• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Disusun Oleh: MEIDY SAYRANI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Disusun Oleh: MEIDY SAYRANI"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Disusun Oleh:

MEIDY SAYRANI 150907025

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019

(2)

HALAMAN PERSETUJUAN

Hasil skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dan diperbanyak oleh:

Nama : Meidy Sayrani

NIM : 150907025

Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis

Judul : STRATEGI MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI

RUMAH MAKAN TRADISIONAL DALAM

MENGHADAPI MASUKNYA RUMAH MAKAN MODERN DI KOTA MEDAN (Studi Kasus pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan)

Medan, 05 April 2019 Dosen Pembimbing Ketua Program Studi

Prof. Dr. Marlon Sihombing, M.A Prof. Dr. Marlon Sihombing, M.A NIP. 195908161986111003 NIP. 195908161986111003

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si NIP. 197409302005011002

(3)

ABSTRAK

STRATEGI MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI RUMAH MAKAN TRADISIONAL DALAM MENGHADAPI MASUKNYA RUMAH MAKAN

MODERN DI KOTA MEDAN

(Studi Kasus pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan)

Nama : Meidy Sayrani

NIM : 150907025

Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pembimbing : Prof. Dr. Marlon Sihombing, M.A

Medan merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Utara dengan luas sebesar 265,1 KM² yang merupakan ibu kota terbesar ke-3 di Indonesia. Kini hampir di seluruh ruas jalan di Kota Medan, terdapat 3 atau bahkan 5 rumah makan modern dengan cita rasa campuran Tradisional dan Internasional serta gaya rumah makan yang didesain sangat modern. Namun, dari 3 atau bahkan 5 rumah makan modern di salah satu ruas jalan di Kota Medan, hanya terdapat 2 rumah makan modern yang mampu bertahan dalam hitungan 2 tahun pendirian. Berbeda dengan rumah makan tradisional yang mampu mempertahankan eksistensinya bahkan 20 tahun lamanya dengan keadaan yang semakin pelik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang digunakan Rumah Makan Tradisional untuk mempertahankan eksistensinya, strategi yang digunakan Rumah Makan Tradisional dalam menghadapi masuknya Rumah Makan Modern dan strategi yang digunakan Rumah Makan Tradisional untuk mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya Rumah Makan Modern di Kota Medan.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data dengan melakukan Observation (Pengamatan), Interview (Wawancara) dan Triangulasi. Teknik analisis data dengan cara reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan merupakan salah satu rumah makan dengan klasifikasi Specialties Restaurant.

Strategi yang digunakan untuk mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya rumah makan modern di Kota Medan yaitu menggunakan teori Strategi Deferensiasi yang dikemukakan oleh Steven P Schaars, Strategi Kebutuhan Selektif dalam Maulana untuk pemasaran dan teori dari Karl Jaspers mengenai eksistensi.

Kata Kunci: Strategi, Eksistensi, Rumah Makan

(4)

ABSTRACT

THE STRATEGY OF MAINTAINING THE EXISTENCE OF TRADITIONAL RESTAURANTS IN THE FACE OF THE ENTRY OF MODERN RESTAURANTS

IN MEDAN

(Study at The Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan)

Name : Meidy Sayrani

Student ID Number : 150907025

Department : Bussiness Administration Faculty : Social and Political Science Lecturer : Prof. Dr. Marlon Sihombing, M.A

Medan is the capital city of North Sumatra Province with an area of 265.1 KM2 which is the third largest capital city in Indonesia. now in almost all roads in Medan, there are 3 or even 5 modern restaurants with traditional and international mixed flavors and stylish restaurants that are very modern.however, from 3 or even 5 modern restaurants on one of the roads in Medan, there are only 2 modern restaurants that can survive within 2 years of establishment. different from traditional restaurants that are able to maintain their existence even 20 years with increasingly complicated conditions.

This study aims to determine the strategies which used by traditional restaurants to maintain their existence, strategies which used by traditional restaurants to deal with the entry of modern restaurants and strategies which used by traditional restaurants to maintain their existence in the face of the entry of modern restaurants in Medan.

This study uses descriptive methods with qualitative approaches, data collection techniques by conducting observations, interviews and triangulation. data analysis techniques by reducing data, displaying data and drawing conclusions.

The results of the study show that Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan is one of the restaurants with the classification of Specialities Restaurant. the strategy which used to maintain its existence in the face of the entry of modern restaurants in Medan is using the theory differentiation strategies proposed by Steven P Schaars, theory Needed Selective Strategies of Maulana for Marketing and the theory from Karl Jaspers regarding the existence.

Keywords : Strategy, Existence, Restaurant

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “STRATEGI MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI RUMAH MAKAN TRADISIONAL DALAM MENGHADAPI MASUKNYA RUMAH MAKAN MODERN DI KOTA MEDAN (Studi Kasus pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa sebuah keberhasilan dalam penyusunan skripsi ini adalah rahmat yang telah diberikan oleh Allah SWT dan juga bantuan, dukungan serta uluran tangan dan pikiran dari berbagai pihak yang selama ini selalu ada bersama penulis selama pembuatan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Marlon Sihombing, MA selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, selaku Dosen Pembimbing Akademik dan selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan bimbingan, masukan serta arahan dan memotivasi kepada penulis selama di perkuliahan.

(6)

3. Ibu Dr. Beti Nasution, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Robinson Sembiring, M.Si selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Ibu Siswati Saragi S.Sos, M.SP dan Bapak Ahmad Farid S.H selaku pegawai pendidikan Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis serta kak Sally Meuthia Febrian, S.AB yang telah banyak membantu selama perkuliahan.

6. Bapak Onan M. Siregar, S.Sos, M.Si, Bapak Umar Hamdan Nasution, S.E, M.Si dan Seluruh Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis dan Staff di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat, motivasi dan bimbingan selama perkuliahan.

7. Kedua Orang Tua saya Bapak Rahman dan Ibu Nina Suryana yang telah mencurahkan segenap kasih sayang dan kemampuan yang dimiliki, baik ilmu, materi, dukungan serta doa yang tak pernah berhenti diberikan.

8. Nenek Nurjaila Lubis, Kakek Basnir Tanjung selaku pemilik Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan serta seluruh informan yang telah memberikan waktu kepada peneliti.

9. Seluruh keluarga besar yang saya sayangi, Nenek, Kak Ai, Dek Ana, Bang Uwais serta keluarga saya lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang telah memberikan doa dan senantiasa bersama saya.

(7)

10. Fanny Heidiyati Rizkiya, Siti Aida Mahrani, S.E dan Putra Ansari Ritonga yang senantiasa menemani, memberikan dukungan, motivasi, masukan serta doa kepada penulis selama ini.

11. POLTAK (Siti, Gita, Muning, Al, Mery, Ray, Ando, Zein dan Memito) yang senantiasa memberikan semangat dan dukungan kepada penulis selama perkuliahan.

12. STM Squad, Kecebong Nakal dan SMA Squad yang senantiasa memberikan canda tawa, motivasi serta doa kepada penulis.

13. IMPRODIAS, UKMI AS-SIYASAH, Murrobbiah, Sahabat Liqo dan Adik Metee yang telah memberikan kekuatan kepada diri penulis, pengalaman berorganisasi dan kenangan kepada penulis selama di perkuliahan.

14. Seluruh teman seperjuangan saya di Ilmu Administrasi Bisnis 2015 terkhusus kelas A.

15. Dan orang-orang yang telah membantu saya selama ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan dan doa yang telah diberikan

Akhir kata, penulis menyadari bahwa sepenuhnya skripsi ini masih jauh dari sempurna maka dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan permohonan maaf serta berharap adanya kritik dan saran yang membangun penulis. Dengan terselesainya skripsi ini, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya

Medan, April 2019 Penulis,

Meidy Sayrani

(8)

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Persetujuan

ABSTRAK/ABSTRACT ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II KERANGKA TEORI ... 10

2.1 Strategi ... 10

2.1.1 Pengertian Strategi ... 10

2.1.2 Peranan Strategi ... 11

2.1.3 Tujuan Strategi ... 12

2.1.4 Manfaat Strategi ... 13

2.1.5 Variabel Strategi ... 14

2.1.6 Strategi Persaingan ... 16

2.1.6.1 Jenis-Jenis Strategi ... 17

2.1.6.2 Implementasi Strategi ... 23

2.1.7 Strategi Pemasaran ... 24

2.1.7.1 Macam-Macam Strategi Pemasaran ... 24

2.2 Eksistensi ... 29

2.3 Rumah Makan/Restoran ... 32

2.3.1 Pengertian Rumah Makan/Restoran ... 32

2.3.2 Klasifikasi Rumah Makan/Restoran ... 33

2.4 Penelitian Terdahulu ... 42

2.5 Kerangka Berfikir ... 49

BAB III METODE PENELITIAN ... 50

3.1 Bentuk Penelitian ... 50

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 50

3.3 Informan Penelitian ... 51

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 52

3.5 Teknis Analisis Data ... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 55

4.1 Deskripsi Perusahaan ... 55

4.2 Struktur Organisasi ... 56

4.3 Penyajian Data ... 57

4.3.1 Hasil Penelitian ... 57

(9)

4.3.1.1 Strategi yang Digunakan Rumah Makan Tradisional

untuk Mempertahankan Eksistensinya ... 59

4.3.1.2 Strategi yang Digunakan Rumah Makan Tradisional untuk Mempertahankan Eksistensinya dalam Menghadapi Masuknya Rumah Makan Modern ... 61

4.3.2 Pembahasan ... 74

BAB V PENUTUP ... 82

5.1 Kesimpulan ... 82

5.2 Saran ... 84 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Kerangka Berfikir ... 49 Gambar 4.1 Struktur Organisasi ... 56 Gambar 4.2 Strategi-Strategi yang Digunakan untuk Mempertahankan

Eksistensi ... 75

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1.1 Jumlah Penduduk di Kota Medan ... 2 Tabel 1.2 Jumlah Rumah Makan Besar & Menengah Provinsi Sumatera

Utara ... 4 Tabel 1.3 Jumlah Pendapatan Perusahaan/Usaha Restoran/Rumah Makan

Berskala Menengah dan Besar Provinsi Sumatera Utara ... 4 Tabel 4.1 Daftar Menu Makan pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda

Tanjung Medan……….… 58

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia terkenal sebagai negara dengan tingkat eksistensi yang tinggi dalam hal kearifan lokal, baik budaya maupun makanan tradisional yang dimilikinya. Mengingat bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki jumlah pulau lebih dari 17.500 pulau bernama dan tanpa nama. Namun secara resmi jumlah pulau di Indonesia yang diakui oleh PBB adalah sejumlah 16.056 pulau bernama di Indonesia. Setiap pulau di Indonesia memiliki sejumlah daerah.

Dan daerah-daerah tersebut memiliki sejumlah kearifan lokal baik budaya dan makanan tradisionalnya. Salah satunya adalah Medan.

Medan adalah ibu kota provinsi di salah satu pulau terbesar ke-6 di Dunia, bagian utara Indonesia yaitu pulau Sumatera. Medan merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Utara dengan luas sebesar 265,1 yang menjadi salah satu ibu kota terbesar ke-3 di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Medan merupakan salah satu daerah yang memiliki kebudayaan yang unik. Keunikan ini tercipta dari segala sudut kebudayaannya, baik kerajaan yang pernah ada, mayoritas masyarakat yang menduduki hingga makanan khas dari Kota ini.

Medan terkenal dengan ikon kota yaitu Kerajaan Melayu yang bernama Istana Maimoon serta putri kerajaannya yang bernama Putri Hijau dan Mariam Puntung sebagai saudaranya serta Masjid Raya yang bercorak Melayu. Namun, mayoritas penduduk di Kota Medan bersuku Batak, baik Batak Mandailing, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pak-Pak, Batak Karo dan Batak Angkola hingga jargon yang terkenal dari kota ini yaitu kata “HORAS” sebagai ungkapan

(13)

kebahagiaan dalam bahasa Batak. Medan sendiri juga memiliki makanan khas atau oleh-oleh Kota Medan yang cukup terkenal yaitu Bika Ambon yang namanya diambil dari salah satu daerah di Indonesia bagian timur.

Keberagaman yang dimiliki Kota Medan membuat kota ini kini berubah menjadi sebuah kota metropolitan yang sebanding dengan kota Jakarta dengan jumlah penduduk mencapai 2.229.408 jiwa pada tahun 2016 dengan tingkat konsumtif terhadap makanan yang ikut melonjak naik seiring bertambahnya jumlah penduduk di setiap tahunnya.

Tabel. 1.1

Jumlah Penduduk di Kota Medan

Tahun Jumlah Penduduk

2011 2.117.224

2012 2.122.804

2013 2.135.516

2014 2.191.140

2015 2.210.624

2016 2.229.408

Sumber: BPS SUMUT (2018)

Meningkatnya jumlah konsumtif masyarakat Kota Medan terhadap makanan, baik makanan tradisional dan modern secara tajam, ditambah dengan kesibukan yang dialami hampir seluruh masyarakat Kota Medan, membuat mereka memutuskan untuk mengkonsumsi makanan dari rumah-rumah makan yang tersedia di Kota Medan, bertujuan untuk mengefisiensikan kegiatan mereka yang didukung dengan adanya aplikasi pendukung yang mampu membuat masyarakat Kota Medan lebih terjamu kembali dengan kemudahan yang diberikan.

(14)

Berbicara mengenai makanan tradisional khas Kota Medan, karena Medan adalah Kota Metropolitan dan memiliki kebudayaan yang beragam, maka tidak dapat ditentukan secara signifikan makanan apa yang menjadi ciri khas dari Kota ini. Namun dapat dipastikan bukan hanya Bika Ambon saja yang menjadi ciri khas dari Kota ini. Ada berbagai macam makanan khas lainnya seperti Bolu Meranti bahkan masakan-masakan tradisional dari seluruh penjuru daerah yang ada di Sumatera Utara yang selalu menjadi buah tangan ataupun target kunjungan bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung di Kota Medan karena Kota Medan sendiri terkenal dengan Kota dengan cita rasa masakan tradisional yang tinggi.

Hampir di setiap sudut Kota Medan terdapat berbagai macam rumah makan, baik rumah makan tradisional khas dari daerah Sumatera Utara, seperti Rumah Makan Khas Batak Karo, Rumah Makan Khas Mandailing, Rumah Makan Khas Sibolga dan lain sebagainya, namun ada juga rumah makan yang berasal dari daerah-daerah di luar Provinsi Sumatera Utara, seperti Rumah Makan Padang, Bubur Ayam Jakarta, serta yang terbaru yaitu rumah makan bergaya modern yang kini semakin marak didirikan di Kota Medan.

Terkait dengan rumah makan bergaya modern, maraknya pertumbuhan rumah makan modern di Kota Medan ini terjadi diakibatkan karena semakin berkembangnya Kota Medan yang menjadikan pembisinis dari kota bahkan Negara lain tertarik untuk membangun usaha rumah makan bergaya modern di kota ini.

(15)

Menurut data dari Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2008 terdapat kenaikan yang cukup tajam untuk jumlah rumah makan/restoran di Provinsi Sumatera Utara dibanding tahun-tahun sebelumnya, terkhusus pada Kota Medan yang menjadi pusat perekonomian provinsi ini.

Table 1.2

Jumlah Rumah Makan Besar dan Menengah Provinsi Sumatera Utara Tahun Jumlah Perusahaan

2007 95

2008 156

2009 165

2010 167

2011 168

Sumber: BPS Indonesia (2015)

Data pada tahun 2012 hingga 2015 survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia hanya berdasarkan jumlah pendapatan perusahaan/usaha restoran/rumah makan berskala menengah dan besar per provinsi di Indonesia.

Table 1.3

Jumlah Pendapatan Perusahaan/Usaha Restoran/Rumah Makan Berskala Menengah dan Besar Provinsi Sumatera Utara

Tahun Jumlah Pendapatan

2012 2.887.265.313

2013 3.634.080.083

2014 3.657.722.122

2015 4.049.698.976

Sumber: BPS Indonesia (2016)

Menurut survei yang dilakukan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan, update pada 05 Agustus 2016 terjadi peningkatan yang sangat tajam untuk rumah makan dan restoran yang ada di Kota Medan, yaitu terdapat 31.205 perusahaan rumah makan/restoran yang berdiri di

(16)

Kota Medan. Tahun-tahun berikutnya survei tidak dapat dilakukan secara akurat seperti pada tahun 2016 diakibatkan maraknya pertumbuhan rumah makan tradisional dan modern yang dibangun tanpa adanya izin mendirikan usaha dari pemerintah, sehingga data akurat terhenti di tahun 2016.

Jika dahulu para pemiliki perusahaan rumah makan tradisional khas Daerah Sumatera Utara hanya bersaing dengan pemilik perusahaan rumah makan tradisional khas daerah lain di luar pulau Sumatera, kini pemilik perusahaan, memiliki pesaing yang lebih kuat lagi setelah masuknya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) di Negara ini pada tahun 2016. Pedagang diharuskan mampu membentuk strategi baru untuk dapat mempertahankan eksistensi dari rumah makan tradisional khas daerah yang ada di Kota Medan ini untuk dapat terus bertahan, mengingat MEA semakin terasa dan semakin berpengaruh kepada gaya konsumtif masyarakat Kota Medan yang menuntut adanya perbaruan dari segala sektor di dalam rumah makan, seperti adanya wifi, live music dan lain sebagainya serta adanya cita rasa tradisional yang dipadu padankan dengan cita rasa Internasional.

Kondisi ini semakin pelik diakibatkan hampir di seluruh ruas jalan di Kota Medan, terdapat 3 atau bahkan 5 rumah makan modern dengan cita rasa campuran Tradisional dan Internasional serta gaya rumah makan yang didesain sangat modern sesuai dengan keinginan masyarakat saat ini terutama para remaja dengan menyuguhkan kebutuhan-kebutuhan yang kini sangat dibutuhkan oleh para remaja, seperti kencangnya internet (wifi), ketenangan untuk berdiskusi dan lain sebagainya dan hanya terdapat 1 atau 2 rumah makan tradisional yang ada pada ruas jalan tersebut.

(17)

Namun, dari 3 atau bahkan 5 rumah makan modern di salah satu ruas jalan di Kota Medan, hanya terdapat 2 rumah makan modern yang mampu bertahan dalam hitungan 2 tahun pendirian. Berbeda dengan rumah makan tradisional yang mampu bertahan hingga bahkan 20 tahun lamanya dengan keadaan yang semakin pelik.

Jalan Sisingamangaraja Medan merupakan salah satu dari contoh kasus yang ada. Ruas jalan yang memiliki tingkat kepadatan pengguna jalan yang tinggi serta pertumbuhan pembangunan rumah makan modernya yang cukup pesat.

Namun, dengan keadaan yang seperti ini kenyataannya rumah makan modern yang ada di ruas Jalan Sisingamangaraja tidak mampu bertahan lama dan tingkat eksistensinya tidak mampu menandingi eksistensi yang dimiliki oleh rumah makan tradisional, bahkan rumah makan tradisional terlihat tidak gentar dengan datangnya pesaing baru yang jauh lebih kekinian, sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kota Medan saat ini.

Salah satu contoh rumah makan tradisional yang tidak gentar akan datangnya pesaing baru yang jauh lebih kekinian, sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kota Medan saat ini yaitu Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung.

Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung adalah salah satu rumah makan khas daerah Sibolga dengan sajian makanan yang juga sangat khas dari daerah Sibolga seperti Ikan Panggang Gelek dan Gule Kepala Ikan yang menjadi ciri khas dari daerah Sibolga yang berada di pesisir pulau Sumatera Utara. Dengan memberikan cita rasa daerah Sibolga yang tinggi serta tidak adanya perubahan rasa, maka rumah makan ini mampu bertahan hampir 21 tahun sejak awal di dirikannya di tahun 1997. Dan rumah makan ini tergolong rumah makan yang

(18)

mampu mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya rumah makan modern khususnya di ruas Jalan Sisingamangaraja diukur dari lamanya rumah makan ini didirikan.

Adanya kejadian serta permasalahan inilah peneliti tertarik untuk mencari tahu bagaimana strategi yang digunakan Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung untuk terus mampu mempertahankan eksistensinya di masyarakat dalam menghadapi masuknya rumah makan modern di Kota Medan khususnya pada ruas Jalan Sisimangamangaraja, sehingga memperlihatkan bahwa bukan rumah makan tradisional lah yang akan mundur atau mengalami kebangkrutan di era MEA ini, namun rumah makan modern lah yang harus memikirkan ulang strategi yang harus dilakukan untuk dapat bersaing dan bertahan pada persaingan rumah makan tradisional dan rumah makan modern di Kota Medan saat ini. Sehingga peneliti tertarik untuk membuat sebuah judul penelitian yaitu “Strategi Mempertahankan Eksistensi Rumah Makan Tradisional dalam Menghadapi Masuknya Rumah Makan Modern di Kota Medan (Studi Kasus pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan)”.

(19)

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana strategi yang digunakan Rumah Makan Tradisional untuk mempertahankan eksistensinya?

2. Bagaimana strategi yang digunakan Rumah Makan Tradisional untuk

mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya Rumah Makan Modern?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Mengetahui strategi yang digunakan Rumah Makan Tradisional untuk mempertahankan eksistensinya.

2. Mengetahui strategi yang digunakan Rumah Makan Tradisional untuk mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya Rumah Makan Modern.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:

1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengembangkan wawasan dan pemahaman bagi peneliti dalam menganalisa strategi bisnis yang tepat untuk mempertahankan eksistensi Rumah Makan Tradisonal dalam menghadapi masuknya Rumah Makan Modern.

(20)

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan ataupun bahan pertimbangan bagi Rumah Makan Tradisional dalam membuat strategi bisnis yang tepat untuk mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya Rumah Makan Modern.

3. Bagi Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis

Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan, ilmu pengetahuan dan pemahaman serta referensi yang relevan bagi peneliti selanjutnya terkait strategi bisnis yang tepat untuk mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya Rumah Makan Modern.

(21)

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Strategi

2.1.1 Pengertian Strategi

Menurut Tjiptono (2006:3) istilah strategi berasal dari Yunani yaitu, strategia yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang jendral. Strategi juga bisa diartikan suatu rencana untuk pembagian dan penggunaan kekuatan militer pada daerah–daerah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasar sudut pandang terhadap keinginan para pelanggan di masa depan. Dengan demikian strategi hampir selalu dimulai dari sesuatu yang dapat terjadi dan bukan dimulai dari sesuatu yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies). Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang dilakukan (Umar, 2001:31).

Menurut Marrus (2002:31) strategi didefinisikan sebagai suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Menurut Quinn (1999:10) mengartikan strategi adalah suatu bentuk atau rencana yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan dan rangkaian tindakan dalam suatu organisasi menjadi suatu kesatuan yang utuh.

Menurut David (2011:18-19) strategi adalah sarana bersama dengan tujuan jangka panjang yang hendak dicapai. Strategi bisnis mencakup ekspansi geografis,

(22)

diversifikasi, akuisisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, pengetatan, divestasi, likuidasidan usaha patungan atau joint venture. Strategi adalah aksi potensial yang membutuhkan keputusan manajemen puncak dan sumberdaya perusahaan dalam jumlah besar.

Peneliti menyimpulkan bahwa Strategi dalam dunia bisnis sangat diperlukan untuk mencapai visi dan misi perusahaan yang telah ditetapkan.

Tujuan jangka panjang maupun tujuan jangka pendek tetap harus dibarengin dengan strategi yang matang serta dapat diterapkan di lapangan. Strategi merupakan hal yang sangat penting untuk kelangsungan hidup suatu perusahaan untuk mencapai tujuan ataupun sasaran perusahaan dengan efektifitas dan efisiensi serta mampu mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi persaingan.

2.1.2 Peranan Strategi

Dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, strategi memiliki peranan yang sangat penting bagi pencapaian tujuan, karena strategi memberikan arah tindakan, dan cara bagaimana tindakan tersebut harus dilakukan agar tujuan yang diinginkan tercapai. Menurut Grant (1999:21) strategi memiliki 3 peranan penting dalam mengisi tujuan manajemen, yaitu :

1. Strategi sebagai Pendukung untuk Pengambilan Keputusan

Strategi sebagai suatu elemen untuk mencapai sukses. Strategi merupakan suatu bentuk atau tema yang memberikan kesatuan hubungan antara keputusan-keputusan yang diambil oleh individu atau organisasi.

(23)

2. Strategi sebagai Sarana Koordinasi dan Komunikasi

Salah satu peranan penting strategi sebagai sarana koordinasi dan komunikasi adalah untuk memberikan kesamaan arah bagi perusahaan

3. Strategi sebagai Target

Konsep strategi akan digabungkan dengan misi dan visi untuk menentukan di mana perusahaan berada dalam masa yang akan datang. Penetapan tujuan tidak hanya dilakukan untuk memberikan arah bagi penyusunan strategi, tetapi juga untuk membentuk aspirasi bagi perusahaan. Dengan demikian, strategi juga dapat berperan sebagai target perusahaan.

2.1.3 Tujuan Strategi

Menurut Suwandiyanto (2010:02), terdapat empat tujuan strategi, yaitu : Pertama, Memberikan arah pencapain tujuan organisasi/perusahaan.

Dalam hal ini, manajemen strategi harus mampu menunjukkan kepada semua pihak kemana arah tujuan organisasi/perusahaan. Karena, arah yang jelas akan dapat di jadikan landasan untuk pengendalian dan mengevaluasi keberhasilan.

Kedua, Membantu memikirkan kepentingan berbagai pihak.

Organisasi/perusahaan harus mempertemukan kebutuhan berbagai pihak yaitu pemasok, karyawan, pemegang saham, pihak perbankan, dan masyarakat luas lainnya yang memegang peranan terhadap sukses atau gagalnya perusahaan.

Ketiga, Mengantisipasi setiap perubahan kembali secara merata.

Manajemen strategi memungkinkan eksekutif puncak untuk mengantisipasi perubahan dan menyiapkan pedoman dan pengendalian, sehingga dapat

(24)

memperluas kerangka waktu/berpikir mereka secara perspektif dan memahami kontribusi yang baik untuk hari ini dan hari esok.

Keempat, Berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas. Tanggung jawab seorang manajer bukan hanya mengkonsentrasikan terhadap kemampuan atas kepentingan efisiensi, akan tetapi hendaknya juga mempunyai perhatian yang serius agar bekerja keras melakukan sesuatu secara lebih baik dan efektif.

2.1.4 Manfaat Strategi

Manfaat strategi menurut David (2002:15) antara lain:

1. Bisa membantu perusahaan dalam menyusun strategi perusahaan yang lebih baik dengan mempergunakan pendekatan yang jauh lebih sistematis, rasional, logis, rasional pada pilihan strategi.

2. Strategi adalah sebuah proses dan bukanlah keputusan ataupun dokumen.

Tujuan utama dari sebuah proses adalah untuk mencapai pengertian serta komitmen dari semua pihak manajer dan karyawan.

3. Suatu proses menyediakan pemberdayaan individual. Pemberdayaan merupakan kegiatan dalam memperkuat pengertian dari karyawan tentang efektivitas dengan cara mendorong serta menghargai mereka para karyawan untuk bisa berpatisipasi di dalam pengambilan suatu keputusan dan latihan yang inisiatif serta imanjinasi.

4. Mendatangkan laba

5. Meningkatkan kesadaran terhadap ancaman eksternal.

6. Manajemen strategi bisa memberikan pemahaman yang lebih baik tentang strategi dari pesaing.

(25)

7. Manajemen strategi dapat meningkatkan produkvitas para karyawan.

8. Manajemen strategi bisa membuat berkurangnya penolakan terhadap suatu perubahan dalam perusahaan.

9. Manajemen strategi bisa memberikan pemahaman yang lebih tentang hubungan prestasi dan penghargaan.

2.1.5 Variabel Strategi

Ada 2 variabel besar dalam strategi menurut Wheelen dan Hunger (2006:25), yaitu :

1. Variable yang Tidak dapat Dikontrol a. Keadaan Pesaing

Adalah suatu kesulitan bagi seorang pengusaha untuk menduga kapan saingan baru akan muncul.

b. Perkembangan Teknologi

Kapan akan muncul teknologi baru yang memperbaiki proses produksi baik dari segi efisiensi maupun dari segi model sulit diduga.

c. Perubahan Demografi

Memerlukan sensus tentang jumlah penduduk.

d. Kebijakan Politik dan Ekonomi

Perubahan peraturan pemerintah dalam ekonomi, politik dan keamanan dapat mempengaruhi jalannya bisnis.

e. Sumber Daya Alam

Dalam beberapa hal sumber daya alam sulit diramal kapan berkurang atau ditemukan sumber-sumber baru.

(26)

2. Variabel yang dapat Dikontrol a. Segmen Pasar.

Dalam menyusun segmen pasar ada berbagai cara yaitu:

1) Berdasarkan Geografis

Dalam hal ini pasar dapat dipilah-pilah berdasarkan kebangsaan, provinsi, kota, dan lain sebagainya.

2) Berdasarkan Demografis.

Dalam hal ini pasar dibagi atas variabel-variabel jenis kelamin, umur, jumlah anggota keluarga, pendapatan, jabatan, pendidikan, agama, suku dan lain sebagainya.

3) Berdasarkan Psikologis.

Dalam hal ini pasar dipilah-pilah berdasarkan kelompok kelas sosial, gaya hidup, kepribadian.

4) Berdasarkan Segmentasi Perilaku.

Ini dapat diklasifikasikan dalam segmen kejadian, keuntungan, status pemakaian, tingkat pemakaian, kesetiaan dan sikap konsumen.

b. Anggaran Pemasaran.

Strategi penetapan dana untuk kegiatan marketing sangat mempengaruhi keberhasilan pemasaran. Pada umumnya apabila dana bertambah untuk kegiatan marketing maka jumlah penjualan meningkat. Berapa besarnya jumlah anggaran marketing ini sangat tergantung pada barang yang dipasarkan dan sesuai pula dengan pengalaman pengusaha. Umumnya untuk barang lux akan lebih banyak anggaran belanja pamasaran

(27)

dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan yang banyak biaya pemasarannya, yang diperlukan untuk biaya promosi berupa iklan surat kabar, radio, spanduk, tempelan-tempelan, hadiah dan lainsebagainya.

c. Waktu.

Dengan menjaga ketepatan waktu, maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda disamping keuntungan berupa materi juga keuntungan berupa pengalaman dan cepat dikenal konsumen.

d. Bauran Pemasaran.

Bauran pemasaran merupakan strategi campuran kegiatan-kegiatan pemasaran. Ada empat komponen yang tercakup dalam kegiatan bauran pemasaran (marketing mix) yang terkenal dengan sebutan 4P, yaitu:

product, price, place dan promotion.

2.1.6 Strategi Persaingan

Persaingan tidak hanya terjadi antar perusahaan yang sejenis, tetapi lebih jauh persaingan muncul dengan banyaknya pendatang baru. Pendatang baru dalam industri biasanya dapat mengancam pesaing yang ada. Karena pendatang baru seringkali membawa kapasitas baru, keinginan untuk merebut pangsa pasar, serta sering kali pula memiliki sumber daya yang besar.

Persaingan yang paling sengit biasanya terjadi antr perusahaan yang sejenis (rival). Masing-masing perusahaan ingin memenangkan persaingan dan memperoleh posisi pasar yang lebih kuat. Alat-alat persaingan yang dipakai menyangkut harga, kualitas, bentuk, pelayanan, garansi, periklanan, distribusi, inovasi dan lain-lain.

(28)

Pendatang baru/pesaing baru masuk ke pasar dengan membawa produk baru. Mereka ingin merebut pasar yang sudah ada. Berhasil tidaknya pendatang baru masuk pasar, tergantung juga dari kesulitan masuk (entry barrier) dan reaksi dari pemain lama. Persaingan juga muncul dari barang-barang substitusi (substitute product). Apalagi barang ini dapat menggantikan dengan lebih baik.

Persaingan dari supplier dan buyer dapat berupa pengaruh dan kekuatan tawar- manawar (bargaining power). (Situmorang, 2009: 219-221)

2.1.6.1 Jenis-Jenis Strategi Persaingan

Dalam Situmorang (2009:227-234) terdapat beberapa jenis strategi dalam dunia bisnis, yaitu:

1. Strategi Integrasi

a. Integrasi ke Depan, memperoleh kepemilikan atau meningkatkan kendali pada distributor atau pengecer.

b. Integrasi ke Belakang, strategi yang mencari kepemilikan atau kendali lebih besar pada perusahaan pemasok. Strategi ini tepat kalau perusahaan saat ini tidak dapat diandalkan.

c. Integrasi Horizontal, integrasi horizontal merujuk pada strategi mencari kepemilikan dari atau kendali yang lebih besar atas perusahaan pesaing.

Penggunaan integrasi horizontal sebagai strategi pertumbuhan seperti merger, akuisisi, dan pengambil alihan di antara pesaing dapat mendongkrak skala ekonomis dan meningkatkan pengalihan sumber daya serta kompetensi.

(29)

2. Strategi Intensif

a. Penetrasi Pasar, berusaha meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa yang sudah ada di pasar yang sudah lewat usaha pemasaran yang lebih gencar penetrasi pasar termasuk menambah jumlah wiraniaga, menambah belanja iklan, menawarkan barang promosi penjualan eksentif, atau menambah usaha publisitas.

b. Pengembangan pasar, memperkenalkan produk atau jasa yang sudah ada ke wilayah geografi yang baru, misalnya banyaknya produk-produk Internasional yang masuk ke daerah-daerah di Indonesia.

c. Pengembangan produk, strategi yang mencari peningkatan penjualan dengan memperbaiki dan memodifikasi produk atau jasa yang sudah ada.

Pengembangan produk biasanya memerlukan pengeluaran yang besar untuk penelitian dan pengembangan.

3. Strategi Disersivikasi

a. Diversivikasi Konsentrik adalah menambah produk atau jasa baru, tetapi berkaitan secara luas.

b. Disersivikasi Horizontal adalah menambah produk atau jasa baru yang tidak berkaitan untuk pelanggan yang sudah ada.

c. Disersivikasi Konglomerat adalah menambah produk atau jasa baru.

Beberapa perusahaan melakukan disersivikasi konglomerat sebagian di dasarkan pada laba dari memecah-mecah perusahaan yang di beli dan menjual devisi sebagian demi sebagian.

(30)

4. Strategi Defensif

a. Usaha Patungan, strategi popular yang terjadi kalau ada 2 perusahaan atau lebih membentuk-membentuk kemitraan atau konsorsium sementara dengan tujuan kapitalisasi atau beberapa peluang. Strategi ini dapat di anggap defensif hanya karena perusahaan tidak melakukan proyek sendirian.

b. Penghematan/Penciutan, penciutan usaha terjadi ketika suatu organisasi mengubah kelompok lewat penghematan biaya dan asset untuk mendongkrak penjualan dan laba yang menurun kadang-kadang disebut strategi berbalik atau reorganisasional, penciutan didesain untuk memperkuat kompetisi khas mendasar dari organisasi.

c. Divestasi, sering di pakai untuk meningkatkan modal untuk akuisisi atau investasi strategi lebih lanjut.

d. Likuidasi, menjual semua aset perusahaan, bagian demi bagian, untuk nilai dari aset berwujud

e. Strategi kombinasi, organisasi mengusahakan kombinasi dari dua atau lebih strategi secara simultan tetapi suatu strategi kombinasi mungkin membawa resiko yang istimewa bila dilaksanakan terlalu jauh.

5. Strategi Adaptif

a. Strategi Protektor, yaitu strategi yang mengutamakan pada keberhasilan organisasi dalam berinovasi, selalu menciptakan produk, dan kesempatan pasar yang baru.

(31)

b. Strategi Bertahan, perusahaan dengan sistem ini biasanya mementingkan stabilitas pasar yang menjadi targetnya. Pada umumnya hanya memiliki sedikit lini produktif dengan segmen pasar juga sempit.

c. Strategi Penganalisis, merupakan strategi analisis dan imitasi organisasi yang menggunakan strategi ini akan menganalisis ide bisnis baru sebelum memasuki bisnis tersebut.

d. Strategi Reaktor, perusahaan dengan strategi reaktor adalah organisasi yang bereaksi terhadap perubahan dan membuat suatu perubahan hanya apabila terdapat tekanan dari lingkungan yang memaksa organisasi tersebut untuk berubah.

6. Merger dan Leverge Buyout

a. Akuisisi dan Merger merupakan dua cara yang terbaik dipakai untuk melakukan strategi. Akuisisi terjadi ketika organisasi besar membeli organisasi yang lebih kecil, atau sebaliknya merjer terjadi ketika dua buah organisasi dengan ukuran yang hampir sama disatukan untuk membentuk satu perusahaan.

b. Leverage Buyout, terjadi bila para pemegang saham perusahaan dibeli keseluruhan oleh manajemen perusahaan dan investor swasta lainnya menggunakan dana pinjaman.

7. Strategi Michael Porter

a. Strategi Keunggulan Biaya: alasan utama untuk menjalankan strategi integrasi kedepan, ke belakang, dan horizontal adalah manfaat unggul dalam biaya. Tetapi keunggulan biaya pada umumnya harus dilakukan

(32)

dalam gabungan dengan diferensial. Sejumlah elemen biaya mempengaruhi daya tarik relatif dari strategi umum, termasuk pencapaian skala ekonomis atau disekonomi. Pengaruh kurva belajar dan pengalaman, persentasi pengalaman, dan hubungan pemasok dan distributor. Elemen biaya lain yang harus di pertimbangkan memilih di antara strategi alternatif termasuk potensi untuk berbagi biaya dan pengetahuan dalam organisasi, biaya litbang yang berkaiatan dengan pengembangan atau produk baru atau modifikasi produk lama, biaya tenaga kerja, tingkat pajak, biaya energi, dan biaya pengangkutan. Ide dasarnya adalah menetapkan harga lebih rendah ketimbang pesaing dan oleh karena itu menguasai pangsa pasar dan penjualan, menggusur beberapa pesaing dari pasar sama sekali.

Steven P Schaars dalam bukunya managing imitation memberikan 3 alternatif dalam meniru sang pemimpin pasar. Pertama, lower price strategy:

menawarkan produk yang sama dengan harga lebih murah. Strategi ini tentu membutuhkan operational excellence untuk menekan biaya. Kedua, imitate and improve memberikan berbagai tambahan kelebihan. Yang paling menarik adalah alternatif ketiga, yaitu market power. Dua alternatif sebelumnya berkonsentrasi pada produk, sedangkan alternatif ketiga lebih melihat pasar, terutama dalam hal positioning dan komunikasi.

1. Strategi Deferensiasi. Strategi deferensiasi menawarkan beberapa tingkat pembedaan. Deferensiasi tidak menjamin keunggulan bersaing, terutama bila produk standar cukup memadai memenui kebutuhan pelanggan atau kalau pesaing dapat dengan cepat meniru. Produk tahan lama yang terlindungi oleh

(33)

berbagai hambatan sehingga tidak gampang ditiru adalah yang terbaik.

Diferensiasi yang sukses dapat berarti fleksibilitas produk yang lebih besar, kompatibilitas yang besar, biaya yang lebih rendah, pelayanan lebih baik pemeliharaan kurang, lebih nyaman atau lebih menonjol. Pengembangan produk merupakan contoh dari strategi yang menawarkan keunggulan deferensiasi. Strategi deferensiasi yang sukses membuat perusahaan dapat menetapkan harga yang lebih tinggi untuk produknya dan memperoleh loyalitas pelanggan karena konsumen mungkin amat mendambakan pada sifat yang membedakan. Risiko dari mengejar strategi deferensiasi adalah produk yang unik mungkin dipandang tidak cukup boleh pelanggan untuk membenarkan harga yang lebih tinggi. Kalau hal ini terjadi, strategi keunggulan biaya akan dengan mudah mengalahkan strategi deferensiasi.

Risiko lain adalah pesaing mungkin dengan cepat mengembangkan cara untuk meniru sifat yang membedakan. Jadi perusahaan memerlukan sumber unik yang dapat bertahan lama, yang tidak mudah ditiru oleh perusahaan pesaing.

2. Strategi Fokus, strategi fokus yang sukses tergantung pada segmen industri artinya ukuran yang memadai, mempunyai potensi pertumbuhan yang baik, dan hal ini tidak amat menentukan bagi sukses pesaing utama yang lain.

Strategi fokus paling efektif jika konsumen mempunyai pilihan yang nyata atau persyaratan dan ketika perusahaan pesaing tidak berusaha untuk melakukan spesialisasi dalam segmen sasaran yang sama. Risiko mengejar strategi fokus termasuk kemungkinan bahwa sejumlah pesaing mengenali kesuksesan strategi fokus dan menirunya, atau bahwa konsumen bergeser kearah sifat produk yang dikehendaki oleh pasar secara secara keseluruhan.

(34)

Organisasi yang menggunakan strategi fokus mungkin memusatkan perhatian pada kelompok pelanggan, pasar geografik, atau segmen lini produk produk tertentu dalam usaha melayani lebih baik pasar sempat yang di tentukan dengan hati hati ketimbang pesaing yang melayani pasar yang lebih luas.

2.1.6.2 Implementasi Strategi Persaingan

Dalam Situmorang (2009:235) terdapat implementasi dari strategi dalam dunia bisnis, yaitu:

1. Persiapan Implementasi: melakukan strategic positioning. Dalam tahap ini dilakukan change management process. Tugas change management melakukan analisis secara menyeluruh terhadap bisnis dan tantanganya di masa depan (transformasi bisnis) tahap berikutnya melakukan komunikasi perubahan (membuat bulletin, poster, slogan) kepada seluruh stake holder dan yang terakhir memberikan reward kepada para innovator/penggagas perubahan.

2. Pra Implementasi (solution Development): mencari langkah-langkah praktis untuk mencapai sasaran yang di inginkan. Langkah-langkah tersebut dituangkan dalam blueprint perubahan.

3. Implementasi (Strategic Solution)

4. Pasca Implementasi (Post Implementation)

(35)

2.1.7 Strategi Pemasaran

Menurut Maulana (1990: 155) tingkat penjualanan dan kemampu labaan untuk produk, jasa, atau lini produk dipengaruhi oleh sejumlah faktor-faktor di luar kendali, seperti kekuatan-kekuatan demografi dan ekonomi. Tetapi, tingkat ini juga dipengaruhi usaha-usaha pemasaran. Oleh karena itu, tanggung jawab pokok seorang manajer perusahaan adalah merencanakan dan melaksanakan tindakan-tindakan yang akan membantu mencapai sasaran-sasaran penjualan, bagian pasar dan laba untuk suatu produk. Artinya, setelah rencana pemasaran- perusahaan menetapkan peran untuk masing-masing produk dalam fortopolia perusahaan, strategi pemasaran harus di kembangkan. Strategi pemasaran menentukan pendekatan yang akan diambil oleh perusahaan untuk memastikan bahwa masing-masing produk memenuhi peranannya,

Lebih tegasnya, strategi pemasaran adalah pernyataan pokok tentang dampak yang diharapkan akan dicapai dalam hal permintaan pada pasar target tertentu. Pendekatan terinci untuk menerapkan strategi-strategi ini ditentukan lewat program-program pemasaran yang spesifik, seperti program periklan, program promosi penjualan, program pengembangan produk serta program penjualan dan distribusi.

2.1.7.1 Macam-Macam Strategi Pemasaran

Cara untuk mengetahui strategi pemasaran mana yang bermanfaat, organisasi pertama-tama harus mengetahui kebutuhan jenis yang di pengaruhinya.

Kebutuhan primer adalah kebutuhan akan bentuk atau kelas produk atau jasa dasar. Kebutuhan selektif merupakan kebutuhan akan produk atau merek

(36)

perusahaan tertentu. Perlu diingat kedua macam kebutuhan ini tidak selalu benar- benar dapat dipisah-pisahkan. Tidaklah mungkin suatu perusahaan akan berusaha untuk mempengaruhi kebutuhan primer kecuali jika hasilnya akan meningkatkan penjualan merek selain juga penjualan bentuk produk atau kelas produk.

Demikian pula, strategi kebutuhan selektif yang dirancang untuk mengurangi penjualan merek-merek pesaing mungkin juga mempunyai akibat merangsang kebutuhan primer. (Maulana, 1990: 158-159)

1. Strategi Kebutuhan Primer

Strategi kebutuhan primer dirancang terutama untuk meningkatkan tingkat permintaan akan bentuk atau kelas produk dari bukan pemakaian sekarang dan dari pemakaian sekarang. Produk-produk pada tahap introduksi dalam siklus hidup bentuk produk (yang tidak atau hanya mempunyai sedikit pesaing saja) serta produk-produk dengan bagian pasar yang besar kemungkinan besar akan mendapat manfaat dari strategi yang dirancang untuk meningkatkan jumlah pemakai produk. Demikian pula perusahaan yang berusaha untuk menaikkan tingkat usaha penjualan kepada pembeli bentuk produk yang sudah ada juga menetapkan strategi kebutuhan primer. Karenanya, ada dua pendekatan strategi yang mendasar untuk merangsang kebutuhan primer : meningkat jumlah pemakai dan menaikkan tingkat pembelian.

a. Meningkatkan Jumlah Pemakai

Untuk meningkatkan jumlah pemakai, perusahan harus memperbesar kesediaan pelanggan untuk membeli atau kemampuan mereka untuk membeli produk atau jasa atau kedua-duanya.

(37)

1) Meningkatkan Kesediaan untuk Membeli

Kesediaan membeli dapat ditingkatkan dengan memperlihatkan manfaat-manfaat yang sudah ada pada produk. Pendekatan ini biasanya perlu dalam pemasaran bentuk produk baru.selain itu, kesediaan membeli dapat juga dicapai lewat penambahan lini produk yang menawarkan berbagai produk yang memenuhi kebutuhan khas dari segmen potensial yang baru.

2) Meningkatkan kemampuan membeli

Kemampuan membeli dapat ditingkatkan dengan menawarkan harga yang lebih rendah atau kredit, atau dengan mempertinggi kemudahan mendapatkan produk (dengan memperbanyak distributor, mempersering pengiriman atau mengurangi tingkat kehabisan persediaan).

b. Meningkatkan Jumlah Pembelian

Untuk mendapatkan pertumbuhan yang lebih cepat dalam pasar yang lesu tetapi sudah matang, strategi pemasaran dapat ditujukan kearah peningkatan kesediaan untuk membeli lebih sering atau lebih banyak dengan menggunakan salah satu dari pendekatan-pendakan berikut:

1. Meluaskan Penggunaan Produk

Biasanya ini dicapai dengan memberikan infomasi mengenai penggunaan-penggunaan yang baru untuk suatu produk. Pendekatan yang serupa adalah dengan meningkatkan volume pembelian rata-rata lewat perancangan kembali (redesign) bauran produk.

(38)

2. Meningkatkan Jumlah Konsumsi Produk

Harga yang lebih rendah atau kemasan volume khusus dapat mengakibatkan penjualan dalam volume rata-rata yang lebih tinggi atau konsumsi yang lebih cepat bagi produk-produk. Pengemasan kembali (repackaging). Produk dengan cara yang khusus dan lebih memudahkan dapat mempunyai pengaruh yang sama. Selain itu, tingkat konsumsi kadang-kadang dapat ditingkatkan dengan menekankan manfaat baru bila kebutuhan pelanggan berubah.

3. Mendorong Penggantian karena Rancangan Ulang Produk

Perancangan ulang mungkin dapat juga merupakan strategi kebutuhan selektif. Tetapi ini lebih merupakan strategi kebutuhan primer dalam industri mode dan dalam industri barang-barang durable lainnya.

2. Strategi Kebutuhan Selektif

Strategi kebutuhan selektif dirancang untuk memperbaiki posisi persaingan suatu produk, jasa, atau bisnis. Fokus dasar dari strategi-strategi ini adalah pada bagian pasar, karena perolehan penjualan diharapkan akan datang dengan mengorbankan bentuk produk atau kelas produk pesaing. Strategi kebutuhan selektif dapat dicapai dengan mempertahankan pelanggan lama atau dengan menjaring pelanggan baru.

a. Strategi Mempertahankan Pelanggan

Ada beberapa bentuk strategi mempertahankan pelanggan yaitu : 1) Memelihara Kepuasan Pelanggan terhadap Prestasi Produk

Dalam hal produk-produk konsumen, manajer biasanya berusaha memelihara citra mutu yang konsisten. Pogram-program seperti

(39)

menetapkan harga tinggi, menjual lewat pengecer yang bercitra mutu, seta meningkatkan mutu produk dapat mempengaruhi citra mutu produk. Kepuasan akan prestasi produk juga dapat ditingkatkan jika perusahaan memberikan informasi atau pelayanan tambahan yang akan membantu kea rah penggunaan produk secara tepat dan efektif.

2) Menyederhanakan Proses Pembelian para Pembeli

Dalam hal menyederhanakan proses pembelian para pembeli maka hal-hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan yaitu: melaksanakan pengiriman yang cepat; menawarkan sekumpulan produk;

menggunakan penjualan sumber tunggal; menjamin pelindungan harga; menggunakan penjualanan sistem.

3) Mengurangi Daya Tarik atau Peluang untuk Beralih Kepesaing

Dalam hal mengurangi daya tarik atau peluang untuk beralih kepesaing maka hal-hal yang dapat digunakan oleh perusahaan yaitu:

mengembangkan perluasan merek; menawarkan banyak merek;

memudahkan perluasan sistem; menurunkan harga.

b. Strategi Menjaring Pelanggan

Perusahaan tidak dapat menjaring pelanggan pesaing atau pelanggan baru kecuali jika perusahaan tersebut dirasakan oleh pembeli sebagai lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Strategi menjaring pelanggan pada dasarnya akan didasarkan pada bagaimana produk akan ditempatkan (positioning) dalam pasar. Artinya, posisi produk menggambarkan bagaimana produk dirasa mempunyai atribut penentu yang diinginkan tiap-tiap segmen dibandingkan dengan pesaing. Dari

(40)

sudut panjang menegerial, perusahaan dapat mencoba menjarig perusahaan pelanggan dengan menempatkan produknya dalam salah satu cara: mengambil posisi berhadapan atau mengambil posisi berbeda.

1) Mengambil Posisi Berhadapan (Head To Head Posisitioning)

Dalam menerapkan strategi ini maka hal-hal yang perlu dilakukan oleh perusahaan yaitu ; mengembangkan karakteristik yang istimewa pada atribut penentu; menurunkan harga; memperbanyak iklan;

menggunakan distribusi yang lebih luas.

2) Mengambil Posisi Berbeda (Differentiated Position)

Dalam menerapkan strategi ini maka hal hal yang perlu dilakukan oleh perusahaan yaitu: merancang dan mempromosikan manfaaat yang khas; menggunakan jalur distribusi, kemasan, pelayanan dan harga yang khas

2.2 Eksistensi

Soren Kierkegaard (1813-1855) adalah pemikir pertama yang memperkenalkan istilah “eksistensi” yang dipakai menurut pengertian sekarang dalam aliran eksistensialisme. “Esensi” berarti yang ada, maka “eksistensi”

dimengerti sebagai yang berada. Konsep eksistensi menunjuk pada sesuatu yang hadir secara konkrit, memiliki efek, jelas, pasti, kelihatan dan yang lakukan sesuatu.

Kata eksistensi berasal dari kata eks (keluar) dan sistensi, yang diturunkan dari kata kerja sisto (berdiri, menempatkan). Kata eksistensi diartikan bahwa manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar

(41)

bahwa dirinya ada (Hadiwijono, 2005:148). Menurut Loren Bagus (1996:183), eksistensi berasal dari kata existence yang berasal dari Bahasa Latin existere yang berarti muncul, ada, timbul, atau memiliki keberadaan aktual. Existere sendiri berasal dari kata ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti tampil atau muncul.

Dalam kamus kata serapan, Martinus (2001:149) mengungkapkan bahwa eksistensi adalah hal, hasil tindakan, keadaan, kehidupan semua yang ada.

Sedangkan Kamus Bahasa Indonesia mendefinifikan eksistensi sama dengan keberadaan, kehadiran yang mengandung unsur bertahan (Pusat Bahasa, 2008).

Eksistensi terkait dengan keberadaan fisik dan fungsi yang melekat dalam dirinya.

Artinya, eksistensi menjelaskan tentang penilaian ada atau tidak adanya pengaruh terhadap keberadaan seseorang tersebut.

Terdapat beberapa pengertian tentang eksistensi yang dijelaskan menjadi 4 pengertian. Pertama, eksistensi adalah apa yang ada. Kedua, eksistensi adalah apa yang memiliki aktualitas. Ketiga, eksistensi adalah segala sesuatu yang dialami dan menekankan bahwa sesuatu itu ada. Keempat, eksistensi adalah kesempurnaan.

Menurut seorang ahli filsafat atau filsuf bernama Karl Jaspers (1985:119) memaknai eksistensi sebagai pemikiran manusia yang memanfaatkan dan mengatasi seluruh pengetahuan objektif. Eksistensi seorang manusia dapat dibuktikan oleh cara berpikir dan tindakannya. Hal-hal tersebut dengan tujuan supaya semua orang paham dan sadar bahwa setiap orang memiliki keunikan yang berbeda satu dengan yang lain. Sebab, eksistensi merupakan sesuatu yang sifatnya individual sehingga bisa ditentukan oleh masing-masing individu. Menurut

(42)

Jaspers, semua orang memiliki cara keberadaan yang khas dan unik, itulah yang dinamakan sebagai eksistensi seorang individu. Sehingga setiap orang yang dapat menentukan jati diri atas keberadaannya dan mampu berdiri diantara eksistensi orang lain maka mereka akan mendapatkan eksistensi yang sejati.

Menurut Abidin Zaenal (2007 :16) Eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, suatu, menjadi atau mengada. Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri, yakni exsistere yang artinya keluar dari, melampaui atau mengatasi. Jadi eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal dan mengalami perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya.

Eksistensi yaitu keberadaan, dimana yang dimaksud adalah adanya pengaruh atas ada atau tidak adanya kita. Eksistensi ini perlu diberikan orang lain kepada kita karena dengan adanya respon dari orang disekeliling kita ini membuktikan bahwa keberadaan diakui. Akan terasa sangat tidak nyaman ketika ada namun tidak satupun orang menganggap kita ada, oleh karena itu pembuktian atas keberadaan kita dapat dinilai dari beberapa orang yang menanyakan kita atau setidaknya merasa sangat membutuhkan itu jika kita tidak ada (Lena Uli, 2014:27) Maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa eksistensi merupakan kemampuan bertahan yang dilakukan seseorang/objek untuk mendapat pengakuan dari orang lain atas keberadaan atau kehadirannya dengan mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya, karena setiap individu atau objek memiliki potensi berupa ciri khas dan keunikannya masing-masing.

(43)

2.3 Rumah Makan/Restoran

2.3.1 Pengertian Rumah Makan/Restoran

Rumah Makan atau Restoran adalah suatu tempat yang identik dengan jajaran meja-meja yang tersusun rapi, dengan kehadiran orang, timbulnya aroma semerbak dari dapur dan pelayanan para pramusaji, berdentingnya bunyi-bunyian kecil karena persentuhan gelas-gelas kaca, porselin, menyebabkan suasana hidup di dalamnya (Sugiarto dan Sulartiningrum, 2001: 77).

Menurut UU RI No. 34 Tahun 2000 rumah makan/restoran, adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jasa boga atau catering.

Menurut Marsum (1991:7) Rumah Makan/Restoran adalah suatu tempat atau bangunan yang diorganisasikan secara komersial, yang menyelenggarakan pelayanan dengan baik kepada semua tamunya baik berupa makan maupun minuman. Sedangkan Menurut Agusnawar (2000:15) restoran adalah bagian dari luar hotel yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan hidangan dan minuman untuk para tamu yang menginap dan untuk umum.

Maka dapat disimpulkan bahwa rumah makan/restoran adalah suatu tempat makan yang menyajikan hidangan kepada masyarakat/konsumen yang berkunjung pada tempat tersebut dan tersedianya tempat untuk menikmati hidangan yang ada serta terdapat pula pungutan biaya tertentu untuk makanan dan pelayanan yang disediakan.

(44)

2.3.2 Klasifikasi Rumah Makan/Restoran

Menurut Marsum (2000, p. 7-11), restoran dibagi ke dalam 22 tipe yang berbeda, berdasarkan tujuan operasional yaitu:

1. A’La Carte Restaurant adalah restoran yang telah mendapatkan izin penuh untuk menjual makanan, lengkap dengan banyak variasi. Dimana konsumen bebas memilih sendiri makanan yang mereka kehendaki. Tiap-tiap makanan yang tersedia di restoran jenis ini memiliki harga tersendiri.

2. Table D’hote Restaurant adalah Restoran yang khusus menjual menu yang lengkap (dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup), dan tertentu, dengan harga yang telah ditentukan pula.

3. Coffee Shop atau Brasserie adalah restoran yang pada umumnya berhubungan dengan hotel, suatu tempat dimana tamu bisa mendapatkan makanan pagi, siang dan malam secara cepat dengan harga yang terjangkau. Pada umumnya sistem pelayanannya adalah American Service.

4. Cafetaria atau Cafe adalah restoran kecil yang mengutamakan penjualan kue, roti isi, kopi dan teh. Pilihan makanan terbatas dan tidak menjual minuman beralkohol.

5. Canteen adalah restoran yang berhubungan dengan kantor, pabrik atau sekolah. Tempat dimana para pekerja dan pelajar dapat mendapatkan makanan dan snack di jam sengang kerja atau belajar.

6. Continental Restaurant adalah suatu restoran yang menitik beratkan hidangan continental pilihan dengan pelayanan elaborate atau megah. Suasananya santai, susunannya agak rumit, disediakan bagi tamu yang ingin makan dengan santai dan rileks.

(45)

7. Carvery adalah suatu restoran yang sering berhubungan dengan hotel dimana para tamu dapat mengiris sendiri hidangan panggang sebanyak yang mereka mau dengan harga yang telah ditetapkan.

8. Dining Room merupakan tempat makan ynag disediakan untuk para tamu yang tinggal di hotel kecil, motel atau Inn, namun juga terbuka untuk publik.

9. Discotheque adalah restoran yang ada prinsipnya berati juga tempat dansa sambil mendengar alunan musik. Fasilitas utama adalah bar dan makanan yang umumnya dijual adalah snack.

10. Fish and Chip Shop adalah suatu restoran yang banyak terdapat di Inggris, dimana kita dapat membeli berbagai macam kripik dan ikan goreng. Biasanya makanan dibungkus dalam kertas dan dibawa pergi.Jadi hidangan tidak dinikmati di tempat itu.

11. Grill Room (Rotiesserie) adalah suatu restoran yang meyediakan daging panggang. Dapur biasanya hanya bersekat kaca agar konsumen dapat memilih langsung potongan daging yang mereka kehendaki dan melihat langsung proses memanggangnya.

12. Inn Tavern adalah restoran dengan harga yang relatif cukup terjangkau, yang dikelolaoleh perorangan di tepi kota. Suasana dibuat sangat dekat dan ramah dengankonsumennya serta menyediakan hidangan yang lezat.

13. Night Club/Super Club adalah suatu restoran yang buka menjelang malam, menyediakan makanan dan minuman untuk para tamu untuk bersantai. Harga relatif mahal dan tamu diharapkan menggunakan pakaian yang rapi dan resmi agar menaikan gengsi.

(46)

14. Pizzeria adalah suatu restoran yang khusus menjual Pizza dan terkadang juga menjual spaghetti dan masakan Italia lainnya.

15. Pan Cake House/Creperie adalah suatu restoran yang khusus menjual Pan Cake/Creperie yang diisi dengan berbagai macam manisan.

16. Pub adalah sebuah restoran atau identik dengan tempat hiburan umum yang mendapatkan izin untuk menjual bir serta minuman alkohol lainnya.

Pengunjung dapat menikmati minuman dan snack sambil berdiri atau duduk di meja makan.

17. Snack Bar atau Milk Bar adalah restoran dengan tempat yang tidak terlalu luas yang sifatnya tidak resmi dengan pelayanan yang cepat, dimana konsumen mengumpulkanmakanan mereka diatas baki yang diambil dari atas counter (meja panjang yang membatasi dua ruangan) kemudian membawanya sendiri ke meja makan. Konsumen bebas memilih makanan yang disukai, disini lebih dikenal dengan nama restoran cepat saji (fast food). Makanan yang tersedia umumnya hamburger , roti isi, kentang goreng, ayam goreng, nasi, dan mie.

18. Specialty Restaurant adalah restoran yang suasana dan dekorasi seluruhnya disesuaikan dengan tipe khas makanan yang disajikan atau temanya. Restoran- restoran semacam ini menyediakan masakan Eropa, China, Jepang, India dan sebagainya. Pelayanan sedikit banyak berdasarkan tata cara negara asal makanan special tersebut.

19. Terace Restaurant adalah suatu restoran yang terletak di luar bangunan namun masib memiliki hubungan dengan hotel maupun restoran induk.

(47)

20. Gourmet Restaurant adalah restoran yang menyelengarakan pelayanan makan dan minum untuk orang-orang yang berpengalaman luas terhadap rasa makanan dan minumam. Makanan dan munuman lezat, pelayanan megah dan harga cukup mahal.

21. Family Type Restaurant adalah restoran sederhana yang menghidangkan makanan dan minumandengan harga yang relatif murah dan terjangkau.

Terutama disediakan untuk tamu-tamu keluarga maupun rombongan.

22. Main Dinning Room adalah suatu restoran atau ruang makan utama yang umumnya terdapat di hotel-hotel besar, diaman penyajian makanan secara resmi, pelan tapi pasti terikat oleh suatu peraturan yang ketat. Pelayanan umumnya ala Perancis atau Rusia.

Sugiarto dan Sulartiningrum (2001:102) dalam bukunya mengklasifikasikan restoran menjadi:

1. Vending Machine adalah jenis restoran menggunakan mesin otomatis dan seseorang dapat mengambil makanan yang dikehendaki dengan memasukkan sejumlah koinsesuai dengan harga makanan yang tertera.

2. Delicatessen adalah restoran khusus yang menjual makanan seperti ham, sausage, bacon dan sebagainya.

3. Bistro adalah restoran kecil, modern dari negara Perancis. Restoran ini biasanya terdapat dipertokoan di mana orang banyak melalui tempat tersebut.

4. Canteen adalah restoran yang menyediakan makanan kecil. Dahulu aslinya restoran ini berada di bawah camp militer. Sekarang istilah kantin banyak digunakan sebagai restoran untuk karyawan di perusahaan atau di gedung- gedung perkantoran.

(48)

5. Café adalah jenis restoran yang sampai sekarang masih banyak tersebar di kota-kota besar, biasanya jenis pelayanan ini juga disajikan hiburan berupa music live show, dan lain-lain.

6. Rail Road Catering adalah restoran yang berada di dalam kereta api. Tamu dapat makan di restoran atau memesan pada waiter/waitress yang hilir mudik di gang antara tempat duduk atau dengan menggunakan kereta dorong atau nampan para waiter menjajakan makanan/minuman.

7. Pool Snack Bar adalah counter bar kecil yang terletak di tepi kolam renang.

Disamping menyediakan minuman, makanan kecil, tamu juga dapat memesan makanan lain.

8. Cafetaria Self service adalah restoran dimana tamu mengambil sendiri hidangan yang disukai dan makanan diatur di atas meja. Untuk jumlah pembayaran sesuai dengan harga makanan yang diambil.

9. Chop Steak atau Steak House adalah sebuah restoran dengan spesialisasinya menjual makanan yang dibakar atau chop.

10. Coffee Pot adalah restoran kecil yang informal dengan harga yang dapat dijangkau oleh golongan ekonomi manapun, bisanya berupa warung dan berada di tepi-tepi jalan.

11. Drive Inn adalah restoran yang berada di teater mobil, makanan dihidangkan di dalam mobil, hanya menjual makanan yang praktis seperti hotdog, sandwich, ice cream, dan sebagainya.

12. Lunch Wagon atau Wagon Restaurant adalah restoran dorong yang biasanya menghidangkan makanan-makanan kecil seperti: bakso, sate, mi, dan sebagainya.

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Berfikir
Gambar 4.1  Struktur Organisasi
Foto Bersama Pemilik
Foto ketika Wawancara Berlangsung
+3

Referensi

Dokumen terkait

Adapun judul skripsi penulis berjudul “Gambaran Hygiene Sanitasi Pengelolaan Makanan dan Pemeriksaan Escherichia coli pada Makanan di Rumah Makan Khas Minang Jalan Setia

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sanitasi pengelolaan rumah makan dan restoran berdasarkan tingkat mutu (grade A,B,C dan tanpa grade) di kota medan tahun 2013

PENGARUH HARGA, KEMASAN, DAN IKLAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MINUMAN TEH BOTOL SOSRO (Studi Kasus Pada Rumah Makan Bakso Urat ADS Jl. Setia Budi, Tanjung..

Hipotesis yang diajukan penulis adalah, konsumen merasa puas terhadap atribut-atribut yang ditawarkan oleh rumah makan The Westlake Resto, Atribut yang memuaskan konsumen