• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM DAN METODE PARAFIN.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM DAN METODE PARAFIN.docx"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK TUMBUHAN

PERCOBAAN I

PEMBUATAN PREPARAT MELINTANG DENGAN METODE PARAFIN

NAMA : MUHAMMAD ABDUL

NIM : H411 14 510

KELOMPOK : VII (TUJUH)

ASISTEN : SARTIKA SARI

HARI/TANGGAL : JUMAT/26FEBRUARI 2016

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN

(2)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Meneliti suatu organisme, baik dari tingkatan sel, jaringan, organ dan sebagainya memerlukan cara tertentu untuk mempermudah penelitian tersebut. Hewan dan tumbuhan dapat diteliti dengan terlebih dahulu membuat preparat dengan berbagai metode yang telah ditemukan, metode tersebut yang paling umum adalah mikroteknik.

Mikroteknik semakin berkembang dewasa ini, banyak metode yang digunakan untuk pembuatan sediaan tergantung bahan yang akan digunakan. sel hewan yang kebanyakan digunakan untuk pembuatan sediaan dengan metode smear ataupun embedding dan seringkali pula dengan metodewhole mount. Sedangkan sel tumbuhan kebanyakandibuat dengan menggunakan metode yang lebih ringan daripada sel hewan karenastruktur sel hewan dan sel tumbuhan yang berbeda. Metode yang paling umumdigunakan untuk melihat jaringan dan sel tumbuhan adalah metode parafin denganbahan utamanya adalah blok parafin (Sedjo, 2004).

(3)

I.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengamati dan melihat preparat secara melintang dari akar jagung Zea mays dengan menggunakan metode parafin.

I.3 Waktu dan Tempat Praktikum

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Metode parafin adalah suatu metode pembuatan preparat dengan melakukan penanaman jaringan di dalam blok parafin untuk menghasilkan preparat jaringan hewan ataupun tumbuhan yang tipis. Preparat parafin ini dilakukan penyelubungan karena jaringan merupakan bahan yang lunak. Pembuatan sediaan dengan pemotongan jaringan menggunakan parafin dan mikrotom sebagai alat pemotongnya. Dilakukan infiltrasi agar parafin yang masuk berfungsi sebagai penyangga jaringan saat diiris dengan mikrotom, lalu diembedding (proses penanaman) yaitu merendam jaringan ke dalam parafin cair, dan parafin akan masuk ke seluruh bagian jaringan, proses pemotongan dengan mikrotom, penempelan pada kaca objek, pewarnaan dengan haematoksilin (pada umumnya bahan ini yang sering digunakan untuk jaringan hewan) sedangkan jaringan tumbuhan seringkali menggunakan safranin ataupun fast green. Setelah diwarnai lalu dimounting, dan diberi label nama (Nugroho, 2006).

(5)

Metode parafin termasuk metode irisan yang merupakan metode rutin atau standar. Metode ini sekarang banyak digunakan, karena hampir semua jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metode ini. Kebaikan-kebaikan jaringan ini adalah irisan menjadi lebih tipis dibandingkan metode beku atau metode seloidin. Dengan menggunakan metode beku, tebal irisan rata-rata diatas 10 mikron, tetapi dengan metode parafin irisan dapat mencapai tebal 6 mikron. Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah, bila menggunakan metode ini. Prosesnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan metode seloidin, kejelekannya adalah jaringan menjadi keras, mengkerut dan mudah patah. Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakan bila menggunakan metode ini. Sebagian enzim-enzim akan larut di dalam metode ini (Sugiharto, 1989).

Pembuaatan preparat jaringan tumbuhan yang dilakukan dengan metode parafin melalui beberapa tahapan, yaitu (Widjajanto, 2001):

a. Pengambilan jaringan (Diseksi/Collecting)

(6)

b. Fiksasi (Fixation)

Fiksasi adalah usaha yang dapat mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan agar tetap berada pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran.Media yang digunakan untuk fiksasi disebut dengan fiksatif. Fiksatif terdiri dari unsur-unsur kimia yang dibuat dalam bentuk larutan atau gas yang berfungsi agar Jaringan tidak membusuk, dan dapat mempertahankan struktur jaringan.

c. Dehidrasi (dehydration)

Dehidrasi adalah proses penarikan air dari dalam jaringan dengan menggunakan bahan-bahan kimia tertentu. Dehidrasi bertujuan untuk mengeluarkan air dari dalam jaringan yang telah difiksasi. Proses dehidrasi merupakan serangkaian proses dengan cara memasukan sample ke dalam larutan dehidrasi secara berseri dari konsentrasi rendah sampai konsentrasi tinggi dengan mengurai konsentrasi air.

Dehidran yang paling umum digunakan pada mikroteknik dengan metode paraffin adalah alkohol. Jenis dehidran lain adalah dioksan, N-butyl alcohol, aniline oil dan bergamot oil. Alkohol merupakan dehidran yang umum digunakan, karena relatif lebih murah dan mudah diperoleh, tapi mampu menghasilkan hasil yang baik, bahkan untuk jenis-jenis jaringan-jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang belakang, dan embrio. Dalam penggunaan alkohol dipakai serial dengan konsentrasi yang berbeda, dimulai dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Lama perendaman tergantung untuk masing-masing konsetrasi berkisar 1-6 jam. Alkohol 70% sebagai stoping point, jaringan di malamkan.

(7)

secara tiba-tiba dalam terhadap sel jaringan, sehingga perubahan struktur sel yang terjadi sekecil mungkin. Apabila proses dehidrasi ini tidak sempurna berarti masih ada molekul air dari dalam jaringan. Ketidaksempurnaan proses dehidrasi ini dapat diketahui dengan jelas setelah jaringan dimasukan ke dalam zat penjernih, dimana jaringan tidak menjadi transparan walaupun jaringan telah lama dalam larutan penjernih. Jika terjadi hal yang demikian, maka jaringan harus dikembalikan ke dehidran.

d. Penjernihan (Clearing)

Clearing merupakan proses harus segera dilakukan setelah dehidrasi. Tujuan dari penjernihan ini adalah menggantikan tempat alkohol sementara dalam jaringan yang telah mengalami proses dehidrasi dengan suatu solven atau medium penjernih sebelum proses penanaman dalam parafin. Medium penjernih ini akan menjernihkan atau mentranparankan jaringan agar kemudian dapat terwarnai dengan baik dan memperlihatkan warna sesuai dengan warna pewarnanya.

e. Infiltrasi (Infiltration)

(8)

campuran ini terlalu lama cukup berkisar antara 10-30 menit saja tergantung besar kecilnya jaringan. Tujuan dari semua ini adalah untuk menghindari jaringan dsri prubahan lingkungan yang sangat mendadak. Perubahan-perubahan yang mendadak ini dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan itu sendiri, seperti jaringan menjadi sangat mengkerut.

Setelah dalam campuran parafin dan bahan penjernih, jaringan baru dipindahkan ke parafin murni sebanyak tiga kali ganti yang masing-masingnya berkisar antara 30-60 menit. Usahakan jaringan jangan terlalu lama ditinggalkan dalam oven.Tujuan dari tahap infiltrasi ini adalah untuk mengisi jaringan dengan parafin sebagi pengikat jaringan agar tetap memiliki bentuk dan struktur yang sama seperti hidup.

f. Penanaman (Embedding)

Embedding atau penanaman merupakan proses memasukan atau penanaman jaringan ke dalam balok-balik parafin (cetakan) sehingga memudahkan proses penyayatan dengan bantuan mikrotom. Tujuan dari tahap ini adalah untuk membuat balok parafin yang berisi jaringan yang akan dibuat preparat permanen.

Parafin yang digunakan untuk menanam jaringan harus memiliki titik leleh yang sama dengan parafin yang digunakn waktu infiltrasi. Parafin ketiga yang dipakai pada infiltrasi dapat digunakan langsung untuk penanaman dengan syarat memang sudah bersih dari bahan penjernih.

g. Penyayatan (Sectioning)

(9)

Pembuatan irisan dengan metode parafin memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah yaitu proses embedding lebih cepat dan lebih simpel.

h. Penempelan dan Afiksasi (Afixing)

Afixing adalah proses pelekatan atau penempatan sayatan jaringan pada kaca objek dengan bantuan media pelekat tertentu, dapatberupaparafinpadat yang dicairkanlaludimasukkankedalam box ukurantertentudandibiarkanmemadat. Tujuan penempelan ini adalah untuk menempelkan pita parafin yang sudah berisi sayatan jaringan pada kaca objek.

i. Deparafinasi dan Pewarnaan (Staining)

Deparafinasi adalah suatu tahap menjelang proses pewarnaan dengan menggunakan xilol untuk membersihkan paraffin dari jaringan dan kaca objek. Pengerjaan deparafinasi aserial atau berkelanjutan dengan pengerjaan pewarnaan. Tujuan dari tahap ini untuk membersihkan jaringan dan kaca objek dari parafin. Pewarnaan merupakan suatu tahap dalam mikroteknik untuk memperjelas berbagai elemen jaringan, terutama sel-selnya, sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop tanpa pewarnaan, jaringan akan transparan sehingga sulit untuk diamati.

j. Penutupan dan Labelling

(10)

BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu mistar, silet, pipet tetes, gelas ukur, erlenmeyer, object glass, dan tabung reaksi.

III.2 Bahan Percobaan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu akar jagung Zea mays, aquadest, xylol, alkohol 96%, 90%, 80%, 70 %, formalin, parafin wax, parafin cair, asam asetat glasial, box kecil dan tissue.

III.3 Cara Kerja

Cara kerja pada percobaan ini yaitu : I. Pembuatan Larutan FAA

1. Asam asetat Glasial = 5 ml 2. Formalin = 5 ml 3. Alkohol = 96 % II. Pengenceran Alkohol Bertingkat

1. Rumus : V1xM1 = V2x M2

2. Dilakukan pengenceran alkohol 90% yang diencerkan dari alkohol 96% dengan volume aquadest yang digunakan yaitu 6,25 ml dan volume alkohol yaitu 93,75 ml.

(11)

4. Dilakukan lagi pengencaran alkohol 70% yang dimana diencerkan pula dari alkohol 96% dengan volume aquadest yang digunakan 27,09 ml dan volume alkohol yaitu 72,91 ml.

III. Pembuatan Preparat Permanen

1. Fiksasi FAA selama 30 menit, fiksasi ini bertujuan untuk mengawetkan semua struktur sel sehingga sedapat mungkin berada dalam keadaan sama atau hampir sama dengan pada waktu masih hidup.

2. Direndam dengan aquadestt selama 30 detik.

3. Dilakukan dehidrasi dengan alkohol bertingkat 70%, 80%, 90%, dan 96% masing-masing 10 menit. Dehidrasi ini bertujuan untuk menarik air keluar dari jaringan dan akan digantikan dengan alkohol.

4. Dealkoholisasi dengan menggunakan alkohol-xylol perbandingan 3:1, 1:1, 1:3 masing-masing 10 menit. Dealkoholisasi ini bertujuan untuk menarik alkohol keluar dari jaringan dan digantikan dengan xylol.

5. Dilakukan penjernihan dengan menggunakan xylol murni. Penjernihan ini dilakukan 2x yaitu xylol murni I 10 menit dan xylol murni II 10 menit. Penjernihan ini dilakukan untuk menarik sisa alkohol yang masih terdapat dalam jaringan.

6. Infiltrasi terbagi atas infiltrasi I dan II. Infiltrasi I dilakukan dengan menggunakan xylol-parafin dengan perbandingan 1:9 kemudian dilakukan infiltrasi II yaitu dengan menggunakan parafin murni selama 5 menit. Infiltrasi ini bertujuan untuk mengganti campuran xylol-parafin dengan parafin murni.

(12)

3 4

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

IV.1.1 Gambar Penampang Melintang Batang Jagung Zea mays

1

2

Keterangan :

1. Epidermis (lapisan luar) 2. Korteks (jaringan dasar) 3. Floem (pembuluh tapis) 4. Xilem (pembuluh kayu) IV.2 Pembahasan

Pada percobaan ini menggunakan jaringan batang tanaman Jagung Zea mays yang dipotong melintang dengan panjang 2mm, kemudian dilakukan fiksasi dengan menggunakan larutan FAA (Formaldehyde Acetic-acid Alkohol96%), selama 30 menit, tujuan dari fiksasi adalah mempertahankan struktur sel dan menghentikn proses metabolisme sel.

(13)

selanjutnya dilakukan tahap alkoholisasi atau dehidrasi, tahap ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan air dari jaringan Zea mays, dehidrasi dilakukan dengan menggunakan alkohol bertingkat dengan konsentrasi mulai dari 70%, 80%, 90%, dan 96% masing-masing selama 5 menit, alkohol bertingkat digunakan agar kandungan air di dalam jaringan dapat keluar sedikit demi sedikit, dan juga agar sel-sel pada jaringan tidak mengalami lisis.

Tahap selanjutnya setelah dehidrasi adalah dealkoholisasi, dealkoholisasi merupakan tahap pengeluaran air ari dalam jaringan. Pada tahap dealkoholisasi menggunkan alkohol dan xylol dengan perbandingan alkohol : xylolyaitu 1:3, 1:1, dan 3:1 dengan rentang waktu setiap 5 menit, hal ini dilakukan agar alkohol dapat dikeluarkan secara maksimal dari dalam jaringan, sehingga larutan xylol yang dapat masuk ke dalam jaringan, dan terikat dengan parafin.

Setelah dilakukan dealkoholisasi, tahap selanjutnya adalah penjernihan, penjernihan bertujuan untuk mengeluarkan sisa-sisa alkohol yang mungkin masih ada di didalam jaringan, penjernihan dilakukan dengan menggunakan xylol I dan xylol II secara bertahap selama 5 menit.

(14)
(15)

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Dari hasil percobaan ini dapat diketahui tahap-tahap pembuatan preparat jaringan batang Jagung Zea mays dengan metode parafin meskipun tidak dapat dihasilkan preparat permanen karena keterbatasan alat yang diunakan. Tahap-tahap pembuatan preparat jaringan batang Jagung Zea mays dengan metode parafin adalah melumpuhkan, fiksasi, dehidrasi, dealkoholisasi, penjernihan, infiltrasi, penanaman (embadding), ukuran mikrotom, penempelan pita, pewarnaan, penutupan dan labelling.

V.2 Saran

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Joe, 2012, Picture Mikrotom, www.aliexpress.com, diaksespadatanggal 28 februari 2016, pukul 20:47 WITA.

Nugroho, H. L., 2006,Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, PenebarSwadaya, Depok.

Ramdan, 2010, Penampang melintang jagung, http://bioliciousedu.blogspot.com, diakses pada tanggal 04 maret 2016, pukul 06:07 WITA.

Setjo, S., 2004, Anatomi Tumbuhan, Universitas Negeri Malang, Malang.

Sugiharto, 1989,Mikroteknik, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Gambar

Gambar 1.MikrotomPutar. Sumber: www.aliexpress.com

Referensi

Dokumen terkait

Katup penghantar harus dibuat satu arah agar air yang telah masuk ke dalam tabung udara tidak dapat kembali lagi ke dalam badan hidram.Katup penghantar harus mempunyai

Kunyahan makan berfungsi untuk menghancurkan jaringan pakan agar mudah difermentasi oleh bakteri rumen (Boudon et al ., 2002).Salah satu kunci pada saat ternak

Gelas obyek yang akan digunakan di aseptis dahulu dengan alkohol 70% agar tidak terdapat mikroorganisme yang tidak diinginkan saat perlakuan, kemudian bakteri

Erosi tanah merupakan kejadian alam yang pasti terjadi dipermukaan daratan bumi. Besarnya erosi sangat tergantung dari faktor-faktor alam ditempat terjadinya erosi tersebut, akan tetapi saat ini manusia juga berperan penting atas terjadinya erosi. Adapun faktor-faktor alam yang mempengaruhi erosi adalah erodibilitas tanah, karakteristik landskap dan iklim. Akibat dari adanya pengaruh manusia dalam proses peningkatan laju erosi seperti pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan/atau pengelolaan lahan yang tidak didasari tindakan konservasi tanah dan air menyebakan perlunya dilakukan suatu prediksi laju erosi tanah sehingga bisa dilakukan suatu manajemen lahan. Manajeman lahan berfungsi untuk memaksimalkan produktivitas lahan dengan tidak mengabaikan keberlanjutan dari sumberdaya lahan.

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Bantalan-bantalan Bantalan-bantalan adalah salah satu bagian dari komponen blower yang berfungsi sebagai menahan getaran dari proses pemutaran udara yang masuk melewati impeller dan

Pertama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan saat titrasi, pastikan buret bersih, lalu bilas buret dengan larutan titran selama 3 kali dengan cara diputar-putar agar rata ke

Sterilisasi setelah penanaman dengan membersihkansemua alat dan bahan yang digunakan untuk tidak berada dalam LAF pada saat setelah proses penanaman BAB III KESIMPULAN Dengan