• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN PENELITIAN

BENCANA DAN KERELAWANAN PEREMPUAN :

Studi Kasus Penanganan Bencana di Kabupaten Bantul, DIY

Oleh :

Dat i Fat im ah

Ret no Agust in

(Perhimpunan Aksara – Jogjakarta)

Pemenang Philantrophy Research Award III

Pirac – Ford Foundation

(2)

2

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN...i

BAB I. PENDAHULUAN...1.

1.1. Latar

Belakang

...2

1.2. Permasalahan

Penelitian ...6

1.3. Tujuan Penelitian ...7

1.4. Kerangka

Teori...8

1.5. Metode Pengumpulan Data...21

1.6. Sistematika

Penulisan

Laporan ...23

BAB II. SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA...24

2.1. Bantul sebagai Komunitas Geografis...25

2.2. Sistem Sosial Bantul...26

2.3. Sistem Pemerintahan ...27

BAB III. UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM

BENCANA...30

3.1.

Membaca Gender dalam Bencana Gempa di

Bantul...30

3.2. Sistem Sosial Bantul dalam Guncangan Gempa...32

3.3. Perempuan Tanggap di tahap Darurat...36

3.4. Fase Rehabilitasi – Rekonstruksi : kembali ke Asal?...41

3.5. Gender dalam Kerelawanan Perempuan...50

BAB IV. MODAL SOSIAL PEREMPUAN DALAM BENCANA...57

4.1. Ruang Produksi Perempuan Relawan...57

4.2. Faktor-faktor Yang Mendorong Kerelawanan

Perempuan...61

(3)

3

BAB V. CATATAN DAN KESIMPULAN...76

(4)

4

PAHLAWAN DALAM KESENYAPAN :

CATATAN PENGANTAR

Adalah  perasaan  yang  campur  aduk  ketika  harus  menuliskan  kehidupan  para  perempuan pasca gempa, sebagaimana juga pengalaman menceritakan satu kejadian yang  mengubah  kehidupan  manusia.  Bencana,  dalam  keadaan  ketidaksiapan  dan  minimnya  perhatian  terhadapnya, memang harus dibayar  sangat  mahal.  Kehilangan  nyawa anggota  keluarga, saudara, teman dan kerabat, hingga kerusakan dan kehilangan harta benda dan juga  infrastruktur komunal. Tetapi, walau pada awalnya diliputi dengan nuansa kesedihan yang  mendalam,  wajah‐wajah  penuh semangat untuk  kembali bangkit  adalah  pertanda  bahwa  kehidupan  tidak berhenti karena bencana. Semangat, harapan  dan solidaritas inilah yang  terpancar kuat dari wajah‐wajah para penyintas (survivors), yang selamat dalam kejadian  Gempa 27 Mei 2006 yang menghantam Jogja dan Jawa Tengah. 

  Ketika akhirnya kami menjadi salah satu pemenang Philantrophy Research Award III  Pirac‐Ford Foundation tahun 2007, kami bagaikan menuliskan sepenggal hidup dari perjalanan  keterlibatan kami didalamnya. Walaupun mungkin kami tidak menjadi bagian utama dari  cerita yang dituliskan di sini, pada bagian‐bagian tertentu, cerita ini adalah juga bagian dari  cerita hidup kami. Dan sebagaimana diungkap di muka, rasa yang campur aduk inilah yang  kemudian akan bisa Anda dapatkan dari 5 bab laporan riset yang kami tuliskan. Pada bagian  tertentu, sarat dengan nuansa kesedihan dan rasa yang menyentuh, sementara pada bagian  lain, kamipun harus larut dalam menuliskan semangat para pahlawan yang berjuang untuk  bangkit kembali.  

  Siapakah para pahlawan tersebut, yang juga akan Anda baca dalam laporan ini? Mereka  ini,  adalah  para  perempuan  yang  karena  situasi,  merasa  terpanggil  untuk  melakukan  serangkaian upaya mengkonsolidasi gerakan dan sumber daya, dan berbagi dengan sesama.  Upaya mereka ini sangatlah berarti walaupun seringkali luput dari perhatian dan peliputan.  Mereka inilah, para pahlawan dalam kesenyapan, yang menjadi nafas dan inspirasi utama  buku yang kami tulis.  

(5)

5

untuk teman‐teman Aksara dimana kami bermain dan bekerja, dan juga buat Lien dan Rayya,  terima kasih sekali untuk pertemanan, dan juga dukungan yang membahagiakan.  

  Salam dan selamat membaca... 

 

Jogjakarta, Juni 2008 

   

(6)

6

SI NOPSI S

Dapur umum, yang segera berdiri dalam hitungan waktu yang pendek setelah terjadi  krisis  dan  bencana  adalah  potret  yang  nyata  dalam  kehidupan  sekitar  kita,  seiring  meningkatnya kejadian bencana dan krisis. Begitu juga dengan kondisi pasca gempa yang  melanda Jogja dan Jateng, 27 Mei 2006. Segera setelah gempa terjadi, perempuan dengan sigap  dan spontan, mendirikan dapur umum secara darurat. Waktu itu, bersama dengan kelompok  masyarakat yang lain seperti kaum lelaki yang melakukan peran evakuasi korban, peran  perempuan ini sangatlah penting dalam penyelamatan kehidupan dalam situasi krisis.  

Sayangnya, walaupun perannya sangat signifikan, namun ini tidak secara otomatis  diikuti dengan penghargaan yang memadai. Adalah menarik untuk mengkaji bahwa sebagian  responden  penelitian  ini  menganggap  tidak  ada  yang  istimewa  dengan  kerelawanan  perempuan seperti nampak dalam kasus dapur umum ini. Hal ini disebabkan peran memasak  dianggap sudah seharusnya dilakukan oleh perempuan. Begitu juga peran‐peran kerelawanan  perempuan yang lain seperti perawatan orang sakit, pengelolaan fasilitas kesehatan masyarakat  bersama bernama posyandu, dan banyak aktivitas lain yang dilakukan perempuan secara  sukarela.  

Buku yang Anda baca ini adalah laporan penelitian tentang bagaimana kerelawanan  perempuan dalam situasi bencana tumbuh, terkelola dan direspon oleh pihak yang terkait.  Sebagai sebuah studi kasus yang mengambil setting di kabupaten Bantul, buku ini ingin  menjawab pertanyaan kunci tentang apa sajakah model‐model kerelawanan perempuan yang  muncul, dan bagaimana ini terhubung dengan kerelawanan dan pihak yang lebih luas.  

(7)

7 sedikit, ketika bumi bergoyang dengan sangat kencang. Gempa saat itu, sangatlah mengejutkan  bagi masyarakat yang sebelumnya menganggap daerah tempat tinggalnya adalah kawasan  aman dari bahaya gempa bumi. Gempa yang terjadi di tengah perhatian publik yang justru  berpusat  pada  ancaman  bencana  letusan  gunung  Merapi  yang  berada  di  sebelah  utara  Jogjakarta  ini,  membawa  banyak  kerusakan  dan  juga  kerugian.  Data  yang  dikumpulkan  Bappenas menunjuk angka korban jiwa sebanyak 5.760 orang meninggal dunia, 388.758 rumah  rusak termasuk sebanyak 187.474 rumah yang roboh (Rencana Aksi Nasional, Buku I). 

Indonesia(Yogya-Jateng) Gempa Bumi 27 Mei 2006 5,760 3,134 3,134

Sumber: Asia Disaster Preparednes Centre, Thailand: ECLAC, EM-DAT, World Bank, Juni 2006

(8)

8

Tabel di atas menunjukkan, meskipun jumlah korban jiwa sangat jauh dibawah jumlah  korban jiwa tsunami misalnya, tetapi jumlah kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan tidak  terlampau jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tingkat kepadatan penduduk di Jogjakarta dan  Jawa Tengah yang mengakibatkan tingginya angka kerusakan pada bangunan baik rumah,  maupun infrastruktur publik dan dunia usaha. 

Dalam data yang lebih rinci, menunjukkan DIY mengalami kerusakan sebagai berikut:  

Tabel 3.2.  

Data Rumah Rusak di DIY karena Gempa1

No  Kabupaten/Kota  Jumlah Rumah Rusak 

1  Sleman  21.056 

2  Kulonprogo  3.401 

3  Jogjakarta  6.538 

4  Gunungkidul  9.235 

5  Bantul  119.879 

   

Selain mengakibatkan ratusan ribu rumah rusak dan roboh, gempa juga mengakibatkan  rusaknya sarana dan prasarana umum. Rusaknya puluhan pasar, ratusan sekolah, tempat  ibadah, bangunan perkantoran dan   sarana usaha membuat skala kerugian memang sangat  tinggi. Untuk bangunan pendidikan, jumlah bangunan sekolah di DIY dan Jateng mencapai  2.630  unit  dengan  perkiraan  jumlah  kerusakan  dan  kerugian  mencapai  Rp  1.74  Triliun.  Sementara pada sektor kesehatan, jumlah kerusakan diperkirakan mencapai Rp 1.5 Triliun, dan 

1

(9)

9

kerugian mencakup Rp 21 Miliar di kedua propinsi. Gempa ini mengakibatkan kehancuran 17  rumah sakit swasta dan rusaknya 41 klinik swasta di kota Jogjakarta. Untuk Puskesmas, dari  total 117 Puskesmas di propinsi DIY, 45 hancur, 22 rusak parah dan 16 rusak ringan. Sementara  di Jawa Tengah, 2 puskesmas di Klaten hancur, 7 rusak berat dan 7 lainnya mengalami rusak  ringan.  Dampak  gempa  bumi  pada  sektor  produktif  juga  sangat  besar,  apalagi  karena  kontribusi terbesarnya adalah dari kehancuran usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang  punggung  perekonomian  masyarakat  di  daerah  terkena  bencana.  Juga  ditambah  dengan  kerusakan  struktur  irigasi,  dan  juga  kerusakan  pada  sistem  pertanian.  Perkiraan  jumlah  kerusakan dan kerugian dalam sektor ini mencapai Rp 9.025 Triliun.2  

  Selain menghancurkan dan meluluhlantakkan sarana dan prasarana yang ada, gempa  bumi ini juga mengakibatkan dampak psikologis bagi masyarakat. Secara umum, masyarakat  Jogjakarta dikatakan berada dalam situasi beban sosial ekonomi yang berat.3 Besarnya dampak 

gempa ini juga berpengaruh bagi kesehatan mental bagi banyak anggota masyarakat. Kondisi  ini nampak dari penuturan Bu Ponirah, salah satu penyintas dari Gedongan, Kasihan berikut  ini :  

....”Kalau mengingat saat itu, rasanya ngeri, ngeri sekali... Juga stress. Bagaimana tidak stress,  wong rumahnya hancur semua. Berteduhnya di bawah pohon, dan kehujanan selama 3 hari dan  barang‐barang hancur semua....” 

Gempa  sebagai  sebuah  pengalaman  sejarah  yang  membawa  luka  bersama  bagi  masyarakat, menjadi magnet bagi sejumlah donor, organisasi nasional‐lokal maupun penyintas  untuk bergerak bersama. Gempa mengundang bantuan datang bertubi, tentu saja dengan  ragam cara dan motif.  

2

Buku Utama Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi di Propinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah, Bappenas, Bab III, Juli, 2006

3

(10)

10

Penanganan  gempa  bumi  Jogja‐Jateng  memberi  pembelajaran  betapa  berharganya  kerelawanan dan solidaritas warga. Hari pertama dan kedua pasca bencana, masyarakat dari  luar daerah bencana telah mulai bergerak, mengirimkan bantuan logistik maupun relawan  untuk membantu warga korban bencana. Dibantu para relawan, tanpa dikomando warga  masyarakat  (perempuan‐laki‐laki,  tua‐muda,  kaya‐miskin)  gumbregah,  bangkit,  bergerak,  bekerja bahu membahu, bergotong royong membersihkan puing‐puing dan menata kembali  dusunnya masing‐masing. Di sana‐sini, posko‐posko bantuan pun didirikan dan diorganisir  secara sigap oleh berbagai paguyuban masyarakat sipil.4  

Para perempuan tak kalah sigap, dengan responsifnya mereka bergerak mendirikan  dapur umum. Mereka membagi tugas dengan cepat untuk mengumpulkan bahan pangan yang  masih bisa diselamatkan di setiap rumah kemudian mengaturnya sebagai lumbung pangan  selama beberapa hari. Bencana kelaparan yang mengikuti kejadian bencana direduksi karena  kecekatan perempuan untuk bertindak mengamankan hajat dasar masyarakatnya.5 Aktivitas 

massa itu digerakkan oleh spirit altruisme dan kerelawanan (voluntarism) yang sangat tinggi di  antara warga sendiri. Tiga bulan fase tanggap bencana, kerja‐kerja karitatif sungguh mewarnai  interaksi  antara  penyintas  dengan  penyintas1,  penyintas  dengan  relawan  luar  komunitas 

maupun penyintas dengan jejaring masyarakat sipil lainnya. Memasuki fase rehabilitasi dan  rekonstruksi, sejumlah organisasi perempuan perempuan mempraktikkan pendekatan yang  lain. Bantuan karitatif sebagai bagian dari filantropi sangat baik untuk kerja‐kerja tanggap  bencana.  Namun  untuk  kerja  jangka  panjang  justru  tidak  mendidik  masyarakat,  bahkan  ditakutkan akan membawa ketergantungan masyarakat pada pemberi bantuan. Karenanya  pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi, kerja karitatif berusaha untuk diintegrasikan dengan  kerja pemberdayaan komunitas warga korban. 

4

Widyanta, AB. Modal Sosial: Partisipasi Warga Yang Selalu Dinisbikan Dalam Governance

Kebencanaan (Belajar Dari Penanganan Gempa Bumi Yogya Dan Jateng), dalam Jurnal RENAI Governance Bencana tahun ke 7 no 1. 2007.

5

Agustin, Retno. Gender yang Direkonstruksi dalam Bencana Alam(i)? Pengabaian vis a vis

(11)

11

Model‐model  partisipasi  yang  sangat spontan,  mandiri  dan digerakkan  oleh  spirit  altruitik  dan  norma  informal  merupakan  ciri  modal  sosial  yang  berbasiskan  warga.  Sebagaimana ditandaskan oleh Fukuyama, modal sosial yang mewujud dalam jaringan warga  merupakan jalan pintas yang mengatasi masalah koordinasi dalam organisasi yang sangat  terdesentralisasi6. Dalam penanganan gempa bumi jogjajateng, modal sosial berbasis warga 

inilah yang menjadi jaring pengaman bagi korban dan survivor untuk melampaui krisis paska  bencana.7  

  Akan tetapi, dalam temuan kami, dalam setiap tahapan bencana kerja perempuan baik  pada sector domestic maupun publik sering tidak diperhitungkan. Padahal, bila melihat situasi  pada detik‐detik awal tanggap bencana, perempuan lah yang dengan sangat cekatan dan sigap  segera melakukan langkah‐langkah penting penanganan bencana. Dapur umum –meskipun  merupakan  kerja  domestic‐ namun  merupakan  refleksi  sikap  assertif  dan  sukarela  yang  dilakukan  oleh  perempuan  ketika  menghadapi  bencana.  Kesedihan  dan  kepiluan  karena  bencana memang dirasakan, tetapi hidup harus terus berjalan : orang perlu makan, perlu  menyambung hidup dan tenaga, dan karenanya, dapur umum adalah jawabannya. Di sini,  perempuan  memegang  peran  kunci.  Penelitian  kami  menunjukkan  bahwa  keterlibatan  perempuan  dalam  proses  rehabilitasi‐rekonstruksi  merupakan  hal  yang  tak  lazim  dalam  masyarakat  yang  kental  nuansa  patriarkisnya.  Pandangan  mata  aneh  maupun  cibiran  merupakan reaksi yang kerap diterima para perempuan. Tantangan balik dari laki‐laki acap  menghadang perempuan yang secara sukarela (volunterisme) hendak terlibat dalam proses  rekonstruksi.  Namun  dalam  catatan  lapangan  juga  terdapat  pengalaman  keberhasilan  perempuan  dalam  meyakinkan  masyarakat  bahwa  mereka  adalah  latent  leader  yang  berkemampuan untuk mengawal proses pemulihan bencana dengan lebih berkeadilan.  

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengangkat sebuah potret realitas yang penting  namun sering terabaikan dalam penanganan kebencanaan, yaitu perempuan penyintas. Realitas 

6

Fukuyama, Francis. Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru; Jakarta: Gramedia, 2005, hlm. 243

7

(12)

12

yang ingin dikuak dalam penelitian ini adalah perempuan tak semata sebagai korban quote en  quote yang tak berdaya, namun juga entitas yang aktif dan berdaya dalam penanganan bencana.  Pengalaman  penanganan  bencana  di  kabupaten  Bantul  menunjukkan  potret  kesadaran  perempuan yang cukup tinggi dalam berpartisipasi dalam penanganan kebencanaan, meskipun  partisipasi mereka juga kerap ditelikung maupun dinisbikan. Dengan kata lain, kontribusi  perempuan  dalam  penanganan  kebencanaan  hendak  dipotret  untuk  menjadi  sebuah  pembelajaran bagi penanganan kebencanaan di tempat‐tempat lain. 

 

II. PERMASALAHAN PENELITIAN :  

Bentuk‐bentuk  kerelawanan  perempuan  dan  ruang  Penelitian  ini  ingin  mengungkap  pertanyaan  mendasar  mengenai  bagaimana  bentuk‐bentuk  kerelawanan  dan  siasat  perempuan  merebut  ruang  partisipasi  dalam  penanganan  kebencanaan?  Untuk  mendapatkan  jawaban  atas  permasalahan  penelitian,  peneliti  merumuskan  sejumlah  pertanyaan‐pertanyaan kunci, antara lain : 

1. Sistem sosial kebencanaan seperti apakah yang melahirkan tokoh‐tokoh perempuan  dalam penanganan bencana? 

2. Bagaimana  pengaruh  dari  sistem  sosial  ini  terhadap  bentuk‐bentuk  partisipasi  perempuan baik di ruang domestik atau publik? Apa sajakah hambatan yang dihadapi  dan strategi yang diambil perempuan untuk merebut ruang partisipasi?   

3. Bagaimana  proses  dan  perkembangan  hubungan  antara  bentuk  kerelawanan  perempuan  yang  ada  dengan  kelompok‐kelompok  lain  (LSM,  organisasi  lokal,  pemerintah) pasca bencana? Bagaimana kelompok‐kelompok lain tersebut  memainkan  peran linking social capital sehingga kerelawanan perempuan lokal dapat terhubung  dengan ruang public yang lebih luas.  

 

(13)

13

Penelitian ini ditujukan untuk: 

1. Menemukan bentuk‐bentuk kerelawanan perempuan dan siasat partisipasi perempuan  dalam penanganan bencana 

2. Menunjukkan model filantropi perempuan dalam penanganan kebencanaan. 

3. Memetakan  pola  hubungan  antara  perempuan  dengan  pihak‐pihak  lain  dalam  mobilisasi modal sosial untuk penanganan bencana.  

4. merumuskan rekomendasi bagi proses penanganan bencana yang berperspektif gender. 

   

IV. KERANGKA TEORI :  

a. Bencana 

...”Pada dasarnya, tidak ada yang disebut sebagai bencana alam; yang ada adalah bahaya‐ bahaya alam, seperti misalnya siklon dan gempa bumi. Perbedaan antara sebuah   bahaya dan  sebuah  bencana  merupakan  suatu  hal  yang  penting.  Sebuah  bencana  terjadi  jika  sebuah  komunitas terkena dampak sebuah bahaya (biasanya diartikan sebagai sebuah peristiwa yang  melampaui kapasitas komunitas tersebut untuk menghadapinya). Dengan kata lain, dampak  sebuah bencana ditentukan oleh sejauh mana kerentanan sebuah komunitas terhadap bahaya.  Kerentanan seperti ini tidak bersifat alami. Ia merupakan dimensi manusiawi dalam bencana,  hasil  dari  keseluruhan  faktor‐faktor  ekonomi,  sosial,  budaya,  institusi,  politik  dan  bahkan  psikologi  yang  membentuk  hidup  manusia  dan  menciptakan  lingkungan  di  mana  mereka  tinggal...8 

Bencana  bukan  hanya  menghancurkan  tatanan  fisik,  namun  juga  tatanan  sosial,   ekonomi dalam masyarakat. Bencana menjadi triger yang memicu peningkatan kerentanan  yang sudah terdapat dalam masyarakat sebelum bencana terjadi. Kerentanan tersebut bukan  hanya reprentasi dari rendahnya kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan sosial dan  alam, namun juga representasi salah urus  oleh negara atas masyarakatnya. 9

8

Twigg, J (2001), sebagaimana dikutip dalam Living with Risk, UNISDR, 2004, chapter 1,

9

Fatimah, Dati. Yang Sering terabaikan: Gender dan Anggaran dalam Bencana dalam Widyanta, AB

(14)

14

Dalam  situasi  bencana  tercipta  kondisi  chaotic  dan  kepanikan.  Masyarakat  harus  beradaptasi dengan ritme alam dan sosial yang berubah. Fokus pada penyelamatan diri dan  keluarga  mengakibatkan  masyarakat  sulit  terorganisir.  Di  sisi  lain,  negara  juga  harus  beradaptasi dengan ritme birokrasi darurat bencana. Proses untuk beradaptasi dengan kondisi  bencana  ini  yang  mengakibatkan  kegagapan  bagi  masyarakat  maupun  negara.  Meski  bagaimanapun juga, negaralah yang harus bertanggung jawab atas masyarakatnya.  

Hoffman (1999;2002), menegaskan pandangan mengenai bencana ditinjau dari sudut   pandang ekonomi politik. Menurut hoffman: (1) bencana dapat dihindari dan kejadian alam  tidak harus berubah menjadi bencana kalau dampaknya bisa diatasi dengan baik; (2) manusia  tidak dilihat sebagai korban yang tidak tertolong tetapi sebagai aktor yang mampu dengan  tingkatannya  masing‐masing  memecahkan  dan  menghadapi  kejadian  alam  atau  bahkan  menghindarinya. Disini sumber yang dimiliki penduduk berperan penting dalam pemulihan;  (3) isu keadilan menjadi penting. Kelompok kaya jarang menderita separah yang dialami oleh  kelompok miskin dalam setiap bencana, walaupun bencana tetaplah merupakan penderitaan  umum dengan tingkat keparahannya masing‐masing.10  

  Salah  satu  aspek  penting  dalam  kajian  tentang  bencana  adalah  kajian  tentang  kerentanan. Perspektif kerentanan memandang bahwa situasi yang ditimbulkan dari bencana  tidak hanya berasal dari bencana itu sendiri, seperti gempa, badai dan angina topan, tetapi  sebagai kombinasi dari 3 faktor, yaitu: 11  

10

Hoffman, 1999;2002, dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Anthropologi Universitas Gadjah Mada “Dialektika Nature, Kultur Dan Struktur : Analisis Konteks, Proses dan Ranah Dalam Konstruksi Bencana”, Halaman 13.

11

Lihat analisis yang melihat kontribusi ketiga actor ini dalam Tierney, K (2007), “Recent Sociological

Contributions to Vulnerability Science”, Department of Sociology and Institute of Behavioral Science,

Natural Hazards Center, University of Colorado. Dalam paper yang sama, Tierney mengutip beberapa riset yang mengkaji banyak aspek dan contoh dari kerentanan dalam berbagai kondisi, misalnya

(15)

15

1. Bencana itu sendiri, seperti topan, badai, gempa dan tsunami.  

2. Kondisi fisik dan karakter dari lingkungan yang terbentuk. Sebagai contoh, banyak  struktur bangunan dan infrastruktur yang tidak tanggap terhadap dampak fisik dari  bencana. 

3. Kerentanan populasi, merupakan konstruk yang kompleks yang mencakup beberapa  faktor seperti ketersediaan sumber daya (seperti pendapatan dan kesejahteraan), ras,  etnis, gender, umur, pengetahuan tentang cara‐cara penyelamatan dalam bencana, dan  factor yang terkait dengan modal social dan budaya. Sebagai gambaran, keterlibatan  dalam aktivitas dan ruang sosial akan membantu menyediakan informasi dan bantuan  yang  bermanfaat.  Pengetahuan  juga  memampukan  anggota  komunitas  untuk  bisa  berinteraksi secara baik dengan institusi sosial yang ada. Di sisi yang lain, kerentanan  populasi juga bisa meningkat karena langkah‐langkah yang diambil oleh pemerintah  dan institusi lain yang gagal dalam melindungi populasi. Dari perspektif kerentanan  misalnya, bencana badai Katrina menjadi semakin parah karena kegagalan dari system  proteksi sosial dan system manajemen darurat yang tidak memadai dalam melindungi  dan menjaga survivor.  

 

b. Gender dan Bencana 

Deklarasi  Beijing  dan  Rencana  Aksinya  dengan  jelas  mengakui  bahwa  degradasi  lingkungan dan bencana mempengaruhi seluruh kehidupan manusia dan seringkali membawa  dampak langsung yang lebih bagi perempuan. Sessi khusus ke‐23 dari General Assembly pada  tahun  2000  juga  mengidentifikasi  bencana  alam  sebagai  tantangan  terkini  yang  bisa  mempengaruhi  implemnetasi  menyeluruh  dari  rencana  aksi  Beijing  ++  ini.  Karenanya,  dibutuhkan  strategi  untuk  mengintegrasikan  perspektif  gender  dalam  pengembangan  dan  implementasi pencegahan bencana, mitigasi dan strategi recovery.  

(16)

16

Salah satunya variabel penting yang harus diperhitungkan adalah bahwa bencana yang  sama bisa membawa dampak yang berbeda bagi kelompok gender yang berbeda. Sama‐sama  terjadi bencana  banjir atau  gempa  misalnya,  dampak yang ditimbulkan bagi  laki‐laki  dan  perempuan  tidaklah  identik,  yang  salah  satunya  disebabkan  oleh  perbedaan  kerentanan  terhadap bencana karena relasi gender yang ada. Laporan UN/IASC juga menuliskan bahwa  struktur relasi  gender adalah bagian dari konteks budaya dan sosial yang mempengaruhi  kapasitas komunitas untuk mengantisipasi, menyiapkan diri, mempertahankan diri dan juga  melakukan pemulihan karena bencana.  

Elaine Enarson dalam papernya yang berjudul “Gender Equality, Work, and Disaster  Reduction: Making the Connection”, menjelaskan bahwa risiko terhadap bencana terdistribusikan  secara berbeda di dalam masyarakat. Menurutnya, sebagai sebuah konsep yang kompleks,  kerentanan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah perbedaan akses dan kontrol  terhadap sumber daya yang yang dibutuhkan baik untuk bertahan hidup maupun menjalani  masa recovery setelah bencana. Namun, ia menggarisbawahi bahwa perempuan dan anak  perempuan adalah merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang berada pada daftar  kelompok dengan risiko tinggi terhadap bencana (Enarson, 2000). Menurut Blaikie (2003:300),  perempuan orang tua dan anak‐anak, atau kelompok yang berstatus sosial rendah, minoritas  kelompok dengan akses yang terbatas, kelompok yang tidak memiliki capital sosial, mengalami  nasib yang paling buruk12  

Masih dalam paper yang sama, Enarson memaparkan bagaimana perempuan bekerja  secara  tidak  dibayar  dan  seringkali secara  sosial  tidak  diperhitungkan.  Kesukarelawanan 

12 Blaikie, 2003:300, ibid. dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Anthropologi

(17)

17

perempuan dalam penanganan bencana sangat multiwajah, sebagaimana tergambar dalam  pengalaman penanganan bencana di Nicaragua berikut ini:13

After the storm subsided,  international aid began entering the area near her village. She saw that  the village leader, a man who lost his farm, was more concerned about his own than other village  members. . .So she traveled to the mayor’s office, where she had never been before. She visited the  Peace Corps volunteer in town, whom she did not know. Through her dedication, persistence, and  patience, she had seven houses built and legally put in the wife/mother’s name. She insisted that  latrines be built for all families. She rallied 10,000 trees to be planted on the deforested hills that  surrounded her village. She learned about water diversion tactics, and found an engineer to teach  her village to build gavion‐walled channels. 

Masih  dalam  tulisan  yang  sama,  Enarson  menceritakan  bahwa  perempuan  lebih  bermotivasi  dibandingkan  laki‐laki  dalam  melakukan  tindakan  pencegahan  bencana.  Perempuan bukan hanya merawat kesehatan anggota keluarganya, namun juga secara lebih  luas memperhatikan kesehatan masyarakat secara lebih luas. Dicontohkan Enarson, perempuan  turut  membersihkan  sampah  yang  dibawa  banjir  di  wilayah  tetangga  mereka.  Kerja  penanganan  bencana  juga  mengikutsertakan  perempuan  dalam  pencarian  bantuan  kemanusiaan. Berbeda dengan imaji yang dihadirkan media mengenai perempuan sebagai  korban yang penakut dan aktor yang pasif. Dalam kerja kemanusiaan, perempuan terlibat  secara kuat untuk pencarian  bantuan kemanusiaan serta distribusi barang dan pelayanan  tanggap bencana. Meski juga harus diakui bentuk partisipasi dan kerelawanan perempuan  menjadi lebih berat ketika harus berhadapan dengan norma pembagian kerja berbasis seks dan  gender.14  

Pandangan yang menempatkan perempuan sebagai entitas yang tak berdaya justru  meminggirkan perempuan dalam kerja‐kerja penanganan bencana. Di sisi lain, pandangan ini 

13

Lihat Enarson, Contribution by S. Henshaw of the World Food Program to the internet conference on Gender Equality, Environmental Management and Natural Disaster Mitigation sponsored by Division for the Advancement of Women, November 2001.

14 Enarson dalam Women’s Voluntary Work Expands : Gender Equality, Work, And Disaster Reduction:

(18)

18

membawa implikasi terhadap penisbian potensi dan peranan perempuan dalam penanganan  kebencanaan. 

Mengambil pendekatan Hoffman di atas, seharusnya perempuan juga dipandang dan  diperlakukan  sebaga  aktor  yang  berdaya.  Kerja  sukarela  yang  dilakukan  perempuan  merupakan bukti keberdayaan perempuan. Kerja‐kerja kerelawanan mereka ini menjadi kian  penting dalam proses rekonstruksi yang panjang. Ketika itu, kepentingan ekonomi laki‐laki dan  perempuan sering bertabrakan. Belajar dari pengalaman kerelawanan perempuan di Bantul,  kerelawanan  perempuan  merupakan  bagian  dari  proses  pemerdayaan  perempuan  untuk  melakukan  kerja‐kerja  tak  berupah  pada  masa  sebelum  bencana,  namun  kerelawanan  perempuan itu selalu mempunyai makna positif bagi masayarakat baik pada masa sebelum  bencana, terlebih pada masa sesudah bencana. Bagi perempuan  relawan, kerelawanannya  merupakan usahanya untuk meningkatkan kapasitas perempuan serta untuk meningkatkan  solidaritas komunitas dalam rangka mendukung proses rekonstruksi yang lebih berkeadilan  gender.15

 

c.  Perkembangan Konsep Modal Sosial  

Semenjak James Coleman mengenalkan konsep modal sosial hingga sekarang belum  ada formulasi tunggal untuk menjelaskan pengertian konsep ini.16 Menurut Francis Fukuyama 

salah satu kelemahan konsep modal sosial adalah belum ada kesepakatan dalam pengertian  konsep atau teori ini.17 Titik temu yang hampir tidak berbeda antar berbagai pengertian terletak 

15

Enarson, Ibid

16

Banyak yang mengatakan bahwa Coleman mengenalkan konsep ini melalui esai yang berupa suplemen, Social Capital in the Creation of Human Capital, dalam American Journal of Sociology, 94: Supplement, 1988. Tetapi tidak sedikit yang menyebutkan bahwa Robert Putnam dalam karya-karyanya yang terlebih dahulu mengenalkan konsep ini.

17

(19)

19

pada cara memandang modal sosial sebagai kemampuan dari suatu kelompok sosial untuk  bekerja bersama dalam sesuatu yang berguna bagi kelompok tersebut.18  

Konsep modal sosial berbeda dari konsep modal manusia dan modal fisik, namun  terkadang terjadi tumpang‐tindih dalam pemahaman. Karena bentuk‐bentuk modal yang ada  mempunyai  hubungan  yang  saling  melengkapi  dan  saling  menyempurnakan.  Untuk  membangun determinasi yang lebih tegas atas konsep modal sosial, Field, Schuller dan Baron 

me‐review  konsep  modal  sosial  dengan  menyebutkan  modal  sosial  ‐secara  luas‐  sebagai 

jaringan‐jaringan sosial dan hubungan yang terjadi dalam jaringan‐jaringan sosial tersebut,  terutama hubungan resiprositas dalam meraih tujuan bersama.19

Modal sosial merupakan konsep yang terdiri atas dua dimensi yang berbeda tetapi  saling bertautan antara dimensi struktural dan kognitif. Dimensi struktural lebih menekankan  pada pengorganisasian dan jaringan dari masyarakat, baik yang berbentuk formal maupun  informal. Sedangkan dimensi kognitif lebih menekankan pada aspek nilai‐nilai, sikap‐sikap,  kepercayaan  yang  terdapat  dalam  suatu  masyarakat  yang  membimbing  sikap  hidup  masyarakat tersebut. Secara singkat, dapat dikategorikan bahwa dimensi struktural adalah  sesuatu yang dapat dilihat dengan konkret sedangkan yang kedua lebih abstrak. 

      Tipologi Modal Sosial secara sederhanal dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu bonding social  capital, bridging social capital, linking social capital.   

Pertama, apa yang disebut dengan Bonding Social Capital dapat kita sebut dengan  perekat sosialyaitu, nilai budaya, persepsi dan tradisi atau adat‐istiadat (custom). Pengertian  

bonding social capital adalah tipe modal sosial dengan karakteristik ikatan yang kuat (adanya 

18

Thomas F Carroll Social Capital, Local Capacity Building, and Poverty Reduction , Social Development Papers No. 3, Office of Environment and Social Development, Asian Development Bank, May, 2001, hal. 1

19

J. Field, T. Schuller, dan S. Baron, Social Capital: Critical Perspectives. Oxford: Oxford University Press, 2000, hal 1. seperti yang dikutip oleh David Piachaud, Capital and the Determinants of Poverty

and Social Exclusion, CASE paper 60, Centre for Analysis of Social Exclusion, London School of

(20)

20

perekat sosial) dalam suatu sistem kemasyarakatan. Misalnya, kebanyakan anggota keluarga  mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga yang lain, yang mungkin masih berada  dalam  satu  etnis.  Hubungan  kekerabatan  ini  bisa  menyebabkan  adanya  rasa  empati,  kebersamaan. Bisa juga mewujudkan rasa simpati, rasa berkewajiban, rasa percaya, resiprositas,  pengakuan timbal balik nilai kebudayaan yang mereka percaya. Rule of law, aturan main,  merupakan aturan atau kesepakatan bersama dalam masyarakat, bentuk aturan ini bisa formal  melalui sanksi yang jelas seperti aturan Undang‐Undang.  

Kedua, Bridging Social Capital bisa berupa  Institusi maupun Mekanisme. Bridging social  capital (jembatan sosial) merupakan suatu ikatan sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai  macam karakteristik kelompoknya. Tipologi ini bisa muncul karena adanya berbagai macam  kelemahan yang ada disekitarnya sehingga mereka memutuskan untuk membangun suatu  kekuatan dari kelemahan yang ada. Stephen Aldidgre menggambarkannya sebagai pelumas  sosial,  yaitu  pelancar  dari  roda‐roda  penghambat  jalannya  modal  sosial  dalam  sebuah  komunitas. Wilayah kerjanya lebih luas dari pada bonding social capital. Dia bisa bekerja lintas  kelompok etnis, maupun kelompok kepentingan. Keanggotaannya lebih luas dan tidak hanya  berbasis pada kelompok tertentu. 

(21)

21 Ketiga, apa yang disebut dengan linking social capital, dalam tipe ini menunjukkan  hubungan  yang  terjadi  antara  kelompok‐kelompok  sosial  yang  berbeda.  Dalam  konteks  penelitian  ini,  mungkin  voluntary  group  tertentu  menjalin  kerjasama  dengan  pihak  atau  institusi yang lebih tinggi statusnya, baik secara kekuasaan formal, dan kedudukannya dalam  suatu masyarakat,  misalnya voluntary  group  bekerjasama dengan LSM maupun  lembaga  pemerintah untuk meningkatkan kapasitas dan daya tahan dari masyarakatnya. 

 

V. METODE PENGUMPULAN DATA 

  Penelitian ini dikategorikan penelitian studi kasus. Pendekatan yang digunakan adalah  pendekatan  kualitatif.  Studi  kasus  mempunyai  penekanan  terhadap  perhatian  ataupun  pertanyaan dalam suatu kasus tertentu yang tentunya dihubungkan dengan tujuan penelitian  dari peneliti tersebut. 

 Langkah‐langkah  penelitian  yang  akan  diterapkan  dalam  studi  kasus  tentang  Kerelawanan dan Perjuangan Perempuan Merebut Ruang Partisipasi (Studi kasus keterlibatan  perempuan dalam penanganan bencana di kabupaten Bantul, DIY, tahun 2006‐2007) 

 

1.   Pendekatan, Pengumpulan Data dan Analisis 

(22)

22   Permasalahan  dan  limitasi  data  kami  alami  akibat  tiadanya  kebijakan  pemerintah  mengenai peran perempuan dalam penanganan kebencanaan. Limitasi lain dapat berasal dari  keengganan narasumber terutama birokrasi untuk diwawancarai karena kesibukan mereka.  Namun hal ini kami siasati dengan cara cross‐check dan penggunaan sumber‐sumber data yang  dipunyai oleh sejumlah lembaga lainnya. 

2. Daerah Riset 

Pelaksanaan penelitian akan dilakukan di Kabupaten Bantul dengan pertimbangan: 

a. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang menderita kerusakan terbesar akibat gempa  yang menimpa DIY dan jateng. 

b. LSM Lokal dan Internasional yang bekerja dalam humanitarian aid terkonsentrasi di  kabupaten Bantul dibandingkan daerah lain. Selain itu ditemukan juga sejumlah LSM  perempuan yang melakukan kerja pengorganisasian komunitas pasca bencana. 

c. Banyak ditemukan fenomena kerelawanan perempuan  dan siasat‐siasat  perempuan  dalam menghadapi proses rekonstruksi yang tidak adil gender. 

3. Populasi dan sampel 

Target yang akan diteliti guna tercapainya pengumpulan data yang diharapkan adalah: 

a. Penyintas perempuan  

b. LSM Perempuan yang mempunyai program rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana  c. LSM internasional dan Sejumlah lembaga donor yang beroperasi di Jogja 

d. Pejabat dan staf Pemerintah Daerah di Kabupaten Bantul. 

      Penentuan besar sampel akan ditentukan atas dasar tercukupinya informasi dan data  yang dibutuhkan. 

 

(23)

23     Tulisan ini terdiri dari 5 bab. Bab 1 dan bab 5 merupakan bagian pendahuluan dan 

kesimpulan. Bab 1, pendahuluan berisi mengenai latar belakang masalah, permasalahan kunci, 

tujuan, kerangka teori, serta metode pengumpulan data. Bab 2 secara khusus ditujukan untuk 

mengulas mengenai system sosial bantul sebelum bencana. Profil umum Bantul serta system 

pemerintahannya ditujukan untuk memberi konteks pemahaman pada pembaca. Bab 2 ditutup 

dengan pengerucutan pembahasan mengenai perempuan dalam system sosial bantul sebelum 

bencana. Sub bab ini menjelaskan mengenai kerja dan aktivitas perempuan Bantul dalam ruang 

dan pembagian kerja yang terdiferensiasi berdasar gender dan seksual.  

    Bab 3 difokuskan untuk membahas dimensi gender dalam bencana gempa di Bantul. 

Bagaimana pengalaman perempuan ketika gempa serta bagaimana pengalaman perempuan 

beradaptasi dalam system sosial yang tengah mengalami guncangan akibat gempa diulas lebih 

lanjut  dalam  bab  ini.  Bab  ini  lebih  jauh  dikerucutkan  untuk  melihat  siasat  partisipasi 

perempuan untuk menembus kebekuan system sosial. Bab ini ditutup dengan analisa mengenai 

kerelawanan  perempuan  dalam  bencana  gempa.  Bab  4  secara  khusus  akan  membahas 

mengenai ragam ruang dimana perempuan berproses sebagai relawan. Bagian selanjutnya akan 

mengulas mengenai factor pendrong kerelawanan perempuan. Bagian kunci penelitian ini 

berada pada sub bab terakhir yang mengulas mengenai modal sosial dalam bencana. Bab 5 

merupakan penutup yang berisi kesimpulan‐kesimpulan dan refleksi dari penelitian ini.  

 

 

(24)

24

SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA

 

  Dalam banyak kajian tentang  perempuan, perbincangan  tentang sistem sosial atau  sebagian lebih sering menyebutnya sebagai konstruk sosial, adalah awal dari serangkaian  kajian tentang kondisi dan persoalan perempuan. Dalam sistem atau konstruksi sosial yang  berbeda, kondisi dan derajat kehidupan perempuan juga menampakkan potret yang berbeda.  Tentang ini, konsep sistem sosial membantu untuk melihat bagaimana interaksi antar banyak  pihak, pandangan dan juga nilai membentuk sebuah masyarakat. Loomis mengatakan bahwa  sistem sosial ini terbentuk dari interaksi yang terpola diantara unsur‐unsur pembentuknya. Hal  ini mengakibatkan interaksi diantara individu yang beragam, dimana relasi diantara satu sama  lain  secara  bersama‐sama  diorientasikan  kepada  pola  yang  terstruktur  serta  simbol  dan  harapan yang disepakati.20  

  Komunitas sebagai bagian dari sistem sosial, tidak cukup diartikan sebagian kesatuan  wilayah geografis saja namun juga diartikan sebagai kelompok dengan kesamaan kepentingan  atau fungsi yang melintasi batasan gegografis. Mc Neil memberi definisi terhadap organisasi  komunitas sebagai proses dimana orang dari komunitas tertentu, sebagai individu ataupun  sebagai  representasi  kelompok,  bergabung  bersama  untuk  menentukan  kebutuhan  bagi  kesejahteraan bersama, menyusun rencana untuk meraihnya, dan memobilisasi sumber daya  yang diperlukan.21 Lebih jauh, Murphy menyimpulkan bahwa organisasi komunitas memiliki 

dua pemaknaan, yaitu sebagai proses dan sebagai ruang. Sebagai proses,  organisasi komunitas  dibentuk oleh ketrampilan yang digunakan untuk mengkoordinasikan, mempromosikan, dan  menginterpretasikan  layanan sosial  dalam beragam bentuk. Sementara itu, sebagai ruang,  merupakan satu suprastruktur yang dibuat oleh pihak‐pihak yang memiliki tanggung‐jawab 

20

Loomis, Charles (1992), “Social Systems : Essays on Their Persistance and Change”, The Van Nostrand Series in Sociology, New Jersey

21

(25)

25

untuk  mengkoordinasi  dan  mempromosikan  kerja  dalam  beragam  organisasi  yang  menyediakan layanan bagi publik22.  

I. PROFIL UMUM BANTUL 

Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari 5 Kabupaten/Kota di Provinsi Daerah  Istimewa Yogyakarta. Posisinya terbilang cukup strategis karena berbatasan langsung dengan  semua  Kabupaten/Kota  lain  di  Provinsi  DIY.  Di  bagia  utara  berbatasan  dengan  Kota  Yogyakarta dan kabupaten Sleman. Bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul.  Bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Kulonprogo. Sedang bagian selatan berbatasan  langsung dengan samudera Indonesia.23  

Penduduk  Kabupaten  Bantul  tersebar  di  75  desa  yang  berada  di  17  kecamatan.  Kecamatan itu antara lain : Kecamatan Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong, Bambanglipuro,  Pandak,  Bantul,  Jetis,  Imogiri,  Dlingo,  Pleret,  Piyungan,  Banguntapan,  Sewon,  Kasihan,  Pajangan dan Sedayu. Bantul, sebelum kejadian gempa di pertengahan tahun 2004 mempunyai  penduduk 799.211 jiwa yang terdiri dari 391.296 laki‐laki dan 407.915 perempuan. Sedangkan  pada tahun 2006 pertambahan penduduknya mencapai angka 820.555 jiwa. Sex ratio dari  penduduk  perempuan  di  banding  laki‐laki  adalah  96,53. Artinya,  di  antara  100  laki‐laki  terdapat 96,53 perempuan. 

Pendapatan per kapita sebelum bencana mengalami kenaikan yang signifikan dari  tahun  ke  tahun, dengan  beban  tanggungan  dibawah 50%.    Meski  pendapatan  perkapita  mengalami peningkatan namun jumlah penduduk miskin tidak mengalami penurunan. Pada  tahun 2000 angka penduduk miskin sebesar 18% dari jumlah penduduk, sedangkan tahun 2001  mengalami kenaikan menjadi 26,02%. Sedangkan tahun 2002 agak turun menjadi 25,94%. 24  

22

Murphy, op.c it. , p. 29

23

Bantul Dalam Angka 2004, BPS Bantul.

(26)

26

Tingkat pendidikan penduduk sampai akhir tahun 2002 belum mengalami peningkatan  yang  berarti.  Masih  banyak  penduduk  yang  buta  huruf  dan  tidak  tamat  sekolah  dasar.  Akibatnya penyerapan dan pemahaman terhadap informasi cukup rendah. Tingkat pedidikan  perempuan di atas 10 tahun pada kelompok yang tidak/belum pernah sekolah mengalami  ketimpangan yang signifikan dibandingkan laki‐laki yakni 22, 82% sedangkan laki‐laki hanya  9,25%.  Sedangkan  untuk  kelompok  pendidikan  lainnya  seperti  tamat  SD,  SMP,  SMA,  akademi/PT, angka perempuan lebih rendah dibandingkan laki‐laki. Padahal kalai dilihat dari  struktur  penduduk  terlihat  bahwa  perempuan  lebih  banyak  daripada  laki‐laki.    Hal  ini  menunjukkan  masih  belum  optimalnya  pemberdayaan  perempuan,  terutama  di  bidang  pendidikan. 

Untuk mengimbangi jumlah penduduk dalam pelayanan kesehatan, Kabupaten Bantul  disangga  oleh  6  rumah sakit,  1  diantaranya Rumah  Sakit  Umum  Pemerintah, 5  lainnya  merupakan Rumah Sakit Swasta. Fasilitas kesehatan lain terdiri dari Puskesmas dan Klinik  kesehatan. Puskesmas berjumlah 26 buah, sedang sub puskesmas‐nya berjumlah 67 buah.  Klinik bersalin swasta hanya berjumlah 1, dengan klinik KB/Balai pengobatan berjumlah 21.  Untuk  mengoperasionalkan  pelayanan  kesehatan,  Kabupaten  Bantul  baru  mempunyai  55  dokter dan 34 dokter gigi.  

 

II. SISTEM PEMERINTAHAN 

(27)

27

Baru  misalnya,  mengalami  perubahan  setelah  keluarnya  UU  No.  5  tahun  1979  tentang  Pemerintahan  Desa.  Tak hanya  itu,  karena  perubahan  ini  seringkali  juga  diikuti dengan  penggabungan beberapa kampung atau desa menjadi satu kesatuan wilayah administratif,  bahkan terkadang tanpa melihat kesesuaian nilai dan pengikat yang sebelumnya sudah ada.  Dengan  keluarnya  regulasi  ini,  semua  bentuk  kepemerintahan  lokal  yang  ada  haruslah  berbentuk desa, sehingga nagari di Sumatera Barat, atau kampung di Kalimantan Barat dan  Lembang di Tana Toraja misalnya, diubah bentuknya menjadi desa.25 Contohnya, di Kabupaten 

Bantul paska keluarnya UU tentang Pemerintahan Desa dilakukan penghilangan konsep Rukun  Warga (RW) yang sebelumnya terdiri  dari  sejumlah  Rukun  Tetangga (RT). Beberapa  RT  kemudian  dilebur  dalam  kesatuan  Kring/Sub  Dusun  dengan  batasan  area  dan  kesatuan  anggota yang berbeda. Proses adaptasi sebagai kesatuan sosial yang baru itu memunculkan  sejumlah konflik manifes maupun laten diantara warga masyarakat dusun. Mengacu kepada  konsepsi McNeil di atas, intervensi negara yang menghasilkan ketegangan di dalam desa  menjadi tak terelakkan. 

Sebagaimana Kabupaten/Kota yang lain, bantul memiliki sistem pemerintahan yang  dipimpin oleh seorang bupati. Drs. Idham Samawi berhasil menduduki puncak pemerintahan  Bantul  untuk  masa  dua  periode.  Dalam  pandangan  banyak  pihak,  beliau  dipandang  mempunyai kedekatan emosional dan politis dengan keraton Jogjakarta. Dalam pemilihan  kepala daerah tahun 2005, kemenangan Idham Samawi untuk kedua kalinya ditengarai karena  kuatnya dukungan politik  dari Sri  Sultan  HB X yang selain  sebagai Gubernur DIY  juga  berposisi sebagai raja. Sehingga meskipun Idham Samawi harus berhadapan dengan salah satu  keluarga  kerajaan  dalam  persaingan  menuju  Bantul  satu,  Idham  Samawi  tetap  berhasil  mempertahankan tahta sebagai Incumbent. 

Sebagai sosok pemimpin, Idham dikenal sebagai pemimpin yang mengembangkan gaya  kultural. Dia tidak segan untuk pergi mengunjungi warganya yang meminta kehadirannya 

25

Lebih lanjut baca R. Yando Zakaria (2004), “Merebut Negara : Beberapa Catatan Reflektif tentang

Upaya-Upaya Pengakuan, Pengembalian dan Pemulihan Otonomi Desa”, KARSA-Lappera Pustaka

(28)

28

dalam  acara‐acara  warga,  terlebih  apabila  di  dusun  tersebut  di  dampingi  oleh  LSM.  Implikasinya, dia dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat meski juga secara tak  langsung menuntut kepatuhan dan kontrol ketat atas rakyatnya. Sebagaimana dikuatkan oleh  Unang Shio Peking, Ketua Forum LSM DIY. 

”Dari  sisi  akomodasi  terhadap aspirasi masyarakat  banyak  tebang  pilih,  tidak semua  bisa  diakomodasi kepentingannya dengan baik. Kalau mau ketemu dengan bupati kalau bukan tokoh  LSM ya yang antri lama. Selain itu asal pertemuannya gegap gempita, disambut warga dengan  luar biasa ya dia pasti datang.” 

 

Pemerintahan  Bantul  terkenal  dengan  kebijakan  populis  sekaligus  penuh  nuansa  popularitas. Kebijakan itu antara lain program beasiswa paska sarjana bagi guru dan program  babonisasi.  Program  babonisasi  ini  meskipun  dinyatakan  sebagai  catatan  keberhasilan  pemerintah Bantul, namun juga menunjukkan minimnya kontrol masyarakat atas pelaksanaan  program. Program babonisasi dilaksanakan di seluruh SD di kabupaten Bantul, sejak pertama  kali  direalisasikan  sambutan  dari  masyarakat  sangat  antusias.    Partisipasi  dari  warga  masyarakat  yang  begitu  besar,  dengan  adanya  17  Kecamatan  di  kabupaten  Bantul,  13  diantaranya setuju  dengan adanya  program babonisasi.  Akan tetapi wujud  dari  program  babonisasi masih bersifat semu, masyarakat tidak dilibatkan secara penuh terhadap proses  implementasi program ini. Masyarakat tidak mempunyai kontrol terhadap program, salah satu  contohnya masyarakat tidak bisa menghentikan atau mengundurkan pelaksanaan program  yang saat itu bersamaan  dengan wabah penyakit flu burung26. 

Kebijakan mengenai perempuan merupakan kebijakan yang selalu kontroversial. Yakni,  kebijakan anggaran PKK yang mencapai 4 Milyar pada masa menjelang pemilihan kepala  daerah secara langsung. Dari sisi anggaran sekilas tampak sebagai kebijakan yang berpihak  pada perempuan, namun dari sisi implementasinya banyak pihak yang meragukan. Menurut 

26

Dwi Setiawan, Rio (2005), “Implementasi Program Peningkatan gizi anak (Babonisasi) di Kecamatan

(29)

29

penuturan Wasingatu Zakiyah, pengurus IDEA, tidak ada daerah selain Bantul yang memiliki  anggaran PKK hingga 4 Milyar.  Karena meskipun  kepala pemeritahannya akan berganti,  namun ketua PKK masih tetap ibu Bupati Idham Samawi. Sehingga kebijakan ini menjadi  rentan nuansa politisnya sebagai sarana mobilisasi dukungan pemilih perempuan melalui PKK.  

Selain itu perempuan masih mengalami pengandangan melalui perda inkonstitusional,  yakni perda pelarangan pelacuran. Sekilas tampaknya perda tersebut mempunyai maksud  baik, namun secara substansial bermaksud untuk mendisiplinkan tubuh perempuan sekaligus  partisipasi perempuan di ruang publik. Meski perda ini baru disahkan secara mendadak pada  tahun 2007, namun sudah sejak lama adagium Bantul yang beragama dan religios selalu  digunakan sebagai klaim yang melegitimasi pemerintah untuk menundukkan masyarakat. 

 

III. PEREMPUAN DALAM SISTEM SOSIAL BANTUL 

  Posisi perempuan dalam sistem sosial Bantul berada dalam ruang dan pembagian kerja  yang terdiferensiasi secara seksual/gender. Ruang perempuan di Bantul terkategorisasi dalam 3  kategori  kerja  perempuan  yang  terdiri  dari:27  Pertama,  kerja  produktif  yang  menjelaskan 

aktivitas  untuk memproduksi barang  dan jasa untuk konsumsi dan perdagangan. Petani,  pengrajin, buruh pabrik ataupun pedagang, baik menjadi pekerja atau menjadi wirausaha,  adalah contoh dari aktivitas produktif. Biasanya, bila orang ditanya apa pekerjaannya, jawaban  atas pertanyaan tersebut lah yang menjelaskan kerja produktif. Walaupun saat ini laki‐laki dan  perempuan  sama‐sama  terlibat  dalam  kerja  produktif,  fungsi  dan  tanggung‐jawab  akan  berbeda  mengacu  kepada  pembagian  kerja  berbasis  gender.  Dalam  banyak  kasus,  kerja  produktif perempuan sering dianggap bernilai lebih rendah dan sekaligus sering tidak tampak. 

Kedua, adalah kerja reproduktif yang terkait dengan perawatan dan menjaga rumah tangga dan  seluruh anggotanya. Menjaga anak, membersihkan rumah, menyediakan air bersih hingga 

27

(30)

30

menjaga kesehatan keluarga adalah deretan aktivitas reproduktif yang sebetulnya sangatlah  krusial  dalam  menjaga  keberlangsungan  kehidupan,  walaupun  seringkali  tidak  dianggap  sebagai ’kerja’ dalam pengertian ekonomi. Padahal, sebetulnya kerja ini sangat bernilai dan  sekaligus  memakan  waktu  yang  tidak  sedikit,  dan  kebanyakan  menjadi  tanggung‐jawab  perempuan. Ketiga, adalah kerja komunitas. Kerja ini melibatkan organisasi kolektif dalam  kegiatan  sosial  maupun  juga  pelayanan  dan  politik.  Upacara,  musyawarah,  aktivitas  pengembangan msyarakat, keikutsertaan dalam kelompok, dan aktivitas politik lokal adalah  bagian dari kerja ini. Biasanya, kerja ini merupakan aktivitas yang bersifat sukarela, dan sangat  berperan penting dalam menjaga pengembangan budaya dan spiritual komunitas dan juga  menjadi mesin penting dalam organisasi dan pertahanan komunitas. Laki‐laki dan perempuan  biasanya sama‐sama terlibat, walaupun pembagian kerja dan peran berbasis gender sangat  nampak di sini. Bagian berikut menunjukkan bagaimana pembagian kerja berbasis gender  dalam konteks  Jawa:  

d.1.  Aktivitas Domestik  

  Seperti di banyak masyarakat, peran domestik menjadi tanggung‐jawab perempuan.  Satu studi berikut, yang dilakukan di empat komunitas, baik di desa dan di kota di Jawa  Tengah dan Jawa Timur menunjukkan pola pembagian peran di dalam rumah tangga.  

Tabel 

Persen Perempuan yang Mengaku Bertanggung‐jawab terhadap Kerja Domestik 28

Tugas  Jumlah (Persen) 

Memasak  78.4 

Membersihkan rumah  49.9 

28

(31)

31

Membersihkan halaman  47.1 

Merawat anak  53.4 

Mencuci pakaian   56.8 

Mereparasi rumah  1.4 

Mengelola keuangan rumah tangga  71.3 

 

Nampak bahwa selain tugas perbaikan rumah, hampir semua tanggung‐jawab kerja di level  rumah adalah di pundak perempuan, baik dilakukan sendiri ataupun dengan mempekerjakan  PRT.   Walau begitu, untuk konteks perempuan pedesaan di Bantul, walaupun ada satu dua  keluarga yang mempekerjakan PRT, secara umum hampir semua kerja di atas dilakukan  sendiri oleh perempuan. 

  Dan panjangnya deret pekerjaan reproduktif yang dikerjakan dan menjadi tanggung‐ jawab perempuan ini juga terjadi di banyak tempat dan juga negara. Dan ini berkorelasi dengan  banyaknya waktu yang dihabiskan oleh perempuan untuk mengerjakannya. Selain itu secara  umum, perempuan menjadi pihak yang bertanggung‐jawab terhadap pekerjaan rumah, bahkan  biarpun mereka bekerja di luar rumah29. Dalam kajian feminis, double burden ini menjadi salah 

satu  persoalan  perempuan  yang  utama  dan  membuat  rendahnya  kesejahteraan  hidup  perempuan.   

  Tetapi, besarnya tenaga, pikiran dan sekaligus waktu yang dicurahkan perempuan bagi  kerja  reproduktif  seringkali  menjadi  tidak  nampak,  tidak  dihitung  dan  sekaligus  tidak  dianggap penting. Tentang ini, Pigou mengatakan :   

29

(32)

32 ...”Sebagai  ibu  rumah tangga,  mereka tidak  akan  didaftarkan sebagai  penghasil  upah dan  demikian tidak akan diperhitungkan dalam statistik nasional. Mereka menjadi perempuan yang  tidak nampak. Mereka tidak dianggap sebagai orang yang bekerja atau sebagai penghasil nafkah  dan dengan demikian dianggap tak produktif. Ini justru disebabkan kerja rumah tangga bukan  merupakan kerja upahan, dengan demikian tidak diakui sebagai kerja30. 

 

Dan  sebagai  implikasinya,  ketiadaan  penghargaan  bagi  kerja  reproduktif  yang  dilakukan perempuan,   membuat mereka menjadi kelas yang terpinggir dan sekaligus tidak  berdaya.  Hal  ini  juga  sekaligus  membuat  perempuan  tidak  memiliki  mekanisme  untuk  memperjuangkan kebutuhan dan kepentingannya.31  

d.2. Aktivitas Ekonomi  

  Berbeda dengan profil perempuan priyayi pada masa kolonial, perempuan‐perempuan  di kelas bawah yang hidup di perkotaan, justru menunjukkan kondisi yang lebih berdaya dan  lebih independen.32 Ini nampak dari profil perempuan kelas bawah (kawula) yang sejak dahulu 

juga memainkan peran penting bagi perekonomian keluarga, bahkan walaupun dalam kultur  Jawa, laki‐laki adalah pencari nafkah utama. Bagaimana dengan kondisi saat ini? Potretnya tak  jauh berbeda. Namun di sini, muncul pertanyaan tentang apakah korelasi antara kontribusi  dengan relasi yang terbangun di tingkat keluarga. Sangat dimungkinkan,   biarpun mereka  sangatlah berkontribusi untuk pendapatan dan ekonomi keluarga, peran mereka sering tidak  terlihat. Bentuk yang lain adalah bahwa besarnya kontribusi ini tidak selalu diiringi dengan  besarnya  kuasa  dalam  mekanisme  pengambilan  keputusan  –terutama  keputusan  strategis  terkait dengan aktivitas bisnis – bahkan di tingkat sekecil rumah tangga sekalipun.  

  Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Molo di salah satu desa di Jatinom, Klaten,33 

penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  salah  satu  faktor  yang  terkait  dengan  pengambilan 

30

AC Pigou, dalam Hong, 1984 : 6, sebagaimana ditulis dalam Saptari, Ratna & Holzner, Brigitte (1997), ”Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial : Sebuah Pengantar Studi Perempuan”, Grafiti - Kalyanamitra. , h. 15

31

Fatimah, Dati (2007), “Kalkulasi Ekonomi Kerja Domestik”, Kompas, 9 April.

32

Lihat Dzuhayatin (2002), op.cit.

33

Molo, Marcelinus (1992), “Women’s Role, Resources dan Decision Making in Rural Java : A Case

(33)

33

keputusan di level keluarga terkait dengan kepemilikan asset, utamanya adalah rumah dan  tanah pertanian. Walau begitu, ada banyak hal yang mempengaruhi relasi dan pengambilan  keputusan di tingkat rumah tangga. Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi yang egaliter  lebih nampak dalam keputusan di level domestik, daripada di level pertanian. Keterlibatan  perempuan dalam level pertanian nampak ketika terkait dengan pengendalian pendapatan dari  sektor ini. Relasi ini juga dipengaruhi oleh status, dimana dalam kelas menengah dan bawah,  perempuan secara umum lebih berdaya daripada perempuan di kelas atas. Pada perempuan di  level bawah dan menengah, pendapatan yang dihasilkan perempuan sangatlah berkontribusi  bagi pendapatan keluarga, dan ini meningkatkan power perempuan. Secara umum, studi ini  menunjukkan bahwa kuasa perempuan dalam proses pengambilan keputusan sangatlah terkait  dengan akses dan kontrol terhadap sumber daya, dan pendapatan individu adalah salah satu  sumber kuasa tersebut.  

  Jenis pekerjaan di Bantul yang didominasi perempuan adalah bidang penjualan dan  produksi. Kedua bidang tersebut merupakan bidang yang bisa dikerjakan secara fleksibel oleh  perempuan karena tidak terikat oleh hubungan kerja. Faktor‐faktor yang menjadi penimbang  dalam pemilihan pekerjaan ternyata sangatlah terkait dengan peran gender yang ada. Pilihan‐ pilihan pekerjaan bagi perempuan, biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal, dan salah satu  yang utama adalah persoalan pengasuhan dan perawatan anak.34 Perawatan anak merupakan 

salah satu faktor yang mempengaruhi sehingga banyak perempuan memilih bekerja di rumah,  walaupun  waktu  perempuan  untuk  mengurus  anak  sudah  jauh  lebih  berkurang  karena  menurunnya jumlah rerata anak dalam keluarga sebagai salah satu faktornya.  

d.3. Aktivitas Sosial  

  Pengaruh norma  dan ideology  patriarki  mempengaruhi kondisi perempuan dalam  segala aktivitas yang dijalankannya baik dalam aktivitas domestic, ekonomi maupun sosial.  Dalam kegiatan pembangunan yang dicanangkan pemerintah‐secara eksplisit maupun implisit‐ 

34

(34)

34

menguatkan asumsi pemisahan peranan (dus, ruang) laki‐laki dan perempuan.35 Perkumpulan 

formil  yang  sarat  dengan  kepemimpinan  ditetapkan  sebagai  urusan  laki‐laki.  Sedangkan  urusan perempuan dibatasi pada kegiatan yang menjurus pada bidang “reproduksi,”semisal  keluarga berencana, pendidikan gizi dan kesehatan, PKK dan lain sebagainya sebagaimana  tampak dalam tabel di bawah ini. 

      Women’s Participation in Community Activities, 1997 

Aktivitas komunitas  Total (persen) 

Dasawisma  23.2 

PKK  64.2 

Apsari/PKB  1.8 

UPGK/Posyandu  26.2 

Arisan  78.1 

Religious activities  50.2 

Other  3.3 

Number of cases  931 

Tabel aktivitas perempuan di atas secara umum masih sesuai dengan aktivitas perempuan di  Bantul, meski memang tidak diperoleh data resmi yang lebih detil untuk menjelaskan aktivitas  perempuan. Dalam buku Profil Kesehatan Bantul ditunjukkan bahwa program perbaikan gizi  merupakan program yang secara kuat digerakkan melalui sinergi Dinas Kesehatan dengan 

35

Baca Benjamin White dan Endang Lestari Hastuti “Subordinasi Tersembunyi, Pengaruh Pria dan

Wanita dalam kegiatan Rumah tangga dan masayarakat di 2 desa di Jawa Barat”. Laporan Agro

(35)

35

perempuan kader kesehatan, Yandu dan PKK di kabupaten Bantul. Program perbaikan gizi  tersebut antara lain: 1. Upaya perbaikan gizi keluarga (UPKG), 2. Penanggulangan kurang  energi protein, 3. Penanggulangan anemia gizi, 4. Penanggulangan kurang vitamin A,   5.  Penaggulangan  GAKY,  6.  Upaya  perbaikan  gizi  intitusi  (UPGI),    7.  Penyuluhan  gizi  masyarakat,  8. Sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SPKG).   

 

 

 

 

(36)

36  

BAB III

UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA

 

I. MEMBACA GENDER DALAM  BENCANA GEMPA DI BANTUL 

..”Waktu gempa, saya sedang sakit. Tapi saya beruntung karena masih sempat lari walau  terhuyung‐huyung. Waktu sampai pintu, gerendel pintu tak bisa dibuka padahal rumah sudah  hampir roboh.. Saya melihat sekeliling, dan akhirnya saya melompat keluar melalui jendela.  Walau saya tidak bisa bangun karena tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi saya baru dibawa ke  rumah sakit pada hari berikutnya, karena tak ada mobil yang tersedia...” 

Bu Wa rsina h, Na ng sri, Sriha rdo no

   

  Dalam situasi kepanikan ketika gempa mengguncang, tak sedikit orang yang tidak  sempat  menyelamatkan  diri  dari  reruntuhan  bangunan.  Bu  Warsinah  beruntung,  karena  walaupun  ia  sakit  tertimpa  reruntuhan  bangunan,  ia  dengan  sigap  segera  berlari  menyelamatkan diri keluar dari rumah. Lain misalnya dengan pengalaman Mbak Tari, seorang  diffabel yang tinggal di kawasan Ganjuran ‐ Bambanglipuro, yang bahkan dibangunkan oleh  gempa dan tak sempat menyelamatkan diri. Ia yang biasanya berjalan dengan alat bantu kruk,  tak kuasa lagi mencari kruk dan menyelamatkan diri keluar dari bangunan, dan akhirnya  pasrah dikubur oleh reruntuhan bangunan rumah. Tapi walau begitu, ia masih jauh lebih  beruntung daripada ribuan orang yang lain yang meninggal ketika gempa terjadi.  

(37)

37

lain dibenarkan oleh Bu Riwanti   yang sempat membawa tetangganya ke rumah sakit, yaitu  seorang perempuan paruh baya yang akhirnya tidak tertolong jiwanya.  

  Sayangnya, sebagaimana juga dalam sistem informasi kebencanaan di Indonesia secara  umum, dalam kasus gempa kali ini juga tidak terdapat data pilah korban berdasar jenis kelamin  dan kelompok usia. Ketiadaan ini mengindikasikan masih kuatnya pemahaman yang dipegang  kalangan hazard‐centered yang memandang bahwa bencana menimpa siapa saja dan tanpa  pandang bulu. Walau begitu, ilustrasi di beberapa sudut Bantul memberikan gambaran yang  kuat tentang dimensi gender dalam kerentanan dan juga jumlah korban gempa. Di Kadisoro,  sebagaimana  juga  di  Nangsri,  mayoritas  korban  adalah  lansia,  anak  dan  sebagian  besar  diantaranya  adalah  perempuan.  Konstruksi  bangunan yang  sering tidak  memprioritaskan  ruang‐ruang  perempuan  seperti  dapur,  berkorelasi  dengan  banyaknya  perempuan  yang  menjadi korban karena gempa bersamaan waktunya dengan aktivitas reproduktif memasak  yang dilakukan perempuan.  

  Tak hanya aspek kerentanan secara fisik yang menguatkan dimensi gender dalam  bencana. Sebagaimana fokus kajian para feminis terhadap kerentanan sosial dalam situasi  bencana, gambaran yang ada menunjukkan penanda yang jelas akan kuatnya persoalan ini. Isu  peminggiran  kepentingan  kelompok  marjinal,  dan  ketidakterlibatan  mereka  dalam  pengambilan  keputusan  kepengelolaan  bencana,  nampak  dari  banyak  kasus.  Kebutuhan  perempuan lansia seperti jarik‐kain dengan fungsi sejenis rok yang dikenakan perempuan  lansia, minyak angin, kutang jawa yang luput dari bantuan dan digantikan dengan BH, adalah  beberapa contoh pengabaian kebutuhan perempuan lansia dalam situasi bencana. Begitu juga  dengan kebutuhan pernak‐pernik dapur seperti bawang merah dan bawang putih, garam,  minyak  goreng  dan  peralatan  memasak  yang  terlupakan  dalam  daftar  bantuan  juga  menguatkan dampak gempa bagi perempuan36. Ilustrasi yang lain nampak dari penuturan 

Mbak Rus, seorang diffabel berikut ini :  

36

(38)

38 ...Sejak  gempa,  saya  mengungsi  ke  rumah  orang  tua  di  kota  Jogjakarta.  Saya  sendiri  sebetulnya merupakan warga kota jogja meski warung saya  ada di Bantul. Maka, walaupun  warung saya ikut rusak karena terkena gempa, saya tidak mendapat bantuan apapun dari  pemerintah. Mungkin karena saya luput dari pendataan di Bantul, dan begitu juga di kota,  saya juga tidak pernah tahu prosesnya dan tidak mendapat bantuan. Dagangan saya yang  tersisapun ikut habis untuk membiayai hidup selama mengungsi di rumah orang tua.... 

 

  Terlewatnya kelompok rentan dalam pendataan dan distribusi bantuan bisa terjadi  dimanapun, dan begitu juga di Bantul ketika gempa terjadi. Dalam situasi kerentanan secara  fisik yang dihadapi perempuan dan juga kelompok rentan yang lain, peminggiran dalam arena  sosial  dan juga  politik  sebagaimana  nampak  dalam  penuturan  di  atas,  menjadi  semakin  menguatkan beban derita yang mereka rasakan. Pada 27 Mei 2006 pagi, gempa yang melanda  memang sama‐sama dirasakan dan juga sama‐sama sebesar 5.9 SR. Tetapi, perbedaan posisi,  akses dan juga ruang membuat dampaknya tidak dirasakan secara sama dan identik oleh  kelompok gender yang berbeda.  

 

II. SISTEM SOSIAL BANTUL DALAM GUNCANGAN GEMPA 

Bencana, sebagaimana juga tekanan dari pihak eksternal, adalah ujian ketangguhan bagi  sistem sosial di dalam masyarakat. Mengacu kepada Murphy, dari aspek proses, bencana  menjadi konteks yang melatarbelakangi dan mempengaruhi proses koordinasi, promosi dan  interpretasi layanan sosial dalam beragam bentuk. Apakah ketika bencana, layanan sosial bisa  terkoordinasi  dan  dipahami  dengan  baik  oleh  banyak  pihak  atau  tidak,  akan  sangat  menentukan ketangguhan sistem sosial yang ada. Sementara itu, dari aspek ruang, bencana  menguji apakah suprastruktur yang dibentuk bisa bekerja dalam mengkoordinasikan kerja  layanan bagi publik37. Jawaban atas ini akan menjadi penanda apakah ujian berupa situasi 

abnormal yang bernama bencana bisa terlewati oleh sistem sosial yang ada. Dalam studi ini, 

37

Referensi

Dokumen terkait

Selain berkurangnya ketakutan akan hal yang tidak nyata, penulis juga berharap karakter tersebut dapat menjadi media hiburan dalam hal horor karena di Indonesia masih sangat

Sesuai dengan uji coba pengubahan biodata dosen di atas diperoleh data dosen dalam sebuah relasi yang secara logika bisa dibagi menjadi daftar baris terhapus, daftar

nama user atau password maka akan muncul menu seperti dibawah.

Dukungan Sosial Keluarga pada Perempuan Korban KDRT (Studi Kualitatif di Wilayah Kerja Pusat Pelayanan Terpadu Kabupaten Jember); Atyanty Rizky Nurendra; 092110101114; 2013;

Dengan naiknya investasi permintaan pembiayaan pada bank syariah juga akan meningkat, dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap rasio keuangan bank tetapi bila

Berdasarkan permasalahan, maka tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui strategi yang dilakukan guru dalam menerapkan pembelajaran nyanyian Kakor Lalong pada siswa

Nekrosis Pencegahan dapat dilakukan dengan penggantian air sebanyak- banyaknya ditambah perlakuan TON (Tambak Organik Natural) 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang

Dalam penelitian tersebut telah berhasil dibangun sebuah sistem pakar yang disebut FELINE untuk membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit anemia pada