• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Bersaing Wirausaha Mahasiswa dan Implikasinya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Strategi Bersaing Wirausaha Mahasiswa dan Implikasinya"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Wirausaha Mahasiswa

dan Implikasinya

Isfenti Sadalia

(3)

Strategi Bersaing Wirausaha Mahasiswa dan Implikasinya / Isfenti Sadalia,-Medan: Pustaka Bangsa Press

ISBN 978-602-1183-34-2

I. Judul. Hlm. 91

Uk. 15,5 x 24 cm

© Hak cipta dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotocopy tanpa izin dari penulis

Hak penerbitan pada Penerbit Pustaka Bangsa Press Anggota IKAPI

(4)

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa berkat dan rahmat karunia-NYA diberi kesehatan, kekuatan dan kemudahan dalam menyelesaikan buku Strategi Bersaing Wirausaha dan Implikasinya.

Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengaplikasikan teori yang ada sehingga menambah wawasan pembaca terutama mahasiswa yang sedang melanjutkan studi ke tingkat pascasarjana tentang Strategi Bersaing WiraUsaha dan Performa Organisasi.

Sudah barang tentu, dalam penulisan buku ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, untuk itu dengan hati gembira penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan buku ini.

Medan, 27 Maret 2017

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

Hal. iii

DAFTAR ISI iv

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Tujuan Penulisan 3

BAB II INTELEKTUAL CAPIAL, SOSIAL CAPITAL DAN

FINANCIAL CAPITAL 4

2.1 PengertianIntellectualCapital 4

2.1.1 Human Capital (ModalManusia) 7

2.1.2 Structural Capital atau OrganizationalCapital

(Modal Organisasi 9

2.1.3 Relational Capital atau Costumer Capital(Modal

pelanggan) 12

2.1.4 Konsep Modal IntelektualOrganisasi

(Organizational Intellectual Capital) 14 2.2 Konsep Kompetensi Intelektual Individu (Individual

Intellectual Competence) 16

2.3 Sosial Capital 19

2.3.1 Kepercayaan(Trust) 24

2.3.2 JaringanSosial 25

2.3.3 Pranata 26

2.4 Financial Capital 29

2.5 Strategi Entrepreneur 29

2.5.1 Inovasi dan KewirausahaanKorporat 30

2.5.2 Inovasi 32

2.5.3 Usaha korporatinternal 33

2.5.4 Penerapan Usaha KorporatInternal 35

2.5.5 Akuisisi dan ModalVentura 36

2.5.6 Menciptakan Nilai MelaluiStrategi

(6)

2.6 CompetitiveAdvantage 38

2.6.1 Tujuan PelaksanaanStrategiBersaing 40

2.6.2 Jenis-jenisPersaingan 41

2.6.3 Analisis KekuatanPersaingan 42

2.7 OrganizationPerformance 43 2.8 Hubungan Modal Sosial Organisasi, Modal Intelektual

Organisasi danKeunggulanBersaing 44

BAB IIIKERANGKAKONSEPTUAL 45

3.1 KerangkaKonseptual 45

3.2 Metode danPengumpulanData 46

3.2.1 DataPrimer 46

3.2.2 DataSkunder 47

3.3 DefinisiOperasionalVariabel 47

3.3.1 Human Capital (ModalManusia) 47

3.3.2 SosialCapital 47

3.3.3 FinancialCapital 47

BAB IV GAMBARAN UMUMKOTAMEDAN 48

4.1 SejarahKotaMedan 48

4.2 LingkunganBisnis 49

4.3 Visi dan MisiKotaMedan 51

4.4 DataPenelitian 52

4.4.1 AnalisisDeskriptif 52

4.4.2 Validitas 61

4.4.3 Reliabilitas 64

4.4.4 AsumsiKlasik 64

BAB VKEUNGGULANBERSAING 69

5.1 AnalisisKeunggulanBersaing 69

5.2 Pengaruh Human Capital, Struktural Capital, Relational Capital, Network, Norma, Tingkat Kepercayaan, Financial Capital, Entrepreneurial Mindset, Balancing Exploration, Continious Innovation TerhadapKeunggulanBersaing 70

5.3 Analisis OrganizationalPerformance 71

5.4 Pengaruh Human Capital, Struktural Capital, Relational Capital, Network, Norma, Tingkat Kepercayaan,

(7)

Continious Innovation dan Competitive Advantage

TerhadapOrganizationalAdvantage 72

BAB VI IMPILKASI KEUNGGULAN BERSAING DAN

PERFORMAORGANISASI 74

6.1 Pengaruh Network TerhadapKeunggulanBersaing 74 6.2 Pengaruh Norma TerhadapKeunggulanBersaing 74 6.3 Pengaruh Tingkat Kepercayaan Terhadap Keunggulan

Bersaing 75

6.4 Pengaruh Entrepreneurial Mindset Terhadap Keunggulan

Bersaing 75

6.5 Pengaruh Balancing Exploration Terhadap Keunggulan

Bersaing 75

6.6 Pengaruh Continious Innovation Terhadap Keunggulan

Bersaing 76

6.7 Pengaruh Human Capital TerhadapKeunggulanBersaing 76 6.8 Pengaruh Struktural Capital TerhadapKeunggulan

Bersaing 76

6.9 Pengaruh Relational Capital TerhadapKeunggulan

Bersaing 77

6.10 Pengaruh Financial Capital TerhadapKeunggulan

Bersaing 77

6.11 Pengaruh Network TerhadapPerformaOrganisasi 77 6.12 Pengaruh Norma TerhadapPerforma Organisasi 78 6.13 Pengaruh Tingkat Kepercayaan Terhadap Performa

Organisasi 78

6.14 Pengaruh Entrepreneurial Mindset Terhadap Performa

Organisasi 78

6.15 Pengaruh Balancing Exploration Terhadap Performa

Organisasi 79

6.16 Pengaruh Continious Innovation Terhadap Performa

Organisasi 79

6.17 Pengaruh Human Capital TerhadapPerformaOrganisasi 79 6.18 Pengaruh Struktural Capital TerhadapPerforma

Organisasi 80

6.19 Pengaruh Relational Capital TerhadapPerforma

Organisasi 80

(8)

Organisasi 80

BAB VI KESIMPULANDANREKOMENDASI 81

7.1 Kesimpulan 81

7.2 Rekomnedasi 82

DAFTARPUSTAKA 83

GLOSARIUM 86

(9)

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah

Karyawan 53

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah

Pendapatan 53

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Perusahaan 53

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis

Kelamin 54

Tabel 4.5 Deskriptif Tiap Variabel 54

Tabel 4.6 Network 56

Tabel 4.7 Norma 57

Tabel 4.8 Tingkat Kepercayaan 57

Tabel 4.9 Entrepreneurial Mindset 58

Tabel 4.10 Balancing Exploration 58

Tabel 4.11 Continious Innovation 58

Tabel 4.12 Human Capital 59

Tabel 4.13 Struktural Capital 59

Table 4.14 Relational Capital 60

Table 4.15 Competitive Advantage 60

Table 4.16 Organizational Performance 61

Table 4.17 Validitas-1 61

Table 4.18 Validitas-2 63

Table 4.19 Reliabilitas 64

Table 4.20 Multikolinearitas 66

Table 4.21 Model Summaryb 68

Table 5.1 Regresi Berganda Keunggulan Bersaing 69

Table 5.2 Simultan Keunggulan Bersaing 70

Table 5.3 Regresi Sederhana Organizational Performance 71 Table 5.4 Regresi Berganda Organizational Performance 72

Table 5.5 ANOVAb 73

(10)

Gambar 1.1 Propsal Yang Mengikuti Seleksi 2

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual 46

Gambar 4.1 Normalitas Histogram 65

Gambar 4.2 Normalitas PP Plot 65

Gambar 4.3 Heteroskedastisitas 67

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Peranan perguruan tinggi diperlukan untuk memberikan informasi, pengetahuan, pemahaman tentang kewirausahaan serta memberikan wadah bagi mahasiswa untuk berwirausaha. Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) mencanangkan program kewirausahaan mahasiswa yang menjadi prioritas nasional sebagai upaya pembenahan sistem pendidikan agar terjadi keselarasan antara pendidikan dan dunia kerja.

Untuk menimbulkan minat dan motivasi dalam menciptakan wirausaha harus didasari dari pendidikan yang diterima di Perguruan Tinggi. Agar program kewirausahaan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan mempunyai makna dalam membangun wirausaha mahasiswa maka perguruan tinggi semestinya membangun kerangka pengembangan kewira- usahaan secara fokus. Keberhasilan program yang ditetapkan

sampai tercapai “The Finish entrepreneurship education “lebih

banyak tergantung pada seberapa banyak sarjana mempunyai pengalaman yang bermakna selama proses belajar-mengajar dan hal tersebut terus berlanjut saat proses bisnis berlangsung. Pihak universitas memotivasi dan membekali para sarjananya untuk membuka bisnis baru serta menjalankan pada masa kuliah dan diteruskan setelah kuliahselesai.

Perguruan tinggi memilliki peran yang bersifat preventif karena perguruan tinggi diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalamberbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa terutama masalah kemiskinan dan tingginya angkapengangguran.

(12)

tidak mengembangkan kemandirian peserta didik. Hasilnya pendidikan kita tidak mempunyai makna. Masih tingginya angka pengangguran pada tingkat sarjana menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam merubah pola pikir dan penanaman nilai- nilai pada mahasiswa bahwa pilihan utama setelah lulus pendidikan seharusnya bukan menjadi pegawai tetapi menjadi pencipta lapangan pekerjaan belum tercapai.

Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (UNIMED) merupakan Perguruan Tinggi Negeri yang memperoleh dana bantuan kegiatan PMW sejak 2009 hingga saat ini, terus berusaha melaksanakan Program tersebut secara efektif dan efisien dengan berbagai sumber daya yang tersedia guna menciptakan wirausaha muda yang tangguh dan berkelanjutan.

Melalui PMW, selain terciptanya Wirausaha juga diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan, serta dapat menciptakan lapangan usaha. Data pada gambar 1.1 menunjukkan setiap tahun jumlah proposal yang mengikuti PMW semakin meningkat. Hal ini memperlihatkan masih tingginya minat mahasiswa dalam memulai usaha pada Universitas Sumatera Utara.

Sumber: SEC USU

Gambar 1.1

Propsal Yang Mengikuti Seleksi

Proposal yang mengikutiseleksi

197 200

156 139

150 130

100

50

Proposa l yang mengik uti…

0

(13)

Namun demikian dalam perkembangannya tidak semua penerima bantuan modal usaha mampu bertahan dengan berbagai alasan. Berbagai upaya dilakukan agar usaha mahasiswa penerima hibah dapat lebih bertahan, misalnya dengan melakukan beberapa perubahan pada proses seleksi mahasiswa penerima hibah. Dari pengalaman tersebut dapat disimpulkan bahwa jika dilakukan suatu kajian dan upaya penanggulangan yang lebih sistematis dan terstruktur, maka diharapkan hasilnya akan lebihoptimal.

Penelitian yang dilakukan Tawardi (1999) adalah mengenai nilai-nilai kewirausahaan dan beberapa faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi perkembangan usaha seseorang. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, modal sosial, modal intelektual dan modal financial serta strategi bersaing tidak dimasukkan sebagai variabel penting yang juga berperan dalam mengembangkan keunggulan bersaing mahasiswa wirausaha. Pasalnya keempat variabel tersebut erat hubungannya dengan nilai atau jiwakewirausahaan.

1.2 TujuanPenulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah: 1. Menemukan model Implementasi Strategi Bersaing

Mahasiswa Wirausaha berbasis Intelektual Capial, Sosial Capital dan FinancialCapital.

(14)

BAB II

2.1 Pengertian IntellectualCapital

Intellectual capital ada pada tahun 1980-an, yaitu ketika

Tom Stewart menulis sebuah artikel “Brain Powe-How Intellectual

capital Is Becoming America’s Most Valuable Assets”. Defenisi

mengenai Intellectual capital dalam artikelnya Stewart.

The sum of everything everybody in your company knows that gives you a competitive edge in the market place. It is intellectual material-knowledge, information, intellectual property, experience-that can be put to use to create wealth”.

Terdapat berbagai definisi tentang intellectual capital

dalam berbagai literatur. Diantaranya adalah definisi yang dikemukakan oleh Bukh et al. (2005), intellectual capital

merupakan berbagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses atau teknologi yang dapat digunakan dalam proses penciptaan nilai bagiperusahaan.

Tidaklah mudah untuk dapat menyajikan definisi yang tepat tentang IC. Definisi IC yang ditemukan dalam beberapa literatur cukup kompleks dan beragam. Salah satu definisi IC yang banyak digunakan adalah yang ditawarkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 1999) yang menjelaskan IC sebagai nilai ekonomi dari dua kategori aset tak berwujud yaitu organisational (structural) capital dan human capital.

Lebih tepatnya, organisational (structural) capital mengacu pada hal-hal seperti sistem software, jaringan distribusi, dan rantai pasokan. Human capital meliputi sumber daya manusia di dalam organisasi (yaitu sumber daya tenaga kerja/karyawan) dan

INTELEKTUAL CAPIAL, SOSIAL

(15)

sumber daya eksternal yang berkaitan dengan organisasi, seperti konsumen dan supplier. Seringkali, istilah IC diperlakukan sebagai sinonim dari aktiva tidak berwujud. Meskipun demikian, definisi yang diajukan OECD menyajikan cukup perbedaan dengan meletakkan IC sebagai bagian terpisah dari dasar penetapan

intangible asset secara keseluruhan suatu perusahaan. Dengan demikian, terdapat item-item intangible asset yang secara logika tidak membentuk bagian dari IC suatu perusahaan. Salah satunya adalah reputasi perusahaan. Reputasi perusahaan mungkin merupakan hasil sampingan (atau suatu akibat) dari penggunaan IC secara bijak dalam perusahaan, tetapi itu bukan merupakan bagian dari IC.

Modal intelektual (IC) merupakan salah satu sumber daya yang di miliki oleh perusahaan. Modal intelektual (IC) pada umumnya didefinisikan sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari financial capitalnya. Modal intelektual (IC) seringkali menjadi faktor penentu utama perolehan laba suatu perusahaan. Sebuah perusahaan dapat mengetahui penilaian pasar dengan menggunakan metode pengukuran Value Added Intellectual

Capital (VAIC™), yaitu dengan melihat kemampuan intelektual

yang dimiliki oleh perusahaan tersebut dan nilai yang dimiliki perusahaantersebut.

Menurut Stewart (1997) adalah sebuah konsep modal yang merujuk pada modal tidak berwujud yang terkait dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan. Namun, menurut Bontis et. al. dalam Ulum (2008) menyatakan bahwa pada umumnya para peneliti membagi IC menjadi tiga komponen, yaitu : Human Capital (HC), Structural Capital (SC), dan Capital Employed (CE). Selanjutnya menurut Bontis et al. (2000), secara sederhana HC mencerminkan individual knowledge stock suatu organisasi yang dipresentasikan oleh karyawannya. HC ini termasuk kompetensi, komitmen dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Lebih lanjut (Bontis et al, 2000) menyebutkan bahwa SC meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Termasuk dalam SC adalah database, organizational chart, process manual, strategies,

(16)

besar dari nilai materialnya. Sedangkan CE adalah pengetahuan yang melekat dalam marketing channels dan customer relationship.

Dari beberapa definisi intellectual capital, terdapat kesamaan pokok pikiran yaitu intellectual capital merupakan berbagai sumber daya pengetahuan, pengalaman, dan keahlian yang berkaitan dengan keahlian karyawan, hubungan baik dengan pelanggan, dan kapasitas teknologi informasi milik perusahaan yang secara signifikan berkontribusi dalam proses penciptaan nilai sehingga dapat memberikan keunggulan kompetitif (competitive advantage) bagi perusahaan.

Selama ini masih terdapat ketidakjelasan mengenai perbedaan antara modal intelektual (intellectual capital) dan aset tidak berwujud (intangible asset). Paragraf 8 PSAK 19 (revisi 2010) tentang Aset Tak Berwujud mendefinisikan aset tak berwujud sebagai aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud fisik. Definisi tersebut merupakan adopsi dari pengertian yang dikeluarkan IAS 38 dan FRS 10 mendefinisikan aset tak berwujud sebagai:

An identifiable asset, non monetary and without physical. (IAS 38) Non-financial fixed assets that do not have physical substance but are identifiable and are controlled by the entity

through custody or legal rights (FRS 10)”.

Sebagai kesimpulannya, intellectual capital merupakan bagian dari aset tak berwujud. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Boekestein dalam Boedi (2008) yang menyatakan bahwa intellectual capital adalah bagian dari

intangibleasset.

(17)

Para praktisi menyatakan bahwa Intellectual capital terdiri dari tiga elemen utama (Bontis 2000) yaitu:

2.1.1 Human Capital (ModalManusia)

Human capital merupakan lifeblood dalam modal intelektual. Disinilah tercipta sumber inovasi dan kemajuan suatu perusahaan, tetapi modal manusia merupakan komponen

intellectual capital yang sulit diukur. Human Capital merupakan tempat sumbernya pengetahuan yang sangat berguna, keterampilan, dan kompetensi, dalam suatu organisasi atau perusahaan. Human Capital merupakan kemampuan perusahaan secara kolektif untuk menghasilkan solusi yang terbaik berdasarkan penguasaan pengetahuan dan teknologi dari sumber daya manusia yang dimilikinya.

Human capital akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya. Menurut Bontis, et.al, (2000), HC merepresentasikan individual

knowledge stock suatu organisasi yang direpresentasikan oleh karyawannya. HC merupakan kombinasi dari genetic inheritance,

education, experience, and attitude tentang kehidupan dan bisnis.

Human capital ini yang nantinya akan mendukung structural capital dan capital employed (Ulum,2008).

Human capital merupakan kehidupan dalam modal intelektual. Innovation dan improvement bersumber dari human capital, tetapi merupakan komponen yang paling sulit diukur.

Human capital merupakan tempat bersumbernya pengetahuan yang sangat berguna, keterampilan dan kompetensi dalam suatu organisasi atau perusahaan. Human capital mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang yang ada dalam perusahaantersebut.

(18)

Terkait dengan pengertian human capital ini Swart (2006) menyatakan bahwa human capital merupakan konstrak yang ada dalam level individu (Cater & Cater, 2009:.191). Kapital ini dianggap merupakan kapital yang paling penting dari kapital intelektual bagi perusahaan karena manusia merupakan sumber dari kreativitas dan inovasi (Cabrita & Vas, 2006: 12, Longo & Mura, 2007: 549, St-Pierre & Audet, 2011: 203, Bozbura, 2004, : 358, Thom, 2008: 43, Ul Rehman et al., 2011: 9).

Dimensi human capital menurut teori Barat cukup beragam, misalnya menurut Aryee et al. (1994) human capital

memiliki tiga dimensi (Carmeli & Tishler, 2004: 303), yaitu : pendidikan, pengalaman kerja dan kompetensi. Sedangkan menurut Bontis & Fitz-enz (2002), human capital terdiri dari

employee satisfaction, employee commitment company, education, employee motivation, value alignment, retention of key people, management leadership, process execution, knowledge generation, knowledge sharing and knowledge integration

(Bozbura, 2004: 360). Bozbura (2004: 358) menyatakan ada beberapa dimensi dari human capital, yaitu employees’

occupational or general knowledge accumulation, the leadership abilities, risk-taking and problem-solvingcapabilities.

Konteks human capital di negara-negara Barat adalah berbeda dengan konteks di negara-negara Timur karena perbedaan budaya yang cukup signifikan. Menyadari hal ini Ching et al. (2007: 387) melakukan penelitian untuk membuat klasifikasi komponen atau elemen dari yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 105 perusahaan di Malaysia (Ching et al., 2007: 389). Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa human capital

terdiri dari tiga dimensi, yaitu 1) Employeecapability;

2) Employee development & retention;dan 3) Employeebehavior.

Dari penelitiannya, Ching et al. (2007: 400-402) menyatakan bahwa masing-masing elemen human capital ini memiliki indikator sebagai berikut :

1) Employee capability,yaitu

(19)

b) Employee work-related competence (kompetensi karyawan terkaitpekerjaannya).

c) Employee know-how/expertise (pengalamankaryawan). d) Employee creativity/innovativeness (kreativitas/inovasi

karyawan).

2) Employee development & retention,yaitu a) Employee training (pelatihankaryawan).

b) Key employee turnover (tingkat keluar masuk karyawan kunci)

c) Employee recruitment costs (biaya merekrutkaryawan). d) Incentive/reward/compensation scheme (skema kompen-

sasiinsentif/reward).

e) Employee profitability (e.g. revenue per employee,etc.)

(profitabilitas karyawan).

f) Employee previous job experience (pengalaman karyawan sebelumnya).

g) Employees’ level education/vocational qualification (tingkat

pendidikankaryawan). 3) Employee behavior,yaitu

a) Employee motivation (motivasikaryawan).

b) Employee job satisfaction (kepuasan kerjakaryawan). c) Employee loyalty (loyalitaskaryawan).

d) Leadership(kepemimpinan).

e) qualities of managers Internal communication system

(kualitas sistem komunikasi internal manajer).

Pembahasan mengenai human capital di UKM masih sangat terbatas. Martin & Hartley (2006) melakukan penelitian tentang intangible assets di UKM Inggris. Walaupun konsep yang digunakannya berbeda dengan Ching et al. di atas, tetapi Martin & Hartley (2006: 18) juga membahas human capital di UKM dengan menyatakannya sebagai konsep People-based intangible assets,

(20)

permanen walaupun karyawan itu bekerja di perusahaan. Ketika karyawan pulang ke rumahnya, maka kedua hal itu bukan milik perusahaan lagi.

2.1.2 Structural Capital atau Organizational Capital (Modal

Organisasi)

Kemampuan perusahaan atau organisasi dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya : sistem operasional perusahaan, proses manufacturing, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk

intellectual property yang dimiliki perusahaan. Seorang individu dapat memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, tetapi jika organisasi memiliki sistem dan prosedur yang buruk maka

Intellectual capital tidak dapat mencapai kinerja secara optimal dan potensi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pentingnya structural capital lainnya juga dinyatakan Bontis (1998) bahwa jika structural capital yang ada dalam perusahaan tidak baik, maka utilisasi kapital-kapital lainnya secara menyeluruh akan terhambat (Khalique et al., 2011: 344). Terkait dengan hal ini, Ramesan (2011) menjelaskan mengapa structural capital ini begitu penting bagi penyelarasan semua kapital dalam perusahaan : structural capital terdiri dari infrastruktur, kebijakan dan prosedur sistem perusahaan (Khalique et al., 2011:344).

Struktural capital adalah bentuk intellectual capital yang paling kompleks. Menurut Choong (2008), yang termasuk di dalam structural capital adalah kebudayaan perusahaan, inovasi dan proses bisnis perusahaan. Structural capital merupakan kemampuan organisasi dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan struktur yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya : sistem operasional perusahaan, proses manufacturing, budaya organisasi, dan filosofi manajemen (Kuryanto2008).

(21)

organisasi memiliki kapital struktural yang buruk, maka ia akan sulit menggunakan kapital intelektual secara menyeluruh. Demikian pula sebaliknya bahwa jika organisasi memiliki kapital struktural yang kuat, maka ia akan mampu mengarah kepada pemberdayaan intelektual kapitalnya secara maksimal (Khalique et al., 2011:344).

Structural capital menurut Ching et al. (2007: 400-402), berdasarkan penelitiannya di Malaysia, terdiri dari dua elemen dengan faktornya masing-masing, yaitu :

1) Development of products/ideas (pengembangan produk /ide) :

2) Implementation of new ideas/products/services (implemen- tasi ide baru, produkbaru).

3) Length of time for product design/development (lamanya pengembangan atau rancangan produkdilakukan).

4) Development of new ideas/products/ services (pengem- bangan ide baru, produkbaru).

5) Exploitation and management of patents, copyrights and trademarks (eksploitasi dan pengelolaan paten, hak cipta, dan merkdagang).

6) Life-cycles of products (daur hidupproduk).

7) Opportunities for licensing/franchising agreements (pe- luang untuk mendapatkan kesepakatan melakukan lisensi ataufranchise).

8) Effectiveness of expenditure on R&D (efektivitas pengeluaran akan penelitian danpengembangan).

9) Favourable contracts obtained due to company’s unique

position (kontrak yang diperoleh dikarenakan posisi unik perusahaan).

10) Organization infrastructure (infrastruktur organisasi):

11) Data systems providing access to information Management

(including financial) control system (sistem data yang memberikan akses kepada informasi sistem kontrol manajemen, termasuk sistem kontrolkeuangan).

12) Documentation of knowledge in manuals, data bases

(dokumentasi pengetahuan dalam bentuk manual maupun database).

(22)

informasi teknologi dan penggunaanya).

14) Execution of corporate strategies (eksekusi strategi perusa haan)

15) Organizational culture in written form (budaya perusahaan dalam bentuktertulis).

Menurut Bontis, et.al., dalam Ulum (2008), Structural Capital meliputi seluruh nonhuman storehouses of knowledge

dalam organisasi. Dalam hal ini termasuk adalah database,

organisational charts, process manuals, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya dalam.

2.1.3 Relational Capital atau Costumer Capital

(Modalpelanggan)

Elemen ini merupakan komponen intellectual capital yang memberikan nilai nyata bagi perusahaan. Relational capital

merupakan hubungan harmonis yang dimiliki oleh perusahaan dengan pihak di luar perusahaan. Baik yang berasal dari para pemasok yang berkualitas, pelanggan yang loyal dan merasa puas akan pelayanan perusahaan, hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun kerjasama rekan bisnis. Relational capital

dapat muncul dari berbagai bagian diluar lingkungan perusahaan dalam meningkatkan kerjasama bisnis yang dapat memberikan keuntungan bagi kedua pihak, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilaiperusahaan.

Relational capital mencakup hubungan baik antara perusahaan dengan seluruh stakeholder (Choong, 2008).

Relational capital merupakan hubungan yang harmonis

association network yang dimiliki oleh perusahaan dengan para mitranya, baik yang berasal dari para pemasok, pelanggan dan juga pemerintah dan masyarakat. Relational capital dapat muncul dari berbagai bagian diluar lingkungan perusahaan yang dapat menambah nilai bagi perusahaan(Kuryanto,2008).

(23)

harmonis yang dimiliki oleh perusahaan dengan para mitranya, baik yang berasal dari pemasok yang andal dan berkualitas, para pelanggan yang merasa loyal dan puas akan pelayanan perusahaan yang bersangkutan, pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar (Sawarjuwono dan Kadir, 2003).

Relational capital menurut de Pablos (2004: 637) merupakan fungsi dari longevity : kapital ini akan memberikan nilai yang berlebih kepada perusahaan ketika ia mampu menciptakan

hubungan “dalam jangka panjang” dengan para pihak di luar

perusahaan. Ketika sebuah hubungan dengan salah satu aktor di lingkungan eskternal perusahaan sulit untuk dipertahankan, perusahaan dapat saja tidak mendapatkan kerugian, selama aktor lainnya yang sejenis yang diperlukan perusahaan didapatkan dengan mudah misalnya pemasok.

Ketika jumlah pemasok sedikit dan perusahaan sulit mempertahankan hubungannya dengan pemasok yang sudah ada, maka perusahaan akan membutuhkan waktu, biaya dan tenaga ekstra untuk mendapatkan pemasok sejenis lainnya. Pentingnya kapital ini juga dikemukakan oleh Srivihok & Intrapairote (2004: 5) yang menyatakan bahwa kualitas hubungan yang mampu dijalin dengan baik, kemampuan menjaga pelanggan yang ada dan menarik pelanggan baru merupakan kunci utama bagi keberhasilanperusahaan.

Bozbura (2004: 358) menyatakan bahwa relational capital

mencakup merk, loyalitas konsumen, citra perusahaan di mata masyarakat dan pemasok dan sistem feedback dari pelanggan dan ukuran baik tidaknya relational capital ini ditentukan oleh pandangan lingkungan tentang perusahaan. Ada beberapa kriteria yang digunakan Bozbura (2004: 361) dalam menentukan baik tidaknya kapital ini,yaitu

1) Kriteria berkenaan dengan pelanggan, yang mencakup: a) Kepuasanpelanggan;

b) Waktu yang dibutuhkan untuk memecahkanmasalah; c) Lamanya hubungan yangterjadi;

d) Pelayanan yang menambahnilai; e) Loyalitaspelanggan.

(24)

customer capital dalam bahasan di bawah.

2) Kriteria berkenaan dengan pasar, yang mencakup: a) Pangsapasar

b) Peningkatan kepemimpinan dalam pangsapasar c) Memiliki proses yang berorientasipasar

d) Pemahaman karyawan atas pasar danpelanggan e) Memiliki citra yang baik dipasar

f) Memiliki merk yang unggul dipasar

3) Kriteria berkenaan dengan elemen lingkungan, yang mencakup:

a) Partisipasi dalam aktivitas sosial yang tidak adasponsor b) Menjadi sponsor dalam berbagai kegiatansosial

c) Melakukan analisispesaing

d) Menjalin hubungan denganpemasok e) Memiliki kesadaran akanlingkungan

f) Memiliki hubungan dengan pemegangsaham.

2.1.4 Konsep Modal Intelektual Organisasi (Organizational IntellectualCapital)

Modal intelektual organisasi (Nahapiet & Goshal. 1998: 245) merupakan kapasitas disiplin intelektual organisasi sebagai hasil internalisasi/transformasi secara sinergik dari seluruh kompetensi bekerja dan kognitif (kompetensi berfikir dan menyelesaikan masalah) yang dimiliki seluruh anggota organisasi, yang terjadi melalui proses transformasi yang terdiri dari kemampuan mengakses informasi, antisipasi nilai-hasil, komitmen dan kemampuan transformasi pengetahuan, sehingga dapat menciptakan kekayaan perusahaan, nilai tambah bagi konsumen dan/ atau meningkatkan kesejahterahaan bagi karyawan dan masyarakat. Secara ringkas perumusan modal intelektual organisasi adalah modal Intelektual Organisasi-Kompetensi Individu Komitmen (Ulrich,1998:16)

Menurut Gautchi (1998), paradigma modal intelektual membutuhkan :

(25)

2) Mendorong budaya kebebasan pengelolaan mikro, yang memberikan arti dan tantangan kerja, dan mampu meningkatkan kompetensipekerja.

3) Komunikasi yangterbuka.

4) Pembagian keuntunganorganisasi

Modal intelektual organisasi menunjuk pada kapabilitas pengetahuan dan pemahman (knowledge and knowing) dari koletivitas sosial, seperti sebagai organisasi, komunitas intelektual, atau praktek-praktek professional. Definisi ini paralel dengan pengertian human capital (modal manusia), mencakup pengetahuan, keahlian, dan kemampuan yang diperoleh seseorang untuk memampukan orang tersebut melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang baru. Modal intelektual di sini mewakili sebuah sumber daya bernilai dan kemampuan untuk memanfaatkannya berdasarkan pengetahuan dan pemahaman yang dimilik(Coleman,1998).

Hartanto (1997) dalam penelitiannnya mengindentifikasi variabel modal intelektual organisasi dengan variabel-variabel manifes sebagai berikut:

1) Penguasaan Teknologi(INT-1)

Modal intelektual yang terbentuk karena dimilikinya kemampuan menciptakan dan mnguasai teknologi sebagai kompetensi inti (core competence) yang sulit ditiru atau digantikan untuk menghasilkan kekayaan bagi perusahaan dan sekaligus memberikan nilai tambah yang tinggi bagi konsumen dan/atau kesejahterahaan bagi karyawan dan masyarakat. Suatu organisasi yang memiliki teknologi inti dicirikan dengan adanya keragaman pengetahuan yang saling melengkapi dan memiliki nilai strategik bagi pertumbuhan dan perkembanganperusahaan. 2) Kemampuan Belajar dan Berinovasi(INT-2)

(26)

3) Modal Struktural(INT-3)

Modal intelektual organisasi yang terbentuk dari adanya data base pengetahuan yang mampu memberikan kemudahan untuk diakses. Modal struktural dari dimensi (a) adanya data base pengetahuan, serta (b) kemudahan akses.

2.2 Konsep Kompetensi Intelektual Individu (Individual IntellectualCompetence)

Kompetensi intelektual indivual didifinsikan sebagai

“karakter sikap dan perilaku, atau kemampuan individual yang

relatif bersifat stabil ketika menghadapi suatu situasi di tempat kerja, yang terbentukdari sinergi antara watak, konsep diri, motivasi internal, serta kapasitas pengetahuan kontekstual (Spencer dan Spencer, 1993).

Ulrich (1998: 17) menyatakan ada dua tantangan dalam meningkatkan kompetensi: pertama, kompetensi harus seiring dengan strategi bisnis. Kompetensi yang tidak berada dalam strategi bisnis sama halnya dengan drama tanpa penonton. Penonton atau audiens memberi arahan pada fokus dan energi yang digunakan. Pelanggan membantu perusahaan fokus pada strategi; kemudian perusahaan meluruskan kompetensi pada penyampaian strategi. Kedua, peningkatan kompetesni perlu digeneralisasi melalui mekanisme: beli (buy), bangun (build),

pinjam (borrow), pecat (bounce), dan ikat (bind). 1) Membeli(Buy)

Manajer dapat mencari dari luar organisasi untuk mengganti talenta yang ada sekarang dengan talenta yang memiliki kualitas lebih tinggi. Membeli talenta (menarik karyawan baru) memberikan ide-ide baru, menghancurkan kultur lama yang menjadi penghalang kemajuan organisasi, dan menciptakan modal intelektual yang membangkitkan organisasi.

2) Membangun(Build)

(27)

pekerja, seperti pelatihan kerja, rotasi kerja, penyerahan/ pendelegasian tugas, dan tindakan pembelajaranlainnya.

3) Meminjam/menyewa talenta(Borrow)

Manajer melakukan pencarian talenta pada penyedia jasa

(vendor) dari luar perusahaan yang memiliki ide-ide, kerangka keja (framework), dan alat-alat yang dapat membuat organisasi menjadi kuat. Ide-ide ini bisa diperoleh dari konsultan, supplier, maupun pelanggan, untuk kemudian diadopsi dan diaplikasikan dalam sistam perusahaan menjadi kompetensi individu dan organisasional.

4) Memecat(Bounce)

Manajer harus mengganti indivi/pekerja yang gagal mencapai kineja standar. Seringkali pekerja dalam melaksanakan tugas-tugas yang baru, tidak memiliki cukup ketermapilan untuk tugas tersebut dan tidak mampu mengadopsi keterampilan yang baru dalam praktek kerja, sehingga secara keseluruhan. Untuk menghilangkan kepincangan kinerja, perusahaan harus menganti pekeja yang rendah kinerja dengan pekerja baru yang memiliki keterampilan lebih baik untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

5) Mengikat(Bind)

Mempertahankan pekerja merupakan masalah kritis pada semua tingkatan. Menjaga dan memelihara pekerja yang memiliki dedikasi dan kualifikas tinngi, seperti senior manajer dengan visi, arahan dan kompetensi tinggi adalah penting, seperti halnya mempertahankan bagian teknikal, operasional, dan pekerja harian juga penting. Karena investasi dibidang sumber daya manusia dalam mencapai kompetensi yang diharapkan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.

Gautchi (1998) menyatakan bahwa kompetensi tanpa kompetensi seringkali membuat individu berseberangan dengan tujuan organisasi. Sedangkan komitmen tanpa kompetensi seringkali menghasilkan produk yang tidak optimal. Meskipun demikian, ketika kompetensi berjalan seiring dengan komitmen, akan dapat menyediakan paradigma yang berguna bagi modal intelektual.

(28)

ini, para manajer menggunakan kombinasi sebagai berikut (Gautchi, 1998) :

a) Mengganti pelaku bisnis (karyawan) yang kurang mampu dengan yang lebih mampu,. Hal ini bukanlah tugas yang mudah, khususnya ketika pasar tanaga kerja sangat terbatas. Juga, ada resiko yang harus ditanggung oleh organisasi ketika orang yang baru tidak sebaik orang yangdigantikan.

b) Investasi dalam penyediaan tanaga kerja yang membuat tenaga kerja lebih terkonsentrasi pada aktivitas yang dapat membantu karyawan belajar teknik-teknik kerja baru dan keahlian manajerial sehingga akan meningkatkan modal intelektualorganisasi.

Kompetensi konsultan yang memiliki kompetensi untuk membangun dan mengembangkan kompetensi individu dalam organisasi. Kompetensi intelektual individu terintegerasi dalam bentuk sembilan kompetensi (tingkat kemauan dan kemampuan individual) sebegai berikut (Spencer, Nahapiet dan Ghoshal 1998):

1) Berprestasi 2) Kepastiankerja 3) Inisiatif

4) Penguasaaninformasi 5) Keahlianpraktikal 6) Berfikirkonseptual 7) Berpikiranalitik 8) Kemampuanlinguistik 9) Kemampunnaratif

Sedangkan kompetensi Intelektual Individu yang berkaitan dengan Komitmen organisasi ada 5 kompetensi (Spencer, 1993), yaitu :

1. Berprestasi

Kemampuan/semangat sesorang untuk berusaha mencapai performansi (prestasi) terbaik dengan menetapkan tujuan yang menantang serta menggunakan cara yang lebih baik secaraterus-menerus.

2. KepastianKerja

(29)

sistematik dan mampu memastikan pencapaian tujuan berda- sarkan data/informasi yang akurat.

3. Inisiatif

Kemauan sesorang untuk bertindak melebihi yang dituntut pekerjan, atau sifat keinginan tahu atas hal-hal yang baru, dengan mengevaluasi menseleksi dan melaksanakan berbagai metoda dan strategi untuk meningkatkan performansi kerja. Inisiatif proaktif juga sangat erat berkaitan dengan konsep kreatif, yaitu kompetensi kemampuan seseorang untuk berfikir dan bertindak secara berbeda dari kebiasaandan lebih efektif. Dimensi variabel manifes kreatif dicirikan oleh empat sifat (a) peka terhadap masalah, (b) kaya akan gagasan/alternatif pemecahan, (c) mampu menghasilkan idea asli dan (d) memiliki sikap fleksibilitas kreatif (bersedia mempertimbangkan berbagai gagasan).

4. PenguasaanInformasi

Kepeduliaan seseorang untuk meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dan tindakan berdasarkan informasi yang handal dan akurat serta berdasarkan pengetahuan dan pengalaman di lingkungan yang ada.

5. KeahlianPraktikal

Penguasaan pengetahuan eksplisit berupa keahlian untuk menyelesaikan pekerjaan serta kemauan untuk memperbaiki diri serta mengembangkan diri.

2.3 SosialCapital

(30)

Istilah "modal sosial" (social capital) pertama kali muncul dalam kajian masyarakat (community studies) untuk menunjukkan pentingnya jaringan hubungan pribadi yang kuat dan dalam (crosscutting), yang berkembang perlahan-lahan sebagai landa- san bagi saling percaya, kerjasama, dan tindakan kolektif dari komunitas yang bersangkutan. Jaringan ini menentukan berta- hannya dan berfungsinya sebuah kelompok masyarakat. Walaupun pada awalnya kajian tentang modal sosial ini lebih merupakan upaya untuk memahami kehidupan kelompok- kelompok penduduk perkotaan dan para penghuni daerah-daerah kumuh (slums), dalam perkembangan selanjutnya teori tentang modal sosial banyak membantu para peneliti kajian organisasi (organization studies) dan praktisi bisnis.

Teori tentang modal sosial menyatakan bahwa jaringan hubungan merupakan sebuah sumberdaya yang dapat digunakan untuk pelaksanaan kegiatan sehari-hari. Para anggota jaringan memiliki "modal", misalnya dalam bentuk hak istimewa (credential) yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, akses ke informasi, ketersediaan peluang, dan status sosial.

Dari berbagai penelitian dikenal adanya tiga dimensi dari modal sosial, yaitu dimensi struktural, relasional, dan kognitif. Ketiganya saling berkaitan dan dalam kenyataannya tak mudah dipisahkan. Pemisahan ketiganya hanya perlu dilakukan untuk kepentingan analisis :

1) Dimensi struktural menyangkut pola hubungan antar anggota jaringan yang dapat dilihat dari konfigurasi, hirarki, dansebagainya.

2) Dimensi relasional merujuk kepada sifat hubungan (misalnya rasa hormat, saling menghargai, dan persahabatan) yang menentukan perilaku anggota jaringan.

3) Dimensi kognitif mengacu kepada berbagai sumberdaya yang menyediakan simbol komunikasi, cara interpretasi, dan sistem artian yang dipakai bersama oleh anggota jaringan.

(31)

dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat. Dengan membangun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus, tujuan bersamapun akan dapat tercapai. Modal sosial bukan milik individual, melainkan sebagai hasil dari hubungan sosial antara individu. Modal sosial menentukan bagaimana orang dapat bekerjasama dengan mudah (Ibrahim, 2002: 76).

Modal sosial menjadi hal yang sangat vital dibutuhkan dalam perkembangan ekonomi. Francis Fukuma menunjukkan hasil-hasil studi di berbagai negara bahwa modal sosial yang kuat akan merangsang pertumbuhan diberbagai sektor ekonomi, karena adanya tingkat rasa percaya yang tinggi dan keeratan hubungan dalam jaringan yang luas tumbuh antar sesama pelaku ekonomi. Ia mendefinisikan modal sosial adalah segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan dan didalamnya diikat oleh nilai-nilai yang akan menjadi resep kunci bagi keberhasilan pembangunan disegala bidang ekonomi dan demokrasi (Hasbullah, 2006:8).

Sikap partisipastif, sikap saling memperhatikan, saling memberi dan menerima, saling percaya mempercayai dan diperkuat oleh nilai-nilai dan norma yang mendukungnya, merupakan beberapa nilai dan unsur modal sosial. Nilai-nilai sosial yang positif dapat dilihat dari besarnya tingkat kepercayaan dalam masyarakat dan organisasi sosial yangbertahan

Lubis, dalam Badaruddin (2005: 31), menjelaskan bahwa modal sosial adalah sumber daya yang berintikan elemen-elemen pokok yang mencakup:

1) Saling percaya (trust), yang meliputi adanya kejujuran (honesty), kewajaran (fairness), sikap egaliter (egalitaria- nisme), toleransi (tolerance) dan kemurahan hati (generosity)

(32)

3) Pranata (institution), yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value), norma-norma dan sanksi-sanksi (norm and sanctions), dan aturan-aturan(rules).

Modal sosial merupakan kemampuan masyarakat untuk bekerjasama demi mencapai tujuan bersama. Kemampuan bekerjasama muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat atau di bagian paling kecil dalam masyarakat. Modal sosial bisa dilembagakan (menjadi kebiasaan) dalam kelompok yang paling kecil ataupun kelompok masyarakat yang paling besar seperti negara. Coleman (1988) dalam Suandi (2007) mendefinisikan modal sosial sebagai keseluruhan dari sejumlah aspek struktur sosial yang berfungsi memperlancar tindakan- tindakan individual tertentu. Bentuk-bentuk modal sosial tersebut dapat berupa kewajiban, pengharapan, dan struktur rasa kepercayaan, saluran informasi, serta norma dan sanksi yang efektif.

Modal sosial dapat didiskusikan dalam konteks komunitas yang kuat (strong community), masyarakat sipil yang kokoh, maupun identitas negara-bangsa (nation state identity). Modal sosial, termasuk elemen-elemennya seperti kepercayaan, kohesifitas, altruisme, gotong-royong, jaringan,dan kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui beragam mekanisme, seperti meningkatnya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan publik, meluasnya partisipasi dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat dan menurunnya tingkat kekerasan dan kejahatan (Blakeley dan Suggate, 1997).

(33)

Modal sosial dapat diartikan sebagai sumber (resource)

yang timbul dari adanya interaksi antara orang-orang dalam suatu komunitas. Namun demikian, pengukuran modal sosial jarang melibatkan pengukuran terhadap interaksi itu sendiri. Melainkan, hasil dari interaksi tersebut, seperti terciptanya atau terpeliharanya kepercayaan antar warga masyarakat. Sebuah interaksi dapat terjadi dalam skala individual maupun institusional. Secara individual ,interaksi terjadi manakala relasi intim antara individu terbentuk satu sama lain yang kemudian melahirkan ikatan emosional.

Modal sosial juga merupakan sumberdaya yang dapat memberi kontribusi terhadap kesejahteraan individu dan masyarakat seperti halnya sumberdaya lain (alam, ekonomi, dan sumber daya manusia). Kerjasama yang dilandasi kepercayaan akan terjadi apabila dilandasi dengan kejujuran, keadilan, keterbukaan, saling peduli, saling menghargai, saling menolong di antara anggota kelompok wargamasyarakat.

1) Modal sosial adalah suatu norma atau nilai yang telah dipahami bersama oleh responden yang dapat memper- kuat jaringan sosial/kerja yang positif, mendorong tingkat kepercayaan antar sesama, dan ketaatan terhadap norma dalam rangka tercapai tujuanbersama.

2) Tingkat jejaring adalah seberapa luas hubungan antara responden serta seberapa banyak simpul jaringan dalam melakukan aktivitas, berdasarkan ukuran (parameter): luasnya hubungan bisnis yang dibangun dengan orang lain dan banyaknya jalinan bisnis keterbukaan dalam melakukan hubungan sosial dengan siapapun dan aktif dalam memelihara dan mengembangkan hubungan atau jaringansosial/kerja.

3) Tingkat norma adalah seberapa besar norma akan dipatuhi responden berdasarkan nilai-nilai kewirausahaan dalam masyarakat, berdasarkan ukuran (parameter): ketaatan terhadap norma/aturan/kebiasaan yang berlaku di masyarakat dan norma yang ada di dalam kelompok usaha iatergabung.

(34)

kelompok lain berdasarkan ukuran (parameter) kepercayaan dalam melakukan dan membina hubungan bisnis dengan siapapun.

Meurut Rusdi Syahra, dkk, dalam Kristina (2003: 60) menyebutkan bahwa modal sosial dapat dilihat dari:

1) Kepercayaan (trust) adalah: kecenderungan untuk menempati sesuatu yang telah dikatakan baik secara lisan maupun tulisan. Adanya sifat kepercayaan ini merupakan landasan utama bagi seseorang untuk menyerahkan sesuatu kepada orang lain, dengan keyakinan bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.

2) Solidaritas, kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud adanya rasa kebersamaan dalam menghadapi suatumasalah. 3) Toleransi, kesediaan untuk memberikan konsensi atau

kelonggaran, baik dalam bentuk materi maupun non-materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.

2.3.1 Kepercayaan(Trust)

Kepercayaan adalah salah satu unsur penting dalam modal sosial yang merupakan tali pengikat antara satu sama lain sehingga tercipta suatu dukungan yang solid dan tahan lama. Trust adalah pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur, dan kooperatif, berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama, dan kepentingan anggota yang lain dari komunikasi itu (Fukuyama, 2002:36).

(35)

Kepercayaan akan menimbulkan kewajiban sosial, dengan mempercayai seseorang akan menimbulkan kepercayaan kembali dari orang tersebut (resiprositas). Dalam kaitannya dengan resiprositas dan pertukaran, pretty dan ward, dalam (Badruddin, 2005: 32) mengemukakan bahwa adanya hubungan-hubungan yang dilandasi oleh prinsip resiprositas dan pertukaran akan dibayar kembali (repaird and balanced). Hal ini merupakan pelicin dari suatu hubungan kerja sama yang telah dibangun agar tetap konsisten dan berkesinambungan. Colemen, dalam (Kristina,

2003: 60) menegaskan ”bahwa kelansungan setiap transaksi

sosial ditentukan adanya dan terjaganya trust (amanah dan kepercayaan) dari pihak-pihak yang terlibat”. Artinya hubungan transaksi antara manusia sebagai individu maupun kelompok baik yang bersifat ekonomi maupun non ekonomi, hanya mungkin terjadi dan berkelanjutan apabila ada trust atau rasa saling percaya dari pihak-pihak yang melakukan interaksi. Individu- individu yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, memungkinkan terciptanya organisasi-organisasi bisnis (dagang) yang fleksibel yang mampu bersaing dalam ekonomiglobal.

Elemen modal sosial yang menjadi pusat kajian Fukayama adalah kepercayaan (trust) karena menurutnya erat kaitannya antara modal sosial dengan kepercayaan. Suatu kelompok yang memiliki modal sosial yang tinggi akan membuka kemungkinan untuk menyelesaikan permasalahan dengan lebih mudah. Hal ini memungkinkan terjadi terutama pada masyarakat yang terbiasa hidup dengan rasa saling mempercayai yang tinggi. Perkembangan ekonomi yang dialami oleh Asia Timur yang begitu cepat, terutama dikarenakan pembentukan jaringan rasa percaya yang dibangun melampaui batas-batas keluarga, suku, negara dan agama.

2.3.2 JaringanSosial

(36)

koordinasi antar warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal (Ibrahim, 2002: 67) George, Ritzer- Goodman J Daungleas (2004: 383) mengatakan bahwa satu ciri khas teori jaringan adalah pemusatan perhatiannya pada struktur mikro hingga makro. Artinya, bagi teori jaringan, aktor (pelaku) mungkin saja individu tetapi mungkin pula kelompok, perusahaan dan masyarakat. Hubungan dapat terjadi struktur sosial skala luas maupun ditingkat yang lebih mikroskopik. Granoveter melukiskan

hubungan ditingkat mikro itu seperti tindakan yang ”melekat”

dalam hubungan pribadi konkrit dan dalam struktur (jaringan) hubungan itu. Hubungan ini berlandaskan gagasan bahwa setiap aktor (individu atau kolektifitas) mempunyai akses berbeda terhadap sumber daya yang bernilai (kekayaan, kekuasaan, informasi) akibatnya adalah bahwa sistem yang berstruktur cenderung terstratifikasi komponen tertentu dan tergantung pada komponen yanglain.

Jaringan sosial di hubungan dengan bagaimana individu terkait satu dengan yang lainnya dan bagaimana ikatan aplikasi melayani baik sebagai pelicin untuk memperoleh sesuatu yang dikerjakan maupun sebagai perekat yang memberikat tatanan dan makna pada kehidupan sosial (Damsar, 2002: 35). Jaringan telah lama dilihat sangat penting bagi keberhasilan bisnis. Pada tingkat permulaan fungsi jaringan diterima dengan luas sebagai suatu sumber informasi penting, yang sangat menentukan dalam mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang bisnis. Jaringan-jaringan itu dapat juga menyediakan akses finansial. (John Field, 2005: 16-17).

2.3.3 Pranata

(37)

Pranata merupakan pendorong bagi terciptanya hubungan kerjasama yang salingmenguntungkan.

Fukuyama, dalam Lawang (2004: 180), menunjuk pada serangkaian nilai atau norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka. Norma-norma akan berperan dalam mengontrol bentuk-bentuk hubungan antar individu. Norma yang tercipta diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh individu pada suatu entitas sosial tertentu. Aturan-aturan tersebut biasanya tidak tertulis, namun demikian dipahami oleh setiap individu dalam konteks hubungan sosial, ekonomi. Aturan-aturan tersebut misalnya, bagaimana cara menghormati dan menghargai orang lain, norma untuk tidak mencurigai orang lain, norma untuk selalu bekerjasama dengan orang lain, merupakan contoh norma yang ada. Norma dan aturan yang terjaga dengan baik akan berdampak positif bagi kualitas hubungan yang terjalin serta merangsang berlangsungnya kohesifitas sosial yang hdiup dan kuat (Hasbullah, 2006:13)

Menurut Sumner dalam Soerjono (1990:219) ada tiga fungsi dari pranata, yaitu:

1) Memberikan pedoman pada anggota masyarakat bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat terutama menyangkutkebutuhan

2) Menjaga keutuhanmasyarakat

3) Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial. Norma dan nilai- nilai yang ada pada suatu masyarakat merupakan unsur yang terkandung dalam pranatasosial.

(38)

Dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, dimana pengambilan keputusan sangat bergantung dari sejauh mana terdapat hubungan partnership antara masyarakat dan stakeholder lain yang dalam hal ini adalah Pemerintah (Dritasto, 2005).

Pada tingkatan citizen power atau terdapat partisipasi aktif, masyarakat dapat bermitra dengan pemegang kekuasaan yang memungkinkan mereka bernegoisasi. Dan jika tingkat partisipasi diperdalam hingga level tertinggi yaitu citizen control, masyarakat memiliki kekuasaan penuh untuk membuat keputusan. Tingkatan partisipasi masyarakat dapat diidentifikasikan dengan mengkaji darimana asal partisipasi apakah dari pemerintah, masyarkaat ataukah bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat.

Secara sederhana, masyarakat dapat berpartisipasi dengan berbagai bentuk diantaranya (Herawatty, 2006) :

1) Keterlibatan dalam prakarsa pembangunan, dimana masyarakat secara aktif menjadi prakarsa terlaksananya pembangunan misalnya melalui penyusunan rencanakerja 2) Keterlibatan dalam pembiayaan pembangunan, dimana

secara swadaya masyarakat membiayai pelaksanaan pembangunan. Pembiayaan swadaya ini dapat berupa material, uang, maupuntenaga.

3) Keterlibatan dalam pengambilan keputusan, dimana masyarakatlah yang berperan aktif dalam memberikan keputusan yang terkait pelaksanaan proyekpembangunan 4) Keterlibatan dalam memobilisasi tenaga, dimana

masyarakatlah yang mengerjakan proyek pembangunan tersebut, baik dengan menyediakan tenaga maupun melibatkan kontraktorlokal.

(39)

2.4 FinancialCapital

Modal memiliki banyak arti yang berhubungan dalam ekonomi, finansial, dan akunting. Dalam finansial dan akunting, modal biasanya menunjuk kepada kekayaan finansial, terutama dalam penggunaan awal atau menjaga kelanjutan bisnis. Awalnya, dianggap bahwa modal lainnya, misal modal fisik, dapat dicapai dengan uang atau modal finansial. Pada penulisan ini yang dimaksudkan pada modal finansial adalah modal awal mahasiswa dalam memulaibisnisnya.

Modal (barang modal) dapat diartikan sebagai barang barang yang diproduksi yang tahan lama dan pada gilirannya dapat digunakan sebagai input input untuk produksi lebih lanjut. (Samuelson, 2003). Ada tiga kategori utama dari barang modal; struktur (yang di dalamnya berupa pabrik dan rumah), perlengkapan (barang barang konsumsi yang tahan lama seperti mobil dan perlengkapan produsen tahan lama seperti mesin, dan alat alat produksi) dan Inventarisasi.

Modal menurut pengertian ekonomi adalah barang atau hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lebih lanjut. Misalkan orang membuat jala untuk mencari ikan. Dalam hal ini jala merupakan barang modal, karena jala merupakan hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lain (ikan).

Modal dapat dibedakan menurut kegunaan dalam proses produksi, pertama modal tetap adalah barang-barang modal yang dapat digunakan berkali-kali dalam proses produksi. Kedua modal lancar adalah barang-barang modal yang habis sekali pakai dalam proses produksi.

2.5 StrategiEntrepreneur

Kewirausahaan strategis adalah aktivitas pencarian atau penciptaan peluang usaha dan pencarian atau penciptaan keunggulan usaha yang membangun keunggulan daya saing. Pewirausaha dan usaha yang berhasil dan lestari pasti kuat dalam dua kegiatan besar itu.

(40)

spesifik lagi, srategi entrepreneurship digunakan dalam mencari peluang bersama dan competitive advantage mencari modal perilaku dan mengimplementasikan strategi entrepreneur untuk menciptakan kekayaan. Tindakan ini dilakukan baik oleh individu atau oleh perusahan dan meningkat kepentingannya di dalam perkembangan competitive landscape pada abad 21.

Competitive landscape telah berkembang pada perusahan di abad 21 sekarang ini dengan perubahan secara substansial, pasar global, lebih kompleks dan ketidak pastian. Karena lingkungan ketidakpastian, perusahan tidak dapat dengan mudah membuat prediksi masa yang akan datang. Sebagai hasilnya, mereka harus mengembangkan strategi yang lebih pleksibel yang mempunyai range altrenatif strategi yang dapat diimplementasikan seperti yang dibutuhkan.

2.5.1 Inovasi dan KewirausahaanKorporat

Joseph Sehumpter memandang kewirausahaan sebagai

“tindakan mengubah“ melalui produk atau metode produksi dan

menggatikan dengan sesuatu yang baru. Perhatian utama kewirausahaan adalah dengan penemuan dana eksploitasi peluang yang menguntungkan.

Beberapa bukti menyatakan bahwa inovasi efektif menghasilkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan. Lebih lanjut lagi, inovasi tersebut memuat beberapa kriteria :

1) Sulit untuk ditirupesaing

2) Sanggup memberikan nilai yang berarti bagipelanggang 3) Tepat waktu,dan

4) sanggup dimanfaatkan secarakomersial

Melalui kemampuan yang ada dan kopentensi inti membantu perusahan mengembangkan keunggulan bersaingnya. Karena hubungan yang jelas dengan pengembangan keunggulan bersaing dan perolehan keuntungan diatas rata-rata, banyak perusahan, khususnya yang aktif di pasar global, tertarik mempelajari bagaimana menghasilkan inovasi dan mengelola proses inovasi

(41)

mengelola inovasi. Formalnya kewirausahaan koporat adalah seperangkat kemampuan yang dimiliki perusahan untuk menghasilkan atau memperoleh produk baru (barang atau jasa) dan mengelola proses inovasinya. Kewirausahaan korporat didasarkan pada disain produk yang efektif dan keberhasilan komersialisasinya. Karena produk yang efektif dan efisien, kewirausahaan korporat dapat menjadi dasar bagi daya saing strategi.

Karya klasik Joseph Schumpeter tentang pengelolaan proses inovasi mengatakan bahwa perusahan terlibat dalam tiga tipe kegiatan inovatif. Ketiga tipe kegiatan inovatif tersebut adalah:

1) Penemuan adalah tindakan menciptakan dan mengem- bangkan produk baru (barang atau jasa) atau ideproses. 2) Inovasi adalah proses menciptakan produk yang dapat

dijual bertolak daripenemuan.

3) Imitasi adalah pengadopsian inovasi oleh sejumlah perusahan serupa. Secara khas, akibat imitasi adalah standarisasi produk atau ide proses. Banyak perusahan yang sanggup menciptakan ide yang menghasilkan penemuan. Akan tetapi, mengkomersialisasikan penemuan ini melalui inovasi kadang-kadangsulit.

(42)

Manajer adalah promoter dan penjaga efisiensi organisasi. Tugas manajer khususnya dirasakan penting begitu ide produk dikomersialisasikan dan organisasi yang perlu untuk mendukung dan mempromosikannya telah terbentuk. Di Chrysler, tugas manajer menjdi sarana untuk menciptakan perubahan yang telah diinspirasikan lacocca. Manajer-manajer ini lebih fleksibel dan berkerja lebih giat untuk menghalau penghalang antar pekerja dan mereka sendiri yang telah berkembang selama bertahun-tahun.

Pengusaha adalah orang yang pertama melihat peluang ekonomis dan berusaha mendapatkan keuntungan darinya. Berkali- kali, penglihatan komersialpengusaha tidak dimiliki yang lain sejak awal, yang memaksa mereka hidup dengan beban sosial Karen tidak diterima sampai nilai ekonomis penglihatan mereka teguhkan. Dalam organisasi besar, kegiatan pengusaha

disebut intrwirausaha “(intrapreneurship).

Pengusaha dan intrausahawan yang paling efektif biasanya adalah orang yang berkerja menentang estandar produk yang ada denan bertindak seolah-olah estandar itu tidak ada. Cara berpikir ini tampaknya memudahkan kreativitas dan inovasi. Akan tetapi, dalam organisasi besar, orang yang terlibat dalam praktek kewirausahaan harus memahami sepenuhnya cara pikir korporat yang kini memotori proses inovasi perusahan dan ciri-ciri sruktur, control dan sistem pengupahan dimana tugas organisasi dikerjakan.

2.5.2 Inovasi

Peter Drucker membantah bahwa “ inovasi adalah fungsi

spesifik dari kewirausahaan, apakah didalam bisnis yang ada, institusi pelayanan publik atau usaha baru dimulai oleh individu. Selain itu, Drucker menyarankan bahwa inovasi diartikan dimana pengusaha sumber untuk memperoleh kekayaan yang baru atau membantu sumber daya yang ada dengan potensi yang tinggi untuk menciptakan kekayaan.

(43)

persaingan perusahan dalam industry global diman lebih inovatif juga mencapai hasil yang lebih tinggi. Dalam kenyataannya, investor sering bereaksi lebih positif terhadap produk baru, yang dengan demikian akan meningkatkan harga saham perusahan.

Karya klasik Joseph Schumpeter tentang pengelolaan proses inovasi mengatakan bahwa perusahan terlibat dalam tiga tipe kegiatan inovatif. Ketiga tipe inovatif tersebut adalah :

1) Penamuan adalah tindakan menciptakan dan mengem- bangkan produk baru (barang dan jasa) atau ideproses. 2) Inovasi adalah proses menciptakan produk yang dapat

dijual bertolak daripenemua.

3) Imitasi adalah pengadopsian inovasi oleh sejumlah perusahanserupa.

2.5.3 Usaha korporatinternal

Usaha korporat internal ini terdiri dari dua proses, usaha korporat internal adalah seperangkat kegiatan yang digunakan untuk menghasilkan penemuan dan inovasi dalam satu organisasi. Proses usaha korporat internal pertama mencakup pendekatan atas-bahwa untuk menciptakan inovasi produk dan proses. Prilaku strtegis otonom adalah proses bahwa atas dimana pelopor produk (productchampion) mencari ide produk baru, sering lewat proses politik, dan dengan demikian mereka mengembangkan dan mengkordinasikan komersialisasi barang dan jasa yang baru sampai memperoleh sukses pasar. Pelopor produk adalah anggota suatu organisasi yang mempunyai visi wirausaha terhadap suatu barang dan jasa yang baru dan berusaha mencari dukungan untukmengkomersialisasikannya.

(44)

pengupahan yang digunakan untuk mendukung penerapan strategi tingkat korporat. Konteks structural yang dikaitkan dengan komitmen Sears pada bisnis pasanan-pos juga menjadi penghalang dari timbulnya sikap focus terhadap strategi eceran baru.

Perilaku startegi yang didorong adalah proses atas bawah dimana strategi dan struktur saat ini mendorong inovasi produk yang dikaitkan erat dengan strategi dan struktur saat ini. Dalam situasi ini, strategi yang ada dipilih melalui hirarki struktur yang cocok. Hasil yang terutama dicapai melalui strategi yang didorong tampak dari studi salah satu keberhasilan luar biasa dalam perekonomian A,S, Intel Corp sekarang, sebagai produsen utama chip logis untuk mikrokomputer, intel awalnya adalah pembuat chip memori. Akan tetapi, sebagaimana tampak dalam focus strategi tentang intel, sebelum perubahan strategi terakhir ditetapkan sepenuhnya dan direorganisasi secara formal oleh manajer tingkat puncak perusahan itu, perubahan terhadap produk chip logis telah mengikuti proses usaha internal yang didorong maupunotonom.

Contoh Intel Corp. ini merupakan salah satu yang paling dramitis dalam sejarah perekonomian A,S., khususnya industri semi konduktor. Keuntungan intel membumbung karena persaingan harga dalam bisnis mikrokomputer, dimana Apple dan IMB bersaing dengan membuat clone dan pesaing harga yang lebih baru seperti AST dan Dell Corp. persaingan harga yang tajam mendoring peningkatan permintaan terhadap mikro komputer dan pada gilirannya mikroprosessor yang diproduksi intel. Terlibat lagi, penghasilan perangkat lunak terus mengembangkan dan memasarkan aplikasi canggih yang menarik bagi sejumlah pengguna computer pribadi (PC). Untuk mengoperasikan aplikasi ini, pengguna sering harus memperbaharui penya. Pembaharuan terpenuhi melalui pembelian Chip mikroprosessing yang lebih canggih, seperti yang diproduksi olehIntel.

(45)

inovasi internal. Perusahan – perusahan kecil baru, tanpa sejarah strategi korporat yang panjang, lebih unggul dalam memulai perubahan strategis.

Akan tetapi, perusahan kecil sering kekurangan sumber daya, kemampuan, dan kompetensi inti yang perlu untuk mengkomersialisasikan sejumlah besar proyek yang berbasiskan inovasi.

2.5.4 Penerapan Usaha KorporatInternal

Aliansi strategis adalah kerjasama dalam menghasilkan dan mengelola Inovasi. Sangatlah tidak mungkin bagi kebanyakan perusahan dapat memiliki semua pengetahuan yang perlu untuk bersaing dengan sukses di arena produk dalam jangka waktu yang panjang. Jadi Inovasi, internal mungkin berperan membantu pengembangan keunggulan bersaing yang berkesinambungan ketika perusahan memiliki kemampuan dan kompetensi inti yang dibutuhkan untuk berinovasi secara efektif dan efisien. Tetapi, karena perbedaan pengetahuan manusia adalah besar atau kecil, tidak sanggup memperbaharui persediaan pengetahuan yang sangat luas ini oleh mereka sendiri. Hal ini makin memperumit kenyataan ini adalah kenyataan bahwa dasar pengetahuan yang berhadapan dengan organisasi sekarang ini tidaka hanya luas, tetapi juga lebih terspesifikasi. Dengan demikian, pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengkomersialkan barang dan jasa sering terhadap dalam korporasi dan Negara yang berbeda-beda yang mempunyai kemampuan menciptakan produk spesial. Misalnya Jepang mempunyai kemampuan khusus menghasilkan DRAM atau chip computer memori.

Gambar

Gambar 1.1 Propsal Yang Mengikuti Seleksi
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
Tabel 4.5 Deskriptif Tiap Variabel
Tabel 4.6 Network
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari hipotesis H1a adalah diterima yaitu ukuran organisasi berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi yakni berpengaruh secara positif dan signifikan.Ini

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Diferensiasi berpengaruh positif terhadap Keunggulan bersaing namun tidak berpengaruh sigifikan, adapun diferensiasi yang dilakukan

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas informasi, persepsi kebermanfaatan, kemampuan individual dan norma subyektif berpengaruh positif dan signifikan

Karena thitung > ttabel yaitu 14,258 > 1,65798 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, berarti terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel

Hasil analisis data yang diperoleh menunjukkan nilai koefisien korelasi (r xy ) = 0, 809 dengan p = 0,000 (p<0,050) yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan

Dari hasil pengujian secara SPSS yaitu dengan melihat probabilitas signifikansinya P-value = 0,000 atau 0% lebih kecil dari 5% maka H0 ditolak, Ha diterima sehingga dapat dikatakan

Untuk variabel norma subyektif, diperoleh nilai koefisien sebesar 0,160 dengan tanda positif yang berarti apabila pada variabel norma subyektif meningkat sebesar 1 satuan,

Dengan demikian hipotesis H2 “lingkungan kerja berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior OCB” diterima karena secara empirik terbukti