• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH UTAMA PROSES TERJADINYA MASALAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MASALAH UTAMA PROSES TERJADINYA MASALAH"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN PERILAKU KEKERASAN

I. MASALAH UTAMA

Resiko Perilaku Kekerasan

II. PROSES TERJADINYA MASALAH

A. Definisi

Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psiklogis. Berdasarkan definisi tersebut maka perilaku kekerasan dapat dilakukakn secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu sedang berlangsung kekerasan atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku kekerasan). Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan yang dirasakan sebagai ancaman (Kartika Sari, 2015). B. Tanda dan Gejala

Fitria (2010) mengungkapkan fakta tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:

1. Fisik: mata melotot/pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku.

2. Verbal: mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada keras, kasar dan ketus.

3. Perilaku: menyerang orang lain, melukai diri/sendiri/orang lain, merusak lingkungan, amuk/agresif.

4. Emosi: tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.

5. Intelektual: mendominasi cerewet, kasar, berdebat, meremehkan dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme.

6. Spiritual: merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral dan kreativitas terhambat.

(2)

C. Faktor Predisposisi

Menurut Yosep (2010), faktor predisposisi klien dengan perilaku kekerasan adalah:

1. Teori Biologis a. Neurologic

Faktor beragam komponen dari sistem syaraf seperti sinap, neurotransmitter, dendrit, akson terminalis mempunyai peran memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan yang mempengaruhi sifat agresif. Sistem limbik sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif (Mukripah Damaiyanti, 2012). Lobus frontalis memegang peranan penting sebagai penengah antara perilaku yang berarti dan pemikiran rasional, yang merupakan bagian otak dimana terdapat interaksi antara rasional dan emosi. Kerusakan pada lobus frontal dapat menyebabkan tindakan agresif yang berlebihan (Nuraenah, 2012).

b. Genetic

Faktor Adanya faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi potensi perilaku agresif. Menurut riset kazu murakami (2007) dalam gen manusia terdapat dorman (potensi) agresif yang sedang tidur akan bangun jika terstimulasi oleh faktor eksternal. Menurut penelitian genetik tipe karyotype XYY, pada umumnya dimiliki oleh penghuni pelaku tindak kriminal serta orang-orang yang tersangkut hukum akibat perilaku agresif (Mukripah Damaiyanti, 2012).

c. Cycardian Rhytm

Irama sikardian memegang peranan individu. Menurut penelitian pada jam sibuk seperti menjellang masuk kerja dan menjelang berakhirnya kerja ataupun pada jam tertentu akan menstimulasi orang untuk lebih mudah bersikap agresif (Mukripah Damaiyanti, 2012).

d. Faktor Biokimia

(3)

dihantarkan melalui impuls neurotransmitter ke otak dan meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan hormon androgen dan norepineprin serta penurunan serotonin dan GABA (Gamma Aminobutyric Acid) pada cerebrospinal vertebra dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya perilaku agresif ( Mukripah Damaiyanti, 2012).

e. Brain Area Disorder

Gangguan pada sistem limbik dan lobus temporal, siindrom otak, tumor otak, trauma otak, penyakit ensepalitis, epilepsi ditemukan sangat berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan (Mukripah Damaiyanti, 2012).

2. Teori Psikogis

a. Teori Psikoanalisa

Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh kembang seseorang. Teori ini menjelaskan bahwa adanya ketidakpuasan fase oral antara usia 0-2 tahun dimana anak tidak mendapat kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan air susu yang cukup cenderung mengembangkan sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai komponen adanya ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang yang rendah. Perilaku agresif dan tindakan kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri perilaku tindak kekerasan (Mukripah Damaiyanti, 2012)

b. Imitation, modelling and information processing theory

(4)

c. Learning Theory

Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respon ayah saat menerima kekecewaan dan mengamati bagaimana respon ibu saat marah ( Mukripah Damaiyanti, 2012).

D. Faktor Presipitasi

Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan (Yosep, 2009):

a. Ekspresi diri

ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya. b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi. c. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak memb

iasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

d. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirin ya sebagai seorangyang dewasa.

e. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholi dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi. f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan

tahap.

E. Rentang Masalah

Keterangan:

Asertif: Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain. Frustasi: Kegagalan mencapai tujuan karena tidak direalisasi/terhambat.

(5)

Agresif: Perilaku destruktif tapi masih terkontrol. Amuk: Perilaku destruktif dan tidak terkontrol.

F. Pohon Masalah

Akibat: Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/membahayakan diri, orang lain dan lingkungan

(6)

Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme orang lain sehingga dapat membantu klien untuk mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif dalam mengekspresikan marahnya. Mekanisme koping yang sering digunkana adalah mekanisme pertahanan ego seperti:

a. Sublimasi

Suatu sasaran pengganti yang mulia. Artinya dimata masyarakat unutk suatu dorongan yang megalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada objek lain seperti meremas remas adona kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa amarah (Mukhripah Damaiyanti, 2012).

b. Proyeksi

Menyalahkan orang lain kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik, misalnya seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terdadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya(Mukhripah Damaiyanti, 2012).

c. Represi

Mencegah pikiran yang menyakitkan atau bahayakan masuk kedalam sadar. Misalnya seorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh tuhan. Sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakanya (Mukhripah Damaiyanti, 2012).

d. Reaksi formasi

Mencegah keinginan yang berbahaya bila di ekspresika.dengan melebih lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakan sebagai rintangan misalnya sesorangan yang tertarik pada teman suaminya,akan memperlakukan orang tersebut dengan kuat (Mukhripah Damaiyanti, 2012). e. Deplacement

(7)

Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya (Mukhripah Damaiyanti, 2012).

III. STRATEGI PELAKSANAAN

1. SP-1 Pasien: Perilaku Kekerasan Pertemuan Ke-1: Membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab marah, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat, dan cara mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik pertama ( latihan nafas dalam) (Akemat,2010)

A. Orientasi

“Selamat pagi Pak, perkenalkan nama saya Sinta, saya perawat yang dinas di ruang Anggrek ini. Nama Bapak siapa? Senangnya dipanggil apa?”

“Bagaimana perasaan Bapak saat ini? Masih ada perasaan kesal atau marah?” “Baiklah, bagaimana kalau kita berbincang-bincang mengenai perasaan bapak?”

Berapa lama bapak mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit?” “Dimana bapak mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau diruang tamu?” B. Kerja

“Apa yang menyebabkan Bapak marah?”

“Apakah sebelumnya Bapak pernah marah? Terus penyebabnya apa pak?” “Samakah dengan yang sekarang? ohh, jadi ada 2 penyabab marah Bapak” “Pada saat penyebab marah itu ada, seperti Bapak pulang ke rumah dan istri belum menyediakan makanan (misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang Bapak rasakan?” (tunggu respo pasien)

“Apakah Bapak merasakan kesal kemudian dada Bapak berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup rapat dan tangan mengepal?”

“Setelah itu apa yang Bapak lakukan? Ohh, jadi Bapak memukul istri Bapak dan memecahkan piring”

“Apakah dengan cara ini makanan terhidang pak? iya, tentu tidak”

“Apa kerugian cara yang Bapak lakukan? Betul, istri jadi sakit dan takut, piring-piring pecah”

“Menurut Bapak adakah cara lain yang lebih baik?”

(8)

“Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan Pak. Salah satunya adalah dengan cara kegiatan fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa marah” “Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu?”

“Begini Pak, kalau tanda-tanda marah tadi sudah Bapak rasakan maka Bapak berdiri lalu tarik napas dari hidung tahan sebentar lalu keluarkan/tiup perlahan-lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan”

“Ayo coba lagi pak, tarik dari hidung, bagus, tahan dan tiup melaui mulut” “Nah, lakukan 5 kali pak. Bagus sekali, Bapak sudah dapat melakukannya” “Bagaimana persaan bapak setelah melakukan kegiatan tarik napas dalam ini pak?” “Nah, sebaiknya latihan ini Bapak sudah terbiasa melakukannya” C. Terminasi

“Bagaimana perasaan Bapak setelah berbincang-bincang tentang kemarahan Bapak?”

“Iya jadi 2 penyebab Bapak marah (sebutkan sesuai respon pasien pada fase kerja) dan yang Bapak rasakan (sebutkan sesuai respon pasien pada fase kerja) dan yang Bapak lakukan (sebutkan sesuai respon pasien pada fase kerja) serta akibatnya (sebutkan sesuai respon pasien pada fase kerja)”

“Sekarang, mari kita masukkan pada jadwal harian. Apa yang Ibu R lakukan jika suara-suara itu muncul? Bagus. Beri tanda M (mandiri) kalau dilakukan tanpa disuruh, B (bantuan) kalau diingatkan baru dilakukan dan T (tidak) tidak melakukan”

“Bagaimana kalau besok kita belajar lagi mengenai cara mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara yang kedua?”

“Bapak mau berapa lama kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit pak”

“Oke baik pak, kalau begitu saya permisi dahulu ya, selamat siang”

2. SP 2 Pasien: Perilaku Kekerasan Pertemuan ke-2: Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik ke dua (evaluasi latihan nafas dalam, latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara kedua seperti pukul kasur dan bantal) dan menyusun jadwal kegiatan harian cara kedua. (Akemat,2010)

A. Orientasi

(9)

“Bagaimana perasaan Bapak saat ini? Adakah hal yang menyebabkan Bapak marah?”

“Apakah latihan napas dalamnya sudah dilakukan?”

“Coba saya lihat jadwal kegiatannya pak. Bagus sekali, Bapak telah lakukan dengan baik”

“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara yang kedua”

“Bapak mau berapa lama kita berbincang-bincang nya? Bagaimana kalau 20 menit?”

“Dimana bapak maunya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di ruang tamu?”

B. Kerja

“Kalau ada yang menyebabkan Bapak marah dan muncul perasaan kesal, dada berdebar-debar, mata melotot selain napas dalam, Bapak dapat melakukan pukul kasur dan bantal”

“Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Kamar Bapak berada dimana?”

“Jadi kalau nanti Bapak kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan bapak dengan memukul kasur dan bantal”

“Nah, coba Bapak lakukan pukul kasur dan bantal. Ya,bagus sekali Bapak bisa melakukannya”

“Lampiaskan kekesalan bapak pada kasur atau bantal”

“Nah cara ini juga dapat dilakukan secara rutin jika perasaan marah muncul. Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya juga ya pak”

C. Terminasi

“Bagaimana perasaan Bapak setelah melakukan latihan cara menyalurkan marah tadi?”

“Ada berapa cara yang sudah kita latih? Coba Bapak sebutkan lagi pak? Bagus sekali, bapak masih mengingatnya”

“Mari kita masukkan ke dalam jadwal kegiatan Bapak sehari-hari. Bapak mau pukul berapa Pukul kasur bantal? Bagaimana kalau setiap bangun tidur? Baik,jadi pukul 5 pagi dan pukul 3 sore”

“Lalu kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya,Pak. Sekarang kita masukkan di jadwal kegiatan Bapak”

(10)

“Bagaimana kalau besok kita latihan cara mengontrol marah yang ketiga yaitu mengontrol marah secara sosial atau verbal?”

“Bapak maunya berapa lama kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit saja pak?”

“Bapak ingin kita berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau di ruang tamu saja?”

3. SP 3 Pasien: Perilaku Kekerasan Pertemuan ke-3: Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara sosial atau ferbal (evaluasi jadwal harian tentang dua cara mengendalikan perilaku kekerasan, latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal, susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal) (Akemat,2010).

A. Orientasi

“Selamat pagi Pak, sesuai dengan janji saya kemarin sekarang kita ketemu lagi”

“Masih ingat dengan saya pak? Iya benar pak, saya suster sinta”

““Bagaimana Pak, sudah dilakukan latihan tarik napas dalam dan pukul kasur bantal? Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara melakukan latihan secara teratur?”

“Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya. Bagus sekali pak.

“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?” “Dimana kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau di ruang tamu saja?” “Berapa lama Bapak mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit?”

“Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya.” “Bagus.Nah kalau tarik napas dalamnya dilakukan sendiri tulis M,artinya mandiri;kalau setelah diingatkan suster atau ibu guru dilakukan maka tulis B,artinya dibantu dan diingatkan .Nah kalau tidak dilakukan tulis T,Artinya belum dapat melakukan.” “Bagaimana kalaunsekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?” “Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat yang sama?” “Berapa lama Bapak mau berbincang-bincang?Bagaimana kalau 20 menit?”

(11)

“Sekarang kita latihan cara bicara yang baik umtuk mencegah marah, Kalau marah sudah disalurkan melaui tarik napas dalam atau pukul kasur dan bantal dan sudah lega, maka kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah”

“Ada tiga caranya Pak, yaitu: Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar”

“Kemarin Bapak bilang penyebab marahnya karena minta uang sama istri tidak diberi. Coba Bapak mita uang dengan baik. Contohnya seperti ini: Bu, saya perlu uang untuk beli rokok. Nanti dapat dicoba disini untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain”

“Coba Bapak praktikkan. Bagus Pak. Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan Bapak tidak ingin melakukannya katakan: Maaf saya tidak dapat melakukannya karena sedang ada kerjaan”

“Coba Bapak praktikkan. Bagus Pak. Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal, Bapak dapat mengatakan: Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu.Coba praktikkan pak. Bagus pak” C. Terminasi

“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah dengan bicara yang baik?”

“Coba Bapak sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari pak” “Bagus sekali, sekarang mari kita masukkan ke dalam jadwal. Berapa kali sehari Bapak mau latihan bicara yang baik? Bagaimana kalau kita masukkan kedalam jadwal kegiatan bapak?”

“Beri tanda M (mandiri) kalau dilakukan tanpa disuruh, B (bantuan) kalau diingatkan baru dilakukan dan T (tidak) tidak melakukan ya pak”

“Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi pak?”

“Nanti kita akan membicarakan cara keempat untuk mengatasi rasa marah Bapak yaitu dengan cara ibadah, Bapak setuju? Mau dimana pak kita berbincang-bincangnya? Bagaimana kalau diruang tamu saja? Baik sampai nanti ya pak”

(12)

mengendalikan perilaku kekerasan secara fisik dan sosial atau verbal, latihan beribadah dan berdoa, buat jadwal latihan ibadah dan doa) (Akemat,2010)

A. Orientasi

“Selamat pagi Pak, Masih ingat dengan saya?”

“Sesuai dengan janji saya yang kemarin, sekarang saya datang lagi” “Baik, yang mana yang mau dicoba pak?”

“Bagaimana Pak, latihan apa yang sudah dilakukan”

“Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya?”

“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan ibadah?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang pak? Bagaimana kalau di ruang?” “Berapa lama Bapak mau kita berbincanag-bincang: bagaimana kalau 15 menit pak?”

B. Kerja

“Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa Bapak lakukan pak? Bagus pak” “Baik, yang mana yang mau dicoba pak?”

“Nah, kalau Bapak sedang marah coba Bapak langsung duduk dan tarik napas dalam. jika tidak reda juga marahnya, rebahkan badan agar rileks”

”Jika tidak reda juga bapak ambil air wudhu kemudian sholat”

“Bapak dapat melakukan sholat secara teratur untuk meredakan kemarahan” “Coba Bapak sebutkan sholat 5 waktu”

“ Bagus. Coba sebutkan caranya (untuk yang muslim)” C. Terminasi

“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara keempat ini pak?”

“Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”

“Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan Bapak. Mau berapa kali Bapak sholat? Baik kita masukkan ke jadwal ya pak”

“Beri tanda M (mandiri) kalau dilakukan tanpa disuruh, B (bantuan) kalau diingatkan baru dilakukan dan T (tidak) tidak melakukan ya pak”

(13)

IV. DAFTAR PUSTAKA

Stuart, W. Gail. (2016). Keperawatan Kesehatan Jiwa. Singapore: Elsevier

Yusuf, Ah, Rizky Fitryasari PK dan Hanik Endang Nihayati. (2015). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika

Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN(Basic Course). Jakarta: EGC

Nugroho, Yanuar Adhi,.2018. Bab 2 diakses dari http://repository.ump.ac.id/3988/3/Yanuar%20Adhi%20Nugroho%20BAB%20II.pdf pada 10 Juni 2018

Fitria, Lailatul, dkk.2017. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Jiwa dengan

Masalah Resiko Perilaku Kekerasan diakses dari

https://samoke2012.files.wordpress.com/2017/03/lpsp-pk-b.pdf pada 10 Juni 2018

Purnomo, Dedy Sidiq,.2016. Kumpulan 7 Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Jiwa di RSJ Menur Surabaya diakses dari

https://www.academia.edu/33283837/7_LP_JIWA_MENUR_SBY.docx pada 10 Juni 2018

Referensi

Dokumen terkait