BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa.
Jika ditinjau dari perkembangan dan pertumbuhan seseorang, maka makin terlihat jelas bahwa hidup seseorang di dalam lingkungan yang berbudaya, itu merupakan perjuangan dari seseorang individu dengan hak asasi manusiawi dalam menyatakan dirinya, dan makhluk yang berkehendak menurut dirinya sendiri. Semakin aktif dia memberikan kontribusi kepada lingkungan sosialnya, makin ia menjalin ikatan dan menerima norma dari lingkungan sosialnya, maka makin ia meningkatkan aspirasi-aspirasinya dalam mempersoalkan kepentingan untuk mencapai cita-citanya dalam mewujudkan diri (selfactualization), yang mengacu pada kemandirian.
Mendidik pada hakikatnya merupakan bantuan untuk mencapai perkembangan dalam mewujudkan dirinya tanpa mengabaikan lingkungannya. Seorang manusia yang seutuhnya harus mencakup kemandirian seseorang dan kemampuan untuk ikut bertanggung jawab terhadap penbangunan bangsanya.
Dari hal tersebut dapat kita tahu bahwa objek pendidikan sekaligus menjadi subjek dan perilaku dari kegiatan pendidikan tersebut. Yang nantinya subjek pendidikan tersebut mampu berpikir mandiri yang menuntut interaksi dalam kehidupan lingkungan maupun di dalam kelas yang tidak semata-mata merupakan pemberian informasi searah dan menyimak tanpa ada kegiatan untuk mengembangkan secara kreatif ide maupun sikap dan keterampilan secara mandiri. Di sinilah terlihat pentingnya sebuah pendekatan belajar yang mampu membuat siswa untuk aktif dalam sebuah pembelajaran agar pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna.
merupakan pendekatan pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku. CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA menuntut keterlibatan mental yang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajaran akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai penerapan pendekatan CBSA beserta implementasinya di lapangan hingga kepada solusi-solusi dari permasalahan yang muncul.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana yang telah dikemukakan, rumusan masalah penulisan makalah ini yaitu “penerapan pendekatan CBSA beserta implementasinya di lapangan hingga kepada solusi-solusi dari permasalahan yang muncul?”.
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dan atau asumsi dalam memandang dan atau menyikapi pembelajaran serta permasalahannya.
CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental yang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip.
Perlu ditekankan kembali bahwa ”CBSA adalah suatu pendekatan, bukan suatu metode atau teknik mengajar”. (T.Raka Joni, 1993: 54 dalam makalah Yuniawati, 2012).
Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
Pendekatan CBSA sangat mengutamakan derajat keaktifan pembelajar. Siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus-menerus, baik mental maupun fisik. Pembelajar dalam proses pembelajaran itu dapat berbentuk sebagai berikut:
2. Keterlibatan mental/psikis, kegiatan yang mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain, serta kegiatan mental lainnya. meliputi:
a. Keterlibatan intelektual yang dapat berbentuk mendengarkan informasi dengan cermat, berdiskusi dengan teman sekelas, melakukan pengamatan terhadap suatu fakta atau peristiwa, dan sebagainya sehingga memberi peluang terjadinya asimilasi dan atau akomodasi kognitif terhadap pengetahuan baru tersebut;
b. Keterlibatan intelektual dalam bentuk latihan ketrampilan intelektual seperti menyusun suatu rencana/program, menyatakan gagasan, dan sebagainya;
c. Keterlibatan emosional dapat berbentuk penghayatan terhadap perasaan, nilai, sikap, dan sebagainya dalam ranah afektif.
Pembelajaran aktif itu perlu semangat hidup, giat, berkesinambungan, kuat dan efektif. Selain itu, pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental, dan bisa memahami pengalaman yang dialami.
Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan CBSA adalah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam pembelajaran, dengan melibatkan fisik siswa apabila diperlukan. Pelibatan intelektual-emosional/ fisik siswa serta optimalisasi dalam pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana belajar memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.
2.2 Karakteristik, Prinsip dan Kerangka CBSA
a. Karakteristik Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Dan akan berlaku sebaliknya apabila arah pembelajaran tersebut berorientasi kepada guru.
Raka Joni (1992: 19-20 makalah Yuniawati, 2012) mengungkapakan bahwa pembelajaran yang ber-CBSA dengan baik mempunyai karakteristik sebagai berikut:
- Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa.
Menunjukan bahwa siswa berperan aktif dalam mengembangkan cara-cara balajar mandiri, siswa berperan serta pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses belajar, pengalaman siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan.
- Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar.
Guru bukan satu-satunya sumber informasi, guru merupakan salah satu sumber belajar, yang memberikan peluang bagi siswa agar dapat memperoleh pengetahuan/ keterampilan melalui usaha sendiri, dapat mengembangkan motivasi dari dalam dirinya, dan dapat mengembangkan untuk membuat suatu karya.
- Tujuan pembelajaran tidak hanya untuk sekedar mengejar standart akademis. Selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk mengembangkan kemampuan siswa secara utuh dan setimbang.
- Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap.
- Penilaian dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan dan kemajuan siswa, serta megukur berbagai keterampilan yang dikembangkan, misalnya keterampilan berbahasa, keterampilan sosial, keterampilan matematika, dan keterampilan proses dalam IPA dan keterampilan lainnya, serta mengukur hasil belajar siswa.
b. Prinsip Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik. Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:
a. Dimensi Subjek Didik :
Dimensi subjek didik, meliputi:
1. Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
2. Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal ini terwujud bila guru bersikap demokratis.
3. Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru. 4. Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat
mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru. 5. Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan
siapapun termasuk guru. b. Dimensi Guru
Dimensi guru, meliputi:
1. Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
2. Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
3. Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar. 4. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara
5. Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
c. Dimensi Program
Dimensi program, meliputi:
1. Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
2. Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
3. Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi. d. Dimensi Situasi Belajar-Mengajar
Dimensi situasi belajar-mengajar, meliputi:
1. Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
2. Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
c. Kerangka CBSA
Meninjau bahwa apakah suatu proses menunjukan CBSA, dapat dilihat dari segi kesadaran siswa dan guru yang terlibat di dalamnya?. Jawabannya, proses pembelajarannya akan optimal terjadi apabila siswa yang belajar ataupun guru yang membelajarkan memiliki kesadaran dan kesengajaan terlibat dalam proses pembelajaran sehingga akan memunculkan berbagai interaksi pembelajaran.
Selama pelajaran, mereka cenderung tenang dan jarang terganggu oleh suara. Peserta didik yang visual kebalikan dari peserta didik yang bersifat auditory, yang sering kali tidak terganggu melihat apa yang pengajar lakukan, atau tidak tertarik membuat catatan. Mereka benar-benar ada pada kemampuannya untuk mendengar dan mengingat. Selama pelajaran mereka biasanya aktif bercakap-cakap dan dengan mudah terganggu oleh suara. Sedangkan peserta didik yang bersifat kinestetik adalah menguatkan belajar dengan terlibat secara langsung dalam aktivitas. Mereka cenderung pada gerak hati, dengan sedikit sabar. Selama pelajaran berlangsung, mereka mungkin gelisah kecuali mereka dapat bergerak dan melakukannya. Pendekatan mereka untuk belajar dapat terjadi secara acak dan random.
Tentu saja, beberapa orang termasuk pada satu jenis pelajar tersebut. Maka pengajar harus memperhatikan perubahan-perubahan yang ada pada gaya belajar peserta didik. Bruner menekankan bahwa reciprocity diperlukan bagi kelompok untuk mencapai tujuan, kemudian terdapat proses yang menyebabkan individu terlibat dalam belajar, mengantarkannya pada kemampuan yang diperlukan dalam menyusun kelompok (Bruner, 1986) (dalam buku Active Learning karya Silberman Mel). Peserta didik akan lebih tertarik belajar karena mereka melakukannya dengan teman-teman sekelas mereka. Sekali terlibat, mereka juga perlu untuk bercakap-cakap mengenai apa yang mereka alami dengan yang lain, yang mengarahkan pada hubungan selanjutnya.
pemimpin, fasilitator, pengatur waktu, perekam, pembicara, pengamat proses atau manajer materi.
Lingkungan fisik dalam ruang kelas juga dapat menjadikan belajar aktif. Dekorasi interior dari belajar aktif adalah menyenangkan dan menantang. Dalam beberapa hal, mebelair dapat diatur untuk membentuk susunan yang berbeda-beda. Lingkungan belajar aktif adalah tempat dimana kebutuhan, harapan dan perhatian peserta didik mempengaruhi rencana pembelajaran pengajar.
Diskusi kelas berperan sangat penting dalam belajar aktif. Dengan mendengarkan keluasan pandangan menantang peran peserta. Pengajar selama diskusi kelompok berperan memfasilitasi jalannya komentar dari kelompok. Sekalipun itu tidak perlu untuk menyela setelah setiap siswa berbicara, secara periodik membantu kelompok agar kontribusi mereka dapat bermanfaat.
Aktivitas pengalaman betul-betul membantu membuat belajar aktif. Aktivitas semacam itu secara khusus melibatkan bermain peran, games, simulasi, dan tugas problem solving. Seringkali jauh lebih baik bagi peserta didik untuk mengalami sesuatu dari pada sekedar mendengarkan dan membicarakannya.
Dengan menggunakan teknik-teknik belajar aktif cenderung mengurangi problem manajemen kelas yang sering kali mengganggu pengajar yang betul-betul merasa berat pada ceramah dan diskusi kelompok besar. Pada intinya metode atau teknik apapun yang nantinya digunakan oleh guru, belajar aktif memerlukan waktu. Oleh karena itu, penting bahwa tidak ada waktu yang terbuang .
2.3 Keunggulan Penggunaan CBSA dalam Pembelajaran
Dengan penerapan CBSA, siswa akan mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh, menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di sekitarnya. Selain itu, siswa akan lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara teratur, kritis, dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari, serta lebih terampil dalam menggali, menjelajah, mencari, dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya.
Di sisi lain, dengan penerapan CBSA, guru dapat bekerja professional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip didaktik metodik yang berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien). Artinya, guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis. Sehingga, lambat laun penerapan CBSA pada gilirannya akan mencetak guru-guru yang potensial dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan alam dan sosial budaya.
2.4 Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA
Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi.
Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.
Berdasarkan pengelompokan siswa strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu.
waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.
Berdasarkan kecepatan Masing-Masing siswa.
Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.
Pengelompokan berdasarkan kemampuan.
Pengelompokan yang homogen dan didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satu kelompok maka hal ini mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.
CBSA dapat diterapkan dalam setiap proses belajar mengajar. Kadar CBSA dalam setiap proses belajar mengajar dipengaruhi oleh penggunaan strategi belajar mengajar yang diperoleh. Dalam mengkaji ke-CBSA-an dan kebermaknaan kegiatan belajar mengajar, Ausubel mengemukakan dua dimensi, yaitu kebermaknaan bahan serta proses belajar mengajar dan modus kegiatan belajar mengajar.
pengalaman belajar mengajar dengan modus ekspositorik sangat bermakna dan sebaliknya mungkin saja terjadi pengalaman belajar mengajar dengan modus discovery tetapi tanpa sepenuhnya dimengerti oleh siswa. Yang penting adalah terjadinya asimilasi kognitif pengalaman belajar itu sendiri oleh siswa. KBM.
2.5 Penerapan dan Langkah-Langkah Pelaksanaan CBSA
Pendekatan CBSA dapat diterapkan dalam pembelajaran dalam bentuk dan teknik:
a. Pemanfaatan waktu luang.
Pemanfaatan waktu luang di rumah oleh siswa memungkinkan dilakukanya kegiatan belajar aktif, dengan cara menyusun rencana belajar, memilah bahan untuk dipelajari, dan menilai penguasaan bahan sendiri. Jika pemanfaman waktu tersebut dilakukan secara saksama dan berkesinambungan akan memberikan manfaat yang baik dalam menunjang keberhasilan belajar di sekolah.
b. Pembelajaran Individual.
Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perbedaan individu tiap siswa, seperti: minat abilitet, bakat, kecerdasan, dan sebagainya. Guru dapat mempersiapkan / merencanakan tugas-tugas belajar bagi para siswa, sedang pilihan dilakukan oleh siswa masing-masing, dan selanjutnya tiap siswa aktif belajar secara perseorangan. Teknik lain, kegiatan belajar dilakukan dalam bentuk kelompok, yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan, minat bakat yang sama.
c. Belajar kelompok.
d. Bertanya jawab.
Kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa, dan antara kelompok siswa dengan kelompok lainnya memberikan peluang cukup banyak bagi setiap siswa belajar aktif. Kadar CBSA-nya akan lebih besar jika pertanyaan-pertanyaan timbul dan diajukan oleh pihak siswa dan dijawab oleh siswa lainnya. Guru bertindak sebagai pengatur lalulintas atau distributor, dan dianggap perlu guru melakukan koreksi dan perbaikan terhadap pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut.
e. Belajar Inquiry/discovery (belajar mandiri).
Dalam strategi belajar ini siswa melakukan proses mental intelektual dalann upaya memecahkan masalah. Dia sendiri merumuskan suatu masalah, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan serta mengaplikasikan hasil belajarnya. Dalam konteks ini, keaktifan siswa belajar memang lebih menonjol, sedangkan kegiatan guru hanya mengarah membimbing, memberikan fasilitas yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan inquirynya. Strategi dan kemampun inquiry ini, akan diuraikan lebih lanjut dalam pembahasan mengenai keterampilan proses sebagai bagian dari CBSA.
f. Pengajaran unit.
Strategi pengajaran ini berpusat pada suatu masalah atau suatu proyek. Pada tahap-tahap kegiatan belajar ditempuh tahap-tahap kegiatan utama, yakni: tahap pendahuluan dimana siswa melakukan orientasi dan perencanaan awal; tahap pengembangan dimana siswa melakukan kegiatan mencari sendin informasi selanjumya menggunakan informasi itu dalam kegiatan praktik, tahap kegiatan kulminasi, dimana siswa mengalami kegiatan penilaian, pembuatan laporan dan tiddak lanjut.
Berdasarkan beberapa contoh strategi pembelajaran tersebut di atas, maka semakin jelas tentang bagai mana penerapan pendekatan CBSA tersebut dalam proses pembelajaran. kendatipun dengan kadar yang berbeda-beda.
Dalam pelaksanaannya, CBSA merujuk pada langkah-langkah sebagai berikut:
Pemanasan dimulai dengan saling menyumbang pikiran/ brainstorming tentang gambaran mental yang dimiliki subjek didik tentang topik yang dipelajari. Bila topik ini baru, maka harus ada pengalaman langsung yang dapat menjembataninya.
Penghayatan pengalaman ini untuk subjek didik pada tingkat rendah SD dapat dilaksanakan secara nyata. Disamping pengalaman ini diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan subjek secara mental, emosional dan fisik sekaligus merupakan usaha melihat lingkup (konteks) permasalahan.
2. Pengamatan (observasi).
Penggunaan indera diperlukan untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin. Untuk itu, perlu diketahui bahwa belahan otak sebelah kanan memiliki fungsi imajinasi yang perlu dikembangkan dan belahan otak sebelah kiri terutama memiliki kemungkinan untuk persepsi kognitif dalam perolehan pengetahuan dan memorasinya. Apa yang terjadi di proses belajar mengajar konvensional pada umumnya adalah pemberatan pada berfungsinya otak sebelah kiri.
Usaha perlu dilakukan untuk mengurangi hal tersebut dengan mengurangi penginderaan kata-kata verbal dan lebih meragakan melalui gambar, action ataupun realitas sebenarnya. Yang harus dicapai adalah pengamatan yang relevan. Dengan begitu, keseimbangan dua belahan otak harus selalu dijaga kondisinya dalam menyerap berbagai pengalaman belajar.
3. Interpretasi dan Pengamatan.
Mencatat ciri khas dari sebuah objek, perkembangan atau kejadian untuk menghubungi pengamatan yang satu dengan pengamatan yang lain, itu merupakan pola-pola yang harus dideteksi dalam sebuah rangkaian observasi. Penemuan pola itu adalah basis untuk menemukan maksud hubungan dan menyarankan kesimpulan (mungkin kejadian tertentu hasil dari kejadian lain).
4. Peramalan.
masa yang lalu. Subjek didik haru dibantu membedakan ramalan dan terkaan. Harus ada alasan untuk suatu ramalan yang didasarkan pada observasi. Jadi, proses peramalan bertumpu dari penalaran terhadap observasi.
5. Aplikasi konsep.
Menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau menggunakan pengalaman baru sebagaimana timbul dalam usaha penterjemahan apa adanya.
Setiap penjelasan harus dianggap tentatif yang harus dikonfirmasikan kembali. Kalau pembuktiannya tidak jelas, maka harus dianggap suatu hipotesis. Sering ada beberapa alternatif hipotesis untuk disarankan, yang semuanya dapat diterapkan pembuktiannya. Ini yang harus disadari oleh subjek didik dalam mencocokan kembali kebenaran hipotesis itu.
6. Perencanaan penelitian.
Perencanaan penelitian bertolak dari pertanyaan apa yang harus dijawab secara jelas, hipotesis apa yang mau dicoba atau apa yang dicobakan. Kejelasan ini mampu melihatkan empirik atau penyajian nilai adalah bagian dari perencanaan penilaian. Proses ini juga mencakup mengidentifikasi variabel mana yang perlu diubah atau bisa tetap dipertahankan. Juga mencakup perencanaan observasi dan uraian apa yang akan dipakai. Cara pemakaiannya adalah untuk menentukan hasil penilaian.
7. Komunikasi.
Proses ini dikaitkan erat dengan cara subjek didik belajar mengkomunikasikan kata atau objek dipikirkan perlakuaannya, membutuhkan gambaran ide maupun situasi nyata. Kata-kata itu baru menyertai pelajaran bila ide sudah dihargai. Komunikasi ini tidak hanya verbal tetapi juga melalui grafik, chart dan tabel dalam mengatur informasi atau penyampaian hasil observasi sehingga polanya kelihatan dan kesimpulan bisa ditarik.
membuat para peserta terlibat dalam materi dengan segera guna membangun minat, membangkitkan keingintahuan dan menstimulasi pikiran. Pada saat awal pengajaran aktif, ada tiga tujuan penting yang harus dicapai. Arti penting tujuan tersebut hendaknya tidak diabaikan, walaupun pelajaran hanya berakhir satu sesi. Tujuan- tujuan tersebut antara lain:
1. Membangun Tim (Team Building) : bantulah peserta didik menjadi kenal satu sama lain dan ciptakan semangat kerja sama.
2. Penegasan: pelajarilah sikap, pengetahuan, pengalaman para peserta didik. 3. Keterlibatab belajar seketika: bangkitkan minat awal pada mata pelajaran.
Semua tujuan ini, ketika tercapai akan membantu mengembangkan lingkungan belajar yang melibatkan peserta didik, mengembangkan kemauan mereka untuk berperan serta dalam pengajaran aktif, dan menciptakan norma-norma ruang kelas yang positif.
Dapat diketahui bahwa peserta didik tidak akan berhasil dalam pembelajaran apabila otak atau “komputer” mereka tidak bekerja. Banyak kesalahan yang dibuat oleh pendidik yaitu dengan mengajar “terlalu dini,” sebelum para peserta didik siap secara mental. Strategi berikut akan memperbaiki kecenderungan tersebut, yaitu dengan:
1. Berbagi Pengetahuan Secara Aktif.
Strategi ini adalah cara yang bagus untuk melibatkan peserta dengan segera ke dalam materi pelatihan. Cara ini juga dapat digunakan untuk menilai tingkatan pengetahuan peserta didik dan untuk membantu pembentukan kelompok. Cara ini dapat digunakan untuk materi apapun dan kelompok apapun. 2. Rotasi Pertukaran trio.
Cara ini merupakan cara mendalam bagi peserta didik untuk mendiskusikan masalah dengan peserta didik lainnya. Pertukaran ini dapat dengan mudah disesuaikan dengan materi pembelajaran.
3. Menuju posisi.
aktivitas yang dideasain untuk menstimulasi ketertarikan awal terhadap topik pembelajaran.
4. Membuat Iklim Belajar Menjadi Menyenangkan.
Cara ini adalah dengan menciptakan iklim yang menyenangkan, dan informal dengan mengajak para peserta untuk memahami materi dengan menggunakan humor. Strategi ini dapat mencapai iklim tersebut dan pada saat bersamaan membuat para peserta didik berpikir.
5. Pertukaran Sudut Pandang.
Kegiatan ini dapat digunakan untuk menstimulasi keterlibatan peserta dengan segera terhadap materi pembelajaran. Kegiatan ini juga mendorong para peserta didik untuk menjadi pendengar yang baik dan mempertimbangkan sudut pandang yang beragam.
6. Bertanya Benar atau Salah.
Kegiatan kolaboratif ini menstimulasi keterlibatan terhadap materi pembelajara dengan segera. Kegiatan ini juga mendukung team building, berbagi pengetahuan dan pembelajaran langsung.
7. Hangman.
Hangman merupakan cara interaktif dan menyenangkan untuk memperkenalkan sesi pelatihan yang mencakup banyak informasi. Cara ini akan menghemat waktu yang diperlukan untuk mengisi rincian setelah permainan, serta dapat membangkitkan minat dan diskusi peserta didik. Tingkat persaingan dalam teknik ini akan meningkatkan minat peserta didik dalam mempelajari jawaban. 8. Ambil Bagian dalam Pelatihan.
Kegiatan ini menyediakan cara bagi peserta didik untuk memikirkan tentang bagaimana menerima tanggung jawab atas pembelajaran yang aktif.
2.7 Contoh Cara Pembelajaran Aktif 1. Mengacu pada Tujuan.
sangat penting saat memulai pelajaran. Siswa perlu merasa bahwa mereka adalah bagian dari proses pembelajaran. Untuk memfasilitasi hal ini, setiap rencana pembelajaran menyertakan satu sesi yang disebut Tujuan Pembelajaran Terukur, yang merangkum tujuan-tujuan pembelajaran, yang kemudian dijelaskan pada siswa, dan satu sesi di akhir pelajaran yang disebut refleksi pemikiran mendalam, yang menyertakan saran untuk membantu siswa merefleksikan kembali pengalaman yang mereka peroleh untuk mengukur ketercapaian tujuan dan mengetahui apakah mereka mengalami flow selama pembelajaran berlangsung.
2. Melibatkan Siswa.
Secara intuisi, sebenarnya guru telah mengetahui bahwa untuk membuat pembelajaran lebih bermakna, siswa harus menggunakan lebih banyak energi mental dan emosional. Maka kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan secara matang diharapkan dapat membantu siswa tetap siaga terpikat secara mental untuk terlibat dalam pembelajaran.
3. Menggunakan Seni, Gerakan, dan Indera.
Strategi pelajaran dirancang untuk mengaktifkan kelima panca indera untuk bisa melibatkan siswa secara penuh. Seni adalah cara yang ideal untuk mengaktifkan beragam indera, mendorong rasa kebersamaan siswa, menyediakan sarana ganda untuk menemukan dan mengekspresikan makna, membangun rasa percaya diri dan antusiasme belajar, dan menguatkan kemampuan dasar kecerdasan: kognitif, emosional, perhatian atau attentional, dan motorik (Sylwestern 2004; Jensen 2001) (dalam buku Pembelajaran Aktif karangan Pat Hollingsworth & Gina Lewis). Dan sejumlah pelajaran juga menggunakan strategi gerakan fisik untuk melibatkan siswa.
4. Meragamkan Langkah Kegiatan.
menambahkan ide untuk meragamkan pembelajaran. Pembelajaran aktif bisa bersifat mental maupun fisik. Merubah model kerja siswa dari kerja kelompok besar menjadi kerja individual atau menjadi kelompok kecil adalah salah satu cara yang mudah dan efektif untuk meragamkan langkah mental.
2.8 Konsekuensi Pembelajaran Aktif (Pembelaran Berpusat pada Siswa) Peningkatan kadar CBSA dalam sebuah proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran berdasarkan siswa (Student Based Instruction).
Terdapat beberapa konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran aktif (berpusat/ berdasarkan siswa), (Gale, 1975: 204) (dalam buku Belajar & Pembelajaran karya Dimyati & Mudjiono), meliputi:
1. Guru menjadi seorang pengelola (manager) dan perancang (designer) dari pengalaman belajar.
2. Guru dan siswa menerima peran kerja sama (partnership). 3. Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya.
4. Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar (learning requirements).
5. Siswa dilibatkan dalam pembelajaran. 6. Tujuan ditulis secara jelas.
7. Semua tujuan diukur/ dites.
Adanya konsekuensi dari penerapan pembelajaran berdasarkan siswa, yang akan dapat meningkatkan kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran. Yang lebih jauh akan menuntut guru:
1. Memiliki khasanah pengetahuan yang luas tentang teknik/ cara penyampaian atau sistem penyampaian.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami simpulkan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Pendekatan CBSA adalah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam pembelajaran, dengan melibatkan fisik siswa apabila diperlukan.
5. Penerapan CBSA yaitu dengan pemilihan teknik pembelajaran yang sesuai dengan faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran, yang akan membantu guru mengetahui kemanfaatannya dalam meningkatkan kadar CBSA. Dengan meningkatkan kemampuan guru sebagai katalisator dalam kegiatan pembelajaran. Kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran terlihat sejak guru membuat persiapan pembelajaran, yakni pada jabaran kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru maupun siswa.
3. Penerapan CBSA ini lebih jauh akan menuntut guru:
1. Memiliki khasanah pengetahuan yang luas tentang teknik/ cara penyampaian atau sistem penyampaian.
2. Memiliki kriteria tertentu untuk memilih sistem penyampaian yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Dimyati, Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud. Hamalik, Oemar. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara. Permana, Anggun. 2013. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
http://anggunpermata0.blogspot.com/2013/01/cara-belajar-siswa-aktif-cbsa.html. (Diunduh tanggal 08 Oktober 2014).
Syamsuddin, Abin. 2000. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja R.
Yuniawati, Dwilestari. 2012. CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). http://dwilestariyuniawati.wordpress.com/2012/12/04/217/.
(Diunduh tanggal 08 Oktober 2014).