Helmi Akbar Danaparamitha (071311233071) – Globalisasi dan Masyarakat Informasi (Week 7)
Dinamika Kemunculan Masyarakat Jaringan dan Komunitas Virtual sebagai Akibat Perkembangan Fenomena Globalisasi
“Virtual Culture and Network Society”
Berbicara mengenai kaitan antara kultur virtual dengan masyarakat jaringan, tentu tidak terlepas dari kehadiran fenomena globalisasi dengan berbagai fitur yang dibawanya untuk dapat mengubah berbagai bentuk hubungan sosial dan struktur dalam masyarakat. Manuel Castells (1996: 383) dalam artikel yang berjudul The Culture of Real Virtuality berasumsi bahwa terhitung semenjak tahun 1990-an, terdapat jutaan jaringan komputer di seluruh dunia hingga menyentuh seluruh spektrum komunikasi antar manusia. Hal yang menghubungkan jutaan jaringan komputer tersebut tidak lain adalah internet. Internet memperkenankan kelompok-kelompok kepentingan dengan proyek-proyek tertentu untuk eksis sehingga memunculkan sistem komunikasi yang kian interaktif dan dikenal dengan istilah CMC (computer mediated communication). CMC pada awalnya merupakan sistem jaringan antar kampus dalam skala internasional, yang kemudian sistem tersebut diadopsi pada berbagai perusahaan juga institusi yang pada akhirnya menjadi suatu mainstream dalam lingkup masyarakat (Castells, 1996: 383-4). Proses formasi dan pembauran CMC atas masyarakat tersebut lah yang kemudian mampu membentuk pola baru dalam komunikasi.
Merasuknya CMC pada masyarakat kemudian menyebabkan adanya suatu bentuk baru dari komunitas yang menyatukan orang-orang dengan berbagai nilai dan kepentingan bersama secara online melalui internet. Adalah komunitas virtual, yang merupakan bentuk baru dari sociability, bentuk baru dari kehidupan urban, dan sebagai hasil adaptasi dari lingkungan teknologi yang orang-orang di dalamnya membangun identitas dan memainkan peran atas identitas yang dimaksud secara online (Castells, 1996: 386-7). Lebih lanjut, komunitas virtual dipahami sebagai komunitas yang nyata, namun tidak ditemukan dalam bentuk fisik. Komunitas virtual pun tidak mengikuti pola komunikasi dan interaksi yang sama dengan komunitas yang secara fisik dapat ditemukan. Komunitas virtual mampu melampaui jarak – dengan biaya yang relatif rendah – dan mengkombinasikan penyebarluasan media massa juga komunikasi perorangan. Bahkan, hal yang menarik dari komunitas virtual, komunitas virtual diyakini dapat memperkuat pembangunan jaringan sosial individu dan perkembangan komunitas-komunitas yang ada, baik secara fisik maupun online (Castells, 1996: 389).
tertentu penggunaan internet meningkatkan kemungkinan untuk merasa kesepian, terasingkan atau bahkan depresi. Sebuah penelitian di Carnegie Mellon University juga mengungkapkan bahwa penggunaan internet dalam jangka waktu lama bepengaruh pada penurunan intensitas komunikasi pengguna bahkan dengan anggota keluarga dalam rumah tangganya sendiri, penurunan ukuran lingkaran sosial pengguna, juga peningkatan depresi dan rasa kesepian pengguna (Castells, 1996: 387). Berbagai kritik sosial terhadap perkembangan CMC di atas tidak lain juga ditujukan kepada komunitas virtual mengingat komunitas virtual lahir sebagai bentuk komunitas baru akibat masifnya perkembangan internet.
Perlu diketahui pula bahwa sejatinya konsep CMC secara umum merupakan hal yang berkaitan dengan kultur. Dikatakan demikian oleh karena kultur merupakan sebuah proses yang terdiri dari berbagai proses komunikasi. Adapun kaitannya dengan kultur, konsep CMC bukan merupakan suatu hal yang berhubungan negatif dengan kultur. Justru CMC mampu “menyerap” berbagai macam kultur untuk kemudian terbawa ke dalam dunia digital. Hal tersebut dibuktikan dengan empat fitur CMC yang disampaikan oleh Castells (1996: 401-3), yaitu widespread social and cultural differentiation, increasing social stratification among the users, integrate all messages in a common cognitive pattern, and capture within their domain most cultural expressions in all their diversity. Melalui fitur pertama, sistem CMC mampu memperluas diferensiasi sosial dan kultural yang mengarah pada segmentasi di kalangan pengguna sistem tersebut. Pembentukan komunitas virtual disebut sebagai salah satu hasil dari adanya diferensiasi yang dimaksud. Melalui fitur kedua, sistem CMC mampu meningkatkan stratifikasi sosial di kalangan pengguna yang mana kemudian dunia komunikasi diisi dengan the interacting atau mereka yang mampu memilih berbagai jaringan komunikasi mereka sendiri, dan the interacted yang memiliki pilihan terbatas (Castells, 1996: 402). Fitur ketiga menjelaskan bahwasanya pesan dari segala macam sistem komunikasi pasti menghasilkan pola kognitif yang sama. Hal ini merujuk pada pola kognitif yang memang telah dibentuk oleh kultur itu sendiri sejak lama. Sementara melalui fitur keempat dapat dipahami bahwa multimedia memiliki keistimewaan berupa kemampuan untuk menangkap berbagai ragam ekspresi kultural yang ada (Castells, 1996: 403).
Berdasar penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kehadiran fenomena globalisasi dengan berbagai fitur yang dibawanya seperti internet dapat mengubah berbagai bentuk hubungan sosial dan struktur dalam masyarakat. Internet memperkenankan berbagai kelompok kepentingan untuk eksis sehingga memunculkan sistem komunikasi yang kian interaktif dan dikenal dengan istilah CMC (computer mediated communication). Merasuknya CMC pada masyarakat kemudian menyebabkan adanya suatu bentuk baru dari komunitas yang menyatukan orang-orang dengan berbagai nilai dan kepentingan bersama secara online melalui internet. Adalah komunitas virtual, yang merupakan bentuk baru dari sociability, bentuk baru dari kehidupan urban, dan sebagai hasil adaptasi dari lingkungan teknologi yang orang-orang di dalamnya membangun identitas dan memainkan peran atas identitas yang dimaksud secara online.
Referensi: