• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PRAKTEK LAPANG KOMODITAS KACANG TA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HASIL PRAKTEK LAPANG KOMODITAS KACANG TA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 5. PEMBAHASAN HASIL PRAKTEK LAPANG

5.1 Pelaksanaan Manajemen Usahatani Komoditas Kacang Tanah dalam Aspek Sosial Ekonomi Pertanian

5.1.1 Perencanaan

Dalam melakukan kegiatan budidaya pertanian, maka dilakukan kegiatan perencanaan terlebih dahulu tentang jenis komoditas apa yang akan dibudidayakan, prospek hasilnya, biaya yang digunakan untuk pengadaan input serta sarana produksi yang akan dibutuhkan, serta harga yang stabil dan menguntungkan di pasaran. Komoditas yang akan dibudidayakan yaitu komoditas kacang tanah, komoditas tersebut memiliki harga yang stabil di pasaran serta permintaan dari masyarakat yang selalu ada. Dengan semikian, maka diharapakan petani akan mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan adanya kegiatan budidaya tanaman kacang tanah ini. Prospek hasil yang diharapkan selalu tinggi dan memiliki kualitas yang baik, sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada kacang tanah yang memiliki kualitas yang lebih rendah.

(2)

Perencanaan sumber modal yang digunakan pada mulanya berasal dari tabungan sendiri atau sebagian meminjam dari bank dengan jaminan kendaraan yang dimilikinya, yang kemudian akan dilunasinya ketika sudah mendapatkan uang hasil panen. Biaya yang akan digunakan untuk kegiatan usahatani ini harus tersedia untuk memenuhi penyediaan saprodi dan kegiatan lainnya. Perencanaan pembiayaan harus dilakukan dengan cermat dan bijak, sehingga diharapkan petani akan mendapatkan keuntungan dengan menggunakan biaya yang rendah serta pengelolaan yang tidak rumit. Penyediaan saprodi harus dapat dilakukan tepat waktu sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan pada waktu dilaksanakannya kegiatan usahatani tersebut, guna memenuhi kebutuhan utama dan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Perencanaan produksi kegiatan budidaya yang dilakukan oleh Bapak Yudo dilakukan menurut bulan tanam, cuaca, serta ketersediaan modal. Berikut ini adalah gambar tentang jadwal yang direncanakan akan dilakukan oleh Pak Yudo.

N

(3)

ketika ada serangan, serangan hama dan penyakit dapat datang pada bulan apa saja. Pemanenan dapat dilakukan ketika tanaman sudah cukup masak secara fisiologis, yaitu umur 3 bulan pada bulan November, pemanenan akan mengguanakan tenaga kerja sebanyak 10 orang pria dewasa yang masuk ke dalam kegaiatan pencabutan, pemipilan dan sortasi. Irigasi yang digunakan yaitu irigasi alur, irigasi yang berasal dari sungai dan ketika akan menggunakannya diperlukan tarif sebesar RP 100.000 untuk setiap kali pengairan. Pengairan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat awal penananam, kemudian ketika mulai memasuki masa pembungaan dan terakhir ketika masa pengisian biji.

Perencanaan pemasaran dilakukan dengan melakukan penjualan kepada tengkulak, tengkulak akan memberikan harga kepada petani langsung berdasarkan harga yang ada dipasar. Tengkulak langsung mengambil hasil pada saat di lahan dengan transportasi pickup, jadi petani tidak harus mengeluarkan biaya untuk melakukan transportasi. Tengkulak akan membeli kacang tanah dari lahan langsung yang berkualitas baik yakni yang telah disortir dengan biya Rp 7.000/kg. Penentuan harga disesuaikan dengan keadaan yang ada di pasar, sehingga tiap musim harga berbeda berdasarkan jumlah permintaan konsumen.

5.1.2 Pelaksanaan

(4)

tempat dan penggunaan biaya untuk saprodi yang tepat merupakan bagian dari pelaksanaan.

Pelaksanaan kegaiatan usahatani diawali dengan pengolahan lahan pertanian yang akan digunakan. Pada tahap ini membutuhkan bantuan dari tenaga kerja dan penggunaan saprodi dan biaya tetap. Pemilihan komoditas terlebih dahulu harus dipertimbangkan karena akan berpengaruh terhadap biaya input produksi dan keuntungan hasil yang akan didapatkan. Penggunaan biaya tetap dan variabel akan dikeluarkan untuk tenaga kerja, pembelian alat, benih, pupuk serta kegiatan pemeliharaan lainnya.`Pemilihan tenaga kerja harus dilakukan dengan baik, tenaga kerja dapat berasal dari lingkungan keluarga seperti ibu, adik, anaknya, istri hingga ia sendiri, sementara itu dari lingkungan bukan keluarga dapat dari tetangga serta tenaga kerja borongan. Pemilihan benih harus dengan selektif karena akan berpengaruh terhadap hasil pada saat di lapang, benih harus memiliki kualitas yang unggul serta harganya terjangkau. Kegiatan pemupukan dilaksanakan untuk menambah kandungan unsur hara yang ada pada tanaman, jika unsur hara kurang, maka tanaman tidak dapat berproduksi dengan maksimal. Pengairan harus dilakukan pada masa-masa penting pertumbuhan kacang tanah, misalnya pada saat pertumbuhan vegetatif serta generatif yang sangat berpengaruh terhadap jumlah hasil yang didapat. Pemanenan dan pemasaran akan dilakukan jika tanaman sudah memiliki ciri fisik masak dan siap panen, pemasaran dilakukan dengan menjual hasil produksi kepada tengkulak, penentuan harganya ditentukan oleh tengkulak berdasarkan harga di pasar.

Gambar 5.2 Alur pelaksanaan budidaya on farm komoditas kacang tanah 5.1.3 Pengawasan

Pengolahan lahan

Panen

Penanaman

Pengendalian OPT

(5)

Pengawasan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menetapkan kinerja agar mampu memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Pengawasan dilakukan guna memantau segala kegiatan akan terlaksana berdasarkan rencana yang dituju. Pengawasan produksi meliputi kegiatan input yang akan digunakan, pemantauan terhadap penggunaan benih dengan varietas lokal yang unggul, benih tersebut dipilih karena memiliki kualitas hasil yang baik dan dapat diterima di pasaran. Pemilihan pupuk harus tepat sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tanahnya, pupuk yang sesuai akan mendukung pertumbuhan tanaman dan mampu meningkatkan hasil produksi tanaman, serta dengan dosis yang cukup akan mampu menghemat biaya pengeluaran untuk itu. Penggunaan pestisida hanya dilakukan jika ada serangan pada tanaman yang muncul, sehingga hal itu akan lebih ramah lingkungan dan hemat secara ekonomis karena penggunaan pestisida yang tidak berlebihan serta tidak diperlukan tenaga kerja untuk menyemprot dan biaya untuk pembelian pestisida.

Pengawasan terhadap Sumber Daya Manusia dilakukan guna memastikan kualitas dari tenaga kerja yang terampil dalam bidangnya. Pada saaat pengolahan tanah, dibutuhkan tenaga kerja laki-laki yang mampu mengoperasikan traktor, sehingga diharapkan dalam mengerjakan pekerjaannya ia mampu menyelesaikan dengan baik. Pembuatan galengan dibutuhkan tenaga kerja yang ahli dalam membuat galengan, sehingga tenaga kerja yang banyak digunakan yaitu tenaga kerja laki-laki yang lebih memiliki tenaga yang kuat. Tenaga kerja pria juga dibutuhkan pada saat pemanenan, pada saat pemanenan diharapkan tidak ada kehilangan hasil di lahan.

(6)

5.1.4 Analisis Usahatani

Petani yang telah diwawancari yakni Pak Yudo (38 tahun) beliau adalah petani kacang tanah yang telah lama menjadi petani yaitu sekitar 38 tahun. Lahan yang diamati yaitu berada di Desa Jelbuk, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember dengan total luasan sekitar 10350 m² yang terdiri dari dua petak lahan. Lahan yang pertama luasnya yaitu 350 m², sedangkan lahan kedua luasnya 10.000 m² dengan status kepemilikian pribadi. Budidaya tanaman dilakukan dengan proses pengolahan tanah, penyiangan, pemupukan, penanaman dan pemanenan yang termasuk ke dalam biaya variabel.

Proses pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga dengan biaya mencapai Rp 400.000 untuk penyewaan traktor sekaligus biaya tenaga kerja. Pembuatan galengan/bedengan dilakukan oleh 12 orang pekerja laki-laki selama 2 hari dengan biaya Rp 35.000/hari/orang sehingga jumlahnya mencapai Rp 840.000. Penyiangan dilakukan oleh 2 orang pria selama 3 hari sehingga total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 210.000. Pemupukan hanya dilakukan pada saat pengolahan tanah dengan tenaga kerja sebanyak 2 orang dalam 1 hari, sehingga biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 70.000. Biaya pemanenan dilakukan oleh 10 orang pria dalam 1 hari dengan upah Rp 40.000/orang/hari sehingga total biayanya mencapai Rp 400.000.

(7)
(8)

Timba 3 20.000 2 60.000 10.000

Iuran Air 3 100.000 - 300.000

-Total 815.000 113.900

Penyusutan pada suatu barang terjadi karena faktor usia, semakin lama barang dipakai, maka nilai penyusutannya semakin besar. Peralatan yang digunakan meliputi cangkul, karung, timba, serta iuran air. Total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 815.00 serta biaya penyusutannya yaitu Rp 113.900. Penerimaan total yang didapat yaitu mencapai Rp 18.900.000/ musim yang merupakan hasil kali dari jumlah produksi dan harga perkilonya. Biaya total produksi mencapai Rp 2.983.900 yang merupakan hasil penambahan dari total biaya variabel dan penyusutan biaya tetap. Efisiensi biaya produksi mencapai 6,335, efisiensi biaya produksi merupakan hasil dari penerimaan total (TR) yang dibagi dengan biaya total (TC), sehingga usaha taninya sangat efisien. Sehingga pendapatan persis yang didapat oleh Bapak Yudo yaitu mencapai Rp 15.215.000

Tabel 3 . Biaya total produksi (TC)

No Biaya Variabel + Tetap

(penyusutan) Total Keseluruhan (Rp)

1 Biaya benih 575.000

2 Biaya pupuk dan pestisida 375.000

3 Biaya tenaga kerja 1.920.000

4 Biaya Tetap (penyusutan) 113.900

Total

2.983.900 5.1.5 Penggunaan Tenaga Kerja

(9)

dikeluarkan untuk tenaga kerja yaitu sekitar Rp 35.000/hari. Tenaga kerja di bidang pertanian bekerja mulai dari kegiatan pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan hingga pada saat pemasaran.

Tenaga kerja yang biasanya berasal dari luar keluarga, bisa terdiri dari tenaga kerja borongan ataupun tenaga kerja harian yang meliputi tetangga sekitar. Tenaga kerja borongan biasanya pekerjaannya didasarkan atas hasil satuan kerja, pekerja borongan pada umumnya dikoordinir oleh suatu orang yang kemudian memperkerjakannya kepada orang lain yang telah terikat suatu perjanjian tertentu misalnya lama waktu dan biaya yang digunakan. Pekerja harian dapat berasal dari tetangga sekitar yang akan membantu melakukan kegiatan usahatani dan mereka akan mendapatkan upah atas jasa yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, usahatani mampu mensejahterakan penduduk sekitar dengan memberikan lapangan kerja sebagai buruh tani.

5.1.6 Pemasaran

(10)

5.2 Pelaksanaan Manajemen Usahatani Komoditas Kacang Tanah dalam Aspek Ilmu Tanah

5.2.1 Karakteristik Lahan

Lahan berada di Desa Jelbuk, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember pada ketinggian 255 mdpl yang terletak pada koordinat 8º04’46,6” S dan 113º45’38,0”. Relief lahan termasuk dataran tinggi, mengingat daerah yang ada di Jember ketinggiannya yang rata-rata dibawah 100 mdpl. Daerah di sekitar Jelbuk merupakan daerah perbukitan yang merupakan terusan dari pegunungan Argopuro, sehingga banyak ditemukan sawah yang berada di lereng bukit dan dibuat dengan teknik terasering guna mencegah adanya erosi dan longor. Tekstur tanah pada lahan yang telah diamati yaitu sedang, dengan kandungan liat, debu dan pasir yang seimbang sehingga sangat cocok untuk budidaya komoditas kacang tanah, penggunaan lahan hanya untuk budidaya monokultur kacang tanah, akan tetapi sejarah penggunaan lahan sebelumnya yaitu digunakan untuk budidaya tanaman jagung dan padi.

5.2.2 Penyiapan

Penyiapan lahan untuk kegiatan budidaya kacang tanah dilakukan dengan melakukan pembajakan., pembajakan bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, mengendalikan populasi gulma, serta untuk menciptakan keadaan tanah yang mendukung pertumbuhan dari kacang tanah karena kacang tanah adalah suatu tanaman yang menghendaki tanah yang gembur guna memudahkannya dalam pembentukan biji dalam tanah. Pembajakan menggunakan alat modern yaitu traktor dengan menggunakan jasa dari satu tenaga kerja dengan biaya mencapai Rp 400.000 yaitu termasuk ke dalam biaya penyewaan traktor dan biaya jasa pengolahan tanah.

(11)

210.000. Tanaman kacang tanah adalah komoditas yang tidak bisa hidup dalam kondisi yang tergenang, sehingga ia membutuhkan guludan untuk dapat tumbuh dengan baik serta mempermudah pada saat pemanenan. Pembuatan guludan dilakukan dengan mencangkul tanah sesuai dengan batas garis dan membuatnya menjadi petakan yang lebih kecil. Dalam kegiatan pembuatan guludan ini, dilakukan selama 2 hari dengan tenaga kerja sebanyak 12 orang dengan biaya Rp 840.000.

5.2.3 Pemupukan

Pemupukan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menambah kandungan unsur hara yang ada dalam tanah yang telah hilang karena diserap oleh tanaman. Berdasarkan kandungannya, pupuk dibagi menjadi pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-bahan alam, sedangkan pupuk anorganik adalah pupuk yang dihasilkan oleh pabrik melalui suatu teknologi tertentu. Dalam melakukan kegiatan pemupukan, hendaknya memperhatikan 5T, yaitu tepat cara, tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran dan tepat tempat.

Berdasarkan hasil wawancara, petani hanya memupuk menggunakan SP-36 pada saat pengolahan tanah atau ketika pada saat sebelum ditanam dengan dosisi 150kg/ha dengan biaya pupuk sebanyak Rp 345.000. Pemupukan SP-36 mampu memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif, memperkuat pertumbuhan akar serta merangsang pembentukan bunga dan biji secara lebih cepat. Petani enggan menggunakan pupuk yang lainnya, karena menurutnya itu akan sia-sia, karena jika hanya daunnya saja yang tumbuh dengan rimbun, maka bagian bijinya akan tumbuh lebih sedikit, jadi petani membutuhkan pupuk yang mampu memperbanyak jumlah akar dan memperbanyak pembentukan buah.

5.2.4 Irigasi

(12)

hujan, relief lahan serta topografi lahan. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, irigasi yang digunakan oleh petani tersebut yaitu irigasi alur, air yang didapatkan berasal dari sungai yang ada disebelah lahan. Air dialirkan melalui sebuah lubang sehingga akan masuk ke dalam lahan dan membasahi tanah yang ada di lahan tersebut. Pengairan dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat tanaman baru pertama kali ditanam dan pada saat memasuki fase generatif. Pada saat sekali pengairan biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 100.000, jadi total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 300.000.

5.3 Pelaksanaan Manajemen Usahatani Komoditas Kacang Tanah dalam Aspek Hama dan Penyakit Tanaman

5.3.1 Proses Budidaya

Persiapan lahan dilakukan dengan kegiatan pengolahan tanah yang dilakukan dengan menggunakan traktor, pengolahan tanah dilakukan dengan membajak tanah hingga gembur sehingga mempermudah kacang tanah dalam membentuk biji dan perkembangan akarnya. Pembuatan guludan dilakukan setelah dilakukan pengolahan tanah, tujuan dari pembuatan guludan yaitu agar memudahkan pemanenan serta menjaga agar tanaman tidak tergenang air pada saat hujan. Penyaiangan dilakukan pada saat pengolahan tanah dengan membuang gulma yang mengganggu, sehingga diharapkan pada saat budidaya sudah tidak ada lagi gulma yang tumbuh dan mengganggu tanaman utama.

(13)

5.3.2 Pemilihan Benih atau Bibit

Petani menggunakan benih yang bervarietas lokal yang memiliki hasil yang besar pada setiap kali tanam. Benih yang dipilih harus bersih dari serangan hama/penyakit sehingga tidak akan menyebar pada saat di lahan ketika dilakukan penanaman. Benih yang dipilih harus mudah disiram, karena pada dasarnya biji dari kacang tanah sudah sangat mudah dalam melakukan proses imbibisi atau proses penyerapan air. Benih yang dipilih harus memiliki daya kecambah yang tinggi, sehingga ketika di lahan akan segera cepat mengetahui pertumbuhannya dan semakin cepat maka panennya akan semakin cepat juga serta pertumbuahnnya akan seragam. Sebelum ditanam, benih terlebih dahulu harus disimpan dalam gudang untuk menghindari adanya serangan dari tikus. Benih yang digunakan harus memiliki harga yang terjangkau oleh petani, jika harga benih yang terlalu mahal maka petani enggan menggunakan benih tersebut karena jika tidak tumbuh di lahan akan dapat menyebabkan kerugian. Benih yang baik harus tenggelam pada saat direndam, hal tersebut membuktikan bahwa benih tersebut bernas dan tidak hampa. Benih harus murni dan tidak boleh tercampur dengan biji-bijian yang lainnya. Petani kacang tanah tidak perlu membuat persemaian karena petani sudah dapat langsung menanam benih ke lahan, sehingga tidak ada kegiatan pemindahan bibit ke lahan.

5.3.3 Pengendalian Hama dan Penyakit

(14)

Pengendalian yang dilakukan hanya secara kimiawi, itupun hanya akan dilakukan jika terliahat gejala serangan di lahan. Ketika pada saat mengunjungi lahan dan menemui adanya hama, maka dilakukan penghancuran dengan tangan. Tidak ada perlakuan mekanis seperti penggunaan jaringa atau paranet, perangkap, perlakuan panas, penggunaan lampu perangkap serta penggunaan gelombang suara. Hanya akan dilakukan pengendalian kimiawi menggunakan Dithane M-45 untuk mengendalikan bercak daun Cercospora dan dilakukannya pengendalian ketika sudah terlihat gejala serangan di lahan.

Penggunaan varietas unggul yang tahan akan serangan hama dan penyakit akan menguntungkan petani, akan tetapi tidak dilakukan program pemberantasan dan penekanan. Penggunaan pestisida hanya akan dilakukan jika serangan OPT menyebabkan kerugian secara ekonomis. Tidak dilakukan kegiatan seperti monitoring kegiatan OPT, pemanfaatan musuh alami serta penggunaan pestisida botani. Aplikasi bahan pengendali OPT telah dilakukan secara tepat waktu, tepat dosis dan tepat cara. Petani belum mengetahui tentang teknik PHT dan ambang ekonomi, jadi mereka hanya akan melakukan pengendalian secara kimiawi jika terlihat gejala di lahan.

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

(15)

ketinggian 255 mdpl yang terletak pada koordinat 8º04’46,6” S dan 113º45’38,0”.

2. Perencanaan produksi yaitu menggunakan benih varietas lokal, pupuk SP36 dosis 150kg/ha, pestisida Dithane 500ml/ha, serta penanaman dimulai pada bulan Agustus dan dapat dipanen pada bulan November. Teknologi yang digunakan yaitu teknologi konvensional, akan tetapi sudah mengggunakan teknologi mekanisasi traktor. Perencaanaan pemasaran dengan langsung dijual ke tengkulak dan harganya sudah ditentukan sesuai harga pasar.

3. Pelaksanaan dilakukan dengan kegiatan budidaya on farm di lahan, seperti pengolahan lahan, penyiangan, pembuatan galengan, pemupukan, penanaman, pengairan serta pemanenan.

4. Pengawasan produksi dilakukan guna memastikan benih yang digunakan unggul, pupuknya sesuai dengan yang dibutuhkan. Pengawasan sumber daya manusia dilakukan untuk memastikan bahwa tenaga kerja tersebut akan mampu bekerja sesuai dengan keahliannya. Pengawasan teknologi dilakukan untuk memastikan apakah pola tanam yang digunakan cocok diterapkan. 5. Jumlah total produksi yang didapatkan mencapai 2700/kg/ musim dengan

harga jual mencapai Rp 7000, sehingga penerimaan total mencapai Rp 18.900.000. Akan tetapi, pendapatan bersihnya yaitu sekitar Rp 15.215.000 karena harus dikurangi penerimaan total dengan biaya total.

6. Tenaga kerja berasal dari luar keluarga dengan rata-rata pria, pemasaran dilakukan oleh tengkulak yang langsung datang ke lahan untuk membeli kacang tanah berat kering lahan.

7. Persiapan dilakukan dengan pengolahan tanah, penyiangan, pemberian pupuk, pembuatan guludan serta penanaman dan kemudian pemanenan. Pemupukan hanya dilakukan satu kali dengan pupuk SP-36 dosis 150kg/luasan lahan.

(16)

8.1 Saran

1. Proses perencanaan yang dilakukan oleh petani terkadang masih kurang, sehingga sering keteteran pada saat pelaksanaan dilahan karena ada beberapa hal yang dilakukan secara mendadak, sebaiknya petani juga merencanakannya jauh-jauh hari untuk menghindari agar hal tersebut tidak terulang.

2. Penggunaan pestisida kimiawi sudah dengan dosis yang baik, akan tetapi masih kurangnya penggunaan pestisida yang alami. Semoga tingkat penyuluhan petani tentang pentingnya pestisida nonkimiawi akan ada. 3. Penggunaan pupuk yang masih kurang karena hanya dilakukan pada awal

Gambar

Gambar 5.2 Alur pelaksanaan budidaya on farm  komoditas kacang tanah
Tabel 2. Penggunaan biaya tetap
Tabel 3 . Biaya total produksi (TC)

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan Hasil Belajar Membuat Pola Kemeja Di Atas Kain Ditinjau Dari Membuat Pola Di Atas Kain Sesuai Dengan Tanda Pola Dan Teknik Yang Digunakan Pada

Faktor utama atau yang sangat dominan dalam budidaya kacang hijau sebagai preferensi petani kooperator adalah adalah jarak tanam, pemupukan, cara penanaman, dan varietas..

Pola tanam yang telah diterapkan oleh petani responden telah mengikuti prinsip dalam melakukan teknik budidaya tanaman, yaitu lahan yang telah digunakan atau

Hasil kegiatan ini menunjukan teknologi katam terpadu yang diterapkan mampu mengembangkan pola tanam eksisting di tingkat petani dari pola tanam palawija – bera -

Jarak tanam pola intercropping padi dan cabe yang umumnya dilakukan oleh petani yaitu padi ditanam 2(dua) baris tanaman dengan jarak 25cm x 25cm untuk varietas padi

Kalender Tanam tersebut merupakan pedoman bagi Dinas Pertanian, penyuluh, dan petani dalam menetapkan pola dan waktu tanam yang tepat, sesuai dengan kondisi iklim di setiap

Strategi interaktif yang dilakukan oleh petani untuk mereduksi risiko lebih ditekankan pada penggunaan teknologi usahatani yang sesuai dengan rekomendasi diantaranya : (1) jarak

Penyulaman (Blanking) adalah kegiatan penanaman kembali bagian-bagian yang kosong bekas tanaman yang mati /diduga akan mati atau rusak sehingga terpenuhi jumlah tanam normal dalam