• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Isi Halaman : Kata Pengantar... 2 PENDAHULUAN... 5 Ruang Interior Dalam Fenomena Bahasa... 10

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Daftar Isi Halaman : Kata Pengantar... 2 PENDAHULUAN... 5 Ruang Interior Dalam Fenomena Bahasa... 10"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Kata Pengantar.

Buku ini mengidentifikasi keterkaitan pembentukan citra (image) dan perilaku dalam konteks interaksi manusia di dalam suasana ruang arsitektural.

Pembahasannya berbasis deskripsi fenomenologis dan interpretasi tanda terhadap makna dibalik susunan unsur-unsur ruang yang dilihat mempengaruhi secara dominan pada suasana ruang. Upaya menerbitkan buku ini terdorong oleh kebutuhan di proses akademik yang merasakan betapa kurangnya, buku keilmuan Desain Interior terutama yang membahas tentang citra dan perilaku, dalam keterkaitannya dengan aspek interaksi psikologis suasana ruang yang saling berpengaruh timbal balik dengan tatanan arsitektural. Terlebih di dunia praktik perencanaan, yaitu ketika dirasakan perlunya menghindari subyektifitas para desainer yang seringkali tidak kongruen dengan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat pengguna jasanya. Kurangnya teks rujukan ini merupakan hal yang bisa dimaklumi karena desain interior merupakan profesi yang relatif baru di Indonesia bila dibanding profesi jasa keahlian perancangan lainnya.

Dengan segala kekurangan yang ada, kami mengharapkan buku ini akan dapat melengkapi jumlah bacaan keilmuan yang memang sangat terbatas jumlahnya, kalau tidak terbilang langka, bagi komunitas desainer interior dan arsitek terutama sekali mahasiswanya. Semoga ini dapat menjadi jalan rintisan untuk mempelajari dimensi manusia di dalam ruang yang jauh lebih penting ketimbang aspek teknis dalam menciptakan sebuah karya gubahan ruang, sehingga mandat budaya dan fungsi sosial yang diemban seorang desainer interior dan arsitek dapat dilaksanakan dengan seimbang.

Penulis dalam kesempatan ini menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan mendorong tersusunnya buku ini, terutama kepada rekan-rekan dosen desain interior, peneliti dan anggota kelompok kajian hubungan ruang dan manusia yang sering mediskusikan masalah yang diuraikan ini.

(3)

Daftar Isi

Halaman :

Kata Pengantar... 2

PENDAHULUAN... 5

Ruang Interior Dalam Fenomena Bahasa ... 10

RUANG, INTERAKSI DAN PERILAKU INDIVIDU... 18

Teori-teori tentang Ruang... 26

Interaksi dan Perilaku Individu... 38

Perilaku Dalam Proses Interaksi dengan Lingkungan... 49

Relasi Manusia dengan Lingkungan... 53

Posisi arsitektur dalam Konteks Lingkungan... 69

Aspek-aspek interaksi manusia dengan lingkungan... 74

Pola-pola interaksi sosial-psikologis... 79

Ruang Personal... 83

Territorialitas... 87

Privasi... 96

Hubungan Suasana Ruang Dengan Perilaku Manusia... 112

1. Suasana Ruang... 116

2. Perilaku... 119

Relasi Dasar antara Suasana Ruang dengan Perilaku Manusia... 123

Variabel-variabel yang menentukan suasana ruang... 128

3. Variabel-variabel yang Menentukan Perilaku Manusia... 135

UNSUR DESAIN INTERIOR PEMBENTUK SUASANA RUANG... 143

Bidang sebagai unsur pokok interior………...…………...…………... 145

Bidang Lantai... 149

Bidang Dinding... 154

Bidang Langit-langit... 163

Bentuk (form) dalam interior………...………...………....………... 170

Wujud (shape)……… ………...………... 173

Unsur-unsur vertikal ruang interior... 176

Unsur linier vertikal... 178

Bidang Vertikal tunggal... 182

Bidang berbentuk – L... 184

Bidang-bidang sejajar... 186

Ruang tertutup oleh empat bidang vertikal... 188

Pencahayaan dalam Interior... 190

Ruang sirkulasi dalam Interior ... 192

Proporsi... 195

Skala Visual... 197

Skala Manusia... 200

Prinsip-prinsip penataan... 203

Simetri... 205

Hierarki... 207

Datum... 209

Irama (Ritme)... 211

Susunan Unsur-unsur Desain Interior dan terbentuknya Citra... 214

(4)

RUANG PEMBENTUK CITRA DALAM KONTEKS SUASANA ... 217

1. Interior Kantor Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta... 219

2. Interior Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung... 225

3. Interior Kantor Sewa Menara BRI Jalan Asia Afrika, Bandung... 231

4. Interior Mal Kelapa Gading ( MKG) – Jakarta... 238

5. Interior Kantor Pusat PT Telkom, di Bandung... 245

6. Relasi Segitiga Faktor yang Mempengaruhi Proses Rancangan, ... 251

DESAIN INTERIOR SEBAGAI UNGKAPAN CITRA DAN NILAI... 257

Citra pada Ruang-ruang Interior... 261

Desain Interior Menyampaikan Nilai-nilai (values)... 265

Daftar Pustaka... 272

(5)

PENDAHULUAN

Kegiatan manusia menata ruang hunian dan lingkungan hidup terhubungkan dalam intersubjekvititas kehidupan masyarakatnya, langsung maupun tidak langsung juga berkaitan dengan aspek ’sosiologis’, ’anthropologis’,

’psikologis’,’psikologi lingkungan’ serta psikologi interior. Membentuk ruang-ruang arsitektural sebagai kegiatan menata lingkungan hunian dan mengintervensi lingkungan alamiah menjadi lingkungan binaan, juga mempunyai relasi dengan keempat disiplin ilmu sosial di atas. Pemahaman selama ini yang banyak diikuti berbagai kalangan bahwa penataan ruang arsitektural adalah terkait dan mementingkan aspek kualitas “tatanan, keselarasan perbandingan, simetri, dan kecocokan”, kendati masih banyak dipakai sebagai dasar kajian, kini harus berkembang “keluar” dan bersinggungan dengan berbagai disiplin lain seperti sosiologi, antropologi, psikologi, politik; dan menukik “kedalam” juga harus beririsan dengan ilmu konstruksi / struktur, estetika, dan bahasa. Buku ini membahas ruang arsitektural yang berkenaan dengan interaksi psikologi khususnya Psikologi interior dan bahasa yang mengantarkan komunikasi intersubjektif di dalamnya. Kemudian lebih khusus lagi terkait dengan aspek citra dan kesan yang dipancarkan oleh suasana ruang (atmosphere) karena terjadinya interaksi perilaku orang-orang di dalamnya. Karenanya judul buku ini adalah

“Citra, dan Perilaku Dalam Suasana Ruang Interior”.

Psikologi interior merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan lingkungan ruang kegiatannya, yang terdiri dari lingkungan fisik (interior) dan interaksi psiko-sosial yang terjadi di dalamnya. Lingkungan fisik adalah alam serta benda-benda yang ada di dalamnya, sedangkan lingkungan sosial adalah masyarakat. Dalam interaksi tersebut lingkungan merupakan sumber berbagai rangsang atau stimulus yang mempengaruhi pola kegiatan dan perilaku manusia.

Perilaku menunjukkan manusia dalam aksi-aksi yang dilakukannya berkaitan dengan semua aktivitas secara fisik, berupa interaksi dengan sesamanya ataupun dengan lingkungan fisiknya. Ilmu perilaku (behavioral sciences) adalah suatu istilah bagi pengelompokan pengetahuan yang mempunyai cakupan meliputi antropologi, sosiologi, dan psikologi. Kadang kala ilmu politik atau ekonomi juga digolongkan ke dalam kelompok ilmu perilaku. Semuanya adalah bidang ilmu yang bertujuan mengembangkan pemahaman mengenai kegiatan manusia, sikap, dan nilai. Pembahasan dalam buku ini, menekankan kajian mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya atau yang dikenal sebagai studi perilaku-lingkungan, serta bagaimana kaitannya dengan perkembangan teori dan proses pembentukan ruang arsitektural (desain interior).

Manusia merupakan mahluk yang senantiasa memerlukan ruang (alamiah dan arsitektural) untuk mendukung kegiatan hidupnya dan selain itu juga sebagai suatu keutuhan psikologis. Ilmu psikologi akan selalu berbicara mengenai kepribadian (personality), maka perilaku dengan demikian adalah merupakan suatu keluaran (output) yang ditampakkan dari kepribadian seseorang.

Kepribadian dan perilaku yang dimunculkan pada diri manusia ini juga sangat erat hubungannya dengan lingkungannya. Kebiasaan mental dan perilaku

(6)

seseorang dipengaruhi oleh ruang lingkungan fisiknya. Ini menyiratkan bahwa perilaku juga dapat diartikan sebagai bagian dari proses interaksi antara kepribadian manusia dengan ruang lingkungan, karena ruang mengandung rangsang-rangsang (stimuli) yang kemudian ‘dibalas’ dengan respons-respons oleh kepribadian yang bersangkutan. Respons-respons inipun salah satunya tidak lain adalah perilaku yang diutarakan tadi.

Dalam psikologi interior, terdapat beberapa kategori rangsang atau stimulus berkenaan hubungan antara lingkungan ruang dengan perilaku manusia di dalamnya, yaitu stimulus yang dirasakan oleh sensor / indera manusia berupa temperatur, warna, cahaya, dan lain-lain ketika berinteraksi di dalam ruang, kemudian stimulus sosial yang ditimbulkan akibat adanya interaksi dengan orang lain di dalam ruang yang sama. Juga stimulus yang diakibatkan oleh pergerakan objek dalam ruang ; perubahan-perubahan dalam intensitas; pola serta keragaman yang terdapat pada unsur-unsur ruang (pola lantai, dinding, ceiling, kolom atau furniture).

Lingkungan yang terbentuk dalam ruang interior memiliki kemampuan untuk memberikan peluang maupun batasan atau ikatan yang dapat mempengaruhi perilaku manusia pengunjungnya. Dalam pendekatan perilaku, ikatan maupun batasan (constraint) adalah sesuatu di dalam lingkungan ruang yang menyebabkan pengunjungnya merasa terganggu atau terbatas untuk melakukan sesuatu. Manusia pengguna ruang akan merasakan adanya ikatan dalam lingkungan ruang jika rangsang yang diterimanya dari lingkungan terlalu banyak, yang menyebabkan ia terikat, terbatas, atau tidak dapat melakukan sesuatu di luarnya, dan dalam keadaan yang demikian pengunjung ruang akan merasa kehilangan kontrol terhadap situasi Hal ini menyebabkan ia berusaha dapat mengontrol atau mengendalikan situasi tersebut untuk beradaptasi dengan lingkungan. Semakin besar kontrol terhadap lingkungan ruang, semakin baik kemampuan manusia dalam beradaptasi dengan situasi di ruang lingkungan tempatnya.

Ruang-ruang interior sebagai bagian dari lingkungan bangunan arsitektural tidak hanya menjadi sekedar tempat melakukan aktivitas, tetapi sekaligus merupakan wahana ekspresi kultural manusia dalam penataan lingkungan kehidupan jasmaniah dan juga batiniah. Sebagai lingkungan buatan yang selalu berinteraksi dengan kepribadian manusia, ruang interior dapat menjadi salah satu fasilitator terjadinya perilaku, namun juga bisa menjadi penghalang terjadinya perilaku.

Desain interior yang membentuk suasana (atmosphere) di dalamnya memberikan stimuli terhadap persepsi dan kegiatan manusia. Demikian pula sebaliknya kegiatan atau tingkah laku manusia dapat berpengaruh kepada pembentukan suasana ruang. Kegiatan desain Interior adalah menentukan bagaimana ruang tersebut diatur dan ditata seluruh unsur-unsur fisik dan komponen-komponennya menurut pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam satu program desain dengan tema tertentu. Pertimbangan-pertimbangan yang dimaksud adalah terjemahan fisik dari aspek-aspek tata nilai, sosial, ekonomi dan tata hidup manusia, serta merupakan ungkapan budaya, karena desain itu juga merupakan bagian dari aktifitas kehidupan manusia.

(7)

Ruang interior bangunan dengan kegiatan atau aktifitas manusia di dalamnya akan membentuk suasana ruang. Desain interior dibuat dan dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan kelompok manusia tertentu, agar suasana ruang yang terbentuk dapat mendukung kegiatan tersebut secara psikologis sehingga berlangsung optimal. Tapi pada maksud yang sama pula, kegiatan kelompok menusia itu memberikan pengaruh terhadap suasana ruang tempat kegiatannya berlangsung. Dengan demikian ada suatu proses yang sifatnya timbal balik antara kegiatan manusia dan suasana ruang.

Ruang adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dan sangat dekat dengan kehidupan manusia, bahkan merupakan bagian dari kesehariannya, karena manusia memerlukan ruang sebagai wadah untuk melakukan berbagai jenis kegiatannya. Desainer interior dalam menjalankan kegiatan menata ruang-ruang arsitektural hunian manusia pada dasarnya berusaha mengkomposisikan unsur- unsur ruangnya berupa titik, garis, bidang, material, warna, yang merupakan elemen kasat mata. Mungkin hal inilah yang menyebabkan orang sering terjebak pada kesimpulan bahwa arsitektur dan desain interior unsur-unsur ruangnya semata-mata hanya penataan materi belaka. Baru ketika sampai pada pemikiran estetika arsitektural pada akhir abad ke sembilan-belas dinyatakan bahwa esensi arsitektur adalah eksistensi ruang. Ide yang sama sebenarnya telah dicetuskan oleh Lao Tzu lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu, yang menyatakan bahwa sesuatu yang tidak nyata pada ruang sesungguhnya merupakan hakikat dari yang nyata dari ruang tersebut.

Ruang yang terbentuk dalam persepsi manusia bukan hanya sesuatu yang memiliki panjang, lebar, dan ketinggian tertentu. Ruang arsitektural ketika dipersepsi pengunjungnya merupakan sesuatu yang memiliki dimensi lebih abstrak daripada tempat. Kemudian berubah menjadi ‘tempat’ pada saat pengunjung mengenalnya dengan baik dan memberikan nilai tertentu pada ruang tersebut. Tetapi di dalam pengalaman pengunjung terhadap ruang dan tempat, keduanya saling berhubungan dan saling membutuhkan untuk membentuk definisinya masing-masing. Ruang merupakan fasilitas manusia agar bisa melakukan pergerakan, menjelajah, berinteraksi dan berkreasi. Dengan demikian maka pengertian tentang ruang adalah sesuatu yang memungkinkan terjadinya suatu pergerakan dari satu titik ke titik lain, sementara tempat adalah merupakan titik pemberhentian dari pergerakan tersebut. Pengertian ini kendati tidak menunjukkan secara langsung adanya keterikatan dengan dimensi-dimensi fisik, namun bukan pula berarti bahwa hal-hal yang kasat mata itu tidak memiliki andil dalam pendefinisian ruang.

Adanya dimensi fisik pada ruang menjadikannya sebagai sesuatu yang melingkupi dan mempengaruhi pergerakan pengunjung pada saat bergerak di dalamnya. Kemampuan pengunjung untuk bergerak di dalamnya membuat mereka memiliki kesadaran akan ruang. Kemampuan gerak manusia ini tidak akan memberikan pengalaman yang kuat terhadap ruang dan kualitasnya jika tidak melalui penglihatan dan sentuhan. Mata manusia mampu untuk menerima ruang yang jelas dalam tiga dimensi. Pengalaman ini akan memperkaya dan memperluas wawasan secara visual, namun diperlukan bantuan indera yang lain.

Menyentuh benda dengan tangan memberikan kepada manusia suatu pengertian akan dunia obyek, yang tetap dalam bentuk dan ukurannya.

(8)

Selain penglihatan yang sangat berpengaruh kuat terhadap manusia saat mengalami ruang, masih terdapat tiga hal lain yang juga turut membentuk pengalaman manusia akan ruang, yaitu penciuman, kepekaan kulit dan pendengaran. Dengan penciumannya, manusia dapat mencium bau yang memberikannya pengertian akan massa dan volume. Dengan kulit, manusia dapat merasakan tekstur, ukuran, dan bentuk suatu obyek. Sama halnya dengan penciuman, kepekaan kulit manusia dapat memberikan pengertian akan massa dan volume suatu obyek. Suara yang didengar oleh manusia turut memperkaya perasaan manusia akan ruang. Suara bahkan dapat membawa perasaan seseorang akan ukuran dan jarak yang menentukan batas ruang. Kemampuan bergerak, melihat, menyentuh, mencium dan mendengar yang memungkinkan seseorang memiliki pengalaman ruang tidak akan pernah dapat dilakukan jika ia tidak memiliki tubuh.

Tubuh manusia yang jasmaniah menghubungkan subjektivitasnya yang serba batiniah, dengan batas-batas ruang khususnya yang berciri materi. Kemampuan manusia berinteraksi dengan ruang adalah karena ia mahluk bertubuh yang memiliki perasaan dan pikiran, jiwa dan raga (psiko-fisik). Interaksi dan pengalaman dengan ruang itu diperoleh sebagai hasil penggabungan perasaan dan pikiran manusia terhadap segala sesuatu mengenai ruang tempatnya bergerak. Pengalaman itu akan diterima melalui indera dan kemampuan geraknya yang ada karena ia adalah mahluk bertubuh. Dengan manusia memiliki perasaan, pikiran, dan jiwa maka pengalaman dengan ruang itu akan membuatnya mampu memberikan penilaian-penilaian terhadap apa-apa yang diterimanya secara kualitatif. Unsur-unsur ruang secara visual yang dapat ditangkap dalam interaksi tersebut dapat merupakan informasi bagi pola pergerakan dan perilaku. Tapi kemudian ada juga makna yang ditangkap secara spiritual dalam bentuk imaji (image) yang karena pengaruh kuatnya rasionalisme kemudian membaginya sebagai imaji yang bersifat kongkrit dan imaji yang bersifat abstrak. Imaji ini yang kemudian disimpan dalam memori atau pengalaman. Imaji kongkrit berkenaan dengan citra-sensasi-persepsi, sedangkan imaji abstrak berkenaan dengan bahasa-pengertian-konsep.

Wawasan Psikologi interior memiliki pemahaman bahwa manusia selain berpikir dengan kata-kata juga berpikir dengan menggunakan imaji, atau menggunakan kedua-duanya. Kata-kata ditangkap melalui susunan syaraf dan alat-alat indera.

Mengingat suatu kata berarti memancing kembali kata itu dari memori dan berikut pengertian konsep yang dimiliki kata tersebut. Imajinasi berarti memancing imaji dari memori, sehingga ada persamaan bahwa kata-kata atau bahasa seperti pula dengan imaji adalah merupakan media. Berpikir dengan kata-kata bukan semata mencari kata tersebut dalam kamus memori, tetapi juga mengkombinasikan pengertian dan konsep yang dikandungnya, seperti juga imajinasi bukanlah semata mengambil imaji dari memori tetapi mengkombinasikan dalam pengertiannya juga.

Setiap sesuatu yang dihadirkan dalam ruang interior akan memiliki informasi dan mempunyai makna, maka dengan demikian ia menjadi tanda bagi pengamatnya.

Karena itu pemahaman berikutnya dalam desain interior adalah bahwa menyusun komponen-komponen ruang seperti halnya menyusun kata yang

(9)

berarti ‘berbahasa’ dengan ruang. Ruang interior adalah tanda yang memberikan informasi dan menyampaikan makna kepada pengamatnya, ada sesuatu yang ingin dikomunikasikan kepada imajinasi pengamat atau pemakainya melalui susunan unsur-unsur ruang. Karena ruang sangat dekat dengan kehidupan manusia, dapat dipastikan bahwa manusialah yang akan menangkap, merasakan, mengalami apa yang ingin dikomunikasikan tadi. Ruang tidak pernah terlepas dari manusia yang hidup di dalamnya, dan oleh karena itu ruang perlu dimengerti dari sudut pandang manusia yang merasakan atau mengalaminya.

Tanda-tanda yang terbentuk dari konfigurasi unsur ruang (lantai,dinding, kolom, ceiling, furniture dan lainnya) akan dirasakan dan dibaca oleh pengguna ruang melalui proses interaksi psiko-fisik yang kemudian mengakibatkan luaran perilaku bisa sebagai respon dengan sifat seketika yang instan atau bisa juga terbentuknya citra dalam subjektivitas yang lebih permanen. Tapi seberapa jauh peran konfigurasi dari unsur-unsur ruang sebagai hasil kerja desain interior memberikan pengaruh kepada perilaku orang-orang yang berinteraksi di dalamnya? Bagaimana orang-orang di dalam ruang itu mempersepsi suasana yang diakibatkan oleh gubahan desain interior atau tatanan unsur ruangnya?

Bagaimana pengaruh desain interior tersebut memberikan makna dan membentuk citra atau image dari pengunjung terhadap suasana ruang tersebut, sehingga berpengaruh kepada perilaku?. Dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, secara khusus buku ini menguraikan hasil pengamatan pada kasus ruang di beberapa tempat yang di amati secara langsung.

Ruang Interior Dalam Fenomena Bahasa

Kesan yang dapat dibaca dari tatanan Interior dari suatu bangunan milik suatu keluarga atau organisasi usaha dapat membahasakan pesan tertentu atau citra melalui tatanan lingkungan ruang yang terwujud. Citra ini ditangkap dan diterima secara intersubjektif oleh pengunjung ruang atau masyarakat costumer-nya secara ‘mental’ ketika berinteraksi didalamnya dengan melibatkan indera-indera yang dimilikinya. Citra yang dimaksud ini adalah menyangkut derajat nilai berkenaan dengan kesan yang secara subjektif ditangkap dari suatu semangat kehidupan keluarga dan cita-cita korporasi pemilik ruang, dipantulkan oleh suasana ruang yang terbentuk. Kondisi tatanan interior dari ruang-ruang terutama yang berhubungan dan berinteraksi dengan publik akan berpengaruh membentuk citra tersebut, karena penyusunan unsur-unsurnya secara langsung terbaca dan mempengaruhi manusia pengunjungnya dengan membentuk persepsi. Dimensi fisik dari ruang binaan akan secara langsung berpengaruh terhadap perasaan manusia, karena di dalamnya persepsi dan suasana batin manusia dipengaruhi langsung olehnya. Demikian pula ruang bisa mencerminkan karakteristik dari kegiatan pemakainya, dan mengarahkan perilaku sosial dalam interaksi di dalamnya. Citra yang terbentuk dari desain interior akan terbangun melalui susunan unsur-unsur dan materialnya, atau dengan kata lain bahwa bentuk dan karakter unsur ruang menentukan citra, sehingga pemilihan elemen- elemen yang merupakan perwujudan desain, dengan pertimbangan dan pemahaman karakter materialnya yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan dalam memunculkan citra yang diharapkan.

(10)

Ruang selain dapat dilihat sebagai obyek pengamatan juga dapat dilihat sebagai fenomena fungsi dalam lingkup aspek keberadaannya, di samping sebagai sebuah fenomena ‘bahasa’ dalam lingkup aspek komunikasi yang ditimbulkannya. Sebagai fenomena bahasa, obyek dianggap sebagai sebuah

‘tanda’ (sign), yang mempunyai makna sosial dan kultural tertentu (meaning).

Dalam aspek komunikasi ini setiap sesuatu yang mempunyai makna, maka dia menjadi tanda. Perwujudan ruang-ruang arsitektural sebagai hasil desain interior selain untuk dipergunakan dari aspek fungsi sudah tentu adalah juga untuk dilihat, sehingga terkandung didalamnya proses komunikasi. Perwujudan ruang dan suasana di dalamnya memberikan arti atau makna kepada orang yang memakainya atau mengamatinya. Karena itu ruang-ruang yang tercipta akan merupakan obyek yang mengandung tanda-tanda atau pesan sehingga terjadinya komunikasi atau distribusi pesan dari pemilik ruang atau desainernya dengan pemakai ruang atau yang melihat.

Kesadaran akan ruang dan benda-benda sebagai media bagi cara penyampaian pesan dan tanda-tanda ini menggambarkan lingkup dimensi budaya berkomunikasi (Edward Hall, 1984), atau sebaliknya komunikasi adalah kebudayaan. Dimensi kebudayaan yang dimaksud Hall ini meliputi segala hal yang nampak (manusia, tindakannya, ruang, benda-benda) dan juga termasuk hal-hal yang tidak nampak seperti ideologi, bahkan relasi dan komunikasi itu sendiri. Menurut Hall dimensi kebudayaan itu mirip dengan bahasa yang diam (silent language) atau dimensi yang tersembunyi (hidden dimension).

Karenanya maka praktek sosial dan kebudayaan dapat dipahami sebagai fenomena bahasa, dan dari sudut semiotika (ilmu tentang tanda) kebudayaan adalah kumpulan atas segala proses sosial di mana makna-makna diproduksi, dialirkan dan dipertukarkan. Setiap sesuatu yang dihasilkan oleh proses budaya berarti mempunyai makna, maka dia menjadi tanda. Karena itu maka ruang arsitektural dan semua praktek sosial-budaya juga dapat dipahami sebagai tanda.

Tanda (sign) adalah segala sesuatu (ucapan, tulisan, postur, ruang, produk, warna dan lain-lain) yang dapat memproduksi makna-makna, dalam artian keberadaannya menggantikan sesuatu pengertian yang lain. Penerapannya dalam wacana ilmu-ilmu kemanusiaan (human science) adalah dibawah payung strukturalisme, suatu filsafat bahasa yang mendefinisikan struktur tanda menjadi dua, yang satu sama lain tidak terpisahkan, yaitu: bentuk atau penanda (signifier); dan makna atau konsep atau petanda (signified). Dalam memahami strukturalisme dan hubungannya dengan studi kebudayaan, adalah tidak mungkin menyampaikan sebuah konsep (signified) pada orang lain tanpa penanda (signifier), karena baik penanda maupun petanda adalah berada pada entitas mental manusia, dan relasi antar keduanya disebut sebagai pertandaan atau signification (O’Sullivan, 1994).

Ferdinand de Saussure dan para penganut strukturalisme memahami betul bahwa makna bisa dibangun dan diproduksi melalui pengkutuban makna yang bertentangan (binary opposition) seperti pada feminin / maskulin, tua / muda, hitam / putih dan seterusnya. Sesuai yang dicontohkan melalui obyek sepatu, sol sepatu wanita dengan hak tinggi langsing adalah mencerminkan keanggunan dan citra feminin, sedangkan alas sepatu pria dengan hak rendah-berat adalah

(11)

pencitraan maskulinitas pria. Para strukturalis menarik garis tegas antara perbedaan dua kutub ini, dan bilamana makna tersebut bersifat mendua, maka muncul penilaian tabu atau abnormal terhadap keberadaan obyek tersebut.

Hampir semua konsep oposisi biner ini dibangun di era modernisme pada sebelum tahun 60 an, yaitu dimasa terbentuknya sebuah keyakinan tentang sentralnya akal manusia (akal budi) dalam merumuskan realitas sehari-hari.

Modernisme yakin akan segala sesuatu bersifat universal, dan semua sistem dan persoalan bisa di universalkan.

Namun setelah tahun-tahun enampuluhan di beberapa perkembangan muncul gerakan penolakan modernisme yang ingin membuat universalitas di semua hal.

Muncul kesadaran lebih lanjut tentang kompleksitas hubungan-hubungan kemanusiaan, tumbuh gerakan-gerakan perlawanan menentang struktur modernisme tersebut dengan memunculkan post modernisme sebagai gerakan sosial-budaya.

Semiotika kemudian diperkenalkan pertama kali dalam desain interior dan arsitektur ketika para arsitek dan desainer mulai mempertanyakan universalisme dalam desain-desain modern, yakni ketika corak atau gaya internasional (International Style) mulai merayap keseluruh dunia. Desain sebagai bahasan semiotika pada akhir tahun enampuluhan didiskusikan di Inggris, Jerman dan Perancis untuk mengkritisi teori-teori fungsionalisme yang berlebihan dalam pendekatan desain modern, dan kemudian dalam arsitektur nama-nama seperti Umberto Eco, George Baird, Geoffrey Broadbent, dan Charles Jenks muncul sebagai beberapa pakar yang mengkaji arsitektur dengan cara menggunakan sistem tanda.

Semiotika dalam arsitektur jadi isu yang populer di Amerika Serikat tahun 70 an, yang ditandai dengan suatu pameran di Galeri Smithsonian oleh Robert Venturi, Denise Scott Brown dan kelompoknya. Judul pameran : ”Signs of life : Symbols in the American City”, sebagai pameran tentang tanda-tanda dalam arsitektur.

Pada tahun tujuh puluhan ini dan permulaan delapan puluh nama-nama seperti Juan Bonta, Preziosi, Gandelsonas, Tafuri, Scalvini, Boudon, dan Krampen juga ikut muncul sebagai pakar-pakar berikutnya dalam kajian semiotik pada bahasan karya desain dan arsitektur.

Penerapan semiotika di bidang arsitektur,desain interior dan desain produk seperti juga pada bidang lain memunculkan cabang-cabang pengetahuan yang baru. Salah satunya adalah yang mengkhususkan pada studi tentang hubungan antara tanda dengan ungkapannya, atau relasi antara bentuk produk dan unsur- unsur ruang arsitektural dengan ungkapan maknanya, yakni populer dengan sebutan semantika produk (product semantics) dan semantika arsitektur (architectural semantics).

Penerapan-penerapan ilmu tanda dalam analisa semantik terhadap produk dan ruang-ruang arsitektural oleh para tokohnya, hampir seluruhnya terinspirasi dari teori Charles S. Peirce tentang relasi tiga (triadik) dalam tanda. Teori ini dibedakan dengan relasi dua (diadik) versi Saussure yang menjelaskan hubungan penanda (signifier) dan tertanda (signified) seperti telah diterangkan sebelum ini.

Referensi

Dokumen terkait

Agar lebih memahami tentang penjumlahan bilangan bulat dengan garis bilangan, kerjakanlah penjumlahan bilangan bulat berikut dengan menggunakan alat

Menurut fuqaha dari kalangan mazhab hanafi, zina adalah hubungan seksual yang dilakukan seorang laki-laki secara sadar terhadap perempuan yang disertai nafsu

Pada multifragmentary complex fracture tidak terdapat kontak antara fragmen proksimal dan distal setelah dilakukan reposisi. Complex spiral fracture terdapat dua atau

Menurut M.Quraish Shihab kata ار (katsiran)banyak bukan يث ك berarti kebanyakan, sebagaimana dipahami atau diterjemahkan sementara penerjemah. Tiga dari sepuluh

Sultramiarja, dkk) dalam penelitiiannya yang berjudul Rekonstruksi 3D Menggunakan Stereo Vision bahwa jarak sebuah objek akan menentukan disparitypada objek stereo,

Pengelolaan risiko kredit dalam Bank juga dilakukan dengan melakukan proses analisa kredit atas potensi risiko yang timbul melalui proses Compliant Internal

Dari hadis diatas rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya , agar menuntut ilmu, terutama sekali adalah ilmu agama kepada orang yang menguasai ilmu tersebut,

.HORPSRN 3DUDPHWHU<DQJ'LXNXU 5HQWDQJ 6DWXDQ 7HNQLN3HQJXMLDQ 6SHVLILNDVL0HWRGD 3HQJXMLDQ .LPLD$QRUJDQLN $OXPLQLXP P J/ 6SHNWURIRWRPHWULVHUDSDQDWRPGHQJDQWXQJNXNDUERQ 61,9.