PENINGKATAN MUTU MADRASAH:Kontribusi Kepemimpinan Kepala Madrasah, Iklim Organisasi, dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Mutu Madrasah Tsanawiyah di Kota Jambi.

87 

Teks penuh

(1)

HALAMAN JUDUL ...i

PENGESAHAN ...ii

PERNYATAAN ...iii

ABSTRAK ...iv

ABSTRACT ...v

KATA PENGANTAR ...vi

UCAPAN TERIMAKASIH ...vii

DAFTAR ISI ...viii

DAFTAR GAMBAR ...x

DAFTAR TABEL ...xi

DAFTAR LAMPIRAN ...xii

BAB I PENDAHULUAN . ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ...1

B. Identifikasi dan Rumusan Masalah ...18

C. Tujuan Penelitian ...21

D. Signifikansi Penelitian ...22

E. Struktur Organisasi Penyajian ...23

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 25

A. Mutu Madrasah dalam Konteks Administrasi Pendidikan ... 25

B. Mutu Madrasah ... 38

C. Kepemimpinan Kepala Madrasah ... 56

D. Iklim Madrasah ... 78

E. Partisipasi Masyarakat ... 89

F. Kerangka Pemikiran ... 97

G. Hipotesis Penelitian ... 101

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 102

A. Metode Penelitian ...102

B. Desain Penelitian ...103

C. Populasi dan Sampel ...104

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian ...107

E. Instrumen Penelitian ...111

F. Proses Pengembangan Instrumen Penelitian ...128

(2)

A. Hasil Penelitian ... 150

1. Hasil Analisis Deskriptif Berdasarkan Skor Rerata Tiap-Tiap Variabel Penelitian ... 150

2. Hasil Pengujian Hipotesis ...168

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 179

1. Kepemimpinan Kepala Madrasah ...179

2. Iklim organisasi madrasah ...187

3. Partisipasi masyarakat ...196

4. Mutu Madrasah ...203

C. Strategi Hipotetik Peningkatan Mutu Madrasah Tsanawiyah.. 215

1. Rasional ...215

2. Tujuan ...219

3. Asumsi ...219

4. Visualisasi Model...222

5. Strategi Implementasi ...226

6. Indikator Keberhasilan ...228

7. Kondisi Prasyarat ...229

8. Penilaian ...234

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 235

A. Simpulan ...235

B. Saran ...236

DAFTAR PUSTAKA ... 238

(3)

No Judul Hal

1.1 Data Akreditasi Madrasah Tsanawiyah tahun 2009/2010 ...4

1.2 Data Kualifikasi Kepala Madrasah Tsanawiyah tahun 2009/2010 ...6

1.3 Data Sertifikasi Pendidik Tahun 2009/2010 ... 7

2.1 Hirarki Sistemik Usaha Pendidikan ...26

2.2 Matriks Ontologi Disiplin Ilmu Pendidikan ...28

2.3 Kerangka Pikir Penelitian ...100

3.1 Pola Hubungan antar Variabel Penelitian ...103

3.2 Histogram Variabel Kepemimpinan ...137

3.3 Histogram Variabel Iklim ...139

3.4 Histogram Variabel Partisipasi ...140

3.5 Histogram Variabel Mutu Madrasah ...141

4.1 Diagram Batang Kepemimpinan Kepala Madrasah ...154

4.2 Rerata Kepemimpinan Kepala Madrasah berdasarkan Responden ...156

4.3 Diagram Batang Iklim Organisasi Madrasah ...158

4.4 Rerata Iklim Organisasi berdasarkan Responden ...159

4.5 Diagram Batang Partisipasi Masyarakat ...161

4.6 Rerata Partisipasi Masyarakat berdasarkan Responden ...162

4.7 Diagram Batang Mutu Madrasah ...164

4.8 Rerata Mutu Madrasah berdasarkan Responden ...165

4.9 Diagram Batang Rerata Mutu Madrasah Tsanawiyah Negeri ...166

4.10 Diagram Batang Mutu Madrasah Tsanawiyah Swasta ...167

4.11 Pola Kontribusi Variabel Penelitian ...178

4.12 Strategi Hipotetik Peningkatan Mutu Madrasah Tsanawiyah ...224

(4)

DAFTAR TABEL

No Judul Hal

3.1 Sebaran Responden Penelitian ...105

3.2 Sebaran Sampel Responden Penelitian ...106

3.3 Kisi-kisi Instrumen Variabel Kepemimpinan Kepala Madrasah (X1)... 112

3.4 Kisi-kisi instrumen Iklim Organisasi (x2) ... 118

3.5 Kisi-kisi Instrumen Partisipasi Masyarakat (x3) ... 121

3.6 Kisi-kisi Instrumen Mutu Madrasah (Y) ………. 125

3.7 Validitas Instrumen Kepemimpinan 129 3.8 Validitas Instrumen Iklim Organisasi ………. 131

3.9 Validitas Instrumen Partisipasi Masyarakat ……… 132

3.10 Validitas Instrumen Mutu Madrasah ……… 133

3.11 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Instrumen Variabel ...135

3.12 Uji Normalitas Variabel Kepemimpinan ...137

3.13 Uji Normalitas Variabel Iklim ...138

3.14 Uji Normalitas Variabel Partisipasi ...139

3.15 Uji Normalitas Variabel Mutu Madrasah ...140

3.16 Linieritas Variabel Kepemimpinan ...142

3.17 Linieritas Variabel Iklim Organisasi ...142

3.18 Linieritas Variabel Partisipasi ...143

3.19 Kriteria Skor Rerata Variabel dan Penafsiran ...147

3.20 Interpretasi koefisien korelasi r ...148

4.1 Skor Rerata Madrasah ...151

4.2 Skor Rerata Variabel Kepemimpinan kepala Madrasah ...153

4.3 Skor Rerata Variabel iklim Madrasah ...157

4.4 Skor Rerata Variabel partisipasi masyarakat ...160

4.5 Skor Rerata Variabel Mutu Madrasah ...163

4.6 Koefisiensi ...168

4.7 Korelasi Antar Variabel ...168

4.8 Anova ...175

(5)
(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan

kualitas suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa dan kemajuan

pendidikannya adalah ibarat dua sisi mata uang yang saling berpadu.

Kemajuan dari beberapa negara di dunia ini merupakan hasil dari

perhatian mereka yang besar dalam mengelola sektor pendidikan. Hal

demikian juga diyakini oleh bangsa ini, maka serta merta setelah

kedaulatan negara terwujud, hal pertama yang menjadi langkah pasti

adalah melakukan investasi sumber daya manusia.

Mohammad Ali (2009 : 295) mengemukakan bahwa dalam

kerangka pembangunan bangsa, pengembangan sumber daya manusia

merupakan salah satu upaya strategis pembangunan nasional. Belajar

dari negara-negara baru di bidang industri (new emerging industrialized

countries) di Asia Timur, bahwa untuk meningkatkan pembangunan

suatu bangsa diperlukan terbentuknya massa kritis. Implementasinya

adalah dengan mengupayakan tercapainya rata-rata tingkat pendidikan

penduduk sekurang-kurangnya pada tingkat SMP agar terjadi percepatan

pembangunan ekonomi dan sosial yang dimungkinkan karena adanya

(7)

Usaha yang telah ditempuh antara lain dengan pengembangan dan

perbaikan kurikulum, sistem evaluasi, pengadaan sarana dan prasarana

pendidikan, dan pelatihan guru. Usaha itu dilakukan pada beragam jenjang

pendidikan, negeri maupun swasta. Baik yang dikelola oleh Kemendikbud

berupa sekolah maupun yang dikelola di bawah Kementerian Agama seperti

madrasah. Namun dilihat dari kenyataannya, usaha ini masih merupakan

proses yang harus terus-menerus dilaksanakan. Hasil yang terlihat sekarang

belum mengindikasikan terwujudnya harapan yang diinginkan, serta upaya

yang telah dilakukan pemerintah belum mencapai sasaran dan belum

meningkatkan kualitas pendidikan.

Madrasah termasuk lembaga pendidikan yang memiliki nilai historis

tinggi. Lembaga ini bahkan telah tumbuh berkembang seiring sejalan

dengan perjalanan dakwah Islam itu sendiri. Perkembangan dakwah Islam di

berbagai belahan dunia, ditandai dengan kemunculan madrasah sebagai

wadah pengajaran dan pendidikan umat, tidak terkecuali di Indonesia.

Tumbuhkembangnya Islam di Indonesia diiringi pula dengan riwayat

tumbuhkembangnya sarana pengajaran umat, yang terwadahi oleh lembaga

pendidikan berupa madrasah atau pondok pesantren.

Lembaga pendidikan dengan label keislaman seperti madrasah,

dewasa ini seringkali dikonotasikan sebagai lembaga pendidikan yang

tradisional, kumuh, dan cenderung menghindari nilai-nilai dunia modern.

Berbeda halnya dengan pendidikan yang bercorak umum, seperti sebuah

(8)

modern, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan yang kelak berguna bagi

anak didik. Anggapan dan pandangan dikotomis semacam ini masih dianut

oleh kalangan masyarakat, tidak terkecuali pada kalangan keluarga muslim.

Secara realitas, anggapan semacam itu tidak dapat dinafikan begitu

saja. Kalangan orang tua, secara logika sehat tentu saja memilih sekolah

dengan sarana belajar yang memadai sebagaimana terlihat pada

sekolah-sekolah umum, yang tentunya dapat menunjang kegiatan belajar anak-anak

mereka, daripada mereka memasukkan anak-anak tersebut pada madrasah

yang terlihat sangat sederhana, bahkan sebagian lagi terkesan kumuh.

Madrasah merupakan lembaga yang turut menjadi bagian dari sistem

pendidikan nasional, sebagaimana yang tertuang pada UU sisdiknas pasal

17 ayat 2. Madrasah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dan

mempunyai fungsi yang sama dengan institusi pendidikan lainnya yang

berlaku dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Namun cukup berat tantangan yang masih dihadapi madrasah. Pada

satu sisi madrasah harus berupaya meningkatkan mutu dan kualitas

sebagaimana yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan sehingga

dapat memenuhi harapan stakeholders; memenuhi harapan dan kebutuhan

orangtua, masyarakat, dunia kerja, pemerintah, dan sebagainya. Di sisi lain

madrasah masih dipandang sebagai lembaga pendidikan kelas dua, tidak

favorit bila dibandingkan dengan lembaga persekolahan. Bahkan ada

(9)

mewujudkan manusia pembelajar, budaya gemar membaca, gemar meneliti,

berfikir kritis, serta munculnya masyarakat yang kreatif.

Madrasah dapat memenuhi harapan tersebut dengan cara harus terus

menerus meningkatkan mutu, di samping harus berusaha memenuhi Standar

Nasional Pendidikan yang telah ditentukan. Hal penting lain yang diyakini

dapat menentukan mutu madrasah adalah kepemimpinan kepala madrasah,

iklim madrasah, dan partisipasi masyarakat.

Faktanya, kondisi madrasah masih belum memenuhi harapan.

Menurut catatan Kementerian Agama tahun 2009/2010, jumlah madrasah

tsanawiyah (MTs) yang terakreditasi baru 76% dari jumlah 14.022.

Sebanyak 1.199 madrasah berhasil terakreditasi A, atau baru 8,6%.

Gambar 1.1

(10)

Madrasah yang beruntung mendapatkan akreditasi B berjumlah

5.757, sedangkan yang terakreditasi C berjumlah 3.698 madrasah. Masih

ada 3.368 yang nasibnya belum jelas karena belum terakreditasi.

Sebagaimana diketahui, akreditasi menjadi salah satu upaya untuk

mengukur mutu atau tingkat kemajuan suatu sekolah yang dilakukan oleh

badan akreditasi dengan mengacu pada delapan standar pendidikan.

Akreditasi dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan

Nasional nomor 29 Tahun 2005 tentang Badan Akreditasi Nasional.

Akreditasi terhadap sekolah dan madrasah dilakukan satu atap dalam satu

wadah Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah (BAN S/M) di tingkat

Provinsi dilakukan oleh (BAP S/M).

Data dari Kementerian Agama Provinsi Jambi, menyebutkan bahwa

madrasah tsanawiyah di kota Jambi, terdiri dari enam MTs Negeri dan dua

puluh lima MTs swasta. Hanya MTs negeri yang telah tercukupi daya

tampungnya, sementara yang swasta harus “pasrah” menerima siswa yang

tidak lulus tes masuk di sekolah lain. Sementara itu, dari segi akreditas,

tidak ada satu pun madrasah tersebut yang memperoleh nilai akreditasi A.

Hanya delapan MTs Negeri dan Swasta yang memperoleh nilai akreditasi B.

Sisanya terakreditasi dengan nilai C. Bahkan masih terdapat lima MTs yang

belum terakreditasi hingga tahun 2009.

Selain itu, kualifikasi kepala madrasah tsanawiyah berdasarkan

(11)

terdapat 9.804 kepala madrasah yang belum berkualifikasi S1. Bandingkan

dengan yang sudah berkualifikasi S1, yakni terdapat 2.800 kepala madrasah.

Sedangkan pada madrasah tsanawiyah negeri sebagian besar sudah

berkualifikasi S1.

Gambar 1.2

Data Kualifikasi Kepala Madrasah Tsanawiyah tahun 2009/2010 Sumber : Setditjen Pendidikan Islam, Bagian Perencanaan Data, Kemenag.

Catatan mengenai pendidik pada madrasah tsanawiyah mungkin

agak lebih baik. Jumlah yang belum mencapai S1 sebanyak 91.528 guru,

sedangkan yang sudah berkualifikasi S1 atau lebih, mencapai jumlah

172.667 orang guru. Di antara guru yang telah berkualifikasi S1 tersebut,

terdapat 15.468 orang guru yang telah memiliki sertifikat pendidik.

Hal tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar guru madrasah

(12)

belum mengajar bidang studi atau pelajaran yang sesuai dengan disiplin

ilmu atau gelar kesarjaaan yang disandangnya. Meski demikian, pihak

kementerian agama menyikapinya dengan upaya pelatihan guru bidang studi

dan menyelenggaraan diklat profesi keguruan yang bertujuan meningkatkan

kompetensi guru sesuai dengan disiplin ilmu yang diajarkan pada siswa.

Gambar 1.3

Data Sertifikasi Pendidik Tahun 2009/2010

Sumber : Setditjen Pendidikan Islam, Bagian Perencanaan Data, Kemenag.

Data tersebut menunjukkan bahwa madrasah masih di bawah

rata-rata kualitasnya. Dampaknya sebagian masyarakat menjadi enggan untuk

menjadikan madrasah sebagai pilihan pendidikan bagi putra-putri mereka.

Hasil observasi survey terhadap rekrutmen siswa baru menunjukkan jumlah

yang tidak begitu besar. Madrasah harus berjuang keras mencari siswa.

(13)

Madrasah masih menyimpan sejumlah persoalan yang patut menjadi

perhatian. Pertama, partisipasi masyarakat terhadap madrasah masih rendah.

Kalau pun masuk madrasah, itu dilakukan karena putra-putrinya tidak

tertampung di sekolah. Kalau pun sudah masuk dan diterima sebagai siswa

madrasah, mereka sering mengabaikan biaya pendidikan bagi anak-anaknya.

Ketika survey ke madrasah, banyak ditemukan siswa yang menunggak SPP

karena belum dibayarkan oleh orang tua mereka. Rendahnya partisipasi

masyarakat tersebut mungkin bisa jadi beralasan, karena sebagian besar wali

murid madrasah adalah mereka dari golongan ekonomi lemah.

Mengacu pada catatan Kantor Kementerian Agama Propinsi Jambi

bidang Mapenda tahun 2009, tingkat penghasilan orang tua siswa dengan

rentang 0 sd. 500.000,- di MTs Negeri sebanyak 3.977 (28%). Sedangkan

tingkat penghasilan di atas Rp.500.000,- sebanyak 10.331 (72%). Tingkat

penghasilan orang tua siswa dengan rentang 0 sd. 500.000,- pada MTs

Swasta sebanyak 8.472 (37%) sedangkan tingkat penghasilan di atas Rp.

500.000,- sebanyak 14.235 (63%).

Persoalan kedua, adalah lemahnya manajemen dan leadership.

Kondisi administrasi, kepemimpinan kepala madrasah, kinerja guru, staf dan

seterusnya masih memprihatinkan. Persoalan lainnya adalah berkaitan

dengan iklim madrasah yang belum menunjukkan keterpaduan. Hubungan

antar personal pun masih harus diperjuangkan agar lebih harmonis.

Persoalan madrasah tersebut, dihadapi oleh hampir seluruh madrasah

(14)

Hal ini menjadi permasalahan krusial yang penting untuk diteliti, dikaji dan

ditelaah lebih lanjut. Penelitian ini merupakan kepedulian terhadap

madrasah, dengan setumpuk persoalan yang harus diatasi. Peliknya

persoalan di madrasah terutama muncul dari aspek manajemen, terkait

dengan kepemimpinan kepala madrasah berikut iklim dan perilaku

organisasi yang salin berhubungan, termasuk perhatian masyarakat melalui

komite madrasah atau orang tua siswa.

Bila beragam persoalan yang ditemukan tidak segera diupayakan

jalan keluarnya, maka dikuatirkan kondisi madrasah akan semakin

ketinggalan. Ketinggalan dalam arti tidak dapat mengejar standar mutu serta

efektivitas yang diharapkan, juga ketinggalan dalam makna tidak akan

dipilih oleh masyarakat sebagai alternatif untuk menitipkan pendidikan bagi

anak-anak mereka. Secara rinci berbagai kekuatiran yang mungkin akan

ditemukan antara lain :

1. Persoalan mutu yang tidak diperhatikan, akan membuat lulusan

madrasah sulit mendapatkan prestasi yang terbaik, baik dari segi

akademik maupun segi keterampilan lainnya. Madrasah juga akan sulit

melakukan pengukuran suatu standar mutu, apakah telah tercapai, atau

malah ketinggalan jauh.

2. Persoalan manajemen dan leadership yang tidak jelas, akan menjadikan

madrasah mengalami krisis kepemimpinan. Keteraturan serta disiplin

(15)

dapat dipastikan siapa yang harus diperintah dan siapa yang harus

menjalankan fungsi suatu peranan. Tidak jelas pula siapa yang harus

mengontrol dan melakukan evaluasi, dan demikian seterusnya,

fungsi-fungsi manajemen tidak berjalan sama sekali.

3. Persoalan iklim madrasah yang tidak berputar pada siklusnya, akan

menjadikan madrasah jalan di tempat. Tata tertib dan peraturan tidak

dapat disusun, baik yang tertulis, maupun konvensi. Hal demikian dapat

membuat siswa, guru, serta warga belajar lainnya tidak dapat

memastikan mana norma yang dilarang dan mana pula yang boleh

dilakukan.

4. Partisipasi masyarakat yang tidak dilibatkan, akan membuat madrasah

tidak dapat bekerja sama dengan dunia luar. Akibatnya, madrasah akan

kehilangan relasi dan dukungan. Madrasah tidak mungkin dapat berjalan

tanpa bantuan dari pihak lain, apalagi bila berstatus swasta.

Persoalan mutu yang mendera madrasah sesungguhnya merupakan

bagian dari mata rantai berbagai permasalahan yang dihadapi madrasah.

Persoalan tersebut meliputi kendala manajemen, krisis kepemimpinan,

minimnya SDM, dan pembiayaan yang minus, berdampak pada mutu

sehingga harus terus diupayakan mencapai mutu pendidikan madrasah.

Padahal, dengan terintegrasi pada kurikulum nasional, sebenarnya madrasah

(16)

Secara sosial, sebenarnya madrasah merupakan lembaga pendidikan

yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Bahkan masyarakat

Indonesia yang sebagian besar berpenduduk muslim sangat membutuhkan

madrasah untuk memenuhi dahaga religiusitas bagi kehidupan ukhrowi. Hal

inilah membuat madrasah senantiasa terus ada dan bergerak, meski terbatas.

Masyarakat tetap memilih madrasah sebagai tempat menitipkan pendidikan

anak-anak mereka agar dapat mengerti ajaran agama.

Pendekatan religius atas kebutuhan terhadap madrasah yang

mengajarkan pendidikan agama, sebenarnya bisa menjadi modal untuk

menindaklanjuti perkembangan madrasah agar dapat sejalan dengan

perkembangan dan kemajuan zaman. Mereka dapat bergabung dengan

madrasah dan memperhatikan kualitas yang dibutuhkan.

Pendidikan yang berkualitas dan bermutu baik adalah pendidikan

yang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, muatan pelajaran

yang bertaraf internasional, penggunaan bahasa-bahasa global (Inggris), dan

didukung oleh fasilitas dan jaringan (networking) memadai.

Mungkin tidak perlu dipersoalkan mengenai penetapan madrasah

sebagai pilihan pendidikan bagi generasi masyarakat muslim yang

disebabkan ada ikatan emosional. Mereka yang mempunyai keterkaitan

religius, orang tua yang alumni madrasah, pernah menempuh pendidikan

pesantren, jamaah pengajian atau masjis ta’lim, dan masyarakat umum yang

(17)

tahap selanjutnya, diharapkan pada masyarakat agar mereka mendasarkan

pertimbangan tidak semata-mata pada ikatan emosional atau berapologi, tapi

juga memperhatikan mutu dan kualitas lembaga pendidikan madrasah.

Penelitian tentang madrasah bukannya tidak pernah dilakukan

sebelumnya. Jaswidi Al-Hamdani (2003), meneliti tentang Strategi

Pengembangan Model Kepemimpinan Transformasional kepala MTs

(Litbang Kepemimpinan Kepala MTsN di Kab. Ciamis Provinsi Jawa

Barat). Masalah yang diteliti adalah sejauh mana pengembangan model

potensi kepemimpinan transformasional kepala MTsN di Ciamis, dan

pengaruhnya terhadap fungsi manajerial dan pelayanan pendidikan.

Temuan hasil penelitian tersebut adalah : 1) strategi pengembangan

kepemimpinan dilakukan melalui pelatihan, moduler, semiloka, praktik

lapangan, dan pelayanan klinis sejawat ; 2) evaluasi pelatihan dengan sistem

model terbuka dan kelas terbatas ; 3) hasil pelatihan memadai untuk

perubahan perilaku kepemimpinan kepala MTsN yang signifikan terutama

kepemimpinan transformasional.

Pada tahun 2005, penelitian tentang mutu madrasah tsanawiyah

dilakukan oleh M. Purnomo Hadi. Pendekatan kualitatif terhadap madrasah

tsanawiyah yang terdapat di Jember, Jawa Timur. Hadi mempertanyakan

strategi apa yang perlu diterapkan untuk peningkatan mutu pendidikan

berbasis madrasah di MTsN Kabupaten Jember. Permasalahan penelitian

dibatasi pada aspek-aspek kondisi aktual, mutu pendidikan, faktor-faktor

(18)

Temuan penelitian Hadi (2005) menyatakan bahwa strategi dasar

untuk mempertahankan mutu secara berkesinambungan di MTsN

Kabupaten Jember adalah melalui peningkatan mutu tenaga kependidikan

(guru dan staf TU), peningkatan mutu layanan administrasi dan manajemen

pendidikan, dan peningkatan jumlah dan mutu sarana dan prasarana

termasuk sumber-sumber belajar. Pengembangan strategi-strategi dasar ini

sekaligus mendasari perumusan model alternatif peningkatan mutu MTsN di

kabupaten Jember. Strategi dasar ini harus didukung pembenahan pada

faktor-faktor lainnya yang juga memiliki daya dukung pada peningkatan

mutu pendidikan berbasis madrasah di Kabupaten Jember.

Implementasi secara sinergis peningkatan mutu pendidikan berbasis

madrasah di MTsN Kabupaten Jember dapat dilakukan melalui upaya

peningkatan daya dukung faktor-faktor : guru dan staf TU yang profesional,

peningkatan mutu administrasi dan manajemen madrasah, peningkatan mutu

sarana dan prasarana, kurikulum dan pembelajaran, penggunaan biaya, dan

peningkatan mutu partisipasi masyarakat.

Penelitian yang dilakukan Hadi secara kualitatif mungkin telah dapat

mengukur pendidikan di Jember, namun hanya terbatas pada madrasah

tsanawiyah negeri. Sedangkan secara kuantitatif belum menyentuh

permasalahan pada madrasah tsanawiyah secara menyeluruh, termasuk

swasta. Berbeda dengan peneliti, yakni memotret mutu pendidikan pada

(19)

Dengan demikian, berkaca dari kemungkinan-kemungkinan tersebut,

madrasah harus berbenah. Kondisi madrasah yang diharapkan akan

terwujud, sebagaimana tertuang dalam grand design madrasah yang telah

disusun oleh kementerian agama.

Pertama, madrasah memiliki kepemimpinan yang efektif,

kolaboratif, dan suportif. Kepemimpinan dalam madrasah haruslah

didefinisikan sebagai sebuah proses belajar bersama (collective learning)

yang saling menguntungkan dan memungkinkan seluruh unsur masyarakat

madrasah turut ambil bagian dalam membangun kesepakatan yang

mengakomodir berbagai kepentingan. Kolaborasi yang dimaksud bukan

hanya sekedar berarti setiap orang mampu menyelesaikan pekerjaannya,

tapi yang terpenting adalah semuanya dilakukan dalam suasana

kebersamaan dan saling mendukung (collegiality and supportiveness).

Kolaborasi menjadi syarat jika ingin agar madrasah menjadi learning

organization karena kolaborasi berhubungan erat dengan norma dan

kesempatan bagi terjadinya proses belajar yang terus menerus.

Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa proses belajar umumnya

merupakan aktivitas komunal; sebuah proses tukar-menukar budaya antar

individu atau kelompok. Karena itu model kepemimpinan kolaboratif

menjadi penting dikembangkan di madrasah. Model kepemimpinan

kolaboratif ini menemukan titik relevansinya ketika setiap madrasah

diharuskan memiliki Komite Madrasah sebagai partner aktif madrasah

(20)

Dinham (1995) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa

kepemimpinan kepala madrasah dapat memberikan warna pada iklim

organisasi suatu madrasah. Jelas bahwa pimpinan setiap madrasah, terutama

dari kepala madrasah, mempengaruhi iklim madrasah, kinerja pendidikan

dan guru, siswa dan kepuasan masyarakat. Namun, kepemimpinan juga

merupakan proses dua arah dan hal demikian menjelaskan bahwa perilaku

pemimpin juga sebagian merupakan produk dari lingkungan madrasah dan

interaksi dengan orang lain.

Kedua, madrasah memiliki kultur dan iklim organisasi yang kuat.

Kultur merupakan jiwa madrasah yang memberi makna bagi setiap kegiatan

kependidikan madrasah dan menjadi jembatan antara aktivitas dan hasil

yang dicapai. Kultur adalah sebuah keadaan yang mengantarkan siswa

madrasah melebihi batas-batas kekurangan manusiawi menuju tingkatan

kreativitas, seni dan intelek yang tinggi. Kultur juga merupakan kendaraan

(vehicle) untuk mentransmisikan nilai-nilai pendidikan. Karena itu kultur

madrasah, dalam hal ini kultur belajar, haruslah dibangun sejak awal agar

semua elemen madrasah memiliki komitmen untuk kemajuan madrasah.

Ketiga, dengan kultur tersebut, siswa akan terbiasa pada perubahan

yang diinginkan dalam rangka mewujudkan madrasah yang bermutu dan

efektif. Hidup adalah perubahan. Secara alami perubahan tidak bisa

diprediksi. Agar bisa memahami dan berbuat dalam kondisi yang tidak bisa

(21)

tersebut siswa tidak akan kaget dengan perubahan yang memang akan selalu

ditemui dalam lapangan kehidupan kelak setelah mereka lulus dari bangku

sekolah. Sebaliknya, siswa akan mengakrabi perubahan dengan kemampuan

menyesuaikan diri yang telah terlatih dalam pendidikan di madrasah.

Dengan kata lain untuk menciptakan budaya belajar yang terus

menerus maka perubahan perlu diciptakan. Lebih jauh, perubahan dalam

bentuk ketidakpastian (uncertainty) dan keraguan (doubtfulness) perlu

secara sengaja diciptakan di madrasah untuk mendorong terciptanya

kegiatan belajar yang terus menerus. Argumentasinya, jika intelligence

berarti kemampuan untuk mencari apa yang meragukan dan berusaha

memahaminya, dan jika tujuan pendidikan formal adalah untuk memupuk

intelligensia manusia, maka madrasah hendaknya membuka diri terhadap

ketidakpastian atau ambiguity. Sebuah lembaga pendidikan yang secara

aktif merespons suasana ambiguity dan ketidakpastian adalah penting untuk

kelangsungan sebuah masyarakat yang belajar (community of learners).

Keempat, keterlibatan orang tua murid dan partisipasi masyarakat.

Peran orang tua dalam pembentukan motivasi dan penguasaan-diri

(self-regulatory) anak sejak dini memberikan modal dasar bagi kesuksesan anak

dalam belajar. Argumentasinya adalah bahwa kualitas hubungan

orangtua-anak membentuk sikap otonom yang sehat, kompetensi dan hubungan

(22)

pengembangan diri tersebut mendukung internalisasi tujuan dan nilai-nilai

masyarakat.

Berbagai harapan tersebut membutuhkan tuntutan akan pemimpin

madrasah yang memiliki kinerja tinggi dalam mengelola dan menjalankan

proses pendidikan. Begitu pula iklim madrasah yang diharapkan adalah

organisasi dengan anggota yang mau untuk selalu belajar agar mencapai

perubahan yang lebih baik dalam pengembangan mutu. Perubahan itu

meliputi nilai-nilai, cara berpikir, mind-set, strategi, hingga kompetensi

kearah tujuan yang ingin dicapai. Terkait dengan mutu pembelajaran,

madrasah harus terus menerus melakukan perbaikan secara berkelanjutan

untuk meningkatkan kualitas yang diharapkan sesuai dengan tuntutan

perubahan. Perbaikan kualitas tersebut harus dimulai dari figur pemimpin,

yakni kepala madrasah.

Persoalan mutu pendidikan, kepemimpinan, iklim organisasi, dan

partisipasi masyarakat merupakan bagian dari kajian administrasi

pendidikan, terutama bidang manajemen sekolah. Kajian ini tidak hanya

berkisar pada teori, bahkan lebih tajam mengarah kepada implementasi

dalam dunia pendidikan sesungguhnya. Apalagi dalam kajian tentang

madrasah, hal ini masih jarang diungkap, padahal persoalan ini sangat

penting untuk mewujudkan madrasah yang bermutu di tanah air. Penulis

merasa terpanggil untuk melakukan penelitian dan kajian ini lebih lanjut,

(23)

(Kontribusi Kepemimpinan, Iklim Organisasi, dan Partisipasi Masyarakat

Terhadap Mutu Madrasah Tsanawiyah di Kota Jambi).

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Persoalan madrasah yang bermutu, terkait dengan konsep sekolah

yang memiliki keunggulan, atau disebut dengan sekolah efektif. Upaya

mewujudkan madrasah bermutu melibatkan beberapa aspek yang perlu

dipenuhi. Beberapa pakar pendidikan, terutama yang concern dengan

persoalan efektivitas dan mutu madrasah, telah menawarkan teori dan

konsep yang dapat dikembangkan agar madrasah dapat unggul dan bermutu.

Purkey dan Smith (Hoy, 2008) menawarkan banyak aspek untuk

mewujudkan sekolah efektif. Aspek itu adalah : 1) kepemimpinan

instruksional 2) kurikulum yang terorganisir 3) ekspektasi yang tinggi 4)

Efisiensi waktu 5) pengakuan akan prestasi 6) iklim yang kondusif 7) Sense

of community 8) Keterlibatan orang tua siswa 9) Manajemen sekolah 10)

staf development and stability 11) perencanaan yang kolaboratif, dan 12)

Dukungan stake holders.

Selain itu, Scheerens (2003) yang telah banyak melakukan riset

tentang sekolah efektif menemukan beberapa aspek yang diperlukan untuk

(24)

penguatan dari umpan balik ; kesempatan belajar ; iklim kelas ; evaluasi

potensi, consensus, dan pembelajaran instruksional.

Dengan demikian, sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki

ciri-ciri antara lain : Kepemimpinan instruksional, kurikulum yang terkoordinir,

ekspektasi tinggi, efisiensi waktu, penghargaan atas prestasi, iklim kondusif,

sense of community, keterlibatan orang tua, manajemen sekolah berjalan,

staf development, perencanaan yang kolaboratif, mengevaluasi potensi,

disiplin yang menyeluruh, rutinitas yang teratur, siswa yang

sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, siswa meraih standar, guru memberikan

laporan tentang siswa, mendorong kreativitas, wewenang yang jelas, guru

yang professional, environmental adaptation, tingkat kerjasama dan

komunikasi inovatif, serta pengembangan staf pendidik yang lebih terfokus.

2. Pembatasan Masalah

Dengan aspek yang cukup kompleks dalam upaya mewujudkan

sekolah efektif sebagaimana ditawarkan para pakar di atas, peneliti tentunya

memiliki keterbatasan bila harus mengkaji semua aspek tersebut. Masalah

yang dialami oleh madrasah tsanawiyah di Jambi antara lain menyangkut

proses belajar mengajar, perencanaan, kepemimpinan kepala madrasah,

disiplin, input siswa, iklim organisasi, profesionalisme guru, sarana dan

prasarana, partisipasi masyarakat, serta ekpektasi yang rendah. Dari semua

(25)

dan akan dikaji oleh peneliti adalah aspek kepemimpinan kepala madrasah,

iklim organisasi, dan partisipasi masyarakat.

Peneliti melihat masalah yang paling dominan ditemukan pada

kondisi madrasah tsanawiyah, adalah masalah yang berkenaan dengan

kepemimpinan, iklim madrasah, dan keterlibatan orang tua atau partisipasi

masyarakat (parental support and involvement). Karena itu peneliti

membatasi masalah pada variabel-variabel tersebut. Masalah-masalah

tersebut mendesak untuk diteliti berkaitan dengan harapan untuk

mewujudkan madrasah tsanawiyah yang efektif dan bermutu.

Pemilihan tiga aspek ini bukannya tanpa alasan. Peneliti telah

melakukan observasi awal pada madrasah tsanawiyah negeri dan swasta di

kota Jambi, dan ternyata tiga aspek itulah yang dominan menjadi masalah,

dan mendesak untuk diteliti agar ditemukan upaya solusi alternatif bagi

peningkatan mutu madrasah tsanawiyah di kota Jambi.

3. Rumusan Masalah

Rumusan masalah secara umum adalah : “Bagaimana kontribusi

kepemimpinan kepala madrasah, iklim organisasi, dan partisipasi

masyarakat terhadap mutu madrasah tsanawiyah di Jambi?”. Sedangkan

secara rinci, rumusan masalah dinyatakan sebagai berikut :

1) Bagaimanakah deskripsi kepemimpinan kepala madrasah, iklim

organisasi, dan partisipasi masyarakat serta mutu madrasah

(26)

2) Bagaimana kontribusi kepemimpinan kepala madrasah terhadap

mutu madrasah tsanawiyah di kota Jambi?

3) Bagaimana kontribusi iklim organisasi terhadap mutu madrasah

tsanawiyah di kota Jambi?

4) Bagaimana kontribusi partisipasi masyarakat terhadap mutu

madrasah tsanawiyah di kota Jambi?

5) Bagaimana kontribusi kepemimpinan kepala madrasah, iklim

organisasi dan partisipasi masyarakat secara simultan terhadap mutu

madrasah tsanawiyah di kota Jambi?

C. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis informasi

empirik tentang mutu madrasah tsanawiyah di Kota Jambi, melalui studi

korelasi antara kepemimpinan, iklim organisasi dan partisipasi masyarakat

sebagai variabel bebas. Sedangkan mutu madrasah sebagai variabel terikat.

Secara khusus, penelitian ini bertujuan :

1. Memperoleh gambaran deskriptif tentang kepemimpinan kepala

madrasah, iklim organisasi, dan partisipasi masyarakat serta mutu

madrasah tsanawiyah di Jambi

2. Menganalisis kontribusi kepemimpinan kepala madrasah terhadap

mutu madrasah tsanawiyah di kota Jambi

(27)

4. Menganalisis kontribusi partisipasi masyarakat terhadap mutu

madrasah tsanawiyah di kota Jambi

5. Menganalisis kontribusi kepemimpinan kepala madrasah, iklim

organisasi, dan partisipasi masyarakat secara bersama-sama terhadap

mutu madrasah.

6. Mengemukakan rumusan strategi hipotetik peningkatan mutu

madrasah tsanawiyah di Kota Jambi

D. Signifikansi Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik dan aspek

teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat

bermanfaat terutama dalam hal :

1. Memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan bidang ilmu

pendidikan, terutama dalam administrasi pendidikan, dan khususnya

dalam bidang peningkatan mutu madrasah.

2. Memberikan sumbangan rumusan konsep atau dasar kajian yang dapat

digunakan sebagai rujukan untuk peningkatan mutu madrasah.

3. Menawarkan suatu pola dalam upaya peningkatan mutu kepala

madrasah menuju ke arah peningkatan mutu madrasah.

4. Mengajukan alternatif strategi peningkatan mutu madrasah yang

terkait dengan kepala madrasah, iklim organisasi, dan partisipasi

(28)

5. Hasil temuan penelitian ini dapat berguna sebagai masukan dan

landasan untuk melakukan penelitian serupa pada waktu yang akan

datang.

Sedangkan secara praktis, diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1. Bahan informasi, atau sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi para

praktisi pendidikan, antara lain ketua yayasan penyelenggara

pendidikan, kepala sekolah atau guru, khususnya yang terlibat pada

madrasah tsanawiyah kota Jambi.

2. Bahan pertimbangan dan rekomendasi serta saran kepada pihak

pimpinan madrasah dalam mengelola lembaganya, terutama saat

pengambilan keputusan yang terkait dengan kebijakan strategi

peningkatan mutu madrasah dalam mengelola lembaganya.

3. Bahan masukan bagi orangtua siswa, mengingat tuntutan mutu

terhadap madrasah membutuhkan partisipasi masyarakat luas,

termasuk orangtua siswa.

4. Bahan pertimbangan bagi Mapenda Kementerian Agama dalam

menyusun perencanaan dan kebijakan peningkatan mutu madrasah

tsanawiyah di Jambi.

5. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi pertimbangan dan rekomendasi

kebijakan bagi pemerintah daerah dalam upaya menemukan strategi

pengembangan madrasah dengan melihat unsur-unsur yang

(29)

E. Struktur Organisasi Penyajian

Penelitian ini disusun dengan struktur organisasi sebagai berikut :

Pada bagian bab satu yang berisi pendahuluan, peneliti

menyampaikan latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah,

tujuan penelitian, dan manfaat atau signifikansi penelitian. Pada latar

belakang, peneliti mengemukakan alasan rasional dan esensial yang

membuat peneliti tertarik, gejala kesenjangan, dan kompleksitas masalah.

Pada bab dua, peneliti mengemukakan hasil kajian pustaka,

kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian. Kajian pustaka menjadi

landasan teoritik dalam menyusun pertanyaan penelitian, tujuan, dan

hipotesis penelitian.

Pada bab tiga, peneliti mengemukakan metode penelitian yang

terdiri dari ; lokasi dan subjek penelitian, desain penelitian, definisi

operasional, instrumen penelitian, proses pengembangan instrumen, teknik

pengumpulan data, serta analisis data.

Pada bab empat, peneliti mengemukakan hasil penelitian dan

pembahasan yang menjadi temuan penelitian. Dan terakhir, pada bab lima,

penulis mengemukakan kesimpulan dan saran sebagai penutup laporan

(30)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Dengan metode survey melalui pendekatan kuantitatif, peneliti

berupaya untuk mendapatkan dan mengumpulkan data serta informasi dari

berbagai individu yang menjadi responden penelitian dengan menggunakan

instrumen daftar pertanyaan secara terstruktur sesuai dengan kepentingan

data, dan berpedoman pada subtansi permasalahan.

Setelah menentukan variabel operasional, maka dibentuk suatu

instrumen penelitian yang disebarkan kepada responden. Instrumen yang

disebarkan itu telah lebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya.

Pengukuran validitas dan reliabilitas itu melalui langkah-langkah sistematis

yang telah ditentukan. Dengan demikian, kuisioner yang sampai ke tangan

responden adalah instrumen yang telah diyakini kesahihan dan

kehandalannya.

Data yang dikumpulkan dari para responden kemudian diolah

dengan menggunakan korelasi, dan analisis regresi sederhana dan regresi

ganda. Sebelum melakukan analisis statistik, data harus memenuhi

persyaratan uji analisis yang akan digunakan, yaitu distribusi normal dan

uji linieritas. Setelah dianalisis secara statistik, kemudian hasil pengolahan

data tersebut dibahas dengan mengacu pada teori-teori atau pendapat yang

(31)

r x1x2

r x2x3

ɛ

ry x 3 ry x1

R2y x 1x2x3 r x1x3

ry x2

B. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode

deskriptif survey. Penelitian metode survey terfokus pada pengungkapan

hubungan antar variabel, yakni diarahkan untuk menyelidiki hubungan

sebab akibat pada suatu variabel. Variabel sebab akibat tersebut adalah

kepemimpinan kepala madrasah (x1), iklim organisasi madrasah (x2),

partisipasi masyarakat (x3) dan mutu madrasah tsanawiyah (y) di Jambi.

Pola hubungan antar variabel dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1

Pola hubungan antar Variabel Penelitian

� �1 Kepemimpinan

Kepala

Madrasah (X1)

Mutu

Madrasah

(Y)

Partisipasi Masyarakat

(X3)

(32)

C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generasi yang terdiri dari objek atau subjek

yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari, dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan

sampel adalah bagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan

representatif terhadap populasi. (Sugiyono : 2009).

Penelitian ini di dilakukan terhadap seluruh madrasah tsanawiyah di

kota Jambi, baik negeri maupun swasta. Dengan demikian populasi

penelitian ini adalah semua madrasah tsanawiyah negeri dan swasta yang

ada di kota Jambi. Langkah berikutnya adalah menentukan responden yang

mewakili masing-masing madrasah tersebut. Responden penelitian yang

diklasifikasikan adalah kepala madrasah, guru wali kelas, dan anggota

pengurus komite pada madrasah tsanawiyah.(Tabel 3.1).

Langkah-langkah penentuan responden penelitian sebagai berikut:

1) Menghitung jumlah responden pada seluruh madrasah (lihat table 3.1)

2) Menentukan jumlah responden dengan teknik disproportionate stratified

random sampling yaitu digunakan bila populasi mempunyai anggota

yang tidak homogen dan berstrata, namun tidak proporsional. (Sugiono,

2011 :64). Dari ketentuan tersebut, ditetapkan untuk menjadi responden

adalah 1 orang kepala madrasah; dan 1 orang guru kelas satu, 1 orang

guru kelas dua, dan 1 orang guru kelas tiga, ditambah dengan satu orang

(33)

Tabel 3.1 Kepala Madrasah Guru Wali

(34)

Tabel 3.2

Sebaran Sampel Responden Penelitian

NO MADRASAH TSANAWIYAH

ADMINISTRATOR (PENGELOLA MADRASAH)

JUMLAH Kepala Madrasah Guru Wali

(35)

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Operasional variabel adalah unsur penelitian yang memberitahukan

bagaimana cara mengukur suatu variabel, yang menjadi petunjuk untuk

melaksanakan penelitian di lapangan.

Adapun definisi operasional masing-masing variabel adalah sebagai

berikut :

1. Kepemimpinan kepala madrasah (X1)

Kepemimpinan yang dimaksud adalah pola tindakan atau perilaku

kepala madrasah dalam mempengaruhi aktivitas para bawahannya

untuk mencapai tujuan. Dimensi dan Indikator dari variabel ini terdiri

dari :

a. Mengelola program instruksional, yang meliputi :

1) menilai program yang telah dilalui

2) merencanakan peningkatan program

3) mengimplementasikan pengembangan program

4) mengevaluasi perubahan program

b. Membina guru dan staf

1) Mengidentifikasi guru dan staf

2) Melakukan orientasi

3) Melakukan kontrak kerja dengan guru dan staf

4) Mengembangkan guru dan staf

5) Melakukan evaluasi

(36)

1) Memahami nilai-nilai kesiswaan

2) Melibatkan siswa

3) Membimbing dan melayani siswa

d. Mengelola keuangan dan fasilitas madrasah

1) Mengelola sumber dana

2) Mengelola sarana dan prasarana madrasah

e. Menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar madrasah

1) Melakukan analisis terhadap masyarakat

2) Berkomunikasi dengan masyarakat

3) Mendayagunakan sumber daya masyarakat

( Lipham, 1996 : 351)

2. Iklim organisasi (X2)

Iklim organisasi yang dimaksud adalah suatu persepsi mengenai

kondisi lingkungan internal madrasah yang didasarkan pada persepsi kepala

madrasah sebagai bagian dari madrasah yang terlibat dalam organisasi di

bawah pimpinannya. Indikatornya meliputi :

a. Dukungan (Supportive)

1) Kepala madrasah mendengarkan dan terbuka terhadap saran

2) Memberikan perhatian pada warga madrasah

3) Mengkritik dengan konstruktif

b. Direktif (directive)

(37)

3) memperhatikan secara detil hingga sekecil-kecilnya

c. pembatasan (restrictive)

1) menghindar dari memberikan fasilitas kerja guru

2) membebani guru dengan tugas, pekerjaan rutin dan kesibukan

3) membebani guru dengan tugas dari komite

d. Rekanan (Collegial)

1) komunikasi secara terbuka dan interaktif antar warga madrasah

2) guru antusias, menerima dan respek terhadap kompetensi professional

rekan mereka

3) guru dekat dengan siswa dan warga belajar lain

e. Keintiman (intimate)

1) keakraban kuat antar guru

2) saling mendukung dalam jaringan yang terpadu

3) Guru saling mengenal dengan baik, berteman akrab dan

bersosialisasi

f. Melepaskan (disengaged)

1) membiarkan perilaku yang tidak berguna

2) kepala madrasah tidak fokus pada kegiatan madrasah

3) perilaku negatif dan kritis terhadap rekan mereka

(Hoy dan Miskel, 2008 : 200 )

3. Partisipasi Masyarakat (X3)

a.Representasi madrasah ke dunia luar

(38)

2) Anggota madrasah menjadi pembicara di luar madrasah

3) Anggota madrasah menjadi pengurus organisasi di luar madrasah

b. Dukungan pemerintah

1) menyetujui visi dan kebijakan madrasah beserta kurikulumnya

2) membantu madrasah dalam membuat perencanaan

3) menyediakan pelatihan bagi madrasah

c. Keterlibatan orang tua

1) Madrasah mengakui orang tua sebagai partner pendidik

2) Komunikasi antara orang tua dan madrasah

3) Diskusi tentang keadaan siswa dan kebijakan madrasah

d. Membangun hubungan dengan pengusaha/perusahaan

1) Keterlibatan perusahaan dalam mendukung prestasi siswa

2) Siswa mengunjungi perusahaan untuk suatu tugas dari madrasah

3) Menjalin hubungan baik dengan perusahaan di sekitar madrasah

e. Mendorong penggunaan lingkungan masyarakat untuk bahan pelajaran

1) Masyarakat lokal dan lingkungan memberikan bahan yang berharga

bagi pembelajaran siswa.

2) Membantu siswa untuk ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan

3) Memberikan perhatian bagi siswa dalam bermasyarakat

(Joan Dean, 1993 : 203)

4. Mutu madrasah (Y)

(39)

atau masyarakat sebagai pelanggan, yang meliputi kualitas out put

madrasah. Dimensi dan Indikatornya :

a. Aspek Siswa : indikatornya adalah Prestasi akademik ; Kreatifitas ;

Percaya diri ; Aspiratif ; Harapan (expectation) ; Tingkat Kehadiran ;

Tingkat Kelulusan ; dan Tingkat drop out.

b. Aspek Guru, indikatornya : Kepuasan kerja ; Ketidakhadiran

(absenteeism) ; dan Pergantian (turn over)

c. Aspek pengelola (administrator), indikatornya : Kepuasan kerja ;

Anggaran seimbang ; dan Komitmen pada madrasah

d. Aspek masyarakat :

Memiliki persepsi pencitraan di tengah masyarakat

(Hoy dan Miskel, 2008 : 291)

E. Instrumen Penelitian

Selanjutnya, dari definisi operasional tersebut akan dikembangkan

menjadi kisi-kisi instrumen penelitian. Kisi-kisi instrumen penelitian adalah

gambaran angket atau pernyataan penelitian yang akan dibawa ke lapangan.

Dari kisi-kisi instrumen inilah yang akan menjadi acuan dalam menyusun

pertanyaan sehingga menjadi sebuah angket atau kuisioner yang disebarkan

kepada responden.

Kisi-kisi instrumen ini ditetapkan melalui teori yang telah diyakini

mewakili landasan variabel penelitian. Dari teori tersebut dikembangkan

(40)

Kisi-kisi Instrumen Variabel Kepemimpinan Kepala Madrasah (X1)

Variabel Dimensi Indikator Sub indikator Item Sumber

Data

1a1. Mengintegrasikan tujuan dan sasaran madrasah dengan kebutuhan peserta didik

1a2. Memastikan bahwa program pembelajaran yang ada saat ini sejalan dengan sasaran yang diharapkan peserta didik di masa mendatang

1

1b1. Melakukan ujicoba dan penafsiran program alternative, prosedur, dan struktur untuk mengembangkan program instruksional

1b2 Melibatkan pihak lain dalam mengembangkan alternative instruksional

3,4

5

1.c.

(41)

program 1c2. menyampaikan informasi mengenai pengembangan

program pembelajaran kepada orang tua siswa 7

1.d. Mengevaluasi

perubahan program

1d1. Menghimpun, dan menafsirkan data yang ada sebagai

perbandingan terhadap hasil prestasi siswa

1d3. Menyatakankelangsunganprogram ataumemulai perubahanberikutnyadalam programinstruksionalyang baru

dibentuk

8,9

10,11

2. Membina guru dan staf

2.a.

Mengidentifikasi guru dan staf

2a1. Kepala

sekolahmendefinisikanpersyaratanspesifikuntuk masing-masingposisilowongan kerja

2a2. Memilih calon anggota guru atau staf dengan kualifikasi terbaik untuk posisi tertentu dan melakukan kontrak kerja

12

13,14

2.b. Melakukan

orientasi

2b1. Mengenalkan guru atau staf baru dengan lingkungan

(42)

dan organisasi madrasah 16

2.c. Melakukan

kontrak kerja dengan

guru dan staf

2c1. Menugaskan anggota staf baru untuk memksimalkan prestasi yang selaras dengan tujuan organisasi

2c2. Menugaskan kembali anggota staf yang

berpengalaman untuk berperan dalam pencapaian semaksimal mungkin pada tujuan individu dan tujuan organisasi

17

18

2.d.

Mengembangkan guru dan staf

2d1. Membuat program yang sistematis untuk

pengembangan staf melalui observasi kelas dan diskusi dengan staf

2d2. Mengorgansir kegiatan pengembangan staf, seperti visitasi madrasah, kegiatan professional

2d3. Membimbing setiap anggota staf agar terlibat dalam aktivitas pengembangan

19,20

21,22

23

2.e. Melakukan

evaluasi

2e1. Melibatkan staf dalam meneliti kesepakatan tujuan atas evaluasi dan prosedur yang digunakan

(43)

hasil pengajaran

2e3. Mengambil keputusan berdasarkan data evaluasi secara khusus.

26

3.

Mengayomi siswa

3.a. Memahami

nilai-nilai kesiswaan

3a1.Menggambarkan orientasi nilai kepada segenap siswa

madrasah

3a2. Mengulas dan menggambarkan tujuan dan sasaran madrasah sebagai sebuah institusi

27

28

3.b. Melibatkan

siswa

3b1. Membuat ketentuan untuk melibatkan siswa secara

bermakna dalam memutuskan penetapan program

madrasah

3b2. Mendukung pengembangan kebijakan operasional dan dalam hal efektivitas siswa madrasah

29

30

3.c. Membimbing

dan melayani siswa

3c1. Menempatkan prioritas bimbingan secara individual

dan kelompok bagi siswa, dengan keterlibatan guru dan orang tua

(44)

4. Mengelola keuangan dan fasilitas madrasah

sumber dana prioritas masing-masing program di madrasah

4a2. Merancang perkiraan kebutuhan sumber daya madrasah untuk beberapa tahun ke depan.

33

34

4.b. Mengelola

sarana dan prasarana madrasah

4b1. Mengkoordinasikan masukan dari guru, siswa, dan

warga dalam perencanaan fasilitas pendidikan

4b2. Memimpin staf dalam memutuskan perolehan kuantitatif dan kualitatif atas ruang pendidikan yang baru 4b3.Menugaskan dan mengawasi petugas di bidang sarana prasarana untuk menyediakan lingkungan fisik yang sejalan dengan pembelajaran.

5a1. Melakukan koordinasi kerja dengan komite madrasah dalam menganalisis tujuan, sasaran, program dan prosedur di madrasah

5a2. Melakukan penilaian sistematis persepsi masayarakat tentang harapan terhadap madrasah

39

(45)

dengan masyarakat masyarakat terutama organisasi masyarakat

5b2. Menganalisis informasi yang dibutuhkan untuk publikasi madrasah dan mempersiapkan dan mengadakan komunikasi berupa pertemuan bilamana diperlukan

41

42,43

5.c.

mendayagunakan

sumber daya

masyarakat

5c1. Mengemukakan program inovatif dan perencanaan untuk bekerjasama pada seluruh sumber daya yang ada di masyarakat

5c2. Menjadikan pelaksanaan pendidikan yang digunakan masyarakat sebagai laboratorium pembelajaran

44,45

(46)

Kisi-kisi instrumen Iklim Organisasi (x2)

Variabel Dimensi Indikator Sub Indikator Nomor item Sumber

Data

2) Memberikan perhatian pada warga sekolah

3) Mengkritik dengan konstruktif

1. Kepala madrasah membuka diri terhadap saran dan kritik

2a. Kepala madrasah memberikan perhatian kepada guru

2b. Kepala madrasah memberikan perhatian kepada siswa dan staf

3a. Kepala madrasah membuka diri untuk menerima keluhan, saran, dan kritik

3b. Penyampaian kritik diikuti dengan saran yang membangun (konstruktif

1

1) komunikasi secara terbuka dan interaktif antar warga sekolah

2) guru antusias, menerima dan

1a. Komunikasi di madrasah

berlangsung terbuka antara guru dan siswa,

1b. Komunikasi juga mengalir antara sekolah dan orang tua

2a. Guru saling menghormati

6

(47)

professional rekan mereka

3) guru dekat dengan siswa dan warga belajar lain

2b. Guru berdiskusi untuk

mengembangkan profesionalitas dan kinerja

3a. Guru akrab dengan siswa

3b. kepala madrasah ramah dengan

1) keakraban kuat antar guru

2) saling mendukung dalam jaringan yang terpadu

3) Guru saling mengenal dengan baik, berteman akrab dan bersosialisasi

1. Jalinan keakraban antar guru sangat kuat

2. Guru mendukung rekan lain menjadi lebih professional

3. Antar guru saling berkunjung di dalam maupun di luar sekolah

12

13

14

4. Direktif 1) kepala sekolah menunjukkan sikap kaku

2) pengawasan secara ketat atas segala aktivitas guru dan sekolah

3) memperhatikan secara detil hingga sekecil-kecilnya

1a. Kepala madrasah membuat

keputusan sendiri tanpa musyawarah 1b. Keputusan kepala madrasah tidak bisa dibantah lagi dan harus dilaksanakan

2a. Kepala madrasah memberlakukan aturan dengan ketat

2b. Semua aktivitas guru selalu diawasi kepala madrasah

3a. Kepala madrasah memperhatikan pelaksanaan tugas secara detil

15

16

17

18

(48)

kegiatan yang dilakukannya 20

2) membebani guru dengan tugas, pekerjaan rutin . dan kesibukan

3) membebani guru dengan tugas dari komite

1a. Guru dibiarkan bekerja tanpa fasilitas madrasah

1b. kepala madrasah tidak membuat anggaran untuk fasilitas guru

2a. Guru disibukkan dengan tugas rutin dari kepala madrasah

2b. Guru mengerjakan tugas yang tidak menjadi bidangnya atas perintah kepala madrasah

3a. Guru mengerjakan tugas dari komite

3b. Pertemuan dengan komite

memakai waktu kerja guru

21

1) membiarkan perilaku yang tidak berguna

2) kepala madrasah tidak fokus pada kegiatan sekolah

3) perilaku negative dan kritis terhadap rekan mereka

1a. Kepala madrasah tidak menegur kesalahan guru dan staf

1b. Kegiatan di sekolah berjalan tanpa arahan kepala madrasah

2a. Kepala sekolah banyak kesibukan dan kepentingan di luar sekolah

2b. Kepala madrasah tidak fokus pada kegiatan di madrasah

3a. Guru memandang negatif (iri) pada guru lain yang berprestasi

3b. Guru saling mengkritik, dan mencari-cari kesalahan guru lain

(49)

Kisi-kisi Instrumen Partisipasi Masyarakat (x3)

Variabel Dimensi Indikator Sub Indikator Nomor

item Sumber Data

pertemuan dari luar madrasah

2) Anggota madrasah menjadi pengurus organisasi di luar madrasah

1a. Kepala madrasah atau guru diundang menjadi pembicara

2. Kepala madrasah atau guru menjadi pengurus organisasi profesi

1) menyetujui visi dan

kebijakan madrasah beserta kurikulumnya

2) membantu madrasah dalam

membuat perencanaan

1. Pemerintah memberikan fasilitas kepada madrasah

sebagai bentuk dukungan

terhadap visi misi madrasah

2a. Pemerintah melalui

(50)

3) menyediakan pelatihan bagi madrasah

2b. Pengawas dari pemerintah membantu dalam merencanakan dan menyusun kurikulum

3a. Undangan pelatihan guru dari pemerintah sampai ke madrasah

3b. Pemerintah melibatkan madrasah dalam pelatihan kepala madrasah

5

6

7

3.Keterlibat an orang tua

1) madrasah mengakui orang tua sebagai partner pendidik

2) Komunikasi antara orang tua

1a. Madrasah mengundang orang tua siswa pada suatu acara tertentu

1b. Orang tua dapat

berkonsultasi dengan guru tentang prestasi siswa

2. Madrasah meminta orang tua 8

(51)

3) Diskusi tentang keadaan siswa dan kebijakan madrasah

membimbing siswa di rumah 3a. Antara madrasah dan orang tua berlangsung musyawarah untuk mengambil keputusan tertentu terhadap siswa

3b. Orang tua dapat

mengusulkan suatu kebijakan tertentu terhadap madrasah

11

2) Menjalin hubungan baik dengan masyarakat di sekitar madrasah

1. Masyarakat membantu siswa bila mengikuti suatu perlombaan

2a. Madrasah melibatkan

masyarakat dalam acara

perayaan hari besar

2b. Madrasah mengundang

tokoh masyarakat menjadi nara sumber

13

14

(52)

ran dari masyarakat

ganmemberikanbahan yang berharga bagi

pembelajaransiswa.

2) Membantu siswa untuk ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan

3) Memberikan perhatian bagi siswa dalam bermasyarakat

kebersihan melalui kerja bakti di lingkungan

1b. Siswa menemui tokoh masyarakat untuk silaturrahim dan belajar

2. Siswa belajar berorganisasi melalui remaja masjid

3a. Masyarakat menegur siswa jika bolos atau tawuran

3b. Masyarakat melaporkan ke madrasah bila ditemukan siswa yang melanggar tata tertib

17

18

19

(53)

Kisi-kisi Instrumen Mutu Madrasah (Y)

Variabel Dimensi Indikator Sub Indikator Nomor

item

Sumber Data

Mutu

Madrasah 1.Siswa 1) Prestasi akademik

2) Kreatifitas

3) Percaya diri

4) Aspiratif

1a. Siswa dapat mencapai prestasi di atas rata-rata pada setiap mata pelajaran

1b. Siswa dapat menjuarai perlombaan bidang akademik yang diikutinya

2a. Siswa memilih kegiatan ekstra kurikuler sesuai bakat dan minatnya

2b. Siswa dapat membuat karya sederhana yang bermanfaat

3a. Siswa dapat menyelesaikan tugas dari guru dengan percaya diri

(54)

5) Harapan (expectations)

6) Kehadiran

7) Kelulusan

8) Angka putus sekolah (Drop out Rate)

pembelajaran kepada guru dan kepala madrasah 5. Siswa mendapatkan umpan balik dari guru atas setiap hasil kerjanya

6a. Tingkat Kehadiran siswa mencapai lebih dari 90 persen setiap hari

6b. Ketidakhadiran siswa diganti dengan melakukan tugas dari guru

7. Jumlah Siswa yang tidak lulus dalam perentase kecil

8. Angka putus sekolah dalam persentase kecil

8

9

10

11

12

13

2.Guru 1) Kepuasan kerja

(Job satisfaction)

2) Ketidakhadiran

1. Guru memanfaatkan fasilitas dari madrasah sesuai bidang tugasnya

2a. Angka ketidakhadiran guru kurang dari

14

(55)

3) Pergantian (turnover)

2b. Guru pengganti siap sedia menggantikan guru yang berhalangan hadir

3. Guru dipromosikan mendapatkan jabatan

struktural atau kepanitiaan secara bergantian sesuai dengan kualifikasinya

16

17

3. Pengelola 1) Kepuasan kerja

2) Anggaran seimbang

3) Komitmen pada sekolah.

1a. Pengelola mendapatkan imbalan yang sepadan dengan tugasnya

1b. Kenyamanan kerja staf pengelola didukung

oleh lingkungan madrasah

2. Staf pengelola dapat mengatur anggaran

pendidikan yang seimbang untuk operasional madrasah

3. Staf pengelola memiliki perilaku kerja yang

positif sesuai dengan visi madrasah

18

4. Masyarakat menganggap madrasah dapat

bersaing dengan sekolah lain yang unggul. 22

(56)

F. Proses Pengembangan Instrumen

Uji validitas dilakukan terhadap setiap item pertanyaan. Pengujian

dilakukan dengan mengkorelasikan setiap item pertanyaan dengan jumlah

seluruh item. Statistik yang digunakan adalah koefisien Korelasi product

moment pearson r dengan rumus sebagai berikut:

�ℎ� �� = �

( )−( )( )

� 2 ( )2 2 ( )2

Berikut adalah hasil pengujian validitas dan reliabilitas penelitian

yang diterapkan pada 30 orang responden dari tiga madrasah tsanawiyah

yang diambil secara random.:

1.Validitas variabel Kepemimpinan Kepala Madrasah

Berdasarkan hasil uji coba instrumen penelitian untuk variabel

Kepemimpinan Kepala Madrasah (X1 ) diperoleh kesimpulan bahwa dari 46

item tersebut, setelah dilakukan beberapa kali konsultasi dan revisi

kesemuanya valid. Dalam analisis ini apabila item dikatakan valid harus

dibuktikan dengan perhitungan. Untuk mengetahui tingkat validitas

perhatikan angka pada “Corrected Item-Total Correlation” yang

merupakan korelasi antara score item dengan score total item (nilai

�ℎ� ��) dibandingkan dengan nilai � � . Jika nilai �ℎ� �� lebih besar dari

nilai � atau nilai �ℎ� ��> nilai � , maka item tersebut adalah valid

dengan menggunakan distribusi (tabel r) untuk α = 0,05 dengan derajat

(57)
(58)

No.34 0.596 0,361 Valid

No.35 0.760 0,361 Valid

No.36 0.663 0,361 Valid

No.37 0.550 0,361 Valid

No.38 0.600 0,361 Valid

No.39 0.683 0,361 Valid

No.40 0.751 0,361 Valid

No.41 0.693 0,361 Valid

No.42 0.615 0,361 Valid

No.43 0.651 0,361 Valid

No.44 0.679 0,361 Valid

No.45 0.726 0,361 Valid

No.46 0.819 0,361 Valid

2. Iklim Organisasi Madrasah(X2 )

Berdasarkan hasil uji coba insrumen penelitian untuk variabel Iklim

Organisasi Madrasah (X2 ) diperoleh kesimpulan bahwa dari 32 item

tersebut, setelah dilakukan beberapa kali konsultasi dan revisi kesemuanya

valid. Dalam analisis ini apabila item dikatakan valid harus dibuktikan

dengan perhitungan.

Untuk mengetahui tingkat validitas perhatikan angka pada

“Corrected Item-Total Correlation” yang merupakan korelasi antara score

item dengan score total item (nilai �ℎ� ��) dibandingkan dengan nilai

� � . Jika nilai �ℎ� �� lebih besar dari nilai � � atau nilai �ℎ� ��> nilai

� � , maka item tersebut adalah valid dengan menggunakan distribusi

(tabel r) untuk α = 0,05 dengan derajat kebebasan (dk=n-2=30-2=28)

(59)

Tabel 3.8

Validitas Instrumen Iklim Organisasi

(60)

3. Partisipasi Masyarakat

Berdasarkan hasil uji coba instrumen penelitian untuk variabel

partisipasi masyarakat (X3 ) diperoleh kesimpulan bahwa dari 20 item

tersebut, setelah dilakukan beberapa kali konsultasi dan revisi kesemuanya

valid. Dalam analisis ini apabila item dikatakan valid harus dibuktikan

dengan perhitungan. Jika nilai �ℎ� �� lebih besar dari nilai � atau nilai

�ℎ� ��> nilai � � , maka item tersebut adalah valid Dengan hasil

perhitungan sebagai berikut :

Tabel 3.9

Validitas Instrumen Partisipasi Masyarakat

No Item �� Keputusan

No.1 .611 0,361 Valid

No.2 .514 0,361 Valid

No.3 .665 0,361 Valid

No.4 .499 0,361 Valid

No.5 .563 0,361 Valid

No.6 .408 0,361 Valid

No.7 .666 0,361 Valid

No.8 .666 0,361 Valid

No.9 .399 0,361 Valid

No.10 .529 0,361 Valid

No.11 .602 0,361 Valid

No.12 .763 0,361 Valid

No.13 .595 0,361 Valid

No.14 .663 0,361 Valid

No.15 .727 0,361 Valid

No.16 .346 0,361 Valid

(61)

No.19 .515 0,361 Valid

No.20 .589 0,361 Valid

4. Mutu Madrasah

Berdasarkan hasil uji coba insrumen penelitian untuk variabel mutu madrasah (�) diperoleh kesimpulan bahwa dari 20 item tersebut, setelah

dilakukan beberapa kali konsultasi dan revisi kesemuanya valid. Jika nilai �ℎ� �� lebih besar dari nilai � � atau nilai �ℎ� ��> nilai � � , maka item tersebut adalah valid dengan menggunakan distribusi (tabel r) untuk α = 0,05 dengan derajat kebebasan (dk=n-2=30-2=28) sehingga didapat � � = 0,361 sebagai berikut :

Tabel 3.10

Validitas Instrumen Mutu Madrasah

(62)

No.20 0.639 0,361 Valid

No.21 0.455 0,361 Valid

No.22 0.443 0,361 Valid

Selanjutnya dilakukan uji reliabilitas, yaitu tingkat kepercayaan

hasil suatu pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi

mampu memberikan hasil ukur yang konsisten (reliabel), serta dapat

memberikan hasil yang relatif sama jika dilakukan pada waktu yang

berbeda. Menurut Mohammad Ali (2010), derajat keriabelan instrumen

sering kali digambarkan secara kuantitatif. Persoalan yang mungkin timbul

adalah, seberapa besar derajat keriabelan yang dipandang layak untuk suatu

instrumen agar dapat digunakan dalam pengumpulan data. Ukuran yang

pasti memang tidak ada. Untuk dijadikan pegangan, para pakar terkait

biasanya hanya menyarankan agar pelaku riset menghindari penggunaan

instrumen yang memiliki derajat keriabelan rendah, yaitu bila indeks yang

diperoleh dari hasil pengujian secara kuatitatif adalah sama dengan atau

lebih kecil dari 0,40 (r ≤ 0,40).

Pada data penelitian ini, uji reliabilitas menggunakan metode alfa

dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Membuat tabel untuk

menempatkan skor pada item-item yang diperoleh dari setiap responden ;

2) menghitung jumlah skor item ; 3) menghitung kuadrat jumlah skor item ;

4) menghitung jumlah skor masing-masing item ; 5) menghitung jumlah

Figur

Gambar 1.1
Gambar 1 1 . View in document p.9
Data Kualifikasi Kepala Madrasah Tsanawiyah tahun 2009/2010 Gambar 1.2 Sumber : Setditjen Pendidikan Islam, Bagian Perencanaan Data, Kemenag
Data Kualifikasi Kepala Madrasah Tsanawiyah tahun 2009 2010 Gambar 1 2 Sumber Setditjen Pendidikan Islam Bagian Perencanaan Data Kemenag. View in document p.11
Gambar 1.3 Data Sertifikasi Pendidik Tahun 2009/2010
Gambar 1 3 Data Sertifikasi Pendidik Tahun 2009 2010 . View in document p.12
Pola hubungan antar Variabel PenelitianGambar 3.1
Pola hubungan antar Variabel PenelitianGambar 3 1 . View in document p.31
Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.33
Tabel 3.2
Tabel 3 2 . View in document p.34
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Variabel Kepemimpinan Kepala Madrasah (X1)
Tabel 3 3 Kisi kisi Instrumen Variabel Kepemimpinan Kepala Madrasah X1 . View in document p.40
Tabel 3.4 Kisi-kisi instrumen Iklim Organisasi (x2)
Tabel 3 4 Kisi kisi instrumen Iklim Organisasi x2 . View in document p.46
Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen Partisipasi Masyarakat (x3)
Tabel 3 5 Kisi kisi Instrumen Partisipasi Masyarakat x3 . View in document p.49
Tabel 3.6 Kisi-kisi Instrumen Mutu Madrasah (Y)
Tabel 3 6 Kisi kisi Instrumen Mutu Madrasah Y . View in document p.53
Tabel 3.7
Tabel 3 7 . View in document p.57
Tabel 3.8
Tabel 3 8 . View in document p.59
Tabel 3.9 Validitas Instrumen Partisipasi Masyarakat
Tabel 3 9 Validitas Instrumen Partisipasi Masyarakat . View in document p.60
Tabel 3.10 Validitas Instrumen Mutu Madrasah
Tabel 3 10 Validitas Instrumen Mutu Madrasah . View in document p.61
Tabel 3.11
Tabel 3 11 . View in document p.63
Tabel 3.12  Uji Normalitas variabel kepemimpinan kepala madrasah
Tabel 3 12 Uji Normalitas variabel kepemimpinan kepala madrasah . View in document p.65
Gambar  3. 2 Histogram Variabel Kepemimpinan Kepala Madrasah
Gambar 3 2 Histogram Variabel Kepemimpinan Kepala Madrasah . View in document p.66
Gambar  3.3 Histogram Variabel Iklim Madrasah
Gambar 3 3 Histogram Variabel Iklim Madrasah . View in document p.67
Gambar  3.4 Histogram variabel partisipasi masyarakat
Gambar 3 4 Histogram variabel partisipasi masyarakat . View in document p.68
Tabel 3.16 Linieritas variabel kepemimpinan Kepala Madrasah terhadap mutu
Tabel 3 16 Linieritas variabel kepemimpinan Kepala Madrasah terhadap mutu . View in document p.70
Tabel 3.18 Linieritas variabel partisipasi masyarakat terhadap mutu madrasah
Tabel 3 18 Linieritas variabel partisipasi masyarakat terhadap mutu madrasah . View in document p.71
Tabel 3.19  Kriteria Skor Rerata Variabel dan Penafsiran
Tabel 3 19 Kriteria Skor Rerata Variabel dan Penafsiran . View in document p.75
Tabel 3.20  Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r
Tabel 3 20 Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r . View in document p.76

Referensi

Memperbarui...