• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Sosial Emosional Pada Anak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Permasalahan Sosial Emosional Pada Anak"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Susilawati

Kaduara Timur, Pragaan, Sumenep

18201501060056

[email protected]

085259660276

Susilawati1

Abstract

Children with emotional social problems at the age of kindergarten are 4-6 years old who have nonformative behavior seen from the level of development, or adapt either at the time of study or in play activities at school or at home. Emotional Social Problems in kindergarten children become important to know for three reasons that is seen from the interests of kindergarten children, attitudes of teachers, parents and playmates. The formulation of the problem here are: 1) How to Emotional Social Problems in Children of Kindergarten? 2) What are the factors causing the occurrence of Emotional Social Problems in Children of Kindergarten? 3) How are the handling of Emotional Social Problems in Children of Kindergarten? As for the purpose of discussion here are 1) To know about Emotional Social Problems in Childhood Kindergarten, 2) To Know about the factors causing the occurrence of Emotional Social Problems in Children Kindergarten and 3) To know about how to deal with problems Social Emotional to the Kindergarten Child. Emotional social problems that often occur in early childhood is Maladjustment, Egocentrism, Children are isolated, Aggressive, Negativism, lack of affection, anxiety, hypersensitivas, and phobia. Factors causing the emergence of emotional antisocial attitude, namely Overprotected Parent Attitude, Detractors, Comparing, and Ridicule Children, and Authoritarian Parenting. Treatment of children with emotional social disorders: The opportunity to associate with people of different ages and different backgrounds, children not only communicate with understandable words, but can also talk about understandable and interesting topics for others.

Keywords:Social Emotional Problems, Child Kindergarten.

Abstrak

Anak yang bermasalah Sosial Emosional pada usia TK yang dimaksud adalah usia 4-6 tahun yang memiliki perilaku nonformatif dilihat dari tingkat perkembangannya, atau menyesuaikan diri baik pada waktu belajar maupun dalam aktivitas bermain di sekolah atau di rumah. Masalah-masalah

(2)

Sosial Emosional pada anak TK menjadi penting untuk diketahui karena tiga alasan yaitu dilihat dari kepentingan anak TK, sikap guru , orangtua dan teman bermainnya. Adapun rumusan masalah disini yaitu: 1) Bagaimana Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak? 2) Apa saja faktor penyebab terjadinya Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak? 3) Bagaimana penanganan-penanganan Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak? Adapun yang menjadi tujuan pembahasan disini yaitu 1) Untuk mengetahui tentang Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak, 2) Untuk Mengetahui tentang faktor penyebab terjadinya Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak dan 3) Untuk mengetahui tentang cara penanganan Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak. Permasalahan sosial Emosional yang sering terjadi pada anak usia dini adalah Maladjustment, Egosentrisme, Anak yang terisolasi, Agresif, Negativisme, kekurangan afeksi, cemas, hipersensitivas, dan fobia. Faktor penyebab timbulnya sikap antisosial emosional, yaitu Sikap Orang Tua yang Overprotected, Pencela, Membandingkan, dan Mencemooh Anak, dan Pola Asuh Otoriter. Cara penanganan pada anak yang memiliki gangguan sosial emosional yaitu Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia serta latar belakang yang berbeda, anak tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata yang dapat dipahami, tetapi juga dapat membicarakan dengan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain.

Kata kunci:Permasalahan Sosial Emosional, Anak TK.

Pendahuluan

Anak TK adalah berusia 4-6 tahun. Masa ini disebut juga masa emas, karena peluang perkembangan anak yang sangat berharga. Anak yang mengalami masa bahagia terpenuhinya segala kebutuhan fisik, maupun psikis di awal perkembangannya, diramalkan akan dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan selanjutnya.2Keadaan lingkungan kehidupan saat ini banyak berakibat buruk terhadap perkembangan dan kehidupan sosial emosional anak. Ternyata kehidupan yang teramat sibuk, mengakibatkan timbulnya tekanan-tekanan pada sosial emosional anak sehingga berdampak pada anak-anak zaman sekarang, yaitu menjadi lebih mudah kesal dan marah terutama dalam menanggapi segala sesuatu mengenai dirinya.Kecenderang perilaku tersebut tidak hanya terjadi di suatu tempat atau suatu Negara saja, tetapi hampir merata ke seluruh dunia. Dari hasil survei terhadap para orangtua dan guru di seluruh dunia, ternyata ditemukan bahwa generasi sekarang lebih banyak memiliki kesulitan emosi dan sosial daripada generasi sebelumnya. Generasi sekarang lebih kesepian dan pemurung, lebih

(3)

serta lebih implusif.3Berdasarkan penjelasan di atas, adapun rumusan masalah disini yaitu: 1) Bagaimana Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak? 2) Apa saja faktor penyebab terjadinyaPermasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak? 3) Bagaimana penanganan-penanganan Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak? Adapun yang menjadi tujuan pembahasan disini yaitu 1) Untuk mengetahui tentang Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak, 2) Untuk Mengetahui tentang faktor penyebab terjadinya Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak dan 3) Untuk mengetahui tentang cara penanganan Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak.

Pembahasan

Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak

Anak yang bermasalah pada usia TK yang dimaksud adalah usia 4-6 tahun yang memiliki perilaku nonformatif dilihat dari tingkat perkembangannya, atau menyesuaikan diri baik pada waktu belajar maupun dalam aktivitas bermain di sekolah atau di rumah.

Dwidjo Saputro mengatakan anak bermasalah dapat dilihat dari: 1) Frekuensi dari perilaku yang menyimpang maksudnya seberapa banyak tingkah laku yang menibulkan masalah muncul, misalnya: anak ngambek satu kali dalam waktu dua atau tiga minggu. Tetapi anak ngambek setiap hari, malah beberapa kali dalam satu hari maka hal ini pertanda anak bermasalah. 2) Intensitas, yaitu tingkat kedalaman perilaku yang bermasalah. Misalnya: rentang perhatian anak berkonsentrasi sangat pendek, anak mudah beralih perhatian baik dalam belajar maupun bermain, dengan rentang waktu yang sangat pendek. 3) Usia yaitu tingkah laku anak yang mencolok yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak seusianya. 4) Ukuran norma budaya. Maksudnya anak dikatakan bermasalah sangat bergantung pada ukuran budaya setempat dimana subyek berada.4

Permasalahan Perilaku Sosial

Beberapa permasalahan yang biasa dihadapi oleh anak usia TK diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama Maladjustment, Individu yang penyesuaian dirinya buruk disebut maladjustment. Anak yang demikian sering disebut sebagai anak yang bermasalah. Adapun beberapa ciri yang biasa muncul pada anak bermasalah diantaranya Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan, Sering tampak depresi dan jarang tersenyum atau bercanda, Suka mencuri benda-benda kecil walaupun sering dihukum, Sering bertengkar

3 http://paudsb05.blogspot.co.id/2016/11/masalah-perkembangan-sosial-emosional.html. Diakses tanggal 15 April 2018.

(4)

dengan anak yang lebih kecil, Merasa diperlakukan tidak adil, Sangat cemas terhadap penampilan diri, Tidak mampu mengubah tingkah laku yang salah walaupun sering dimarahi atau dihukum, Suka berbohong, Sering merusak, Membandut untuk menarik perhatian, Menyalahkan orang lain atau mencari alasan bila ditegur, dan Suka mengadu untuk mendapat perhatian orang dewasa.5

Kedua Egosentrisme, Seseorang dikatakan egosentris bila lebih peduli terhadap dirinya sendiri daripada orang lain. Mereka lebih banyak berpikir dan bicara mengenai diri sendiri dan aksi mereka semata-mata untuk kepentingan pribadi. Karena umumnya begitu anak memasuki dunia sekolah, egosentrisme sedikit demi sedikit mulai berkurang. Anak ini biasanya menjadi sok berkuasa, tidak peduli terhadap orang lain, tidak mau bekerja sama, dan sibuk bicara mengenai diri sendiri.

Ketiga Anak yang Terisolasi, Isolated child merupakan anak yang terisolasi dari lingkungannya. Ia mengalami masalah penerimaan sosial. Hal ini dapat terjadi karena sikap dan perilaku anak yang kurang disukai teman-temannya. Atau anak sendiri yang tidak suka melakukan interaksi sosial, dan menjalin hubungan pertemanan.6

Keempat Agresif, Agresif merupakan tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau baru berupa ancaman yang disebabkan adanya rasa permusuhan. Tingkah laku ini sering kali muncul sebagai reaksi terhadap frustasi, misalnya karena dilarang melakukan sesuatu. Agresi juga sering timbul karena tingkah laku agresif yang sebelumnya mengalami penguatan. Hal ini terjadi karena ada beberapa keluarga dimana anak agresif justru dihargai. Selain itu tingkah laku orang tua sering dicontoh oleh anak. Biasanya tingkah laku yang muncul pada anak dapat marah secara verbal maupun menyerang, temper tantrum, dan merusak.

Kelima Negativisme, Negativisme adalah perlawanan terhadap tekanan dari pihak lain untuk berperilaku tertentu. Perilaku ini biasanya dimulai pada anak usia dua tahun dan mencapai puncaknya antara usia tiga sampai enam tahun. Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, namun secara bertahap berubah menjadi penolakan secara lisan untuk menuruti perintah. Masa ini biasa juga disebut sebagai masa “berkata tidak” karena hampir semua permintaan dijawab anak dengan berkata “tidak”.

Keenam Pertengkaran, Pertengkaran merupakan

perselisihan pendapat yang mengandung kemarahan. Perilaku ini umumnya dimulai apabila seseorang melakukan penyerangan terhadap orang lain yang tidak beralasan.

Ketujuh Mengejek dan Menggertak, Mengejek merupakan

serangan secara lisan terhadap orang lain, sedangkan menggertak merupakan serangan yang bersifat fisik. Dengan dua

5 http://paudsb05.blogspot.co.id/2016/11/masalah-perkembangan-sosial-emosional.html. Diakses tanggal 15 April 2018.

(5)

menyaksikan ketidak enakan korban akibat perilakunya.

kedelapan Prasangka, prasangka ini terbentuk pada masa kanak-kanak tatkala anak melihat adanya perbedaan sikap dan penampilan di antara mereka, dan perbedaan ini dianggap sebagai tanda kerendahan. Pada perkembangan selanjutnya prasangka muncul karena individu tidak berpikir positif terhadap kejadian yang dialaminya.7

Kesembilan Ketidakpatuhan, ketidakpatuhan dapat

diartikan sebagai sikap tidak taat dan tidak menurut pada oranglain, dalam hal ini pada orangtua atau pendidik PAUD. Sementara kepatuhan berarti sikap mau melakukan apa yang diminta oleh oranglain.8

Kesepuluh Temper Tantrum, Kata temper berasal dari bahasa Inggris yang berarti tendency to be angry atau mudah marah, sedangkan tantrum berarti marah, jadi secara bahasa

temper trantrum dapat diartikan dengan perilaku mudah marah. Sementara secara istilah temper tantrum berarti perilaku mudah marah dengan kadar marah yang berlebihan.9

Permasalahan Emosi pada Anak Usia Dini

Dalam perkembangannya, kita akan menemukan berbagai macam permasalahan emosi yang muncul di sekeliling kita. Banyak faktor yang menentukan munculnya permasalahan emosi pada anak yang paling utama adalah peranan keluarga.

Pada dasarnya fondasi emosi yang sehat dibangun atas dasar penerimaan dan penghargaan terhadap dirinya. Perwujudan dari perasaan ini, yang paling awal adalah anak dapat merasakan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Jika anak kehilangan perasaan ini maka sulit ia akan memiliki emosi yang sehat. Menurut Nugraha berikut adalah jenis-jenis permasalahan emosi yang sering terjadi pada anak usia dini:

Pertama Kekurangan Afeksi, Afeksi dapat meliputi perasaan kasih sayang, rasa kehangatan, dan persahabatan yang ditunjukkan pada orang lain. Setiap orang mempunyai kebutuhan untuk memberi dan menerima afeksi. Gangguan yang ditimbulkan akibat dari kekurangan afeksi dapat berupa: 1) Perkembangan fisik yang terlambat, dapat menyebabkan anak depresi. 2) Gagap atau mengalami gangguan bicara. 3) Sulit konsentrasi dan mudah teralih perhatiannya. 4) Sulit mempelajari bagaimana membina hubungan dengan orang lain. 5) Mereka sering kali tampak agresif dan nakal. 6) Kurangnya minat terhadap orang lain, menarik diri, egois, dan penuntut. 7) Pada taraf berat dapat menyebabkan gangguan jiwa. Kurangnya afeksi memang dapat mengganggu. Akan tetapi, bukan berarti afeksi yang berlebihan akan lebih baik. Individu yang terlalu banyak mendapat afeksi pun akan kesulitan

7 Ibid.

8 Novan Ardy Wiyani, Mengelola dan Mengembangkan Kecerdasan Sosial dan Emosi Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014).hlm.56-57.

(6)

dalam penyesuaian diri. Karena pelimpahan afeksi yang berlebihan justru menghalangi anak belajar mengekspresikan afeksi kepada orang lain.

Kedua Anxiety (Cemas), Anxietas atau cemas adalah rasa takut pada sesuatu tanpa sebab yang jelas, yang sering kali berlangsung lama. Biasanya rasa takut ini juga dibarengi oleh kegelisahan dan dugaan-dugaan akan terjadinya hal-hal buruk, seperti kematian, kecelakaan dan sebagainya. Pada anak, rasa cemas biasanya terjadi saat ia berusia sekitar 3 tahun, bentuknya bisa berupa cemas kehilangan kasih sayang orang tua, cemas akan mengalami rasa sakit, cemas karena merasa berbeda dengan orang lain, atau mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Sumber-sumber yang menimbulkan rasa tidak aman pada anak, yaitu 1) Orang tua yang terlalu menuntut kesempurnaan atas prestasi anak. 2) Tidak adanya batasan atau aturan yang jelas dari orang tua, mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang buruk dan yag baik. 3) Kritik yang berlebihan dari orang tua atau orang dewasa lain dan kelompok sebaya. 4) Frustasi yang terus-menerus. Terlalu sering mengalami frustasi dapat menyebabkan kemarahan dan kecemasan.

Ketiga Hipersensitivas, Hipersensitivas adalah kepekaan emosional yang berlebihan dan cukup sering dijumpai pada anak-anak. Anak dikatakan hipersensitif bila ia mudah sekali merasa sakit hati dan menunjukkan respons yang berlebihan terhadap sikap dan perhatian orang lain. Anak yang hipersensitif tidak bisa menerima penilaian, komentar, dan kritik orang lain tanpa rasa sakit hati. Penyebab tumbuhnya sikap hipersensitif diantaranya karena merasa kurang dan tidak sama dengan orang lain. Anak merasa dirinya tidak sepandai, semenarik atau sepopuler anak-anak lain.

Keempat Fobia, Fobia adalah perasaan takut yang irasional terhadap suatu objek yang sebenarnya tidak berbahaya atau tidak menyeramkan. Jadi, tidak ada sumber bahaya yang mengancam secara nyata. Fobia terdiri dari aspek emosi dan tingkah laku. Jadi, penderita fobia biasanya merasakan takut yang amat sangat terhadap suatu objek, kemudian menjerit, lalu berlari, mengunci diri di kamar, atau menampilkan tingkah laku ketakutan.10

Kelima Pemalu, Pemalu berasal dari kata malu yang berarti merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah dan sebagainya), karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar berbeda dengan kebiasaan, dan mempunyai cacat atau kekurangan), segan melakukan sesuatu karena agak takut, dan kurang senang. Sementara pemalu berarti orang yang mudah merasa.11

Faktor Penyebab Terbentuknya Permasalahan Sosial Emosional pada Anak Usia Taman Kanak-kanak

Permasalahan Sosial

10 http://paudsb05.blogspot.co.id/2016/11/masalah-perkembangan-sosial-emosional.html. Diakses tanggal 15 April 2018.

(7)

lain sebagai:

1. Sikap Orang Tua yang Overprotected, Orang tua yang overprotected akan membatasi ruang gerak anak sehingga anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosialisasi secara sehat dalam lingkungannya. 2. Sikap Orang Tua yang Pencela, Membandingkan, dan

Mencemooh, orang tua bersikap buruk terhadapnya maka anak pun akan meniru dan melakukan hal yang sama. Sikap orang tua yang pencela, membandingkan, dan mencemooh anak mencerminkan sikap penolakan terhadap keberadaan anak apa adanya.

3. Sempitnya Kesempatan Bergaul dengan Anak Lain, Lingkungan memiliki potensi yang sangat kaya dalam memberikan pengalaman sosial pada anak. Mulai dari pengalaman yang positif maupun pengalaman yang buruk. Jika anak tidak memiliki kesempatan bergaul yang cukup maka ia tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari respons lingkungan terhadap perilakunya ataupun melakukan penyesuaian sosial. 4. Pola Asuh Otoriter, cenderung memicu perilaku antisosial pada

anak, seperti tumbuhnya sikap pemberontak, agresif, sikap sok kuasa, dan lain sebagainya. Sikap yang keras serta penerapan disiplin yang tidak dijelaskan pada anak, hanya akan menimbulkan perilaku yang salah asuh.

5. Lingkungan yang Buruk, Secara umum anak melakukan proses imitasi terhadap lingkungannya, tanpa mengenal lebih jauh apakah lingkungan itu baik atau buruk. Jika lingkungan dapat menonjolkan perilaku terpuji maka anak pun dapat mempelajari penyerapan dan mengaplikasikan perilaku yang luhur tadi. Sebaliknya jika lingkungan tersebut kurang baik maka anak tetap akan menjadikannya sebagai objek imitasi.

Permasalahan Emosi

(8)

Situasi baru di mana anak belum siap dalam menghadapi dan tidak menemukan pasangan yang cocok untuk menemaninya. 8) Mendapat gertakan, gangguan, dan ketidakramahan dari anak yang lain. 9) Cacat fisik atau memiliki postur tubuh yang berbeda dengan anak lain di mana hal ini jika tidak ditangani dengan baik dapat menjadi gangguan emosional.12

Penanganan-Penanganan Permasalahan Sosial Emosional Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak

Cara penanganan pada anak yang memiliki gangguan sosial, diantaranya: 1) Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia serta latar belakang yang berbeda. Anak tidak mungkin bisa belajar bergaul bila lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri. Semakin banyak dan bervariasi dengan lingkungan bergaulnya, semakin banyak hal-hal yang bisa dipelajari anak sebagai bekal keterampilan dalam bersosialisasi dengan lingkungannya. 2) Anak tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata yang dapat dipahami, tetapi juga dapat membicarakan dengan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain. 3) Anak punya motivasi untuk bergaul. Motivasi ini tergantung seberapa besar perolehan kepuasaan anak melalui aktivitas sosialnya. Apabila anak mendapat cukup banyak kesenangan, penerimaan, dan pengalaman yang mengasyikkan dari lingkungannya, motivasi atau keinginannya untuk meluaskan wawasan, jaringan pergaulannya semakin luas. Namun, sebaliknya kalau ia lebih banyak mendapat kekecewaan, motivasinya untuk bergaul pun semakin berkurang. 4) Adanya bimbingan. Metode yang paling efektif untuk dapat belajar bergaul dengan baik adalah lewat bimbingan dan pengajaran dari orang yang dapat dijadikan model bergaul yang baik oleh anak. Anak memang bisa saja belajar bergaul sendiri lewat trial and error (coba-coba) atau meniru ingkah laku orang lain, namun akan lebih efektif bila yang menjadi model adalah orang tua.

Adapun upaya yang dapat dilakukan guru ataupun orang tua untuk menangani gangguan emosional, diantaranya dapat melakukan hal-hal berikut : 1) Menentramkannya, anak pencemas butuh ditentramkan oleh orang dewasa yang tenang. Oleh karena itu, orang tua harus tetap tenang bila anak gelisah, rewel, menangis, pucat atau panik. 2) Mencoba untuk mengalihkan perhatian anak dari hal-hal atau bayangan-bayangan yang membuatnya cemas. 3) Tidak mendesak anak untuk memberikan penjelasan. Desakan orang tua sering kali membuat anak merasa tidak dimengerti. 4) Ajaklah anak untuk melakukan relaksasi. Dengan menarik napas dalam, menghembuskan napas secara perlahan sambil berkata “Tenang” atau “Semua akan beres” anak telah melakukan relaksasi termudah. 5) Melakukan hal-hal yang menenangkan, seperti mendengarkan musik, menggambar, atau membaca. 6) Membiasakan anak mengekspresikan perasaannya melalui permainan atau cerita. 7) Orang tua hendaknya

(9)

memang penuh dengan beragam sifat manusia. 9) Dalam proporsi yang wajar anak perlu diperkenalkan apa kritik. Namun, harus diingat sebaiknya orang tua atau guru tidak mengkritik anak dengan cara merendah-rendahkan dirinya, tetapi bangkitkan semangatnya untuk memperbaiki diri. 10) Orang tua dan para pendidik lainnya hendaknya mengajarkan anak untuk memandang dirinya secara proporsional. Tidak melebih-lebihkan segi positifnya, tidak juga menyepelekan kekurangannya. 11) Selain itu orang tua dan guru sebaiknya mengajarkan keterampilan untuk mengatasi masalah pada anak.13

Kesimpulan

Anak yang bermasalah pada usia TK yang dimaksud adalah usia 4-6 tahun yang memiliki perilaku nonformatif dilihat dari tingkat perkembangannya, atau menyesuaikan diri baik pada waktu belajar maupun dalam aktivitas bermain di sekolah atau di rumah. Anak bermasalah dapat dilihat dari frekuensi dari perilaku yang menyimpang, Intensitas, Usia yaitu tingkah laku anak yang mencolok yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak seusianya dan Ukuran norma budaya. Permasalahan sosial yang sering terjadi pada anak usia dini adalah Maladjustment, Egosentrisme, Anak yang terisolasi, Agresif, Negativisme, dan lain sebagainya. Sedangkan Permasalahan emosional yang sering terjadi pada anak usia dini adalah kekurangan afeksi, cemas, hipersensitivas, dan fobia.

Faktor penyebab timbulnya sikap antisosial emosional, yaitu Sikap Orang Tua yang Overprotected, Sikap Orang Tua yang Pencela, Membandingkan, dan Mencemooh Anak, Pola Asuh Otoriter, Lingkungan yang Buruk, Latar belakang keluarga yang kasar, Perasaan tertolak secara fisik ataupun emosional oleh pihak orang tua, dan sebagainya.

Cara penanganan pada anak yang memiliki gangguan sosial emosional yaitu Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia serta latar belakang yang berbeda, anak tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata yang dapat dipahami, tetapi juga dapat membicarakan dengan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain, anak punya motivasi untuk bergaul, adanya bimbingan, menentramkan, membiasakan anak mengekspresikan perasaannya melalui permainan atau cerita, Orang tua hendaknya menguatkan diri dalam menghadapi lingkungan sosial yang memang penuh dengan beragam sifat manusia, anak perlu diperkenalkan apa kritik. Namun, harus diingat sebaiknya orang tua atau guru tidak mengkritik anak dengan cara merendah-rendahkan dirinya, tetapi bangkitkan semangatnya untuk memperbaiki diri, selain itu orang tua dan guru sebaiknya mengajarkan keterampilan untuk mengatasi masalah pada anak.

(10)

DaftarPustaka

Dewi, Rosmala. 2005. Berbagai Masalah Anak Taman Kanak-kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Wiyani, Novan Ardy. 2014. Mengelola dan Mengembangkan Kecerdasan Sosial dan Emosi Anak Usia Dini. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Bagaimanakah pola strategi komunikasi

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimana pola pikir mahasiswa dalam menyelesaikan

Permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut: 1). Faktor-faktor apa yang menyebabkan anak putus sekolah. Bagaimana dampak anak putus sekolah bagi kehidupan

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapatlah ditarik beberapa permasalahan yaitu : Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya pencabulan yang dilakukan

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) Bagaimana latar belakang sosial ekonomi dan budaya

Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan berikut ” Mengetahu Faktor-faktor yang berhubungan dengan praktek buang air besar pada keluarga di Desa Bleboh

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut “ Bagaimana Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu faktor- faktor apa yang menyebabkan Bank DKI Jakarta cabang Solo memilih