• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Implementasi Kebijakan 2.1.1. Pengertian Implementasi Kebijakan - Policy Implementation Of Law Number 13 Of 1998 Concerning The Elderly Welfare In Order To Realization Elderly Welfare In Elderly Social Services Unit (UPT) In R

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Implementasi Kebijakan 2.1.1. Pengertian Implementasi Kebijakan - Policy Implementation Of Law Number 13 Of 1998 Concerning The Elderly Welfare In Order To Realization Elderly Welfare In Elderly Social Services Unit (UPT) In R"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Implementasi Kebijakan

2.1.1. Pengertian Implementasi Kebijakan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi adalah pelaksanaan dan

penerapan, dimana kedua hal ini bermaksud untuk mencari bentuk tentang hal yang

disepakati terlebih dahulu. Implementasi adalah proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga dimaksudkan

menyediakan sarana untuk membuat sesuatu dan memberikan hasil yang bersifat praktis

terhadap sesama. Jadi Implementasi dimaksudkan sebagai tindakan individu public yang

diarahkan pada tujuan serta ditetapkan dalam keputusan dan memastikan terlaksananya dan

tercapainya suatu kebijakan serta memberikan hasil yang bersifat praktis terhadap sesama

sehingga dapat tercapainya sebuah kebijakan yang memberikan hasil terhadap

tindakan-tindakan individu publik dan swasta (http://www.scribd.com. Diakses pada tangal 25

November 2012 pukul 15.00).

Implementasi menurut kamus Webster merumuskan secara pendek bahwa to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for carrying out; (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); to give practical effect to

(menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Van Meter dan Van Horn (1975)

merumuskan implementasi ini adalah sebagai tindakan – tindakan yang dilakukan baik

oleh individu – individu, pejabat – pejabat, atau kelompok – kelompok pemerintah atau

swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan – tujuan yang telah digariskan dalam

(2)

Pengertian implementasi menurut Mazmanian dan Sabatier adalah pelaksanaan

keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula

berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau

keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah

yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan/sasaran yang ingin dicapai, dan

berbagai cara untuk menstrukturkan/mengatur proses implementasinya. Proses ini

berlangsung setelah melalui sejumlah tahapan tertentu, biasanya diawali dengan tahapan

pengesahan undang-undang, kemudian output kebijakan dalam bentuk pelaksanaan

keputusan oleh badan (instansi) pelaksanaan, kesediaan dilaksanakannya keputusan-

keputusan tersebut oleh kelompok-kelompok sasaran, dampak nyata; baik yang

dikehendaki atau yang tidak dari output tersebut, dampak keputusan sebagai dipersepsikan

oleh badan-badan yang mengambil keputusan, dan akhirnya perbaikan-perbaikan penting

(atau upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan) terhadap undang-undang/ peraturan

yang bersangkutan (Wahab,2005: 68).

Berdasarkan banyak pengertian implementasi yang dikemukakan diatas,dapat

dikatakan bahwa implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan pihak-pihak yang

berwenang atau kepentingan baik pemerintahmaupun swasta yang bertujuan untuk

mewujudkan cita-cita atau tujuan yang telah ditetapkan, implementasi dengan berbagai

tindakan yang dilakukan untuk melaksanakan atau merealisasikan program yang telah

disusun demi tercapainya tujuan dari program yang telah direncanakan karena pada

dasarnya setiap rencana yang ditetapkan memiliki tujuan atau target yang hendak dicapai.

Sedangkan kebijakan (policy) juga memiliki arti yang bermacam – macam. Harold

(3)

serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu

lingkungan tertentu dengan menunjukkan hambatan – hambatan dan kesempatan –

kesempatan terhadap pelaksanaan usulan kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan

tertentu. Pendapat ahli lainnya seperti James E.Anderson mengatakan bahwa kebijakan itu

adalah serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan

dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu

masalah tertentu. Kemudian menurut Amara Raksasataya mengemukakan bahwa kebijakan

adalah sebagai suatu taktik dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Menurut

beliau kebijakan memuat tiga elemen yaitu :

1. Identifikasi dari tujuan yang ingin dicapai

2. Taktik atau strategi dari berbagai langkah untuk mencapai tujuan yang

diiginkan

3. Penyediaan berbagai input untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata dari

taktik atau strategi(islamy,2004: 17).

Menurut Perserikatan Bangsa – Bangsa, kebijakan diartikan sebagai pedoman

untuk bertindak. Pedoman itu boleh jadi amat sederhana atau kompleks, bersifat umum

atau khusus, luas atau sempit, kabur atau jelas, longgar atau terperinci bersifat kualitataif

atau kuantitatif, publik maupun privat. Kebijakan dalam makna seperti ini mungin berupa

suatu deklarasi mengenai dasar pedoman bertindak, suatu arah tindakan tertentu, suatu

program mengenai aktivitas – aktivitas ataupun suatu rencana(Wahab,2005:2).

Ada juga pengertian kebijakan sebagai suatu program pencapaian tujuan, nilai-nilai

dan tindakan-tindakan yang terarah dan kebijakan juga merupakan serangkaian tindakan

yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu

(4)

dalam rangka mencapai tujuan tertentu((http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 25

November 2012 pukul 15.00).

Oleh karena itu bisa kita pahami secara sederhana bahwa implementasi kebijakan

adalah suatu tahapan kebijakan publik, antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi –

konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Jika suatu kebijakan tidak

tepat atau tidak dapat mengurangi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka

kebijakan itu dapat mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu telah diimplementasikan

dengan sangat baik, sementara itu suatu kebijakan yang telah direncanakan dengan sangat

baik, dapat mengalami kegagalan jika kebijakan tersebut kurang diimplementasikan

dengan baik oleh para pelaksana kebijakan. 

Dengan demikian bisa kita ketahui bahwa implementasi dan kebijakan adalah dua

kata yang tidak bisa dipisahkan dalam satu kosa kata. Implementasi sebagai kata kerja dan

kebijakan sebagai objek untuk yang diimplementasikan. Sebagai pangkal tolak berpikir

kita, hendaknya selalu diingat bahwa implementasi adalah sebagian besar kebijakan dari

pemerintah dan pasti akan melibatkan sejumlah pembuat kebijakan baik publik maupun

swasta berusaha keras untuk memberikan pelayanan atau jasa kepada masyarakat guna

untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga untuk melaksanakan implementasi kebijakan ini

perlu mendapatkan perhatian yang seksama dari berbagai kalangan.

2.2. Model – Model Perumusan Kebijakan

Membuat atau merumuskan kebijakan bukanlah suatu proses yang sederhana dan

mudah. Hal ini disebabkan banyak faktor atau kekuatan – kekuatan yang berpengaruh

terhadap proses pembuatan kebijakan tersebut. Suatu kebijakan dibuat bukan semata –

(5)

anggota masyarakat secara keseluruhan. Perumusan kebijakan akan lebih mudah

dimengerti apabila menggunakan suatu model atau pendekatan tertentu.

Oleh karena itu, beberapa ahli mengembangkan model-model perumusan kebijakan

untuk mengkaji proses perumusan kebijakan agar lebih mudah dipahami. Dengan

demikian, pembuatan model-model perumusan kebijakan digunakan untuk lebih

menyederhanakan proses perumusan kebijakan yang berlangsung secara rumit tersebut.

Ada cukup banyak model perumusan kebijakan yang dipaparkan oleh beberapa ahli, hanya

saja yang akan dibahas hanyalah beberapa dari model tersebut. Sebelum dibahas lebih

lanjut identifikasi beberapa model perumusan kebijakan, perlu diperhatikan bahwa tidak

ada satupun dari beberapa model yang dibahas dianggap “paling baik”, karena masing –

masing model memberikan fokus perhatiannya pada aspek yang berbeda, sehingga akan

membuat kita mampu mempelajari kebijakan dari berbagai sudut pandangan.

2.2.1 Model Sistem – politik

Model ini diangkat dari uraian sarjana politik David Easton. Model ini didasarkan

pada konsep – konsep teori informasi (inputs, withinputs, outputs dan feedback) dan memandang kebijakan sebagai respon suatu sistem politik terhadap kekuatan – kekuatan

lingkungan (dalam hal ini yaitu sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, geografis dan

sebagainya) yang ada di sekitarnya. Konsep “sistem” itu sendiri menunjuk pada

seperangkat lembaga dan aktivitas – aktivitas politik dalam masyarakat Sehingga model

(6)

menunjukkan adanya saling hubungan antara elemen – elemen yang membangun sistem

politik serta mempunyai kemampuan menanggapi kekuatan dalam lingkungannya. Inputs

yang sudah diterima oleh sistem politik dijadikan dalam bentuk tuntutan dan dukungan

(Islamy,2004: 45).

Paine dan Naumes berpendapat bahwa model ini merupakan model deskripitif

karena lebih berusaha menggambarkan senyatanya yang terjadi dalam pembuatan

kebijakan. Menurut Paine dan Naumes, model ini disusun hanya dari sudut pandang para

pembuat kebijakan. Dalam hal ini para pembuat kebijakan dilihat perannya dalam

perencanaan dan pengkoordinasian untuk menemukan pemecahan masalah yang akan (1)

menghitung kesempatan dan meraih atau menggunakan dukungan internal dan eksternal,

(2) memuaskan permintaan lingkungan, dan (3) secara khusus memuaskan keinginan atau

kepentingan para pembuat kebijakan itu sendiri. Dengan merujuk pada pendekatan sistem

yang ditawarkan oleh Easton, Paine dan Naumes menggambarkan model pembuatan

kebijakan sebagai interaksi yang terjadi antara lingkungan dengan para pembuat kebijakan

dalam suatu proses yang dinamis. Model ini mengasumsikan bahwa dalam pembuatan

kebijakan terdiri dari interaksi yang terbuka dan dinamis antar para pembuat kebijakan

dengan lingkungannya. Interaksi yang terjadi dalam bentuk keluaran dan masukan (inputs

dan outputs). Keluaran yang dihasilkan oleh organisasi pada akhirnya akan menjadi bagian

lingkungan dan seterusnya akan berinteraksi dengan

organisasi(http://adiprojo.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul

19.00).

Tuntutan – tuntutan (demands) timbul bila individu – individu atau kelompok setelah memperoleh respons dari peristiwa dan keadaan – keadaan yang ada

dilingkungannya serta berupaya mempengaruhi proses pembuatan kebijakan. Konsep

(7)

diperlukan untuk menunjang tuntutan – tuntutan yang telah dibuat tadi. Jika sistem politik

telah berhasil membuat keputusan ataupun kebijakan yang sesuai dengan tuntutan tadi

maka implementasi keputusannya akan semakin mudah dilakukan. Menerima dan

mematuhi hasil keputusan kebijakan, mematuhi undang-undang, membayar pajak dan

sebagainya adalah merupakan perwujudan dari pemberian dukungan dan sumber –

sumber.

Suatu sistem menyerap bermacam-macam tuntutan yang kadangkala bertentangan

antara satu dengan yang lain. Untuk mengubah tuntutan-tuntutan menjadi hasil-hasil

kebijakan (kebijakan-kebijakan publik), suatu sistem harus mampu mengatur

penyelesaian-penyelesaian pertentangan atau konflik dan memberlakukan penyelesaian-penyelesaian-penyelesaian-penyelesaian ini

pada pihak yang bersangkutan. Oleh karena suatu sistem dibangun berdasarkan

elemen-elemen yang mendukung sistem tersebut dan hal ini bergantung pada interaksi antara

berbagai subsistem, maka suatu sistem akan melindungi dirinya melalui tiga hal, yakni: 1)

menghasilkan outputs yang secara layak memuaskan, 2) menyandarkan diri pada

ikatan-ikatan yang berakar dalam sistem itu sendiri, dan 3) menggunakan atau mengancam untuk

menggunakan kekuatan (penggunaan otoritas). Dengan penjelasan yang demikian, maka

model ini memberikan manfaat dalam membantu mengorganisasikan penyelidikan

terhadap pembentukan kebijakan.

Secara singkat bisa dipahami, perumusan kebijakan dengan menggunakan model

(8)

2.2.2. Model Rasional Komprehensif

Model ini merupakan model yang paling dikenal dan juga paling luas diterima para

kalangan pengkaji kebijakan . Model teori ini mengedepankan gagasan bahwa kebijakan

sebagai maximum social gain yang berarti pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus memilih kebijakan yang memberikan manfaat optimum bagi masyarakat. Model ini

mengatakan bahwa proses penyusunan kebijakan harus didasarkan pada kebutuhan yang

sudah diperhitungkan rasionalitasnya. Rasionalitas yang diambil adalah perbandingan

antara pengorbanan dan hasil yang dicapai. Dengan kata lain, model ini lebih menekankan

pada aspek efisiensi dan aspek ekonomis. Cara – cara memformulasikan atau merumuskan

kebijakannya sesuai urutan adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya

2. Menemukan pilihan – pilihan

3. Menilai konsekuensi masing – masing pilihan

4. Menilai rasio nilai sosial yang dikorbankan

5. Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien

Apabila dirunut, model ini merupakan model ideal dalam merumuskan kebijakan,

dalam arti mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas kebijakan. Studi – studi kebijakan

biasanya memfokuskan pada tingkat efisiensi dan keefektifan kebijakan(Nugroho,2006:

82).

Unsur – unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Pembuat keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan

dari masalah – masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah – masalah

(9)

2. Tujuan – tujuan, nilai – nilai, atau saran yang memedomani pembuat keputusan

amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan

kepentingannya.

3. Berbagai alternatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama

4. Teliti juga akibat – akibat (biaya dan manfaat) yang ditimbulkan oleh setiap

alternatif yang dipilih

5. Setiap alternatif dan masing – masing akibat yang menyertainya dapat

diperbandingkan dengan alternatif lain yang ada

6. Pembuat keputusan akan memilih alternatif dan akibat – akibatnya, yang dapat

memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau sasaran yang telah

digariskan(Wahab,2005: 19).

Namun, model ini juga memiliki kelemahan dan kelebihannya. Beberapa ahli yang

memuji model ini diantaranya :

1. Lutrin dan Settle, yang berpendapat bahwa “Model rasional komprehensif

dipandang sebagai suatu prosedur yang optimal yang akan banyak diinginkan

dalam berbagai keadaan”

2. Nicholas Henry, yang berpendapat bahwa “Model rasional komprehensif

menjelaskan tentang bagaimana kebijakan negara itu seharusnya dibuat di lembaga

pemerintahan secara optimal. Hal inilah yang menjadikan model rasional

komprehensif begitu berharga bagi administrasi negara karena model ini

berhubungan dengan bagaimana kebijakan itu dibuat secara lebih baik”

3. Ira Sharkansky, yang berpendapat bahwa “Model ini adalah menggunakan

rasionalitas, dimana rasionalitas adalah suatu nilai yang telah diterima secara luas

(10)

4. James E.Anderson, yang berpendapat bahwa “model pembuatan keputusan yang

banyak dikenal dan juga mungkin yang banyak/secara luas diterima adalah model

rasional komprehensif(Islamy,2004: 52-53).

Selain pendapat – pendapat di atas, masih banyak lagi pendapat lain yang memuji

kehebatan model rasional komprehenssif, tetapi secara kontroversial mereka juga

mengakui akan banyaknya kelemahan – kelemahan model ini. Seorang ahli Ekonomi dan

Matematika Charles Lindblom menyatakan bahwa para perumus kebijakan itu sebetulnya

tidaklah berhadapan dengan masalah – masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.

Sebaliknya, mereka pertama – tama harus mengidentifikasikan dan merumuskan masalah –

masalah itu dan dari sinilah mereka kemudian memutuskan untuk merumuskan kebijakan.

Merumuskan masalah lah yang seringkali justru merupakan kesulitan terbesar bagi banyak

pembuat kebijakan(Wahab,2005: 19).

Kelemahan model ini yang kedua adalah pada praktiknya perumus kebijakan acap

kali tidak mempunyai cukup kecakapan untuk melakukan syarat – syarat dari model ini,

mulai dari analisis, penyajian alternatif, memperbandingkan alternatif, hingga penggunaan

teknik – teknik analisis komputer yang paling maju untuk menghitung rasio untung dan

ruginya. Selain itu hal ini menunjukan bahwa rasionalitas itu sendiri mempunyai

keterbatasan dan bisa jadi berubah menjadi irasionalitas. Hal ini lah menunjukkan bahwa

teori “rasional” tidak cukup untuk memahami pembuatan keputusan kebijakan

negara(Nugroho,2006: 88).

2.2.3. Model Inkrementalis

Model ini merupakan model penambahan (inkrementalis). Model ini lahir

berdasarkan kritik dan perbaikan terhadap model rasional – komprehensif dengan

(11)

rasional komprehensif(Islamy,2004: 59). Dijelaskan bahwa para pembuat kebijakan dalam

model rasional komprehensif tidak pernah melakukan proses seperti yang disyaratkan oleh

pendekatan rasional dikarenakan para pembuat kebijakan tidak memiliki cukup waktu,

intelektual dan biaya. Ada muncul kekhawatiran dari dampak yag tidak diinginkan akibat

kebijakan yang belum pernah dibuat sebelumnya, ada hasil – hasil dari kebijakan

sebelumnya yang harus dipertahankan dan menghindari konflik(Nugroho,2006: 89).

Model ini melihat bahwa kebijakan merupakan variasi atau kelanjutan dari

kebijakan di masa lalu. Model ini dapat dikatakan sebagai model pragmatis/praktis.

Pendekatan model ini diambil ketika pembuat kebijakan berhadapan dengan keterbatasan

waktu, ketersediaan informasi, dan kecukupan dana untuk melakukan evaluasi kebijakan

secara komprehensif. Sementara itu pembuat kebijakan dihadapkan pada ketidakpastian

yang muncul di sekelilingnya. Pilihannya adalah melanjutkan kebijakan di masa lalu

dengan beberapa modifikasi seperlunya. Pilihan ini biasanya dilakukan oleh pemerintahan

yang berada di lingkungan masyarakat yang pluralistik, yang membuatnya tidak mungkin

membuat kebijakan baru yang dapat memuaskan seluruh warga. Dengan kata lain, model

ini memberikan kebijakan tambahan yang baru dengan sedikit memodifikasi kebijakan di

masa lalu hanya saja kebijakan penambahan (inkremental) ini tidak mendapatkan

dukungan yang memadai. Model inkrementalis berusaha mempertahankan komitmen

kebijakan di masa lalu untuk mempertahankan kinerja yang telah dicapai. Model kebijakan

inkrementalis tidak saja terjadi karena keterbatasan sumber daya, melainkan juga karena

keberhasilan di masa lalu yang menciptakan rasa puas diri yang

berkepanjangan(Nugroho,2006: 89-91).

Menurut pandangan kaum inkrementalis, para pembuat keputusan dalam

menunaikan tugasnya berada dibawah keadaan yang tidak pasti yang berhubungan dengan

(12)

inkremental dapat mengurangi resiko atau biaya ketidakpastian itu. Inkrementalisme juga

mempunyai sifat realistis karena didasari kenyataan bahwa para pembuat keputusan kurang

waktu, kecakapan dan sumber-sumber lain yang dibutuhkan untuk melakukan analisis

yang menyeluruh terhadap semua penyelesaian alternatif masalah-masalah yang ada. Di

samping itu, pada hakikatnya orang ingin bertindak secara pragmatis, tidak selalu mencari

cara hingga yang paling baik dalam menanggulangi suatu masalah. Singkatnya,

inkrementalisme menghasilkan keputusan-keputusan yang terbatas, dapat dilakukan dan

diterima(http://adiprojo.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul

19.00).

Model inkremental ini juga memiliki kekurangan dan kelebihannya. Hal ini bisa

kita lihat dari beberapa pendapat dari beberapa ahli. (islamy,2004: 65)Seperti komentar

James Anderson yang mengatakan bahwa :

(13)

Dibalik kelebihannya, tetap saja ada yang mengkritisi model inkremental ini.

Seperti yang diungkapkan oleh Terry W. Hartle. Hartle mengungkapkan bahwa

inkrementalisme cenderung mengabaikan pembaruan karena hanya memusatkan

perhatiannya pada tujuan jangka pendek dan hanya mencapai beberapa variasi dari

kebijakan yang sudah digunakan/lampau(Islamy,2004: 69).

Model yang diperkenalkan oleh Charles E.Lindblom ini juga dikenal dengan

sebutan “muddling through” dimana secara sederhana bisa kita pahami bagaimana kebijakan itu dibuat berdasarkan kebijakan yang lama dipakai sebagai dasar atau pedoman

untuk membuat kebijakan yang baru.

2.2.4. Model Penyelidikan Campuran

Model ini merupakan upaya menggabungkan antara model rasional dan model

inkremental. Inisiatornya adalah pakar sosiologi organisasi yang bernama Amitai Etzioni

pada tahun 1967. Ia memperkenalkan model ini sebagai suatu pendekatan terhadap

formulasi keputusan – keputusan pokok dan inkremental, menetapkan proses – proses

formulasi kebijakan pokok dan urusan tinggi yang menentukan petunjuk – petunjuk dasar,

proses – proses yang mempersiapkan keputusan – keputusan pokok, dan menjalankannya

setelah keputusan itu tercapai. Model ini ibaratnya pendekatan dengan dua kamera :

kamera dengan wide angle untuk melihat keseluruhan, dan kamera dengan zoom untuk melihat detailnya(Nugroho,2006: 98). Artinya, jika memakai dua model sebelumnya yaitu

model rasional dan inkremental, maka bisa digambarkan bahwa pendekatan rasionalitas

sebagai wide angle (sudut lebih luas) yaitu memiliki sudut yang lebar tetapi tidak detail atau rinci. Pendekatan rasionalitas menghasilkan sebuah pengamatan yang membutuhkan

(14)

kemungkinan membebani kemampuan-kemampuan untuk mengambil tindakan. Sedangkan

inkrementalisme dengan zoom nya akan memusatkan perhatian hanya pada daerah-daerah serta pola-pola yang telah diamati yang memerlukan pengamatan yang lebih

mendalam(

http://adiprojo.blogspot.com/2010/04/model-model-formulasi-kebijakan-publik.html, diakses pukul 19.00 WIB. 27 November 2012).

Model ini menyodorkan konsepsi mixed scanning (pengamatan terpadu) sebagai suatu pendekatan untuk mengambil keputusan yang bersifat fundamental maupun yang

inkremental. Model ini belajar dari kelebihan dan kekurangan model – model sebelumnya.

Model mixed scanning ini memanfaatkan dua macam model sebelumnya secara fleksibel dan sangat tergantung dengan masalah dan situasinya. Model mixed scanning

memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan

kekuasaannya serta semakin efektif guna mengimplementasikan keputusan – keputusan

mereka. Lebih mudah dipahami bahwa model ini adalah model yang amat

menyederhanakan masalah. Model ini disukai karena pada hakikatnya model ini

merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan model inkrementalisme dalam proses pengambilan

keputusan(Wahab,2005: 26).

Dari beberapa model atau pendekatan dalam peembuatan kebijakan yang sudah

dipaparkan sebelumnya, masing – masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam hal

ini, tidak ada pernyataan yang mana yang paling baik dan sesuai diantara beberapa model

tersebut. Yang pastinya, untuk menentukan model mana yang akan dipakai untuk

merumuskan kebijakan, haruslah yang paling baik dan berlandaskan pada kriteria –

kriteria tertentu yang sesuai dengan kebutuhan.

(15)

2.3. Proses – Proses Perumusan Kebijakan 

Membuat atau merumuskan suatu kebijakan, apalagi kebijakan pemerintah yang

menyangkut untuk kemaslahatan masyarakat, bukanlah suatu proses yang mudah dan

sederhana. Hal ini disebabkan karena banyaknya faktor atau kekuatan – kekuatan yang

berpengaruh terhadap proses pembuatan kebijakan tersebut. Suatu kebijakan dibuat bukan

untuk kepentingan politik semata, tetapi justru utuk meningkatkan kesejahteraan hidup

masyarakat secara keseluruhan.

Setiap pembuat kebijakan akan memandang berbeda dalam permasalahan yang ada

di sekitar masyarakat. Belum tentu sebuah masalah yang dianggap masyarakat perlu

dipecahkan oleh para pembuat kebijakan bisa masuk ke dalam agenda pemerintah yang

kemudian diproses untuk bisa menjadi kebijakan suatu negara. Proses perumusan

kebijakan yang begitu sulit dan rumit direalisasikan, pun masih dihadapkan dengan

permasalahan : apakah kebijakan yang sudah dihasilkan akan berjalan mudah atau lancara

ketika diimplementasikan? Apakah sudah dipersiapkan antisipasinya? Dan hasil

implementasi kebijakan yang sudah dibuat tersebut baik yang berdampak atau yang

mempunyai konsekuensi positif maupun negatif juga berpengaruh terhadap proses

perumusan kebijakan yang selanjutnya. 

Untuk itu, berikut ini akan dibahas tentang proses – proses perumusan sebuah

kebijakan yang dimulai dari proses perumusan masalah kebijakan, penyusunan agenda

pemerintah, pengajuan kebijakan, pengesahan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, dan

penilaian kebijakan.

2.3.1. Perumusan Masalah 

Masalah merupakan hal yang tidak bisa lepas dari proses perumusan kebijakan.

(16)

yang menduga bahwa masalah – masalah kebijakan selalu muncul dan ada begitu saja di

hadapan para pembuat kebijakan, oleh karena itulah seolah – olah proses analisis daan

perumusan kebijakan sudah dapat dimulai. Tapi sesungguhnya, kebanyakan para pembuat

kebijakan harus mencari dan menentukan identitas masalah kebijakan itu dengan susah

payah barulah kemudian mereka dapat merumuskan masalah kebijakan dengan benar. 

Pengertian masalah dalam konteks kebijakan adalah sebagai kondisi atau situasi

yang mnghasilkan kebutuhan – kebutuhan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh rakyat

dimana perlu dicari cara – cara penanggulangannya. Hal ini dilakukan oleh mereka yang

secara langsung terkena akibat oleh masalah itu atau oleh orang lain yang punya tanggung

jawab untuk hadirnya ketidakpuasan tersebut(Islamy,2004: 79). Banyak sekali kebutuhan –

kebutuhan atau ketidakpuasaan yang dimiliki masyarakat . Masalah yang muncul di dalam

masayarakat tadi telah menjadi masalah bersama atau sering dikenal sebagai public problem hingga menjadi public issue yaitu masalah bersama yang telah menuntut untuk penyelesaiannya melalui intervensi kebijakan. Seperti yang diutarakan sebelumnya para

pembuat kebijakan sebenarnya mengalami kesulitan dalam merumuskan masalah yang ada

di masyarakat, salah satu alasannya karena kealpaan atau tidak mampu dan mungkin tidak

sadarnya masyarakat dalam mengidentifikasikan masalahnya sendiri. 

Rintangan yang dihadapi para aktor pembuat kebijakan yang paling utama adalah

memang benar mengidentifikasi masalah dan merumuskan masalah yang ada di

masyarakat. Masalah yang timbul dalam masyarakat sangat banyak, kompleks dan rumit.

Yang menjadi titik kesulitannya adalah mampukah pembuat kebijakan ini melihat masalah

dengan benar dan merumuskan msalah itu dengan benar pula. Faktanya, banyak sekali

program – program yang telah dibuat dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kebutuhan, dan

di samping itu pula banyak masalah yang sudah muncul tiba – tiba “menghilang” di tengah

(17)

sering kali tidak mampu menemukan masalah – masalah yang ada dengan baik karena

mereka sering terjebak ke dalam masalah yang sebenarnya masalah tersebut masih dalam

bentuk “gejala masalah”. Kesalahan di dalam melihat dan mengidentifikasikan masalah

akan berakibat salahnya perumusan masalah dan ini akan berakibat panjang pada fase –

fase berikutnya(Islamy,2004: 81). 

Oleh karena itu, langkah yang benar- benar harus dilakukan oleh setiap pembuat

kebijakan adalah dengan benar – benar mengidentifikasi masalah yang akan diselesaikan

kemudian membuat perumusan yang jelas terhadap masalah tersebut. Jika benar – benar

sudah teliti, maka masalah tersebut akan dimasukkan ke dalam agenda pemerintah untuk

diproses lebih lanjut.

2.3.2. Proses Penyusunan Agenda

Penyusunan agenda adalah langkah kedua dalam merumuskan kebijakan. Setelah

para pembuat kebijakan dengan cermat mengidentifikasi masalah dan telah melahirkan

perumusan masalah yang benar, maka masalah – masalah tersebut akan diolah dan

dimasukkan ke agenda. Secara umum agenda kebijakan merupakan sebuah daftar

permasalahan atau isu yang mendapat perhatian serius karena berbagai alasan sehingga

diproses menjadi kebijakan. Menurut Cobb dan Elder, agenda dapat diklasifikasikan ke

dalam dua tipe. Pertama, agenda yang bersifat sistematis. Jenis agenda ini mencakup

seluruh isu yang umumnya diakui dan mendapat perhatian publik serta termasuk persoalan

yang masuk di dalam yurisdiksi legitimasi pemerintah. Kedua,agenda yang bersifat

institusional. Agenda ini mencakup seluruh isu – isu dimana para pembuat kebijakan yang

memiliki kewenangan secara eksplisit, aktif dan serius mempertimbangkan sebuah isu

(18)

Perlu untuk diketahui bahwa tidak semua masalah yang ada bisa diagendakan untuk

dirumuskan kebijakannya. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi faktor masalah –

masalah itu bisa masuk ke dalam agenda pemerintah. Faktor – faktornya adalah : 

1. Apabila masalah tersebut dipandang dapat menimbulkan konflikantar kelompok

masyarakat, sehingga masyarakat menuntut pemerintah untuk ambil tindakan guna

menyelesaikan masalah tersebut 

2. Timbulnya krisis atau peristiwa luar biasa yang menyangkut masalah tersebut.

Setiap kejadian atau peristiwa luar biasa selalu memperoleh perhatian yang luas

dari masyarakat, termasuk pembuat kebijakan, sehingga memaksa para pembuat

kebijakan memperhatikan peristiwa atau kejadian tersebut dan

mempertimbangkannya 

3. Adanya gerakan – gerakan protes dari satu kelompok lemah oleh kelompok –

kelompok atas dikarenakan kepentingan kelompok atas 

4. Adanya peran media masa yang meliput akan adanya masalah-masalah yang timbul

dimasyarakat, membuat ketertarikan para pembuat kebijakan untuk melihat dan

kemungkinan besar akan diperhatikan pemerintah dan bisa masuk ke dalam agenda

pemerintah(Islamy,2004: 87). 

Proses memasukkan masalah-masalah ke dalam agenda pemerintah seperti yang

sudah diutarakan sebelumnya bukanlah pekerjaan yang ringan, tetapi justru merupakan

pekerjaan yang rumit dan kompleks. Karena itu, harus dilihat tidak hanya dinamika

prosesnya saja tetapi juga pada tataran interaksi dan peran dari golongan-golongan yang

berpartisipasi, baik dari pemerintah maupun non pemerintah(masyarakat). Masalah yang

ada di sekitar masyarakat cukup banyak, oleh karena itu para pembuat kebijakan harus

memiliki kapasitas dan keterampilan yang memadai untuk memilih masalah mana duluan

(19)

2.3.3. Perumusan Usulan Kebijakan 

Ini adalah proses ketiga dalam proses perumusan kebijakan. Setelah

mengidentifikasi masalah yang ada lalu dimasukkan ke agenda pemerintah, maka langkah

selanjutnya adalah merumuskan usulan kebijakan. Perumusan usulan kebijakan adalah

kegiatan menyusun dan mengembangkan serangkaian tindakan-tindakan untuk pemecahan

masalah. Yang termasuk ke dalam kegiatan ini adalah : mengidentifikasi alternatif,

mendefenisikan dan merumuskan alternatif, menilai alternatif yang tersedia, dan memilih

alternatif yang bagus atau yang paling mungkin untuk dilaksanakan. 

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi alternatif. Sebelum pembuat kebijakan merumuskan usulan kebijakannya, maka terlebih dahulu harus

mengidentifikasi alternatif – alternatif untuk kepentingan pemecahan masalah tersebut.

Masalah-masalah umum yang sudah diidentifikasi sebelumnya dan sudah masuk ke dalam

agenda pemerintah, harus diidentifikasi alternatif-alternatifnya untuk pemecahan masalah

tersebut. Maksudnya adalah setiap masalah memiliki karakteristik masalahnya masing-

masing. Oleh karena itu, sebelum mengusulkan kebijakan maka para pembuat kebijakan

dituntut kreatif untuk mencari alternatif atau solusi untuk setiap masalah yang memiliki

karakteristik yang berbeda. Identifikasi alternatif atau solusi yang benar dan jelas pada

setiap alternatif kebijakan akan mempermudah proses perumusan alternatif tersebut. Kedua

adalah mendefinisikan dan merumuskan alternatif atau solusi. Kegiatan mendefinisikan

dan merumuskan alternatif ini bertujuan agar masing-masing alternatif yang telah

dikumpulkan oleh para pembuat kebijakan semakin nampak dan jelas

pengertiannya(defenisinya). Semakin jelas untuk mengerti tentang alternatif atau solusinya

maka akan semakin mudah bagi pembuat kebijakan menilai dan mempertimbangkan aspek

positif dan negatif dari masing – masng alternatif atau solusi yang sudah dibuat tersebut.

(20)

pemberian bobot pada setiap alternatif, sehingga akan kelihatan untuk setiap alternatif yang

mana yang memiliki bobot positif dan negatif dari alternatif agar para pembuat kebijakan

bisa mengambil sikap untuk menentukan alternatif mana yang lebih memungkinkan untuk

dipakai dengan indikatornya adalah alternatif ini benar-benar berfungsi dengan baik dan

menguntungan semua pihak. Dan kegiatan keempat adalah memilih alternatif atau solusi yang terbaik(bagus) atau yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Proses pemilihan

alternatif atau solusi yang terbaik ini barulah dapat terlaksana setelah para pembuat

kebijakan berhasil dalam melakukan penilaian terhadap alternatif-alternatif tersebut.

Kegiatan memilih alternatif atau solusi terbaik ini bukanlah semata-mata bersifat rasional

tetapi juga emosional. Maksudnya, bahwa para pembuat kebijakan akan menilai alternatif

kebijakan yang ada sebatas pada kemampuan rasionalitasnya ditambah lagi ia membuat

pilihan alternatif ini bukan hanya untuk kepentingannya sendiri tetapi juga untuk

kepentingan pihak – pihak lain yang berpengaruh(Islamy,2004: 92 -95). 

Jadi, suatu alternatif yang telah dipilih secara memuaskan akan menjadi suatu

usulan kebijakan (policy proposal)yang sudah diantisipasi dan bisa dapat dilaksanakan.

 

2.3.4. Pengesahan Kebijakan 

Proses pembuatan kebijakan tidak dapat dipisahkan dengan proses pengesahan

kebijakan. Kedua-duanya mempunyai hubungan yang sangat erat sekali, sehingga tidak

mungkin dipisahkan. Sebagai suatu proses kolektif, pembuat keputusan/kebijakan akan

berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan mayoritas dalam forum pengesahan usulan

kebijakan, sehingga pejabat atau badan pemberi pengesahan setuju untuk mengadopsi

usulan kebijakan tersebut menjadi kebijakan yang telah disahkan dan berarti telah siap

untuk dilaksanakan.

(21)

Proses pengesahan kebijakan adalah proses penyesuaian dan penerimaan secara

bersama terhadap prinsip – prinsip yang diakui dan diterima. Landasan utama untuk

melakukan pengesahan itu adalah variabel – variabel sosial seperti sistem nilai masyarakat,

ideologi negara, sistem politik dan sebagainya. Proses pengesahan kebijakan biasanya

diawali dengan kegiatan persuasion dan bargaining. Persuasion diartikan sebagai usaha – usaha untuk meyakinkan orang lain tentang suatu kebenaran atau nilai kedudukan

seseorang dan sehingga mereka mau menerimanya sebagai miliknya sendiri. Dalam usaha

– usaha untuk meyakinkan dan mencari dukungan orang lain, maka harus benar- benar

berusaha meyakinkan orang lain tersebut bahwa pendapat kita itu benar,bermanfaat bagi

masyarakat, sesuai dengan kebutuhan yang mendesak dan sebagainya, sehingga orang lain

membenarkan pendapat itu dan mendukungnya. Sehingga dengan cara ini, pembuat

kebijakan bisa menciptakan timbulnya suasana emosional yang sedemikian rupa sehingga

si pengesah kebijakan atau badan pengesah kebijakan merasa yakin tentang perlunya

segera mengesahkan kebijakan tersebut(Islamy,2004: 100). 

Kegiatan dalam proses pengesahan kebijakan selanjutnya yaitu bargaining.

Bargaining adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih yang mempunyai kekuasaan atau otoritas mengatur/menyesuaikan setidak-tidaknya sebagai tujuan-tujuan yang tidak

mereka sepakati agar dapat merumuskan serangkaian tindakan yang dapat diterima

bersama tetapi tidak perlu terlalu ideal bagi mereka. Yang termasuk kategori bargaining

ini adalah : perjanjian (negotiation), saling memberi dan menerima (take and give), dan kompromi (compromise). Setelah dua kegiatan tersebut dilaksanakan, maka disahkanlah kebijakantersebut(http://legislasi.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 05 Desember 2012

pukul 14.03). 

Dengan disahkannya kebijakan bukan berarti bahwa masalah yang dihadapi sudah

(22)

disahkan dengan melalui beberapa tahapan proses yang cukup sulit dapat langsung

diterima oleh masyarakat dan diimplementasikan.

2.3.5. Pelaksanaan Kebijakan 

Perlu diketahui bersama bahwa sekali usulan kebijakan yang telah diterima dan

disahkan oleh badan atau pihak yang berwenang mensahkannya maka kebijakan itu telah

siap untuk diimplementasikan. Ada beberapa kebijakan yang bersifat “self-executing”

yang artinya dengan dirumuskannya kebijakan tersebut maka kebijakan tersebut sekaligus

langsung terimplementasikan. Contoh misalnya kebijakan negara yang mengakui secara

formal penggantian lambang negara yang baru, lagu negara dan lain – lain. Tetapi jumlah

kebijakan negara yang seperti ini tidaklah banyak. Kebanyakan kebijakan negara itu

berbentuk seperti peraturan perundangan, ketentuan, ketetapan atau yang sejenis dengan

itu(Islamy, 2004: 102). 

Untuk mengetahui lebih jauh tentang bentuk atau jenis – jenis kebijakan yang

dibuat oleh pemerintah,maka berikut ini adalah kategorisasi kebijakan-kebijakan publik

untuk masyarakat : 

1. Substantive policies 

Substantive policies adalah kebijakan-kebijakan tentang apa yang akan/ingin

dilakukan oleh pemerintah. Contoh : kebijakan luar negeri, perdagangan,

perburuhan, pendidikan, energi, kesehatan, perumahan rakyat dan sebagainya 

2. Distributive,Re-Distributive, Regulatory, dan Self Regulatory Policies 

Distributive Policies adalah kebijakan-kebijakan yang berisikan tentang pemberian pelayanan – pelayanan atau keuntungan – keuntungan bagi sejumlah penduduk :

(23)

kelompok penduduk dengan kelas – kelas tertentu, misalnya antara golongan

mampu (the haves) dan tidak mampu(the havenots). Contoh dari kebijakan ini adalah tentang pembagian tanah untuk buruh tani; pembebasan tanah untuk

kepentingan umum; pemberian dana kesejahteraan sosialdan sebagainya.

Regulatory Policies adalah kebijakan – kebijakan tentang pengenaan pembatasan atau larangan – larangan atas tindakan seseorang atau sekelompok. Ini bersifat

mengurangi kebebasan seseorang untuk berbuat sesuatu. Contoh dari kebijakan ini

adalah kebijakan tentang larangan menyimpan senjata api, obat – obat terlarang

dan lain – lain. Self Regulatory Policies adalah kebijakan – kebijakan tentang pembatasan atau pengawasan pada masalah – masalah tertentu bagi sekelompok

orang. Self regulatory policies biasanya didukung oleh orang kelompok orang yang berkepentingan dengan kebijakan itu dan menjadikannya sebagai alat untuk

melindungi kepentingan mereka sendiri. Contoh dari kebijakan ini adalah tentang

pemberian izin kerja, surat izin mengemudi dan lain – lain 

3. Material Policies 

Material Policies adalah kebijakan-kebijakan tentang pengalokasian atau

penyediaan sumber materi yang nyata atau kekuasaan yang hakiki bagi para

penerimanya. Contoh dari kebijakan ini adalah tentang kewajiban para majikan

untuk membayar upah buruh, kewajiban pemerintah untuk menyediakan rumah

murah bagi warganya dan lain – lain.  

4. Collective Goods dan Private Goods Policies 

Collective Goods Policies adalah kebijakan – kebijakan tentang penyediaan

barang-barang dan pelayanan – pelayanan keperluan orang banyak. Contoh kebijakan ini

adalah tentang keamanan nasional dan lain-lain. Private Goods Police adalah

(24)

kepentingan perseorangan(privat) yang tersedia di pasar bebas dan orang yang

memerlukannya harus membayar biaya tertentu. Contoh dari kebijakan ini adalah

tempat – tempat hiburan, universitas, jalan tol, rumah sakit dan lain -lain. 

5. Liberal dan Conservative Policies 

Liberal Policies adalah kebijakan yang menganjurkan pemerintah untuk mengadaka

perubahan-perubahan sosial terutama yang diarahkan untuk memperbesar hak-hak

persamaan. Kebijakan ini menghendaki agar pemerintah mengadakan koreksi

terhadap ketidakadilan dan kelemahan yang ada pada aturan-aturan sosial,

meningkatkan ekonomi dan program kesejahteraan. Conservative Policies adalah  

  Kebalikan dari liberal policies. Kebijakan conservative cenderung mementingkan

Kepentingan penguasa dan produsen

Tugas dan kewajiban pemerintah bukan hanya sekedar merumuskan dan

mengesahkan sebuah kebijakan saja, tetapi pemerintah juga memiliki peran dalam hal

pelaksanaan kebijakan yang sudah dibuat tersebut. Pemerintah harus benar-benar

mendesiminasikan kebijakan yang sudah dibuat kepada seluruh masyarakat. Oleh karena

itu pemerintah harus memanfaatkan sumber daya yang ada seperti media massa baik milik

pemerintah maupun milik swasta untuk membangun komunikasi kepada masyarakat –

masyarakat tentang kebijakan – kebijakan yang sudah dibuat pemerintah. Jadi kalau proses

desiminasi kebijakan digarap dengan baik maka pelaksanaan kebijakan tersebut akan

menjadi lebih efektif dan akan dapat menambah kelancaran proses implementasi

kebijakan tersebut nantinya.

2.4. Model – Model Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang paling sulit dalam siklus

(25)

konsep, akan muncul pada saat pengimplementasiannya. Implementasi kebijakan

sesungguhnya tidaklah sekadar bersangkut paut dengan mekanisme penjabaran

keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin lewat saluran-saluran

birokrasi,melainkan lebih dari itu, ia menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa

yang memperoleh apa dari suatu kebijakan. Di sini Grindle (1980) telah meramalkan,

bahwa dalam setiap implementasi kebijakan pemerintah pasti dihadapkan pada banyak

kendala, utamanya yang berasal dari lingkungan (konteks) di mana kebijakan itu akan

diimplementasikan.

Untuk mengkaji lebih baik suatu implementasi kebijakan, maka perlu diketahui

variabel dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk itu, diperlukan suatu model

implementasi kebijakan guna menyederhanakan pemahaman konsep suatu implementasi

kebijakan. Ada begitu banyak model – model implementasi kebijakan yang dikembangkan

oleh pakar sosial dan beberapa model dibawah ini dikembangkan oleh beberapa pakar

sosial sebagai alat untuk mengkaji apa – apa saja bentuk (jenis) implementasi kebijakan,

apa – apa saja variabelnya serta syarat – syarat agar implementasinya bisa menjadi berhasil

secara sempurna.

2.4.1. Model Van Meter dan Van Horn

Model implementasi kebijakan yang dirumuskan Van Meter dan Van Horn disebut

denganA Model of the Policy Implementation. Proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi suatu pengejawantahan kebijakan yang pada dasarnya secara

sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan yang tinggi yang

berlangsung dalam hubungan berbagai variabel. Model ini mengandaikan bahwa

(26)

kebijakan publik. Model ini menjelaskan bahwa kinerja kebijakan dipengaruhi oleh

beberapa variabel yang saling berkaitan, variable-variabel tersebut yaitu :

1. Ukuran dan tujuan kebijakan

Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya dari

ukuran dan tujuan kebijakan yang bersifat realistis dengan sosio-kultur yang ada

di level pelaksana kebijakan.

2. Sumber daya

Keberhasilan implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan

memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya

yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan.

Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial dan waktu menjadi

perhitungan penting dalam keberhasilan implementasi kebijakan

3. Karakteristik organisasi pelaksana

Hal ini meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat dalam pengimplementasian kebijakan. Hal ini penting karena kinerja

implementasai kebijakan akan sngat dipengaruhi oleh ciri yang tepat serta cocok

dengan para pelaksananya

. 4.Komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan

Agar kebijakan bisa dilaksanakan dengan efektif, menurut Van Meter dan Van

Horn diperlukan komunikasi yang baik antar individu(implementor) organisasi agar tidak terjadi distorsi dalam pengimplementasian kebijakan agar bisa

tercapai sasaran dan tujuan kebijakan tersebut

5.Disposisi atau sikap para pelaksana

(27)

mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kenerja implementasi kebijakan

publik.

6.Lingkungan sosial, ekonomi dan politik

Hal terakhir yang perlu diperhatikan guna menilai kinerja implementasi kebijakan

adalah sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan publik.

Lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi sumber

masalah dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Karena itu, upaya implementasi

kebijakan mensyaratkan kondisi lingkungan eksternal yang kondusif(Nugroho,2006:

127-128).

2.4.2. Model George Edward III

Model implementasi kebijakan selanjutnya di kembangkan oleh George Edward III.

. Edward III menamakan model implementasi kebijakan publiknya dengan nama Direct

and Indirect Impact on Implementation. Edward melihat implementasi kebijakan sebagai

suatu proses yang dinamis, dimana terdapat banyak faktor yang saling berinteraksi dan

mempengaruhi implementasi kebijakan. Faktor-faktor tersebut perlu ditampilkan guna

mengetahui bagaimana pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap implementasi. Oleh

karena itu, Edward menegaskan bahwa dalam studi implementasi terlebih dahulu harus

diajukan dua pertanyaan pokok yaitu: apa yang menjadi prasyarat bagi implementasi

kebijakan serta apa yang menjadi faktor utama dalam keberhasilan implementasi

kebijakan(http://mulyono.staff.uns.ac.id/. Diakses pada tanggal 05 Desember 2012 pukul

14.41).

Untuk menjawab dua pertanyaan pokok tersebut, maka Edward(dalam

Tangkilisan,2003:12-13) mengusulkan empat variabel yang menjadi faktor utama

(28)

1. Komunikasi

Komunikasi merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik dari atas ke

bawah maupun dari bawah ke atas. Untuk mengindari terjadinya distorsi informasi

yang disampaikan atasan ke bawahan, perlu adanya ketetapan waktu dalam

penyampaian informasi, harus jelas informasi yang disampaikan, serta memerlukan

ketelitian dan konsistensi dalam menyampaikan informasi.

2. Sumber daya

Sumber – sumber dalam implementasi kebijakan memegang peranan penting

karena implementasi kebijakan tidak akan efektif bilamana sumber – sumber

pendukungnya tidak tersedia. Yang termasuk sumber – sumbernya adalah : staf

yang relatif cukup jumlahnya dan mempunyai keahlian dan keterampilan untuk

melaksanakan kebijakan, informasi yang memadai untuk keperluan implementasi,

dukungan dari lingkungan untuk mensukseskan implementasi kebijakan serta

wewenang yang dimiliki implementor untuk mensukseskan kebijakan.

3. Disposisi

Variabel ini berkaitan dengan bagaimana sikap para implementor dalam

mendukung suatu implementasi kebijakan. kecakapan saja tidak mencukupi tanpa

kesediaan dan komitmen untuk melaksanakan kebijakan

4. Struktur Birokrasi

Suatu kebijakan seringkali melibatkan beberapa lembaga atau organisasi dalam

proses implementasinya, sehingga diperlukan koordinasi yang efektif antar

(29)

2.5. Lanjut Usia

2.5.1. Pengertian Lanjut Usia

Proses menjadi tua atau lanjut usia adalah suatu peristiwa yang wajar dan

berkembang secara alamiah. Lanjut usia merupakan bagian dari proses tumbuh

kembangnya manusia. Manusia tidak secara tiba – tiba menjadi tua, tetapi manusia

berkembang dari bayi,anak – anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal,

dengan perubahan fisik dan tingkah lakuyang dapat diramalkanyang terjadi pada semua

manusia pada saat manusia mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Semua

orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia

yang terakhir. Biasanya dimasa tua ini seseorang akan mengalami kemunduran fisik,

mental dan sosial secara bertahap.

Pengertian lanjut usia dewasa ini sudah cukup banyak para ahli maupun institusi –

institusi formal lainnya mencetuskan pengertian lanjut usia. Menurut Undang – Undang

No.13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada bab 1 pasal 1 ayat 2, yang

dimaksud dengan lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia lanjut usia adalah tahap masa tua dalam

perkembangan individu dengan batas usia 60 tahun ke atas.

Menurut Reimer et al dan Stanley Beare memberikan pengertian lanjut usia

berdasarkan karakteristik sosial masyarakatnya. Yang dimaksud lanjut usia menurut

Reimer dan Stanley adalah orang – orang yang menunjukkan ciri – ciri fisiknya sudah

mengalami kemunduran seperti rambun beruban, kerutan kulit dan hilangnya gigi.

Sedangkan menurut Glascock dan Feinman mendefinisikan lanjut usia sebagai gabungan

(30)

status fungsional seseorang. Yang dimaksud dengan usia kronologis disini adalah usia

seseorang ditinjau dari hitungan umur dalam angka(dalam Azizah,2011: 1).

WHO(World Health Organization) memberikan pengertian lanjut usia tergantung dari konteks yang tidak dipisahkan. Oleh karena itu, WHO mendefenisikan lanjut usia

berdasarkan dari tiga aspek penting ini, yaitu :

1. Aspek Biologi

Pengertian lanjut usia ditinjau dari aspek biologi adalah seseorang yang telah

menjalani proses penuaan, dalam arti menurunnya daya tahan fisik yang ditandai

dengan semakin rentannya tubuh terhadap serangan berbagai penyakit yang dapat

menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga

terjadi perubahan fungsi jaringan dalam organ tubuh.

2. Aspek Ekonomi

Pengertian lanjut usia ditinjau dari aspek ekonomi adalah seseorang yang

dipandang lebih sebagai beban daripada sebagai potensi sumber daya bagi

pembangunan. Seseorang yang sudah tua dianggap sebagai warga yang tidak

produktif dan hidupnya perlu ditopang oleh generasi yang lebih muda.

3. Aspek Sosial

Pengertian lanjut usia ditinjau dari aspek sosial adalah sekelompok orang yang

sudah memasuki usia lanjut dan merupakan kelompok sosial yang tersendiri. Lanjut

usia dipandang menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh

(31)

2.5.2. Batasan Lanjut Usia

Berbagai defenisi yang bervariasi sudah cukup banyak dipaparkan tentang lanjut

usia. Oleh karena itu diperlukan batasan lanjut usia untuk mengetahui penggolongan usia

para lanjut usia. Batasan lanjut usia jika didasarkan atas Undang-Undang No.13 Tahun

1998 adalah 60 tahun. Sedangkan menurut Undang – Undang No.4 tahun 1965 pasal 1

menyatakan bahwa seseorang dikatakan berusia lanjut jika sudah mencapai umur 55 tahun,

tidak berdaya mencari nafkah sendiri sehingga untuk keperluan menafkahi hidupnya ia

terima dari orang lain. Namun, sekarang ini banyak orang-orang maupun instansi – instansi

formal memberikan batasan lanjut usia yang berbeda-beda.

Menurut Prof.Dr,Koesmanto Setyonegoro(dalam azizah,2011:2) lanjut usia

dikelompokkan menjadi usia dewasa muda(elderly adulhood) yaitu usia 18 atau 29-25 tahun, usia dewasa penuh(middle years) atau maturitas yaitu usia 25-60 tahun atau 65 tahun, lanjut usia(geriatric age) yaitu usia lebih dari 65 tahun atau 70 tahun yang dibagi lagi menjadi 70-75 tahun(young old), 75 – 80 tahun(old), dan lebih dari 80 tahun(very old).

Berbeda pendapat lagi dengan beberapa ahli dalam program kesehatan usia lanjut,

Departemen Kesehatan membuat pengelompokkan batasan lanjut usia yaitu :

1. Kelompok pertengahan umur(Kelompok usia dalam masa virilitas), yaitu masa

persiapan usia lanjut yang menampakkan keperkasaan fisik. Kelompok usia ini

berumur 45-54 tahun

2. Kelompok usia lanjut dini (Kelompok dalam masa prasenium), yaitu kelompok

yang mulai memasuki usia lanjut. Kelompok usia ini adalah 55-64 tahun.

3. Kelompok usia lanjut (kelompok dalam masa senium). Kelompok usia ini adalah

(32)

4. Kelompok usia lanjut dengan risiko tinggi. Kelompok yang berusia lebih dari 70

tahun atau kelompok usia lanjut yang hidup sendiri, terpencil, menderita penyakit

berat atau cacat(Notoatmodjo,2007: 281).

Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batasan usia lanjut meliputi:

1. Usia pertengahan (middle age) adalah kelompok usia 45-59 tahun.

2. Usia lanjut (elderly) adalah kelompok usia antara 60 – 70 tahun.

3. Usia lanjut tua (old) adalah kelompok usia antara 75 – 90 tahun.

4. Usia sangat tua (very old) adalah kelompok usia di atas 90 tahun(Kosasih, 2002: x).

2.6. Proses Menua(Ageing Process)

Menua atau menjadi tua bukanlah suatu penyakit yang ditakuti tetapi merupakan

hal alamiah yang pasti akan dialami oleh semua manusia. Menua merupakan proses

berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari

luar tubuh. Proses menua sebenarnya sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai

usia dewasa karena proses menua ini menghinggapi seseorang dimulai dari rusaknya syaraf

tubuh, jaringan kulit dan lainnya sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.

Proses menua menurut Constantindes adalah suatu proses menghilangnya secara

perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan

mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan

(33)

2.6.1 Teori – Teori Proses Menua

Teori penuaan secara umum dapat dibedakan menjadi dua teori yaitu teori penuaan

secara biologi dan teori penuaan secara psikososial. Dalam teori biologi, proses penuaan

bisa terjadi karena beberapa hal seperti teori seluler, teori genetic clock, sintesis protein, keracunan oksigen, berkurangnya sistem imun, mutasi somatik, proses metabolisme tubuh

yang berkurang serta teori tentang radikal bebas dimana teori – teori ini lebih mendalam

dibahas oleh ilmu-ilmu kesehatan(Kosasih, 2002: 100).

Selain teori biologi, proses penuaan juga bisa dilihat dari teori psikososialnya.

Nugroho dan Kuntjoro(dalam Azizah, 2011: 10-11) memaparkan teori penuaan secara

psikososial. Pembahasan tentang teori psikososial adalah sebagai berikut :

1. Aktivitas atau Kegiatan(Activity Theory). Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah menua, sense integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Teori ini menyatakan

bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam

kegiatan sosial. Ukuran optimum(pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari

usia lanjut. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar

tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.

2. Kepribadian berlanjut(Continuity Theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identitas

pada lansia yang mantap memudahkan dalam memelihara hubungan dengan

masyarakat, keluarga dan hubungan interpersonal. Pada teori ini menyatakan

bahwa perubahan terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi

(34)

3. Teori Pembebasan(Disengagement Theory)

Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran

individu dengan individu lainnya. Teori ini menyatakan bahwa dengan

bertambahnya usia, seseorang secara pelan tapi pasti mulai melepaskan diri

dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan di sekitarnya.

Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara

kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda(triple loss), yakni: kehilangan peran(loss of role), hambatan kontak sosial(restriction of contacts and relationships) dan berkurangnya komitmen(reduced commitment to social mores an values).

2.6.2. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia

Perkembangan hidup manusia dimulai sejak janin dalam kandungan, memasuki

masa bayi, menjadi remaja, memasuki proses dewasa dan kemudian menjadi tua atau lanjut

usia. menjadi lanjut usia adalah proses alami yang tidak dapat dihindari oleh siapapun.

Proses menjadi lanjut usia selalu ditandai dengan kemunduran-kemunduran yang berupa

perubahan fungsi dari anggota tubuh maupun didalam tubuh. Akibatnya, dapat

menimbulkan masalah yang akan banyak mempengaruhi kegiatan sehari-hari para lanjut

usia.

Perubahan perubahan yang terjadi pada lanjut usia dibagi menjadi dua bagian, yaitu

perubahan yang terjadi pada kondisi fisik lansia dan kondisi psikis atau psikososial lansia.

1. Perubahan fisik.

a. Penurunan sistem syaraf dan panca indera. Pada sistem syaraf dan panca

(35)

 Kemunduran fungsi mata, telinga dan hidung sehingga menimbulkan

ganggaun penglihatan, pendengaran dan penciuman

 Kemunduran daya ingat sehingga menjadi sering lupa atau pikun

 Kemunduran urat syaraf sehingga reaksi dan gerakan menjadi lamban

dan kadang-kadang tidak terkontrol

 Gangguan tubuh sehingga cara berjalan menjadi tidak seimbang

b. Sistem peredaran darah dan jantung. Perubahan yang terjadi berupa :

 Tekanan darah yang kadang meningkat atau menurun sehingga

menyebabkan tekanan darah tinggi atau tekanan darah rendah.

 Penyumbatan pembuluh darah pada otak yang akan menyebabkan nyeri

dada dan berdebar-debar

 Penyumbatan pembuluh darah pada otak yang akan menyebabkan

kelumpuhan

c. Sistem pernafasan. Perubahan elastisitas otot-otot pernafasan dan paru-paru

yang dapat menyebabkan sesak nafas dan batuk-batuk.

 Gigi yang mulai ompong sehingga menyebabkan sulit mengunyah

makanan dan menyebabkan nafsu makan berkurang

 Kemunduran fungsi pengecap lidah

(36)

d. Sistem otot dan sendi

 Tulang mudah keropos dan mudah patah sehingga menyebabkan nyeri

sendi dan rasa sakit pada otot tertentu

 Otot menjadi lemah dan mengecil sehingga menyebabkan fisik menjadi

lemah

e. Sistem saluran kemih atau kelamin. Kemunduran fungsi ginjal sehingga

menyebabkan sering kencing atau pendarahan dalam air kencing.

2. Perubahan psikis

Kondisi psikis adalah keadaan mutlak seseorang atau kejiwaan seseorang. Kondisi

psikis mencakup : kemampuan berpikir, emosi atau perasaan, sikap dan perilaku. Pada

umumnya lansia mengalami perubahan fungsi psikisnya, baik dari segi kemampuan

berpikir, emosi atau perasaan,sikap dan perilakunya. Emosi atau perasaan yang dimiliki

lanjut usia kadang tidak stabil. Terkadang lanjut usia sering timbul perasaan tidak berguna

dan tidak dibutuhkan oleh orang lain, oleh karena itu sering muncul keinginan lanjut usia

untuk menunjukkan eksistensinya dihadapan orang lain. Selain itu sikap dan perilaku lanjut

usia juga mengalami perubahan – perubahan. Dikarenakan kemunduran psikomotorik

sehingga kondisi badan tidak terkoordinasi dengan baik, membuat para lanjut usia menarik

diri dalam mejalin hubungan sosial serta mengurangi partisipasinya dalam hubungan

sosialnya(modul bina keluarga lansia,2006: 46).

3. Perubahan Spiritual

Agama atau kepercayaan lanjut usia makin berintegrasi dalam kehidupannya.

(37)

dan bertindak sehari-hari. Spiritualitas pada lanjut usia bersifat universal, intrinsik dan

merupakan proses individual yang berkembang sepanjang rentang kehidupan. Karena

aliran siklus kehilangan terdapat pada kehidupan lansia, keseimbangan hidup tersebut

dipertahankan sebagian oleh efek positif dari kehilangan tersebut. Lansia yang telah

mempelajari cara menghadapi perubahan hidup melalui mekanisme keimanan akhirnya

dihadapkan pada tantangan akhir yaitu kematian. Harapan memungkinkan individu dengan

keimanan spiritual atau religius untuk bersiap menghadapi krisis kehilangan dalam hidup

sampai kematian. Satu hal pada lansia yang diketahui sedikit berbeda dari orang yang lebih

muda yaitu sikap mereka terhadap kematian. Hal ini menunjukkan bahwa lanjut usia

cenderung tidak terlalu takut terhadap konsep dan realitas kematian(Azizah, 2011: 16).

2.7. Hukum dan Perundang-undangan terkait dengan lansia

Yang menjadi dasar hukum ataupun perundang-undangan yang terkait dengan

lanjut usia antara lain:

1. Undang-undang dasar 1945 pasal 28 point H yang menyatakan dimana setiap

orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan

seseorang secara utuh sebagai manusia yang bermartabat

2. Undang-undang RI Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

3. Undang-undang RI Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial

Nasional

4. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya

Peningkatan Kesejahteraan Lanjut usia

(38)

6. Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 2005 tentang Pelaksanaan Bantuan

Langsung Tunai kepada Rumah Tangga Miskin

7. Undang-undang RI Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia

2.8. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudi luhur mempunyai ikatan

kekeluargaan yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa, yaitu

menghormati serta menghargai peran dan kedudukan lanjut usia yang memiliki kebijakan

dan kearifan serta pengalaman berharga yang dapat diteladani oleh generasi penerusnya.

Perwujudan nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa tersebut harus tetap dipelihara.

dipertahankan. dan dikembangkan. Upaya memelihara, mempertahankan, dan

mengembangkan nilai-nilai budaya tersebut dilaksanakan antara lain melalui upaya

peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia yang bertujuan mewujudkan kemandirian dan

kesejahteraan para lanjut usia. Agar upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia

sekaligus memberikan pengormatan kepada lanjut usia dapat dilaksanakan secara berdaya

guna dan berhasil guna serta menyeluruh dan berkesinambungan, diperlukan

undang-undang sebagai landasan hukum yang kuat dan merupakan arahan baik aparatur

Pemerintah maupun masyarakat. Undang-undang tersebut juga dimaksudkan sebagai

pengganti Undang-undang Nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan Penghidupan

Orang Jompo (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 2747), yaitu berupa Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan

Lanjut Usia.Secara umum materi yang diatur dalam Undang-undang ini, antara lain

(39)

1. Tugas dan tanggungjawab Pemerintah dan masyarakat guna mewujudkan

kesejahteraan sosial lanjut usia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

dan bernegara

2. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia dilaksanakan oleh

Pemerintah dan masyarakat

3. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia yang dilaksanakan sebagai

penghargaan dan penghormatan kepada lanjut usia melalui pelayanan:

 Keagamaan dan mental spiritual

 Kesehatan

 Kesempatan kerja

 Pendidikan dan pelatihan

 Kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana umum

 Kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum

 Perlindungan sosial

 Bantuan sosial

2.9. Kesejahteraan Sosial

2.9.1. Pengertian Kesejahteraan Sosial

Tidak dipungkiri bahwa masyarakat dari golongan apapun menginginkan hidup

sejahtera. Secara umum bisa kita pahami makna sejahtera bisa berbeda tergantung dari

(40)

memiliki segala hal yang bersifat materi dan memiliki segalanya seperti uang, mobil,

rumah dan lain-lain. Sedangkan bagi golongan proletar (The have not) memiliki pandangan bahwa hidup sejahtera adalah hidup dengan tidak penuh dengan harta tetapi memiliki

kebahagiaan dengan hidup tidak berlebihan.

Cukup banyak defenisi yang memaparkan defenisi sejahtera. Kesejahteraan atau

sejahtera memiliki beberapa arti. Dalam istiah umum, sejahtera berarti menunjuk ke

keadaan yang baik, kondisi dimana orang-orangnya dalam keadaan makmur, sehat dan

damai. Dalam bidang ekonomi, sejahtera dihubungkan dengan keuntungan memiliki

benda/kebendaan. Dalam kebijakan sosial, kesejahteraan menunjuk kepada jangkauan

pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat(http://id.m.wikipedia.org/. Diakses

pada tanggal 15 Mei 2013 pukul 11.45).

Kesejahteraan menyangkut aspek seluruh masyarakat. Oleh karena itu

kesejahteraan adalah milik seluruh masyarakat(sosial). Karenanya muncullah banyak

defenisi tentang kesejahteraan sosial. Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009,

kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial

warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat

melaksanakan fungsi sosialnya.

Kesejahteraan sosial dalam arti sangat luas mecakup berbagai tindakan yang

dilakukan manusia untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Menurut Walter

Friedlander, kesejahteraan sosial merupakan sistem yang terorganisir dari institusi dan

pelayanan sosial, yang dirancang untuk membantu individu ataupun kelompok agar dapat

mencapai standar hidup dan kesehatan yang lebih memuaskan. Dalam pertemuan Panitia

Kerja Pra Konferensi Kesejahteraan Sosial Internasional yang ke 15 dirumuskan

(41)

“Kesejahteraan Sosial adalah keseluruhan usaha sosial yang terorganisir dan

mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat berdasarkan konteks

sosialnya. Di dalamnya tercakup pula kebijakan dan pelayanan yang terkait dengan

berbagai kehidupan dalam masyarakat seperti pendapatan; jaminan sosial; kesehatan;

perumahan;pendidikan;rekreasi;tradisi dan lain” (http://kesejahteraansosial.blogspot.com/.

Diakses pada tanggal 15 Mei 2012 pukul 12.15).

Namun perkembangan kesejahteraan sosial dewasa ini menunjukkan bahwa masih

ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena

belum memperoleh pelayan sosial secara maksimal dari lembaga atau instansi negara.

Karena belum maksimalnya pelayanan yang diusahakan oleh pemerintah membuat

bermunculannya berbagai PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) yang ada

termasuk salah satu diantaranya adalah warga lanjut Usia.

2.9.2. Teori Pelayanan Sosial

Pelayanan pada lansia adalah suatu proses dalam bentuk penyuluhan sosial,

bimbingan, konseling, bantuan, santunan dan perawatan yang dilakukan secara terarah,

terencana dan berkelanjutan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial

lanjut usia. pelayanan sosial lanjut usia bisa dilakukan baik di dalam panti maupun diluar

panti. Diluar panti bentuk pelayanannya ada yang berbentuk kegiatan day care service dan lain – lain sedangkan didalam panti bentuk kegiatannya ada seperti bimbingan, penyuluhan

sosial dan lain-lain dimana pelayanan sosial yang dilakukan diatur berlandaskan

Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan sosial lanjut usia.

Setiap jenis pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia baik yang dilaksanakan

pemerintah maupun masyarakat mengandung sifat-sifat seperti sifat preventif, kuratif dan

(42)

1. Prefentiv atau pencegahan

Pelayanan sosial yang bersifat preventif merupakan pelayanan yang diarahkan untuk mencegah timbulnya masalah baru dan meluasnya permasalahan yang

dihadapi lanjut usia, oleh karena itu dilakukan melalui upaya pemberdayaan

keluarga, kesaatuan kelompok dan eksternal lain yang peduli terhadap

penngkatan kesejahteraan lanjut usia

2. Kuratif atau penyembuhan

Pelayanan sosial lanjut usia bersifat kuratif merupakan pelayan sosial yang diarahkan untuk menyembuhkan gangguan-gangguan yang di alami lanjut usia,

baik secara fisik, psikis maupun sosial

3. Rehabilitatif atau pemulihan kembali

Pelayanan sosial bersifat rehabilitatif merupakan proses pemulihan kembali fungsi-fungsi sosial setelah individu mengalami gangguan dalam

melaksanakan fungsi-fungsi sosialnya.

2.10. Kerangka Pemikiran

Masalah tentang kependudukan memang tidak lepas dari proses pembangunan

suatu negara. Seperti di Indonesia yang mengalami keberhasilan dalam proses

pembangunan seperti meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Dengan meningkatnya

jumlah penduduk membuat jumlah penduduk lanjut usia semakin bertambah. Karena

jumlah penduduk lanjut usia semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan membuat

pemerintah tidak boleh mengabaikan hak-hak para lanjut usia. Gagasan pemerintah

Referensi

Dokumen terkait

Gapura adalah suatu struktur yang merupakan pintu masuk atau gerbang ke suatu wilayah atau kawasan. Dalam bidang arsitektur gapura sering disebut dengan entrance,

Regulasi/ akselerasi BRI KPSBU Pemda Kebijakan Susu segar bermutu Penguatan Modal Pet ernak.. Welfare

 melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang baik atau positif dari pemberian pembiayaan dari Kredit Usaha Rakyat Medan Johor bagi

Salah satu tekonologi dari Java yang dipilih untuk digunakan dalam pembuatan aplikasi ICS adalah Java Management Extensions (JMX TM ), yaitu sebuah package yang memiliki sejumlah

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, berkah, serta hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini

Penelitian dengan menerapkan metode Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART) pernah dilakukan oleh Jupri pada tahun 2014 dengan judul Sistem Pendukung Keputusan

Sambil berjalan- jalan di sekitar sekolah, Guru mengarahkan murid pada hal yang banyak terjadi secara alami sebagai contoh yang mudah dimengerti. Murid-murid tanpa sadar belajar