ANALISIS PENGGUNAAN
KEIGO DALAM DRAMA NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO KARYA YOSHIHIRO IZUMIIZUMI YOSHIHIRO NO DORAMA “NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO” NI OKERU KEIGO NO SHIYOU BUNSEKI
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat
ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang
Oleh:
ARIF SETIAWAN NIM: 140708105
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
ANALISIS PENGGUNAAN
KEIGO DALAM DRAMA NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO KARYA YOSHIHIRO IZUMIIZUMI YOSHIHIRO NO DORAMA “NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO” NI OKERU KEIGO NO SHIYOU BUNSEKI
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat
ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang Oleh:
ARIF SETIAWAN NIM: 140708105
Pembimbing
Rani Afrianty S.S., M.Phil.
NIP. 19761110 200501 2 002
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Disetujui Oleh : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan
Medan, 17 Oktober 2019 Program Studi Sastra Jepang Ketua,
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. selaku Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi memberikan kesehatan, kebijaksanaan, kesabaran, berkah dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
Dalam kesempatan ini juga, penulis mengucapkan banyak ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis yakin, tanpa bantuan doa, semangat dan dorongan mereka, skripsi ini tidak akan dapat berjalan lancar. Adapun pihak yang terkait adalah sebagai berikut.
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Drs. Hamzon Stumorang, M.S., Ph.D., selaku Ketua Program Studi Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Rani Afrianty S.S., M.Phil., selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran dan tenaga, dalam memberikan masukan- masukan, arahan, dan saran serta memberi perhatian penuh untuk membimbing penulis dalam studi dan penyusunan skripsi ini sehingga skripsi dapat penulis selesaikan dengan baik dan menjadi lebih sempurna.
4. Seluruh Staf Pengajar Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama duduk di bangku perkuliahan.
5. Dosen Penguji Ujian Seminar Proposal dan Ujian Skripsi yang telah menyediakan waktu untuk membaca dan menguji skripsi ini.
6. Orang tua dan keluarga besar penulis yaitu ayahanda Alm. Sodikun dan ibunda Kanipah serta saudara-saudara penulis yang telah memberikan segalanya kepada penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh rekan-rekan seperjuangan Aotake 14 yang selama ini sama- sama berjuang dari awal hingga akhir.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan doa serta bantuan dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangannya. Untuk itu demi sempurnanya skripsi ini, penulis sangat membutuhkan dukungan dan sumbangsih pikiran berupa kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis serta para pembaca.
Medan, 14 Oktober 2019 Penulis,
Arif Setiawan NIM:140708105
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Ruang Lingkup Permasalahan ... 6
1.4 Tinjauan Pustakan Dan Kerangka Teori ... 6
1.4.1 Tinjauan Pustaka ... 6
1.4.2 Kerangka Teori ... 7
1.5 Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 10
1.5.1 Tujuan Penelitian ... 10
1.5.2 Manfaat Penelitian ... 10
1.6 Metode Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KESANTUNAN BERBAHASA, SOSIOPRAGMATIK, DAN BAHASA HORMAT BAHASA JEPANG (KEIGO) 2.1 Kesantunan Berbahasa ... 12
2.2 Sosiopragmatik ... 18
2.3 Keigo ... 30
2.3.1 Pengertian Keigo ... 30
2.3.2 Jenis Keigo ... 32
1. Sonkeigo ... 33
2. Kenjougo ... 36
3. Teineigo ... 38
2.3.3 Peran Keigo ... 40
BAB III ANALISIS RAGAM BAHASA HORMAT BAHASA JEPANG DALAM DRAMA “NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO” 3.1 Sinopsis Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” ... 42
3.1.1 Tokoh-Tokoh di dalam Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” 42 3.2 Bentuk-Bentuk Keigo dalam Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” 50 3.3 Analisis Penggunaan Keigo dalam Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” ... 56
3.3.1 Penggunaan Sonkeigo dalam Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” ... 56
3.3.2 Penggunaan Kenjougo dalam Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” ... 65
3.3.3 Penggunaan Teineigo dalam Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” ... 74
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan ... 82
4.2 Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 84
ABSTRAK ... 86
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa adalah sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Di dalam setiap bahasa terdapat aturan yang berbeda yang dikenal dengan tata bahasa. Di setiap tata bahasa terdapat peraturan penggunaan bahasa itu sendiri. Kemudian dalam setiap bahasa memiliki variasi tersendiri dalam penggunaannya. Variasi yang terdapat dalam bahasa ini biasanya disebut variasi bahasa.
Soepomo Poedjosoedarmo dalam Suwito (1983) menyebutkan bahwa variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya.
Sedangkan Nababan (1993) menyebutkanvariasi bahasa timbul karena ada empat faktor, yaitu daerah yang berlainan, kelompok atau keadaan sosial yang berbeda, situasi berbahasa yang berlainan, dan tahun atau zaman yang berlainan.
Dari berbagai faktor yang menyebabkan timbulnya variasi bahasa (Nababan, 1993) lahirlah jenis-jenis variasi atau ragam bahasa. Berkenaan dengan jenis variasi bahasa, Chaer dan Agustina (1995) menyatakan bahwa jenis variasi bahasa dibagi menjadi empat, yaitu: (1) Segi penutur, (2) Segi pemakaian, (3) Segi keformalan, dan (4) Segi Sarana.
Jenis ragam bahasa dari segi penutur terbagi atas tiga yaitu idiolek, dialek, dan sosiolek. Idiolek adalah ragam bahasa yang didasarkan pada diri setiap
individu. Maksudnya adalah ciri khas tiap-tiap orang dalam berbahasa yang berbeda satu sama lain. Dialek adalah ragam bahasa yang didasarkan kepada suatu wilayah atau kawasan di mana penutur tersebut tinggal. Suatu wilayah memiliki dialek yang berbeda dengan wilayah lainnya. Sedangkan sosiolek adalah ragam bahasa yang digunakan dalam suatu kelompok sosial yang didasarkan kepada perbedaan gender, status sosial, profesi, slank, bahasa kelompok, dan lain-lain.
Berdasarkan status sosial, ragam bahasa terbagi menjadi: ragam bahasa biasa dan bahasa hormat. Ragam bahasa biasa adalah ragam bahasa yang biasa digunakan dalam pergaulan antar sesama teman yang sudah akrab, dan kepada yang lebih muda, atau yang lebih rendah status sosialnya dalam topik percakapan yang bersifat tidak resmi. Sedangkan ragam bahasa hormat adalah ragam bahasa yang digunakan untuk menghormati lawan bicara, biasanya kepada atasan atau orang yang lebih tua.
Di dalam bahasa Jepang, ragam bahasa hormat dikenal dengan istilah keigo.
Berikut adalah makna keigo menurut Hirabayashi dan Hama (1998: 1).
“敬語というのは、話し手と聞き手、および話題の人物との間のさまざまな関 係にもとづいてことばを使い分け、その人間関係を明らかにする表現形式のことであ る”
Artinya, “Keigo adalah suatu bentuk ekspresi yang mengungkapkan hubungan antar manusia, yang membedakan kata-kata berdasarkan berbagai hubungan antara pembicara dan pendengar, dan orang yang dibicarakan.”
(Hirabayashi dan Hama (1998:1))
Terada dalam Dahidi dan Sudjianto (2004) menyebut keigo sebagai bahasa yang mengungkapkan rasa hormat terhadap lawan bicara atau orang ketiga.
Nomura Masaki dan Koike Seiji dalam Dahidi dan Sudjianto (2004) membagi keigo menjadi tiga, yaitu sonkeigo, kenjougo, dan teineigo. Hirai dalam Dahidi dan Sudjianto (2004) menjelaskan bahwa sonkeigo merupakancara bertutur kata
yang secara langsung menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara. Lalu kenjougomenurut Hirai dalam Dahidi dan Sudjianto (2004) adalah cara bertutur kata yang menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara dengan cara merendahkan diri sendiri. Sementara teineigo menurut Hirai dalam Dahidi dan Sudjianto (2004) adalah cara bertutur kata dengan sopan santun yang dipakai oleh pembicara dengan saling menghormati atau menghargai perasaan masing-masing.
Di lain pihak, dalam tata bahasa bahasa Indonesia, padanan untuk ragam bahasa keigotidak terlihat. Oleh karena itu, bagi pembelajar bahasa Jepang yang berbahasa ibu bahasa Indonesia mungkin sering kali mengalami kesulitan ketika mempelajari atau memakai keigo. Tetapi, dikarenakan keigo adalah bagian dari tata bahasa Jepang yang mempunyai keunikan dan khasnya sendiri, sudah semestinya dikuasai oleh pembelajar asing yang mempelajari dan ingin menguasai bahasa Jepang. Hal ini disebabkan penggunaan keigo dalam bahasa Jepang tidak bisa lepas dari kebudayaan bermasyarakat di Jepang. Oleh karena itu, bagi pelajar asing yang bermaksud untuk hidup dan tinggal di Jepang, menguasai keigo bahasa Jepang merupakan suatu hal yang harus dipelajari.
Penelitian ini menggunakan drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” sebagai sumber data analisis. Drama ini bercerita tentang seorang wanita bernama Kanou Haruko yang bercita-cita ingin menjadi guru SMA karena terinspirasi dari Akimoto Kuniko, gurunya saat SMA. Dia mendapat tawaran dari guru SMA-nya itu untuk menjadi guru pengganti di Koubun Gakuin selama tiga bulan. Sebagai gantinya Haruko akan mendapat rekomendasi untuk menjadi guru SMA.
Awalnya, Haruko menganggap remeh pekerjaannya karena dia hanya harus menjadi guru bahasa Jepang bagi warga asing. Namun, ternyata pekerjaannya
lebih sulit dari yang dia duga karena murid-muridnya sering memberikan pertanyaan-pertanyaan yang jarang diketahui oleh orang Jepang pada umumnya.
Untuk membuktikan dirinya layak menjadi guru, Haruko mulai mempelajari bahasa Jepang lebih dalam lagi dan akhirnya menjadi guru yang disenangi murid- muridnya.
Drama ini menggunakan banyak ragam bahasa hormat (keigo), dikarenakan drama ini bercerita di dalam lingkungan sekolah bagi orang-orang asing yang tinggal di Jepang untuk belajar bahasa Jepang. Maka dari itu, banyak komunikasi yang digunakan dalam percakapan di drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo”
adalah bermacam-macam. Mulai dari pemakaian bahasa percakapan biasa, slang, sampai dengan menggunakan bahasa hormat. Dalam drama ini juga memperlihatkan hubungan antar tokoh yang berperan. Mulai dari guru dan murid, atasan dengan pegawai, pegawai dengan tamu, sesama teman, dengan orang tua, dengan anak-anak dan lain-lain. Hubungan ini membuat para tokoh menggunakan bahasa yangberbeda-beda tergantung situasi dan lawan bicara.
Adanya keunikan, tingkat kesulitan dalam mempelajari keigo, serta pemerhatian antara hubungan penutur dengan petutur membuat peneliti tertarik untuk meneliti tentang keigo di dalam drama ini. Hal inilah yang mendorong, peneliti untuk melakukan penelitian tentang keigo dalam drama ini yang berjudul
“ANALISIS PENGGUNAAN KEIGO DALAM DRAMA NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGOKARYA YOSHIHIRO IZUMI.”
1.2 Rumusan Masalah
Di dalam bahasa Jepang, keigo tidak bisa sembarang digunakan.
Penggunaan keigo mestilah mengikuti tata aturan bahasa Jepang dan hubungan sosial masyarakat Jepang. Sebagai contohnya peneliti mengambil cuplikan adegan dari drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” yang mengandung unsur keigo, sebagai berikut.
Bapak Tua : あの~すみません。区役所まで行きたいんですが 道を教えていただけ
ませんか?
Haruko : あ 区役所でしたら 公園を出て真っ直ぐ西に向かっ…。あ よろしけ
れば ご案内しましょうか?
Bapak Tua : いいえ そこまでは。
Haruko : いいえ あたしでよかったら 構いませんよ。どうせ暇ですし。
Dalam percakapan di atas, baik si Bapak Tua maupun Haruko sama-sama menggunakan keigo saat berbicara karena keduanya belum mengenal satu sama lain dan baru pertama kali bertemu. Ini dikarenakan keduanya sama-sama menjaga perasaan lawan bicara masing-masing, yaitu saling menghormati orang yang belum dikenal dan untuk menjaga hubungan sosial yang baik dalam bermasyarakat, karena keduanya belum pernah bertemu sebelumnya.
Berdasarkan hal ini, yang menjadi rumusan masalah untuk penelitian ini adalah:
1. Bagaimana bentuk-bentuk keigo di dalam drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo”?
2. Bagaimana penggunaan keigo dalam drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo”?
1.3 Ruang Lingkup Permasalahan
Untuk membatasi permasalahan agar tak terlalu luas, maka penulis hanya terfokus pada penggunaan keigo di dalam drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo”
karya Yoshihiro Izumi. Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” mempunyai 12 episode, dan penulis akan mengambil data dari semua episode pada bagian percakapan yang hanya mengandung keigo, mulai dari sonkeigo, kenjougo, dan teineigo.
1.4 Tinjauan Pustaka Dan Kerangka Teori 1.4.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai keigo yang pernah dilakukan salah satunya adalah skripsi oleh Nasution (2016) yang berjudul „Analisis Ragam Bahasa Hormat Dalam Film Drama Gokusen Season III Karya Kozueko Morimoto‟. Dalam penelitian tersebut Nasution (2016) membahas yang berkenaan dengan faktor yang menentukan penggunaan keigo yang ada dalam film drama Gokusen Season III karya Kozueko Morimoto Adapun hasil penelitian yang didapat adalah terdapat delapan faktor yang menjadi faktor penentu. Lalu masing-masing keigo, mulai dari sonkeigo, kenjougo, dan teineigo memiliki perbedaan dalam penggunaannya berdasarkan kedelapan faktor penentu penggunaan keigo tersebut.
Penelitian lain mengenai keigo adalah jurnal oleh Febrianty dkk. (2014) yang berjudul „Keigo Analisis Kesalahan Mahasiswa Dalam Penggunaan‟. Dalam penelitian tersebut Febrianty dkk. (2014) melakukan studi kasus terhadap mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir program studi sastra/bahasa Jepang (Tahun Akademik 2014/2015) dari berbagai perguruan tinggi di Bandung. Penelitian
tersebut menghasilkan kemampuan mahasiswa dalam penggunaan keigo adalah
„cukup‟ dengan tingkat kesaalahan „sedang‟. Hal ini dipengaruhi oleh pemahaman dan penguasaan keigo yang tidak optimal baik dari segi ketatabahasaan maupun aplikasi dalam percakapan. Ketidakoptimalan ini disebabkan oleh penggunaan keigo yang rendah baik di dalam maupun di luar perkuliahan membuat mahasiswa cenderung lupa sehingga menimbulkan kesalahan dalam penggunaannya.
1.4.2 Kerangka Teori
a) Teori Kesantunan Berbahasa
Lakoff dalam Chaer (2010), mengatakan kalau tuturan kita ingin terdengar santun di telinga pendengar atau lawan tutur kita, ada tiga buah kaidah yang harus kita patuhi. Ketiga kaidah kesantunan itu adalah formalitas (formality), ketidaktegasan (hesitancy) dan persamaan atau kesekawanan (equality or cameraderie). Ketiga kaidah itu apabila dijabarkan, maka yang pertama formalitas, berarti jangan memaksa atau angkuh (aloof); yang kedua, ketidaktegasan berarti buatlah sedemikian rupa sehingga lawan tutur dapat menentukan pilihan (option) dan yang ketiga persamaan atau kesekawanan, berarti bertindak seolah-olah Anda dan lawan tutur Anda menjadi sama.
Fraser dalam Chaer (2010), membahas kesantunan berbahasa bukan atas dasar kaidah-kaidah, melainkan atas dasar strategi. Fraser juga membedakan kesantunan (politeness) dari penghormatan (deference).
Bagi Fraser, kesantunan adalah properti yang diasosiasikan dengan tuturan dan di dalam hal ini menurut pendapat si lawan tutur, bahkan si penutur tidak melampaui hak-haknya atau tidak mengingkari dalam memenuhi
kewajibannya. sedangkan penghormatan adalah bagian dari aktivitas yang berfungsi sebagai sarana simbolis untuk menyatakan penghargaan secara reguler.
Menurut Gunawan dalam Chaer (2010) mengenai definisi kesantunan dari Fraser, ada tiga hal yang perlu diulas. Pertama, kesantunan itu adalah properti atau bagian dari tuturan. Kedua, pendapat pendengarlah yang menentukan apakah kesantunan itu terdapat pada sebuah tuturan. Ketiga, kesantunan itu dikaitkan dengan hak dan kewajiban peserta pertuturan.
Masnur Muslich (2007) menyebutkan bahwa kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berbicara yang harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunannya suatu bahasa dalam berkomunikasi.Apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma- norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya.
Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) demi kelancaran komunikasi, karena tatacara berbahasa bertujuan mengatur serangkaian hal berikut.
1. Apa yang sebaiknya dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu.
2. Ragam bahasa apa yang sewajarnya dipakai dalam situasi tertentu.
3. Kapan dan bagaimana giliran berbicara dan pembicaraan sela diterapkan.
4. Bagaimana mengatur kenyaringan suara ketika berbicara.
5. Bagaimana sikap dan gerak-gerik keika berbicara.
6. Kapan harus diam dan mengakhiri pembicaraan.
b) Teori Sosiopragmatik
Kajian sosiopragmatik berasal dari kajian sosiolinguistik dan pragmatik. Kajian sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Sementara pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari pemakaian bahasa yang dikaitkan dengan konteks pemakaiannya.
Ruhendi (2001) menyebutkan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari strukturbahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan bahasa itu digunakan didalam komunikasi.
Levinson dalam Tarigan (2001) menyatakan bahwa pragmatik adalahtelaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasarbagi suatu catatan/laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain:
telaahmengenai kemampuan bahasa menghubungkan serta menyerasikankalimat- kalimat dan konteks-konteks secara tepat.
Leech (1993) mengembangkan pragmatik dengan pengertianyang luas.
Leech menggunakan pengertian pragmatik secara umumsebagai sebuah studi mengenai makna dalam linguistik. Beberapa bidangyang termasuk pragmatik umum adalah pragmalinguistik dansosiopragmatik. Pragmalinguistik merupakan studi mengenai maknabahasa yang berhubungan dengan grammar atau linguistik itu sendiri,sedangkan sosiopragmatik merupakan studi yang mempelajari makna yangberhubungan dengan sosiologi.
Menurut Trosborg dalam Susanti (2007) bahwa sosiopragmatik mengacu pada analisis pola interaksi di dalam situasi sosial tertentu dan atau sistem sosial tertentu. Kajian sosiopragmatik menurut Leech (2001), bersifat
„setempat‟ dan khusus. Dalam sosiopragmatik, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan bertindak secara berlainan di dalam budaya, bahasa, kelas sosial dan situasi sosial yang berlainan.
1.5 Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.5.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bentuk-bentukkeigo di dalam drama Nihonjin no Shiranai Nihongo
2. Untuk mengetahui penggunaan keigo dalam drama Nihonjin no Shiranai Nihongo
1.5.2 Manfaat Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Memperdalam ilmu pengetahuan dalam bidang sosiolingistik, terutama dalam bahasahormat dalam bahasa Jepang
2. Dapat mengetahui aturan penggunaan keigo di dalam bahasa Jepang 3. Dapatmenjadi referensi bagi pembelajar bahasa Jepang yang kurang
memahami penggunaan keigo juga untuk menambah minat pelajar untuk melakukan penelitian mengenai keigo lebih lanjut lagi.
1.6 Metode Penelitian
Dalam membuat penelitian peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Adapun dalam mengumpulkan data teknik yang digunakan ada dua,
yaitu teknik pustaka dan teknik simak dan catat. Teknik pustaka adalah pengumpulan data berdasarkan sumber-sumber tertulis yang mencerminkan aturan pemakaian tata bahasa Jepang (Edi Subroto. 2007). Dalam hal ini peneliti mencari sumber dari buku dan internet untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penyusunan penelitian.
Teknik simak dan catat adalah peneliti mengadakan penyimakan terhadap pemakaian bahasa spontan di mana pun dan mengadakan pencatatan terhadap data relevan. (Edi Subroto. 2007). Dalam hal ini peneliti mencoba menyimak data dari sumber data yang berupa drama televisi kemudian mencatat bagian-bagian penting dari sumber data untuk mendapatkan data yang diperlukan.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KESANTUNAN BERBAHASA, SOSIOPRAGMATIK, DAN BAHASA HORMAT BAHASA JEPANG
(KEIGO)
2.4 Kesantunan Berbahasa
Prinsip-prinsip kesantunan sangat dibutuhkan terutama ketika berkomunikasi secara verbal. Kesantunan tidak hadir dengan sendirinya bersamaan dengan lahirnya manusia, tetapi harus dipelajari dan dibiasakan seiring dengan manusia saling bersosialisasi (Watts dalam Setiawati dan Arista (2018)).
Lakoff dalam Abdul Chaer (2010) mengungkapkan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesantunan dalam berbahasa, yakni :
1. Formalitas, maksudnya adalah jangan memaksa atau jangan angkuh baik untuk penutur maupun petutur.
2. Ketidaktegasan, menunjukkan agar penutur dan petutur menentukan pilihan dalam bertutur
3. Persamaan dan kesekawanan, menunjukkan bahwa penutur dan petutur dalam bertutur harus selalu bersikap ramah agar keduanya merasa akrab.
Dalam kesantunan berbahasa, terdapat skala kesantunan berbahasa.
Maksudnya adalah dalam kesantunan, terdapat peringkat yang menandai kesantunan bertutur mulai dari yang tidak santun sampai yang tersantun. Brown dan Levinson dalam Abdul Chaer (2010) menyatakan ada tiga skala kesantunan penentu peringkat kesantunan sebuah tuturan. Ketiga skala itu ditentukan secara
kontekstual, sosial, dan kultural yang selengkapnya mencakup skala (1) jarak sosial; (2) status sosial penutur dan lawan tutur, dan (3) tindak tutur.
1. Skala peringkat sosial antara penutur dan lawan tutur banyak ditentukan dari parameter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural. Berkenaan dengan perbedaan umur antara penutur dan lawan tutur, biasanya semakin tua umur seseorang akan semakin tinggi peringkat kesantunan petuturannya. Sebaliknya, orang yang masih muda cenderung memiliki tingkat kesantunan yang lebih rendah dalam bertutur. Selanjutnya orang yang berjins kelamin wanita biasanya memiliki tingkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan yang berjenis kelamin pria. Lalu, orang yang memiliki jabatan tertentu di dalam masyarakat cenderung memiliki peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan orang biasa.
2. Skala peringkat status sosial antara penutur dan lawan tutur didasarkan pada kedudukan asimetrik antara penutur dengan lawan tutur. Misalnya, seorang guru kedudukannya lebih tinggi dari siswa, polisi kedudukannya lebih tinggi dari dokter yang melanggar lalu lintas, dan dokter lebih tinggi dari polisi yang datang untuk berobat.
3. Skala peringkat tindak tutur didasarkan atas kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan lainnya.
Selain skala kesantunan di atas ada pula skala kesantunan yang dikemukakan oleh Leech, yaitu:
1. Skala kerugian dan keuntungan (cost-benefit scale) merujuk pada besar kecilnya biaya dan keuntungan yang disebabkan oleh sebuah tindak tutur pada sebah pertuturan.
2. Skala pilihan (optionality scale) mengacu pada banyak atau sedikitnya pilihan yang diasampaikan penutur kepada lawan tutur di dalam kegiatan bertutur. semakin banyak pilihan dan keleluasaan dalam pertututan itu, maka dianggap semakin santunlah peruturan itu.
3. Skala ketidaklangsungan (indirectness scale) merujuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya “maksud” sebuah tuturan.
4. Skala keotoritaasan (authority scale) merujuk pada hubungan status sosial antara penutur dan lawan tutur yang terlibat dalam suatu peruturan. Semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dan lawan tutur makan tuturan yang digunakan akan semakin santun.
5. Skala jarak sosial (social distance) merujuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Semakin dekat jarak hubungan sosial di antara keduanya akan menjadi kurang santunlah pertuturan itu.
Pranowo, seorang Guru Besar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta memberikan pedoman bagaimana berbicara santun. Menurut Pranowo dalam Abdul Chaer (2010) suatu tuturan akan terasa santun apabila memperhatikan hal- hal berikut:
1) Menjaga suasana perasaan lawan tutur sehingga dia berkenan bertutur dengan kita.
2) Mempertemukan perasaan kita (penutur) dengan perasaan lawan tutur sehingga isi tuturan sama-sama dikehendaki karena sama-sama diinginkan.
3) Menjaga agar tuturan dapat diterima oleh lawan tutur karena dia berkenan di hati.
4) Menjaga agar dalam tuturan terlihat ketidakmampuan penutur di hadapan kawan tutur.
5) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat posisi lawan tutur selalu berada pada posisi yang lebih tinggi.
6) Menjaga agar dalam tuturan selalu terlihat bahwa apa yang dikatakan kepada lawan tutur juga dirasakan oleh penutur.
Lalu yang berkenaan dengan bahasa, khususnya diksi, Pranowo dalam Abdul Chaer (2010) memberikan saran agar tuturan terasa santun sebagai berikut:
1) Gunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain.
2) Gunakan kata “maaf” untuk tutran yang diperkirakan akan menyinggung perasaan orang lain.
3) Gunakan kata “terima kasih” sebagai pernghormatan atas kebaikan orang lain.
4) Gunakan kata “berkenan” untuk meminta kesediaan orang lain melakukan sesuatu.
5) Gunakan kata “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati.
6) Gunakan kata “bapak/ibu” untuk menyapa orang ketiga.
Selain pedoman di atas, Pranowo dalam Abdul Chaer (2010) juga menyebutkan adanya beberapa faktor atau hal yang menyebabkan sebuah
pertuturan itu menjadi tidak santun. Penyebab ketidaksantunan itu antara lain adalah (a) mengkritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar; (b) dorongan emosi penutur; (c) sengaja menuduh lawan tutur; (d) protektif terhadap pendapa sendiri; dan (e) sengaja memojokkan lawan tutur.
Kesantunan dalam berbahasa perlu disertai dengan perilaku yang baik dalam bertutur atau berbahasa. Perilaku bertutur yang baik setidaknya mengikuti etika berbahasa seperti yang dikemukakan Geertz dalam Abdul Chaer (2010) yang menyebutkan bahwa etika berbahasa “mengatur” kita dalam hal:
1) Apa yang harus dikatakan kepada lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu.
2) Ragam bahasa yang paling wajar digunakan untuk lawan tutur, waktu, tempat dan budaya.
3) Kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain. Aturan ini mengacu pada pertuturan yang partisipannya banyak.
4) Kualitas suara penutur dalam tuturan. Kualitas suara yang keras, pelan, atau meninggi tidaklah masalah malah mungkin memang diperlukan.
Namun, tidaklah sampai ada kesan seperti suara yang “ngotot.”
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan tindak tutur, termasuk larangan yang sebaiknya tidak dilanggar dan keharusan yang sebaiknya dilaksanakan. Berikut penjelasan keduanya.
Hal-hal yang berupa larangan dan sebaiknya tidak dilanggar adalah:
1) Jangan mempermalukan lawan tutur. Dalam arti mengejek, menyepelekan, menghina, dan merendahkan lawan tutur.
2) Jangan menyombongkan diri, membanggakan diri, atau memuji diri di hadapan lawan tutur.
3) Jangan menghina atau menjelek-jelekkan milik orang lain sehingga orang tersebut merasa tidak senang dan marah.
4) Jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan yang dialami orang lain.
5) Jangan menyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksepakatan dengan lawan tutur.
6) Jangan gunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak permintaan dari lawan tutur.
7) Jangan memaksa lawan tutur untuk melakukan sesuatu.
Hal-hal yang berupa keharusan dan sebaiknya dilaksanakan adalah:
1) Membuat lawan tutur merasa senang.
2) Memberi pujian kepada lawan tutur.
3) Menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur.
4) Sebagai penutur sebaiknya bersikap merendah terhadap lawan tutur.
5) Penutur harus memberi simpati kepada lawan tutur.
6) Menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan.
7) Menggunakan kata sapaan dan kata ganti (pengganti kata ganti) yang sesuai dengan identias sosial penutur dan lawan tutur.
8) Menggunakan kata “maaf” bila harus menyebutkan kata-kata yang dianggap tabu (seperti menyebutkan nama alat kelamin, dan sebagainya) 9) Menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh.
10) Menggunakan kalimat “berputar” dalam menolak suatu suruhan, ajakan, atau permintaan.
11) Dalam meminta maaf gunakan kata “maaf” yang disertai penjelasan dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata “mohon.”
Tuturan yang santun tidak akan berarti apabila tidak disertai dengan sikap atau perilaku yang juga santun sesuai dengan norma-norma sosial budaya yang berlaku, seperti:
a. Berikan perhatian yang penuh ketika lawan tutur berbicara.
b. Berikan senyum yang disertai anggukan kepala ketika memberi salam.
c. Simaklah baik-baik tuturan lawan tutur agar kita dapat mengerti dengan baik dan juga sikap penuh perhatian.
d. Jangan cepat-cepat dan selalu menyela (menginterupsi) ketika lawan tutur berbicara.
e. Jangan meninggalkan tempat (rapat, sidang diskusi dan sebagainya) tanpa pemberitahuan kepada moderator atau pimpinan sidang.
f. Jangan sampai ada kesan, Anda menyuruh mendengarkan tuturan Anda, tetapi Anda tidak mau mendengarkan tuturan mereka.
2.5 Sosiopragmatik
Gunarwan (1994) menjelaskan bahwa kajian sosiopragmatik adalah penelitian yang memusatkan kajiannya pada penggunaan bahasa (language
usebukan ilanguage usage) di dalam sebuah masyarakat budaya di dalam situasi sosial tertentu. Seperti yang dikatakan Leech (1983), sosiopragmatik adalah satu dari dua sisi pragmatik yang sisi lainnya adalah pragmalinguistik. Yang pertama berhubungan dengan sosiologi dan yang kedua (pragmalinguistik) berhubungan dengan tata bahasa (grammar), dengan catatan bahwa pengertian grammar di sini ialah seperti yang dipakai di dalam paradigma linguistik generatif transformasional yang meliputi semantik dan fonologi. Bukan seperti yang dipakai di dalam paradigma linguistik struktural yang terbatas pada morfologi dan sintaksis.
Sosiopragmatik merupakan telaah mengenai kondisi-kondisi atau kondisi- kondisi „lokal‟ yang lebih khusus ini jelas terlihat bahwa prinsipkerjasama dan prinsip kesopanan berlangsung secara berubah-ubah dalam kebudayaan yang berbeda-beda atau aneka masyarakat bahasa, dalam situasi sosial yang berbeda- beda dan sebagainya. Artinya dengan perkataan lain, sosiopragmatik merupakan tapal batas sosiologis pragmatik. Jadi, jelas disini betapa erat hubungan antara sosiopragmatik dengan sosiologi (Tarigan, 2001).
Trosborg dalam Susanti (2007) menyatakan bahwa sosiopragmatik mengacu pada analisis pola interaksi di dalam situasi sosial tertentu dan atau sistem sosial tertentu. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Leech (2001) yang menyatakan kajian sosiopragmatik bersifat „setempat‟ dan khusus. Dalam sosiopragmatik, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan bertindak secara berlainan di dalam budaya, bahasa, kelas sosial dan situasi sosial yang berlainan.
Pragmatik dan sosiolinguistik adalah dua cabang ilmu bahasa yang muncul akibat adanya ketidakpuasan terhadap penanganan bahasa yang terlalu bersifat
formal yang dilakukan oleh kaum strukturalis. Dalam hubungan ini pragmatik dan sosiolinguistik masing-masing memiliki titik sorot yang berbeda di dalam melihat kelemahan pandangan kaum strukturalis. (Wijana, 2004).
Adanya kenyataan bahwa wujud bahasa yang digunakan berbeda-beda berdasarkan faktor-faktor sosial yang tersangkut di dalam situasi pertuturan, seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi penutur dan petutur dan sebagainya menunjukkan alasan-alasan atau keberatan-keberatan yang dikemukakan oleh kaum strukturalis untuk menolak keberadaan variasi bahasa tidak dapat diterima. Secara singkat konsep masyarakat homogen kaum strukturalis jelas-jelas bertentangan dengan prinsip yang dikemukakan oleh Wijana (2000, 187-191), terutama dua prinsip yang mengatakan bahwa:
a. Prinsip Pergeseran Makna (The Principle Of Style Shifting)
Tidak ada penutur bahasa yang memiliki satu gaya, karena setiap penutur menggunakan berbagai bahasa, dan menguasai pemakaiannya. Tidak ada seorang penutur pun menggunakan bahasa persis dalam situasi yang berbeda-beda.
b. Prinsip Perhatian (The Principle Of Attention)
Laras bahasa yang digunakan oleh penutur berbeda-beda bergantung pada jumlah atau banyaknya perhatian yang diberikan kepada tuturan yang diucapkan. Semakin sadar seseorang penutur terhadap apa yang diucapkan semakin formal pula tuturannya. (Wijana, 2004).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa sosiopragmatik adalah perantara antara sosiologi dan pragmatik dan ia merupakan kajian terperinci yang mempunyai sifat budaya lokal.
2.5.1 Sosiopragmatik Imperatif
Kajian dalam sosiopragmatik tersaji dalam sejumlah ranah sosial. Kajian terhadap entitas imperatif ini menempatkan delapan ranah untuk melihat bentuk- bentuk kebahasaan yang di dalamnya mengandung makna sosiopragmatik imperatif. Kedelapan ranah sosial itu dapat disebutkan sebagai berikut: (1) ranah pendidikan, (2) ranah perkantoran, (3) ranah kemasyaratkatan, (4) ranah pemertintahan, (5) rnaah transaksional bisnis, (6) ranah keagamaan, (7) ranah kekeluargaan, dan (8) ranah media. Di dalam setiap ranah siosial itu, dapat ditemukan wujud dan makna sosiopragmatik imperatif yang bermacam-macam.
Demikian pula, di dalam setiap ranah itu dapat ditemuan wujud-wujud kesantunan dari entitas imperatif yang dikaji secara sosiopragmatik itu. Bermacam-macam bentuk dan makna sosiopragmatik imperatif itu sangat ditentukan oleh keberadaan konteks tuturannya. Maka, di setiap kemunculan itu selalu disertakan konteks tuturannya. Interpretasi terhadap wujud dan makna sosiopragmatik imperatif, demikian pula terhadap wujud-wujud kesantunannya, harus dilakukan dengan mempertimbangkan dan memperhitungkan konteksnya.
Dalam sosiopragmatik imperatif, terdapat pula wujud-wujud kesantunan sosiopragmatik imperatif masing-masing ranah sosial.
1) Ranah Pendidikan
Di dalam ranah pendidikan, maksud imperatif sosiopragmatik itu ternyata sebagian besar dinyatakan dalam bentuk tuturan yang bermodus interogatif dan bermodus imperatif itu sendiri. Artinya, maksud-maksud imperatif itu ada yang dinyatakan secara langsung dan literal dengan bentuk imperatif, tetapi ada juga
yang dinyatakan secara tidak langsung dan tidak literal dengan menggunakan kalimat yang bermodus interogatif.
Di dalam ranah pendidikan juga ditentukan wujud-wujud kesantunan sosiopragmatik berbentuk imbauan. Imbauan itu diwujudkan dalam bentuk klaimat berdiatesis pasif. Bentuk pasif dianggap lebih santun dalam linguistik karena dengan pemasifan itu ketidaklangsungan sebuah tuturan akan menjadi emakin tinggi kadarnya. Sermakin tidak langusng sebuah tuturan, akan semakin santunlah tuturan itu. Demikian pula dapat dikatakan bahwa semkain tidak terus terang sebuah tuturan imperatif, maka akan menjadi semakin santunlah tuturan imperatif itu. Hal demikian sejalan dengan yang disampaikan Lakoff dalam Rahardi (2009) di dalam skala kesantunannya.
Dalam ranah pendidikan, juga terapat makna sosiopragmatik imperatif pancingan. Jika dilihat dari wujudnya, pancingan-pancingan ini dinyatakan dalam wujud tuturan bermodus interogatif. Artinya, maksud imperatif itu dinyatakan tidak dengan tuturan imperatif yang sifatnya langsung dan konvensional tetapi dengan tuturan yang bentuknya tidak konvensional, yakni dengan kalimat yang bermodus interogatif. Untuk mengawali klaimat yang bermodus interogatif itu, disampaikan terlebih dahulu kalimat yang bermodus deklaratif. Bentuk yang demikian ini jelas lebih memiliki tingkat kesantunan yang lebih tinggi daripada tuturan imperatif yang dinyatakan secara langsung dan literal.
Di dalam ranah pendidikan juga ditemukan makna-makna sosiopragmatik impertaif yang memiliki nilai kesantunan yang cukup signifikan, yakini makna persilaan. Dengan mempersilakan berarti sang guru atau dosen memberikan alternatif tindakan kepada para siswa atau mahasiswa. Dengan memberikan
alternatif tindakan ini, kadar tekanan dan kadar keharusan yang diberikan oleh sang dosen atau sang guru menjadi semakin tipis. Hal demikian juga sejalan dengan pernyataan Lakoff dalam Rahardi (2009), bahwa kesantunan sebuah tuturan akan terjadi manakala terdapat opsi-opsi atau alternatif-alternatif yang harus dipilih oleh mitra tutur. Semakin transparan maksud sebuah opsi atau alternatif maka akan semakin santunlah tuturn itu. Demikian pula semakin banyak jumlah opsi sebuah tuturan akan semakin santunlah tuturan itu.
Wujud kesantunan sosiopragmatik imperatif yang lain terdapat pada makna sosiopragmatik imperatif tawaran. Dengan memberikan tawaran, alih-alih paksaan dan/atau tekanan, kadar kesantunan tuturan itu akan menjadi semakin kelihatan.
Alasannya relatif sama dengan makna persilaan, yakni tuturan yang demikian ini memberikan sejumlah opsi atau sejumlah pilihan.
Untuk makna sosiopragmatik sindiran, sejumlah pakar, khususnya Leech dalam Rahardi (2009), menyatakan bahwa makna ini berdekatan dengan prinsip ironi. Tuturan yang bersifat ironi tentu saja tidak dapat dilihat kesantunannya, bahkan pakar ini juga mengatakan bahwa hal tersebut bersifat improduktif dalam komunikasi.
Di dalam ranah pendidikan juga terdapat tuturan-tuturan yang yang bermakna sosiopragmatik imoperatif perigatan. Sebuah tuturan yang bermakna sosiopragmatik peringatan akan dapat dikatakan santun apabila kadar peringatan itu tidak dinyatakn secara kentara. Semakin kentara maksud sebuah peringatan aakan semakin tidak santunlah tuturan itu. Demikian pula, semakin langsung peringatan itu diberikan, akan terkesan tidak santunlah tuturan itu.
2) Ranah Perkantoran
Di dalam ranah perkantoran, tuturan yang mengandung makna sosiopragmatik imperatif instruksi dapat dikatakan memiliki kadar kesantunan yang rendah. Instruksi pada umumnya dinyatakan secara langsung dalam wujud imperatif yang sifatnya konvensional. Kebanyakan tuturan yang bermakna sosiopragmatik imperatif instruksi juga sangat minim dengan pilihan atau alternatif. Dengan ketidakhadiran alternatif atau opsi yang demikian itu maka kadar kesantunannya pun akan semakin rendah.
Jika fakta kebahasaan demikian itu dikaitkan dengan skala kesantunan (Leech dalam Rahardi (2009)) yang mengedepankan masalah kerufian (lost, cost) dan keuntungan (benefit) maka dapat diatakan bahwa tuturan imperatif yang tidak memberi opsi itu akan meminimalkan keuntungan pada pihak mitra tutur dan mengoptimalkan keuntungan pada pihak penutur.
Kadar kesantunan yang juga tergogolong rendah di dalam ranah perkantoran kelihatan pada tuturan-tuturan yang bermakna sosiopragmatik imperatif perintah.
Lazimnya, di dalam perintah juga hanya terdapat sangat kecil kesempatan untuk memilih atau mendapatkan alternatif. Tuturan yang tidak memberikan peluang untuk memilih sejumlah alternatif atau opsi jelas memiliki kadar kelangsungan yang sangat tinggi. Maka, tuturan-tuturan yang mengandung makna sosiopragmatik imperatif perintah itu memiliki kdar kesantunan yang cenderung rendah. Keuntungan (benefit) berada terlalu banyak di pihak penutur atau pemberi perintah. Sebaliknya, kerugain (lost, cost) terbanyak berada di mitra tutur atau pihak yang diberikan perintah itu.
Bilamana dikaitkan dengan skala kesantunannya Brown & Lenvinson dalam Rahardi (2009), dapat dikatakan bahwa pihak yang memiliki status sosial tinggi, biasanya akan memunculkan jarak sosial yangjuga tinggi kepada orang atau pihak yang berstatus sosial lebih rendah. Demikian pula derajat peringkat tindak tutur (degree of imposistion) yang dimiliki oleh orang yang berada pada status dan jenjang sosial yang lebih tinggi biasanya akan lebih tinggi daripada mereka yang berstatus sosial lebih rendah.
Di dalam ranah perkantoran juga ditemukan makna sosiopragmatik imperatif larangan yang sudah barang tentu memiliki kadar kesantunan yang tidak tinggi terutama sekali kalau dinyatakan secara konvensional dalam bentuk kalimat imperatif larangan. Sesungguhnya, kalimat imperatif larangan demikian itu dapat ditingkatkan kadar kesantunannya dengan cara diubah menjadi kalimat yang tidak bermodus imperatif larangan.
Wujud kesantunan yang lain di dalam ranah perkantoran adalah pada tuturan yang bermakna sosiopragmatik imperatif saran. Rumusan saran dalam kategori Blum-Kulka dalam Rahardi (2009) dianggap sebagai tuturan imperatif yang santun.
Makna sosiopragmatik imperatif yang tergolong tinggi tingkat kesantunannya dalam ranah perkantoran adalah permohonan. Makna imperatif permohonan sedikit lebih tinggi kadar kesantunannya daripada makna sosiopragmatik imperatif permintaan.
3) Ranah Kemasyarakatan
Sebagian besar makna sosiopragmatik imperatif dalam ranah kemasyarakatan masih dinyatakan secara konvensional. Artinya, makna-makna
itu dinyatakan dalam wujud tuturan imperatif langsung dan konvensional. Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa kadar kesantunan tuturan yang dinyatakan secara langsung demikian ini akan cenderung rendah sifatnya.
Makna sosiopragamatik dalam ranah kemasyarakatan berupa makna peringatan dan makna imbauan.
4) Ranah Pemerintahan
Dari sisi kesantunannya, dapat dijelaskan bahwa makna sosiopragmatik imperatif rumusan saran memiliki dasar kesantunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wujud-wujud imperatif yang lainnya.
Makna sosiopragmatik imperatif yang bermakna saran tidak memiliki fokus beban baik pada pihak yang memberi saran maupun yang diberi saran. Artinya, karena maknanya adalah saran, tidak ada pihak yang dalam kacamata Brown dan Levinson (dalam Rahardi (2009)) dipermalukan muka atau harga dirinya. Karena tidak ada satu pun pihak yang dikalahkan harga dirinya maka tuturan yang demikian ini bernilai kesantunan tinggi. Artinya, muka-muka dari semua pihak yang terlibat sama-sama terselamatkan. Itulah sesungguhnya esensi dari kesantunan dalam pandangan kesantunan Brown dan Levinson (dalam Rahardi (2009)).
Jika dilihat dari kacamata skala kesantunan Leech dalam Rahardi (2009), tuturan yang bermakna sosiopragmatik imperatif saran itu juga tidak merugikan pihak yang menjadi mitra tutur atau pasangan tutur. Artinya pula, kerugian (lost, cost) tidak berada pada pihak penutur, atau dalam konteks ini pihak pemberi saran.
Dalam makna sosiopragamatik imperatif anjuran tidak menempatkan fokus beban pada pihak-pihak yang terlibat di dalam komunikasi. Artinya, tidak ada pihak yang harga dirinya atau mukanya tidak terselamatkan. Jadi dari kacamata kesantunan Brown dan Levinson (dalam Rahardi (2009)) tuturan-tuturan yang mengandung makna sosiopragmatik imperatif anjuran itu menyelamatkan muka kedua belah pihak yang terlibat dalam pertuturan tersebut. Muka positif maupun muka negatif sama-sama terselamatkan, maka dapat dikatakan bahwa kadar kesantunannya tinggi.
Dalam ranah pemerintahan ini, tuturan-tuturan yang dapat dikatakan memiliki kadar kesantunan yang rendah adalah tuturan yang mengandung makna sosiopragmatik imperatif larangan. Begitu pula dengan makna sosiopragmatik imperatif perintah.
5) Ranah Transaksional Bisnis
Wujud makna sosiopragmatik imperatif yang paling dominan adalah makna sosiopragmatik imperatif permintaan. Dilihat dari sisi kesantunannya, tuturan yang bermakna sosiopragmatik permohonan dalam ranah transaksional bisnis ini dianggap yang paling santun.
Selanjutnya, makna sosiopragmatik imperatif persilaan juga dikatakan memiliki kadar kesantunan yang tinggi. Wujud-wujud kesantunan sosiopragmatik imperatif juga dapat dilihat pada makna sosiopragmatik imperatif imbauan.
Wujud kesantunan yang lain juga terlihat dalam makna sosiopragmatik imperatif ajakan.
Di dalam ranah transaksional bisnis ini tidak ada satu pun pihak yang saling direndahkan harga diri atau mukanya.
6) Ranah Keagamaan
Wujud makna sosiopragmatik imperatif dalam ranah keagamaan berupa sosiopragmatik imperatif ajakan. Hal ini dimungkinkan karena di dalam ranah keagamaan ini pemimpin umat lazimnya mengajak umatnya berbuat baik.
Berbeda dengan rumusan-rumusan ajakan pada ranah-ranah sosial yang lain, di dalam ranah keagamaan ini makna ajakan itu dinyatakan dengan santun sekali lewat ungkapan-ungkapan yang kebanyakan tidak bersifat langsung dan konvensional. Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa makna sosiopragmatik ajakan di dalam ranah ini memiliki kadar kesantunan yang tinggi.
Dalam makna sosiopragmatik imperatif ajakan ini sebagian besar tuturan dinyatakan tidak dengan tuturan yang berwujud imperatif, namun melalui kalimat- kalimat deklaratif biasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makna-makna sosiopragmatik imperatif yang dinyatakan tidak secara langsung dan konvensional itu memilliki kadar kesantunan yang lebih tinggi. Hal demikian sejalan dengan skala kesantunan yang dinyatakan Lakoff dalam Rahardi (2009) dan di dalam Leech dalam Rahardi (2009). Makna-makna tuturan yang tidak dinyatakan dengan secara langsung atau tidak secara konvensional itu memiliki kadar kesantunan yang tinggi karena kadar ketransparansiannya rendah. Semakin tidak transparan sebuah tuturan semakin tinggi kadar kesantunannya. Sebaliknya, semakin transparan sebuah tuturan, maka akan semakin tidak santunlah tuturan itu.
Jika dilihat dari skala kesantunan Leech dalam Rahardi (2009) makna tuturan-tuturan yang mengandung makna sosiopragmatik imperatif ajakan dan dinyatakan tidak secara alngsung lewat tuturan imperatif itu tidak merugikan mitra tutur. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tuturan demikian ini
memberikan keuntungan (benefit) yang lebih besar kepada pihak mitra tutur.
Maka dalam skala lost and benefit yang dikembangkan Leech dalam Rahardi (2009) itu, tuturan-tuturan demikian ini dianggap memiliki kesantunan yang tinggi.
Di dalam ranah keagamaan juga ditemukan makna sosiopragmatik imperatif yang lain, yakni makna perintah, harapan, imbauan, dan anjuran. Dari keempat kemungkinan makna sosiopragmatik tambahan itu, maka perintah memiliki kadar kesantunan yang rendah.
7) Ranah Kekeluargaan
Wujud kesantunan sosiopragmatik imperatif di dalam ranah kekeluargaan yang dianggap signifikan adalah tuturan yang mengandung makna sosiopragmatik imperatif permintaan. Dengan mempertimbangkan hubungan personal antar anggota keluarga yang terdapat dalam seuha keluarga, maka lazimnya seorang anak akan menyampaikan permintaanyang sopan kepada orang tuanya. Seorang suami dapat menyampaikan maksud imperatif yang sopan kepada istrinya, atau pun sebaliknya.
Makna-makna sosiopragmatik imperatif di dalam kekeluargaan, sekalipun untuk maksud-maksud peringatan, perintah, larangan, ajakan dan bujukan, semuanya dinyatakan dengan cara-cara yang santun.
8) Ranah Media
Di dalam ranah media, makna sosiopragmatik imperatif yang paling dominan adalah makna bujukan. Dapat dikatakan demikian karena sesungguhnya maksud pokok dari sebuah media dalam menyampaikan informasi adalah untuk
membujuk, dan bujukan itu lazimnya dinyatakan terlebih dahuilu dengan sebuah penjelasan.
Terlihat bahwa makna sosiopragmatik imperatif yang paling santun adalah makna sosiopragmatik imperatif persilaan. Akan tetapi di dalam ranah media ini makna persilaan tersebut ditemukan dengna sangat terbatas. Demikian juga dengan makna sosiopragmatik imperatif permintaan yang juga berkadar kesantunan relatif tinggi itu ternyata tidak mudfah ditemukan di dalam ranah media ini.
Di dalam ranah media ini, sebuah makna sosiopragmatik imperatif ajakan, peringatan, dan saran juga dinyatakan dengan cara yang santun.
2.6 Keigo
2.6.1 Pengertian Keigo
Keigo yang dalam bahasa Jepang berarti ragam bahasa hormat, adalah ragam bahasa yang digunakan untuk menghormati lawan bicara, biasanya kepada atasan atau orang yang lebih tua. Di dalam tata bahasa Indonesia, perbedaan penggunaan ragam bahasa hormat dengan ragam bahasa biasa tidak terlalu terlihat. Berbeda dengan keigo di dalam bahasa Jepang. Berikut adalah tabel yang memperlihatkan penggunaan bahasa biasa dan keigo di dalam bahasa Jepang.
No Bahasa yang digunakan Situasi saat digunakan
1.
よく食うやつだ
Yoku kuu yatsu da
(Dia orang yang banyak makan)
Berbicara kepada teman yang sudah akrab, dan orang yang dibicarakan pun juga sudah dikenal dengan akrab
2.
昼ご飯を食べましょう
Hirugohan o tabemashou (Mari kita makan siang!)
Berbicara kepada teman yang sudah dikenal, namun belum terlalu akrab, biasanya baru saja kenal
3.
お先にご飯をいただきました
Osaki ni gohan oitadakimashita (Saya sudah makan duluan)
Berbicara kepada atasan
4.
課長がご飯を食べられます
Kachou ga gohan o taberaremasu (Kepala Bagian sedang makan)
Berbicara kepada petutur tentang kegiatan Kepala Bagian yang menjadi orang yang dibicarakan
5.
部長がご飯をお食べになりま
Buchou ga gohan o otabe ni narimasu (Kepala Departemen sedang makan)
Berbicara kepada petutur tentang kegiatan Kepala Departemen yang menjadi orang yang dibicarakan
6.
社長がご飯を召しに上がりま
Shachou ga gohan o meshi ni agarimasu (Direktur sedang makan)
Berbicara kepada petutur tentang kegiatan Direktur yang menjadi orang yang dibicarakan
Contoh-contoh kalimat di atas menunjukkan berbagai jenis penggunaan kata
„makan‟ di dalam bahasa Jepang. Kata „makan‟ dalam bahasa Indonesia dipakai dalam situasi apa pun, di mana pun, kapan pun, tanpa memperhatikan siapa penuturnya, siapa lawan bicaranya, atau siapa yang dibicarakan. Tetapi, di dalam bahasa Jepang penggunaan kata „makan‟ tersebut mesti memperhatikan aturan
penggunaan berdasarkan situasi dan status lawan bicara. Berdasarkan tabel di atas verba „makan‟ menggunakan kata yang berbeda-beda tergantung konteksnya, yaitu kuu, taberu, itadaku, taberareru, otabe ni naru,dan meshiagaru. Pemakaian variasi kata-kata yang berbeda-beda tetapi mempunyai makna yang sama dengan mempertimbangkan konteks pemakaian bahasa inilah yang disebut keigo.
Keigo menurut Terada Takanao (1984) adalah bahasa yang mengungkapkan rasa hormat terhadap lawan bicara atau orang ketiga. Lalu, menurut Nomura (1992), keigo adalah istilah yang merupakan ungkapan kebahasaan yang menaikkan derajat pendengar atau orang yang menjadi pokok pembicaraan.
Sedangkan menurut Ogawa (1989), keigo adalah ungkapan sopan yang dipakai pembicara atau penulis dengan mempertimbangkan pihak pendengar, pembicara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan.
Nakao Toshio (dalam Sudjianto, 1999) menjelaskan bahwa keigo ditentukan dengan parameter sebagai berikut :
1. Usia
2. Status sosial 3. Jenis kelamin 4. Keakraban 5. Gaya bahasa 6. Pribadi atau umum 7. Pendidikan
2.6.2 Jenis-JenisKeigo
Beberapa ahli membagi keigo ke dalam tiga kelompok. Nomura Masaaki dan Koike Seiji dalam Nihongo Jiten (1992) membagi keigo menjadi sonkeigo,
kenjougo, dan teineigo. Lalu Hirai Masao dalam Shinkokugo Handobukku (1982) membagi keigo menjadi teineigo, sonkeigo, dan kensongo. Ogawa Yoshio (1989) dalam Nihongo Kyouiku Jiten membagi keigo menjadi sonkeigo, kensongo, dan teineigo. Lalu menurut Sudjianto (1999) keigo terbagi menjadi tiga macam, yaitu sonkeigo, kenjogo, dan teineigo.
1. Sonkeigo
Sonkeigo adalah cara bertutur kata yang secara langsung menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara (Hirai, 1985). Sementara itu, Oishi Shotaro (1985) menjelaskan bahwa sonkeigo adalah ragam bahasa hormat untuk menyatakan rasa hormat terhadap orang yang dibicarakan (termasuk benda-benda, keadaan, aktifitas, atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya) dengan cara menaikkan derajat orang yang dibicarakan.
Dalam penggunaan keigo, kita pun harus tahu saat yang tepat dalam menggunakannya. Hirabayashi dan Hama (1988) menyebutkan ada empat situasi saat menggunakan sonkeigo, yaitu:
a. Memanggil lawan bicara, seperti okaasan, sensei, dll.
b. Menyatakan sesuatu yang bersangkutan atau kepemilikan lawan bicara, seperti otaku, okangae, goryoushin, dll.
c. Mengekspresikan keberadaan dan tindakan lawan bicara, seperti irasshai, nasaru, dll.
d. Mengekspresikan keadaan dan sifat lawan bicara, seperti gorippa, okirei, dll.
Ada beberapa cara yang digunakan untuk membentuk keigo dalam kalimat bahasa Jepang, yaitu:
a. Memakai verba khusus sebagai sonkeigo, yaitu:
普通語 尊敬語
する なさる
来る
いらっしゃる おいでになる 見える お越しになる
行く
いらっしゃる おいでになる
~てくる
~ていく
~ていらっしゃる
持ってくる / いく 持っていらっしゃる
いる
いらっしゃる おいでになる
~ている ~ていらっしゃる
言う おっしゃる
知っている ご存じです
食べる、飲む あがる、召し上がる
着る 召す、お召しになる
風邪を引く (お)風邪を召す
年を取る お年を召す
気にいる お気に召す
聞く (~が)お耳に入る
見る ご覧になる
~てみる ~てご覧になる
くれる 下さる
~てくれる ~てくださる
b. Menyisipkan prefiks daribentuk „o‟ dan „go‟ pada kata kerja renyoukei.
Hirabayashi dan Hama (1988) menyebutkan ada empat cara untuk menyatakan sonkeigo dengan bentuk ini, yaitu:
1) お(ご)~になる
Kata kerja bentuk renyoukei yang disisipkan pada pola ini, hampir semuanya bisa digunakan. Contoh: 社長はもうお帰りになりました。
Tapi untuk kata kerja yang hanya mempunyai satu suku kata akan sulit digunakan, contohnya 「お見になる」, dll.
2) お(ご)~なさる
Contoh: 部長はアメリカへご出張なさいます
3) お(ご)~です
Jika pola ini digabungkan dengan kata benda, maka setelah kata kerja renyoukei
yang telah diubah menjadi kata benda disisipkan partikel „no‟ lalu dilanjutkan dengan kata benda yang dimaksud.
Contoh:
待っている→お待ちです 待っている方→お待ちの方
4) お(ご)~くださる / ください 書いてくれる→お書きくださる 書いてください→お書きください
c. Menggunakan bentuk ~reru dan ~rareru
書く 書かれる
受ける 受けられる
食べる 食べられる
4. Kenjougo
Kenjougo atau kensongo, menurut Hirai Masao (1985) adalah cara bertutur kata yang menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara dengan cara merendahkan diri sendiri. Sementara Oishi Shotaro (1985) mengartikan kensongo sebagai keigo yang menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara atau terhadap teman orang yang dibicarakan dengan cara merendahkan orang yang dibicarakan termasuk benda-benda, keadaan, aktifitas, atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya.
Hirabayashi dan Hama (1988) menyebutkan ada dua situasi saat menggunakan kenjougo, yaitu:
a. Tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri.
Contoh: わたくしは明日出張で大阪へまいります。
b. Tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri namun masih berkaitan dengan atasan.
Contoh: わたくしは先生の本を 拝 借
はいしゃく
しました。
Kenjougo dapat dibentuk dengan beberapa cara berikut, yaitu:
a. Memakai verba khusus sebagai kenjougo, seperti:
普通語 謙譲語
する いたす
来る 行く
まいる
(目上の所へ) 伺
うかが
う / 上がる
~てくる
~ていく
~てまいる
(目上の所へ) ~上がる
持ってくる / いく
持ってまいる
(目上の所へ) 持って上がる / 持参
じ さ ん
する。
いる おる
~ている ~ておる
訪ねる 訪問
(目上の所へ) 伺
うかが
う / 上がる
言う
申す
(目上に) 申し上げる
思う 存じる
知っている
存じている / おる
(目上を) 存じ上げている / おる
食べる 飲む
いただく
聞く (目上の話を) 伺
うかが
う / 承うけたまわる / 拝 聴はいちょうする
会う (目上に) お目にかかる
見せる (目上に) お目にかかる / ご覧に入る
見る (目上の物を) 拝見する
借りる (目上の物を) 拝借する
上げる (目上に) 差し上げる
~てあげる (目上に) ~て差し上げる
もらう
(目上から) いただく / ちょうだいする /
賜る(敬度が高い)
~てもらう (目上に) ~ていただく
わかる 承知する
引き受ける かしこまる
b. Menyisipkan prefiks daribentuk „o‟ dan „go‟ pada kata kerja renyoukei.
1) お(ご)~する / いたす
Contoh: 今月のスケジュールをお送りします
2) お(ご)~申し上げる おしらせもうしあげる
3) お(ご)~いただく
4) お(ご)~願う
5) お(ご)~にあずかる
6) お(ご)~を仰ぐ
7) お(ご)~を賜る
8) お(ご)~を差し上げる
c. Memakai nomina khusus sebagai kenjougo, seperti:
わたくし、家内
5. Teineigo
Teineigo adalah cara bertutur kata dengan sopan santun yang dipakai oleh pembicara dengan saling menghormati perasaan masing-masing (Hirai, 1985).
Oishi Shotaro (dalam Bunkachoo, 1985) menyebut teineigo dengan istilah teichoogo yaitu keigo yang secara langsung menyatakan rasa hormat terhadap lawan bicara.
Berbeda dengan sonkeigo dan kenjougo, pemakaian teineigo tidak ada hubungannya dengan menaikkan atau menurunkan derajat orang yang dibicarakan. Teineigo dapat dibentuk dengan cara berikut, yaitu:
a. Memakai verba bantu desu di akhir kalimat.
Contoh: 本です きれいです
b. Memakai kata kerja bentuk masu.
Pembentukan kata kerja bentuk masu terdapat tiga cara, tergantung golongan kata kerja bahasa Jepang. Kata kerja dalam bahasa Jepang ada tiga, yaitu: Godan Doushi (kata kerja Golongan I), Ichidan Doushi (kata kerja Golongan II), dan Hen Doushi (kata kerja Golongan III).
Pembentukan kata kerja bahasa Jepang dapat dijelaskan melalui tabel berikut.
1) Kata kerja Golongan I.
普通形 ます形
買う 買います
待つ 待ちます
帰る 帰ります
遊ぶ 遊びます
読む 読みます
死ぬ 死にます
聞く 聞きます
急ぐ 急ぎます
話す 話します
2) Kata kerja Golongan II.
普通形 ます形
見る 見ます
降りる 降ります
寝る 寝ます
食べる 食べます
3) Kata kerja Golongan III.
普通形 ます形
くる きます
する します
c. Memakai kata-kata tertentu yang menunjuk pada teineigo.
d. Memakai kata gozarusetelah i-keiyoushi.
イ形容詞 「ございます」の形
うつくしい うつくしゅうございます
わかい わこうございます
よい ようございます
わるい わるうございます
2.6.3 Peran Keigo
Hinata Shigeo (2000 : 15-17) secara singkat menyebutkan keefektifan dan peran konkrit pemakaian keigo tersebut sebagai berikut.
1. Menyatakan penghormatan
Dilakukan kepada yang lebih tua atau kepada orang yang lebih tinggi kedudukan sosialnya.
2. Menyatakan perasaan formal
Dilakukan dalam situasi resmi seperti pernikahan, rapat dan ceramah resmi sebagai etika sosial.
3. Menyatakan jarak
Dilakukan ketika pembicara dan lawan bicara baru pertama kali bertemu.
4. Menjaga martabat
Pemakaian keigo juga dapat menyatakan pendidikan atau martabat pembicaranya.
5. Menyatakan rasa kasih sayang
Keigo yang digunakan para orang tau dan guru taman kanak-kanak kepada anak-anak dapat dikatakan sebagai bahasa yang penuh kasih sayang atau menyatakan kebaikan hati penuturnya.
6. Ada kalanya menyatakan sindiran, celaan, atau olok-olok
Dilakukan ketika mengungkapkan keigo pada keadaan yang sebaliknya.
Misalnya, pada kalimat „hontou ni gorippana otaku desu koto‟ yang diucapkan pada sebuah apartemen yang murah.
BAB III
ANALISIS RAGAM BAHASA HORMAT BAHASA JEPANG DALAM DRAMA “NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO”
3.1 Sinopsis Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo”
Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo” bercerita tentang seorang wanita yang bernama Kanou Haruko. Kanou Haruko bercita-cita menjadi guru SMA karena terinspirasi dari Akimoto Kuniko, gurunya saat SMA. Dia mendapat tawaran Akimoto untuk menjadi guru pengganti di Koubun Gakuin selama tiga bulan. Sebagai gantinya Haruko akan mendapatkan rekomendasi untuk menjadi guru di SMA. Haruko awalnya mengira dia akan menjadi guru di sekolah persiapan, namun ternyata dia menjadi guru di Sekolah Bahasa Jepang untuk orang-orang asing yang tinggal di Jepang.
Pada awalnya, Haruko menganggap remeh pekerjaannya karena sebagai orang Jepang pasti dia tahu segala hal mengenai bahasa Jepang. Namun, pada kenyataannya tidak demikian. Dia kerap kali kesulitan menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diajukan murid-muridnya yang memang jarang diketahui orang Jepang pada umumnya. Untuk membuktikan dirinya layak menjadi guru, Haruko mulai belajar dan menambah pengetahuannya tentang bahasa Jepang dan akhirnya menjadi guru yang disenangi murid-muridnya.
3.1.1 Tokoh-Tokoh di dalam Drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo”
Untuk mengenal lebih jelas mengenai tokoh-tokoh yang ada dalam drama
“Nihonjin no Shiranai Nihongo”, berikut penjelasannya satu per satu.
1. Tokoh Utama a. Kanou Haruko
Kanou Haruko adalah tokoh utama di dalam drama “Nihonjin no Shiranai Nihongo”. Dia bercita-cita ingin menjadi guru SMA setelah terinspirasi oleh Akimoto Kuniko, gurunya saat ia masih menjadi murid SMA. Untuk meraih cita- citanya, Haruko pun menerima tawaran Akimoto untuk menjadi guru pengganti di Koubun Gakuin, sekolah bahasa Jepang untuk orang-orang asing yang tinggal di Jepang. Haruko diceritakan memiliki sifat keras kepala dan tak mau kalah serta mudah tersinggung. Sifatnya itu membuat dirinya terlibat taruhan dengan Takasu yang selalu menyindirnya. Dia harus bisa membuat murid-muridnya lulus semua tanpa terkecuali, jika gagal Haruko harus mengubur mimpinya menjadi guru SMA. Tak sampai disitu, ketika dia berusaha membantu murid-muridnya menghadapi masalah mereka, Haruko justru membuat masalah menjadi runyam meski pada akhirnya dia mendapat cara jitu untuk menyelesaikan masalah- masalah itu.
2. Para Guru di Koubun Gakuin a. Takasu Kazuki
Takasu Kazuki adalah guru yang memiliki dedikasi tinggi dalam pekerjaannya dan menjadi senior Kanou Haruko di Koubun Gakuin. Dia selalu menyindir kinerja Haruko dalam setiap pekerjaannya. Karena dia memiliki pengetahuan yang bagus tentang bahasa Jepang, dia selalu saja meremehkan Haruko yang tak terlalu bagus dalam bahasa Jepang. Namun terkadang dia juga memberikan tips pada Haruko walaupun dipenuhi dengan nada penuh ejekan.