA) suatu bank maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut, dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset.
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/11/DPNP tanggal 31 Maret 2010 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan prinsip Syariah, Return on Asset (ROA) didapat dengan cara mambagi laba
20
sebelum pajak dengan rata-rata total aset dalam suatu periode, rumus yang digunakan untuk mencari Return on Asset (ROA) adalah sebagai berikut (Bank Indonesia):
Rasio ini menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan.
Semakin besar rasio ini semakin baik.Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan memperoleh laba.
Tabel 2.1 Kriteria Kesehatan ROA
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat ROA > 1,5%
2 Sehat 1.25% < ROA ≤ 1,5%
3 Cukup Sehat 0,5% < ROA ≤ 1,25%
4 Kurang Sehat 0% < ROA ≤ 0,5%
5 Tidak Sehat ROA ≤ 0%
Sumber : Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004
2.2.2. Pembiayaan Murabahah
Prinsip ini merupakan suatu sistem yang menerapkan tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah keuntungan (margin).
Bai’ al-murabahah pada dasarnya adalah transaksi jual beli barang dengan tambahan keuntungan yang disepakati, untuk memenuhi kebutuhan barang oleh nasabahnya, bank membeli barang dari supplier sesuai dengan spesifikasi barang yang dipesan atau dibutuhkan nasabah, kemudian bank menjual kembali barang
tersebut kepada nasabah dengan memperoleh margin keuntungan yang disepakati.
Nasabah sebagai pembeli dalam hal ini dapat memilih jenis transaksi tunai, cicilan, atau tagguhan. Umumnya, nasabah memilih metode pembayaran secara cicilan, untuk mengetahui skema al-Murabahah, dapat dilihat pada Gambar 2. 3 di bawah ini:
Gambar 2 .1 Skema Bai’ Al- Murabahah Sumber : Antonio (2001)
Bedasarkan penelitian (Muslim & Muhammad, 2014) menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh positif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Dapat disimpulkan bila pembiayaan murabahah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan naik sebesar 2,4%.
2.2.3. Pembiayaan Mudharabah
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan. Bentuk ini menegaskan paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-mal dan keahlian dkari mudharib.
Ketentuan umum skema pembiayaan mudahrabah adalah sebagai berikut: Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal harus diserahkan
22
tunai dan dapat berupa uang atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap harus jelas tahapannya dan disepakati bersama. Hasil dari pengelolaan pembiayaan mudharabah dapat diperhitungkan dengan cara, yakni: perhitungan dari pendapatan proyek (revenue sharing) perhitungan dari keuntungan proyek (profit sharing).
Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola.
Seandainya kelalaian diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut. Untuk mengetahui skema al-mudharabah, dapat dilihat pada Gambar 2.2 dibawah ini:
Gambar 2 .2 Skema Al- Mudharabah Sumber : (Antonio, 2001)
Berdasarkan penelitian (Fadholi, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA. Hasil ini konsisten dengan penelitian dari (Wicaksana, 2011) sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah berpengaruh terhadap rasio ROA bank umum syariah di Indonesia.
2.2.4. Pembiayaan Musyarakah
Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama sama.
Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih di mana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Secara spesifik bentuk kontribusidari pihak yang bekerja sama dapat berupa dana, barang perdagangan, kewiraswastaan, kepandaian, kepemilikan, peralatan atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang.
Musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
Untuk mengetahui skema al-Musyarakah, dapat dilitah pada Gambar 2.1 di bawah ini:
24
Gambar 2.3 Skema Al-Musyarakah Sumber : (Antonio, 2001)
Bedasarkan penelitian (Rivai, 2017) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah. Pembiayaan musyarakah merupakan komponen pembiayaan bagi hasil yang memiliki pemasukan cukup besar bagi perbankan syariah sehingga berpengaruh positif terhadap profitabilitas.
2.2.5. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Menurut (Koncoro, 2002) mengemukakan bahwa CAR adalah rasio kecukupan modal yang harus disediakan untuk menjamin dana deposan.
Tujuannya adalah agar likuiditas/kemampuan bank membayar kepada deposan cukup terjamin. Modal merupakan salah satu faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung resiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko darisetiap kredit/aktiva produktif yang berisiko. Perhitungan penyediaan modal minimum atau kecukupan modal bank didasarkan pada rasio atau perbandingan
antara modal yang dimiliki bank dan jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Modal sendiri adalah total modal yang berasal dari perusahaan (bank) yang terdiri dari modal disetor, laba tak dibagi, dan cadangan yang dibentuk bank.
Sedangkan ATMR adalah merupakan penjumlahan ATMR aktiva neraca (aktiva yang dalam neraca) dan ATMR aktiva administrasif (aktiva yang bersifat administrative).
Langkah-langkah perhitungan penyediaan modal minimum bank adalah sebagai berikut (Ali, 2004):
1. ATMR aktiva neraca dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal masing masing aktiva yang bersangkutan dengan bobot resiko dari masing-masing posaktiva neraca tersebut.
2. ATMR aktiva administratif dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal rekening administratif yang bersangkutan dengan bobot sisiko dari masing masing pos rekening tersebut.
3. Total ATMR = ATMR aktiva neraca + ATMR aktiva administratif.
4. Rasio modal bank dihitung dengan cara membandingkan antara modal bank (modal inti + modal pelengkap) dan total ATMR. Rasio tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan :
ATMR = Aset Tertimbang Menurut Resiko
26
Hasil perhitungan rasio modal bank kemudian dibandingkan dengan kewajiban penyediaan modal minimum (yakni sebesar 8%). Berdasarkan perbandingan tersebut, dapatlah diketahui apakah bank yang bersangkutan telah memenuhi ketentuan kecukupan modal atau tidak.
Modal merupakan faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/ aktiva produktif yang berisiko. Modal disini meliputi: modal disetor maupun dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan.
Tabel 2.2 Kriteria Kesehatan CAR
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat CAR > 12%
2 Sehat 9% ≤ CAR < 12%
3 Cukup Sehat 8% ≤ CAR < 9%
4 Kurang Sehat 6% < CAR < 8%
5 Tidak Sehat CAR ≤ 6%
Teori tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nusantara, 2009) yang menguji pengaruh CAR terhadap ROA, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh yang positif terhadap ROA bank.
2.2.6. Non Performing Financing (NPF)
Non Performing Loan (NPL) pada bank konvensional atau pada bank Syariah disebut Non Performing Financing (NPF), merupakan rasio keuangan
yang berkaitan dengan risiko pembiayaan yang diberikan oleh bank, sehingga rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah yang diberikan oleh bank kepada nasabah. (Rivai &
Arviyan, 2010) menyatakan bahwa pembiayaan bank menurut kualitasnya pada hakikatnya didasarkan atas risiko kemungkinan menurut bank terhadap kondisi dan kepatuhan nasabah pembiayaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban untuk membayar bagi hasil, mengangsur, serta melunasi pembiayaan kepada bank. Jadi, unsur utama dalam menentukan kualitas tersebut meliputi waktu pembiayaan bagi hasil, pembayaran angsuran maupun pelunasan pokok pembiayaan dan diperinci sebagai berikut:
1. Pembiayaan Lancar (Pass)
Pembiayaan yang digolongkan kedalam pembiayaan lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu b. Memiliki mutasi rekening yang aktif
c. Bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan angunan tunai (cash collateral)
2. Perhatian Khusus (Special Mention)
Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan dalam perhatian khusus apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang belum melampaui 90 hari
b. Mutasi rekening relatif aktif
28
c. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan d. Didukung oleh pinjaman baru
3. Kurang Lancar (Substandard) Capital Adequacy Ratio (CAR)
Modal merupakan faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/ aktiva produktif yang berisiko. Modal disini meliputi: modal disetor maupun dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan. Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan kurang lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90 hari
b. Sering terjadi cerukan
c. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah
d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari
e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur f. Dokumentasi pinjaman yang lemah
4. Diragukan (Doubtful) Pembiayaan yang digolongkan kedalam pembiayaan diragukan apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 180 hari
b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen
c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari d. Terjadi kapitalisasi bunga
e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian pembiayaan maupun peningkatan jaminan
5.2.1. Macet (Loss) Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan macet apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 270 hari
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru
c. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar
(Sumber: Rivai dan Veithzal, 2008)
Dari sekian kriteria kualitas pembiayaan di atas, maka akan dapat menentukan rasio Non Performing Financing (NPF). Semakin tinggi rasio NPF maka semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar, maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Total pembiayaan dalam hal ini adalah pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk pembiayaan pada bank lain.
Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet. (Muhammad, 2005) menyatakan besarnya nilai NPF suatu bank dapat dihitung dengan rumus di bawah ini:
30
Rasio tersebut ditujukan untuk mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi bank syariah. Dimana semakin tinggi rasio ini menunjukkan kualitas pembiayaan bank syariah semakin buruk. Nilai rasio ini kemudian dibandingkan dengan kriteria kesehatan NPF bank syariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia seperti yang tertera dalam Tabel 2.3
Tabel 2.3 Kriteria Kesehatan Non Performing Financing (NPF)
No. Nilai NPF Predikat
1 NPF>2% Sehat
2 2%≤NPF≤8% Sehat
3 5%≤NPF≤8% Cukup Sehat
4 8%≤NPF≤12% Kurang Sehat
Besarnya NPF menjadi salah satu penghambat tersalurnya pembiayaan perbankan. Peningkatan pembiayaan bermasalah ini menimbulkan pembentukan cadangan pembiayaan bermasalah ini menjadi semakin besar. Kerugian pembiayaan merupakan biaya yang berarti menurunkan laba. Tingginya nilai NPF dapat berdampak pada kesehatan bank. Semakin besar NPF maka semakin besar pula kerugian yang dialami bank, yang kemudian akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan bank. Keuntungan yang berkurang akan mengakibatkan total asset bank tersebut juga ikut berkurang (Medina & Rina, 2018). Penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian (Nugroho, 2011) menyatakan bahwa NPF berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
BAB III
KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, kemudian disusun konsep penelitian yang merupakan hubungan logis dari landasan teori dan kajian empiris yang0dapat0digambarkan0sebagai0berikut:
b
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
Penelitian ini mengukur pembiayaan murabahah, pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, capital adequacy ratio terhadap profitabilitas bank umum syariah dengan ratio non performing financing memoderasi. Penelitian ini diukur melalui laporan keuangan dan annual report yang di publis ke publik.
Pengungkapan yang baik oleh bank syariah diharapkan mampu menjawab ekspetasi deposan terkait sumber dana untuk melakukan operasional dan pengelolaan dana yang sesuai dengan aturan aturan syariah.
Pembiayaan Murabahah (X1)
Pembiayaan Mudharabah (X2)
Pembiayaan Musyarakah (X3)
Capital Adequacy Ratio (X4)
Profitabilitas Bank Umum Syari’ah
(Y)
Non Perfoming Financing
(NPF)
32
3.2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang menjadi objek penelitian dimana kebenarannya masih perlu untuk diuji. Penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut :
3.2.1 Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli (Adiwarman, 2008).
Pembiayaan dengan prinsip jual beli pada bank syariah dilakukan salah satunya melalui akad murabahah. Salah satu akad dari pembiayaan jual beli yaitu akad murabahah merupakan produk yang paling populer dalam industri perbankan syariah (Muhammad, 2005). Bedasarkan penelitian (Arfan, 2014) menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh positif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Dapat disimpulkan bila pembiayaan murabahah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan naik sebesar 2,4%.
Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan murabahah yang merupakan salah satu jenis pembiayaan jual beli, maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H1: Pembiayaan Murabahah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.
3.2.2 Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan.
Bedasarkan penelitian (Fadholi, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.
Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan mudharabah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H2: Pembiayaan Mudharabah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.
3.2.3 Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Pembiayaan musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
(Karim, 2004) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah merupakan semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.
Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama-sama sesuai dengan proporsi yang telah
34
ditetapkan sebelumnya. Melalu pembiayaan bagi hasil yang disalurkan, bank syariah akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil yang menjadi bagian bank.
Bedasarkan penelitian (Rivai, 2017) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah.
Penelitian ini sejalan dengan Bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan musyarakah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H3: Pembiayaan Musyarakah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.
3.2.4 Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana- dana dari sumber-sumber di luar bank seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko.
Bedasarkan penelitian (Nusantara, 2009) yang menguji pengaruh CAR terhadap ROA, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh yang positif terhadap ROA bank.
Penelitian ini sejalan dengan Bukti empiris dari (Imam, 2017) menyatakan bahwa capital adequacy ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset.
Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H4: Capital Adequacy Ratio (CAR) Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.
3.2.5 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan murabahah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H5: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah
3.2.6 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan mudharabah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non