• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR MORFOLOGI DAN ANATOMI PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban.) DI KOTA MALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRUKTUR MORFOLOGI DAN ANATOMI PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban.) DI KOTA MALANG"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

9

STRUKTUR MORFOLOGI DAN ANATOMI PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban.) DI KOTA MALANG

Eko Susetyarini*, Poncojari Wahyono, Roimil Latifa, Endrik Nurrohman

Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang, Jawa Timur. Fax: 0341464318

*Coresponding author: [email protected] ABSTRAK

Covid-19 menjadi penyakit yang sangat serius dan menjadi perhatian di seluruh dunia. Peningkatan imunitas tubuh dan upaya pencegahan sangat penting dilakukan untuk mengurangi resiko infeksi. Pegagan menjadi salah satu tanaman yang kaya akan senyawa berkhasiat sebagai obat yang bisa menjadi alternatif secara alami. Penelitian ini adalah langkah awal penelitian mencari kandidat senyawa yang berpotensi sebagai obat dalam penanganan suatu penyakit. Tujuan penelitian ini adalah menginventarisasi jenis dan mendeskrispsikan struktur morfologi dan anatomi organ pegagan (Centella asiatica). Penelitian dimulai pada bulan Juni-Juli 2020. Penelitian dilakukan di 5 kecamatan di Kota Malang dan Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang. Metode pengambilan sampel secara purposive random samping dengan teknik jelajah. Pengambilan data dengan cara mengamati struktur morfologi dan anatomi dengan mengacu buku dan jurnal. Data anatomi didapat dengan cara mengiris organ dan mengamati menggunakan mikroskop cahaya. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menjabarkan karakter morfologi dan anatomi pegagan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua jenis pegagan dengan ciri morfologi daun berwarna hijau, bentuk daun membulat, tepi daun bergerigi.

Berbentuk sulur, batang lunak dan beruas, setiap ruas tumbuh akar dan daun. Akar berwarna putih, rimpang pendek dan stolon yang merayap. Tangkai bunga ungu. Analisis kuantitatif morfologi tanaman menunjukkan adanya keragaman pada panjang petiol (4,6-26,2 cm), panjang daun (2-6 cm) dan lebar daun (2-5,2 cm), panjang stolon (0,8-1,8 cm), panjang sulur (7,6-12 cm) dan tangkai bunga (6,1-16,2 cm). Terdapat tiga jaringan utama yaitu jaringan pelindung, pengangkut, dan jaringan dasar. Trikoma glanduler berbentuk jarum pada tangkai dan seperti benang pada daun, dan stomata daun berbentuk ginjal.

Kata Kunci: Anatomi, Kota Malang, Morfologi, Pegagan (Centella asiatica).

ABSTRACT

Covid-19 is a very serious disease and is considered to be a worldwide concern. Increased body immunity and prevention efforts are very important to reduce the risk of infection. Pegagan is one of the plants that is rich in nutritious compounds and potentially be an alternative option for medication. This research is the first step to discover candidates for potential compounds as drugs in order to treat the disease. The purpose of this study is to inventory the types and describe the morphological and anatomy structure of Pegagan organs (Centella asiatica).

The study began in June-July 2020. The research was conducted in 5 districts in Malang City and the Biology Laboratory of the University of Muhammadiyah Malang. The method of collecting the sample was using purposive random sampling with exploration technique. Collection of data by observing the structure of morphology and anatomy with reference to books and journals. Anatomical data is obtained by slicing and observing organs using a light microscope. Data were analyzed descriptively quantitatively by describing morphological and anatomic characters of Pegagan. The results showed that there were two types of Pegagan with morphological characteristics of green leaves, rounded leaf shape, serrated leaf edge. Shaped tendrils, soft and broad stem, each root and leaf segment grows. White roots, short rhizomes and creeping stolons. Purple flower stalk. Quantitative analysis of plant morphology shows diversity in petiol length (4.6-26.2 cm), leaf length (2-6 cm) and leaf width (2-5.2cm), stolon length (0.8-1.8 cm), length of tendrils (7.6-12 cm) and flower stalks (6.1-16.2 cm).

There are three main plant tissue namely protective, transport and basic tissue. Glandular trichomes are needle- shaped and leaf stomata are kidney-shaped.

Keywords: Anatomy, Malang City, Morphology, Pegagan (Centella asiatica).

(2)

10 PENDAHULUAN

Covid19 menjadi wabah penyakit yang sangat serius dan menjadi perhatian di seluruh dunia. Covid19 disebabkan oleh Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau lebih umum dikenal dengan corona virus.Virus corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian (Fadli, 2020).

Pada manusia SARS-CoV-2 terutama menginfeksi sel-sel pada saluran napas yang melapisi alveoli (Susilo et al, 2020). Efek sitopatik virus dan kemampuannya mengalahkan respons imun menentukan keparahan infeks (Qin et al, 2020).

Peningkatan imunitas tubuh dan upaya pencegahan sangat penting dilakukan untuk mengurangi resiko infeksi. Kunci pencegahan meliputi pemutusan rantai penularan dengan isolasi, deteksi dini, dan melakukan proteksi dasar (Dirjen pengendalian penyakit, 2020; WHO, 2020 ).

Peningkatan daya tahan tubun dengan memanfaatkan senyawa yang ada pada tumbuhan sekitar bisa menjadi alternatif.

Tumbuhan di Indonesia sangatlah beragam jenisnya. Banyak tumbuhan yang terdapat di sekitar lingkungan masyarakat yang kaya akan manfaat sebagai bahan makanan dan obat (Sitasiwi, 2016;

Susetyarini, 2011b). Pegagan (Centella asiatica) menjadi salah satu tumbuhan liar dan jumlahnya banyak di lingkungan masyarakat yang kaya akan manfaat bagi kesehatan. Pegagan adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, selain pegagan nama lainnya adalah daun kaki kuda dan antanan (Orha, 2018), merupakan tanaman obat tropis dari Keluarga Apiaceae (Siddiqui et al, 2007), berasal dari negara- negara Asia Tenggara seperti India, Sri Lanka, Cina, Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan dan Madagaskar (Jamil et al, 2007;

Siddiqui et al, 2007).

Pegagan penting diteliti karena sangat kaya akan kandungan senyawa yang berpotensi sebagai kandidat obat penyembuhan penyakit. Banyak penelitian yang melaporkan pegagan mengandung agen anti-inflamasi yang telah digunakan

secara tradisional obat-obatan dan dieksploitasi secara komersial untuk penyembuhan luka (Abrol et al, 2012).

Centella asiatica dilaporkan memiliki neuroprotektif (Seeveratnam et al, 2012), antioksidan (Seeveratnam et al, 2012; Hashim et al, 2011), antidiabetik dan antimikroba (Seeveratnam et al, 2012; Jogtop et al, 2009), antitumor (Hashim et al, 2011; Lee et al, 2002), antioksidan, penyembuhan luka, obat penenang, dan kegiatan neuroprotektif (Gallego et al, 2018). Tumbuhan ini telah banyak digunakan sebagai bahan aktif dalam kosmetik dan produk obat-obatan (Plengmuankhae, 2015).

Banyaknya manfaat dari pegagan maka mengkaji struktur morfologi, anatomi, dan biokimia sangat penting untuk dilakukan. Morfologi dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat terlihat dari luar tumbuhan (Tjitrosoepomo, 1990).

Banyak yang berpendapat bahwa morfologi dinilai sebagai cara lama yang dianggap sudah ketinggalan. Pada hakikatnya mempelajari morfologi merupakan dasar penyelesaian masalah taksonomi (Stuessy, 2009). Morfologi merupakan dasar deskripsi taksonomik terpenting (Simpson, 2006).

Identifikasi suatu tanaman sangat penting untuk mempelajari tentang morfologi, karena memudahkan para peneliti dalam mengklasifikasikan jenis tumbuhan.

Sehingga keragaman tumbuhan yang sangat beranekaragam dapat identifikasi dan diklasifikasikan untuk memudahkan dalam pemberian nama spesies, famili, hingga kingdom (Tjitrosoepomo, 1990).

Selain morfologi, kajian anatomi juga penting dalam kegiatan identifikasi tanaman. Karakter struktur bagian dalam (inner structure) tumbuhan telah memberikan sumbangan pada sistematika tumbuhan lebih dari 150 tahun (Judd, 2002). Identifikasi tanaman sangat penting untuk dilakukan, ada hubungan morfologi, anatomi tumbuhan dengan kondisi lingkungan tempat tumbuh. Lingkungan tempat tumbuhan tumbuh akan mempengaruhi struktur morfologi, anatomi tumbuhan, dan senyawa metabolitnya (Kusmana &

Hikmatb, 2015).

Berdasarkan kepopuleran dan banyaknya manfaat pegagan (Centella

(3)

11 asiatica) bagi dunia kesehatan, maka sangat

perlu untuk dilakukan penelitian yang mengkaji secara menyeluruh baik dari segi botani pada aspek morfologi dan anatomi organ sampai biokimia kandungan senyawa dan pengujiannya pada hewan coba secara preklinis. Penelitian ini adalah langkah awal penelitian mencari kandidat senyawa yang berpotensi sebagai obat dalam penanganan suatu penyakit, tujuan khusus penelitian ini adalah menginventarisasi dan mengetahui struktur morfologi dan anatomi dari pegagan.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2020. Penelitian dilakukan di 5 kecamatan di kota Malang meliputi kecamatan Blimbing, Klojen, Lowok Waru, Kedung Kandang dan Sukun dan tempat pengamatan di laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang. Alat dan bahan yang digunakan diantaranya mikroskop binokuler, soil tester, kaca benda, kaca penutup, katter, aquades, pinset, plastik, kerta label, kertas milimeter blok, alat tulis, penggaris. Metode pengambilan sampel secara Purposive random samping dengan teknik jelajah.

Pengambilan data dengan cara mengambil sebanyak lima sampel tumbuhan

pegagan dengan bagian-bagian yang lengkap dan utuh, membersihkan akar tanaman dari tanah dan kotoran serta mengeringkanya dengan cara mengaing- anginkan, mengamati struktur morfologi secara kualitatif yang meliputi bentuk daun, tepi daun, warna daun, akar, sulur, stolon, dan tangkai bunga. Pengambilan data secara kuantitatif dengan cara mengukur bagian- bagian tanaman menggunakan penggaris dan kertas milimeter blok dan merata-rata hasil pengukuran. Pengamatan anatomi dengan bantuan mikroskop binokuler, pengamatan morfologi dan anatomi dibantu dan mengacu pada buku dan jurnal. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menjabarkan karakter morfologi dan anatomi pegagan yang terkoleksi dan diamati.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian karakter morfologi pegagan didapatkan hasil pegagan di lima kecamatan kota Malang yakni pada kecamatan Lowok waru, Blimbing, Klojen, Sukun, dan Kedung landang. Pengamatan difokuskan pada morfologi daun yang mencakup warna daun, tepi daun, bentuk daun, tangkai daun, akar, tangkai bunga, sulur, akar, dan stolon. Hasil pengamatan morfologi disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Hasil Pengamatan Morfologi Pegagan pada lima Kecamatan di Kota Malang A). Lowok Waru. B). Blimbing. C). Klojen. D). Sukun . E). Kedung Kandang.

Foto diambil menggunakan camera Handphone Hasil pengamatan morfologi pegagan dari lima kecamatan di kota Malang secara keseluruhan memiliki kesamaan secara morfologi pada pengamatan kualitatif.

Pegagan memiliki lima tangkai daun atau petiol setiap tumbuhan dengan helaian daun

berwarna hijau. Pegagan secara morfologi memiliki lima buah petiol yang setiap petiol terdapat daun dengan bentuk membulat oval, dan daunnya berwarna hijau, memiliki rambut-rambut pada daunya (Seeveratnam et al, 2012; Brinkhaus et al, 2000).

A B

C D

E

(4)

12 Hasil pengamatan warna daun apabila

dibandingkan keseluruhan sampel semua berwarna hijau, namun pegagan pada kecamatan Lowok waru menunjukkan warna daun hijau tua dibandingkan daun pada sampel yang lainya. Menurut Bermawie et al. (2006) secara umum warna daun pegagan adalah hijau. Warna daun dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor paling dominan adalah kandungan klorofil pada daun tumbuhan yang secara fisiologi juga dipengaruhi faktor internal dan eksternal selama pertumbuhan daun (Nurrohman et al, 2017; Latifa et al, 2019).

Faktor lain yang mempengaruhi karakteristik morfologi daun adalah intensitas cahaya. Pegagan akan tumbuh baik pada intensitas cahaya 30-40% (Winarto

& Surbakti, 2003).

Karakter morfologi pegagan yang lain secara umum sama, dengan ciri-ciri morfologi daun berwarna hijau, bentuk daun membulat, tepi daun bergerigi. Berbentuk sulur, batang lunak berbentuk stolon dan beruas, setiap ruas tumbuh akar dan daun.

Akar berwarna putih, rimpang pendek dan stolon yang merayap, tangkai bunga berwarna ungu. Pegagan termasuk dalam

tumbuhan terna yang tumbuh menjalar dan bercabang-cabang membentuk tumbuhan baru berumpun menutupi tanah. Batang pegagan lunak dan beruas, setiap ruas tumbuh akar dan daun dengan tangkai daun yang lebih panjang dibandingkan ukuran daunnya. Akar berwarna putih, dengan rimpang pendek dan stolon yang merayap.

Stolon merupakan tunas horizontal yang tumbuh disepanjang permukaan tanah (Cambell dkk., 2008). Pegagan memiliki keragaman yang cukup besar, namun karena berasal dari genus yang sama atau bahkan spesies yang sama, pegagan tetap memiliki beberapa kesamaan baik dalam pola hidup maupun penampakan morfologinya (Campbell dkk., 2008).

Hasil yang berbeda didapatkan pada pengamatan morfologi secara kuantitatif, setiap tumbuhan memiliki lima tangkai dan helaian daun dengan ukuran yang berbeda setiap spesies tumbuhan pegagan dan berbeda juga rata-rata pada setiap kecamatan yang ada di Kota Malang. Hasil yang berbeda juga didapatkan pada pengukuran panjang stolon, panjang sulur, dan panjang tangkai bunga. Hasil Pengamatan data kuantitatif disajikan pada Gambar 1.

Gambar 2. Hasil Pengamatan Data Kuantitatif Pegagan 22,04

13,14

20,16

11,44 12

4,6 3,7 3,98

3 2,68

5,16 4,38 4,22

3,54 3,36

1,2 0,8 1,1 1,8 1,3

7,3

12

9,2 8,6

7,6 16,2

13,5 14,7

5,2 6,1

0 5 10 15 20 25

Lowok Waru Blimbing Klojen Sukun Kedung Kandang

Ukuran (cm)

Tempat (Kecamatan)

P. Petiol L. Daun P. Daun2 P. Stolon P. Sulur P. Tangkai Bunga

(5)

13 Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.)

dapat tumbuh pada berbagai macam jenis tanah, seperti tanah lembap, tanah berpasir, tanah lempung, dan tanah kaya humus.

Habitat pegagan umumnya didaerah tropis dan sub tropis (Das et al, 2000). Hasil pengamatan dan evaluasi karakteristik kuantitatif (Gambar 1) menunjukkan adanya keragaman dalam tinggi tanaman panjang petiol, panjang dan lebar daun, panjang stolon, panjang sulur, dan panjang tangkai bunga. Tinggi tanaman pada masing-masing petiol menunjukkan hasil rata-rata paling panjang adalah dari kecamatan Lowok waru (22,04 cm) dan paling pendek adalah dari kecamatan Sukun (11,44 cm). Daun paling panjang adalah 4,6 cm dan paling pendek 2,68 cm. daun paling lebar 5,16 dan paling kecil 3,36 cm. panjang stolon rata-rata panjang 0.8 sampai 1,8 cm, panjang sulur 7,3 -12 cm, panjang tangkai bunga rata-rata panjang 5,2 cm sampai 16,2 cm.

Analisa semua tumbuhan pegagan yang tumbuh dengan baik dari beberapa sampel yang diamati dari lima kecamatan di kota Malang jika melihat parameter morfologi daun, pegagan yang berasal dari kecamatan Lowok Waru adalah yang paling baik. Hal tersebut ditandai dengan ukuran daun yang rata-ratanya lebih panjang dan lebar dan warna daun yang paling bagus (hijau tua) pada semua daun dibandingkan dengan tumbuhan di kecamatan lain.

Menurut Winarto dan Surbakti (2003), pegagan tumbuh dengan baik yang ditandai dengan daunnya yang besar, lebar dan tebal karena ditanam pada tempat dengan kondisi lingkungan yang sesuai.

Secara umum pegagan seperti tumbuhan lainya yang membutuhkan kondisi optimum untuk bisa tumbuh, banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya yaitu unsur 1) hara, unsur hara merupakan hal penting dan esensial yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Nurrohman et al, 2017), 2) ketinggian tanah, Ph, dan kelembapan, pegagan tumbuh di daerah dengan ketinggian lebih dari 500 mdpl sampai 700 mdpl dengan kelembaban udara yang diinginkan 70-90%, memiliki temperatur udara antara 20-250C tetapi cukup sinar matahari atau agak terlindung dan tingkat keasaman tanah netral (pH) antara 6-7.4.. (Heyne 1987; Dalimartha 2000).

Hasil penelitian Bermawie et al, (2006) sifat morfologi tanaman menunjukkan adanya keragaman dalam tinggi tanaman, jumlah vena, jumlah daun induk, jumlah daun anakan, jumlah akar pada anakan, panjang daun, lebar daun, panjang ruas terpanjang, panjang, jumlah, diameter tangkai daun, diameter runner, jumlah anakan yang berbunga, jumlah bunga per runner, panjang tangkai bunga, bobot segar, dan bobot kering tanaman.

Hasil pengamatan karakter anatomi daun pegagan di dapatkan hasil bahwa terdapat tiga jaringan utama pada tangkai daun yaitu jaringan pelindung, pengangkut, dan jaringan dasar. Trikoma glanduler berbentuk jarum dan stomata daun berbentuk ginjal. Hasil pengamatan karakter anatomi pegagan di sajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Hasil pengamatan anatomi pegagan

Keterangan A) Irisan melintang tangkai daun, B) Pembuluh Angkut, C) Stomata, D) Trikoma Daun Pegagan.

Perbesaran 40x10

Diambil menggunakan camera Handphone

A B C D

(6)

14 Hasil pengamatan pada irisan

melintang tangkai daun didapatkan hasil bahwa terdapat tiga jaringan utama yaitu jaringan epidermis sebagai jaringan pelindung, pembuluh xylem dan floem sebagai jaringan pengangkut, dan jaringan dasar. Tiga jaringan utama penyusun organ tumbuhan secara umum yaitu jaringan pelindung, pengangkut, dan jaringan dasar (Fahn, 1992., Susetyarini et al, 2020). Jaringan pembuluh menunjukkan sejumlah berkas xilem yang terpisah dan letaknya bergantian dengan berkas floem (Armstrong, 1979).

Hasil pengamatan pada sayatan daun didapatkan stomata daun dengan bagian- bagian porus , sel pelindung, dan sel-sel tetangga. tipe stomata pada pegagan berbentuk ginjal. Stomata Merupakan celah pada epidermis organ tumbuhan yang berwarna hijau, terutama pada permukaan sebelah bawah yang dibatasi oleh dua sel penutup (Fahn, 1992). Stomata secara umum porusnya dilindungi oleh sel penjaga dan terdapat sel-sel tetangga disekitar stomata (Sarjani et al, 2017). Sel penutup mempunyai bentuk yang berbeda dengan sel epidermis disekitarnya. Ada dua macam sel penutup yaitu berbentuk halter dan ginjal (Raven et al, 1992). Stomata terdapat pada semua bagian tumbuhan yang terdedah ke udara, tetapi lebih banyak terdapat pada daun Pandey (1982) dalam Haryanti (2010).

Pengamatan trikoma pada daun pegagan didapatkan hasil tipe trikoma menyerupai benang. Rambut daun (trikoma) dan mulut daun (stomata) merupakan derivat dari jaringan epidermis (Harjadi, 1979; Susetyarini et al, 2020). Trikoma secara umum terdapar dua macam yaitu trikoma glanduler dan trikoma nonglanduler.

Perbedaan keduanya yaitu kemampuan dalam mensekresikan sekret dari dalam tubuh tumbuhan (Raven et al, 1992). Bentuk trikoma juga bervariasi pada tumbuhan, diantaranya bentuk jarum, pedang, dursen, bintang (Fahn, 1992).

KESIMPULAN

Kesimpulan penelitian ini secara kualitatif terdapat kesamaan pada beberapa sampel pegagan, terdapat keragaman pada panjang petiol, penjang dan lebar daun, panjang stolon, panjang sulur, dan panjang

tangkai daun. Terdapat tiga jaringan utama penyusun yaitu jaringan pelindung, pengangkut, dan jaringan dasar, stomata daun berbentuk ginjal dan trikoma menyerupai benang.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang dan Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi Republik Indonesia yang telah mendukung kegiatan penelitian ini.

DAFTAR RUJUKAN

Abrol, E., Vyas, D., Koul, S. 2012. Metabolic Shift From Secondary Metabolite Production to Induction of Anti- Oxidative Enzymes During NaCl Stress in Swertia chirata Buch- Ham. Acta Physiol. Plant. vol 34, 541–546.

Armstrong, W. 1979. Aeration in Higher Plants. In H. W. Woolhouse (Ed.), Advances in Botanical Research 7 (pp. 225–332). London, England:

Academic Press.

Bermawie, N., S.D.I. Meynarti, S. Purwiyanti, dan Suryatna. 2006. Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Pegagan. Laporan Akhir Tahun.

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 25 hlm.

Brinkhaus, B., Lindner, M., Schuppan, D., Hahn, E. 2000. Chemical, Pharmacological and Clinical Profile of the East Asian Medical Plant Centella asiatica.

Phytomedicine, 7, 427–448.

Campbell, dkk. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid Dua. Jakarta: Erlangga. hlm 318.

Das, Amar Jyoti. 2000. Review On Nutritional Medicinal and Pharmacological Properties Of Centella asiatica (Indian pennywort), hlm 217.

Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Trubus Agriwidya, Jakarta. 214 hlm.

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. 2020.

(7)

15 Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi

Coronavirus Disease (COVID-19).

Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2020.

Fadli, Ari. 2020. Mengenal Covid-19 dan Cegah Penyebarannya. Artikel Pengabdian Kepada Masyarakat Jurusan Teknik Elektro, di Desa Blater Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga. 1-6.

Fahn. A. 1992. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga Terjemahan. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. I TB.

Gajah Mada University Press.

Yogyakarta.

Gallego, Ana., Karla Ramirez-Estrada, Heriberto Rafael Vidal-Limon, Diego Hidalgo, Liliana Lalaleo, Waqas Khan Kayani, Rosa M.

Cusido, Javier Palazon. 2014.

Biotechnological Production of Centellosides in Cell Cultures of Centella asiatica (L) Urban. Eng. Life Sci, 14, 633–642.

Hashim, P., Sidek, H., Helan, M. H. M., Sabery, A. 2011. Triterpene composition and bioactivities of Centella asiatica. Molecules, 16, 1310–1322.

Harjadi. S. S. 1979. Pengantar Agronomi. PT.

Gramedia. Jakarta.

Haryanti, Sri. 2010. Jumlah dan Distribusi Stomata pada Daun Beberapa Spesies Tanaman Dikotil dan Monokotil. Jurnal Anatomi dan Fisiologi. vol 2(18). 21-28.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid lll. Terjemahan Badan Litbang Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.

Jamil, S, S, Q., Nizami, and M. Salam. 2007.

Centella asiatica (Linn.) Urban: a review, Natural Product Radiance, vol 6, (2): 158–170.

Judd. 2002. Taxonomic Evidence: Structure and Biochemical Character. Plant Systematic: A Phylogenetic Approach. Sunderland, MA:

Sinaeur Ass. Inc.

Jagtap, N., Khadabadi, S., Ghorpade, D., Banarase, N. 2009. Antimicrobial and antifungal activity of Centella

asiatica (L.) Urban, Umbeliferae.

Res. J. Pharm. Tech. 2, 328–330.

Kusmanaa, Cecep & Hikmatb, Agus. 2015.

Keanekaragaman Hayati Flora di Indonesia. Jurnal pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.

vol 5(2):187-198.

Latifa, Roimil., Hadi, Samsun., Nurrohman, Endrik. 2019. The Exploration of Chlorophyll Content of Various Plants in City Forest of Malabar Malang. BIOEDUKASI Jurnal Biologi dan Pembelajaranya, vol 17(2):50-62.

Lee, Y. S., Jin, D.-Q., Kwon, E. J., Park, S. H.

2002. Asiatic Acid, a Triterpene, Induces Apoptosis Through Intracellular Ca2+ Release And Enhanced Expression Of P53 In Hepg2 Human Hepatoma Cells.

Cancer Lett, 186, 83–91.

Nandini, Niramaya Nurjanah, 2008. Studi Karakter Agronomi Pada 17 Aksesi Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.), Skripsi, (Bogor, IPB), hlm 36.

Nurrohman, Endrik., Zubaidah, Siti., Kuswantoro, Heru. 2017. Effect of Nitrogen Dosage (N) on Morphology of Soybean Strains (Glycine max (L.) Merr) Hold Bemisia tabaci. BIOEDUKASI Jurnal Biologi dan Pembelajaranya. vol 15(2): 13-17.

Nurrohman, Endrik., Zubaidah, Siti., Kuswantoro, Heru. (2017).

Perawakan Beberapa Genotipe Kedelai (Glycine max (L.) Merr) Tahan Cowpea Mild Mottle Virus (CPMMV) Dengan Variasi Dosis Nitrogen. Prosiding Seminar Nasional III Pendidikan Biologi FKIP dan PSLK UMM.

Orhan ,Ilkay Erdogan. 2012. Centella asiatica (L.) Urban: From Traditional Medicine to Modern Medicine with Neuroprotective Potential.

Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. 1-8

Plengmuankhae, W., C. Tantitadapitak.

2015. Low Temperature and Water Dehydration Increase The Levels of Asiaticoside and

(8)

16 Madecassoside in Centella asiatica

(L.) Urban. South African Journal of Botany, 97:196–203.

Raven. P.H., R.F. Evert., S.e. Eichhorn. 1992.

Biologi of Plants. Worth Publishers, 33 Irving Place New York. New York 10003.

Sarjani, Mustika Tri; Mawardi; Pandia, Ekariana, Wulandari, Devi. 2017.

Identifikasi Morfologi dan Anatomi Tipe Stomata Family Piperaceae di Kota Langsa. Jurnal IPA dan Pembelajaran IPA (JIPI).

vol 1(2):182-191.

Seevaratnam, V., Banumathi, P., Premalatha, M., Sundaram, S. 2012. Functional Properties of Centella asiatica (L.):

A Review. Int. J. Pharm. Pharm. Sci, 4: 8–14.

Siddiqui, B. S., H. Aslam, S. T. Ali, S. Khan And S. Begum. 2007. Chemical Constituents of Centella asiatica.

Journal of Asian Natural Products Research, vol 9(4): 407–414.

Sitasiwi, Agung Janika., Muflikhatun, Mardiati Siti., 2016. Efek Antifertilitas Ekstrak Air dari Biji Carica Papaya terhadap Keteraturan Siklus Estrus Mencit (Mus musculus L.). Buletin Anatomi dan Fisiologi. vol 1 (1): 68-74.

Susetyarini, Eko., Wahyono, Poncojari., Latifa, Roimil., Nurrohman, Endrik. 2020. The Identification of Morphological and Anatomical Structures of Pluchea indica. Journal of Physics:

Conference Series. 1539 (2020) 012001 IOP Publishing doi:10.1088/1742-

6596/1539/1/012001

Susetyarini, Eko. 2011b. Aktivitas dan Keamanan Senyawa Aktif Daun

Beluntas Sebagai Antifertilitas Serta Pemanfaatannya Sebagai Buku Antifertilitas. Disertasi. Pasca UM.

Malang.

Susilo, Adityo, C. Martin Rumende, Ceva W Pitoyo, Widayat Djoko Santoso, Mira Yulianti, Herikurniawan, Robert Sinto, Gurmeet Singh, Leonard Nainggolan, Erni J Nelwan, Lie Khie Chen, Alvina Widhani, Edwin Wijaya, Bramantya Wicaksana, Maradewi Maksum, Firda Annisa, Chyntia OM Jasirwan, Evy Yunihastuti.

2020. Coronavirus Disease 2019:

Tinjauan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesi, vol 7(1).

45-67.

Steenis, V. C. G. G. J. 2010. Flora Pegunungan Jawa. Jakarta: LIPI Press.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Qin, C., Zhou, L., Hu, Z., Zhang, S., Yang, S., Tao, Y., 2020. Dysregulation of immune response in patients with COVID-19 in Wuhan, China. Clin Infect Dis. 2020; published online March 12. DOI: 10.1093/

cid/ciaa248. 37. Thevarajan I, Winarto, W.R. dan M. Surbakti. 2003. Khasiat

dan Manfaat Pegagan. Agromedia Pustaka, Jakarta.

World Health Organization. 2020.

Coronavirus disease (COVID-19) advice for the public [Internet]. 2020 [cited 2020 March 15]. Available from:

https://www.who.int/emergenc ies/diseases/ novel-coronavirus- 2019/advice-for-public.

Referensi

Dokumen terkait

Perlakuan taraf naungan nyata mempengaruhi bobot panen tanaman pegagan, baik bobot basah maupun kering, sedangkan perlakuan jenis pegagan dan interaksinya dengan taraf

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman pegagan, serta memperoleh informasi dosis

Hasil analisis ragam menunjukan bahwa pemberian pupuk urea pada tanaman pegagan tidak menunjukan pengaruh nyata terhadap jumlah daun, sedangkan terhadap luas

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fungi endofit yang diisolasi dari akar tanaman pegagan ( Centella asiatica (L.) Urb.) serta menguji

Penelitian ini terdiri atas 2 kegiatan, yakni kemampuan multiplikasi tunas pegagan periode kultur dua sampai lima tahun dan aklimatisasi tanaman pegagan hasil in vitro di rumah

Perlakuan taraf naungan nyata mempengaruhi bobot panen tanaman pegagan, baik bobot basah maupun kering, sedangkan perlakuan jenis pegagan dan interaksinya dengan taraf

Penelitian ini terdiri atas 2 kegiatan, yakni kemampuan multiplikasi tunas pegagan periode kultur dua sampai lima tahun dan aklimatisasi tanaman pegagan hasil in vitro di rumah

Hasil analisis ragam menunjukan bahwa pemberian pupuk urea pada tanaman pegagan tidak menunjukan pengaruh nyata terhadap jumlah daun, sedangkan terhadap luas