METODE PEMBELAJARAN YANG AMAN DAN EDUKATIF BAGI ANAK USIA DINI
Indes Maharani Handayani NIM 1206240
Abstrak
Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menciptakan sebuah metode pembelajaran yang aman dan dapat mengedukasi para peserta didiknya. Misalnya dengan menggunakan beberapa metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini. Selain itu pendidik juga harus mampu menyediakan alat peraga pembelajaran yang aman dan edukatif untuk mendukung proses pembelajaran sehingga terciptanya suasana belajar yang aman, menyenangkan sekaligus mengedukasi bagi perkembangan anak usia dini.
Kata Kunci: anak usia dini, metode pembelajaran, aman, edukatif
A. Pendahuluan
merancang sebuah kegiatan pembelajaran yang unik tetapi tetap mengedukasi para peserta didiknya dan tidak keluar dari batasan hakikat pembelajaran yang harus diterima oleh anak usia dini. Pendidik juga harus mengerti batasan mengenai pembelajaran yang harus disampaikan kepada anak apakah metode pembelajaran tersebut sudah layak atau belum layak untuk disampaikan kepada anak usia dini, karena anak usia dini mempunyai batasan stimulasi yang harus diberikan. Agar stimulasi dapat diterima secara maksimal oleh anak maka stimulasi harus diberikan sesuai dengan periode perkembangan anak tersebut, begitu juga sebaliknya apabila kita memberikan stimulasi sebelum yang seharusnya diberikan pada saat periode perkembangan anak maka stimulasi tersebut akan menjadi sia-sia. Dengan demikian, agar stimulasi yang kita berikan dapat diterima secara maksimal oleh anak maka kita harus tepat dalam merancang sebuah metode pembelajaran yang aman dan edukatif bagi anak usia dini.
B. Metode Belajar Anak Usia Dini
Ada beberapa metode pembelajaran anak usia dini yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini:
a. Usia 0-3 tahun
Seorang anak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di taman bermain dengan berbagai metode tapi yang harus diperhatikan adalah hubungan antara pendidik dengan peserta didiknya. Serta bagaimana cara pendidik berkomunikasi dengan peserta didiknya dan sebaiknya ketika proses belajar mengajar belangsung pendidik tidak terlalu mendominasi kegiatan. b. Usia 5 tahun
Pendidik harus mampu memberikan kegiatan dengan cara memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi suatu hal. Misalnya dalam memberikan sebuah contoh, pendidik sebaiknya tidak melulu mencontohkan lalu anak mengikutinya tetapi biarkan anak mencoba sendiri, seperti ketika anak menggambar bunga dengan berbagai warna yang ia inginkan. Dan pada usia ini pendidik dapat memberikan kosakata baru kepada anak dan mulai membiarkan anak merangkai sebuah kalimat.
c. Usia 6 tahun
Pada usia ini anak harus memperbanyak latihan kemampuan untuk menceritakan sebuah objek dan mempresentasikan mengenai apa yang dia ketahui mengenai objek tersebut. Metode belajar pada usia ini lebih menekankan pada cara berfikir seorang anak agar kreatif, misalnya ketika anak menjelaskan mengenai sebuah benda. Salah satunya adalah dengan metode belajar mind map dengan menggunakan jaring-jaring topik. Contohnya, kita meminta anak untuk menjelaskan konsep kucing lalu biarkanlah anak memaparkan seluruh pengetahuannya mengenai gambaran kucing, mulai dari suara, bentuk, dan tempat kucing berada.
C. Metode Pembelajaran yang Edukatif
Seorang pendidik memerlukan banyak metode pembelajaran yang dapat mengedukasi peserta didiknya, berikut terdapat beberapa metode pengajaran yang edukatif ntuk anak usia dini, antara lain:
a. Metode Global (Ganze Method)
Anak belajar membuat sebuah kesimpulan dengan kalimatnya sendiri. Misalnya, ketika mendengarkan sebuah dongeng, anak diminta untuk menceritakan kembali apa yang sudah ia dapatkan dengan menggunakan bahasanya sendiri, maka hal ini akan mudah diserap lebih lama oleh ingatannya dan anak akan terlatih untuk berfikir kreatif dan inisiatif.
b. Metode Latihan Keterampilan (Drill Method)
Metode ini sering dilakukan langsungbersama anak, seperti membuat sebuah prakarya. Sekolah Learning Vision menggunakan metode ini untuk mendorong anak dalam belajar mempelajari sebuah proses seperti ketika membuat patung berbahan dasar lilin atau karya-karya lainnya. Selain untuk melatih motorik halus anak, dalam metode ini pendidik dapat mengajarkan anak berhitung secara konkret.
c. Metode Percobaan (Experimental Method)
Metode ini mendorong anak untuk bereksperimen dan melakukan percobaan sendiri. Terdapat tiga tahapan yang harus dilakukan anak dalam memudahkan masuknya sebuah informasi, yaitu dengan cara mendengar, menulis serta melihat dan melakukan percobaannya sendiri. Untuk mendukung berlangsungnya metode pembelajaran ini diperlukan eksplorasi pembelajaran langsung ke lapangan, seperti kebun sayuran atau kebun binatang.
d. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)
Pendidik memberikan sebuah tugas yang tingkat kesulitannya disesuaikan dengan tahapan usia anak lalu pendidik mengajak anak untuk mencari solusinya bersama-sama.
e. Metode Resitasi (Recitacion Method)
berbuah?”, maka kita sebagai pendidik harus melibatkan anak langsung dalam mengamati proses perkembangbiakan pohon lalu anak diminta untuk menyimpulkannya sendiri.
f. Metode Perancangan (Project Method)
Pendidik membuat sebuah kegiatan yang mengajak peserta didiknya untuk merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai sebuah objek yang akan dikaji. Salah satu sekolah yang menggunakan metode pembelajaran ini adalah Tutor Time. Dengan metode ini pola pikir anak akan menjadi lebih berkembang dalam memecahkan sebuah masalah serta membiasakan anak untuk menerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang ia miliki untuk kehidupan sehari-hari.
g. Metode Bagian (Teileren Method)
Metode pembelajaran ini cenderung mengaitkan sebagian-sebagian petunjuk yang mengarah pada suatu objek, misalnya potongan-potongan puzzle yang akan digabungkan satu persatu.
h. Model-model Pembelajaran yang Aman di Taman Kanak-kanak
Model pembelajaran adalah sebuah hal yang didesain sesuai dengan rancangan yang menggambarkan sebuah proses penciptaan situasi lingkungan belajar yang memungkinkan adanya interaksi antara pendidik dengan peserta didiknya sehingga terjadi perubahan dalam diri seorang anak. Komponen model pembelajarannya meliputi:
- Konsep,
- tujuan pembelajaran,
- materi/tema langkah-langkah pembelajaran - metode,
- alat/sumber belajar dan - teknik evaluasi.
Berikut beberapa model pembelajaran yang diterapkan di TK: a. Model pembelajaran klasikal
Sebuah metode pembelajaran dimana dalam waktu yang sama, kegiatan dilakukan oleh seluruh anak yang sama dalam satu kelas. Umumnya model pembelajaran ini digunakan di TK dengan sarana pembelajaran yang terbatas serta kurang memperhatikan minat dari setiap individu anak. Seiring dengan pesatnya perkembangan mengenai model pembelajaran anak usia dini yang baru dan lebih edukatif, maka model pembelajaran ini sudah mulai ditinggalkan.
b. Model pembelajaran kegiatan kelompok dengan kegiatan pengaman
Dalam metode pembelajaran ini anak-anak dalam satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok (biasanya 3 sampai 5 kelompok), dalam masing-masing kelompok melakukan kegiatan yang berbeda-beda untuk satu pertemuan anak didorong untuk menyelesaikan 2 sampai 3 kegiatan dalam kelompok secara bergantian, apabila dalam sebuah kelompok ada anak yang sudah menyelesaikan kegiatannya maka anak tersebut dapat mengerjakan kegiatan lain selama kelompok yang lain masih berada di tempat. Bila tidak ada tempat, anak dapat bermain di tempat tertentu yang sudah disediakan oleh guru dan tempat inilah yang disebut dengan kegiatan pengaman. Pada kegiatan pengaman sebaiknya disediakan alat-alat yang bervariasi serta sering diganti sesuai dengan tema atau subtema yang sedang dibahas.
c. Model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan
Model pembelajaran ini menyediakan sudut-sudut kegiatan yang menjadi pusat kegiatan pembelajaran berdasarkan minat anak, alat-alat yang disediakan juga harus bervariasi karena minat anak umumnya bermacam-macam dan alat-alat tersebut juga harus sering diganti karena disesuaikan dengan tema atau subtema yang dibahas.
d. Model pembelajaran area
menekankan pengalaman belajar bagi anak, pilihan berbagai kegiatan serta pusat kegiatan juga peran keluarga dalam proses pembelajaran.
e. Model pembelajaran berdasarkan sentra
Metode pembelajaran berdasarkan sentra ciri-cirinya memberikan pijakan untuk membangun sebuah konsep, ide, dan pengetahuan anak serta konsep densitas dan intensitas bermain anak. Model ini berfokus pada anak yang cara belajarnya berpusat pada sentra bermain dan ketika anak berada di dalam sebuah lingkaran. Umumnya pijakan atau dukungan dalam metode pembelajaran ini untuk mendukung perkembangan anak, yaitu pijakan sebelum bermain, saat bermain dan setelah bermain. Pijakan ini dimaksudkan untuk mendukung perkembangan anak agar lebih tinggi. Ada 3 jenis permainan yang ada dalam model pembelajaran ini yaitu: bermain sensorimotorik atau fungsional, bermain peran dan bermain pembangunan (yang membangun pemikiran anak).
Biasanya model-model pembelajaran tersebut umumnya menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang sama untuk sehari-harinya yaitu: kegiatan pendahuluan, inti, istirahat, dan penutup.
D. Pemanfaatan APE (Alat Peraga Edukatif) Bagi Anak Usia Dini
Kita dapat memanfaatkan APE (Alat Permainan Edukatif) untuk mengembangkan motorik anak usia dini karena ini adalah salah satu alat belajar yang bersifat mendidik di jenjang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau sejenisnya, karena tanpa alat peraga yang menarik anak akan cenderung merasa bosan dan jenuh untuk bersekolah. Maka kita sebagai pendidik harus pintar dalam memilih APE (Alat Peraga Edukatif) yang tepat untuk perkembangan anak usia dini. Dalam proses pembelajarannya juga pendidik harus menyisipkan beberapa aspek perkembangan pada anak, dimana salah satunya yaitu perkembangan motorik pada anak yang ternyata dalam proses bermain APE juga sangat mempengaruhi perkembangan motorik anak usia dini.
proses perkembangan anak, maka orang tua diharapkan tidak malu untuk menambah ilmunya mengenaipendidikan anak usia dini terkait dengan Alat Permainan Edukatif yang sesuai dalam mengembangkan kemampuan motorik anak usia dini. Pendidik sekaligus menjadi media perantara dalam pemberian informasi tentang perkembangan motorik anak dan diharapkan mampu memilah dan memilih Alat Permainan Edukatif yang sesuai dalam mengembangkan aspek motorik anak. Bagi jurusan Pendidikan Luar Sekolah, PLS hendaknya membuat referensi kepustakaan mengenai PAUD khususnya mengenai pemanfaatan APE (Alat Permainan Edukatif) untuk perkembangan motorik anak usia dini.
E. Simpulan
F. DAFTAR PUSTAKA
http://peperonity.com/go/sites/mview/petualangan/22180566%28p3%29
http://www.vilila.com/2011/04/pemanfaatan-ape-alat-permainan-edukatif.html
http://paudanakceria.wordpress.com/2011/02/17/model-%E2%80%93-model-pembelajaran-di-taman-kanak-kanak/
http://www.bisnis-jateng.com/index.php/2012/06/proses-pendidik-paud-diarahkan-belajar-sambil-bermain/