BATAS USIA NIKAH
MENURUT HUKUM PERKAWINAN
(Studi Perbandingan Negara Indonesia dan Tunisia)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
MIZHFAAR ALAWIY NIM. 11150440000065
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1442 H/2021 M
ii
BATAS USIA NIKAH
MENURUT HUKUM PERKAWINAN
(Studi Perbandingan Negara Indonesia dan Tunisia)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh:
MIZHFAAR ALAWIY NIM. 11150440000065
Pembimbing:
Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum.
NIP. 195704081986031002
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1442 H/2021 M
iii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
Skripsi saya yang berjudul “BATAS USIA NIKAH MENURUT HUKUM PERKAWINAN (STUDI PERBANDINGAN NEGARA INDONESIA DAN TUNISIA)” telah diajukan dalam sidang munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Program Studi Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 28 Juni 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H) pada Program Studi Hukum Keluarga.
Jakarta, 28 Juni 2021 Mengesahkan
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag. S.H. M.H. M.A NIP. 197608072003121001
PANITIA UJIAN MUNAQASYAH
Ketua : Dr. Mesraini, M.Ag (...) NIP.197602132003122001
Sekretaris : Ahmad Chairul Hadi, M.A (...) NIP.197205312007101002
Pembimbing : Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum (...) NIP.195704081986031002
Penguji I : Dr. Syahrul A’dam, M.Ag (...) NIP.197305042000031002
Penguji II : Mara Sutan Rambe, M.H (...) NIP.198505242020121006
iv
LEMBAR PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:
Nama Lengkap : MIZHFAAR ALAWIY
NIM : 11150440000065
Tempat, Tanggal Lahir : Bogor, 14 Maret 1996
Alamat : Jl. H. Mawi 02/01 Desa Bojong Indah, kec.
Parung, Bogor, Jawa Barat.
Dengan ini, saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya, yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Pengutipan dalam skripsi ini telah dicantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 17 Juni 2021
Mizhfaar Alawiy
v ABSTRAK
Mizhfaar Alawiy, NIM 11150440000065. BATAS USIA NIKAH MENURUT HUKUM PERKAWINAN (STUDI PERBANDINGAN NEGARA INDONESIA DAN TUNISIA). Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1442 H/2021 M.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang ikut mempengaruhi pembentukan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia dan Tunisia, yang menyebabkan terjadinya pembatasan usia menikah di Indonesia dan Tunisia serta mengetahui sanksi hukum yang ditentukan oleh hukum positif di Indonesia dan Tunisia bagi pelaku perkawinan dibawah umur.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kepustakaan (library research) melalui pendekatan yuridis normatif. Dengan sumber penelitian menggunakan data primer, yaitu Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Kompilasi Hukum Islam (KHI), Code of Personal Status Nomor 66 Tahun 1956, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Pasal 5 Code of Personal Status Nomor 66 Tahun 1956.
Penelitian ini menunjukkan bahwa batas usia nikah di Indonesia maupun di Tunisia memanglah berbeda. Di Indonesia batas usia nikah kini menjadi 19 tahun bagi kedua calon pengantin setelah sebelumnya yakni 19 tahun bagi laki- laki dan 16 tahun bagi wanita. Tunisia juga telah mengamandemen batas usia nikahnya yang mana sebelumnya tunisia menetapkan 20 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi wanita. Namun, pada tahun 2007 pemerintah mengubahnya menjadi 18 tahun bagi kedua calon pengantin yang hendak melangsungkan perkawinan.
Bukannya tanpa alasan bagi Indonesia dan Tunisia untuk mengamandemen batas usia nikah tersebut. Pemerintah beralasan, pada usia yang telah ditetapkan tersebut, para calon pengantin dianggap sudah siap dan matang jiwa raganya. Dari segi medis calon pengantin wanita dianggap sudah siap untuk mengandung dan melahirkan anak pada usia tersebut dan juga untuk menghindari ke-mudharatan bagi calon pengantin yang hendak melangsungkan perkawinan. Akan tetapi, baik Indonesia maupun Tunisia tidak secara tegas memberikan sanksi bagi masyarakat yang hendak melangsungkan perkawinan dibawah batas usia nikah yang ditentukan. Pemerintah justru memberikan solusi kepada masyarakat yang hendak melangsungkan perkawinan dibawah umur dengan mengajukan izin dispensasi kepada pengadilan.
vi
Kata Kunci : Batas Usia, Perkawinan di Bawah Umur, Tunisia, Indonesia.
Pembimbing : Dr. H. Muchtar Ali, M. Hum.
Daftar Pustaka : 1930 s.d 2019
vii
PEDOMAN TRANSLITERASI
Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini diperlukan terutama bagi mereka yang dalam teks karya tulisannya ingin menggunakan beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata Bahasa Indonesia atau lingkup masih penggunaannya terbatas.
a. Padanan Aksara
Berikut daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا tidak dilambangkan
ب b be
ت t te
ث ts te dan es
ج j je
ح h ha dengan garis
bawah
خ kh ka dan ha
د d de
ذ dz de dan zet
ر r er
ز z zet
س s es
ش sy es dan ye
viii
ص s es dengan garis bawah
ض d de dengan garis
bawah
ط t te dengan garis bawah
ظ z zet dengan garis
bawah
ع ‘ koma terbalik di atas
hadap kanan
غ gh ge dan ha
ف f Ef
ق q Qo
ك k Ka
ل l El
م m Em
ن n En
و w We
ه h Ha
ء ` apostrof
ي y ya
b. Vokal
Dalam bahasa Arab, vokal sama seperti dalam bahasa Indonesia,
ix
memiliki vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal atau monoftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
ﹷ a Fathah
ِﹻ i Kasrah
ﹹ u Dammah
Sementara itu, untuk vokal rangkap atau diftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
يﹷ ai a dan i
وﹷ au a dan u
c. Vokal Panjang
Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
اـــــ
´ â a dengan topi di atas
يــ î i dengan topi di atas
وــﹹ û u dengan topi di atas
x d. Kata Sandang
Kata sandang, yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihakasarakan menjadi huruf “I” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qomariyyah. Misalnya:
al-ijtihâd داهتجلاا=
ةصخرلا = al-rukhsah, bukan ar-rukhsah
e. Tasydîd (Syaddah)
Dalam alih aksara, syaddah atau tasydîd dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:
ةعفشلا = al-syuf’ah, tidak ditulis asy-syuf’ah.
f. Ta Marbûtah
Jika ta Marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2), maka huruf ta Marbûtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta Marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (isim), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t” (lihat contoh 3)
No Kata Arab Alih Aksara
1 ةعيرش syarî‘ah
2 ةيملاسلإل اةع يشلا al-syarî‘ah al-islâmiyyah
3 بهاذملاةنراقم muqâranat al-madzâhib
xi
g. Ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan
Huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Parlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang.
Maka huruf yang di tulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh:
ال ب خ ا ر
ي = al- Bukhȃri, tidak di tulis Al- Bukhȃri. Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal.
Berikaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kata nama tersebut berasal dari bahasa Arab. Misalnya:
Nuruddin al- Raniri, tidak ditulis Nȗr al-Din al-Rȃnȋri.
h. Cara Penulisan Kata
Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:
No Kata Arab Alih Aksara
1 تاروظحمل احيتبة رورضلا al-darȗrah tubȋhu al-mahzȗrat 2 يملاسلااادصت قلاا al-iqtisad al-islȃmȋ
3 هقفلالوصا usȗl al-fiqh
4 ةحبالااءايشلأاي فلصلأا al-asl fȋ al-asyyȃ al-ibȃhah 5 ةلسرملاةحلصملا al-maslahah al-mursalah
xii
KATA PENGANTAR
ميحرلا نمحرلا للها مسب
Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin, Segala puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang selalu melimpahkan rahmat, hidayah, serta keberkahan-Nyalah sehingga penulis diberikan kemudahan untuk menyelesaikan skripsi ini. Shalawat beriring salam senantiasa kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam, semoga kelak kita mendapatkan syafa’atnya di akhirat.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Hukum Program Studi Hukum Keluarga pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi ini penulis persembahkan kepada motivator tersayang sepanjang perjalanan hidup penulis, terkhusus kedua orang tua tersayang, ayah H. Muhammad Barjah dan ibu Hj. Neneng Suhaeroh dan kakak serta adik tersayang Arief Rachman Syabieb dan Dzakiy Aunillah yang tidak pernah lelah selalu memberikan semangat, motivasi, bimbingan dan dukungan, kasih sayang serta do’a yang telah diberikan kepada penulis.
Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat, keberkahan dan kasih sayang. Aamiin.
Selama proses penulis skripsi ini, sedikit banyak hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi, atas berkat rahmat dan hidayah dari Allah diberikan kemudahan dalam mengerjakannya. Serta dukungan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada para pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu penyelesaian skripsi ini, kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc, M.A, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
xiii
2. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag, SH., MH., MA, sekalu Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. Mesraini, M.Ag, selaku ketua Program Studi Hukum Keluarga dan Ahmad Chairul Hadi, M.A, sekretaris Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Dr. H. Muchtar Ali, M. Hum, selaku Dosen Pembimbing Akademik sekaligus Dosen Pembimbing skripsi yang telah senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan nasihat, motivasi serta perbaikan selama penyusunan skripsi ini, terimakasih banyak atas arahan, masukan dan koreksi yang bersifat membangun, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membalas semua kebaikan Bapak.
5. Pimpinan Perpustakaan, Pengelola Perpustakaan, Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberi fasilitas untuk mengadakan studi kepustakaan.
6. Syafitri Nuraini yang selalu setia menemani dalam penyusunan skripsi ini, Alfin Nurfaiz yang selalu siap sedia ketika laptop bermasalah, teman-teman Lumpur Parung, teman-teman kosan, Fuji Habibillah Pratama, S.H, Dicka Nanda, S.H, Syaiful, Khairul, Samiaji, kakanda Ahmad Nasrullah, S.Kom.i, kakanda Mas’ud, S.E, kakanda Mustafid, S.H.I, Iqdam Amrul Umam, S.Pd, yang telah berkontribusi dalam penyusunan skripsi ini.
7. Seluruh teman-teman Hukum Keluarga 2015 yang telah memberikan semangat semoga kesuksesan selalu menyertai kita.
Semoga Allah memberikan rahmat dan balasan pada setiap kebaikan yang
xiv
telah diberikan untuk peneliti. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum keluarga.
Jakarta, 17 Juni 2021 M 7 Dzulqadah 1442 H
Mizhfaar Alawiy
xv DAFTAR ISI
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ...v
PEDOMAN TRANSLITERASI... vii
KATA PENGANTAR ... xii
DAFTAR ISI . ...xv
BAB I PENDAHULUAN ...1
A.Latar Belakang ...1
B.Identifikasi, Pembatasan, dan Rumusan Masalah ...5
1. Identifikasi Masalah ...5
2. Pembatasan Masalah ...5
3. Rumusan Masalah ...6
C.Tujuan dan Manfaat penelitian ...6
D.Metode Penelitian ...6
1. Jenis Penelitian ...6
2. Pendekatan Penelitian ...7
3. Data Penelitian ...7
E. Rancangan Sistematika Penulisan ...8
BAB II PEMBENTUKAN HUKUM KELUARGA DI INDONESIA DAN TUNISIA ...10
A.Sejarah Hukum Keluarga di Indonesia ...10
1. Sejarah Terbentuknya Hukum Keluarga di Indonesia ...10
2. Hukum Keluarga dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia ...15
B.Sejarah Hukum Keluarga di Tunisia ...18
1. Sejarah Terbentuknya Hukum Keluarga di Tunisia ...18
2. Hukum Keluarga dalam Peraturan Perundang-Undangan di Tunisia ...20
xvi
C.Batas Usia Nikah Menurut Hukum Islam ...21
D.Review Studi Terdahulu ...26
BAB III BATAS USIA NIKAH MENURUT PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN DI INDONESIA DAN TUNISIA ...34
A.Batas Usia Nikah di Indonesia ...34
1. UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pelaksanaannya ...34
2. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 ...38
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak ...41
B.Batas Usia Nikah di Tunisia ...45
BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN BATAS USIA NIKAH DI INDONESIA DAN TUNISIA ...49
A.Analisis Hukum Positif di Indonesia ...49
B.Analisis Hukum Positif di Tunisia ...55
C.Analisis Perbandingan Batas Usia Nikah di Indonesia dan Tunisia ...58
BAB V PENUTUP ...60
A.KESIMPULAN ...60
B.SARAN ...61
DAFTAR PUSTAKA ...63
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pernikahan adalah sebuah tali ikatan yang membentuk sebuah keluarga sebagai salah satu unsur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang diatur oleh aturan-aturan hukum baik hukum negara, agama maupun hukum adat.1 Saat ini hukum yang mengatur pernikahan di Indonesia adalah Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.2 Dalam undang-undang tersebut ditentukan prinsip dan asas perkawinan yang berhubungan dengan perkembangan zaman.
Salah satu prinsip yang tercantum adalah, bahwa calon pengantin harus sudah matang usianya dan siap untuk melangsungkan pernikahan supaya bisa mewujudkan tujuan pernikahan dengan baik mendapat keturunan yang baik dan sehat tanpa berakhir pada sebuah perceraian.3 Oleh karena itu perlu adanya pencegahan pernikahan antara calon suami dan istri yang masih di bawah umur.
Tujuan dari pembatasan umur pernikahan ini adalah untuk mencapai kebahagiaan dan kematangan dalam menjalani hidup berkeluarga.4
Usia pernikahan yang sangat dini dapat menyebabkan meningkatnya kasus pernikahan karena kurangnya kesadaran untuk bertanggungjawab dalam membangun keberlangsungan rumah tangga. Pernikahan yang diharapkan yakni untuk mendapatkan keturunan dan mendapatkan keharmonisan dalam rumah tangga serta ketentraman kasih sayang dan bahagia. Semuanya bisa diraih hanya dengan prinsip bahwa pernikahan itu untuk selamanya dan bukan hanya untuk
1 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Cet. VI, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 76.
2 Kama Rusdiana dan Jaenal Arifin, Perbandingan Hukum Perdata, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007, Cet. Pertama). h. 4.
3 Muhammad Amin Suma, Himpunan Undang-Undang Perdata Islam & Peraturan Pelaksanaan Lainnya di Negara Hukum Indonesia, (Jakarta: PT Rajagrafindo Peersada, 2004), h.
524.
4 Sarlito Wirawan Sarwono, Memilih Pasangan dan Merencanakan Perkawinan, (Jakarta: BKKBN, 1981), h. 12.
2
waktu yang sementara. Dalam Islam berkeluarga yang baik itu ialah menuju kepada kebahagiaan, kesejahteraan dan mengharap ridha Allah SWT.5
Dalam melangsungkan sebuah pernikahan sangat penting diketahui batas usia nikahnya. Karena di dalam menjalin sebuah hubungan keluarga diperlukan kematangan psikologis. Kedawasaan sangat penting karena sangat berpengaruh kepada perkembangan anak, terutama pada sang Ibu. Dalam pernikahan usia anak harus sangat diperhatikan maka pendewasaan dalam pernikahan menjadi sangat penting agar bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum melangsungkan pernikahan. Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada setiap orang yang sudah sanggup jiwanya untuk membangun rumah tangga agar segera melangsungkan pernikahan, karena dengan ikatan pernikahan akan memeliharanya dari melakukan perbuatan-perbutan yang dilarang Agama.6 Dalam hubungan pernikahan tidak boleh semata-mata hanya sekadar ikatan lahiriyah saja, yang mana seorang pria dan wanita hidup secara bersama sebagai pasangan suami istri dalam ikatan yang formal, akan tetapi kedua-duanya harus saling menjalin ikatan batin, karena dengan ikatan batin ini akan mempererat ikatan lahirnya. Kedua ikatan inilah yang menjadi pondasi dalam membangun rumah tangga hingga menjadi keluarga yang bahagia.7
Agama Islam telah memberikan persyaratan bagi seseorang yang akan melangsungkan pernikahan, akan tetapi, apakah hukum Islam mengatur atau menetapkan usia pernikahan?. Di Indonesia batasan usia pernikahan menjadi hal yang sangat penting sehingga menjadi perdebatan. Adanya batasan usia pernikahan di Indonesia ini tujuannya ialah untuk kemaslahatan bersama dalam membangun rumah tangga yang dibangun melalui suatu ikatan pernikahan. Untuk
5 Muhammad Amin Suma, Himpunan Undang-Undang Perdata Islam & Peraturan Pelaksanaan Lainnya di Negara Hukum Indonesia, h. 522.
6 Mohammad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2002, Cet. Kedua), h. 3.
7 Mohammad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2002, Cet. Kedua), h. 27.
3
itu pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan harus matang jiwa dan raganya aga tercapai tujuan pernikahannya.8
Di Indonesia, kitab-kitab fiqih telah lama menjadi rujukan dalam praktek ketentuan hukum keluarga di Indonesia. Sebelum adanya KHI, secara alami Biro Peradilan Agama Kementerian Agama pada tanggal 18 Februari 1958 telah mengeluarkan Edaran Nomor B/1/735, yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan kesatuan hukum dalam memelihara dan memutuskan perkara, paka hukum Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah dianjurkan agar merujuk kepada kitab-kitab fiqih seperti yang disebutkan ini, yaitu Al Bajuri, Fathul Muin dengan Syarahnya, Syarqawi ala Tahrir, Qulyubi/Muhalli, Fathul Wahab dengan Syarahnya, Tuhfah, Targhibul Musytaq, Qawaninusy Syar’iyah Lissayyid Usman bin Yahya, Qawaninusy Syar’iyah Lissayyid Shodaqoh Dahlan, Syamsuri Lil Fara’idl, Al Fiqh ‘alal Muadzahibil Arba’ah dan Mughnil Muhtaj.9
Para fuqaha tidak sepakat terhadap pembatasan usia pernikahan ini, namun mereka berpandangan bahwa baligh bagi seseorang itu belum tentu menunjukkan kedewasaannya, dengan alasan beberapa pendapat mazhab. Syafi’i dan Hambali menyatakan bahwa usia baligh bagi anak laki-laki dan perempuan itu lima belas tahun sedangkan Maliki menetapkannya pada tujuh belas tahun, dan Hanafi delapan belas tahun untuk anak laki-laki dan tujuh belas tahun untuk anak perempuan.10
Pembaruan hukum keluarga Islam di negara-negara muslim terus berkembang dimulai dari awal abad ke-20, terutama terkait perkawinan, perceraian dan kewarisan. Pembaruan ini dimulai oleh Negara Turki pada tahun 1917, Lebanon pada Tahun1919, Mesir 1920 dan 1929, Yordania 1951 Syria 1953 dan Tunisia 1956. Tunisia adalah salah satu Negara Muslim yang turut mengalami
8 Dedi Supriyadi dan Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, (Bandung: Pustaka Al-Fikriis, 2009), h. 25.
9 Direrktorat Kehakiman Badan Peradilan Agama Islam Kementrian Agama, Kompilasi Hukum Islam di Inonesia, (Jakarta: t.p, 2002), h. 127-128.
10 Dedi Supriyadi dan Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, h.
26.
4
fenomena pembaruan hukum keluarga Islam ini. Hingga pada tahun 1996, di Timur Tengah hanya ada lima negara yang belum memperbarui hukum perkawinannya, yaitu Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain dan Oman.11
Tunisia merupakan negara dengan luas 162.155 km2 dengan penduduk berjumlah kurang lebih sepuluh juta jiwa dengan mayoritas penduduknya 98%
beragama Islam. Tunisia berbatasan dengan Al-Jazair disebelah barat dan Libya disebelah Timur.12 Sebelum menjadi sebuah negara, Tunisia dijajah oleh beberapa bangsa secara bergantian, dari mulai bangsa Cartage, Phoenix, dan Romawi.
Memasuki abad ke-7, Tunisia dikuasai oleh bangsa Arab dan pada tahun 1574 dikuasai oleh imperium Ottoman dan sejak 1881 Tunisia menjadi bangsa di bawah protektorat Perancis.13
Perancis telah menjajah Tunisia selama kurang lebih 75 tahun, hingga kemudian Tunisia meraih kemerdekaannya pada 20 Maret 1956. Meski telah merdeka, pengaruh kolonial Perancis masih sangat lekat terhadap aspek kehidupan masyarakat Tunisia. Salah satunya adalah dalam hal penerapan konsep modernisasi hukum keluarga. Pemerintah Tunisia kala itu di bawah kekuasaan Presiden Habib Bourguiba, memperbarui konsep hukum keluarga yang berasaskan fikih mazhab Maliki dan fikih mazhab Hanafi, dipimpin oleh Syaikh Muhammad Aziz Ju’aith sebagai ulama terkemuka sekaligus mantan kehakiman di era pra kemerdekaan yang ditunjuk langsung oleh presiden Habib Bourguiba. Hukum kelurga terbaru disahkan dengan penerbitan Code of Personal Status (CPS) atau Majallah al Ahwal as Syakhsiyyah (MAS) pada tanggal 13 Agustus 1956.
Masyarakat diwajibkan mentaati 213 pasal yang terdapat di dalamnya.14
11 Ratih Lusiani Bancin, Hukum Keluarga Islam Di Tunisia, dalam Jurnal Penelitian Medan Agama, Vol. 9, Nomor 2, 2018, h. 284
12 https://kemlu.go.id/tunis/id/read/profil-negara-republik-tunisia/584/etc-menu. Di akses pada tanggal 09 Juni 2021 pada jam 21.51 WIB.
13 Anderson Norman, Law Reform in the Muslim World, (London: Athlone Press, 1976), h. 23.
14 Utang Ranuwijaya, Ade Husna, Pembaruan Hukum Keluarga Islam Di Indonesia dan Tunisia (Studi Implementasi Ketentuan), dalam Jurnal Kajian Keislaman, Vol. 3, Nomor 1 Januari – Juni 2016, h. 65-66
5
Uraian diatas menjelaskan bahwa Undang-Undang memang sudah mengatur batasan usia menikah dari calon mempelai pria maupun wanita. Namun, seiring berkembangnya zaman, Undang-Undang terus di perbarui mengikuti apa yang telah terjadi pada masyarakat. Oleh karena itu, usia dari calon mempelai pria maupun wanita sangatlah berpengaruh pada kelangsungan rumah tangga yang akan di bangun. Dengan demikian, hal itulah yang menyebabkan undang-undang perkawinan yang berlaku di negara Indonesia dan Tunisia berbeda. Maka penyusun merasa perlu untuk meneliti lebih lanjut tentang batas usia nikah menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia dan Tunisia. Oleh karena itu penyusun terdorong untuk melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul “BATAS USIA NIKAH MENURUT HUKUM PERKAWINAN (Studi Perbandingan Negara Indonesia-Tunisia)”.
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Rumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
a. Bagaimana sejarah awal terbentuknya undang-undang perkawinan di Indonesia dan Tunisia?
b. Apa yang menjadi dasar hukum perkawinan tentang batas usia nikah di Indonesia dan Tunisia?
c. Bagaimana perbandingan batas minimum usia pernikahan di Indonesia dan Tunisia?
d. Mengapa terjadi perbedaan batas usia nikah antara negara Indonesia dan Tunisia?
2. Pembatasan Masalah
Untuk lebih terarahnya dan agar tidak terjadi penyimpangan dari pokok permasalahan, maka penulisan skripsi ini terbatas pada ketentuan BATAS USIA NIKAH MENURUT HUKUM PERKAWINAN (Studi Perbandingan Indonesia-Tunisia).
6 3. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana perbandingan ketentuan batas usia nikah menurut hukum perkawinan Indonesia dan negara Tunisia secara analisis komparatif yuridis?”.
C. Tujuan dan Manfaat penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terbentuknya Undang-undang perkawinan di Indonesia dan Tunisia.
b. Untuk mengetahui apa faktor penyebabnya pembatasan usia menikah di Indonesia dan Tunisia.
c. Untuk mengetahui mengapa terjadi perbedaan batas usia nikah antara Indonesia dan Tunisia.
2. Manfaat Penelitian
a. Diharapkan memberikan kontribusi positif bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya.
b. Sebagai sebuah karya ilmiah dan kiranya dapat menambah referensi atau literatur bacaan bagi para pembaca.
c. Sebagai dokumentasi ilmiah baik didalam maupun diluar kampus.
D. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk membuat karya ilmiah yang bermanfaat, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif, adalah penelitian yang dilakukan
7
dengan mengkaji, menganalisa serta merumuskan buku-buku, literatur dan bahan penelitian lainnya yang ada relevansinya dengan judul skripsi yang akan penulis susun ini.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini ada 2 (dua), yaitu:
a. Pendekatan Library Research
Pendekatan library research, yaitu kegiatan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan topik atau permasalahan batas usia nikah menurut hukum perkawinan Tunisia dan Indonesia.
b. Pendekatan Normatif
Pendekatan normatif, yaitu metode atau cara yang digunakan dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada.15 Dalam hal ini dilakukan pengkajian terhadap aturan- aturan yang berlaku dan berkaitan dengan batas usia nikah menurut hukum perkawinan Tunisia dan Indonesia.
3. Data Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan metode pendekatan library research dan normatif untuk mendapatkan dasar teori dalam memecahkan suatu masalah yang muncul dengan menggunakan bahan-bahan:
1) Bahan Primer
Bahan primer yaitu sumber data yang memberikan informasi dan data secara langsung sebagai hasil pengumpulan sendiri, kemudian disiarkan secara langsung.
Adapun sumber data primer yang penulis gunakan adalah Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, Undang-undang
15 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif Suatu tinjauan Singkat, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2009), h. 14
8
Perkawinan di Tunisia yakni The Code of Personal Status and Supplementary Laws 1956-1981, Majallat al-Ahwal al-Syakhshiyyah nomor 66 tahun 1956 (Code of Personal Status).
2) Bahan Sekunder
Bahan sekunder yaitu bahan yang menjelaskan terhadap bahan hukum primer. Sumber yang peneliti gunakan ialah dengan melalui kajian terhadap studi kepustakaan seperti buku karya ilmiah, jurnal dan kasus-kasus yang berkaitan yang didapat melalui sumber yang akurat.
3) Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pengumpulan data dengan Studi Kepustakaan, dimana dalam sumber kepustakaan tersebut penulis dapat mengumpulkan data yang membahas tentang batas usia dalam pernikahan di Tunisia dan Indonesia serta data yang ada relevansinya dengan judul dan mengkajinya.
4) Metode Analisa Data
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode analisis kualitatif.
Analisis kualitatif adalah suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis. Dari semua data yang terkumpul kemudian akan diolah untuk menjawab semua masalah yang ada pada rumusan masalah.
5) Teknik Penulisan
Teknik penulisan ini merujuk pada pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum tahun 2017.
E. Rancangan Sistematika Penulisan
Untuk menggambarkan secara garis besar mengenai kerangka pembahasan dalam penyusunan skripsi ini maka perlu dikemukakan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab Pertama, adalah pendahuluan yang berisi tentang hal-hal yang mengatur bentuk dan isi skripsi. Pertama, meliputi latar belakang masalah yang diteliti. Kedua, identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah. Ketiga, tujuan dan manfaat penelitian, tujuan merupakan yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
9
Keempat, review studi terdahulu, yang berisi penelusuran terhadap literatur yang berkait dengan obyek penelitian. Kelima, metode penelitian. Keenam, rancangan sistematika penulisan.
Bab Kedua, kajian kepustakaan yang akan dibahas dalam bab ini membahas sejarah Hukum Keluarga di negara Indonesia dan Tunisia, pembentukan Hukum Keluarga Islam Indonesia dan Tunisia serta Hukum Keluarga dalam Peraturan Perundang-Undangan di Negara Indonesia dan Tunisia.
Bab Ketiga, merupakan pembahasan mengenai batas usia pernikahan di Indonesia dan Tunisia menurut Hukum Perkawinan.
Bab Keempat, adalah bab analisis, yang merupakan jawaban dari pokok masalah yaitu menganalisa peraturan Perundang-Undangan tentang penetapan batas usia pernikahan dari negara Indonesia maupun Tunisia menurut Hukum Perkawinan.
Bab Kelima, merupakan penutup yang berisi kesimpulan yang diharapkan untuk memperlihatkan letak signifikasi di antara penelitian-penelitian lain serta dilengkapi dengan daftar pustaka.
10 BAB II
PEMBENTUKAN HUKUM KELUARGA DI INDONESIA DAN TUNISIA
A. Sejarah Hukum Keluarga di Indonesia
1. Sejarah Terbentuknya Hukum Keluarga di Indonesia
Indonesia adalah negara yang tidak menyatakan diri sebagai negara Islam secara konstitusional akan tetapi mayoritas warga negara Indonesia menganut agama Islam. Hukum Islam telah berlaku di Indonesia sejak zaman kerajaan Islam di Nusantara. Kemudian berlaku pada masa penjajahan kolonial Belanda hingga zaman kemerdekaan. Secara yuridis sebagian hukum Islam telah diterapkan di Indonesia. Namun, penerapan prinsip-prinsip hukum islam di Indonesia dilakukan secara berangsur-angsur.16
Sebelum diberkakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Indonesia sudah memberlakukan hukum perkawinan pada masa penjajahan Belanda. Hukum yang berlaku pada masa itu adalah Compendium Freijer yaitu kitab hukum yang berisi aturan-aturan hukum perkawinan dan hukum waris menurut Islam.17 Kitab ini ditetapkan pada tanggal 25 Mei 1760 untuk dipakai oleh VOC. Atas usul Residen Cirebon, Mr. P. C. Hasselaar, dibuatlah kitab Tjicebonshe Rechtsboek. Sementara untuk Landraad di Semarang tahun 1750 dibuat Compendium sendiri, dan untuk daerah Makassar disahkan suatu Compendium sendiri oleh VOC. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda di zaman Deandels dan Inggris pada masa Thomas S. Raffles, hukum Islam merupakan hukum yang berlaku bagi masyarakat.18
16 Dedi Supriyadi & Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, (Bandung: Pustaka Al Fikriis, 2009), h. 184.
17 Moh. Hatta, Perkembangan Legalisasi Hukum Islam di Indonesia, dalam jurnal Al- Qanun, Vol. 11, No. 1, Juni 2008, h. 152.
18 Masruhan, Positiviasi Hukum Islam di Indonesia pada Masa Penjajahan Hingga Masa Orde Baru, dalam jurnal Al-Hukama, Vol, 1, No. 1, Desember 2011, h. 118.
11
Pada Juni tahun 1937 muncul sebuah rancangan Ordonasi Perkawinan Tercatat (Ontwerp Ordonantie op de Ingeschreven Huwelijken) yang memberikan konsekuensi hukum pada warga pribumi. Konsekuensi ini diberlakukan kepada seluruh masyarakat pribumi seperti seorang laki-laki diperkenankan menikah dengan lebih dari seorang istri, sebuah hubungan perkawinan tidak dapat putus kecuali dengan tiga sebab; meninggalnya salah satu pasangan, perginya salah satu pasangan selama dua tahun lebih dan tidak diketahui kabar tentangnya sementara pasangan lainnya mengadakan perkawinan lagi dengan orang lain atas izin pengadilan, dan adanya putusan perceraian dari pengadilan, setiap perkawinan harus dicatatkan dalam catatan sipil. Ordonasi dan tiga konsekuensinya tersebut memunculkan banyak protes dari masyarakat khususnya umat Islam. Protes pertama datang dari Nahdlatul Ulama pada Kongres tahunannya di Malang.
Selanjutnya dari Syarikat Islam, Kelompok barisan Penjadar Syarikat Islam, Muhammadiyah dan lain sebagainya. Melihat begitu banyak penolakan keras dari berbagai kalangan masyarakat, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membatalkan Ordonasi tersebut. Sebagai gantinya, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Komite Perlindungan kaum Perempuan dan Anak Indonesia yang kemudian diubah menjadi Badan Perlindungan Perempuan Indonesia atau yang disingkat menjadi BPPIP pada akhir tahun 1937 sebagai tujuan perbaikan dalam peraturan perkawinan.19
Rencana pembentukan Undang-Undang Perkawinan sudah ada sejak zaman penjajahan pada tahun 1938 pada salah satu keputusan kongres al-Islam I di Surabaya. Ini berlanjut hingga Oktober 1950 pada masa KH. Wahid Hasyim menjabat sebagai Menteri Agama yang ingin mewujudkan hal tersebut. Untuk mewujudkannya, KH. Wahid Hasyim membentuk Panitia Penyelidik Peraturan dan Hukum Nikah, Talak, dan Rujuk yang di ketuai oleh Mr. Teuku Mohammad Hasan.20 Tugas dari panitia ini adalah meninjau kembali segala peraturan
19 Daniel S. LeV, Peradilan Agama Islam di Indonesia: Suatu Studi tentang landasan Politik Lembaga-lembaga Hukum. Terjemahan Zaini A. Noeh, (Jakarta: Intermasa, 1986),h. 327- 328.
20 Lili Rasjidi, Hukum Perkawinan dan Hukum Perceraian di Malaysia dan Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 18.
12
mengenai perkawinan dan menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) yang selaras dengan keadaan masyarakat pada saat itu. Hingga sampai tahun 1954, panitia ini berhasil merancang tiga rancangan Undang-Undang. Yakni, RUU Perkawinan yang bersifat umum, RUU Perkawinan bagi umat Islam, dan RUU Perkawinan khusus bagi umat Kristen.21
Setelah merdeka, pemerintah Republik Indonesia membentuk sejumlah peraturan perkawinan Islam. Di antaranya yakni Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk. Undang-Undang ini ditetapkan pada tanggal 21 November 1946 yang terdiri dari 7 pasal.22 Undang- Undang ini pada mulanya hanya berlaku untuk Jawa dan Madura. Namun, pada tahun 1954 Undang-Undang ini berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia.
Yaitu melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang Penetapan Berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia 21 November 1946 Nomor 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk di seluruh daerah Jawa dan Madura. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 ini disahkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 26 Oktober 1954.23
Proses pemberlakuan hukum keluarga di Indonesia bukan tanpa adanya proses awal dari ahli hukum, baik ahli hukum Agama maupun adat, yang telah memperkenalkan beberapa gagasan mereka. Terdapat beberapa ahli hukum yang memang dianggap sebagai pencetus. Ahli hukum tersebut ialah Hasbi Ash- Shiddieqy dan Hazairin. Beberapa ahli hukum lain yang memang diaggap meneruskan dan bahkan mewujudkan gagasan-gagasan dasar tersebut adalah Munawir Sjadzali dan Bustanul Arifin. Gagasan-gagasan mereka kemudian membuat pemerintah melakukan upaya pembaruan lewat apa yang memang menjadi trend sejak abad ke-19 di berbagai negara Muslim atau yang mayoritas
21 Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1984), h. 86.
22 Khairuddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara: Studi Terhadap Perundang- Undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta: INIS, 2002), h.
146.
23 Khairuddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara: Studi Terhadap Perundang- Undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia, h. 147.
13
penduduknya menganut agama Islam dengan cara mengkodifikasi hukum.
Pembaruan hukum keluarga ini dibarengi dengan upaya pemerintah dalam mengatur dan menertibkan aturan-aturan yang berkaitan dengan hukum keluarga di negara-negara tertentu. Pembaruan ini di awali negara Turki dengan dibuatnya sebuah Qanun yang sesuai dengan pembaruan hukum di Turki. Upaya ini kemudian banyak diikuti oleh beberapa negara Muslim lainnya termasuk Indonesia.24
Dalam era globalisasi saat ini para pakar hukum Islam telah berusaha membuat kajian-kajian hukum Islam yang lebih komprehensif agar dapat dimanfaatkan untuk memecahkan segala masalah umat yang terjadi pada masa ini.
Dalam kaitan ini, prinsip yang digunakan adalah prinsip maslahat yang berasaskan keadilan dan kemanfaatan. Prinsip ini salah satu gabungan dari prinsip-prinsip yang telah di pegang para Imam Madzhab, khususnya pada aliran Ar-Rayu’ dan Al-Hadis yang telah terbukti membawa ketentraman dan kesejahteraan umat.25
Pembaruan hukum keluarga ini tidak terjadi sampai datangnya abad ke-20.
Proses penyesuaian hukum yang dilakukan ini berbeda antara hukum keluarga dan hukum islam lainnya. Pembaruan hukum keluarga tidak saja ditandai oleh pergantiannya hukum islam dengan hukum-hukum barat, akan tetapi perubahan- perubahan ini didasari oleh penafsiran kembali terhadap tradisi hukum islam yang sesuai dengan perkembangan dan penalarannya. Dengan cara seperti inilah pada akhirnya hukum keluarga islam berlaku sejak dari Afrika Utara sampai dengan Asia Tenggara.26
Salah satu perubahan-perubahan penting dalam bidang hukum perkawinan adalah pengekangan terhadap perkawinan anak di bawah umur dan pembatasan poligami bagi kaum laki-laki. Tujuan utama dari pembaruan hukum keluarga
24 Asep Saepudin Jahar, dkk, Hukum Keluarga, Pidana & Bisnis, (Jakarta: Kencana, 2013), h. 12.
25 Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 251.
26 Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 170.
14
Islam khususnya dalam bidang perkawinan adalah untuk mengangkat status atau kedudukan kaum wanita dan memperketat serta memperkuat hak-hak para anggota keluarga diatas hak-hak para anggota keluarga yang lebih jauh dalam keluarga yang lebih besar.27
Melihat dari konteks sejarah undang-undang perkawinan yang dirumuskan oleh pemerintah, itu sejatinya adalah jawaban pemerintah terhadap kondisi masyarakat yang ingin adanya modernisasi dalam bidang hukum keluarga. Dapat dilihat dari beberapa rumusan yang ada didalamnya bagaimana undang-undang ini berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mewujudkan proses modernisasi. Hukum perkawinan Indonesia merupakan penjabaran hukum perkawinan dalam Islam, terutama dalam kitab-kitab fikih konvensional. Maka bisa dibilang bahwa pembaruan hukum keluarga di Indonesia ini ialah sebuah upaya untuk memperbaiki stats perempuan dan kedudukan mereka di masyarakat, sehingga tidak jarang terjadi adanya pembaruan hukum Islam yang ada di kitab- kitab fikih. Salah satunya yakni pembahasan tentang berapa batas minimal usia menikah bagi calon mempelai pria maupun calon mempelai wanita.28
Pembaruan Hukum Keluarga di Indonesia ditandai dengan lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada tahun 1991. Proses pengesahan KHI membutuhkan waktu yang cukup lama dan melalui beberapa tahapan tahapan dari sejak tahun 1985. Selain berpatokan kepada Al-Qur’an dan Hadist, KHI juga menjadikan beberapa kita Fikih sebagai pedoman ataupun rujukan dalam penyusunannya, anatara lain: 1. Al Bajuri. 2. Fathul Wahhub dengan syarahnya. 3.
Thufah. 4. Qolyubi/Muhallil. 5. Fathul Muin dengan syarahnya. 6. Syarqowi Ala At-Atharir. 7. Targhibul Musytaq.8. Qawwaninusyar’iyyah lisayyid Utsman bin Yahya. 9. Qawwaninusyar’iyyah lisayyiid Shodaqoh Dakhlan. 10. Syamsuri lil
27 Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 172
28 Ahmad Tholabie Kharlie, Hukum keluarga Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 176.
15
Faraid. 11. Bughyatul Mustasydin. 12. Al Fiqh ala Madzahibi Al-Arba’ah. 13.
Mughnil Muhtaj.29
Indonesia telah menjadikan Islam sebagai rujukan perundang-undangan karena dengan alasan mayoritas penduduk di Indonesia memeluk agama Islam, salah satunya dalam hukum perkawinan. Beberapa tokoh pembaharu hukum keluarga di Indonesia yang sangat banyak memeberikan kontribusinya dalam perkembangan hukum keluarga di Indonesia, diantaranya: Hasbi Ash-Shiddiqiey, Hasan Bangil, Harun Nasution, Hazairin, Ibrahim Husen, Munawir Syadzali, Busthanul Arifin dan tokoh pembaharu lainnya. Kompilasi Hukum Islam dianggap sebagai satu diantara sekian banyak karya besar umat Islam di Indonesia dalam rangka memberikan arti yang lebih positif bagi kehidupan masyarakat muslim di Indonesia. Dengan KHI masyarakat akan dapat memberikan penilaian terhadap KHI dalam proses pembentukan hukumnya. Akan tetapi, KHI bukanlah sebuah karya final, melainkan sebagai salah satu usaha pemerintah untuk membentuk hukum yang lebih baik untuk masa mendatang.30
2. Hukum Keluarga dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia Hukum Keluarga di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang dinyatakan dalam Inpres Nomor 1 Tahun 1991 juga banyak terdapat pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah dua kali diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009. Undang- Undang Perkawinan ialah hukum perkawinan Islam yang telah di transformasikan ke dalam hukum positif yang ada di Indonesia, atau bisa dibilang Undang-Undang Perkawinan yang ada di Indonesia berasal dari hukum Islam. Antara Undang- Undang Perkawinan dan hukum perkawinan dalam Islam ini seharusnya memiliki
29 Utang Ranuwijaya, Ade Husna, “Pembaruan Hukum Keluarga Islam di Inodnesia dan Tunisia”, Saintifica Islamica: Jurnal Kajian Keislaman, III, I, (Januari-Juni) 2016. h. 79.
30 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo, 2010), h. 6.
16
daya ikat yang kuat bagi warga negaara Indonesia yang memeluk agama Islam, karena selain mempunyai kewajiban untuk mentaati hukum yang ada di negaranya, ia juga mempunyai kewajiban untuk mentaati hukum yang telah diatur dalam agamanya.31
Dibandingkan dengan negar-negara muslim lainnya, Indonesia dengan status penduduknya mayoritas muslim di dunia, tampak terlambat dalam hal kepemilikan Undang-undang Perkawinan, meskipun lebih dahulu dibandingkan dengan negara-negara Islam lainnya seperti Malaysia (1983-1987), Aljazair (1984) dan Bangladesh (1980-1984).32
Keterlambatan ini memberikan hikmah tersendiri ke arah penyusunan undang-undang perkawinan yang relatif lebih baik dan aplikatif, karena sempat mempelajari sejumlah undang-undang perkawinan yang telah disusun oleh negara-negara mayoritas muslim yang ;ain. Pada saat yang bersamaan, undang- undang perkawinan Indonesia juga memberikan kontribusi bagi penyusunan undang-undang perkawinan di sejumah negara muslim lainnya yang dijadikan acuan serta perbandingan bagi negara-negara muslim yang baru menyusun peraturan perundang-undangannya.33
Transformasi hukum yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam Undang- Undang Perkawinan yakni merupakan proses politik antara pemerintah dan umat Islam. Kompromi ini dilakukan agar tercapainya ketenangan dan ketertiban sebagai modal dasar pembangunan Indonnesia.34
Umat Islam telah berupaya agar hukum Islam menjadi hukum yang diakui oleh negara, upaya ini terjadi di setiap masa, dari Indonesia belum merdeka hingga sekarang umat Islam ingin hukum yang berlaku di Indonesia yakni hukum Islam. Bahkan telah terjadi penolakan RUU Perkawinan yang bertentangan dengan hukum Islam pada tahun 1973 oleh umat Islam. Dengan melakukan
31 Yayan Sopyan, Islam Negara Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum Nasional, (Jakarta: RMBooks, 2012), h. 216.
32 Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam,(Jakarta: Raja Grafindo persada, 2004), h. 172.
33 Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, h. 173.
34 Yayan Sopyan, Islam Negara Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum Nasional, h. 122.
17
tekanan politik umat Islam memaksa pemerintah agar mengakomodasi keinginan umat Islam hingga akhirnya dapat terwujud.35
Pemerintah perlu mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang mengatur Undang-Undang Perkawinan demi untuk kelancaran pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3019). Maka dari itu pemerintah membuat Peraturan Pelaksana Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sedangkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 ditunjuk kepada Menteri Agama agar menyebarluaskan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berlatarbelakang di Jakarta, untuk digunakan oleh instansi Pemerintah dan oleh masyarakat yang memerlukannya. Pelaksanaan KHI dengan pertimbangan, yaitu sesuai dengan fungsi pengaturan Mahkamah Agung Republik Indonesia terhadap jalannya peradilan disemua lingkungan peradilan di Indonesia, khususnya dilingkungan Peradilan Agama, perlu mengadakan KHI yang selama ini menjadikan hukum positif di Pengadilan Agama. Bahwa guna mencapai maksud tersebut, demi meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas, sinkronisasi dan tertib administrasi dalam proyek pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi, di pandang perlu membentuk suatu tim proyek yang susunannya terdiri dari para pejabat Mahkamah Agung dan Departemen Agama Republik Indonesia.36
Pernikahan di bawah umur merupakan praktik pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang salah satu atau keduanya masih di bawah batas usia nikah yang telah atur oleh Undang-Undang. Praktik ini perlu mendapatkan perhatian dan peraturan yang jelas. Maka selain batasan usia minimum pernikahan ditetapkan, beberapa negara mengatur demi untuk mengantisipasi terjadinya pernikahan di
35 Yayan Sopyan, Islam Negara Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum Nasional, h. 214.
36 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 2007. Cet. Ketujuh), h. 15.
18
bawah umur atau dengan cara memberikan dispensasi dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.37
B. Sejarah Hukum Keluarga di Tunisia
1. Sejarah Terbentuknya Hukum Keluarga di Tunisia
Republik Tunisia merupakan salah satu negara yang terletak di Afrika Utara, sebelah Barat berbatasan dengan Algeria, Utara dan Timur dengan Mediterania dan Selatan Libya. Tunisia termasuk kepulauan Karunna untuk daerah Timur, sementara dibagian Tenggara termasuk kepulauan Djerba. Tunisia memiliki penduduk dengan jumlah 10.777.500 jiwa dengan luas wilayah 162.155 km2, dan 98% penduduknya memeluk agama Islam.38
Warna keberagaman yang dominan dipraktekkan oleh masyarakat Tunisia adalah madzhab Malikiyyah. Madzhab ini ternyata bukan hanya memberikan kontribusi pada pembentukan hukum keluarga di Tunisia itu sendiri, akan tetapi lebih memberi warna pada substansi perundang-undangan positif di negara itu.
Namun banyak diantara berbagai dinasti yang memerintah Tunisia, baik asing maupun asli dari Tunisia yang memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Sebuah dinasti Syiah, Dinasti Fathimiyyah, menumbangkan pemerintahan Aghlabiah antara 905 dan 909 juga memerintah Tunisia pada sebagian abad ke-10 hingga dinasti tersebut pindah ke kairo pada tahun 1073. Akan tetapi setelah itu, kaum Syiah menjadi minoritas kecil, tetapi tetap istimewa termasuk dinasti Bey terakhir.
Mereka hampir semuanya mengakui bahwa yang membawa madzhab Hanafiyyah ke Tunisia dan yang pertama-tama melalui pemerintahan langsung kemudian melalui sebuah sistem kedaerahan, memberi pengaruh besar bagi negara Tunisia itu sendiri.39
37 Asep Saepudin Jahar, dkk, Hukum Keluarga, Pidana & Bisnis, (Jakarta: Kencana, 2013), h. 43.
38 https://kemlu.go.id/tunis/id/read/profil-negara-republik-tunisia/584/etc-menu. Di akses pada tanggal 12 Januari 2021 pada jam 17.05 WIB.
39 Entelis John p, Tunisia dalam John L. Esposito, The Oxford Enciclopedia of The modern Islamic World,( Bandung: Mizan, 2001), h. 235.
19
Negara Tunisia ini memperoleh kemerdekaan pada tahun 1956 dengan presiden pertama Habib Bourguiba, yang membawahi 23 provinsi. Sebelumnya, Tunisia merupakan daerah Otonom dari pemerintahan Turki Utsmani dan pada tahun 1883 menjadi negara persemakmuran Perancis berdasarkan perjanjian La Marsa, dan pada tanggal 20 Maret 1956, pemerintah Perancis secara resmi mengakui kemerdekaan Tunisia. Pada tahun yang sama, presiden pertama Tunisia Habib Bourguiba, yakni seorang sarjana Hukum lulusan Perancis, ia diangkat sebagai presiden pertama dan mengeluarkan aturan-aturan kontroversial yang dinamakan Personal Status Code untuk menggantikan hukum Al-Qur’an dalam bidang perkawinan, perceraian dan hadhanah. Aturan ini tidak hanya menentang beberapa praktek Muslim tradisional di Tunisia, bahkan menyatakan konfrontasi dengannya. Berdasarkan konstitusi Republik Tunisia, Islam adalah agama yang resmi di negara tersebut, sedangkan madzhab Malikiyah sangat berpengaruh besar di negara Tunisia. Hal ini menandakan bahwa di negara Tunisia pernah berlaku hukum fikih yang berdasarkan madzhab Hanafiyah, sebagai pengaruh yang pernah dibawa oleh Turki Utsmani. Dikenal dengan pemimpin yang berideologi sekuler, Habib Bourguiba berusaha menerapkan proyeksi sekularisasi di negeri yang mayoritasnya memeluk agama Islam, salah satu rencananya pada saat itu yakni menyusun hukum keluarga modern dan unifikasi peradilan.40
Proses penyusunan hukum keluarga ini diawali dengan pembentukan komite yang diketuai oleh Syaikh Muhammad Aziz Ju’ait, ulama terkemuka sekaligus mantan Menteri Kehakiman pada masa pra-kemerdekaan. Sebelumnya, tepat pada tahun 1948 Syaikh Muhammad Aziz Ju’ait menyusun La’ikhat Al-Ahkam Ash- Shar’iyyah, yakni semacam kompilasi hukum Islam, terdiri dari 2464 pasal, sekitar 800 pasal diantaranya memuat hukum keluarga. Meski tidak sempat di amandemenkan, karena mendapat tentangan dari pemerintah kolonial Perancis.41
40 Ratih Lusiani Bancin, “Hukum Keluarga Islam Di Tunisia”, Jurnal: Penelitian Medan Agama, IX, 9 (Desember) 2018, h. 285.
41 Ratih Lusiani Bancin, “Hukum Keluarga Islam Di Tunisia”, Jurnal: Penelitian Medan Agama, IX, 9 (Desember) 2018, h. 286.
20
Tunisia melakukan reformasi dan kodifikasi Hukum Keluarga pada saat setelah negara itu memperoleh kemerdekaan. Pada akhir tahun empat puluhan, beberapa ahli hukum terkemuka Tunisia berpikir bahwa dengan melakukan fusi terhadap madzhab Malikiyyah dan madzhab Hanafiyyah, maka sebuah ketentuan hukum baru mengenai hukum keluarga dapat dibentuk dan dikembangkan pada situasi dan kondisi Tunisia pada saat itu. Sekelompok ahli hukum mengajukan catatan perbandingan antara dua sistem hukum, Hanafi dan Maliki, dan dipublikasikan di bawah judul Majallat Al-Ahwal As-Syakhsiyyah (Draf Undang- undang Hukum Islam).42
2. Hukum Keluarga dalam Peraturan Perundang-Undangan di Tunisia Pada 20 Maret 1956, sesaat Tunisia resmi merdeka. Pemerintah Tunisia memberlakukan Undang-undang Hukum Keluarganya yakni Majallat Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah nomor 66 tahun 1956. Undang-undang ini telah mengalami beberapa amandemen, yaitu melalui Undang-undang Nomor 70 tahun 1958, Undang-undang Nomor 77 tahun1959, Undang-undang Nomor 41 tahun 1964, Undang-undang Nomor 49 tahun 1966, dan Undang-undang Nomor 1 tahun 1981.43
Ada tiga sumber utama yang dirujuk oleh tim perumus draft ini, yaitu La’ikhat Al-Ahkam Ah-Shariyyah, Undang-undang Keluarga di beberapa negara Muslim, dan yang ketiga Undang-undang Keluarga Perancis. Tim perumus juga tidak hanya merujuk kepada fiqih Maliki, tetapi juga mengambil rujukan dari madzhab lain termasuk Ja’fari. Draft ini kemudian diajukan ke pemerintah dan diundangkan secara resmi pada tanggal 13 Agustus 1956 dengan nama Majallat
42 Tahir Mahmood, Personal Law in Islamic Countries, (New Delhi: Academy of Law and Religion, 1987), h. 152.
43 Komarudin, “Hukum Keluarga di Tunisa dan Indonesia (Studi Syariah dalam konteks Negara-Negara Modern di Dunia Islam)”, KORDINAT, XVIII, I, (April), 2019, h. 204.
21
Al-Ahwal Asy-Syakhsiyah atau Code of Personal Status yang terdiri dari 12 bab yang kemudian dibagi menjadi 170 pasal.44
Tunisia resmi memberlakukan Majallat Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah (Code of Personal Status) Nomor 66 tahun 1956 pada tanggal 1 Januari 1957 sebagai Undang-undang Keluarga pertama. Undang-undang ini adalah hasil dari perpaduan antara konsep Hanafiyyah dan Malikiyyah yang dituangkan dalam kitab yang berjudul Laihat Majallat Al-Ahkam Al-Syakhsiyyah oleh sekelompok ahli hukum. Usaha ini sangat direspon baik oleh pemerintah sehingga dibentuklah komisi di bawah pimpinan Syekh Muhammad Ju’ait untuk membuat Undang- undang keluarga dengan merujuk kepada kitab tersebut dan Undang-undang keluarga Maroko, Yordania, Syria, serta Turki. Undang-undang ini diamandemen beberapa kali dengan keluarnya UU Nomor 70 tahun 1958, Nomor 77 tahun 1959, Nomor 61 tahun 1961, dan Nomor 7 tahun 1980.45
Ketentuan batas usia nikah di Tunisia pertama kali yakni wanita 15 tahun dan pria 18 tahun.46 Setelah dilakukan perubahan laki-laki dan perempuan di Tunisia dapat melakukan perkawinan jika telah berusia minimal 20 tahun. Hal ini merupakan ketentuan yang merubah isi pasal 5 UU 1956 yang mana sebelum diubah, ketentuannya adalah 17 tahun bagi perempuan dan 20 tahun bagi laki-laki, berdasarkan ketentuan tersebut untuk dapat melangsungkan perkawinan, pasangan yang berusia di bawah 20 tahun harus mendapat izin dari wali. Jika wali tidak memberikan izin, perkara tersebut dapat diputus oleh pengadilan.47
C. Batas Usia Nikah Menurut Hukum Islam
Menurut hukum Islam, pernikahan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan sorang perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah
44 Siti Munadziroh, Pembaruan Hukum Keluarga Tunisa, dalam Khoiruddin Nasution dkk, Hukum Perkwinan dan Warisan di Dunia Muslim Modern, (Yogyakarta:ACAdeMIA, 2012), h. 50.
45 Khoiruddin Nasution, Hukum Perdata Islam Indonesia & Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim, (Yogyakarta: ACAdeMIA, 2009), h. 172.
46 Abdullah A. A-Na’im, Islamic Family Law in a Changing World: A. Global Resource Book, (London:Zed Books, 2002), h. 158.
47 Dawoud El-Alami dan Doreen Hinchcliffe, Islamic Marriage and Divorce Laws of the Arab World, (London:CIMEL and Kluwer Law International, 1996), h. 240.
22
tangga dan untuk mendapatkan keturunan yang dilaksanakan menurut ketentuan- ketentuan hukum syariat Islam.48
Ayat-ayat tentang pernikahan di dalam Al-Qur’an diketahui terdapat 23 ayat. Akan tetapi tidak ada satupun ayat yang menjelaskan batasan usia nikah.
Namun, jika diteliti lebih lanjut lagi, ada ayat yang berkaitan dengan kapan seseorang layak untuk melangsungkan pernikahan. Seperti dalam surat al-Nur ayat 32:
ا ُمِ ِنِْغُي َءۤاَرَقُف اْوُنْوُكَّي ْنِا ْْۗ ُكُ ِٕ ىۤاَمِاَو ْ ُكُِداَبِع ْنِم َ ْيِْحِل ٰ صلاَو ْ ُكُْنِم ىٰم َيََ ْلْا اوُحِكْنَاَو ُ ٰ للّاَو ْۗه ِل ْضَف ْنِم ُ ٰ للّ
ٌْيِلَع ٌع ِساَو
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba- hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya, dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.”
Ayat ini menjelaskan bahwa perintah untuk melangsungkan pernikahan itu wajib bagi orang-orang yang mampu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir. Al-Maraghy menafsirkan sebagaimana yang dikutip oleh Mustofa, kalimat washalihin, para laki-laki atau perempuan yang mampu untuk menikah dan menjalankan hak-hak suami istri, seperti berbadan sehat, mempunyai harta dan lain sebagainya. Quraish Shihab menafsirkan kata washalihin yaitu seseorang yang mampu secara mental dan spiritual untuk membina rumah tangga, bukan berarti yang taat beragama, karena fungsi perkawinan memerlukan persiapan bukan hanya materi, tetapi juga persiapan mental maupun spiritual, baik bagi calon laki-laki maupun perempuan.49
48 H. Zahri Hamid, Pokok-pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, (Yogyakarta: Bina Cipta, 1987), h. 1.
49 Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, (Bandung, Pustaka al- Fikrus, 2009), h. 22.
23
Ayat lain juga menjelaskan, surat al-Nur ayat 59:
َبُي َ ِلِ ٰذَك ْْۗمِهِلْبَق ْنِم َنْيِ َّلَّا َنَذْأَت ْ سا َ َكَم اْوُنِذْأَت ْ سَيْلَف َ ُلُُحْلا ُ ُكُْنِم ُلاَف ْطَ ْلْا َغَلَب اَذِاَو ْۗهٖۗ ِتٰيٰا ْ ُكَُل ُ ٰ للّا ُ ِ يْ
ْيِكَح ٌ ْيِلَع ُ ٰ للّاَو
“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh. Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin.
Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Surat al-Nisa ayat 6:
َوْمَا ْمِ ْيَْلِا آْوُعَفْداَف اًد ْشُر ْمُ ْنِِ م ْ ُتُ ْ سَنٰا ْنِاَف ََۚح َكَِ نلا اوُغَلَب اَذِا ٓ ٰ تَّح ىٰمٰتَيْلا اوُلَتْباَو ٓاَهْوُ ُكُْأَت َلَْو َۚ ْمُهَلا
َف َن َكَ ْنَمَو َۚ ْفِفْعَت ْ سَيْلَف اًّيِنَغ َن َكَ ْنَمَو ْۗ ا ْوُ َبَْكَّي ْنَا اًراَدِبَّو اًفاَ ْسِْا اَذِاَف ْۗ ِف ْو ُرْعَمْل ِبِ ْ ُكُْأَيْلَف اً ْيِْق
اًبْي ِسَح ِ ٰ للّ ِبِ ىٰفَكَو ْۗ ْمِ ْيَْلَع اْوُدِه ْشَاَف ْمُهَلاَوْمَا ْمِ ْيَْلِا ْ ُتُْعَفَد
“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim yang lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (diantara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabula kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan ini) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian).”
Dalam tafsir al-Ahkam bahwa seseorang anak dikatakan baligh apabila laki-laki telah bermimpi, sebagaimana telah disepakati ulama bahwa anak yang