• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATRA UTARA 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATRA UTARA 2018"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KRIMINOLOGI TERHADAP FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DAN PEMBINAAN TERHADAP WARGA BINAAN DISIBOLANGIT CENTRE

REHABILITATION FOR DRUG ADDICT SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Dan Melengkapi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh

Dita Clariesta Kristina Br Ginting Nim : 140200047

Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

2018

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, kasih, dan penyertaanNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan. Adapun judul skripsi yang diangkat penulis adalah"Analisis Kriminologi Terhadap Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkotika Dan Pembinaan Terhadap Warga Binaan Di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug Addict ". Skripsi ini menjelaskan mengenai perkembangan peraturan tindak pidana

narkotika di Indonesia, faktor-faktor apa yang menjadi penyebab penyalahgunaan narkotika yang dilakukan warga binaan di sibolangit centre rehabilitation for drug addict, dan pembinaan terhadap warga binaan di sibolangit centre rehabilitation for drug addict.

Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis menyadari keterbatasan yang dimiliki, namun berkat segala bantuan dan bimbingan, motivasi, dukungan, dan doa dari berbagai pihak masa kuliah hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyak kepada:

1. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

2. Bapak Dr. O.K Saidin, S,H.,M,Hum, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Puspa Melati Hasibuan S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

(4)

4. Bapak Jelly Leviza, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

5. Bapak Dr. M. Hamdan, S.H., MH sebagai Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

6. Ibu Liza Erwina, S.H., M.Hum sebagai Sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

7. Bapak Prof. Dr. Suwarto. S.H., MH sebagai Dosen Pembimbing I yang dalam penulisan skripsi ini penuh dengan kesabaran dan telah bersedia meluangkan banyak waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam studi maupun dalam penulisan skripsi,

8. Ibu Rafiqoh Lubis. S.H., MH selaku Dosen Pembimbing II atas kesabaran selama proses bimbingan dan ilmu yang diberikan, serta telah banyak berkorban waktu, tenaga, serta pikiran dalam membimbing, mengarahkan, dan memotivasipenulis,

9. Seluruh staff pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang dengan penuh dedikasi menuntun dan membimbing pelunis selama mengikuti perkuliahan sampai dengan menyelesaikan skripsi ini,

10. Kepada Orangtua saya terkasih, Bapak Karim Ginting dan Ibu Halenta Sembiring terimakasih telah merawat dan membimbing penulis dengan cintakasih. Terimakasih untuk segala nasehat, dukungan, motivasi dan doa yang tidak pernah putus untuk kelancaran perkuliahan sampai penyelesaian penulisan skripsi,

11. Kepada saudaraku yang terkasih Dodi Efrata F. Gintingdan Debi Yulina Ginting.

Terimakasih untuk segala doa, dukungan dan semangat yang tidak pernah berhenti sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini,

(5)

12. Kepada teman-teman seperjuangan dan yang tersayang laurensius sinaga, sothya marcdisa ginting, heribertus naisanit, andreas sembiring, reynal diginting, ariq, imanue lsembiring, evanka parang, desi rayani ginting. Indra sakti Ginting, ceperianus gea, widya cristiani, Putri Desi Siburian, M wildan, dea Harahap, laura silaban, hadi sinaga, wuri yanti, hetti, dear saragih , Jupiter, dea tarigan, sastarigan, bram ginting, Daniel manulang, raja rachmad danmasih banyak lagi yang tidak dapat di tulis satu per satu. Penulis ucapkan terima kasih banyak atas dukungan doa yang tiada putus-putusnya kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa karena keterbatasan penulis sehingga skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, 27 September 2018

DitaClariesta Kristina Br. Ginting

(6)

ABSTRAK

Dita Clariesta Kristina Br Ginting* Suwarto**

Rafiqoh Lubis***

Perkembangan penggunaan narkotika awal tahun 2000 sebelum masehi ialah sebagai alat bagi upacara ritual, di samping itu digunakan untuk pengobatan, namun bila digunakan melebihi dosis /ukuran yang tidak benar maka menimbulkan gangguan kesehatan pemakai, bahkan mengakibatkan kematian.

Pengobatan dan rehabilitasi terhadap pecandu narkotika dilakukan dengan melalui fasilitas rehabilitasi. Rehabilitasi dilakukan dengan maksud memulihkan dan mengembangkan kemampuan fisik, mental dan sosial penderitaan yang bersangkutan.

Permasalahan yang di angkat dalam skripsi ini adalah bagaimana perkembangan pengaturan tindak pidana narkotika di Indonesia, faktor-faktor apa yang menjadi penyebab penyalahgunaan narkotika yang dilakukan warga binaan di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug Addict dan bagaimana Pembinaan terhadap warga binaan di Sibolangit Centre Rehabiilitation For Drug Addict.

Penulisan ini merupakan penelitian hukum normative dan yuridis sosiologis, yaitu data sekunder dengan penelitian perpustakaan, dan pengumpulan data primer melalui wawancara, hasil penelitian di analisis secara kualitatif yaitu menggambarkan keadaan-keadaan dari objek yang di teliti di lapangan.

peraturan tentang narkotika memiliki dua perkembangan yaitu sebelum lahirnya Undang-Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan sesudah lahirnya Undang-Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Sebelum lahirnya Undang-Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotik banyak ditemukan ketidak cocokan lagi dikarenakan perkembangan zaman yang sudah semakin maju seperti Undang-Undang Obat Bius Verdoovende Middelen Ordonnatir S.27- 278jo536 tgl. 12 Mei 1927 Mulai berlaku 1 Januari 1928, dan diganti dengan Undang-Undang No. 9 Tahun 1976 Tentang Narkotika dan Undang-Undang No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika Perkembangan peraturan yang mengatur tindak pidana narkotika sesudah lahirnya Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Perkembangan yang termasuk lingkup pidana narkotika pada Undang- Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sangat maju mengenai kebijakan pidana dan pemidanaanya baik yang dilakukan oleh penjabat dan kejahatan money loundering begitupula dengan perumusan sanksi tindak pidana narkotika.

Faktor penyebab penyalahgunaan yang ada di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug Addict sangat bergam dan paling banyak dikarenakan faktor lingkungan, pekerjaan dan keluarga. Metode pemulihan di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug antara lain terapi spiritual, tradisional, medis, terapi fisik dan kelompok penyembuhan.

*Mahasiswa Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara

**Dosen Pembimbing I dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara

***Dosen Pembimbing II dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……….… i

ABSTRAK ………...…. iv

DAFTAR ISI ……….... v

DAFTAR TABEL ……….……… viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang……….…… 1

B. Perumusan Masalah ……… 7

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ……….…... 7

D. Keaslian Penulisan ………..… 8

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Kriminologi ………9

2. Pengertian Narkotika dan Penyalahgunaan Narkotika ... 17

3. Rehabilitasi Terhadap Penyalahgunaan Narkotika …...28

F. Metode Penelitian ………...……….. 32

G. Sistematika Penulisan ………...… 35

BAB II PERKEMBANGAN PENGATURAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI INDONESIA

(8)

A. Pengaturan Yang Mengatur Tentang Narkotika Sebelum Lahirnya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika………... 37 1. Undang-Undang Obat Bius Verdoovende Middelen

Ordonneatir S.27-278jo 536 tgl. 12 Mei 1927 Mulai Berlaku 1 Januari 1928……….…. 37 2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 Tentang

Narkotika………... 41 3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang

Narkotika………. 47 B. PerkembanganPengaturan Yang Mengatur Tentang

Tindak Pidana Narkotika Sesudah Lahirnya Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009

TentangNarkotika………... 51 1. Perbuatan Yang Termasuk Lingkup Pidana

Narkotika………....51 2. Perumusan Sanksi Tindak Pidana Narkotika……. 56

BAB III FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA YANG DILAKUKAN WARGA BINAAN DI SIBOLANGIT CENTRE REHABILITATION FOR DRUG ADDICT

A. Faktor Penyebab Terjadinya Kerjahatan Menurut

Kriminologi………... 60

(9)

B. Faktor Yang Menjadi Penyebab Penyalahgunaan

Narkotika Yang Dilakukan Warga Binaan Di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug

Addict………..…75 BAB IV PEMBINAAN TERHADAP WARGA BINAAN DI

SIBOLANGIT CENTRE REHABILITATIN FOR DRUG ADDICT

A. Rehabilitasi Terhadap Penyalahgunaan Narkotika Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tetang

Narkotika..89

B. Model PembinaanWarga Binaan Di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug

Addict……….………...94 C. Kendala Yang Dihadapi Sibolangit Centre Rehabilitation

For Drug Addict Dalam Melakukan Pembinaan Terhadap Warga

Binaan………. 115 BAB V KESIMPULAN DAN SAR0AN

A. Kesimpulan ………... 118 B. Saran ………. 120

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perumusan Pidana Dan Jenis Sanksi Pidana Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang

Narkotika……….……… 57

Tabel 2. RespondenBerdasarkanUmur………...…………...………..…76

Tabel 3. Responden Berdasarkan Pendididkan Terakhir….…….…….…….. 77

Tabel 4. Responden Berdasarkan Pekerjaan

Resident…...………...…78

Tabel 5. Responden Berdasarkan Pertama Sekali Resident Mengenal

Narkotika………...79

Tabel 6. Responden Berdasarkan Usia Pertama Sekali Menggunakan

Narkotika………..80

Tabel 7 Responden Berdasarkan Jenis Narkotika Yang Digunakan Oleh

Resident………...………..81

Tabel 8. Responden Berdasarkan Cara Memperoleh Narkotika Pertama

Sekali………83

Tabel 9. Responden Berdasarkan Faktor Penebab Penyalahgunaan

Narkotika………84

(11)

Tabel 10. Responden Berdasarkan Keputusan Untuk Di

Rehabilitasi……..………...86

Tabel 11. Responden Berdasarkan Dampak Narkotika Terhadap Resident Yang Digunakan ..………...87 Tabel 12. BarangBuktiPemakaian 1 (satu) hari ……….…….. 92

Tabel13. Sibolangit Centre Structure Of

TheHouse………..……….………97

Tabel14. Jumlah Warga Binaan Dari Tahun 2016 Sampai 2018 Dan Usia Warga Binaan ………...….. 98

Tabel.15 Case Coun As Social Woker ……….………..……… 99

Tabel.16Resident Daily Schedule SiolangitCentre Rehabilitation For Drug Addict………. 114

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan atau archipelagic state terbesar di dunia, kurang lebih meliputi tiga belas ribu pulau lima belas ribu pulau sampai saat ini.1 Luas wilayah tersebut di atas telah menempatkan Indonesia sehingga memiliki kedudukan yang sangat strategis baik dilihat dari kepentingan ketahan nasional pada umumnya maupun dilihat dari kepentingan penegak hukum pidana nasional pada khususnya, apalagi Indonesia terletak di antara benua Asia dan Australia. Letak geografis ini juga, secara tidak langsung telah meningkat perkembangan tindak pidana transnasional pada umumnya dan pada khususnya, tindak pidana narkotika.2

Perkembangan penggunaan narkotika awal tahun 2000 sebelum Masehi ialah sebagai alat bagi upacara-upacara ritual dan di samping itu juga dipergunakan untuk pengobatan. Jenis narkotika pertama yang dipergunakan pada mulanya adalah candu atau lazimnya disebut sebagai madat atau opium.3 Candu atau opium merupakan sumber utama dari narkotika alam. Berbagai narkotika

1 Romli Atmasasmita, Tindak Pidana Narkotika Transnasional Dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia, (Bandung, Citra Aditya Bakti, 1997), hal 1

2Ibid, hal 2

3ibid, hal 1

(13)

berasal dari alkoloida candu, misalkan morphine, heroin.Berasal dari tanaman Papaver Somniferum Ldan dari Keluarga Papeveracaea.4

Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika menyebutkan Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri,dan dapat menimbulkan ketergantungan.5

Narkotika seringkali diidentifikasikan dengan sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Namun narkotika memiliki banyak manfaat dalam dunia medis, dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika bagian menimbang huruf (c) disebutkan bahwa Narkotika di satu sisi merupakan obat dan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila disalahgunakan atau digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama.

Narkotika apabila dipergunakan secara tepat, baik dosis/ukuran maupun penggunaanya, seperti untuk pengobatan atau penelitian ilmiah dapat memberikan manfaat bagi kepentingan manusia. Namun sebaliknya, bila digunakan melebihi dosis/ukuran yang tidak benar maka akan menimbulkan gangguan kesehatan si

4Hari Sasangka , Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, (Bandung: Mandar Maju, 2003), hal 35-36

5Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

(14)

pemakai, bahkan lebih fatal lagi mengakibatkan kematian, serta tidak stabilnya pertumbuhan tatanan kehidupan sosial di masyarakat.6

Penyalahgunaan narkotika merupakan jenis kejahatan yang mempunyai (potensi) dampak sosial yang sangat luas dan komplek. Dampak sosial penyalahgunaan narkotika yang dilakukan bukan hanya disebabkan oleh karena akibat yang ditimbulkan akan melahirkan penderitaan dan kehancuran baik fisik maupun mental yang teramat panjang.

Namun perubahan jaman dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) telah membawa manusia ke dalam suatu dimensi baru yang penuh dengan pembaharuan dan kemajuan. Adanya gaya hidup konsumtif dan pergaulan yang terbuka menjadi ciri dari majunya perkembangan IPTEK. Adanya anggapan bahwa seseorang dikatakan kampungan, terbelakang, bahkan tidak gaul bila belum mencoba yang namanya narkotika. Situasi inilah yang membentuk suatu budaya baru terutama di kalangan generasi muda.7

Sepintas, pemakaian narkotika dan penyalahgunaan obat-obatan terjadi secara merata di semua lapisan masyarakat dari kalangan atas sehingga anak jalanan terutama di kalangan remaja, pelajar, dan mahasiswa. Dari 10 orang

6Moh. Taufik Makarao, Suhasril, Moh. Zakky A.S, Tindak Pidana Narkotika, (Jakarta:

Ghalia Indonesia, 2003), hal 89

7 Sumarnil Adam, 2012, "Dampak Narkotika Pada Psikologi Dan Kesehatan Masyarakat", Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo, Volum 5, Nomor 2, 2012, hal 1, diakses dari http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JH%09S/article/view/862, pada tanggal 4 Maret 2018, pukul 22.51 WIB

8Soedjono Dirdjosisworo, Narkotika dan Peradilannya Di Indonesia Reformasi Hukum Pidana Melalui Perundangan dan Peradilan, (Jakarta: O.C Kaligis & Assoriates, 2006 ), hal.233

(15)

pelajar dan mahasiswa, mungkin sebanyak delapan orang adalah pemakai atau minimal pernah menggunakan berbagai jenis obat-obatan atau narkotika.8

Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional BNN Ali Djohardi menyebutkan 80 persen masyarakat Indonesia masih tinggi. Ali mengatakan persenan itu didapat dari hasil Penelitian BNN berkerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia UI pada 2016. Hasilnya pun cukup mengejutkan. Ali menuturkan saat ini Indonesia bersetatus darurat narkoba di Indonesia tercatat sebanyak 5,1 juta jiwa. Setiap tahun, sekitar 15 ribu jiwa melayang karena menggunakan narkoba.9

Maka dengan kondisi demikian, kasus narkotika di Indonesia betul-betul berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan di karena perkembangan penyalahgunaan narkotika yang semakin marak, sehingga menjadi persoalan kenegaraan yang mendesak. Penggunaan narkoba bagi orang awam atau orang yang kurang mengerti, tentu saja dapat dipahami. Tetapi bagi seseorang yang mengkonsumsi narkotika, yang sebelumnya sudah mengetahui akibat-akibatnya adalah di luar nalar kita. Lalu apakah yang mendorong mereka untuk mengkonsumsi narkotika. Sebab-sebab penyalahgunaan narkotika adalah;10

9Mukhlis Dinilah, "Surve BNN 80 Persen Tahu Bahaya Narkoba, Kenapa Kausus Masih Tinggi", diakses dari https://news.detik.com/berita/d-3425965/survei-bnn-80-persen-tahu-bahaya- narkoba-kenapa-kasus-masih-tinggi, pada tanggal 4 Maret 2018, Pukul 23. 00 WIB

10 Hari Sasangka,Op.Cit, hal.5-6

(16)

1. Untuk membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya, dan mempunyai resiko, misalnya ngebut, berkelahi atau bergaul dengan wanita,

2. Untuk menantang suatu otoritas terhadap orang tua, guru, hukum atau instansi yang berwenang,

3. Untuk mempermudah penyaluran dan perbuatan-perbuatan seksual,

4. Untuk melepaskan diri dari rasa kesepian dan ingin memperoleh pengalaman- pengalaman emosional,

5. Untuk berusaha agar dapat memenuhi arti hidup,

6. Untuk mengisi kekosongan dan mengisi perasaaan bosan, karena kurang kesibukan,

7. Untuk menghilangkan rasa frustasi dan kegelisahan yang disebabkan oleh problema yang tidak bisa diatasi dan jalan pikiran yang buntu, terutama bagi mereka yang mempunyai kepribadian yang tidak harmonis,

8. Untuk mengikuti kemauan kawan dan untuk memupuk solidaritas dengan kawan-kawan,

9. Karena didorong rasa ingin tahu (curiosity) dan karena iseng (just for kicks).

Menyikapi kondisi yang mengkhawatirkaan ini dan dilihat dari alasan- alasan penyalahgunaan narkotika, hendaknya disadari oleh segenap elemen bangsa, bahawa narkotika merupakan "musuh bersama" yang harus diperangi oleh semua kalangan, untuk itu peran serta masyarakat untuk bahu membahu pemerintah melawan narkotika adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.

Berdasarkan situasi dan alasan-alasan penyalahgunaan narkotika tersebut dapat dikelompokkan solusi atas persoalan narkotika ini kedalam dua komponen penting penyelenggara negara ini, yaitu pemerintah dan masyarakat. Solusi yang bisa ditawarkan pemerintah atas persoalan narkotika ini adalah sebagai berikut:

Pertama, tindakan preventif yaitu berupa penyuluhan, seminar, workshop, pelatihan dan sejenisnya tentang narkotika dan bahayanya ke sejumlah sekolah, perguruan tinggi serta masyarakat secara luas. Cara alternatif lain juga bisa dilakukkan dalam upaya preventif ini adalah dengan menciptakan Iklan Layanan

(17)

Masyarakat tentang bahaya narkotika yang ditayangkan oleh sejumlah stasiun televisi di negeri ini. Kedua, tindakan represif yaitu berupa upaya Rehabilitasi bagi para penyalahgunaan barang haram "narkotika" tersebut. Proses pelaksanaan rehabilitasi tersebut, pemerintah hendaknya menjalani kerjasama yang baik dengan tim medis, psikolog, psikiater dan agamawan sehingga proses rehabilitasi akan berjalan dengan lancar dan bahaya serta dampak buruk penyalahgunaan narkotika dapat dieliminasi sedini mungkin.

Pada dasarnya ketentuan tentang rehabilitasi ada di dalam Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika terdapat di pasal 54 sampai dengan pasal 59.11 Pengobatan dan rehabilitasi terhadap pecandu narkotika dilakukan dengan melalui fasilitas rehabilitas. Rehabilitasi bagi pecandu narkotika dilakukan, dengan maksud untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan fisik, mental dan sosial penderita yang bersangkutan.

Pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Orang tua wali dari pecandu narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh pemertintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.12

11 Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

12 Siswanto S, Politik Hukum Dalam Undang-Undang narkotika (UU Nomor 35 Tahun 2009), (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012), hal.257

(18)

Pecandu yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan mengenai pelaksanaan wajib lapor dimaksud diatur dengan peraturan pemerintah.13

Tindakan rehabilitasi ditujukan kepada korban dari penyalahgunaan narkoba untuk memulihkan atau mengembangkan kemampuan fisik, mental, dan sosial penderita yang bersangkutan. Selain untuk memulihkan, rehabilitasi juga sebagai pengobatan atau perawatan bagi para pecandu narkotika, agar para pecandu dapat sembuh dari kecanduannya terhadap narkotika.14

Dari latar belakang maka penulis mengangkat judul skripsi yaitu Analisis Kriminologi Terhadap Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkotika Dan Pembinaan Terhadap Warga Binaan Di Sibolangit Centre Rehabilition For Drug Addict.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas timbul beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Perkembangan Peraturan Tindak Pidana Narkotika di Indonesia?

13Ibid.,

14 Gema Nusantara Anti Narkoba, "Manfaat Rehabilitasi Bagi Pecandu Narkoba", http://www.gemanusantara.org/2016/09/manfaat-rehabilitasi-bagi-pecandu.html, diakses pada tanggal 6 Maret 2018, Pukul 08.00 WIB

(19)

2. Faktor- faktor Apa Yang Menjadi Penyebab Penyalahgunaan Narkotika Yang Dilakukan Warga Binaan Di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug Addict ?

3. Bagaimana Pembinaan Terhadap Warga Binaan di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug Addict ?

C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan skripsi ini yaitu :

1. Untuk mengetahui perkembangan pengaturan tindak pidana Narkotika di Indonesia

2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab penyalahgunaan Narkotika yang dilakukan warga binaan di sibolangit Centre Rehabilitation For Drug Addict

3. Untuk mengetahui pembinaan terhadap warga binaan di Sibolangit Centre Rehabilitation For Drug Addict ?

Adapun manfaat penulisan skripsi ini diharapkan memberi manfaat yaitu secara teoritis dan praktis, yakni:

1. Manfaat Teoritis

a. Memberi manfaat bagi kalangan akademis khususnya yang membutuhkan informasi mengenai analisis kriminologi terhadap faktor penyalahgunaan narkotika dan pembinaan warga binaan di pusat rehabilitasi.

(20)

b. Memberi kontribusi teoritik dan pengembangan konsep dasar dan teori hukum pidana yang berkaitan dengan faktor penyebab penyalahgunaan narkotika dan pembinaan warga binaan di pusat rehabilitasi. Juga diharapkan akan bermanfaat menambah dan memperkaya literatur-literatur yang telah ada sebelumnya, khususnya mengenai analisis kriminologi terhadap farktor penyebab penyalahgunaan narkotika dan pembinaan terhadap warga binaan di pusat rehabilitasi serta dapat menjadi acuan untuk mengadakan penelitian yang lebih mendalam lagi.

2. Manfaat praktis

Diharapkan bermanfaat begai bahan masukan di lingkungan institusi pusat rehabilitasi dalam melakukan pembinaan kepada penyalahgunaan narkotika.

D. Keaslian Penulisan

Adapun judul penulisan dalam skripsi ini yakni mengenai ‘’Analisis Kriminologi Terhadap Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkotika Dan Pembinaan Terhadap Warga Binaan Di Sibolangit Center Rehabilition For Drug Addict’’ merupakan hasil pemikiran yang ide dan penulisannya murni hasil karya penulis sepenuhnya ditambah dengan literatur-literatur lain baik buku-buku milik penulis sendiri maupun buku-buku perpustakaan serta melakukkan riset ke

(21)

Sibolangit Centre Rehabilition For Drug Addict guna memperoleh data-data yang dapat mendukung skripsi ini.

Setelah penulisan melakukkan penelusuran di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tidak ditemukkan judul ataupun permasalahan yang sama. Jika judul penulisan ini ada yang hampir sama dengan judul skripsi sebelumnya kepunyaan orang lain, namun isi dam pembahasan dalam skripsi ini berbeda dan juga merupakan penulisan yang ditulis melalui proses dan upaya pemikiran sendiri. Oleh karena itu, tulisan ini merupakan karya asli yang disusun berdasarkan dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional dan ilmiah

Dengan demikian, penulisan dapat menyatakan bahwa skripsi ini adalah murni merupakan hasil karya penulis dan tidak meniru kepunyaan orang lain.

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Kriminologi

a. Pengertian Kriminologi

Kriminologi (sebagai ilmu pengetahuan) mempelajari sebab-sebab timbulnya suatu kejahatan dan keadaan-keadaan yang pada umumnya turut mempengaruhinya, serta mempelajari cara-cara memberantas kejahatan tersebut.15 Nama kriminologi yang ditentukan oleh P.Topinard (1830-1911) seorang ahli atropologi Perancis, secara harfiah berasal dari kata "crime" yang berarti

15 E.Y.Kanter, S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta: Storia Grafika, Cetakan ke-III, 2012), hal.35

(22)

kejahatan atau penjahat "logos" yang berarti ilmu pengetahuan, maka kriminologi dapat berarti ilmu tentang kejahatan atau penjahat. 16

Kejahatan dalam arti kriminologi adalah tiap kelakuan yang bersifat tidak susila dan merugikan, Menimbulkan banyak ketidaktenangan dalam suatu masyarakat tertentu, sehingga masyarakat itu berhak untuk mencelahnya dan menyatakan penolakkannya atas kelakuan itu dalam nestapa dengan sengaja diberikan karena kelakuan tersebut.17

Kriminologi termasuk cabang ilmu baru, yang berbeda dengan hukum pidana yang muncul ketika manusia mulai bermasyarakat. Kriminologi baru berkembang tahun 1850 bersama-sama sosiologi, antropologi, dan psikologi.

Kriminologi berawal dari pemikiran bahwa manusia merupakan serigala bagi manusia lain (Homo Homini Lupus), selalu mementingkan diri sendiri, dan tidak mementingkan orang lain. Oleh sebab itu, diperlukan suatu norma untuk mengartur kehidupannya. Hal itu sangat penting demi menjamin rasa aman bagi manusia lainnya.18

Secara umum kriminologi bertujuan untuk mempelajari kejahatan dari berbagai aspek, sehingga diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai fenomena kejahatan dengan lebih baik.19

16 Topo Santoso, Eva Achjani Zulea, Kriminologi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hal.9

17 Suwarto, Individualisasi Pemidanaan, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2012), hal.2

18 H. Juhaya S, Teori Hukum dan Aplikasinya, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), hal.199

19 I.S Susanto, Diktat Kriminologi, (Semarang: Universitas Diponogoro, 1991), hal.1

(23)

Banyak literatur-literatur tentang kriminologi yang memberikan batasan atau pengertian tentang kriminologi. Mengingat kriminologi mengambil konsep dasar dari bidang ilmu yang lain serta mau tidak mau harus diakui, bahwa kriminologi adalah ilmu yang dilahirkan secara tidak sengaja.

Jika dipandang lebih luas, banyak para ahli memberikan definisi tentang kriminologi yang pengertianya berbeda sama lainnya, antara lain seperti berikut ini:20

1. E.H. Sutherland

Merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang bertalian dengan perbuatan jahat sebagai gejala sosial (the body of knowledge regarding crime as a social phenomenon). Menurut sunderland kriminologi mencangkup peroses-peroses hukum, pelanggaran hukum dan reaksi atas pelanggaran hukum. Kriminologi olehnya dibagi menjadi tiga cabang ilmu utama yaitu:

a. Sosiologi hukum

Kejahatan itu adalah perbuatan yang oleh hukum dilarang dan diancam dengan suatu sanksi. Jadi yang menentukan bahwa suatu perbuatan itu adalah kejahatan adalah hukum. Di sini mennyelidiki sebab-sebab kejahatan harus pula menyelediki faktor-faktor apa yang menyebabkan perkembangan hukum (khsusnya hukum pidana)

b. Etilogi kejahatan

20 Topo Santoso, Eva Achjani Zulfa, Op,Cit., Hal. 11

(24)

Merupakan cabang ilmu kriminologi yang mencari sebab musabab dari kejahatan. Dalam kriminologi, etiologi kejahatan merupakan kajian yang paling utama.

c. Penology

Pada dasarnya merupakan ilmu tentang hukum, akan tetapi Sutherland memasukkan hak-hak yang berhubungan dengan usaha pengendalian kejahatan baik represif maupun preventif.

2. Bonger

memberikan definisi kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan meyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. Ia membagi kriminologi menjadi kriminologi murni yang mecangkup :21

a. Antopologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuann tentang manusia yang jahat;

b. Sosial kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatan sebagai gejala masyarakat;

c. Psikologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuan yang melihat penjahat dari sudut jiwanya. Psikologi kriminal terdiri dari :

1. Psikopatologi dan neuropatologi kriminal, yaitu ilmu tentang penjahat yang sakit jiwa dan urat saraf;

2. Penology, ilmu tentang tubuh dan berkembangnya hukuman;

Bonger juga membagi menjadi kriminologi terapan yang berupa:22

1. Higiene criminal, yaitu usaha yang bertujuan mencegah terjadinya kejahatan;

2. Politik criminal, yaitu usaha penanggulangan kejahatan tempat terjadinya suatu kejahatan. Kalau faktor ekonomi, yang perlu diperbaiki adalah kesejahteraan masyarakat;

3. Kriminalistik, yaitu ilmu tentang pelaksanaan penyidikan teknik kejahatan dan pengasutan kejahatan.

3. Constant.23

21H. Juhaya S, Op.Cit.,hal. 199

22Ibid., hal 200

(25)

melihat kriminologi yang bertujuan menentukan faktor-fakor penyebab terjadinya kejahatan dan penjahat ( aetiologi ). Untuk itu diperhatikan baik faktor sosial dan ekonomis, maupun faktor-faktor individu dan psikologis.

4. Noach.24

Merumuskan kriminologi sebagai ilmu pengetahuan tentang perbuatan jahat dan prilaku tercela yang menyangkut orang-orang yang terlibat dalam prilaku jahat dan perbuatan tercela itu.

5. Paul Mudigno Mulyono

Ilmu kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari kejahatan sebagai masalah manusia.

6. Hanskell dan Yablonsky (1974).25

Mendefinisikan kriminologi pada muatan penelitiannya dengan mengatakan bahwa kriminologi secara khusus adalah disiplin ilmiah tentang pelaku kejahatan dan tindakan kejahatan yang meliputi:

a. Sifat dan tingkat kejahatan;

b. Sebab musabab kejahatan dan kriminalitas;

c. Perkembangan hukum pidana dan sistem peradilan pidana d. Ciri-ciri kejahatan;

e. Pembinaan pelaku kejahatan;

f. Pola-pola kriminalitas;

g. Dampak kejahatan terhadap perubahan sosial.

23 Noach, Simanjuntak B, Pasaribu. I. L, Kriminologi, (Bandung: Tarsito, 1984), hal.27- 28

24Topo Santoso, Eva Achjani Zulfa, Op.Cit., hal.12

25 Ende Hasbi Nassaruddin, Kriminologi, (Bandung: Pustaka Setia, 2016), hal.65

(26)

Kriminologi itu merupakan suatu nama kumpulan dari sejumlah ilmu pengetahuan yang terdiri dari :26

1. Crimele anthrologie atau antropologi kriminal, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari pribadi si penjahat.

2. Criminele sociologie atau sosiologi kriminal, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari kriminalitas sebagai gejala kemasyarakatan.

3. Criminele psyhologie atau psikologi kriminal, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan di dalam kejahatan

4. Criminele psycho- en neuro-pathologie atau psiko- dan neuro-patologi kriminal, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari penjahat yang menderita penyakit jiwa atau penyakit saraf

5. Poenologi, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari timbul dan berkembangnya hukum-hukum serta arti dan kegunaan hukum-hukam tersebut

6. Teogepate criminology atau kriminologi yang diterapkan, yakni criminele hygiene dan criminele politiek

7. Criminalistiek atau police scientifique, yakni suatu ilmu pengetahuan terapan yang mempelajari tekni-teknik kejahatan attau yang juga disebut modus operandi dan teknik-teknik penyelidikan.

b. Objek Studi Kriminologi

Objek studi kriminologi mencangkup tiga hal, yaitu penjahat, kejahatan dan reaksi masyarakat terhadap keduanya. Sutherland (dari aliran Hukum/Yuridis) membatasi objek studi kriminologi pada perbuatan-perbuatan sebagaimana ditentukan dalam hukum pidana saja. Pendapat Sutherland mendapat tantangan dari para sarjana lainnya. Mann Heim (dari aliran non-yuridis atau sering dikenal dengan aliran sosiologis) misalnya, mengatakan sependapat dengan Thoesten Sellin bahwa kriminologi harus diperluas dalam memasukan "conduct norm"(norma-norma kelakuan), yaitu norma-norma tingkah laku yang telah digariskan oleh berbagai kelompok masyarakat. Conduct Norm dalam masyarakat

26 P.A.F. Lamintang. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. (Bandung. Citra Aditya Bakti. Cetakan Ketiga. 1997 ), hal.26

(27)

menyangkut norma kesopanan, norma susila, norma adat, norma agama, dan norma hukum. Jadi objek studi kriminologi bukan hanya perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan hukum, melainkan juga bertentangan dengan tingkah laku yang oleh masyarakat tidak disukai, meskipun perbuatan itu bukan merupakan pelanggaran dalam hukum pidana.27

Secara garis besar kriminologi mempelajari : 1. Kejahatan

Kejahatan merupakan sebagian dari masalah manusia dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu kita harus memberikan batasan tentang apa yang dimaksud dengan kejahatan itu sendiri baru kemudian dapat dibicarakan unsur- unsur lain yang berhubungan dengan kejahatan tersebut.28

Bonger mengatakan ‘’ Kejahatan merupakan Sebagian dari perbuatan immoral. Oleh sebab itu perbuatan immoral adalah perbuatan anti sosial. Namun demikian haruslah dilihat juga bentuk tingkah lakunya dan masyarakat, sebab perbuatan seseorang tidaklah sama dengan suatu perbuatan immoral belum tentu dapat dihukum.29

Meskipun kriminologi mempelajari perbuatan-perbuatan yang oleh Undang-Undang dinyatakan sebagai tindak pidana, perkembangan kriminologi setelah tahun 1960-an, khususnya studi sosiologi terhadap pengaturan perundang- undangan pidana, telah menyadarkan bahwa perbuatan tertentu yang dianggap

27 H. Juhaya S, Op.Cit, hal.201

28 Noach, Simanjuntak. B, Pasaribu. I. L, Op,Cit, hal.44

29Ibid., hal 54

(28)

sebagai kejahatan (tindak pidana) tidak semata-mata dipengaruhi oleh besar kecilnya kerugian yang ditimbulkannya atau karena bersifat anmoral, melainkan lebih dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan (politik). Sebagai akibatnya, kriminologi memperluas studinya terhadap perbuatan-perbuatan yang dipandang sangat merugikan masyarakat luas, baik kerugian materi maupun kerugian/bahaya terhadap jiwa dan kesehatan manusia, walaupun tidak diatur dalam Undang- Undang pidana.30

2. Pelaku

Yaitu orang yang melakukan kejahatan, atau sering disebut "penjahat"

Studi terhadap pelaku ini terutama dilakukan oleh kriminologi positif dengan tujuan untuk mencari sebab-sebab orang melakukan kejahatan. Dalam mencari sebab-sebab kejahatan secara tradisional orang mencarinya dari aspek biologis, psikis dan sosial-ekonomi. Biasanya studi ini dilakukan terhadap yang demikian mengandung beberapa kelemahan, yaitu :31

a. Sebagai setempel dianggap kurang valid, sebab mereka tidak mewakili populasi penjahat yang ada di masyarakat secara presentatif.

b. Terdapat pelaku kejahatan-kejahatan tertentu yang berasal dari kelompok atau lapisan sosial tertentu yang cukup besar jumlahnya akan tetapi hampir tidak pernah dipenjara. Hal ini misalnya ditujukan oleh Sutherland dalam penelitiannya terhadap kejahatan White-Collar, dimana kurang dari 10%

kasus kejahatan White-Collar yang diperoses melalui peradilan pidana.

c. Undang-Undang pidana yang bersifat berat sebelah.

Dalam perkembangannya, studi terhadap pelaku diperluas dengan studi tentang korban kejahatan. Hal ini sebagai pengaruh dari tulisan Hans Von Henting dan B. Mendehelsohn dalam bukunya ‘’The Criminal and His Victim’’ (1949). Von penting menunjukkan bahwa dalam kejahatan tertentu,

30 Ende Hasbi Nassaruddin, Op.Cit., hal.66

31 H.M Ridwan, Ediwarman, Azas-Azas Kriminologi, (Medan: Usu Press, 1994), hal.80

(29)

korban mempunyai peranan yang sangat penting dalam terjadinya kejahatan.32

Kemudian, studi tentang korban ini berkembang pesat dan muncullah viktimologi.33Victim adalah "orang yang telah mendapat penderitaan fisik atau penderitaan mental, kerugian harta benda atau mengakibatkan mati atas perbuatan atau usaha pelanggaran ringan dilakukan oleh pelaku tindak pidana dan lainya".34

Kemudian, studi tentang korban ini berkembang pesat dan muncullah viktimologi, yaitu pengetahuan yang membahas masalah korban dengan segala aspeknya. Pada permulaanya, beberapa sarjana, di antaranya B. Mendehlsohn mengkehendaki victimologi dan kriminologi. Akan tetapi, dengan perkembangannya kriminologi tahun 60-an, yaitu lahirnya "kriminologi hubungan-hubungan", kurang beralasan untuk melepaskan victimologi dan kriminologi.35

3. Reaksi Masyarakat Terhadap Kejahatan

Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap kejahatan bertujuan untuk mempelajari pandangan serta tanggapan masarakat terhadap perbuatan-perbuatan atau gejala yang timbul di masyarakat yang dipandang sebagai Undang-Undang belum mengaturnya. Berdasarkan studi ini bisa dihasilkan apa yang disebut sebagai kriminalisasi, dekriminalisasi atau dipenlisasi.36

32 Ende Hasbi Nassaruddin, Op.Cit., hal 67-68

33Ibid., hal 68

34 Bambang Waluyo, Viktimologi Perlindungan Korban dan Saksi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hal.9

35Ende Hasbi Nassaruddin, Op. Cit., hal.68

36 H.M Ridwan, Ediwarman, Op. Cit., hal. 81

(30)

Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap pelaku (penjahat) bertujuan untuk mempelajari pandangan-pandangan dan tindakan-tindakan masyarakat terhadap pelaku kejahatan.Bidang ini khususnya dipelajari oleh penology.37

Dengan perkembangan kriminologi setelah tahun 1960-an yaitu sebagai pengaruh berkembangnya prespektif labeding dan kriminologi kritis, studi mengenai reaksi masyarakat ini terutama diarahkan untuk mempelajari proses bekerjanya (dan pembuatan) hukum, khususnya berkerjanya aparat penegak hukum.38

2. Pengertian Narkotika dan Penyalahgunaan Narkotika a. Pengertian Narkotika

Secara umum, yang dimaksud dengan narkotika adalah sejenis zat yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi orang-orang yang menggunakannya, yaitu dengan cara memasukkan ke dalam tubuh.

Istilah narkotika yang dipergunakan di sini bukanlah ‘’narcotis’’

farmocologie (farmasi), melainkan sama artinya dengan ‘’drug’’, yaitu sejenis zat apabila dipergunakan akan membawa efek dan pengaruh-pengaruh tertentu pada tubuh si pemakai, yaitu :39

a. Mempengaruhi kesadaran

b. Memberi dorongan yang dapat dipengaruhi terhadap perilaku manusia c. Pengaruh-pengaruh tersebut berupa :

1. Penenang

2. Perangsang (bukan rangsangan sex)

37Ibid.,

38Ibid.,

39Moh. Taufik Makarao, Suhasril, Moh. Zakky A.S, Op. Cit., hal.16-17

(31)

3. Menimbulkan halusinasi (pemakainya tidak mampu membedakan antara Pada mulanya zat narkotika ditemukan orang yang penggunaanya ditujukan untuk kepentingan umat manusia, khususnya di bidang pengobatan, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka obat-obat semacam narkotika berkembang pula cara pengolahannya. Namun belakangan diketahui pula bahwa zat-zat narkotika tersebut memiliki daya kecanduan yang bisa menimbulkan si pemakai bergantung hidupnya terus-menerus pada obat-obat narkotika itu. Dengan demikian, maka untuk jangka waktu yang mungkin agak panjang si pemakai memperlukan pengobatan, pengawasan, dan pengendalian guna bisa disembuhkan.40

Jika dipandang lebih luas, banyak para ahli memberikan definisi tentang narkotika yang pengertianya berbeda sama lainnya, antara lain seperti berikut ini:41

1. Menurut Smith Kline dan French Clinical Staff (1968) membuat definis sebagai berikut:

‘’ narcotics are drug which produce insesibilit or stupor due to their depressant effect on the central nervous system. Incuded in this definition ore opium, opium derivaties (morphine, codein, heroin) and synthetic opiates (meperidnine, methadone)’’.

Artinya lebih kurang sebagai berikut :

40Ibid.,

41 Hari Sasangka, Op. Cit., hal 33-34

(32)

Narkotika adalah zat-zat (obat) yang dapat mengakibat kesadaran atau pembiusan dikarenakan zat-zat tersebut berkerja mempengaruhi susunan syaraf sentral. Dalam definisi narkotika ini sudah termasuk jenis candu dan turunan candu (morphine, codien, heroine dan candu sintesis (meperidine dan methadone).

2. Menurut M. RIDHA MA’ROEF menyimpulkan

a. Bahwa narkotika ada dua macam, yaitu narkotika alam dan narkotika sintesis. Yang termasuk narkotika alam ialah berbagai jenis candu, morphine, heroin, ganja, hashish, codein dan cocaine. Narkotika alam ini termasuk dalam pengertian narkotika sempit. Sedangkan narkotika secara luas. Narkotika sintesis yang termasuk didalamnya zat-zat (obat) yang tergolong dalam tiga jenis obat yaitu: Hallucinogen, despressant dan stimulant.

b. Bahwa narkotika itu berkerja mempengaruhi susunan syaraf sentral yang akibatnya dapat menimbulkan ketidaksadaran atau pembiusan. Berbahaya apabila disalahgunakan

c. Bahwa narkotika dalam pengertian di sini adalah mencangkup obat-obat bius dan obat-obat berbahaya atau narcotic and dangerous drug.

3. Menurut Prof. Sudarto, S.H.,

Perkataan narkotika berasal dari perkataan Yunani ‘’narke’’, yang berarti terbius sehingga tidak merasa apa-apa.

(33)

4. Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotka yang telah dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika memberi batasan tentang narkotika yaitu sebagai berikut : ‘’ narkotika adalah suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan ataupun perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan kedalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini atau yang kemudian ditetapkan oleh Mentri Kesehatan’’.42

Menurut peraturan perundang-undangan yang ada yaitu berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat 1, narkotika dapat digolongkan kedalam:

1. Narkotika Golongan I 2. Narkotika Golongan II 3. Narkotika Golongan III

Narkotika Golongan I (Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan).43

42 Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

43AR. Sujono, Bony Daniel, Komentara dan Pembahasan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal.49

(34)

Narkotika Golongan II (narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai penelitian terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan).44

Narkotika Golongan III (narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan).45

Berdasarkan bahan asalnya narkotika terdiri dari dalam 3 (tiga) golongan yaitu:46

1. Alami

Yakni jenis zat/obat yang timbul dari alam tanpa adanya proses fermentasi, isolasi atau proses produksi lainnya.

Contohnya : ganja, opium, daun koka dan lain-lain.

2. Semi Sintesis

Yakni zat yang diperoses sedemikian rupa melalui proses ekstraksi dan isolasi.

Contohnya : Morfin, Pethidin, dan lain-lain.

Jenis obat ini menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, termasuk dalam narkotika Golongan II.

44Ibid., hal 52

45Ibid., hal.56

46 Zulkarnain Nasution, Memilih Lingkungan Bebas Narkoba Panduan Untuk Remaja, (Bandung: Citapustaka Media, 2014), hal.2

(35)

3. Sintesis

Jenis obat atau zat yang diproduksi secara sintesis untuk keperluan medis dan penelitian yang digunakan sebagai penghilang rasa sakit (analgesik) seperti penekan batuk (antitusif).

Jenis obat yang termasuk katagori sintesis antara lain : Kodein, Amfetamin, Dekstropakasifen, LSD (Lisergik, Dietilamid).

Jenis-Jenis Narkotika Yang Sering Disalahgunakan 1. Ganja. 47

Dalam istilah medik/ nama Latin, Marijuana disebut :Cannnabis sativa.

Marijuana berasal dari meksiko, dan merupakan tumbuhan berumah dua, yakni pohon yang satu berbunga jantan, dan yang satunya berbungan betina. Bunga betina, terdapat tudung bulu-bulu runcing, yang mengeluarkan sejenis dammar atau resin, yang kemudian sering di keringkan, untuk dijadikan ramuan untuk tembakau/rokok.

Dammar dan daun itulah yang bersifat psikologis aktif, atau mengandung zat narkotik aktif, terutama tetrahidrokanaborol, yang bisa memabukkan. Atau zat-zat narkotik aktif lainnya, yang di antaranya terdapat sejenis phenol (fenol) yang kemudian disebut :cannabinol

Karena tanaman ganja dari jenis cannabissativa, walau disebutkan bahwa efek kertergantungannya tidak separah morfin, tetapi sama saja bisa membuat

47 Indrawan, Kiat Ampuh Menangkal Narkoba, (Bandung: CV. PIONIR JAYA, Cetakan ke-I, 2001), hal.37-39

(36)

pemakainya menjadi ketagihan (adiktif/sakaw); dan juga bisa menimbulkan halusinasi, yang lambat-laun akan bisa menggangu kejiwaan atau merusak SSP (Susunan Syaraf Pusat). Memiliki kenikmatan yang tiada taranya. Terlebih sesudah menghisap 2-3 batang rokok yang murni berisi ganja; di mana keadaan kesadaran dari penghisapnya akan berangsur-angsur menurun, dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat "khayali". Atau yang sering menimbulkan berbagai pikiran dan perasaan yang tidak ada hubungan satu sama yang lain secara logika akal sehat, yang sering dianggap dapat menimbulkan/memberikan kenikmatan atau kegembiraan yang luar biasa (eforia), dengan disertai berbagai halusinaasi yang umumnya bercorak seksual; atau yang membuatnya seperti tengah terbuai dalam suatu mimpi yang sangat indah, penuh kebahagiaan dan kenikmatan sorgawi.

2. Asian Poppy (Papaver Somniferum).48

Asian poppy, dikenal pula dengan nama Opium atau Candu, yang sudah dibudidayakan sejak ribuan tahun yang lampau, untuk bahan obat-obatan.

Terutama adalah buahnya yang masih muda, atau getah dari buahnya.

Dan dari getah Asian poppy atau Opium, dihasilkan "bubuk-putih" yang disebut: Morfin serta Heroin, yang sebenarnya juga merupakan obat yang sangat penting, tetapi sayang, sejak dahulu memang telah sering disalahgunakan.

Opium, morfin dan heroin disebut obat berbahaya, karena pemakaian obat ini efek atau pengaruh utamanya yang membahayakan, ialah bisa menimbulkan

"ketagihan", yang terus pula menuntut dosis yang semakin lama semakin

48Ibid.,hal 34-36

(37)

bertambah, hingga akhirnya membawa maut. Selain dapat mengurangi rasa nyeri, merangsang rasa kantuk, juga sering menimbulkan halusinasi, yakni: Penglihatan atau pengalaman indra tanpa adanya perangsangan pada alat indra yang ada pada diri orang yang bersangkutan.

Misalnya, ia mendengar suara musik yang sangat indah, tanpa sumber suara musik itu. Atau: melihat seekor burung, padahal pada kenyataannya, burung atau apa saja yang dilihatnya itu sebenarnya tidak pernah ada.

3. Cocain.49

Koka berasal dari tanaman coca yang banyak dijumpai si Columbia di Amerika Latin. Bentuk dari coca berupa serbuk, daun coca, buah coca, cocain Kristal. Cocain memiliki 4 (empat) warna yaitu: cairan berwarna putih/tidak berwarna, Kristal berwarna putih, tablet berwarna putih, bubuk/serbuk seperti tepung. Penggunaan cocain sering dengan cara menghirup melalui hidung dengan menggunakan alat penyedot (sedotan) atau dapat juga dibakar bersama-sama dengan tembakau (rokok), ditelan bersama minuman, atau disuntikan pada pembuluh darah. Efek dari cocain seperti: tidak bergairah bekerja, tidak bisa tidur, halusinasi, tidak nafsu makan, berbuat dan berfikir tanpa tujuan, merasa gelisah dan cemas berlebihan.

Selanjutnya apabila sudah pada tingkat over dosis atau takaran yang berlebihan dapat menyebabkan kematian, karena serangan dan gangguan pada pernafasan dan terhadap serangan jantung.

49 Zulkarnain Nasution, Op. Cit., hal.6-7

(38)

Disamping itu juga dapat menimbulkan keracunan pada susunan saraf sehingga korban dapat mengalami kejang-kejang, tingkah laku yang kasar, fikiran yang kacau dan mata gelap. Dampak negatif yang sangat berbahaya dari penggunaan kokain dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak (stroke).

4. Shabu.50

Shabu-shabu dikenal juga dengan nama lain yaitu, Kristal, ubas, SS, mecin. Bentuk dari shabu-shabu berupa Kristal dan shabu berwarna putih, penggunaan shabu dengan cara dibakar dengan menggunakan aluminium foil dan asapnya dihirup melalui hidung. Dibakar dengan menggunakan botol kaca khusus (bong) dan disuntikkan . Efek dari penggunaan shabu seperti badannya merasa lebih kuat dan energik (meningkatkan stamina), tidak mau diam (hiperaktif), rasa percaya diri meningkat, rasa ingin diperhatikan orang lain, nafsu makan berkurang akibatnya badan semakin kurus, sering digunakan sebagai salah satu alternative pengurus badan, susah tidur, jantung berdebar-debar, tekanan darah meningkat, mengalami gangguan pada fungsi sosial dan pekerjaan.

Penggunaan shabu mendorong tubuh melakukkan aktifitas yang melampaui batas kemampuan fisik/berkeringat secara berlebihan, sehingga dapat menyebabkan kekurangan caran tubuh (dehidrasi).

Bagi mereka yang sudah ketagihan, apabila pemakaiannya dihentikan (putus zat) akan timbul gejala-gejala sebagai berikut :

50Ibid., hal 11-12

(39)

a. Merasa lelah dan tidak berdaya (stamina menurun).

b. Kehilangan semangat hidup (ingin bunuh diri).

c. Merasa cemas dan gelisah secara belebihan, kehilangan rasa percaya diri.

d. Susah tidur.

b. Penyalahgunaan Narkotika

Dalam Istilah penyalahgunaan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat mengingat begitu banyaknya berita baik dari media cetak maupun elektronik yang memberitakan tentang penyalahgunaan dan biasanya arti dari kata

"penyalahgunaan" selalu mengarah ke hal-hal negatif.

Istilah "penyalahgunaan"berasal dari kata dasar "salah guna" yang artinya melakukan sesuatu tidak sebagaimana mestinya. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia.51

Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika bagian Memutuskan Penyalah Guna adalah orang yang menggunakan Narkotika atau melawan hukum.

Penyalahgunaan narkotika adalah merupakan suatu tindak kejahatan dan pelanggaran yang mengancam keselamatan, baik fisik maupun jiwa si pemakai dan juga terhadap masyarakat di sekitar secara sosial, maka dengan melalui pendekatan teoritis di atas, bahwa penyebab dari penyalahgunaan narkotika adalah

51 "KamusBesarBahasaIndonesia"(KBBI)https://kbbi.web.id/salah%20guna.menyalahgun akan pada tanggal 10 Maret 2018 jam 13:56 wib

(40)

merupakan delik materil, sedangkan perbuatannya untuk dituntut pertanggung jawab pelaku merupakan delik formil. 52

Penyalahgunaan pemakai narkotika dapat berakibat jauh dan fatal serta menyebabkan yang bersangkutan menjadi bergantung kepada narkotika untuk kemudian berusaha agar senantiasa memperoleh narkotika itu dengan segala cara, tanpa mengindahkan norma-norma sosial, agama maupun hukum yang berlaku.53 Akibat dari penyalahgunaan narkotika dapat dirasakan segera dan dapat pula berakibatkan menurunya kondisi kesehatan setelah melewati jangka waktu tertentu. Misalnya penggunaan marijuana yang dilakukkan sekali-kali dapat berakibat langsung pada perkembangan kognitif dan memori jangka pendek.

Penggunaan obat jenis ini dalam jangka waktu tertentu dapat berdampak negatif pada presepsi, reaksi dan koordinasi gerakan yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Hallinoges dapat merusak presepsi, mengganggu denyut jantung dan tekanan darah, serta dalam waktu panjang dapat menyebabkan sistem syaraf depresi, kegelisahan, halusinasi visual dan flasback. Cocaine dan amphetamine mengakibatkan gemetar (hypertension), dan mempercepat denyut jantung.

Dampah jangka panjangnya berupa mual-mual, tidak bisa tidur (imsomnia), kehilangan berat badan dan depresi. Para pengguna heroin pada mulanya merasa mual, pernapasan terganggu, kulit kering, gatal-gatal, bicara lambat dan daya refleksya merosot. Dalam jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan resiko yang

52Moh. Taufik Makarao, Suhasril, Moh. Zakky A.S, Op. Cit., hal.49

53Gatot Supramono, Hukum narkoba Indonesia, (Jakarta: Djambatan, Cetakan ke-II, 2004), hal.124

(41)

serius dengan semakin meningkatkan kertergangguan fisik dan psikologis, yang dapat berakibat pada overdosis akut dan bahkan kematian yang disebabkan pada depresi pernapasan.54

Adapun fase penggunaan narkotika sejak awalnya adalah dimulai dari coba-coba (experimental use), yaitu memakai narkotika dengan tujuan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Apabila pemakaian berlanjut, maka tingkat penggunaan meningkat ke tahap yang lebih berat yaitu untuk tujuan senang- senang. Jika tidak berhenti juga, maka pemakai meningkat lagi ke tingkatan situasional, yaitu memakai narkotika saat mengalami keadaan tertentu seperti waktu menghadapi keadaan tegang, sedih kecewa, dan sebagainya. Tindakan terparah apabila pemakai tidak juga berhenti dari menggunakan narkotika adalah tahapan abuse/penyalahgunaan karena ketergantungan yang diidikasikan dengan tidak lagi mampu menghentikan konsumsi narkotika yang akhirnya bisa menimbulkan gangguan fungsional atau occupational dengan timbulnya prilaku agresif dan dis-sosial (terganggunya hubungan sosial).55

3. Rehabilitasi Terhadap Penyalahgunaan Narkotika

Pemulihan gangguan penggunaan narkoba perlu dilakukan hingga tingkat rehabilitasi. Alasannya, selain menimbulkan gangguan fisik dan kesehatan jiwa, gangguan penggunaannarkoba juga memberi dampak sosial bagi pasien, lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya

54 Kusno Adi, Kebijakan Kriminal Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika Oleh Anak, (Malang: UMM Press, 2009), hal.31

55 AR. Sujono, Bony Daniel, Op. Cit., hal.6

(42)

Rehabilitasi pada hakekatnya bertujuan agar penderita bisa melakukan perbuatan secara normal: bisa melanjutkan pendidikan sesuai dengan bakat dan minatnya, dan yang terpenting bisa hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya.56

Satu lagi yang banyak diharapkan setelah mengikuti rehabilitasi pasien dapat menghayati agamanya secara baik. Itulah sebabnya banyak lembaga rehabilitasi yang didirikan berdasarkan kepercayaan/agama. Dan nyatanya, pasien akibat narkoba ini umumnya memang hidup jauh dari kepercaaan masing- masing.57

Tahap rehabilitasi ini meliputi beberapa hal:58 a. Rehabilitasi Sosial

Segala usaha yang bertujuan memupuk, membimbing dan meningkatkan rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial bagi keluarga dan masyarakat.

b. Rehabilitasi Edukasional

Bertujuan memelihara dan meningkatkan pengetahuan dan mengusahakan agar pasien dapat mengkuti pendidikan lagi, Jika mungkin memberikan bimbingan dalam memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan intelegensia dan bakatnya.

c. Rehabilitasi Vokasional

56 Zulkarnain Nasution, Op. Cit., hal. 61

57Ibid, hal. 62-63

58Ibid.,

(43)

Bertujuan menentukan kemampuan kerja pasien serta cara mengatasi penghalang atau rintangan untuk penempatan dalam pekerjaann yang sesuai. Juga memberikan keterampilan yang belum dimiliki pasien agar dapat bermanfaat bagi pasien untuk mencari nafkah.

d. Rehabilitasi Kehidupan Beragama

Bertujuan membangkitkan kesadaran pasien akan kebudayaan manusia di tengah-tengah makhluk ciptaan Tuhan; menyadarkan kelemahan yang dimiliki manusia, arti agama bagi manusia, membangkitkan optimisme berdasarkan sifat- sifat Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Tau, Maha Pengasih, dan Maha Pengampun

Terdapat beberapa tahapan-tahapan rehabilitasi bagi pecandu narkoba, diantaranya adalah: 59

1. Pada tahap rehabilitasi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mental pecandu narkoba. Selain ini, dokter juga akan memutuskan apakah dibutuhkan obat-obatan tertentu untuk mengurangi gejala putus obat (sakau) yang disesuaikan dengan jenis narkoba dan derajad sakau yang terjadi.

Beberapa teknik detoksifikasi yang biasa dilakukan diantaranya:

a. Cold turkey, merupakan metode tertua dengan mengurung pecandu pada fase putus obat tanpa memberikan obat-obatan lain. Proses ini dilakukan sekitar 2 (dua) minggu.

59 AloDokter," Tahapan Rehabilitasi Narkoba", diakses dari https://www.alodokter.com/tahapan-rehabilitasi-narkoba, pada tanggal 12 Maret 2018, pukul 11.00 WIB

(44)

b. Terapi sumstitusi/penggantian, proses ini hanya digunakan pada pecandu opioid/heroi. Kebutuhan heroin akan digantikan dengan beberapa jenis obat, seperti methadone, morfin, atau codein.

c. Terapi simptomatik, dilakukan dengan memberikan obat yang disesuaikan dengan memberikan obat yang disesuaikan dengan gejala atau keluhan pecandu narkoba.

Tahap ini juga akan dilakukan pemeriksaan penyakit infeksi menular seksual, seperti HIV-AIDS, hepatitis, dan sebagainya. Selain itu juga dapat dilakukan konseling atau psikototerapi setelah dilakukan evaluasi psikologis.

2. Konseling

Konseling narkoba merupakan hubungan antara konselor dengan penyalahgunaan dalam rangka membantu meningkatkan kesadaran akan masalah yang dialaminya serta ketentuan-ketentuan yang dimilikinya yang dapat digunakan dalam melakukan perubahan prilaku, mengatasi kesulitan dan memutuskan keputusan.

Tujuan konseling dalam masalah penyalahgunaan narkoba memiliki tujuan sebagai berikut:60

1. Menyediakan fasilitas untuk perubahan perilaku penyalahgunaan narkoba, 2. Memberikan kekuatan bagi mantan penyalahgunaan narkoba untuk tetap

pada kondisinya tanpa narkoba,

60 JHS Tanjung, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba dan Penanggulangannya, (Medan:

BNNP, 2013), hal.75-76

(45)

3. Meningkatkan keterampilan penyalahgunaan narkoba untuk menghadapi sesuatu, seperti membantu memperkuat motivasinya untuk mengikuti proses detoksifikasi dan proses pertolongan lainnya.

4. Meningkatkan kemampuan penyalahgunaan narkoba dalam mengatasi keputusan seperti membantu dalam memutuskan tujuan hidupnya,

5. Meningkatkan kemampuan penyalahgunaan narkoba dalam menjalani hubungan antar pribadi seperti membatu mengatasi pulihnya hubungan dengan anggota keluarga, sehingga proses sembuh dapat berjalan optimal, 6. Menyediakan fasilitas untuk pengembangan kemampuan penyalahgunaan narkoba seperti membantu mengatasi situasi yang akan menimbulkan efek fatal bagi penyalahgunaan narkoba misalnya keinginan bunuh diri.

Metode yang digunakan dalam konseling dengan mantan penyalahgunaan narkoba yang akan dijelaskan di bawah ini adalah konseling individu dan konseling kelompok:61

1. Konseling individu.

Konseling individu dilakukan dengan membicarakan masalah-masalah yang dihadapi mantan penyalahgunaan narkoba, sehingga mereka mampu belajar membuat keputusan sendiri.Salain itu mantan penyalahgunaan narkoba dapat memahami dan mendayagunakan sumber yang dimilikinya, menciptakan sumber baru melalui penyajian informasi dan dukungan emosional.

61Ibid., hal 87

(46)

2. Konseling Kelompok.

Konseling kelompok dilakukan untuk mengatasi masalah anggota kelompok secara mendalam.Kemudian konselor mengembangkan strategi untuk mencegah masalah dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki masing-masing anggota dan kelompok itu sendiri sebagai satu kesatuan.

F. Metode Penelitian

Dalam pembahasan skripsi ini, metologi penelitian hukum untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang diangkat. Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya, kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalan yang timbul di dalam gejala bersangkutan.62

Dalam pembahasan skripsi ini, metodologi penelitian hukam yang digunakan penulis sebagai berikut :

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah gabungan antara penelitian hukum normative dan yuridis sosiologi. Penelitian hukum yuridis, menurut Peter Mahmud Marzuki adalah suatu proses untuk

62 Bambang Sunggono, Metologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media, Cetakan ke-VII,2010), hal 35

Gambar

Tabel  dibawah  ini,  akan  digambarkan  tentang  perumusan  sanksi  pidana  dan  jenis  pidana  penjara  dan  pidana  denda  terhadap  penyalahgunaan  dan  pengedaran gelap narkotika, sebagaimana tabel di berikut ini

Referensi

Dokumen terkait

Dari proses itu, modifikasi kerja, yang kami sampaikan di bawah ini akan berkaitan dengan bagaimana agar karya kita diketahui lebih banyak orang dalam waktu yang

[r]

40 Xerostomia bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala dari berbagai kondisi seperti perawatan yang diterima, efek samping dari radiasi di kepala dan leher,

KEY WORDS: Mobile Laser Scanning, Point Cloud, Pavement Crack, Automated Detection, Urban

Penulisan ilmiah ini bertujuan untuk membuat website KODAM JAYA yang dapat digunakan sebagai informasi tentang organisasi ini. Dalam penulisan ilmiah ini akan dibahas bagaimana

Apabila brosur-brosur tersebut habis maka perusahaan harus menghubungi percetakan untuk memesan brosur-brosur baik dalam bentuk kertas maupun buku. Untuk mencegah kekosongan

[r]

Selain itu, perangkat mobile memiliki beberapa fungsi yang umumnya tidak tersedia atau berguna pada perangkat stasioner, termasuk kemungkinan penentuan tata ruang saat ini