Hal:80-90
Research and Development untuk Mengoptimalkan
Kemampuan Membaca Anak Retardasi Mental Berbasis Audio Video
Alexander Dharmawan1), Ana Wahyuni2)
1),2)Fakultas Ilmu Komputer Universitas AKI [email protected], [email protected]
Abstrak- Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pendidikan sebenarnya memerlukan pelayanan khusus (special education) sesuai bentuk dan derajat kesulitannya, seperti pada anak-anak retardasi mental. Karakteristik penyimpangan tingkah laku anak retardasi mental hanya sedikit dibawah normal. Gangguan perkembangan motorik, sosial, dan bahasa pada awalnya tidak diketahui.Gangguan ini baru diketahui ketika anak mulai masuk sekolah.Kesulitan belajar mulai tampak di suatu bidang khusus, misalnya membaca atau secara umum pada semua mata pelajaran.
Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan kemampuan membaca pada anak-anak retardasi mental ringan (mampu didik). Metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development) yaitu mengembangkan software untuk pembelajaran membaca pada anak retardasi mental ringan. Pembelajaran berbasis audio video diberikan secara individual yang memerlukan pendampingan guru atau orangtua sehingga terjadi proses belajar yang aktif, interaktif dan dapat mengoptimalkan kemampuan kognitf anak retardasi mental ringan. Hasil dari penelitian ini adalah software pembelajaran membaca untuk anak retardasi mental ringan berbasis audio video.
Kata kunci : Retardasi mental, penelitian dan pengembangan, audio video PENDAHULUAN
Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu modal utama dalam menunjang pembangunan di segala bidang. Dalam rangka meningkatkan kualitas SDM, pemerintah menggalakkan sektor pendidikan melalui program wajib belajar. Sebagai sasaran program wajib belajar 9 tahun adalah anak usia sekolah
7-16 tahun. Namun pada
pelaksanaannya ada anak usia sekolah yang berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan belajar.
Pada dunia pendidikan, anak- anak yang mengalami kesulitan mengikuti proses pendidikan sehingga memerlukan pelayanan khusus (special education) sesuai bentuk dan derajat
kesulitannya disebut dengan educationally handicapped (Hallahan dan Kauffman, 1991).Anak-anak berkesulitan belajar mengalami gangguan dalam berbahasa meliputi ekspresif dan reseptif. Ekspresif yaitu kemampuan mengemukakan ide atau pesan secara lisan dan reseptif yaitu kemampuan menangkap ide atau pesan orang lain yang disampaikan secara lisan.
Anak-anak berkesulitan belajar/ ketidakmampuan intelektual atau keterbelakangan mental adalah hasil diagnosis psikologis yang didapatkan dari hasil pengukuran psikologis yaitu menurut tingkat IQ.
Tingkatan keterbelakangan mental menurut APA (American Psychiatric Association), diklasifikasikan menjadi mild retardation/ ringan (tingkat IQ 50 atau 55 sampai 70),moderate mental retardation/ menengah (tingkat IQ 35 atau 40 sampai 50 atau 55), severe mental retardation/ berat (tingkat IQ 20 atau 25 sampai 35 atau 40) dan profound mental retardation/ sangat berat(tingkat IQ dibawah 20 atau 25).
Anak-anak retardasi mental ringan mempunyai hak yang sama seperti anak normal. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang sama dan kebuthan spesifik tertentu yang
apabila terpenuhi, mereka akan menjadi manusia total terintegrasi. Prinsip yang sama berlaku pula pada anak retardasi mental kecuali bahwa anak-anak retardasi mental lebih memerlukan perangkat kebutuhan yang lebih kompleks. Kebutuhan-kebutuhan yang lebih kompleks tersebut menjadi tanggung jawab bersama khususnya keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Dalam hal pembelajaran, mereka lebih membutuhkan media pembelajaran yang bisa memfokuskan perhatian, jika dibandingkan dengan anak-anak yang normal. Media pembelajaran paling besar pengaruhnya bagi indra dan lebih dapat menjamin pemahaman siswa, mendengarkan saja tidak sama tingkat pemahamannya dan lamanya bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya (Arsyad A, 2002, 16). Salah satu media pembelajaran yang sesuai untuk anak retardasi mental ringan adalah berbasis audio video.
Penelitian ini ditujukan pada anak-anak retardasi mental pada hasil pengukuran IQ 50 sampai 70 yang bermanfaat untuk :
1. Mengoptimalkan kemampuan membaca anak retardasi mental khususnya dapat menjadi model pembelajaran pada SDLB di Semarang. Tingkat IQ sebagian besar anak berkesulitan belajar yang ada pada SLB di Semarang berada padatingkat ringan.
2. Memenuhi kebutuhan media pembelajaran untuk latihan membaca dan sekolah belum ada media tersebut. Tambah lagi tidak ada tempat misalnya toko buku atau compact disk/ cd yang menjual media pembelajaran untuk anak retardasi mental.
3. Memenuhi kebutuhanmedia pembelajaran yang mudah/ sesuai dengan kemampuan anak retardasi mental yaitu dengan media yang berbasis audio video.Anak-anak tersebut lebih membutuhkan media pembelajaran yang berbasis audio video jika dibandingkan dengan anak-anak yang normal.
4. Memenuhi hak anak retardasi mental untuk dapat membaca. Kemampuan membaca merupakan salah satu modal untuk mempelajari hampir semua ilmu. Kemampuan membaca pada semua orang tidak terkecuali anak retardasi mental adalah hak
yang harus dipenuhi dan menjadi tanggung jawab bersama.
5. Sebagai salah satu wujud tanggung jawab Unaki untuk membantu memenuhi hak anak retardasi mental dalam hal kemampuan membaca.
Hal ini karena tidak banyak pihak yang memberi perhatian pada anak- anak tersebut yang notabene mempunyai hak yang sama untuk mendapat pendidikan dalam hal kemampuan membaca.
6. Menjadi salah satu inovasi dalam metode pembelajaran yang belum ada dan belum banyak pihak yang memberikan perhatian untuk anak retardasi mental ringan.
METODE PENELITIAN
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah adalah salah satu metode penelitian yang merupakan rangkaian proses atau langkah-langkah dalam rangka mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat dipertanggung jawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di
laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model- model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, sistem manajemen, dan lain-lain.(Surya Dharma, MPA., Ph.D, 2008) Metode penelitian dan pengembangan (Research and development) pada penelitian ini yaitu mengembangkan software untuk pembelajaran membaca pada anak retardasi mental
ringan.Pembelajaran tersebut berbasis audio video yang diberikan secara individual dan memerlukan pendampingan guru atau orangtua sehingga dapat meningkatkan kemampuan membaca anak retardasi mental ringan.
Tahap-Tahap Penelitian
Berdasarkan kajian telaah pustaka dan penelitian terdahulu, maka dikembangkan bagan alir tahap-tahap penelitian yang diberikan pada gambar 1 sampai 2.
Gambar 1. Tahap Penelitian Pendahuluan Survey kemampuan dan kebutuhan membaca anak retardasi mental ringan di SDLB Semarang
Wawancara dengan guru SDLB mengenai standar kompetensi, kompetensi dasar, hambatan dan kekurangan metoda membaca dengan pembelajaran konvensional
Solusi melalui media pembelajaran audio video
Media pembelajaran audio video yang diharapkan
Sedangkan kelanjutan dari penelitian pendahuluan yang diberikan pada gambar 2 yaitu proses pembuatan
progam media pembelajaran yang diberikan pada gambar 3.
Start
Pembuatan animasi
Penentuan objek video
Perekaman suara dan gambar video
Upload suara dan video Coding program
Pembuatan program executable
Input materi membaca
Media
pembelajaran
End
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Kegiatan Survey dan Wawancara
Anak retardasi mental/
tunagrahita ringan yang masuk di SDLB C di Semarang mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Anak yang memiliki IQ antara 50- 70
b. Anak mampu didik
c. Anak dapat dimasukkan ke kelas khusus maupun reguler
d. Kemampuan setara anak normal umur 8-12 tahun
e. Dapat membaca, menulis, berhitung sederhana, dan melakukan aktivitas lain.
Hasil dari kegiatan survey kemampuan dan kebutuhan pada pembelajaran membaca anak retardasi mental ringan 6 SDLB di Semarang diberikan pada tabel 4.1.
Tabel 1. Identifikasi kemampuan dan kebutuhan pembelajaran membaca anak retardasi mental ringan SDLB di Semarang
No. Kemampuan dan keterbatasan anak retardasi mental dalam pembelajaran membaca
Kebutuhan pembelajaran membaca
1 Keterbatasan kemampuan artikulasi, kualitas suara dan ritme
Membutuhkan banyak
pengulangan terutama dalam membaca huruf vokal pada contoh kata sederhana. Dalam pembelajarannya diperlukan latihan membaca huruf atau kata dengan jelas dan berulang-ulang 2 Tidak mampu/ kesulitan menggunakan dan
memahami kalimat majemuk
Lebih banyak contoh menggunakan kalimat tunggal Gambar 2 Bagan Alir Pembuatan Program Media Pembelajaran
3 Keterbatasan dalam kemampuan perkembangan morfologi (membentuk kata)
Lebih banyak contoh menggunakan kalimat berimbuhan (awalan atau akhiran)
4 Keterbatasan dalam kemampuan tata bahasa/
sintaksis (peraturan membuat kalimat, misal subyek, predikat, obyek)
Lebih banyak contoh menggunakan kalimat tunggal sederhana
5 Keterbatasan dalam kemampuan perbendaharaan kata/ vocabulary
Lebih banyak menggunakan kata-kata positif dan kongkrit yang bersifat umum dan sering dipakai sehari-hari. Hampir tidak menggunakan :
Kata-kata yang bersifat khusus
Kata ganti
Kata berbentuk tidak tunggal
Kata-kata yang bervariasi
6 Keterbatasan dalam kemampuan semantik (kata dengan makna khusus, misalnya sinonim)
Lebih banyak contoh menggunakan kalimat tunggal
7 Keterbatasan dalam kemampuan kecepatan membaca per menit
Mengajarkan dengan beberapa kali pengulangan materi
8 Keterbatasan dalam kemampuan memanfaatkan informasi/ isyarat yang diberikan untuk membaca kata atau kalimat
Menggunakan strategi memproses verbal recall
Kesulitan membaca dan menafsirkan kata/
kalimat (dyslexia) misalnya kesulitan mendengar bunyi dari suatu kata, kesulitan bermain kata-kata yang berirama, kebingungan dalam menghadapi kata-kata yang mirip, kesulitan mengenal huruf
Menggunakan contoh video/
gambar yang sering dijumpai sehari-hari
9 Keterbatasan dalam kemampuan berkonsentrasi pada suatu materi pembelajaran
Menggunakan latihan dengan
pengulangan yang
mengutamakan immediate memory (hal mengingat yang bersifat segera).
Pengorganisasian bahan yang akan dipelajari dari yang sejenis dan sederhana secara bertahap sampai bahan yang lebih bervariasi.
11 Keterbatasan penggunaan gaya belajar (auditif) yang mempunyai karaketistik :
Belajar dengan mendengarkan dan
mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
Menggunakan gaya belajar yang sepadan dengan kemampuan kognitif anak
Media pembelajaran yang dibangun pada penelitian ini berbasis audio video yang meliputi pembelajaran membaca huruf vokal, konsonan, dua suku kata, kata sederhana dan kosa kata yang terdiri dari kalimat sederhana.
Dilengkapi pula dengan petunjuk untuk
guru atau pendamping, permainan, evaluasi dengan berbagai animasi, video dan musik yang berguna untuk membuat pembelajaran yang fokus dan menyenangkan. Contoh tampilannya diberikan pada gambar berikut.
Gambar 3. Contoh Tampilan Awal
Gambar 4. Contoh Tampilan Membaca Huruf
Gambar 5. Contoh Tampilan Membaca Suku Kata
Gambar 6. Contoh Tampilan Membaca Kata Sederhana Melalui Video SIMPULAN
Model pembelajaran membaca pada anak-anak retardasi mental ringan (mampu didik) sangat memerlukan media berbasis audio video.
Pembelajaran berbasis audio video diberikan secara individual yang memerlukan pendampingan guru atau orangtua sehingga terjadi proses belajar yang aktif dan interaktif. Metode penelitian dan pengembangan (Research and development) digunakan untuk mengembangkan software pembelajaran membaca pada anak retardasi mental ringan. Hasil dari penelitian ini adalah software pembelajaran membaca untuk anak retardasi mental ringan berbasis audio video. Media pembelajaran hasil penelitian ini dapat digunakan di SDLB ataupun di luar lembaga pendidikan formal misalnya di rumah dengan
pendampingan dan bimbingan orang tua atau pembimbing khusus.
DAFTAR PUSTAKA
American Association for Mental Retardation.(AAMR). (2002).
Definition of mental retardation and fact sheet: Frequently asked questions about mental retardation.
American Psychiatric Association.
(2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorders-IV-TR (4th ed.).
Washington, DC: Author.
Arsyad, A. 2002. Media Pengajaran.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Beukelman, D., & Mirenda, P. (2005).
Augmentative and alternative communication: Supporting children and adults with complex communication needs (3rd ed.). Baltimore: Brookes.
Cavallini, F., Berardo, F., & Perini, S.
(2010).Mental Retardation and Reading Rate : effect of Precision Teaching. Life Span and Disability/ XIII, 1, 87-101.
Dharma Surya. (2008). Metodelogi Penelitian Pendidikan, Alfabeta, Bandung.
Erickson, K. A., & Koppenhaver, D. A.
(1995).Developing a literacy program for children with severe disabilities.The Reading Teacher, 48, 676-84.
Heward, W. L. 2003. Ten faulty notions about teaching and learning that hinderthe effectiveness of special education. The Journal of Special Education, 36 (4), 186-205.
Maslim, 2002. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). III. Indonesia.
Joseph, L. M., & McCachran, M.
(2003).Comparison of a word study phonics technique between students with moderate and mild mental retardation and struggling readers without disabilities.Education and Training in Developmental Disabilities, 38, 192-199
Kaplan, R.B. 1997. Language Planning:
From Practice to Theory.
Clevedon, UK: Multilingual Matters.
Katims, D. S. (2000). Literacy instruction for people with mental retardation: Historical highlights and contemporary analysis. Education and
Training in Mental Retardation and Developmental Disabilities, 35, 3-15.