• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Agronomi Dasar Budiday

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Agronomi Dasar Budiday"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM AGRONOMI DASAR

“Pengaruh Perbedaan dosis Pupuk Nitrogen terhadap Pertumbuhan dan

Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Talenta)”

Dosen Pengampu:

Dr. Ir. Arifah Rahayu, M.Si

Oleh:

Muhammad Hifniy Aziziy

A.1511055

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS DJUANDA

BOGOR

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas Berkah dan

Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan praktikum mata kuliah agronomi dasar beserta

laporannya. Laporan ini penulis buat dengan semaksimal mungkin berdasarkan

hasil dan data praktikum di lapangan.

Praktikum mata kuliah agronomi dasar merupakan praktikum yang

membantu mahasiswa dalam memperoleh ilmu dasar teknik budidaya pertanian.

Praktikan diberi kesempatan untuk mempraktikkan budidaya Jagung Manis di

lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda. Laporan ini dibuat

sebagai persyaratan dari mata kuliah agronomi dasar dan juga sebagai bukti telah

dilakukannya praktikum ini.

Terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada Allah SWT serta

para dosen dan asisten yang memfasilitasi penulis dengan bahan dan informasi.

Terakhir, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang saling

mendukung dan orang tua di rumah yang turut mendoakan agar semuanya

berlangsung dengan baik.

Bogor, Januari 2017

(3)

DAFTAR ISI

2.1 Asal-usul Tanaman Jagung ... 4

2.2 Botani Jagung ... 4

2.2.1 Morfologi ... 4

2.2.2 Klasifikasi... 5

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung ... 6

(4)

3.5.1 Tinggi Tanaman ... 11

3.5.2 Lingkar Batang Tanaman ... 11

3.5.3 Jumlah Daun... 12

3.5.4 Pascapanen ... 12

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13

4.1 Hasil ... 13

4.1.1 Tinggi Tanaman ... 13

4.1.2 Lingkar Batang Tanaman ... 14

4.1.3 Jumlah Daun... 14

4.1.4 Bobot Tongkol... 15

4.1.5 Panjang Tongkol ... 16

4.1.6 Lingkar Tongkol... 16

4.1.7 Jumlah Biji ... 17

4.2 Pembahasan ... 18

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN... 21

5.1 Kesimpulan... 21

5.2 Saran... 21

DAFTAR PUSTAKA ... 22

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan sejatinya adalah kebutuhan pokok manusia untuk bertahan hidup.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hal pangan, manusia melakukan

budidaya tanaman khususnya tanaman pertanian. Hal tersebut telah dilakukan oleh

manusia sejak 7.000-10.000 tahun yang lalu yaitu pada zaman Neolitik. Padi

merupakan salah satu tanaman budidaya dan juga merupakan makanan pokok

hampir semua orang terutama bagi orang Asia. Selain padi, jagung, kedelai,

gandum dan umbi-umbian juga merupakan makanan pokok.

Produktivitas dalam budidaya tanaman merupakan hal penting dalam

budidaya tanaman pertanian. Produktivitas merupakan suatu hal yang sangat

berpengaruh dalam usaha pertanian, dimana pada masa sekarang ini semakin

ditantang untuk mengimbangi tuntutan sosial ekonomi masyarakat suatu bangsa.

Meningkatkan jumlah penduduk menyebabkan permintaan akan kebutuhan

hasil-hasil pertanian baik jenis, jumlah maupun kualitasnya.

Disisi lain lahan untuk pertanian semakin terbatas karena alih fungsi lahan

yang masih produktif menjadi tempat pemukiman, industri, sarana jalan serta

sarana fisik lainnya. Sehingga, hanya menyisakan lahan yang kurang produktif

seperti kekurangan air, ketersediaan unsur hara yang sedikit serta pH yang tidak

netral. Padi sangat sulit ditanam di tempat yang kekurangan air, untuk itu, dalam

kondisi seperti ini harus ada alternatif tanaman pangan yang ditanam selain padi,

salah satunya adalah jagung.

Jagung sebagai tanaman pangan, menduduki urutan kedua setelah padi. Di

samping itu juga mempunyai peranan yang tidak kalah pentingnya dengan padi,

karena jagung merupakan salah satu jenis bahan makanan yang banyak

(6)

Indonesia sangat mendukung dikembangkannya komoditi jagung, Sebab jagung

memiliki potensi yang cukup baik untuk dibudidayakan dan mudah diusahakan.

Konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat, karena itu peluang pemasaran

jagung masih terbuka lebar (Arif Ardiawan, 2008).

Tanaman Jagung toleran terhadap dataran tinggi maupun rendah. Tanaman

jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan

di luar daerah tersebut. Tanaman jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan

yang ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah, bahkan pada kondisi tanah

yang kurang air, tidak seperti padi yang harus ditanam di lahan basah. Karena itu,

jagung merupakan alternatif pangan yang cocok untuk menggantikan padi.

Tetapi dalam kondisi saat ini dimana lahan produktif semakin terbatas,

yang ada hanya lahan yang kurang produktif salah satunya adalah lahan tersebut

minim unsur hara, bagaimana caranya agar dapat menghasilkan produksi yang

tinggi secara berkelanjutan. Salah satunya yaitu pemberian pupuk dengan dosis

yang tepat.

Pupuk utama tanaman jagung manis adalah nitrogen, fosfor, dan kalium.

Nitrogen (N) digunakan untuk pertumbuhan jaringan tanaman. Gejala kekurangan

N pada tanaman jagung manis muda adalah daun berwarna kuning, pada tanaman

dewasa adalah daun menguning dari ujung daun ke arah tulang daun,

perkembangan akar dan tunas muda terhambat. Gejala kelebihan N adalah warna

daun hijau tua, tajuk terlalu rimbun, mudah terserang penyakit, dan persentase

tongkol terbuka lebih banyak. Nitrogen biasanya dalam bentuk pupuk urea yang

mengandung 45% N. Perlu dilakukan penelitian mengenai dosis pupuk nitrogen

yang tepat agar produksi tanaman jagung menjadi lebih optimal.

1.2 Tujuan

Tujuan dilaksanakannya praktikum mata kuliah agronomi dasar adalah

untuk memahami cara membudidayakan tanaman, khususnya jagung. Serta

mengetahui dosis pupuk nitrogen yang tepat dalam budidaya tanaman jagung untuk

(7)

1.3 Hipotesis

Perbedaan dosis pupuk nitrogen yang diberikan dalam budidaya tanaman

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asal-usul Tanaman Jagung

Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan satu jenis tanaman pangan

biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman

pangan yang penting, selain gandum dan padi. Tanaman jagung berasal dari

Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang Eropa ke

Amerika. Jagung disebarkan ke Asia termasuk Indonesia pada abad ke-16 oleh

orang Portugal (Mulyadi, 2011).

2.2 Botani Jagung

2.2.1 Morfologi

Akar adventif yaitu akar yang tumbuh relatif dangkal dengan

percabangan yang amat lebat, yang berfungsi menyerap hara dari dalam tanah

untuk tanaman. Akar layang yaitu akar penyokong yang berfungsi sebagai

topangan untuk tumbuh tegak serta membantu penyerapan unsur hara dalam

tanah. Akar layang ini tumbuh di atas permukaan tanah, tumbuh rapat pada

buku-buku dasar dan tidak bercabang sebelum masuk ke tanah (Rubatzky dan

Yamaguchi, 1998).

Batang jagung tidak bercabang, berbentuk silinder, dan terdiri dari

beberapa ruas dan buku ruas. Tunas bakal tongkol akan tumbuh pada buku ruas.

Tinggi batang jagung berbeda-beda tergantung varietas dan tempat penanaman,

biasanya berkisar 60 – 300 cm (Purwono dan Hartono, 2006). Daun tanaman

jagung berbentuk pita memanjang, mempunyai ibu tulang daun yang terletak

tepat di tengah-tengah daun dengan bentuk tulang daun sejajar. Tangkai daun

merupakan pelepah yang berfungsi untuk membungkus batang tanaman

jagung. Daun pada tanaman jagung mempunyai peranan penting dalam

(9)

Jumlah daun jagung rata-rata berkisar antara 10-18 helai, rata-rata

munculnya daun yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman

jagung di daerah iklim sedang jumlah daunnya lebih sedikit dibandingkan

dengan daerah tropis. (Suprapto dan Marzuki, 2002).

Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoceous) karena bunga

jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina (tongkol)

muncul dari axillary apical tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik

tumbuh apikal diujung tanaman. Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari

saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Hampir 95 % dari persariannya

berasal dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5 % yang berasal dari serbuk

sari tanaman sendiri. Karena itu disebut juga tanaman bersari bebas (cross

pollinated crop) (Sunarti et al, 2009).

Buah jagung terdiri atas tongkol, biji, dan daun pembungkus (kelobot).

Biji jagung mempunyai bentuk, warna dan kandungan endosperm yang

berbeda, tergantung pada varietasnya. Pada umumnya, biji jagung tersusun

dalam barisan yang melekat secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah

antara 8 – 20 baris biji. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kulit biji

(seedcoat), endosperm dan embrio (Rukmana, 2009).

2.2.2 Klasifikasi

Menurut Rukmana (1997), klasifikasi tanaman jagung adalah sebagai

(10)

Genus : Zea

Spesies : Zea mays L.

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung

Tanaman jagung dapat tumbuh pada ketinggian 50 – 1800 mdpl. Tetapi

jagung akan tumbuh optimal pada ketinggian 50 – 600 mdpl. Untuk berproduksi

secara optimal, jagung membutuhkan tanah yang gembur, subur dan kaya akan

unsur hara, aerasi dan drainase baik, kaya akan bahan organik dengan tingkat

keasaman tanah (pH) berkisar antara 5,6 – 7,5 (Redaksi Ciptawidiya Swara, 2008).

Jagung menginginkan tanah yang subur untuk dapat berproduksi dengan

baik. Karena tanaman jagung membutuhkan unsur hara terutama nitrogen (N),

fosfor (P) dan kalium (K) yang banyak. Sedangkan pada umumnya tanah di

Indonesia memiliki unsur hara sedikit serta kandungan bahan organiknya rendah,

maka penambahan pupuk N, P dan K serta pupuk organik (kompos maupun pupuk

kandang) sangat diperlukan (Murni dan Arif, 2008).

Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah. Yang lebih disukai

adalah tanah liat karena mampu menahan lengas yang lebih tinggi. Tanaman jagung

peka terhadap tanah masam, dan tumbuh baik pada kisaran pH antara 6 – 6,8 dan

masih cukup toleran terhadap kondisi basa. Kelengasan yang tinggi sangat

diperlukan oleh tanaman jagung yaitu berkisar antara 500-700 mm per musim.

Cekaman kelengasan paling kritis terjadi selama pembentukan rambut dan

pengisian biji. Kekurangan air dalam waktu singkat masih dapat ditoleransi dan

pengaruhnya terhadap perkembangan biji masih sangat minim. Tetapi jika

kekurangan air yang dalam jangka waktu panjang setelah penyerbukan dapat secara

nyata menurunkan bobot kering biji. Pada kondisi tersebut, sebagian penyokong

pertumbuhan biji dilakukan oleh mobilisasi asimilat yang peka terhadap drainase

tanah yang jelek dan tidak tahan genangan (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Curah hujan yang diinginkan untuk tumbuh adalah antara 1000 - 2500

mm/tahun, atau sekitar 85 – 200 mm/bulan, dengan kondisi penyinaran matahari

(11)

pertumbuhan yang optimal tanaman jagung menghendaki suhu antara 23 – 27 0C

(Redaksi Ciptawidiya, 2008).

Tanaman jagung memerlukan air sekitar 100-140 mm/bulan. Karenanya,

pada saat penanaman harus memperhatikan curah hujan dan penyebarannya.

Penanaman dilakukan bila curah hujan sudah mencapai 100 mm/bulan. Untuk

mengetahui ini perlu dilakukan pengamatan curah hujan dan pola distribusinya

selama 10 tahun ke belakang supaya waktu tanam dapat diperhitungkan dengan

baik dan tepat (Murni dan Arif, 2008).

2.4 Pupuk Nitrogen

Pupuk adalah salah satu sumber zat hara buatan yang digunakan agar

kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogen , fosfor, dan kalium pada

tanaman dapat terpenuhi. Sedangkan unsur sulfur, kalsium, magnesium, besi,

tembaga, seng, dan boron merupakan unsur-unsur yang diperlukan dalam jumlah

sedikit (mikronutrien).

Nitrogen (N) adalah salah satu unsur hara utama dalam tanah yang sangat

berperan dalam merangsang pertumbuhan dan memberi warna hijau pada daun. Jika

kandungan nitrogen dalam tanah kurang maka pertumbuhan dan perkembangan

tanaman menjadi terganggu dan hasil tanaman menurun karena pembentukan

klorofil yang sangat penting untuk proses fotosintetis juga ikut terganggu. Kadar N

relatif tinggi terdapat di lahan gambut, namun sebagiannya masih dalam bentuk

Organik sehingga harus dilakukan proses mineralisasi terlebih dahulu agar dapat

diserap tanaman.

Pupuk nitrogen mengandung hara tanaman N. Bentuk senyawa N umumnya

berupa nitrat, amonium, amin, sianida. Contoh: Amonium fosfat [(NH4)3PO4],

kalium nitrat (KNO3), kalsium sianida (CaCN2) dan urea (NH2CONH2). Pupuk N

ada beberapa bentuk yaitu prill, kristal, tablet, pellet dan cair.

Nitrogen adalah unsur yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman.

Nitrogen merupakan bagian dari protein, bagian penting konstituen dari

(12)

Nitrogen juga hadir sebagai bagian dari nukleoprotein, amina, asam amino,

polipeptida, asam gula dan senyawa organik dalam tumbuhan. Untuk menyiapkan

makanan untuk tanaman, maka diperlukan klorofil, energi sinar matahari untuk

membentuk karbohidrat dan lemak dari C air dan senyawa nitrogen.

Adapun peranan N yang lain bagi tanaman yaitu berperan dalam

pertumbuhan vegetatif tanaman, menentukan panjang umur tanaman, memberikan

warna pada tanaman, penggunaan karbohidrat, dan lain-lain. Kekurangan salah satu

atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu

seperti adanya kelainan atau penyimpangan-penyimpangan dan banyak pula

tanaman yang mati muda, dimana gejala sebelumnya ialah tanaman tampak layu

dan mengering.

Adapun gejala yang ditimbulkan akibat dari kekurangan dan kelebihan

unsur N bagi tanaman adalah sebagai berikut:

1. Efek kekurangan unsur N bagi tanaman yaitu Warna daun menguning,

produksi menurun, pertumbuhan kerdil, fase pertumbuhan terhenti, dan bisa

menyebabkan kematian.

2. Efek dari kelebihan unsur N bagi tanaman yaitu daun menjadi terlalu lebat,

kualitas buah menurun, menyebabkan rasa pahit (seperti pada buah timun),

produksi menurun dan pertumbuhan vegetatif yang cepat serta

(13)

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum berlangsung tanggal 29 September – 22 Desember 2016,

bertempat di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda, Kampung

Tipar, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu cangkul, garpu, ajir, cangkul

kecil, tugal, tali, meteran kain, timbangan dan alat tulis.

Bahan yang digunakan yaitu benih jagung manis (Zea mays saccharata

Talenta), pupuk kandang, urea, KCL, SP-36, furadan.

3.3 Metode

Praktikum ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Dosis pupuk

nitrogen yang diberikan terdiri dari 6 taraf yaitu, N0 (0 kg/ha), N1 (75 kg/ha), N2

(150 kg/ha), N3 (225 kg/ha), N4 (300 kg/ha), N5 (375 kg/ha), N6 (450 kg/ha).

Pemberian pupuk nitrogen dilakukan tiga kali secara bertahap dengan dosis 1/3

dari dosis perlakuan yaitu pada saat penanaman, pada saat tanaman berumur 3 MST

dan pada saat tanaman berumur 5 MST.

Jumlah praktikkan adalah 50 orang. Setiap praktikkan mendapatkan satu

petak bedengan yang berukuran 4 x 1,5 m, dengan jumlah lubang tanam sebanyak

28. Dari 28 tanaman nantinya hanya akan dipilih 10 tanaman untuk sampel

pengamatan. Sehingga dalam praktikum ini terdapat 500 satuan amatan.

Satu petak bedengan diberikan satu perlakuan, maka antara satu praktikkan

dengan praktikkan lainnya berbeda perlakuan terhadap petak bedengan miliknya.

(14)

sebanyak 6 orang, N2 sebanyak 10 orang, N3 sebanyak 6 orang, N4 sebanyak 8

orang, N5 sebanyak 4 orang dan N6 sebanyak 10 orang.

3.4 Pelaksanaan Percobaan

3.4.1 Persiapan Lahan

Lahan yang akan ditanami dibersihkan terlebih dahulu dari gulma dan akar

bekas tanaman. Kemudian tanah diolah dengan cara dibajak sedalam 30-40 cm, lalu

dibuat bedengan dengan lebar 75-150 cm dan tinggi 15-20 cm. Untuk panjang

bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan. Jarak antar bedengan yaitu 50 cm.

Kemudian, tanah bedengan dihaluskan dan diratakan.

Tahap selanjutnya yaitu pembuatan lubang tanam. Untuk membuat lubang

tanam, digunakan tali agar lubang yang dibuat menjadi lurus. Jarak antar lubang

yaitu 25 cm. Dalam satu bedengan dibuat dua baris lubang tanam dengan jarak antar

baris 75 cm dan jarak dari baris ke tepi bedengan sekitar 10 cm. Selanjutnya

membuat lubang tanam menggunakan tugal berkisar 2-5 cm, kemudian setiap

lubang diberi tanda menggunakan ajir. Kemudian diberikan pupuk kandang 1-2 kg

per lubang tanam. Selanjutnya lahan dibiarkan selama satu sampai dua minggu

sebelum tanam.

3.4.2 Penanaman

Penanaman dilakukan satu minggu setelah penyiapan lahan. Ada 28 lubang

dalam satu petak bedengan. Satu lubang tanam diisi dengan dua benih jagung

manis, dan diberikan sejumput furadan. Kemudian lubang ditutup dengan sedikit

tanah. Jika lubang ditutup dengan tanah yang terlalu banyak, maka akan

menyebabkan tunas sulit untuk muncul ke permukaan tanah.

3.4.3 Pemupukan

Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penanaman benih, yaitu SP-36

dengan dosis 200 kg/ha, KCL dengan dosis 100 kg/ha, dan pupuk nitrogen sesuai

perlakuan. Pemupukan dilakukan dengan cara menugal tanah di antara baris

(15)

untuk pupuk nitrogen tidak diberikan secara sekaligus saat penanaman melainkan

diberikan tiga kali secara bertahap dengan dosis 1/3 dari dosis perlakuan.

3.4.4 Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman dan penyiangan gulma.

Penyulaman dilakukan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh atau

pertumbuhannya abnormal dengan benih baru. Penyulaman dilakukan 1 minggu

setelah tanam.

Penyiangan gulma secara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh di

sekitar tanaman. Tujuan penyiangan yaitu untuk menghindari persaingan antara

gulma dengan tanaman budidaya. Penyiangan dilakukan seminggu sekali.

3.4.5 Panen

Panen dilakukan jika telah terlihat tongkol atau kelobot jagung yang mulai

mengering, yang ditandai dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.

3.5 Parameter Pengamatan

Pengamatan dimulai pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam.

Dengan memilih 10 tanaman sampel yang akan diamati selama praktikum.

Parameter pengamatan pada praktikum ini yaitu:

3.5.1 Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi dari

tanaman jagung dengan menggunakan meteran. Pengukuran tinggi tanaman

dilakukan setiap minggu, dimulai pada saat tanaman berumur 2 MST sampai

muncul bunga jantan.

3.5.2 Lingkar Batang Tanaman

Pengukuran lingkar batang yaitu pada pangkal batang tanaman, tepat di atas

akar tanaman jagung yang berada di atas permukaan tanah dengan menggunakan

meteran kain. Waktu pengukuran dilakukan setiap minggu, dimulai pada saat

(16)

3.5.3 Jumlah Daun

Jumlah daun dihitung pada setiap tanaman sampel dengan kriteria daun

yang masih utuh dan dua helai daun paling bawah tidak masuk ke dalam

penghitungan. Penghitungan jumlah daun dilakukan setiap minggu, dimulai pada

saat tanaman berumur 2 MST sampai muncul bunga jantan.

3.5.4 Pascapanen

Pengamatan terakhir yaitu panen. Peubah yang diamati saat panen yaitu

umur tanaman pada saat panen, bobot tongkol berkelobot dan tidak berkelobot,

panjang tongkol berkelobot dan tidak berkelobot, lingkar tongkol berkelobot dan

tidak berkelobot serta jumlah biji. Pengamatan ini dilakukan pada semua tanaman

(17)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Data hasil pada laporan praktikum ini merupakan hasil rata-rata tanaman

sampel dari setiap ulangan perlakuan. Dikarenakan pembagian perlakuan dilakukan

secara acak, sehingga jumlah ulangan antara perlakuan yang satu dengan yang

lainnya tidak sama. Maka data pembagi rata-rata yang diambil dari setiap perlakuan

mengacu pada perlakuan dengan ulangan paling sedikit yaitu pada perlakuan N5

sebanyak 4 orang. Sehingga data yang diolah dari setiap perlakuan sebanyak 4

ulangan. Ini bertujuan agar hasil rata-rata setiap perlakuan berimbang.

4.1.1 Tinggi Tanaman

Data rata-rata tinggi tanaman pada setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

dapat dilihat pada Tabel 1.

N0 47,695 65,6375 90,415 119,79 150,2925

N1 49,9825 69,6 85,51 131,5 168,775

N2 55,5375 80,7875 112,7 154,45 188,575

N3 48,865 75,1 109,9 145,7825 176,7273

N4 52,0525 81,64 116,95 160,1075 199,12

N5 45,2875 71,385 101,675 143,72 180,125

(18)

4.1.2 Lingkar Batang Tanaman

Data rata-rata lingkar batang tanaman pada setiap perlakuan dosis pupuk

nitrogen dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Lingkar Batang Tanaman (cm) pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen

Lingkar Batang Tanaman Perlakuan

3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST

N0 2,7475 4,7625 6,045 6,8875 7,2225

N1 3,6625 4,64 5,8625 7,02 7,5275

N2 3,155 5,3875 7,19 8,0125 8,5025

N3 3,3825 4,72 6,7425 7,49 8,520078

N4 3,9325 5,47 8,0175 8,7725 9,6825

N5 2,7675 4,7125 6,6 7,9875 8,24125

N6 3,9625 6,2975 8,3175 8,88 9,085

4.1.3 Jumlah Daun

Data rata-rata jumlah daun pada setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen dapat

(19)

Tabel 3. Rata-rata Jumlah Daun pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen

Jumlah Daun Perlakuan

3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST

N0 3,225 4,45 5,7 6,975 9,175

N1 3,625 4,75 6,075 8,075 9

N2 3,225 5,125 7,15 8 9,225

N3 4,5 6,4 8,45 9,125 9,738281

N4 4,2 6,425 7,825 8,375 9,3

N5 4,2 6 7,8225 7,925 9,025

N6 4,125 6,325 8,525 10 11,2

4.1.4 Bobot Tongkol

Data rata-rata bobot tongkol pada setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata Bobot Tongkol (g) pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen

Bobot Tongkol Perlakuan

Berkelobot Non Kelobot

N0 260,8325 205,75

N1 321 238,75

N2 279,3125 207,375

(20)

4.1.5 Panjang Tongkol

Data rata-rata panjang tongkol pada setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata Panjang Tongkol (cm) pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen

Panjang Tongkol Perlakuan

Berkelobot Non Kelobot

N0 27,6775 19,385

N1 28,575 19,09875

N2 29,40571429 19,92083333

N3 28,475 21,725

N4 28,725 21,1

N5 27,7625 19,715

N6 29,80625 21,18888889

4.1.6 Lingkar Tongkol

N4 375,8611111 290,7166667

N5 326,6666667 242

(21)

Data rata-rata lingkar tongkol pada setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Lingkar Tongkol (cm) pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen

Lingkar Tongkol Jagung Perlakuan

Berkelobot Non Kelobot

N0 17,15857143 15,64357143

N1 20,29964286 15,92

N2 18,475 16,4875

N3 18,95 16,49166667

N4 18,64625 16,7625

N5 18,1325 15,87472222

N6 19,41527778 16,57916667

4.1.7 Jumlah Biji Jagung

Data rata-rata jumlah biji jagung pada setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

dapat dilihat pada Tabel 7.

(22)

Perlakuan Jumlah Biji Jagung

Dari data hasil yang dianalisis secara statistik bahwa perbedaan dosis pupuk

nitrogen pada setiap parameter pengamatan ada yang berbeda nyata dan ada yang

tidak berbeda nyata.

Parameter pengamatan terdiri dari dua indikator yaitu prapanen dan

pascapanen. Untuk menentukan hasil terbaik parameter pengamatan prapanen tidak

dirata-ratakan pada setiap MST, tetapi hanya dilakukan pada saat tanaman berusia

7 MST atau pada fase reproduktif. Sedangkan untuk pascapanen, penghitungan

dilakukan pada saat panen.

Pada parameter tinggi tanaman, setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil yang tertinggi diperoleh pada

perlakuan N6 (450 kg/ha) dengan rata-rata tinggi tanaman 205,725 cm dan hasil

terendah diperoleh pada perlakuan N0 (0 kg/ha) dengan rata-rata tinggi tanaman

150,2925 cm.

Pada parameter lingkar batang tanaman, setiap perlakuan dosis pupuk

nitrogen memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Hasil tertinggi diperoleh

pada perlakuan N4 (300 kg/ha) dengan hasil rata-rata 9,6825 cm dan hasil terendah

(23)

Pada parameter jumlah daun, setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Hasil tertinggi diperoleh pada

perlakuan N6 (450 kg/ha) dengan rata-rata jumlah daun 11,2 helai. Hasil terendah

diperoleh pada perlakuan N1 (75 kg/ha) dengan rata-rata jumlah daun 9 helai.

Pada parameter bobot tongkol, setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil tertinggi bobot tongkol berkelobot

diperoleh pada perlakuan N6 (450 kg/ha) dengan bobot rata-rata 398,375 gram.

Hasil terendah bobot tongkol berkelobot diperoleh pada perlakuan N0 (0 kg/ha)

dengan bobot rata-rata 260,8325 gram. Sedangkan hasil tertinggi bobot tongkol non

kelobot diperoleh pada perlakuan N4 (300 kg/ha) dengan bobot rata-rata

290,7166667 gram. Hasil terendah bobot tongkol non kelobot diperoleh pada

perlakuan N0 (0 kg/ha) dengan bobot rata-rata 205,75 gram.

Pada parameter panjang tongkol, setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Hasil tertinggi panjang tongkol

berkelobot diperoleh pada perlakuan N6 (450 kg/ha) dengan rata-rata panjang

29,80625 cm. Hasil terendah panjang tongkol berkelobot diperoleh pada perlakuan

N0 (0 kg/ha) dengan rata-rata panjang 27,6775 cm. Sedangkan hasil tertinggi untuk

panjang tongkol non kelobot diperoleh pada perlakuan N3 (225 kg/ha) 21,725 cm.

Hasil terendah panjang tongkol non kelobot diperoleh pada perlakuan N1 (75 kg/ha)

dengan panjang rata-rata 19,09875 cm.

Pada parameter lingkar tongkol, setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Hasil tertinggi lingkar tongkol

berkelobot diperoleh pada perlakuan N1 (75 kg/ha) dengan lingkar rata-rata

20,29964286 cm. Hasil terendah panjang tongkol berkelobot diperoleh pada

perlakuan N0 (0 kg/ha) dengan lingkar rata-rata 17,15857143 cm. Sedangkan untuk

hasil tertinggi lingkar tongkol non kelobot diperoleh pada perlakuan N4 (300 kg/ha)

dengan rata-rata lingkar 16,7625 cm. Hasil terendah lingkar tongkol non kelobot

(24)

Pada parameter jumlah biji jagung, setiap perlakuan dosis pupuk nitrogen

memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Hasil tertinggi diperoleh pada

perlakuan N6 (450 kg/ha) dengan rata-rata jumlah biji jagung sebanyak

558,8194444 butir. Hasil terendah diperoleh pada perlakuan N2 (150 kg/ha) dengan

rata-rata jumlah biji jagung sebanyak 421,275 butir.

Pertumbuhan dan produksi tanaman terbaik diperoleh pada perlakuan N6

dengan dosis pupuk nitrogen 450 kg/ha. Hal ini berbeda dengan apa yang telah

dinyatakan oleh Suprapto (2001) bahwasanya dosis pupuk urea yang tepat untuk

diaplikasikan pada tanaman jagung manis adalah 300 kg/ha. Ketidaksesuaian ini

bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti teknik pemupukan yang kurang tepat

yang bisa membuat pupuk menjadi menguap ataupun tercuci oleh air hujan, juga

bisa disebabkan oleh sedikitnya jumlah mikroorganisme penghasil zat pengatur

tumbuh (ZPT) dalam tanah, serta bisa juga disebabkan karena kekurangan air pada

saat pembelahan sel. Sedangkan pertumbuhan dan produksi tanaman terendah

(25)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum ini dapat ditarik kesimpulan yaitu:

1. Pupuk nitrogen berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan bobot

tongkol, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap lingkar batang tanaman,

jumlah daun, panjang tongkol, lingkar tongkol dan jumlah biji.

2. Pertumbuhan dan produksi tanaman terbaik diperoleh pada perlakuan N6

dengan dosis pupuk nitrogen 450 kg/ha. Sedangkan pertumbuhan dan

produksi tanaman terendah diperoleh pada perlakuan N0 dengan dosis

pupuk nitrogen 0 kg/ha.

5.2 Saran

Dari hasil praktikum ini, disarankan menggunakan pupuk nitrogen dengan

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Akil,M., dan H.A. Dahlan., 2009. Budidaya jagung dan Diseminasi Teknologi. Balai Penelitian Tanaman Serelia. Maros.

Hartono, Rudi. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.

Lingga, P. dan Marsono. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.

Nugroho, A.,Syamsulbahri., D. Hariyono., A. Soegainto dan Hanitin. 2000. Upaya meningkatkan hasil jagung manis melalui pemberian kompos azolla dan pupuk N. Agrivita 22: 11-17.

Prahasta, Arief. 2009. Agribisnis Jagung. Jakarta: Pustaka Grafika.

Purwono. 2005. Biologi Interaktif. Surabaya: Azka Press.

Rukmana, R., 2009. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Jakarta.

Sartini. 2015. Mengenal Pupuk Nitrogen dan Fungsinya Bagi Tanaman. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru.

Sukoco,Y.,Reintjes. Havertkort, dan Woker. 1992. Pertanian Masa Depan. Yogyakarta: Kamisus.

(27)

Suryan. 2003. Urea dan Trace Nutrient Fertilizer (TNF) Mempengaruhi

Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis. Medan: Universitas Sumatera Utara.

LAMPIRAN

Lampiran 1: Gambar tanaman jagung manis prapanen

(28)

(d) 4 MST (e) 5 MST

(29)

Lampiran 2: Gambar tanaman jagung manis pascapanen

(h) Tongkol Berkelobot

Gambar

Tabel 2. Rata-rata Lingkar Batang Tanaman (cm) pada berbagai  perlakuan dosis pupuk nitrogen
Tabel 3. Rata-rata Jumlah Daun pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen
Tabel 5. Rata-rata Panjang Tongkol (cm) pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen
Tabel 6. Rata-rata Lingkar Tongkol (cm) pada berbagai perlakuan dosis pupuk nitrogen

Referensi

Dokumen terkait

kuan dosis pupuk N serta interaksi antara perlakuan dosis. pupuk N dan K tidak berbeda nyata terhadap jumlah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman pada minggu kedua, jumlah daun pada minggu

Pemberian dosis pupuk NPK pada semua perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap parameter yang diamati yaitu jumlah daun, jumlah anak cabang, jumlah bunga, jumlah

Perlakuan dosis pupuk kandang kambing memberikan pengaruh nyata pada beberapa parameter pengamatan pertumbuhan, yaitu luas daun, jumlah bunga, jumlah polong total, jumlah polong

Pada perlakuan dosis pupuk nitrogen menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata perlakuan dosis pupuk nitrogen terhadap seluruh variabel pengamatan pertumbuhan

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi dosis pupuk nitrogen dan kompos jerami memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap rata-rata jumlah

Perlakuan kombinasi pada bagian dosis pupuk phonska pada dua varietas semangka New Dragon dan Quality menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap parameter jumlah

Pemberian dosis pupuk NPK pada semua perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap parameter yang diamati yaitu jumlah daun, jumlah anak cabang, jumlah bunga, jumlah