1
LAPORAN PENELITIAN
BENCANA DAN KERELAWANAN PEREMPUAN :
Studi Kasus Penanganan Bencana di Kabupaten Bantul, DIY
Oleh :
Dat i Fat im ah
Ret no Agust in
(Perhimpunan Aksara – Jogjakarta)
Pemenang Philantrophy Research Award III
Pirac – Ford Foundation
2
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN...i
BAB I. PENDAHULUAN...1.
1.1. Latar
Belakang
...2
1.2. Permasalahan
Penelitian ...6
1.3. Tujuan Penelitian ...7
1.4. Kerangka
Teori...8
1.5. Metode Pengumpulan Data...21
1.6. Sistematika
Penulisan
Laporan ...23
BAB II. SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA...24
2.1. Bantul sebagai Komunitas Geografis...25
2.2. Sistem Sosial Bantul...26
2.3. Sistem Pemerintahan ...27
BAB III. UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM
BENCANA...30
3.1.
Membaca Gender dalam Bencana Gempa di
Bantul...30
3.2. Sistem Sosial Bantul dalam Guncangan Gempa...32
3.3. Perempuan Tanggap di tahap Darurat...36
3.4. Fase Rehabilitasi – Rekonstruksi : kembali ke Asal?...41
3.5. Gender dalam Kerelawanan Perempuan...50
BAB IV. MODAL SOSIAL PEREMPUAN DALAM BENCANA...57
4.1. Ruang Produksi Perempuan Relawan...57
4.2. Faktor-faktor Yang Mendorong Kerelawanan
Perempuan...61
3
BAB V. CATATAN DAN KESIMPULAN...76
4
PAHLAWAN DALAM KESENYAPAN :
CATATAN PENGANTAR
Adalah perasaan yang campur aduk ketika harus menuliskan kehidupan para perempuan pasca gempa, sebagaimana juga pengalaman menceritakan satu kejadian yang mengubah kehidupan manusia. Bencana, dalam keadaan ketidaksiapan dan minimnya perhatian terhadapnya, memang harus dibayar sangat mahal. Kehilangan nyawa anggota keluarga, saudara, teman dan kerabat, hingga kerusakan dan kehilangan harta benda dan juga infrastruktur komunal. Tetapi, walau pada awalnya diliputi dengan nuansa kesedihan yang mendalam, wajah‐wajah penuh semangat untuk kembali bangkit adalah pertanda bahwa kehidupan tidak berhenti karena bencana. Semangat, harapan dan solidaritas inilah yang terpancar kuat dari wajah‐wajah para penyintas (survivors), yang selamat dalam kejadian Gempa 27 Mei 2006 yang menghantam Jogja dan Jawa Tengah.
Ketika akhirnya kami menjadi salah satu pemenang Philantrophy Research Award III Pirac‐Ford Foundation tahun 2007, kami bagaikan menuliskan sepenggal hidup dari perjalanan keterlibatan kami didalamnya. Walaupun mungkin kami tidak menjadi bagian utama dari cerita yang dituliskan di sini, pada bagian‐bagian tertentu, cerita ini adalah juga bagian dari cerita hidup kami. Dan sebagaimana diungkap di muka, rasa yang campur aduk inilah yang kemudian akan bisa Anda dapatkan dari 5 bab laporan riset yang kami tuliskan. Pada bagian tertentu, sarat dengan nuansa kesedihan dan rasa yang menyentuh, sementara pada bagian lain, kamipun harus larut dalam menuliskan semangat para pahlawan yang berjuang untuk bangkit kembali.
Siapakah para pahlawan tersebut, yang juga akan Anda baca dalam laporan ini? Mereka ini, adalah para perempuan yang karena situasi, merasa terpanggil untuk melakukan serangkaian upaya mengkonsolidasi gerakan dan sumber daya, dan berbagi dengan sesama. Upaya mereka ini sangatlah berarti walaupun seringkali luput dari perhatian dan peliputan. Mereka inilah, para pahlawan dalam kesenyapan, yang menjadi nafas dan inspirasi utama buku yang kami tulis.
5
untuk teman‐teman Aksara dimana kami bermain dan bekerja, dan juga buat Lien dan Rayya, terima kasih sekali untuk pertemanan, dan juga dukungan yang membahagiakan.
Salam dan selamat membaca...
Jogjakarta, Juni 2008
6
SI NOPSI S
Dapur umum, yang segera berdiri dalam hitungan waktu yang pendek setelah terjadi krisis dan bencana adalah potret yang nyata dalam kehidupan sekitar kita, seiring meningkatnya kejadian bencana dan krisis. Begitu juga dengan kondisi pasca gempa yang melanda Jogja dan Jateng, 27 Mei 2006. Segera setelah gempa terjadi, perempuan dengan sigap dan spontan, mendirikan dapur umum secara darurat. Waktu itu, bersama dengan kelompok masyarakat yang lain seperti kaum lelaki yang melakukan peran evakuasi korban, peran perempuan ini sangatlah penting dalam penyelamatan kehidupan dalam situasi krisis.
Sayangnya, walaupun perannya sangat signifikan, namun ini tidak secara otomatis diikuti dengan penghargaan yang memadai. Adalah menarik untuk mengkaji bahwa sebagian responden penelitian ini menganggap tidak ada yang istimewa dengan kerelawanan perempuan seperti nampak dalam kasus dapur umum ini. Hal ini disebabkan peran memasak dianggap sudah seharusnya dilakukan oleh perempuan. Begitu juga peran‐peran kerelawanan perempuan yang lain seperti perawatan orang sakit, pengelolaan fasilitas kesehatan masyarakat bersama bernama posyandu, dan banyak aktivitas lain yang dilakukan perempuan secara sukarela.
Buku yang Anda baca ini adalah laporan penelitian tentang bagaimana kerelawanan perempuan dalam situasi bencana tumbuh, terkelola dan direspon oleh pihak yang terkait. Sebagai sebuah studi kasus yang mengambil setting di kabupaten Bantul, buku ini ingin menjawab pertanyaan kunci tentang apa sajakah model‐model kerelawanan perempuan yang muncul, dan bagaimana ini terhubung dengan kerelawanan dan pihak yang lebih luas.
7 sedikit, ketika bumi bergoyang dengan sangat kencang. Gempa saat itu, sangatlah mengejutkan bagi masyarakat yang sebelumnya menganggap daerah tempat tinggalnya adalah kawasan aman dari bahaya gempa bumi. Gempa yang terjadi di tengah perhatian publik yang justru berpusat pada ancaman bencana letusan gunung Merapi yang berada di sebelah utara Jogjakarta ini, membawa banyak kerusakan dan juga kerugian. Data yang dikumpulkan Bappenas menunjuk angka korban jiwa sebanyak 5.760 orang meninggal dunia, 388.758 rumah rusak termasuk sebanyak 187.474 rumah yang roboh (Rencana Aksi Nasional, Buku I).
Indonesia(Yogya-Jateng) Gempa Bumi 27 Mei 2006 5,760 3,134 3,134
Sumber: Asia Disaster Preparednes Centre, Thailand: ECLAC, EM-DAT, World Bank, Juni 2006
8
Tabel di atas menunjukkan, meskipun jumlah korban jiwa sangat jauh dibawah jumlah korban jiwa tsunami misalnya, tetapi jumlah kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan tidak terlampau jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tingkat kepadatan penduduk di Jogjakarta dan Jawa Tengah yang mengakibatkan tingginya angka kerusakan pada bangunan baik rumah, maupun infrastruktur publik dan dunia usaha.
Dalam data yang lebih rinci, menunjukkan DIY mengalami kerusakan sebagai berikut:
Tabel 3.2.
Data Rumah Rusak di DIY karena Gempa1
No Kabupaten/Kota Jumlah Rumah Rusak
1 Sleman 21.056
2 Kulonprogo 3.401
3 Jogjakarta 6.538
4 Gunungkidul 9.235
5 Bantul 119.879
Selain mengakibatkan ratusan ribu rumah rusak dan roboh, gempa juga mengakibatkan rusaknya sarana dan prasarana umum. Rusaknya puluhan pasar, ratusan sekolah, tempat ibadah, bangunan perkantoran dan sarana usaha membuat skala kerugian memang sangat tinggi. Untuk bangunan pendidikan, jumlah bangunan sekolah di DIY dan Jateng mencapai 2.630 unit dengan perkiraan jumlah kerusakan dan kerugian mencapai Rp 1.74 Triliun. Sementara pada sektor kesehatan, jumlah kerusakan diperkirakan mencapai Rp 1.5 Triliun, dan
1
9
kerugian mencakup Rp 21 Miliar di kedua propinsi. Gempa ini mengakibatkan kehancuran 17 rumah sakit swasta dan rusaknya 41 klinik swasta di kota Jogjakarta. Untuk Puskesmas, dari total 117 Puskesmas di propinsi DIY, 45 hancur, 22 rusak parah dan 16 rusak ringan. Sementara di Jawa Tengah, 2 puskesmas di Klaten hancur, 7 rusak berat dan 7 lainnya mengalami rusak ringan. Dampak gempa bumi pada sektor produktif juga sangat besar, apalagi karena kontribusi terbesarnya adalah dari kehancuran usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di daerah terkena bencana. Juga ditambah dengan kerusakan struktur irigasi, dan juga kerusakan pada sistem pertanian. Perkiraan jumlah kerusakan dan kerugian dalam sektor ini mencapai Rp 9.025 Triliun.2
Selain menghancurkan dan meluluhlantakkan sarana dan prasarana yang ada, gempa bumi ini juga mengakibatkan dampak psikologis bagi masyarakat. Secara umum, masyarakat Jogjakarta dikatakan berada dalam situasi beban sosial ekonomi yang berat.3 Besarnya dampak
gempa ini juga berpengaruh bagi kesehatan mental bagi banyak anggota masyarakat. Kondisi ini nampak dari penuturan Bu Ponirah, salah satu penyintas dari Gedongan, Kasihan berikut ini :
....”Kalau mengingat saat itu, rasanya ngeri, ngeri sekali... Juga stress. Bagaimana tidak stress, wong rumahnya hancur semua. Berteduhnya di bawah pohon, dan kehujanan selama 3 hari dan barang‐barang hancur semua....”
Gempa sebagai sebuah pengalaman sejarah yang membawa luka bersama bagi masyarakat, menjadi magnet bagi sejumlah donor, organisasi nasional‐lokal maupun penyintas untuk bergerak bersama. Gempa mengundang bantuan datang bertubi, tentu saja dengan ragam cara dan motif.
2
Buku Utama Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi di Propinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah, Bappenas, Bab III, Juli, 2006
3
10
Penanganan gempa bumi Jogja‐Jateng memberi pembelajaran betapa berharganya kerelawanan dan solidaritas warga. Hari pertama dan kedua pasca bencana, masyarakat dari luar daerah bencana telah mulai bergerak, mengirimkan bantuan logistik maupun relawan untuk membantu warga korban bencana. Dibantu para relawan, tanpa dikomando warga masyarakat (perempuan‐laki‐laki, tua‐muda, kaya‐miskin) gumbregah, bangkit, bergerak, bekerja bahu membahu, bergotong royong membersihkan puing‐puing dan menata kembali dusunnya masing‐masing. Di sana‐sini, posko‐posko bantuan pun didirikan dan diorganisir secara sigap oleh berbagai paguyuban masyarakat sipil.4
Para perempuan tak kalah sigap, dengan responsifnya mereka bergerak mendirikan dapur umum. Mereka membagi tugas dengan cepat untuk mengumpulkan bahan pangan yang masih bisa diselamatkan di setiap rumah kemudian mengaturnya sebagai lumbung pangan selama beberapa hari. Bencana kelaparan yang mengikuti kejadian bencana direduksi karena kecekatan perempuan untuk bertindak mengamankan hajat dasar masyarakatnya.5 Aktivitas
massa itu digerakkan oleh spirit altruisme dan kerelawanan (voluntarism) yang sangat tinggi di antara warga sendiri. Tiga bulan fase tanggap bencana, kerja‐kerja karitatif sungguh mewarnai interaksi antara penyintas dengan penyintas1, penyintas dengan relawan luar komunitas
maupun penyintas dengan jejaring masyarakat sipil lainnya. Memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi, sejumlah organisasi perempuan perempuan mempraktikkan pendekatan yang lain. Bantuan karitatif sebagai bagian dari filantropi sangat baik untuk kerja‐kerja tanggap bencana. Namun untuk kerja jangka panjang justru tidak mendidik masyarakat, bahkan ditakutkan akan membawa ketergantungan masyarakat pada pemberi bantuan. Karenanya pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi, kerja karitatif berusaha untuk diintegrasikan dengan kerja pemberdayaan komunitas warga korban.
4
Widyanta, AB. Modal Sosial: Partisipasi Warga Yang Selalu Dinisbikan Dalam Governance
Kebencanaan (Belajar Dari Penanganan Gempa Bumi Yogya Dan Jateng), dalam Jurnal RENAI Governance Bencana tahun ke 7 no 1. 2007.
5
Agustin, Retno. Gender yang Direkonstruksi dalam Bencana Alam(i)? Pengabaian vis a vis
11
Model‐model partisipasi yang sangat spontan, mandiri dan digerakkan oleh spirit altruitik dan norma informal merupakan ciri modal sosial yang berbasiskan warga. Sebagaimana ditandaskan oleh Fukuyama, modal sosial yang mewujud dalam jaringan warga merupakan jalan pintas yang mengatasi masalah koordinasi dalam organisasi yang sangat terdesentralisasi6. Dalam penanganan gempa bumi jogja‐jateng, modal sosial berbasis warga
inilah yang menjadi jaring pengaman bagi korban dan survivor untuk melampaui krisis paska bencana.7
Akan tetapi, dalam temuan kami, dalam setiap tahapan bencana kerja perempuan baik pada sector domestic maupun publik sering tidak diperhitungkan. Padahal, bila melihat situasi pada detik‐detik awal tanggap bencana, perempuan lah yang dengan sangat cekatan dan sigap segera melakukan langkah‐langkah penting penanganan bencana. Dapur umum –meskipun merupakan kerja domestic‐ namun merupakan refleksi sikap assertif dan sukarela yang dilakukan oleh perempuan ketika menghadapi bencana. Kesedihan dan kepiluan karena bencana memang dirasakan, tetapi hidup harus terus berjalan : orang perlu makan, perlu menyambung hidup dan tenaga, dan karenanya, dapur umum adalah jawabannya. Di sini, perempuan memegang peran kunci. Penelitian kami menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam proses rehabilitasi‐rekonstruksi merupakan hal yang tak lazim dalam masyarakat yang kental nuansa patriarkisnya. Pandangan mata aneh maupun cibiran merupakan reaksi yang kerap diterima para perempuan. Tantangan balik dari laki‐laki acap menghadang perempuan yang secara sukarela (volunterisme) hendak terlibat dalam proses rekonstruksi. Namun dalam catatan lapangan juga terdapat pengalaman keberhasilan perempuan dalam meyakinkan masyarakat bahwa mereka adalah latent leader yang berkemampuan untuk mengawal proses pemulihan bencana dengan lebih berkeadilan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengangkat sebuah potret realitas yang penting namun sering terabaikan dalam penanganan kebencanaan, yaitu perempuan penyintas. Realitas
6
Fukuyama, Francis. Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru; Jakarta: Gramedia, 2005, hlm. 243
7
12
yang ingin dikuak dalam penelitian ini adalah perempuan tak semata sebagai korban quote en quote yang tak berdaya, namun juga entitas yang aktif dan berdaya dalam penanganan bencana. Pengalaman penanganan bencana di kabupaten Bantul menunjukkan potret kesadaran perempuan yang cukup tinggi dalam berpartisipasi dalam penanganan kebencanaan, meskipun partisipasi mereka juga kerap ditelikung maupun dinisbikan. Dengan kata lain, kontribusi perempuan dalam penanganan kebencanaan hendak dipotret untuk menjadi sebuah pembelajaran bagi penanganan kebencanaan di tempat‐tempat lain.
II. PERMASALAHAN PENELITIAN :
Bentuk‐bentuk kerelawanan perempuan dan ruang Penelitian ini ingin mengungkap pertanyaan mendasar mengenai bagaimana bentuk‐bentuk kerelawanan dan siasat perempuan merebut ruang partisipasi dalam penanganan kebencanaan? Untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan penelitian, peneliti merumuskan sejumlah pertanyaan‐pertanyaan kunci, antara lain :
1. Sistem sosial kebencanaan seperti apakah yang melahirkan tokoh‐tokoh perempuan dalam penanganan bencana?
2. Bagaimana pengaruh dari sistem sosial ini terhadap bentuk‐bentuk partisipasi perempuan baik di ruang domestik atau publik? Apa sajakah hambatan yang dihadapi dan strategi yang diambil perempuan untuk merebut ruang partisipasi?
3. Bagaimana proses dan perkembangan hubungan antara bentuk kerelawanan perempuan yang ada dengan kelompok‐kelompok lain (LSM, organisasi lokal, pemerintah) pasca bencana? Bagaimana kelompok‐kelompok lain tersebut memainkan peran linking social capital sehingga kerelawanan perempuan lokal dapat terhubung dengan ruang public yang lebih luas.
13
Penelitian ini ditujukan untuk:
1. Menemukan bentuk‐bentuk kerelawanan perempuan dan siasat partisipasi perempuan dalam penanganan bencana
2. Menunjukkan model filantropi perempuan dalam penanganan kebencanaan.
3. Memetakan pola hubungan antara perempuan dengan pihak‐pihak lain dalam mobilisasi modal sosial untuk penanganan bencana.
4. merumuskan rekomendasi bagi proses penanganan bencana yang berperspektif gender.
IV. KERANGKA TEORI :
a. Bencana
...”Pada dasarnya, tidak ada yang disebut sebagai bencana alam; yang ada adalah bahaya‐ bahaya alam, seperti misalnya siklon dan gempa bumi. Perbedaan antara sebuah bahaya dan sebuah bencana merupakan suatu hal yang penting. Sebuah bencana terjadi jika sebuah komunitas terkena dampak sebuah bahaya (biasanya diartikan sebagai sebuah peristiwa yang melampaui kapasitas komunitas tersebut untuk menghadapinya). Dengan kata lain, dampak sebuah bencana ditentukan oleh sejauh mana kerentanan sebuah komunitas terhadap bahaya. Kerentanan seperti ini tidak bersifat alami. Ia merupakan dimensi manusiawi dalam bencana, hasil dari keseluruhan faktor‐faktor ekonomi, sosial, budaya, institusi, politik dan bahkan psikologi yang membentuk hidup manusia dan menciptakan lingkungan di mana mereka tinggal...8”
Bencana bukan hanya menghancurkan tatanan fisik, namun juga tatanan sosial, ekonomi dalam masyarakat. Bencana menjadi triger yang memicu peningkatan kerentanan yang sudah terdapat dalam masyarakat sebelum bencana terjadi. Kerentanan tersebut bukan hanya reprentasi dari rendahnya kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan sosial dan alam, namun juga representasi salah urus oleh negara atas masyarakatnya. 9
8
Twigg, J (2001), sebagaimana dikutip dalam Living with Risk, UNISDR, 2004, chapter 1,
9
Fatimah, Dati. Yang Sering terabaikan: Gender dan Anggaran dalam Bencana dalam Widyanta, AB
14
Dalam situasi bencana tercipta kondisi chaotic dan kepanikan. Masyarakat harus beradaptasi dengan ritme alam dan sosial yang berubah. Fokus pada penyelamatan diri dan keluarga mengakibatkan masyarakat sulit terorganisir. Di sisi lain, negara juga harus beradaptasi dengan ritme birokrasi darurat bencana. Proses untuk beradaptasi dengan kondisi bencana ini yang mengakibatkan kegagapan bagi masyarakat maupun negara. Meski bagaimanapun juga, negaralah yang harus bertanggung jawab atas masyarakatnya.
Hoffman (1999;2002), menegaskan pandangan mengenai bencana ditinjau dari sudut pandang ekonomi politik. Menurut hoffman: (1) bencana dapat dihindari dan kejadian alam tidak harus berubah menjadi bencana kalau dampaknya bisa diatasi dengan baik; (2) manusia tidak dilihat sebagai korban yang tidak tertolong tetapi sebagai aktor yang mampu dengan tingkatannya masing‐masing memecahkan dan menghadapi kejadian alam atau bahkan menghindarinya. Disini sumber yang dimiliki penduduk berperan penting dalam pemulihan; (3) isu keadilan menjadi penting. Kelompok kaya jarang menderita separah yang dialami oleh kelompok miskin dalam setiap bencana, walaupun bencana tetaplah merupakan penderitaan umum dengan tingkat keparahannya masing‐masing.10
Salah satu aspek penting dalam kajian tentang bencana adalah kajian tentang kerentanan. Perspektif kerentanan memandang bahwa situasi yang ditimbulkan dari bencana tidak hanya berasal dari bencana itu sendiri, seperti gempa, badai dan angina topan, tetapi sebagai kombinasi dari 3 faktor, yaitu: 11
10
Hoffman, 1999;2002, dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Anthropologi Universitas Gadjah Mada “Dialektika Nature, Kultur Dan Struktur : Analisis Konteks, Proses dan Ranah Dalam Konstruksi Bencana”, Halaman 13.
11
Lihat analisis yang melihat kontribusi ketiga actor ini dalam Tierney, K (2007), “Recent Sociological
Contributions to Vulnerability Science”, Department of Sociology and Institute of Behavioral Science,
Natural Hazards Center, University of Colorado. Dalam paper yang sama, Tierney mengutip beberapa riset yang mengkaji banyak aspek dan contoh dari kerentanan dalam berbagai kondisi, misalnya
15
1. Bencana itu sendiri, seperti topan, badai, gempa dan tsunami.
2. Kondisi fisik dan karakter dari lingkungan yang terbentuk. Sebagai contoh, banyak struktur bangunan dan infrastruktur yang tidak tanggap terhadap dampak fisik dari bencana.
3. Kerentanan populasi, merupakan konstruk yang kompleks yang mencakup beberapa faktor seperti ketersediaan sumber daya (seperti pendapatan dan kesejahteraan), ras, etnis, gender, umur, pengetahuan tentang cara‐cara penyelamatan dalam bencana, dan factor yang terkait dengan modal social dan budaya. Sebagai gambaran, keterlibatan dalam aktivitas dan ruang sosial akan membantu menyediakan informasi dan bantuan yang bermanfaat. Pengetahuan juga memampukan anggota komunitas untuk bisa berinteraksi secara baik dengan institusi sosial yang ada. Di sisi yang lain, kerentanan populasi juga bisa meningkat karena langkah‐langkah yang diambil oleh pemerintah dan institusi lain yang gagal dalam melindungi populasi. Dari perspektif kerentanan misalnya, bencana badai Katrina menjadi semakin parah karena kegagalan dari system proteksi sosial dan system manajemen darurat yang tidak memadai dalam melindungi dan menjaga survivor.
b. Gender dan Bencana
Deklarasi Beijing dan Rencana Aksinya dengan jelas mengakui bahwa degradasi lingkungan dan bencana mempengaruhi seluruh kehidupan manusia dan seringkali membawa dampak langsung yang lebih bagi perempuan. Sessi khusus ke‐23 dari General Assembly pada tahun 2000 juga mengidentifikasi bencana alam sebagai tantangan terkini yang bisa mempengaruhi implemnetasi menyeluruh dari rencana aksi Beijing ++ ini. Karenanya, dibutuhkan strategi untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam pengembangan dan implementasi pencegahan bencana, mitigasi dan strategi recovery.
16
Salah satunya variabel penting yang harus diperhitungkan adalah bahwa bencana yang sama bisa membawa dampak yang berbeda bagi kelompok gender yang berbeda. Sama‐sama terjadi bencana banjir atau gempa misalnya, dampak yang ditimbulkan bagi laki‐laki dan perempuan tidaklah identik, yang salah satunya disebabkan oleh perbedaan kerentanan terhadap bencana karena relasi gender yang ada. Laporan UN/IASC juga menuliskan bahwa struktur relasi gender adalah bagian dari konteks budaya dan sosial yang mempengaruhi kapasitas komunitas untuk mengantisipasi, menyiapkan diri, mempertahankan diri dan juga melakukan pemulihan karena bencana.
Elaine Enarson dalam papernya yang berjudul “Gender Equality, Work, and Disaster Reduction: Making the Connection”, menjelaskan bahwa risiko terhadap bencana terdistribusikan secara berbeda di dalam masyarakat. Menurutnya, sebagai sebuah konsep yang kompleks, kerentanan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah perbedaan akses dan kontrol terhadap sumber daya yang yang dibutuhkan baik untuk bertahan hidup maupun menjalani masa recovery setelah bencana. Namun, ia menggarisbawahi bahwa perempuan dan anak perempuan adalah merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang berada pada daftar kelompok dengan risiko tinggi terhadap bencana (Enarson, 2000). Menurut Blaikie (2003:300), perempuan orang tua dan anak‐anak, atau kelompok yang berstatus sosial rendah, minoritas kelompok dengan akses yang terbatas, kelompok yang tidak memiliki capital sosial, mengalami nasib yang paling buruk12
Masih dalam paper yang sama, Enarson memaparkan bagaimana perempuan bekerja secara tidak dibayar dan seringkali secara sosial tidak diperhitungkan. Kesukarelawanan
12 Blaikie, 2003:300, ibid. dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Anthropologi
17
perempuan dalam penanganan bencana sangat multiwajah, sebagaimana tergambar dalam pengalaman penanganan bencana di Nicaragua berikut ini:13
After the storm subsided, international aid began entering the area near her village. She saw that the village leader, a man who lost his farm, was more concerned about his own than other village members. . .So she traveled to the mayor’s office, where she had never been before. She visited the Peace Corps volunteer in town, whom she did not know. Through her dedication, persistence, and patience, she had seven houses built and legally put in the wife/mother’s name. She insisted that latrines be built for all families. She rallied 10,000 trees to be planted on the deforested hills that surrounded her village. She learned about water diversion tactics, and found an engineer to teach her village to build gavion‐walled channels.
Masih dalam tulisan yang sama, Enarson menceritakan bahwa perempuan lebih bermotivasi dibandingkan laki‐laki dalam melakukan tindakan pencegahan bencana. Perempuan bukan hanya merawat kesehatan anggota keluarganya, namun juga secara lebih luas memperhatikan kesehatan masyarakat secara lebih luas. Dicontohkan Enarson, perempuan turut membersihkan sampah yang dibawa banjir di wilayah tetangga mereka. Kerja penanganan bencana juga mengikutsertakan perempuan dalam pencarian bantuan kemanusiaan. Berbeda dengan imaji yang dihadirkan media mengenai perempuan sebagai korban yang penakut dan aktor yang pasif. Dalam kerja kemanusiaan, perempuan terlibat secara kuat untuk pencarian bantuan kemanusiaan serta distribusi barang dan pelayanan tanggap bencana. Meski juga harus diakui bentuk partisipasi dan kerelawanan perempuan menjadi lebih berat ketika harus berhadapan dengan norma pembagian kerja berbasis seks dan gender.14
Pandangan yang menempatkan perempuan sebagai entitas yang tak berdaya justru meminggirkan perempuan dalam kerja‐kerja penanganan bencana. Di sisi lain, pandangan ini
13
Lihat Enarson, Contribution by S. Henshaw of the World Food Program to the internet conference on Gender Equality, Environmental Management and Natural Disaster Mitigation sponsored by Division for the Advancement of Women, November 2001.
14 Enarson dalam Women’s Voluntary Work Expands : Gender Equality, Work, And Disaster Reduction:
18
membawa implikasi terhadap penisbian potensi dan peranan perempuan dalam penanganan kebencanaan.
Mengambil pendekatan Hoffman di atas, seharusnya perempuan juga dipandang dan diperlakukan sebaga aktor yang berdaya. Kerja sukarela yang dilakukan perempuan merupakan bukti keberdayaan perempuan. Kerja‐kerja kerelawanan mereka ini menjadi kian penting dalam proses rekonstruksi yang panjang. Ketika itu, kepentingan ekonomi laki‐laki dan perempuan sering bertabrakan. Belajar dari pengalaman kerelawanan perempuan di Bantul, kerelawanan perempuan merupakan bagian dari proses pemerdayaan perempuan untuk melakukan kerja‐kerja tak berupah pada masa sebelum bencana, namun kerelawanan perempuan itu selalu mempunyai makna positif bagi masayarakat baik pada masa sebelum bencana, terlebih pada masa sesudah bencana. Bagi perempuan relawan, kerelawanannya merupakan usahanya untuk meningkatkan kapasitas perempuan serta untuk meningkatkan solidaritas komunitas dalam rangka mendukung proses rekonstruksi yang lebih berkeadilan gender.15
c. Perkembangan Konsep Modal Sosial
Semenjak James Coleman mengenalkan konsep modal sosial hingga sekarang belum ada formulasi tunggal untuk menjelaskan pengertian konsep ini.16 Menurut Francis Fukuyama
salah satu kelemahan konsep modal sosial adalah belum ada kesepakatan dalam pengertian konsep atau teori ini.17 Titik temu yang hampir tidak berbeda antar berbagai pengertian terletak
15
Enarson, Ibid
16
Banyak yang mengatakan bahwa Coleman mengenalkan konsep ini melalui esai yang berupa suplemen, Social Capital in the Creation of Human Capital, dalam American Journal of Sociology, 94: Supplement, 1988. Tetapi tidak sedikit yang menyebutkan bahwa Robert Putnam dalam karya-karyanya yang terlebih dahulu mengenalkan konsep ini.
17
19
pada cara memandang modal sosial sebagai kemampuan dari suatu kelompok sosial untuk bekerja bersama dalam sesuatu yang berguna bagi kelompok tersebut.18
Konsep modal sosial berbeda dari konsep modal manusia dan modal fisik, namun terkadang terjadi tumpang‐tindih dalam pemahaman. Karena bentuk‐bentuk modal yang ada mempunyai hubungan yang saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Untuk membangun determinasi yang lebih tegas atas konsep modal sosial, Field, Schuller dan Baron
me‐review konsep modal sosial dengan menyebutkan modal sosial ‐secara luas‐ sebagai
jaringan‐jaringan sosial dan hubungan yang terjadi dalam jaringan‐jaringan sosial tersebut, terutama hubungan resiprositas dalam meraih tujuan bersama.19
Modal sosial merupakan konsep yang terdiri atas dua dimensi yang berbeda tetapi saling bertautan antara dimensi struktural dan kognitif. Dimensi struktural lebih menekankan pada pengorganisasian dan jaringan dari masyarakat, baik yang berbentuk formal maupun informal. Sedangkan dimensi kognitif lebih menekankan pada aspek nilai‐nilai, sikap‐sikap, kepercayaan yang terdapat dalam suatu masyarakat yang membimbing sikap hidup masyarakat tersebut. Secara singkat, dapat dikategorikan bahwa dimensi struktural adalah sesuatu yang dapat dilihat dengan konkret sedangkan yang kedua lebih abstrak.
Tipologi Modal Sosial secara sederhanal dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu bonding social capital, bridging social capital, linking social capital.
Pertama, apa yang disebut dengan Bonding Social Capital dapat kita sebut dengan perekat sosial, yaitu, nilai budaya, persepsi dan tradisi atau adat‐istiadat (custom). Pengertian
bonding social capital adalah tipe modal sosial dengan karakteristik ikatan yang kuat (adanya
18
Thomas F Carroll Social Capital, Local Capacity Building, and Poverty Reduction , Social Development Papers No. 3, Office of Environment and Social Development, Asian Development Bank, May, 2001, hal. 1
19
J. Field, T. Schuller, dan S. Baron, Social Capital: Critical Perspectives. Oxford: Oxford University Press, 2000, hal 1. seperti yang dikutip oleh David Piachaud, Capital and the Determinants of Poverty
and Social Exclusion, CASE paper 60, Centre for Analysis of Social Exclusion, London School of
20
perekat sosial) dalam suatu sistem kemasyarakatan. Misalnya, kebanyakan anggota keluarga mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga yang lain, yang mungkin masih berada dalam satu etnis. Hubungan kekerabatan ini bisa menyebabkan adanya rasa empati, kebersamaan. Bisa juga mewujudkan rasa simpati, rasa berkewajiban, rasa percaya, resiprositas, pengakuan timbal balik nilai kebudayaan yang mereka percaya. Rule of law, aturan main, merupakan aturan atau kesepakatan bersama dalam masyarakat, bentuk aturan ini bisa formal melalui sanksi yang jelas seperti aturan Undang‐Undang.
Kedua, Bridging Social Capital bisa berupa Institusi maupun Mekanisme. Bridging social capital (jembatan sosial) merupakan suatu ikatan sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompoknya. Tipologi ini bisa muncul karena adanya berbagai macam kelemahan yang ada disekitarnya sehingga mereka memutuskan untuk membangun suatu kekuatan dari kelemahan yang ada. Stephen Aldidgre menggambarkannya sebagai pelumas sosial, yaitu pelancar dari roda‐roda penghambat jalannya modal sosial dalam sebuah komunitas. Wilayah kerjanya lebih luas dari pada bonding social capital. Dia bisa bekerja lintas kelompok etnis, maupun kelompok kepentingan. Keanggotaannya lebih luas dan tidak hanya berbasis pada kelompok tertentu.
21 Ketiga, apa yang disebut dengan linking social capital, dalam tipe ini menunjukkan hubungan yang terjadi antara kelompok‐kelompok sosial yang berbeda. Dalam konteks penelitian ini, mungkin voluntary group tertentu menjalin kerjasama dengan pihak atau institusi yang lebih tinggi statusnya, baik secara kekuasaan formal, dan kedudukannya dalam suatu masyarakat, misalnya voluntary group bekerjasama dengan LSM maupun lembaga pemerintah untuk meningkatkan kapasitas dan daya tahan dari masyarakatnya.
V. METODE PENGUMPULAN DATA
Penelitian ini dikategorikan penelitian studi kasus. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Studi kasus mempunyai penekanan terhadap perhatian ataupun pertanyaan dalam suatu kasus tertentu yang tentunya dihubungkan dengan tujuan penelitian dari peneliti tersebut.
Langkah‐langkah penelitian yang akan diterapkan dalam studi kasus tentang Kerelawanan dan Perjuangan Perempuan Merebut Ruang Partisipasi (Studi kasus keterlibatan perempuan dalam penanganan bencana di kabupaten Bantul, DIY, tahun 2006‐2007)
1. Pendekatan, Pengumpulan Data dan Analisis
22 Permasalahan dan limitasi data kami alami akibat tiadanya kebijakan pemerintah mengenai peran perempuan dalam penanganan kebencanaan. Limitasi lain dapat berasal dari keengganan narasumber terutama birokrasi untuk diwawancarai karena kesibukan mereka. Namun hal ini kami siasati dengan cara cross‐check dan penggunaan sumber‐sumber data yang dipunyai oleh sejumlah lembaga lainnya.
2. Daerah Riset
Pelaksanaan penelitian akan dilakukan di Kabupaten Bantul dengan pertimbangan:
a. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang menderita kerusakan terbesar akibat gempa yang menimpa DIY dan jateng.
b. LSM Lokal dan Internasional yang bekerja dalam humanitarian aid terkonsentrasi di kabupaten Bantul dibandingkan daerah lain. Selain itu ditemukan juga sejumlah LSM perempuan yang melakukan kerja pengorganisasian komunitas pasca bencana.
c. Banyak ditemukan fenomena kerelawanan perempuan dan siasat‐siasat perempuan dalam menghadapi proses rekonstruksi yang tidak adil gender.
3. Populasi dan sampel
Target yang akan diteliti guna tercapainya pengumpulan data yang diharapkan adalah:
a. Penyintas perempuan
b. LSM Perempuan yang mempunyai program rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana c. LSM internasional dan Sejumlah lembaga donor yang beroperasi di Jogja
d. Pejabat dan staf Pemerintah Daerah di Kabupaten Bantul.
Penentuan besar sampel akan ditentukan atas dasar tercukupinya informasi dan data yang dibutuhkan.
23 Tulisan ini terdiri dari 5 bab. Bab 1 dan bab 5 merupakan bagian pendahuluan dan
kesimpulan. Bab 1, pendahuluan berisi mengenai latar belakang masalah, permasalahan kunci,
tujuan, kerangka teori, serta metode pengumpulan data. Bab 2 secara khusus ditujukan untuk
mengulas mengenai system sosial bantul sebelum bencana. Profil umum Bantul serta system
pemerintahannya ditujukan untuk memberi konteks pemahaman pada pembaca. Bab 2 ditutup
dengan pengerucutan pembahasan mengenai perempuan dalam system sosial bantul sebelum
bencana. Sub bab ini menjelaskan mengenai kerja dan aktivitas perempuan Bantul dalam ruang
dan pembagian kerja yang terdiferensiasi berdasar gender dan seksual.
Bab 3 difokuskan untuk membahas dimensi gender dalam bencana gempa di Bantul.
Bagaimana pengalaman perempuan ketika gempa serta bagaimana pengalaman perempuan
beradaptasi dalam system sosial yang tengah mengalami guncangan akibat gempa diulas lebih
lanjut dalam bab ini. Bab ini lebih jauh dikerucutkan untuk melihat siasat partisipasi
perempuan untuk menembus kebekuan system sosial. Bab ini ditutup dengan analisa mengenai
kerelawanan perempuan dalam bencana gempa. Bab 4 secara khusus akan membahas
mengenai ragam ruang dimana perempuan berproses sebagai relawan. Bagian selanjutnya akan
mengulas mengenai factor pendrong kerelawanan perempuan. Bagian kunci penelitian ini
berada pada sub bab terakhir yang mengulas mengenai modal sosial dalam bencana. Bab 5
merupakan penutup yang berisi kesimpulan‐kesimpulan dan refleksi dari penelitian ini.
24
SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA
Dalam banyak kajian tentang perempuan, perbincangan tentang sistem sosial atau sebagian lebih sering menyebutnya sebagai konstruk sosial, adalah awal dari serangkaian kajian tentang kondisi dan persoalan perempuan. Dalam sistem atau konstruksi sosial yang berbeda, kondisi dan derajat kehidupan perempuan juga menampakkan potret yang berbeda. Tentang ini, konsep sistem sosial membantu untuk melihat bagaimana interaksi antar banyak pihak, pandangan dan juga nilai membentuk sebuah masyarakat. Loomis mengatakan bahwa sistem sosial ini terbentuk dari interaksi yang terpola diantara unsur‐unsur pembentuknya. Hal ini mengakibatkan interaksi diantara individu yang beragam, dimana relasi diantara satu sama lain secara bersama‐sama diorientasikan kepada pola yang terstruktur serta simbol dan harapan yang disepakati.20
Komunitas sebagai bagian dari sistem sosial, tidak cukup diartikan sebagian kesatuan wilayah geografis saja namun juga diartikan sebagai kelompok dengan kesamaan kepentingan atau fungsi yang melintasi batasan gegografis. Mc Neil memberi definisi terhadap organisasi komunitas sebagai proses dimana orang dari komunitas tertentu, sebagai individu ataupun sebagai representasi kelompok, bergabung bersama untuk menentukan kebutuhan bagi kesejahteraan bersama, menyusun rencana untuk meraihnya, dan memobilisasi sumber daya yang diperlukan.21 Lebih jauh, Murphy menyimpulkan bahwa organisasi komunitas memiliki
dua pemaknaan, yaitu sebagai proses dan sebagai ruang. Sebagai proses, organisasi komunitas dibentuk oleh ketrampilan yang digunakan untuk mengkoordinasikan, mempromosikan, dan menginterpretasikan layanan sosial dalam beragam bentuk. Sementara itu, sebagai ruang, merupakan satu suprastruktur yang dibuat oleh pihak‐pihak yang memiliki tanggung‐jawab
20
Loomis, Charles (1992), “Social Systems : Essays on Their Persistance and Change”, The Van Nostrand Series in Sociology, New Jersey
21
25
untuk mengkoordinasi dan mempromosikan kerja dalam beragam organisasi yang menyediakan layanan bagi publik22.
I. PROFIL UMUM BANTUL
Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari 5 Kabupaten/Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Posisinya terbilang cukup strategis karena berbatasan langsung dengan semua Kabupaten/Kota lain di Provinsi DIY. Di bagia utara berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. Bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul. Bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Kulonprogo. Sedang bagian selatan berbatasan langsung dengan samudera Indonesia.23
Penduduk Kabupaten Bantul tersebar di 75 desa yang berada di 17 kecamatan. Kecamatan itu antara lain : Kecamatan Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong, Bambanglipuro, Pandak, Bantul, Jetis, Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, Banguntapan, Sewon, Kasihan, Pajangan dan Sedayu. Bantul, sebelum kejadian gempa di pertengahan tahun 2004 mempunyai penduduk 799.211 jiwa yang terdiri dari 391.296 laki‐laki dan 407.915 perempuan. Sedangkan pada tahun 2006 pertambahan penduduknya mencapai angka 820.555 jiwa. Sex ratio dari penduduk perempuan di banding laki‐laki adalah 96,53. Artinya, di antara 100 laki‐laki terdapat 96,53 perempuan.
Pendapatan per kapita sebelum bencana mengalami kenaikan yang signifikan dari tahun ke tahun, dengan beban tanggungan dibawah 50%. Meski pendapatan perkapita mengalami peningkatan namun jumlah penduduk miskin tidak mengalami penurunan. Pada tahun 2000 angka penduduk miskin sebesar 18% dari jumlah penduduk, sedangkan tahun 2001 mengalami kenaikan menjadi 26,02%. Sedangkan tahun 2002 agak turun menjadi 25,94%. 24
22
Murphy, op.c it. , p. 29
23
Bantul Dalam Angka 2004, BPS Bantul.
26
Tingkat pendidikan penduduk sampai akhir tahun 2002 belum mengalami peningkatan yang berarti. Masih banyak penduduk yang buta huruf dan tidak tamat sekolah dasar. Akibatnya penyerapan dan pemahaman terhadap informasi cukup rendah. Tingkat pedidikan perempuan di atas 10 tahun pada kelompok yang tidak/belum pernah sekolah mengalami ketimpangan yang signifikan dibandingkan laki‐laki yakni 22, 82% sedangkan laki‐laki hanya 9,25%. Sedangkan untuk kelompok pendidikan lainnya seperti tamat SD, SMP, SMA, akademi/PT, angka perempuan lebih rendah dibandingkan laki‐laki. Padahal kalai dilihat dari struktur penduduk terlihat bahwa perempuan lebih banyak daripada laki‐laki. Hal ini menunjukkan masih belum optimalnya pemberdayaan perempuan, terutama di bidang pendidikan.
Untuk mengimbangi jumlah penduduk dalam pelayanan kesehatan, Kabupaten Bantul disangga oleh 6 rumah sakit, 1 diantaranya Rumah Sakit Umum Pemerintah, 5 lainnya merupakan Rumah Sakit Swasta. Fasilitas kesehatan lain terdiri dari Puskesmas dan Klinik kesehatan. Puskesmas berjumlah 26 buah, sedang sub puskesmas‐nya berjumlah 67 buah. Klinik bersalin swasta hanya berjumlah 1, dengan klinik KB/Balai pengobatan berjumlah 21. Untuk mengoperasionalkan pelayanan kesehatan, Kabupaten Bantul baru mempunyai 55 dokter dan 34 dokter gigi.
II. SISTEM PEMERINTAHAN
27
Baru misalnya, mengalami perubahan setelah keluarnya UU No. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Tak hanya itu, karena perubahan ini seringkali juga diikuti dengan penggabungan beberapa kampung atau desa menjadi satu kesatuan wilayah administratif, bahkan terkadang tanpa melihat kesesuaian nilai dan pengikat yang sebelumnya sudah ada. Dengan keluarnya regulasi ini, semua bentuk kepemerintahan lokal yang ada haruslah berbentuk desa, sehingga nagari di Sumatera Barat, atau kampung di Kalimantan Barat dan Lembang di Tana Toraja misalnya, diubah bentuknya menjadi desa.25 Contohnya, di Kabupaten
Bantul paska keluarnya UU tentang Pemerintahan Desa dilakukan penghilangan konsep Rukun Warga (RW) yang sebelumnya terdiri dari sejumlah Rukun Tetangga (RT). Beberapa RT kemudian dilebur dalam kesatuan Kring/Sub Dusun dengan batasan area dan kesatuan anggota yang berbeda. Proses adaptasi sebagai kesatuan sosial yang baru itu memunculkan sejumlah konflik manifes maupun laten diantara warga masyarakat dusun. Mengacu kepada konsepsi McNeil di atas, intervensi negara yang menghasilkan ketegangan di dalam desa menjadi tak terelakkan.
Sebagaimana Kabupaten/Kota yang lain, bantul memiliki sistem pemerintahan yang dipimpin oleh seorang bupati. Drs. Idham Samawi berhasil menduduki puncak pemerintahan Bantul untuk masa dua periode. Dalam pandangan banyak pihak, beliau dipandang mempunyai kedekatan emosional dan politis dengan keraton Jogjakarta. Dalam pemilihan kepala daerah tahun 2005, kemenangan Idham Samawi untuk kedua kalinya ditengarai karena kuatnya dukungan politik dari Sri Sultan HB X yang selain sebagai Gubernur DIY juga berposisi sebagai raja. Sehingga meskipun Idham Samawi harus berhadapan dengan salah satu keluarga kerajaan dalam persaingan menuju Bantul satu, Idham Samawi tetap berhasil mempertahankan tahta sebagai Incumbent.
Sebagai sosok pemimpin, Idham dikenal sebagai pemimpin yang mengembangkan gaya kultural. Dia tidak segan untuk pergi mengunjungi warganya yang meminta kehadirannya
25
Lebih lanjut baca R. Yando Zakaria (2004), “Merebut Negara : Beberapa Catatan Reflektif tentang
Upaya-Upaya Pengakuan, Pengembalian dan Pemulihan Otonomi Desa”, KARSA-Lappera Pustaka
28
dalam acara‐acara warga, terlebih apabila di dusun tersebut di dampingi oleh LSM. Implikasinya, dia dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat meski juga secara tak langsung menuntut kepatuhan dan kontrol ketat atas rakyatnya. Sebagaimana dikuatkan oleh Unang Shio Peking, Ketua Forum LSM DIY.
”Dari sisi akomodasi terhadap aspirasi masyarakat banyak tebang pilih, tidak semua bisa diakomodasi kepentingannya dengan baik. Kalau mau ketemu dengan bupati kalau bukan tokoh LSM ya yang antri lama. Selain itu asal pertemuannya gegap gempita, disambut warga dengan luar biasa ya dia pasti datang.”
Pemerintahan Bantul terkenal dengan kebijakan populis sekaligus penuh nuansa popularitas. Kebijakan itu antara lain program beasiswa paska sarjana bagi guru dan program babonisasi. Program babonisasi ini meskipun dinyatakan sebagai catatan keberhasilan pemerintah Bantul, namun juga menunjukkan minimnya kontrol masyarakat atas pelaksanaan program. Program babonisasi dilaksanakan di seluruh SD di kabupaten Bantul, sejak pertama kali direalisasikan sambutan dari masyarakat sangat antusias. Partisipasi dari warga masyarakat yang begitu besar, dengan adanya 17 Kecamatan di kabupaten Bantul, 13 diantaranya setuju dengan adanya program babonisasi. Akan tetapi wujud dari program babonisasi masih bersifat semu, masyarakat tidak dilibatkan secara penuh terhadap proses implementasi program ini. Masyarakat tidak mempunyai kontrol terhadap program, salah satu contohnya masyarakat tidak bisa menghentikan atau mengundurkan pelaksanaan program yang saat itu bersamaan dengan wabah penyakit flu burung26.
Kebijakan mengenai perempuan merupakan kebijakan yang selalu kontroversial. Yakni, kebijakan anggaran PKK yang mencapai 4 Milyar pada masa menjelang pemilihan kepala daerah secara langsung. Dari sisi anggaran sekilas tampak sebagai kebijakan yang berpihak pada perempuan, namun dari sisi implementasinya banyak pihak yang meragukan. Menurut
26
Dwi Setiawan, Rio (2005), “Implementasi Program Peningkatan gizi anak (Babonisasi) di Kecamatan
29
penuturan Wasingatu Zakiyah, pengurus IDEA, tidak ada daerah selain Bantul yang memiliki anggaran PKK hingga 4 Milyar. Karena meskipun kepala pemeritahannya akan berganti, namun ketua PKK masih tetap ibu Bupati Idham Samawi. Sehingga kebijakan ini menjadi rentan nuansa politisnya sebagai sarana mobilisasi dukungan pemilih perempuan melalui PKK.
Selain itu perempuan masih mengalami pengandangan melalui perda inkonstitusional, yakni perda pelarangan pelacuran. Sekilas tampaknya perda tersebut mempunyai maksud baik, namun secara substansial bermaksud untuk mendisiplinkan tubuh perempuan sekaligus partisipasi perempuan di ruang publik. Meski perda ini baru disahkan secara mendadak pada tahun 2007, namun sudah sejak lama adagium Bantul yang beragama dan religios selalu digunakan sebagai klaim yang melegitimasi pemerintah untuk menundukkan masyarakat.
III. PEREMPUAN DALAM SISTEM SOSIAL BANTUL
Posisi perempuan dalam sistem sosial Bantul berada dalam ruang dan pembagian kerja yang terdiferensiasi secara seksual/gender. Ruang perempuan di Bantul terkategorisasi dalam 3 kategori kerja perempuan yang terdiri dari:27 Pertama, kerja produktif yang menjelaskan
aktivitas untuk memproduksi barang dan jasa untuk konsumsi dan perdagangan. Petani, pengrajin, buruh pabrik ataupun pedagang, baik menjadi pekerja atau menjadi wirausaha, adalah contoh dari aktivitas produktif. Biasanya, bila orang ditanya apa pekerjaannya, jawaban atas pertanyaan tersebut lah yang menjelaskan kerja produktif. Walaupun saat ini laki‐laki dan perempuan sama‐sama terlibat dalam kerja produktif, fungsi dan tanggung‐jawab akan berbeda mengacu kepada pembagian kerja berbasis gender. Dalam banyak kasus, kerja produktif perempuan sering dianggap bernilai lebih rendah dan sekaligus sering tidak tampak.
Kedua, adalah kerja reproduktif yang terkait dengan perawatan dan menjaga rumah tangga dan seluruh anggotanya. Menjaga anak, membersihkan rumah, menyediakan air bersih hingga
27
30
menjaga kesehatan keluarga adalah deretan aktivitas reproduktif yang sebetulnya sangatlah krusial dalam menjaga keberlangsungan kehidupan, walaupun seringkali tidak dianggap sebagai ’kerja’ dalam pengertian ekonomi. Padahal, sebetulnya kerja ini sangat bernilai dan sekaligus memakan waktu yang tidak sedikit, dan kebanyakan menjadi tanggung‐jawab perempuan. Ketiga, adalah kerja komunitas. Kerja ini melibatkan organisasi kolektif dalam kegiatan sosial maupun juga pelayanan dan politik. Upacara, musyawarah, aktivitas pengembangan msyarakat, keikutsertaan dalam kelompok, dan aktivitas politik lokal adalah bagian dari kerja ini. Biasanya, kerja ini merupakan aktivitas yang bersifat sukarela, dan sangat berperan penting dalam menjaga pengembangan budaya dan spiritual komunitas dan juga menjadi mesin penting dalam organisasi dan pertahanan komunitas. Laki‐laki dan perempuan biasanya sama‐sama terlibat, walaupun pembagian kerja dan peran berbasis gender sangat nampak di sini. Bagian berikut menunjukkan bagaimana pembagian kerja berbasis gender dalam konteks Jawa:
d.1. Aktivitas Domestik
Seperti di banyak masyarakat, peran domestik menjadi tanggung‐jawab perempuan. Satu studi berikut, yang dilakukan di empat komunitas, baik di desa dan di kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur menunjukkan pola pembagian peran di dalam rumah tangga.
Tabel
Persen Perempuan yang Mengaku Bertanggung‐jawab terhadap Kerja Domestik 28
Tugas Jumlah (Persen)
Memasak 78.4
Membersihkan rumah 49.9
28
31
Membersihkan halaman 47.1
Merawat anak 53.4
Mencuci pakaian 56.8
Mereparasi rumah 1.4
Mengelola keuangan rumah tangga 71.3
Nampak bahwa selain tugas perbaikan rumah, hampir semua tanggung‐jawab kerja di level rumah adalah di pundak perempuan, baik dilakukan sendiri ataupun dengan mempekerjakan PRT. Walau begitu, untuk konteks perempuan pedesaan di Bantul, walaupun ada satu dua keluarga yang mempekerjakan PRT, secara umum hampir semua kerja di atas dilakukan sendiri oleh perempuan.
Dan panjangnya deret pekerjaan reproduktif yang dikerjakan dan menjadi tanggung‐ jawab perempuan ini juga terjadi di banyak tempat dan juga negara. Dan ini berkorelasi dengan banyaknya waktu yang dihabiskan oleh perempuan untuk mengerjakannya. Selain itu secara umum, perempuan menjadi pihak yang bertanggung‐jawab terhadap pekerjaan rumah, bahkan biarpun mereka bekerja di luar rumah29. Dalam kajian feminis, double burden ini menjadi salah
satu persoalan perempuan yang utama dan membuat rendahnya kesejahteraan hidup perempuan.
Tetapi, besarnya tenaga, pikiran dan sekaligus waktu yang dicurahkan perempuan bagi kerja reproduktif seringkali menjadi tidak nampak, tidak dihitung dan sekaligus tidak dianggap penting. Tentang ini, Pigou mengatakan :
29
32 ...”Sebagai ibu rumah tangga, mereka tidak akan didaftarkan sebagai penghasil upah dan demikian tidak akan diperhitungkan dalam statistik nasional. Mereka menjadi perempuan yang tidak nampak. Mereka tidak dianggap sebagai orang yang bekerja atau sebagai penghasil nafkah dan dengan demikian dianggap tak produktif. Ini justru disebabkan kerja rumah tangga bukan merupakan kerja upahan, dengan demikian tidak diakui sebagai kerja30.
Dan sebagai implikasinya, ketiadaan penghargaan bagi kerja reproduktif yang dilakukan perempuan, membuat mereka menjadi kelas yang terpinggir dan sekaligus tidak berdaya. Hal ini juga sekaligus membuat perempuan tidak memiliki mekanisme untuk memperjuangkan kebutuhan dan kepentingannya.31
d.2. Aktivitas Ekonomi
Berbeda dengan profil perempuan priyayi pada masa kolonial, perempuan‐perempuan di kelas bawah yang hidup di perkotaan, justru menunjukkan kondisi yang lebih berdaya dan lebih independen.32 Ini nampak dari profil perempuan kelas bawah (kawula) yang sejak dahulu
juga memainkan peran penting bagi perekonomian keluarga, bahkan walaupun dalam kultur Jawa, laki‐laki adalah pencari nafkah utama. Bagaimana dengan kondisi saat ini? Potretnya tak jauh berbeda. Namun di sini, muncul pertanyaan tentang apakah korelasi antara kontribusi dengan relasi yang terbangun di tingkat keluarga. Sangat dimungkinkan, biarpun mereka sangatlah berkontribusi untuk pendapatan dan ekonomi keluarga, peran mereka sering tidak terlihat. Bentuk yang lain adalah bahwa besarnya kontribusi ini tidak selalu diiringi dengan besarnya kuasa dalam mekanisme pengambilan keputusan –terutama keputusan strategis terkait dengan aktivitas bisnis – bahkan di tingkat sekecil rumah tangga sekalipun.
Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Molo di salah satu desa di Jatinom, Klaten,33
penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu faktor yang terkait dengan pengambilan
30
AC Pigou, dalam Hong, 1984 : 6, sebagaimana ditulis dalam Saptari, Ratna & Holzner, Brigitte (1997), ”Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial : Sebuah Pengantar Studi Perempuan”, Grafiti - Kalyanamitra. , h. 15
31
Fatimah, Dati (2007), “Kalkulasi Ekonomi Kerja Domestik”, Kompas, 9 April.
32
Lihat Dzuhayatin (2002), op.cit.
33
Molo, Marcelinus (1992), “Women’s Role, Resources dan Decision Making in Rural Java : A Case
33
keputusan di level keluarga terkait dengan kepemilikan asset, utamanya adalah rumah dan tanah pertanian. Walau begitu, ada banyak hal yang mempengaruhi relasi dan pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga. Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi yang egaliter lebih nampak dalam keputusan di level domestik, daripada di level pertanian. Keterlibatan perempuan dalam level pertanian nampak ketika terkait dengan pengendalian pendapatan dari sektor ini. Relasi ini juga dipengaruhi oleh status, dimana dalam kelas menengah dan bawah, perempuan secara umum lebih berdaya daripada perempuan di kelas atas. Pada perempuan di level bawah dan menengah, pendapatan yang dihasilkan perempuan sangatlah berkontribusi bagi pendapatan keluarga, dan ini meningkatkan power perempuan. Secara umum, studi ini menunjukkan bahwa kuasa perempuan dalam proses pengambilan keputusan sangatlah terkait dengan akses dan kontrol terhadap sumber daya, dan pendapatan individu adalah salah satu sumber kuasa tersebut.
Jenis pekerjaan di Bantul yang didominasi perempuan adalah bidang penjualan dan produksi. Kedua bidang tersebut merupakan bidang yang bisa dikerjakan secara fleksibel oleh perempuan karena tidak terikat oleh hubungan kerja. Faktor‐faktor yang menjadi penimbang dalam pemilihan pekerjaan ternyata sangatlah terkait dengan peran gender yang ada. Pilihan‐ pilihan pekerjaan bagi perempuan, biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal, dan salah satu yang utama adalah persoalan pengasuhan dan perawatan anak.34 Perawatan anak merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi sehingga banyak perempuan memilih bekerja di rumah, walaupun waktu perempuan untuk mengurus anak sudah jauh lebih berkurang karena menurunnya jumlah rerata anak dalam keluarga sebagai salah satu faktornya.
d.3. Aktivitas Sosial
Pengaruh norma dan ideology patriarki mempengaruhi kondisi perempuan dalam segala aktivitas yang dijalankannya baik dalam aktivitas domestic, ekonomi maupun sosial. Dalam kegiatan pembangunan yang dicanangkan pemerintah‐secara eksplisit maupun implisit‐
34
34
menguatkan asumsi pemisahan peranan (dus, ruang) laki‐laki dan perempuan.35 Perkumpulan
formil yang sarat dengan kepemimpinan ditetapkan sebagai urusan laki‐laki. Sedangkan urusan perempuan dibatasi pada kegiatan yang menjurus pada bidang “reproduksi,”semisal keluarga berencana, pendidikan gizi dan kesehatan, PKK dan lain sebagainya sebagaimana tampak dalam tabel di bawah ini.
Women’s Participation in Community Activities, 1997
Aktivitas komunitas Total (persen)
Dasawisma 23.2
PKK 64.2
Apsari/PKB 1.8
UPGK/Posyandu 26.2
Arisan 78.1
Religious activities 50.2
Other 3.3
Number of cases 931
Tabel aktivitas perempuan di atas secara umum masih sesuai dengan aktivitas perempuan di Bantul, meski memang tidak diperoleh data resmi yang lebih detil untuk menjelaskan aktivitas perempuan. Dalam buku Profil Kesehatan Bantul ditunjukkan bahwa program perbaikan gizi merupakan program yang secara kuat digerakkan melalui sinergi Dinas Kesehatan dengan
35
Baca Benjamin White dan Endang Lestari Hastuti “Subordinasi Tersembunyi, Pengaruh Pria dan
Wanita dalam kegiatan Rumah tangga dan masayarakat di 2 desa di Jawa Barat”. Laporan Agro
35
perempuan kader kesehatan, Yandu dan PKK di kabupaten Bantul. Program perbaikan gizi tersebut antara lain: 1. Upaya perbaikan gizi keluarga (UPKG), 2. Penanggulangan kurang energi protein, 3. Penanggulangan anemia gizi, 4. Penanggulangan kurang vitamin A, 5. Penaggulangan GAKY, 6. Upaya perbaikan gizi intitusi (UPGI), 7. Penyuluhan gizi masyarakat, 8. Sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SPKG).
36
BAB III
UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA
I. MEMBACA GENDER DALAM BENCANA GEMPA DI BANTUL
..”Waktu gempa, saya sedang sakit. Tapi saya beruntung karena masih sempat lari walau terhuyung‐huyung. Waktu sampai pintu, gerendel pintu tak bisa dibuka padahal rumah sudah hampir roboh.. Saya melihat sekeliling, dan akhirnya saya melompat keluar melalui jendela. Walau saya tidak bisa bangun karena tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi saya baru dibawa ke rumah sakit pada hari berikutnya, karena tak ada mobil yang tersedia...”
Bu Wa rsina h, Na ng sri, Sriha rdo no
Dalam situasi kepanikan ketika gempa mengguncang, tak sedikit orang yang tidak sempat menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan. Bu Warsinah beruntung, karena walaupun ia sakit tertimpa reruntuhan bangunan, ia dengan sigap segera berlari menyelamatkan diri keluar dari rumah. Lain misalnya dengan pengalaman Mbak Tari, seorang diffabel yang tinggal di kawasan Ganjuran ‐ Bambanglipuro, yang bahkan dibangunkan oleh gempa dan tak sempat menyelamatkan diri. Ia yang biasanya berjalan dengan alat bantu kruk, tak kuasa lagi mencari kruk dan menyelamatkan diri keluar dari bangunan, dan akhirnya pasrah dikubur oleh reruntuhan bangunan rumah. Tapi walau begitu, ia masih jauh lebih beruntung daripada ribuan orang yang lain yang meninggal ketika gempa terjadi.
37
lain dibenarkan oleh Bu Riwanti yang sempat membawa tetangganya ke rumah sakit, yaitu seorang perempuan paruh baya yang akhirnya tidak tertolong jiwanya.
Sayangnya, sebagaimana juga dalam sistem informasi kebencanaan di Indonesia secara umum, dalam kasus gempa kali ini juga tidak terdapat data pilah korban berdasar jenis kelamin dan kelompok usia. Ketiadaan ini mengindikasikan masih kuatnya pemahaman yang dipegang kalangan hazard‐centered yang memandang bahwa bencana menimpa siapa saja dan tanpa pandang bulu. Walau begitu, ilustrasi di beberapa sudut Bantul memberikan gambaran yang kuat tentang dimensi gender dalam kerentanan dan juga jumlah korban gempa. Di Kadisoro, sebagaimana juga di Nangsri, mayoritas korban adalah lansia, anak dan sebagian besar diantaranya adalah perempuan. Konstruksi bangunan yang sering tidak memprioritaskan ruang‐ruang perempuan seperti dapur, berkorelasi dengan banyaknya perempuan yang menjadi korban karena gempa bersamaan waktunya dengan aktivitas reproduktif memasak yang dilakukan perempuan.
Tak hanya aspek kerentanan secara fisik yang menguatkan dimensi gender dalam bencana. Sebagaimana fokus kajian para feminis terhadap kerentanan sosial dalam situasi bencana, gambaran yang ada menunjukkan penanda yang jelas akan kuatnya persoalan ini. Isu peminggiran kepentingan kelompok marjinal, dan ketidakterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan kepengelolaan bencana, nampak dari banyak kasus. Kebutuhan perempuan lansia seperti jarik‐kain dengan fungsi sejenis rok yang dikenakan perempuan lansia, minyak angin, kutang jawa yang luput dari bantuan dan digantikan dengan BH, adalah beberapa contoh pengabaian kebutuhan perempuan lansia dalam situasi bencana. Begitu juga dengan kebutuhan pernak‐pernik dapur seperti bawang merah dan bawang putih, garam, minyak goreng dan peralatan memasak yang terlupakan dalam daftar bantuan juga menguatkan dampak gempa bagi perempuan36. Ilustrasi yang lain nampak dari penuturan
Mbak Rus, seorang diffabel berikut ini :
36
38 ...Sejak gempa, saya mengungsi ke rumah orang tua di kota Jogjakarta. Saya sendiri sebetulnya merupakan warga kota jogja meski warung saya ada di Bantul. Maka, walaupun warung saya ikut rusak karena terkena gempa, saya tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Mungkin karena saya luput dari pendataan di Bantul, dan begitu juga di kota, saya juga tidak pernah tahu prosesnya dan tidak mendapat bantuan. Dagangan saya yang tersisapun ikut habis untuk membiayai hidup selama mengungsi di rumah orang tua....
Terlewatnya kelompok rentan dalam pendataan dan distribusi bantuan bisa terjadi dimanapun, dan begitu juga di Bantul ketika gempa terjadi. Dalam situasi kerentanan secara fisik yang dihadapi perempuan dan juga kelompok rentan yang lain, peminggiran dalam arena sosial dan juga politik sebagaimana nampak dalam penuturan di atas, menjadi semakin menguatkan beban derita yang mereka rasakan. Pada 27 Mei 2006 pagi, gempa yang melanda memang sama‐sama dirasakan dan juga sama‐sama sebesar 5.9 SR. Tetapi, perbedaan posisi, akses dan juga ruang membuat dampaknya tidak dirasakan secara sama dan identik oleh kelompok gender yang berbeda.
II. SISTEM SOSIAL BANTUL DALAM GUNCANGAN GEMPA
Bencana, sebagaimana juga tekanan dari pihak eksternal, adalah ujian ketangguhan bagi sistem sosial di dalam masyarakat. Mengacu kepada Murphy, dari aspek proses, bencana menjadi konteks yang melatarbelakangi dan mempengaruhi proses koordinasi, promosi dan interpretasi layanan sosial dalam beragam bentuk. Apakah ketika bencana, layanan sosial bisa terkoordinasi dan dipahami dengan baik oleh banyak pihak atau tidak, akan sangat menentukan ketangguhan sistem sosial yang ada. Sementara itu, dari aspek ruang, bencana menguji apakah suprastruktur yang dibentuk bisa bekerja dalam mengkoordinasikan kerja layanan bagi publik37. Jawaban atas ini akan menjadi penanda apakah ujian berupa situasi
abnormal yang bernama bencana bisa terlewati oleh sistem sosial yang ada. Dalam studi ini,
37