Penataan Pedagang Kaki Lima Dengan Memanfaatka Ruang Terbuka Hijau

26 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pedagang Kaki Lima

Pedagang kaki lima merupakan salah satu bentuk aktivitas perdagangan sektor informal. Pedagang kaki lima adalah pedagang kecil yang umumnya berperan sebagai penyalur barang-barang dan jasa ekonomi kota. Sedang menurut (Hasiholan, 2010) pedagang kaki lima itu adalah setiap orang yang melakukan kegiatan usaha perdagangan atau jasa yaitu melayani kebutuhan barang-barang atau makanan yang dikonsumsi langsung oleh konsumen, yang dilakukan cenderung berpindah-pindah dengan kemampuan modal yang kecil/terbatas, dalam melakukan usaha tersebut menggunakan peralatan sederhana dan memiliki lokasi di tempat-tempat umum (terutama diatas trotoar atau sebagian badan jalan), dengan tidak mempunyai legalitas formal.

(2)

ruang-ruang terbuka, taman-taman, terminal bahkan di perempatan jalan dan sekeliling rumah-rumah penduduk.

Mc Gee dan Yeung (1977:25) memberikan pengertian pedagang kaki lima sama dengan hawker, yang didefenisikan sebagai kelompok orang yang menawarkan barang dan jasa untuk dijual pada ruang publik, terutama di pinggir jalan dan trotoar.

2.2 Karakteristik Aktivitas PKL

Pedagang kaki lima atau disingkat PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang menggunakan gerobak. Istilah itu sering ditafsirkan karena jumlah kaki pedagang ada lima. Lima kaki tersebut adalah dua kaki pedagang ditambah tiga kaki gerobak (yang sebenarnya adalah tiga roda atau dua roda dan satu kaki). Pedagang kaki lima sendiri merupakan bagian dari sektor informal yang sering menjadi awal proses dalam mencapai kondisi sosial yang lebih baik. Adapun karakteristik PKL yang dimaksudkan dijelaskan dalam sub bab berikut ini.

2.2.1. Jenis dagangan PKL

Menurut Mc. Gee dan Yeung (1977:82-83), jenis dagangan PKL sangat dipengaruhi oleh aktivitas yang ada di sekitar kawasan dimana pedagang tersebut beraktivitas. Misalnya di suatu kawasan perdagangan, maka jenis dagangan yang ditawarkan akan beranekaragam, bisa berupa makanan/minuman, barang kelontong, pakaian, dan lain-lain.

(3)

menjadi 4 (empat) kelompok utama yaitu:

1. Makanan yang tidak dan belum diproses, termasuk didalamnya makanan mentah, seperti daging, buah-buahan, dan sayuran;

2. Makanan yang siap saji, seperti nasi dan lauk pauk juga minuman; 3. Barang bukan makanan, mulai dari tekstil hingga obat-obatan;

4. Jasa, yang terdiri dari beragam aktivitas, misalnya tukang potong rambut, sewa mobil-mobilan dan lain sebagainya.

2.2.2. Bentuk Sarana Perdagangan PKL

Bentuk sarana perdagangan yang dipergunakan oleh para PKL dalam menjalankan aktivitasnya sangat bervariasi. Berdasarkan basil penelitian yang dilakukan oleh Mc. Gee dan Yeung (1977:82-83) di kota-kota di Asia Tenggara diketahui bahwa pada umumnya bentuk sarana tersebut sangat sederhana dan biasanya mudah untuk dipindah atau dibawa dari satu tempat ke tempat lain dan dipengaruhi oleh jenis dagangan yang dijual. Adapun bentuk sarana perdagangan yang digunakan oleh PKL adalah sebagai berikut:

(4)

2.

3.

Pikulan/keranjang, bentuk sarana perdagangan ini digunakan oleh PKL keliling (mobile hawkers) atau semi permanen (semi static), yang sering dijumpai pada PKL yang berjualan jenis barang dan minuman. Bentuk ini dimaksudkan agar barang dagangan mudah dibawa atau dipindah tempat.

Warung semi permanen, terdiri dari beberapa gerobak/kereta dorong yang diatur sedemikian rupa secara berderet dan dilengkapi dengan kursi dan meja. Bagian atap dan sekelilingnya biasanya ditutup dengan pelindung yang terbuat dari kain plastik, terpal atau lainnya yang tidak tembus air,

4.

berdasarkan sarana usaha tersebut, PKL ini dapat dikategorikan pedagang permanen (static) yang umumnya untuk jenis dagangan makanan dan minuman.

5.

Kios, bentuk sarana PKL ini menggunakan papan-papan yang diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah bilik semi permanen, yang mana pedagang yang bersangkutan juga tinggal di tempat tersebut. PKL ini dapat dikategorikan sebagai pedagang menetap (static).

(5)

2.2.3. Pola Penyebaran PKL

Berdasarkan pola penyebarannya, aktivitas PKL menurut Mc. Gee dan Yeung (1977:36-37) dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) pola, yaitu:

1. Pola Penyebaran Mengelompok (Focus Aglomeration)

Pedagang informal pada tipe ini pada umumnya selalu akan memanfaatkan aktivitas-aktivitas di sektor formal dan biasanya pusat-pusat perbelanjaan menjadi salah satu daya tarik lokasi sektor informal untuk menarik konsumennya, sebagaimana terlihat pada Gambar 2.1 adalah lokasi pengelompokan pedagang makanan minuman dilapangan Merdeka Binjai.

Sumber: Hasil Pengamatan, 2014

Gambar 2.1 Foto Bentuk dan Sarana Berdagang PKL

(6)

banyak diminati oleh sektor ini. Pola penyebaran seperti ini biasanya banyak dipengaruhi oleh adanya pertimbangan aglomerasi, yaitu suatu pemusatan atau pengelompokkan pedagang sejenis atau pedagang yang mempunyai sifat komoditas yang sama atau saling menunjang. Biasanya dijumpai pada para pedagang makanan dan minuman, yang dilustrasikan pada gambar 2.2.

Sumber: Mc. Gee dan Yeung (1977: 37)

Gambar 2.2 Pola Penyebaran Mengelompok PKL

2.

(7)

informal itu sendiri, hal ini sangat menguntungkan, sebab dengan menempati lokasi yang beraksesibilitas tinggi akan mempunyai kesempatan yang tinggi dalam maraih konsumen. Jenis komoditi yang biasa diperdagangkan adalah pakaian, kelontong, jasa reparasi, buah-buahan, rokok/obat-obatan, dan lain-lain.

2.2.4. Karakteristik lokasi PKL

Pembangunan suatu tempat bagi kegiatan perdagangan sangat tergantung pada lokasi. Begitu pula halnya dengan munculnya kegiatan perdagangan sektor informal. Aktivitas sektor ini akan muncul mendekati lokasi-lokasi strategis, dimana terdapat tingkat kunjungan tinggi. Hal ini berkaitan dengan salah satu fungsi dari pemasaran, yaitu mendekatkan komoditi pada konsumen (place utility). Oleh karena aktivitas kegiatan perdagangan sektor informal akan hadir di lokasi-lokasi keramaian seperti pada kawasan perdagangan, perkantoran, pendidikan, perumahan, dan lokasi-lokasi strategis lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh Bromley (dalam Hasiholan, 2010) berdasarkan basil penelitiannya mengenai pedagang sektor informal di Cali, Colombo, bahwa para pedagang sektor informal dijumpai di semua sektor kota, terutama berpusat di tengah kota dan pusat-pusat hiburan lainnya ketika ada pertunjukkan, sehingga menarik sejumlah besar penduduk.

(8)

dengan sektor informal (PKL). Rachbini dan Hamid (Hasiholan, 2010) dalam observasinya mengenai PKL di Jakarta dan Surabaya menemukan adanya kecenderungan bahwa setiap berdirinya gedung bertingkat di Jalan Sudirman Jakarta dapat disaksikan sejumlah PKL berderet sepanjang jalan. Mereka melayani para karyawan atau pegawai bergaji rendah.

Mc. Gee dan Yeung (1977:61) menyatakan bahwa pada umumnya PKL cenderung untuk berlokasi secara mengelompok pada area yang memiliki tingkat intensitas aktivitas yang tinggi, seperti pada simpul-simpul jalur transportasi atau lokasi-lokasi yang memiliki aktivitas hiburan, pasar, maupun ruang terbuka, Shirvani (1986:37) menyatakan bahwa aktivitas PKL di perkotaan merupakan pendukung aktivitas (activity support) dari aktivitas-aktivitas yang ada. Aktivitas-aktivitas tersebut timbul karena adanya aktivitas-aktivitas fungsional kota.

(9)

penggunaan ruang-ruang inilah yang akhirnya menimbulkan conflict of interest, karena lahan tersebut seharusnya dipergunakan oleh berbagai pihak dengan berbagai kepentingan, tidak saja bagi pelaku sektor informal.

1.

Suatu studi yang dilakukan oleh Joedo (dalam Widjajanti, 2000:35) berkaitan dengan lokasi yang diminati aktivitas perdagangan sektor informal, diketahui beberapa ciri sebagai berikut:

2.

Terdapat akumulasi orang yang melakukan kegiatan bersama-sama pada waktu yang relatif sama sepanjang hari. Ciri ini bisa kita jumpai di lokasi-lokasi perdagangan, pendidikan, dan perkantoran;

Berada pada kawasan tertentu yang merupakan pusat kegiatan-kegiatan perekonomian kota dan pusat non ekonomi perkotaan, tetapi sering

3. Mempunyai kemudahan untuk terjadi hubungan antara pedagang dengan calon pembeli, walaupun dilakukan dalam ruang yang relatif sempit; dikunjungi dalam jumlah besar. Kondisi ini merupakan ciri dari suatu lokasi wisata atau ruang-ruang rekreatif kota, seperti taman-taman kota dan lapangan olah raga yang biasa ramai di hari libur;

4. Tidak memerlukan ketersediaan fasilitas dan utilitas pelayanan umum.

(10)

pemusatan-pemusatan ruang dalam PKL di kota Ujung Pandang yang disebabkan oleh hubungan yang kompleks antara suplai pekerja, keperluan produksi, perilaku pemasaran, dan sarana serta prasarana transportasi. Perlunya lokasi produksi dan pemasaran dekat dengan sumber bahan baku telah mendorong munculnya pemusatan sektor informal PKL.

Penentuan lokasi dapat dikaitkan dengan ketersediaan sarana transportasi, dimana teori lokasi yang mengemukakan tentang transportasi disebutkan bahwa penting untuk menentukan lokasi sedemikian sehingga diperoleh biaya angkutan yang minimum, baik bagi PKL bersangkutan maupun bagi pembeli/konsumen. Aktivitas perekonomian kota umumnya merupakan tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan pelaku kegiatan.

Penempatan lokasi kegiatan ekonomi yang tidak mudah dijangkau, dalam arti sarana transportasi yang tersedia kurang/tidak memadai merupakan faktor penyebab kegagalan bagi pelaku yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu seringkali relokasi PKL yang dilakukan oleh Pemerintah kurang mendapat respon yang baik, karena tidak didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, termasuk sarana transportasi. Tempat baru tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai lokasi bagi aktivitas perdagangan. Akhirnya PKL yang diberi lokasi baru tersebut kembali ke lokasi yang lama.

(11)

pilihan lokasi bagi aktivitas usahanya, para PKL akan mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Adanya orientasi kepada konsentrasi konsumen, dalam arti PKL akan memilih lokasi sedekat mungkin dengan konsumennya;

2. Adanya pertimbangan terhadap faktor kedekatan lokasi, baik dengan pusat kegiatan masyarakat, tempat tinggal, sumber bahan baku, permukiman penduduk terdekat;

3. Adanya pertimbangan terhadap kemudahan transportasi.

Tabel 2.1 Rangkuman Ciri PKL Terhadap Pemanfaatan Ruang

No. Ciri PKL Pendapat Penelitian

Shirvani Mc. Gee dan Yeung Joedo

1 Lokasi intensitas tinggi intensitas tinggi intensitas tinggi

2 Fungsi kegiatan pendukung

3 Bentuk

4 Pola penyebaran

mengelompok dan memanjang

mengelompok dan memanjang Sumber: Olah data penyusun

(12)

Tabel 2.2 Pemanfaatan Ruang Lapangan Merdeka Terhadap Ciri PKL

No. Pemanfaatan Lahan Keterangan

1 Ruang Terbuka Hijau

lokasi merupakan taman yang menjadi node bagi kegiatan perkotaan Binjai. Selain sebagai tujuan masyarakat kota melakukan aktifitas olahraga, acapkali digunakan sebagai lokasi kegiatan-kegiatan skala kota.

2 Kawasan Perkantoran

lokasi berada di pusat kota, yaitu kecamatan Binjai Kota, sehingga memiliki jangkauan cukup mudah, selain jaringan jalan yang memadai, ketersedian angkutan umum menjadi salah satu kemudahan.

3 Pendidikan

keberadaan fasilitas pendidikan (STMIK KAPUTAMA) yang berada pada jalan Veteran, memberikan pasar bagi kegiatan perdagangan.

4 Ruang Terbuka Non

Hijau ketersediaan jaringan jalan yang sangat memadai memberikan kesempatan tumbuhnya PKL.

Sumber: Olah data penyusun, 2014

2.3 Konsep Ruang Terbuka Hijau Kota

Membahas Ruang Terbuka Hijau akan selalu berhubungan dengan Ruang dan Ruang Terbuka. Ruang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik secara psikologis mupun secara dimensional, karena manusia berada dalam ruang bergerak serta berpikir dan juga menciptakan untuk menyatakan dunianya (Budihardjo,1984). Ruang pada dasarnya terjadi oleh adanya obyek dan manusia yang melihatnya dan ruang ini terjadi bukan secara alamiah melainkan terbentuk oleh lingkungan luar yang dibuat oleh manusia.

(13)

1. Ruang Umum Tertutup, yaitu ruang umum yang terdapat di dalam suatu bangunan;

2. Ruang Umum Terbuka, yaitu ruang umum di luar bangunan.

Ruang Terbuka secara umum mempunyai arti bermacam-macam, setiap orang cenderung menterjemahkan sesuai dengan visi dan pandangan mereka sebagaimana profesi mereka masing-masing. Ruang terbuka merupakan ruang yang direncanakan karena kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktifitas bersama di ruang terbuka. Shirvani (1986), menyatakan bahwa ruang terbuka adalah semua lansekap seperti jalan, trotoar dan semacamnya, taman dan ruang rekreasi di daerah perkotaan. Ruang terbuka (hijau) dinyatakan sebagai ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk membulat maupun dalam bentuk memanjang/jalur yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, yaitu tanpa bangunan permanen.

(14)

Ruang terbuka hijau linier adalah jalur pejalan kaki, jalur jalan raya dan jalan bebas hambatan serta jalur bersepeda. Di perkotaaan, ruang terbuka cendrung difungsikan secara aktif sebagai pusat rekreasi dan interaksi sosial sehingga seringkali kurang efektif menjadi areal resapan air karena telah dipaving, dibeton, diaspal atau bahkan dikeramik. Elemen aktivitas pada ruang terbuka dipusat kota lebih menonjol dibandingkan elemen lainnya, oleh karenanya perlu dibedakan pengertian ruang terbuka sebagai ruang terbuka yang menyeluruh meliputi ruang hijau dan tak hijau.

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008, tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di kawasan perkotaan tujuan penyelenggaraan ruang terbuka hijau adalah:

1. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air;

2. Menciptakan aspek planologis perkotaan melelaui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat;

3. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.

Sedangkan fungsi Ruang Terbuka Hijau memiliki fungsi sebagai berikut 1. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis:

(15)

b. Pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat belangsung lancar;

c. Sebagai peneduh; d. Produsen oksigen; e. Penyerap air hujan; f. Penyedia habitat satwa;

g. Penyerap polutan media udara, air dan tanah; h. Penahan angin.

2. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu:

a. Fungsi sosial dan budaya: menggambarkan ekspresi budaya lokal; merupakan media komunikasi warga lokal; tempat rekreasi; dan wadah dan obyek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam mempelajari alam;

b. Fungsi Ekonomi: sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah, daun, sayur mayur; bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan dan lain-lain;

(16)

Tinjauan Lapangan Merdeka berdasarkan fungsi dengan mengacu kepada Peraturan Menteri pekerjaan umum No.05 Tahun 2008 maka Lapangan Merdeka sebagai lokasi penelitian adalah:

1. Fungsi ekologis; lapangan merdeka merupakan bagian dari system sirkulasi udara kota, berada pada pusat kota dengan intensitas kegiatan memiliki bangkitan kendaraan yang cukup tinggi kehadiran Lapangan Merdeka juga berfungsi sebagai peneduh, dan penyerap polutan udara; 2. Fungsi tambahan; yang menjadi daya eksrintik Lapangan Merdeka dilihat

dari sisi estetika adalah meningkatkan kualitas kota sebagai pembentuk factor arsitektur kota (landscape) yang menciptakan gambaran tata ruang perkotaan berimplikasi terbentuk kenyaman berlangsungnya aktivitas perkotaan. Kemudian sebagai ruang terbuka, lapangan merdeka memberikan segmen interaksi masyarakat bersosialisasi, bahkan ruang yang ada meningkatkan kreativitas dan produktifitas warga kota, hal ini terlihat saat berlangsungnya event olahraga, entertainmen, dan sebagainya yang diiringi kegiatan ekonomi lokal (pedagang).

(17)

2.4 Tinjauan Peremajaan Lingkungan Perkotaan

Peningkatan jumlah penduduk yang tinggi dan perpindahan penduduk ke daerah perkotaan, merupakan penyebab utama pesatnya perkembangan kegiatan suatu kota. Perkembangan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan terhadap struktur kota. Perubahan tersebut akan mengarah pada kemerosotan suatu lingkungan tidak saja pada permukiman tetapi juga kepada elemen pembentuk suatu kota, tidak efisiennya penggunaan tanah daerah pusat kota, dan mengungkapkan bahwa penurunan kualitas tersebut bisa terjadi disetiap bagian kota.

Kemerosotan lingkungan seringkali dikaitkan dengan masalah sosial, seperti kriminalitas, kenakalan remaja, prostitusi sebagainya. Meskipun sulit untuk bisa diukur, peremajaan kota diyakini akan membawa perbaikan-perbaikan keadaan sosial pada wilayah-wilayah yang mengalami kemerosotan lingkungan. Peremajaan adalah upaya pembangunan yang terencana untuk merubah atau memperbaharui suatu kawasan di kota yang mutu lingkungannya rendah.

Lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan lengkap dengan sarana dan prasarana kebutuhan hidup sehari-hari serta merupakan bagian dari suatu kota (Jurnal, Dirjend Cipta Karya PU, IAP, 1997), sehingga konsep penanganan masalah dapat penyusun gunakan sebagai bahan rujukan. Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya peremajaan pada suatu lingkungan yaitu:

(18)

pembongkaran sarana dan prasarana pada sebagian atau seluruh kawasan tersebut yang telah dinyatakan tidak dapat dipertahankan lagi kehadirannya. Biasanya, dalam kegiatan ini terjadi perubahan secara struktural terhadap peruntukan lahan, profil sosial ekonomi, serta ketentuan-ketentuan pembangunan lainnya yang mengatur intensitas pembangunan baru.

2. Gentrifikasi adalah upaya peningkatan vitalitas suatu kawasan kota melalui upaya peningkatan kualitas bangunan atau lingkungannya tanpa menimbulkan perubahan berarti terhadap struktur fisik kawasan tersebut. Gentrifikasi bertujuan memperbaiki nilai ekonomi suatu kawasan kota dengan cara memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang ada, meningkatkan kualitas serta kemampuannya tanpa harus melakukan pembongkaran berarti.

3. Rehabilitasi pada dasarnya merupakan upaya untuk mengembalikan kondisi suatu bangunan atau unsur-unsur kawasan kota yang telah mengalami kerusakan, kemunduran, atau degradasi, sehingga dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

(19)

5. Konservasi merupakan upaya untuk melestarikan, melindungi serta memanfaatkan sumber daya suatu tempat, seperti kawasan dengan kehidupan budaya dan tradisi yang mempunyai arti, kawasan dengan kepadatan penduduk yang ideal, cagar budaya, hutan lindung, dan sebagainya. Konservasi dengan demikian, sebenarnya merupakan pula upaya preservasi, namun dengan tetap memanfaatkan kegunaan dari suatu tempat untuk menampung dan memberi wadah bagi kegiatan yang sama seperti kegiatan asalnya atau bagi kegiatan yang sama sekalibaru melalui usaha penyesuaiang, sehingga dapat membiayai sendiri kelansungan eksistensinya.

6. Resettlement adalah proses pemindahan penduduk dari lokasi permukiman yang sudah tidak sesuai dengan peruntukkannya ke lokasi baru yang sudah disiapkan sesuai dengan rencana permukiman kota. Dalam hal ini peremajaan lingkungan permukiman di Mojosongo Surakarta dilakukan dengan redevelopment, resettlement dan peremajaan tanpa perubahan struktur kawasan.

(20)

kurangnya kesadaran kolektif para pedagang akan kebersihan, para pedagang beranggapan bahwa sampah menjadi tanggung jawab petugas kebersihan disebabkan iuran yang telah dipungut. Disamping itu sistem drainase lingkungan yang buruk, saluran air yang kurang memadai juga mempengaruhi kualitas lingkungan di sekitar lokasi PKL.

Tindakan penataan kembali (redevelopment) adalah pilihan yang tepat bagi Lapangan Merdeka, dengan pengaturan lokasi PKL melalui karakteristik tipologi yang tentunya disertai peningkatan fasilitas jika masih diperbolehkan (include) akan meningkatkan kualitas lapangan Merdeka Binjai sebagai ruang terbuka hijau kota.

(21)

2.5 Pengertian Persepsi dan Preferensi

Persepsi menurut Wojowasito (1980:143) merupakan istilah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa inggris perceive yang dapat diartikan sebagai melihat atau mengamati. Sedangkan pendapat lainnya mengemukakan bahwa persepsi berasal dari kata dasar bahasa Inggris perceive yang dapat diartikan merasa, mengerti, juga memahami. Pada dasarnya perilaku seseorang atau apa yang dilakukan seseorang selalu bersumber dari persepsinya terhadap sesuatu dalam menilai diri dan lingkungannya. Perilaku bermula dari penginderaan yang ditafsirkan, kemudian muncul perasaan/emosi yang menimbulkan harapan dan akhirnya menghasilkan tindakan. Sedangkan Gibson, et al (1996:134) memaknai persepsi sebagai proses kognitif yang dipergunakan oleh seseorang untuk menafsirkan dan memahami lingkungan sekitarnya. Berkaitan dengan penelitian ini, maka persepsi dapat diartikan sebagai hal yang dirasakan/dimengerti oleh subjek (PKL disekitar lapangan merdeka) terhadap suatu objek (rencana penataan PKL disekitar Lapangan Merdeka Kota Binjai) yang dirasakan/dimengerti/diamati. Demikian selanjutnya dalam penelitian ini, persepsi PKL disekitar Lapangan Merdeka Kota Binjai dapat diartikan sebagai

(22)

lebih memilih/suka. Sedangkan preferensi yang dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:894) memiliki anti kecenderungan terhadap suatu hal atau pilihan yang lebih disenangi (prioritas). Preferensi dalam Kamus lengkap psikologi diartikan lebih menyukai sesuatu benda daripada benda lainnya. Berkaitan dengan penelitian ini, maka preferensi dapat diartikan sebagai pilihan/perlakuan yang lebih disenangi oleh subjek (PKL disekitar Lapangan Merdeka Kota Binjai) terhadap suatu objek (bentuk penataan atau peremajaan kawasan) yang dirasakan/dimengerti/diamati.

Persepsi masyarakat terhadap obyek penelitian dan tindakan penataan menjadi sangat penting untuk diketahui. Persepsi masyarakat muncul karena adanya rasa pada diri individu dalam masyarakat terhadap obyek rancangan atau problematika tertentu. Sering kali rasa akan memunculkan gambaran terhadap lingkungan, obyek peneltian, perancangan atau sebagainya, berbeda-beda tergantung pada banyak faktor (Setyowati, 2004).

2.6 Aspek-aspek yang Dipertimbangkan dalam Mengidentifikasi Pedagang Kaki Lima Berdasarkan Persepsi Masyarakat

(23)

1. Karakteristik Masyarakat

a. Berdasarkan persepsi personal masyarakat kota, karakteristik masyarakat dibedakan antara pelaku usaha (PKL) dengan pengunjung;

b. Berdasarkan posisi pengamat/peneliti, karakteristik pedagang kaki lima dibedakan menurut jenis dagangan dan sarana dagangan;

c. Berdasarkan waktu, karakteristik pedagang dibedakan menurut lama tinggal sedangkan pengunjung dibedakan menurut kebutuhan berkunjung.

2. Kriteria Elemen Pembentuk Citra Kota

Proses pengidentifikasian citra kota tidak dapat dilepaskan dari elemen fisik pembentuk citra kotanya. Sesuai dengan konsep citra kota menurut Lynch terdapat lima elemen pembentuk citra kota yaitu landmark, district, nodes, edge dan path. Kelima elemen tersebut merupakan elemen fisik akan tetapi citra kota pun dipengaruhi pula oleh elemen non fisik oleh karena itu perlu juga dipertimbangkan elemen-elemen non fisik seperti kondisi keamanan (premanisme) adanya pungutan-pungutan liar, kebijakan pemerintah terhadap rencana pemanfaatan ruang dan peraturan daerah terkait (legalitas).

3. Identifikasi Citra Kota

(24)

diketahui dengan mengumpulkan jawaban pertanyaan responden dan karakteristik masyarakatnya yang merupakan bagian dari faktor internal dan juga mengidentifikasi faktor eksternal yang juga ikut mempengaruhi persepsi masyarakat.

2.7 Kebijakan Pemerintah Kota

Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Implementasi kebijakan merupakan langkah yang sangat penting dalam proses kebijakan. Tanpa implementasi kebijakan, suatu kebijakan hanyalah sekedar sebuah dokumen yang tidak bermakna dalam kehidupan bermasyarakat.

Legalisasi pada dasarnya memiliki level-level tertentu yang dapat diidentifikasi dengan mengukur tiga aspek yaitu obligasi, presisi, dan delegasi. Dalam hal legalisasi bagi Pedagang Kaki Lima memang belum ada karena belum ada aturan, komitmen dimana lokasi berdagang PKL ini ditempatkan.

(25)

terhadap sumber-sumber ekonomi yang tersedia. Sedangkan kebijakan di tingkat mikro, adalah upaya untuk meningkatkan produktivitas dan tingkat pendapatan PKL, dengan cara: (1) peningkatan efisiensi ekonomi dari usaha kaki lima; (2) peningkatan produksi usaha dagang; (3) meningkatkan usaha PKL yang kurang potensial menjadi usaha yang lebih ekonomis potensial (Hasiholan, 2010).

Kota Binjai melalui Peraturan daerah No.3 Tahun 2006 tentang pengaturan dan pembinaan pedagang kaki lima, diharapkan dapat memberi pengaturan dan pembinaan terhadap pedagang kaki lima di Kota Binjai. Adapun menjadi pertimbangan adalah, bahwa sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya pertumbuhan kegiatan dibidang usaha yang dilaksanakan masyarakat dan tidak memiliki lahan atau tempat berjualan (PKL).

2.8 Penelitian Pendukung

Astri Syafardi dengan judul artikel “Penata Kelolaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Buah Kota Padang” pada tahun 2012, dimana dalam penelitian ini memperlihatkan kondisi PKL di Kota Padang, mendeskripsikan penataan PKL buah-buahan yang didahulukan melakukan pengidentifikasian faktor-faktor yang memperngaruhi penataan PKL buah-buahan di Kota Padang.

(26)

terlihat mendua, tidak tegas dalam menyikapi kehadiran PKL di Taman Surya Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya satu sisi menyatakan pedagang kaki lima sebagai wiraswasta yang perlu dibina, tetapi disisi lain juga mengintruksikan penertiban-penertiban dengan dali kebersihan dan keindahan kota tanpa memberikan penyelesaiaan yang tepat. Sehingga diperlukan suatu penataan Taman Surya sebagai tempat berjualan tanpa menggangu keindahan dan ketertiban umum.

Tesis Daniel J. Pandapotan yang disusun pada tahun 2007 dengan judul “Kajian Spasial Pedagang Kaki Lima Dalam Pemanfaatan Ruang Publik Kota”, studi kasus koridor Jalan AR. Hakim Medan, Jalan Aksara Pasar Sukaramai Kecamatan Medan Area Kota Medan. Dimana metode penelitiannya menggunakan analisis kuantitatif untuk memahami kondisi perebutan ruang dalam penentuan lokasi pedagang kaki lima serta meneliti perilaku pedagang kaki lima melalui pengamatan langsung di lapangan. Adapun akhir dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pedagang kaki lima memanfaatkan ruang public yang menjadi jalur lintas dan pejalan kaki sebagai tempat berdagang dan disertai dampak yang disebabkan pada ruang public.

Figur

Gambar 2.1  Foto Bentuk dan Sarana Berdagang PKL
Gambar 2 1 Foto Bentuk dan Sarana Berdagang PKL . View in document p.5
Gambar 2.2 Pola Penyebaran Mengelompok PKL
Gambar 2 2 Pola Penyebaran Mengelompok PKL . View in document p.6
Tabel 2.1  Rangkuman Ciri PKL Terhadap Pemanfaatan Ruang
Tabel 2 1 Rangkuman Ciri PKL Terhadap Pemanfaatan Ruang . View in document p.11

Referensi

Memperbarui...