Hubungan antara faktor kepuasan kerja dengan kinerja penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo

110  10 

Teks penuh

(1)

A B STR AK

Fad hil ah Jul ind a P utri. H 04040 41. HUB UNG AN ANTAR A FAKTOR KEPUA SAN KER JA DENG A N KIN ERJ A PENYULU H PER TAN IAN DI KA B UPATEN SU KOHAR JO. Fak ult as P ertan ian U niv ersitas Sebel as Maret Surak art a. Dib awah bimbingan Dr. Ir. K usnandar, Msi dan D. P admaningrum, SP . Msi. K epuas an kerja sebag ai hasil kesel uruhan dari deraj at ras a suka at au tidak sukan ya tenaga kerja terh adap berb agai aspek pekerj aany a. Den gan kata lain kepuasan mencerminkan sikap ten aga k erja terhadap pekerj aanya. Pen yuluh sebagai tenaga kerja akan memil iki ting kat kepuasan kerja yang berbeda-b eda ses uai dengan sistem nilai yang berl ak u pada dirin ya. Semak in banyak as pek-as pek yang ses uai dengan keinginan penyuluh ters ebut, maka s emakin tinggi tingkat kepuasan kerja y ang dirasakan nya, dan sebal ikny a.

Secara nyata seri ng diasumsikan bahw a para penyuluh yang mempero leh kepuasan kerja tinggi akan mel aksanak an pek erjaan dengan baik. Pemenuhan kebutuhan penyuluh , bai k yan g bersifat psikol ogik , sos ial, fisik dan finansial sebag ai fak tor kepuasan kerja seb aikny a men jadi perhatian utama d engan harapan dengan kepuasan kerj a yan g tinggi ak an berdampak positif terh adap kinerj a p enyulu h yang tinggi p ula, yang pad a ak hirnya akan berd ampak pada peningkatan produkti fitas kegiatan penyuluh an.

P en elitian ini bertu juan untu k men getah ui faktor kepuasan kerj a penyuluh, mengetah ui ki nerja penyuluh, dan men getah ui h ubun gan antara fak tor kepuas an kerja dengan kinerj a pen yulu h pert anian di Kabupaten Su koh arjo .

Metode dasar yan g digun akan dalam penel itian ini ad alah met ode diskripti f anal itis, d engan tek nik survey . P en entuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja

( purposive) den gan berd asark an pertimbangan-p ertimbangan tertentu yang disesuaiak an dengan tu juan penelitian. Peng ambilan sampel dilakuk an dengan men ggunakan teknik sampel gugus sederhan a ( simple cl uster samplin g) yai tu dengan men ggolongkan responden kedalam gugu s ( cluster) kecamat an berdas arkan produkti vitas padi. Dip ilih kecamatan yang mempunyai produktivitas padi tertingg i, sedang dan terend ah, sehingg a sampel yang diambil ad alah empat kecamatan yaitu K ecamatan Mojolaban, Baki, Taw angsari dan K artas ura, sehungga tot al sampel sebanyak 20 oran g. D ata yang digu nakan dal am penel itian ini adal ah dat a pri mer dan sekunder sedan gkan tek nik pengumpulan data dengan w aw an cara, observ as i dan pen cat at an. Untu k men getahui tingk at kepuas an kerj a dan tingkat kin erja penyulu h pert anian diukur dengan menggun akan rumus interv al (I) dan untuk mengetah ui derajat hubungan an tara kepuasan kerj a dan kinerj a penyuluh p ertan ian digun akan uji korel asi Rank Sperman (rs).

H as il p enel itian men unju kkan terd apat hubu ngan yang pos itif dan signifikan antara kep uasan kerja pada as pek psikologis, sosial, fisik d an finansial dengan kin erja penyuluh pertanian

Kata kunci : Kepuasan Kerj a d an Kinerja P enyuluh Pertanian

1). Mahas iswa Juru san/Program St udi Penyuluhan dan Komuni kasi P ert an ian Fakultas P ertan ian Univ ersitas Seb elas Maret Surakart a dengan NIM H 0404041. 2). P embimbin g U tama d engan NIP 1 9670 703 1 992 03 1 0 04

(2)

R ELA TION B ETW EEN W OR K SATISFACTORY FACTOR WITH THE W OR K OF AG RIC ULTURAL EXTENSI ON IN

SUKOHA RJO Fadhilah Julinda Putri1

Dr. Ir. Kusnandar, Msi2, D. Pada mni ngrum, SP, MSi 3 AB STRA K

Fadh ilah Jul inda P utri. H 040 4041 . R ELA TION BETW EEN WORK SATI SFACTORY FACTOR WI TH THE WO RK OF A G RIC ULTUR AL EXTENSI ON IN SUKOHA RJO. Facul ty of ag ricu lture Seb elas Maret U nivers ity. Under the guidance of Dr. Ir. Kusnandar, MSi an d D. Pad maningrum, SP . MSi.

W ork sat isfact ion as the total res ult of joy an d hat e lev el of the w orker to vari ous aspect of his or her job. In other w ords, sati sfaction reflect s atti tude of w orker toward his or her job.E xten sio n agen t as work er w ill have different level of w ork satisfaction according to t he s ystem of value that prev ails in his or her self. More as pects that suit with t he desire of the extension agen t, the higher level of work sat isfact ion that wil l be fel t, vice versa.

In real ity , it is preferabl y assumed that extension worker who gets higher l evel of w ork satisfaction w ill do his or her job w ell. It is better to make fulfil lmen t of psycholo gical, soci al, phys ical , and financial need of the extension ag ent as w ork satisfaction fact or so that he h igh work satisfaction w ill give positi ve effect to the high work of extension agen t as well. This conditi on final ly w ill give effect in in creas ing productivity o f extensi on activit y.

This research is ai med to know the work satisfact ion facto r o f extens ion ag ent, the work of extensi on ag ent, and the relation bet w een work sati sfact ion factor with the work of ag ricu ltural extensi on in Sukoharj o.

Basi c met hodo logy that is used in this methodology is analytical met hodology, usin g survey technique. Determinat ion of the res earch location is chosen purposi vel y by cert ai n considerations which is suited with research purpose. The sample is tak en using simple clusteri ng sampling by cat egorizing respondents into some cl usters of sub district based on ri ce p lant productivity. The ch osen sub districts are the sub dist ri ct which has the highest, middle, and the lowes t rice plant product ivity. The four ch osen district s are Mojolaban , baki, Tawang Sari, an d Kart asura, with 20 peo ple as total sample. D ata used in th is research are p rimary an d secondary data while the techniques of co llect ing d ata are interv iew , obs ervat ion, and record. To kno w the lev el of work sat isfact ion and agri cu ltu ral extension w ork, the formula of internal (I) i s used. To kn ow th e level of relat ion b etween work sat isfaction and agricultu ral extension work , Ran k Sperman (rs) correlation tes t is u sed.

Research result shows that there is positive and signi fican t rel at ion betw een work sati sfact ion with psycholog ical , soci al , physical , an d financi al w ith th e work of agri cu ltu ral extension.

Key words : W ork Sat isfact ory, Work of Agricu ltu ral Extens ion

1). Mahas iswa Juru san/Program St udi Penyuluhan dan Komuni kasi P ert an ian Fakultas P ertan ian Univ ersitas Seb elas Maret Surakart a dengan NIM H 0404041. 2). P embimbin g U tama d engan NIP 1 9670 703 1 992 03 1 0 04

(3)

1

A. Latar Bel akan g

Pembangunan pert anian adalah proses unt uk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tani. Di Indonesia pembangunan pert anian merupakan bagian terpenting dari pembangunan nasional karena sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan kehidupannya dari sekt or pertanian. Untuk itu diperlukan sum berdaya manusia yang berkualitas di dalam pembangunan pert anian.

Dalam rangka meningkatkan peran sekt or pert anian dalam program pem bangunan nasional, pet ani sebagai pelaku utam a dituntut untuk mengem bangkan usahatani yang produkt if, mengunt ungkan dan m andiri, oleh karena itu diperlukan petani yang berkualitas, andal dan serta berkem ampuan manajerial, kewirausahaan dan organisasi bisnis. Petani diharapkan mampu membangun usahatani yang berdaya saing tinggi, dan m am pu berperan dalam melestarikan lingkungan hidup sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Penyuluh pert anian sebagai ujung tom bak pembangunan pertanian diharapkan dapat mengarahkan pem bangunan pert anian di lapangan dengan mendorong pelaku utama pembangunan pertanian (pet ani dan pelaku usaha pert anian lainnya) untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarganya. Penyuluh pertanian adalah pegawai negeri sipil yang (PNS) yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang oleh satuan organisasi lingkup pertanian unt uk melakukan kegiatan penyuluhan (Dept an, 2007)

(4)

2

individu m aupun secara keseluruhan yang m enjadi sasaran dari kegiatan penyuluhan tersebut ( Nasution, 1990).

Menurut Mardikanto (1993) penyuluhan pertanian adalah salah satu usaha untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya, agar mereka mengetahui dan m empunyai kem am puan sert a mam pu m em ecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya

Suatu kegiatan penyuluhan agar berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan sesuai yang diharapkan m aka perlu diperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang m engakibatkan kesenangan bagi penyuluh sehingga penyuluh akan m endapat kan kepuasan kerja. Dengan terpenuhi fakt or-faktor yang menim bulkan kepuasan kerja m aka akan mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja penyuluh.

Dem ikian pula halnya dengan penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo, sebagai wilayah agraris dengan sekt or pert anian tanam an pangan yang sedang bergerak ke industri dan perdagangan sektor pert anian menjadi sekt or yang dominan dan diharapkan dapat tampil sebagai sekt or andalan dalam pem bangunan yang dilakukan di Kabupaten Sukoharjo.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo, dalam pelaksanaan pem bangunan bidang pert anian tahun 2007 Kabupaten Sukoharjo telah meraih berbagai prestasi dan penghargaan di tingkat propinsi Jawa Tengah dan Nasional, ant ara lain : Juara II Kelom pok Tani Berprestasi Dalam Agribisnis T anaman Padi di Tingkat Propinsi Jawa Tengah T ahun 2007 unt uk Kelompok Tani Ngudi Mulyo Desa Karangwuni Kecamatan Polokarto, Penghargaan Petani Berprestasi di Bidang Agribisnis Padi unt uk 5(lima) orang Petani, Penghargaan Penyuluh Pertanian Berprestasi dari Tingkat Pusat unt uk 1 (orang) Penyuluh Pertanian Di Tingkat Kabupat en, Penghargaan Kelompok Pengem bang Agensia Hayati Provinsi Jawa Tengah untuk KWT Putri Mandiri Desa Jagan Kecam atan Bendosari

(5)

melaksanakan tugasnya. Hal ini mem buktikan kinerja yang baik sangat pent ing dalam pelaksanaan tugas dan kinerja yang baik akan diperoleh jika penyuluh mem peroleh kepuasan kerja, sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap kepuasan kerja dan hubungannya terhadap kinerja penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo agar dapat diketahui fakt or-fakt or yang dapat mem pengaruhi penyuluh untuk m encapai kepuasan kerja dan fakt or-fakt or yang dapat mendukung pencapaian kinerja.

B. Perum usan Masalah

Howell dan Diphoye dalam Munandar (2001) memandang kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek pekerjaanya. Dengan kata lain kepuasan mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaanya.

Penyuluh sebagai tenaga kerja akan memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Sem akin banyak aspek-aspek yang sesuai dengan keinginan penyuluh tersebut, m aka semakin tinggi tingkat kepuasan kerja yang dirasakannya, dan sebaliknya. Kepuasan kerja sangat berhubungan dengan organisasi, dalam hal ini penyuluh dalam melaksanakan tugas bernaung dalam sebuah organisasi penyuluhan.

Organisasi penyuluhan pertanian m asa depan adalah organisasi yang tetap m em pert ahankan penyuluhan pert anian sebagai sistem pendidikan bagi petani dan keluarganya, yang terpisah dari sistem pengaturan dan pelayanan teknis, sehingga dapat dikem bangkan m enjadi institusi atau organisasi yang mampu secara opt imal m em fasilitasi proses belajar dan proses pengem bangan sum berdaya m anusia di daerah yang berkualitas (Martaamidjaya, 1999).

(6)

4

mengembangkan profesionalisme m ereka, sehingga hal ini akan berdam pak positif terhadap kepuasan kerja penyuluh.

Secara nyata sering diasumsikan bahwa para penyuluh yang memperoleh kepuasan kerja tinggi akan melaksanakan pekerjaan dengan baik. Pemenuhan kebutuhan penyuluh, baik yang bersifat psikologik, sosial, fisik dan finansial sebagai fakt or kepuasan kerja sebaiknya m enjadi perhatian utama dengan harapan dengan kepuasan kerja yang tinggi akan berdam pak positif terhadap kinerja penyuluh yang tinggi pula, yang pada akhirnya akan berdam pak pada peningkatan produkt ifitas kegiatan penyuluhan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaim ana faktor kepuasan kerja penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo ?

2. Bagaim ana kinerja penyuluh pert anian di Kabupat en Sukoharjo ?

3. Bagaim ana hubungan ant ara faktor kepuasan kerja penyuluh pertanian dengan kinerjanya di Kabupaten Sukoharjo ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Unt uk mengetahui fakt or kepuasan kerja penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo

2. Unt uk mengetahui kinerja penyuluh pert anian di Kabupat en Sukoharjo. 3. Unt uk mengetahui hubungan antara fakt or kepuasan kerja penyuluh

pert anian dengan kinerjanya di Kabupaten Sukoharjo.

D. Kegunaan Penelitian

(7)

2. Bagi pemerint ah atau instansi, dari hasil penelitian ini dapat diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam m engambil kebijakan khususnya dalam kegiatan penyuluhan pertanian dan pembangunan secara keseluruhan.

(8)

6

II. LANDASAN TEO RI

A. Tinjauan Pustaka

1. Pembangunan Pertanian

Riyadi dalam Mardikanto (1997) menyat akan bahwa pembangunan adalah suatu usaha atau proses perubahan dem i tercapainya tingkat kesejaht eraan/m utu hidup suatu m asyarakat (dan individu-individu di dalamnya) yang berkehendak dan melaksanakan pem bangunan itu.

Menurut Tim mer dalam Mardikanto (1996) mengem ukakan pent ingnya kegiatan penyuluhan dalam proses pem bangunan baik sebagai “jembatan” dalam dunia ilmu dan pemerintah sebagai pintu kebijakan, dan juga jembatan ant ar dunia penelitian dengan praktek usaha tani yang dilakukan petani.

Pembangunan pertanian m erupakan perubahan dalam teknik produksi pertanian dan system usahatani m enuju situasi yang diinginkan, biasanya situasi yang memungkinkan petani dapat m emanfaatkan hasil-hasil penelitian pertanian dan berkurangnya pertanian pokok dan lebih berorientasi pasar (Van Den Ban dan Hawkins, 1996).

Sepanjang perjalanan sejarah pert um buhan bangsa-bangsa di dunia, baik yang sekarang telah m enjadi “negara m aju” m aupun yang masih tergolong sebagai negara yang terbelakang, atau yang sedang berkem bang, selalu pernah m enghadapi dilema dalam penentuan prioritas pem bangunan ekonom i nasionalnya, tentunya sulit untuk menentukan pem bangunan sekt or industri, atau pem bangunan sekt or pert anian yang harus diutamakan terlebih dahulu (Mardikant o, 1996)

(9)

a. Sebagian besar penduduk di negara dunia ket iga masih hidup di sektor pert anian atau m enggant ungkan kehidupannya dari kegiatan yang secara langsung atau tidak langsung memiliki kaitan dengan kegiatan sekt or pert anian.

b. Negara-negara dunia ket iga, pada umumnya masih menghadapi masalah pangan, baik untuk m asa sekarang maupun di masa-masa mendatang. Padahal masalah pangan bukan sekedar isi perut, tetapi juga mem iliki nilai ekonom i sebagai komoditi yang dapat diperdagangkan. Sebagai komoditi, pangan seringkali memiliki art i strat egis sebagai komoditi politik “(political com modity)”sepert i halnya minyak bumi. Karena itu, jika keberadaannya dalam suatu negara tidak cukup tersedia, masalah kekurangan pangan dapat mengganggu stabilitas dan ketahanan nasional, yang pada gilirannya akan m engham bat tercapainya tujuan pembangunan serta mengurangi mutu dari hasil pembangunan yang telah dan akan dapat dicapai. c. Dewasa ini, Negara-negara dunia ketiga tidak m ungkin dapat m engejar

ketertinggalannya unt uk dapat bersaing dengan negar-negara maju untuk m enghasilkan produk-produk industri di pasar int ernasional. d. Ketegaran sekt or pert anian dalam m enghadapai gejolak perekonom ian

dunia dibanding dengan sektor-sektor lainnya.

e. Besarnya sum bangan sector pertanian bagi pembangunan sector industri (penyedia bahan baku, penyedia tenaga kerja m urah, penyedia modal maupun konsumen produknya)terutama di awal pembangunan sekt or industri (Mardikant o, 1996)

(10)

8

2. Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan m erupakan keterlibatan seseorang unt uk melakukan kom unikasi inform asi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya,

memberi pendapat sehingga bisa m embuat keputusan yang benar (Van Den Ban dan Hawkins, 1996).

Penyuluhan m engandung usaha m enyebarluaskan hal-hal baru (paling tidak, dianggap atau dirasakan baru) agar masyarakat berm inat dan bersedia m elaksanakannya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dalam hal penyuluhan pertanian misalnya, dim ulai dari m engajak dan m em bim bing petani untuk m elaksanakan cara bert ani yang m odern. Selanjutnya, pet ani yang berhasil disuluh kemudian menerapkan penyuluhan tersebut dalam hidup m ereka sehari-hari (Nasution, 1990).

Art i penyuluhan pertanian adalah salah satu usaha untuk m engubah perilaku pet ani dan keluarganya, agar mereka m engetahui dan mempunyai kem am puan serta mampu m em ecahkan m asalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya (Mardikanto. 1993)

Penyuluhan pertanian adalah proses perubahan sosial, ekonomi dan politik unt uk memberdayakan dan mem perkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar bersama yang partisipatif, agar terjadi perubahan perilaku pada diri sem ua stakeholders (individu, kelom pok, kelem bagaan) yang terlibat dalam proses pem bangunan, demi terwujudnya kehidupan yang semakin berdaya, m andiri dan partisipatif yang sem akin sejaht era secara berkelanjutan (Mardikanto, 2001).

(11)

3. Penyuluh Pert anian

Menurut Abbas (1997) penyuluh pert anian m erupakan aparatur pert anian yang berfungsi sebagai pendidik non formal pada masyarakat tani-nelayan pedesaan. Penyuluh dapat menampilkan dirinya sebagai penasihat, komunikator dan motivator dalam rangka proses alih ilmu dan tekhnologi, pembinaan ketrampilan sert a pembent ukan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai dasar dan kebutuhan m asyarakat dinamik yang membangun.

Menurut Kart asapoetra (1991) penyuluh pert anian adalah orang yang m engem ban tugas mem berikan dorongan kepada para petani agar mau m engubah cara berpikir, cara bekerja dan cara hidupnya yang lama dengan cara-cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi pert anian yang lebih m aju.

Jabatan fungsional penyuluh pert anian, terdiri dari penyuluh pert anian terampil dan penyuluh pert anian ahli. Penyuluh peratanian terampil adalah pejabat fungsional yang dalam pelaksanaan pekerjaannya mempergunakan prosedur dan teknik kerja tertent u, sedangkan penyuluh pert anian ahli adalah pejabat fungsional yang dalam pelaksanaan pekerjaannya didasarkan atas disiplin ilmu pengetaahuan, metodologi dan teknik analisis tert entu (Deptan, 2008)

Tugas pokok penyuluh pertanian adalah m elakukan kegiatan persiapan penyuluhan pert anian, pelaksanaan penyuluhan pertanian, evaluasi dan pelaporan, serta pengembangan penyuluhan pertanian (Deptan, 2008)

Seorang penyuluh pert anian dalam kegiatan tugasnya yang diem ban m empunyai tiga peranan yang erat, yaitu :

(12)

10

b. Berperan sebagai pem impin, yang dapat membimbing dan memotivasi para pet ani agar m au merubah cara berpikir, cara kerjanya agar t imbul keterbukaan dan mau menerapkan cara-cara bertani baru yang lebih berdaya guna dan berhasil guna sehingga tingkat hidupnya akan lebih sejahtera.

c. Berperan sebagai penasihat , yang dapat melayani. Memberi petunjuk-petunjuk dan membantu pet ani baik dalam bent uk peragaan atau memberikan contoh-contoh kerja dalam usahatani dalam m em ecahkan segala masalah yang dihadapi para petani (Kartasapoetra, 1991)

4. Kepuasan Kerja

Handoko (2000) m engemukakan bahwa kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan em osional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana para karyawan m emandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja m encerm inkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini nam pak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.

Pengert ian kepuasan kerja yang lebih luas menyangkut sikap seseorang mengenai pekerjaannya. Karena menyangkut sikap, pengert ian kepuasan kerja mencakup berbagai hal seperti kognisi, em osi dan kecenderungan perilaku seseorang (Indrawijaya, 1983). Disini mengandung m aksud bahwa kepuasan kerja m enyangkut sikap dan juga perasaan seseorang, bila seseorang merasa puas, maka dalam bekerja seseorang itu akan bersem angat dalam m elakukan pekerjaannya.

Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (1993) faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu fakt or yang terdapat dalam diri pegawai dan faktor pekerjaannya.

(13)

b. Fakt or pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, strukt ur organisasi, pangkat (golongan), kedudukan, m utu pengawasan, jaminan financial, kesempatan promosi jabatan, interaksi soaial dan hubungan kerja.

Pendapat yang lain dikemukakan oleh Ghisseli & Brown (1950) dalam As’ad (1995) mengemukakan adanya lima faktor yang menim bulkan kepuasan kerja, yaitu :

a. Kedudukan (posisi)

Um umnya manusia beranggapan bahwa seseorang yang bekerja pada pekerjaan yang lebih tinggi akan m erasa lebih puas daripada mereka yang bekerja pada pekerjaan yang lebih rendah. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut tidak selalu benar, tetapi justru perubahan dalam tingkat pekerjaanlah yang mem epengaruhi kepuasan kerja.

b. Pangkat (golongan)

Pada pekerjaan yang mendasarkan perbedaan tingkat (golongan) sehingga pekerjaan tersebut m emberikan kedudukan tert ent u pada orang yang m elakukannya. Apabila ada kenaikan upah, m aka sedikit banyaknya akan dianggap sebagai kenaikan pangkat, dan kebanggaan terhadap kedudukan yang baru itu akan merubah perilaku dan perasaannya.

c. Um ur

Dinyatakan bahwa ada hubungan ant ara kepuasan kerja dengan umur karyawan. Um ur diant ara 35 tahun sampai 34 tahun dan umur 40 sam pai 45 tahun adalah umur-umur yang bisa menim bulkan perasaan kurang puas terhadap pekerjaan.

d. Jam inan finansial dan jam inan sosial

Jam inan finansial dan jaminan sosial kebanyakan berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

e. Mutu pengawasan

(14)

12

dapat ditingkat kan m elaui perhatian dan hubungan yang baik dari pim pinan kepada bawahan, sehingga karyawan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang pent ing dari organisasi kerja (sense of belonging).

Strauss dan Sayles dalam Shobaruddin (1992) mengungkapkan kepuasan kerja pent ing unt uk akt ualisasi diri. Karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kem atangan psikologis dan pada gilirannya akan menjadi frustasi, sehingga sering melamun, sem angat kerja rendah, cepat lelah dan bosan, emosi tidak stabil, sering absen dan m elakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan, sedangkan karyawan yang mendapat kepuasan kerja biasanya m empunyai catatan kehadiran dan perputaran yang baik, kurang akt if dalam kegiatan serikat karyawan dan kadang-kadang berprestasi kerja lenih baik daripada karyawan yang tidak mempunyai kepuasan kerja, oleh karena itu kepuasan kerja mempunyai arti penting yaitu untuk m enciptakan kondisi atau keadaan positif di lingkungan kerja

Ada 3 dimensi kepuasan kerja, yaitu :

a. Kepuasan kerja adalah suatu em osi yang m erupakan respon terhadap situasi kerja. Hal ini tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat diduga, atau hal ini tidak dapat dinyatakan tetapi akan tercermin dari sikap karyawan.

b. Kepuasan kerja dinyat akan dengan problem a hasil yang sesuai, atau bahkan melebihi yang diharapkan, misalnya seseorang bekerja sebaik yang m am pu dilakukan karyawan dan berharap mendapat imbalan atau penghargaan yang sepadan dan kenyataan oleh perusahaan, ia mendapat gaji yang sesuai harapannya dan oleh atasanya ia m endapat pujian karena prestasinya itu, m aka karyawan ini merasa puas dalam bekerja.

(15)

terhadap perusahaan, bekerja dengan baik, terakreditasi tinggi pada perusahaan, tert ib dan memat uhi peraturan yang ditetapkan dan sikap-sikap lain yang bersifat positif (Luthans, 1998)

Menurut As’ad (1995) terdapat empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu:

a. Fakt or psikologik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan yang m eliputi m inat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan ketrampilan.

b. Fakt or sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi soaial, baik sesaama karyawan, dengan atasannya maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaanya.

c. Fakt or fisik, m erupakn faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, m elliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan wakt u istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.

d. Fakt or finansial, merupakan fakt or yang berhubungan dengan jam inan sert a kesejahteraan karyawan yang m eliputi sistem dan besarnya gaji, jam inan sosial, m acam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan., promosi dan sebagainya.

Menurut Wexley dan Yukl dalam As’ad (1995) memaham i teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal yaitu : a. Discrepancy Theory ( t eori perbedaan)

(16)

14

ada perbedaan antara yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan, karena batas m inimum yang diinginkan telah terpenuhi. b. Equity Theory ( teori keseimbangan)

Prinsip dari teori ini adalah bahwa orang akan meras puas atau tidak puas, tergant ung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas situasi. Adapun komponen dari teori ini adalah input, outcom es, com parison person, dan equity-inequity. Yang dim aksud dengan input

adalah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sum bangan terhadap pekerjaan. Outcom e adalah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai “hasil” dari pekerjaannya.

Com parison persons dapat berupa seseorang di perusahaan yang sama atau di tem pat yang lain, atau bisa pula dengan dirinya sendiri di m asa lam pau.

Menurut teori ini, setiap karyawan akan membandingkan ratio

input-outcom es dirinya dengan input-outcom es orang lain (com parison persons). Bila perbandingan itu dianggapnya cukup adil (equity), m aka ia akan m erasa puas. Bila perbandingan itu tidak seim bang tetapi mengunt ungkan (over com pensation inequity), bisa m enimbulkan kepuasan tetapi bisa pula tidak. T etapi bila perbandingan itu tidak seim bang dan merugikan, akan timbul ket idakpuasan.

c. Two Factors Theory (Teori dua factor)

Teori dua fakt or atau disebut juga teori hygiene-m otivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dalam Munandar (2001). Ia tem ukan bahwa fakt or-faktor yang menim bulkan kepuasan kerja berbeda dengan fakt fakt or yang m enimbulkan ket idakpuasan kerja. Fakt or-fakt or yang m enimbulkan kepuasan kerja, yang ia namakan or-faktor motivator, m encakup faktor-faktor yang berkaitan dengan isi dari pekerjaan, yang merupakan faktor int rinsik dari pekerjaan yaitu : 1) Tanggung jawab (responsibility), besar kecilnya tanggung jawab

(17)

2) Kem ajuan (advancem ent), besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja dapat maju dalam pekerjaannya.

3) Pekerjaan itu sendiri, besar kecilnya tant angan yang dirasakan tenaga kerja dari pekerjaannya.

4) Capaian (achievem ent), besar kecilnya kem ungkinan tenaga kerja mencapai prestasi kerja yang tinggi.

5) Pengakuan (recognition), besar kecilnya pengakuan yang diberikan tenaga kerja at as unjuk kerjanya.

Hadirnya faktor ini akan menim bulkan kepuasan, tetapi tidak hadirnya faktor ini tidaklah selalu mengakibatkan ket idakpuasan

Menurut Herzberg dalam Munandar (2001) kelom pok faktor yang lain yang m enim bulkan ketidakpuasan, berkaitan dengan konteks dari pekerjaan, dengan faktor-faktor ekstrensik dari pekerjaan, dan meliputi faktor-faktor :

1) Adm inistrasi dan kebijakan perusahaan, derajat kesesuaian yang dirasakan tenaga kerja dari sem ua kebijakan dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan.

2) Penyeliaan, derajat kewajaran penyeliaan yang dirasakan diterima oleh t enaga kerja

3) Gaji, derajat kewajaran gaji yang diterima sebagai im balan unjuk kerjanya.

4) Hubungan antar pribadi, derajat kesesuaian yang dirasakan dalam berinteraksi dengan tenaga kerja lainnya.

5) Kondisi kerja, derajat kesesuaian kondisi kerja dengan proses pelaksaan tugas pekerjaannya.

Perbaikan terhadap kondisi atau situasi ini akan mengurangi atau m enghilangkan ketidakpuasan, tetapi tidak akan m enimbulkan kepuasan karena ia bukan sum ber kepuasan kerja.

5. Kinerja dan Kinerja Penyuluh Pertanian

(18)

16

seberapa banyak mereka m em beri kontribusi kepada organisasi yang antara lain adalah kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran di tem pat kerja dan sikap koooperatif (Sadeli dan Prawira, 2002)

Menurut Prawirosentono (1999) kinerja atau perform ance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelom pok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing dalam rangka upaya m encapai tujuan utam a organisasi bersangkutan secara legal, tidak m elanggar hukum dan sesuai dengan moral m aupun etika.

Mangkunegara (2002) mengem ukakan bahwa istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual pereform ance (prestasi kerja/prestasi kerja sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Pengert ian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam m elaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.

Rahmanto (1997) menyebutkan kinerja atau prestasi kerja sebagai tingkat pelaksanaan tugas yang bisa dicapai oleh seseorang, unit atau divisi dengan menggunakan kem am puan yang ada dan batasan-batasan yang telah ditetapkan untuk m encapai t ujuan perusahaan

Donelly dalam Rivai (2003) mendefinisikan kinerja sebagai tingkat keberhasilan dalam m elaksanakan tugas sert a kemampuan untuk m encapai tujuan yang telah ditetapkan, sehingga kinerja dikatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik.

Kinerja penyuluh pertanian m erupakan cerminan kecakapan seorang penyuluh pertanian dalam pelaksanaan tugas pokok yang diem bannya, yaitu m eliputi persiapan penyuluhan pert anian, pelaksanaan penyuluhan pertanian, evaluasi dan pelaporan, serta pengembangan penyuluhan pertanian (Deptan, 2008)

(19)

pelaporan, pengem bangan penyuluhan pert anian, pengem bangan profesi dan penunjang kegiatan penyuluhan pert anian (Dept an, 2008)

Menurut Schuller dan Hubber (1993) terdapat tiga kategori kriteria dalam penilaian kinerja, yaitu :

a) Trait, terfokus pada karakteristik pribadi pegawai anatar lain, kem am puan berkomunikasi, kemam puan mem im pin dan kesetiaan. Penelitian ini dapat dilakukan dengan mudah, nam un hasilnya sering tidak valid, kaitan antara trait dan kinerja seringkali lemah akibat pengaruh faktor-faktor situasional.

b) Behaviour, kriteria ini m emfokuskan pada bagaimana suatu pekerjaan dilakukan sehingga proses perilaku karyawan dalam melakukan pekerjaan sangatlah penting untuk diperhatikan.

c) Outcom es, pendekatan ini memokuskan tent ang apa yang telah dicapai dan bukan pada cara atau proses menghasilkannya.

6. Hubungan Faktor Kepuasan Kerja dengan Kinerja a. Kepuasan kerja pada faktor psikologis dengan kinerja

Ketenangan bekerja dan ketenangan berusaha merupakan tujuan organisasi kerja, dan hal itu akan tercipta apabila di tempat kerja terdapat tata kehidupan dan pergaulan yang serasi, m ant ap dan dinamis. Hal tersebut dapat berjalan dengan baik bila setiap orang dapat mengem bangkan dan meningkatkan kem auan dan kem ampuan bert enggangrasa. Suasana serasi di tem pat kerja sangat mendukung peningkatan aktivitas kerja yang tinggi dari tenaga kerja sehingga diperoleh keadaan yang m em ungkinkan tenaga kerja m engem bangkan dan m eningkat kan kinerjanya unt uk mencapai hasil yang sesuai dengan harapan dari organisasi kerjanya (Kusum aatm aja et all, 1991). b. Kepuasan kerja pada faktor sosial dengan kinerja

(20)

18

bawahan, sehingga karyawan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang penting dari organisasi kerja (sense of belonging).

Perilaku atasan merupakan determ inan utama dari kepuasan. Um umnya studi m endapat kan kepuasan kerja karyawan ditingkat kan bila penyelia langsung bersifat ram ah dan dapat mem ahami, menawarkan pujian untuk kinerja yang baik, m endengarkan pendapat karyawan dan m enunjukkan suatu m inat pribadi kepada mereka. (Robbins, 1996).

c. Kepuasan kerja pada faktor fisik dengan kinerja

Banyak kemungkinan untuk m eningkatkan produktifitas atau hasil kerja/kinerja di perusahaan –perusahaan dan kant or-kantor jika saja dapat dilakukan pengaturan yang setepat-tepatnya wakt u-waktu istirahat para karyawan atau pegawai. T erutama bagi perusahaan-perusahaan yang m asih lemah, kurangnya kemampuan untuk mempeerbaharui alat-alat, perlengkapan kerja, tata kerja, personalia, memainkan faktor pemberian istirahat m ungkin sekali merupakan cara yang sangat m urah untuk meningkatkan produksi perusahaan (Hadi, 1974)

d. Kepuasan kerja pada faktor finansial dengan kinerja

Hulin dalam As’ad (1995) menyatakan bahwa seringkali cara-cara yang ditempuh pihak manajemen unt uk m eningkatkan produkt ivitas kerja karyawan dengan m enaikan gaji atau upah. Menurut pendapat mereka gaji merupakan faktor utama untuk mencapai kepuasan kerja.

B. Kerangka Berpikir

(21)

diperlukan sum berdaya manusia yang berkualitas di dalam pembangunan pert anian.

Penyuluh pert anian sebagai ujung tom bak pembangunan pertanian diharapkan dapat mengarahkan pem bangunan pert anian di lapangan dengan mendorong pelaku utama pembangunan pertanian (pet ani dan pelaku usaha pert anian lainnya) untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarganya.

Suatu kegiatan penyuluhan agar berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan sesuai yang diharapkan maka perlu diperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang m engakibatkan kesenangan bagi penyuluh sehingga penyuluh akan m endapatkan kepuasan kerja.

Kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek pekerjaanya. Pemenuhan kebutuhan penyuluh, baik yang bersifat psikologik, sosial, fisik dan finansial sebagai fakt or kepuasan kerja sebaiknya m enjadi perhatian utama dengan harapan dengan kepuasan kerja yang tinggi akan berdampak positif terhadap kinerja penyuluh yang tinggi pula, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan produktifitas kegiatan penyuluhan.

Kegiatan penyuluh pertanian m eliputi pendidikan, persiapan penyuluhan pertanian, pelaksanaan penyuluhan pertanian, evaluasi dan pelaporan, pengem bangan penyuluhan pert anian, pengem bangan profesi dan penunjang kegiatan penyuluhan pertanian (Deptan, 2008)

Dari uraian di atas m aka dapat dirumuskan dalam kerangka berpikir sebagai berikut :

Fakt or Kepuasan Kerja Kinerja penyuluh pert anian

Gam bar 1. Kerangka berpikir hubungan antara kepuasan kerja dengan kinerja penyuluh pertanian.

1. Aspek psikologis: 2. Aspek sosial 3. Aspek fisik 4. Aspek finansial

1. Pendidikan

2. Persiapan penyuluhan pertanian 3. Pelaksanaan penyuluhan pertanian 4. Evaluasi dan pelaporan

5. Pengembangan penyuluhan pertanian 6. Pengembangan profesi

(22)

20

C. Hi pote sis

Berdasarkan pada perumusan masalah, tujuan penelitian dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka diajukan hipotesis :

a. Hipotesis Mayor

Diduga ada hubungan yang positif dan signifikan ant ara tingkat kepuasan kerja dengan kinerja penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo.

b. Hipotesis Minor

• Diduga ada hubungan yang nyata antara kepuasan kerja pada aspek psikologik dengan kinerja penyuluh pert anian di Kabupat en Sukoharjo.

• Diduga ada hubungan yang nyata antara kepuasan kerja pada aspek

sosial dengan kinerja penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo.

• Diduga ada hubungan yang nyata antara kepuasan kerja pada aspek

fisik dengan kinerja penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo.

• Diduga ada hubungan yang nyata antara kepuasan kerja pada aspek

finansial dengan kinerja penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo.

D. Pembatasan Masalah

1. Penelitian ini dibatasi pada faktor-faktor yang m enentukan kepuasan kerja penyuluh pertanian meliputi aspek psikologis, sosial, fisik dan finansial 2. Penelitian ini dibatasi pada faktor-faktor yang m enentukan kinerja

penyuluh pert anian, m eliputi pendidikan, kegiatan persiapan penyuluhan pert anian, pelaksanaan penyuluhan pertanian, evaluasi dan pelaporan, pengem bangan penyuluhan pertanian, pengem bangan profesi dan penunjang tugas penyuluh pert anian

(23)

E. Defi nisi O perasional dan Pengukuran Vari abel

1. Definisi Operasional

a. Kepuasan kerja penyuluh pert anian

Kepuasan kerja penyuluh pert anian adalah keadaan emosional yang m enyenangkan atau tidak m enyenangkan dimana para penyuluh m emandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini nam pak dalam sikap positif penyuluh terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.

Aspek kepuasan kerja adalah aspek yang m enjadi sumber kepuasan kerja, dim ana hadirnya aspek ini akan m enimbulkan kepuasan bagi penyuluh pert anian. Kepuasan kerja sendiri terdiri dari

aspek psikologik, aspek sosial, aspek fisik dan aspek finansial

1) Aspek psikologik, m erupakan aspek yang berhubungan dengan kejiwaan penyuluh yang m eliputi kesesuaian minat dan bakat dengan pekerjaan, nilai pekerjaan, keteram pilan dan ketrentaman dalam kerja.

2) Aspek sosial, merupakan aspek yang berhubungan dengan interaksi sosial penyuluh yang m eliputi kem am puan bekerjasama dengan penyuluh lain, bantuan dari penyuluh lain dalam m engatasi kesulitan dalam pekerjaan, hubungan dengan penyuluh lain, ketersediaan waktu atasan dalam berkomunikasi dengan bawahan, pem berian motivasi oleh atasan kepada bawahan dan keterbukaan atasan kepada bawahanya.

(24)

22

4) Aspek finansial, merupakan aspek yang berhubungan dengan kesejaht eraan penyuluh yang meliputi besarnya gaji yang diterima, tunjangan dan kenaikan pangkat/golongan.

b. Kinerja Penyuluhan

Kinerja penyuluh pertanian m erupakan cerm inan kecakapan seorang penyuluh pertanian dalam pelaksanaan tugas pokok yang diem bannya.

1) Pendidikan adalah faktor yang berhubungan dengan pendidikan sekolah dan memperoleh ijazah/gelar, pendidikan dan pelatiha fungsional di bidang pertanian sert a mem peroleh surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan (ST TPP) atau sert ifikat, pendidikan dan pelatihan prajabatan

2) Kegiatan persiapan penyuluhan pert anian adalah kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh sebelum m elaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian yang meliputi identifikasi potensi wilayah, penyusunan rencana usaha petani Rencana Usaha Kelom pok (RUK), Rencana Kebutuhan Kelom pok (RKK)/ Rencana Kebutuhan Definitif Kelom pok (RDKK), Rencana Kebutuhan Desa (RKD), Rencana Kegiatan Penyuluhan Desa (RKPD)/ Program a Penyuluhan Desa (PPD), penyusunan program penyuluhan pertanian, dan penyusunan rencana kerja tahunan penyuluh pertanian.

3) Pelaksanaan penyuluhan pert anian adalah kegiatan penyuluh dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan pert anian yang meliputi penyusunan materi, perencanaan dan penerapan metode penyuluhan pert anian serta m enumbuhkan/m engem bangkan kelembagaan petani

(25)

5) Pengem bangan Penyuluhan pertanian adalah faktor yang berhubungan dengan penyusunan pedom an/juklak/juknus penyuluhan pertanian.

6) Pengem bangan profesi adalah fakt or yang berhubungan dengan pem buatan karya tulis ilmiah di bidang pertanian, penerjemahan/penyaduran buku dan bahan-bahan lain di bidang pert anian, dan pemberian konsultasi di bidang pert anian yang bersifat konsep kepada institusi dan atau perorangan.

7) Penunjang tugas penyuluh pert anian adalah faktor yang berhubungan dengan peran sert a dalam sem inar/lokakarya/konferensi, keanggot aan dalam tim penilai jabatan fungsional penyuluh pert anian, keanggot aan dalam dewan redaksi penerbitan di bidang pert anian, perolehan penghargaan/tanda jasa, pengajaran/pelatihan pada pendidikan dan pelatihan, keanggotaan dalam organisasi profesi dan perolehan gelar kesarjanaan lainnya.

2. Pengukuran variabel

Lam piran 6 (lihat di halam an 88-103)

Aspek kepuasan kerja adalah aspek yang menjadi sumber kepuasan kerja, dim ana hadirnya aspek ini akan menim bulkan kepuasan bagi penyuluh pert anian. Kepuasan kerja sendiri dipengaruhi oleh aspek

(26)

24

III. METO DE PENELITIAN

A. Metode Dasar Penelitian

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskript if analitis yaitu suatu penelitian yang m emusatkan permasalahan yang ada pada masa sekarang dan bertitik tolak pada data yang dikum pulkan, kem udian dianalisis dan disim pulkan dalam konteks teori-t eori hasil penelitian terdahulu (Surakhm ad, 1990).

Penelitian ini menggunakan teknik survai yakni penelitian dengan cara mengam bil sampel dari suatu populasi dan m enggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data dan menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel m elalui pengujian hipotesis (Singarimbun dan Effendi, 1995)

B. Metode Pe nentuan Lokasi Peneliti an

Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive)

dengan berdasarkan pert imbangan-pertimbangan tertentu yang disesuaiakan dengan tujuan penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1995) Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah Kabupaten Sukoharjo. Penentuan lokasi penelitian ini diambil dengan pertimbangan bahwa kegiatan penyuluhan di Kabupaten Sukoharjo masih aktif terbukti dengan banyaknya penyuluh yang berprestasi dan mendapatkan penghargaan sebagai penyuluh berprestasi serta banyaknya prestasi yang diraih Kabupaten Sukoharjo dalam bidang pert anian.

C. Metode Pe nentuan Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo yang berstatus PNS yang terdiri dari penyuluh pertanian ahli dan penyuluh pert anian terampil yang ditugaskan di wilayah kerja Kecamatan yaitu sebanyak 62 orang.

(27)

penyuluhan yang dilakukan penyuluh m elalui pembinaan terhadap kelom pok tani. Dipilih kecamatan yang m empunyai produktivitas padi tertinggi, sedang dan terendah, untuk angka produktivit as padi tert inggi di ambil dua kecam atan sehingga sample yang diam bil adalah empat kecamatan yaitu Kecam atan Mojolaban, Kecamatan Baki, Kecam atan Tawangsari dan Kecam atan Kart asura. Kem udian penyuluh pertanian yang bert ugas di Kecamatan tersebut diteliti sem ua.

Tabel 3.1 Data Produkt ivit as Padi dirinci per Kecam atan Kabupaten Sukoharjo Tahun 2007

No Kecamatan Produktivitas Padi (Kw/Ha)

1 Kecamatan W eru 68,44

2 Kecamatan Bulu 67,71

3 Kecamatan Tawangsari 68,06

4 Kecamatan Sukoharjo 69,18

5 Kecamatan Nguter 67,77

6 Kecamatan Bendosari 69,85

7 Kecamatan Polokarto 70,17

8 Kecamatan Mojolaban 71,31

9 Kecamatan Grogol 67,32

10 Kecamatan Baki 70,34

11 Kecamatan Gatak 69,22

12 Kecamatan Kartasura 67,24

Jumlah Tot al 69,24

Sum ber data : Dinas Pertanian Sukoharjo 2007

Tabel 3.2 Jumlah penyuluh berdasarkan penempatannya di Kabupaten Sukoharjo

No Wilayah Kerja Penyuluh Jumlah Penyuluh

1 Kecamatan W eru 4

2 Kecamatan Bulu 5

3 Kecamatan Tawangsari 5

4 Kecamatan Sukoharjo 6

5 Kecamatan Nguter 5

6 Kecamatan Bendosari 6

7 Kecamatan Polokarto 7

8 Kecamatan Mojolaban 7

9 Kecamatan Grogol 4

10 Kecamatan Baki 4

11 Kecamatan Gatak 5

12 Kecamatan Kartasura 4

Jumlah Total 62

(28)

26

Dengan demikian tot al sam pel yang diambil sebanyak 20 orang penyuluh pertanian yang tersebar di Kecam atan Mojolaban, Kecamatan Baki, Kecamatan Tawangsari dan Kecamatan Kart asura.

D. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Data Prim er, m erupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden yang terkait dengan penelitian ini, meliputi ident itas responden, faktor penentu kepuasan kerja dan kinerja penyuluh pert anian.

b. Data Sekunder, m erupakan data yang diperoleh dari hasil instansi atau suatu lembaga yang ada kaitannya dengan penelitian ini, m eliputi data dem ografi, keragaan penyuluh pert anian, kelem bagaan penyuluh pert anian.

E. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara

Yaitu cara pengumpulan data m elalui wawancara langsung dengan menggunakan daft ar pertanyaan yang telah disiapkan oleh peneliti.

b. Observasi

Yaitu teknik ini dilakukan dengan m engadakan pengam atan langsung terhadap obyek yang diam ati.

c. Pencatatan

Yaitu teknik pencatatan data yang diperlukan baik dari responden maupun dari instansi yang ada hubungannya dengan peneliti.

F. Metode Analisis Data

Unt uk mengetahui tingkat kepuasan kerja dan tingkat kinerja penyuluh pert anian diukur dengan menggunakan rumus int erval (I):

(29)

Unt uk mengetahui derajat hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja penyuluh pert anian digunakan uji korelasi Rank Sperman (rs). Menurut Siegel (1994) rum us korelasi jenjang Sperman sebagai berikut :

Dim ana :

Rs : Koefisien korelasi rank Spearman N : Jumlah responden

di : Selisih atau rangking dari variabel pengamatan

Tingkat signifikansi rs diuji dengan menggunakan uji t karena jumlah sam pel lebih dari 10 (N>10) dengan rum us sebagai berikut :

t = rs

Uji Kriteria :

a. Jika t hitung ≥ t tabel (α = 0,05) maka Ho ditolak berart i ada hubungan yang signifikan antara fakt or kepuasan kerja penyuluh pertanian dengan kinerjanya.

(30)

28

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

Bidang pert anian term asuk prioritas utama Kabupaten Sukoharjo. Dengan luas wilayah 46.666 ha yang diusahakan unt uk pert anian berupa sawah seluas 21.119 ha, tegal 5.179 ha, pekarangan 15.814 ha, perkebunan 759 ha, kolam 30 ha, karam ba 2.706 ha dan perairan umum 921,22 ha. Kabupaten Sukoharjo memiliki pot ensi yang cukup besar didalam pem bangunan pert anian yang meliputi tanam an pangan dan hortikultura perkebunan, peternakan dan perikanan.

Adapun batas wilayah Kabupat en Sukoharjo adalah sebagai berikut : 1) Sebelah Utara : Kota Surakart a dan Kabupaten Karanganyar 2) Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar

3) Sebelah Selatan : Kabupaten Gunung Kidul (DIY) dan Kabupaten Wonogiri

4) Sebelah Barat : Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten

A.Pote nsi Wilayah

Potensi wilayah di Kabupaten Sukoharjo antara lain: 1. T anaman Pangan dan Hort ikultura

T abel 4.1 Luas Lahan dan IP Sawah dan T egal Kabupaten Sukoharjo No Kategori Sawah Tegal 1 Luas lahan 21.121 ha 4.563 ha 2 IP 261 % 275% Sum ber : UPTD Kabupaten Sukoharjo

Keterangan : IP : Indeks Penanam an

(31)

T abel 4.2 Luas Panen dan Produksi T anam an Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sukoharjo tahun 2009

No Jenis tanaman Luas panen Produksi

1 Padi 45.649 ha 291.149 ton

2 Jagung 5.572 ha 16.376 ton 3 Kedele 4.261 ha 6.686 ton 4 Kacang tanah 9.598 ha 13.447 ton

5 Melon 195 ha 5.327 ton

6 Empon-empon 1.399,50 ton

Sum ber : UPTD Kabupaten Sukoharjo

Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sasaran pada tahun 2009 luas panen padi sebesar 45.649 Ha. Komuditas padi menempati urutan pert ama karena luas areal panen yang cukup luas dan m erupakan tanaman pangan pokok, selain itu Kabupat en Sukoharjo merupakan salah satu Kabupaten penyandang pangan di Jawa T engah sehingga produkt ivitas padi khususnya terus dipacu pada tahun 2009 produksi padi berhasil m encapai 291.149 t on. Selain t anam an padi sebagai tanaman pangan pokok, tanaman jagung, kedele,kacang tanah dan m elon m erupakan kom oditi tanaman hortikultura yang menjadi andalan Kabupaten Sukoharjo.

T abel 4.3 Jumlah Alat Mesin Pert anian Per T ahun 2008 No Alat mesin Jumlah 1 T rakt or roda dua 1.140 unit 2 Hand sprayer 5.669 unit 3 Mist blower 1 unit

4 Pompa air 2.280 unit

5 Power treser 351 unit 6 Pedal treser 3.575 unit 7 Pembersih gabah 304 unit 8 Pengering gabah 5 unit 9 Penggiling padi kecil 569 unit 10 Penggiling padi besar 5 unit Sum ber : UPTD Kabupaten Sukoharjo

(32)

30

(penyem prot aspal tangan) karena mengingat kegunaan alat ini sangat penting untuk pem upukan dengan aplikasi penyemprotan, alat ini berfungsi untuk m enyem protkan pupuk ke bagian batang, bunga, tangkai ataupun daun, m isal unt uk tanam an padi disem protkan pada daun dan batang). Urutan kedua adalah pedal treser alat ini berguna unt uk merontokkan gabah pasca panen, sedangkan unt uk alat-alat pertanian yang lain masing-masing m em punyai fungsi yang berguna baik sebelum panen, saat panen maupun pasca panen.

2. Perkebunan

T abel 4.4. Luas Panen dan Produksi Tanam an Perkebunan Kabupaten Sukoharjo T ahun 2009

No Tanaman perkebunan Luas panen (ha) Produksi (ton)

1 Kelapa 1.230 576

2 Cengkeh 20 1,70

3 Mete 518 54,28

4 Tem bakau 175 4.455

5 Wijen 950 124,25

6 Lada 2 0,21

7 Tebu 950 3.889

8 Kapuk randu 560 -

Sumber : UPTD kabupat en Sukoharjo

(33)

3. Peternakan

T abel 4.5. Peningkatan Produksi T ernak Kabupaten Sukoharjo

No Populasi ternak Produksi (2007) Poroduksi (2008) 1 Sapi potong 26.502 ekor 26.512 ekor 2 Sapi perah 601 ekor 605 ekor 3 Daging 5.234.945 kg 5.509.932 kg 4 T elur 8.489.661 kg 8.523.662 kg 5 Susu 778.682 liter 799.759 liter Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo

Populasi ternak di Kabupaten Sukoharjo sasaran tahun 2009 baik ternak besar m aupun kecil m engalam i peningkat an dibanding tahun 2008. Berdasarkan tabel 4.5. dapat diketahui produksi terbesar adalah sapi pot ong. Kabupaten Sukoharjo juga menem patkan sapi potong sebagai salah satu andalannya karena peluang bisnis pada pet ernakan sapi potong sangat besar karena mudah, persediaan pakan yang terus melimpah, selain itu juga kebutuhan pasar yang terus meningkat. Produksi daging, telur dan susu m eningkat seiring dengan jumlah perm intaan tahun 2007.

4. Perikanan

(34)

32

B. Keragaan Penyuluhan Pertanian

1. Petani

Jumlah Rum ah Tangga Petani (RTP) yang mencakup semua sub sektor pertanian meningkat sementara itu juga ada penigkatan jumlah petani gurem yang memiliki lahan usaha tani sempit sehingga tidak layak untuk berusaha tani yang menyebabkan adanya peningkatan jum lah petani miskin.

Dengan kondisi petani sepert i ini, m aka semua program pembangunan pert anian yang dikucurkan oleh pem erint ah di semua subsektor dan teknologi yang dihasilkan oleh berbagai sektor dan penelitian, serta modal yang disalurkan oleh lem baga keuangan perlu dipastikan untuk dapat dim anfaatkan dengan baik oleh petani.

Oleh karena itu upaya pemberdayaan petani melalui penyuluhan pertanian harus selalu ditingkatkan, guna m emudahkan pembinaan dalam m ensukseskan program pem bangunan pert anian di semua subsekt or.

2. Kelembagaan Petani

a. Kelompok T ani (Poktan)

Jum lah kelompok tani pada Dinas Pertranian Kabupaten Sukoharjo sampai dengan tahun 2008 adalah 659 dengan rincian sebagai berikut :

• Kelom pok tani dewasa : 634 kelom pok beranggotakan 1332 orang.

• Kelom pok wanita tani : 16 kelompok beranggotakan 320 orang.

• Kelom pok pemuda tani : 9 kelompok beranggot akan 180 orang. Kelompok tani ini sepenuhnya belum berfungsi secara opt imal karena selam a ini pada um um nya pert um buhan masih berorient asi pada program atau kegiatan yang mendapatkan dana dari pemerintah pusat m aupun daerah dan bukan atas kem auan dari anggota.

(35)

b. Koperasi Tani

Jum lah koperasi tani sebagai lem baga perekonomian bagi petani di pedesaan sampai bulan Desem ber 2008 sejumlah 165 koperasi. Pada umumnya koperasi tani m asih lemahg dalam hal manajeme, Sumber Daya Manusia (SDM), administrasi dan modal sert a pembinaan dari instansi terkait sewhingga usaha yang dikembangkan belum optimal. c. Gabungan Kelompok T ani (Gapoktan)

Kabupaten Sukoharjo sam pai dengan bulan Desem ber 2008 telah terbentuk 163 gapoktan yang beranggotakan 41.741 orang. Pada umumnya gapoktan diarahkan pada lembaga kewuangan mikro (LKM) pedesaan, nam un pada pem upukan m odal sulit unt uk m engakses kelembagaan keuangan karena masih lemahnya m anajem en gapokan. d. P4S (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Swadaya)

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Swadaya di Kabupaten Sukoharjo sebagai wadah belajar mengajar petani secara swakarsa dan swadaya berjumlah 2 (dua) unit yang berada di Desa Kepuh Kecam atan Nguter dan Desa Palur Kecamatan Mojolaban.

Kelembagaan P4S telah berperan dalam peningkatan dan pengembangan SDM pedesaan dengan menerapkan kegiatan perm agangan yang bert umpu pada metode “petani belajar dari petani”

C. Kelem bagaan Penyuluh Pertan ian di Kabupaten Sukoharjo

Kelembagaan yang m enangani penyuluh pert anian (Bapeluh) seperti yang diam anat kan pada Undang-undang Republik Indonesia Nom or 16 T ahun 2006 tent ang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan belum terbentuk. Tugas dan fungsi penyuluhan pertanian di Kabupaten Sukoharjo dilaksanakan oleh Dinas Pertanian, pada Kelom pok Jabatan Fungsional, sehingga sarana dan prasarana unt uk kegiatan penyuluhan pertanian diatur oleh dinas pertanian.

(36)

34

kebutuhan satu desa satu orang penyuluh belum mencukupi karena jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Sukoharjo 167 desa dimana 2 (dua) desa telah menjadi perkotaan sehingga pendampingan penyuluih pert anian sejum lah 165 desa. Nam un jum lah penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo baru sejumlah 142 orang yang terdiri dari penyuluh pertanian PNS sejum lah 78 orang, T enaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (T HL-THPP) sejumlah 64 orang.

T abel 4.6. Keberadaan Lokasi Kerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten Sukoharjo.

No Lokasi kerja Jum lah penyuluh 1 Kelompok Jabatan Fungsional Kabupat en 9 orang

2 Dinas Pertanian 3 orang 3 UPTD Dinas Pertanian 2 orang

4 Kecamatan 128 orang

Sum ber : Analisis data primer 2009.

Keberadaan lokasi kerja penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo sebagai berikut : pada Kelom pok Jabatan Fungsional Kabupaten 9 (sembilan) orang, pada bidang di lingkup dinas pert anian sejumlah 3 (tiga) orang, pada UPTD Dinas Pert anian 2 (dua) orang sert a yang berada di Kecamatan dan mem punyai wilayah binaan sejum lah 128 orang.

Kelembagaan penyuluh pertanian di Kecamatan bernama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang merupakan unit kerja organik Penyuluh Pert anian dibawah dan bert anggungjawab kepada kelembagaan Penyuluh Pert anian Kabupaten yang berfungsi sebagai tem pat pert em uan para Penyuluh Pert anian, Pelaku Utama dan Pelaku Usaha sejum lah 4 (empat) BPP, yaitu BPP T ani Budaya Palur Kecamatan Mojolaban, BPP T awangsari Kecam atan T awangsari, BPP Nguter Kecam atan Nguter dan BPP Srat en Kecam atan Gatak, dim ana keempat BPP tersebut pada saat ini juga merupakan tempat pelatihan bagi Penyuluh Pertanian yang dilaksanakan 1 (satu) bulan sekali.

(37)

kerja penyuluh pertanian terdepan dengan kegiatan memberi layanan jasa konsultasi pert anian dan informasi teknologi pertanian sebagian besar belum terbentuk.

D. Susunan O rganisasi Dinas Pertani an Sukoharjo

1. Gam baran Um um

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pem bent ukan Organisasi Dinas Kabupaten Sukoharjo bahwa Dinas Pertanian mempunyai tugas pokok m elaksanakan urusan pem erintah berdasarkan asas ot onomi dan m em bant u tugas di bidang pert anian.

Tugas pokok tersebut dilaksanakan Dinas Pertanian dengan menyelenggarakan fungsi :

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang pert anian.

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang pert anian.

c. Pem binaan dan pelaksanaan tugas di bidang pertanian.

Susunan Organisasi Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo terdiri atas :

a. Kepala adalah Kepala Dinas Kabupaten Sukoharjo

b. Wakil Kepala adalah W akil Kepala Dinas kabupaten Sukoharjo

c. Kelompok Jabatan Fungsional adalah tenaga-t enaga fungsional yang dibutuhkan oleh dinas daerah untuk m elaksanakan tugas fungsional tertentu sesuai bidang ketrampilan dan keahliannya.

d. Bagian T ata Usaha terdiri dari :

• Subbag Perencanaan.

• Subbag Kepegawaian.

• Subbag Keuangan.

• Subbag Umum.

e. Sub Dinas T anaman Pangan dan Hort ikultura terdiri dari :

(38)

36

• Seksi Produksi T anaman Pangan dan Hort ikultura.

• Seksi Usahatani dan Pengolahan Hasil Pertanian T anam an Pangan dan Hort ikultura.

• Seksi Sarana dan Prasarana.

f. Sub Dinas Bimbingan massal dan Ketahanan Pangan terdiri dari :

• Seksi Pelayanan Intensifikasi dan Agribisnis.

• Seksi Distribusi dan Konsum si Pangan.

• Seksi Kewaspadaan Pangan dan Gizi. g. Sub Dinas Perkebunan terdiri dari :

• Seksi Pengem bangan.

• Seksi Produksi.

• Seksi Usahatani.

• Seksi Perlindungan T anaman. h. Sub Dinas Perikanan terdiri dari :

• Seksi Produksi Perikanan.

• Seksi Usahatani dan Pengolahan Hasil Pertanian Perikanan.

• Seksi Perbenihan.

i. Sub Dinas Peternakan terdiri dari :

• Seksi Produksi Peternakan.

• Seksi Usahatani dan Pengolahan Hasil Peternakan.

• Seksi Kesehat an Hewan.

• Seksi Penyebaran Pengembangan Peternakan.

j. Cabang Dinas adalah Cabang dari dinas pert anian Kabupaten Sukoharjo.

k. UPTD ( Unit Pelaksana T eknis Dinas Daerah) dibentuk untuk m elaksankan sebagian kegiatn teknis operasional dan atau kegiatan teknis penunjang yang m empunyai wilayah kerja satu atau beberapa Kecamatan.

(39)

2. Struktur Organisasi

Bagan Susunan Organisasi Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo, berdasarkan Peraturan Daerah Kabupat en Sukoharjo Nomor 3 T ahun 2008 adalah sebagai berikut :

Sumber : UPTD Dinas pertanian Sukoharjo

(40)

38

E. Sumber Daya Manusia Pen yuluh Pertanian

Dalam upaya mendapatkan informasi dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokalita, diperoleh dari trainning penyuluh pertanian di BPP setiap 1 (satu) bulan sekali dim ana pelatih/narasumber dari Subdin lingkup Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo dan Kelompok Jabatan Fungsional yang berda di tingkat kabupat en, sert a informasi dari T abloid Sinar T ani.

Dalam melaksanakan tugas pendam pingan kepada petani sebagai pelaku utama dan pelaku usaha agrobisnis belum dapat dilaksanakan secara opt imal karena keterbatsan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian PNS sejumlah 78 orang, yang m endapat kan kendaraan operasional baru 31 orang penyuluh pert anian. Sehingga m asih 47 orang yang belum mendapatkan kendaraan operasional, sedangkan sarana prasarana yang digunakan oleh penyuluh pert anian untuk kelancaran komunikasi m asih sangat terbatas karena dari 78 orang penyuluh pertanian PNS, baru 10 orang yang mendapatkan ponsel, dimana ponsel tersebut hanya diberikan kepada penyuluh pert anian yang berada di BPP Tani Budaya-Palur sebagai BPP m odel.

Pembiayaan Penyuluhan Pertanian bersum ber dari APBD Kabupat en, APBD Provinsi dan APBN, namun jumlah dana yang dianggarkan untuk kegiatan penyuluhan pert anian m asih sangat terbatas sehingga dana tersebut belum mencukupi untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan pert anian dalam upaya m em ecahkan masalah yang dihadapi petani.

(41)

39

Kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap aspek pekerjaannya. Dengan kata lain kepuasan mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya. Oleh karena itu pemenuhan kebutuhan penyuluh, baik yang bersifat psikologik, sosial, fisik dan finansial sebagai faktor kepuasan kerja menjadi perhatian utama.

Dalam penilaiannya, tingkat kepuasan kerja penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo dikategorikan dalam tiga tingkat an yaitu puas, cukup puas dan t idak puas. Adapun secara rinci dapat dilihat pada tabel 5.1

(42)

40

kategori puas dan cukup puas hampir sama dikarenakan sebanyak 80% responden menyatakan puas terhadap aspek psikologis dan sebanyak 70 % responden menyatakan cukup puas terhadap aspek sosial. Dengan demikian dapat ditarik kesim pulan bahwa tingkat kepuasan kerja penyuluh pert anian di Kabupaten Sukoharjo tergolong dalam kat egori puas, hal ini berart i bahwa dari beberapa aspek kepuasan kerja yang ada, sudah sebagian besar terpenuhi sebagai im balan psikologis, sosial, fisik dan finansial yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penyuluh. Secara rinci kepuasan kerja dari penyuluh terhadap m asing-m asing aspek kepuasan kerja adalah sebagai berikut.

1. Aspek psikologis

Aspek psikologis adalah aspek yang berhubungan dengan kejiwaan penyuluh. Jika aspek psikologis terpenuhi sesuai dengan harapan penyuluh maka akan tercipta kepuasan penyuluh terhadap aspek psikologis.

Tabel 5.2. Distribusi responden terhadap indikator kepuasan psikologis. No Indikator Kriteria Jumlah

orang

% 1 Minat Ada m inat yang besar terhadap

profesi sebagai PPL

16 80 2 Kesesuaian

profesi

Merasa m em punyai bakat yang sesuai dan selalu berusaha mengembangkannya.

13 65

3 Ketram pilan Merasa trampil dan selalu berusaha m eningkat kan ketram pilan

20 100

4 Nilai profesi Merasa PPL adalah pekerjaaan yang berharga dan mem beri kesem patan untuk beraktualisasi diri

15 75

5 Ketent ram an kerja

Dapat melaksanakan tugas sehari-hari dengan penyuh rasa am an dan tanpa tekanan.

15 75

Sum ber : Analisis data primer tahun 2009

(43)

memilih profesi penyuluh karena sesuai dengan minat dan ditunjang oleh bakat dan ketrampilan yang cukup sesuai dengan profesi. Hal ini tampak pada pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh sebagian besar penyuluh responden yaitu sejumlah 15 orang (75 persen) adalah sarjana pertanian sedangkan 4 orang lainnya Diplom a pert anian , dan 1 orang STM pert anian. Hal ini tentunya membawa dampak yang baik karena kecocokan antara profesi yang dipilih dengan minat, bakat dan ketrampilan yang m em bawa pada kem am puan yang tepat unt uk mem enuhi tunt utan tugas sebagai penyuluh sehingga besar kem ungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut.

Penyuluh juga m enilai bahwa profesi sebagai penyuluh adalah suatu pekerjaan yang berharga, menyenangkan dan m em beri kesem patan untuk beraktualisasi diri. Berharga karena kegiatan penyuluh merupakan kegiatan yang m em bant u dalam m em perlancarkan kegiatan pembangunan pet ani, disamping berharga bagi diri sendiri karena merupakan m ata pencaharian mereka. Sikap yang senang terhadap profesi sebagai penyuluh juga sangat mendukung aktifitas kerja, kemudian m endorong dan mem berikan motivasi yang positif bagi penyuluh sehingga diperoleh keadaan yang memungkinkan penyuluh untuk berakt ualisasi diri.

(44)

42

2. Aspek sosial

Aspek sosial merupakan yang berhubungan dengan int eraksi sosial penyuluh yang m eliputi kem am puan bekerjasama dengan penyuluh lain, bant uan dari penyuluh lain dalam mengatasi kesulitan dalam pekerjaan, hubungan dengan penyuluh lain, ketersediaan waktu atasan dalam berkom unikasi dengan bawahan, pem berian motivasi oleh atasan kepada bawahan dan keterbukaan atasan kepada bawahanya.

Tabel 5.1. menunjukkan bahwa sebagian besar (55 %) penyuluh cukup puas terhadap aspek sosial yang telah m ereka terim a. Berdasarkan penelitian di lapangan, penyuluh mampu m engembangkan kerjasama yang harmonis diant ara sesama penyuluh.

Tabel 5.3. Distribusi responden terhadap indikator kepuasan sosial No Indikator Kriteria Jumlah kerjasama yang harmonis dengan PPL lain

9 45

2 Bant uan dari PPL lain PPL lain selalu m emberikan perhatian dan berusaha secara maksim al m encari penyelesaian 4 Ketersediaan waktu

atasan

(45)

membantu secara maksim al, sehingga terjalin suatu hubungan yang sangat akrab antara penyuluh yang satu dengan penyuluh yang lain.

Dalam berinteraksi dengan atasannya, pada tabel 5.3 sebanyak 13 orang mengungkapkan bahwa sekali-kali atasan menyediakan wakt unya untuk berinteraksi secara inform al dengan bawahannya, walaupun komunikasi tersebut hanya berupa obrolan ringan tetapi komunikasi informal ini m empunyai peran penting untuk m enciptakan suatu hubungan yang baik dan akrab antara atasan dan penyuluh yang dibawahinya, atasan juga m emberikan motivasi dan saran yang berupa solusi saat penyuluh menghadapi kesulitan, selain itu atasan juga selalu bersikap terbuka terhadap m asukan dari bawahannya.

3. Aspek fisik

Aspek fisik, merupakan aspek yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik penyuluh. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekit ar penyuluh yang dapat mempengaruhi dirinya dalam m enjalanhkan tugas-tugas yang dibebankan baik secara langsung m aupun tidak langsung.

Figur

Gambar 1. Kerangka berpikir hubungan antara kepuasan kerja dengan kinerja                        penyuluh pertanian
Gambar 1 Kerangka berpikir hubungan antara kepuasan kerja dengan kinerja penyuluh pertanian. View in document p.21
Tabel 3.2 Jumlah penyuluh berdasarkan penempatannya di Kabupaten Sukoharjo
Tabel 3 2 Jumlah penyuluh berdasarkan penempatannya di Kabupaten Sukoharjo . View in document p.27
Tabel 3.1 Data Produktivitas Padi dirinci per Kecamatan  Kabupaten Sukoharjo Tahun 2007
Tabel 3 1 Data Produktivitas Padi dirinci per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo Tahun 2007 . View in document p.27
Tabel 4.1 Luas Lahan dan IP Sawah dan Tegal Kabupaten Sukoharjo
Tabel 4 1 Luas Lahan dan IP Sawah dan Tegal Kabupaten Sukoharjo . View in document p.30
Tabel 4.2 Luas Panen dan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura                              Kabupaten Sukoharjo tahun 2009
Tabel 4 2 Luas Panen dan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sukoharjo tahun 2009 . View in document p.31
Tabel 4.3 Jumlah Alat Mesin Pertanian Per Tahun 2008
Tabel 4 3 Jumlah Alat Mesin Pertanian Per Tahun 2008 . View in document p.31
Tabel 4.4. Luas Panen dan Produksi Tanaman Perkebunan Kabupaten Sukoharjo Tahun 2009
Tabel 4 4 Luas Panen dan Produksi Tanaman Perkebunan Kabupaten Sukoharjo Tahun 2009 . View in document p.32
Tabel 4.5. Peningkatan Produksi Ternak Kabupaten Sukoharjo
Tabel 4 5 Peningkatan Produksi Ternak Kabupaten Sukoharjo . View in document p.33
Tabel 4.6. Keberadaan Lokasi Kerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten Sukoharjo.
Tabel 4 6 Keberadaan Lokasi Kerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten Sukoharjo . View in document p.36
Gambar 2 : Bagan Susunan Organisasi Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo Tahun 2010
Gambar 2 Bagan Susunan Organisasi Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo Tahun 2010 . View in document p.39
Tabel 5.1. Tingkat kepuasan kerja penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo
Tabel 5 1 Tingkat kepuasan kerja penyuluh pertanian di Kabupaten Sukoharjo . View in document p.41
Tabel 5.2. Distribusi responden terhadap indikator kepuasan psikologis.
Tabel 5 2 Distribusi responden terhadap indikator kepuasan psikologis . View in document p.42
Tabel 5.3. Distribusi responden terhadap indikator kepuasan sosial
Tabel 5 3 Distribusi responden terhadap indikator kepuasan sosial . View in document p.44
Tabel 5.5. Distribusi responden terhadap indikator kepuasan finansial.
Tabel 5 5 Distribusi responden terhadap indikator kepuasan finansial . View in document p.47
Tabel 5.6. Aspek Kinerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten Sukoharjo
Tabel 5 6 Aspek Kinerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten Sukoharjo . View in document p.48
Tabel 5.7. Uji Hipotesis Hubungan Antara Faktor Kepuasan Kerja  dengan                   Kinerja Penyuluh Pertanian Di Kabupaten Sukoharjo
Tabel 5 7 Uji Hipotesis Hubungan Antara Faktor Kepuasan Kerja dengan Kinerja Penyuluh Pertanian Di Kabupaten Sukoharjo . View in document p.57
Tabel 3. Pengukuran variabel pada faktor fisik
Tabel 3 Pengukuran variabel pada faktor fisik . View in document p.94
Tabel 6. Pengukuran variabel pada kegiatan persiapan penyuluhan pertanian
Tabel 6 Pengukuran variabel pada kegiatan persiapan penyuluhan pertanian . View in document p.95
Tabel 5. Pengukuran variabel pada faktor pendidikan
Tabel 5 Pengukuran variabel pada faktor pendidikan . View in document p.95
Tabel 7. Pengukuran variabel pada pelaksanaan penyuluhan pertanian
Tabel 7 Pengukuran variabel pada pelaksanaan penyuluhan pertanian . View in document p.96
Tabel 8. Pengukuran variabel pada evaluasi dan pelaporan
Tabel 8 Pengukuran variabel pada evaluasi dan pelaporan . View in document p.97
Tabel 9. Pengukuran variabel pada pengembangan profesi
Tabel 9 Pengukuran variabel pada pengembangan profesi . View in document p.98
Tabel 10. Pengukuran variabel pada Penunjang Kegiatan Penyuluhan Pertanian
Tabel 10 Pengukuran variabel pada Penunjang Kegiatan Penyuluhan Pertanian . View in document p.99
Tabel 12. Pengukuran variabel pada Kegiatan persiapan penyuluhan pertanian
Tabel 12 Pengukuran variabel pada Kegiatan persiapan penyuluhan pertanian . View in document p.100
Tabel 11. Pengukuran variabel pada Pendidikan
Tabel 11 Pengukuran variabel pada Pendidikan . View in document p.100
Tabel 13. Pengukuran variabel pada Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian
Tabel 13 Pengukuran variabel pada Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian . View in document p.101
Tabel 14. Pengukuran variabel pada Evaluasi dan Pelaporan
Tabel 14 Pengukuran variabel pada Evaluasi dan Pelaporan . View in document p.102
Tabel 15. Pengukuran variabel pada Pengembangan Penyuluhan Pertanian
Tabel 15 Pengukuran variabel pada Pengembangan Penyuluhan Pertanian . View in document p.103
Tabel 16. Pengukuran variabel pada Pengembangan Profesi
Tabel 16 Pengukuran variabel pada Pengembangan Profesi . View in document p.104
Tabel 17. Pengukuran variabel pada Penunjang Kegiatan Penyuluhan Pertanian
Tabel 17 Pengukuran variabel pada Penunjang Kegiatan Penyuluhan Pertanian . View in document p.105

Referensi

Memperbarui...