• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKONOMI PEMBANGUNAN SYARIAH Sistem Keuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EKONOMI PEMBANGUNAN SYARIAH Sistem Keuan"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

EKONOMI PEMBANGUNAN SYARIAH

“Sistem Keuangan Islam”

Oleh :

Aulia Nurul Fitri

NIM : 11140860000078

Dosen Pengampu :

Dr. Euis Amalia, M.Ag.,

KONSENTRASI EKONOMI PEMBANGUNAN SYARIAH

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di yaumil kiyamah nanti. Dan juga saya berterima kasih kepada Ibu Dosen Dr. Euis Amalia, M.Ag., selaku Dosen mata kuliah Ekonomi Pembangunan Syariah yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai “Sistem Keaungan Islam”, saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kita harapkan. Untuk itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat “tiada gading yang tak retak” tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Ciputat, 25 Maret 2017

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

(4)

namun menjadi sistem keuangan seluruh umat di dunia karena sistem ini bersumber dari Islam yang Rahmatan Lil’Alamin.

1.2. Tujuan Penulisan

a) Mengetahui Sistem Keuangan Islam

b) Mengetahui penerapan Sistem Keuangan Islam

c) Memahami pentingnya Sistem Keuangan Islam di Lembaga Keuangan

1.3. Rumusan Masalah

a) Bagaimana pandangan Islam tentang Kekayaan dan Harta ? b) Bagaimana Akad/Kontrak/Transaksi yang sesuai Syariah ? c) Apa saja Prinsip Sistem Keuangan Islam ?

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pandangan Islam Terhadap Ekonomi

a. Al-Ghazali (451-505 H/1055/1111M)

Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad ath-Thusi asy-Syafii al-Ghazali, lebih terkenal dengan Imam al-Ghazali atau HUjjah al-Islam Beliau dilahirkan pada tanggal 14 Jumadil Akhir 50 H/18 Desember 1058 di Thus yang pada waktu itu termasuk wilayah Khurasan, Persia atau Iran pada saat ini.1

Al-Ghazali dikenal memiliki pemikiran yang luas dalam berbagai bidang. Bahasaan nya tentang ekonomi dapat ditemukan dalam karya monumental nya ihya ‘ulum al-Din.

Dalam pandangan al-Ghazali, kegiatan ekonomi merupaka amal kebajikan yang dianjurkan dalam islam. Kegiatan ekonomi harus ditujukan mencapai maslahah untuk memperkuat sifat kebijaksanaa, kesederhanaa, dan keteguhan hati manusia. Lebih jauh al-Ghazali membagi manusia kedalam 3 kategori, yaitu: pertama, orang yang kegiatan hidupnya sedemikian rupa sehingga melupak tujua-tujuan akhirat, golongan ini akan celaka, kedua, orang yang sangat mementingkan tujuan akhirat dari pada tujuan duniawi, golongan ini akan beruntung, ketiga, golongan pertengahan/kebanyakan orang, yaitu mereka yang kegiatan duniawi nya sejalan dengan tujuan-tujuan akhirat.

Bagi al-Ghazali pasar merupakan bagian dari “keteraturan alami”. Dalam al-Ihya, ia menerangkan bagaimana evolusi terciptanya pasar. Ia mengibaratkan uang sebagai cermin. Cermin tidak punya warna namun dapat merefleksikan semua warna. Jadi, uang tidak punya harga namun dapat merefleksikan semua harga. Uang bukan komoditas sehingga tidak dapat diperjual belikan. Memperjualbelikan uang ibarat memenjarakan uang, sebab hal ini dapat akan mengurangi jumlah uang yang berfungsi sebagai alat tukar. Uang dapat saja tidak terbuat dari emas atau perak, misalnya uang kertas, tetapi pemerintah wajib menyatakannya sebagai alat pembayaran yang resmi. Ia

(6)

menyatakan bahwa pemalsuan uang (maghsyusy) sangat berbahaya karna dampaknya berantai, bahkan lebih berbahaya dari pada pencurian uang.

Al-Ghazali juga banya menyoroti kegiatan-kegiatan bisnis yang dilarang atau diperbolehkan dalam pandangan Islam. Riba merupakan praktik penyalahgunaan fungsi uang dan berbahaya, sebagaimana juga penimbunan bahan-bahan pokok untuk kepentingan individual. Ia juga menganggap bahwa korupsi dan penindasan merupakan faktor yang dapat menyebabkan penurunan ekonomi, karnanya pemerintah harus memberantasnya. Pemerintah tidak diperbolehkan memungut pajak melebihi ketentuan syariat, kecuali jika sangat terpaksa.

b. Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M)

Nama lengkapnya adalah Taqi al-din Ahmad bin Abd. Al-Halim bin Abd. Salam bin Taimiyah. Ia lahir di Harran 22 Januari 1263 M (10 Rabbiual Awal 661 H). Ayah nya Abdal-Halim, paman nya Fakhruddin dan kakenya Maduddin merupakan ulama besar dari mahzab Hambali. Ibnu Taimiyah adalah seorang fuqaha mempunyai pemikiran dalam berbgai bidang ilmu yang luas, termasuk dalam bidang ekonomi. Pemikiran nya yang revolusioner yakni gerakan tajdid (pembaharu) dan ijtihadnya dalam bidang muamalah, membuat namanya terkenal di seluruh dunia.2

Fokus perhatian Ibnu Taimiyah terletak pada masyarakat, fondasi moral dan bagaimana mereka harus membawakan diri nya sesuai dengan syariah. Ia juga mendiskusikan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan perilaku ekonomi individu dalam kontek hidup bermasyarakat, seperti akad dan upaya menaatinya, arga yang wajar dan adil, pengawasan pasar, keuangan Negara dan peranan Negara dalam pemenuhan kebutuhan hidup rakyatnya. Dan transaksi ekonomi focus perhatian ibnu Taimiyah tertuju pada keadilan yang hanya dapat terwujud jika semua akad berdasarkan kepada kesediaan menyepakati dari semua pihak. Agar lebih bermakna kesepakatan ini harus didasarkan kepada informasi yang memadai.

Pandangan Ibnu Taimiyah tentang kebijakan publik juga meliputi pembahasan tentang pengaturan uang, peraturan tentang timbangan dan ukuran, pengawasan harga serta pertimbangan pengenaan pajak yang tinggi dalam keadaan darurat. Secara umum,

(7)

pandangan-pandangan ekonomi Ibnu Taimiyah cenderung bersifat normatif. Namun demikian terdapat beberapa wawasan ekonominya yang dapat di kategorikan sebagai pandangan ekonomi positif.

c. Ibnu Khaldun (732-808 H/1322-1404 M)

Ibnu khaldun di lahirkan di Tunisia pada awal bulan Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M. Ia mempunyai nama lengkap Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin Ibn Khadun. Waliudin adalah gelar yang diberikan kepadanya sewaktu ia menjabat sebagai qadhi di mesir. Ibnu Khaldun merupakan ekonom Muslim yang terkenal karna sedemikian cemerlang dan luas bahasan nya tentang ekonomi. Ia menulis buku muqadimah. Dalam bukunya muqadimahibnu Khaldun memberikan bahasan yang luas terhadap teori nilai, pembagian kerja dan perdagangan internasional, hokum permintaan dan penawaran, konsumsi, produksi, uang, siklus perdagangan, keuangan publik, dan beberapa bahasan makroekonomi lainnya.3

Secara umum Ibnu Khaldun sangat menekankan pentingnya suatu sistem pasar yang bebas. Ia menentang intervensi Negara terhadap masalah ekonomi dan percaya akan efisiensi sitem pasar bebas. Ia juga telah membahas tahap pertumbuhan dan penurunan perekonomian dimana dapat saja berbeda antara satu Negara dengan Negara lain nya.

Analisis Ibnu Khaldun dalam teori perdagang Internasional dan hubungan harga Internasional juga sangat cemerlang, ia menghubungkan perbedaan tingkat harga antar Negara dengan ketersediaan faktor-faktor produksi sebagaimana dalam teori perdagangan Internasional modern. Pandangan Ibnu Khaldun dilengkapi dengan analisis tentang pertukaran di antara Negara miskin dengan kaya, hasrat untuk eksport impor, dampak struktur perekonomian terhadap pembangunan dan pentingnya kekayaan intelektual bagi proses pertumbuhan.

Dalam pandangan Ibnu Khaldun emas dan perak memiliki fungsi penting dalam perekonomian, sebagaimana ia nyatakan “Tuhan telah menciptakan dua logam mulia, emas dan perak, yang dapat digunakan untuk mengukur nilai dari berbagai komoditas. Logam-logam ini juga biasa digunakan oleh manusia untuk alat menyimpan kekayaan

(8)

atau benda berharga. Meskipun manusia kadang menyimpan benda-benda lain, tetapi biasanya juga dimaksudkan untuk memperoleh emas atau perak”.

Ibnu Khaldun menekankan pentingnya ide-ide baru dalam praktek industri dan kerajinan, serta menganggap bahwa ekspansi pasar merupakan masalah krusial dalam hal ini. Dalam hal penawaran tenaga kerja ia berpendapat bahwa jika tingkat upah berada diatas titik tertentu maka penawaran tenaga kerja justru akan menurun, sebagaimana dikenal sebagai backward sloping supply curve dalam teori ekonomi modern, sedangkan pembahasannya tentang siklus perdagangan telah jauh mendahului teori Hicks.

Ekonomi islam tidak sependapat dengan sudut pandang analisis ekonomi konvensional, hal ini dilandasi oleh pokok ajaran utama dalam ekonomi islam yakni prinsip tauhid dan persaudaraan. Tauhid secara harfiah ’unit’, dalam konteks ekonomi yang berarti bahwa tauhid merangkum inti dari seluruh esensi ekonomi islam. Dalam hal ini mengajarkan manusia bagaimana berhubungan dan berurusan dengan manusia lain dalam terang hubungannya dengan Tuhan.4

Islam sebagai pedoman hidup umat muslim memiliki peraturan yang jelas dan terperinci dalam masalah pemanfaatan kekayaan. Dari segi pemanfaatan islam mengharamkan pemanfaatan beberapa bentuk harta kekayaan seperti khamr dan bangkai. Sebagaimana islam juga mengharamkan pemanfaatan beberapa tenaga manusia seperti dansa (tari-tarian) atau pelacuran. Islam juga serta merta mengharamkan menyewa tenaga untuk melakukan sesuatu yang haram dilakukan. Kemudian jika dari segi dan mekanisme perolehan, islam telah mensyariatan hukum-hukum tertentu dalam rangka memperoleh kekayaan, seperti hukum-hukum berburu, menghidupkan tanah mati, hukum-hukum kontrak jasa, industri serta hukum-hukum waris, hibbah dan wasiat.

(9)

Lain halnya dengan kekayaan itu sendiri, dari segi memproduksinya, islam telah mendorong dan memacu agar memproduksi sebanyak-banyaknya, sebagaimana ketika Islam memacu agar bekerja. Sementara itu, Islam sama sekali tidak ikut campur dalam menjelaskan tata cara untuk meningkatkan produksi, termasuk kemampuan produksinya. Justru, Islam telah membiarkan manusia untuk melaksanakannya sesuai kreativitas manusia itu sendiri.

Sedangkan dari segi keberadaanya, harta kekayaan tersebut sebenarnya terdapat dalam kehidupan ini secara alamiah, dimana Allah swt telah menciptakannya untuk diberikan kepada manusia. Allah swt berfirman:

لل قل للخل ِيذذللا ولهه

علببس

ل ن

ل ههاولس

ل فل ءذَاملس

ل لا َىللإذ ى

ى ولتلس

ب ا م

ل ثه َاععِيمذجل ض

ذ

ربلب

ل ا ِيفذ َامل مبكه

م

م ِيلذع

ل ءءِي

ب ش

ل ل

ل ك

ه بذ ولههول تءاولَاملسل

”Dialah Allah, yang menjadian segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(Q.s. Al-Baqarah ; 29)

هذلذض

ب فل ن

ب مذ اوغهتلببتللذول هذرذمبأ

ل بذ هذِيفذ كهلبفهلبا ِيلرذجبتللذ رلحببللبا مهكهلل رلخلسل ِيذذللا ههلللا

ن

ل ورهك

ه ش

ب تل مبك

ه للعلللول

“Allahlah yang telah menundukkan untuk kalian lautan, agar bahtera bisa berjalan diatasnya dengan kehendak-Nya, juga agar kalian bisa mengambil kebaikannya.”(Q.s. Al-Jatsiyat ; 12)

(10)

rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”(Q.s. Abasa ; 24-32)

Didalam ayat-ayat ini serta ayat-ayat lain yang serupa, Allah telah menjelaskan, bahwa Dia-lah yang menciptakan harta kekayaan dan tenaga manusia, dan samasekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain. Semuanya ini menunjukkan bahwa Allah swt tidak ikut campur dalam masalah harta kekayaan, termasuk dalam masalah tenaga manusia, selain menjelaskan bahwa Dia-lah Yang telah menciptakannya agar bisa dimanfaatkan oleh manusia. Telah pula diriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda dalam masalah penyerbukan kurma :

“Kalianlah yang lebih tahu tentang (urusan) dunia kalian”

Hal tersebut memperjelas bahwa memang syara’ telah menyerahkan masalah memproduksi harta kekayaan tersebut kepada manusia, agar mereka memproduksinya sesuai dengan keahlian dan pengetahuan mereka.5

Oleh karena itu, amatlah jelas bahwa Islam telah memberikan pandangan (konsep) tentang sistem ekonomi, sedangkan tentang ilmu nya islam menyerahkan kepada manusia itu sendiri untuk mengembangkannya sesuai keahlian serta tentunya tetap berada di jalur syariah islam.

2.2. Mekanisme Memelihara Harta Kekayaan

1. Hak Mengelola

Hak mengelola dan memelihara harta kekayaan sebenarnya merupakan konsekuensi dari hukum syara’ , yaitu konsekuensi dari adanya kebolehan bagi pemilik untuk memanfaatkan barang,

5Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif : Perspektif Islam

(11)

sekaligus memperoleh kompensasi karena adanya pemanfaatan tersebut sebenarnya terikat dengan izin Aa-Syari’, sebab kepemilikan hakikatnya merupakan izin As-Syari’ terhadap suatu pemanfaatan.

Apabila hak tersebut merupakan hak milik Allah sementara Allah telah menyerahan kekuasaan atas harta tersebut kepada manusia melalui izin dari-Nya, maka perolehan seseorang terhadap harta itu sama dengan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memanfaatkan serta mengembangkan harta, yang antara lain adalah karena menjadi hak miliknya. Sebab, ketika seseorang memiliki harta maka esensinya dia memiliki harta tersebut hanya untuk dimanfaakan. Sehingga dalam hal ini, dia terikat dengan hukum-hukum syara’ , dan bukan bebas mengelola secara mutlak. Alasan daripada itu semua adalah , bahwa ketika dia mengelola dalam rangka memanfaatkan harta tersebut dengan cara yang tidak sah menurut syara’, misalnya dengan menghambur-hamburkannya, atau mempergunakannya untuk suatu kemaksiatan, maka negara wajib mengawalnya dan melarang untuk mengelola, juga merampas wewenang yang telah diberikan negara kepadanya.

2. Pengembangan Kepemilikan

(12)

Secara garis besar harta hanya ada tiga macam, yaitu tanah, harta yang diperoleh melalui peertukaran dengan barang , serta harta yang diperoleh dengan cara merubah bentuknya dari satu bentuk menjadi bentuk-bentuk yang lain. Dari sinilah, sesuatu yang lazim dipergunakan oleh orang untuk menghasilkan harta. Oleh karena itu hukum-hukum yang terkait dengan pertanian, perdagangan dan industri itulah yang sebenarnya menjelaskan tentang mekanisme yang dipergunakan oleh seseorang untuk mengembangkan pemilikannya atas harta tersebut.

3. Anjuran Bekerja atau Berniaga

Islam menganjurkan manusia untuk bekerja atau berniaga, dan menghindari kegiatan meminta-minta dalam mencari harta kekayaan. Manusia memerlukan harta kekayaan sebagai alat untuk memenuhi kutuhan hidup sehari-hari termasuk untuk memenuhi sebagian perintah Allah seperti infaq, zakat, pergi haji, perang (jihad), dan sebagainya.Sebagaimana firman Allah swt. :

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(Q.s.62 ; 10)

2.3. Penggunaan dan Pendistribusian Harta 1. Tidak boros dan tidak kikir

“Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”(Q.s. 7:31)

2. Memberi infaq dan shadaqah

(13)

hari akhir nanti pada saat dimana sesuatupun yang dapat menolong kita, sebagaimana bunyi hadits berikut :

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali 3 perkara : shadaqah jariah (infaq dan sedekah), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan.” (HR. Muslim)

3. Membayar zakat sesuai ketentuan

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah mahamendengar lagi maha mengetahui.”(Q.s. 9:103)

4. Memberi pinjaman tanpa bunga

Memberikan pinjaman kepada sesama muslim yang membutuhkan, dengan tidak menambah jumlah yang harus dikembalikan(bunga/riba).

5. Meringankan kesulitan orang yang berutang

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan,maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkannya, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahuinya.”(Q.s. 2:280)

2.4. Prinsip-prinsip Sistem Keuangan Islam

(14)

dan Sunnah. Adapun prinsip-prinsip dasar sistem keuangan Islam dapat diringkas sebagai berikut :

1. Pelarangan bunga (Prohibition of interest)

Larangan riba, istilah secara harfiah berarti "kelebihan"

dan ditafsirkan sebagai "setiap peningkatan dibenarkan modal apakah pinjaman atau penjualan" adalah prinsip utama dari sistem. Lebih tepatnya, setiap tambahan, tetap, tingkat yang telah ditetapkan terkait dengan kedewasaan dan jumlah pokok) dianggap riba dan dilarang. Konsensus umum di kalangan ulama Islam adalah bahwa riba tidak hanya mencakup riba tetapi juga pengisian "bunga" yang dipraktekkan secara luas.Larangan ini didasarkan pada argumen keadilan sosial, kesetaraan, dan hak milik. Islam mendorong pendapatan dari keuntungan tetapi untuk-tawaran pengisian bunga karena keuntungan bagi hasil ditentukan setelahnya melambangkan kewirausahaan sukses dan penciptaan kekayaan tambahan. Sedangkan bunga, ditentukan sebelum keuntungan atau hasil usaha diperoleh sehingga biaya yang masih harus dibayar terlepas dari hasil operasi bisnis dan tidak mungkin menciptakan kekayaan jika ada kerugian bisnis. Keadilan sosial menuntut bahwa peminjam dan pemberi pinjaman berbagi manfaat serta kerugian dalam metode yang adil dan bahwa proses akumulasi kekayaan dan distribusi dalam perekonomian adil dan hasil produktivitas yang murni.6

2. Pembagian resiko (Risk sharing)

Karena bunga dilarang, pemasok dana adalah investor bukan kreditur. Penyedia modal dan pengusaha risiko bisnis saham dengan imbalan saham dari keuntungan. 7

(15)

3. Uang sebagai “Potensial” modal (Money as “potential” capital)

Uang diperlakukan sebagai "potensial" modal, yaitu menjadi modal yang sebenarnya hanya ketika bergabung tangan dengan sumber daya lain untuk melakukan kegiatan yang produktif. Islam mengakui nilai waktu dari uang, tetapi hanya jika ia bertindak sebagai modal, bukan ketika itu adalah "potensial” modal.8

4. Larangan perilaku spekulatif (Prohibition of speculative behavior)

Larangan perilaku spekulatif. Sebuah sistem keuangan Islam melarang penimbunan dan melarang transaksi menampilkan ketidakpastian yang ekstrim, perjudian, dan risiko.9

5. Kesucian kontrak (Sanctity of contract)

Islam menjunjung tinggi kewajiban kontrak dan pengungkapan informasi sebagai tugas suci. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko informasi asimetris dan moral yang berbahaya.10

6. Kegiatan syariah disetujui (Shariah approved activities)

Hanya kegiatan usaha yang tidak melanggar aturan

(16)

tradisional keuangan pembelian. Investor menyanggupi untuk memasok barang atau komoditas tertentu, menggabungkan kontrak yang disepakati bersama untuk dijual kembali ke klien dan margin saling dinegosiasikan. Sekitar 75 persen dari transaksi keuangan Islam penjualan biaya-plus.

2. Leasing (ijarah). Instrumen lain yang populer, terhitung sekitar 10 persen dari transaksi keuangan Islam, adalah leasing. Leasing dirancang untuk kendaraan pembiayaan, mesin, peralatan, dan pesawat. Berbagai bentuk sewa diperbolehkan, termasuk sewa di mana sebagian dari pembayaran angsuran berjalan ke arah pembelian akhir (dengan transfer kepemilikan aset).

3. Bagi hasil kesepakatan (mudharabah). Ini identik dengan dana investasi di mana manajer menangani kolam dana. Agen-manager memiliki kewajiban yang relatif terbatas sementara memiliki insentif yang cukup untuk melakukan. modal yang diinvestasikan dalam kegiatan didefinisikan secara luas, dan hal keuntungan dan pembagian risiko disesuaikan untuk setiap investasi. Struktur jatuh tempo berkisar antara jangka pendek dan menengah dan lebih cocok untuk kegiatan perdagangan.

4. Penyertaan modal (musyarakah). Hal ini analog dengan perusahaan patungan klasik. Kedua pengusaha dan investor berkontribusi ke ibukota (aset, keahlian teknis dan manajerial, modal kerja, dll) dari operasi di berbagai tingkat dan setuju untuk berbagi keuntungan (serta risiko) dalam proporsi yang telah disepakati di muka. Secara tradisional, bentuk transaksi telah digunakan untuk membiayai aktiva tetap dan modal kerja dari durasi jangka menengah dan panjang.

(17)

untuk melakukan penjualan kredit. Dalam penjualan ditangguhkan pembayaran, mengantar dari produk diambil di tempat tetapi pengiriman pembayaran tertunda untuk jangka waktu yang disepakati. Pembayaran dapat dilakukan secara sekaligus atau angsuran, asalkan tidak ada biaya tambahan untuk keterlambatan. Sebuah penjualan ditangguhkan pengiriman mirip dengan kontrak forward di mana pengiriman produk di masa mendatang dalam pertukaran untuk pembayaran di pasar spot.

2.6. Jenis Akad/Kontrak dalam Transaksi Lembaga Keuangan Syariah

Fikih muamalat Islam membedakan antara wa’ad (janji) dengan akad (kontrak). Wa’ad adalah janji (promise) antara satu pihak kepada pihak lainnya, sementara akad adalah kontrak antara dua belah pihak. Wa’ad hanya mengikat satu pihak, yakni pihak yang memberi janji berkewajiban untuk melaksanakan kewajibannya. Sedangkan pihak yang diberi janji tidak memikul kewajiban apa-apa terhadap pihak lainnya. Dalam wa’ad, terms and condition-nya belum ditetapkan secara rinci dan spesifik (belum well defined). Bila pihak yang berjanji tidak dapat memenuhi janjinya, maka sanksi yang diterimanya lebih merupakan sanksi moral.12

Di lain pihak, akad mengikat kedua belah pihak yang saling bersepakat, yakni masing-masing pihak terikat untuk melaksanakan kewajiban mereka masing-masing yang telah disepakati terlebih dahulu. Dalam akad, terms and condition-nya sudah ditetapkan secara rinci dan spesifik (sudah well-defined). Bila salah satu atau kedua pihak yang terikat dalam kontrak itu tidak

12BMT Mandiri Ukhuwah Persada, “Jenis Akad/Kontrak di dalam Transaksi Lembaga Keuangan Syariah” (

(18)

dapat memenuhi kewajibannya, maka ia/mereka menerima sanksi seperti yang sudah disepakati dalam akad.Selanjutnya, dari segi ada atau tidak adanya kompensasi, fikih muamalat membagi lagi akad menjadi dua bagian, yakni akadtabarru’ dan akad tijarah/mu’awadah.

1. Akad tabarru’ (gratuitous contract), adalah segala macam perjanjian yang menyangkut not-for profit transaction (transaksi nirlaba). Transaksi ini pada hakekatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil. Akad tabarru’ dilakukan dengan tujuan tolong-menolong dalam rangka berbuat kebaikan (tabarru’ berasal dari kata birr dalam bahasa Arab, yang artinya kebaikan). Dalam akad tabarru’, pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya. Imbalan dari akad tabarru’ adalah dari Allah SWT, bukan dari manusia. Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter-part-nya untuk sekadar menutupi biaya (cover the cost) yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan akad tabarru’ tersebut. Tapi ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari akad tabarru’ itu. Contoh akad-akad tabarru’ adalah qard, rahn,

hiwalah, wakalah, kafalah, wadi’ah, hibah,waqf,

shadaqah,hadiah, dll.

2. Akad tijarah/mu’awadah (compensational contract),

(19)

digunakan dalam fikih muamalah dalam bidang ekonomi dan sosial.

2.7. Sistem Keuangan Islam

Peran utama sistem keuangan adalah mendorong alokasi efisien sumber daya keuangan dan sumber daya riil untuk berbagai tujuan dan sasaran yang beraneka ragam. Sistem keuangan yang berfungsi dengan baik akan menciptakan investasi dengan mengidentifikasi dan mendanai peluang bisnis yang baik, memobilisasi simpanan, memonitor kinerja para manajer, memicu perdagangan, menghindari dan mendiversifikasi resiko,dan memfasilitasi barang dan jasa. Fungsi ini pada akhirnya mengarah kepada alokasi efisien sumber daya, akumulasi modal fisik dan manusia yang cepat, dan perkembangan teknologi yang lebih cepat, yang pada gilirannya, mendorong pertumbuhan ekonomi.13

Dalam sebuah sistem finansial, pasar finansial dan bank melaksanakan fungsi vital formasi modal, monitoring, pengumpulan informasi, dan memfasilitasi pembagian resiko. Sistem finansial yang efisien diharapkan dapat melaksanakan beberapa fungsi.

(20)

1. Pertama, sistem tersebut harus memfasilitasi intermediasi finansial yang efisien untuk mengurangi biaya informasi dan alokasi.

2. Kedua, sistem tersebut harus didasarkan pada sistem pembayaran yang stabil.

3. Ketiga, seiring dengan meningkatkan globalisasi dan tuntutan integrasi finansial, sistem finansial harus menciptakan pasar uang dan modal yang efisien sertalikuid.

Dan pada akhirnya, sistem tersebut harus memiliki pasar yang berkembang dengan baik untuk memperdagangkan risiko,dimana agen ekonomi dapat membeli dan menjual perlindungan terhadap risiko peristiwa (event risk) serta risiko finansial.

2.8. Komponen Sistem Finansial Islam

Sistem keuangan dan moneter terdiri dari beberapa subsistem seperti sistem perbankan, pasar keuangan, pasar modal, dan sistem legal. Bagian ini akan membahas peran perbankan dan pasar finansial ketika beroperasi di bawah sistem legal syariah.

1. Sistem Perbankan

(21)

intermediator, mereka mengubah hubungan antara unit finansial yang surplus dan yang defisit.

Sebagai pentransformasi asset, barbagai institusi ini menjadi evaluator risiko dan berfungsi sebagai filter untuk mengevaluasi sinyal dalam lingkungan finansial. Salah satu perbedaan utama antara dua sistem tersebut (Islam dan Konvensional) adalah karena ada larangan mengambil bunga dan fakta bahwa mereka bergantung pada pembagian keuntungan, maka bank Islam harus menawarkan portofolio asset mereka sebagai jaminan utama dalam bentuk paket reksa dana tipe “terbuka” beresiko kepada investor/depositor mereka. Berlawanan dengan sistem Islam, bank konvensional menjaga hak atas portofolio yang mereka kumpulkan. Berbagai asset ini didanai oleh bank dengan menerbitkan kontrak deposit, praktik yang menghasilkan risiko likuiditas dan utang, karena portofolio asset dan pinjaman mereka mengandung pelunasan beresiko dan atau biaya likuiditas berkaitan dengan jatuh tempo, sedangkan pada saat yang sama kontrak deposit mereka adalah kewajiban yang sering kali dapat dicairkan. Sebaliknya bank Islam bertindak sebagai agen para investor/depositor dan karena itu menciptakan intermediasi terobosan antara penabung dan pengusaha.14

Lebih jauh lagi dalam sistem Islam terdapat interdependensi yang lebih besar dan hubungan yang lebih dekat antara hasil investasi dengan hasil simpanan, karena bank Islam pada dasarnya dapat menerima deposit investasi berdasarkan pembagian keuntungan dan dapat menyediakan dana kepada para pengusaha dengan dasar yang sama. Berkaitan dengan fakta bahwa pengembalian liabilitas

(22)

memiliki korelasi langsung dengan pengembalian portofolio asset, dan juga karena asset diciptakan sebagai respons terhadap peluang investasi pada sektor riil, pengembalian atas pendanaan dihilangkan dari sisi biaya dan dialihkan kepada sisi keuntungan, dan hal tersebut memungkinkan tingkat pengembalian atas pendanaan ditentukan oleh produktivitas sektor riil. Karena itu, dalam sistem keuangan dan moneter Islam, sektor riil itulah yang akan menentukan tingkat pengembalian ke sektor finansial, bukan sebaliknya.

Juga menarik untuk dicatat, bahwa struktur hipotesis bank Islam atau intermediator finansial Islam mengombinasikan aktivitas bank komersial dan bank investasi. Sama dengan bank komersial konvensional, intermediator finansial tersebut dapat mengumpulkan dana sebagai deposit dan menginvestasikannya dalam pendanaan investasi dengan tingkat risiko rendah dan bermutu tinggi, atau pada sekuritas berbasis asset riil. Sebagaimana bank investasi lainnya, intermediator tersebut juga dapat menawarkan layanan

underwriting, manajemen asset melalui pengkhususan dana mudarabah dan layanan konsultasi lain seperti riset pasar finansial, mempertahankan banchmark, manajemen portofolio, dan manajemen risiko.

2. Pasar Primer, Sekunder dan Pasar Uang

(23)

saham ini, merujuk kepada peraturan syariah, sangat mirip dengan yang berlangsung di pasar untuk komoditas dan jasa. Sebagai contoh, dalam pasar semacam itu, peraturan ditujukan untuk menghilangkan semua faktor yang menghalangi keadilan dalam pertukaran dan untuk menghasilkan harga yang dianggap adil dan layak. Harga dianggap layak dan pantas bukan berdasarkan sembarang kriteria keadilan, akan tetapi merupakan hasil tawar-menawar antara agen ekonomi yang setara, mempunyai informasi memadai, bebas dan bertanggungjawab. Untuk meyakinkan keadilan dalam pertukaran, syariah telah menyediakan jaring etika dan peraturan modal perilaku bagi semua partisipan di pasar menurut norma dan peraturan ini diinternalisasikan dan dipaturhi oleh semua. Karena fungsi underwriting dilakukan oleh beberapa institusi dalam sistem tersebut, misalnya bank, maka perusahaan tersebut dapat secara langsung mengumpulkan dana bagi proyek investasi melalui pasar saham, yang akan memberikan sumber pendanaan kedua setelah bank.

Dalam sistem berbasis bunga konvensional, pasar uang menjadi sarana bagi institusi finansial untuk dapat menyesuaikan neraca mereka dan mendanai posisi di pasar ini. Posisi tunai jangka pendek, yang timbul akibat dari ketidaksempurnaan sinkronisasi dalam periode pembayaran, merupakan unsur esensial bagi keberadaan pasar uang. Dalam kasus ini, pasar uang menjadi sumber pendanaan temporer dan tempat kelebihan likuiditas di mana transaksi yang terjadi pada umumnya adalah penyesuaian portofolio dan tidak dibutuhkan perencanaan tabungan.15

(24)

Dalam sistem Islam, liabilitas yang dihasilkan oleh unit ekonomi terkait erat dengan karakteristik investasinya. Di sisi lain, liabilitas yang dihasilkan oleh intermediator keuangan diharapkan memiliki distribusi kemungkinan nilai yang sama dengan asset yang mereka dapatkan. Karena itu, dengan asumsi bahwa instrumen utang tidak boleh ada, aktivitas pasar uang akan memiliki karakteristik yang berbeda dari sistem konvensional. Sebagaimana yang dikemukakan di atas, eksistensi pasar uang yang tidak terorganisir dengan baik, dengan struktur intermediator finansial yang buruk akan mengarah kepada situasi di mana uang akan menjadi simpanan kekayaan.

Dalam sistem ini, pasar uang akan mengupayakan unit-unit finansial untuk liquid secara aman, asalkan mereka memiliki asset yang sesuai untuk pasar ini. Dalam sistem ini, sumber uang utama di pasar adalah likuiditas yang berlebih. Salah satu aktivitas utama pasar uang dalam sistem ini adalah mengatur dana surplus dari institusi finansial untuk disalurkan ke proyek lain. Kadang-kadang dana berlebih mungkin tersedia di beberapa bank, tetapi tidak ada asset. Di sisi lain, terdapat bank dengan sumber daya keuangan yang tidak cukup untuk mendanai semua peluang yang tersedia. Dalam kasus seperti ini, dimungkinkan pengembangan pasar dana antar bank. Beberapa bank mungkin mendanai ulai beberapa posisi yang telah mereka ambil dengan menyetujui pembagian keuntungan prospektif mereka dalam posisi ini dengan bank lain dalam pasar dana antar bank.

(25)

likuiditas dalam sistem perbankan bisa jadi membutuhkan penjamin likuiditas (lender of the last resort). Pasar uang seperti itu harus cukup fleksibel untuk mengatasi periode kelangkaan uang tunai bank, berdasarkan pada beberapa bentuk perjanjian pembagian keuntungan. Tantangan bagi pasar uang serta bagi pasar sekunder, dalam sistem keuangan dan moneter Islam adalah bagaimana mengembangkan instrumen yang bisa memenuhi kebutuhan likuiditas, keamanan, dan profitabilitas pasar, dan pada saat yang sama, tetap sesuai dengan peraturan syariah.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

(26)

disediakan oleh Islam. Dalam keadaan ini, ketidaksadaran dan kebingungan ada untuk bentuk sistem keuangan Islam dan instrumen.

Pandangan Ibnu Taimiyah tentang kebijakan publik yang juga meliputi pembahasan tentang pengaturan uang, peraturan tentang timbangan dan ukuran, pengawasan harga serta pertimbangan pengenaan pajak yang tinggi dalam keadaan darurat menjadi salah satu pedoman dalam menerapkan sistem keuangan islam yang tujuannya tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup semata, namun juga menciptakan keadilan social bagi masyarakat.

Keadilan sosial-ekonomi merupakan pusat cara hidup Islam. Setiap agama memiliki tujuan dasar yang sama. Dalam lingkungan Islam, seorang individu tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi ruang lingkup kegiatan dan tanggung jawab melampaui dirinya untuk kesejahteraan dan kepentingan masyarakat luas. Al Qur'an adalah sangat tepat dan jelas tentang masalah ini.

Perbedaan utama antara sistem ekonomi saat ini dengan sistem ekonomi Islam adalah bahwa kemudian didasarkan pada tetap melihat tujuan sosial tertentu untuk kepentingan manusia dan masyarakat. Islam, melalui berbagai prinsip-prinsip, menuntun kehidupan manusia dan menjamin kegiatan ekonomi, transaksi keuangan, perdagangan serta berusaha dan berproduksi secara bebas selama perilaku tersebut masih sesuai syariah Islam.

DAFTAR PUSTAKA

(27)

Iqbal, Zamir & Abbas Mirakhor. 2008. Pengantar Keuangan Islam, Teori & Praktik. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Choudhury, M. A. 1986. Contributions to Islamic Economics Theory : A Study in Social Economics. St. Martin’s Press, New York.

An-Nabhani, Taqyuddin. 1996. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif : Perspektif Islam. Risalah Gusti, Surabaya.

Warde, Ibrahim. 2000. Islamic Finance : in the Global Economy.

Edinburg University Press, Edinburg.

Iqbal, Zamir. 1997. Islamic Financial System : Finance &

Development.43.

Darwis, Rizal. 2013. “Konsep dan Dasar Keuangan dalam Islam”

Tahkim. 9 (2), 65-82.

Foster, Nicholas H.D. 2007. “Islamic Finance Law as an Emergent Legal System” Arab Law Quarterly. 21 (2) 168-188.

Referensi

Dokumen terkait

Tiga hal yang menjadi permasalahan adalah (1) bagaimana mekanisme komodifikasi uang dalam transaksi jual beli commercial paper di pasar uang, (2) tinjauan Peraturan Bank

Perancangan ini mencoba menjawab kebutuhan akan sekolah yang layak bagi anak penyandang autisme di Medan yang memenuhi tiga tantangan desain, yaitu bagaimana merancang

Pada tahun 2000 Bank Indonesia telah memperkenalkan dua instrumen pasar uang bagi perbankan syariah, yaitu Sertifikat Investasi Mudharabah antar bank syariah atau Sertifikat IMA,

Oleh karena itu, proses transformasi harus diarahkan pada (1) penanggalan nilai-nilai lama yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan, tantangan dan konteks zaman, (2) Modifikasi

Pada tahun 2000 Bank Indonesia telah memperkenalkan dua instrumen pasar uang bagi perbankan syariah, yaitu Sertifikat Investasi Mudharabah antar bank syariah atau Sertifikat

Perumusan Masalah Penghargaan dalam bentuk uang merupakan motivasi utama bagi kebanyakan pegawai.Hal ini disebabkan dapat membantu memenuhi kebutuhan- kebutuhan fisik tingkat rendah

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan agribisnis syariah dan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana agribisnis dapat menjadi instrumen

Hasil analisis ini akan memberikan pemahaman yang komprehensif untuk mengembangkan strategi y Business Model Canvas yang efektif dalam memperluas pangsa pasar dan memenuhi kebutuhan