• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN NY. N DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG DEWI KUNTI RSJ PROF DR SOEROJO MAGELANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN NY. N DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG DEWI KUNTI RSJ PROF DR SOEROJO MAGELANG"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN NY. N DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI:

HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG DEWI KUNTI RSJ PROF DR SOEROJO MAGELANG

Rodini, Thoyibah

Akademi Keperawatan Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat, Indonesia Email: rodini@akperbuntetpesantren.ac.id, thoyibahalihsaen@gmail.com Abstrak

Halusinasi merupakan suatu gejala gangguan jiwa di mana klien merasakan suatu stimulus yang sebenarnya tidak ada. Klien mengalami perubahan sensoripersepsi;

merasakan sensasi palsuberupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penciuman. Pada gangguan halusinasi penglihatan misalnya, klien melihatsuatu bayangan menakutkan, padahal tidak ada bayangan tersebut. Salah satumanifestasi yang timbul adalah halusinasi membuat klien tidak dapat memenuhi kehidupannya sehari-hari. Halusinasi merupakan salah satu dari sekian bentuk psikopatologi yang paling parah dan membingungkan. Secara fenomenologis, halusinasi adalah gangguan yang paling umum dan paling penting. Selain itu, halusinasi dianggap sebagai karakteristik psikosis. Cukup tingginya jumlah klien yang dirawat dengan masalah utama Gangguan Halusinasi Pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Prof Dr Soerojo Magelang yaitu bulan Agustus 2020 – Desember 2020, maka dibutuhkan perawat untuk melakukan asuhan keperawatan dengan memperhatikan aspek bio-psikososial- kultur dan spiritual, merupakan hal pokok yang melatar belakangi penulis mengambil kasus Gangguan Halusinasi Pendengaran. Tujuan dari penulisan Laporan Studi Kasus ini adalah memperoleh pengalaman nyata dalam merawat atau melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Halusinasi Pendengaran dengan menggunakan tahap- tahap proses keperawatan. Metode yang digunakan dalam penulisan Laporan Studi Kasus ini menggunakan metode deskriptif yaitu wawancara, observasi, study dokumentasi dan literatur. Diagnosa keperawatan yang didapat yaitu Halusinasi Pendengaran. Untuk dapat mencapai hasil yang optimal bisa dicapai yaitu apabila proses keperawatan dilakukan secara komprehensif yang ditunjang oleh adanya kerja sama dengan klien, keluarga, perawat dan tim kesehatan lainnya sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai.

Kata kunci: gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran.

Abstract

Hallucinations are a symptom of mental disorders in which the client feels a stimulus that is not actually there. The client experiences changes in sensoriperception; feel false sensations of sound, sight, taste, touch, or smell. In visual hallucinations, for example, the client sees a frightening image, even though there is no such shadow. One of the manifestations that arise is hallucinations that make the client unable to fulfill his daily life. Hallucinations are one of the most severe and confusing forms of psychopathology.

Phenomenologically, hallucinations are the most common and most important disorder.

In addition, hallucinations are considered a characteristic of psychosis. The high

(2)

Asuhan Keperawatan Ny. N dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Ruang Dewi Kunti RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang

number of clients who are treated with the main problem of Hearing Hallucinations at the Prof Dr Soerojo Mental Hospital Magelang, namely August 2020 - December 2020, requires nurses to carry out nursing care by paying attention to bio-psychosocial- cultural and spiritual aspects, which are the main things that need to be addressed. the background of the author taking the case of Hearing Hallucinations. The purpose of writing this case study report is to gain real experience in caring for or providing nursing care to clients with auditory hallucinations by using the stages of the nursing process. The method used in writing this case study report uses descriptive methods, namely interviews, observations, documentation and literature studies. The nursing diagnosis obtained is auditory hallucinations. To be able to achieve optimal results, it can be achieved if the nursing process is carried out comprehensively which is supported by collaboration with clients, families, nurses and other health teams so that what is expected can be achieved.

Keywords: auditory hallucinations sensory perception

Pendahuluan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehat adalah suatu keadaan yang sempurna, baik fisik, mental dan sosial serta bukan saja keadaan terhindar dari sakit maupun kecacatan. Kriteria kesehatan jiwa meliputi, Sikap positif terhadap diri sendiri merupakan individu dapat menerima dirinya secara utuh, menyadari adanya kelebihan dab kekurangan dalam diri dan menyikapi kekurangan atau kelemahan tersebut dengan baik. Tumbuh kembang dan beraktualisasi diri merupakan individu mengalami perubahan ke arah yang normal sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan dan dapat mengekspresikan potensi dirinya. Integrasi merupakan Individu menyadari bahwa semua aspek yang dimilikinya adalah satu kesatuan yang utuh dan mampu bertahan terhadap stress dan dapat mengatasi kecemasannya.

Persepsi sesuai kenyataan merupakan pemahaman individu terhadap stimulus eksternal sesuai dengan kenyataan yang ada. Persepsi individu dapat berubah jika ada informasi baru, dan memiliki empati terhadap perasaan dan sikap orang lain. Otonomi merupakan individu dapat mengambil kepututsan sacara bertanggung jawab dan mengatur kebutuhan yang menyangkut dirinya tanpa bergantung pada orang lain.

Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi perasaan sejahtera secara subyektif, suatu penilaian diri tentang perasaan mencakup aspek konsep diri, kebugaran dan kemampuan pengendalian diri. Indicator mengenai keadaan sehat mental/ psikologis /jiwa yang minimal adalah individu tidak merasa tertekan atau depresi. (Teguh Purwanto , 2015)

Satu dari empat orang atau sekitar 25% warga jawa tengah mengalami gangguan jiwa ringan. Sedangkan kategori gangguan jiwa berat rata-rata 1,7 per mil atau kurang lebih dua belas ribu orang. Kondisi tersebut harus mendapatkan penanganan serius dari pemerintah maupun masyarakat karena berpengaruh terhadap penurunan produktivitas masyarakat.

(3)

“Kurang lebih 25 persen warga pada 35 daerah di Jateng, atau satu di antara empat orang, mengalami gangguan jiwa ringan. Sedangkan gangguan jiwa berat rata-rata 1,7 per mil.

Penyebab mereka terkena ganguan jiwa, multifaktor. Sedangkan pencetusnya bisa karena kemiskinan, gejolak lingkungan, atau masaalah keluarga,” terang Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah dr Amino Gondohutomo, dr Sri Widyayati pada Acara Pengarahan Bersama Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP di RSJD dr Amino Gondohutomo, di Jalan Majapahit Kota Semarang, Senin (20/3). (https://jatengprov.go.id/publik/25-persen- warga-jateng-alami-gangguan-jiwa-ringan/)

Halusinasi adalah gejala gangguan jiwa berupa respon panca indra, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pengecapan terhadap sumber yang tidak nyata (Budi, 2014).

Berdasarkan hasil pengkajian tanggal 30 Desember 2020 yang telah dilakukan pada Ny. N di Wisma Dewi Kunti RSJ Prof.Dr. Soerojo Magelang, terdapat tanda dan gejala penyakit gangguan akibat halusinasi pendengaran dengan kriteria klien mengatakan mendengar suara dengungan dan suara ingin membunuhnya, namun saat dikaji klien tampak tenang dan kooeratif. Namun untuk mencegah timbulnya kembali gangguan halusinasi pendengaran pada Ny. N dengan halusinasi pendengaran akibat Psikotik Akut, maka sangat di perlukan asuhan keperawatan yang berkesinambungan. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk membuat Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Kepererawatan ny. N dengan Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran di Ruang Dewi Kunti RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang”.

Metode Penelitian 1. Wawancara

Dikutip dari kementrian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia wawancara adalah percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara.

2. Observasi

Observasi merupakan metode ilmiah yang masih menjadi acuan dalam ilmu pengetahuan empiris sebagai cara yang sering digunakan untuk mengumpulkan data.

(sumber: perpusku.com) 3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik adalah metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan pada bagian fisik dari klien baik dengan alat maupun tidak, pemeriksaan fisik difokuskan untuk mengetahui manifestasi fisik. (Diyono & Srimulyati. Hal 22, 2016)

4. Studi Dokumentasi

Seperti pernyataan dari Satori & Komariah Hal. 148 (2012) dalam Keperawatan Medikal Bedah Dokumentasi adalah catatan kejadian yang sudah lampau yang

(4)

Asuhan Keperawatan Ny. N dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Ruang Dewi Kunti RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang

dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, dan karya bentuk. Dokumentasi keperawatan adalah suatu catatan yang memuat sebuah informasi yang dibutuhkan untuk menemukan diagnose keperawatan yang disusun secara sistematis, valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan hukum (Mukripah & Iskandar Hl. 12-13, 2014)

5. Studi Literatur

Studi Literatur adalah yang dilakukan oleh penulis yaitu dengan melakukan pencarian terhadap berbagai sumber yang tertulis, baikberupa buku-buku, arsip, malajah, artikel, dan jurnal, atau dokumen-dokumen yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Sehingga informasi yang didapat dari studi kepustakaan ini dijadikan rujukan untuk memperkuat argumentasi-argumentasi yang ada. (Nur Fatin:

2017).

Hasil dan Pembahasan A. Hasil Penelitian

1. Pengkajian

Resiko Perilaku kekerasan

(diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan verbal)

Effect

Gangguan persepsi sensori:

halusinasi pendengaran Core Problem

Isolasi Sosial Causa

(5)

a. Analisa data

No Data Subjektif dan Data Objektif Diagnosa Keperawatan

(1) (2) (3)

1 Ds :

• Klien mengatakan mendengar suara mau membunuhnya

• klien mengatakan sering mendengar suara-suara yang tidak jelas.

Do :

• Klien terlihat bingung

• Klien suka berbicara sendiri

Gangguan

Persepsi Sensori : Halusinasi

Pendengaran

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan Prioritas Masalah Utama yaitu : Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran

(6)

Asuhan Keperawatan Ny. N dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Ruang Dewi Kunti RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang

3. Perencanaan Keperawatan

Nama : Ny. N Diagnosa Medis : Skizofenia

Umur : 65 Tahun Ruang : Dewi Kunti

No Dx

Keperawatan

Perencanaan

Rasional

Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Gangguan persepsi sensori:

halusinasi pendengaran

Setelah dilakukan intervensi klien mampu:

a. Klien mengenal halusinasi yang dialaminya b. Klien dapat mengontrol halusinasi

Setelah dilakukan 2x pertemuan klien mampu:

a. Menyebut isi, waktu, situasi pencetus dan perasaan saat halusinasi.

b. Memperagakan cara dalam mengontrol halusinasi

SP I

a. Bantu klien mengenal sisi waktu, situasi pencetus dan perasaan saat halusinasi.

b. Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

c. Masukan dalam jadwal kegiatan klien

a. Ungkapkan klien mengenai isi, waktu, situasi pencetus dan perasaan saat halusinasi,

menunjukkan apa yang dibutuhkan dan dirasakan oleh klien.

b. Tindakan menghardik adalah salah satu upaya untuk mengontrol halusinasi.

c. Pelatiha secara rutin akan mempermudah klien untuk mempraktekannya pada saat tanda dan gejala halusinasi muncul.

2. Setelah 3 kali pertemuan

klien mampu:

a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukakan

b. Memperagakan cara kedua dalam mengontrol

halusinasi

SP II

a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP I)

b. Latih patuh minum obat:

1) Meminum obat secara teratur dengan prinsif 6 benar

c. Masukkan kedalam jadwal harian klien

a. Evaluasi akan membantu untuk merencanak an selanjutnya

b. Mengkonsumsi obat secara teratur merupakan salah satu tindakan yang dapat mengendalikan halusinasi

c. Membantu klien untuk mengontrol halusinasi

3. Setelah 4 kali pertemuan

klien mampu:

a. Menyebutkan kegiatan yang telah dilakukan b. Membuat jadwal kegiatan

tambahan untuk

mengontrol halusinasinya

SP III

a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP I dan 11) b. Latihan berbincang-

bincang dengan orang lain saat halusinasi muncul

a. Evaluasi akan membantu untuk merencanakan selanjutnya b. Melakukakan kegiatan yang sesuai

dengan kegiatan yang biasa dilakukakan klien merupaka salah satu tindakan yang dapat

(7)

Setelah 4 kali pertemuan klien mampu:

a. Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan

b. Menyebutkan manfaat dari program pengobatan

c. Masukan ke dalam jadwal kegiatan klien

SP IV

a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP I, II, dan III) Identifikasi bersama dengan klien tindakan yang biasa dilakukan bila terjadi halusinasi

mengendalikan halusinasi

c. Membantu klien untuk mengontrol halusinasi

d. Evaluasi akan membantu untuk merencanakan selanjutnya e. Berbicara dengan orang lain dapat

mengendalikan halusinasi

(8)

Jurnal Akper Buntet Jurnal Ilmiah

Akper Buntet Pesantren Cirebon ISSN: 2579-3837

Vol. 6 No. 1 2022

1. Implementasi

Nama : Ny. N Diagnosa Medis : Skizofenia

Umur : 65 Tahun Ruang : Dewi Kunti

No Diagnosa Implementasi Paraf

(1) (2) (3) (4)

1 Gangguan persepsi sensori : halusinasi penglihatan

Tgl : 29 Desember 2020 Pkl. 09.00 WIB SP I

a. Membantu klien mengenal halusinasi seperti isi, waktu, situasi pencetus dan respon saat terjadi halusinasi.

b. Melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

c. Masukan ke dalam jadwal harian klien.

Thoyibah

Tgl : 29 Desember 2020 Pkl. 09.15 WIB SP II

a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP I)

b. Menjelaskan manfaat dari pengobatan

c. Melatih klien meminum obat secara teratur dan menjelaskan 6 benar (benar : nama, obat, cara pemberian, dosis, waktu, pendokumentasian)

d. Menjelaskan akibat bila tidak sesuai program

e. Menjelaskan akibat bila putus obat

f. Memasukkan ke dalam jadwal harian

Thoyibah

Tgl : 29 Desember 2020 Pkl. 09.30 WIB SP III

a. Memantau SP sebelumnya yang sudah dilakukan

b. Melatih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap- cakap bersama orang lain

c. Masukkan ke dalam jadwal harian klien

Thoyibah

Tgl : 29 Desember 2020 Pkl. 09.45 WIB SP IV

a. Memantau SP sebelumnya yang sudah dilakukan

b. Melatih kegiatan yang biasa dilakukan

c. Memasukkan kedalam jadwal harian klien

Thoyibah

(9)

5. Evaluasi

Nama : Ny. N Diagnosa Medis : Skizofenia

Umur : 65 Tahun Ruang : Dewi Kunti

No Diagnosa Evaluasi Paraf

(1) (2) (3) (4)

1. Gangguan persepsi sensori:

halusinasi pendengaran

Tgl: 30 Desember 2020 Pkl. 09.00 WIB S :

Klien mengatakan sudah tidak mendengar lagi suara- suara ingin membunuh nya

O :

Klien memahami apa yang dialaminya dan mampu menghardik sesuai yang diajarkan.

A: Masalah teratasi

P: Intervensi tercapai, lanjutkan ke SP 2

Thoyibah

Tgl: 30 Desember 2020 Pkl. 09.15 WIB S :

Klien mengatakan merasa senang bisa mendapatkan pengetahuan seperti ini O :

a. Klien mampu mengingat cara mengontrol halusinasi

b. Klien mampu menjelaskan kembali cara meminum obat

A : Masalah belum teratasi

P : Intervensi belum tercapai, lanjutkan ke SP3

Thoyibah

Tgl : 30 Desember 2020 Pkl. 09.30 WIB S :

Klien mengatakan akan latihan dan mencoba bercakap- cakap bersama orang lain

Thoyibah

O :

a. Klien bisa memperagakan cara

mengontrol halusinasi dengan bercakap- cakap bersama orang lain

b. Klien belum kooperatif A :

Masalah belum teratasi P :

Intervensi belum tercapai, lanjutkan ke SP 4 Tgl : 30 Desember 2020 Pkl. 09.45 WIB

S :

Klien mengatakan merasa senang bisa mengontrol halusinasinya dengan cara (menghardik, cara meminum obat, bercakap-cakap dengan orang lain, dan kegiatan kegemaran)

O :

Klien belum mampu melakukan kegiatan seperti merapikan tempat tidur

A :

Masalah belum teratasi P :

Intervensi dilanjutkan

Thoyibah

(10)

Asuhan Keperawatan Ny. N dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Ruang Dewi Kunti RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang

6. Catatan Perkembangan

Nama : Ny. N Diagnosa Medis : Skizofenia

Umur : 65 Tahun Ruang : Dewi Kunti

No Diagnosa Evaluasi Paraf

(1) (2) (3) (4)

1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

Tgl : 31 Desember 2020 Pkl. 09.00 WIB S :

Klien mengatakan merasa senang bisa mendapatkan pengetahuan seperti ini O :

a. Klien mampu mengingat cara mengontrol halusinasi

b. Klien mampu menjelaskan kembali cara meminum obat

A :

Masalah teratasi P :

Intervensi tercapai, lanjutkan ke SP 3

Thoyibah

Tgl : 01 Januari 2021 Pkl. 09.00 WIB S :

Klien mengatakan akan latihan dan mencoba bercakap-cakap bersama orang lain O :

a. Klien bisa memperagakan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap bersama orang lain

b. Klien tampak kooperatif

Thoyibah

A :

Masalah teratasi P :

Intervensi tercapai, lanjutkan ke SP 4

Tgl : 02 Januari 2021 Pkl. 09.00 WIB S :

Klien mengatakan merasa senang bisa mengontrol halusinasinya dengan cara (menghardik, cara meminum obat, bercakap-cakap dengan orang lain, dan kegiatan kegemaran)

O :

Klien mampu melakukan kegiatan seperti merapikan tempat tidur

A :

Masalah teratasi P :

Intervensi tercapai.

Thoyibah

(11)

B. Pembahasan

Pada bab ini akan membahas tentang kasus yang dikaji dan membandingkan dengan teori yang di dapat, untuk mengetahui sejauh mana faktor pendukung, faktor penghambat, dan solusinya dalam menyelesaikan asuhan keperawatan pada klien Ny. N dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran diruang Dewi kunti RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang.

Berdasarkan kasus yang ditemukan saat melakukan pengkajian, alasan klien masuk RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang karena klien sering marah-marah, berbicara sendiri Dan pada saatdi kaji mengatakan klien tidak tahu alasannya klien seperti itu.

Saat di kaji menurut keterangan yang di dapat, klien sering berbicara sendiri dan mendengar hal yang tidak berwujud. Pada kasus tersebut ada kesamaan dengan teori, halusinasi adalah gangguan stimulus dimana pasien mendengar suara yang tidak berwujud, biasanya suara yang muncul suara bisikan orang, kegaduhan bahkan sampai bisikan suara ancaman. Dalam pembahasan ini mencakup semua tahap proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

1. Pengkajian Keperawatan

Selama proses pengkajian yang dilakukan pada Ny. N dengan Gangguan Presepsi Sensori: Halusinasi Pendengara penulis memperoleh data bahwa ditemukannya faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung yang mempermudah penulis untuk melakukan pengkajian karena adanya hubungan baik antara mahasiswa dengan perawat ruangan, klien mampu memberikan informasi pada penulis dengan melakukan pendekatan komunikasi terapeutik, klien mampu melakukan kegiatan yang dianjurkan oleh perawat, adanya hubungan baik antara mahasiswa dengan perawat ruangan sehingga datanya lengkap.

Sedangkan faktor yang menghambat dalam penulisan yaitu kurangnya data yang di dapat oleh penulis karena penulis tidak bertemu dengan keluarganya klien sehingga data yang diperoleh kurang lengkap. Untuk mengatasi faktor yang menghambat yaitu dengan cara bekerja sama dengan perawat ruangan di RS, dengan melihat Medical Record klien dan mengkaji klien lebih dalam lagi dalam berkomunikasi yang singkat dan sering untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah klien untuk melengkapi data.

2. Diagnosa Keperawatan

Pada kasus ini terdapat satu diagnosa keperawatan yang ditemukan, yaitu halusinasi pendengaran. Diagnosa yang menjadi prioritas yaitu gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran sesuai dengan pohon masalah tersebut dapat memunculkan resiko perilaku kekerasan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar jika halusinasinya tidak dapat teratasi.

Faktor pendukung yang dapat mempermudah penulis dapat dalam menegakkan suatu diagnosa keperawatan tersebut karena berdasarkan data yang di dapat sesuai dengan respon yang muncul pada Ny. N dan adanya hubungan baik antara mahasiswa dengan perawat ruangan untuk memperoleh data dari Medical

(12)

Asuhan Keperawatan Ny. N dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Ruang Dewi Kunti RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang

Record klien, selain itu juga adanya referensi yang dapat di jadikan sebagai acuan penegakkan diagnosa keperawatan.

3. Perencanaan Keperawatan

Penulis menyusun rencana keperawatan pada Ny. N meliputi diagnose keperawatan, tujuan, kriteria evaluasi, intervensi, dan rasional berdasarkan diagnosa yang muncul dan menjadi prioritas, yaitu gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Dari diagnosa tersebut dapat empat tujuan yaitu yang pertama: klien dapat mengenal halusinasinya, tujuan kedua: klien dapat memahami manfaat dari program pengobatan dan mengikuti pengobatan secara optimal, tujuan ketiga klien dapat mengontrol halusinasinya dengan cara bercakap-cakap, tujuan keempat: klien dapat mengontrol halusinasinya dengan cara melakukan kegiatan aktivitas yang terjadwal.

4. Implementasi Keperawatan

Pada tahap ini, penulis melakukan implementasi sesuai menurut rencana yang telah di canangkan pada intervensi keperawatan tersebut, tujuan pertama yaitu: klien dapat mengenal halusinasinya dan tujuan kedua yaitu: klien dapat memahami manfaat dari program pengobatan dan mengikuti pengobatan secara optimal, tujuan ketiga: klien dapat mengontrol halusinasinya dengan cara bercakap-cakap, tujuan keempat : klien dapat mengontrol halusinasinya dengan cara melakukan kegiatan beraktivitas yang terjadwal, Namun penulis hanya bisa melakukan empat strategi pelaksanaan karena strategi pelaksanaan yang berhubungan dengan keluarga tidak bisa dilakukan karena penulis tidak bisa bertemu dengan keluarga klien.

5. Evaluasi Keperawatan

Penulis melakukan tindakkan keperawatan setelah melakukan implementasi dan mendokumentasikannya, evaluasi yang penulis lakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP (subjektif, objektif, analisis, perencanaan). Berdasarkan strategi pelaksanaan yang tercapai hanya strategi pelaksaan satu sampai empat, sedangkan strategi pelaksanaan yang berhubungan dengan anggota keluarga Ny. N tidak bisa dilakukan evaluasi karena penulis belum melakukan implementasi, karena penulis tidak bisa bertemu dengan keluarag Ny. N. Evalusi yang didapat Ny. N mampu mengenali halusinasinya, mampu mengontrol halusinasinya dengan cara menghardik, mampu mengontrol halusinasinya dengan cara memahami manfaat dari program obat dan mampu mengikuti program pengobatan secara optimal, bercakap-cakap, mempu mengontrol halusinasinya dengan cara kegiatan beraktivitas. Format evaluasi untuk menilai kemampuan klien keluarga dan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

6. Catatan Perkembangan

Penulis melakukan catatan perkembangan setelah melakukan implementasi, mendokumentasikannya dan evaluasi tindakan keperawatan, catatan perkembangan yang penulis lakukan dengan cara menggunakan

(13)

SOAPIER (subyektif, obyektif, Analisa, perencanaan, implementasi, evaluasi, analisis tulang). Berdasarkan strategis pelaksanaan yang tercapai hanya sebagian yang tercapai dari tempat tersebut, penulis belum bertemu dengan keluarga Ny.

N sehingga penulis tidak melakukan evaluasi keperawatan. Di dalam catatan perkembangan Ny. N mampu mengenali halusinasinya, mampu mengontrol halusinasinya dengan cara menghardik, meminum obat, bercakap-cakap, beraktifitas kegiatan. Berhubungan penulis sudah selesai prakteknya, tindakan selanjutnya pada Ny. N diserahkan kepada perawat ruangan.

Kesimpulan

Kalimat Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat dengan badan yang sehat, kita dapat berfikir dengan baik. Kesehatan merupakan hal yang paling berharga dan tidak dapat dibeli oleh harta. Jika kita sudah jatuh sakit, makanan yang biasanya terasa enak akan berbanding balik rasanya. Tidak hanya makan, semua kegiatan yang kita sudah rencanakan akan tertunda atau terancam gagal dilakukan, semua yang kita lakukan tidak akan berjalan dengan baik. Jika sudah jatuh sakit segala macam cara dilakukan untuk segera sembuh dari sakit. Konsep sehat mencakup beberapa aspek penting meliputi aspek fisik, aspek mental (psikologis jiwa) dan sosial. Kesehatan fisik mengacu kepada proses fungsi fisik dan psikologis, efisiensi berdasarkan suatu ukuran dari keadaan sehat fisik yang minimal yaitu tidak ada disfungsi fisiologis seperti tekanan darah, kadar kolesterol, denyut nadi, dan jantung serta kadar karbon monoksida yang dapat di gunakan untuk menilai keadaan kesehatan individu.

Halusinasi merupakan suatu gejala gangguan jiwa di mana klien merasakan suatu stimulus yang sebenarnya tidak ada. Klien mengalami perubahan sensoripersepsi;

merasakan sensasi palsuberupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penciuman. Pada gangguan halusinasi penglihatan misalnya, klien melihatsuatu bayangan menakutkan, padahal tidak ada bayangan tersebut. Salah satumanifestasi yang timbul adalah halusinasi membuat klien tidak dapat memenuhi kehidupannya sehari- hari. Halusinasi merupakan salah satu dari sekian bentuk psikopatologi yang paling parah dan membingungkan. Secara fenomenologis, halusinasi adalah gangguan yang paling umum dan paling penting. Selain itu, halusinasi dianggap sebagai karakteristik psikosis.

Diagnosa, penulis menemukan hanya 1 diagnosa, yaitu Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Pendengaran. Kemudian dirumuskan dalam intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa yang ada dan di implementasikan, selanjutnya mengevaluasi.

Penulis melakukan asuhan keperawatan pada Ny. N berumur 65 tahun yang telah dilakukan mulai pada 28 Desember sampai 02 Januari 2021 dari mulai pengkajian penulis tidak menemukan hambatan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori, pada perumusan diagnosa keperawatan penulis.

Menemukan hambatan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori, di dalam perencanaan keperawatan penulis tidak menemukan hambatan karena rencana tindakkan mengaju pada referensi yang ada. Adapun dalam pelaksanaan tindakkan implementasi dan evaluasi serta catatan perkembangan pada klien halusinasi pendengan penulis tidak

(14)

Asuhan Keperawatan Ny. N dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Ruang Dewi Kunti RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang

mengalami hambatan karena pada saat pelaksanaan strategi pelaksanaan klien sudah hampir sembuh sehingga mampu melakukan semuanya. Dan pada saat di evaluasi ditemukan masalah yang sudah teratasi tetapi harus dipertahankan mengingat klien dengan gangguan jiwa mudah kembali lagi pada keadaan sebelum dilakukan tindakkan keperawatan maka penulis mengidentifikasi kepala ruangan Dewi Kunti RSJ Prof.Dr soerojo Magelang untuk melanjutkan asuhan keperawatan pada Ny. N dan selalu menindaklanjuti setiap perubahan masalah yang dialami pasien Ny. N.

(15)

Daftar Pustaka

Anna Budi, Dkk., (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Damaiyanti, M., & Iskandar., (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.

Kusumawati, F, & Hartono, Y., (2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:

Salemba Medika.

Purwanto, T., (2015). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Pustaka Baru.

Sutejo. (2019). Konsep & Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Gangguan Jiwa & Psikososial. Yogyakarta: Pustaka Baru.

Trimeilia, (2011). Asuhan Keperawatan Klien Halusinasi. Jakarta: Trans Info Media.

https://jatengprov.go.id/publik/25-persen-warga-jateng-alami-gangguan-jiwa-ringan/.

https://kemenkes,2014 https://www.depkes.go.id

https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/27/100000369/wawancara-- pengertian;dan;tahapan.

Referensi

Dokumen terkait

Eblek (kuda kepang) yang terbuat dari anyaman bambu yang ditunggangi penari Jathil juga berwarna putih dengan motif berwarna hitam. Pada saat itu, langitnya memiliki

Berdasarkan hasil penelitian analisis data dengan menggunakan uji t untuk variabel likuiditas diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,785 > 0,05 sehingga tidak

Peneliti bermaksud mengadakan penelitian mengenai pengendalian persediaan bahan baku di PG Madukismo menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), karena selama

Gambar 4.1 Bagan Struktur Organisasi Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tegal

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Analisis Faktor Bauran

Result of runway rigid pavement design thickness using CBR, LCN and FAA method at Ahmad Yani International Airport of.

Pendekatan filsafat, sosiologi dan sejarah dalam gagasan Syari’ati sangat kental, tetapi yang penting dicatat di sini adalah bahwa teori-teori sosial Barat dikuasainya

[r]