• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Determinan-determinan Terhadap Intention Untuk Berhenti Menggunakan Narkoba Pada Pecandu Narkoba Yang Sedang Menjalani Rehabilitasi di Rumah Sakit "X" Bogor.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontribusi Determinan-determinan Terhadap Intention Untuk Berhenti Menggunakan Narkoba Pada Pecandu Narkoba Yang Sedang Menjalani Rehabilitasi di Rumah Sakit "X" Bogor."

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

ii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi determinan-determinan terhadap intention untuk berhenti menggunakan narkoba secara total pada pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit “X” Bogor. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling dan sampel dalam penilitian ini berjumlah 30 orang.

Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner intention dan determinan-determinannya yang disusun oleh Icek Ajzen (2005) dan dimodifikasi oleh peneliti dan mengacu pada Teori Planned Behavior. Validitas alat ukur diuji dengan menggunakan content validity. Data hasil penelitian ini diolah dengan menggunakan teknik multiple regresi. Hasil uji signifikansi model regresi sebesar 0,00 dengan taraf kepercayaan 95%.

Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa sebanyak 80% responden memiliki intention yang kuat dan 20% responden memiliki intention yang lemah untuk berhenti menggunakan narkoba secara total. Secara bersama-sama ketiga determinan mempengaruhi intention untuk berhenti menggunakan narkoba secara total pada pecandu narkoba. Attitude toward the behavior memberikan kontribusi terbesar dan signifikan terhadap intention untuk berhenti menggunakan narkoba secara total yaitu sebesar 0,785. Subjective norms memberikan kontribusi kedua, namun tidak secara signifikan mempengaruhi intention untuk berhenti menggunakan narkoba secara total yaitu sebesar 0,104. Perceived behavioral control memberikan kontribusi terkecil dan negatif terhadap intention yaitu -0,078, namun tidak secara signifkan mempengaruhi intention untuk berhenti menggunakan narkoba secara total.

(2)

Universitas Kristen Maranatha vi

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ... i

Abstrak ... ... ii

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... vi

Daftar tabel ... ix

Daftar Bagan ... x

Daftar Lampiran ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang Masalah ... 1

1.2Identifikasi Masalah ... 11

1.3Maksud Dan Tujuan Penelitian ... 11

1.4Kegunaan Penelitian ... 11

1.4.1 Kegunaan Ilmiah ... 11

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 12

1.5Kerangka Pemikiran ... 13

1.6Asumsi ... 23

1.7Hipotesis ... 23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 25

2.1 Teori Planned Behavior ... 25

2.1.1 Pengertian Planned Behavior ... 25

2.1.2 Intention ... 27

2.1.3 Attitude Toward The Behavior ... 27

2.1.4 Subjective Norms ... 29

2.1.5 Perceived Behavior Control ... 30

(3)

Universitas Kristen Maranatha vii

2.1.7 Hubungan Antar Determinan-Determinan Intention ... 33

2.1.8 Background Factors...34

2.1.9 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegagalan Intention menjadi perilaku... 35

2.1.10 Target, Action, Context, and Time ...... .….…. 38

2.2. Periode Masa Dewasa Awal………... 39

2.2.1. Ciri-Ciri Masa Dewasa Awal……….... 39

2.2.2. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal... 42

2.3. narkoba ... 43

2.3.1. Pengertian narkoba ...….. 43

2.3.2. Jenis-jenis narkoba ………...………….. 46

2.3.3. Penyalahgunaan dan ketergantungan ………...………. 50

2.3.3.1. Penyebab penyalahgunaan narkoba... 51

2.3.3.2. Akibat penyalahgunaan narkoba... 52

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 55

3.1 Rancangan Penelitian ... 55

3.2 Skema Rancangan Penelitian ... 55

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 56

3.3.1 Variabel Penelitian ... 56

3.3.2 Definisi Operasional ... 56

3.4 Alat Ukur ... 57

3.4.1 Alat Ukur Intention dan Determinan-Determinannya ... 57

3.4.2 Kisi-kisi Alat Ukur... 57

3.4.3 Sistem Penilaian ... 58

3.4.4 Data Pribadi dan Data Penunjang ... 59

3.4.5 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 59

3.5 Populasi dan Teknik Penarikan Sampel ... 60

(4)

Universitas Kristen Maranatha viii

3.5.2 Karakteristik Populasi ... 60

3.5.3 Teknik Penarikan Sampel ... 60

3.6 Teknik Analisis Data ... 60

3.7 Hipotesis Statistik ... 61

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 64

4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 64

4.1.1 Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin ... 64

4.1.2 Gambaran Subjek Berdasarkan Usia ... 65

4.1.3 Gambaran Subjek Berdasarkan Agama ... 65

4.1.4 Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Narkoba Yang Digunakan... 66

4.1.5 Gambaran Subjek Berdasarkan Berapa Kali Masuk Rehabilitasi...66

4.2 Gambaran Hasil Penelitian ... 67

4.2.1 Kontribusi Determinan-Determinan terhadap Intention... 67

4.2.2 Uji Hipotesis ... 67

4.2.3 Tabulasi Silang Intention dan Determinan-Determinan Intention... 69

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 80

5.1 Kesimpulan ... 80

5.2 Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(5)

Universitas Kristen Maranatha ix

DAFTAR TABEL

Tabel 3.4.2 Tabel Alat Ukur ... 57

Tabel 4.1.1 Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin ... 63

Tabel 4.1.2 Gambaran Subjek Berdasarkan Usia ………... 64

Tabel 4.1.3 Gambaran Subjek Berdasarkan Agama …………... 65

Tabel 4.1.4 Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Narkoba Yang Digunakan…. 66 Tabel 4.1.5 Gambaran Subjek Berdasarkan Berapa Kali Masuk Rehabilitasi…. 66 Tabel 4.2.1 Kontribusi Determinan-Determinan terhadap Intention ………….. 67

Table 4.2.2.1 Signifikansi Determinan-determinan terhadap intention ….……… 67

Table 4.2.2.2 Signifikansi Attitude toward the behavior terhadap intention …….. 68

Tabel 4.2.2.3 Signifikansi Subjective Norms terhadap intention ……… 68

Tabel 4.2.2.4 Signifikansi Perceived Behavioral Control dengan intention …….. 68

Tabel 4.2.3.1 Tabulasi Silang Intention dan Attitude Toward The Behavior 69 Tabel 4.2.3.2 Tabulasi Silang Intention dan Subjective Norms………... 70

(6)

Universitas Kristen Maranatha x

DAFTAR BAGAN

(7)

Universitas Kristen Maranatha xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat Ukur Planned Behavior Lampiran 2. Data Penunjang

Lampiran 3. Karakteristik Rersponden Lampiran 4. Hasil jawaban data primer

Lampiran 5. Crostabulation attitude toward the behavior dengan behavioral beliefs dan outcomes evaluation

Lampiran 6. Crostabulation Subjective Norms dengan Normative Beliefs dan Motivation to Comply

Lampiran 7. Crostabulation Perceived Behavioral Control dengan Control Belief dan Power of Control Factors

Lampiran 8. Crosstabulation Attitude Toward The Behavior dengan Data Penunjang

Lampiran 9. Crosstabulation Subjective Norms dengan Data Penunjang

Lampiran 10. Crosstabulation Perceived Behavioral Control (PBC) dengan Data Penunjang

(8)

KATA PENGANTAR

Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti ujian akhir di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung adalah menyusun skripsi. Adapun judul skripsi yang kami buat adalah ”Kotribusi Determinan-Determinan terhadap Intention untuk Berhenti Menggunakan Narkoba Pada Pecandu Narkoba yang sedang Menjalani Rehabilitasi di Rumah Sakit ’X’ Bogor”.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka saudara dimohon kesediannya untuk meluangkan waktu mengisi kuesioner ini. Data yang akan diperoleh nantinya akan dipergunakan untuk penelitian ini.

Saudara diharapkan untuk mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya. Identitas dan kerahasiaan jawaban saudara akan dijaga.

Atas kesediaan dan bantuan saudara kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

(9)

IDENTITAS

Nama (Inisial) : Jenis kelamin :

Umur :

Agama :

PETUNJUK PENGISIAN

Pada halaman berikut ini terdapat sejumlah pertanyaan yang diakhiri dengan 2 kata yang berlawanan. Diantara 2 kata yang berlawanan tersebut terdapat 7 kemungkinan jawaban. Kemungkinan jawaban tersebut adalah sebagai berikut :

1 = sangat : jika Saudara merasa kata di sebelah kiri tersebut sangat sesuai dengan diri Saudara

2 = cukup : jika Saudara merasa kata di sebelah kiri tersebut cukup sesuai dengan diri saudara

3 = agak : jika Saudara merasa kata di sebelah kiri tersebut agak / sedikit sesuai dengan diri saudara

4 = netral : jika Saudara merasa kata di sebelah kiri dan kanan tidak sesuai dengan diri saudara

5 = agak : jika Saudara merasa kata di sebelah kanan tersebut agak / sedikit sesuai dengan diri saudara

6 = cukup : jika Saudara merasa kata di sebelah kanan tersebut cukup sesuai dengan diri saudara

7 = sangat : jika Saudara merasa kata di sebelah kanan tersebut sangat sesuai dengan diri Saudara

(10)

Contoh :

Cuaca di kota Bogor belakangan ini adalah

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk sangat cukup agak netral agak cukup sangat

Jika Saudara berpikir bahwa cuaca di kota Bogor sangat baik, maka lingkarilah angka 1 seperti ini :

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika Saudara berpikir bahwa cuaca di kota Bogor cukup baik, maka lingkarilah angka 2 seperti ini :

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika Saudara berpikir bahwa cuaca di kota Bogor agak baik, maka lingkarilah angka 3 seperti ini :

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika Saudara berpikir bahwa cuaca di kota Bogor tidak baik dan tidak buruk, maka lingkarilah angka 4 seperti ini :

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika Saudara berpikir bahwa cuaca di kota Bogor agak buruk, maka lingkarilah angka 5 seperti ini :

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika Saudara berpikir bahwa cuaca di kota Bogor cukup buruk, maka lingkarilah angka 6 seperti ini :

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika Saudara berpikir bahwa cuaca di kota Bogor sangat buruk, maka lingkarilah angka 7 seperti ini :

baik : __1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Dalam menentukan pilihan jawaban, pastikan Saudara mengisi semua nomer dan tidak melingkari lebih dari 1 pilihan jawaban.

(11)

Jawablah setiap pertanyaan di bawah ini dengan cara melingkari angka yang menurut Saudara paling menggambarkan diri Saudara. Beberapa pertanyaan tampak mirip, tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut ditujukan pada topik-topik yang berbeda. Bacalah setiap pertanyaan dengan seksama.

1. Bagi saya berhenti menggunakan narkoba secara total merupakan hal yang.... Mudah :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Sulit

2. Sebagian besar keluarga saya berpendapat bahwa saya….

Harus :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak Harus Berhenti menggunakan narkoba secara total

3. Bagi saya, berhenti menggunakan narkoba secara total merupakan hal yang…. Baik :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Buruk

4. Saya berencana untuk berhenti menggunakan narkoba secara total…. Sesuai :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak sesuai

Dengan diri saya

5. Bagi saya berhenti menggunakan narkoba secara total adalah

Tergantung pada saya :_1_:_:2_:_3_:_4_:_5_:_6_:_7_: Tidak tergantung pada saya

6. Teman-teman saya berpendapat bahwa saya….

(12)

7. Bagi saya berhenti menggunakan narkoba secara total merupakan hal yang…. Penting :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak Penting

8. Saya akan mencoba :_1_:_:2_:_3_:_4_:_5_:_6_:_7_: Tidak akan mencoba Berhenti menggunakan narkoba secara total

9. Jika saya mau, saya mampu untuk berhenti menggunakan narkoba secara total Yakin :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak yakin

10. Konselor….

Mewajibkan :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak Mewajibkan Saya berhenti menggunakan narkoba secara total

11. Bagi saya berhenti menggunakan narkoba secara total merupakan hal yang….

Menyenangkan :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak menyenangkan

12. Saya….

Akan berusaha :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak akan berusaha Berhenti menggunakan narkoba secara total

13. Bagi saya berhenti menggunakan narkoba secara total merupakan hal yang….

Mampu saya lakukan :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: tidak mampu saya lakukan
(13)

15. Bagi saya berhenti menggunakan narkoba secara total merupakan hal yang…. Bermanfaat :

_

1

_

:

_

2

_

:

_

3

_

:

_

4

_

:

_

5

_

:

_

6

_

:

_

7

_

: Tidak bermanfaat
(14)

DATA PENUNJANG

Bacalah dengan seksama setiap pertanyaan di bawah ini kemudian jawablah pertanyaan tersebut dengan cara memberi tanda silang pada pilihan jawaban yang menurut Saudara paling menggambarkan diri Saudara. Pada beberapa pertanyaan saudara diminta untuk menuliskan jawaban saudara pada tempat yang telah tersedia. Isilah pertanyaan tersebut dengan lengkap dan jelas.

(Behavioral Beliefs)

1. Saya akan dapat terhidar dari penyakit AIDS dan penyakit komplikasi lainnya, jika saya berhenti menggunakan narkoba secara total….

Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

2. Saya akan dapat menyiapkan diri untuk bisa diterima di lingkungan baru di luar rehabilitasi, jika saya berhenti menggunakan narkoba secara total melalui rehabilitasi… Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

3. Saya dapat memperbaiki hubungan yang kacau dengan keluarga karena narkoba, jika saya berhenti menggunakan narkoba secara total…

Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

4. Saya dapat bekerja atau melanjutkan kuliah saya yang tertunda, jika saya berhenti menggunakan narkoba secara total…

Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

5. Saya dapat mengurus diri sendiri/keluarga (anak, suami/istri) saya, jika saya berhenti menggunakan narkoba secara total…

(15)

(Normative Beliefs)

6. Keluarga (orang tua, istri/suami, kakak/adik) saya berpikir bahwa saya harus berhenti menggunakan narkoba secara total…

Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

7. Teman saya berpikir bahwa saya harus berhenti menggunakan narkoba secara total… Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

8. Konselor berpikir bahwa saya harus berhenti menggunakan narkoba secara total… Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

9. Perawat berpikir bahwa saya harus berhenti menggunakan narkoba secara total… Sesuai : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai

(Outcome Evaluations)

10. Bagi saya terhindar dari penyakit AIDS dan penyakit komplikasi lainnya karena berhenti menggunakan narkoba secara total adalah hal yang…

Baik : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Buruk

11. Bagi saya dapat menyiapkan diri untuk bisa diterima di lingkungan baru di luar rehabilitasi karena berhenti menggunakan narkoba secara total adalah hal yang…

Baik : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Buruk

12. Bagi saya dapat memperbaiki hubungan yang kacau dengan keluarga karena berhenti menggunakan narkoba secara total adalah hal yang…

Baik : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Buruk

13. Bagi saya dapat bekerj/ kuliah karena berhenti menggunakan narkoba secara total adalah hal yang…

Baik : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Buruk

14. Bagi saya dapat mengurus diri sendiri/keluarga (anak, istri/suami) karena berhenti menggunakan narkoba secara total adalah hal yang…

(16)

(Control Beliefs)

15. Seberapa sering saudara tergoda untuk menggunakan narkoba lagi? Jarang : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Sering

16. Seberapa sering saudara masuk rehabilitasi? Jarang : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Sering

17. Seberapa sering saudara melanggar peraturan yang ada di rehabilitasi? Jarang : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Sering

18. Seberapa sering saudara merasa kesulitan untuk berhenti menggunakan narkoba secara total?

Jarang : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Sering

(Motivation to Comply)

19. Secara umum, sejauh mana saudara peduli dengan apa yang keluarga pikirkan mengenai apa yang harus kamu lakukan?

Peduli : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak peduli

20. Secara umum, sejauh mana saudara peduli dengan apa yang teman-teman pikirkan mengenai apa yang harus kamu lakukan?

Peduli : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak peduli

21. Secara umum, sejauh mana saudara peduli dengan apa yang konselor pikirkan mengenai apa yang harus kamu lakukan?

Peduli : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak peduli

22. Secara umum, sejauh mana saudara peduli dengan apa yang perawat pikirkan mengenai apa yang harus kamu lakukan?

Peduli : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak peduli

(Power of Control Factors)

23. Bila saya kembali ke lingkungan narkoba saya yang lama, hal tersebut akan membuat saya lebih sulit untuk berhenti menggunakan narkoba secara total…

(17)

24. Bila saya sedang kesal, sendirian/kesepian atau mengalami masalah,, hal tersebut akan membuat saya lebih sulit untuk berhenti menggunakan narkoba secara total…

Tidak setuju : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Setuju

25. Bila teman saya menggunakan narkoba, hal tersebut akan membuat saya lebih sulit untuk berhenti menggunakan narkoba secara total…

Tidak setuju : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Setuju

26. Apa saja Informasi mengenai dampak penyalahgunaan narkoba yang saudara ketahui? ………...

27. Berapa kali saudara masuk rehabilitasi/tempat pemulihan lainnya?

………

28. Adakah manfaat yang saudara dapatkan jika berhenti menggunakan narkoba secara total? Ya/Tidak

Jika Ya, apa saja manfaat yang saudara rasakan?

………...

Jika tidak, mengapa?

……….

29. Hal-hal apa saja yang mendukung saudara untuk dapat berhenti menggunakan narkoba secara total?

………...

30. Hal-hal apa saja yang menghambat/mempersulit saudara untuk dapat berhenti menggunakan narkoba secara total?

……….

(18)

a. Konselor

b. Keluarga (Orang tua, pasangan hidup, anak, kakak/adik) c. Psikiater/Psikolog

d. Teman

e. ……….. f. Tidak ada yang menuntut

32. Suasana hati seperti apa yang dapat membuat saudara kembali menggunakan narkoba? ………..

33. Suasana hati seperti apa yang mendukung saudara untuk dapat berhenti menggunakan narkoba secara total?

………...

34. Lingkungan seperti apa yang dapat membuat saudara berhenti menggunakan narkoba secara total?

………...

35. Lingkungan seperti apa yang menghambat saudara untuk berhenti menggunakan narkoba secara total?

(19)

KARAKTERISTIK RESPONDEN

Subjek Usia Jenis Kelamin Agama Jenis Narkoba Masuk Rehabilitasi

1 31 Laki-laki Islam Putaw 1 kali

2 30 Laki-laki Kristen Kanabis dan shabu 1 kali

3 28 Laki-laki Islam Putaw 4 kali

4 27 Laki-laki Islam Putaw 4 kali

5 32 Laki-laki Islam Putaw 2 kali

6 34 Laki-laki Islam Putaw 2 kali

7 23 Perempuan Islam Putaw dan Ganja 2 kali

8 30 Perempuan Islam Putaw 1 kali

9 26 Laki-laki Islam Putaw 2 kali

10 27 Laki-laki Islam Putaw 1 kali

11 32 Laki-laki Islam Putaw atau Heroin 7 kali

12 30 Laki-laki Islam Putaw 3 kali

13 33 Laki-laki Islam Putaw 4 kali

14 30 Laki-laki Islam Putaw 1 kali

15 25 Laki-laki Islam Shabu-shabu 2 kali

16 26 Laki-laki Islam Putaw 1 kali

17 27 Laki-laki Islam Putaw 1 kali

18 31 Laki-laki Islam Putaw 2 kali

19 30 Laki-laki Islam Ganja 2 kali

20 28 Laki-laki Islam Ganja 4 kali

21 24 Laki-laki Kristen Putaw 7 kali

22 29 Laki-laki Islam Putaw 3 kali

23 29 Laki-laki Islam Opiat (putaw) 2 kali

24 33 Laki-laki Islam Putaw 7 kali

25 25 Laki-laki Islam Heroin jenis putaw 5 kali 26 27 Laki-laki Islam Heroin jenis putaw 2 kali

27 35 Laki-laki Islam Ganja 2 kali

28 29 Laki-laki Islam Heroin jenis putaw 5 kali

29 26 Laki-laki Islam Putaw dan Ganja 4 kali

(20)

HASIL JAWABAN DATA PRIMER RESPONDEN

NO ATB SN PBC INTENTION

1 28 25 25 28

2 28 28 28 28

3 28 28 25 28

4 28 26 26 28

5 28 20 24 28

6 28 16 22 28

7 20 23 25 15

8 28 25 22 28

9 25 26 19 25

10 28 25 22 28

11 27 24 22 27

12 28 26 22 26

13 28 28 26 28

14 28 22 21 28

15 26 27 22 27

16 28 28 21 28

17 28 28 22 28

18 28 28 22 28

19 22 26 19 25

20 26 22 21 28

21 28 27 20 27

22 28 22 21 22

23 28 26 21 28

24 28 28 27 28

25 28 22 23 28

26 27 23 25 28

27 28 25 22 28

28 28 22 23 28

29 27 25 22 26

(21)

CROSSTABULATION ATTITUDE TOWARD THE BEHAVIOR DENGAN

BEHAVIORAL BELIEFS DAN OUTCOMES EVALUATION

Tabel 5.1. Crosstabs Attitude toward the behavior dengan Behavioral Beliefs

ATB

Behavioral Beliefs

Total

Tinggi Rendah

Positif 17

(56,7%)

5

(16,7%)

22

(73,3%)

Negatif 4

(13,3%)

4

(13,3%)

8

(26,7%)

Total 21

(70%)

9

(30%)

30

(100%)

Tabel 5.2. Crosstabs Attitude toward the behavior dengan Outcome Evaluation

ATB

Outcome Evaluation

Total

Tinggi Rendah

Positif 17

(56,7%)

5

(16,7%)

22

(73,3%)

Negatif 3

(10%)

5

(16,7%)

8

(26,7%)

Total 20

(66,7%)

10

(33,3%)

30

(22)

CROSSTABULATION SUJECTIVE NORMS DENGAN NORMATIVE

BELIEFS DAN MOTIVATION TO COMPLY

Tabel 6.1. Crosstabs Subjective Norms dengan Normative Beliefs

SN

Normative Beliefs

Total

Tinggi Rendah

Positif 12

(40%)

8

(26,7%)

20

(66,7%)

Negatif 5

(16,7%)

5

(16,7%)

10

(33,3%)

Total 17

(56,7%)

13

(43,3%)

30

(100%)

Tabel 6.2. Crosstabs Subjective Norms dengan Motivation To Comply

SN

Motivation to Comply

Total

Tinggi Rendah

Positif 14

(46,7%)

6

(20%)

20

(66,7%)

Negatif 4

(13,3%)

6

(20%)

10

(33,3%)

Total 18

(60%)

12

(40%)

30

(23)

CROSSTABULATION PERCEIVED BEHAVIORAL CONTROL DENGAN

CONTROL BELIEF DAN POWER OF CONTROL FACTORS

Tabel 7.1. Crosstabs Perceived Behavioral Control dengan Control Belief

PBC

Control Belief

Total

Tinggi Rendah

Positif 7

(23,3%)

5

(16,7%)

12

(40%)

Negatif 10

(33,3%)

8

(26,7%)

18

(60%)

Total 17

(56,7%)

13

(43,3%)

30

(100%)

Tabel 7.2. Crosstabs Perceived Behavioral Control dengan Power of Control Factors

PBC

Power of Control Factors

Total

Tinggi Rendah

Positif 9

(30%)

3

(10%)

12

(40%)

Negatif 5

(16,7%)

13

(43,3%)

18

(60%)

Total 14

(46,7%)

16

(53,3%)

30

(24)

CROSSTABULATION ATTITUDE TOWARD THE BEHAVIOR DENGAN

DATA PENUNJANG

Tabel 8.1. Crosstabs Attitude toward the behavior dengan banyaknya informasi mengenai dampak narkoba

ATB

Banyaknya Informasi Mengenai Dampak Narkoba

Total

1 macam 2 macam 3 macam

Positif 10

(66,7%)

6 (75%)

6

(85,7%) 22

Negatif 5

(33,3%)

2 (25%)

1

(14,3%) 8

Total

15

(100%)

8 (100%)

7

(100%) 30

Tabel 8.2. Crosstabs Attitude toward the behavior dengan banyaknya manfaat berhenti menggunakan narkoba secara total

ATB

Banyaknya Manfaat Berhenti Menggunakan

Narkoba secara Total

Total

1 2 3

Positif 14

(66,7%)

5 (83,3%)

3

(100%) 22

Negatif 7

(33,3%)

1 (16,7%)

0

(0%) 8

Total

21

(100%)

6 (100%)

3

(25)

RANKING DATA PENUNJANG DENGAN SUBJECTIVE NORMS

Tabel 9.1. Ranking Subjective Norms dengan Orang yang Paling Menuntut untuk berhenti menggunakan narkoba secara total

Orang yang Paling Menuntut JUMLAH

Diri sendiri 12

(40%)

Keluarga 12

(40%)

Konselor 3

(10%)

Teman 2

(6,7%)

Tidak ada 1

(3,3%)

TOTAL 30

(26)

CROSSTABULATION PERCEIVED BEHAVIORAL CONTROL DENGAN

DATA PENUNJANG

Tabel 10.1. Crosstabs Perceived Behavioral Control dengan Hal yang Mendukung Berhenti Menggunakan Narkoba secara total

PBC

Hal-hal yang Mendukung

Total

Keluarga Ingin Sehat Dukungan

Orang Lain

Lingkungan yang bebas Narkoba

Positif 6 (20%) 3 (10%) 2 (6,7%) 1 (3,3%) 12 (40%)

Negatif 9 (30%) 3 (10%) 2 (6,7%) 4 (13,3%) 18 (60%)

Total 15

(50%) 6 (20%) 4 (13,3%) 5 (16,7%) 30 (100%)

Tabel 10.5. Crosstabs Perceived Behavioral Control dengan Hal-hal yang Menghambat untuk Berhenti Menggunakan Narkoba secara total

PBC

Hal-hal yang menghambat

Total

Suasana

hati yang

berubah-ubah

Sugesti Lingkungan yang masih ada narkoba Ada masalah Tidak ada yang menghambat

Positif 2 (6,7%) 2 (6,7%) 5 (16,7%) 2 (6,7%) 1 (3,3%) 12 (40%)

Negatif 3 (10%) 6 (20%) 7 (23,3%) 1 (3,3%) 1 (3,3%) 18 (60%) Total 5

(27)

Profil Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi

Tempat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba adalah Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor melalui Instalasi Pemulihan Ketergantungan NAPZA.

2.3.4.1.Program perawatan pemulihan ketergantungan NAPZA RSMM-Bogor

 Detokfikakasi

Merupakan program/tahap awal bagi pecandu sebelum menjalani program pemulihan. Detokfikasi adalah suatu proses pengeluaran racun dari tubuh dimana tujuannya untuk membuat pecandu merasa nyaman ketika mengalami gejala putus zat (withdrawal). Lama waktu detokfikasi untuk setiap NAPZA (drugs) berbeda.

Detokfikasi bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obatan medis maupun secara konvensional (tanpa obat) dan itu semua tergantung observasi dari dokter. Dokter secara intensif mengobservasi keadaan pasien yang memiliki penyakit diagnosis ganda (dual-diagnose), sebelum pasien masuk program pemulihan, dia mendapatkan terapi medis secara khusus.

 Program Rawat Inap/Residential Program : 6 bulan

 Fase 0-3 bulan (basic)

(28)

dengan beberapa cara diantaranya : Sponsorship, Counseling Personal atau Group Therapy, Cognitive Behavioural Therapy dengan bimbingan dari staf profesional (Psikiater)

 Fase 3-6 bulan (Intermediate)

Fase 3-6 bulan ini merupakan program lanjutan dari fase 0-3 bulan. Pada tahap ini residen diarahakan untutk dapat menentukan langkah/tujuan yang akan diambilnya, antara lain: membuat keputusan (decision making), memperbaiki hubungan dengan orang lain terutama keluarga, membuat rencana-rencana yang dapat membantunya dalam menjalani kehidupannya (action plan, recovery plan). Cara yang dilakukan tetap melalui konseling dengan staf profesional (Psikiater, Psikolog, Dokter, Konselor) dan mengikuti pelatihan life skill. Therapy konseling yang lebih difokuskan pada model konseling interpersonal.

 Relapse Center Program

Residen ynag melanggar Golden Rules TC (no sex, no drugs, no viodence) selama proses pemulihan akan ditempatkan di relapse center. Program berlangsung selama 14-45 hari (tergantung kasus). Program yang diberikan berupa konseling individu/kelompok, meditasi, konfrontasi, behaviour correction dan encounter group.

 Re-entry Program/Peer in Training

(29)

 Aftercare Program

Aftercare adalah program pasca pemulihan bagi mantan residen yang sudah menjalani hidup di luar dan difasilitasi oleh para mantan pecandu atau peer counselor. Program aftercare RSMM bernama KESATU (kelompok Saling Bantu).

 Family Support & Therapy (fast)

IPK NAPZA bekerja sama dengan orangtua/keluarga residen membentuk suatu wadah yang bertujuan untuk mensupport dan menjalankan terapi yang berkaitan dengan HIV maupun akibat-akibat yang disebabkan oleh pemakaian drugs. Kegiatan ini dilakukan setiap hari sabtu, minggu pertama setiap bulannya, dari jam 13.00 s/d 16.00 WIB. Bentuk acara sarasehan, penyampaian informasi terbaru mengenai NAPZA dan HIV dengan narasumber yang berkualitas.

 Re-entry House

(30)

Selama menjalankan proses re-sosialisasi tersebut, re-entry house dapat menjadi wadah yang tepat bagi residen dan para staf dapat menjadi fasilitator, sehingga secara bertahap mereka dapat beradaptasi dengan duania luar.

2.3.4.2.Konsep Pengajaran yang Digunakan di RSMM-Bogor

1. Therapeutic Community

Program pemulihan RSMM menggunakan konsep TC yang bersifat Hospital Base, dimana selain residen ada juga profesional (psikiater, dokter, psikolog, perawat, konselor) yang semuanya berperan aktif di bidangnya masing-masing untuk membantu proses pemulihan pecandu.

2. Narcotic Anonymous (NA) & 12 steps of NA

Suatu program dimana para pecandu berbagi pengalaman, kekuatan dan harapannya dan mempelajari 12 steps yang tujuannya agar bisa bersih dari drugs dan berpikir waras (clean & sober)

3. Penyakit-penyakit Akibat dari Adiksi

Residen mempelajari bahwa efek penggunaan obat bisa menyebabkan penyakit-penyakit serta pencegahan penularannya (harm reduction & universal precaution). Penyakit-penyakit tersebut antara lain: HIV/AIDS, Hepatitis B & C, Ebdokartisis, dan lain-lain.

4. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

(31)

5. Relapse Prevention

Suatu kiat-kiat yang dipelajari dan diterapkan oleh residen untuk mencegah residen menggunakan drugs kembali (slip/relapse)

6. Sponsorship

Program bimbingan oleh seorang yang tugasnya membantu pemulihan residen.

(32)

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Penggunaan berbagai macam jenis obat dan zat adiktif atau yang biasa disebut narkoba cukup meningkat 5 tahun belakangan ini. Menurut Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN Komjen Pol I Made Mangku Pastika peredaran gelap

narkoba di Indonesia semakin meningkat sejak tahun 2003. Dia mengungkapkan,

berdasarkan data Mabes Polri tindak pidana narkoba hingga November 2007

tercatat 77.200 kasus. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2005 yakni 16.250

dan pada 2006 tercatat 17.365 kasus

(http://bisnispolitik.wordpress.com/2008/03/25). Pada umumnya, obat terlarang seperti narkoba tersebut banyak disalahgunakan oleh kalangan muda seperti remaja dan orang dewasa. Namun yang paling banyak menggunakan narkoba adalah orang-orang dewasa awal. Berdasarkan data dari BNN, dari 4 juta pengguna

narkoba di seluruh Indonesia, sebanyak 20 persen adalah remaja, sisanya 80

persen adalah orang-orang dewasa di atas 20 tahun (Kapanlagi.com, Rabu, 27 Juni

2007).

Penyalahgunaan narkoba adalah pemakaian obat dan zat-zat berbahaya

lain dengan maksud bukan untuk tujuan pengobatan dan/atau penelitian serta

digunakan tanpa mengikuti aturan serta dosis yang benar. Penggunaan

terus-menerus dan berlanjut akan mengakibatkan ketergantungan atau dependensi

(33)

Universitas Kristen Maranatha

Banyak alasan mengapa seseorang menggunakan bahan terlarang dan

berbahaya seperti narkoba. Beberapa alasannya adalah menganggap sebagai suatu

gaya hidup, dibujuk orang lain agar merasakan efek menyenangkan dari zat

tersebut, dibujuk agar menjadi tergantung dan terus membeli, sebagai pelarian

dari suatu masalah, dan mungkin masih banyak alasan lain

(http://farhanzen.wordpress.com/2007/12/13/narkoba-dan-disfungsi-seksual-2/).

Disamping itu, alasan utama seseorang mencoba obat-obatan adalah karena rasa ingin tahu mereka terhadap efek yang menyenangkan dari narkoba dan keinginan untuk mengikuti bujukan orang lain terutama dari lingkungan pergaulan mereka (McInthosh 2002).

Pemakaian dan penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan yang tidak

sesuai aturan dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, baik bagi pemakai itu

sendiri maupun bagi lingkungan di sekitar pemakai terutama keluarga. Pada

dasarnya akibat penyalahgunaan narkoba dapat dibagi menjadi akibat fisik dan

psikis. Akibat yang terjadi tentu tergantung kepada jenis narkoba yang digunakan,

cara penggunaan, dan lama penggunaan. Beberapa akibat fisik karena lamanya

menggunakan narkoba ialah kerusakan otak, gangguan hati, ginjal, paru-paru, dan

penularan HIV/AIDS melalui penggunaan jarum suntik bergantian. Akibat lain

juga timbul sebagai komplikasi cara penggunaan narkoba melalui suntikan,

misalnya infeksi pembuluh darah dan penyumbatan pembuluh darah. Akibat

psikis yang mungkin terjadi ialah sikap yang apatis, euforia, emosi labil, depresi,

kecurigaan yang tanpa dasar, kehilangan kontrol perilaku, sampai mengalami sakit

(34)

Universitas Kristen Maranatha

adalah pecandu menjadi bermasalah dengan orangtua, bermasalah di sekolah, di

pekerjaan bahkan berurusan dengan pihak berwenang karena perilaku yang tidak

terkontrol akibat penyalahgunaan narkoba. Pecandu menjadi sering terlibat kasus

seperti pencurian untuk mendapatkan narkoba.

Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan narkoba secara bebas dan tidak sesuai aturan, maka diperlukan perhatian khusus untuk menanggulangi masalah ini. Menurut Budiarta (2000), ada dua upaya penanggulangan masalah narkoba yaitu preventif dan represif. Upaya preventif

merupakan pencegahan yang dilakukan agar seseorang jangan sampai terlibat baik

secara langsung maupun tidak langsung dengan narkoba. Sedangkan upaya

represif adalah usaha penanggulangan dan pemulihan pengguna narkoba yang

mengalami ketergantungan. Usaha-usaha represif dapat dilakukan dengan

mendirikan panti-panti rehabilitasi maupun Rumah Sakit Ketergantungan Obat.

Di dalam Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau panti Rehabilitas itulah

nantinya dilaksanakan program-program pemulihan bagi pengguna narkoba.

Menurut Wresniwiro (1999), rehabilitasi merupakan usaha untuk menolong,

merawat dan memulihkan korban penyalahgunaan obat terlarang, sehingga

diharapkan para korban dapat kembali ke dalam lingkungan masyarakat atau

dapat bekerja serta belajar dengan layak.

Salah satu tempat rehabilitasi yang dapat membantu pecandu narkoba

untuk berhenti menggunakan narkoba adalah Rumah Sakit “X” Bogor. Tujuan

rehabilitasi di Rumah Sakit “X” Bogor adalah bekerja keras dengan semangat dan

(35)

Universitas Kristen Maranatha

dari permasalahannya dan dapat hidup tanpa menggunakan narkoba. Rumah sakit

“X” Bogor tersebut memiliki beberapa program perawatan dan pemulihan bagi

pecandu narkoba. Sebelum menjalani program rehabilitasi, seorang pecandu

narkoba harus menjalani detoksifikasi terlebih dahulu. Detoksifikasi adalah suatu

proses pengeluaran racun dari tubuh yang bertujuan untuk membuat pecandu

merasa nyaman ketika mengalami gejala putus zat atau withdrawal (Profil

Instalasi Pemulihan Ketergantungan NAPZA). Pecandu narkoba yang sudah

menjalani detokfikasi dinyatakan sudah bebas dari narkoba atau berhenti

menggunakan narkoba.

Supaya pecandu narkoba dapat berhenti menggunakan narkoba secara total

atau bertahan untuk tidak menggunakan narkoba lagi, maka pecandu narkoba

perlu menjalani rehabilitasi setelah detoksifikasi. Lamanya program rawat inap

rehabilitasi di Rumah Sakit “X” Bogor adalah 6 bulan. Dalam program

rehabilitasi tersebut, pecandu narkoba harus mengikuti kegiatan-kegiatan yang

telah ditentukan setiap harinya dan mentaati aturan-aturan yang telah dibuat oleh

Rumah Sakit tersebut. Apabila pecandu narkoba melanggar aturan Golden Rules

TC (no sex, no drugs, no violence), maka ia mengikuti relapse center program

selama 14-45 hari, tergantung kasusnya. Relapse center program berupa

konseling individu/kelompok, meditasi, konfrontasi, behaviour correction dan

encounter group (Profil Instalasi Pemulihan Ketergantungan NAPZA).

Menurut seorang pengawas pecandu di tempat rehabilitasi tersebut,

kebanyakan para pecandu narkoba awalnya kurang dapat berpartisipasi dalam

(36)

Universitas Kristen Maranatha

dalam kegiatan bersih-bersih sehingga terkadang menyebabkan pertengkaran di

antara para pecandu nakoba. Biasanya mereka yang terlibat pertengkaran dan

perkelahian akan dipisahkan dari pecandu lainnya untuk melakukan konseling

secara pribadi/kelompok.

Berdasarkan survei awal yang dilakukan di Rumah Sakit “X” Bogor, 41

orang (95,4%) dari 43 pecandu yang menjalani rehabilitasi berusia 22-40 tahun.

Rata-rata pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi sudah menikah dan

memiliki anak. Sebagian dari mereka menikah dengan teman mereka yang juga

pecandu narkoba. Mereka awalnya mengenal narkoba dari teman-teman mereka

dan bujukan teman-teman mereka. Menurut perawat di tempat rehabilitasi

tersebut, kebanyakan dari pecandu narkoba masuk ke tempat rehabilitasi bukan

atas keinginan mereka sendiri, meskipun ada juga yang benar-benar atas

keinginan sendiri untuk berhenti menggunakan narkoba secara total melalui

rehablitasi. Akan tetapi setelah keluar dari tempat rehabilitasi, para pecandu

narkoba seringkali menggunakan narkoba lagi dan kembali masuk rehabilitasi.

Alasan para pecandu narkoba kembali menggunakan narkoba karena mereka

kesulitan untuk menolak ajakan teman dan menjauh dari teman-teman sesama

pecandu narkoba. Dimana hampir keseluruhan dari pecandu narkoba atau lebih

kurang 80% pecandu narkoba seringkali mengalami relaps dan kembali menjalani

rehabilitasi lagi.

Fenomena di atas menunjukkan betapa sulitnya pecandu narkoba untuk

bisa berhenti menggunakan narkoba secara total. Oleh sebab itu selain menjalani

(37)

Universitas Kristen Maranatha

dalam diri pecandu narkoba sendiri. Dengan memiliki niat yang kuat, maka

pecandu narkoba akan terdorong mengerahkan upaya yang lebih dalam mengatasi

kesulitan untuk berhenti menggunakan narkoba secara total dibandingkan dengan

pecandu narkoba yang memiliki niat yang lemah.

Niat dalam teori Planned Behavior (Icek ajzen, 1991) disebut intention

yaitu suatu keputusan mengerahkan usaha untuk melakukan suatu perilaku.

Terdapat tiga determinan yang mempengaruhi intention yaitu Attitude toward the

behavior, Subjective norms, dan Perceived behavioral control. Attitude toward

the behavior merupakan sikap baik atau buruk, sikap menyenangkan atau tidak

menyenangkan, sikap menarik atau membosankan pecandu narkoba terhadap

evaluasi dari konsekuensi berhenti menggunakan narkoba secara total. Subjective

norms merupakan persepsi pecandu narkoba mengenai tuntutan dari keluarga

(orang tua, suami/istri, kakak/adik), teman, konselor, dan perawat untuk

mengharuskan atau tidak mengharuskan, benar atau salah dalam melakukan

perilaku berhenti menggunakan narkoba secara total, serta kesediaan untuk

mematuhi orang-orang tersebut. Perceived behavioral control merupakan

persepsi pecandu narkoba mengenai kemampuan mereka untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total, mudah atau sulitnya, setuju atau tidak

setuju untuk berhenti menggunakan narkoba secara total, dan mungkin atau

tidaknya untuk berhenti menggunakan narkoba secara total.

Berdasarkan hasil survei awal terhadap 10 orang pecandu narkoba dewasa

awal yang menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit ”X” Bogor, mereka mulai

(38)

Universitas Kristen Maranatha

mereka merasa tertarik untuk berhenti menggunakan narkoba secara total karena

dengan berhenti menggunakan narkoba secara total, mereka dapat terhindar dari

penyakit HIV/AIDS dan sembuh dari penyakit komplikasi lainnya seperti

Hepatitis C (attitude toward the behavior). Mereka juga memilih untuk mengikuti

rehabilitasi karena mereka menganggap dengan berhenti menggunakan narkoba

dan mengikuti rehabilitasi bisa menyiapkan diri mereka untuk bisa diterima di

lingkungan baru di luar rehabilitasi. Mereka juga menganggap konsekuensi dari

berhenti menggunakan narkoba akan memperbaiki hubungan dengan keluarga

mereka yang kacau akibat narkoba. Mereka dapat lebih memperhatikan keluarga,

fokus untuk merawat anak dan juga bisa melanjutkan kuliah mereka yang pernah

tertunda karena kecanduan narkoba. Hal ini membuat niat pecandu narkoba untuk

berhenti menggunakan nakoba menjadi kuat (intention kuat).

Sebanyak 2 orang (20%) pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di

Rumah Sakit ”X” Bogor mengatakan bahwa mereka kurang tertarik untuk

berhenti menggunakan narkoba dan mengikuti rehabilitasi, karena sebenarnya

mereka belum mau berhenti merasakan efek menyenangkan dari narkoba tersebut

(attitude toward the behavior). Mereka merasa terpaksa untuk berhenti

menggunakan narkoba, dipaksa orangtua mereka untuk masuk rehabilitasi yang

sebenarnya mereka tidak inginkan, meskipun sebenarnya mereka tahu akibat dari

narkoba telah membuat dirinya sakit. Mereka menganggap bahwa rehabilitasi

tidak akan bisa membuat mereka berhenti menggunakan narkoba secara total.

Mereka terkadang menjalani program rehabilitasi dengan keterpaksaan untuk

(39)

Universitas Kristen Maranatha

sehingga terkadang mereka meminta untuk diberikan cuti pulang ke rumah,

meskipun tidak pernah diberikan ijin. Hal ini membuat niat pecandu narkoba

untuk berhenti menggunakan nakoba menjadi lemah (intention lemah).

Sebanyak 8 orang (80%) pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di

Rumah Sakit ”X” Bogor mengatakan bahwa bahwa keluarga (orangtua,

suami/istri, kakak/adik), teman, konselor dan perawat mendukung mereka untuk

berhenti menggunakan narkoba dan menjalani rehabilitasi di rumah sakit tersebut.

Hal ini membuat mereka yakin bahwa keluarga (orangtua istri/suami, kakak/adik),

teman, konselor, perawat menuntut dirinya untuk berhenti menggunakan narkoba

dan mereka memiliki kesediaan untuk mematuhi orang-orang tersebut (subjective

norms). Tuntutan tersebut dirasakan dari perilaku keluarga mereka yang sering

mengunjungi mereka secara rutin, berkomunikasi melalui telepon dan

memberikan perhatian dengan memasukkan mereka ke rehabilitasi. Dukungan

dari keluarga (orangtua istri/suami, kakak/adik), teman, konselor, perawat yang

dipersepsi pecandu narkoba membuat niat pecandu narkoba untuk berhenti

menggunakan nakoba menjadi kuat (intention kuat).

Sebanyak 2 orang (20%) pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di

Rumah Sakit ”X” Bogor mengatakan bahwa keluarga (orangtua istri/suami,

kakak/adik), teman, konselor, perawat kurang menuntut mereka untuk berhenti

menggunakan narkoba. Mereka merasa keluarga mereka hanya memasukkan

mereka ke rehabilitasi untuk melepaskan tanggung jawab. Hal ini dirasakan oleh

pecandu narkoba karena keluarga (orangtua istri/suami, kakak/adik) tidak

(40)

Universitas Kristen Maranatha

menghubungi mereka. Hal ini membuat niat mereka untuk berhenti menggunakan

narkoba menjadi lemah (intention lemah).

Sebanyak 7 orang (70%) pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di

Rumah Sakit ”X” Bogor mengaku bahwa mereka merasa sulit dan kurang mampu

untuk berhenti menggunakan narkoba secara total (perceived behavioral control).

Hal ini disebabkan karena pengalaman mereka sebelumnya yang sudah sering

keluar masuk rehabilitasi 3 atau 4 kali, bahkan ada yang 10 kali keluar masuk

pesantren dan rehabilitasi. Hal lain yang menyebabkan mereka merasa sulit untuk

berhenti menggunakan narkoba secara total karena teman-teman mereka di luar

rehabilitasi mempengaruhi mereka untuk mencoba menggunakan narkoba lagi.

Disamping itu, ketika menghadapi masalah berat, biasanya mereka berpikir untuk

menggunakan narkoba lagi. Oleh karena itu mereka mempersepsikan bahwa

mereka tidak akan mampu untuk berhenti menggunakan narkoba secara total

setelah keluar dari rehabilitasi. Hal ini membuat niat mereka untuk berhenti

menggunakan narkoba menjadi lemah (intention lemah).

Sebanyak 3 orang (30%) pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di

Rumah Sakit ”X” Bogor mengaku bahwa mereka cukup mampu untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total (perceived behavioral control). Hal ini

disebabkan pengalaman sebelumnya, satu orang di antara mereka pernah berhenti

menggunakan narkoba selama setahun dengan menjalani detokfikasi di rumah

sakit tanpa menjalani rehabilitasi. Tetapi ketika ia melihat temannya sedang

menggunakan narkoba ia kembali menggunakan narkoba lagi karena ada

(41)

Universitas Kristen Maranatha

Rumah Sakit ”X” Bogor ini, mereka dapat berhenti menggunakan narkoba secara

total dan mereka memiliki keinginan untuk menjaga jarak dengan teman pecandu

narkoba terdahulu serta lebih fokus kepada keluarga mereka. Hal ini mendorong

mereka tekun menjalani program-program rehabilitasi dan tidak pernah melanggar

peraturan karena mereka ingin berhenti narkoba secara total. Hal ini

mempengaruhi niat mereka untuk berhenti menggunakan narkoba menjadi kuat

(intention kuat).

Pecandu narkoba yang memiliki niat yang kuat untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total cenderung akan memunculkan perilaku tidak

menggunakan atau menyentuh narkoba sama sekali baik di rehabilitasi maupun di

luar rehabilitasi. Setelah keluar dari rehabilitasi, mereka dapat melanjutkan

kuliah/bekerja, dapat mengurus keluarga bagi mereka yang sudah menikah dan

dapat memperbaiki hubungan yang sempat kacau karena narkoba. Pada pecandu

narkoba yang memiliki niat yang lemah untuk berhenti menggunakan narkoba

secara total cenderung akan menghambat munculnya perilaku berhenti

menggunakan narkoba secara total seperti sering keluar masuk rehabilitasi.

Setelah keluar dari rehabilitasi, mereka menggunakan narkoba lagi. Hal ini akan

berdampak terhadap kesehatan, mereka akan rentan terkena penyakit HIV/AIDS,

hepatitis C atau penyakit komplikasi lainnya dan hubungan dengan keluarga

menjadi tidak harmonis lagi, mengabaikan keluarga karena sibuk dengan

pancarian dan penyalahgunaan narkoba.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang

(42)

Universitas Kristen Maranatha

narkoba pada pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit “X”

Bogor.

1.2. Identifikasi Masalah

Bagaimana kontribusi determinan – determinan terhadap intention untuk

berhenti menggunakan narkoba secara total pada pecandu narkoba yang sedang

menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit ”X” Bogor.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

 Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran mengenai

kontribusi determinan – determinan terhadap intention untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total pada pecandu narkoba yang sedang

menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit ”X” Bogor.

 Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran lebih rinci

dan mendalam mengenai kontribusi determinan-determinan terhadap

intention untuk berhenti menggunakan narkoba secara total pada

pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit

”X” Bogor.

1.4. Kegunaan Penelitian

1.4.1. Kegunaan Ilmiah

 Untuk menambah informasi dalam bidang ilmu psikologi klinis

(43)

Universitas Kristen Maranatha

intention untuk berhenti menggunakan narkoba pada pecandu narkoba

berdasarkan teori planned behavior.

 Memberikan sumbangan informasi mengenai gambaran kontribusi

determinan-determinan terhadap intention berdasarkan teori planned

behavior kepada peneliti-peneliti lain yang tertarik untuk meneliti

lebih lanjut mengenai gambaran kontribusi determinan-determinan

terhadap intention pada pecandu narkoba untuk berhenti menggunakan

narkoba.

1.4.2. Kegunaan Praktis

 Memberikan informasi kepada pecandu narkoba mengenai gambaran

intention dan determinan-determinan yang dimilikinya sehingga

pecandu narkoba termotivasi untuk berhenti menggunakan narkoba

secara total untuk kesejahteraan hidup mereka.

 Memberikan informasi bagi tempat rehabilitasi mengenai intention dan

determinan-determinan yang dimiliki pecandu narkoba yang ada di

rehabilitasi tersebut, sehingga mereka dapat memotivasi pecandu

narkoba agar memiliki intention yang kuat dalam usaha berhenti

menggunakan narkoba secara total.

 Memberikan informasi kepada orang tua dan masyarakat mengenai

gambaran Intention dan determinan-determinan yang dimiliki pecandu

narkoba sehingga mereka dapat mendukung dan memotivasi pecandu

narkoba agar memiliki intention yang kuat untuk berhenti

(44)

Universitas Kristen Maranatha 1.5. Kerangka Pemikiran

Menurut E.B. Hurlock (1980), masa dewasa awal merupakan periode

penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial

baru. Orang dewasa diharapkan memainkan peran baru, seperti peran suami atau

isttri, orangtua dan pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap baru,

keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Masa

ini berarti masa pengaturan dimana seseorang mulai menerima tanggung jawab

sebagai orang dewasa dan meninggalkan kebebasan yang mereka rasakan pada

masa remaja. Begitu juga halnya pada pecandu narkoba dewasa awal. Mereka

diharapkan untuk dapat menjalankan perannya dan menerima tanggung jawab

sebagai orang dewasa. Akan tetapi, karena ketergantungan narkoba, mereka tidak

dapat menjalankan perannya sebagai suami yang seharusnya menjalankan

tugasnya sebagai pencari nafkah ataupun sebagai istri yang merawat keluarganya

(anak). Oleh karena itu, diharapkan dengan berhenti menggunakan narkoba secara

total melalui rehabilitasi, mereka dapat kembali menjalankan tenggung jawabnya

masing-masing.

Ketergantungan zat/obat (narkoba) adalah pola tingkah laku maladaptif

dalam penggunaan obat (narkoba) yang secara klinis berbahaya atau merusak.

Adanya pikiran, perilaku dan simptom fisik yang mengindikasikan bahwa

individu secara terus-menerus menggunakan zat/obat (narkoba) dan ada gejala

yang berhubungan dengan masalah penggunaan narkoba. Adanya toleransi,

(45)

Universitas Kristen Maranatha

Ketergantungan berkaitan dengan semua jenis obat (narkoba) kecuali kafein

(DSM-IV-TR™, 2000).

Ketergantungan zat (narkoba) akan diikuti dengan perilaku bermasalah

penggunaan zat (narkoba) secara kontiniu. Perilaku bermasalah tersebut biasanya

dimanifestasikan dalam bentuk pencarian dan penggunaan secara kompulsif zat

(narkoba) tersebut. Individu yang ketergantungan narkoba tidak mampu

mengontrol jumlah zat (narkoba) yang mereka gunakan. Hal ini berbahaya secara

fisik dan menyebabkan masalah yang serius bagi penggunanya (Study Guide

DSM IV-TR, 2002).

Akibat ketergantungan narkoba adalah menyebabkan kerusakan dan

komplikasi yang berat, menyebabkan kemunduran dalam kondisi kesehatan secara

umum, rusaknya koordinasi motorik, menyebabkan kematian secara tiba-tiba

akibat artimia jantung, myocardial infarction, pendarahan otak atau gangguan

pernafasan. Penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi menyebabkan infeksi

virus HIV, hepatitis, tetanus, vaskulitis, keracunan darah, subacute bacterical

endocarditis, fenomena embolik, dan malaria. Penggunaan narkoba berhubungan

dengan kekerasan atau perilaku agresif yang dimanifestasikan dalam bentuk

perkelahian atau tindakan kriminal yang dapat melukai individu sendiri maupun

orang lain (DSM-IV-TR™, 2000). Terdapat juga beberapa akibat psikis dari

ketergantungan narkoba yaitu secara signifikan bermasalah dalam kognisi dan

mood/emosi, mengalami kecemasan, halusinasi, delusi, dan kejang-kejang ketika

putus obat (Abnormal Psychology, 2007). Oleh sebab itu pecandu narkoba

(46)

Universitas Kristen Maranatha

akibat negatif yang ditimbulkan oleh narkoba baik secara fisik, psikis maupun

sosial.

Merupakan hal yang sulit bagi pecandu narkoba untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total. Oleh karena pecandu narkoba harus memilki

niat yang kuat untuk dapat berhenti menggunakan narkoba secara total.

Disamping itu, dibutuhkan juga dorongan dan motivasi dari orang-orang sekitar

pecandu narkoba untuk dapat berhenti menggunakan narkoba secara total..

Pecandu narkoba yang memiliki niat yang kuat untuk berhenti menggunakan

narkoba akan lebih besar kemungkinannya untuk berhenti menggunakan narkoba

secara total.

Menurut Icek Ajzen (2005), individu dalam berperilaku berdasarkan akal

sehat dan selalu mempertimbangkan dampak dari perilaku tersebut. Hal ini yang

membuat seseorang berniat untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku

tersebut. Di dalam teori planned behavior, niat seseorang untuk berperilaku

tertentu disebut intention. Intention adalah suatu keputusan untuk mengerahkan

usaha dalam melakukan suatu perilaku tertentu. Intention dipengaruhi oleh tiga

determinan, yaitu attitude toward the behavior, subjective norms, dan perceived

behavioral control.

Attitude Toward the Behavior adalah sikap favourable atau unfavourable

dalam menampilkan suatu perilaku yang dihasilkan dari evaluasi positif atau

negatif terhadap suatu perilaku. Attitude Toward the Behavior didasari oleh

behavioral belief dan outcome evaluations yaitu keyakinan mengenai evaluasi dari

(47)

Universitas Kristen Maranatha

keyakinan bahwa berhenti menggunakan narkoba dan mengikuti rehabilitasi akan

memberikan konsekuensi yang positif, misalnya dapat sembuh atau berkurangnya

penyakit akibat penggunaan narkoba, bisa menyiapkan diri untuk bisa diterima di

lingkungan baru di luar rehabilitasi, dapat memperbaiki hubungan dengan

keluarga mereka yang sempat kacau, bisa fokus untuk merawat anak dan juga bisa

melanjutkan kuliah mereka, maka pecandu narkoba akan memiliki sikap tertarik

(favourable) untuk berhenti menggunakan narkoba. Sikap tersebut akan

mempengaruhi niat (intention) pecandu narkoba untuk berhenti menggunakan

narkoba secara total menjadi kuat.

Jika pecandu narkoba memiliki keyakinan terhadap evaluasi bahwa

berhenti menggunakan narkoba akan memberikan konsekuensi yang negatif,

misalnya dapat membuat mereka mengalami withdrawal syndrome atau sakau

yang mereka rasakan sangat sakit akibat berhentinya pemakaian narkoba dan

keterpaksaan untuk mengikuti rehabilitasi karena sebenarnya mereka belum ingin

berhenti menggunakan narkoba. Hal ini akan membuat pecandu narkoba memiliki

sikap tidak tertarik (unfavourable) terhadap usaha berhenti menggunakan narkoba

secara total. Sikap tersebut akan mempengaruhi niat (intention) pecandu narkoba

untuk berhenti menggunakan narkoba menjadi lemah.

Belief yang dimiliki oleh setiap pecandu narkoba dapat dipengaruhi oleh

beberapa faktor. Faktor pertama adalah informasi mengenai dampak

penyalahgunaan narkoba. Informasi apa saja yang pecandu narkoba ketahui

mengenai dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan dan kehidupan

(48)

Universitas Kristen Maranatha

pecandu narkoba untuk berusaha berhenti menggunakan narkoba secara total.

Informasi mengenai dampak penyalahgunaan narkoba yang berdampak buruk

bagi kesehatan dan kehidupan mereka dapat menjadi dasar keyakinan (beliefs)

pecandu narkoba mengenai konsekuensi perilaku berhenti menggunakan narkoba

secara total.

Faktor keduanya adalah manfaat berhenti menggunakan narkoba secara

total. Manfaat seperti dapat kuliah/bekerja kembali, terhindar dari penyakit

HIV/AIDS atau hepatitis C, dan dapat mengurus keluarga mereka jika berhenti

menggunakan narkoba secara total dapat berpengaruh terhadap sikap favorable

yang dimiliki pecandu narkoba untuk berusaha berhenti menggunakan narkoba

secara total.

Determinan kedua yaitu Subjective Norms adalah persepsi mengenai

tuntutan dari orang-orang yang signifikan untuk menampilkan atau tidak

menampilkan suatu perilaku tertentu dan kesediaan untuk mematuhi orang-orang

tersebut. Subjective Norms didasari oleh normative belief dan motivation to

comply, yaitu keyakinan seseorang bahwa individu atau kelompok yang penting

baginya akan menyetujui atau tidak menyetujui penampilan dari suatu perilaku

dan kesediaan individu untuk mematuhi orang-orang yang signifikan tersebut.

Tuntutan yang dipersepsi pecandu narkoba ini dapat berasal dari dukungan dan

dorongan keluarga (orangtua istri/suami, kakak/adik), teman, konselor, dan

perawat. Jika pecandu narkoba memiliki keyakinan bahwa keluarga (orangtua

istri/suami, kakak/adik), teman, konselor, dan perawat mendukungnya untuk

(49)

Universitas Kristen Maranatha

berkomunikasi melalui telepon, memberikan perhatian dengan memasukkan

mereka ke rehabilitasi, saling memotivasi antar teman pecandu narkoba, perawat

yang selalu memperhatikan mereka dan dimotivasi oleh konselor yang merupakan

mantan pecandu narkoba. Hal ini akan membuat pecandu narkoba memiliki

persepsi bahwa keluarga (orangtua istri/suami, kakak/adik), teman, konselor, dan

perawat menuntut mereka untuk berhenti menggunakan narkoba secara total dan

adanya kesediaan pecandu narkoba untuk mematuhi orang-orang tersebut.

Persepsi tersebut akan mempengaruhi niat (intention) pecandu narkoba untuk

berhenti menggunakan narkoba menjadi kuat. Jika pecandu narkoba mempersepsi

bahwa keluarga (orangtua istri/suami, kakak/adik), teman, konselor, dan perawat

kurang menuntutnya dan mendukungnya untuk berhenti menggunakan narkoba

dan pecandu narkoba bersedia untuk mematuhi orang-orang tersebut, maka

persepsi tersebut akan mempengaruhi niat (intention) pecandu narkoba untuk

berhenti menggunakan narkoba menjadi lemah.

Determinan ketiga yaitu Perceived Behavioral Control adalah persepsi

individu mengenai kemampuan mereka untuk menampilkan suatu perilaku.

Perceived behavioral control didasari oleh control belief dan power of control

factors, yaitu keyakinan mengenai ada atau tidak adanya faktor-faktor yang

mendukung atau menghambat dalam menampilkan suatu perilaku. Jika pecandu

narkoba memiliki keyakinan bahwa terdapat faktor-faktor yang

mendukung/mempermudah pecandu narkoba untuk berhenti menggunakan

narkoba secara total seperti lingkungan yang bebas narkoba dan juga pengalaman

(50)

Universitas Kristen Maranatha

mereka akan memiliki persepsi bahwa berhenti menggunakan narkoba akan dapat

mereka lakukan. Persepsi ini akan mempengaruhi niat (intention) pecandu

narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba secara total menjadi kuat.

Sebaliknya, jika pecandu narkoba memiliki keyakinan bahwa faktor-faktor yang

mempersulit seperti lingkungan pecandu narkoba, sugesti untuk menggunakan

narkoba lagi, suasana hati yang buruk ketika mengalami masalah, dan ajakan

teman lama pecandu narkoba, maka mereka akan memiliki persepsi bahwa

berhenti menggunakan narkoba adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Persepsi ini

akan mempengaruhi niat (intention) pecandu narkoba untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total menjadi lemah.

Ketiga determinan akan mempengaruhi kuat atau lemahnya intention

seseorang dalam menampilkan suatu perilaku. Pengaruh ketiga determinan

tersebut terhadap intention dapat berbeda-beda satu sama lain. Ketiga determinan

tersebut dapat sama-sama kuat mempengaruhi intention, atau dapat salah satu saja

yang kuat dalam mempengaruhi intention, tergantung kepada deteminan apa yang

dianggap paling penting dalam mempengaruhi intention. Misalkan individu

pecandu narkoba memiliki subjective norms yang positif dan determinan tersebut

memiliki pengaruh yang paling kuat, maka intention pecandu narkoba untuk

berhenti menggunakan narkoba secara total akan kuat walaupun dua determinan

yang lainnya negatif karena subjective norms merupakan determinan paling

penting mempengaruhi niat pecandu narkoba untuk berhenti menggunakan

narkoba. Sebaliknya, apabila subjective norms yang dimiliki oleh pecandu

(51)

Universitas Kristen Maranatha

narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba secara total akan lemah. Hal ini

dikarenakan bahwa subjective norms memiliki pengaruh yang paling kuat

terhadap intention.

Attitude toward the behaviour, subjective norms dan perceived behavioral

control juga saling berhubungan satu sama lain. Apabila ketiga determinan

tersebut memiliki hubungan yang erat, maka pecandu narkoba dewasa awal yang

menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit ”X” Bogor yang memiliki sikap tertarik

untuk berhenti menggunakan narkoba secara total. Karena dengan berhenti

menggunakan narkoba akan mengurangi dan menyembuhkan penyakit akibat

penggunaan narkoba, bisa menyiapkan diri untuk bisa diterima di lingkungan baru

di luar rehabilitasi, dapat memperbaiki hubungan dengan keluarga mereka yang

sempat kacau, bisa fokus untuk merawat anak dan juga bisa melanjutkan kuliah

mereka. Serta memiliki persepsi bahwa dirinya mampu untuk berhenti

menggunakan narkoba, terdapat lingkungan yang mendukung untuk berhenti

menggunakan narkoba, dan sesuai dengan tuntutan dari orang-orang yang

signifikan bagi dirinya seperti keluarga (orangtua istri/suami, kakak/adik), teman,

konselor, dan perawat. Hal ini akan mempengaruhi sikap pecandu narkoba dewasa

awal yang menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit ”X” Bogor menjadi semakin

tertarik untuk berhenti menggunakan narkoba secara total.

Apabila pecandu narkoba dewasa awal yang menjalani rehabilitasi di

Rumah Sakit ”X” Bogor memiliki sikap kurang tertarik untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total karena keterpaksaan mengikuti rehabilitasi dan

(52)

Universitas Kristen Maranatha

narkoba. Serta memiliki persepsi bahwa dirinya sulit dan kurang mampu untuk

berhenti menggunakan narkoba, tidak bisa menolak ajakan teman pecandu

narkoba terdahulu, sugesti untuk menggunakan narkoba lagi ketika mengalami

masalah, dan orang-orang signifikan bagi dirinya tidak menuntut dan mendukung

pecandu narkoba untuk untuk berhenti menggunakan narkoba secara total. Hal ini

akan mempengaruhi sikap pecandu narkoba dewasa awal yang menjalani

rehabilitasi di Rumah Sakit ”X” Bogor menjadi semakin tidak tertarik untuk

berhenti menggunakan narkoba secara total.

Interaksi ketiga determinan tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi

kuat atau lemahnya intention pecandu narkoba dewasa awal untuk berhenti

menggunakan narkoba secara total di Rumah Sakit “X” Bogor. Skema kerangka

(53)

Universitas Kristen Maranatha

1.5. Skema Kerangka Pikir Control Beleifs Normative Beliefs Behavioural beleifs Perceived behavioural control Subjective Norms Attitude toward the behaviour Intention Perilaku tidak menggunakan narkoba lagi atau sama sekali tidak menyentuh narkoba

lagi Faktor-faktor yang mempengaruhi:

- Informasi mengenai dampak penyalahgunaan narkoba

Gambar

Tabel 5.1. Crosstabs Attitude toward the behavior dengan Behavioral Beliefs
Tabel 6.1. Crosstabs Subjective Norms dengan Normative Beliefs
Tabel 7.2. Crosstabs Perceived Behavioral Control dengan Power of Control Factors
Tabel 8.1. Crosstabs Attitude toward the behavior dengan banyaknya informasi mengenai dampak narkoba
+3

Referensi

Dokumen terkait

Perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan dipengaruhi berbagai faktor untuk dipertimbangkan oleh konsumen untuk membeli produk sepatu adalah kualitas, referensi, merk,

Teori Patrilineal adalah teori yang menganggap bahwa negara itu timbul karena dalam suatu kelompok keluarga yang masih primitif pada mulanya, sang ayah sebagai

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pelatihan baby gym terhadap kemampuan ibu untuk melakukan baby gym di wilayah Ponkesdes Grogol, Desa Grogol, Kecamatan

Sedanglian pembentultan energi (ATP) pada olahraga aerobilt atau sisteni olisidasi dengan kebutulia~i oksigen yang sangat cukup. Patla saat pel-tandingan atau

Pemanfaatan Film animasi (X) Pemanfaatan film animasi yang dirancang sedemikian rupa dengan alur cerita dirancang untuk menceritakan sebuah kisah tentang orang, kelompok,

Pada bahan ini banyak spin elektron yang tidak berpasangan, masing-masing spin elektron yang tidak berpasangan ini akan menimbulkan medan magnetik, sehingga medan

peningkatan (gain) hasil belajar siswa pada kelas eksperimen lebih baik dari. kelas kontrol. Beberapa kendala yang ditemui terkait dengan pemanfaatan

Tujuan penelitian ialah untuk Melakukan Analisa untuk mendapatkan informasi ataupun pemahaman tentang kebutuhan sistem yang sedang berjalan dan memberikan usulan