(Asymmetric Index, Border Irregularity, Color Variation, Diameter)
SKRIPSI
Disusun oleh :
HANIF VIRLANDY
NPM. 0634010299
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
SURABAYA
(Asymmetric Index, Border Irregularity, Colour Variation, Diameter)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan
Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Komputer
Program Studi Teknik Informatika
Disusun oleh :
HANIF VIRLANDY
NPM. 0634010299
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
SURABAYA
DIAGNOSA KANKER KULIT MELANOMA DENGAN
MENGGUNAKAN ABCD
(Asymmetric Index, Border Irregularity, Colour Variation, Diameter)
Disusun Oleh :HANIF VIRLANDY
0634010299
Telah disetujui untuk mengikuti Ujian Negara Lisan Gelombang I Tahun Akademik 2010/2011
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Basuki Rachmat S.Si, MT Fetty Tri Anggraeny, S.Kom
NPT. 369 070 602 09 NPT. 382 020 602 098
Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri
UPN ”Veteran” Jawa Timur
DIAGNOSA KANKER KULIT MELANOMA DENGAN
MENGGUNAKAN ABCD
(Asymmetric Index, Border Irregularity, Colour Variation, Diameter)
Disusun Oleh :
HANIF VIRLANDY
NPM. 0634010299
Telah dipertahankan di hadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri
Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur Pada Tanggal 24 Oktober 2009
Pembimbing : Tim Penguji :
Dekan Fakultas Teknologi Industri
Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
KETERANGAN REVISI
Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa mahasiswa berikut:
Nama : Hanif Virlandy
NPM : 0634010299
Jurusan : Teknik Informatika
Telah mengerjakan revisi/ tidak ada revisi*) pra rencana (design)/ skripsi ujian lisan
gelombang I, TA 2010/2011 dengan judul:
“DIAGNOSA KANKER KULIT MELANOMA DENGAN MENGGUNAKAN
ABCD (Asymmetric Index, Border Irregularity, Colour Variation, Diameter)”
Surabaya, November 2010
Dosen Penguji yang memerintahkan revisi:
1) Hj. Asti Dwi Irfianti, S.Kom, M.Kom NPT. 373 020 602 13
2) Agustinus Bimo Gumelar, ST, MT
ii
Syukur Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin terucap ke hadirat Allah SWT atas
segala limpahan Kekuatan-Nya sehingga dengan segala keterbatasan waktu,
tenaga, pikiran dan keberuntungan yang “DIAGNOSA KANKER KULIT
MELANOMA DENGAN MENGGUNAKAN ABCD (Asymmetric Index,
Border Irregularity, Color Variation, Diameter) “ tepat pada waktunya.
Skripsi dengan beban 4 SKS ini disusun guna diajukan sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan program Strata Satu (S1) pada program studi Teknik
Informatika, Fakultas Teknologi Industri, UPN ”VETERAN” Jawa Timur.
Melalui Skripsi ini penyusun merasa mendapatkan kesempatan emas untuk
memperdalam ilmu pengetahuan yang diperoleh selama di bangku perkuliahan,
terutama berkenaan tentang penerapan teknologi bioinformatika. Namun,
penyusun menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca untuk
pengembangan aplikasi lebih lanjut.
Surabaya, 26 November 2010
iii
Penyusun menyadari bahwasanya dalam menyelesaikan Skripsi ini telah
mendapat banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada
kesempatan yang berharga ini, penyusun mengucapan terima kasih kepada:
1. Ibu dan Bapak tersayang di rumah yang senantiasa memberikan dukungan dan
mendoakan penyusun agar Skripsi ini segera terselesaikan.
2. Kakek dan AdikKu yang telah memberikan dukungan dan doa penyusun agar
Skripsi ini segera terselesaikan.
3. Bapak Ir. Sutiyono, MT, selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri.
4. Bapak Basuki Rahmat S.Si, MT, selaku Ketua Jurusan Teknik Informatika
sekaligus Dosen Pembimbing II.
5. Ibu Fetty Anggraeny S.Kom, selaku Dosen Pembimbing II yang dengan sabar
telah meluangkan banyak waktu, pikiran dan tenaga di antara kesibukan
beban-beban kegiatan akademik untuk memberikan bimbingan dan
kesempatan penyusun untuk berkreasi dalam proses pembuatan Skripsi ini.
6. Ibu Fetty Anggraeny S.Kom, Bapak Basuki Rachmat, S.Si, MT, Bapak Nur
Cahyo Wibowo, S.Kom, M.Kom dan Ibu Hj. Asti Dwi Irfianti, S.Kom,
M.Kom, Bapak Chrystia Aji Putra, S.Kom yang telah banyak memberi
masukan serta membuka wawasan baru.
7. Mi2 Qu, yang selalu memberikan semangat kepada penyusun dan telah
memberikan hiburan ketika penyusun berada pada titik jenuh.
iv
10.Teman-teman spesial satu angkatan yang telah banyak membantu penyusun
Aziz (yang membantu dan memberi semangat untuk lulus), Donny Hermawan
(minjemin komputernya) , Bowo (Sang Admiral), dan teman-teman satu Grup
lainnya.
11.Gang Ceria (Tio, Nanang, Irul, Firman, Venty dan Ratih) yang semuanya
narsis.
12.Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih
banyak atas semua doa dan bantuan yang diberikan selama ini.
Penyusun menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk penelitian di
masa mendatang. Akhir kata, semoga Skripsi ini bisa memberikan manfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Surabaya, 26 November 2010
v
Hal.
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... ii
UCAPAN TERIMA KASIH... iii
DAFTAR ISI... v
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR TABEL... ix
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Perumusan Masalah... 2
1.3. Batasan Masalah... 2
1.4. Tujuan... 2
1.5. Manfaat... 3
1.6. Metodologi Penulisan Skripsi... 3
1.7. Sistematika Penulisan... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1. Representasi Pengolahan Citra... 7
2.2. Preprocessing Citra……… 9
2.2.1 Konsep Filtering………. 9
2.3. Segmentasi Citra... 12
2.3.1. Region Growing………..…….
2.4. Ekstrasi Fitur ABCD………..
2.4.1. Asymmetry………...
2.4.2. Border Irregularity……….
2.4.3. Colour Variation………
vi
3.2. Perancangan Sistem... 25
3.2.1. Data Input... 26
3.2.2. Data Hasil... 26
3.3. Proses Perancangan……... 26
BAB IV IMPLEMENTASI SISTEM... 36
4.1. Kebutuhan Sistem... 36
4.2. Potongan dan Penjelasan Program... 36
4.2.1. Preprocessing... 36
4.2.1.1. Principal Component Analysis... 37
4.2.2. Segmentation... 37
4.4.2.1. Penentuan Titik Tengah (Seed Point)... 37
4.2.3. Ekstraksi Fitur ABCD... 38
4.2.3.1. Asymmetry... 39 4.2.3.3. Colour Variation... 4.2.3.4. Diameter...
vii
BAB VI PENUTUP... 71
6.1. Kesimpulan... 71
6.2. Saran... 71
DAFTAR PUSTAKA... 72
viii
No. Hal.
2.1. Metode Box-Counting... 20
2.2 Kalkulasi Fractal Dimension (fd) Menggunakkan Metode Box-Couning... 20
3.1. Blok Diagram Keseluruhan Proses... 27
3.2. Diagram Alir Proses Preprocessing... 28
3.3. Diagram Alir Proses Segmentasi... 29
3.4. Diagram Alir Proses Region Growing... 30
3.5. Diagram Alir Ekstraksi Fitur ABCD... 31
3.6. Antarmuka Perangkat Lunak... 32
3.7. Proses Upload Citra... 33
3.8. Setelah Citra Berhasil Diupload... 33
3.9. Setelah Mengklik Tombol Diagnosa... 34
3.10. Setelah Menentukan Titik Tengah ... 35
4.1. Potongan Program Principal Component Analysis... 37
4.2. Potongan Program Penentuan Seed Point... 38
4.3. Potongan Program Mencari Asymmetry... 39
4.4. Potongan Program Compactness Index... 40
4.5. Potongan Program Fractal Dimension... 41
4.6. Potongan Program Edge Abruptness... 42
4.7. Potongan Program Pigmentation Transation... 42
4.8. Potongan Program Colour Homogeneity... 43
4.9. Potongan Program Mencari Cpg... 43
4.10. Potongan Program Mencari Diameter... 44
ix
No. Hal.
Penyusun : Hanif Virlandy
i
ABSTRAK
Melanoma adalah sejenis kanker berbahaya yang bersifat agresif dan menyebar dengan cepat. Kanker ini timbul di sel-sel yang memproduksi pigmen melanin, yaitu pemberi warna pada kulit. Melanoma lebih mematikan jika muncul di area kulit kepala atau leher. Seringkali melanoma agak sulit dibedakan dengan luka biasa yang bukan kanker. Namun jika bisa didiagnosa sejak dini, maka resiko yang diakibatkan bisa diminimalisir.
Dalam skripsi ini, diagnosa terhadap citra dilakukan melalui tiga proses utama yakni preprocessing, proses segmentasi, dan ekstraksi fitur dermatoskopis. Pada proses preprocessing mempunyai tahapan proses median filtering. Pada proses segmentasi melakukan tahapan proses region growing. Pada proses ekstraksi fitur dermatoskopis menggunakan Ekstraksi Fitur ABCD (Asymmetry, Border Irregularity, Color Variation, dan Diameter).
Pada akhirnya, uji coba dengan menggunakan metode ini menghasilkan suatu fitur dermatoskopis yang membedakan apakah image tersebut melanoma, gejala melanoma (suspicious) atau hanya luka biasa. Untuk menentukan citra melanoma atau bukan, terdapat rumus untuk menghitung Total Dermatoskopic Value (TDV).
1
1.1 Latar Belakang
Pengolahan citra digital saat ini mengalami kemajuan yang sangat
pesat, karena diikuti dengan kemajuan di bidang perangkat pengolahan citra
itu sendiri. Komputer memiliki peranan yang sangat penting dalam proses
pengolahan citra saat ini. Salah satu penelitian adalah dibidang kedokteran
khususnya pendeteksi kanker kulit melanoma, kanker kulit melanoma
adalah penyakit kulit paling berbahaya bagi manusia dan penyakit yang
paling mematikan dari semua jenis kanker kulit. Jika penyakit ini diketahui
lebih dini, melanoma dapat dihilangkan dan disembuhkan.
Masalah ini menimbulkan ketertarikan dalam memodali para
diagnostic yang memungkinkan kemudahan pengakuan secara klinis dari
melanoama, meliputi interprestasi secara otomatis dari citra warna
dermatoskopis dengan analisa citra terkomputerisasi. Dengan begitu, ada
perkembangan menarik dari system computer bantu (computer-aided
systems atau CAD) untuk diagnosa secara klinis dari melanoma sebagai
sebuah dukungan untuk para pakar dermatologis dalam langkah analisis
yang berbeda, seperti deteksi batas luka, perhitungan fitur diagnosa,
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka dapat
dirumuskan permasalahan dari Skripsi adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana melakukan preprocessing citra yaitu median filter.
b. Bagaimana melakukan segmentasi citra yaitu deteksi luka dengan region
growing.
c. Bagaimana melakukan ekstrasi fitur dermatoskopis dengan
menggunakan ekstrasi fitur ABCD (Asymmetric Index, Border
Irregularity, Colour Variation, Diameter).
1.3 Pembatasan Masalah
Dalam pembuatan Skripsi ini, ruang lingkup permasalahan hanya
akan dibatasi pada :
a. Citra tidak tertutupi oleh rambut tebal.
b. Tidak ada objek lain di dalam luka.
1.4 Tujuan
Tujuan pembuatan skripsi ini adalah :
a. Melakukan preprocessing citra yaitu median filter.
b. Melakukan segmentasi citra yaitu deteksi luka dengan region growing.
c. Melakukan ekstraksi fitur dermatoskopis dengan menggunakan
ekstraksi fitur ABCD (Asymmetric Index, Border Irregularity, Colour
1.5 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari Skripsi ini antara lain sebagai berikut:
a. Dukungan untuk para pakar dermatologis dalam langkah analisis yang
berbeda.
b. Dapat membantu mendiagnosa dan juga menganalisa kanker kulit
melanoma berdasarkan nilai ABCD dan TDV.
c. Kemudahan diagnosa secara klinis dari melanoama, meliputi
interprestasi secara otomatis dari citra warna dermatoskopis
d. Dapat mempermudah dalam melakukan diagnostic awal kanker kulit
melanoma.
1.6 Metodologi Penulisan Skripsi
Pembuatan Skripsi terbagi menjadi beberapa tahapan sebagai
berikut:
1. Studi Literatur.
Tahap ini merupakan tahap awal dari serangkaian tahap
pengerjaan Tugas Akhir ini. Pada tahap ini dilakukan pencarian,
pengumpulan, penyaringan, pembelajaran dan pemahaman literatur
yang berhubungan dengan proses pengolahan citra dokumen
terdegradasi.
Dari hasil studi literatur dan hasil survei lapangan akan dibuat
deskripsi umum sistem serta dilakukan analisa kebutuhan sistem, selain
itu juga dilakukan perancangan awal aplikasi yang akan dibuat,
sehingga akan dihasilkan desain antarmuka dan proses yang siap untuk
diimplementasikan.
3. Pembuatan Aplikasi.
Pada tahap ini merupakan tahap yang paling banyak
memerlukan waktu karena model dan rancangan aplikasi yang telah
dibuat diimplementasikan dengan menggunakan MATLAB 7.0.
4. Uji coba dan evaluasi aplikasi.
Pada tahap ini aplikasi yang telah dibuat ini akan dilakukan
beberapa skenario uji coba dan dievaluasi untuk kelayakan pemakaian
sistem.
5. Penyusunan Buku Skripsi
Pada tahap ini merupakan tahap terakhir dari pengerjaan Skripsi.
Buku ini disusun sebagai laporan dari seluruh proses pengerjaan
Skripsi. Dari penyusunan buku ini diharapkan dapat memudahkan
pembaca yang ingin menyempurnakan dan mengembangkan aplikasi
lebih lanjut.
1.7 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan laporan Skripsi kali ini yaitu:
Berisi latar belakang yang menjelaskan tentang latar
belakang permasalahan, tujuan, manfaat, dan sistematika
penulisan yang digunakan dalam laporan Skripsi ini.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab kedua akan dijelaskan mengenai landasan teori
yang terkait dengan Skripsi ini. Semua penjelasan tersebut
terkait dengan berbagai disiplin ilmu yang diterapkan,
mulai dari konsep sampai definisi tiap istilah yang dipakai.
BAB III : DESAIN DAN IMPLEMENTASI
Pada bab ketiga diuraikan mengenai perancangan data,
proses dan antarmuka pada aplikasi pemrosesan citra serta
implementasi algoritma dan rancangan aplikasi proses
binerisasi citra dokumen ke dalam perangkat lunak.
BAB IV : UJI COBA DAN EVALUASI
Pada bab keempat berisi tentang pengujian dan evaluasi
terhadap perangkat lunak yang telah selesai dibuat
sebelumnya. Hasil dari pengembangan aplikasi akan diuji
dan dievaluasi dengan berbagai skenario uji coba.
Pada bab kelima berisi tentang kesimpulan dan saran untuk
pengembangan aplikasi lebih lanjut dalam upaya
memperbaiki kelemahan pada aplikasi guna untuk
mendapatkan hasil kinerja aplikasi yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
7
Pada bab ini akan diuraikan mengenai dasar-dasar teori yang digunakan
dalam pengerjaan tugas akhir ini. Teori yang dibahas meliputi proses-proses untuk
mengolah citra yakni preprocessing yang terdiri dari tahapan filtering.
Selanjutnya pada tahap segmentation yang meliputi tahapan region growing.
Selanjutnya pada Ekstraksi Fitur ABCD yang meliputi asymmetry index, border
irregularity, color variation, dan diameter yang selanjutnya dapat ditemukan
nilai total dermatoskopic value (TDV)-nya.
2.1 Representasi Pengolahan Citra
Pengolahan citra adalah suatu metode yang digunakan untuk
memproses atu memanipulasi citra dalam bentuk dua dimensi. Segala
operasi untuk memperbaiki, penganalisaan, atau pengubahan suatu gambar
disebut pemrosesan citra (image processing). Konsep dasar pemrosesan
suatu obyek yang menggunakan image processing diambil dari
kemampuan indra penglihatan manusia yang selanjutnya dihubungkan
dengan kemampuan otak manusia.
Dalam sejarahnya, image processing telah diaplikasikan dalam
berbagai cabang ilmu lainnya, image processing menyangkut pula berbagai gabungan cabang-cabang ilmu. Diantaranya adalah optic,
elektronik, matematika, fotografi, dan teknologi komputer.
Beberapa faktor menyebabkan perkembangan sistem image
processing menjadi lebih berkembang pesat pada saat ini. Salah satu yang utama adalah dibutuhkannya suatu teknologi yang dapat bekerja secara
mandiri, dalam arti teknologi yang dapat memproses data-data yang
diterima dan pada akhirnya teknologi tersebut harus bisa mengambil
keputusan sendiri dari hasil pengolahan data sebelumnya. Selain itu
penurunan biaya akan peralatan komputer yang dibutuhkan serta
peningkatan tersedianya peralatan untuk proses tampilan gambar juga
menjadi salah satu faktor semakin berkembangnya image processing.
Pada umumnya, obyektif dari image processing adalah
mentransformasikan atau menganalisis suatu gambar sehingga informasi
baru tentang gambar dibuat lebih jelas.
Ada 4 klasifikasi dasar dalam image processing, yaitu : point, area, geometric, dan frame.
a. Point memproses nilai pixel image berdasarkan nilai atau posisi dari
pixel tersebut. Contoh dari proses point adalah adding, subtracting, contast stretching, dan lainnya.
b. Area memproses nilai pixel-pixel suatu image berdasarkan nilai pixel
dari proses area adalah convolution, blurring, sharpening, filtering,
dan lainnya.
c. Geometric digunakan untuk merubah posisi dari pixel-pixel. Contoh dari proses geometric adalah scaling, rotation, mirroring, dan lainnya. d. Sedangkang frame memproses nilai pixel berdasarkan operasi dua
buah image atau lebih. Contoh dari proses frame adalah addition, subtraction, dan lainnya. Perbedaan proses frame disini dengan proses
point yaitu pada proses point nilai-nilai pixel-nya diproses (ditambahkan, dikurangkan, dan lainnya) dengan suatu nilai tertentu,
sedangkan pada proses frame pemprosesan nilai-nilai pixel-nya dilakukan antara dua image.
2.2 Preprocessing Citra
Preprocessing merupakan suatu proses untuk menghilangkan bagian-bagian yang tidak diperlukan pada gambar input atau untuk
menghilangkan noise untuk proses selanjutnya. Ada dua tahapan
preprocessing yakni filtering, dan principal component analysis.
2.2.1 Konsep Filtering
untuk itu dalam tugas akhir ini dipilih median filter. Konsep dasar dari median filter adalah mengurutkan pixel-pixel berdasarkan intensitas nilainya, kemudian dari data yang diurutkan tersebut
diambil nilai tengahnya. Setelah itu nilai dari pixel di tengah-tengah daerah yang sedang di-filter diganti dengan nilai tengah yang telah didapat.
Sebagai contoh seperti gambar diproses dengan median filter
3x3. Suatu daerah yang di-filter mempunyai nilai-nilai pixel 13, 4, 8, 2, 9, 6, 7, 25, dan 16. Setelah diurutkan didapatkan 2, 4, 6, 7, 8,
9, 13, 16, dan 25. Diambil nilai tengahnya yaitu 8. Setelah itu nilai
pixel paling tengah yaitu 9 diganti dengan nilai tengah yaitu 8.
2.2.2 Principal Component Analysis (PCA)
Prosedur PCA pada dasarnya adalah bertujuan untuk
menyederhanakan variabel yang diamati dengan cara menyusutkan
(mereduksi) dimensinya [1]. Hal ini dilakukan dengan cara
menghilangkan korelasi diantara variabel bebas melalui
transformasi variabel bebas asal ke variabel baru yang tidak
berkorelasi sama sekali atau yang biasa disebut dengan principal component. Setelah beberapa komponen hasil PCA yang bebas multikolinearitas diperoleh, maka komponen-komponen tersebut
menjadi variabel bebas baru yang akan diregresikan atau dianalisa
pengaruhnya terhadap variabel tak bebas (Y) dengan menggunakan
Keuntungan penggunaan PCA (Principal Component Analysis) dibandingkan metode lain :
1. Dapat menghilangkan korelasi secara bersih (korelasi = 0)
sehingga masalah multikolinearitas dapat benar-benar teratasi
secara bersih.
2. Dapat digunakan untuk segala kondisi data atau penelitian.
3. Dapat dipergunakan tanpa mengurangi jumlah variabel asal.
4. Walaupun metode regresi dengan PCA ini memiliki tingkat
kesulitan yang tinggi akan tetapi kesimpulan yang diberikan
lebih akurat dibandingkan dengan penggunaan metode lain.
Untuk proses Transform Karhunen-Loève atau PCA,
memfasilitasi proses segmentasi dengan cara memperkuat tepi
dalam citra. Transform ini, yang disebut analisis komponen
prinsipal, adalah proyeksi dari tiga komponen warna di eigen
vektor dari matriks kovarian mereka. Matriks kovarian Cov dari tiga channel RGB dikomputasi seperti dalam persamaan 2.1 :
(2.1)
Dimana (x, y) adalah ukuran tiap channel warna, V adalah matriks
realisasi pixel 3 x xy dari tiga channel warna (Persamaan 2.2), mv
adalah vektor mean dari channel warna (Persamaan 2.3), B = [ b1
b2 b3] adalah matriks yang kolomnya berupa eigen vektor dari matriks kovarian dan Λ adalah matriks diagonal yang berisi eigen
(2.2)
(2.3)
Transformasi Karhunen-Loève ditulis dalam persamaan 2.4 :
(2.4)
Dimana vk adalah vektor kolom ke kth dalam V dan T berisi
apa yang diketahui sebagai komponen utama. Baris ke kth (k = 1,3) dari T, dicatat sebagai tk, ditunjuk sebagai komponen utama ke kth.
2.3 Segmentasi Citra
Segmentasi bertujuan untuk memilih dan mengisolasikan
(memisahkan) suatu objek dari keseluruhan citra. Segmentasi terdiri dari
downsampling, penapisan dan deteksi tepian. Tahap downsampling
merupakan proses untuk menurunkan jumlah pixel dan menghilangkan sebagian informasi dari citra. Dengan resolusi citra yang tetap,
2.3.1 Region Growing
Region growing adalah suatu pendekatan untuk menentukan pixel yang bertetanggaan dari suatu seed serta menentukan apakah suatu pixel ditambahkan ke dalam seed
tersebut atau tidak. Prinsip metode ini mulanya ialah penentuan
sekumpulan seed point. Kemudian diinisialisasikan suatu region awal dari seed tersebut. Region ini akan terus berkembang dari
seed point menjadi point-point yang saling berdekatan tergantung pada kriteria yang dibuat. Kriteria yang dibuat biasanya ditentukan
berdasarkan graylevel, intensitas, atau warnanya.
Region Growing adalah teknik segmentasi yang
mengumpulkan pixel ke region homogen menurut kriteria
similaritas [7]. Algoritma ini membutuhkan seed pixel yang berada dalam ROI dan threshold θ sebagai kondisi pemberhenti. Mulai dengan pixel bibit yang merepresentasi aproksimasi pertama ROI. Keempat tetangga pixel yang berada di atas threshold dilabeli sebagai berlanjut. Jika pixel yang terkoneksi ini kurang dari
threshold, maka ia dilabeli sebagai nol, yang mengindikasikan
pixel pembatas, dan tetangganya tidak diproses. Proses rekursif ini berlanjut hingga semua pixel yang terkoneksi gagal dalam tes inklusi dalam region.
1. Pemilihan seed point yang cocok sangatlah penting.
2. Lebih banyak informasi yang terdapat pada suatu citra akan
lebih baik adanya konektivitas atau informasi pada citra yang
saling berdekatan akan sangat membantu menentukan nilai
thresholding dan seed point.
3. Penentuan nilai minimum area threshold.
4. Kriteria similaritas. Beberapa kriteria yang biasa digunakan,
yaitu gray level, color, dan texture atau bentuk. Cara menentukan region growing :
a. Tentukan beberapa seed pixel. Seed bisa ditentukan manual atau secara random.
b. Untuk setiap pixel seed, jika kriterianya sama (kriteria bisa berupa perbedaan keabuan dengan seed, dan lain-lain) maka tetangga tersebut bisa dianggap berada dalam 1 region atau
daerah dengan pixelseed .
c. Teruskan proses dengan mengecek tetangga dari tetangga yang
sudah kita cek, dst.
d. Tidak bisa hanya digunakan kriteria saja, tanpa melihat
konektivitas ketetanggaan, karena bisa tidak membentuk
daerah.
2.4 Ekstraksi Fitur ABCD
Dalam diagnosa melanoma, indikator penting TDV (Total
Dermatoscopic) adalah dihitung berdasarkan basis formula ABCD,
menggunakan 4 variabel : Asymmetry, Border Irregularity, Color
Variation dan Diameter.
Untuk mendapatkan nilai TDV, maka didapatkan rumus sebagai
berikut [7]:
TDV = A.1,3 + B. 0,1 + C. 0,5 + D. 0,5 (2.5)
Dari hasil perhitungan TDV, maka nilai yang didapatkan memiliki
kesimpulan sebagai berikut :
a. 1,00 – 4,75 – benign skin lesion (hanya luka biasa) b. 4,75 – 5,45 - suspicious (indikasi melanoma)
c. More than 5,45 – melanoma
2.4.1 Asymmetry
Sebuah melanoma berkembang pada tahi lalat yang sudah
ada, di sisi lain, ia mengakibatkan luka baru yang bisa mirip tahi
lalat aslinya. Sebuah tahi lalat non kanker bagaimanapun juga
bentuknya simetris dan sirkular sedangkan melanoma biasanya
tumbuh secara irregular dan asimetris.
Untuk mengukur asimetri, bergantung pada properti
mengkalkulasi 2 fitur yaitu indeks asimetri AI dan pemanjangan
indeks Ầ.
a. Asymmetry Index
Sejauh kuantifikasi asimetri diperhatikan, asal dari basis
Cartesian Local adalah pusat massa G dari sebuah luka terkini L yang dijelaskan oleh fungsi biner z(i, j) z(i,j) = 1 jika (i, j)
L, selain itu 0. Momen terpusat inersial kuadrat () dari tiap luka L berkenaan dengan axis arbitrar melalui G menunjukkan
sudut dengan axis Cartesian diberikan dalam persamaan
(2.6) :
(2.6)
Dimana D (i,j) adalah jarak antara pixel terkini (i,j) dan
proyeksinya pada , sepanjang normal direksi ke . Axis
utama mayor diasosiasikan ke momen inersia terkecil L dan
menyediakan arah longitudinal, 0, dari L [7]. Lu didapat dari
menghitung derivative Persamaan (2.6) dan mengeset ke 0 seperti dalam persamaan (2.7) :
Dimana mc11, mc20 dan mc02 merepresentasikan produk standar,
momen kuadratik dengan berkenaan dengan axis Cartesian Gx
dan momen kuadratik yang berkenaan dengan axis Cartesian
vertical Gy [7].
Axis utama minar dari L yang dihubungkan ke arah 0 +
/2 menghasilkan arah transverse dari L yang diasosiasikan ke
momen inersia terbesar. Axis transverse dan longitudinal L bisa digunakan untuk mengkalkulasi indeks asimetri. Ini dilakukan
dengan melipat luka L sekitar axis orthogonal dan mengukur area non overlap seperti dalam persamaan (2.8).
(2.8)
Dimana subscript k mengidentifikasikan axis utama (mayor vs.
minor), Ak berupa area non overlapping yang
berkorespondensi dari luka yang dilipat dan AL (AL = mc00)
adalah area luka [7].
Central Moment didefinisikan sebagai :
(2.9)
Jika f(x,y) adalah citra digital, maka persamaan 2.9 menjadi :
b. Lengthening Index
Pengukuran ini digunakan untuk mendeskripsikan
pemanjangan sebuah luka, contoh derajat anisotropy luka. Pemanjangan luka direlasikan ke eigen value λ’ , λ’’ dari
matriks tensor inersia [7]. Ini didefinisikan oleh rasio momen inersia λ’ sekitar axis mayor menggunakan momen inersia λ’’ sekitar axis minor.
(2.11)
2.4.2 Border Irregularity
Luka tidak berbahaya umunya punya pembatas yang jelas.
Sebuah melanoma, sering menunjukkan pembatas tak jelas atau
kabur yang mensinyalkan pertumbuhan dan penyebaran kanker.
Irregularitas pembatas luka (Border Irregularity Lesion) ini sudah mempresentasikan faktor diagnostik yang sangat
signifikan ketika menduga bahaya sebuah luka. Dalam kerja ini,
digunakan lima fitur untuk mengkuantifikasi iregularitas
Abruptness) Cr dan transisi pigmentasi (Pigmentation Transition)
me dan ve.
a. Compactness Index
Indeks kepadatan (Compactness Index / CI) (Persamaan 2.12) adalah pengukuran bentuk pembatas paling popular yang
mengestimasi kebulatan obyek 2D. Bagaimanapun juga, ukuran
ini sangat sensitif ke noise sepanjang pembatas yang
diamplifikasi oleh term kuadrat dari perimeter.
(2.12)
Dimana PLadalah perimeter luka.
Untuk mencari PL, dilakukan operasi edge detector
Robert untuk mendeteksi tepian. Metode Robert adalah nama lain dari teknik differensial yang dikembangkan di atas, yaitu
differensial pada arah horisontal dan differensial pada arah horisontal dan differensial pada arah vertikal, dengan
ditambahkan proses konversi biner setelah dilakukan
differensial [7]. Teknik konversi biner yang disarankan adalah
konversi biner dengan meratakan distribusi warna hitam dan
putih.
H = [ - 1 1 ] dan V =
b. Fractal Dimension
Fractal memiliki karakteristik kesamaan sendiri (self similarity), artinya fractal memiliki sifat-sifat yang sama untuk berbagai skala atau ukuran yang digunakan. Setiap bagian
fractal yang memiliki skala berbeda tersebut memiliki sifat yang sama dengan keseluruhan fractal. Karakteristik ini yang menyebabkan fractal tidak cocok digunakan untuk teknik kompresi. Karakteristik lain dari fractal adalah dimensinya.
Ukuran dimensi pada umumnya merupakan bilangan
bulat, seperti garis memiliki dimensi 1, bidang memiliki
dimensi 2, dan kubus memiliki dimensi 3, dan seterusnya [7].
Akan tetapi, dimensi fractal merupakan suatu yang aneh karena dapat bernilai pecahan. Dimensi fractal ini dapat digunakan sebagai ciri suatu citra.
Dimensi fractal dapat dihitung dengan metode
perhitungan kotak (box-counting). Metode ini membagi citra menjadi kotak-kotak dengan berbagai variasi ukuran (r).
Salah satu contoh penentuan nilai r adalah 2k, dengan k
= 0,1,2, ... dst, dan 2k, lebih kecil dari ukuran citra. Gambar 2.1
Gambar 2.1 Metode Box-Counting
Contoh untuk melanoma atau lesion, digunakan grid kotak yang membagi citra ke dalam pixel berukuran r x r (Gambar 2.2). N(r) dievaluasi sebagai jumlah pixel yang berisi potongan pembatas luka. Ukuran pixel berbeda r dan digunakan dan fd diperoleh sebagai slop garis regresi log(r) vs. Log (N(r)).
Gambar 2.2 Kalkulasi Fractal Dimension (fd) Menggunakan Metode
Box-Counting
Secara keseluruhan, hubungan antara N(r) dan fd dapat
N (r) = r –fd (2.14)
Persamaan 2.14 diperluas menjadi :
Log ( 1/N(r) ) = fd x Log (r) – Log () (2.15)
c. Edge Abruptness
Luka dengan pembatas irregular (Edge Abruptness) memiliki perbedaan besar dalam jarak radial (contoh jarak d2
antara sentroid GL dan pembatas C) mengestimasi irregularitas
pembatas dengan menganalisa perbedaan distribusi jarak radial:
(2.16)
Dimana md adalah mean jarak d2 antara point pembatas dan
sentroid GL [7].
d. Pigmentation Transition
Fitur penting ini menjelaskan transisi pigmentasi antara
luka kulit dan kulit sekitarnya. Tepi curam yang tajam bersifat
berbahaya ketika pemudaran perlahan-lahan mengindikasikan
luka tak berbahaya. Untuk itu, dipertimbangkan komponen
serian lum (i,j) (Persamaan 2.17) dari citra warna asli hanya
sebagai tiga komponen warna yang berbobot sama. Lalu,
sepanjang pembatas C dari luka kulit. Diperoleh set-set nilai
magnitude gradien K, e (k) (1 ≤ k ≤ K, dimana K adalah jumlah sampel pembatas) yang mendeskripsikan secara lokal
transisi antara luka dan latar kulit di tiap poin tepi [7]. Untuk
menjelaskan transisi secara global, digunakan mean mc dan
variance ve dari nilai magnitude gradien e(k) yang
mendeskripsikan level kecuraman dan variasinya secara global
(Persamaan 2.18).
(2.17)
(2.18)
2.4.3 Color Variation
Salah satu tanda awal dari melanoma ialah munculnya
variasi warna dalam warna. Karena melanoma tumbuh dalam sel
penumbuh pigmen, mereka sering berwarna warni sekitar coklat,
coklat gelap, atau hitam, tergantung produksi pigmen melanin di
kedalaman berbeda pada kulit.
Untuk membatasi diagnosis lebih jauh, variasi warna dalam
sebuah luka dijelaskan dengan homogenitas warna (Color
Homogeneity) Ch dan korelasi antara geometri dan fotometri
a. Color Homogeneity
Histogram luminance dari luka dibagi ke dalam tiga interval yang panjangnya sama. Interval yang berelasi ke nilai
luminance ketiga terkecil mendefinisikan area gelap dalam
level intermediate berelasi ke yang lain dari luka dan tidak
terlibat dalam kuantifikasi warna. Lalu, homogenitas warna.
Dijelaskan sebagai jumlah transisi zona lebih terang atau zona
lebih gelap dan zona lebih gelap atau zona lebih terang ketika
memindahi luka secara horizontal dan vertikal [7].
b. Correlation Between Geometry And Photometry
Atribut ini mengevaluasi distribusi warna pada luka.
Termasuk penjelasan evolusi level warna dari sentroid GL
terhadap pembatas luka. Nilai ini lebih besar untuk luka tak
berbahaya karena ia memiliki aspek target, sedangkan nilai
yang kecil menandakan bahaya.
(2.19)
Dimana md dan vd adalah mean dan variance jarak d2 yang
diperkenalkan dalam persamaan 2.19, m1 dan v1 berelasi ke
2.4.4 Diameter
Melanoma cenderung tumbuh lebih besar dari tahi lalat
umum dan khususnya berdiameter 6 mm. Karena seringkali bentuk
luka tidak beraturan, untuk mencari diameter, ditarik garis dari
25
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM
3.1 Analisis Permasalahan
Aplikasi yang akan dibuat pada Skripsi ini merupakan sebuah aplikasi
diagnosa kanker kulit melanoma. Data-data yang diolah adalah data masukkan
berupa citra. Pada aplikasi diagnosa ini, difokuskan pada sebuah form yang
mampu menangani diagnosa dengan mengunakan perumusan Ekstraksi Fitur
ABCD (Asymmetry, Border Irregularity, Colour Variation dan Diameter) yang
berhubung dengan pengolahan citra digital. Pada proses perhitungan ABCD
memerlukan beberapa proses sebelumnya yaitu preprocessing dan segmentasi.
Dalam preprocessing dilakukan pemfilteran citra sedangkan dalam segmentasi
melakukan process region growing.
3.2 Perancangan Sistem
Desain atau perancangan data diperlukan untuk menentukan format
data yang tepat untuk perangakat lunak sehingga dapat dioperasikan secara
benar. Terdapat 3 ( tiga ) macam data yang diperlukan dalam pengoprasian
perangakat lunak yaitu data masukan yang didapatkan dari pengguna
perangkat lunak, data proses yang dibutuhkan dan dihasilkan selama
proses eksekusi perangkat lunak dan data keluaran yang memberikan hasil
3.2.1 Data Input
Data masukan yang diberikan oleh pengguna berupa citra masukan.
Data citra masukan ini merupakn file citra dokumen yang terdegradasi.
Data citra masukan ini adalah citra luka melanoma maupun yang diduga
melanoma ( suspicious ) dengan format file bebas asal mendukung format
file citra seperti .bmp, .jpg, .gif, dsb, dengan ukuran citra bebas. Citra
masukan diharapkan adalah hasil foto dari luka dengan resolusi citra harus
bagus dan berwarna.
3.2.2 Data Hasil
Data keluaran terakhir yang didapt adalah tampilan data citra
keluaran adalah citra bluring (bluring image) yang dibatasi ROI-nya
(Region of Interest) dan didapatkan nilai – nilai A, B, C, D-nya untuk
dihitung nilai TDV-nya sehingga bisa didapatkan kesimpulan bahwa citra
tersebut melanoma atau hanya luka biasa.
3.3 Proses Perancangan
Pada subbab ini akan diuraikan perancangan proses dalam
pembuatan perangkat lunak untuk melakukan binerisasi citra dokumen.
Perancangan proses ini bertujuan untuk memperjelas hubungan antar
proses beserta langkah – langkah yang dilakukan pada setiap proses.
Secara garis besar, proses yang dilakukan adalah :
1. Data Input : Citra Dermatoskopis
3. Segmentation
4. Ektraksi Fitur ABCD
5. Data output : Total Dermatoscopic Value
Gambar 3.1 Blok Diagram Keseluruhan Proses
3.3.1 Proses Preprocessing
Proses Preprocessing merupakan tahap paling awal pada aplikasi
ini. Dalam preprocessing, terdapat dua subproses lagi yakni median
filtering. Proses ini dilakukan untuk tujuan menghilangkan area noise pada
tahap awal, melakukan penghalusan tekstur. Untuk tujuan tersebut
digunakan pemfilteran menggunakan median filter yakni mengambil pixel
3 x 3 lalu diurutkan dari yang terkecil hingga terbesar, dan kemudian
diambil nilai tengah, yang bertujuan untuk memperbaiki noise impulsive.
keluaran dari proses ini adalah data citra preprocessing yang merupakan
citra bluring yang telah terfilter.
Gambar 3.2 Diagram Alir Proses Preprocessing
3.3.2 Proses Segmentasi
Setelah didapatkan bluring image dari hasil preprocessing, maka
citra output dari hasil preprocessing diproses untuk didapatkan Region of Start
Filtering
End
Citra Asli
Semua citra yang telah terilter Input Citra
dermatologi
Citra hasil preprocessing Output Citra
Interestnya melalui proses segmentasi. Gambar 3.3 menunjukkan rentetan pelaksanaan proses ini hingga selesainya.
Gambar 3.3 Diagram Alir Proses Segmentasi Start penumbuhan luka dengan
penentuan seed pixel Input Citra hasil
preprocessing degree dari citra bluring
Gambar 3.4 Diagram Alir Proses Region Growing
3.3.3 Proses Penghitungan TDV Melalui Ektraksi Fitur ABCD
Setelah didapatkan ROI dari citra melalui proses segmentasi, maka
Irregularity, Color Variation, dan Diameter. Setelah didapatkan nilai ABCD- nya, maka dapat dihitung nilai Total Dermatoskopic Value
(TDV). Berikut adalah diagram dari Penghitung TDV:
Gambar 3.5 Diagram Alir Ektraksi Fitur ABCD
3.3.4 Data Output
Data keluaran atau output dari keseluruhan proses adalah berupa
nilai TDV (Total Dermatoskopic Value) yang didapatkan dengan
Start
Mendapatkan nilai Border Irregularity-nya
Mendapatkan nilai Color Variation-nya
Mendapatkan nilai Diameternya
menghitung Ektraksi Fitur ABCD dan didapatkan kesimpulan apakah citra
yang diperoses tadi adalah melanoma, luka biasa, atau suspect melanoma.
3.4 Perancangan Antarmuka
Untuk memudahkan pengguna, maka perlu dibuat form antarmuka.
Gambar 3.8 menampilkan desain form antarmuka untuk implementasi
sistem binerisasi ini.
Gambar 3.6 Antarmuka Perangkat Lunak
Pada form terdapat tombol ‘Upload image’ untuk mencari file yang
akan menjadi citra masukan. Image dapat berupa tipe *.jpg, *.bmp, *.png,
Gambar 3.7 Proses Upload Citra
Gambar 3.8 Setelah Citra Berhasil Diupload
Kemudian tombol ‘diagnosa’ untuk menjalankan proses
preprocessing secara keseluruhan yang kemudian akan dihasilkan citra
Gambar 3.9 Setelah Mengklik Tombol Diagnosa
Lalu cursor mouse berubah, user mengklik daerah luka satu kali dengan
mouse dan menekan enter satu kali saja. Setelah itu muncul garis tepi berwarna hijau dan garis koordinat x dan y dan muncul citra hitam putih pada axis ’ Black
Gambar 3.10 Setelah Menentukan Titik Tengah
36 Pada bab ini dilakukan uji coba terhadap sistem yang telah dirancang
dan diimplentasikan. Uji coba dilakukan pada beberapa citra melanoma dan yang
bukan melanoma yaitu citra biasa dan citra luka biasa.
4.1 Kebutuhan Sistem
Sebelum melakukan implementasi dan menjalankan sistem ini,
dibutuhkan spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak dengan
kondisi tertentu agar dapat berjalan dengan baik. Berikut ini adalah
kebutuhan minimal perangkat keras dan perankat lunak untuk menjalankan
aplikasi untuk optimasi penjadwalan mata kuliah dan ujian:
a. Komputer dengan prosesor Pentium 4 1.8 GHz.
b. Memori minimal 512GB.
c. Sistem operasi Microsoft Windows XP SP2.
d. Tools Matlab 7.0
4.2 Potongan dan Penjelasan Program
4.2.1 Preprocessing
Preprocessing adalah tahap paling awal. Dalam preprocessing ini
citra difilter menggunakan median filtering untuk menghilangkan noise.
4.2.2 Segmentasi
Pada proses segmentasi ini dicari titik tengah dan garis tepi dari
luka melalui fungsi region growing.
4.2.2.1 Penentuan Titik Tengah (Seed Point)
Penentuan titik tengah atau seed point untuk menentukan
tepian daerah region atau penumbuhan dan perhitungan pada
tahap Ekstraksi Fitur ABCD. Gambar 4.2 menunjukkan
potongan program dari penentuan seed point.
[y,x]=getpts; y=round(y(1)); x=round(x(1)); %getpts : membaca koordinat
dari posisi cursor mouse, round(integer paling dekat) ambil yg pertama di
klik
Regi = regiongrowing(double_img,x,y,0.2);
Gambar 4.2 Potongan Program Penentuan Seed Point
Hasil dari proses seed point ini adalah didapatkan titik
tengah koordinat x dan y dimana nilai ini akan menjadi input
dari fungsi regiongrowing yang potongan programnya akan
ditampilkan di bab lampiran.
4.2.3 Ekstraksi Fitur ABCD
Ekstrasi Fitur ABCD atau aturan ABCD adalah bagian yang
terpenting dari skripsi ini, karena dari sinilah dapat ditentukan apakah citra
aturan untuk mencari 4 komponen penting dari suatu citra luka yang
meliputi menghitung Asymmetry, Border Irregularity, Colour variation
dan Diameter. Setelah dari nilai keempat komponennya ditemukan, lalu
dihitung menggunakan rumus TDV (Total Dermatoskopis Value).
4.2.3.1 Asymmetry
%cari Asymmetry Index
asym = 0.5 * ((teta/M00) + ((teta+pi/2)/M00)) %Rumus asymmetry index
lamda=(miuaks20+miuaks02-sqrt((miuaks20-miuaks02)+4*(miuaks11^2)))/2;
lamda2=(miuaks20+miuaks02+sqrt((miuaks20miuaks02)+4*(miuaks11^2)))/2;
lengt=lamda/lamda2
% Rata-rata asymmetry(A)
nilaiAsym = (asym + lengt)/2;
% A untuk TDV
Atdv = nilaiAsym * 1.3;
Gambar 4.3 Potongan Program Mencari Asymmetry
Untuk mencari nilai asymmetry langkah pertama yang
harus dilakukan adalah mencari nilai asymmetry index, dalam
mencari asymmetry index dilakukan pencarian dari nilai
moment yang potongan programnya di bab lampiran kemudian
dari hasil proses pencarian nilai moment akan digunakan dalam
mencari asymmetry index maupun lengthening index.
Border Irregularity digunakan untuk mencari nilai
pembatas karena biasanya melanoma memiliki pembatas yang
tidak jelas. Dalam Border Irregularity, terdapat 5 nilai yang
harus dicari diantaranya adalah Compactness Index, Fractal
Dimension, Edge Abruptness, kemudian mean dan varian dari Pigmen Transition.
4.2.3.2.1 Compactness Index
Program dibuat untuk membersihkan bercak-bercak
di dalam daerah luka yang berwarna putih (bernilai 1) agar
jumlah keliling luka dapat dihitunga dengan tepat. Karena
jika tidak, maka bercak-bercak di dalam daerah luka juga
akan terhitung sehingga hasilnya tidak akurat. Gambar 4.4
menunjukkan potongan program untuk menghilangkan
bercak-bercak pada daerah luka yang bernilai 1.
Setelah bercak-bercak hilang, lalu mendeteksi
tepian dengan menggunakan teknik Robert yang sudah
bawaannya dari matlab. Setelah keliling didapat, baru bias
dihitung rumus untuk mendapatkan compactness index.
Gambar 4.4 menunjukkan potongan program dalam
mencari compactness index.
%Mencari PL - didapatkan dengan menghitung jumlah pixel pada pinggiran luka
BW = edge(I, 'robert'); % Agar citra dapat dihitung jumlah pixel pinggirannya
[r,c]=size(I)
% PL = r;
[row col] = size(PL);
%Rumus Compactness Index
compact = (power(row,2))/(4*pi*M00)
Gambar 4.4 Potongan Program Compactness Index
4.2.3.2.2 Fractal Dimension
Untuk mencari fractal dimension, pertama-tama dari
hasil citra I dimuat kotak-kotak yang sisi-sisinya (r)
ditentukan. Setelah dibuat kotak-kotak yang berukuran rxr,
lalu citra I dinegasikan agar tepian piksel menjadi berwarna
hitam dan daerah lainnya berwarna putih. Lalu dihitung
jumlah kotak yang dilewati oleh garis tepian. Gambar 4.5
menunjukkan potongan program untuk mencari fractal
dimension.
[row column] = size(I);
% Keseluruhan kotak besar citra m = ceil(row/r);
n = ceil(column/r);
% membuat negasi citra negI = ~I;
% Rumus fractal Dimension
fractal = (log(1/fd)+log(lamda))/log(r)
Gambar 4.5 Potongan Program Fractal Dimension
Edge Abruptness atau kecuraman tepi digunakan
untuk mencari jarak antara centroid dan pembatas. Gambar
4.6 menunjukkan potongan program untuk menghitung
edge abruptness.
d=zeros(r,c); %matriks d-nya dijadikan 0 semua for i=1:r
Edge = ((1/row)*jmlMatriksAtas)/md^2 %rumus dari paper
Gambar 4.6 Potongan Program Edge Abruptness
4.2.3.2.4 Pigmentation Transition
Nilai Pigmentation Transition digunakan untuk
mencari nilai transisi antara pigmentasi luka dan kulit
sekitar. Gambar 4.7 menunjukkan potongan program untuk
mencari nilai mean dan variance.
% Pigmentation Transition
DeltaF = sqrt((boundary(1)-xc)^2+(boundary(2)-yc)^2) % DeltaF = e(k), boundary(1) dan boundary(2) adalah koordinat piksel tepi
me = sum(DeltaF)/r;
ve = (sum((DeltaF)^2) - me^2)/r;
4.2.3.3 Colour Variation
Melanoma cenderung memiliki warna yang lebih gelap
dibandingkan dengan luka biasa. Maka perhitungan variansi warna
penting untuk dilakukan untuk memperoleh homogenitas dan
korelasi antara geometric and fotometri. Gambar 4.8 menunjukkan
potongan program untuk mencari colour homogenitas atau
homogenitas warna.
for i = 1:k
Ch(i)=abs((transition(i,1,1)/transition(i,1,2)) (transition(i,1,2)/transition(i,1,1)));
end
Gambar 4.8 Potongan Program Colour Homogeneity
Setelah dicari colour homogeneity, kemudian dicari nilai Correlation between geometry and photometry (Cpg). Gambar 4.9
menunjukkan potongan program untuk mencari nilai Cpg.
for i=1:jmlP
matriksAtasCpg(i)=matriksAtasLum(i)*matriksAtasDp(i); %mengkuadratkan nilai didalam matriks
end
jmlMatriksAtasCpg = sum(matriksAtasCpg) Cpg = jmlMatriksAtasCpg/(vd*vl*M00)
Gambar 4.9 Potongan Program Mencari Cpg
Pada umumnya melanoma berdiameter lebih dari 6 mm.
Untuk mencari diameter, maka ditarik garis lurus dari semua sisi
yang melewati titik tengah (seed point) lalu dicari rata-rata dari
jumlah garis-garis tersebut. Satuan diameter masih dalam bentuk
satuan piksel, oleh karena itu dibagi skala satuan untuk menjadikan
diameter.
%Mencari diameter dengan mengalikan tiap jari2 dengan jumlah piksel DInPixel = 2*(sum(jari2)/nPiksel);
% Konversi pixel to millimeter D = DInPixel * 0.264583 /4;
45
Pada bab ini dilakukan uji coba terhadap sistem yang telah dirancang
dan diimplentasikan. Uji coba dilakukan pada beberapa citra melanoma dan yang
bukan melanoma yaitu citra biasa dan citra luka biasa.
5.1 Data Uji Coba dan Hasil Implementasi
Data yang digunakan pada uji coba ini adalah 100 citra dokumen yang
telah disiapkan sebelumnya yaitu citra berbagai macam ukuran dan format citra
jpg, jpeg dan bmp. Data citra yang akan diuji akan adalah beberapa bentuk citra
melanoma.
Tabel 5.1 100 Data Uji Coba
No. Hasil Akhir Hasil Center of Gravity
1
3
4
5
6
7
9
10
11
12
14
15
16
17
18
20
21
22
23
24
26
27
28
29
30
32
33
34
35
36
38
39
40
41
42
44
45
46
47
48
50
51
52
53
54
56
57
58
59
61
62
63
64
66
67
68
69
71
72
73
74
76
77
78
79
80
82
83
84
85
86
88
89
90
91
92
94
95
96
97
98
99
5.2 Implementasi Antarmuka
Berikut adalah hasil uji coba dari data citra dermatoskopis.
Gambar 5.1 Snap Shot Hasil Uji Coba Citra Uji1.jpg
Asimetri dari Bentuk, Struktur dan Warna. luka ini dibagi dalam empat
wilayah dan ada simetri diperiksa di sumbu x atau y. Jika asimetri hanya dengan
satu sumbu memberikan 1 point dan jika pada sumbu keduanya terdapat 2 poin.
Jika ada asimetri pada satu sumbu skor adalah 1. Jika asimetri tidak hadir
sehubungan dengan kedua sumbu skor adalah 0. Hebatnya, melanoma yang paling
memiliki nilai asimetri 2. Dengan menggunakan dermoscopy, asimetri bisa lebih
tepat dievaluasi. Memang, warna dan struktur yang jauh lebih baik terlihat
dibandingkan dengan mata telanjang yang, dalam banyak kasus, memungkinkan
penilaian asimetri hanya dengan kontur. Karena faktor yang tinggi (1,3)
Weightingfactor, jadi penilaian asimetri sangat penting untuk skor akhir.
Jika nilai border irregularity mendekati nilai minimum maka luka tersebut
tidak berbahaya karena umunya luka yang tidak berbahaya mempunyai pembatas
yang jelas. Sebuah melanoma, sering menunjukkan pembatas tak jelas atau kabur
yang mensinyalkan pertumbuhan dan penyebaran kanker.
Salah satu tanda awal dari melanoma ialah munculnya variasi warna dalam
warna. Karena melanoma tumbuh dalam sel penumbuh pigmen, mereka sering
berwarna warni sekitar coklat, coklat gelap, atau hitam, tergantung produksi
pigmen melanin di kedalaman berbeda pada kulit, jadi jika nilai dari colour
variation mendekati nilai maximum maka kemungkinan data input adalah
melanoma.
5 struktur utama melihat pada lesi. Tidak ada struktur - warna halus - 1 point,
struktur bersih titik lain 1, pohon seperti batas-batas lain titik 1, titik - 1 point dan
lesi diukur D. Jika diameter lebih dari 6 mm dapat dinyatakan sebagai
71 6.1Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembuatan program Diagnosa
Kanker Kulit Melanoma Dengan ABCD (Asymmetric Index, Border
Irregularity, Color Variation dan Diameter) adalah sebagai berikut:
1. Dalam proses Region Growing ini tidak dapat mendeteksi citra yang
beresolusi tinggi dan tidak dapat memproses citra yang memiliki warna
luka yang hampir sama denga warna kulit.
2. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan aplikasi ini menunjukkan bahwa
tingkat akurasi dari program ini sebesar 71%.
6.2Saran
Mencoba segmentasi yang lebih akurat sehingga luka yang tertutupi
oleh rambut yang lebat dapat diproses dan bisa dideteksi pada program ini
72
[1]. Barhouni W, Zagrouba E A, Preliminary Approach For The Automated Recognition Of Malignant Melanoma,2002.
[2]. M. K. Hu, “Visual Pattern Recognition by Moment Invariants”, IRE Trans. Info. Theory, vol. IT-8, pp. 179 – 187, 1962.
[3]. Basuki, Achmad. Pengolahan Citra Digital, Yogyakarta, 2005.
[4]. Barhouni W, Zagrouba E. Boundaries Detection Based on Polygonal Approximation by Genetic Algorithms. Knowledge-Based Intelligent Information engineering Systems and Allied Technologies (KES 2002), Frontiers in articial intelligence and applications, IOS Press 82(2) : 621-7, 2002.
[5]. Harintaka, Karakteristik Titik, Garis, dan Sisi Dari Hasil Berbagai Macam Teknik Filtering, 1993.
[6]. G. Grammatikopoulos, A. Hatzigaidas, A. Papastergiou, P. Lazaridis, Z. Zaharis, D. Kampitaki, G. Tryfon : Automated Malignant Melanoma Detection Using MATLAB. 2006.
[7] Bilqis Amaliah, Chastine Fatichah, M.Rahmat Widyanto, “ABCD Feature Extraction for
Melanoma SkinCancer Diagnosis”,Informatics Department, Faculty of Information Technology, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Faculty of Computer Science Universitas Indonesia
[8]. http://en.wikipedia.org/wiki/Image_moment
73
% This function performs "region growing" in an image from a specified
% seedpoint (x,y) %
% J = regiongrowing(I,x,y,t) %
% I : input image
% J : logical output image of region
% x,y : the position of the seedpoint (if not given uses function getpts)
% t : maximum intensity distance (defaults to 0.2) %
% The region is iteratively grown by comparing all unallocated neighbouring pixels to the region.
% The difference between a pixel's intensity value and the region's mean,
% is used as a measure of similarity. The pixel with the smallest difference
% measured this way is allocated to the respective region.
% This process stops when the intensity difference between region mean and
% new pixel become larger than a certain treshold (t) %
% Example: %
% I = im2double(imread('medtest.png')); % x=198; y=359;
% J = regiongrowing(I,x,y,0.2); % figure, imshow(I+J);
%
% Author: D. Kroon, University of Twente
if(exist('reg_maxdist','var')==0), reg_maxdist=0.2; end
if(exist('y','var')==0), figure, imshow(I,[]); [y,x]=getpts;
y=round(y(1)); x=round(x(1)); end
J = zeros(size(I)); % Output
Isizes = size(I); % Dimensi input image
reg_mean = I(x,y); % Mean dari region yg tersegmentasi
reg_size = 1; % Jumlah pixel dalam region
% Memory bebas untuk menyimpan tetangga dari region yg (tersegmentasi)
neg_free = 10000; neg_pos=0; neg_list = zeros(neg_free,3);
pixdist=0; % Jarak dari pixel terbaru region ke region mean
% Lokasi tetangga (footprint)
% Mulai regiogrowing hingga jarak antara regio dan kemungkinan pixel baru
% menjadi lebih tinggi dari suatu treshold tertentu
while(pixdist<reg_maxdist&®_size<numel(I))
ins=(xn>=1)&&(yn>=1)&&(xn<=Isizes(1))&&(yn<=Isizes(2));
if(neg_pos+10>neg_free), neg_free=neg_free+10000; neg_list((neg_pos+1):neg_free,:)=0; end
% Tambah pixel dengan intensity paling dekat ke mean region, ke region
dist = abs(neg_list(1:neg_pos,3)-reg_mean); [pixdist, index] = min(dist);
J(x,y)=2; reg_size=reg_size+1;
% Menghitung mean baru dari region
reg_mean= (reg_mean*reg_size + neg_list(index,3))/(reg_size+1);
% Menyimpan koordinat x dan y dari pixel (untuk tetangga tambah proses)
x = neg_list(index,1); y = neg_list(index,2);
% Hapus pixel dari (check) list tetangga
neg_list(index,:)=neg_list(neg_pos,:); neg_pos=neg_pos-1; end
% Mengembalikan area tersegmentasi sebagai logical matrix
J=J>1;
% Menghilangkan bercak-bercak di dalam citra Regi (a.jpg)
% Scanning horisontal nyari piksel awal dan akhir yang bernilai 1
for i = 1: r
objectOne(firstPos(i,1),firstPos(i,2)) = 1;
if(secondPos(boundCount,1)+secondPos(boundCount,2) ~= 0) objectOne(secondPos(i,1),secondPos(i,2)) = 1;
objectOne = cast(objectOne,'logical');
% Scanning vertikal nyari piksel awal dan akhir yang bernilai 1
if(firstFound == 0 && I(i,j)==1)
objectTwo(firstPos(i,1),firstPos(i,2)) = 1;
if(secondPos(boundCount,1)+secondPos(boundCount,2) ~= 0) objectTwo(secondPos(i,1),secondPos(i,2)) = 1;
objectTwo = cast(objectTwo,'logical');
trueObj = objectOne & objectTwo; % menggabungkan scanning
horisontal dan vertikal
2 Melanoma 0.642417 1.19614 0.0230613 6.10045 7.96206 Melanoma v
3 Melanoma 0.63731 2.74094 0.0253787 5.92138 9.325501 Melanoma v
4 Melanoma 0.183124 0.0512166 0.325534 0.979811 1.2467 Bening Skin
Melanoma
x
5 Melanoma 0.424011 0.0798885 0.169302 3.00574 3.67849 Bening Skin
Melanoma
x
6 Melanoma 0.474324 0.256149 0.3202436 4.02659 4.9595 Suspicious x
7 Melanoma 0.639806 0.080367 0.0114386 9.33782 10.0694 Melanoma v
8 Melanoma 0.558885 0.631553 0.0598194 6.96779 8.21805 Melanoma v
9 Melanoma 0.622321 1.51557 0.115711 7.59275 9.84635 Melanoma v
10 Melanoma 0.582069 0.455997 0.14549 5.96829 6.74147 Melanoma v
11 Melanoma 0.558577 0.398172 0.0116636 3.7089 4.67731 Bening Skin
Melanoma
x
12 Melanoma 3.88649 9.64836 0.0306031 2.89899 12.9666 Melanoma v
13 Melanoma 0.59425 7.6702 0.07414 1.6546 9.99319 Melanoma v
14 Melanoma 0.510042 2.17979 0.0404123 4.94315 7.6734 Melanoma v
15 Melanoma 0.576694 1.74475 0.0739225 6.06663 8.46199 Melanoma v
16 Melanoma 0.649965 0.230584 0.0106939 10.8423 11.7336 Melanoma v
17 Melanoma 0.560764 4.76556 0.225838 3.70559 9.25775 Melanoma v
18 Melanoma 0.591225 1.82473 0.113125 7.59863 10.1277 Melanoma v
19 Melanoma 0.496896 1.81851 0.090031 4.56509 6.97052 Melanoma v
23 Melanoma 0.622301 0.879307 0.112054 3.9873 5.60096 Melanoma v
24 Melanoma 0.454751 1.93061 0.0350306 6.26716 8.68755 Melanoma v
25 Melanoma 0.531349 2.03729 0.0412507 4.49178 7.10167 Melanoma v
26 Melanoma 0.506454 0.253139 0.0661454 4.87906 5.7048 Melanoma v
27 Melanoma 0.291599 1.29057 0.0254934 5.91979 7.52745 Melanoma v
28 Melanoma 0.372818 0.0837894 0.100966 7.29834 7.85591 Melanoma v
29 Melanoma 0.639521 0.657496 0.06233565 8.44539 9.80477 Melanoma v
30 Melanoma 0.472388 3.99505 0.0401179 2.13023 6.63778 Melanoma v
31 Melanoma 0.421292 0.136639 0.0299967 11.9203 12.5083 Melanoma v
32 Melanoma 0.257878 11.5101 0.019014 2.30958 14.0966 Melanoma v
33 Melanoma 0.633053 10.337 0.0505225 4.86224 15.8828 Melanoma v
34 Melanoma 0.60565 10.8138 0.129714 3.38715 14.9363 Melanoma v
35 Melanoma 0.50565 0.45787 0.145781 5.9201 7.029401 Melanoma v
36 Melanoma 0.486949 7.46368 0.0894871 2.36711 10.4072 Melanoma v
37 Melanoma 0.424611 5.62706 0.0257621 2.07755 8.15498 Melanoma v
38 Melanoma 0.577824 6.38293 0.230276 3.13186 10.3229 Melanoma v
39 Melanoma 0.303112 11.75503 0.190648 2.79329 15.0374 Melanoma v
40 Melanoma 0.34633 5.9688 0.054171 1.57302 7.94232 Melanoma v
41 Melanoma 0.512228 17.406 0.313073 1.61483 19.8461 Melanoma v
45 Melanoma 0.609713 3.87211 0.016396 2.11078 6.608999 Melanoma v
46 Melanoma 0.649982 0.0573956 0.100078 12.4078 13.2152 Melanoma v
47 Melanoma 0.556681 1.64495 0.113186 2.75398 5.0688 Suspicious x
48 Melanoma 0.643646 1.25944 0.105845 4.29247 6.30141 Melanoma v
49 Melanoma 0.480422 1.94777 0.0130832 3.01971 5.46099 Melanoma v
50 Melanoma 0.466827 4.08603 0.0205587 3.68249 8.25591 Melanoma v
51 Melanoma 0.466597 3.59396 0.00591004 3.09666 7.16312 Melanoma v
52 Melanoma 0.566058 17.5501 0.313349 1.27478 19.7043 Melanoma v
53 Melanoma 0.576911 0.436673 0.102164 4.90749 6.02321 Melanoma v
54 Melanoma 0.61264 0.268944 0.0472671 9.82088 10.7497 Melanoma v
55 Melanoma 0.474102 0.297945 0.1.3414 8.96783 9.84329 Melanoma v