KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah-Nya yang diberikan kepada penyusun sehingga skripsi yang berjudul
“
ANALISIS RASIO MODAL SAHAM TERHADAP RETURN SAHAM
PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG GO PUBLIK DI BURSA EFEK
INDONESIA”
telah terselesaikan dengan baik. Penyusunan skripsi ini
dimaksudkan untuk memenuhi syarat penyelesaian Studi Pendidikan Strata Satu,
Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Jawa Timur.
Pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberi bimbingan, dukungan, petunjuk serta bantuan
baik spirituil maupun materiil, khususnya kepada :
1.
Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP, selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2.
Bapak Dr. H. Dhani Ichsanudin Nur, SE, MM, selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3.
Bapak Drs. Ec. Gendut Sukarno, Ms. Selaku Ketua Jurusan Fakultas
Ekonomi Manajemen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa
Timur.
5.
Seluruh Dosen dan staff dosen Jurusan Manajemen yang telah memberikan
bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjadi mahasiswa
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
6.
Kepada kedua Orang Tuaku dan kedua kakakku yang telah memberikan
dukungan baik moril ataupun materiil.yang tidak mungkin penulis uraikan
dengan kata-kata.
7.
Berbagai pihak yang turut membantu dan menyediakan waktunya demi
terselesainya skripsi ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satu-persatu.
terima kasih atas semua dukungan, doa, semangat dan pengertiannya yang
telah diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah disusun dalam
skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat berharap saran
dan kritik membangun dari pembaca dan pihak lain.
Akhir kata, Penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua
pihak yang membutuhkan.
Surabaya, Mei 2010
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ………...
i
DAFTAR ISI ………...
ii
DAFTAR TABEL ………...
iii
DAFTAR GAMBAR ………..
iv
DAFTAR LAMPIRAN ………...
v
ABSTRAKSI
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ………...
1
1.2
Perumusan Masalah ………...
5
1.3
Tujuan Penelitian ………...
5
1.4
Manfaat Penelitian ………...
6
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1
Penelitian Terdahulu ………...
7
2.2
Landasan Teori ………...
8
2.2.1. Pengertian Pasar Modal ………...
8
2.2.2. Analisa Laporan Keuangan...……… .
9
2.2.2.1 Kegunaan Analisis Laporan Keuangan ………...
9
2.2.2.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan………...
11
2.2.3. Rasio Keuangan ………...
12
2.2.3.1 Definisi Rasio Keuangan ...
12
2.2.3.2 Keunggulan Rasio Keuangan ... 12
2.2.3.3 Keterbatasan Analisis Rasio ... 14
2.2.3.4 Jenis-Jenis Rasio Keuangan ………... 14
2.2.4 Rasio Modal Saham... ... 17
2.2.5 Definisi Laba Atas Ekuitas (ROE)... 18
2.2.6 Definisi Price earning Ratio (PER) ... 20
2.2.7.1 Definisi Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS) …. 21
2.2.7.2 Nilai Ekuitas Saham Preferen dan Saham Biasa... 22
2.2.8. Definisi Harga Saham Per Nilai Buku (PBV)... 23
2.2.9. Saham... 24
2.2.9.1 Pengertian Saham ... 24
2.2.9.2 Jenis – jenis saham ... 25
2.2.9.3 Definisi Return Saham ... 28
2.2.10 Pengaruh Laba Atas Ekuitas (ROE) terhadap Return Saham 28
2.2.11 Pengaruh
Price Earning Ratio
(PER) terhadap Return
Saham ... 30
2.2.12 Pengaruh Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS)
terhadap Return Saham ... 32
2.2.13Pengaruh Harga Saham Per Nilai Buku (PBV)
terhadap Return Saham ... 33
2.3 Kerangka Pikir ………... 35
2.4 Hipotesis ………... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Definisi operasional dan Pengukuran Variabel ………... 37
3.2 Teknik Penentuan Sampel………... 39
3.2.1 Populasi………....
39
3.2.2 Sampel dan Teknik Penarikan Sampel ...
38
3.3. Jenis dan Sumber Data ...………...………... 40
3.4. Prosedur Pengumpulan Data ... 40
3.5. Teknik Analisa dan Uji Hipotesis... 41
3.5.1. Uji Normalitas Data ... 41
3.5.2 Uji Asumsi Klasik ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ………... 47
4.1.1 Sejarah Singkat Pasar Modal Indonesia ………...
47
4.1.3 Gambaran Umum Perusahaan ...………... 54
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ………...
56
4.2.1 ROE (X
14.2.2 PER (X
) ……...………...
56
2
4.3.3 BVS (X
) …...………... 57
3
4.3.4 PBV (X
) ………...……...
.
58
44.3.5 Return Saham (Y) ... 60
) ………...
.
59
4.3 Analisis Dan Pengujian Hipotesis ………... 61
4.3.1 Uji Normalitas………... 61
4.3.2 Uji Outlier ... 62
4.3.3 Uji Asumsi Klasik ………... .
63
4.3.4 Analisis Regresi Linier Berganda …………... .
70
4.3.5 Koefisien Determinansi...
71
4.3.6 Uji t ...
72
4.4 Pembahasan ………... 74
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ………... .
77
5.2. Saran ………... .
77
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Perhitungan Return Saham Perusahaan Rokok yang go
Public di BEI ... 4
Tabel 2. ROE Perusahaan Rokok yang go Publik di BEI
tahun 2004-2008 ……….... 56
Tabel 3. PER Perusahaan Rokok yang go Publik di BEI
tahun 2004-2008 ………...…... 57
Tabel 4. BVS Perusahaan Rokok yang go Publik di BEI
tahun 2004-2008 …………...……… 58
Tabel 5. PBV Perusahaan Rokok yang go Publik di BEI
tahun 2004-2008 ………...…... 59
Tabel 6. Return Saham Perusahaan Otomotif yang go Publik di BEI
tahun 2004-2008 ………... 60
Tabel 7. Hasil Uji Normalitas... ………... 62
Tabel 8. Hasil Nilai Mahalanobis Distance... 63
Tabel 9. Hasil Uji Autokolerasi ... 65
Tabel 10. Hasil Uji Multikolinearitas ... 66
Tabel 11. Hasil Uji Heteroskedasititas... 69
Tabel 12. Hasil Analisis Regresi Berganda ... 70
Tabel 13. Nilai Koefisien Determinasi (R-square/R
2Tabel 14. Uji t Hasil Regresi Linier Berganda ... 72
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Tabulasi Data Keuangan
Lampiran 2 : Uji Normalitas
Lampiran 3 : Uji Asumsi Klasik
ANALISIS RASIO MODAL SAHAM TERHADAP
RETURN
SAHAM PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG
GO
PUBLIC
DI BURSA EFEK INDONESIA
Oleh :
Maslutfiyah
Abstraksi
Dalam melaksanakan kegiatannya, setiap perusahaan mempunyai tujuan
untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Usaha untuk mendapatkan
keuntungan yang maksimal atau tujuan perusahaan ini dimaksudkan agar
perusahaan mampu meningkatkan kekayaan pemilik perusahaan dan membuat
perusahaan tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar, selain
itu kemampuan manajemen perusahaan dalam menghasilkan keuntungan akan
menimbulkan kepercayaan pada pemilik perusahaan, akan tetapi sering kali
bahwa manajer dari sebuah perusahaan mungkin membuat keputusan yang
bertentangan dengan tujuan perusahaan untuk memaksimumkan kekayaan
pemegang saham. Atas dasar gambaran tersebut maka penelitian ini bermaksud
untuk meneliti mengenai analisis ratio modal saham terhadap
return
saham.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan rokok yang
go public
dan
masih terdaftar (
listing
) di Bursa Efek Indonesia sebanyak 4 perusahaan. Dengan
teknik
purposive sampling
yaitu teknik penarikan sampel non probabilitas yang
menyeleksi responden-responden berdasarkan ciri-ciri atau sifat khusus yang
dimiliki oleh sampel. Data yang dipergunakan adalah data sekunder yaitu data
yang dikumpulkan dari pihak instansi terkait yang digunakan sebagai data
pendukung dalam pengumpulan data. Sedangkan analisis yang dipergunakan
adalah analisis regresi linier berganda
.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah didapatkan bahwa variabel price
earning ratio tidak signifikan positif terhadap return saham, book value per share
berpengaruh signifikan negatif terhadap return saham dan price to book value
tidak berpengaruh signifikan positif terhadap return saham.
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laporan keuangan tidak hanya ditujukan bagi internal perusahaan tetapi juga ditujukan bagi eksternal perusahaan seperti kreditor dan investor. Laporan keuangan juga merupakan sebuah informasi yang penting bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Kegunaan laporan keuangan tersebut akan menjadi optimal apabila dilakukan analisis lebih lanjut melalui model-model analisis laporan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan pemakai informasinya. (Winarni, 2003: 60)
2
Tingkat pengembalian (return saham) yang sangat bervariatif dan sulit diprediksi ini lambat laun menjadi suatu topik atau bahan penelitian yang menarik untuk diteliti dengan menghubungkan dengan faktor-faktor fundamental yang ada. Penelitian mengenai manfaat laporan keuangan dalam hubungannya dengan return saham pun telah banyak dilakukan.
Perusahaan rokok di Indonesia merupakan satu dari beberapa entitas yang tidak pernah lepas dari faktor fundamental yang ada di negara ini. Gejolak ekonomi yang seringkali melanda Indonesia membuat perusahaan rokok di Indonesia semakin belajar akan pentingnya suatu konsistensi kinerja yang baik dan produktif. Salah satu indikator kinerja perusahaan go public
yang seringkali dipakai adalah harga saham yang ada di pasar bursa. Harga saham secara otomatis juga mencerminkan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba yang pada akhirnya akan terbentuk penilaian publik bahwa perusahaan yang memiliki harga saham yang baik akan dapat memberikan tingkat pengembalian yang konsisten dan menguntungkan.
3
fundamental mencoba mengitung nilai intrinsik dari suatu saham dengan menggunakan data keuangan perusahaan.
Untuk menghitung data keuangan perusahaan tersebut dapat digunakan rasio-rasio modal saham diantaranya adalah Return on Equity
adalah salah satu rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan modal saham tertentu, kemudian rasio Price earning ratio merupakan salah satu rasio yang sering digunakan oleh investor sebagai indikator dalam memilih instrumen saham yang tepat, juga rasio Nilai buku per lembar saham (BVS) merupakan ukuran seberapa besar nilai buku dari setiap lembar saham dan Harga saham per nilai buku (PBV) yang merupakan ukuran apakah harga saham (harga pasarnya) diperdagangkan di atas atau di bawah nilai buku saham tersebut. Ini berarti bahwa harga saham yang dibayarkan oleh investor sebesar X kali dari nilai bukunya serta Return saham merupakan pendapatan per lembar saham yang dinikmati oleh investor atas suatu investasi yang dilakukannya.
Informasi harga saham dan besarnya potensi laba yang diberikan oleh perusahaan merupakan cerminan dari ekspektasi investor pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan jaminan tingkat pengembalian investasi dimasa yang akan datang. Pengembalian investasi dapat berupa
4
digunakan sebagai elemen untuk menentukan return saham, sehingga untuk menentukan return saham investor akan membutuhkan harga saham perusahaan sebagai referensi. Berikut ini adalah informasi harga saham beberapa perusahaan rokok yang go public sampai dengan tahun 2008.
Tabel 1 : Return Saham Perusahaan Rokok Selama Lima Tahun
No Nama Perusahaan Tahun
2004 2005 2006 2007 2008
1 PT. BAT Indonesia Tbk 0,11 -0,17 -0,47 0,15 0,09
2 PT. Gudang Garam Tbk -0,004 -0,14 -0,12 -0,17 -0,50
3 PT. HM Sampoerna Tbk 0,49 0,34 0,09 -0,08 -0,09
4 PT. Bentoel Intarnational Investama Tbk 0,22 0,23 1,30 0,81 -0,07
Sumber: ICMD (diolah penulis)
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa return saham perushaaan rokok mengalami penurunan secara terus-menerus selama lima tahun terakhir. Pada PT. BAT Indonesia Tbk, PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk dan PT. HM Sampoerna Tbk return sahamnya juga berfluktuatif dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Hal ini karena memang makin kecil harapan investor atas return saham tersebut. Sehingga kebanyakan saham-saham yang listing di bursa efek dengan nilai price earning ratio tinggi biasanya diperdagangkan dengan harga yang tinggi pula
5
Berdasarkan temuan-temuan diatas, maka penelitian ini tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”
RASIO MODAL SAHAM
TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN ROKOK YANG GO PUBLIC DI INDONESIA” dengan menggunakan regresi linear berganda.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah
1.Apakah Laba Atas Ekuitas (ROE) berpengaruh terhadap Return Saham? 2.Apakah Price Earning Ratio (PER) berpengaruh terhadap Return Saham? 3.Diduga Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS) berpengaruh terhadap
Return Saham?
4.Diduga Harga Saham Per Nilai Buku (PBV) berpengaruh terhadap Return Saham?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Laba Atas Ekuitas (ROE) terhadap Return Saham.
2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham.
3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS) terhadap Return Saham.
6
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga dalam upaya memberikan informasi agar dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan sebagai informasi tambahan bagi pengguna laporan keuangan sehingga memungkinkan mereka untuk mengambil tindakan pencegahan yang perlu pada saat menginterpretasikan data keuangan.
2. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para investor yang berguna dalam pengambilan keputusan investasi pada perusahaan-perusahaan tertentu, sehingga para investor akan lebih mempertimbangkan berbagai macam faktor yang berhubungan.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Sebagai dasar melengkapi landasan teori, berikut ini disajikan
penelitian terdahulu yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi :
1. David Wijaya (2008)
Judul: Pengaruh Rasio Modal Saham Terhadap Return Saham
Perusahaan - Perusahaan Telekomunikasi Go Public di Indonesia Periode
2007
Rumusan Masalah :
apakah variabel ROE (laba atas ekuitas) secara signifikan mempengaruhi
return saham. Kedua, apakah variabel PER (Price Earning Ratio) secara
signifikan mempengaruhi return saham. Ketiga, apakah variabel BVS
(nilai buku per lembar saham) secara signifikan mempengaruhi return
saham. Keempat, apakah variabel PBV (harga saham per nilai buku)
secara signifikan mempengaruhi return saham. Kelima, apakah variabel
ROE, PER, BVS, dan PBV secara bersama-sama mempengaruhi return
saham
Kesimpulan :
Hasil Uji t menunjukkan bahwa secara parsial variabel ROE (rasio laba
atas ekuitas), PER, BVS (rasio nilai buku per lembar saham), dan PBV
(rasio harga saham per nilai buku) tidak mempunyai pengaruh secara
8
bahwa seluruh variabel independen (ROE, PER, BVS, dan PBV) secara
signifikan dan positif tidak memiliki pengaruh secara bersama-sama
terhadap variabel dependen (Return saham).
2. Winarni(2003)
Judul : “Analisis rasio modal saham untuk menilai kinerja perusahaan
kasus pada PT. Dankos Laboratories, Tbk”
Perumusan Masalah :
Bagaimana kinerja perusahaan berdasarkan rasio modal saham untuk
mengetahui tingkat rasio,laba atas ekuitas, pendapatan per lembar saham,
harga laba, tingkat kapitalisasi dan pendapatan deviden per lembar saham “.
Kesimpulan :
Dalam jangka waktu lima tahun terakhir rasio modal saham perusahan
berada di atas rasio rata-rata industri farmasi yaitu untuk rasio laba atas
ekuitas (RLE), rasio pendapatan per lembar saham (RLE), rasio
pendapatan deviden sedangkan untuk rasio harga laba (RHL) rasio
perusahaan berada di bawah rasio rata-rata industri kecuali untuk tahun
1999. Rasio harga laba (PER) berada di bawah rasio rata-rata industri
farmasi.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Pengertian Pasar Modal
Pasar modal (Capital market) adalah tempat pertemuan antara
penawaran dengan permintaan surat berharga. Di tempat inilah para pelaku
9
berharga yang ditawarkan oleh emiten. Di tempat ini pula perusahaan yang
membutuhkan dana menawarkan surat berharga dengan cara listing terlebih
dahulu pada badan otoritas di pasar modal sebagai emiten (Sunariyah,
2003:5).
Menurut Husnan (1994:3) secara formal pasar modal bisa
didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas)
jangka panjang yang bisa diperjualbelikan baik dalam bentuk hutang maupun
modal sendiri baik yang diterbitkan pemerintah, publik authorities maupun
perusahaan swasta.
Pengertian Pasar Modal secara umum adalah suatu sistem keuangan
yang terorganisir, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan
semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat
berharga yang beredar. Dalam arti sempit, pasar modal adalah suatu pasar
(tempat, berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan
saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai
jasa perantara pedagang efek.
2.2.2. Analisa Laporan Keuangan
2.2.2.1.Kegunaan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Baridwan (1997: 17) laporan keuangan merupakan
ringkasan dari suatu proses pencataan, merupakan suatu ringkasan dari
10
bersangkutan. Laporan keuangan yang utama adalah perhitungan laba-rugi,
laporan modal pemilik, neraca, dan laporan arus kas.
Laporan keuangan merupakan hasil akhir suatu proses pembukuan
yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang
terjadi selama satu periode akuntansi yang dinyatakan dalam satuan uang
yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan.
Analisis laporan keuangan memiliki beberapa kegunaan yang dapat
bermanfaat bagi stakeholders. Kegunaan analisis laporan keuangan memiliki
kegunaan sebagai berikut :
1. Untuk memberikan informasi yang lebih mendalam terhadap laporan
keuangan itu sendiri.
2. Untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam
hubungannya dengan suatu laporan keuangan.
3. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil
keputusan.
4. Dapat digunakan untuk membandingkan dengan perusahaan lain atau
dengan perusahaan lain secara industri (vertikal).
5. Untuk memahami situasi dan kondisi keuangan perusahaan.
6. Dapat juga digunakan untuk memprediksi bagaimana keadaan
11
2.2.2.2. Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Baridwan (1997: 19), tujuan laporan keuangan adalah
sebagai berikut : “Laporan keuangan dibuat oleh manajemen dengan tujuan
untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
oleh para pemilik perusahaan. Disamping itu laporan keuangan dapat juga
digunakan untuk memenuhi tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada
pihak-pihak diluar perusahaan.
Tujuan umum laporan keuangan tersebut yaitu untuk :
a. Memberikan informasi mengenai sumber-sumber ekonomi dan
kewajiban serta modal perusahaan.
b. Memberikan informasi mengenai perubahan dalam sumber-sumber
ekonomi netto (sumber dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang
timbul dari aktivitas-aktivitas usaha dalam rangka memperoleh laba.
c. Memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan
keuangan dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan
laba.
d. Memberikan informasi lainnya mengenai perubahan dalam
sumber-sumber ekonomi dan kewajiban, seperti informasi mengenai aktivitas
pembelanjaan dan penanaman.
e. Menyediakan informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan
yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan. (Baridwan, 1997: 4)
Menurut Riyanto (1995: 327), laporan finansial memberikan ikhtisar
mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca (balance sheet)
12
dan laporan laba rugi mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama satu
periode tertentu biasanya meliputi periode satu tahun.
2.2.3. Rasio Keuangan
2.2.3.1. Definisi Rasio Keuangan
Rasio keuangan dalam analisis laporan keuangan adalah angka-angka
yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur yang lainnya
dalam laporan keuangan. Hubungan antara unsur-unsur laporan keuangan
tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana dan mudah
dipahami. ”Secara individual rasio itu kecil artinya, kecuali jika
dibandingkan dengan suatu rasio standar yang dipakai sebagai dasar
pembanding, dari penafsiran rasio-rasio suatu perusahaan.” (Jumingan, 2008
: 118).
”Rasio keuangan ini hanya menyederhanakan informasi yang
menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan yang lainnya. Dengan
penyederhanaan ini kita dapat menilai secara cepat hubungan antara pos tadi
dan dapat membandingkannya dengan rasio lain sehingga kita dapat
memperoleh informasi dan memberikan penilaian.” (Harahap, 2001:297).
2.2.3.2. Keunggulan Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan memiliki beberapa keunggulan jika
dibandingkan dengan teknik analisis lainnya. Keunggulan tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Rasio merupakan angka-angka atau iktisar statistik yang lebih mudah
13
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan
laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model
pengambilan keputusan dan model-model pengambilan keputusan dan
model prediksi (Z score).
5. Menstandarisir size perusahaan.
6. Lebih mudah dalam memperbandingkan suatu perusahaan dengan
perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik
atau ”time series”.
7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa
yang akan datang.
2.2.3.3. Keterbatasan Analisis Rasio
Harahap (2001:298) mengatakan bahwa disamping keunggulan yang
dimiliki analisis rasio, teknik ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang
harus disadari sewaktu penggunaannya agar kita tidak salah dalam
penggunaanya.
Keterbatasan analisis rasio itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat untuk kepentingan
pemakainya.
2. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga
14
a. Banyak perhitungan rasio atau laporan keuangan itu yang
mengandung taksiran dan judgement yang dapat dinilai bias atau
subyektif.
b. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai
perolehan (cost) bukan harga pasar.
c. Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka
rasio.
d. Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa
diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
3. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan
kesulitan menghitung rasio.
4. Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron.
5. Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi
yang dipakai tidak sama. Oleh karena jika dilakukan perbandingan bisa
menimbulkan kesalahan.
2.2.3.4. Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan memiliki jenis yang sangat banyak sekali,
namun pada penerapannya hanya beberapa rasio keuangan saja yang sering
digunakan. Menurut Harahap (2001:301-311) ada beberapa jenis rasio yang
sering digunakan dalam bisnis sebagai alat analisis. Rasio keuangan yang
15
1. Rasio Likuiditas.
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini dapat dihitung
melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar
dan hutang lancar. Rasio likuiditas ini meliputi current ratio, quick
ratio(acid test ratio), rasio kas atas aktiva lancar, rasio kas atas hutang
lancar, rasio aktiva lancar atas total aktiva, dan aktiva lancar atas total
hutang.
2. Rasio Solvabilitas.
Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya
apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pos-pos yang
sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan hutang jangka panjang.
Rasio solvabilitas meliputi rasio hutang atas modal, rasio pelunasan
hutang (debt service ratio), dan rasio hutang atas aktiva.
3. Rasio Rentabilitas / Profitabilitas.
Rasio rentabilitas atau yang biasa disebut profitabilitas ini
menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui
semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas,
modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya. Rasio yang
menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut juga
operating ratio. Rasio profitabilitas meliputi gross profit margin, net
16
contribution margin, return on asset (ROA), return on total asset dan
return on equity (ROE).
4. Rasio Leverage.
Rasio ini menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap
modal maupun asset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan
dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang
digambarkan oleh modal (equity). Perusahaan yang baik seharusnya
memiliki komposisi modal lebih besar dari hutang. Rasio ini bisa juga
dianggap bagian dari rasio solvabilitas. Rasio leverage meliputi leverage,
capital adequacy ratio (rasio kecukupan modal), dan capital formation.
5. Rasio Aktivitas.
Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam
menjalankan operasi baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan
kegiatan lainnya. Rasio aktivitas meliputi inventory turnover, inventory
days in hand, account receivable turnover, account receivable in days,
account payable turnover, account payable in days, total asset turnover,
dan fixed asset turnover.
6. Rasio Pertumbuhan.
Rasio ini menggambarkan persentasi pertumbuhan proses perusahaan
dari tahun ke tahun. Rasio pertumbuhan meliputi rasio kenaikan
penjualan, rasio kenaikan laba bersih, earning per share(EPS), dan rasio
17 7. Market BasedRatio (Penelitian Pasar).
Rasio ini merupakan rasio yang lazim dan yang khusus dipergunakan
dipasar modal yang menggambarkan situasi atau keadaan prestasi
perusahaan di pasar modal, tanpa menutup kemungkinan untuk
menggunakan rasio yang lainnya. Market based ratio meliputi price
earning ratio dan market to book value ratio.
8. Rasio Produktivitas.
Perusahaan yang ingin dinilai dari segi produktivitas unit-unitnya maka
bisa dihitung dengan menggunakan rasio produktivitas. Rasio ini
menunjukkan tingkat produktivitas dari unit-unit atau kegiatan yang
dinilai. Rasio produktivitas meliputi rasio karyawan atas penjualan, rasio
biaya per karyawan, rasio penjualan terhadap space ruangan, rasio laba
terhadap karyawan, rasio laba terhadap cabang, dan rasio-rasio yang
lainnya.
2.2.4. Rasio Modal Saham
Ketatnya persaingan dunia bisnis mengharuskan pihak manajemen
untuk memanfaatkan sumber dana perusahaan secara efektif dan efisien.
Salah satu sumber dana perusahaan berasal dari modal saham yang
ditanamkan oleh para investor, maka secara otomatis modal saham
merupakan bagian dari laporan keuangan yang harus dilaporkan manajemen
perusahaan kepada para pemegang saham atau investor.
Menurut Halim, 2005 dalam Wijaya. Model penilaian saham
merupakan suatu mekanisme untuk mengubah serangkaian variabel
perusahaan (misalnya penjualan, laba, dan deviden) yang diamati menjadi
18
Laporan keuangan perusahaan korporasi meliputi modal saham.
Manajemen perusahaan korporasi harus melaporkan keadaan perusahaan
kepada pemilik, yaitu pemegang saham. Salah satu teknik yang digunkan
adalah rasio modal atau rasio pasar. Rasio pasar merupakan perhitungan
keuangan yang digunakan oleh para investor untuk mengevaluasi kinerja
keuangan perusahaan go public. Para pemegang saham sebagai investor
sangat berkepentingan pada analisis rasio keuangan perusahaan ( dalam
Winarmi : 61).
Dengan menggunakan analisis rasio modal saham ini dapat diketahui
tingkat rasio laba atas ekuitas, pendapatan per lembar saham, harga laba,
tingkat kapitalisasi, dan pendapatan deviden per lembar saham (dalam
Winarmi : 60)
2.2.5. Definisi Laba Atas Ekuitas (ROE)
Menurut Hanafi (2003:85), Return on Equity adalah salah satu rasio
profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
laba dengan berdasarkan modal saham tertentu. Rasio ini merupakan ukuran
profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham.
“Rasio laba atas ekuitas (ROE) mengukur besarnya pengembalian
terhadap investasi para pemegang saham. Rasio ini dipergunakan untuk
mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih melalui
19
laba bersih bila dukur dari modal pemilik. Semakin besar semakin bagus”.
Harahap (2001:305)
Investor memiliki suatu cara tersendiri dalam memperkuat ekspektasi
atas investasi yang dilakukannya dengan lebih memperhatikan seberapa
besar kemampuan perusahaan dalam mengelola modal sendiri untuk
menghasilkan laba bersih. Semakin besar hasil pengembalian atas modal
sendiri (ROE) maka semakin efisien dan efektif manajemen perusahaan. Hal
ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu memanfaatkan modalnya sendiri
dibandingkan perusahaan lain. Dengan demikian hal ini akan mendorong
investor untuk mempertahankan modalnya pada perusahaan tersebut,
sehingga permintaan saham akan meningkat dan pada akhirnya dapat
menaikkan harga saham. Demikian pula sebaliknya apabila ROE rendah
berarti perusahaan tidak menggunakan equity-nya dengan efisien dan efektif,
sehingga hal ini dapat mengurangi kepercayaan investor dan pemegang
saham terhadap perusahaan dan menimbulkan dampak pada turunnya harga
saham. Pada akhirnya ROE dijadikan sebagai salah satu indikator atas kinerja
suatu perusahaan mengingat para investor lebih cenderung memperhatikan
kemampuan perusahaan dalam mengelola modalnya.
Commite on Treminology mendefinisikan laba sebagai jumlah yang
berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain, dan kerugian dari
penghasilan atau penghasilan operasi. Sedangkan FASB Statement
mendefinikan laba sebagai perubahan dalam equity (net asset) dari suatu
20
kejadian atau peristiwa yang berasal dari bukan pemilik. “Laba menunjukkan
pendapatan dari penjualan yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu,
dalam income termasuk seluruh perubahan dalam equity selain dari pemilik
dan pembayaran kepada pemilik”. (Harahap, 2001:113)
Menurut Winarni (2003 : 61) Laba atas ekuitas digunakan untuk
mengukur besarnya pengembalian terhadap investasi para pemegang saham.
Angka tersebut menunjukkan seberapa baik manajemen memanfaatkan investasi
para pemilik saham. Laba atas ekuitas dapat dihitung dengan rumus :
100% x saham pemegang modal
pajak setelah pendapatan
ekuitas atas
Laba
2.2.6. Definisi Price Earning Ratio (PER)
Price earning ratio (PER) digunakan untuk mengukur seberapa
banyak para investor bersedia membayar untuk setiap rupiah dari laba yang
dilaporkan. Alternatif lain selain menggunakan arus kas atau arus deviden
dalam menghitung nilai fundamental atau nilai intrinsik saham adalah dengan
menggunakan nilai laba perusahaan (earnings). Salah satu pendekatan yang
populer dalam penggunaan nilai earnings untuk mengestimasi nilai intrinsik
adalah melalui pendekatan PER (Price Earnings Ratio) atau disebut juga
pendekatan earning multiplier. Rasio ini menunjukkan perbandingan antara
harga saham di pasar atau harga perdana yang ditawarkan dibandingkan
dengan pendapatan yang diterima. Harahap (2001:311) mengatakan bahwa
PER yang tinggi menunjukkan ekspektasi investor tentang prestasi
21
Ratio) menunjukkan rasio dari harga saham terhadap earnings. Ratio ini
menunjukkan berapa besar investor menilai harga dari saham terhadap
kelipatan dari earnings”. (Jogiyanto, 2003:105)
Penggunaan price earning ratio dalam analisis bermula dari
terbentuknya harga saham di pasar. Tjiptono (1997:151) mengatakan bahwa
harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan. Selain itu harga akan bersifat
fleksibel atau dapat berubah dengan cepat, sehingga pemegang saham
maupun investor secara tidak langsung akan berpedoman pada harga pasar
saham di dalam membandingkan kemampuan perusahaan memberikan
return. “Laba menunjukkan pendapatan dari penjualan berbagai biaya, dan
laba yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu, dalam income
termasuk seluruh perubahan dalam equity selain dari pemilik dan
pembayaran kepada pemilik”. (Harahap, 2001:113).
Rasio PER adalah alat analisis yang digunakan untuk mengukur
seberapa tinggi para investor bersedia membayar atau menanamkan
modalnya pada saham perusahaan. Rasio tersebut dapat dihitung dengan
rumus :
biasa saham lembar per pendapatan
biasa saham lembar per pasar harga
22
2.2.7. Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS)
2.2.7.1. Definisi Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS)
Menurut Jogianto (2003:82) nilai buku per lembar saham
menunjukkan aktiva bersih yang dimiliki oleh pemegang saham dengan
memiliki satu lembar saham. Karena aktiva bersih adalah sama dengan total
ekuitas pemegang saham, maka nilai buku per lembar saham adalah total
ekuitas dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
Nilai buku per lembar saham ini juga digunakan untuk menghitung
rasio harga saham per nilai buku (price to book value). Untuk menghitung
nilai buku per lembar saham dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
beredar saham
jumlah
ekuitas total
saham lembar per buku
nilai
2.2.7.2. Nilai Ekuitas Saham Preferen dan Saham Biasa
Perusahaan biasanya mempunyai dua macam kelas saham, yaitu
saham preferen dan saham biasa. Walaupun kedua jenis saham tersebut
memiliki keunggulan dan kelemahan, namun kedua jenis saham tersebut
sama-sama memberikan return berupa earnings. Dalam memutuskan untuk
berinvestasi, investor juga memperhitungkan nilai aktiva bersih perusahaan
yang mencerminkan asset yang dimiliki perusahaan. Perhitungan nilai buku
per lembar saham untuk perusahaan yang memiliki beberapa kelas saham ini
lebih rumit dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki saham biasa
23
Perhitugan nilai buku per lembar saham untuk kedua kelas saham
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Menghitung nilai ekuitas untuk saham preferen
Nilai ekuitas dihitung dengan mengalikan nilai tebus (call price)
ditambah dengan dividen yang dibagi dengan jumlah lembar saham
preferen yang beredar. Jika nilai tebus tidak digunakan, maka yang
digunakan adalah nilai nominal. Di dalam perhitungan ini agio saham
untuk saham preferen tidak dimasukan karena pemegang saham preferen
tidak mempunyai hak untuk agio ini walaupun berasal dari saham
preferen. sehingga agio ini dimasukkan sebagai nilai ekuitas saham biasa.
b. Menghitung nilai ekuitas untuk Saham Biasa
Nilai ekuitas saham biasa dihitung dengan mengurangi nilai total ekuitas
dengan nilai ekuitas saham preferen.
c. Menghitung nilai buku per lembar saham biasa
Nilai buku per lembar saham biasa dapat dihitung dengan cara membagi
nilai ekuitas saham biasa dengan jumlah lembar saham biasa yang
beredar.
d. Menghitung nilai buku per lembar saham preferen
Nilai buku per lembar saham biasa dapat dihitung dengan cara membagi
nilai ekuitas saham preferen (preferred stock) dengan jumlah saham
24
2.2.8. Definisi Harga Saham Per Nilai Buku (PBV)
Rasio harga saham per nilai buku (PBV) digunakan untuk mengukur
apakah harga saham (harga pasarnya) diperdagangkan di atas atau di bawah
nilai buku saham tersebut. Price to book value menggambarkan seberapa
besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi
rasio ini berarti pasar semakin percaya akan prospek perusahaan tersebut di
masa depan. Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio harga saham
per nilai buku adalah sebagai berikut :
saham lembar per pasar harga
saham lembar per buku nilai buku
nilai per saham
Harga
Jika angka PBV di bawah satu, maka dapat dipastikan bahwa harga
pasar saham tersebut lebih rendah daripada nilai bukunya. “Sebagai suatu
perusahaan yang memiliki manajemen yang baik maka diharapkan PBV
perusahaan tersebut setidaknya adalah satu atau dengan kata lain diatas dari
nilai bukunya”. Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah saham dengan
nilai PBV rendah tidak akan diminati oleh investor ? Jawabannya tergantung
dari tujuan investasinya. Angka satu yang menjadi patokan minimal untuk
sebuah perusahaan dengan manajemen yang baik tidak serta merta menjadi
tolok ukur yang pasti. Motivasi investor dalam melakukan investasi juga
menjadi pertimbangan tersendiri. Tidak sedikit investor yang membeli saham
dengan nilai PBV yang rendah untuk menjadikan pemegang mayoritas,
25
2.2.9. Saham
2.2.9.1. Pengertian Saham
Menurut Jogianto (2003:67) suatu perusahaan dapat menjual hak
kepemilikannya dalam bentuk saham (stock). Jika perusahaan hanya
mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini disebut dengan saham biasa
(common stock). Sedangkan menurut Darmadji, dkk (2001:5) saham dapat
didefinisikan sebagai tanah penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan
dalam suatu perusahaan atau suatu perseroan terbatas. Wujud saham adalah
selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah
pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut.
Menurut Gitosudarmo (2002:265) saham adalah tanda penyertaan
modal pada perseroan terbatas. Untuk menarik investor potensial lainnya,
suatu perusahaan mungkin juga mengeluarkan kelas lain dari saham, yaitu
yang disebut dengan saham preferen (preferred stock). Saham preferen
mempunyai hak – hak prioritas lebih dari saham biasa. Hak – hak prioritas
dari saham preferen yaitu hak atas dividen yang tetap dan hak terhadap
aktiva jika terjadi likuiditas. Akan tetapi, saham preferen umumnya tidak
mempunyai hak veto seperti yang dimiliki oleh saham biasa. Saham preferen
akan dibahas terlebih dahulu diikuti oleh saham biasa.
Investor membeli saham suatu perusahaan akan memperoleh manfaat
antara lain sebagai berikut :
a. Deviden, yaitu pembagian sebagian keuntungan perusahaan atas operasi
26
b. Capital gain, yaitu kelebihan hasil atas pelepasan aktiva terhadap harga
perolehan saham.
2.2.9.2. Jenis – Jenis Saham
Gitosudarmo (2002:265-266) mengatakan bahwa ada 7 jenis saham
yang dikeluarkan perusahaan, yaitu :
1. Saham Biasa
Saham biasa adalah saham yang tidak memperoleh hak istimewa.
Pemegang saham biasa mempunyai hak untuk memperoleh deviden
sepanjang perseroan memperoleh keuntungan. Pemilik saham
mempunyai hak suara pada rapat umum pemegang saham, dan pada
likuidasi perseroan pemilik saham memiliki hak memperoleh sebagian
dari kekayaan perseroan setelah tagihan kreditur dan saham preferen
dilunasi.
2. Saham Bonus
Saham Bonus diciptakan dari pos cadangan perseroan, yang terbentuk
dari keuntungan yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham.
Pada saat penyerahan saham bonus kepada pemegang saham, kekayaan
perseroan tidak mengalami perubahan, karena tidak ada kekayaan yang
bertambah dan tidak ada modal yang dibayarkan. Perubahannya adalah
27
3. Saham Pegawai
Saham yang dapat dimiliki oleh para pegawai dengan syarat tertentu serta
dapat membeli saham perusahaan dengan kurs di bawah kurs bursa.
4. Saham Preferen Perseroan
Para pendiri perseroan biasanya dihargai dengan memberikan tanda jasa
yaitu dapat berupa saham yang disebut saham pendiri.
5. Saham Preferen
Saham yang memberikan hak untuk mendapat deviden dan atau bagian
kekayaan pada saat perubahan lebih dahulu dari saham biasa, dan di
samping itu mempunyai preferen untuk mengajukan usul pencalonan
direksi/komisaris.
6. Saham Preferen Kumulatif
Saham preferen yang memberikan hak untuk mendapatkan deviden yang
belum dibayarkan pada tahun – tahun yang lalu secara kumulatif.
7. Saham Preferen Partisipasi
Saham yang disamping hak prioritasnya masih dapat turut serta dalam
pembagian deviden selanjutnya.
Menurut Baridwan (1997:394–398) ada 2 macam jenis saham, yaitu:
1. Saham Biasa (Common Stock)
Saham yang pembayaran dividennya dilakukan pada urutan yang paling
28
menerima dividen setelah dividen pemegang saham preferen dan hutang
kepada kreditor dibayarkan, sehingga resikonya adalah yang paling besar.
2. Saham Prioritas / Preferensi (Preferred Stock)
Saham prioritas / preferensi mempunyai macam–macam karakteristik
yang berbeda dari saham biasa. Salah satunya mendapatkan prioritas
pembayaran dividen sebelum dibayarkan kepada pemegang saham biasa
dan kreditur saat perusahaan dilikuidasi.
2.2.9.3. Definisi Return Saham
Pada dasarnya harga saham dipengaruhi oleh permintaan dan
penawaran saham. Penilaian saham pada penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan fundamental approach yang menitikberatkan pada nilai
intrinsik saham, yaitu kemampuan perusahaan di masa yang akan datang
dilihat dari keadaan aktiva, produksi, pemasaran, dan pendapatan, yang
kesemuanya itu menggambarkan prospek perusahaan. Prospek suatu
perusahaan dapat dilihat melalui proses analisis laporan keuangan dengan
menggunakan rasio-rasio keuangan yang tujuan akhirnya akan mengarah
pada tingkat pengembalian investasi atau return saham. Return saham
merupakan tolok ukur bagi pemegang saham maupun investor untuk
memperoleh jaminan pengembalian investasi yang dilakukan. Return saham
yang tinggi tentunya akan menarik minat investor untuk menginvestasikan
modalnya. Fuller dan James (1987) mengatakan bahwa variabilitas harga
saham tergantung pada bagaimana laba dan deviden yang terjadi pada suatu
29
mengemukakan bahwa harga saham mencerminkan ekspektasi investor pada
laba emiten di masa yang akan datang dan berapa besarnya potensi laba
tersebut harus didiskon.
2.2.10.Pengaruh Laba Atas Ekuitas (ROE) terhadap Return Saham
Return on Equity adalah salah satu rasio profitabilitas yang mengukur
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan modal saham
tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang
pemegang saham. Dengan demikian investor akan lebih memperhatikan
seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mengelola modalnya sendiri
untuk menghasilkan laba bersih. Semakin besar tingkat pengembalian atas
modal sendiri (ROE) maka semakin efisien dan efektif manajemen
perusahaan dalam mengelola sumber dayanya.
Nilai ROE yang tinggi dapat diartikan bahwa setiap rupiah modal
sendiri dapat menghasilkan laba bersih yang tinggi dimana hal itu secara
tidak langsung menunjukkan bahwa return saham atau pengembalian
investasi yang tersedia bagi investor juga tinggi. Return saham yang tinggi
memperkuat anggapan investor maupun pemegang saham bahwa manajemen
telah melakukan tugasnya dengan baik (atau menyembunyikan sesuatu
hingga laporan tahunannya selesai).
Nilai rasio ROE yang sangat tinggi tentunya menggembirakan bagi
investor karena semakin besar pula laba yang tersedia bagi mereka.
30
modal sendiri hanya dapat menghasilkan laba bersih yang rendah bagi
investor. ROE yang rendah dapat mengisyaratkan investor bahwa sebenarnya
mereka dapat menghasilkan lebih banyak bagian laba jika melakukan
investasi di perusahaan lainnya. Namun demikian, ROE ini harus
dipertimbangkan pula dari sudut pandang apa yang sedang terjadi selama
siklus usaha yang sedang berlangsung, seperti adanya ekspansi, hutang, atau
perubahan ekonomi.
Investor memiliki sudut pandang tersendiri mengenai tingkat laba dan
resiko yang diharapkan. Terdapat dua aspek yang sering diteliti yaitu tentang
tingkat keuntungan yang tinggi dan resiko yang rendah sebagai sesuatu yang
dikehendaki oleh investor. Oleh karena itu investor perlu melakukan analisis
lebih lanjut sebelum melakukan investasi. Peranan informasi laporan
keuangan menjadi sangat penting karena dari laporan keuangan tersebut
dapat diketahui kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan serta kinerja
masa lalu dan masa mendatang. Laporan keuangan tersebut dapat dianalisis
dengan menggunakan rasio keuangan salah satunya rasio profitabilitas yaitu
ROE.
2.2.11.Pengaruh Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham
Investasi pada instrumen saham seringkali menuntut investor untuk
lebih jeli dalam pemilihan saham yang memiliki potensi yang tinggi dalam
menghasilkan laba dan memberikan return saham. Sebelum
31
kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba, karena investor akan selalu
dihadapkan pada berbagai kemungkinan seperti adanya ketidakpastian
(risiko). Analisis tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor dapat
diketahui dari informasi laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan
publik dan dengan menggunakan analisis rasio keuangan.
Jogiyanto (2003:105) mengatakan bahwa alternatif lain selain
menggunakan arus kas atau dividen dalam menghitung nilai fundamental
atau nilai intrinsik saham adalah dengan menggunakan nilai laba perusahaan.
Salah satu pendekatan yang populer untuk mengestimasi nilai intrinsik
dengan menggunakan nilai earnings adalah pendekatan PER. Rasio ini
menunjukkan seberapa besar investor menilai harga dari saham terhadap
kelipatan earnings.
Price earning ratio merupakan salah satu rasio yang sering
digunakan oleh investor sebagai indikator dalam memilih instrumen saham
yang tepat. Price earning ratio menunjukkan seberapa tinggi investor
menilai suatu saham atas potensi laba yang diperoleh perusahaan di masa
mendatang. Makin tinggi price earning ratio berarti makin tinggi pula
tingkat kepercayaan investor terhadap kinerja perusahaan dalam memberikan
pengembalian investasi atau return saham. Tingginya tingkat kepercayaan ini
akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan tersebut. Sebaliknya,
makin kecil price earning ratio, makin kecil harapan investor atas return
32
efek dengan nilai price earning ratio tinggi biasanya diperdagangkan dengan
harga yang tinggi pula.
Nilai PER menggambarkan harga per lembar saham untuk setiap
earnings yang dibayarkan pada investor. Pada tingkat pendapatan tertentu,
biasanya investor akan memperoleh uangnya kembali dalam bentuk deviden
dan peningkatan nilai buku. Kondisi PER yang tinggi sangat diharapkan oleh
investor karena akan semakin besar laba yang tersedia baginya. Namun pada
saat tertentu posisi PER yang tinggi kurang disukai investor, karena nilai
PER yang tinggi tentunya lebih berisiko daripada saham dengan PER yang
relatif rendah. Nilai PER yang rendah memiliki potensi pertumbuhan yang
positif dibanding saham yang memiliki nilai PER tinggi. Pada beberapa
investor, PER yang tidak terlalu tinggi akan lebih diminati.
Saham dengan nilai PER yang rendah tidak selalu mencerminkan
kinerja yang buruk. Perusahaan mungkin berada pada persaingan industri
yang matang dengan pertumbuhan yang rendah, atau bisa juga disebabkan
posisi perusahaan yang mapan serta memiliki saham unggulan dengan
stabilitas laba dan deviden berkala yang panjang. Sehingga investor
dihadapkan pada pilihan saham dengan dividend yield yang tinggi atau
saham dengan PER yang tinggi namun resiko tidak terbayarnya deviden
33
2.2.12.Pengaruh Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS) terhadap Return
Saham
Nilai buku per lembar saham (BVS) merupakan ukuran seberapa
besar nilai buku dari setiap lembar saham. Sehingga dapat dikatakan bahwa
pada setiap 1 lembar saham biasa memiliki nilai buku sebesar nilai tertentu.
Angka BVS yang tinggi tentunya mencerminkan potensi perusahaan di masa
mendatang yang baik, sehingga dengan jaminan keamanan atau nilai klaim
atas aktiva bersih perusahaan yang semakin tinggi investor akan bersedia
membayar harga saham dengan nilai yang tinggi pula.
Rasio BVS yang tinggi tentu saja suatu hal yang menggembirakan
bagi investor karena berarti perusahaan berjalan dengan baik. Melalui
manajemen yang kuat dan struktur organisasi yang berfungsi secara efisien,
perusahaan akan mampu meraih laba yang lebih tinggi karena biaya
produknya yang kompetitif. Investor beranggapan bahwa nilai BVS yang
tinggi akan berbanding lurus dengan return saham, karena perusahaan yang
memiliki nilai buku yang tinggi biasanya memiliki kinerja yang baik pula.
Perusahaan akan memiliki nilai pasar yang lebih besar atau
sekurang-kurangnya sama dengan nilai buku aktiva bersihnya. Sebaliknya, kondisi
BVS yang rendah memiliki arti bahwa setiap satu lembar saham biasa
memiliki nilai buku yang berada dibawah harga pasar, sehingga dapat
dikatakan perusahaan memiliki earnings yang relatif rendah. Pada akhirnya
pasar akan menghargai saham tersebut beberapa kali lebih rendah daripada
34
sangat rendah menunjukkan perusahaan tersebut memiliki pertumbuhan yang
rendah serta nilai buku relatif lebih rendah daripada nilai pasarnya.
2.2.13.Pengaruh Harga Saham Per Nilai Buku (PBV) terhadap Return
Saham
Harga saham per nilai buku (PBV) merupakan ukuran apakah harga
saham (harga pasarnya) diperdagangkan di atas atau di bawah nilai buku
saham tersebut. Ini berarti bahwa harga saham yang dibayarkan oleh investor
sebesar X kali dari nilai bukunya. Nilai rasio PBV ini merupakan gambaran
dari tingkat kepercayaan pasar terhadap perusahaan. Rasio PBV yang tinggi
tentu saja disukai investor, karena berarti pasar percaya akan prospek
perusahaan tersebut atau nilai pasar aset perusahaan secara signifikan lebih
tinggi daripada nilai bukunya. Sebaliknya, kondisi PBV yang rendah
menunjukkan bahwa perusahaan memiliki harga saham yang murah atau
berada di bawah harga yang sebenarnya, sehingga perusahaan dinilai tidak
dapat memberikan tingkat pengembalian yang tinggi. Rasio PBV yang
rendah juga dapat diartikan investor bahwa ada sesuatu kesalahan mendasar
pada perusahaan tersebut. Banyak dari investor yang beranggapan bahwa
perusahaan yang memiliki nilai PBV yang tinggi biasanya juga memiliki
earning dan return yang tinggi pula. Anggapan seperti ini tidak selalu benar,
karena ada perusahaan yang memiliki nilai PBV yang rendah namun
memberikan earning yang lebih tinggi dari perusahaan yang memiliki PBV
tinggi. Rasio PBV yang rendah terjadi pada industri yang memerlukan lebih
35
2.3.Kerangka Pikir
Fenomena :
Adanya Fluktuasi Return saham dari tahun ke tahun pada perusahaan
Rokok yang go public di Bursa Efek Indonesia
Gill (2004), ROE mengukur besar pengembalian terhadap
investasi para pemegang saham.
Jogiyanto (2003:105), PER yang tinggi menunjukkan ekspektasi
investor tentang prestasi perusahaan di masa yang akan datang cukup tinggi.
Natarsyah ( 2002), BVS mempunyai hubungan yang signifikan
terhadap return saham.
Hartono (2000), PBV Mempunyai hubungan yang signifikan
terhadap return saham.
Return On Equity
Price Earning Ratio
Book Value PerShare
Price to book value
Return Saham
Analisis Regresi Linier Berganda
36
2.4.Hipotesis
Berdasarkan pada perumusan masalah, landasan teori, maka
perumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut :
1. Diduga laba atas ekuitas (ROE) berpengaruh positif terhadap Return
Saham.
2. Diduga price earning ratio (PER) berpengaruh positif terhadap Return
Saham,
3. Diduga Nilai Buku Per Lembar Saham (BVS) berpengaruh positif
terhadap Return Saham.
4. Diduga Harga Saham Per Nilai Buku (PBV) berpengaruh positif
37
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel
1. Variabel bebas .
a. Laba Atas Ekuitas / Return On Equity (ROE)
Merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
dengan berdasarkan modal saham tertentu dan skala pengukuran data
yang digunakan adalah skala rasio.
100% x saham pemegang modal pajak setelah pendapatan ekuitas atas Laba
b. Price Earning Ratio (PER)
Merupakan ukuran seberapa banyak para investor bersedia membayar
untuk rupiah dari laba yang dilaporkan dan skala pengukuran data
yang digunakan adalah skala rasio
biasa saham lembar per pendapatan biasa saham lembar per pasar harga PER
c. Nilai Buku Per Lembar Saham / Book Value per Share (BVS)
Merupakan ukuran seberapa besar nilai buku dari setiap saham dan
skala pengukuran data yang digunakan adalah skala rasio
38
d. Harga Saham Per Nilai Buku / Price to Book Value (PBV)
Merupakan ukuran apakah harga saham (harga pasarnya)
diperdagangkan di atas atau di bawah nilai buku saham tersebut dan
skala pengukuran data yang digunakan adalah skala rasio
saham lembar per pasar harga saham lembar per buku nilai Buku Nilai Per Saham Harga
2. Variabel terikat (Return Saham)
Return saham merupakan pendapatan per lembar saham yang dinikmati
oleh investor atas suatu investasi yang dilakukannya. Menurut Hartono
(2000:108) return total dari suatu investasi terdiri atas capital gain (loss)
dan yield.
Returntotal = Capital gain (loss) + yield
Capital gain merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif
dengan periode yang lalu.Skala pengukuran data yang digunakan adalah
skala rasio. Yield merupakan persentase penerimaan kas periodik
terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi. Untuk
saham, yield adalah persentase dividen terhadap harga saham periode
sebelumnya. Namun tidak selamanya perusahaan membagikan dividen
kas secara periodik kepada pemegang sahamnya, sehingga perhitungan
return saham didefinisikan sebagai berikut :
Rit = 1 1 it it it p P P Keterangan :
39 Pit : Harga saham saat ini
Pit-1 : Harga saham tahun sebelumnya
3.2. Teknik Penentuan Sampel
3.2.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek /
subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2003 : 55). Dalam penelitian ini populasi yang digunakan sebagai obyek
penelitian adalah laporan keuangan perusahaan rokok yang go publik di
Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008.
3.2.2. Sampel Dan Teknik Penarikan Sampel
Teknik yang digunakan untuk menentukan sampel adalah purposive
sampling yaitu berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu. Kriteria yang
telah ditentukan oleh peneliti adalah
1. Data laporan keuangan perusahaan tersedia berturut-turut selama 5
tahun untuk tahun pelaporan dari 2004 – 2008.
2. Perusahaan mempublikasi laporan keuangan auditan dengan
menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember
Perusahaan rokok yang memenuhi kriteria tersebut diatas antara lain :
1. PT. BAT Indonesia Tbk
40
3. PT. HM Samporna Tbk
4. PT. Bentoel International Investama Tbk
3.3. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang
diperoleh dari pihak lain yang telah mengumpulkan terlebih dahulu dan
menerbitkannya. Data sekunder tersebut berasal dari Indonesian Capital
Market Directory (ICMD) yang diterbitkan oleh Institute for Economic dan
Financial Research dan laporan keuangan yang telah diterbitkan perusahaan.
Sugiyono (2003 : 55) mengatakan, “populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas : obyek / subyek yang mempunyai kuantitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
kemudian ditarik kesimpulannya”. Dalam penelitian ini populasi yang
digunakan sebagai obyek penelitian adalah laporan keuangan perusahaan
perbankan yang publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan
tahun 2008.
3.4. Prosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :
a. Teknik dokumentasi
Teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan cara
41
penelitian. Data-data perusahaan tersebut diolah kembali hingga dapat
dijadikan sumber informasi dalam penulisan skripsi ini.
b. Teknik studi kepustakaan
Nazir (2003) mendefinisikan teknik studi kepustakaan adalah teknik
penelitian yang mempelajari tentang catatan perusahaan dan
buku-buku teks pendukung maupun jurnal yang berkaitan dengan penelitian.
Penelitian ini banyak terinspirasi oleh jurnal-jurnal dan teori yang telah
dipelajari sebelumnya.
3.5. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis
3.5.1. Uji Normalitas Data
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data
mengikuti sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data tersebut
telah mengikuti sebaran normal dapat dilakukan dengan berbagai metode
diantaranya adalah metode sketer plot. Menurut Ghozali (2001:76), pedoman
dalam pengambilan keputusan bahwa sebuah distribusi data tersebut
mengikuti sebaran normal adalah sebagai berikut :
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah
42
3.5.2. Uji Asumsi Klasik
Syarat dari suatu persamaan regresi adalah harus bersifat BLUE (Best
Linier Unbiased Estimator). Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE,
maka harus dipenuhi diantaranya tiga asumsi dasar yang tidak boleh
dilanggar oleh regresi linier berganda yaitu :
1. Tidak boleh ada multikolinearitas.
2. Tidak boleh ada heterokedastisitas.
3. Tidak boleh ada autokorelasi.
Apabila salah satu dari ketiga asumsi dasar tersebut dilanggar,
maka persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE sehingga
pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias.
1. Multikolinearitas
Model regresi linier yang baik mensyaratkan tidak adanya korelasi
diantara variabel bebas. Pengujian yang digunakan untuk mengetahui adanya
korelasi antar variabel bebas dalam persamaan regresi dapat menggunakan uji
multikolinearitas. Kriteria pengujian multikolinearitas menurut Ghozali (2001:
57) adalah sebagai berikut :
a. Jika VIF lebih besar dari 10, maka dalam persamaan tersebut terdapat
multikolinearitas.
b. Jika VIF lebih kecil dari 10, maka dalam persamaan tersebut tidak
43
2. Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual atau pengamatan ke
pengamatan lainnya. Kebanyakan data cross section mengandung situasi
heteroskedastisitas, karena ini mengimpun data yang terwakili berbagai
ukuran (kecil, sedang, dan besar).
Salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
heteroskedastisitas adalah dengan cara menggunakan uji Rank Spearman
yaitu dengan membandingkan antara residual dengan seluruh variabel bebas.
Mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah sebagai berikut :
(Gujarati, 1999 : 177 )
a. Nilai probabilitas > 0,05 berarti bebas dari heteroskedastisitas
b. Nilai probabilitas < 0,05 berarti terkena heteroskedastisitas
3. Autokorelasi
Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai “korelasi antara data
observasi yang diurutkan berdasarkan urut waktu (data time series) atau data
yang diambil pada waktu tertentu (data cross sectional)” (Gujarati,
1999:201). Jadi di dalam model regresi linear diasumsikan tidak terdapat
gejala autokorelasi. Artinya nilai residual (Yobservasi–Yprediksi) pada
waktu ke-t (et) tidak boleh ada hubungan dengan nilai residual periode
sebelumnya (et-1).
Identifikasi ada tidaknya gejala autokorelasi dapat dites dengan
44
t N
t t N t t t t e e e Dw 1 2 1 1 Keterangan :
Dw = Nilai Durbin Watson
et = Residual pada waktu ke-t
et - 1 = Residual pada wak-tu ke-t
N = Banyaknya data
Identifikasi gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan kurva di
[image:53.612.165.483.343.506.2]bawah ini.
Gambar 2. Kurva Durbin Watson
Sumber : Gujarati, 1999, 216, Ekonometrika Dasar.
3.6. Teknik Analisis
Data yang telah selesai dikumpulkan, maka langkah selanjutnya
adalah menetapkan model dan alat analisis yang tepat untuk memecahkan
masalah yang sudah dikemukakan sebelumnya. Bentuk model yang dipilih
menggunakan metode regresi linear berganda dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Tidak ada autokorelasi positif dan tidak ada
autokorelasi negatif
dL dU 4 - dU 4 - dL 4
45
Y = bo + b,X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e
Keterangan :
Y = return saham
bo = konstanta
bl,...b4 = koefisien regresi variabel bebas
X1 =Return on Equity / laba atas ekuitas (ROE)
X2 = Price Earning Ratio (PER)
X3 = Book Value per Share / nilai buku per lembar saham (BVS)
X4 =Price to Book Value / harga saham per nilai buku (PBV)
e = standart error
3.6.1. Uji Hipotesis
Uji hipotesis menggunakan t digunakan untuk mengetahui apakah
variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat, sehingga menggunakan
prosedur sebagai berikut :
1. Ho : βj = 0 (tidak terdapat pengaruh X1,X2,X3…….. Xn terhadap Y)
2. Ha : βj 0 (terdapat pengaruh X1,X2,X3…….. Xn terhadap Y)
3. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi 0,05 dengan derajat
bebas [n-k-1], dimana n : jumlah pengamatan, dan k : jumlah variabel.
4. Dengan nilai t hitung :
) ( j
j hit
b Se
b
46 Keterangan :
thit = t hasil perhitungan
bj = koefisien regresi
Se(bj) = simpangan baku untuk masing-masing koefisien regresi
5.Daerah kritis Ho melalui distribusi t student dua sisi, dengan penjelasan :
a.Ho diterima jika –t tabel t hitung t tabel
47
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1. Sejarah Singkat Pasar Modal Indonesia.
Sejarah pasar modal di Indonesia mengungkapkan bahwa di Indonesia
pernah di bentuk suatu perserikatan perdagangan uang dan efek yaitu pada
tanggal 11 januari 1925 atau 13 tahun setelah terbentuknya perserikatan yang
sama di kota Jakarta (1912). Kemudian pada tahun 1927 di bentuk bursa bursa
efek di tiga kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Di masa revolusi kemerdekaan, kegiatan perdagangan di bursa efek
Indonesia sempat terhenti karena situasi politik yang tidak memungkinkan.
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya tahun 1951,
pemerintah memberlakukan undang-undang darurat no. 13 tahun 1951 yang
kemudian disahkan sebagi undang-undang no. 15 tahun 1952 tentang bursa
efek.
Pasar modal Indonesia dari tahun 1977 sampai tahun 1987 kurang
memberikan hasil yang di harapkan meskipun pemerintah telah memberikan
fasilitas kepada perusahaan yang menarik dana dari pasar modal.
Tersendatnya perkembangan pasar modal disebabkan oleh beberapa hal antara
mengenai prosedur emisi saham dan obligasi yang terlalu ketat. Adanya
batasan fluktuasi Return saham dan campur tangan pemerintah dalam
48
Sebagai upaya mengatasi permasalahan yang menghambat perkembangan
pasar modal, pemerintah mengeluarkan serangkaian deregulasi yang berkaitan
dengan perkembangan pasar modal yaitu Paket Kebijakan Desember 1987
(Pakto 1988), Paket Kebijakan Desember 1988 (Pakdes 1988).
4.1.2. Sejarah Bingkat Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesian Stock Exchange merupakan
akhir perjalanan panjang pasar modal Indonesia. Sejarah pasar modal
Indonesia dimulai dengan di bentuknya bursa efek di Batavia (sekarang
Jakarta) pada tahun 1912 oleh Vereniging Voor de Effectenhandel. Kemudian
pada tahun 1925 pemerintah colonial Belanda menambah lagi dua bursa, yaitu
bursa efek Semarang, dan Bursa efek Surabaya. Ketiga bursa ini
menghentikan aktivitasnya menjelang invasi Jepang pada tahun 1956 yang
mengakibatkan terhentinya aktivitas pasar modal.
Pada 10 Agustus pemerintah mengaktifkan kembali kegiatan pasar modal
dengan membentuk badan pelaksana pasar modal (BAPEPAM), sebuah badan
pemerintah dibawah pengawasan Deaprtemen Keuangan. Kebijakan
pemerintah menerbitkan paket Desember 1987 menjadikan pasar modal di
Indonesia memasuki masa “Bullish” dan membutuhkan profesionalisme
dalam pengel