BAB III
STUDI KASUS
A. Identitas Pasien
Pasien berinisial SC, berusia 76 tahun, berjenis kelamin perempuan, beragama islam, status janda dan memiliki 8 anak. Pekerjaan sehari-hari sebelum terkena stroke yaitu sebagai penjual sambel pecel. Ny.
SC tinggal di Winong Baru, Boyolali.
B. Diagnosis
Berdasarkan informasi dari catatan medis diketahui bahwa diagnosis medis stroke hemiparese dekstra, diagnosis topisnya adalah hemisfer sinistra dan diagnosis kausatif adanya penyumbatan pembuluh darah (Ischemic). Sisi dominan pasien adalah kanan. Diagnosis Okupasi Terapi yaitu kesulitan dalam aktivitas makan secara mandiri.
C. Data Subjektif
1. Initial Assessment
Berdasarkan hasil interview dengan pasien pada tanggal 16 Februari 2019, diperoleh data bahwa pasien mengalami serangan stroke pertama kali pada bulan November 2018. Awal mula pasien terkena stroke adalah pasien jatuh di samping rumah, lalu pasien dibawa ke dokter, dan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandan Arang Boyolali dan sempat rawat inap selama
1 minggu. Kondisi pasien waktu itu, belum bisa duduk mandiri, berdiri dan berjalan masih dibantu, belum bisa menggenggam, tangan dan kaki kanan lemah, bicara sedikit pelo dan kesulitan bila ingin menyampaikan kata. Pasien memiliki riwayat penyakit Diabetes Mellitus (DM) dan hipertensi. Sejak terkena stroke pasien mengeluhkan bahwa anggota gerak bagian kanan terasa lemah dan terkadang nyeri di bahu dan jari-jari. Harapan pasien adalah pasien mampu melakukan aktivitas dengan tangan kanan secara mandiri.
2. Observasi Klinis
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 16 Februari 2019, penampilan pasien bersih dan rapi, wajah simetris, pasien kooperatif dan tidak mengalami gangguan pada komunikasi, terasa lemah pada bahu, siku, pergelangan tangan, dan sedikit kaku pada jari-jari, mobilitas pasien mandiri namun pelan-pelan dan perlu toleransi, nyeri jari-jari ketika digerakkan fleksi dan nyeri bahu ketika digerakkan abduksi dan fleksi bahu.
3. Screening Test
Berdasarkan hasil screening yang dilakukan pada tanggal 16 Februari 2019, pasien didiagnosis stroke hemiparese dextra. Pasien memiliki riwayat penyakit DM, dengan tekanan darah 110/70 mmHg.
Tonus otot pasien waktu awal serangan adalah flaccid. Kekuatan grip dan pinch bagian kanan lebih lemah daripada kiri. Setelah menjalani terapi, tonus otot pasien menjadi normal. Pasien mampu
menggenggam dan melepas dengan mandiri, pasien tidak memiliki gangguan pada penglihatan, pendengaran, taktil, perseptual, kognitif, sensori dan komunikasi. Mobilitas pasien mandiri namun pelan-pelan dan perlu toleransi. Keterampilan aktivitas kegiatan sehari-hari (AKS) pasien hampir semua mandiri namun dengan kompensasi tangan kiri dan pelan-pelan.
4. Model Treatment
Metode yang digunakan pada studi kasus ini adalah metode bobath. Alasan menggunakan metode bobath karena terdapat gangguan saraf pusat serta digunakan untuk normalisasi tonus, postur dan pola gerak abnormal untuk meningkatkan gerak normal, meningkatkan kemampuan fungsional dan untuk mencegah disabilitas.
Strategi yang digunakan adalah kontrol postural, central of gravity (COG) base of support (BOS), fasilitasi, weight bearing, handling, human movement, dan selective movement. Dengan metode dan strategi ini diharapkan pasien dapat melakukan salah satu aktivitas sehari-hari yaitu makan secara mandiri.
D. Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan menggunakan blangko Functional Independence Measurement pada tanggal 16 Februari 2019, pasien memperoleh skor 107 yang berarti perlu set up untuk setiap kegiatan FIM (Lampiran 2).
Berdasarkan pemeriksaan menggunakan blangko skala nyeri pada tanggal 16 Februari 2019, pasien merasakan nyeri bahu dan jari-jari saat digerakkan dengan skor 5 yang berarti nyeri sedang (Lampiran 3).
Berdasarkan pemeriksaan tes kualitas gerak pada ekstremitas atas pada tanggal 16 Februari 2019, pada fase tes untuk lengan dan bahu pada semua posisi (terlentang, duduk, dan berdiri) mulai dari grade 1-3 secara umum belum mampu dilakukan dengan baik terutama ketika gerakan abduksi bahu, fleksi bahu, rotasi internal, rotasi eksternal belum dapat full Range of motion (ROM). Fase tes untuk pergelangan tangan dan jari-jari mulai dari grade 1-3 secara umum pasien belum mampu melakukan dengan baik terutama ketika gerakan fleksi-ekstensi pergelangan tangan dan fleksi jari-jari. Kemudian untuk tes keseimbangan dan reaksi protektif otomatis yang melibatkan ekstremitas atas sebagian reaksi pasien bagus namun pada posisi jongkok dan berlutut pasien kesulitan karena terdapat osteoartritis pada lutut (Lampiran 4).
Berdasarkan checklist aktivitas makan, aktivitas memegang sendok, mengambil makanan, mengambil makanan, memasukan makanan ke mulut, mengembalikan sendok ke piring memperoleh hasil skor 1 yang berarti mampu sebagian (Lampiran 5).
E. Pengkajian Data
1. Rangkuman Data Subjektif dan Objektif
Berdasarkan data subjektif, pasien bersih dan rapi, wajah simetris, kooperatif, tidak mengalami gangguan pada komunikasi, penglihatan, pendengaran, taktil, perseptual, kognitif, sensori, terasa lemah pada bahu, siku, pergelangan tangan, dan sedikit kaku pada jari-jari.
Mobilitas pasien mandiri namun pelan-pelan dan perlu toleransi. Nyeri jari-jari ketika digerakkan fleksi dan nyeri bahu ketika digerakkan abduksi dan fleksi bahu. Tonus otot pasien waktu awal serangan adalah flaccid. Setelah menjalani terapi, tonus otot pasien menjadi normal.
Hasil pemeriksaan blangko FIM pasien memperoleh skor 107 yang berarti perlu set up untuk setiap kegiatan FIM. Hasil pemeriksaan blangko skala nyeri, pasien merasakan nyeri bahu dan jari-jari saat digerakkan dengan skor 5 yang berarti nyeri sedang. Hasil pemeriksaan tes kualitas gerak pada ekstremitas atas secara umum belum mampu dilakukan dengan baik karena masih terdapat nyeri pada bahu dan jari-jari, dan terdapat osteoartritis pada lutut. Hasil dari checklist aktivitas makan, aktivitas memegang sendok, mengambil makanan, mengambil makanan, memasukan makanan ke mulut, mengembalikan sendok ke piring memperoleh hasil skor 1 yang berarti mampu sebagian.
2. Aset
Pasien rapi dan bersih, wajah pasien simetris, pasien kooperatif, tidak memiliki gangguan penglihatan, pendengaran, taktil, perseptual, kognitif, komunikasi dan tonus otot normal. Pasien mampu melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari namun dibantu dengan tangan kiri dan perlu toleransi.
3. Limitasi
Terdapat kelemahan pada area bahu, siku, pergelangan tangan dan jari-jari terasa sedikit kaku. Kesulitan dalam gerakan area bahu, siku, pergelangan tangan dan jari-jari secara full ROM terutama gerakan abduksi bahu, fleksi bahu, fleksi-ekstensi pergelangan tangan dan fleksi jari-jari dan masih terdapat nyeri bila digerakkan, keterbatasan dalam aktivitas makan, mandi masih dibantu tangan kiri.
4. Prioritas Masalah
Berdasarkan aset dan limitasi yang dimiliki pasien diambil prioritas masalah pada area activity of daily living (ADL) yaitu aktivitas makan.
5. Diagnosis Okupasi Terapi
Pasien mengalami masalah pada area ADL yaitu gangguan aktivitas makan, dan keterbatasan memegang gayung pada saat mandi.
F. Perencanaan Terapi
1. Tujuan Jangka Panjang/Long Term Goals (LTG)
Pasien mampu makan menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk selama 12 kali sesi terapi.
2. Tujuan Jangka pendek/Short Term Goals (STG)
STG 1 : Pasien mampu mengambil makanan menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk tanpa berceceran selama 4 kali sesi terapi.
STG 2 : Pasien mampu membawa makanan kemulut menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk tanpa tumpah selama 4 kali sesi terapi.
STG 3 : Pasien mampu makan menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk selama 4 kali sesi terapi.
3. Strategi
Strategi yang digunakan adalah kontrol postural, central of gravity (COG), base of support (BOS), fasilitasi, weight bearing, handling, human movement, dan selective movement.
4. Frekuensi
Terapi dilakukan 3 kali dalam seminggu.
5. Durasi
Terapi dilakukan selama 30-45 menit tiap sesinya.
6. Media Terapi
Media terapi yang digunakan selama proses terapi antara lain, kerucut, bola karet, jepit jemuran, sendok, piring, plastisin, biji kacang.
7. Home Programe
Home programe yang diberikan terapis kepada pasien adalah pasien diminta melakukan latihan selama di rumah dengan latihan- latihan yang sudah diberikan untuk mempercepat tercapainya program terapi. Selain itu dapat juga melakukan latihan melalui aktivitas memindahkan dan menyusun kerucut, meremas bola karet untuk melatih grip pada tangan dan jepit jemuran untuk melatih pinch, pasien juga diminta untuk membiasakan melakukan aktivitas secara mandiri menggunakan tangan kanan.
G. Pelaksanaan Terapi
Terapi meliputi empat tahap yaitu adjunctive method, enabling activity, purposeful activity, dan occupational.
1. Adjunctive method
Adjunctive merupakan prosedur terapi dalam rangka mempersiapkan pasien untuk mengikuti proses terapi. Pada tahap ini dilakukan elongation secara active dan passive dengan posisi pasien duduk tegak. Elongation dilakukan pada ekstremitas kanan yang mencakup area shoulder, elbow, wrist, dan finger. Elongation pasif dilakukan dengan cara terapis membantu melakukan gerakan pada
ekstremitas kanan yang mencakup area shoulder, elbow, wrist, dan finger. Safety precaution yang harus diperhatikan yaitu aktivitas elongation dilakukan hanya sebatas rasa nyeri yang dirasakan pasien, tidak terlalu berlebihan sehingga tidak mengakibatkan timbulnya gerakan kompensasi.
Gambar 1. Extention wrist (Adjunctive method) 2. Enabling activity
Pada aktivitas enabling, latihan yang dilakukan bersifat ke arah aktivitas fungsional yaitu makan. Latihan yang dilakukan antara lain:
a. Menyusun Kerucut
Pasien diposisikan duduk tegak. Latihan dilakukan dengan 10 kali pengulangan. Pada latihan ini dilakukan strategi kontrol postural ketika melakukan latihan pasien dituntut untuk mempertahankan trunk tetap tegak. Strategi base of support (BOS) dan central of gravity (COG) dimana terapis memposisikan paha pada posisi alignment, kaki menempel di lantai dan tidak menggantung, agar tubuh pasien seimbang dan merasa nyaman.
Strategi handling dimana terapis memberikan handling pada area
shoulder, elbow, dan forearm untuk mengarahkan pasien pada pola gerak yang diharapkan. Strategi human movement diaplikasikan saat terapis mengajarkan kembali gerakan meraih, menggenggam dan menyusun kerucut kepada pasien. Strategi selective movement yaitu ketika menggerakkan lengan ke depan dan samping, pasien harus mengontrol agar bahu tidak ikut terangkat. Strategi weight bearing dengan tangan kanan diposisikan lurus disamping tubuh, tekanan diberikan oleh tubuh dengan posisi memiringkan tubuh ke kanan sambil melakukan aktivitas menyusun kerucut dengan tangan kiri, dengan berbagai posisi. Strategi fasilitasi dimana terapis memberikan bentuk bantuan untuk memudahkan pasien dalam teknik posisioning saat aktivitas menyusun kerucut. Safety Precaution pada aktivitas ini pastikan pasien tidak dalam tekanan darah yang tinggi, letih ataupun pusing dan mampu toleransi nyeri.
Gambar 2. Menyusun kerucut (Enabling Activity)
b. Meremas bola karet
Pasien diposisikan duduk tegak, tangan kanan dengan posisi pronasi atau supinasi kemudian pasien diminta untuk meremas bola karet tersebut. Latihan dilakukan dengan 10 kali pengulangan. Pada latihan ini digunakan strategi kontrol postural pada saat melakukan aktivitas latihan pasien dituntut untuk mempertahankan trunk tetap tegak. Strategi base of support (BOS) dan central of gravity (COG) dimana terapis memposisikan paha pada posisi alignment, kaki menempel di lantai dan tidak menggantung, agar tubuh pasien seimbang dan merasa nyaman.
Strategi handling pada elbow dan forearm untuk mengarahkan pasien pada pola gerak yang diharapkan. Strategi human movement diaplikasikan saat terapis mengajarkan kembali gerakan menggenggam dan meremas kepada pasien. Strategi weight bearing dengan tangan kanan diposisikan lurus disamping tubuh, tekanan diberikan oleh tubuh dengan posisi memiringkan tubuh ke kanan sambil melakukan aktivitas menyusun kerucut dengan tangan kiri, dengan berbagai posisi. Strategi fasilitasi dimana terapis memberikan bentuk bantuan untuk memudahkan pasien dalam teknik posisioning saat aktivitas meremas bola karet. Safety Precaution pada aktivitas ini yaitu pastikan pasien tidak dalam tekanan darah yang tinggi, letih ataupun pusing dan mampu toleransi nyeri.
Gambar 3. Meremas bola karet (Enabling Activity) c. Memasang jepit jemuran pada kertas
Pasien diposisikan duduk tegak, dengan posisi pronasi atau supinasi kemudian pasien diminta untuk memasang jepit jemuran pada kertas tersebut. Latihan dilakukan dengan 10 kali pengulangan. Pada latihan ini digunakan strategi kontrol postural pada saat melakukan aktivitas latihan pasien dituntut untuk mempertahankan trunk tetap tegak. Strategi base of support (BOS) dan central of gravity (COG) dimana terapis memposisikan paha pada posisi alignment, kaki menempel di lantai dan tidak menggantung, agar tubuh pasien seimbang dan merasa nyaman.
Strategi handling pada elbow dan forearm untuk mengarahkan pasien pada pola gerak yang diharapkan. Strategi human movement diaplikasikan saat terapis mengajarkan kembali gerakan pinch kepada pasien. Strategi weight bearing dengan tangan kanan diposisikan lurus disamping tubuh, tekanan diberikan oleh tubuh dengan posisi memiringkan tubuh ke kanan sambil melakukan aktivitas menyusun kerucut dengan tangan kiri, dengan berbagai
posisi. Strategi fasilitasi dimana terapis memberikan bentuk bantuan untuk memudahkan pasien dalam teknik posisioning saat aktivitas memasang jepit jemuran pada kertas. Safety Precaution pada aktivitas ini yaitu pastikan pasien tidak dalam tekanan darah yang tinggi, letih ataupun pusing dan mampu toleransi nyeri.
Gambar 4. Memasang jepit jemuran pada kertas (Enabling Activity) 3. Purposeful Activity
Pada tahap ini, latihan yang diberikan bertujuan untuk melatih pasien untuk mampu makan secara mandiri sampai selesai menggunakan tangan kanan. Posisi pasien duduk tegak kemudian pasien diminta untuk melakukan gerakan menggenggam sendok dan mengarahkan ke mulut. Media yang digunakan pada tahap ini adalah sendok, mangkok, plastisin, dan biji kacang. Pada latihan ini digunakan strategi kontrol postural pada saat melakukan aktivitas latihan pasien dituntut untuk mempertahankan trunk tetap tegak.
Strategi base of support (BOS) dan central of gravity (COG) dimana terapis memposisikan paha pada posisi alignment, kaki menempel di lantai dan tidak menggantung, agar tubuh pasien seimbang dan merasa
nyaman. Strategi handling pada elbow dan forearm untuk mengarahkan pasien pada pola gerak yang diharapkan. Strategi human movement diaplikasikan saat terapis mengajarkan kembali gerakan menggenggam kepada pasien. Strategi fasilitasi dimana terapis memberikan bentuk bantuan untuk memudahkan pasien dalam teknik posisioning saat aktivitas simulasi makan. Safety Precaution pada aktivitas ini yaitu pastikan pasien tidak dalam tekanan darah yang tinggi, letih ataupun pusing dan mampu toleransi nyeri.
Gambar 5. Simulasi makan (Purposeful Activity) 4. Occupation
Pada tahap ini, pasien sudah mampu makan dengan menggunakan tangan kanan secara mandiri di rumah.
Gambar 6. Aktivitas makan (Occupation)
H. Reevaluasi
1. Data Subjektif
Berdasarkan hasil reevaluasi yang dilakukan pada tanggal 16 maret 2019, diperoleh data bahwa pasien tidak merasa nyeri ketika menggerakan bahu dan jari-jari. Kekuatan grip dan pinch sebelum tindakan okupasi terapi dikatakan kurang karena masih membutuhkan bantuan sedang dari terapis. Setelah tindakan okupasi terapi kekuatan grip dan pinch dikatakan sedang karena masih membutuhkan bantuan minimal dari terapis.
2. Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan blangko FIM pada tanggal 16 maret 2019 yang sebelumnya didapatkan hasil 107 menjadi 108 yaitu pasien mandiri (Lampiran 2).
Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan blangko skala nyeri sudah berkurang ketika gerakan abduksi bahu, fleksi bahu dan
fleksi jari-jari yang sebelumnya dengan skor 5 yang berarti nyeri sedang menjadi dengan skor 1 yang berarti tidak nyeri/normal (Lampiran 3).
Berdasarkan pemeriksaan dengan tes kualitas gerak pada ekstremitas atas pada fase tes untuk lengan dan dan bahu pada semua posisi (terlentang, duduk, dan berdiri) mulai dari grade 1-3 sebelum tindakan okupasi terapi belum mampu melakukan gerakan abduksi bahu, fleksi bahu, rotasi internal, rotasi eksternal dengan full ROM, setelah tindakan okupasi terapi pasien mampu melakukan gerakan abduksi bahu, fleksi bahu namun belum mampu melakukan gerakan rotasi internal, rotasi eksternal dengan full ROM. Fase tes untuk pergelangan tangan dan jari-jari mulai dari grade 1-3 sebelumnya belum mampu melakukan gerakan fleksi-ekstensi pergelangan tangan dan jari-jari, setelah dilakuan tindakan okupasi terapi mampu melakukan gerakan fleksi-ekstensi pergelangan tangan dan jari-jari.
Kemudian untuk tes keseimbangan dan reaksi protektif otomatis yang melibatkan ekstremitas atas sebagian reaksi pasien bagus namun pada posisi jongkok dan berlutut pasien kesulitan karena terdapat osteoartritis pada lutut (Lampiran 4).
Berdasarkan checklist aktivitas makan, aktivitas memegang sendok, mengambil makanan, mengambil makanan, memasukan makanan ke mulut, mengembalikan sendok ke piring memperoleh hasil skor 2 yang berarti mampu (Lampiran 5).
3. Hasil/Pencapaian Program Terapi No Kondisi sebelum
dilakukan intervensi
Kondisi setelah dilakukan intervensi 1. Pasien belum mampu melakukan
gerakan fleksi bahu, abduksi bahu, fleksi-ekstensi wrist, fleksi finger, rotasi eksternal, rotasi internal secara maksimal.
Pasien mampu melakukan gerakan fleksi bahu, abduksi bahu, fleksi-ekstensi wrist, fleksi finger, secara maksimal, namun untuk rotasi eksternal, rotasi internal masih kurang maksimal.
2. Kekuatan grip kurang (dengan bantuan sedang dari terapis).
Kekuatan grip sedang (dengan bantuan minimal dari terapis).
3. Kekuatan pinch kurang (dengan bantuan sedang dari terapis).
Kekuatan pinch sedang (dengan bantuan minimal dari terapis).
4. Terdapat nyeri ketika gerakan fleksi bahu, abduksi bahu, fleksi- ekstensi pergelangan tangan, fleksi jari-jari, rotasi eksternal dan rotasi internal.
Nyeri sudah mulai berkurang ketika gerakan fleksi bahu, abduksi bahu, fleksi-ekstensi pergelangan tangan, fleksi jari- jari, rotasi eksternal dan rotasi internal.
5. Terdapat sedikit tremor ketika mengarahkan makanan ke mulut.
Tidak terdapat tremor ketika mengarahkan makanan ke mulut.
6. Masih sedikit berceceran ketika makan.
Tidak berceceran ketika makan.
7. Nyeri bahu dan jari-jari bernilai 5.
Nyeri bahu dan jari-jari bernilai 1.
I. Follow up
Pasien diharapkan mampu melanjutkan terapi yang telah diberikan.
Pasien mampu menjaga emosi, pola makan dan pola tidurnya untuk mencegah kambuhnya penyakit DM dan hiperstensi yang diderita.
J. Pembahasan
1. Keberhasilan Terapi
Berdasarkan hasil re-evaluasi diketahui bahwa pasien mampu melakukan aktivitas makan menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk (LTG) dengan tahapan aktivitas pada makan yaitu pasien mampu mengambil makanan menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk tanpa berceceran (STG I), pasien mampu membawa makanan ke mulut menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk tanpa tumpah (STG II), pasien mampu makan menggunakan sendok secara mandiri pada posisi duduk (STG III).
Keberhasilan dalam program terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: penerapan kerangka acuan, pemeriksaan yang tepat, motivasi pasien, kooperatif, dan dukungan keluarga.
a. Penerapan Kerangka Acuan yang tepat
Kerangka acuan NDT dengan menggunakan metode bobath merupakan pendekatan problem solving pada kondisi gangguan fungsi gerakan dan kontrol postural akibat lesi CNS, contohnya adalah kasus stroke (Trombly, 2008).
Dalam kasus ini menggunakan Kerangka acuan NDT dengan metode bobath dengan strategi yang diterapkan adalah teknik human movement mengajarkan kembali gerakan yang hilang, kontrol postural dengan menjaga tubuh tetap tegak, selective movement mengaktifasi otot secara spesifik dengan meminimalisir kompensasi gerak yang sering muncul, dan handling dengan mengarahkan pasien pada pola gerak yang diharapkan. Base of support mengacu pada titik untuk bergerak yang ada di dalam sebuah postur dan merupakan gerakan dari posisi satu ke posisi yang lain. Kemudian center of gravity mengarah pada titik seimbang atau objek dimana semua masa sama-sama seimbang. Fasilitasi merupakan bentuk bantuan yang diberikan untuk memudahkan pasien dalam teknik posisioning.
Weight bearing merupakan strategi menahan beban adalah semua
jenis aktivitas yang menekan tulang dengan menggunakan gaya gravitasi.
b. Pemeriksaan yang tepat
Ketepatan dalam menentukan instrument pemeriksaan yang sesuai kondisi pasien dapat mendukung tercapainya tujuan terapi.
Keterampilan terapis dalam menentukan dan melakukan pemeriksaan yang tepat dan menyeluruh menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan dalam proses terapi, sehingga dapat memperoleh data yang valid untuk menentukan prioritas masalah yang sesuai dengan aset dan limitasi pasien (Hopskin, 1993). Pada kasus ini menggunakan beberapa pemeriksaan yaitu FIM, Skala nyeri dan tes untuk kualitas gerak pada ekstremitas atas yang sesuai dengan kondisi pasien.
c. Motivasi Pasien
Motivasi sangat penting dalam menunjang proses penyembuhan karena pada dasarnya motivasi adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan (Nita, 2008).
Tingginya keinginan untuk sembuh memotivasi pasien untuk mau mengikuti dan menyelesaikan terapi secara konsisten dari awal sampai akhir terapi. Informasi dari keluarga
menyebutkan bahwa pasien sering melakukan latihan sendiri diluar sesi terapi seperti elongation di rumah, selain itu pasien juga sering latihan dengan aktivitas jalan-jalan di pagi hari.
d. Kooperatif
Pasien kooperatif sehingga saat menjalani terapi pasien memahami apa yang diinstruksikan dan diperintahkan oleh terapis.
Pasien mau melaksanakan perintah dan memberikan feedback terhadap proses terapi, sehingga dalam pelaksanaan terapi tidak ada hambatan dalam komunikasi (Yulianto, 2002). Pelaksanaan terapi yang mendapatkan respon positif keluarga serta pasien sendiri, turut membantu keberhasilan pelaksanaan terapi itu sendiri (Reed, 2001). Seperti pada studi kasus ini dalam proses terapi selalu berjalan lancar karena pasien dan keluarga kooperatif dengan terapis sehingga tercipta suasana terapeutik.
e. Dukungan Keluarga
Menurut Heward yang ditulis kembali oleh Hendriani, Handariyati, dan Sakti (2006), menyatakan bahwa efektifitas berbagai program penanganan dan peningkatan kemampuan hidup pasien akan sangat tergantung pada peran serta dan dukungan penuh dari keluarga.
Peran keluarga terhadap pasien berupa dukungan moral maupun materi sangat besar kaitannya dalam proses keberhasilan pencapaian tujuan terapi. Keterlibatan keluarga dan penderita pada
semua tingkat rencana terapi, dalam membuat keputusan dan aplikasi terapi merupakan kunci dari keberhasilan terapi (Gofir, 2009). Dalam studi kasus ini dukungan yang diberikan keluarga berupa motivasi kepada pasien agar selalu melakukan latihan setiap hari, mengingatkan pasien untuk selalu meminum obat, makan, istirahat yang cukup, melakukan aktivitas sehari-hari dengan tangan kanan dan tidak melakukan aktivitas sehari-hari yang terlalu berat.
2. Hambatan Terapi
Hambatan dalam program terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: kondisi penyerta, faktor usia, nyeri, dan gerak kompensasi.
a. Kondisi Penyerta
Pada kasus ini salah satu faktor penyebab stroke yang dialami pasien yaitu hipertensi sehingga prognosis kesembuhan pasien lebih lama. Selain itu hipertensi yang dialami pasien dapat membuat pasien mengalami stroke berulang sehingga kemajuan kesembuhan pasien dapat terhambat. Menurut Astuti (2012), hipertensi merupakan salah satu faktor resiko yang paling penting pada stroke, baik tekanan sistolik maupun diastolik mempunyai peran yang sama terhadap kemungkinan timbulnya stroke, diketahui pula bahwa insiden stroke meningkatkan sejalan dengan tekanan darah, disamping itu tekanan darah yang tetap tinggi pada
penderita stroke berpengaruh buruk terhadap prognosa jangka panjang baik terhadap kemungkinan terjadinya stroke berulang atau kematian jangka panjang pasca stroke.
Pemberian aktivitas sederhana dan ringan, durasi yang diberikan saat terapi harus ada waktu istirahatnya, serta berhati-hati dan jangan terlalu lelah saat aktivitas di rumah.
b. Faktor Usia
Pada kasus ini pasien berumur 76 tahun yang sudah tergolong lansia. Memasuki lansia berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat dan figur tubuh yang tidak proporsional (Nugroho, 2006).
Usia menentukan cepat lambatnya penyembuhan, jika semakin tua akan semakin lama karena adanya penurunan fungsi tubuh. Hal ini akan menghambat proses terapi.
c. Nyeri
Pada kasus ini pasien merasakan nyeri saat bahu digerakkan fleksi dan abduksi serta saat jari-jari digerakkan fleksi, sehingga dengan adanya nyeri menghambat proses terapi
Nyeri merupakan salah satu keluhan utama dan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas kehidupan para penderita stroke. Nyeri pasca stroke dapat timbul di otot, persendian, organ
dalam, ataupun dari sistem saraf pusat maupun perifer. Tipe nyeri pasca stroke paling sering yaitu nyeri bahu hemiplegi, nyeri akibat spasme atau spastisitas, sakit kepala pasca stroke dan nyeri sentral pasca stroke (Kilt et al, 2015).
d. Gerak Kompensasi
Adanya gerak kompensasi pada pasien dilihat saat aktivitas mengarahkan makanan ke mulut. Untuk meminimalisir gerak kompensasi dengan teknik fasilitasi, serta latihan mengulang-ulang gerakan yang benar sampai tercipta gerakan seperti normalnya.
Menurut Trombly (2008), pada penderita stroke terdapat perubahan tonus yang abnormal yang ditandai dengan peningkatan tonus. Adanya kelemahan pada bahu maka akan terjadi gangguan gerak yang dapat mengakibatkan munculnya gerak kompensasi.