KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kebaikan dan perlindungan-Nya Penulis dapat menyelesaikan tugas akhir di Universitas Kristen Satya Wacana dengan waktu yang tepat. Adapun Tugas Akhir yang penulis tulis berjudul “Kajian Tindakan Sosial Terhadap Jeda Dalam Perpulungen Jabu-Jabu (ibadah rumah tangga) di GBKP Runggun Kutarayat.” Tugas akhir ini dibuat sebagai salah satu persyaratan untuk memproleh gelar Sarjana Sains Ilmu Teologi S.Si (Teol) di Fakultas Teologi UKSW Salatiga. Tentunya keberhasilan tulisan ini tidak dapat ditulis secara sendiri oleh penulis melainkan adanya dukungan-dukungan yang bersifat ide, moral dan sifat lainnya.
Salatiga, 15 Desember 2022
Penulis Irmawati Br Sitepu
2
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah menopang dan mendukung penulis sejak mengawali studi sampai selesai studi ini:
1. Cinta yang yang penuh bermakna dalam hidup penulis, yaitu kedua orang tua penulis Bapak Nawan Sitepu dan Ibu Diana Br. Sembiring yang telah berjuang untuk penulis selaku anaknya bahkan selalu memberikan motivasi dan arahan kepada penulis.
2. Bapak Pdt. Dr Rama Tulus Pilakoannu, sebagai dosen pembimbing pertama penulis yang meluangkan waktu serta memberikan arahan kepada penulis sehingga penulis merasa bahwa beliau adalah sahabat ketika mengerjakan Tugas akhir ini.
3. Bapak Pdt. Gunawan Yuli Agung Suprabowo, D. Th sebagai dosen pembimbing kedua yang selalu memberikan arahan kepada penulis serta mengingatkan penulis untuk cepat menyelesaikan tugas akhir ini.
4. Bapak Pdt. Dr. Jacob Daan Engel, selaku dosen wali studi yang menjadi orang tua yang mengarahkan dan memantau perkembangan penulis.
5. Seluruh staff akademis yang telah memberikan bekal ilmu, fasilitas serta pendidikan kepada penulis, serta selalu membantu penulis selama mengikuti perkuliahan di kampus tercinta ini terutama di Fakultas Teologi.
6. Kepada GBKP Runggun Kutarayat, Pertua, Diaken beserta jemaat GBKP Runggun Kutarayat yang memberikan kesempatan penelitian kepada penulis selama masa perkuliahan dan membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.
7. Kepada GBKP Runggun Lau Gunung Klasis Dairi yang sudah mengijinkan Penulis untuk Praktek Pendidikan Lapangan dan selalu memberikan arahan kepada penulis agar semakin berguna untuk orang lain.
8. Ketiga adik tercinta penulis, Mikael Prinando Sitepu, Amelia Br. Sitepu dan Joice Alena Br. Sitepu yang selalu memberikan semangat kepada penulis.
9. Bibik Pdt. Rosmalia Barus S.Th yang menjadi motivator penulis untuk masuk ke Fakultas Teologi.
3
10. Kepada GKI Kayu Putih Jakarta yang memberikan beasiswa kepada penulis selama perkuliahan.
11. GBKP Bajem Ungaran Salatiga Ambarawa, terkhususnya kepada Pt, Irwan Sembiring sebagai bapak kami di salatiga dan juga bibik kami Dk, Nd Edo Br Sembiring yang sangat baik sebagai ibu penulis di salatiga.
12. Kepada orang-orang baik Lingkaran Ketjil tercinta, Inka Kristika Sembiring, Ade, Tri, Yemima, Gita, Elis dan Efri yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
13. Kepada Dikson Panggabean sebagai teman jogging penulis di salatiga yang selalu membantu penulis dari awal pengerjaan Proposal hingga sampai penyelesaian Tugas akhir ini.
14. Kepada teman penulis Dhion Massolo yang selalu memberikan motivasi dalam pembuatan Tugas Akhir ini.
15. Kepada diri sendiri yang telah berjuang hingga sampai saat ini, yang tetap kuat dalam menghadapi permasalahan dan tetap kuat melalui penyelesaian Tugas Akhir ini.
4
MOTTO
TUHAN MENYEDIAKAN WAKTU YANG TERBAIK UNTUK PENULIS!!!
Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang
dewasa dalam pemikiranmu!
(1 Korintus 14 : 20)
5
Kajian Tindakan Sosial Terhadap Jeda Dalam Perpulungen Jabu-Jabu (Ibadah Rumah Tangga) Di Gbkp Runggun Kutarayat
(Irmawati Br. Sitepu, Rama Tulus Pilakoannu, Gunawan Y. A Suprabowo) ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan jemaat tentang Jeda dalam Perpulungen Jabu-Jabu di GBKP Runggun Kutarayat, Menganalisis kajian tindakan sosial Terhadap Jeda dalam Perpulungen Jabu-Jabu di GBKP Runggun Kutarayat. Jeda merupakan hal yang wajib dilakukan setiap akhir Perpulungen Jabu-jabu. Metode yang dilakukan oleh penulis ialah penelitian kualitatif dan deskriptif metode wawancara yang dilakukan adalah Tertutup dan terbuka (covert and overt interview) Wawancara yang dilakukan oleh Perwakilan GBKP Runggun Kutarayat yakni Pertua/Diaken, Moria (Kaum Ibu), Mamre (Kaum Bapak), Saitun (Lansia) dan Permata (kaum Pemuda). Sekitar tahun 1980 an tradisi Jeda dilakukan oleh Jemaat GBKP Runggun Kutarayat pada awalnya dilakukan baik-baik saja tidak ada yang memandang apa itu Jeda yang disediakan oleh tuan rumah. Akan tetapi dengan seiring berjalannya waktu, Jeda tersebut menjadi alasan jemaat untuk hadir didalam perpulungen Jabu-jabu. Oleh sebab itu adanya Kecemburuan sosial, kecemburuan terjadi ketika ada perbedaan yang mencolok dalam menyajikan. Jeda juga mempengaruhi jemaat secara tidak langsung dan menjadi tolak ukur antara tuan rumah serta jemaat yang datang, sehingga terdapat dampak positif dan negatifnya.
Kata Kunci : Jeda, Tindakan Sosial, Sosiologi Agama
6
PENDAHULUAN
Setiap gereja memiliki program pelayanan masing-masing untuk mewujudkan pelayanan yang ideal. Begitu juga dengan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) adalah tempat untuk persekutuan orang-orang percaya juga ikut mengambil bagian untuk menyebarluaskan misi Allah di dunia ini. Adapun kegiatan-kegiatan gerejawi yang dilakukan oleh GBKP yaitu pelayanan kategorial, ibadah sektor (wilayah), Katekisasi, pelayanan Diakonia, pelayanan doa, dan lain sebagainya. Setiap kegiatan yang dilakukan GBKP semua bertujuan untuk kemulian nama Tuhan dan untuk menyebarluaskan misi Allah. Dalam GBKP terdapat Perpulungen Jabu-Jabu atau dalam bahasa Indonesianya yaitu Ibadah Rumah Tangga.1
Di dalam Gereja Batak Karo Protestan juga ada tempat membina keluarga yaitu Perpulungen Jabu-Jabu yang dilakukan seminggu sekali setiap sektor/wilayah masing-masing. Melalui Perpulungen Jabu-Jabu ini diharapkan semua kategorial yang ada dapat hadir di Perpulungen Jabu-Jabu tersebut, karena didalam Perpulungen Jabu-Jabu semua anggota keluarga ataupun jemaat bisa belajar lebih dalam lagi mengenal Tuhan dan kebenaran Tuhan agar keluarga bisa mencerminkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Perpulungen Jabu- Jabu juga dikenal dengan tempat untuk saling berkomunikasi dan membagi pengalaman bisa melalui nuriken penggejapen (menceritakan pengalaman hidup sesuai tema setiap minggunya) dan biasanya juga keluarga bisa bercerita lebih luas lagi di akhir Perpulungen Jabu-Jabu. Melalui Perpulungen Jabu-Jabu, keluarga juga dapat memahami pentingnya ibadah, dari kesaksian-kesaksian dari keluarga yang menceritakan bagaimana baiknya Tuhan itu, sehingga GBKP menyadari bahwa pembinaan melalui Perpulungen Jabu-Jabu ini adalah hal yang sangat penting dilakukan.2
1Moderamen GBKP, Tata gereja GBKP 2025-2025 (Kabanjahe: Abdi Karya,2015),32-33.
2Rosliana, Br Sinulingga, Tesis: “Penelaahan Alkitab Antar Generasi Studi Kritis
Terhadap pelaksanaan PJJ sebagai Pembinaan Warga Jemaat Antar Generasi di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP)” 4.
7
Perpulungen Jabu-Jabu juga tempat pelayanan, persekutuan, kesaksian gereja kepada jemaat agar jemaat lebih memahami dan dapat menghayati apa yang menjadi tema setiap minggunya, di setiap akhir Perpulungen Jabu-Jabu tuan rumah akan menyediakan Jeda/Jamuan makan kepada jemaat yang hadir, biasanya Jedanya berupa teh manis, roti dan ada juga yang menyediakan makanan mewah seperti makan bersama nasi dan lauk pauk dst. Di gereja GBKP khususnya GBKP Runggun Kutarayat, Jeda adalah hal yang wajib disajikan terlihat juga di dalam buku bimbingan Perpulungen Jabu-Jabu yang dimana dicantumkan kata Jeda sebelum atau sesudah diskusi.3 Jeda pada awalnya dilakukan baik-baik saja tidak ada terlihat kecemburuan sosial atau memilih-memilih tempat ibadah, akan tetapi realita yang terjadi Jeda menjadi bahan acuan jemaat untuk datang ke rumah tempat beribadah.
Menurut salah satu Pertua di GBKP Runggun Kutarayat bahwa Jeda mempengaruhi jemaat secara tidak langsung dan menjadi tolak ukur antara tuan rumah serta jemaat yang datang, sehingga terdapat dampak positif dan negatifnya.
Seperti salah satu jemaat yang menjamu dengan makan mewah akan membuat banyak jemaat yang datang, tetapi satu jemaat lainnya hanya menyediakan makanan yang sederhana kemudian mempengaruhi banyaknya jemaat yang datang. Hal ini kemudian menjadi masalah dimana jemaat yang datang hanya melihat Jeda atau makanan yang disajikan oleh tuan rumah. Dalam hal ini banyak jemaat GBKP khususnya di GBKP Kutarayat menolak menjadi tuan rumah untuk melakukan Perpulungen Jabu-jabu karena tidak semua jemaat memiliki penghasilan yang sama, yang dimana jemaat GBKP Kutarayat adalah mayoritas petani ataupun ada juga yang bekerja harian oleh sebab itu tidak semua jemaat dapat memberikan makanan seperti makanan yang mewah.4
Berbicara tentang makan bersama pada zaman dahulu makan bersama adalah penghormatan bagi tamu yang datang kerumah atau ada acara oleh sebab itu makan bersama adalah salah satu tradisi yang sampai sekarang masih
3Moderamen GBKP, Bahan Renungen Perpulungen Jabu-jabu 2022, (Jl. Kapten Pala Bangun No 66 Kabanjahe: Percetakan GBKP Abdi Karya), 16.
4Wawancara dengan Pt. Nawan Sitepu (Pertua di GBKP Runggun Kutarayat) via Telepon 06 September 2022.
8
dipertahankan.5 Dalam hal ini menurut pengamatan penulis bahwa Jeda adalah suatu kebiasaan yang baik untuk dipertahankan di dalam acara gereja khususnya di kegiatan ibadah atau Perpulungen Jabu-Jabu. Program ini awalnya baik-baik saja, dengan adanya Jeda para jemaat bisa mengakrabkan diri dengan jemaat lainnya dan sambil makan bisa membagi pengalaman. Akan tetapi realita yang terjadi saat ini secara tidak langsung jemaat memperlihatkan kemampuan dan ketidakmampuan secara ekonomi. Terlihat kehadiran jemaat dalam Perpulungen Jabu-Jabu dalam hal ini menarik menurut penulis untuk mengangkat Judul “Kajian Tindakan Sosial Terhadap Jeda di Perpulungen Jabu-Jabu pada GBKP Runggun Kutarayat.” karena jika cara pandang jemaat terus menerus memandang Jeda sebagai keharusan ataupun Jeda sebagai tolak ukur antara jemaat maka eksistensi Allah tidak akan terlihat di dalam ibadah tersebut.
Dapat di lihat dari permasalah di atas bahwa adanya tolak ukur antara jemaat, sehingga terjadi kecemburuan sosial yang disebabkan oleh adanya Jeda.
Dalam hal ini dikatakan bahwa agama dan masyarakat adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dan adanya agama menjadi tolak ukur antara jemaat yang datang. Tentu tidak adil menurut tuan rumah yang menjamu makan yang sederhana karena adanya perbedaan jumlah yang datang dengan jemaat yang menyediakan jamuan makann yang mewah sehingga terjadilah ketidakrukunan antara jemaat yang lainya karena status sosial yang menyebabkan kedatangan jemaat ke Perpulungen Jabu-Jabu semakin berkurang akibat salah menggunakan makna Jeda di tengah-tengah jemaat terkhusunya jemaat GBKP Runggun Kutarayat.
Menurut pendapat Abineno, ibadah bukanlah aspek yang khas dari kelompok jemaat yang dapat dilepas pisahkan dari kehidupan. Ibadah adalah hal yang melingkupi kehidupan manusia, oleh sebab itu ibadah adalah hal yang sangat melekat di dalam kehidupan manusia.6 Berdasarkan permasalahan tersebut maka penulis beranggapan bahwa perlu adanya perubahan terjadi seperti perubahan kebiasaan yang dilakukan oleh jemaat terkhusunya Jemaat GBKP Runggun
5Teopilus Tarigan, Potret Adat dan Adat dalam Jamuan Makan Pesta,
https://www.kompasiana.com/teotarigan/622376f231794935df43576a/potret-jamuan-makan dalam-pesta-adat-karo#, diakses 2 Agustus 2022, pukul 00:10.
6J.L. Ch Abineno. Apa Kata Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1983), 17.
9
Kutarayat mengenai adanya Jeda di dalam Perpulungen Jabu-jabu. mengingat ibadah adalah hal yang melekat dalam diri manusia maka jemaat perlu terlebih dahulu mengerti makna ibadah itu sendiri sehingga ibadah dapat melekat dalam dirinya.
GBKP secara khusus mengharapkan bahwa adanya Perpulungen Jabu-Jabu dapat menolong keluarga untuk mencapai keinginan dalam membina keluarga dan mengarahkan anak-anak muda yang berada dalam Perpulungen Jabu-Jabu tersebut agar memahami apa itu keluarga si sempabu dalam bahasa Indonesia adalah keluarga yang rukun. Oleh sebab itu Perpulungen Jabu-Jabu adalah hal yang sangat penting untuk setiap keluarga karena di dalam Perpulungen Jabu-Jabu adanya tukar pikiran antara keluarga yang satu dan keluarga yang lainya. Pada kenyataanya ibadah rumah tangga tidak terjadi semestinya oleh karena adanya Jeda di dalam ibadah rumah tangga tersebut. Dapat dilihat dari tempat pengamatan penulis bahwa rencana atau pun program GBKP ini sepertinya tidak maksimal dikarenakan adanya Jeda dilakukan selesai ibadah yang mengakibatkan perselisihan ataupun adanya kecemburuan sosial yang terjadi.
Dalam hal ini yang dilakukan tidak lagi seperti ibadah yang semestinya, dimana Perpulungen Jabu-Jabu adalah wadah untuk keluarga. Dalam hal ini ibadah dilakukan seakan-akan tidak lagi seperti ibadah yang sesungguhnya. Kerap kali terjadi ada warga jemaat tidak datang ke rumah warga jemaat Karena sudah diketahui sebelumnya isi hidangannya terlalu Sederhana Biasanya kondisi warga jemaat yang sedemikian karena faktor ekonomi. Sementara untuk tuan rumah yang isi hidangan nya terlihat mewah, banyak warga jemaat yang hadir. Kondisi yang demikian membuat warga jemaat yang ekonominya lemah merasa sakit hati karena diperlakukan secara diskriminatif.7 Berdasarkan keprihatinan di atas, penulis tertarik meneliti tentang Jeda di Perpulungen Jabu-Jabu di GBKP Runggun Kutarayat.
Dalam masyarakat terdapat beberapa komunitas-komunitas sosial yang kecil. Didalam masyarakat terdapat adanya marga-marga, lembaga-lembaga,
7Wawancara dengan Pt. Nawan Sitepu (Pertua di GBKP Runggun Kutarayat) via Telepon 06 September 2022.
10
kelompok-kelompok dan ada juga antar suku-suku. Di dalam satu kelompok memiliki aturan dan tujuan yang tentu berbeda. Oleh sebab itu komunitas- komunitas tersebut tetap memiliki komunikasi yang baik antara satu dengan yang lainya agar terbentuknya masyarakat. Dengan demikian Talcott Parsons menyatakan bahwa komunitas-komunitas tersebut sebagai struktur masyarakat, yang memiliki kesatuan. Dengan demikian kehidupan masyarakat terstruktur dalam melakukan tindakan berdasarkan perannya masing-masing.8
Maka berpedoman dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis akan melakukan penelitian dengan judul: “Kajian Tindakan Sosial Terhadap Jeda di Perpulungen Jabu-Jabu (ibadah rumah tangga) pada GBKP Runggun Kutarayat.” dalam hal ini terdapat beberapa penelitian yang berkaitan dengan penelitian penulis yaitu: (1). Adapun penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan jamuan makan yang telah dilakukan oleh Bistok Hasibuan dan Stimson Hutagalung dengan judul: “Analisis Tujuan Jamuan Makan Bersama Sebagai Suatu Metode Penginjilan Berdasarkan Kisah Para Rasul 2:46 di Jemaat Pakusarakan Cimahi Bandung”. Penelitian tersebut bertujuan agar jemaat mengerti bagaimana tujuan makan di Alkitab.9
Dalam hal ini terdapat perbedaan dari penelitian terdahulu. Penulis terdahulu berfokus membahas tujuan makan dalam Alkitab yang terdiri dari dua bagian dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. (2). Penelitian lainya dilakukan oleh Christian Dameria dan Dewi Sintha Baratanata Dengan judul “Spritualitas Makan Bersama” menjelaskan makna simbolik yang dihadirkan dalam ritual atau budaya makan bersama.10 (3) yang dilakukan oleh Dr. Jan HotnerSaragih, dengan judul “Relevansi Makanan dan Jamuan Makan Tradisional Simalungun dengan
8Talcott Parsons, The Structure of Social Action: A Study in Social Theory With Special Reference to a Group of Recent European Writers (Amerika: McGraw-Hill Book Company, Incorporated, 1937), 5.
9Bistok Hasibuan dan Stimson HutagalungAnalisis Tujuan Jamuan Makan Bersama Sebagai Suatu Metode Penginjilan Berdasarkan Kisah Para Rasul 2:46 di Jemaat Pakusarakan Cimahi Bandung,” No 1, (Juni 2016): 97, diakses Agustus 2, 2022.
https://jurnal.unai.edu/index.php/koinonia/article/download/2266/1635
10Christina Dameria, Dewi Sintha Bratanata “Spritualitas Makan Bersama: Interkoneksi Sesama Ciptaan dalam Praktik Pemeliharaan Alam”, No 2, (2021), diakses September 7, 2022, https://ejournal.iaknambon.ac.id/public/journals/2/pageHeaderTitleImage_en_US.png
11
Perjamuan Kudus” yang menjelaskan pemaknaan teologis makan dan makanan.
Makna yang terdapat didalamnya sangat sarat dengan kebersamaan hal ini di perhadapkan dengan tradisi kekristenan seperti Perjamuan Kudus yang mempunyai kesamaan teologis.11 Perbedaan dengan peneliti terdahulu yang dimana penelitian terdahulu lebih Fokus jamuan makan seperti di Alkitab, sedangkan Penelitian ini lebih menekankan ke dalam makna dan tindakan sosial.
Berdasarkan penjelasan penelitian tersebut penulis ingin menggali tentang Jeda dalam Perpulungen Jabu-Jabu yang memakai kajian Tindakan Sosial dari ketiga penelitian di atas bedanya dengan penelitian penulis adalah penulis lebih menekankan Tindakan Sosial terhadap Jeda dalam Perpulungen jabu-jabu di Runggun Kutarayat. Oleh sebab itu, rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana realitas dan pendapat Jemaat di GBKP Runggun Kutarayat tentang Jeda pada Perpulungen Jabu-Jabu dan bagaimana kajian tindakan sosial Terhadap Jeda dalam perpulungen Jabu-Jabu di GBKP Runggun Kutarayat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pandangan jemaat tentang Jeda dalam Perpulungen Jabu- Jabu di GBKP Runggun Kutarayat serta menganalisis kajian tindakan sosial Terhadap Jeda dalam Perpulungen Jabu-Jabu di GBKP Runggun Kutarayat.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian secara teoritis dapat dijadikan sebagai pedoman bagi Gereja terutama bagi jemaat GBKP untuk melihat hubungan Perpulungen Jabu- jabu terhadap Jeda. Secara praktis faktor-faktor adanya jemaat datang kerumah tempat ibadah dan jemaat yang menolak melakukan Perpulungen Jabu-jabu di rumahnya setelah di pahami bahwa akan bermanfaat untuk mendapatkan solusi agar jemaat dapat memaknai Jeda bukan sebagai keharusan dalam melakukan ibadah oleh sebab itu terbentuk lah keluarga-keluarga yang sisempabu (keluarga yang rukun) sehingga berkurangnya masalah sosial yang terjadi.
11Janhotner Saragih, “Relevansi Makanan dan Jamuan Makanan Tradisional Simalungun dengan Perjamuan Kudus”. “No 1, Vol 2 (Juni 2022), diakses Oktober 10, 2022, jam 13:45 WIB.
http://jurnal.sttabdisabda.ac.id/index.php/JSPL/article/view/88.
12 Metode Penelitian
Metode yang dilakukan oleh penulis ialah penelitian kualitatif dan deskriptif dengan cara penulis akan melakukan penelitian yang menghasilkan pemahaman dan pemaknaan terhadap peristiwa yang terjadi didalam individu dan kelompok.
pengertian kualitatif ialah segala sesuatu yang akan dipengaruhi oleh manusia termasuk perbuatan dan tindakan manusia secara ilmiah dengan hal ini data yang dibutuhkan harus dalam keadaan alami tentunya yang bersifat kualitatif.12 Metode deskriptif penulis akan mendeskripsikan masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti oleh penulis.13 Teknik yang akan digunakan yaitu wawancara, dengan tujuan mendapat data-data tentang masalah yang akan diteliti melalui percakapan dengan media online. Wawancara adalah sebuah cara pengumpulan data dari sebuah penelitian dimana antara individu dan kelompok.
Tujuan dari pada wawancara adalah untuk memperoleh data/informasi secara langsung dalam menjelaskan suatu permasalahan, hal ini diperlukan berbagai hal cara seperti merangkai kata agar kata yang diutarakan tidak menimbulkan konflik atau kecemburuan sosial.14 Metode wawancara yang dilakukan adalah Tertutup dan terbuka (covert and overt interview). Wawancara tertutup biasanya yang diwawancarai tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa mereka sedang diwawancarai. Penulis memakai metode wawancara tertutup karena judul yang penulis teliti bersifat sensitif. Sedangkan wawancara terbuka kebalikan wawancara tertutup dimana subjek tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud dan tujuan wawancara tersebut.15 Wawancara yang dilakukan oleh Perwakilan GBKP Runggun Kutarayat yakni Pertua/Diaken, Moria (Kaum Ibu), Saitun (Lansia) dan Permata (kaum Pemuda).
12Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1997), 15
13 J.D. Engel, Metode Penelitian Sosial dan Teologi Kristen, (Salatiga: Widya Sari Press,2005), 24.
14Fandi Rosi Sarwo Edi, Teori Wawancara Teori Psikodiagnostik, (Yogyakarta, Agustus 2016), 4.
15 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 189.
13 Sistematika penulisan
Penulisan Tugas Akhir ini terdiri dari beberapa bagian yakni bagian pertama berisi: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, pemilihan tempat penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bagian kedua terdiri atas, landasan kajian yang menjadi acuan dalam penulisan tugas akhir ini. Adapun kajian yang diambil dalam bagian ini menjelaskan kajian sosiologi agama tentang Jeda. Bagian ketiga terdiri dari hasil penelitian. Bagian keempat berisi analisis terkait hasil penelitian. Bagian kelima yang berisi kesimpulan dan saran.
KAJIAN TEORI TINDAKAN SOSIAL DAN TEORI SOSIOLOGI AGAMA Teori tindakan Sosial Talcott Parsons
Talcot Parson adalah seorang ahli sosiolog yang berpendapat bahwa kehidupan sosial merupakan sistem kehidupan dari sebuah tipe tertentu yang dimana sistem tersebut mengarah keseimbangan. Maka suatu hubungan yang stabil dan seimbang antara bagian-bagian yang terpisah dan mempertahankan dirinya secara terpisah dari sistem-sistem lain. Penekanan Parson selalu pada stabilitas dan keteraturan dan memang dia melihat teori sosial sebagai usaha untuk menjawab pertanyaan “bagaimana keteraturan sosial itu dapat terjadi” suatu persoalan yang mengingatkan orang pada filsuf Thomas Hobbes, yang telah memformulasikan dalam bentuknya yang paling jelas.
Perkiraan itu mengandaikan bahwa pada hakikatnya manusia seluruhnya mencari kepentingannya sendiri dan di sana terdapat peperangan semua lawan dan kecenderungan alamiah ini harus dibentuk oleh organisasi sosial.16 Manusia dipahami sewaktu dia membuat pilihan, atau keputusan antara tujuan yang berbeda dan alat-alat untuk mencapainya. Konsepsi itu bisa jadi dasar dari semua ilmu pengetahuan manusia dan mengatakan bahwa adalah mungkin untuk menyaring
16Ian, Craib, Teori-teori sosial Modern: dari Parson sampai Habermas, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Rajawali Pers 1994), 58-59.
14
dari karya mereka suatu model dasar tindakan manusia dan membatasi semua komponennya dalam peristilahan abstrak.
Model tersebut terdiri dari pertama aktor manusia dan yang kedua adalah serangkaian tujuan dan sasaran yang harus dipilih oleh pelakunya dan alat-alat yang berbeda-beda yang memungkinkan tujuan ini bisa dicapai. Pelaku itu harus memilih di antaranya, oleh sebab itu tindakan tersebut tidak akan terbentuk dari kekosongan.
Dengan demikian yang terpenting dari semuanya adalah bahwa lingkungan itu termasuk norma-norma dan nilai-nilai yang diterima secara umum dan ide-ide yang mempengaruhi pilihan tujuan-tujuan dan alat-alat untuk mencapai tujuan.17 Menurut Parsons tindakan sosial adalah hal yang dilakukan dalam koridor norma untuk menjaga kebersamaan. Dalam dunia terdapat berbagai kelompok sosial yang dimana masing-masing kelompok melakukan tindakan sosial, oleh sebab itu mempermudah adanya keterkaitan. Dalam setiap kaitan selalu terjadi pertikaian sehingga berdampak adanya perubahan di antara kelompok-kelompok tersebut.18 Dengan demikian teori tindakan sosial Parsons menjelaskan bahwa perilaku manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan.
Menurut Parson, unit dasar tindakan sosial adalah sebagai berikut:
a. Kelompok atau individu dalam masyarakat sebagai aktor.
b. kelompok atau individu dengan tujuan tertentu
c. Dalam hal ini, baik kelompok maupun individu memiliki tujuan tertentu untuk mencapai apa yang dicapai.
d. Adanya hambatan bagi kelompok atau individu yang melewati pencapaian tujuan,
e. Kelompok atau individu terikat oleh nilai atau norma yang ada.19
17Ian, Craib, Teori-teori sosial Modern, 60-61.
18Edward W. Said, Orientalism (Londong: Knopf Doubleday Publishing Group, 2014), 43- 45.
19George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, 48-49.
15
Dengan demikian maka apa yang dijelaskan di atas, tindakan sosial adalah tantangan kelompok atau individu sebagai pelaku sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan-keputusan atas semua alat untuk mencapai suatu tujuan tertentu, namun semuanya ditentukan oleh kemungkinan tertentu dengan cara kebudayaan dalam bentuk norma-norma yang ada.20
Kebudayaan dan Tindakan Sosial
Fenomena budaya terbentuk melalui nilai dan nilai kemanusiaan. Budaya disebut tindakan sosial. Dalam teori aksi Parsons tindakan sosial dasar merupakan suatu unit yang bergabung dengan objek sosial lainnya membentuk sebuah serangkaian interaksi yang menghubungkan bidang kebudayaan yang dibentuk oleh objek-objek simbolik. Tindakan sosial tergantung pada budaya, atau dengan kata lain, tindakan sosial akan bermakna karena itu dilakukan melalui simbolisme.
Parsons yang tidak berbudaya tidak ada interaksi. Objek budaya yang dimaksud Parsons adalah: Elemen simbolik dari tradisi budaya, ide, simbol atau pola ekspresif Pecahan.21 Dari sini jelas bahwa budaya dan agama adalah dua hal yang berbeda, namun saling mempengaruhi dalam menentukan perilaku manusia. Dengan demikian perilaku manusia, baik individu maupun sosial, dipengaruhi oleh budaya dan agama yang dianut dan dimaknai oleh manusia.
Jamuan makan
Tujuan makan bersama (Jeda) di gereja mula-mula adalah tanda persaudaraan dan kerendahan hati gereja mula-mula. Dalam hal ini makanannya juga perjumpaan antara orang-orang yang saling membangun persaudaraan yang baik, dan memperbaiki hubungan antara saudara serta menghormati tamu yang datang.22 Dalam hal ini adanya jamuan makan bersama terlihat adanya nilai persekutuan yang sangat tinggi di antara jemaat-jemaat Tuhan. Jamuan makan dikenal sebagai hal yang menunjukkan rasa hormat dan penghargaan bagi para tamu yang datang sehingga terbentuklah keakraban antar sesama.23 Dalam buku “House
20George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, 49.
21Chris, Jenks. Culture: Studi Kebudayaan, Pustaka Pelajar. Yogayakarta:1993, 62-83.
22Robert. Blair II, Courage to Change (United States: Xulon Press,2009), 188.
23Geoffrey Hariss, Paul (London: SCM Press,2009), 252.
16
Church”, Steve Atkerson menyatakan bahwa pertemuan gereja di arahkan pada persekutuan makanan yang dihadiri oleh jemaat gereja. Ini paling baik dilakukan di rumah yang tidak begitu ramai orang agar dapat bertukar pengalaman. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa perjamuan (Jeda) sangat penting bagi jemaat-jemaat dalam ibadah-ibadah sehingga terbentuklah keluarga-keluarga yang lebih mengenal ke hadirat Tuhan di dalam kehidupan orang-orang percaya.24
Siegfried H.Horn menyatakan bahwa makan bersama jemaat mula-mula biasanya dilakukan pada acara keagamaan yang gunanya untuk mengikat tali persaudaraan agar terbentuknya keluarga-keluarga yang rukun.25 Oleh sebab itu jamuan makan adalah salah satu elemen yang baik dipertahankan karena adanya jamuan makan bersama terjadi tukar pikiran antara jemaat yang satu dengan yang lainya sehingga terbentuklah keluarga-keluarga yang baik dan rukun.
Teori Sosiologi Agama
Nottingham dalam buku “Agama dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama” mengatakan bahwa tercapainya persetujuan-persetujuan bersama dengan cara memberikan nilai-nilai yang memandu sikap anggota masyarakat dan membantu menentukan isi kewajiban sosial mereka, agama telah membantu mendorong konsensus tentang sifat dan definisi kewajiban sosial tersebut. Dalam hubungan ini. Harus diakui bahwa sikap pengagungan dan penghormatan berjalan seiring dengan rasa kagum, terutama dalam kaitannya dengan kebiasaan.
Kurangnya disiplin manusia yang digambarkan dalam buku tersebut, krisis disiplin di penjara, militer, atau kehidupan sekolah, cenderung menyebabkan konsensus kelompok gagal ketika disiplin disalahgunakan dan tidak normal dan tidak berarti. Dalam krisis seperti ini, kelompok yang menggunakan kekerasan fisik bisa bersatu kembali secara beruntun. Namun seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah, manusia tidak dapat mempertahankan keilahiannya melalui kekuatan fisik
24Ed, Steve Atkerson, House Church: Simple, Strategi, Scriptural, (Georgia:
NTRF.ORG,2005), 197.
25Siegfried H. Horn, Seventh-day Adventist Bible Dictionary Revised Edition, (Washington, D, C: Review and Herald Publishing Association 1979), 682.
17
saja. Jika suatu komunitas diharapkan stabil dan perilaku sosialnya teratur dan baik, perilaku yang baik harus relatif dapat diterima dan diatur dan dirancang menurut prinsip-prinsip tertentu yang disepakati bersama.26
Melihat realitas yang terjadi di dalam Perpulungen Jabu-jabu di GBKP Runggun Kutarayat penelitian ini akan memakai teori tindakan sosial Talcott Parson yang terdiri dari empat sistem tindakan yaitu sistem sosial, sistem budaya, sistem kepribadian dan organisasi behavioral berkaitan dengan realitas Jemaat di dalam Perpulungen Jabu-jabu di GBKP Runggun Kutarayat.
HASIL PENELITIAN
Tempat penelitian berada di satu tempat yaitu di kabupaten Karo dan provinsi Sumatera Utara, Kecamatan Naman Teran. GBKP Runggun Kutarayat ini merupakan gereja yang tidak begitu besar dan berada di tengah Desa Dengan jumlah jemaat GBKP Runggun Kutarayat sekitar 182 jiwa yang terbagi menjadi 7 sektor (wilayah), jumlah Pertua 16 Orang dan Diaken ada 7 orang.27 Dalam bidang pekerjaan jemaat GBKP Runggun Kutarayat adalah mayoritas petani, dan jemaat GBKP Runggun Kutarayat adalah orang Karo asli oleh karena itu bahasa yang digunakan dalam sehari-hari adalah bahasa Karo sehingga penulis akan memakai wawancara bahasa Karo agar mempermudah jemaat untuk mengerti apa maksud dan tujuan wawancara yang dilakukan oleh penulis.
Perpulungen Jabu-Jabu
Di dalam GBKP ada program terkait keluarga, Perpulungen Jabu-Jabu (PJJ). PJJ adalah persekutuan anggota gereja yang terdiri dari minimal 25 keluarga dan maksimal 50 keluarga yang dilayani oleh Pertua dan Diaken. Dalam hal ini, tujuan dibentuknya PJJ ini adalah harapan agar semua kategorial dapat bersatu padu dan bersekutu untuk mengenal Tuhan lebih jauh.28 Melalui Perpulungen Jabu-Jabu ini diharapkan semua kategorial yang ada dapat hadir di Perpulungen Jabu-Jabu
26Elizabeth K. Nottingham, Agama dan Masyarakat (Jakarta: Rajawali Pers,1990), 36-37.
27Data Statistik GBKP Runggun Kutarayat.
28Moderamen GBKP, Tata gereja GBKP 2025-2025 (Kabanjahe: Abdi Karya,2015), 10.
18
tersebut, karena didalam Perpulungen Jabu-Jabu semua anggota keluarga ataupun jemaat bisa belajar lebih dalam lagi mengenal Tuhan dan kebenaran Tuhan agar keluarga bisa mencerminkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Perpulungen Jabu-Jabu juga dikenal dengan tempat untuk saling berkomunikasi dan membagi pengalaman bisa melalui nuriken penggejapen (menceritakan pengalaman hidup sesuai tema setiap minggunya) dan biasanya juga keluarga bisa bercerita lebih luas lagi di akhir Perpulungen Jabu-Jabu. Melalui Perpulungen Jabu-Jabu, keluarga juga dapat memahami pentingnya ibadah, dari kesaksian- kesaksian dari keluarga yang menceritakan bagaimana baiknya Tuhan itu, sehingga GBKP menyadari bahwa pembinaan melalui Perpulungen Jabu-Jabu ini adalah hal yang sangat penting dilakukan.29
Pemahaman Jemaat Mengenai Jeda dalam Perpulungen Jabu-jabu di Runggun Kutarayat
Pandangan Secara umum di GBKP Runggun Kutarayat Jeda merupakan hal yang wajib dilakukan setiap akhir Perpulungen Jabu-jabu. Sekitar tahun 1980 an tradisi Jeda dilakukan oleh Jemaat GBKP Runggun Kutarayat baik-baik saja tidak ada yang memandang apa itu Jeda yang disediakan oleh tuan rumah. Akan tetapi dengan seiring berjalannya waktu, Jeda tersebut menjadi bahan acuan jemaat untuk hadir didalam perpulungen Jabu-jabu. Oleh sebab itu adanya Kecemburuan sosial.
Kecemburuan terjadi ketika ada perbedaan yang mencolok dalam menyajikan Jeda dalam Perpulungen Jabu-jabu yaitu adanya orang kaya yang menyajikan makanan mewah. Dimana dilihat bahwa jemaat Runggun Kutarayat adalah mayoritas petani tentu keuangan tidak sama semua hal ini menyebabkan adanya kecemburuan antara tuan rumah yang menyediakan makanan yang mewah dengan jemaat yang menyediakan makanan yang sederhana, jadi menurut bahwa Jeda ini sangat mempengaruhi jemaat untuk datang ke Perpulungen Jabu-Jabu.30 Jeda juga mempengaruhi jemaat secara tidak langsung dan menjadi tolak ukur antara tuan rumah serta jemaat yang datang, sehingga terdapat dampak positif dan negatifnya.
29Rosliana, Br Sinulingga, Tesis: “Penelaahan Alkitab Antar Generasi Studi Kritis Terhadap pelaksanaan PJJ sebagai Pembinaan Warga Jemaat Antar Generasi di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP),” 4.
30Pt. Em. Tandan Sembiring, (Pertua Emeritus), Wawancara. Kutarayat 4 November 2022.
19
Seperti salah satu jemaat yang menjamu dengan makan mewah akan membuat banyak jemaat yang datang, tetapi satu jemaat lainnya hanya menyediakan makanan yang sederhana kemudian mempengaruhi banyaknya jemaat yang datang. Hal ini kemudian menjadi masalah dimana jemaat yang datang hanya melihat Jeda atau makanan yang disajikan oleh tuan rumah. Dalam hal ini banyak jemaat GBKP Runggun Kutarayat menolak menjadi tuan rumah untuk ibadah rumah tangga karena tidak semua jemaat memiliki penghasilan yang sama, yang dimana jemaat GBKP Kutarayat adalah mayoritas petani ataupun ada juga yang bekerja sebagai buruh harian oleh sebab itu tidak semua jemaat dapat menyediakan jamuan yang mewah.31
Jeda terbagi menjadi dua bagian yaitu pertama, Jeda mempengaruhi jemaat yang menerima Perpulungen Jabu-jabu di rumah tempat ibadah karena faktor ekonomi. Kedua, Jeda juga dapat menambah semangat jemaat dalam mengikuti Perpulungen Jabu-jabu.32 Salah satu Pertua mengatakan bahwa ada juga jemaat yang bercerita bahwa ia tidak siap menerima Perpulungen Jabu-jabu di rumahnya karena faktor ekonomi. Pertua tersebut juga mengatakan bahwa sudah ada dibicarakan soal Jeda tersebut akan tetapi sampai sekarang belum ada keputusan di dalam gereja oleh sebab itu masih banyak jemaat yang membuat Jeda karena mungkin faktor tradisi yang masih dipakai sampai sekarang.33 Jeda merupakan makanan yang sering dihidangkan pada waktu selesai beribadah yang dimana Jeda adalah makanan yang dapat menarik minat Jemaat guna hadir dalam perpulungen Jabu-jabu akan tetapi pada zaman sekarang Jeda sebagai faktor utama Jemaat untuk menghadiri peribadatan karena dapat dilihat dari jumlah jemaat yang datang ketika beribadah di tempat jemaat yang mempunyai ekonomi yang menengah dan yang mempunyai ekonomi yang rendah jadi menurut Pertua MP Jeda lebih baik ditiadakan karena menimbulkan rasa sakit jemaat yang lainya, usulan tersebut juga sudah pernah di usulkan di gereja akan tetapi belum ada tanggapan akan hal tersebut sehingga jemaat masih membuat Jeda.34 Menurut NMP Jeda bukanlah keharusan
31Pt. Nawan Sitepu (Pertua) Kutarayat 04 November 2022.
32Dk. Robby Sembiring, Wawancara Kutarayat, (Diaken), 4 November 2022.
33Pt. Nd. Rulu Br Ginting. Wawancara Kutarayat. (Pertua), 4 November 2022.
34Pt. Mardan Purba (Pertua). Wawancara. Kutarayat 4 November 2022.
20
karena dirinya sudah tua dan tidak sanggup untuk membuat jamuan yang mewah, meskipun Jeda bukan keharusan tetapi NMP mengatakan bahwa ketika Perpulungen Jabu-jabu diadakan di rumah nya, maka sebagai tuan rumah akan membuat hidangan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki ujarnya.35
Realitas Permasalahan adanya Jeda di dalam Perpulungen Jabu-jabu.
Jeda tidak menjadi prioritas dalam perpulungen Jabu-jabu, akan tetapi SBS sangat menghargai adanya Jeda karena adanya jamuan makanan jemaat dapat bertukar pikiran, SBS juga menyatakan pengalamanya menerima Perpulungen Jabu-jabu di rumahnya yang di mana SBS langsung rendah diri (minder) karena sebelum diadakan Perpulungen Jabu-jabu di rumahnya beliau sudah duluan melihat Jeda yang mewah dihidangkan di rumah jemaat sebelumnya, SBS juga berpendapat bahwa soal Jeda tersebut juga sudah pernah didiskusikan di dalam sektor nya bahwa Jeda ini ditiadakan dan sektor tersebut membuat agenda untuk membuat uang kas untuk pengganti Jeda akan tetapi sampai saat ini soal kas pengganti Jeda tersebut belum terealisasikan.36
Jeda juga menyebabkan tindakan Jemaat yang dapat menimbulkan kecemburuan ataupun merasa minder jika bisa Jeda tersebut dihilangkan karena di Perpulungen Jabu-jabu Jeda tersebut sudah keharusan, jadi banyak Jemaat yang keberatan tetapi mereka tidak berani mengatakan pendapatnya. Tindakan jemaat yang tidak berani memberikan pendapat dengan cara menolak Perpulungen Jabu- jabu di rumahnya karena faktor ekonomi jadi menurut DS kurang efektif adanya Jeda di perpulungen Jabu-jabu. DS juga berpendapat bahwa ia menghargai adanya Jeda tersebut akan tetapi menurut DS lebih baik Jeda di dalam Perpulungen Jabu- Jabu dihilangkan dan dijadikan uang kas setiap sektor dengan memberikan RP.
20.000 ke bendahara sektor agar menjadi kas dan dapat digunakan sebagai dana seperti, PA lapangan atau bakar-bakar dst. Adapun manfaat Jeda menurut DS adalah sebagai penghilang rasa ngantuk dan merilekskan jemaat setelah mengikuti Perpulungen Jabu-Jabu. Menurut DS Jeda tersebut sangat mempengaruhi
35Nd. Mawarti Br Purba (Saitun). wawancara. Kutarayat Via Telepon, 4 November 2022.
36Silfi Br Sembiring, Wawancara, Kutarayat, 5 November 2022.
21
kedatangan Jemaat datang ke perpulungen Jabu-jabu ketika salah satu jemaat yang memiliki ekonomi yang menengah dan yang mempunyai ekonomi yang baik.37
IS menganggap bahwa Jeda bukan keharusan IS juga menceritakan pengalamanya mengenai Jeda yang dimana IS mengatakan bahwa pernah merasa rendah diri (minder)karena faktor ekonomi. Dimana ia mengatakan bahwa pernah Perpulungen Jabu-jabu di rumah jemaat yang lain dan tiba di rumahnya ia membandingkan Jeda yang mewah dapat didapati dalam Perpulungen Jabu-jabu sebelumnya oleh sebab itu ia merasa minder untuk melakukan Perpulungen Jabu- jabu di rumahnya. Kendala yang pernah dirasakan IS saat di rumahnya ia mengatakan pernah minder seperti jika jemaat yang satu membuat makanan yang mewah ataupun makan-makan seperti itu pasti di infokan di grup whatsapp banyak orang yang datang akan tetapi tiba dirumah yang membuat makanan sederhana pasti info di grup whatsapp juga tidak di buat jadi ia merasa minder. Dalam hal ini IS mengungkapkan bahwa upaya untuk mengatasi terjadinya tindakan sosial terhadap adanya Jeda dalam GBKP Runggun Kutarayat yaitu dengan ada kesepakatan bersama, seperti Jeda dibuat atau di hilangkan. Dengan demikian ibadah yang dilakukan tidak lagi berdasarkan ada yang mau dituju seperti adanya Jeda tersebut.38 MS juga mengungkapkan bahwa perlu adanya pertimbangan untuk mengadakan Jeda tersebut karena jika dilihat partisipasi jemaat untuk menghadiri Perpulungen Jabu-jabu, sangat terlihat perbedaan di rumah yang mempunyai ekonomi yang menengah dan yang memiliki ekonomi yang rendah. Oleh sebab itu hal tersebut masih jadi pertimbangan bagi GBKP Runggun Kutarayat.39
Jeda adalah hal yang baik dilakukan dalam Perpulungen Jabu-jabu untuk mengakrabkan jemaat. Partisipan juga sangat menghargai adanya Jeda di Perpulungen Jabu-jabu yang dimana LS menganggap bahwa adanya Jeda dapat mengakrabkan jemaat dan melalui adanya Jeda jemaat bisa sharing mengenai permasalahan hidupnya dan bisa diselesaikan sama-sama. Menurut pengalaman LS juga pernah merasa minder dengan jemaat yang lain karena jemaat lain
37Dwi Sukmawati, Wawancara, Kutarayat,5 November 2022.
38Indah Situmorang, Wawancara, Kutarayat, 5 November 2022
39Micahel Sitepu, Wawancara, Kutarayat, 5 November 2022.
22
menyediakan makanan yang mewah dan sampai di giliran rumah LS keadaan ekonomi sedang tidak baik jadi ada rasa minder atau kendala.40
Jeda ada dua sisi, sisi yang pertama Jeda membuat jemaat semakin akrab (saling tukar pikiran) yang kedua Jeda tersebut juga penyebab adanya kecemburuan sosial yang terjadi di dalam jemaat seperti contoh di rumah yang memiliki ekonomi yang baik jemaat banyak yang datang akan tetapi di rumah LSS cuma ada teh dan roti tidak banyak yang datang. Menurut pengalamannya dimana ia pernah merasakan cemburu karena partisipasi jemaat yang datang ke rumahnya yang dimana di rumah yang jemaat yang satu jemaat banyak yang datang akan tetapi di rumah LSS Jemaat tidak banyak yang datang.41
Jeda adalah makanan yang diberikan tuan rumah yang di makan ketika selesai ibadah dan di diskusi dimulai, NS juga sangat menghargai Jeda tersebut karena Jeda adalah makanan yang khas di hidangkan selesai ibadah ataupun sudah menjadi aturan dalam perpulungen Jabu-jabu adanya Jeda. NS juga pernah merasa minder dan tidak menerima melakukan Perpulungen Jabu-jabu di rumahnya karena keadaan ekonomi, menurutnya maka boleh di buat Jeda akan tetapi harganya sama semua seperti membuat budget setiap tuan rumah agar tidak ada perbedaan anatara jemaat yang mempunyai ekonomi menengah dan jemaat yang mempunyai ekonomi yang rendah dan tidak ada lagi jemaat menolak mengadakan Perpulungen Jabu- jabu dirumahnya karena alasan keuangan.42 Jeda adalah hal yang baik karena bisa menjadi penarik buat jemaat agar datang di Perpulungen Jabu-jabu, ST juga sangat menghargai adanya Jeda di dalam Perpulungen Jabu-jabu. Jeda juga sangat diperlukan karena Jeda adalah sebagai tradisi sejak dahulu, beliau juga pernah mengalami ketidakpercayaan diri saat menerima di rumahnya melakukan Perpulungen Jabu-jabu. Menurut beliau jika tuan rumah tidak membuat Jeda tidak baik karena adanya tradisi yang sudah ada sejak dahulu.43
40Lisda Br Sembiring, Wawancara Kutarayat,5 November 2022.
41Lusi Sembiring, Wawancara, Kutarayat, 5 November 2022.
42Nia Br Sembiring, Wawancara, Kutarayat, 6 November 2022.
43Suanda Tarigan, Wawancara, Kutarayat, 6 November 2022.
23
Jeda hanyalah sebagai santapan supaya jemaat yang datang di Perpulungen Jabu-jabu bisa lebih banyak berbincang dan dapat mengakrapkan diri dengan jemaat lain melalui Jeda tersebut.44 Jeda penting di dalam Perpulungen Jabu-jabu, ia juga menghargai adanya Jeda di perpulungen Jabu-jabu, TS mengatakan bahwa Jeda itu juga memiliki manfaat dimana melalui makanan yang dihidangkan jemaat mendapat wawasan contohnya seperti rekomendasi Jeda di perpulungen Jabu-jabu selanjutnya, jadi TS memberi kesimpulan bahwa Jeda tersebut sangat dibutuhkan di dalam perpulungen Jabu-jabu karena adanya Jeda Jemaat dapat bertukar pikiran dan menyegarkan hati.45
Jeda adalah hal yang wajar dilakukan karena sudah tradisi dari zaman dahulu di Perpulungen Jabu-jabu, ia juga mengatakan Jeda ini sangat diperlukan karena bukan hanya rutinitas saja, seperti Tuhan Yesus juga setiap ada perkumpulan pasti ada makanan, oleh sebab itu menurutnya semua jemaat seharusnya menghargai Jeda tersebut. Manfaat Jeda adalah agar jemaat semakin semangat seperti selesai ibadah ngantuk begitu tetapi adanya Jeda membuat jemaat semakin semangat.46
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Perpulungen Jabu-jabu adalah hal yang penting bagi program GBKP, karena dengan adanya persekutuan tersebut keluarga-keluarga dapat lebih memaknai Firman Tuhan. sekitar tahun 1980 an Perpulungen Jabu-jabu dilakukan dan setiap akhir ataupun sesudah diskusi tuan Rumah akan menyediakan Jeda, berupa makanan fungsinya untuk menghormati tamu dan mengakrabkan jemaat.47 Melalui hal ini tindakan jemaat dengan adanya Jeda dalam Perpulungen Jabu-jabu GBKP Runggun Kutarayat pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor kebiasaan yang sudah lama adanya serta norma-norma budaya seperti harus membuat Jeda di dalam perpulungen Jabu-jabu untuk menghormati tamu yang datang ke rumah. Pada
44Amel Br Sitepu, Wawancara Kutarayat, 6 November 2022.
45Turyani Br Sitepu, Wawancara, Kutarayat. 6 November 2022.
46Inna Helena, Wawancara, Kutarayat, 6 November 2022.
47Pt. Em. Tandan Sembiring, (Pertua Emeritus), Wawancara Kutarayat 4 November 2022.
24
wawancara yang sudah dilakukan bahwa banyak jemaat yang menolak adanya Jeda di Perpulungen Jabu-jabu karena dapat mengakibatkan adanya pertikaian ataupun kecemburuan sosial, juga mengungkapkan bahwa perihal mengenai Jeda tersebut sudah berulang kali dibicarakan agar Jeda tersebut digantikan dengan membuat kas per sektor akan tetapi sampai sekarang hal tersebut belum terealisasikan.
Tanggapan jemaat GBKP Runggun Kutarayat mengenai Jeda di dalam Perpulungen Jabu-Jabu dengan menggunakan teori tindakan sosial Talcot Parson yang menjelaskan bahwa ada terdiri empat sistem yaitu sistem sosial, sistem budaya, sistem kepribadian dan organisasi behavioral. Dalam ke empat sub-sistem Talcott Parson penelitian ini akan menjelaskan sub-sistem yang meliputi realitas adanya Jeda dalam Perpulungen Jabu-jabu. Perilaku manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan, dengan demikian yang terpenting dari semuanya adalah bahwa lingkungan itu termasuk norma-norma dan nilai-nilai yang diterima secara umum dan ide-ide yang mempengaruhi pilihan tujuan-tujuan dan alat-alat untuk mencapai tujuan. Perkiraan itu mengandaikan bahwa pada hakikatnya manusia seluruhnya mencari kepentingannya sendiri dan di sana terdapat peperangan semua lawan dan kecenderungan alamiah ini harus dibentuk oleh organisasi sosial.48 Dalam hal ini banyak jemaat yang tidak menerima mengadakan Perpulungen Jabu-jabu di rumahnya, maka terjadi peperangan yang tidak sehat seperti timbul sakit hati sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian jemaat di atas bahwa banyak jemaat yang tidak berani mengungkapkan keluh kesahnya oleh sebab itu jemaat memperlihatkan tindakan nya melalui menolak untuk menjadi tuan rumah.
Dalam hal ini teori tindakan sosial oleh Parson dipahami sebagai tindakan aktor (manusia) yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni adanya alat yang dapat menghambat, norma-norma yang berlaku, serta adanya sistem budaya dimana aktor ada. Melalui hal ini tindakan adanya Jeda dalam Perpulungen Jabu-jabu mempengaruhi jemaat untuk menghadiri ibadah. Wawancara yang sudah dilakukan terlihat bahwa adanya kecemburuan sosial kerap kali terjadi ada warga jemaat tidak datang ke rumah warga jemaat karena sudah diketahui sebelumnya isi hidangannya terlalu sederhana biasanya kondisi warga jemaat yang sedemikian karena faktor ekonomi. Sementara untuk tuan rumah yang isi hidangan nya terlihat mewah,
48 Ian, Craib, Teori-Teori, 59.
25
banyak warga jemaat yang hadir. Kondisi yang demikian membuat warga jemaat yang ekonominya lemah merasa sakit hati karena diperlakukan secara diskriminatif.
Oleh karena itu perlu adanya reformasi yang dilakukan oleh gereja seperti yang disarankan oleh beberapa jemaat yang berpendapat bahwa Jeda tersebut dihilangkan dan menjadikan uang kas seperti setiap sektor memberikan Rp 20.000 ke bendahara sektor agar menjadi kas dan uang tersebut akan dipakai untuk membuat acara seperti PA lapangan.49
Berangkat dari pemahaman Talcott Parson mengenai tindakan sosial, kebutuhan agar terjadinya keluarga yang sempabu (keluarga yang rukun). Dalam perpulungen jabu-jabu yang dimana perpulungen Jabu-jabu keluarga dapat berbagi pengalaman hidup antara satu dengan yang lainya, dan dari wawancara yang telah dilakukan dimana jemaat mengungkapkan bahwa adanya hal yang menjadi penyatu di dalam perpulungen Jabu-jabu yaitu adanya Jeda pada akhir perpulungen Jabu- jabu yang dimana Jeda tersebut dapat mengakrabkan jemaat akan tetapi pada kenyataannya sekarang tidak terjadi karena adanya tindakan sosial seperti yang dikatakan Parson adanya alat yang mempengaruhi tindakan manusia. Hasil penelitian yang diinginkan oleh jemaat adanya Jeda yaitu 1) Tidak membuat Jeda akan tetapi adanya penyetoran uang setiap tuan rumah kepada bendahara setiap sektor untuk uang kas masing-masing, 2) Membuat Budget untuk membuat Jeda agar tidak terjadinya iri hati ataupun jemaat yang lain merasa tersakiti.
Seperti yang dikatakan oleh Nottingham dalam buku “Agama dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama” mengatakan bahwa tercapainya persetujuan-persetujuan bersama dengan cara memberikan nilai-nilai yang memandu sikap anggota masyarakat dan membantu menentukan isi kewajiban sosial mereka, agama telah membantu mendorong konsensus tentang sifat dan definisi kewajiban sosial tersebut. Dalam hubungan ini. Dalam hal ini menurut beberapa Jemaat bahwa adanya Jeda membuat perselisihan antara jemaat sehingga terjadi konflik yang terjadi. Oleh sebab itu menurut beberapa jemaat bahwa seharusnya Jeda dihilangkan dan dijadikan uang kas maka dari itu pentingnya peran agama untuk menyetujui isi kewajiban tersebut agar apa yang di inginkan jemaat dapat tercapai dengan adanya persetujuan ataupun adanya kesepakatan bersama.
49 Dwi. Wawancara.
26
KESIMPULAN
Setelah melakukan penelitian terhadap tanggapan jemaat GBKP Runggun Kutarayat mengenai Jeda di Perpulungen Jabu-jabu dan melakukan analisa dengan menggunakan teori tindakan sosial Talcott Parsons, maka dapat disimpulkan, jemaat GBKP Runggun Kutarayat berpendapat bahwa, Jeda terbagi menjadi dua sisi yaitu positif dan negatif.
1. Positif
Dimana dengan adanya Jeda jemaat lebih semangat untuk datang Perpulungen Jabu-jabu, dan di akhir Perpulungen Jabu-jabu, jemaat memakan Jeda sehingga terjadi keakraban dan saling tukar pikiran antara jemaat yang satu dengan yang lainnya.
2. Negatif
Jeda mempengaruhi jemaat di GBKP Kutarayat secara tidak langsung dan menjadi tolak ukur antara tuan rumah serta jemaat yang datang, sehingga terdapat negatifnya. Seperti salah satu jemaat yang menjamu dengan makan mewah akan membuat banyak jemaat yang datang, tetapi satu jemaat lainnya hanya menyediakan makanan yang sederhana kemudian mempengaruhi banyaknya jemaat yang datang. Hal ini kemudian menjadi masalah di dalam jemaat yang datang hanya melihat Jeda atau makanan yang disajikan oleh tuan rumah. Dalam hal ini banyak jemaat GBKP khususnya di GBKP Kutarayat menolak menjadi tuan rumah untuk ibadah rumah tangga karena tidak semua jemaat memiliki penghasilan yang sama, karena jemaat GBKP Kutarayat adalah mayoritas petani ataupun ada juga yang bekerja harian oleh sebab itu tidak semua jemaat dapat memberikan makanan seperti makanan yang mewah.
SARAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, banyak terdapat kekurangan dalam mengerjakan Tugas Akhir ini. untuk itu, penulis berharap agar pembaca untuk lebih memahami lebih dalam lagi bagaimana pendekatan sosial yang dilakukan jemaat ketika di dalam perpulungen Jabu-jabu
27
dengan adanya Jeda di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis jemaat GBKP Runggun Kutarayat terhadap Jeda di Perpulungen Jabu-jabu. Pada prinsipnya Jeda memiliki efek positif dan negatif, sehingga penulis berharap agar pembaca lebih dalam lagi menyikapi adanya Jeda di dalam Perpulungen Jabu-jabu.
28
DAFTAR PUSTAKA
Atkerson, Steve. House Church: Simple, Strategic, Scriptural. Georgia:
NTRF.ORG,2005.
Blair, Robert R II. Courage to Change. United States: Xulon Press, 2009 Christina Dameria, Dewi Sintha Bratanata “Spritualitas Makan Bersama:
Interkoneksi Sesama Ciptaan dalam Praktik Pemeliharaan Alam”, No 2, (2021), diakses September 7, 2022.
https://ejournal.iaknambon.ac.id/public/journals/2/pageHeaderTitleImage_en_US.
png
Craib, Ian. Teori-teori sosial modern. PT Grafindo Persada. Jakarta 1994 Data Statistik GBKP Runggun Kutarayat 2022.
Edi Sarwo Rosi Fandi, Teori Wawancara Psikodiagnostik, Yogyakarta, Agustus 2016.
Engel, Jacob D. Metode Penelitian Sosial dan Teologi Kristen. Salatiga: Widya Sari Press, 2005.
Harris, Geoffrey. Paul. London. SCM Press, 2009.
Haryanto, Sindung. Sosiologi Agama Dari Klasik Hingga Postmodern. Jakarta:
AR-RUZZ MEDIA, 2015.
Horn, Siegfried H. Seventh-day Adventist Bible Dictionary Revised Edition Washington, D.C: Review and Herald Publishing Association 1979.
https://www.kompasiana.com/teotarigan/622376f231794935df43576a/potret- jamuan-makan-dalam -pesta-adat-karo#, diakses 2 Agustus 2022, pukul 00:10.
J, L. Ch, Abineno, Apa Kata Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.
Jenks, Chris. Culture: Stusi Kebudayaan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta:1993.
29
Moderamen GBKP, Bahan Renungen Perpulungen Jabu-jabu Tahun 2022, (Jl.
Kapten Pala Bangun No 66 Kabanjahe: Percetakan GBKP Abdi Karya),2022.
Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2025 – 2025, Kabanjahe: Abdi Karya, 2015.
Moleong J, Lexi, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2006).
Nottingham Elizabeth K, Agama Dan Masyarakat, Jakarta: Rajawali Pers, 1990.
Parsons, Talcott. The Structure of Social Action: A Study in Social Theory with Special.
Raho Bernard, Agama Dalam Perspektif Sosiologi, Jakarta: Jl. Gunung Sahara 91, 2013.
Raho, Bernard. Sosiologi Agama. Maumere: Penerbit Ledalero, 2019.
Reference to a Group of Recent European Writers. Amerika: McGraw-Hill Book Company, Incorporated, 1937.
Ritzer George. Teori Sosiologi: dari klasik sampai perkembangan terakhir Postmodern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Ritzer, George. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2018.
Said Edward W. Kebudayaan dan Kekuasaan Membongkar Mitos Hegemoni Barat.
Bandung: Mizan.1995
Sinulingga Rosliana, Tesis: “Penelaahan Alkitab Antargenerasi Studi Kritis Terhadap pelaksanaan PJJ sebagai Pembinaan Warga Jemaat Antar Generasi di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP).
Sukmadinata Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung:PT Remaja Rosdakarya offset,2012.
Tarigan Teopilus, Potret Adat dan Adat dalam Jamuan Makan Pesta,
Wayan Suwendra, Metodologi Penelitian Kualitatif: Dalam Ilmu Sosial, pendidikan, kebudayaan Dan keagamaan, Bali: Nilachakra, 2018.