Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Makna Tradisi Lamporan Bagi Masyarakat Desa Kunden di Kabupaten Blora T1 152009023 BAB V

Teks penuh

(1)

58 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Bersadarkan hasil penelitian, analisis dan interprestasi data yang penulis

paparkan dalam kajian “ judul skripsi” dapat kami simpulkan sebagai berikut:

Pengertian masyarakat secara umum tentang lampor merupakan suara

makhluk halus yang berarak atau sebagai weweden. Berbeda di Desa Kunden,

Lamporan sendiri berasal dari kata obor/ oncor. Tradisi lamporan berasal dari

kalangan petani dan peternak di Desa Kunden. Dengan tradisi ini masyarakat

memercayainya sebagai tradisi tolak bala, maksudnya untuk menghalau

hal-hal yang sekiranya merupakan gangguan bagi para petani dan peternak waktu

itu. Pencetus diadakannya tradisi Lamporan ini adalah Ibu Manik yang

merupakan anak dari doro Sumo yang merupakan tokoh masyarakat.

Kepercayaan masyarakat bahwa Dewi Sri telah dianggap sebagai Dewi

Kesuburan yang dapat menolong masyarakat dari masa-masa pageblug dengan

melalui tradisi ini.

a. Persiapan

1) Musyawarah Untuk Mufakat

Dalam proses ini, masyarakat bersama-sama bertemu untuk

membicarakan/ musyawarah pembentukan panitia beserta

perangkat desa sehubung dengan pengadaan tradisi yang akan

dilakukan tahun ini.

(2)

59 Dalam tradisi lamporan ini, gotong- royong nampak sebelum acara

dimulai, yaitu saat para panitia bergotong- royong mempersiapkan

segala keperluan dari menata tempat hingga mempersiapkan

panggung hiburan dari atraksi barongan Sekar Joyo bersama

dengan jasa sewa panggung.

b. Pelaksanaan

Tradisi lamporan merupakan suatu warisan budaya lokal

yang selalu diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini nampak

pada masyarakat di Desa Kunden yang selalu rutin melakukan

tradisi upacara Lamporan pada setiap bulan Suro. Tradisi ini yang

telah diadakan pada tangal 22 November 2012 tepatnya pada hari

Kamis Legi, malam Jum’at Pahing.

Tepat setelah shalat mahgrib acara dimulai dengan diawali

kirap budaya atau keliling Desa Kunden. Tujuannya untuk tolak bala

atau menghalau roh-roh jahat yang akan datang untuk mengganggu.

Pelaksana kirap dilengkapi dengan obor dan pecut serta kesenian

barong yang merupakan khas dari Desa Kunden. Pecut dimaksudkan

untuk mengendalikan arah yang benar dan obor difungsikan untuk

menunjukkan kearah kehidupan yang lebih baik serta barongan

hanya sebagai weweden atau untuk menakut-nakuti roh-roh jahat

yang akan datang mengganggu. Usai kirap masyarakat melakukan

syukuran dengan makan bersama dibalai desa atas berkah yang

(3)

60 B. Saran

1. Kepada Pemerintah Desa beserta perangkatnya dan juga masyarakat

pendukung agar tetap menjaga dan melestarikan budaya lokal serta

menjaga kerukunan dan solidaritas antar warga dengan menjadikan tradisi

Lamporan sebagai wujud dari warisan leluhur agar dilaksanakan secara

turun temurun.

2. Bagi panitia pelaksanaan tradisi Lamporan harus tetap menjaga keaslian

dalam pelaksanaan ritual tradisi, sehingga yang tadinya kurang kompak

dalam pelaksanaan tradisi dapat lebih ditingkatkan lagi dengan

musyawarah dan gotong royong bersama masyarakat.

3. Penduduk pada dasarnya sangat terbuka kepada masyarakat luar yang

sedang meneliti atau melakukan pengamatan namun tidak boleh

membedakan status atau jabatan dari peneliti tradisi Lamporan tersebut.

Sehingga dalam pelaksanaan upacara tradisi Lamporan dapat

dipertahankan dan dilestarikan oleh semua komunitas masyarakat yang

merupakan identitas Desa Kunden, selain itu juga mempererat hubungan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...