DIVERSIFIKASI PINUS MERKUSII UNTUK KONSERVASI LAHAN KRITIS DI DATARAN TINGGI DIENG
Karya Tulis Ilmiah
dalam Rangka Mengikuti KONFERENSI ILMUWAN MUDA INDONESIA (KIMI), MIPA UNTUK NEGERI 2011
DIBUAT OLEH :
Efrinda Ari Ayuningtyas (08/272817/GE/6543) Henky Nugraha (08/267253/GE/6439)
PROGRAM STUDI GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN
JURUSAN GEOGRAFI LINGKUNGAN
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
DIVERSIFICATION OF PINUS MERKUSII FOR CRITICAL LAND CONSERVATION IN DIENG PLATEAU
Karya Tulis Ilmiah
dalam Rangka Mengikuti KONFERENSI ILMUWAN MUDA INDONESIA (KIMI), MIPA UNTUK NEGERI 2011
DIBUAT OLEH :
Efrinda Ari Ayuningtyas (08/272817/GE/6543) Henky Nugraha (08/267253/GE/6439)
PROGRAM STUDI GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN
JURUSAN GEOGRAFI LINGKUNGAN
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
ii KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah azza wa jalla yang telah memberkan kita banyak sekali kenikmatan yang tidak dapat dihitung lagi jumlahnya. Tak lupa juga shalawat serta salam semoga selalu tercurah ke junjungan kita Nabi Muhammad shallalahu alaihi wa sallam yang telah membimbing kita dan menunjukkan jalan yang terang dan akhirnya penyusunan karya ilmiah yang berjudul “Diversifikasi Pinus merkusii Untuk Konservasi Lahan Kritis Di Dataran Tinggi Dieng” ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.
Laporan ini disusun dalam upaya berpartisipasi dalam mengikuti KONFERENSI ILMUWAN MUDA INDONESIA (KIMI) yang diselenggarakan oleh Fakultas MIPA Universitas Indonesia dalam rangkaian acara “MIPA UNTUK NEGERI”. Dalam kesempatan ini penulis penyusun menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak memberikan banyak bantuan dan berkontribusi dalam penyusunan karya tulis ini. Secara khusus penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Kedua orang tua penyusun, yang telah memberikan dukungan moril dan spirituil selama penyusunan karya ini. Semoga apa yang mereka lakukan selalu mendapat ridhoNya.
2. Dr. Eko Haryono M.Si, Ketua Jurusan Geografi Lingkungan akan dorongannya kepada penulis untuk terus maju.
3. Dr. Danang Sri Hadmoko, M.Sc. sebagai dosen pembimbing dalam penyusunan karya tulis ini.
4. Teman-teman Geografi Lingkungan 2008. Atas dorongan dan dukungannya yang terus memotivasi penyusun untuk terus berkarya. 5. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian penyusunan karya ilmiah
ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini sehingga penulis berharap masukan, saran maupun kritik yang sifatnya membangun guna penyempurnaan penulisan laporan pada kesempatan yang akan datang.
iii DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Daftar Tabel, Gambar dan Lampiran iv
Abstrak v
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Penelitian 2
1.4 Manfaat Penelitian 2
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Konsep Degradasi Lahan 3
2.2 Pinus merkusii 4
2.3 Pertanaman Lorong/alley cropping 4 BAB III Metode Penulisan
3.1 Metode Penulisan 5
3.2 Kerangka Analisis 5
3.3 Sistematika Penulisan 6
BAB IV Pembahasan
4.1 Pembahasan 7
4.2 Kesimpulan, Saran, dan Rekomendasi 9
iv DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1.Kerangka Analisis 5
DAFTAR LAMPIRAN
v DIVERSIFICATION OF PINUS MERKUSII FOR CRITICAL LAND CONSERVATION IN
DIENG PLATEAU
Efrinda Ari Ayuningtyas1, Henky Nugraha2
1
,Students of Geography and Environmental Sciences, eph.efrinda @gmail.com
2
,Students of Geography and Environmental Sciences, [email protected] Faculty of Geography, Gadjah Mada University
Abstract
Dieng Plateau is one of the volcanic landforms located in Wonosobo and Banjarnegara regency, Central Java. Fertile soil into the economic potential for local residents. The climate conditions support the agricultural sector to develop. Conditions of relatively steep slopes and rugged lead limitations are suitable for cultivating plants. In fact, the potatoes crop becomes a top priority to developing the agricultural sector compared to rice. In addition, the characteristic of the land in Dieng is suitable for planting potatoes. Potatoes are basically type of plants that do not require much water. Dieng with high rainfall conditions up to>3000 mm/year results on farmers applying with cut contour cropping pattern in order to stay in production of potatoes. This is done to reduce excessive water infiltration that can rot the potato.
Utilization of sloping land without an adequate soil and water conservation techniques will causes nutrient lost, destruct soil structure, increase runoff and erosion, decrease soil productivity, increase flood in rainy and drought in dry season. In Dieng, land conditions are far from ideal conditions is as a function of protected areas with a very thin topsoil with the magnitude of erosion rate= 463,86 tons/ha/yr, and Erosion Danger Level 48,32 tons/ha/yr. The increase of erosion, landslides, sedimentation, and decrease soil fertility result in land productivity, carrying capacity and environmental quality decrease.
The purpose of this study is to provide land degradation control in Dieng Plateau. Critical land in Dieng requires full attention to restore its productivity due to erosion. The erosion hazard reduction can be done by conservation. The species is suggested to be cultivated is Pinus Merkusii. The principle of alley cropping using pinus merkusii plants can be used as a solution for tackling land degradation in Dieng. Pine planted with contour parallel pattern, while the potato crop remains on the cutting pattern contours.
This type of conservation is expected to reduce erosion caused by surface runoff without having to change the potato plants pattern. Pine is capable of storing large amounts of water because a large evapotranspiration will not disturb the soil moisture for the potatoes crops, so productivity is relatively stable. Conservation using Pinus Merkusii can effectively reduce erosion, maintain hydrological functions and not interfere with crop production. In addition, P. Merkusii not only becomes the conservation plant but also the pinesap can be an economic value. The most important thing of the conservation are the land can be managed properly, can run the economic activity and environmental conditions remain stable. Use this method is expected to cope land degradation occurring in the Dieng plateau without harming the community.
vi DIVERSIFIKASI PINUS MERKUSII UNTUK KONSERVASI LAHAN KRITIS
DI DATARAN TINGGI DIENG
Efrinda Ari Ayuningtyas1, Henky Nugraha2
1,
Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu bentuklahan asal proses volkanik yang terletak di kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Tanahnya yang subur menjadi potensi ekonomis bagi penduduk setempat. Kondisi iklimnya yang sejuk mendukung sektor pertanian untuk berkembang. Kondisi lereng yang relatif curam dan terjal menyebabkan keterbatasan jenis tanaman yang cocok dibudidayakan. Kenyataannya, tanaman kentang menjadi prioritas utama untuk mengembangkan sektor pertanian dibandingkan padi. Selain itu, jenis dan sifat tanah di Dieng sangat cocok untuk ditanami kentang.Kentang pada dasarnya merupakan jenis tanaman yang tidak banyak membutuhkan air. Dieng dengan kondisi curah hujan yang tinggi hingga mencapai > 3000 mm/tahun mengakibatkan para petani menerapkan pola tanam yang memotong kontur agar tetap berproduksi kentang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resapan air yang berlebihan yang dapat membusukkan kentang.
Pemanfaatan lahan dengan kemiringan besar tanpa memperhatikan teknik-teknik konservasi tanah dan air menyebabkan kehilangan unsur hara, rusaknya struktur tanah, meningkatnya aliran permukaan dan erosi.Di Dieng kondisi lahannya sudah jauh dari kondisi idealyaitu sebagai kawasan fungsi lindung dengan lapisan olah yang sangat tipis denganbesarnya laju erosi = 463,86 ton/ha/th, dan TBE 48,32 ton/ha/th.Peningkatan erosi, tanah longsor, sedimentasi, dan penurunan kesuburan tanah mengakibatkan penurunan produktivitas lahan, daya dukung serta kualitas lingkungan hidup.
Tujuan dari studi ini adalah memberikan upaya penanggulangan degradasi lahan di Dataran Tinggi Dieng. Lahan kritis di Dieng memerlukan perhatian penuh untuk mengembalikan produktivitasnya akibat erosi. Pengurangan tingkat bahaya erosi dapat dilakukan dengan cara konservasi. Jenis tanaman yang disarankan untuk dibudidayakan adalah pinus merkusii. Prinsip alley cropping menggunakan tanaman pinus merkusii dapat dijadikan solusi untuk menanggulangi degradasi lahan di dieng. Pinus ditanam dengan pola sejajar kontur, sedangkan tanaman kentang tetap pada polanya yaitu memotong kontur.
Jenis konservasi ini diharapkan dapat mengurangi erosi akibat limpasan permukaan tanpa harus mengubah jenis tanaman kentang. Pinus yang mampu menyimpan air dalam jumlah besar karena evapotranspirasinya yang besar tidak akan mengganggu kelembaban air bagi tanaman kentang, sehingga produktivitas relatif stabil. Upaya konservasi menggunakan tanaman pinus merkusii dapat secara efektif mengurangi erosi, menjaga fungsi hidrologi dan tidak mengganggu produksi tanaman .Selain itu, getah pinus dapat bernilai ekonomis di samping produksi kentang. Hal terpenting dari konservasi adalah lahan dapat dikelola dengan baik, aktivitas ekonomi dapat berjalan dan kondisi lingkungan tetap lestari. Penggunaan metode ini diharapkan mampu menanggulangi degradasi lahan yang terjadi di dataran tinggi dieng tanpa merugikan masyarakat.
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dataran Tinggi Dieng secara geomorfologi merupakan bentuklahan asal proses volkanik yang meliputi sebagian Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah. Bentuklahan volkanik menyisakan berbagai keuntungan bagi penduduk setempat antara lain material piroklastik menjadi bahan utama pembentukan tanah yang subur. Selain itu, kondisi iklim seperti temperatur udara yang dingin dan sejuk mendukung berkembangnya sistem pertanian di daerah ini. Dengan demikian, mata pencaharian dominan di Dieng adalah petani dengan budidaya monokultur kentang sebagai komoditas utama.
Sistem pertanian monokultur kentang yang diterapkan di topografi miring hingga terjal dan dikembangkan dengan pola memotong kontur menyebabkan air hujan yang jatuh ke permukaan segera menjadi limpasan permukaan (overland flow) dan sedikit yang terinfiltrasi ke dalam tanah. Pola demikian memberikan dampak buruk bagi lahan yaitu meningkatnya erosi alur dan parit. Menurut Sutapraja (1999) dalam Widiastuti (2008), faktor utama yang menyebabkan terjadinya erosi antara lain pengolahan lahan yang sangat intensif tanpa memperhatikan kaidah konservasi disertai curah hujan tinggi, sehingga mempercepat terjadinya erosi pada lahan tersebut. Kondisi lahan Dieng sudah jauh dari idealyaitu sebagai kawasan fungsi lindung dengan lapisan olah yang sangat tipis dan besarnya laju erosi = 463,86 ton/ha/th, serta TBE 48,32 ton/ha/th (Andriana, 2007).Peningkatan erosi, tanah longsor, sedimentasi, dan penurunan kesuburan tanah mengakibatkan penurunan produktivitas lahan dan kualitas lingkungan hidup.
Penanggulangan degradasi lahan di Dieng dengan reboisasi memang sudah banyak diaplikasikan di beberapa titik tempat. Namun, teknik konservasi wanatani menjadi alternatif baru yang belum pernah dicoba dan dinilai memberikan dampak positif bagi lahan kritis di Dieng untuk jangka waktu panjang. Penanaman Pinus merkusii yang memiliki banyak kelebihan dengan pola tanam yang sejajar kontur
2
stabil.Penggunaan metode ini diharapkan mampu menanggulangi degradasi lahan yang terjadi di dataran tinggi Dieng tanpa merugikan masyarakat.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan lingkungan di kawasan lindung Dataran Tinggi Dieng dengan perumusan masalah :
1) Bagaimana penerapan teknik konservasi wanatani alley cropping menggunakan Pinus merkusii dapat dilakukan di Dataran Tinggi Dieng ?
2) Bagaimana pengaruh teknik konservasi wanatani alley cropping Pinus merkusii terhadap penganggulangan degradasi lahan di Dataran Tinggi Dieng.
1.3Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah :
1) Mengetahui kondisi kritis dan degradasi lahan di Dataran Tinggi Dieng.
2) Menjelaskan teknik konservasi alley cropping Pinus merkusii dalam upaya pengelolaan lingkungan lahan kritis di Dataran Tinggi Dieng.
3) Menjelaskan pengaruh teknik konservasi alley cropping Pinus merkusii terhadap penanggulangan degradasi lahan di Dataran Tinggi Dieng.
1.4Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini di antaranya adalah untuk :
1) Secara teoritis, penulisan ini dapat menjadi referensi terkait pengelolaan lingkungan di Dataran Tinggi Dieng yang sudah kritis dengan tingkat degradasi lahan yang tinggi, dengan menggunakan teknik konservasi alley cropping melalui reboisasi Pinus merkusii.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Konsep Degradasi Lahan
Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan yang sebenarnya memiliki fungsi lindung dan juga resapan air. Perambahan hutan dari tahun ke tahun terus terjadi akibat semakin bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan penduduk akan lahan juga meningkat. Namun karena adanya pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi maka potensi degradasi lahan semakin meningkat.
Arsyad (2010) menyebutkan bahwa degradasi lahan adalah menurunnya kualitas lahan akibat hilangnya unsur hara dan bahan organik pada tanah, penjenuhan oleh air, salinisasi, dan erosi. Degradasi lahan yang terus menerus akan mengakibatkan munculnya lahan kritis. Lahan kritis merupakan dampak dari degradasi lahan sehingga mengakibatkan proses kerusakan fisik,kimia dan biologi lahan karena tidak sesuai penggunaan dan kemampuannya, yangakhirnya membahayakan fungsi hidrologis, orologis, produksi pertanian,pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi dan daerah lingkungan pengaruhnya.
Curah hujan yang tinggi akan meningkatkan energi kinetik hujan sehingga mengakibatkan tingginya laju erosi, penurunan produktivitas lahan terutama pada budidaya yang dilakukan tanpa memperhatikan kaidah konservasi. Cara penggunaan lahan pada lereng curam berupa kegiatan-kegiatan usaha tani pangan semusim/kentang yang dilakukan masyarakat tanpa memperhatikan konservasi lahan menyebabkan degradasi lahan berjalan intensif (Mulyani, 2005 dalam Widiastuti, 2008).
Erosi memiliki dampak yang sangat beragam baik secara langsung maupun tidak langsung seperti merosotnya produktifitas tanah pada lahan yang tererosi, disertai merosotnya daya dukung serta kualitas lingkungan hidup berakibat pada pemiskinan petani penggarap atau pemilik tanah; sungai,waduk dan saluran irigasi/drainase di daerah hilir menjadi dangkal sehingga daya dan masa guna berkurang; secara tidak langsungyaitu timbulnya dorongan membabat hutan mengakibatkan terjadinya banjir yang kronis pada setiap musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau serta dapat menghilangkan fungsi tanah sehingga perlu penyediaan dana yang besar untuk perbaikan fungsi lingkungan (Arsyad, 2010).
4
hilir. Menurut Dariah dan Husen (2007), penerapan teknik konservasi tanah tidak menyebabkan munculnya penurunan hasil tanaman (produktivitas), malahan ada perbaikan hasil dengan adanya penerapan teknik konservasi tanah.
2.2Pinus merkusii
Pinus Merkusii merupakan jenis tanaman yang tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi. Jenis tanaman ini mampu tumbuh baik di lahan yang tidak subur hingga lahan yang subur. Pinus mampu tumbuh pada ketinggian mulai dari 200-1700 mdpal dengan curah hujan diatas 1.600 mm/th. Tanaman ini sifatnya mudah tumbuh, mudah membuat bibit, tahan kebakaran dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dapat dikembangkan untuk kepentingan konservasi (Gintings, 2007).
Pinus merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk reboisasi, karena pinus memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai tanaman pelindung tanah secara ekologis dan sebagai penghasil kayu ( Harahap dan Aswandi, 2006; Senjayadan Surakusumah, 2010). Menurut Supangat (2008) yang melakukan penelitian mengenai pengaruh hutan pinus terhadap kualitas air, hutan pinus juga dapat menjaga kualitas air sehingga airnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti mandi, mencuci dan pertanian.Selain itu, adanya tegakan vegetasi dapat berperan dalam mengurangi gempuran energi kinetik hujan melalui tiga cara yaitu strata tajuk (kanopi), serasah hutan dan pori-pori tanah sehingga aliran dapat diatur (Asdak, 2007).
Selain keutungan secara ekologis, pinus juga memiliki keuntungan ekonomis yaitu kayu pinus dapat dipakai sebagai bahan bangunan, perkakas, venit, tripleks, papan dan kotak/batang korek api sedangkan seratnya dapat digunakan sebagai bubur kayu untuk kertas, sutera tiruan, bahan pelarut, kertas kaca, seluloida dan sebagainya (Fua et.al, 1998).
2.3Pertanaman Lorong atau alley cropping
5
BAB III
METODE PENULISAN
3.1Metode Penulisan
Dalam memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan penulisan ilmiah ini penulis menggunakan metode Studi Pustaka. Pada penulisan menggunakan metode ini, penulis mempelajari buku-buku dan literatur yang berkaitan dengan tema yang dikaji. Pembahasan dilakukan dengan analisis data-data hasil kajian literatur.
3.2Kerangka Analisis
Kerangka analisis yang digunakan dalam tulisan ini pada gambar . Langkah awal yang dilakukan adalah mengetahui kondisi degradasi lahan yang terjadi di Dataran Tinggi Dieng. Selanjutnya mengetahui potensi konservasi menggunakan sistem wanatani atau agroforestry untuk mengatasi kondisi lahan kritis di Datarang Tinggi Dieng. Langkah terakhit mengetahui dampak akibat penggunaan teknik konservasi ini sebagai upaya konservasi lahan dan penyelamatan fungsi lingkungan.
Gambar 3.1. Kerangka Analisis Degradasi Lahan
Di Dieng
Konservasi Menggunakan Pinus Merkusii (Alley
Cropping)
Dampak
6
3.3Sistematika Penulisan
Agar penulisan ilmiah ini mudah dipahami dan tersistematis maka pembahasan dalam penulisan ilmiah ini dibagi menjadi empat bab.
Bab I Pendahuluan
Menjelaskan secara ringkas mengenai latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penulisan dan batasan masalah
Bab II Tinjauan Pustaka
Dalam bab ini dibahas mengenai konsep degradasi lahan dan penyebab degradasi lahan di Dataran Tinggi Dieng serta penjelasan mengenai teknik konservasi penanaman lorong atau alley cropping menggunakan tanaman Pinus merkusii. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah ditulis pada bab ini serta pedoman dalam menyelesaikan masalah yang ada. Bab III Metodologi Penulisan
Bab ini berisikan tentang tata cara penulisan karya ilmiah. Pada bagian ini dibahas mengenai sistematika penulisan dan kerangka analisis yang akan dilakukan.
Bab IV Bagian Isi
7 Padahal erosi yang masih diperbolehkan menurut Hudson (1976) dalam Kartasapoetra (2000) adalah 2,5 – 12,5 ton/ha/th. Erosi ini disebabkan oleh pola tanam kentang yang memotong kontur. Air hujan yang jatuh sebagian besar akan langsung menjadi overland flow, sehingga kelembaban tanah berkurang. Di sisi lain, sistem tanam ini
menguntungkan petani karena pembusukkan kentang relatif lambat. Namun, aliran permukaan yang dibiarkan akan mengerosi agregat tanah termasuk kandungan hara di dalamnya. Akibatnya, produktivitas kentang menurun, bukan karena pembusukan, melainkan disebabkan oleh berkurangnya unsur hara dalam tanah. Informasi dari Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, bibit kentang 1 ton bisa menghasilkan 20 ton pada tahun 2008, sedangkan di tahun 2010 menurun hingga 8 ton saja (Suara Pembaruan, 21 Mei 2010).
Sebagian besar masyarakat Dataran Tinggi Dieng bermatapencaharian sebagai petani dengan memanfaatkan lahan pada kemiringan lereng 25-40 % untuk budidaya monokultur kentang. Sistem pola tanam yang searah lereng diterapkan pada jenis tanah Andosol dengan curah hujan rata-rata 3000-3900 mm/tahun. Berdasarkan Kepres No. 32 Th. 1990, tentang pengelolaan kawasan lindung dan SK Mentan No. 837/KPTS/Um/11/1980 tentang kriteria kelas lereng, jenis tanah dan curah hujan, maka Dataran Tinggi Dieng memiliki kriteria sebagai kawasan lindung dengan kesesuaian lahan untuk tanaman bervegetasi permanen (Andriana, 2007). Tanaman kentang yang tidak termasuk golongan tanaman permanen atau tahunan mengindikasikan bahwa sistem pertanian yang sudah bertahun-tahun dilakukan ternyata tidak sesuai dengan sistem RTRW. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan keahlian masyarakat yang tidak menjangkau kaidah konservasi. Akibatnya, para petani tidak menyadari risiko lingkungan yang sedang dan akan terus berlangsung.
8
m3/th (Andriana, 2007). Akibatnya, erosi di Dataran Tinggi Dieng yang tergolong tinggi menjadi penyumbang sedimen yang tinggi pula yang diwujudkan dalam bentuk pendangkalan waduk.
Alley cropping menggunakan tanaman Pinus merkusii dilakukan pada lereng
yang miring. Penanaman dapat dilakukan dengan menentukan jarak antar lorong. Jarak tanam antar barisan pembentuk lorong dapat disesuaikan dengan kemiringan lahan, semakin besar kemiringan lahan maka jarak tanaman tahunan semakin dekat. Sariyata (2007) menyebutkan jarak antar tanaman tahunan ini berkisar antara 5-20 meter dengan tetap menyesuaikan dengan kemiringan lahannya dan jarak tanam antar Pinus sendiri sekitar 3 meter. Untuk mengatasi kompetisi antara tanaman pagar dengan tanaman musiman dapat dilakukan dengan penentuan jarak lorong yang lebih lebar.
Beberapa penelitian menyebutkan besarnya intersepsi air hujan oleh Pinus merkusii sebesar 15,7 % dibandingkan Agathis alba yang hanya mengintersepsi 14,7 % dan Puspa 13,7 % (Mulyana et al. dalam Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Perhutani, 2002). Hasil penelitian lain mengenai besarnya kehilangan tanah akibat intersepsi juga dilakukan oleh Sudjoko et al. (1998) di KPH Banyumas Timur yang menemukan intersepsinya sebesar 16-20 %. Intersepsi yang dihasilkan oleh Pinus Merkusii menandakan air hujan yang tidak sampai ke permukaan tanah karena tertahan
di tajuk pinus akan diuapkan lagi, sehingga mengurangi energi kinetik hujan (erosivitas). Akibatnya, pemecahan agregat tanah yang bertekstur lempung oleh hujan menjadi berkurang dibandingkan lahan yang tidak tertutup kanopi yang lebih mudah tererosi.
Pinus merkusii yang membutuhkan air cukup banyak dalam pertumbuhannya
9
Teknik konservasi wanatani alley cropping merupakan salah satu upaya pengelolaan lingkungan. Ada 3 komponen utama dalam pengelolaan lingkungan yaitu mencegah, menanggulangi, dan mengembangkan. Kondisi fisik Dieng yang tergolong tingkat degradasi tinggi dapat ditanggulangi dengan teknik alley cropping menggunakan Pinus merkusii, sehingga diharapkan tingkat bahaya erosi berkurang. Selain itu, untuk
area lahan pertanian yang belum mengalami kerusakan tidak akan mendapatkan kesempatan terkena dampak erosi. Basuki (2000) melakukan penelitian tentang efek tumpangsari antara Pinus merkusii dengan tanaman sayuran kentang. Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman kentang memberikan kontribusi yang paling tinggi baik bagi pertumbuhan fisik tanaman pinus maupun pendapatan tumpangsarinya. Dampak positif dari teknik ini adalah bentuk peningkatan peluang keuntungan bagi petani melalui produktivitasnya, di samping kentang sebagai komoditas utama.
Kegiatan pengelolaan lingkungan tidak bisa lepas dari pemantauan dan pengawasan lingkungan. Salah satu metode yang bisa dilakukan adalah dengan pemetaan tingkat bahaya erosi yang berguna sebagai alat pantau dan evaluasi besarnya laju erosi sebelum dan sesudah diterapkannya alley cropping. Melalui peta itu pula dapat diidentifikasi lokasi-lokasi yang akan dikelola dan dipantau sesuai dengan tingkat bahaya dan dampak yang ditimbulkan, sehingga upaya penanaman Pinus merkusii menggunakan alley cropping dapat efektif dan efisien.
4.2Kesimpulan, Saran, dan Rekomendasi
Teknik konservasi sistem wanatani alley cropping dengan menggunakan Pinus merkusii merupakan alternatif yang memberikan banyak manfaat dalam upaya
pengelolaan lingkungan. Beberapa kondisi fisik di Dataran Tinggi Dieng dengan kenampakan degradasi lahan yang ada membutuhkan upaya penanggulangan seperti alley cropping.
10
DAFTAR PUSTAKA
Andriana, Reni. 2007. Evalausi Kawasan Lindunga Dataran Tinggi Dieng Kabupaten Wonosobo. Tesis. Semarang: Universitas Diponegoro.
Arsyad, Sitanala. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.
Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Basuki, Suwidji. 2000. Optimasi Pola Usaha Tumpangsari Dengan Program Tujuan Ganda Pada Areal Tanaman Pinus.Jurnal Sosial Ekonomi Volume 1 Nomor 1, November 2000
Dariah, Ai dan Husen, Edi. 2007. Optimalisasi Multifungsi Pertanian Pada Usaha Tani Berbasis Tanaman Sayuran. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
Fua, Yohanes, Prayitno dan Sunyata, A. 1998. Degradasi Komponen Kimia Kayu Tusan (Pinus MerkusiiJung Et De Vriese) oleh Jamur Noda Biru Menurut Waktu dan Posisi Radial. Buletin Agro Industri No. 05/1998
Gintings, A Ngaloken. 2007. Pengaruh Hutan Pinus Merkusii Terhadap Tata Air. Makalah. Purworejo: Gelar Teknologi “Pemanfaatan IPTEK untuk Kesejahteraan Masyarakat”, 30-31 Oktober 2007
Harahap, Rusli dan Aswandi.2006.Pengembangan dan Konservasi Tusam(Pinus Merkusii Jungh. Et de Vriese) Strain Tapanuli dan Kerinci. Ekspose Hasil-hasil Penelitian : Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Padang, 20 September 2006.
Indrajaya, Yonky dan Handayani, Wuri. 2008. Potensi Hutan Pinus Merkusii Jungh. Et De Vriese Sebagai Pengendali Tanah Longsor Di Jawa. Info Hutan Vol. V No. 3 : 231-240, 2008.
Kartasapoetra G. 2005. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Edisi ke lima. Jakarta: Rineka Cipta.
Pudjiharta, Ag. 1995. Hubungan Hutan dan Air. Informasi Teknis 53 : 4-7. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam
Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Perhutani. 2002. Hutan Pinus dan Hasil Air. Cepu: Perhutani. Hal. 12- 13
Sariyata, Ketut. 2007. Usahatani Konservasi (Pola Budidaya Lorong). Nusa tenggara Timur: Balai Besar Pelatihan Peternakan.
Senjaya, Yusuf dan Surakusumah, Wahyu. 2010. Potensi Ekstrak Daun Pinus (Pinus Merkusii Jungh. et de Vriese) SebagaiBioherbisida Penghambat Perkecambahan Echinochloa Colonum L. dan Amaranthus Viridis. Bandung: FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
Suara Pembaruan, 21 Mei 2010. Diakses tanggal 17 Juli 2011
Subagyono, K, Marwanto, S dan Kurnia, U. 2003. Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
Sudjoko, S.A., Suyono dan Darmadi. 1998. Kajian Neraca Air Hutan Pinus di KPH Banyumas Timur. Rangkuman Penelitian tahun 1994- 1997. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan UGM
Supangat, Agung. 2008. Pengaruh Berbagai Penggunaan Lahan Terhadap Kualitas Air Sungai di Kawasan Hutan Pinus di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Vol. V No. 3: 267-276, 2008.
11
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kelebihan dan Kelemahan Pinus merkusii
NO SIFAT PINUS MERKUSII PENGARUH
1 Intersepsi hujan yang tergolong tinggi, sehingga mereduksi erosivitas Menguntungkan 2 Tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi. Menguntungkan 3 Mampu tumbuh baik di lahan yang tidak subur hingga lahan yang subur Menguntungkan 4 Mampu tumbuh pada ketinggian mulai dari 200-1700 mdpal dengan
curah hujan diatas 1.600 mm/th Menguntungkan
5 Kebutuhan air cukup tinggi, sehingga infiltrasi tinggi dan kelembaban
tanah berkurang Merugikan
6 Akar memperkuat agregat tanah, menambah daya tahan geser tanah Menguntungkan 7 Evapotransiprasi tinggi, sehingga mengurangi kelembaban tanah Menguntungkan 8
Beban pohon yang tidak terlalu berat, sehingga menjaga kestabilan
lereng Menguntungkan
9 Daun yang sukar membusuk berfungsi sebagai mulsa yang baik Menguntungkan 10 Cocok untuk tumpangsari dengan tanaman semusim Menguntungkan
11 Daunnya untuk pakan ternak Menguntungkan
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama : Efrinda Ari Ayuningtyas Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 4 April 1990
Telepon/email : +6285292514616/[email protected]
Alamat : Semali RT 02 RW 05 Salam Kanci Bandongan, Magelang, Jawa Tengah
Publikasi
1. Paper: Mitigasi Bencana Gempa Bumi di Daerah Istimewa Yogyakarta (UPN Veteran, 2008)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama : Henky Nugraha
Tempat, tanggal lahir : OKU Timur, 11 Maret 1990
Telepon/email : +62856664808322/[email protected]
Alamat : Pogung Dalangan RT 10 Sinduadi, Kec. Mlati, Kab. Sleman, DIY
Publikasi
1. Paper: Manajemen Air Terpadu: Strategi Efektif Konservasi Tanah dan Air, Seminar dan Sarasehan Hari Lingkungan Hidup 2011, ISTA AKPRIND 2011 2. Paper: Mahasiswa Sebagai Agent of Change dalam Usaha Konservasi