BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Implementasi Kebijakan
2.1.1. Pengertian Implementasi Kebijakan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi adalah pelaksanaan dan
penerapan, dimana kedua hal ini bermaksud untuk mencari bentuk tentang hal yang
disepakati terlebih dahulu. Implementasi adalah proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga dimaksudkan
menyediakan sarana untuk membuat sesuatu dan memberikan hasil yang bersifat praktis
terhadap sesama. Jadi Implementasi dimaksudkan sebagai tindakan individu public yang
diarahkan pada tujuan serta ditetapkan dalam keputusan dan memastikan terlaksananya dan
tercapainya suatu kebijakan serta memberikan hasil yang bersifat praktis terhadap sesama
sehingga dapat tercapainya sebuah kebijakan yang memberikan hasil terhadap
tindakan-tindakan individu publik dan swasta (http://www.scribd.com. Diakses pada tangal 25
November 2012 pukul 15.00).
Implementasi menurut kamus Webster merumuskan secara pendek bahwa to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for carrying out; (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); to give practical effect to
(menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Van Meter dan Van Horn (1975)
merumuskan implementasi ini adalah sebagai tindakan – tindakan yang dilakukan baik
oleh individu – individu, pejabat – pejabat, atau kelompok – kelompok pemerintah atau
swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan – tujuan yang telah digariskan dalam
Pengertian implementasi menurut Mazmanian dan Sabatier adalah pelaksanaan
keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula
berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau
keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah
yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan/sasaran yang ingin dicapai, dan
berbagai cara untuk menstrukturkan/mengatur proses implementasinya. Proses ini
berlangsung setelah melalui sejumlah tahapan tertentu, biasanya diawali dengan tahapan
pengesahan undang-undang, kemudian output kebijakan dalam bentuk pelaksanaan
keputusan oleh badan (instansi) pelaksanaan, kesediaan dilaksanakannya keputusan-
keputusan tersebut oleh kelompok-kelompok sasaran, dampak nyata; baik yang
dikehendaki atau yang tidak dari output tersebut, dampak keputusan sebagai dipersepsikan
oleh badan-badan yang mengambil keputusan, dan akhirnya perbaikan-perbaikan penting
(atau upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan) terhadap undang-undang/ peraturan
yang bersangkutan (Wahab,2005: 68).
Berdasarkan banyak pengertian implementasi yang dikemukakan diatas,dapat
dikatakan bahwa implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan pihak-pihak yang
berwenang atau kepentingan baik pemerintahmaupun swasta yang bertujuan untuk
mewujudkan cita-cita atau tujuan yang telah ditetapkan, implementasi dengan berbagai
tindakan yang dilakukan untuk melaksanakan atau merealisasikan program yang telah
disusun demi tercapainya tujuan dari program yang telah direncanakan karena pada
dasarnya setiap rencana yang ditetapkan memiliki tujuan atau target yang hendak dicapai.
Sedangkan kebijakan (policy) juga memiliki arti yang bermacam – macam. Harold
serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu
lingkungan tertentu dengan menunjukkan hambatan – hambatan dan kesempatan –
kesempatan terhadap pelaksanaan usulan kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan
tertentu. Pendapat ahli lainnya seperti James E.Anderson mengatakan bahwa kebijakan itu
adalah serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan
dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu
masalah tertentu. Kemudian menurut Amara Raksasataya mengemukakan bahwa kebijakan
adalah sebagai suatu taktik dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Menurut
beliau kebijakan memuat tiga elemen yaitu :
1. Identifikasi dari tujuan yang ingin dicapai
2. Taktik atau strategi dari berbagai langkah untuk mencapai tujuan yang
diiginkan
3. Penyediaan berbagai input untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata dari
taktik atau strategi(islamy,2004: 17).
Menurut Perserikatan Bangsa – Bangsa, kebijakan diartikan sebagai pedoman
untuk bertindak. Pedoman itu boleh jadi amat sederhana atau kompleks, bersifat umum
atau khusus, luas atau sempit, kabur atau jelas, longgar atau terperinci bersifat kualitataif
atau kuantitatif, publik maupun privat. Kebijakan dalam makna seperti ini mungin berupa
suatu deklarasi mengenai dasar pedoman bertindak, suatu arah tindakan tertentu, suatu
program mengenai aktivitas – aktivitas ataupun suatu rencana(Wahab,2005:2).
Ada juga pengertian kebijakan sebagai suatu program pencapaian tujuan, nilai-nilai
dan tindakan-tindakan yang terarah dan kebijakan juga merupakan serangkaian tindakan
yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu
dalam rangka mencapai tujuan tertentu((http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 25
November 2012 pukul 15.00).
Oleh karena itu bisa kita pahami secara sederhana bahwa implementasi kebijakan
adalah suatu tahapan kebijakan publik, antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi –
konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Jika suatu kebijakan tidak
tepat atau tidak dapat mengurangi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka
kebijakan itu dapat mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu telah diimplementasikan
dengan sangat baik, sementara itu suatu kebijakan yang telah direncanakan dengan sangat
baik, dapat mengalami kegagalan jika kebijakan tersebut kurang diimplementasikan
dengan baik oleh para pelaksana kebijakan.
Dengan demikian bisa kita ketahui bahwa implementasi dan kebijakan adalah dua
kata yang tidak bisa dipisahkan dalam satu kosa kata. Implementasi sebagai kata kerja dan
kebijakan sebagai objek untuk yang diimplementasikan. Sebagai pangkal tolak berpikir
kita, hendaknya selalu diingat bahwa implementasi adalah sebagian besar kebijakan dari
pemerintah dan pasti akan melibatkan sejumlah pembuat kebijakan baik publik maupun
swasta berusaha keras untuk memberikan pelayanan atau jasa kepada masyarakat guna
untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga untuk melaksanakan implementasi kebijakan ini
perlu mendapatkan perhatian yang seksama dari berbagai kalangan.
2.2. Model – Model Perumusan Kebijakan
Membuat atau merumuskan kebijakan bukanlah suatu proses yang sederhana dan
mudah. Hal ini disebabkan banyak faktor atau kekuatan – kekuatan yang berpengaruh
terhadap proses pembuatan kebijakan tersebut. Suatu kebijakan dibuat bukan semata –
anggota masyarakat secara keseluruhan. Perumusan kebijakan akan lebih mudah
dimengerti apabila menggunakan suatu model atau pendekatan tertentu.
Oleh karena itu, beberapa ahli mengembangkan model-model perumusan kebijakan
untuk mengkaji proses perumusan kebijakan agar lebih mudah dipahami. Dengan
demikian, pembuatan model-model perumusan kebijakan digunakan untuk lebih
menyederhanakan proses perumusan kebijakan yang berlangsung secara rumit tersebut.
Ada cukup banyak model perumusan kebijakan yang dipaparkan oleh beberapa ahli, hanya
saja yang akan dibahas hanyalah beberapa dari model tersebut. Sebelum dibahas lebih
lanjut identifikasi beberapa model perumusan kebijakan, perlu diperhatikan bahwa tidak
ada satupun dari beberapa model yang dibahas dianggap “paling baik”, karena masing –
masing model memberikan fokus perhatiannya pada aspek yang berbeda, sehingga akan
membuat kita mampu mempelajari kebijakan dari berbagai sudut pandangan.
2.2.1 Model Sistem – politik
Model ini diangkat dari uraian sarjana politik David Easton. Model ini didasarkan
pada konsep – konsep teori informasi (inputs, withinputs, outputs dan feedback) dan memandang kebijakan sebagai respon suatu sistem politik terhadap kekuatan – kekuatan
lingkungan (dalam hal ini yaitu sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, geografis dan
sebagainya) yang ada di sekitarnya. Konsep “sistem” itu sendiri menunjuk pada
seperangkat lembaga dan aktivitas – aktivitas politik dalam masyarakat Sehingga model
menunjukkan adanya saling hubungan antara elemen – elemen yang membangun sistem
politik serta mempunyai kemampuan menanggapi kekuatan dalam lingkungannya. Inputs
yang sudah diterima oleh sistem politik dijadikan dalam bentuk tuntutan dan dukungan
(Islamy,2004: 45).
Paine dan Naumes berpendapat bahwa model ini merupakan model deskripitif
karena lebih berusaha menggambarkan senyatanya yang terjadi dalam pembuatan
kebijakan. Menurut Paine dan Naumes, model ini disusun hanya dari sudut pandang para
pembuat kebijakan. Dalam hal ini para pembuat kebijakan dilihat perannya dalam
perencanaan dan pengkoordinasian untuk menemukan pemecahan masalah yang akan (1)
menghitung kesempatan dan meraih atau menggunakan dukungan internal dan eksternal,
(2) memuaskan permintaan lingkungan, dan (3) secara khusus memuaskan keinginan atau
kepentingan para pembuat kebijakan itu sendiri. Dengan merujuk pada pendekatan sistem
yang ditawarkan oleh Easton, Paine dan Naumes menggambarkan model pembuatan
kebijakan sebagai interaksi yang terjadi antara lingkungan dengan para pembuat kebijakan
dalam suatu proses yang dinamis. Model ini mengasumsikan bahwa dalam pembuatan
kebijakan terdiri dari interaksi yang terbuka dan dinamis antar para pembuat kebijakan
dengan lingkungannya. Interaksi yang terjadi dalam bentuk keluaran dan masukan (inputs
dan outputs). Keluaran yang dihasilkan oleh organisasi pada akhirnya akan menjadi bagian
lingkungan dan seterusnya akan berinteraksi dengan
organisasi(http://adiprojo.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul
19.00).
Tuntutan – tuntutan (demands) timbul bila individu – individu atau kelompok setelah memperoleh respons dari peristiwa dan keadaan – keadaan yang ada
dilingkungannya serta berupaya mempengaruhi proses pembuatan kebijakan. Konsep
diperlukan untuk menunjang tuntutan – tuntutan yang telah dibuat tadi. Jika sistem politik
telah berhasil membuat keputusan ataupun kebijakan yang sesuai dengan tuntutan tadi
maka implementasi keputusannya akan semakin mudah dilakukan. Menerima dan
mematuhi hasil keputusan kebijakan, mematuhi undang-undang, membayar pajak dan
sebagainya adalah merupakan perwujudan dari pemberian dukungan dan sumber –
sumber.
Suatu sistem menyerap bermacam-macam tuntutan yang kadangkala bertentangan
antara satu dengan yang lain. Untuk mengubah tuntutan-tuntutan menjadi hasil-hasil
kebijakan (kebijakan-kebijakan publik), suatu sistem harus mampu mengatur
penyelesaian-penyelesaian pertentangan atau konflik dan memberlakukan penyelesaian-penyelesaian-penyelesaian-penyelesaian ini
pada pihak yang bersangkutan. Oleh karena suatu sistem dibangun berdasarkan
elemen-elemen yang mendukung sistem tersebut dan hal ini bergantung pada interaksi antara
berbagai subsistem, maka suatu sistem akan melindungi dirinya melalui tiga hal, yakni: 1)
menghasilkan outputs yang secara layak memuaskan, 2) menyandarkan diri pada
ikatan-ikatan yang berakar dalam sistem itu sendiri, dan 3) menggunakan atau mengancam untuk
menggunakan kekuatan (penggunaan otoritas). Dengan penjelasan yang demikian, maka
model ini memberikan manfaat dalam membantu mengorganisasikan penyelidikan
terhadap pembentukan kebijakan.
Secara singkat bisa dipahami, perumusan kebijakan dengan menggunakan model
2.2.2. Model Rasional Komprehensif
Model ini merupakan model yang paling dikenal dan juga paling luas diterima para
kalangan pengkaji kebijakan . Model teori ini mengedepankan gagasan bahwa kebijakan
sebagai maximum social gain yang berarti pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus memilih kebijakan yang memberikan manfaat optimum bagi masyarakat. Model ini
mengatakan bahwa proses penyusunan kebijakan harus didasarkan pada kebutuhan yang
sudah diperhitungkan rasionalitasnya. Rasionalitas yang diambil adalah perbandingan
antara pengorbanan dan hasil yang dicapai. Dengan kata lain, model ini lebih menekankan
pada aspek efisiensi dan aspek ekonomis. Cara – cara memformulasikan atau merumuskan
kebijakannya sesuai urutan adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya
2. Menemukan pilihan – pilihan
3. Menilai konsekuensi masing – masing pilihan
4. Menilai rasio nilai sosial yang dikorbankan
5. Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien
Apabila dirunut, model ini merupakan model ideal dalam merumuskan kebijakan,
dalam arti mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas kebijakan. Studi – studi kebijakan
biasanya memfokuskan pada tingkat efisiensi dan keefektifan kebijakan(Nugroho,2006:
82).
Unsur – unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Pembuat keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan
dari masalah – masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah – masalah
2. Tujuan – tujuan, nilai – nilai, atau saran yang memedomani pembuat keputusan
amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan
kepentingannya.
3. Berbagai alternatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama
4. Teliti juga akibat – akibat (biaya dan manfaat) yang ditimbulkan oleh setiap
alternatif yang dipilih
5. Setiap alternatif dan masing – masing akibat yang menyertainya dapat
diperbandingkan dengan alternatif lain yang ada
6. Pembuat keputusan akan memilih alternatif dan akibat – akibatnya, yang dapat
memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau sasaran yang telah
digariskan(Wahab,2005: 19).
Namun, model ini juga memiliki kelemahan dan kelebihannya. Beberapa ahli yang
memuji model ini diantaranya :
1. Lutrin dan Settle, yang berpendapat bahwa “Model rasional komprehensif
dipandang sebagai suatu prosedur yang optimal yang akan banyak diinginkan
dalam berbagai keadaan”
2. Nicholas Henry, yang berpendapat bahwa “Model rasional komprehensif
menjelaskan tentang bagaimana kebijakan negara itu seharusnya dibuat di lembaga
pemerintahan secara optimal. Hal inilah yang menjadikan model rasional
komprehensif begitu berharga bagi administrasi negara karena model ini
berhubungan dengan bagaimana kebijakan itu dibuat secara lebih baik”
3. Ira Sharkansky, yang berpendapat bahwa “Model ini adalah menggunakan
rasionalitas, dimana rasionalitas adalah suatu nilai yang telah diterima secara luas
4. James E.Anderson, yang berpendapat bahwa “model pembuatan keputusan yang
banyak dikenal dan juga mungkin yang banyak/secara luas diterima adalah model
rasional komprehensif(Islamy,2004: 52-53).
Selain pendapat – pendapat di atas, masih banyak lagi pendapat lain yang memuji
kehebatan model rasional komprehenssif, tetapi secara kontroversial mereka juga
mengakui akan banyaknya kelemahan – kelemahan model ini. Seorang ahli Ekonomi dan
Matematika Charles Lindblom menyatakan bahwa para perumus kebijakan itu sebetulnya
tidaklah berhadapan dengan masalah – masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.
Sebaliknya, mereka pertama – tama harus mengidentifikasikan dan merumuskan masalah –
masalah itu dan dari sinilah mereka kemudian memutuskan untuk merumuskan kebijakan.
Merumuskan masalah lah yang seringkali justru merupakan kesulitan terbesar bagi banyak
pembuat kebijakan(Wahab,2005: 19).
Kelemahan model ini yang kedua adalah pada praktiknya perumus kebijakan acap
kali tidak mempunyai cukup kecakapan untuk melakukan syarat – syarat dari model ini,
mulai dari analisis, penyajian alternatif, memperbandingkan alternatif, hingga penggunaan
teknik – teknik analisis komputer yang paling maju untuk menghitung rasio untung dan
ruginya. Selain itu hal ini menunjukan bahwa rasionalitas itu sendiri mempunyai
keterbatasan dan bisa jadi berubah menjadi irasionalitas. Hal ini lah menunjukkan bahwa
teori “rasional” tidak cukup untuk memahami pembuatan keputusan kebijakan
negara(Nugroho,2006: 88).
2.2.3. Model Inkrementalis
Model ini merupakan model penambahan (inkrementalis). Model ini lahir
berdasarkan kritik dan perbaikan terhadap model rasional – komprehensif dengan
rasional komprehensif(Islamy,2004: 59). Dijelaskan bahwa para pembuat kebijakan dalam
model rasional komprehensif tidak pernah melakukan proses seperti yang disyaratkan oleh
pendekatan rasional dikarenakan para pembuat kebijakan tidak memiliki cukup waktu,
intelektual dan biaya. Ada muncul kekhawatiran dari dampak yag tidak diinginkan akibat
kebijakan yang belum pernah dibuat sebelumnya, ada hasil – hasil dari kebijakan
sebelumnya yang harus dipertahankan dan menghindari konflik(Nugroho,2006: 89).
Model ini melihat bahwa kebijakan merupakan variasi atau kelanjutan dari
kebijakan di masa lalu. Model ini dapat dikatakan sebagai model pragmatis/praktis.
Pendekatan model ini diambil ketika pembuat kebijakan berhadapan dengan keterbatasan
waktu, ketersediaan informasi, dan kecukupan dana untuk melakukan evaluasi kebijakan
secara komprehensif. Sementara itu pembuat kebijakan dihadapkan pada ketidakpastian
yang muncul di sekelilingnya. Pilihannya adalah melanjutkan kebijakan di masa lalu
dengan beberapa modifikasi seperlunya. Pilihan ini biasanya dilakukan oleh pemerintahan
yang berada di lingkungan masyarakat yang pluralistik, yang membuatnya tidak mungkin
membuat kebijakan baru yang dapat memuaskan seluruh warga. Dengan kata lain, model
ini memberikan kebijakan tambahan yang baru dengan sedikit memodifikasi kebijakan di
masa lalu hanya saja kebijakan penambahan (inkremental) ini tidak mendapatkan
dukungan yang memadai. Model inkrementalis berusaha mempertahankan komitmen
kebijakan di masa lalu untuk mempertahankan kinerja yang telah dicapai. Model kebijakan
inkrementalis tidak saja terjadi karena keterbatasan sumber daya, melainkan juga karena
keberhasilan di masa lalu yang menciptakan rasa puas diri yang
berkepanjangan(Nugroho,2006: 89-91).
Menurut pandangan kaum inkrementalis, para pembuat keputusan dalam
menunaikan tugasnya berada dibawah keadaan yang tidak pasti yang berhubungan dengan
inkremental dapat mengurangi resiko atau biaya ketidakpastian itu. Inkrementalisme juga
mempunyai sifat realistis karena didasari kenyataan bahwa para pembuat keputusan kurang
waktu, kecakapan dan sumber-sumber lain yang dibutuhkan untuk melakukan analisis
yang menyeluruh terhadap semua penyelesaian alternatif masalah-masalah yang ada. Di
samping itu, pada hakikatnya orang ingin bertindak secara pragmatis, tidak selalu mencari
cara hingga yang paling baik dalam menanggulangi suatu masalah. Singkatnya,
inkrementalisme menghasilkan keputusan-keputusan yang terbatas, dapat dilakukan dan
diterima(http://adiprojo.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul
19.00).
Model inkremental ini juga memiliki kekurangan dan kelebihannya. Hal ini bisa
kita lihat dari beberapa pendapat dari beberapa ahli. (islamy,2004: 65)Seperti komentar
James Anderson yang mengatakan bahwa :
Dibalik kelebihannya, tetap saja ada yang mengkritisi model inkremental ini.
Seperti yang diungkapkan oleh Terry W. Hartle. Hartle mengungkapkan bahwa
inkrementalisme cenderung mengabaikan pembaruan karena hanya memusatkan
perhatiannya pada tujuan jangka pendek dan hanya mencapai beberapa variasi dari
kebijakan yang sudah digunakan/lampau(Islamy,2004: 69).
Model yang diperkenalkan oleh Charles E.Lindblom ini juga dikenal dengan
sebutan “muddling through” dimana secara sederhana bisa kita pahami bagaimana kebijakan itu dibuat berdasarkan kebijakan yang lama dipakai sebagai dasar atau pedoman
untuk membuat kebijakan yang baru.
2.2.4. Model Penyelidikan Campuran
Model ini merupakan upaya menggabungkan antara model rasional dan model
inkremental. Inisiatornya adalah pakar sosiologi organisasi yang bernama Amitai Etzioni
pada tahun 1967. Ia memperkenalkan model ini sebagai suatu pendekatan terhadap
formulasi keputusan – keputusan pokok dan inkremental, menetapkan proses – proses
formulasi kebijakan pokok dan urusan tinggi yang menentukan petunjuk – petunjuk dasar,
proses – proses yang mempersiapkan keputusan – keputusan pokok, dan menjalankannya
setelah keputusan itu tercapai. Model ini ibaratnya pendekatan dengan dua kamera :
kamera dengan wide angle untuk melihat keseluruhan, dan kamera dengan zoom untuk melihat detailnya(Nugroho,2006: 98). Artinya, jika memakai dua model sebelumnya yaitu
model rasional dan inkremental, maka bisa digambarkan bahwa pendekatan rasionalitas
sebagai wide angle (sudut lebih luas) yaitu memiliki sudut yang lebar tetapi tidak detail atau rinci. Pendekatan rasionalitas menghasilkan sebuah pengamatan yang membutuhkan
kemungkinan membebani kemampuan-kemampuan untuk mengambil tindakan. Sedangkan
inkrementalisme dengan zoom nya akan memusatkan perhatian hanya pada daerah-daerah serta pola-pola yang telah diamati yang memerlukan pengamatan yang lebih
mendalam(
http://adiprojo.blogspot.com/2010/04/model-model-formulasi-kebijakan-publik.html, diakses pukul 19.00 WIB. 27 November 2012).
Model ini menyodorkan konsepsi mixed scanning (pengamatan terpadu) sebagai suatu pendekatan untuk mengambil keputusan yang bersifat fundamental maupun yang
inkremental. Model ini belajar dari kelebihan dan kekurangan model – model sebelumnya.
Model mixed scanning ini memanfaatkan dua macam model sebelumnya secara fleksibel dan sangat tergantung dengan masalah dan situasinya. Model mixed scanning
memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan
kekuasaannya serta semakin efektif guna mengimplementasikan keputusan – keputusan
mereka. Lebih mudah dipahami bahwa model ini adalah model yang amat
menyederhanakan masalah. Model ini disukai karena pada hakikatnya model ini
merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan model inkrementalisme dalam proses pengambilan
keputusan(Wahab,2005: 26).
Dari beberapa model atau pendekatan dalam peembuatan kebijakan yang sudah
dipaparkan sebelumnya, masing – masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam hal
ini, tidak ada pernyataan yang mana yang paling baik dan sesuai diantara beberapa model
tersebut. Yang pastinya, untuk menentukan model mana yang akan dipakai untuk
merumuskan kebijakan, haruslah yang paling baik dan berlandaskan pada kriteria –
kriteria tertentu yang sesuai dengan kebutuhan.
2.3. Proses – Proses Perumusan Kebijakan
Membuat atau merumuskan suatu kebijakan, apalagi kebijakan pemerintah yang
menyangkut untuk kemaslahatan masyarakat, bukanlah suatu proses yang mudah dan
sederhana. Hal ini disebabkan karena banyaknya faktor atau kekuatan – kekuatan yang
berpengaruh terhadap proses pembuatan kebijakan tersebut. Suatu kebijakan dibuat bukan
untuk kepentingan politik semata, tetapi justru utuk meningkatkan kesejahteraan hidup
masyarakat secara keseluruhan.
Setiap pembuat kebijakan akan memandang berbeda dalam permasalahan yang ada
di sekitar masyarakat. Belum tentu sebuah masalah yang dianggap masyarakat perlu
dipecahkan oleh para pembuat kebijakan bisa masuk ke dalam agenda pemerintah yang
kemudian diproses untuk bisa menjadi kebijakan suatu negara. Proses perumusan
kebijakan yang begitu sulit dan rumit direalisasikan, pun masih dihadapkan dengan
permasalahan : apakah kebijakan yang sudah dihasilkan akan berjalan mudah atau lancara
ketika diimplementasikan? Apakah sudah dipersiapkan antisipasinya? Dan hasil
implementasi kebijakan yang sudah dibuat tersebut baik yang berdampak atau yang
mempunyai konsekuensi positif maupun negatif juga berpengaruh terhadap proses
perumusan kebijakan yang selanjutnya.
Untuk itu, berikut ini akan dibahas tentang proses – proses perumusan sebuah
kebijakan yang dimulai dari proses perumusan masalah kebijakan, penyusunan agenda
pemerintah, pengajuan kebijakan, pengesahan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, dan
penilaian kebijakan.
2.3.1. Perumusan Masalah
Masalah merupakan hal yang tidak bisa lepas dari proses perumusan kebijakan.
yang menduga bahwa masalah – masalah kebijakan selalu muncul dan ada begitu saja di
hadapan para pembuat kebijakan, oleh karena itulah seolah – olah proses analisis daan
perumusan kebijakan sudah dapat dimulai. Tapi sesungguhnya, kebanyakan para pembuat
kebijakan harus mencari dan menentukan identitas masalah kebijakan itu dengan susah
payah barulah kemudian mereka dapat merumuskan masalah kebijakan dengan benar.
Pengertian masalah dalam konteks kebijakan adalah sebagai kondisi atau situasi
yang mnghasilkan kebutuhan – kebutuhan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh rakyat
dimana perlu dicari cara – cara penanggulangannya. Hal ini dilakukan oleh mereka yang
secara langsung terkena akibat oleh masalah itu atau oleh orang lain yang punya tanggung
jawab untuk hadirnya ketidakpuasan tersebut(Islamy,2004: 79). Banyak sekali kebutuhan –
kebutuhan atau ketidakpuasaan yang dimiliki masyarakat . Masalah yang muncul di dalam
masayarakat tadi telah menjadi masalah bersama atau sering dikenal sebagai public problem hingga menjadi public issue yaitu masalah bersama yang telah menuntut untuk penyelesaiannya melalui intervensi kebijakan. Seperti yang diutarakan sebelumnya para
pembuat kebijakan sebenarnya mengalami kesulitan dalam merumuskan masalah yang ada
di masyarakat, salah satu alasannya karena kealpaan atau tidak mampu dan mungkin tidak
sadarnya masyarakat dalam mengidentifikasikan masalahnya sendiri.
Rintangan yang dihadapi para aktor pembuat kebijakan yang paling utama adalah
memang benar mengidentifikasi masalah dan merumuskan masalah yang ada di
masyarakat. Masalah yang timbul dalam masyarakat sangat banyak, kompleks dan rumit.
Yang menjadi titik kesulitannya adalah mampukah pembuat kebijakan ini melihat masalah
dengan benar dan merumuskan msalah itu dengan benar pula. Faktanya, banyak sekali
program – program yang telah dibuat dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kebutuhan, dan
di samping itu pula banyak masalah yang sudah muncul tiba – tiba “menghilang” di tengah
sering kali tidak mampu menemukan masalah – masalah yang ada dengan baik karena
mereka sering terjebak ke dalam masalah yang sebenarnya masalah tersebut masih dalam
bentuk “gejala masalah”. Kesalahan di dalam melihat dan mengidentifikasikan masalah
akan berakibat salahnya perumusan masalah dan ini akan berakibat panjang pada fase –
fase berikutnya(Islamy,2004: 81).
Oleh karena itu, langkah yang benar- benar harus dilakukan oleh setiap pembuat
kebijakan adalah dengan benar – benar mengidentifikasi masalah yang akan diselesaikan
kemudian membuat perumusan yang jelas terhadap masalah tersebut. Jika benar – benar
sudah teliti, maka masalah tersebut akan dimasukkan ke dalam agenda pemerintah untuk
diproses lebih lanjut.
2.3.2. Proses Penyusunan Agenda
Penyusunan agenda adalah langkah kedua dalam merumuskan kebijakan. Setelah
para pembuat kebijakan dengan cermat mengidentifikasi masalah dan telah melahirkan
perumusan masalah yang benar, maka masalah – masalah tersebut akan diolah dan
dimasukkan ke agenda. Secara umum agenda kebijakan merupakan sebuah daftar
permasalahan atau isu yang mendapat perhatian serius karena berbagai alasan sehingga
diproses menjadi kebijakan. Menurut Cobb dan Elder, agenda dapat diklasifikasikan ke
dalam dua tipe. Pertama, agenda yang bersifat sistematis. Jenis agenda ini mencakup
seluruh isu yang umumnya diakui dan mendapat perhatian publik serta termasuk persoalan
yang masuk di dalam yurisdiksi legitimasi pemerintah. Kedua,agenda yang bersifat
institusional. Agenda ini mencakup seluruh isu – isu dimana para pembuat kebijakan yang
memiliki kewenangan secara eksplisit, aktif dan serius mempertimbangkan sebuah isu
Perlu untuk diketahui bahwa tidak semua masalah yang ada bisa diagendakan untuk
dirumuskan kebijakannya. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi faktor masalah –
masalah itu bisa masuk ke dalam agenda pemerintah. Faktor – faktornya adalah :
1. Apabila masalah tersebut dipandang dapat menimbulkan konflikantar kelompok
masyarakat, sehingga masyarakat menuntut pemerintah untuk ambil tindakan guna
menyelesaikan masalah tersebut
2. Timbulnya krisis atau peristiwa luar biasa yang menyangkut masalah tersebut.
Setiap kejadian atau peristiwa luar biasa selalu memperoleh perhatian yang luas
dari masyarakat, termasuk pembuat kebijakan, sehingga memaksa para pembuat
kebijakan memperhatikan peristiwa atau kejadian tersebut dan
mempertimbangkannya
3. Adanya gerakan – gerakan protes dari satu kelompok lemah oleh kelompok –
kelompok atas dikarenakan kepentingan kelompok atas
4. Adanya peran media masa yang meliput akan adanya masalah-masalah yang timbul
dimasyarakat, membuat ketertarikan para pembuat kebijakan untuk melihat dan
kemungkinan besar akan diperhatikan pemerintah dan bisa masuk ke dalam agenda
pemerintah(Islamy,2004: 87).
Proses memasukkan masalah-masalah ke dalam agenda pemerintah seperti yang
sudah diutarakan sebelumnya bukanlah pekerjaan yang ringan, tetapi justru merupakan
pekerjaan yang rumit dan kompleks. Karena itu, harus dilihat tidak hanya dinamika
prosesnya saja tetapi juga pada tataran interaksi dan peran dari golongan-golongan yang
berpartisipasi, baik dari pemerintah maupun non pemerintah(masyarakat). Masalah yang
ada di sekitar masyarakat cukup banyak, oleh karena itu para pembuat kebijakan harus
memiliki kapasitas dan keterampilan yang memadai untuk memilih masalah mana duluan
2.3.3. Perumusan Usulan Kebijakan
Ini adalah proses ketiga dalam proses perumusan kebijakan. Setelah
mengidentifikasi masalah yang ada lalu dimasukkan ke agenda pemerintah, maka langkah
selanjutnya adalah merumuskan usulan kebijakan. Perumusan usulan kebijakan adalah
kegiatan menyusun dan mengembangkan serangkaian tindakan-tindakan untuk pemecahan
masalah. Yang termasuk ke dalam kegiatan ini adalah : mengidentifikasi alternatif,
mendefenisikan dan merumuskan alternatif, menilai alternatif yang tersedia, dan memilih
alternatif yang bagus atau yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi alternatif. Sebelum pembuat kebijakan merumuskan usulan kebijakannya, maka terlebih dahulu harus
mengidentifikasi alternatif – alternatif untuk kepentingan pemecahan masalah tersebut.
Masalah-masalah umum yang sudah diidentifikasi sebelumnya dan sudah masuk ke dalam
agenda pemerintah, harus diidentifikasi alternatif-alternatifnya untuk pemecahan masalah
tersebut. Maksudnya adalah setiap masalah memiliki karakteristik masalahnya masing-
masing. Oleh karena itu, sebelum mengusulkan kebijakan maka para pembuat kebijakan
dituntut kreatif untuk mencari alternatif atau solusi untuk setiap masalah yang memiliki
karakteristik yang berbeda. Identifikasi alternatif atau solusi yang benar dan jelas pada
setiap alternatif kebijakan akan mempermudah proses perumusan alternatif tersebut. Kedua
adalah mendefinisikan dan merumuskan alternatif atau solusi. Kegiatan mendefinisikan
dan merumuskan alternatif ini bertujuan agar masing-masing alternatif yang telah
dikumpulkan oleh para pembuat kebijakan semakin nampak dan jelas
pengertiannya(defenisinya). Semakin jelas untuk mengerti tentang alternatif atau solusinya
maka akan semakin mudah bagi pembuat kebijakan menilai dan mempertimbangkan aspek
positif dan negatif dari masing – masng alternatif atau solusi yang sudah dibuat tersebut.
pemberian bobot pada setiap alternatif, sehingga akan kelihatan untuk setiap alternatif yang
mana yang memiliki bobot positif dan negatif dari alternatif agar para pembuat kebijakan
bisa mengambil sikap untuk menentukan alternatif mana yang lebih memungkinkan untuk
dipakai dengan indikatornya adalah alternatif ini benar-benar berfungsi dengan baik dan
menguntungan semua pihak. Dan kegiatan keempat adalah memilih alternatif atau solusi yang terbaik(bagus) atau yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Proses pemilihan
alternatif atau solusi yang terbaik ini barulah dapat terlaksana setelah para pembuat
kebijakan berhasil dalam melakukan penilaian terhadap alternatif-alternatif tersebut.
Kegiatan memilih alternatif atau solusi terbaik ini bukanlah semata-mata bersifat rasional
tetapi juga emosional. Maksudnya, bahwa para pembuat kebijakan akan menilai alternatif
kebijakan yang ada sebatas pada kemampuan rasionalitasnya ditambah lagi ia membuat
pilihan alternatif ini bukan hanya untuk kepentingannya sendiri tetapi juga untuk
kepentingan pihak – pihak lain yang berpengaruh(Islamy,2004: 92 -95).
Jadi, suatu alternatif yang telah dipilih secara memuaskan akan menjadi suatu
usulan kebijakan (policy proposal)yang sudah diantisipasi dan bisa dapat dilaksanakan.
2.3.4. Pengesahan Kebijakan
Proses pembuatan kebijakan tidak dapat dipisahkan dengan proses pengesahan
kebijakan. Kedua-duanya mempunyai hubungan yang sangat erat sekali, sehingga tidak
mungkin dipisahkan. Sebagai suatu proses kolektif, pembuat keputusan/kebijakan akan
berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan mayoritas dalam forum pengesahan usulan
kebijakan, sehingga pejabat atau badan pemberi pengesahan setuju untuk mengadopsi
usulan kebijakan tersebut menjadi kebijakan yang telah disahkan dan berarti telah siap
untuk dilaksanakan.
Proses pengesahan kebijakan adalah proses penyesuaian dan penerimaan secara
bersama terhadap prinsip – prinsip yang diakui dan diterima. Landasan utama untuk
melakukan pengesahan itu adalah variabel – variabel sosial seperti sistem nilai masyarakat,
ideologi negara, sistem politik dan sebagainya. Proses pengesahan kebijakan biasanya
diawali dengan kegiatan persuasion dan bargaining. Persuasion diartikan sebagai usaha – usaha untuk meyakinkan orang lain tentang suatu kebenaran atau nilai kedudukan
seseorang dan sehingga mereka mau menerimanya sebagai miliknya sendiri. Dalam usaha
– usaha untuk meyakinkan dan mencari dukungan orang lain, maka harus benar- benar
berusaha meyakinkan orang lain tersebut bahwa pendapat kita itu benar,bermanfaat bagi
masyarakat, sesuai dengan kebutuhan yang mendesak dan sebagainya, sehingga orang lain
membenarkan pendapat itu dan mendukungnya. Sehingga dengan cara ini, pembuat
kebijakan bisa menciptakan timbulnya suasana emosional yang sedemikian rupa sehingga
si pengesah kebijakan atau badan pengesah kebijakan merasa yakin tentang perlunya
segera mengesahkan kebijakan tersebut(Islamy,2004: 100).
Kegiatan dalam proses pengesahan kebijakan selanjutnya yaitu bargaining.
Bargaining adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih yang mempunyai kekuasaan atau otoritas mengatur/menyesuaikan setidak-tidaknya sebagai tujuan-tujuan yang tidak
mereka sepakati agar dapat merumuskan serangkaian tindakan yang dapat diterima
bersama tetapi tidak perlu terlalu ideal bagi mereka. Yang termasuk kategori bargaining
ini adalah : perjanjian (negotiation), saling memberi dan menerima (take and give), dan kompromi (compromise). Setelah dua kegiatan tersebut dilaksanakan, maka disahkanlah kebijakantersebut(http://legislasi.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 05 Desember 2012
pukul 14.03).
Dengan disahkannya kebijakan bukan berarti bahwa masalah yang dihadapi sudah
disahkan dengan melalui beberapa tahapan proses yang cukup sulit dapat langsung
diterima oleh masyarakat dan diimplementasikan.
2.3.5. Pelaksanaan Kebijakan
Perlu diketahui bersama bahwa sekali usulan kebijakan yang telah diterima dan
disahkan oleh badan atau pihak yang berwenang mensahkannya maka kebijakan itu telah
siap untuk diimplementasikan. Ada beberapa kebijakan yang bersifat “self-executing”
yang artinya dengan dirumuskannya kebijakan tersebut maka kebijakan tersebut sekaligus
langsung terimplementasikan. Contoh misalnya kebijakan negara yang mengakui secara
formal penggantian lambang negara yang baru, lagu negara dan lain – lain. Tetapi jumlah
kebijakan negara yang seperti ini tidaklah banyak. Kebanyakan kebijakan negara itu
berbentuk seperti peraturan perundangan, ketentuan, ketetapan atau yang sejenis dengan
itu(Islamy, 2004: 102).
Untuk mengetahui lebih jauh tentang bentuk atau jenis – jenis kebijakan yang
dibuat oleh pemerintah,maka berikut ini adalah kategorisasi kebijakan-kebijakan publik
untuk masyarakat :
1. Substantive policies
Substantive policies adalah kebijakan-kebijakan tentang apa yang akan/ingin
dilakukan oleh pemerintah. Contoh : kebijakan luar negeri, perdagangan,
perburuhan, pendidikan, energi, kesehatan, perumahan rakyat dan sebagainya
2. Distributive,Re-Distributive, Regulatory, dan Self Regulatory Policies
Distributive Policies adalah kebijakan-kebijakan yang berisikan tentang pemberian pelayanan – pelayanan atau keuntungan – keuntungan bagi sejumlah penduduk :
kelompok penduduk dengan kelas – kelas tertentu, misalnya antara golongan
mampu (the haves) dan tidak mampu(the havenots). Contoh dari kebijakan ini adalah tentang pembagian tanah untuk buruh tani; pembebasan tanah untuk
kepentingan umum; pemberian dana kesejahteraan sosialdan sebagainya.
Regulatory Policies adalah kebijakan – kebijakan tentang pengenaan pembatasan atau larangan – larangan atas tindakan seseorang atau sekelompok. Ini bersifat
mengurangi kebebasan seseorang untuk berbuat sesuatu. Contoh dari kebijakan ini
adalah kebijakan tentang larangan menyimpan senjata api, obat – obat terlarang
dan lain – lain. Self Regulatory Policies adalah kebijakan – kebijakan tentang pembatasan atau pengawasan pada masalah – masalah tertentu bagi sekelompok
orang. Self regulatory policies biasanya didukung oleh orang kelompok orang yang berkepentingan dengan kebijakan itu dan menjadikannya sebagai alat untuk
melindungi kepentingan mereka sendiri. Contoh dari kebijakan ini adalah tentang
pemberian izin kerja, surat izin mengemudi dan lain – lain
3. Material Policies
Material Policies adalah kebijakan-kebijakan tentang pengalokasian atau
penyediaan sumber materi yang nyata atau kekuasaan yang hakiki bagi para
penerimanya. Contoh dari kebijakan ini adalah tentang kewajiban para majikan
untuk membayar upah buruh, kewajiban pemerintah untuk menyediakan rumah
murah bagi warganya dan lain – lain.
4. Collective Goods dan Private Goods Policies
Collective Goods Policies adalah kebijakan – kebijakan tentang penyediaan
barang-barang dan pelayanan – pelayanan keperluan orang banyak. Contoh kebijakan ini
adalah tentang keamanan nasional dan lain-lain. Private Goods Police adalah
kepentingan perseorangan(privat) yang tersedia di pasar bebas dan orang yang
memerlukannya harus membayar biaya tertentu. Contoh dari kebijakan ini adalah
tempat – tempat hiburan, universitas, jalan tol, rumah sakit dan lain -lain.
5. Liberal dan Conservative Policies
Liberal Policies adalah kebijakan yang menganjurkan pemerintah untuk mengadaka
perubahan-perubahan sosial terutama yang diarahkan untuk memperbesar hak-hak
persamaan. Kebijakan ini menghendaki agar pemerintah mengadakan koreksi
terhadap ketidakadilan dan kelemahan yang ada pada aturan-aturan sosial,
meningkatkan ekonomi dan program kesejahteraan. Conservative Policies adalah
Kebalikan dari liberal policies. Kebijakan conservative cenderung mementingkan
Kepentingan penguasa dan produsen
Tugas dan kewajiban pemerintah bukan hanya sekedar merumuskan dan
mengesahkan sebuah kebijakan saja, tetapi pemerintah juga memiliki peran dalam hal
pelaksanaan kebijakan yang sudah dibuat tersebut. Pemerintah harus benar-benar
mendesiminasikan kebijakan yang sudah dibuat kepada seluruh masyarakat. Oleh karena
itu pemerintah harus memanfaatkan sumber daya yang ada seperti media massa baik milik
pemerintah maupun milik swasta untuk membangun komunikasi kepada masyarakat –
masyarakat tentang kebijakan – kebijakan yang sudah dibuat pemerintah. Jadi kalau proses
desiminasi kebijakan digarap dengan baik maka pelaksanaan kebijakan tersebut akan
menjadi lebih efektif dan akan dapat menambah kelancaran proses implementasi
kebijakan tersebut nantinya.
2.4. Model – Model Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang paling sulit dalam siklus
konsep, akan muncul pada saat pengimplementasiannya. Implementasi kebijakan
sesungguhnya tidaklah sekadar bersangkut paut dengan mekanisme penjabaran
keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin lewat saluran-saluran
birokrasi,melainkan lebih dari itu, ia menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa
yang memperoleh apa dari suatu kebijakan. Di sini Grindle (1980) telah meramalkan,
bahwa dalam setiap implementasi kebijakan pemerintah pasti dihadapkan pada banyak
kendala, utamanya yang berasal dari lingkungan (konteks) di mana kebijakan itu akan
diimplementasikan.
Untuk mengkaji lebih baik suatu implementasi kebijakan, maka perlu diketahui
variabel dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk itu, diperlukan suatu model
implementasi kebijakan guna menyederhanakan pemahaman konsep suatu implementasi
kebijakan. Ada begitu banyak model – model implementasi kebijakan yang dikembangkan
oleh pakar sosial dan beberapa model dibawah ini dikembangkan oleh beberapa pakar
sosial sebagai alat untuk mengkaji apa – apa saja bentuk (jenis) implementasi kebijakan,
apa – apa saja variabelnya serta syarat – syarat agar implementasinya bisa menjadi berhasil
secara sempurna.
2.4.1. Model Van Meter dan Van Horn
Model implementasi kebijakan yang dirumuskan Van Meter dan Van Horn disebut
denganA Model of the Policy Implementation. Proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi suatu pengejawantahan kebijakan yang pada dasarnya secara
sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan yang tinggi yang
berlangsung dalam hubungan berbagai variabel. Model ini mengandaikan bahwa
kebijakan publik. Model ini menjelaskan bahwa kinerja kebijakan dipengaruhi oleh
beberapa variabel yang saling berkaitan, variable-variabel tersebut yaitu :
1. Ukuran dan tujuan kebijakan
Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya dari
ukuran dan tujuan kebijakan yang bersifat realistis dengan sosio-kultur yang ada
di level pelaksana kebijakan.
2. Sumber daya
Keberhasilan implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan
memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya
yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan.
Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial dan waktu menjadi
perhitungan penting dalam keberhasilan implementasi kebijakan
3. Karakteristik organisasi pelaksana
Hal ini meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat dalam pengimplementasian kebijakan. Hal ini penting karena kinerja
implementasai kebijakan akan sngat dipengaruhi oleh ciri yang tepat serta cocok
dengan para pelaksananya
. 4.Komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan
Agar kebijakan bisa dilaksanakan dengan efektif, menurut Van Meter dan Van
Horn diperlukan komunikasi yang baik antar individu(implementor) organisasi agar tidak terjadi distorsi dalam pengimplementasian kebijakan agar bisa
tercapai sasaran dan tujuan kebijakan tersebut
5.Disposisi atau sikap para pelaksana
mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kenerja implementasi kebijakan
publik.
6.Lingkungan sosial, ekonomi dan politik
Hal terakhir yang perlu diperhatikan guna menilai kinerja implementasi kebijakan
adalah sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan publik.
Lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi sumber
masalah dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Karena itu, upaya implementasi
kebijakan mensyaratkan kondisi lingkungan eksternal yang kondusif(Nugroho,2006:
127-128).
2.4.2. Model George Edward III
Model implementasi kebijakan selanjutnya di kembangkan oleh George Edward III.
. Edward III menamakan model implementasi kebijakan publiknya dengan nama Direct
and Indirect Impact on Implementation. Edward melihat implementasi kebijakan sebagai
suatu proses yang dinamis, dimana terdapat banyak faktor yang saling berinteraksi dan
mempengaruhi implementasi kebijakan. Faktor-faktor tersebut perlu ditampilkan guna
mengetahui bagaimana pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap implementasi. Oleh
karena itu, Edward menegaskan bahwa dalam studi implementasi terlebih dahulu harus
diajukan dua pertanyaan pokok yaitu: apa yang menjadi prasyarat bagi implementasi
kebijakan serta apa yang menjadi faktor utama dalam keberhasilan implementasi
kebijakan(http://mulyono.staff.uns.ac.id/. Diakses pada tanggal 05 Desember 2012 pukul
14.41).
Untuk menjawab dua pertanyaan pokok tersebut, maka Edward(dalam
Tangkilisan,2003:12-13) mengusulkan empat variabel yang menjadi faktor utama
1. Komunikasi
Komunikasi merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik dari atas ke
bawah maupun dari bawah ke atas. Untuk mengindari terjadinya distorsi informasi
yang disampaikan atasan ke bawahan, perlu adanya ketetapan waktu dalam
penyampaian informasi, harus jelas informasi yang disampaikan, serta memerlukan
ketelitian dan konsistensi dalam menyampaikan informasi.
2. Sumber daya
Sumber – sumber dalam implementasi kebijakan memegang peranan penting
karena implementasi kebijakan tidak akan efektif bilamana sumber – sumber
pendukungnya tidak tersedia. Yang termasuk sumber – sumbernya adalah : staf
yang relatif cukup jumlahnya dan mempunyai keahlian dan keterampilan untuk
melaksanakan kebijakan, informasi yang memadai untuk keperluan implementasi,
dukungan dari lingkungan untuk mensukseskan implementasi kebijakan serta
wewenang yang dimiliki implementor untuk mensukseskan kebijakan.
3. Disposisi
Variabel ini berkaitan dengan bagaimana sikap para implementor dalam
mendukung suatu implementasi kebijakan. kecakapan saja tidak mencukupi tanpa
kesediaan dan komitmen untuk melaksanakan kebijakan
4. Struktur Birokrasi
Suatu kebijakan seringkali melibatkan beberapa lembaga atau organisasi dalam
proses implementasinya, sehingga diperlukan koordinasi yang efektif antar
2.5. Lanjut Usia
2.5.1. Pengertian Lanjut Usia
Proses menjadi tua atau lanjut usia adalah suatu peristiwa yang wajar dan
berkembang secara alamiah. Lanjut usia merupakan bagian dari proses tumbuh
kembangnya manusia. Manusia tidak secara tiba – tiba menjadi tua, tetapi manusia
berkembang dari bayi,anak – anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal,
dengan perubahan fisik dan tingkah lakuyang dapat diramalkanyang terjadi pada semua
manusia pada saat manusia mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Semua
orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia
yang terakhir. Biasanya dimasa tua ini seseorang akan mengalami kemunduran fisik,
mental dan sosial secara bertahap.
Pengertian lanjut usia dewasa ini sudah cukup banyak para ahli maupun institusi –
institusi formal lainnya mencetuskan pengertian lanjut usia. Menurut Undang – Undang
No.13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada bab 1 pasal 1 ayat 2, yang
dimaksud dengan lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia lanjut usia adalah tahap masa tua dalam
perkembangan individu dengan batas usia 60 tahun ke atas.
Menurut Reimer et al dan Stanley Beare memberikan pengertian lanjut usia
berdasarkan karakteristik sosial masyarakatnya. Yang dimaksud lanjut usia menurut
Reimer dan Stanley adalah orang – orang yang menunjukkan ciri – ciri fisiknya sudah
mengalami kemunduran seperti rambun beruban, kerutan kulit dan hilangnya gigi.
Sedangkan menurut Glascock dan Feinman mendefinisikan lanjut usia sebagai gabungan
status fungsional seseorang. Yang dimaksud dengan usia kronologis disini adalah usia
seseorang ditinjau dari hitungan umur dalam angka(dalam Azizah,2011: 1).
WHO(World Health Organization) memberikan pengertian lanjut usia tergantung dari konteks yang tidak dipisahkan. Oleh karena itu, WHO mendefenisikan lanjut usia
berdasarkan dari tiga aspek penting ini, yaitu :
1. Aspek Biologi
Pengertian lanjut usia ditinjau dari aspek biologi adalah seseorang yang telah
menjalani proses penuaan, dalam arti menurunnya daya tahan fisik yang ditandai
dengan semakin rentannya tubuh terhadap serangan berbagai penyakit yang dapat
menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga
terjadi perubahan fungsi jaringan dalam organ tubuh.
2. Aspek Ekonomi
Pengertian lanjut usia ditinjau dari aspek ekonomi adalah seseorang yang
dipandang lebih sebagai beban daripada sebagai potensi sumber daya bagi
pembangunan. Seseorang yang sudah tua dianggap sebagai warga yang tidak
produktif dan hidupnya perlu ditopang oleh generasi yang lebih muda.
3. Aspek Sosial
Pengertian lanjut usia ditinjau dari aspek sosial adalah sekelompok orang yang
sudah memasuki usia lanjut dan merupakan kelompok sosial yang tersendiri. Lanjut
usia dipandang menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh
2.5.2. Batasan Lanjut Usia
Berbagai defenisi yang bervariasi sudah cukup banyak dipaparkan tentang lanjut
usia. Oleh karena itu diperlukan batasan lanjut usia untuk mengetahui penggolongan usia
para lanjut usia. Batasan lanjut usia jika didasarkan atas Undang-Undang No.13 Tahun
1998 adalah 60 tahun. Sedangkan menurut Undang – Undang No.4 tahun 1965 pasal 1
menyatakan bahwa seseorang dikatakan berusia lanjut jika sudah mencapai umur 55 tahun,
tidak berdaya mencari nafkah sendiri sehingga untuk keperluan menafkahi hidupnya ia
terima dari orang lain. Namun, sekarang ini banyak orang-orang maupun instansi – instansi
formal memberikan batasan lanjut usia yang berbeda-beda.
Menurut Prof.Dr,Koesmanto Setyonegoro(dalam azizah,2011:2) lanjut usia
dikelompokkan menjadi usia dewasa muda(elderly adulhood) yaitu usia 18 atau 29-25 tahun, usia dewasa penuh(middle years) atau maturitas yaitu usia 25-60 tahun atau 65 tahun, lanjut usia(geriatric age) yaitu usia lebih dari 65 tahun atau 70 tahun yang dibagi lagi menjadi 70-75 tahun(young old), 75 – 80 tahun(old), dan lebih dari 80 tahun(very old).
Berbeda pendapat lagi dengan beberapa ahli dalam program kesehatan usia lanjut,
Departemen Kesehatan membuat pengelompokkan batasan lanjut usia yaitu :
1. Kelompok pertengahan umur(Kelompok usia dalam masa virilitas), yaitu masa
persiapan usia lanjut yang menampakkan keperkasaan fisik. Kelompok usia ini
berumur 45-54 tahun
2. Kelompok usia lanjut dini (Kelompok dalam masa prasenium), yaitu kelompok
yang mulai memasuki usia lanjut. Kelompok usia ini adalah 55-64 tahun.
3. Kelompok usia lanjut (kelompok dalam masa senium). Kelompok usia ini adalah
4. Kelompok usia lanjut dengan risiko tinggi. Kelompok yang berusia lebih dari 70
tahun atau kelompok usia lanjut yang hidup sendiri, terpencil, menderita penyakit
berat atau cacat(Notoatmodjo,2007: 281).
Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batasan usia lanjut meliputi:
1. Usia pertengahan (middle age) adalah kelompok usia 45-59 tahun.
2. Usia lanjut (elderly) adalah kelompok usia antara 60 – 70 tahun.
3. Usia lanjut tua (old) adalah kelompok usia antara 75 – 90 tahun.
4. Usia sangat tua (very old) adalah kelompok usia di atas 90 tahun(Kosasih, 2002: x).
2.6. Proses Menua(Ageing Process)
Menua atau menjadi tua bukanlah suatu penyakit yang ditakuti tetapi merupakan
hal alamiah yang pasti akan dialami oleh semua manusia. Menua merupakan proses
berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari
luar tubuh. Proses menua sebenarnya sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai
usia dewasa karena proses menua ini menghinggapi seseorang dimulai dari rusaknya syaraf
tubuh, jaringan kulit dan lainnya sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
Proses menua menurut Constantindes adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
2.6.1 Teori – Teori Proses Menua
Teori penuaan secara umum dapat dibedakan menjadi dua teori yaitu teori penuaan
secara biologi dan teori penuaan secara psikososial. Dalam teori biologi, proses penuaan
bisa terjadi karena beberapa hal seperti teori seluler, teori genetic clock, sintesis protein, keracunan oksigen, berkurangnya sistem imun, mutasi somatik, proses metabolisme tubuh
yang berkurang serta teori tentang radikal bebas dimana teori – teori ini lebih mendalam
dibahas oleh ilmu-ilmu kesehatan(Kosasih, 2002: 100).
Selain teori biologi, proses penuaan juga bisa dilihat dari teori psikososialnya.
Nugroho dan Kuntjoro(dalam Azizah, 2011: 10-11) memaparkan teori penuaan secara
psikososial. Pembahasan tentang teori psikososial adalah sebagai berikut :
1. Aktivitas atau Kegiatan(Activity Theory). Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah menua, sense integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Teori ini menyatakan
bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam
kegiatan sosial. Ukuran optimum(pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari
usia lanjut. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar
tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
2. Kepribadian berlanjut(Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identitas
pada lansia yang mantap memudahkan dalam memelihara hubungan dengan
masyarakat, keluarga dan hubungan interpersonal. Pada teori ini menyatakan
bahwa perubahan terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi
3. Teori Pembebasan(Disengagement Theory)
Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran
individu dengan individu lainnya. Teori ini menyatakan bahwa dengan
bertambahnya usia, seseorang secara pelan tapi pasti mulai melepaskan diri
dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan di sekitarnya.
Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara
kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda(triple loss), yakni: kehilangan peran(loss of role), hambatan kontak sosial(restriction of contacts and relationships) dan berkurangnya komitmen(reduced commitment to social mores an values).
2.6.2. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia
Perkembangan hidup manusia dimulai sejak janin dalam kandungan, memasuki
masa bayi, menjadi remaja, memasuki proses dewasa dan kemudian menjadi tua atau lanjut
usia. menjadi lanjut usia adalah proses alami yang tidak dapat dihindari oleh siapapun.
Proses menjadi lanjut usia selalu ditandai dengan kemunduran-kemunduran yang berupa
perubahan fungsi dari anggota tubuh maupun didalam tubuh. Akibatnya, dapat
menimbulkan masalah yang akan banyak mempengaruhi kegiatan sehari-hari para lanjut
usia.
Perubahan perubahan yang terjadi pada lanjut usia dibagi menjadi dua bagian, yaitu
perubahan yang terjadi pada kondisi fisik lansia dan kondisi psikis atau psikososial lansia.
1. Perubahan fisik.
a. Penurunan sistem syaraf dan panca indera. Pada sistem syaraf dan panca
Kemunduran fungsi mata, telinga dan hidung sehingga menimbulkan
ganggaun penglihatan, pendengaran dan penciuman
Kemunduran daya ingat sehingga menjadi sering lupa atau pikun
Kemunduran urat syaraf sehingga reaksi dan gerakan menjadi lamban
dan kadang-kadang tidak terkontrol
Gangguan tubuh sehingga cara berjalan menjadi tidak seimbang
b. Sistem peredaran darah dan jantung. Perubahan yang terjadi berupa :
Tekanan darah yang kadang meningkat atau menurun sehingga
menyebabkan tekanan darah tinggi atau tekanan darah rendah.
Penyumbatan pembuluh darah pada otak yang akan menyebabkan nyeri
dada dan berdebar-debar
Penyumbatan pembuluh darah pada otak yang akan menyebabkan
kelumpuhan
c. Sistem pernafasan. Perubahan elastisitas otot-otot pernafasan dan paru-paru
yang dapat menyebabkan sesak nafas dan batuk-batuk.
Gigi yang mulai ompong sehingga menyebabkan sulit mengunyah
makanan dan menyebabkan nafsu makan berkurang
Kemunduran fungsi pengecap lidah
d. Sistem otot dan sendi
Tulang mudah keropos dan mudah patah sehingga menyebabkan nyeri
sendi dan rasa sakit pada otot tertentu
Otot menjadi lemah dan mengecil sehingga menyebabkan fisik menjadi
lemah
e. Sistem saluran kemih atau kelamin. Kemunduran fungsi ginjal sehingga
menyebabkan sering kencing atau pendarahan dalam air kencing.
2. Perubahan psikis
Kondisi psikis adalah keadaan mutlak seseorang atau kejiwaan seseorang. Kondisi
psikis mencakup : kemampuan berpikir, emosi atau perasaan, sikap dan perilaku. Pada
umumnya lansia mengalami perubahan fungsi psikisnya, baik dari segi kemampuan
berpikir, emosi atau perasaan,sikap dan perilakunya. Emosi atau perasaan yang dimiliki
lanjut usia kadang tidak stabil. Terkadang lanjut usia sering timbul perasaan tidak berguna
dan tidak dibutuhkan oleh orang lain, oleh karena itu sering muncul keinginan lanjut usia
untuk menunjukkan eksistensinya dihadapan orang lain. Selain itu sikap dan perilaku lanjut
usia juga mengalami perubahan – perubahan. Dikarenakan kemunduran psikomotorik
sehingga kondisi badan tidak terkoordinasi dengan baik, membuat para lanjut usia menarik
diri dalam mejalin hubungan sosial serta mengurangi partisipasinya dalam hubungan
sosialnya(modul bina keluarga lansia,2006: 46).
3. Perubahan Spiritual
Agama atau kepercayaan lanjut usia makin berintegrasi dalam kehidupannya.
dan bertindak sehari-hari. Spiritualitas pada lanjut usia bersifat universal, intrinsik dan
merupakan proses individual yang berkembang sepanjang rentang kehidupan. Karena
aliran siklus kehilangan terdapat pada kehidupan lansia, keseimbangan hidup tersebut
dipertahankan sebagian oleh efek positif dari kehilangan tersebut. Lansia yang telah
mempelajari cara menghadapi perubahan hidup melalui mekanisme keimanan akhirnya
dihadapkan pada tantangan akhir yaitu kematian. Harapan memungkinkan individu dengan
keimanan spiritual atau religius untuk bersiap menghadapi krisis kehilangan dalam hidup
sampai kematian. Satu hal pada lansia yang diketahui sedikit berbeda dari orang yang lebih
muda yaitu sikap mereka terhadap kematian. Hal ini menunjukkan bahwa lanjut usia
cenderung tidak terlalu takut terhadap konsep dan realitas kematian(Azizah, 2011: 16).
2.7. Hukum dan Perundang-undangan terkait dengan lansia
Yang menjadi dasar hukum ataupun perundang-undangan yang terkait dengan
lanjut usia antara lain:
1. Undang-undang dasar 1945 pasal 28 point H yang menyatakan dimana setiap
orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
seseorang secara utuh sebagai manusia yang bermartabat
2. Undang-undang RI Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
3. Undang-undang RI Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional
4. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya
Peningkatan Kesejahteraan Lanjut usia
6. Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 2005 tentang Pelaksanaan Bantuan
Langsung Tunai kepada Rumah Tangga Miskin
7. Undang-undang RI Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
2.8. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998
Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudi luhur mempunyai ikatan
kekeluargaan yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa, yaitu
menghormati serta menghargai peran dan kedudukan lanjut usia yang memiliki kebijakan
dan kearifan serta pengalaman berharga yang dapat diteladani oleh generasi penerusnya.
Perwujudan nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa tersebut harus tetap dipelihara.
dipertahankan. dan dikembangkan. Upaya memelihara, mempertahankan, dan
mengembangkan nilai-nilai budaya tersebut dilaksanakan antara lain melalui upaya
peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia yang bertujuan mewujudkan kemandirian dan
kesejahteraan para lanjut usia. Agar upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia
sekaligus memberikan pengormatan kepada lanjut usia dapat dilaksanakan secara berdaya
guna dan berhasil guna serta menyeluruh dan berkesinambungan, diperlukan
undang-undang sebagai landasan hukum yang kuat dan merupakan arahan baik aparatur
Pemerintah maupun masyarakat. Undang-undang tersebut juga dimaksudkan sebagai
pengganti Undang-undang Nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan Penghidupan
Orang Jompo (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2747), yaitu berupa Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan
Lanjut Usia.Secara umum materi yang diatur dalam Undang-undang ini, antara lain
1. Tugas dan tanggungjawab Pemerintah dan masyarakat guna mewujudkan
kesejahteraan sosial lanjut usia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara
2. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia dilaksanakan oleh
Pemerintah dan masyarakat
3. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia yang dilaksanakan sebagai
penghargaan dan penghormatan kepada lanjut usia melalui pelayanan:
Keagamaan dan mental spiritual
Kesehatan
Kesempatan kerja
Pendidikan dan pelatihan
Kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana umum
Kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum
Perlindungan sosial
Bantuan sosial
2.9. Kesejahteraan Sosial
2.9.1. Pengertian Kesejahteraan Sosial
Tidak dipungkiri bahwa masyarakat dari golongan apapun menginginkan hidup
sejahtera. Secara umum bisa kita pahami makna sejahtera bisa berbeda tergantung dari
memiliki segala hal yang bersifat materi dan memiliki segalanya seperti uang, mobil,
rumah dan lain-lain. Sedangkan bagi golongan proletar (The have not) memiliki pandangan bahwa hidup sejahtera adalah hidup dengan tidak penuh dengan harta tetapi memiliki
kebahagiaan dengan hidup tidak berlebihan.
Cukup banyak defenisi yang memaparkan defenisi sejahtera. Kesejahteraan atau
sejahtera memiliki beberapa arti. Dalam istiah umum, sejahtera berarti menunjuk ke
keadaan yang baik, kondisi dimana orang-orangnya dalam keadaan makmur, sehat dan
damai. Dalam bidang ekonomi, sejahtera dihubungkan dengan keuntungan memiliki
benda/kebendaan. Dalam kebijakan sosial, kesejahteraan menunjuk kepada jangkauan
pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat(http://id.m.wikipedia.org/. Diakses
pada tanggal 15 Mei 2013 pukul 11.45).
Kesejahteraan menyangkut aspek seluruh masyarakat. Oleh karena itu
kesejahteraan adalah milik seluruh masyarakat(sosial). Karenanya muncullah banyak
defenisi tentang kesejahteraan sosial. Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009,
kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial
warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat
melaksanakan fungsi sosialnya.
Kesejahteraan sosial dalam arti sangat luas mecakup berbagai tindakan yang
dilakukan manusia untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Menurut Walter
Friedlander, kesejahteraan sosial merupakan sistem yang terorganisir dari institusi dan
pelayanan sosial, yang dirancang untuk membantu individu ataupun kelompok agar dapat
mencapai standar hidup dan kesehatan yang lebih memuaskan. Dalam pertemuan Panitia
Kerja Pra Konferensi Kesejahteraan Sosial Internasional yang ke 15 dirumuskan
“Kesejahteraan Sosial adalah keseluruhan usaha sosial yang terorganisir dan
mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat berdasarkan konteks
sosialnya. Di dalamnya tercakup pula kebijakan dan pelayanan yang terkait dengan
berbagai kehidupan dalam masyarakat seperti pendapatan; jaminan sosial; kesehatan;
perumahan;pendidikan;rekreasi;tradisi dan lain” (http://kesejahteraansosial.blogspot.com/.
Diakses pada tanggal 15 Mei 2012 pukul 12.15).
Namun perkembangan kesejahteraan sosial dewasa ini menunjukkan bahwa masih
ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena
belum memperoleh pelayan sosial secara maksimal dari lembaga atau instansi negara.
Karena belum maksimalnya pelayanan yang diusahakan oleh pemerintah membuat
bermunculannya berbagai PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) yang ada
termasuk salah satu diantaranya adalah warga lanjut Usia.
2.9.2. Teori Pelayanan Sosial
Pelayanan pada lansia adalah suatu proses dalam bentuk penyuluhan sosial,
bimbingan, konseling, bantuan, santunan dan perawatan yang dilakukan secara terarah,
terencana dan berkelanjutan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial
lanjut usia. pelayanan sosial lanjut usia bisa dilakukan baik di dalam panti maupun diluar
panti. Diluar panti bentuk pelayanannya ada yang berbentuk kegiatan day care service dan lain – lain sedangkan didalam panti bentuk kegiatannya ada seperti bimbingan, penyuluhan
sosial dan lain-lain dimana pelayanan sosial yang dilakukan diatur berlandaskan
Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan sosial lanjut usia.
Setiap jenis pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia baik yang dilaksanakan
pemerintah maupun masyarakat mengandung sifat-sifat seperti sifat preventif, kuratif dan
1. Prefentiv atau pencegahan
Pelayanan sosial yang bersifat preventif merupakan pelayanan yang diarahkan untuk mencegah timbulnya masalah baru dan meluasnya permasalahan yang
dihadapi lanjut usia, oleh karena itu dilakukan melalui upaya pemberdayaan
keluarga, kesaatuan kelompok dan eksternal lain yang peduli terhadap
penngkatan kesejahteraan lanjut usia
2. Kuratif atau penyembuhan
Pelayanan sosial lanjut usia bersifat kuratif merupakan pelayan sosial yang diarahkan untuk menyembuhkan gangguan-gangguan yang di alami lanjut usia,
baik secara fisik, psikis maupun sosial
3. Rehabilitatif atau pemulihan kembali
Pelayanan sosial bersifat rehabilitatif merupakan proses pemulihan kembali fungsi-fungsi sosial setelah individu mengalami gangguan dalam
melaksanakan fungsi-fungsi sosialnya.
2.10. Kerangka Pemikiran
Masalah tentang kependudukan memang tidak lepas dari proses pembangunan
suatu negara. Seperti di Indonesia yang mengalami keberhasilan dalam proses
pembangunan seperti meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Dengan meningkatnya
jumlah penduduk membuat jumlah penduduk lanjut usia semakin bertambah. Karena
jumlah penduduk lanjut usia semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan membuat
pemerintah tidak boleh mengabaikan hak-hak para lanjut usia. Gagasan pemerintah