Dilema Keanggotaan Inggris di Uni Eropa: Masihkan Pasar
Tunggal Eropa Memiliki Dampak Signifikan Saat Ini?
Ditujukan untuk memenuhi tugas esai mata kuliah
Hubungan Internasional di Eropa
Dosen : Hikmawan Saefullah, S.IP., MAIR
Oleh :
Anindya Ayu Pranaputrika Kirana
170210120110/Kelas B
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
Eropa merupakan kawasan impian bagi hampir semua orang di dunia. Perkembangan sejarah, ilmu pengetahuan, seni maupun karya sastra banyak berkembang dari negara-negara di Eropa. Dari Eropa pula muncul pertama kalinya integrasi regional dan menjadi contoh bagi kawasan lainnya untuk memudahkan negara-negara di kawasan tersebut melaksanakan kegiatannya baik di bidang perekonomian hingga bidang sosial-budaya. Integrasi regional di kawasan Eropa tersebut bermula dari integrasi perekonomian dengan adanya kerja sama pembentukan European Coal and Steel Community oleh enam negara pelopor yaitu Belgia, Belanda, Luksemburg, Jerman, Prancis dan Italia (Surya, 2009). Hal tersebut kemudian berkembang menjadi Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) kemudian berubah menjadi Masyarakat Eropa (ME) yang memiliki kebijakan Pasar Tunggal Eropa (PTE) dalam Single European Act pada tahun 1986 (Jones, 2007). Dan pada akhirnya pada tahun 1993, terciptalah Uni Eropa sebagai pelopor integrasi kawasan berdasarkan “Treaty on European Union” (Surya, 2009). Keberhasilan integrasi kawasan ini telah sampai pada tahap penyatuan nilai mata uang yang disebut dengan Euro. Namun, terdapat salah satu negara anggota Uni Eropa tidak menggunakan mata uang ini dan terkadang memiliki kebijakan perekonomian yang berbeda dengan Uni Eropa yaitu Inggris.
Inggris sebagai salah satu negara besar di Eropa yang mengalami kemenangan di Perang Dunia II, namun kemenangan tersebut juga tidak berakhir baik karena pada kenyataannya Inggris telah mengalami kerugian besar akibat perang. Hal tersebut yang menjadikannya dekat dengan Amerika Serikat karena Amerika Serikat, dengan Marshall Plan-nya, membantu negara-negara Eropa Barat untuk bangkit dari keterpurukan ekonominya. Marshall Plan tersebut tentunya memiliki tujuan tertentu, karena tidak lama kemudian pecahlah Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet dan hal tersebut membuat Inggris menjadi sekutu terdekat dari Amerika Serikat. Kedekatan Amerika Serikat dengan Inggris membuat hubungan Inggris dengan negara-negara Eropa Barat lainnya merenggang karena ketidakpedulian Inggris dengan kawasan ini. Namun, pada akhirnya Inggris mengubah kebijakan luar negerinya dengan membuka hubungan di kawasan Eropa melalui bergabungnya Inggris pada Masyarakat Ekonomi Eropa pada tahun 1973 (Surya, 2009). Bergabungnya Inggris tersebut disebabkan oleh adanya kesulitan Inggris dalam perdagangan karena adanya ECSC yang menyebabkan adanya kemudahan dalam melakukan perdagangan diantara enam negara pemprakarsa ECSC.
Masuknya Inggris ke dalam Masyarakat Ekonomi Eropa bukan tanpa perjuangan karena Inggris sebelumnya telah beberapa kali mengajukan keanggotaan terhadap Uni Eropa, namun selalu mendapat halangan dari Prancis yang saat itu diperintah oleh Presiden Charles de Gaulle (Kompas, 2012) karena kedekatannya dengan Amerika Serikat. Prancis menginginkan tidak adanya intervensi dari Amerika Serikat terhadap kawasan Eropa. Jika Inggris masuk, maka dengan mudah Amerika Serikat dapat masuk dan mengintervensi kawasan Eropa. Namun pada akhirnya Prancis, setelah Presiden de Gaulle digantikan, mengizinkan Inggris untuk menjadi anggota dari Masyarakat Ekonomi Eropa.
(CAP) karena menurutnya kebijakan ini tidaklah bermanfaat bagi perekonomian Inggris yang dominan di bidang industri (Evans, 1997).
Saat ini, Inggris ingin keluar dari Uni Eropa banyak disebabkan oleh aspek perekonomian. Hal tersebut terjadi karena Inggris merasa takut terhadap turunnya perekonomian Uni Eropa dan mahalnya biaya keanggotaan Uni Eropa juga turut memengaruhi keinginan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa
Dampak Adanya Pasar Tunggal Eropa terhadap Perekonomian Inggris
PTE terbentuk karena adanya keinginan Masyarakat Eropa pada saat itu untuk membuat pasar tunggal demi kemudahan dalam melakukan perdagangan di kawasan tersebut. Hal itu juga mendorong pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara karena produk domestik masing-masing-masing-masing negara anggota dapat berkompetitif di PTE. Selain itu, PTE juga banyak menarik investor-investor asing untuk berinvestasi di negara-negara anggota Uni Eropa atau lebih dikenal dengan Foreign Direct Investment (FDI) karena mereka hanya akan dikenai satu regulasi sebagai regulasi gabungan dari negara-negara anggota sehingga memudahkan mereka dalam berinvestasi (Booth dan Howarth, 2012). Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa PTE merupakan kawasan yang subur untuk dijadikan lahan bisnis.
internasional. Pengaruh tersebut secara tidak langsung juga akan berdampak pada perekonomian Inggris. Inggris sebagai anggota Uni Eropa juga memiliki keistimewaan dalam PTE karena dapat memengaruhi kebijakan yang dibuat oleh Uni Eropa melalui Parlemen Eropa berkaitan dengan pasar tunggal. Sehingga, Inggris dapat mengemukakan aspirasinya pada kebijakan yang akan dibuat tersebut.
Dampak Keluarnya Inggris dari Uni Eropa terhadap Perekonomian Inggris
Dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Eropa, pertumbuhan ekonomi Eropa memang mengalami kemunduran. Hal tersebut merupakan salah satu alasan Inggris ingin keluar dari Uni Eropa. Namun, apakah dampak yang didapat Inggris jika keluar dari Uni Eropa dan berarti juga keluar dari PTE? Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, sebenarnya Inggris masih dapat menjadi anggota European Free Trade Area (EFTA) dan bergabung dengan European Economic Area (EEA). Namun, keuntungan yang didapatkan tentunya berbeda karena Inggris tidak dapat memberikan aspirasinya dalam Parlemen Eropa ketika ada perumusan kebijakan. Hal itu tentunya tidak begitu menguntungkan Inggris karena Inggris harus mengikuti kebijakan yang ada dan kebijakan tersebut belum tentu menguntungkan untuk Inggris.
Tetapi terdapat keuntungan lainnya yang didapat oleh Inggris jika keluar dari Uni Eropa yaitu penghematan terhadap biaya APBN karena dengan menjadi anggota Uni Eropa akan ditarik iuran sebesar 13 miliar dolar AS per tahun (Kompas, 2012). Selain itu, pembatasan jam tenaga kerja yang diterapkan oleh Uni Eropa akan terhapus sehingga dapat memberi keuntungan produktivitas pekerja terhadap perusahaan-perusahaan di Inggris.
Kesimpulan
Daftar Pustaka
Buku
Evans, Eric J. (1997) Thatcher and Thatcherism, Routledge: Kent
Jones, Alistair (1993) Britain and The European Union, Edinburgh: Edinburgh University Press, pp. 17
Surya, Aelina (2009) Hubungan Internasional di Kawasan Eropa: Antara Konflik, Kerja sama dan Integrasi, Bandung: PT. Kibar Internasional, pp. 132-140.
Booth, Stephen dan Howarth, Christopher (2012) Trading Places: Is EU membership still the best option for UK trade?, London: Open Europe, pp. 1-25
Artikel Internet :
Dixon, Hugo (2013) Messy Break Up if Britain Opts Out the E.U. N.Y. Times. Available at http://www.nytimes.com/2013/10/21/business/international/messy-breakup-if-britain-opts-out-of-eu.html?_r=0 [Accessed 28/10/13]
Jones, Ben (2013) The UK’s Future is in a Prosperous, Sustainable, and Secure European Union, Available at http://euromove.blogactiv.eu/2013/09/17/the-uks-future-is-in-a-prosperous-sustainable-and-secure-european-union/ [Accessed 28/10/13]
European Movement, The Economic Benefits to the UK of EU Membership (2011), http://www.euromove.org.uk/index.php?id=15296 [Accessed 29/10/13]
European Commission, (2007), Steps towards a deeper economic integration: the internal market in the 21st Century, Avalaible at
http://ec.europa.eu/economy_finance/publications/publication784_en.pdf
[Accessed 6/11/13]
Kompas, Inggris Menjauh dari Uni Eropa (2012), Berita Harian Kompas,
Available at
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/12/26/02385437/Inggris.Menjauh.d ari.Uni.Eropa [Accessed 20/10/13]