i
STADION PACUAN KUDA DI JENEPONTO
SKRIPSI PERANCANGAN
Sebagai Persyaratan Untuk Ujian Sarjana Arsitektur
Disusun oleh:
ANDI MUHAMMAD ZULFIKAR D511 11 306
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN
GOWA 2018
ii
STADION PACUAN KUDA DI JENEPONTO
SKRIPSI PERANCANGAN Tugas Akhir - 477D5136
Periode I Tahun 2018/2019
Sebagai Persyaratan Untuk Ujian Sarjana Arsitektur
Disusun oleh:
ANDI MUHAMMAD ZULFIKAR D511 11 306
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN
GOWA 2018
i
HALAMAN PENGESAHAN
ii
ABSTRAK
Pacuan kuda adalah lomba di mana seorang joki mengendarai/ menunggangi kuda untuk mencapai garis finis secepatnya dengan lintasan yang telah ditentukan.
Awalnya pacuan kuda sering menggunakan kereta. Dan ini biasa dilakukan pada zaman kekaisaran Romawi.
Pacuan kuda di Jeneponto menjadi suatu tradisi turun-temurun sejak zaman dahulu. Setiap tahunnya, perlombaan pacuan kuda masih tetap diadakan di Jeneponto.
“Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto” itu sendiri adalah bangunan tempat berlangsungnya perlombaan balap kuda yang berada di Kabupaten Jeneponto.
Sejauh ini arena pacuan kuda yang ada di Jeneponto hanya sebatas arena pacu di lahan kosong yang diberi pagar pembatas dengan penonton yang berdiri di sekeliling arena dan ada sebuah panggung sederhana buat tamu VIP dan pembawa acara.
Dengan berbentuk stadion akan menampung lebih banyak penonton dan memberikan kesan megah pada olahraga jenis ini sehingga lebih menarik minat penggemar olahraga pacuan kuda baik lokal maupun luar negeri. Dan bisa juga menjadi salah satu landmark baru bagi kabupaten Jeneponto yang dapat memberikan manfaat untuk masyarakat sekitarnya.
Kata Kunci: Kuda, Pacuan, Jeneponto
iii
ABSTRACT
Horse racing is a sport where a jockey rides a horse to reach finish line as fast as possible on a fixed track. In the beginning, horse racing often used a cart. This practiced since Roman Era.
In Jeneponto, horse racing has become tradition since old times. Annually, horse racing still practiced in Jeneponton till this day.
“Horse Racing Stadium in Jeneponto” itself is a building where horse racing event held in Jeneponto Regency.
So far, horse racing field in Jeneponto only a dirt field surrounded by fence and the spectators are standing to watch race along the fence and there is a simple tribune for VIP guests and host.
With the shape of the stadium will accommodate more spectators and give a magnificent impression on this type of sport so will attract more interest fans of horse racing sports both local and abroad. And also will become a landmark for Jeneponto Regency that can bring benefits for surrounding people.
Keywords: Horse, Racing, Jeneponto
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhana Wa Ta ’ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi perancangan tugas akhir ini dengan baik. Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
Adapun judul tugas akhir yang saya pilih adalah:
“Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto”
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun, berkat bantuan dan kerja sama berbagai pihak, akhirnya penulis dapat mengatasi hambatan dan rintangan tersebut sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Allah Subhana Wa Ta ‘ala dan kepada:
1. Keluarga tercinta, Ayahanda Syamsu Ridjal AM, S.E., Ibunda Syamsiar Arief S.H., M.H., kakak-kakakku, Andi Widya Soraya, Andi Nadya Ahsani, dan Andi Alif Mubarak atas doanya yang selalu menemani langkah, menguatkan hati penulis, dan telah banyak memberikan motivasi baik moril maupun materil.
2. Bapak Ir. H. Dahri Kuddu, M.T. selaku pembimbing I dan Bapak Ir. H.
Muhammad Syavir Latief, M.Si. selaku pembimbing II yang telah berkenan meluangkan waktunya memberikan bimbingan, arahan, serta saran, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi perancangan ini.
3. Bapak Dr. Eng. Rosady Mulyadi, S.T., M.T. selaku Ketua Departemen Arsitektur dan Bapak Dr. Edward Syarif, S.T., M.T. selaku Sekretaris Departemen Arsitektur.
4. Bapak Abdul Mufti Radja, S.T., M.T., Ph.D selaku Kepala Laboratorium Perancangan Studio Akhir Jurusan Arsitektur.
5. Ibu Syahriana Syam, S.T., M.T., selaku penasihat akademik.
6. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Arsitektur yang juga menjadi orang tua di kampus yang telah membagi ilmu dan pengalamannya kepada penulis.
v 7. Pak John, Pak Sawali, dan Ibu Risma serta staf dan karyawan Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang selalu membantu dalam pengurusan berkas administrasi.
8. Muh. Fajrin Ramadhan, S.T. atas bantuan waktu dan tenaganya hingga studi S1 penulis dapat tercapai.
9. Saudara-saudaraku di MIV Iccang, Pai, Veli, Apil, Uga, Bilky, Yudi, Sidik, Aksa, dan Upal yang telah memberikan motivasi dan ketololan kepada penulis selama perkuliahan hingga penyusunan skripsi perancangan ini.
10. Saudara-saudara tak sedarahku Arsitektur 2011 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala dukungan, kebersamaan, doa, serta bantuannya selama ini. KOFTTE.
11. Teman-teman seperjuangan, Studio Akhir Perancangan Arsitektur Periode I 2018/2019 Edo, Budi, Marsel, Adhan, Jeril, Dillah, Purun, Zaki, Zaenul yang telah bersama-sama melewati suka dan duka bersama.
12. Apil Kendari dan Angga Takalar yang telah membuat maket penulis.
13. Serta seluruh pihak yang ikut membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis hanya bisa berdoa, semoga Allah Subhana Wa Ta ‘ala membalas kebaikan mereka dengan setimpal. Amin.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin agar tugas akhir ini dapat terselesaikan sesuai dengan harapan. Penulis senantiasa membuka diri terhadap saran dan kritik yang bertujuan demi penyempurnaan tugas akhir ini. Untuk itulah penulis mengharapkan agar apa yang masih kurang dari tugas akhir ini oleh pembaca dapatlah disempurnakan. Pada akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, dan semoga Allah Subhana Wa Ta ‘ala melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Amin.
Makassar, Agustus 2018
Andi Muhammad Zulfikar
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 2
Tujuan dan Sasaran Pembahasan ... 2
1. Tujuan Pembahasan ... 2
2. Sasaran Pembahasan ... 2
Lingkup dan Batasan Pembahasan... 3
Metode dan Sistematika Pembahasan ... 3
1. Metode Pembahasan... 3
2. Sistematika Pembahasan ... 4
BAB II TINJAUAN UMUM ... 5
Pengertian Judul ... 5
1. Stadion ... 5
2. Pacuan ... 5
3. Kuda ... 5
4. di ... 6
5. Jeneponto ... 6
Tinjauan Umum Pacuan Kuda ... 6
vii
1. Sejarah Pacuan Kuda di Dunia ... 6
2. Jenis-Jenis Pacuan Kuda ... 7
3. Jenis-Jenis Peranakan Kuda Pacu ... 11
4. Pacuan Kuda di Berbagai Negara ... 13
5. Sejarah Pacuan Kuda di Indonesia ... 19
6. Sejarah Pacuan Kuda di Sulawesi Selatan ... 24
Studi Literatur ... 24
BAB III TINJAUAN KHUSUS ... 32
Tinjauan Kabupaten Jeneponto ... 32
1. Keadaan Geografis ... 32
2. Keadaan Topografi dan Iklim ... 33
3. Kependudukan... 34
4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jeneponto ... 34
5. Hotel dan Pariwisata ... 36
6. Peternakan ... 37
Perkembangan Olahraga Berkuda di Jeneponto ... 37
Tinjauan Pengadaan Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto ... 38
1. Peranan Stadion Pacuan Kuda ... 38
2. Maksud dan Tujuan ... 38
3. Sistem Pengelolaan dan Lingkup Pelayanan... 39
Analisis Pelaku Kegiatan ... 40
1. Peserta Olahraga Berkuda ... 40
2. Penonton atau Pengunjung ... 40
3. Pengelola atau Penyelenggara ... 41
Analisis Kegiatan ... 41
viii
1. Kegiatan Peserta Olahraga Berkuda... 41
2. Kegiatan Penonton atau Pengunjung ... 42
3. Kegiatan Pengelola... 42
4. Fasilitas Kegiatan ... 43
Pola Kegiatan ... 44
1. Peserta Olaharaga Berkuda ... 44
2. Penonton atau Pengunjung dan Rekreasi ... 45
3. Pengelola ... 45
Kapasitas dan Daya Tampung ... 45
BAB IV KONSEP DASAR PERANCANGAN ... 50
Konsep Dasar Perancangan Makro ... 50
1. Analisis Penentuan Lokasi ... 50
2. Analisis Penentuan Tapak ... 53
3. Analisis Pengolahan Tapak ... 54
4. Konsep Dasar Tata Massa ... 58
Konsep Dasar Perancangan Mikro ... 59
1. Program Ruang ... 59
2. Pola Hubungan Ruang ... 62
3. Besaran Ruang ... 65
Konsep Penampilan Bangunan ... 76
Konsep Struktur Bangunan ... 76
Konsep Tata Ruang Luar ... 77
Konsep Tata Ruang Dalam ... 78
Sistem Utilitas dan Perlengkapan Bangunan ... 79
BAB V KESIMPULAN ... 83
ix
Kesimpulan Umum ... 83
Kesimpulan Khusus ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 84
LAMPIRAN ... 86
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Balap biasa (flat racing) ... 8
Gambar 2.2. Balap rintang ... 9
Gambar 2.3. Tunggang Serasi ... 9
Gambar 2.4. Balap Ketahanan ... 11
Gambar 2.5. Churchill Down ... 14
Gambar 2.6. Balap biasa di Australia... 17
Gambar 2.7. Nakayama Racecourse ... 18
Gambar 2.8. Logo PORDASI ... 20
Gambar 2.9. Tampak atas Tokyo Racecourse ... 24
Gambar 2.10. Denah trek balap Tokyo Racecourse ... 25
Gambar 2.11. Tribun Tokyo Racecourse ... 25
Gambar 2.12. Tampak atas Flemmington Racecourse ... 26
Gambar 2.13. Tribun atas Flemmington Racecourse ... 26
Gambar 2.14. Tribun Pulomas Racecourse ... 27
Gambar 2.15. Lapangan Pulomas Racecourse ... 27
Gambar 3.1. Peta Kabupaten Jeneponto ... 32
Gambar 3.2. Peta Pola Ruang Wilayah Kabupaten Jeneponto ... 35
Gambar 3.3. Diagram Jumlah Tamu dan Jumlah Hotel di Kab. Jeneponto ... 36
Gambar 3.4. Lambang Kab. Jeneponto ... 38
Gambar 4.1. Peta administrasi Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan 51 Gambar 4.2. Posisi Tapak di Desa Kalimporo, Kec. Bangkala ... 53
Gambar 4.3. Tapak ... 54
Gambar 4.3. View dari Jalur Masuk ke Tapak... 54
Gambar 4.3. View Tapak ... 55
Gambar 4.4. Orientasi Matahari dan Arah Angin ... 55
Gambar 4.5. Pen-zoning-an ... 56
Gambar 4.6. Pola Hubungan Ruang Makro ... 62
Gambar 4.7. Pola Hubungan Ruang Unit Ruang Pengelola ... 63
Gambar 4.8. Pola Hubungan Ruang Unit Stadion Pacuan Kuda ... 63
Gambar 4.9. Pola Hubungan Ruang Unit Klub-Klub Latihan ... 64
Gambar 4.10. Pola Hubungan Ruang Unit Stable... 64
xi
Gambar 4.11. Pola Hubungan Ruang Akomodasi Joki ... 64
Gambar 4.12. Pola Hubungan Ruang Akomodasi Tenaga Pemeliharaan ... 64
Gambar 4.13. Pola Hubungan Ruang Unit Fasilitas Pelengkap ... 64
Gambar 4.14. Pola Hubungan Ruang Unit Area Rekreasi ... 65
Gambar 4.15. Pola Hubungan Ruang Unit Ruang Utilitas ... 65
Gambar 4.13. Pola Hubungan Ruang Unit Fasilitas Pelengkap ... 65
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Tabel Data Penduduk di Kab. Jeneponto ... 34
Tabel 3.2. Tabel Data Populasi Ternak di Kab. Jeneponto ... 37
Tabel 4.1. Analisis Perbandingan Alternatif Lokasi ... 51
Tabel 4.2. Hasil Analisis Perbandingan Alternatif Lokasi ... 52
Tabel 4.3. Pola Tata Massa ... 58
Tabel 4.4. Persentase Sirkulasi... 66
Tabel 4.5. Besaran Unit Ruang Pengelola ... 66
Tabel 4.6. Besaran Unit Stadion Pacuan Kuda ... 69
Tabel 4.7. Besaran Unit Klub-Klub Latihan ... 70
Tabel 4.8. Besaran Unit Stable ... 72
Tabel 4.9. Besaran Unit Akomodasi Joki ... 73
Tabel 4.10. Besaran Unit Fasilitas Pelengkap ... 73
Tabel 4.11. Besaran Unit Area Rekreasi ... 74
Tabel 4.12. Besaran Unit Ruang Utilitas ... 74
Tabel 4.13. Besaran Unit Lapangan Terbuka... 75
1
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pacuan kuda adalah lomba di mana seorang joki mengendarai/
menunggangi kuda untuk mencapai garis finis secepatnya dengan lintasan yang telah ditentukan. Awalnya pacuan kuda sering menggunakan kereta. Dan ini biasa dilakukan pada zaman kekaisaran Romawi.
Di Indonesia, pacuan kuda sudah dikenal sejak zaman kerajaan-kerajaan memerintah di Nusantara dan saat ini menjadi salah satu bagian dari cabang olahraga yang diperlombakan di PON (Pekan Olahraga Nasional). Di beberapa daerah seperti di Aceh Tengah (Aceh), Sawah Lunto (Sumatera Barat), Rembang (Jawa Tengah), Kuningan (Jawa Barat), Madura (Jawa Timur), Pulomas (Jakarta), bahkan di Bima (NTB) pacuan kuda masih cukup populer, bahkan di sana kebanyakan anak-anak yang menjadi jokinya.
Jeneponto merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang sangat identik dengan “kuda”, bahkan sudah menjadi lambang kabupaten tersebut.
Bukan cuma olahraga tapi juga urusan kuliner. Adapun potensi jumlah populasi ternak kuda berdasarkan Kabupaten di Sulawesi Selatan tertinggi yaitu terdapat di Kabupaten Jeneponto sebanyak 35.167 ekor, sedangkan yang terendah berada di Kabupaten Luwu Timur sebanyak 19 ekor (Badan Pusat Statistik 2011).
Di Jeneponto sendiri, pacuan kuda menjadi suatu tradisi turun-temurun sejak zaman dahulu. Dulu, sebelum teknologi transportasi maju, di kabupaten ini, hampir di setiap rumah warga ada kuda yang ditambatkan di dalam kandangnya. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan kuda sebagai alat utama juga sering diadakan diwilayah ini, seperti pacuan kuda.
Setiap tahunnya, perlombaan pacuan kuda masih tetap diadakan di Jeneponto. Selain berlomba, acara ini juga untuk menghibur warga dan menarik minat wisatawan.
Sejauh ini arena pacuan kuda yang ada di Jeneponto hanya sebatas arena pacu di lahan kosong yang diberi pagar pembatas dengan penonton yang berdiri di sekeliling arena dan ada sebuah panggung sederhana buat tamu VIP dan pembawa acara.
2 Dengan berbentuk stadion akan menampung lebih banyak penonton dan memberikan kesan megah pada olahraga jenis ini sehingga lebih menarik minat penggemar olahraga pacuan kuda baik lokal maupun luar negeri. Dan bisa juga menjadi salah satu landmark baru bagi kabupaten Jeneponto yang dapat memberikan manfaat untuk masyarakat sekitarnya.
Rumusan Masalah 1. Non Arsitektural
a. Bagaimana menyediakan kebutuhan olahraga berkuda bagi masyarakat sebagai pemenuhan kebutuhan tersier?
b. Bagaimana merencanakan suatu stadion pacuan kuda yang bukan hanya untuk mewadahi kegiatan pacuan kuda namun juga kegiatan sosial dan penunjang?
2. Arsitektural
a. Bagaimana menentukan lokasi/site yang sesuai bagi peruntukan stadion pacuan kuda agar dapat mendukung fungsi bangunan itu sendiri yaitu mewadahi kebutuhan akan hiburan dari olahraga berkuda.
b. Bagaimana menentukan program ruang dan besarannya yang dapat memenuhi kaidah dan fungsi serta karakter yang diharapkan dari bangunan?
c. Bagaimana mensinergikan bangunan Stadion Pacuan Kuda sehingga menghasilkan sebuah konsep yang padu padan dan dapat memaksimalkan desain?
Tujuan dan Sasaran Pembahasan 1. Tujuan Pembahasan
Menyusun landasan konseptual dari bangunan stadion pacuan kuda yang bukan hanya untuk berolahraga akan tetapi memiliki sisi komersial yang menghibur.
2. Sasaran Pembahasan
Sasaran yang ingin dicapai adalah mewujudkan rancangan tata fisik bangunan, penampilan bangunan dan tata ruang yang meliputi berbagai
3 hal seperti besaran dan persyaratan ruang, kebutuhan ruang, sirkulasi, pencapaian, struktur, material, utilitas dan lanskap.
a. Mendapatkan persyaratan serta menyusun program perencanaan dan perancangan arsitektur yang akan digunakan.
b. Sebagai acuan dan pedoman dalam desain grafis arsitektur Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto.
c. Wadah aktivitas dalam kegiatan olahraga berkuda di Jeneponto yang dapat mencerminkan fungsinya.
Lingkup dan Batasan Pembahasan 1. Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan yang dilakukan dibatasi dan ditinjau dari disiplin ilmu arsitektur yang menyangkut konsep dasar perencanaan dan perancangan secara menyeluruh dan didukung oleh disiplin ilmu yang lain sebagai bahan masukan dan mendukung pencapaian sasaran perencanaan.
2. Batasan Pembahasan
Pembahasan pada penulisan ini lebih ditekankan pada perencanaan dan perancangan Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto yang menekankan pada kelengkapan sarana dan program ruang yang disajikan dan penampilan bangunan yang memiliki nilai estetis dan arsitektural.
Metode dan Sistematika Pembahasan 1. Metode Pembahasan
a. Studi Literatur
Yaitu mempelajari buku-buku maupun brosur-brosur yang berkaitan dengan teori, konsep atau standar perencanaan Indonesia Fashion House yang digunakan dalam penyusunan program.
b. Observasi objek/survei
Yaitu melakukan pengamatan pada objek yang berkaitan dengan perencanaan stadion pacuan kuda.
c. Studi komparasi
Yaitu studi data atau studi perbandingan terhadap bangunan- bangunan sejenis yang ada melalui internet.
4 2. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dibagi beberapa tahap penulisan, yaitu:
a. BAB I:
Pendahuluan yang berisi penjabaran masalah dengan mengemukakan latar belakang, rumusan masalah, lingkup pembahasan, tujuan dan sasaran pembahasan serta metode dan sistematika pembahasan.
b. BAB II:
Mengemukakan tentang pengertian judul dan tinjauan umum yang berisi tentang studi-studi pustaka dan teori mengenai olahraga berkuda beserta studi banding,
c. BAB III:
Mengemukakan tinjauan khusus terhadap stadion pacuan kuda di Jeneponto, meliputi gambaran umum Kabupaten Jeneponto, analisis pengadaan stadion pacuan kuda, analisis pelaku kegiatan, analisis kegiatan dari pelaku-pelaku, serta analisis pendekatan.
d. BAB IV:
Mengemukakan analisa pendekatan pemecahan masalah, yang secara lebih terperinci diuraikan dalam bentuk: Pendekatan konsep perencanaan makro dan mikro. Konsep makro, yaitu penentuan lokasi, pemilihan tapak, dan pengolahan tapak.
Konsep mikro, yaitu kebutuhan dan besaran ruang, tata ruang, bentuk dan penampilan, struktur, serta perlengkapan bangunan.
5
BAB II
TINJAUAN UMUM
Pengertian Judul
Pengertian judul dari “Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto” adalah:
1. Stadion
a. Sebuah bangunan yang umumnya digunakan untuk menyelenggarakan acara olahraga, di mana di dalamnya terdapat lapangan atau pentas yang dikelilingi tempat berdiri atau duduk bagi penonton. (id.wikipedia.org)
b. Lapangan olahraga yang dikelilingi tempat duduk. (KKBI Online) c. Stadion dalam bahasa Yunani yaitu στάδιον (stadion) adalah suatu
kata yang berarti arena balap di kota-kota Yunani di mana lari dan
kontes atletik lainnya berlangsung.
(encyclopedia2.thefreedictionary.com) 2. Pacuan
Pacuan berati balapan atau lomba adu kecepatan. (KKBI) 3. Kuda
a. Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan peliharaan yang penting secara ekonomis dan historis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun.
(id.wikipedia.org)
b. Binatang menyusui, berkuku satu, biasa dipiara orang sebagai kendaraan (tunggangan, angkutan) atau penarik kendaraan dan sebagainya. (KKBI)
c. Kuda merupakan hewan liar yang telah terdomestikasi. Secara zoologis digolongkan ke dalam kingdom Animalia, filum Chordata yaitu hewan yang bertulang belakang, kelas Mammalia yaitu hewan yang menyusui anaknya, sub-kelas Theria, ordo Perissodactyla yaitu hewan yang tidak memamah biak, family Equidae, dan spesies Equus caballus. (Radiopetra, 1997)
6 4. di
Kata depan untuk menyatakan lokasi atau tempat. (KKBI) 5. Jeneponto
Salah satu Daerah Tingkat II (Kabupaten) di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. (id.wikipedia.org)
Jadi, Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto adalah bangunan tempat berlangsungnya perlombaan balap kuda yang berada di Kabupaten Jeneponto.
Tinjauan Umum Pacuan Kuda 1. Sejarah Pacuan Kuda di Dunia
Pacuan kuda memiliki sejarah panjang dan telah dipraktekkan di peradaban seluruh dunia sejak zaman kuno. Catatan arkeologi menunjukkan bahwa balap kuda terjadi di Yunani Kuno, Babilonia, Suriah, dan Mesir, Hal ini juga memiliki bagian penting pada mitos dan legenda, seperti kaitannya antara menjadi tunggangan Dewa Odin dan Raksasa Hrungnir pada mitologi Nordik.
Balap kereta merupakan salah satu olahraga yang paling populer di Yunani Kuno, Romawi, dan Romawi Timur. Balap kereta dan pacuan kuda telah dipertandingkan di Olimpiade Yunani sejak tahun 648 SM dan merupakan cabang yang penting di Panhellenic Games (Yunani Kuno). Ini dilakukan meski faktanya bahwa balap kereta sering membahayakan joki dan kudanya, baik itu cedera parah bahkan sampai meninggal. Di Kekaisaran Romawi, balap kereta dan pacuan kuda merupakan industri yang besar, dan dari pertengahan abad 15 sampai 1882, Karnaval Musim Panas di Roma dipenuhi oleh pacuan kuda. 15 sampai 20 kuda tanpa joki, aslinya berasal dari Pantai Barbari Afrika Utara.
Di selanjutnya, pacuan kuda menjadi populer di kalangan bangsawan dan keluarga Kerajaan Inggris, dan dikenal sebagai
“Olahraga Para Raja”.
Berdasarkan sejarah, para joki menempa kemampuannya berkuda melalui permainan dan balapan. Olahraga berkuda menyediakan
7 hiburan untuk orang banyak dan mengasah kemampuan berkuda yang baik diperlukan dalam pertempuran. Semua jenis pacuan kuda menjadi kompetisi antara para joki. Semua jenis kompetisi, membutuhkan keterampilan yang khusus dari kuda dan jokinya, menghasilkan perkembangan teknologi pengembangbiakan dan peralatan.
Kepopuleran pacuan kuda selama berabad-abad telah menghasilkan kemampuan kuda dalam bertarung menghilang akibat kuda tidak lagi digunakan dalam peperangan.
2. Jenis-Jenis Pacuan Kuda
Ada banyak jenis-jenis dari pacuan kuda, diantaranya:
Balap Biasa (Flat Racing), di mana kuda berpacu langsung antara dua titik di sekitar trek lurus atau oval.
Balap Rintang atau Balap Ketangkasan (Jump Racing or Equestrian Racing), di Inggris dan Irlandia dikenal dengan nama Balap Berburu Nasional (National Hunt Racing), di mana kuda berpacu melewati rintangan.
Balap Kereta (Harness Racing), di mana kuda berpacu sembari menarik joki di kereta.
Balap Ketahanan (Endurance Racing), di mana kuda melakukan perjalanan lintas negara yang berjarak sangat jauh, umumnya berkisar dari 25 sampai 100 mil (40 sampai 161 km).
Beragam peranakan kuda telah dikembangkan sehingga unggul di setiap kategori lomba tertentu. Peranakan kuda yang digunakan untuk balap biasa yaitu Thoroughbred, Quarter Horse, Arabian, Paint, dan Appaloosa. Peranakan untuk balap rintang yaitu Thoroughbred dan AQPS. Balap Kereta didominasi oleh peranakan kuda Standardbred di Australia, Selandia Baru, dan Amerika Utara, tapi kadang kala digunakan perankan lain, seperti Russian Trotter dan di Eropa yaitu Finnhorse.
a. Balap Biasa (Flat Racing)
8
Gambar 2.1. Balap biasa (flat racing) Sumber: en.wikipedia.org
Balap biasa merupakan jenis pacuan kuda yang paling umum di dunia. Trek arena balap biasa berbentuk oval, walaupun di Inggris Raya dan Irlandia ada lebih banyak variasinya. Termasuk berbentuk angka delapan. Permukaan trek berumput yang paling umum di seluruh dunia, trek berlumpur lebih umum di Amerika Utara, dan yang paling baru adalah permukaan trek buatan, seperti Polytrack atau Tapeta, terlihat di sejumlah trek di dunia.
Trek balap sendirinya berjarak 400 m sampai dua setengah mil, dengan jarak antara lima dan dua belas mil jauhnya yang paling umum. Balap jarak pendek umumnya dikenal dengan nama “sprint”, sementara balap yang lebih panjang dikenal sebagai “routes” di Amerika Serikat atau “staying races” di Eropa. Meskipun akselerasi cepat (“derap kaki”) biasanya diperlukan untuk memenangkan berbagai jenis balapan, di sprint umum dipandang sebagai adu kecepatan, dibandingkan dengan jarak jauh dipandang sebagai adu ketahanan. Balap biasa paling bergengsi di dunia, seperti Prix de l'Arc de Triomphe, Japan Cup, Epsom Derby, Kentucky DerbydanDubai World Cup merupakan balap jarak menegah dan dipandang sebagai adu kecepatan dan ketahanan.
Di balap paling bergengsi, kuda di kelompokkan dalam berat yang sama untuk kesetaraan, dengan tunjangan diberikan kepada kuda yang lebih muda dan kuda betina melawan kuda jantan. Balap ini disebut “kondisi balap” dan menawarkan keuntungan yang paling besar. Ada kategori balap lain yang disebut handicap races di mana setiap kuda diberi beban berbeda untuk dipikul berdasarkan
9 kemampuannya. Di samping beban yang dipikulnya, kinerja kuda juga dapat dipengaruhi oleh posisi relatif pada posisi start, jenis kelamin, jokinya, dan pelatihnya.
b. Balap Rintang atau Balap Ketangkasan (Jump Racing or Equestrian Racing)
Gambar 2.2. Balap rintang Sumber: en.wikipedia.org
Balap rintang di Inggris Raya dan Irlandia dikenal sebagai National Hunt Racing di Amerika Serikat. Balap rintang dapat di dibagi ke dalam steeplechasing dan lari gawang, sesuai dengan jenis dan ukuran hambatan yang dilompatinya. Kata “Steepchasing” juga dapat ditujukan untuk semua jenis balap rintang, terutama di Amerika Serikat.
Biasanya, kuda maju ke penghalang yang lebih besar dan lebih panjang ketika usia mereka bertambah, sehingga kuda balap rintang Eropa akan cenderung mulai di balap biasa National Hunt sebagai remaja, pindah ke lari gawang setelah satu tahun atau lebih, dan kemudaan, jika mampu, beralih ke steeplechasing.
c. Tunggang Serasi/Dressage
Gambar 2.3. Tunggang Serasi
10
Sumber: en.wikipedia.org
Dressage adalah dasar semua pelatihan kuda dan dibutuhkan untuk semua nomor ketangkasan, tetapi dressage juga dinilai sebagai “Master” berkuda karena nilai seni tinggi yang dimilikinya.
Tujuan Dressage atau Tunggang Serasi adalah pengembangan fisik kuda dan keserasian penunggang dengan kuda. Keterampilan dan mutu yang baik terlihat dari ayunan langkah yang bebas dan sama rata, seolah kuda bergerak mudah dan tanpa beban. Kudanya memberi kesan bahwa ia melakukan semua gerakan dengan sendiri, karena pertolongan yang ringan dari penunggang tidak dapat terlihat lagi.
Dalam semua kompetisi, kuda harus menunjukkan tiga cara berjalan: Walk, Trot dan Canter, dan juga transisi dari dan ke berlainan cara berjalan dan dalam cara berjalan sendiri (collection – extension – collection).
Adapun tes dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Tes tingkat mudah mencakup gerakan seperti Halt (berhenti), Rein-Back (mundur), lingkaran kecil, Walk-Pirouette (berputar di tempat) dan gerakan menyamping. Tingkat sedang juga mencakup flying changes (ganti kaki di udara) di canter. Dalam tingkat Grand-Prix, yaitu yang paling sulit yang juga dipertandingkan dalam Olimpiade, adapun gerakan seperti Piaffe, dimana kuda memberi kesan seolah ia berjalan di tempat, dan Passage, yaitu trot dengan langkah yang lebih diayun, dengan “suspensi” dan ke atas.
Dalam tes Freestyle to Music penunggang dapat menentukan sendiri lagu, koreografi dan urutan gerakan yang wajib diperlihatkan.
Dalam Freestyle tersebut yang dinilai adalah kemampuan teknis dan pertunjukan yang artistik. Dalam bagian artistik juga sangat penting agar kuda dapat melakukan semua gerakannya seiring dengan irama musik.
d. Balap Ketahanan(Endurance Racing)
11
Gambar 2.4. Balap Ketahanan Sumber: en.wikipedia.org
Panjang perlombaan ketahanan bervariasi. Ada yang sangat singkat, hanya sepuluh mil, sementara yang lain bisa sampai seratus mil. Ada beberapa balap yang lebih panjang dari seratus mil dan berlangsung berhari-hari. Perbedaan jarak ini dibagi ke dalam lima kategori; balap santai (10-20 mil), balap wahana tanpa kompetitif (21-27 mil), balap wahana kompetitif (20-45 mil), balap wahana progresif (25-60 mil), dan balap ketahanan (40-100 mil dalam sehari, sampai 250 mil (400 km) berhari-hari). Dikarenakan setiap balapan sangat panjang, jalan medan alam umumnya yang digunakan.
Balap Ketahanan resmi pertama kali dimulai di California sekitar tahun 1965, dan lomba pertama menandakan dimulainya Kejuaraan Tevis. Balap ini merupakan balap seratus-mil-satu-hari, dimulai dari Squaw Valley, Placer County, dan berakhir di Auburn.
Didirikan pada tahun 1972, American Endurance Ride Conference merupakan asosiasi balap ketahanan pertama di Amerika Serikat.
Balap ketahanan terpanjang di dunia adalah Mongol Derby, yang panjang rutenya adalah 833,2 km (517,7 mil).
3. Jenis-Jenis Peranakan Kuda Pacu
Dalam kebanyakan pacuan kuda, entri dibatasi untuk keturunan tertentu; yaitu, kuda harus memiliki sire (ayah) dan dam (ibu) yang merupakan keturunan khusus dari kuda untuk balap. Contohnya, pada balap kereta normal, ayah dan ibu keduanya harus murni Standardbreds.
Satu-satunya pengecualian untuk ini adalah di balap Quarter Horse di mana seekor kuda Appendixed Quarter dapat dianggap memenuhi syarat untuk berpacu dengan kuda Quarter standar.
12 Seekor kuda yang telah memenangkan banyak balapan dapat dijadikan pejantan induk ketika dia pensiun. Teknologi inseminasi buatan dan transfer embrio (hanya diperbolehkan pada beberapa peranakan) telah membawa perubahan pada tradisi dan kemudahan beternak.
Silsilah kuda jantan dicatat dalam berbagai buku dan situs, seperti Weatherbys Stallion Book, the Australian Stud Book and Thoroughbred Heritage.
a. Thoroughbred
Ada tiga indukan asli yang merupakan pendiri dari hampir semua Thoroughbred: Darley Arabian, Godolphin, dan Byerly Turk, namanya berasal dari pemiliknya, Thomas Darley, Lord Godolphin, dan Captain Robert Byerly. Semua dibawa ke Inggris di mana mereka dikawinkan dengan kuda lokal. Tinggi dari Thoroughbred diukur dalam satuan tangan (satu tangan sama dengan 4 inci). Ada yang sekecil 15 tangan dan ada juga yang lebih dari 17 tangan.
Thoroughbred dapat menempuh jarak menengah dengan langkah yang cepat, yang memerlukan keseimbangan antara kecepatan dan ketahanan.
b. Kuda Arab
Kuda Arab dikembangkan oleh orang Badui di Timur Tengah yang dikhususkan untuk stamina jarak jauh, sehingga mereka dapat berlari lebih cepat dari musuh-musuh mereka. Sebelum sampai tahun 1725 kuda Arab belum diperkenalkan ke Amerika Serikat.
Kuda Arab muncul pertama kali di Amerika Serikat pada waktu kolonial, meski tidak dibesarkan sebagai peranakan murni sampai sekitar waktu Perang Saudara (1861-1865). Sampai pembentukan Arabian Horse Registry of America pada tahun 1908, kuda Arab dicatat dengan Klub Joki sebagai bagian terpisah dari Thoroughbred.
Kuda Arab harus mampu menahan perjalanan jarak jauh pada kecepatan langkah yang sedang. Kuda Arab memiliki banyak serat Tipe-I. Otot-otot mereka dapat bekerja untuk waktu yang lama. Juga, otot-otot kuda Arab tidak hampir sama besar dengan kuda Quarter,
13 yang memungkinkan untuk perjalanan jarak yang lebih jauh dengan kecepatan yang lebih cepat. Saat ini kuda Arab utamanya digunakan pada balap ketahanan, tapi juga diperlombakan pada balapan tradisional di banyak negara.
Arabian Horse Racing diatur oleh IFAHR (The International Federation of Arabian Horse Racing Authorities).
c. Kuda Quarter
Nenek moyang dari kuda Quarter berasal dari Amerika pada awal abad ke-17. Kuda-kuda ini merupakan perpaduan dari Kuda Kolonial Spanyol dengan Kuda Inggris yang dibawa pada tahun 1700-an. Kuda asli dan kuda Inggris dibiakkan bersama, menghasilkan kuda dengan otot yang kompak. Pada saat ini, kuda jenis ini banyak digunakan untuk membajak dan sebagai kuda kerja.
Kuda Quarter Amerika tidak diakui sebagai peranakan resmi sampai pembentukan Asosiasi Kuda Quarter Amerika pada tahun 1940.
Agar sukses di balapan, kuda Quarter harus mampu mendorong diri mereka sendiri ke depan dengan kecepatan sprint yang cepat.
Kuda Quarter mempunyai otot kaki yang jauh lebih besar dari pada kuda Arab, yang membuatnya jauh lebih cocok untuk balap ketahanan. Kuda ini memilik otot Tipe II-b, yang memungkinkan kuda Quarter berakselerasi lebih cepat.
Permukaan trek kuda Quarter mirip dengan kuda Thoroughbred yang berupa tanah dengan jarak 400 m, atau seperempat mil. Ini yang menjadi inspirasi dari nama kuda ini.
4. Pacuan Kuda di Berbagai Negara a. Amerika Serikat
14
Gambar 2.5. Churchill Down Sumber: en.wikipedia.org
Pacuan Kuda di Amerika Serikat dan Amerika Utara ada sejak tahun 1665, di tandai dengan pembentukan kursus Newmarket di Salisbury, New York, yang sekarang dikenal sebagai Hempstead Plains di Long Island, New York. Pacuan pertama di Amerika Utara diawasi oleh gubernur New York, Richard Nicolls. Daerah ini sekarang bernama Nassau County, New York, bagian dari Greater Westbury dan East Garden City. Bagian South Westbury sekarang bernama Salisbury.
Di Amerika Serikat, balap biasa Thoroughbred diadakan di lapangan yang permukaannya terbuat dari tanah, sintetik, atau rumput. Trek lain menawarkan balap Quarter Horse dan balap Standardbred Horse, atau kombinasi dari ketiga jenis balap ini.
Balap dari jenis peranakan kuda lain, seperti balap kuda Arab, ditemukan secara terbatas. Balap American Thoroughbred berlangsung dalam berbagai jarak, yang paling umum yaitu dari 5 - 12 furlongs (0,63 – 1,59 mil; 1,0 – 2,4 km), dengan pemikiran ini, peternak kuda balap Thoroughbred berusaha untuk mengembangbiakkan kuda yang unggul pada jarak tertentu.
Pleasanton Fairgrounds Racetrack di Alameda County Fairgrounds merupakan arena pacuan kuda yang tertua di Amerika, kembali pada tahun 1858, ketika itu didirikan oleh anak dari Spaniard Don Agustin Bernal.
Di tahun 1665, arena pacu pertama didirikan di Long Island. Itu merupakan pacuan Throughbred tertua di Amerika Utara. American Stud Book dimulai pada tahun 1868, mendorong awal dari pacuan kuda terorganisir di Amerika Serikat. Ada 314 arena yang beroperasi di Amerika Serikat pada tahun 1890, dan pada tahun 1894, American Jockey Club dibentuk.
Salah satu arena pacuan kuda besar tertua di Amerika Serikat adalah Meadowlands Racetrack dibuka pada tahun 1977 untuk pacuan Thoroughbred. Itu merupakan tuan rumah dari Kejuaraan
15 Meadowlands. Kemudian arena pacuan kuda yang lain menyusul, termasuk Remington Park, Oklahoma City, dibuka pada tahun 1988, dan Lone Star Park di Dallas Fort Worth Metroplex, dibuka pada tahun 1997; arena terakhir yang menjadi tuan rumah ajang bergengsi Breeder’s Cup 2004.
Pacuan kuda Thoroughbred di Amerika Serikat memiliki Hall of Fame sendiri di Saratoga Springs, New York. Hall of Fame berisi penghormatan kepada kuda, joki, pemilik, dan pelatih yang luar biasa.
b. Kanada
Kuda yang paling terkenal dari Kanada adalah Northern Dancerm yang telah memenangi Kentucky Derby, Prekness, dan Queen’s Plate pada tahun 1964, menjadikannya pejantan Thoroughbred paling sukses di abad ke-20, Derby dua-menit-datar- nya merupakan yang tercepat sampai digantikan oleh Secretariat di tahun 1973. Satu-satunya penantang predikatnya sebagai Kuda Kanada Terhebat adalah anaknya, Nijinsky II, yang merupakan kuda terakhir yang memenangkan English Triple Crown. Woodbase Racetrack (1956) di Toronto, merupakan tuan rumah Queen’s Plate (1860), pacuan Canada’s Premier Thotoughbred, North America Cup (1984), pacuan Canda’s Premier Standardbed, merupakan satu- satunya pacuan kuda di Amerika di mana mengadakan Thoroughbred dan Standardbred (kereta) pada hari yang sama.
Pattison Canadian International memiliki pacuan terbesar dari setiap pacuan kuda di Kanada. Pacuan kuda penting adalah seperti Woodbine Oaks (1956), Prince of Wales Stakes (1929), Breeders’
Stakes (1889), dan Canadian Derby (1930).
c. Perancis
Perancis memiliki salah satu industri pacuan kuda besar di Eropa.
Perancis merupaka tuan rumah dari Prix de I’Arc de Triomphe yang terkenal di Longchamp Racecourse, pacuan terkaya di Eropa dan pacuan rumput terkaya kedua di dunia setelah Jepang, dengan
16 hadiah 4 juta Euro (kira-kira 6 miliyar rupiah). Pacuan besar lainnya adalah Grand Prix de Paris, Prix de Jockey Club (The French Deby) dan Prix de Dianne. Selain Langchamp, arena pacuan kuda biasa premier lainnya adalah Chantilly dan Deauville. Ada juga yang lebih kecil, namun merupakan batu loncatan penting dengan Auteil Racecourse yang paling terkenal.
d. Inggris
Pacuan kuda di Inggris didominasi dengan balap thoroughbred datar dan balap rintang. Di Inggris pada abad ke-17 sampai abad ke-19 banyak aturan dan peraturan olahraga berkuda didirikan. Banyak joki luar biasa yang menjadi orang Inggris, yang palin terkenal adalah Sir Gordon Richards. Olahraga ini diatur oleh British Horseracing Authority (BHA). Sebagai catatan bahwa otoritas BHA tidak sampai ke Irlandia Utara, pacuan kuda di Irlandia diatur oleh All-Ireland.
e. Italia
Berdasarkan sejarah, Italia telah menjadi salah satu yang memimpin pacuan kuda di negara Eropa, meskipun dalam tertinggal dari Inggris, Irlandia, dan Perancis dalam aspek ukuran dan gengsi.
Almarhum Federico Tesio merupaka salah satu tokoh peternak kuda yang menjulang tinggi dalam industri peternakan kuda Thoroughbred. Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga pacuan kuda di negara ini mengalami krisis dana yang besar, mengakibatkan pengusiran dari European Pattern.
Meskipun kecil kecil konsekuensinya di dunia perpacuan kuda, pacuan kuda yang terkenal di Italia adalah Palio di Siena (dikenal secara lokal sebagai II Palio), palio yang paling terkenal di Itala, pertandingan pacuan kuda diselenggarakan dua kali setiap tahun pada 2 Juli dan 16 Agustus di Siena, di mana setiap kuda dan jokinya merupakan perwakilan dari 17 Contrade, atau kecamatan. Sebuah kontes yang megah memulai perlombaan, yang menarik pengunjung dan penonton dari seluruh dunia.
17 f. Australia
Gambar 2.6. Balap biasa di Australia Sumber: en.wikipedia.org
Pacuan kuda di Australia didirikan pada tahun-tahun awal pemukiman dan industri, telah berkembang menjadi salah satu dari tiga negara yang memimpin dunia balap Thoroughbred di dunia.
Melbourne Cup yang terkenal di dunia, the race that stops a nation (balapan yang menghentikan negara), belakangan ini menarik banyak minat internasional. Di balap negara, catatan menunjukkan bahwa Goulburn memulai balap pada tahun 1834. Klub pacuan kuda pertama di Australia didirikan di Wallabadah pada tahun 1852 dan Kejuaraan Wallabadah tetap diadakan pada Hari Tahun Baru (arena balap saat ini dibangun pada tahun 1898).
Di Australia, kuda pacu yang paling terkenal adalah Phar Lap (dibesarkan di Selandia Baru), yang ikut pacuan dari 1928 sampai 1932. Pahr Lap berbobot 62,5 kg ketika memenangkan Kejuaraan Melbourne 1930. Kuda pacu Australia, Steeplechaser Crisp dikenang untuk pertarungannya dengan juara Irlandia, Red Rum pada Grand National 1973. Di tahun 2003-2005, kuda betina Makybe Diva (dikembangbiakkan di Inggris) menjadi satu-satunya kuda pacu yang pernah memenangkan Kejuaraan Melbourne tiga kali berturut-turut. Di balap rintang, Cane Smoke memilik 120 kemenangan, 34 di antaranya dalam satu musim. Paleface Adios menjadi nama yang terkenal di tahun 1970-an, sementara Cardigan Bay, seekor kuda pacu dari Selandia Baru, menikmati kesuksesannya di peringkat tertinggi dari balap rintang Amerika di tahun 1960-an. Paling terbaru adalah Blacks A Fake yang
18 memenangkan empat Kejuaraan Inter Dominion, menjadikannya satu-satunya kuda yang mendapatkan prestasi ini di balap rintang premier Australia.
Kompetisi balap ketahanan di Australia ditandai pada tahun 1966, ketika Tom Quilty Cup dimulai pertama kali di distrik Hawkesbury, dekat Sydney, New South Wales. Quilty Cup dianggap sebagai balap ketahanan nasional dan saat ini ada lebih dari 100 balap ketahanan yang diselenggarakan di seluruh Australia, dengan jarak pacu dari 80 km sampai 400 km. Balap ketahanan terpanjang di dunia adalah Shahzada 400 km Memorial Test yang berlangsung lebih dari lima hari menempuh jarak 80 km setiap hari di St Albans di Hawkesbury River, New South Wales. Di setiap balap ketahanan ada pemeriksaan dokter hewan yang ketat, sebelum dimulai, selama dimulai, dan setelah kompetisi selesai, di mana kesehatan kuda yang diutamakan.
g. Jepang
Jepang memiliki dua badan yang mengatur perpacuan kuda – Japan Racing Association (JRA) dan National Association of Racing (NAR). Lewat mereka, lebih dari 21.000 pertandingan pacuan kuda berlangsung tiap tahunnya. JRA bertanggung jawab untuk “Chuo Keiba” (yang berarti “pacuan kuda pusat”), bertempat pada sepuluh arena pacuan kuda utama di Jepang. Sedangkan NAR, bertanggung jawab untuk “Chihou Keiba” (yang berarti “balap kuda lokal”).
Pacuan kuda di Jepang didominasi dengan balap biasa (flat racing), meski begitu Jepang juga memiliki balap rintang dan jenis balap yang dikenal dengan nama Ban’ei (disebut juga Draft Racing).
Gambar 2.7. Nakayama Racecourse Sumber: en.wikipedia.org
19 Perlombaan-perlombaan top di Jepang berlangsung pada musim semi, musim gugur, dan musim dingin. Termasuk balap yang paling menonjol di Jepang –The Grade 1 Japan Cup, sebuah balap yang diadakan di arena berumput dengan panjang lintasan 2.400 m (sekitar 1½ mil) setiap November di Tokyo Racecourse dengan kas
¥476 juta (sekitar Rp 6 miliyar), saat ini merupakan pacuan arena rumput terkaya di dunia. Perlombaan yang lain diperhitungkan yaitu February Stakes, Takamatsunomiya Kinen, Yasuda Kinen, Takarazuka Kinen, Arima Kinen, dan Tenmo Sho yang berlangsung pada musim semi dan musim gugur. Perlombaan pacuan kuda yang terkenal di Jepang adalah Nakayama Grand Jump, berlangsung setiap bulang April di Nakayama Racecourse.
h. Malaysia
Di Malaysia, pacuan kuda diperkenalkan selama era penjajahan Inggris. Ada tiga arena pacuan kuda di Malaysia, bernama Penang Turf Club, Perak Turf Club, dan Selangor Turf. Pacuan kuda di Malaysia dan Singapura dilakukan dan diatur oleh Peraturan Asosiasi Pacuan Kuda Malaya.
5. Sejarah Pacuan Kuda di Indonesia
Di Indonesia peranan kuda sampai meningkat untuk keperluan olahraga, tidak banyak berbeda dengan negara-negara lain. Tetapi peranan kuda di Indonesia lebih dekat dengan masyarakat petani, dari pada keluarga Raja. Dahulunya oleh para petani, kuda di samping untuk keperluan angkutan, juga untuk menarik bajak di sawah, di samping kerbau di beberapa daerah.
Sedang cikal bakal olahraga ketangkasan berkuda di Indonesia berawal dari menunggang kuda sambil berburu di hutan-hutan.
Kesenangan berburu dengan menunggang kuda ini masih banyak ditemukan di daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur. Di pulau Jawa, kuda di abad 16 sebelumnya menjadi simbol kemegahan para Raja dan dipergunakan untuk peperangan, yang pada gilirannya dijadikan untuk olahraga sebagai tontonan. Pada zaman Belanda, olahraga berkuda
20 dikenal rakyat melalui pacuan kuda, yang dilakukan pada hari-hari pasar atau ulang tahun Ratu Belanda. Hampir setiap daerah menjadi pusat kegiatan pacuan kuda, dan dari situlah tumbuh peternakan tradisional, yang melahirkan kuda-kuda pacu lokal, yang dikenal dengan kuda Batak, kuda Padang Mangatas, kuda Priangan, kuda Sumba, kuda Minahasa dan kuda Sandel. Daerah-daerah yang dikenal mempunyai ternak-ternak kuda tradisional adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara.
Lomba ketangkasan berkuda mulai dikenal melalui serdadu-serdadu Belanda dengan lomba lompat rintangan (Jumping). Salah satu pusat kavaleri berkuda waktu itu terletak di kota Cimahi, 10 km dari Bandung ke arah barat.
Pada zaman Belanda, organisasi olahraga kuda pacu sudah terbentuk, sesuai dengan perkembangan fasilitas gelanggang pacuan di daerah- daerah. Perkumpulan yang terkenal pada waktu itu, adalah : Bataviase en Buitenzorgse Wedloop Sociteit (BBWS), Minahasa Wedloop Societeit (MWS), Preanger Wedloop Sociteit (PWS). Setelah kemerdekaan, maka di tahun 1950 di beberapa daerah yang sebelum perang Dunia II ada perkumpulan kuda pacu, mulai menata kembali perkumpulan-perkumpulannya. Seperti di Bogor dengan Perkumpulan Pacuan Kuda Jakarta-Bogor (PPKDB) dan Perkumpulan Pacuan Kuda Priangan (PPKP) dan lain-lainnya.
a. PORDASI sebagai induk olahraga berkuda di Indonesia
Gambar 2.8. Logo PORDASI Sumber: lintasantegalwaton.blogspot.com
21 Di tahun 1953 didirikan suatu badan yang berusaha menyatukan semua perkumpulan olahraga berkuda di Indonesia, diberi nama Pusat Organisasi PONI Seluruh Indonesia (POPSI) dengan ketuanya Letkol. Singgih. Tetapi POPSI dalam perkembangannya, malahan surut dan menjadi federasi-federasi, yang akhirnya hilang begitu saja. Kemudian pada tahun 1966, berdirilah organisasi berkuda yang merupakan satu-satunya yang telah diakui oleh KONI Pusat, yaitu : Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI).
PORDASI dibentuk atas prakarsa empat daerah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara dan satu klub SEKARDIU yang dibentuk corps Kavaleri Bandung. Sebagai Ketua Umum pertama adalah Achmad Syam dari Bogor, PORDASI diakui oleh pemerintah sebagai satu-satunya organisasi induk berkuda di Indonesia, dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Olahraga tanggal 28 Oktober 1966, nomor: 016/tahun 1966. Sejak itu PORDASI selalu aktif menyelenggarakan perlombaan-perlombaan, baik dalam lomba pacuan kuda maupun lomba ketangkasan berkuda.
Dan pada tanggal 13 September 1975 Indonesia/PORDASI tercatat resmi sebagai anggota Federation Qeuestre Internasional (FEI).
Berarti PORDASI juga resmi menjadi anggota IOC (International Olympic Commite).
Selama ini PORDASI telah mengikuti beberapa kegiatan kompetisi, baik yang internasional maupun tingkat nasional. Di internasional turut terjun dalam Asian Games, SEA Games, ASEAN, FEI World Challenge dan sebagainya. Sedang tingkat nasional turut serta dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Walaupun di tingkat internasional, Indonesia belum begitu banyak berbicara, tetapi keikutsertaan PORDASI di arena Internasional, merupakan modal utama bagi perkembangan dan peningkatan prestasi olahraga berkuda Indonesia. Saat ini Komisi Equestrian Indonesia ECI – PORDASI diakui sebagai federasi nasional olahraga berkuda equestrian.
22 b. Tingkatan dan Umur Pada Pacuan Kuda
Pacuan kuda memiliki tingkat sendiri di tiap lombanya. Dan untuk berlaga di tingkat selanjutnya, kuda harus masuk posisi 5 besar pada tingkat sebelumnya. Tingkatannya adalah sebagai berikut :
Maiden Race (balapan untuk kuda pemula)
Class D (berada 1 tingkat di atas Maiden Race)
Class C (berada 1 tingkat di atas Class D)
Class B
Class A
Grade III
Grade II
Grade I (merupakan tingkatan tertinggi dalam pacuan. Grade I Race pesertanya minimal telah masuk Grade III. Dan Grade I dibagi menjadi 2 yakni untuk kuda lokal dan untuk internasional).
Dengan sistem tingkatan ini, kuda yang tidak sukses di kelasnya akan turun ke kelas di bawahnya (batasnya hingga Class D Race).
Sedangkan yang gagal masuk 5 besar, akan tetap di kelasnya.
Namun untuk kuda yang benar2 hebat maka setelah memenangi Maiden Race dapat langsung masuk Grade III Race. Dan untuk pemenang Class B & A Race dapat langsung mengikuti Grade II Race. Aturan ini tidak berlaku untuk Grade I Race karena race ini hanya diikuti oleh kuda-kuda hebat yang berpengalaman(telah mengikuti & menjuarai banyak lomba). Sedangkan umur untuk ikut lomba Flat Race (untuk Jumping Race tinggal ditambah 1 tahun) adalah :
2 tahun (mulai dapat mengikuti Maiden Race dan memiliki Grade I Race khusus untuk kuda muda.)
3 tahun (bagi kuda yang sukses di umur 2 tahun, dapat mengikuti kejuaraan 3 Grade I Race utama untuk kuda 3 tahun)
23
4 tahun (masa transisi, disini kuda sudah harus melawan yang lebih tua dari dirinya. Kebanyakan kuda2 4 tahun kalah ditangan kuda2 5 tahun yang telah matang baik skill maupun usia)
5 tahun (masa emas bagi seekor kuda pacu)
6 tahun (masa menurun, biasanya kuda2 hebat mulai pensiun dan membuat keturunan saat kondisinya masih bagus) Umumnya, kuda maksimal mengikuti lomba hingga berusia 8 tahun.
c. Kejuaraan Pacuan Kuda di Indonesia
Di Indonesia sendiri kejuaraan-kejuaraan pacuan kuda tingkat nasional ada banyak, di antaranya:
Kejurnas Pacuan Kuda PP.Pordasi (Indonesian Derby)
AE Kawilarang Memorial Cup
Jateng Derby
Tiga Mahkota-seri 1
Madura Derby/Pertiwi Cup
Bupati Bantul Cup
Minang Derby
KGPAA Pakualam IX Cup
Malut Derby
Sumpah Pemuda Cup
Sri Sultan Hamengkubuwono IX Cup
Sawahlunto Derby
Pangdam Jaya Cup
Cinta Indonesia Open
Selain kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional, perlombaan- perlombaan pacuan kuda tradisional juga dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.
d. Arena Pacuan Kuda di Indonesia
Kejuaraan-kejuaraan pacuan kuda besar di Indonesia di antaranya diadakan di beberapa arena pacuan kuda berikut:
24
Pulomas Race Course, Jakarta Timur, DKI Jakarta
Legok Jawa, Pangandaran, Jawa Barat
Tegalwaton, Semarang, Jawa Tengah
Gelanggang Maesa, Manado, Sulawesi Utara
APM Equestrian Centre, Tangerang, Banten
Sultan Agung Racecourse, Bantul, Yogyakarta 6. Sejarah Pacuan Kuda di Sulawesi Selatan
Olahraga berkuda di Sulawesi Selatan mulai dikenal dan dipertandingkan sejak masa kerajaan-kerajaan masih menguasai wilayah Sulawesi Selatan ini, tetapi terbatas pada acara pacuan kuda tradisional. Pada akhir tahun 1960-an sampai awal tahun 1970-an olahraga ini sangat berkembang kemudian mengalami kemunduran.
Pada sekitar tahun 1980-an hingga awal 1990-an olahraga ini mulai dikembangkan kembali, namun setelah itu, olahraga ini kemudian mengalami kemunduran seiring dengan kepengurusan PORDASI sebagai organisasi yang mengurus keberadaan olahraga berkuda itu sendiri terasa mati.
Studi Literatur
1. Tokyo Racecourse
Gambar 2.9. Tampak atas Tokyo Racecourse Sumber: japanracing.jp
Tokyo Racecourse berada di Fushu, Tokyo, Jepang. Dibangun pada tahun 1933 dan dianggap sebagai “Arenanya Arena Pacuan Kuda” di Jepang. Arena ini berkapasitas 223.000 orang, dengan kursi sebanyak 13.750. Tokyo Racecourse merupakan tuan rumah berbagai pacuan G1
25 (Grade 1) termasuk Japan Cup, Tokyo Yushun (Japanese Derby) dan Yasuda Kinen, yang merupakan bagian dari Asian Mile Challenge.
Gambar 2.10. Denah trek balap Tokyo Racecourse Sumber: japanracing.jp
Trek rumput Tokyo Racecourse sepanjang 2.083m dengan dua jalur 1.800 m dan 2.000 m. Trek tanah sepanjang 1.899 m. Trek balap rintang sepanjang 1.675 m.
Gambar 2.11. Tribun Tokyo Racecourse Sumber: metropolis.co.jp
Fasilitas-fasilitas utama yang ada di arena ini yaitu kandang kuda, tribun penonton, hall. Ada juga fasilitas-fasilitas pendukung seperti stan, restaurant andfast food, museum, taman bermain, parade ring area, riding center, dan lain-lain.
2. Flemington Racecourse
26
Gambar 2.12. Tampak atas Flemmington Racecourse Sumber: www.rogergould.com.au
Flemington Racecourse merupakan arena pacuan kuda besar yang berlokasi di Melbourne, Victoria, Australia. Yang merupakan tuan rumah dari Melbourne Cup, kejuaraan pacuan kuda yang termahal di Australia. Luas dari Flemmington Racecourse 1,27 hektar dan telah digunakan untuk pacuan kuda sejak tahun 1840. Arena pacuan kuda ini berkapasitas lebih dari 120.000 orang.
Gambar 2.13. Tribun atas Flemmington Racecourse Sumber: www.austadiums.com
Jenis-jenis pacuan kuda yang dipertandingkan di sini, yaitu balap biasa dan balap rintang. Treknya sepanjang 2.322 m dengan arah balapan berlawan dengan arah jarum jam.
Selain fasilitas pacuan kuda utama yang umum, tersedia juga fasilitas-fasilitas pendukung seperti lounge area, taman bunga, stan, restoran, taman bermain, monitor outdor, dan lain-lain.
3. Pulomas Racecourse
27
Gambar 2.14. Tribun Pulomas Racecourse Sumber: echarenjana.blogspot.com
Pulomas Racecourse merupakan arena pacuan kuda terbaik di Indonesia yang berada di Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia.
Pulomas Racecourse berdiri sejak tahun 1972 lalu di kelola oleh PT.
Pulomas Jaya, sejak tahun 2006 sudah diadakan balapan rutin setiap bulannya yang diikuti dari kuda berbagai penjuru Indonesia.
Gambar 2.15. Lapangan Pulomas Racecourse Sumber: echarenjana.blogspot.com
Renovasi pada tahun 2006 menjadikan pacuan kuda ini semakin megah dengan penambahan fasilitas seperti penambahan kandang kuda dari 290 menjadi 353 kandang. Asrama perawat kuda dan joki yang semula 40 unit akan ditingkatkan menjadi 96 unit. Fasilitas equestrian (berkuda) maupun tunggang serasi juga akan dibangun dengan luas 5.500 meter persegi. Rinciannya, untuk outdoor 1.700 meter persegi dan selebihnya untuk indoor. Tidak hanya itu, lanjut dia, tribun akan diperbaiki agar dapat menampung 1.000 orang. Fasilitasnya menjadi 5
28 lantai dan tiap lantai ber-AC. Luasnya dari 700 meter menjadi 750 meter.
Dan juga lapangan golf seluas 25 hektar di tengah-tengah pacuan kuda.
29 4. Kesimpulan Studi Literatur
No.. Nama Luas Kapasitas Jenis Olahraga
Berkuda
Fasilitas
1.
Tokyo Racecourse
(Fushu, Tokyo, Jepang) 61 ha 223.000 orang
- Balap Biasa (turf dan dirt)
- Balap Rintang (steeplechase)
- Trek balap biasa - Stable horse
- Loket penjualan tiket - Loket informasi - Tribun penonton - Betting points - Museum - Restaurant
- Cafe dan Food court - Ruang pameran - Ruang relaksasi - Ruang anak - Audio visual Hall - Toko
- ATM
- TV layar besar - Taman bermain - Parkiran
30 2.
Flemington Racecourse (Melbourne, Victoria, Australia)
125 ha 120.000 orang
- Balap Biasa (turf dan dirt)
- Balap Rintang (steeplechase)
- Trek balap biasa - Stable horse
- Loket penjualan tiket - Loket informasi - Tribun penonton - Betting points - Restaurant
- Cafe dan Food court - Bar
- Toko - ATM - Taman - Helipad - Parkiran
3.
Pulomas Racecourse
(Jakarta Timur, DKIJakarta, Indonesia)
44 ha 30.000 orang - Balap Biasa (dirt)
- Trek balap biasa - Stable horse
- Loket penjualan tiket - Loket informasi - ATM
- Taman - Parkiran
31 Dari studi literatur di atas, hal yang dapat diterapkan ke dalam Pacuan Kuda di Jeneponto adalah,
Jenis balap yang diadakan adalah balap biasa dan balap rintang (steeplechase) di mana treknya berupa turf (rumput) dan dirt (tanah).
Tribun pacuan kuda ini akad dirangkaikan dengan fasilitas- fasilitas aula, loket, ATM, restoran, dan sebagainya. Adapun fasilitas penunjang untuk kuda sendiri di tempatkan di area berbeda.
32
BAB III
TINJAUAN KHUSUS
Tinjauan Kabupaten Jeneponto 1. Keadaan Geografis
Gambar 3.1. Peta Kabupaten Jeneponto Sumber: Jeneponto Dalam Angka 2015
Kabupaten Jeneponto terletak di ujung bagian barat dari wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan merupakan daerah pesisir pantai yang terbentang sepanjang ± 95 di bagian selatan. Secara geografis terletak diantara 50°23’12” – 50°42’1,2” Lintang Selatan dan 119°29’12” – 119°56’44,9” Bujur Timur. Kabupaten Jeneponto berbatasan dengan Kabupaten Gowa di sebelah Utara, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng.
Kabupaten Jeneponto memiliki wilayah seluas 74.979 ha atau 749,79 km2. Luas Wilayah Kabupaten Jeneponto tersebut bila dilihat dari jenis penggunaan tanahnya, maka penggunaan tanah yang terluas pertama tahun 1999 adalah Tegalan/Kebun seluas 35.488 ha atau 47,33%, terluas kedua adalah Sawah Panen Satu Kali seluas 12.418 ha atau 16,56%, terluas ketiga adalah Hutan Negara seluas 9.950 ha atau 13,27%, sedangkan penggunaan tanah untuk Pekarangan seluas 1.320
33 ha atau 1,76% dan yang terendah adalah Ladang / Huma seluas 31 ha atau 0,04%.
2. Keadaan Topografi dan Iklim
Kondisi topografi tanah wilayah Kabupaten Jeneponto pada umumnya memiliki permukaan yang sifatnya bervariasi, ini dapat dilihat bahwa pada bagian Utara terdiri dari dataran tinggi dan bukit- bukit yang membentang dari Barat ke Timur dengan ketinggian 500 sampai dengan 1.400 meter diatas permukaan laut. Daerah ini cocok bila dijadikan sebagai areal pengembangan tanaman hortikultura dan sayur- sayuran.
Dibagian tengah Kabupaten Jeneponto meliputi wilayah-wilayah dataran dengan ketinggian 100 sampai dengan 500 meter diatas permukaan laut, dan bagian selatan meliputi wilayah-wilayah dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai dengan 100 meter di atas permukaan laut.
Ditinjau dari klasifikasi iklim maka Kabupaten Jeneponto memiliki beberapa tipe iklim, tipe iklim tersebut adalah :
1. Tipe iklim D3 dan Z4 yaitu wilayah memiliki bulan kering secara berurutan berkisar 5 – 6 bulan sedangkan bulan basah 1 – 3 bulan.
2. Tipe iklim C2 yaitu wilayah memiliki bulan basah 5 – 6 bulan dan bulan lembap 2 – 4 bulan. Tipe ini dijumpai pada daerah ketinggian 700 – 1.727 m di atas permukaan laut yakni pada wilayah kecamatan Kelara.
Keadaan musim di Kabupaten Jeneponto pada umumnya sama dengan keadaan musim di daerah Kabupaten lain dalam Propinsi Sulawesi Selatan. Yang dikenal dengan 2 (dua) musim yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim Hujan terjadi antara Bulan November sampai dengan Bulan April sedangkan musim kemarau terjadi antara Bulan Mei sampai dengan Bulan Oktober.
Curah hujan di wilayah Kabupaten Jeneponto pada umumnya tidak merata, hal ini menimbulkan adanya wilayah daerah basah dan wilayah
34 semi kering. Curah hujan di Kabupaten Jeneponto yang tertinggi tahun 1999 jatuh pada Bulan Januari sedangkan curah hujan terendah atau terkering terjadi pada Bulan Juni, Agustus, September dan Oktober.
3. Kependudukan
Tercatat bahwa jumlah penduduk Kabupaten Jeneponto tahun 2014 sebanyak 353.287 jiwa yang terdiri dari 170.873 laki laki dan 182.414 perempuan. Jumlah penduduk terpadat berada di Kecamatan Binamu sebanyak S4.633jiwa. Dengan luas wilayah sebesar 749,79 km2, rata- rata kepadatan penduduk sebesar 47l jiwa per km2.
Tabel 3.1. Tabel Data Penduduk di Kab. Jeneponto
Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Jeneponto 2015
4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jeneponto
Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Jeneponto adalah mewujudkan penataan ruang wilayah kabupaten yang aman, nyaman,
35 dan memenuhi kebutuhan pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya, yang berwawasan lingkungan dengan memperhatikan pengembangan wilayah pesisir, dataran rendah dan dataran tinggi, mengoptimalkan sumber daya lahan yang ada, dan mengatasi masalah sumber daya air pada lahan budidaya melalui penciptaan peluang alokasi investasi secara efisien, bersinergi antar wilayah, dan optimalisasi sumber daya wilayah yang ada menuju tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Pacuan kuda dalam RTRW Kabupaten Jeneponto disinggung dalam Paragraf 7 tentang Kawasan Peruntukan Pariwisata Pasal 40 ayat 4.
Yang berbunyi:
(4) Kawasan peruntukan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. Bintang Karaeng Resort di Kecamatan Binamu;
b. Kawasan Tambak Garam Tradisional Nassara di Kecamatan Bangkala;
c. Kawasan Tambak Garam tradisional Arungkeke di Kecamatan Arungkeke;
d. Arena Pacuan Kuda di Kecamatan Bangkala; dan e. Anjungan Pantai Arungkeke di Kecamatan Arungkeke.
Gambar 3.2. Peta Pola Ruang Wilayah Kabupaten Jeneponto
36
Sumber: RTRW Kabupaten Jeneponto Tahun 2012-2031
5. Hotel dan Pariwisata
Kabupaten Jeneponto merupakan daerah perlintasan antar kabupaten, hal ini memiliki fungsi strategis bagi pelaku usaha khususnya akomodasi dan penginapan. Selama tahun 2014 terdapat hotel tambahan sehingga jumlah hotel menjadi 11 hotel, dimana ke semuanya merupakan jenis hotel melati. 6 Diantaranya terkategorikan sebagai hotel melati dan sisanya melati lainnya.
Dalam kurun waktu 2014 tingkat hunian hotel mengalami peningkatan tajam hal ini disebabkan pola ekonomi yang melintasi daerah Kab. Jeneponto cukup signifikan selain itu beberapa hotel juga sudah menerapkan sistem administrasi yang cukup memadai sehingga mampu mengontrol semua tamu yang menginap. Selama tahun 2014 terdapat 69 orang di antaranya adalah turis mancanegara (Australia, Belanda, Amerika Serikat, Inggris).
Gambar 3.3. Diagram Jumlah Tamu dan Jumlah Hotel di Kab. Jeneponto Sumber: Statistik Perhotelan Kab. Jeneponto 2015
Selain akomodasi penginapan, perlu diperhatikan pula akomodasi makanan, pada tahun 2014 tercatat jumlah rumah makan/restoran di Jeneponto meningkat sebesar 17 persen menjadi 349 unit rumah makan.
37 Peningkatan ini Seiring bertambahnya nilai tambah di PDRB sebesar 12 persen.
6. Peternakan
Kabupaten Jeneponto yang dikenal dengan kudanya, telah lama menjadi daerah penyedia ternak kuda terbesar di Sulawesi Selatan.
Adapun kecamatan penyedia kuda terbanyak pada tahun 2014 adalah kecamatan Kelara dengan jumlah 14.573 ekor, yang disusul oleh kecamatan Bangkala dengan jumlah 9.543 ekor.
Tabel 3.2. Tabel Data Populasi Ternak di Kab. Jeneponto Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Jeneponto 2015
Perkembangan Olahraga Berkuda di Jeneponto
38
Gambar 3.4. Lambang Kab. Jeneponto Sumber: www.logokabupaten.com
Potensi olahraga berkuda di Jeneponto sangat besar. Ini terlihat di setiap kejuaraan yang diadakan di Jeneponto. Seperti Kejuaraan Bangkala Cup I yang diikuti 95 ekor kuda dari berbagai daerah seperti; Jeneponto, Takalar, Bantaeng, Makassar dan Polman (Sulawesi Barat), joki yang berjumlah orang, dan penonton yang berjumlah ribuan orang.
Terdapat dua pacuan kuda populer di Jeneponto yaitu di Bontosunggu dan Bangkala dengan beberapa kategori lomba, mulai dari jarak lari 700 meter, 900 meter, 1.000 meter dan 1.200 meter. Di Jeneponto sendiri terdapat pasar kuda yang berada di kelurahan Tolo, kecamatan Kelara.
Di Jeneponto populasi ternak kuda pada tahun 2014 sebanyak 72.073 ekor dengan tingkat pertumbuhan rata-rata berkisar 16%. Jika para peternak kuda mengembangkan ternak kuda unggul (Thouroughbred) agar dapat menghasilkan kuda yang bermutu tinggi dan terlatih yang dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan bagi para peternak kuda.
Tinjauan Pengadaan Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto 1. Peranan Stadion Pacuan Kuda
Peranan stadion pacuan kuda mempunyai masalah yang kompleks yang menunjukkan kaitannya dengan segi prestasi, pembinaan dan pembibitan atlet, di samping itu juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan .sumber pendapatan peternak di daerah-daerah yang berperan sebagai pelaksana program peternakan silang kuda pacu seperti yang dianjurkan pemerintah selama 22 tahun terakhir ini.
2. Maksud dan Tujuan
39 Adapun maksud dan tujuan dari Stadion Pacuan Kuda di Jeneponto adalah
a. Maksud dan Tujuan di Bidang Olahraga
Meningkatkan minat dan antusias masyarakat terhadap olahraga berkuda.
Memberikan fasilitas perawatan kepada kuda-kuda pacu.
Menjadi basis perpacuan kuda di Sulawesi Selatan.
b. Maksud dan Tujuan di Bidang Pariwisata
Menjadi tujuan wisata hobi bagi warga sekitar, masyarakat Indonesia, dan juga masyarakat Internasional.
c. Maksud dan Tujuan Arsitektural
Menjadi Landmark Kabupaten Jeneponto.
Memberikan fasilitas pacuan yang nyaman dan aman bagi para joki.
Memberikan fasilitas yang aman, nyaman dengan view yang baik bagi para penonton.
3. Sistem Pengelolaan dan Lingkup Pelayanan a. Sistem pengelolaan
Anggapan dasar ini dipertimbangkan terhadap:
Keterangan yang diperoleh dari pengurus PORDASl Pusat dan Pengda PORDASI Sulawesi Selatan.
Kedudukan PORDASI sebagai induk organisasi olahraga berkuda Indonesia.
Koordinasi kerja dan sistem pengelolaan PORDASl.
Maka diasumsikan Stadion Pacuan Kuda dikelola oleh suatu yayasan di bawah naungan Pemda Provinsi Sulawesi Selatan di mana duduk donator-donator dan pimpinan pengurus harian Pengda PORDASl Sulawesi Selatan. Yayasan tersebut melaksanakan kegiatan sehari-hari menyangkut pembiayaan dan pengelolaan.
Dari pimpinan pengurus harian, dibentuk lagi staf-staf pengurus harian yang mengkoordinir pengelolaan.
b. Lingkup pelayanan